Anda di halaman 1dari 6

Laboratorium Survey dan Pemetaan

Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik


Universitas Indonesia

Anggota Kelompok : 1. Adit Arya Sumasno /1606823853

2.Aldo Laurenz /1506675296

3.Bias January P /1606904390

4.Farras Mahdy Fauzan /1606832675

5.Nurizkatilah /1606887421

Kelompok : A4

Hari/Tanggal Praktikum : Jumat/22 September 2017

Judul Praktikum : 01 – Chaining A Line By Direct And Indirect Ranging

Nama Asisten : Rendy Darmadi

Tanggal Pengumpulan : Paraf :

A. TUJUAN

Mengukur jarak antara dua titik pada suatu tingkat ketinggian pada tanah.

B. Dasar Teori

Pengukuran panjang horizontal sebuah tanah biasa dilakukan dengan


pengukuran garis berantai. Dalam pengukuran berantai ini sebuah titik harus
sejajar lurus antara titik awal dan titik akhir.

 Pengukuran jarak :
“Suatu proses pembentukan suatu titik di tengah-tengah sebuah garis lurus
diantara dua titik”

Pengukuran jarak harus dilakukan sebelum pengukuran garis berantai


dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menentukan beberapa titik sebelum
menggabungkan titik-titik tersebut menjadi sebuah rantai garis yang yang semakkin
panjang. Pengukuran jarak dapat dilakukan secara langsung dengan mata atau
menggunakan Theodolite. Umumnya, pengukuran jarak ini dilakukan dengan mata
dengan bantuan beberapa tongkat pengukur.
Laboratorium Survey dan Pemetaan
Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Pengukuran jarak dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Pengukuran secara langsung
2. Pengukuran secara tidak langsung

1. Pengukuran Secara Langsung :

Saat pengamatan dilakukan secara langsung melalui titik akhir dan tongkat
pengukur berada ditengah-tengah garis lurus, maka pengukuran ini disebut dengan
pengukuran secara langsung. Pengukuran secara langsung hanya dapat dilakukan
apabila titik akhir pengukuran dapat dilihat oleh mata.

Asumsikan titik A dan B merupakan titik awal dan akhir sebuah pengukuran
berantai dengan dua tongkat pengukur yang telah dipasang. Misalkan, tongkat
pengukur tersebut berada di titik P, maka titik A P dan B harus terletak pada satu
garis. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara pengamat yang berada pada jarak
sekitar 2 meter di belakang tongkat ukur di titik A harus melihat bahwa AB
segaris. Seorang pengamat lainnya yang memegang tongkat P mengikuti instruksi
dari pengamat dibelakang titik A untuk meluruskan tongkat P sedemikian hingga A
P dan P benar-benar lurus.

2. Pengukuran Tidak Langsung

Pengukuran secara tidak langsung biasanya digunakan apabila jarak antara dua
titik tidak dapat terlihat karena ketinggian tanah atau bukit atau titik akhir
pengukuran yang terlalu panjang. Sebagai contoh, ambil titik A dan B yang
terpisah oleh bukit. Dua orang pengamat berada di titik M dan P menempati titik
dimana pengamat tersebut bisa melihat titik A dan B. Secara bergantian, pengamat
M dan P mengarahkan satu sama lain sehingga A M P dan B berada dalam satu
garis lurus dimana pengamat A dapat melihat pengamat M, pengamat M dapat
melihat pengamat A dan P, pengamat P dapat melihat pengamat M dan B, dan
pengamat B hanya dapat melihat pengamat P. Saat garis lurus dapat terbentuk,
maka jarak antara A dan B dapat diukur dengan meteran gulung.
Laboratorium Survey dan Pemetaan
Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

C. DATA PRAKTIKUM

1. Direct Ranging
RAGING RODS

A C D B

Gambar 1. Ilustrasi untuk ‘Chaining a Line”

 Jarak AC = 5.540 m
 Jarak CD = 4.738 m
 Jarak DE = 8.420 m

2. Indirect Ranging

Gambar 2. Ilustrasi untuk ‘Indirect Ranging’


Laboratorium Survey dan Pemetaan
Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

 Jarak AC = 6.362 m
 Jarak CD = 2.820 m
 Jarak DB = 5.231 m

D. PENGOLAHAN DATA

1. Direct Ranging

AB = AC + CD + DB
= (5.540+4.738+8.420) m
= 18.698 m

2. Indirect Ranging

AB = AC + CD + DB
= (6.362+2.820+5.231) m
= 14.413 m

E. ANALISA
Analisa Percobaan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengukur jarak antara dua titik yang
berada pada tanah yang memiliki tingkat ketinggian yang sama. Sesuai dengan
judulnya, terdapat dua cara dalam pengukuran jarak ini, yaitu secara langsung
(Direct Ranging) dan secara tidak langsung (Indirect Ranging).
Pengukuran secara langsung dilakukan apabila titik awal pengukuran dan titik
akhirnya bisa terlihat tanpa ada penghalang seperti beda ketinggian. Sebelum
melakukan praktikum ini, mula-mula praktikan menetukan titik awal (titik A) dan
titik akhir (titik B) di tempat yang akan diukur jaraknya dengan meletakkan pasak
di titik-titik tersebut. Kemudian praktikan menetukan titik C yang berjarak kurang
dari 20-30 meter dari titik A, titik D yang berjarak kurang dari 20-30 meter dari
titik B. Saat titik-titik tersebut sudah ditentukan, praktikan di titik A mengarahkan
praktikan di titik C sedemikian hingga praktikan di titik A tidak dapat melihat
praktikan di titik D. Kemudian praktikan di titik C mengarahkan praktikan di titik
D sampai praktikan di titik C tidak dapat melihat praktikan di titik B. Dengan
demikian didapatkan titik A, titik C, titik D, dan titik B menjadi sebuah garis lurus.
Kemudian diukur satu per satu jarak AC, CD, dan DB.
Pengukuran secara tidak langsung dilakukan apabila titik akhir tanah yang
akan diukur tidak terlihat dari titik awal pengukuran karena ketinggian tanah yang
naik. Praktikan akan menyebut titik awal sebagai titik A dan titik akhir sebagai
Laboratorium Survey dan Pemetaan
Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
titik B. Langakah pertama untuk mengukur jarak dengan metode ini adalah
meletakkan dua buah titik dimana seorang praktikan di titik A dan dan di titik B
bisa melihat dua titik tersebut (titik C dan titik D). Kemudian praktikan di titik C
dan D bergantian mengarahkan satu sama lain sehingga praktikan di titik C melihat
praktikan di titik D segaris lurus dengan praktikan di titik A dan B, begitu pula
sebaliknya. Setelah itu jarak AC, CD, dan DB dapat di ukur menggunakan meteran
gulung dengan keadaaan meteran gulung harus berada pada ketinggian yang sama
sehingga membentuk garis lurus.

Analisa Hasil
Dari pengukuran langsung dan tidak langsung akan didapatkan dua data jarak
titik awal ke titik akhir pengukuran. Untuk pengukuran secara langsung didapatkan
jarak AB sebesar 18.698 meter. Sedangkan untuk pengukuran secara tidak
langsung didapatkan jarak AB sebesar 14.413 meter. Jarak yang didapatkan dari
kedua pengukuran tersebut berbeda disebabkan oleh perbedaan titik yang
praktikan ukur dan ketersediaan lokasi tempat pengukuran yang terbatas.

Analisis Kesalahan

 Kesalahan direct ranging :


1. Kurangnya ketelitian saat pembacaan alat ukur
2. Posisi praktikan tidak benar-benar lurus dalam satu garis
 Kesalahan indirect ranging :
1. Lokasi pengukuran tidak memungkinkan untuk membuat satu garis
lurus.
2. Saat pengukuran, meteran yang dipegang oleh praktikan tidak
benar-benar pada satu garis lurus.

E. APLIKASI
Chain surveying biasanya digunakan untuk mengukur tanah yang relatif sempit
dan tidak memiliki banyak detail seperti perbedaan ketinggian yang sangat
mencolok. Pengukuran ini sangat sederhana sehingga tidak memerlukan banyak
peralatan ataupun tenaga manusia.
Laboratorium Survey dan Pemetaan
Departemen Teknik Sipil – Fakultas Teknik
Universitas Indonesia

F. KESIMPULAN

Dari praktikum ini didapatkan dua kesimpulan, yaitu :


 Hasil pengukuran tanah melalui metode secara langsung adalah 18,698
meter.
 Hasil pengukuran tanah menggunakan metode tidak langsung adalah
14,413 meter.

F. REFERENSI

Oregon Department of Transportation. (2000). Basic Surveying – Theory and


Practice.
Laboratorium Survey dan Pemetaan. (2017). Surveying Lab Manual. Depok:
Departemen Teknik Sipil Universitas Indonesia.
Ranging Out Line. (Online). Tersedia di : http://www.agriinfo.in/?
page=topic&superid=8&topicid=48
What is chain surveying. (Online). Tersedia di :
https://www.reference.com/geography/chain-surveying-f717949628e0a8c7#

G. LAMPIRAN

Gambar 3 Direct Ranging