Anda di halaman 1dari 3

Antagonisme adalah unsur yang paling penting dalam politik; karena antagonisme

ada, maka harus ada usaha untuk menghilangkan atau menguranginya guna
mencapai integrasi sosial. Masalah utama dari antagonisme politik adalah
bagaimana menentukan sebab-sebab dari antagonisme politik.

Dalam teori sosiologi politik Maurice Duverger, ia melihat bahwa antagonisme


politik lahir dari berbagai sebab yang digolongkan ke dalam dua kategori, yakni
bergerak pada tingkat individual , seperti kecerdasan pribadi dan faktor psikologis
dan pada tingkat kolektif, seperti faktor-faktor rasial, perbedaan dalam kelas-kelas
sosial dan faktor sosiokultural. Setiap kategori sesuai dengan sebuah bentuk
perjuangan politik

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANTAGONISME POLITIK


SEBAB-SEBAB INDIVIDUAL

Sebab individu, menurutnya, dalam setiap komunitas manusia ditilik dari


kecerdasan pribadinya, memang ada yang lebih berbakat dibanding yang lain
dalam memimpin. Sedang secara psikologis, individu-individu tertentu cenderung
mendominasi dari pada yang lain yang lebih cenderung pada kepatuhan.
Bakat-bakat individual
Teori-teori yang menjelaskan pergolakan-pergolakan politik dalam hubungannya
dengan perbedaan di dalam bakat-bakat pribadi berasal, kurang lebih, dari konsep-
konsep biologis dari CHARLES DARWIN tentang struggle for life .
Teori-teori tentang Bakat Individual
Teori Liberal
Teori-teori konservatif tentang “elite”
Sebab-sebab Psikologis
Kemampuan individual dan tempramen psikologis bukan dua alasan terpisah dari
antagonisme politik, akan tetapi hanya 2 aspek dari fenomena yang sama. Bakat
adalah aspek eksternal : analisa psikologis merumuskan hakikat dari dalamnya.
Psikoanalisa dan politik
- Dasar psikoanalogis bagi antagonisme politik
- Psikoanalisa dan dua wajah Janus.
Temperamen Politik

SEBAB-SEBAB KOLEKTIF
Perjuangan Kelas
Sejarah setiap masyarakat sampai masa kini adalah semata-mata sejarah
perjuangan kelas.
- Paham tentang kelas
- Antagonisme kelas dan konflik-konflik politik
Konflik-konflik Rasial
- Berbagai Teori Rasis
- Kritik terhadap Teori Rasis
- Adanya Konflik Rasial
Konflik antar Kelompok-Kelompok Horisontal
Di dalam konflik antar kelompok-kelompok horisontal, setiapnya mencoba,
menguasai yang lain sebagaimana halnya di dalam konflik antara kelompok
vertical
Konflik antara Kelompok-Kelompok Teritorial
- Pembentukan Kelompok-kelompok Teritorial
- Konflik Antara Kelompok-kelompok Korporatif
- Konflik Diantara Kelompok -kelompok Ideologis

Sebab- sebab Antagosnisme politik


Secara katagorikal , antagonism politik dibedakan pada tingkat individu seperti
kecerdasan pribadi dan factor psikologi serta lainya pada tingkatn kolektif seperti
factor factor rasial, perbedaan di dalam kelas kelas sosial, dan faktor2
sosiokultural. Setiap kategori sesuai dengan sebuah bentuk perjuangan politik.
Perjuanagn yang berputar disekelilingi kekuasaan terjadi diantara infividu individu
dalam pertentangan yang bersaing mendapatkan portofolio cabinet, kursi
perlementer, pos materai, bebagai jabatan public, dan sebagainya.

Sebab-sebab individual

Menurut teori sosiologi politik Maurice duveger, dalam setiap komunitas manusia
ditilik dari kecerdasan pribadinya, memang ada yang lebih berbakat dibandingkan
yang lain dalam memimpin. Meski teori teori yang menganggap perbedaan
perbedaan individual di dalam bakat sebagai bakat sebagai factor primer dalam
konfik konflik politik sangat berbeda, akan tetapi mereka mempunyai satu titik
kesepakatan yakni, beberapa individu lebih berbakat dari yang lain.

Bakat bakat individual

Bakat bakat individupribadi ini berasal dari factor factor biologis menurut konsep
Charles darwintentang struggle for life. Menurut Darwin setiap individu harus
bertempur melawan yang lain untuk kelangsungan hidup dan hanya
memeliharanya.

Sebab Psikologi

Pada kecenderungan psikologi, dikatakan bahwa antagonisme politik akibat dari


frustasi psikologi yang berhubungan dengan konflik dari masa kanak kanak yang
dini yang terkubur dalama alam tidak sadar. Bahwa pengalaman dari masa kanak
kanak mempunyai pengaruh yang menentukan terhadap perkembangan psikologi
berikutnya dari seorang individu.

Pada hakikatnya, menurut Duverger, antagonisme politik memang cenderung


diungkapkan secara keras, sebab hal tersebut memberikan perhatian pada
pertanyaan-pertanyaan dasar menusiawi. Jika seseorang bergolak untuk
menghindarkan diri dari kondisi atau situasi yang tidak menguntungkan dirinya
adalah wajar jika ia mempergunakan berbagai macam cara, termasuk kekerasan
untuk mempertahankan diri. Maka, kerusuhan, pemberontakan, tindakan terorisme,
perang saudara, penindasan, kekejaman, atau politik bertaburan mayat, menjadi hal
yang lumrah.