Anda di halaman 1dari 16

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Komite Audit


Pada struktur corporate govemance di Indonesia terdapat beberapa komite di bawah
dewan komisaris yang memiliki tugas dan fungsi sebagai pembantu utama dewan komisaris
dalam melakanakan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya. Secara umum terdapat 3 komite
dewan komisaris yaitu:
1. Komite Audit (Audit Committee)
2. Komite remunerasi (The Remuneration Committe)
3. KomiteNominasi (The Nominating Committee)
Komite audit biasanya berasal dari pihak independen yang tidak memiliki hubungan
dengan eksekutif serta berasal dari luar perusahaan, dan dipimpin oleh komisaris independen.
Setiap tahun komite audit akan melakukan pertemuan sebanyak tiga sampai epat kali untuk
membahas mengenai hal yang berkaitan dengan perincian pekerjaan audit termasuk besaran
biaya audit, menerima dan mendiskusikan rekomendas Kantor Akuntan Publik (KAP) yang
memerlukan pengawasan dan tindakan lebih lanjut. Komite audit juga dapat
merekomendasikan penggantian KAP perusahaan kepada dewan komisaris.
Selain tugas itu komite audit adalah melakukan pemantauan manajemen risiko, sistem
pangendalian manajemen, audit internal dan kepatuhan terhadap corporate governance. Peran
dan tanggung jawab komite audit akan dituangkan dalam piagam komite audit (audit committee
charter) dan harus memperoleh persetujuan komisaris dan ditinjau ulang secara regular
(Lukviarman,2016).
2.1.1 Peranan Komite Audit
Menurut FCGI, peran komite audit adalah untuk mengawasi dan memberi masukan
kepada dewan komisaris dalam hal terciptanya mekanisme pengawasan. Komite audit
memberikan pendapat kepada dewan komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang
disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang
memerlukan perhatian komisaris, dan melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan
dengan tugas dewan komisaris. Menurut Ticker (2009) sebagaimana dikutip Lukviarman
(2016) dalam beberapa tahun terakhir peran dan tanggung jawab komite audit telah
berkembang makin luas. Pada kebanyakan kasus di perusahaan terbuka peranan komite
audit berhubungan dengan tugas memberikan nasihat dan masukan terkait:
1) Sistem pengendalian internal manajemen.
2) Pengawasan dan monitoring terhadap audit internal.
3) Komunikasi dengan KAP.
4) Memberikan laporan kepada dewan komisaris terhadap proses dan isu audit.
5) Melakukan review terhadap informasi keuangan yang akan disampaikan kepada
pemegang saham dan pihak lainnya yang berkepentingan.
6) Memberikan nasihat dan masukan tentang berbagai hal terkait akuntabilitas
dewan komisaris serta memastikan kepatuhan terhadap implementasi Corporate
Governance sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor. 55/POJK.04/2015 Tentang Pembentukan
dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit menyatakan komite audit adalah komite
yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris dalam membantu
melaksanakan tugas dan fungsi dewan komisaris.
2.1.2 Wewenang Komite Audit
Dalam melaksanakan tugasnya, Komite Audit mempunyai wewenang sebagai berikut:
1) Mengakses dokumen, data, dan informasi Emiten atau Perusahaan Publik
tentang karyawan, dana, aset, dan sumber daya perusahaan yang diperlukan.
2) Berkomunikasi langsung dengan karyawan, termasuk Direksi dan pihak yang
menjalankan fungsi audit internal, manajemen risiko, dan Akuntan terkait tugas
dan tanggung jawab Komite Audit.
3) Melibatkan pihak independen di luar anggota Komite Audit yang diperlukan
untuk membantu pelaksanaan tugasnya (jika diperlukan).
4) Melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris.
Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) Komite Audit bertugas
membantu Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa:
1) Laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum.
2) Struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik.
3) Pelaksanaan audit internal maupun eksternal dilaksanakan sesuai dengan
standar audit yang berlaku, dan tindak lanjut temuan hasil audit dilaksanakan
oleh manajemen.
4) Komite Audit memproses calon auditor eksternal termasuk imbalan jasanya
untuk disampaikan kepada Dewan Komisaris.
5) Jumlah anggota Komite Audit harus disesuaikan dengan kompleksitas
Perusahaan dengan tetap memperhatikan efektifitas dalam pengambilan
keputusan.
Bagi perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa efek, demikian juga perusahaan
negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola dana
masyarakat, perusahaan yang produk atau jasanya digunakan oleh masyarakat luas, serta
perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap kelestarian lingkungan. Komite Audit
diketuai oleh Komisaris Independen dan anggotanya dapat terdiri dari Komisaris dan atau
pelaku profesi dari luar perusahaan. Salah seorang anggota memiliki latar belakang dan
kemampuan akuntasi dan atau keuangan.
2.1.3 Tanggungjawab Komite Audit
Jenis tugas dan tanggung jawab Komite Audit yang diangkat sebuah perusahaan
yang satu tidak pernah sama persis dengan perusahaan yang lain. Hal itudisebabkan
karenaadanyaperbedaan skala, jenis usaha, kebutuhan dan domisili masing-
masingperusahaan.Walaupun demikian tugas dan tanggung jawab Komite Audit tidak
boleh menyimpang dari tugas dan tanggung jawab Board of Directors.Dewan Audit diatur
berdasarkan Surat Keputusan Bank Indonesia No. 27/163/KEP/DIR/1995 tanggal 31
Maret 1995 dan Surat Edaran Bank Indonesia No. 27/8/UPPB/1995 tanggal 31 Maret
1995. Menurut ketentuan tersebut Dewan Audit dalam perbankan memiliki 6 tanggung
jawab sebagai berikut:
1) Menyetujui Internal Audit Charter, menanggapi rencana audit intern dan
masalah-masalah yang ditemukan oleh Auditor Intern serta menentukan
pemeriksaan khusus oleh Satuan Kerja Audit Intern (SKAI) apabila terdapat
dugaan terjadinya kecurangan, penyimpangan terhadap hukum dan peraturan
yang berlaku.
2) Mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam hal audit tidak
menindaklanjuti laporan Kepala SKAI.
3) Memastikan bahwa laporan-laporan yang disampaikan kepada Bank Indonesia
serta Instansi lain yang berkepentingan telah dilakukan dengan benar dan tepat
waktu. Selain itu, Bank juga mematuhi ketentuan dan perundang-undangan
yang berlaku.
4) Memastikan bahwa manajemen menjamin baik auditor ekstern maupun intern
dapat bekerja sama dengan standar auditing yang berlaku.
5) Memastikan bahwa manajemen telah menjalankan usahanya sesuai prinsip
pengelolaan bank secara sehat.
6) Efektivitas pelaksanaan fungsi SKAI. Seperti halnya komite audit di
perusahaan.
2.1.4 Komposisi Komite Audit
Komite Audit biasanya terdiri dari dua hingga tiga orang anggota, dipimpin oleh
seorang Komisaris Independen. Seperti komite pada umumnya, Komite audit yang
beranggotakan sedikit cenderung dapat bertindak lebih efisien. Akan tetapi, Komite Audit
beranggota terlalu sedikit juga menyimpan kelemahan yakni minimnya ragam pengalaman
anggota. Sedapat mungkin anggota Komite Audit memiliki pemahaman memadai tentang
pembuatan laporan keuangan dan prinsip-prinsip pengawasan internal.Agar mampu
bekerja efektif, Komite Audit dibantu staff perusahaan dan auditor eksternal. Komite juga
harus memiliki akses langsung kepada stand dan penasehat perusahaan seperti keuangan
dan penasehat hukum. Keberadaan Komite Audit diatur melalui Surat Edaran Bapepam
Nomor: SE/03 PM/2002 (bagi perusahaan publik) dan keputusan Menteri BUMN Nomor:
Kep-103/MBU/2002 (Bagi BUMN) Komite Audit sedikitnya terdiri dari tiga orang,
diketuai oleh seorang Komisaris Independen perusahaan dengan dua orang eksternal yang
independen serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan.
2.1.5 Keefektifan Kerja Komite Audit
Meskipun komite audit pada saat ini telah diakui keberadaannya hampir disemua
perusahaan di negara maju, terutama di Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Sampai saat
ini belum ada kesepakatan mengenai tolak ukur dari keberhasilan atau keefektiviitasan
komite audit.Komite audit dapat melakukan sinergi dengan audit internal untuk lebih
meningkatkan sistem pengendalian internal perusahaan. Apabila terdapat dugaan
penyimpangan atau kecurangan di perusahaan yang melibatkan direksi perusahaan, maka
komisaris dapat menugaskan komite audit untuk melakukan audit khusus (fraud audit).
Dalam hal ini, komite audit dapat meminta bantuan pihak eksternal (outsourcing) untuk
melakukan audit investiatif (investigative audit) atau audit forensik(forensic audit) guna
mengungkap terjadinya praktik kecurangan yang signifikan di perusahaan.Kalbers dan
Fogarty (1993) telah melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
efektivitas kerja komite audit. Hasil penelitian mereka yang dimuat dalam Auditing a
journal of practice & theory berjudul “Audit Committee Effectiveness: An Empirical
Investigation Of The Contribution Of Power” antara lain mengungkapkan bahwa terdapat
tiga factor dominan yang berpengaruh terhadap keberhasilan komite audit dalam
mengemban tugasnya. Ketiga faktor itu adalah kewenangan formal dan tertulis dari komite
audit, kerjasama manajemen, dan kualitas (kompetensi) anggota komite audit. Selain itu,
efektivitas kerja komite audit juga sangat dipengaruhi oleh pola hubungan dan tingkat
intensitas komunikasi antara komite audit dengan berbagai pihak.

2.2 Komite Lainnya


2.2.1 Komite Nominasi dan Komite Renumerasi
Di Indonesia Komite Nominasi dan Remunerasi adalah Komite Dewan Komisaris
Perusahaan yang dibentuk untuk memenuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan no.
34/POJK.O4/2014 tentang Komite Nominasi dan Remunerasi Emiten atau Perusahaan
Publik yang diterbitkan pada 8 Desember 2014 (POJK no. 34/2014). Menurut POJK No
34 POJK.04/2014 Tanggung Jawab.
Komite Nominasi Dan Remunerasi Melakukan Evaluasi serta menyusun dan
memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris Mengenai sistem/kebijakan
remunerasi dan nominasi bagi Komisaris, Direksi, Pejabat eksekutif secara menyeluruh.
Dengan demikian, tugas utama komite remunerasi adalah membantu Board of Directors
dalam merancang paket kebijakaan balas jasa Directors dan eksekutif senior yang
memandai dan kompetitif, namun masih dalam batas kewajaran. Dengan demikian,
diharapkan kinerja perusahaan serta komisaris dan eksekutif meningkat. Sedangkan
komite nominasi bertanggung jawab mencari dan menominasi kandidat yang memenuhi
syarat untuk menduduki jabatan Presiden Direktur, Direktur dan Manajer Senior. Secara
periodik melakukan evaluasi kinerja Direktur dan merencanakan penggantian jika
diperlukan.
2.2.1.1 Tugas Komite Nominasi dan Remunerasi
1) Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam menetapkan kriteria pemilihan calon anggota Dewan Komisaris
dan Direksi serta sistem remunerasinya.
2) Komite Nominasi dan Remunerasi bertugas membantu Dewan Komisaris
mempersiapkan calon anggota Dewan Komisaris dan Direksi dan
mengusulkan besaran remunerasinya. Dewan Komisaris dapat
mengajukan calon tersebut dan remunerasinya untuk memperoleh
keputusan RUPS dengan cara sesuai ketentuan anggaran dasar.
3) Bagi Perusahaan yang sahamnya tercapai di bursa efek, perusahaan
negara, perusahaan daerah, perusahaan yang menghimpun dan mengelola
dana masyarakat, perusahaan yang produk atau dananya digunakan oleh
masyarakat lusa, serta perusahaan yang mempunyai dampak luas terhadap
kelestarian lingkungan, komite nominasi, dan remunerasi diketua oleh
komisaris independen dan anggotanya dapat terdiri dari komisaris dana
tau pelaku profesi dari luar perusahaan.
4) Keberadaan Komite Nominasi dan Remunerasi serta tata kerjanya
dilaporkan dalam RUPS.
2.2.2 Komite Kebijakan Risiko
Komite ini bertugas membantu Dewan Komisaris dalam mengkaji sistem
manajemen risiko yang disusun oleh Direksi serta menilai toleransi risiko yang dapat
diambil oleh perusahaan. Anggota Komite Kebijakan Risiko terdiri dari anggota Dewan
Komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar
perusahaan.
2.2.3 Komite Kebijakan Corporate Governance
Komite Kebijakan Corporate Governance bertugas membantu Dewan Komisaris
dalam mengkaji kebijakan GCG secara menyeluruh yang disusun oleh Direksi serta
menilai konsistensi penerapannya, termasuk yang bertalian dengan etika bisnis dan
tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility). Anggota Komite
Kebijakan Corporate Governance terdiri dari anggota Dewan Komisaris, namun bilamana
perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar perusahaan. Komite Kebijakan
Corporate Governance dapat digabung dengan Komite Nominasi dan Remunerasi.

2.3 Profil PT. KAI


PTKereta Api Indonesia (PT KAI) adalah Badan Usaha Milik Negara yang
menyelenggarakan jasa angkutan kereta api. Layanan PT Kereta Api Indonesia meliputi
angkutan penumpan dan barang. Pada tanggal 14 Agustus 2008 PT KAI melakukan
pemisahan divisi Jabotabek menjadi PT Kereta Api Jabotabek untuk mengelola kereta api
penglaju di daerah Jakarta dan sekitarnya. Selama tahun 2008 jumlah penumpang melebihi
197 juta orang.Sejarah kereta api Indonesia dimulai setelah proklamasi kemerdekaan
Indonesia dikumandangkan pada tanggal 17 agustus 1945. Karyawan perusahaan kereta
api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api mengambil alih kekuasaan
perkertaapian dari jepang. Pada tanggal 28 September 1945, pembacaan pernyataan sikap
oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya menegaskan bahwa mulai hari itu
kekuasaan perkerataapian berada di tangan bangsa Indonesia sehingga Jepang sudah tidak
berhak untuk mencampuri urusan perkerataapian di Indonesia. Inilah yang melandasi
ditetapkannya tanggal 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api serta dibentuknya
Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Nama DKARI kemudian diubah
menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Nama itu diubah lagi menjadi
perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tanggal 15 September 1971. Pada tanggal 2
Januari 1991 nama PJKA secara resmi diubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api
(PERUMKA) dan semenjak tanggal 1 juni 1999 diubah menjadi PT Kereta Api Indonesia
(persero) sampai sekarang.

2.4 Kronologi Kasus PT KAI

Kasus PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI)berawal dari pembukuan yang tidak
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sebagai akuntan sudah selayaknya menguasai
prinsip akuntansi berterima umum sebagai salah satu penerapan etika profesi. Kesalahan
karena tidak menguasai prinsip akuntansi berterima umum bisa menyebabkan masalah
yang sangat menyesatkan.Beberapa data disajikan tidak sesuai dengan standar akuntansi
keuangan. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi dan masih bisa diperbaiki. Namun, yang
menjadi permasalahan adalah pihak auditor menyatakan Laporan Keuangan itu Wajar
Tanpa Pengecualian sehingga menimbulkan kecurigaan. Dari informasi yang didapat,
sejak tahun 2004 laporan PT KAI diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Sedangkan tahun-
tahun sebelumnya melibatkan BPK sebagai auditor perusahaan kereta api tersebut. Hal itu
menimbulkan dugaan kalau Kantor Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan
PT KAI melakukan kesalahan.Kasus PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) juga dianggap
telah melakukan kecurangan dalam penyajian laporan keuangan. Ini merupakan suatu
bentuk penipuan yang dapat menyesatkan investor dan stakeholder lainnya. Kasus ini juga
berkaitan dengan masalah pelanggaran kode etik profesi akuntansi.Diduga terjadi
manipulasi data dalam laporan keuangan PT KAI tahun 2005, Komisaris PT KAI Hekinus
Manao yang juga sebagai Direktur Informasi dan Akuntansi Direktorat Jenderal
Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan mengatakan, laporan keuangan itu telah
diaudit oleh Kantor Akuntan Publik S. Manan. Perusahaan BUMN itu dicatat meraih
keutungan sebesar Rp. 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan
seharusnya menderita kerugian sebesar Rp. 63 Miliar.
Kasus di atas merupakan Kasus Manipulasi Laporan Keuangan PT KAI yang
dilakukan oleh Manajemen PT KAI dan Ketidakmampuan KAP dalam mengindikasi
terjadinya manipulasi. Komisaris PT KAI yaitu Hekinus Manao menolak menyetujui
laporan keuangan PT KAI tahun 2005 yang telah diaudit oleh akuntan publik.Setelah hasil
audit diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan PT
KAI tahun 2005:
1. Pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, tetapi dalam laporan
keuangan itu dimasukkan sebagai pendapatan PT KAI selama tahun 2005. Kewajiban
PT KAI untuk membayar surat ketetapan pajak (SKP) pajak pertambahan nilai (PPN)
sebesar Rp 95,2 Miliar yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak pada akhir
tahun 2003 disajikan dalam laporan keuangan sebagai piutang atau tagihan kepada
beberapa pelanggan yang seharusnya menanggung beban pajak itu. Padahal
berdasarkan Standar Akuntansi, pajak pihak ketiga yang tidak pernah ditagih itu tidak
bisa dimasukkan sebagai aset. Di PT KAI ada kekeliruan direksi dalam mencatat
penerimaan perusahaan selama tahun 2005.
2. Penurunan nilai persediaan suku cadang dan perlengkapan sebesar Rp24 Miliar yang
diketahui pada saat dilakukan inventarisasi tahun 2002 diakui manajemen PT KAI
sebagai kerugian secara bertahap selama lima tahun. Pad akhir tahun 2005 masih
tersisa saldo penurunan nilai yang belum dibebankan sebagai kerugian sebesar Rp6
Miliar, yang seharusnya dibebankan seluruhnya dalam tahun 2005.
3. Bantuan pemerintah yang belum ditentukan statusnya dengan modal total nilai
kumulatif sebesar Rp674,5 Miliar dan penyertaan modal negara sebesar Rp70 Miliar
oleh manajemen PT KAI disajikan dalam neraca per 31 Desember 2005 sebagai bagian
dari hutang.
4. Manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian terhadap kemungkinan
tidak tertagihnya kewajiban pajak yang seharusnya telah dibebankan kepada
pelanggan pada saat jasa angkutannya diberikan PT KAI tahun 1998 sampai 2003.
Perbedaan pendapat terhadap laporan keuangan antara komisaris dan auditor
akuntan publik terjadi karena PT KAI tidak memiliki tata kelola perusahaan yang baik.
Akuntan publik yang telah mengaudit laporan keuangan PT KAI tahun 2005 segera
diperiksa oleh Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik. Jika terbukti bersalah, akuntan
publik itu diberi sanksi teguran atau pencabutan izin praktek.PT KAI dapat dikenakan
sanksi sesuai Pasal 107 UU No.8 Tahun 1995 yang menyatakan:“Setiap Pihak yang
dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan Pihak lain atau menyesatkan Bapepam,
menghilangkan, memusnahkan, menghapuskan, mengubah, mengaburkan,
menyembunyikan, atau memalsukan catatan dari Pihak yang memperoleh izin,
persetujuan, atau pendaftaran termasuk Emiten dan Perusahaan Publik diancam dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00
(lima miliar rupiah)”. (Harian KOMPAS Tanggal 5 Agustus 2006 dan 8 Agustus 2006).
Analaisis Kasus yang ditinjau dari Komite Audit dengan Auditor Internal dan Auditor
Eksternal.
1. Pada kasus ini komite audit tidak mempergunakan wewenangnya yaitu berkomunikasi
langsung dengan karyawan, termasuk direksi dan pihak lain yang menjalankan fungsi
audit internal, manajemen resiko dan akuntan terkait tugas dan tanggungjawab komite
audit. Sehingga dalam tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa laporan-laporan
yang harus disampaikan instansi lain yang berkepentingan telah dilakukan dengan
benar dan tepat waktu tidak terpenuhi. Selain itu, kurangnya sinergi antara komite audit
dengan audit internal menyebabkan komite audit harus melakukan audit khusus setelah
hasil dari auditor eksternal dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa komite audit tidak
bekerja dengan efektif sesuai dengan perannya terhadap audit internal.
2. komunikasi antara Komite Audit dengan Internal Auditor yang belum tercipta dengan
baik merupakan salah satu faktor yang turut memiliki andil dalam memicu kasus ini.
Sebagaimana diketahui bersama bahwa Komite Audit sangat mengandalkan Internal
Auditor dalam menjalankan tugasnya untuk mengetahui berbagai hal yang terjadi
dalam operasional perusahaan. Sebagai ilustrasi mengenai kurangnya komunikasi
antara Komite Audit dan Auditor Internal, sejak Komite Audit aktif September 2005,
sampai dengan saat ini belum pernah satu kalipun terjadi komunikasi antara Komite
Audit dengan Auditor Internal untuk proses audit tahun buku 2006. Dan terkait dengan
prinsip konsistensi yang harus diterapkan dalam akuntansi, perlu ditekankan bahwa
pelaksanaan prinsip konsistensi dengan tetap berpegang pada pengetahuan dan prinsip
akuntansi yang berlaku. Dengan demikian bukan berarti kebijakan akuntansi yang
telah dilakukan tahun lalu akan dianggap konsisten apabila tahun ini tetap dilakukan.
3. Kunci untuk merekatkan semua pihak dijalankan oleh Auditor Internal yang
berkomunikasi intens dengan Komite Audit. Pembelajaran menarik dalam aspek
public governance pada kasus ini adalah mengenai Bantuan Pemerintah Yang Belum
Ditentukan Statusnya (BPYBDS). Sebagai perwakilan pemegang saham (yaitu
Pemerintah), departemen teknis terkait dan Kementerian BUMN seharusnya tegas
dalam menentukan BPYBDS ini, apakah merupakan penyertaan modal atau hutang.
Fakta yang terjadi saat ini adalah BPYBDS statusnya tetap dibiarkan tidak jelas sampai
bertahun-tahun sehingga nilainya di beberapa BUMN mencapai triliunan rupiah. Hal
ini jelas akan berpotensi menimbulkan masalah di masa yang akan datang, karena akan
menyulitkan perusahaan dalam mengelompokkannya, apakah termasuk aset atau
kewajiban (liability).

2.5 Pembahasan Kasus ditinjau dari Good Corporate Governance (GCG)

Kasus Manipulasi Laporan Keuangan yang dilakukan oleh PT KAI ditinjau dari
tugas dan tanggung jawab komite audit. Dimana komite audit belum menjalankan
tugasnya untuk membantu dewan komisaris dalam pelaksanakan audit internal maupun
eksternal yang dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku. Kelalaian komite
audit dalam menjalankan tugasnya mengawasi manajemen berdampak pada perbedaan
pendapat antara manajemen dengan komite audit. Dimana komite audit tidak setuju
tentang hasil pengauditan laporan keuangan yang dilakukan akuntan public yang
dilaporkan oleh manajemen. Selain itu, PT KAI juga tidak memiliki tata kelola perusahaan
sehingga untuk mengatur dan mengendalikan perilaku pengelola perusahaan tidak dapat
dilakukan yang cenderung bertindak untuk menguntungkan dirinya sendiri.
Adapun prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG)adalah transparency,
accountability, responsibility, indepandency, danfairness.Berdasarkan Good Corporate
Governance (GCG), akuntan PT. KAI dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya
belum sesuai dengan prinsip - prinsip GCG di bawah ini:
1) Transparansi
Dewan Komisaris merupakan suatu dewan, sehingga akan sangat ideal apabila
Dewan Komisaris mempunyai satu orang juru bicara yang mengatasnamakan
seluruh Dewan Komisaris sehingga Dewan Komisaris memiliki satu suara. Namun
demikian bukan berarti tidak diperkenankan adanya perbedaan pendapat dalam
Dewan Komisaris. Perbedaan pendapat diakomodir dengan jelas dalam dissenting
opinion yang harus dicatat dalam risalah rapat. Untuk itulah perlunya
kebijaksanaan (wisdom) dari anggota Dewan Komisaris untuk memilah-milah
informasi apa saja yang merupakan public domain dan informasi yang merupakan
private domain. Hal ini terkait dengan pelaksanaan prinsip GCG yaitu transparansi,
karena transparansi bukan berarti memberikan seluruh informasi perusahaan
kepada semua orang, namun harus tepat sasaran dan memberikan nilai tambah bagi
perusahaan.

2) Accountability (Akuntabilitas)
Akuntan internal PTKAI dalam menyusun laporan keuangan tidak meyiapkan
laporan keuangannya dengan akurat dan melakukan pembukuan yang tidak sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Selain itu, manajemen tidak melakukan
tanggung jawab dan fungsinya dengan baik dimana salah satu fungsi yang tidak
dijalankannya yaitu, menyajikan laporan keuangan yang wajar. Pada kasus ini bisa
dilihat manajemen tidak memeriksa laporan keuangan dengan baik sehingga
membuat laporan keuangan yang dibuat oleh akuntan internal tidak akurat dan
melakukan pembukuan yang tidak sesuai standar yang ada.
3) Responsibility (Pertanggungjawaban)
Akuntan internal PTKAI dalam menyusun laporan keuangan tidak melakukan
sesuai dengan tanggung jawabnya yang telah diatur dalam undang-undang
Akuntansi dan tidak memperhatikan kepentingan steakholder yang lain dan hanya
memperhatikan kepentingan pihak-pihak tertentu saja. Manajemen juga
mempunyai peran, dimana efektivitas dan fungsi manajerial tergantung pada
kemampuannya menyelaraskan kepentingan dari perusahaan dan pemegang
saham, namun pada kasus ini manajemen lalai menjalankan tugasnya sehingga
membuat kerugian bagi beberapa pihak.
4) Independency (Kemandirian)
Akuntan internal PT KAI melakukan manupulasi dalam menyajikan laporan
keuangan yang mengisyratkan terdapat kepentingan atau tekanan atau intervensi
dari pihak lain untuk melakukan manupulasi demi menguntungkan pihak-pihak
tertentu yang berada di PT. KAI. Pada kasus ini manajemen dianggap lalai dalam
hal melindungi sumber daya perusahaan, karena membuat karyawannya
mengalami tertekan sehingga membuat kinerja dari akuntan internal tidak berjalan
baik dan sesuai dengan aturan yang ada.
Dalam kasus ini juga terdapat prinsip etika yang dilanggar. Selain akuntan
eksternal dan komite audit yang melakukan kesalahan dalam hal pencatatan laporan
keuangan, akuntan internal di PT. KAI juga belum sepenuhnya menerapkan 8 prisip etika
akuntan. Dari kedelapan prinsip akuntan yaitu tanggung jawab profesi, kepentingan
publik, integritas, objektifitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan,
perilaku profesional, dan standar teknis, prinsip-prinsip etika akuntan yang dilanggar
antara lain:
1) Tanggung jawab profesi
Dimana seorang akuntan harus bertanggung jawab secara professional terhadap
semua kegiatan yang dilakukannya. Akuntan Internal PT. KAI kurang bertanggung
jawab karena dia tidak menelusuri kekeliruan dalam pencatatan dan memperbaiki
kesalahan tersebut sehingga laporan keuangan yang dilaporkan merupakan
keadaan dari posisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.
2) Kepentingan Publik
Dimana akuntan harus bekerja demi kepentingan publik atau mereka yang
berhubungandengan perusahaan seperti kreditur, investor, dan lain-lain. Dalam
kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak bekerja demi kepentingan publik karena
diduga sengaja memanipulasi laporan keuangan sehingga PT. KAI yang
seharusnya menderita kerugian namun karena manipulasi tersebut PT. KAI terlihat
mengalami keuntungan. Hal ini tentu saja sangat berbahaya, termasuk bagi PT.
KAI. Karena, apabila kerugian tersebut semakin besar namun tidak dilaporkan,
maka PT. KAI bisa tidak sanggup menanggulangi kerugian tersebut.
3) Integritas
Dimana akuntan harus bekerja dengan profesionalisme yang tinggi. Dalam kasus
ini akuntan PT. KAI tidak menjaga integritasnya, karena diduga telah melakukan
manipulasi laporan keuangan.
4) Objektifitas
Dimana akuntan harus bertindak obyektif dan bersikap independen atau tidak
memihak siapapun. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak obyektif karena
diduga telah memanipulasi laporan keuangan sehingga hanya menguntungkan
pihak-pihak tertentu yang berada di PT. KAI.
5) Kompetensi dan kehati-hatian professional
Akuntan dituntut harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan penuh kehati-
hatian, kompetensi, dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan keterampilan profesionalnya pada tingkat yang
diperlukan. Dalam kasus ini, akuntan PT. KAI tidak melaksanakan kehati-hatian
profesional sehingga terjadi kesalahan pencatatan yang mengakibatkan PT. KAI
yang seharusnya menderita kerugian namun dalam laporan keuangan mengalami
keuntungan.
6) Perilaku profesional
Akuntan sebagai seorang profesional dituntut untuk berperilaku konsisten selaras
dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesinya. Dalam kasus ini akuntan PT. KAI diduga tidak
berperilaku profesional yang menyebabkan kekeliruan dalam melakukan
pencatatan laporan keuangan, dan hal ini dapat mendiskreditkan (mencoreng nama
baik) profesinya.
7) Standar Teknis
Akuntan dalam menjalankan tugas profesionalnya harus mengacu dan mematuhi
standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya
dan dengan berhati-hati, akuntan mempunyai kewajiban untuk melaksanakan
penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip
integritas dan obyektifitas. Dalam kasus ini akuntan tidak melaksanakan prinsip
standar teknis karena tidak malaporkan laporan keuangan sesuai dengan standar
akuntansi keuangan. Contohnya, pada saat PT Kereta Api Indonesia telah tiga
tahun tidak dapat menagih pajak pihak ketiga. Tetapi, dalam laporan keuangan itu,
pajak pihak ketiga dinyatakan sebagai pendapatan. Padahal, berdasarkan standar
akuntansi keuangan tidak dapat dikelompokkan dalam bentuk pendapatan atau
asset.

2.6 Penyelesaian Kasus PT.KAI


Permasalahan ini tentunya didasari oleh tidak berjalannya fungsi check and
balances yang merupakan fungsi substantif dalam perusahaan. Yang terpenting adalah
mengidentifikasi kelemahan yang ada sehingga dapat dilakukan penyempurnaan untuk
menghindari munculnya permasalahan yang sama di masa yang akan datang.Berikut ini
beberapa solusi yang disarankan kepada PT KAI untuk memperbaiki kondisi yang telah
terjadi :
1) Komite Audit tidak memberikan second judge atas opini Auditor Eksternal, karena
opini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Auditor Eksternal.
2) Harus ada upaya untuk membenarkan kesalahan tahun-tahun lalu, karena
konsistensi yang salah tidak boleh dipertahankan.
3) Komite Audit tidak berbicara kepada publik, karena esensinya Komite Audit
adalah organ Dewan Komisaris sehingga pendapat dan masukan Komite Audit
harus disampaikan kepada Dewan Komisaris. Apabila Dewan Komisaris tidak
setuju dengan Komite Audit namun Komite Audit tetap pada pendiriannya, Komite
Audit dapat mencantumkan pendapatnya pada laporan komite audit yang terdapat
dalam laporan tahunan perusahaan.
4) Managemen menyusun laporan keuangan secara tepat waktu, akurat dan full
disclosure.
5) Komite Audit dan Dewan Komisaris sebaiknya melakukan inisiatif untuk
membangun budaya pengawasan dalam perusahaan melalui proses internalisasi,
sehingga pengawasan merupakan bagian tidak terpisahkan dari setiap organ dan
individu dalam organisasi.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1) Komite audit adalah pihak independen yang berperan untuk mengawasi dan memberi
masukan kepada dewan komisaris dalam hal terciptanya mekanisme pengawasan. Yang
termasuk sebagai komite lainnya adalah Komite Nominasi dan Renumerasi, Komite
Kebijakan Resiko dan Komite Kebijakan Corporate Governance.
2) Kasus PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) berawal dari pembukuan yang tidak sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Kasus ini juga berkaitan dengan masalah
pelanggaran kode etik profesi akuntansi.Diduga terjadi manipulasi data dalam laporan
keuangan PT KAI tahun 2005. Perusahaan BUMN itu dicatat meraih keutungan sebesar
Rp, 6,9 Miliar. Padahal apabila diteliti dan dikaji lebih rinci, perusahaan seharusnya
menderita kerugian sebesar Rp. 63 Miliar. Kasus di atas merupakan Kasus Manipulasi
Laporan Keuangan PT KAI yang dilakukan oleh Manajemen PT KAI dan
ketidakmampuan KAP dalam mengindikasi terjadinya manipulasi. Setelah hasil audit
diteliti dengan seksama, ditemukan adanya kejanggalan dari laporan keuangan PT KAI
tahun 2005 meliputi pajak pihak ketiga sudah tiga tahun tidak pernah ditagih, masalah
piutang PPN, masalah beban ditangguhkan, bantuan pemerintah yang belum ditentukan
statusnya, manajemen PT KAI tidak melakukan pencadangan kerugian, masalah
persediaan dalam perjalanandan masalah uang muka gaji.
3) Kasus manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh PT KAI ditinjau dari Good
Corporate Governance (GCG).Dalam tata kelola perusahaan dibutuhkan corporate
governance untuk mengatur dan mengendalikan perilaku pengelola perusahaan agar
bertindak tidak menguntungkan dirinya sendiri tetapi juga menguntungkan semua
pihak yang berkepentingan didalamnya termasuk masyarakat luas.Berdasarkan Good
Corporate Governance (GCG), akuntan PT. KAI dalam melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya belum sesuai dengan prinsip - prinsip GCG.
3.2 Saran

Demikian paper yang dapat penulis sajikan, apabila ada kesalahan dalam penulisan
juga kekurangan dalam segi pembahasan mohon dimaklumi. Dengan segala kerendahan
hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca, agar dapat
memperbaiki paper ini selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Putri, I Gusti Ayu Made Asri Dwija, dan Ulupui, I Gusti Ketut Agung. 2017. Pengantar
Corporate Governance. Denpasar: CV. Sastra Utama.

FCGI. 2001. Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate
Governance (Tata Kelola Perusahaan). Jilid II, Edisi 2.

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan BUMN Nomor : KEP-102/M-PBUMN/2002


tanggal 31 Juli 2002 tentang pembentukan komite audit bagi BUMN.

Sutojo, Siswanto dan Aldridge, E John. 2008. Good Corporate governance. Jakarta : PT.
Damar Mulia Pustaka

Utama, Marta. 2004. Komite Audit, Good Corporate Governance Dan Pengungkapan
Informasi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia Vol. 1 pp. 61 – 79.

pratiwi. 2014. kasus manipulasi laporan keuangan PT KAI


(http://praatiwii.blogspot.co.id/2014/11/kasus-manipulasi-laporan-keuangan-pt-
kai.html, diakses 20 Oktober 2018)

Juliana, putri. 2012. Kasus audit umum PT KAI


(https://putrijulaiha.wordpress.com/2012/05/09/kasus-audit-umum-pt-kai/, diakses 20
Oktober 2018)