Anda di halaman 1dari 7

1.

1 Tujuan
Mahasiswa memahami dan melakukan penetapan parameter non spesifik obat
herbal meliputi penetapan kadar abu total.

1.2 Dasar Teori

Kadar abu total (sisa pemijaran) dan abu yang tidak dapat larut dalam
asam dapat ditetapkan melalui metode yang resmi. Dalam hal ini terjadi pemijaran
dan penimbangan, total abu kemudian dididihkan dengan asam klorida, disaring,
dipijarkan dan ditimbang abu yang tidak larut dalam asam dimaksudkan untuk
melarutkan kalsium karbonat, alkali klorida sedangkan yang tidak larut dalam
asam biasanya mengandung silikat yang berasal dari tanah atau pasir. Jumlah
kotoran, tanah, tanah liat dan lain-lain yang terdapat dalam sample uji disebut
sebagai zat anorganik asing yang terbentuk dalam bahan obat atau melekat pada
bahan obat pada saat pencampuran (Anonim, 2007).
Perlu diingat, saat penimbangan kadar abu diakukan sampai diperoleh
bobot tetap/konstan dari alat dan bahan yang digunakan. Bobot konstan yang
dimaksud bahwa dua kali penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari 0,5
mg tiap gram sisa yang ditimbang (Anonim, 2007).
Cara perhitungan kadar abu (Anonim, 2007) :
Berat abu total = [berat total penimbangan – berat cawan kosong]
Kadar abu total = Berat abu total x 100%
Berat sampel

Kadar sari rata-rata = N1 + N2 + N3 x 100%


3
Dalam menetapkan besarnya kadar sari yang terkandung dalam bahan obat
tradisional (ekstrak) dilakukan beberapa kali penimbangan hingga diperoleh bobot
tetap/konstan. Bobot konstan yang dimaksud adalah dua kali penimbangan
berturut-turut berbeda tidak lebih dari 0,5 mg tiap gram sisa yang ditimbang.
Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi suatu simplisia karena
tiap simplisia mempunyai kandungan atau kadar abu yang berbeda-beda, dimana
bahan anorganik yang terdapat dalam simplisia tersebut ada yang terbentuk secara
alami dalam tumbuhan. Atas dasar tersebut dapat ditentukan besarnya cemaran
bahan-bahan anorganik yang terdapat dalam simplisia yang terjadi pada saat
pengolahan ataupun dalam pengemasan simplisia.
Prinsipnya adalah bahan dipanaskan pada temperature dimana senyawa
organik dan turunannya terdekstruksi dan menguap hingga tersisa unsur mineral
organik, penetapan kadar abu bertujuan memberi gambaran kandungan mineral
internal dan eksternal dalam simplisia, mulai dari proses awal sampai
terbentuknya ekstrak. Kadar abu diperiksa untuk menetapkan tingkat pengotoran
oleh logam-logam dan silikat.
Kadar abu total (sisa pemijaran) dan abu yang tidak dapat larut dalam
asam dapat ditetapkan melalui metode yang resmi. Dalam hal ini terjadi pemijaran
dan penimbangan, total abu kemudian dididihkan dengan asam klorida, disaring,
dipijarkan dan ditimbang abu yang tidak larut dalam asam dimaksudkan untuk
melarutkan kalsium karbonat, alkali klorida sedangkan yang tidak larut dalam
asam biasanya mengandung silikat yang berasal dari tanah atau pasir. Jumlah
kotoran, tanah, tanah liat dan lain-lain yang terdapat dalam sample uji disebut
sebagai zat anorganik asing yang terbentuk dalam bahan obat atau melekat pada
bahan obat pada saat pencampuran.
Abu merupakan zat anorganik sisa hasil pembakaran suatu bahan organik.
Kandungan abu dan komposisinya bergantung pada macam bahan dan cara
pengabuan yang digunakan. Kandungan abu dari suatu bahan menunjukkan kadar
mineral dalam bahan tersebut. Ada dua macam garam mineral yang terdapat
dalam bahan, yaitu:
1. Garam organik : garam asam malat, oksalat, asetat, pektat

2. Garam anorganik : garam fosfat, karbonat, klorida, sulfat, nitrat

Pengabuan dilakukan untuk menentukan jumlah mineral yang terkandung


dalam bahan. Penentuan kadar mineral bahan secara asli sangatlah sulit sehingga
perlu dilakukan dengan menentukan sisa hasil pembakaran atas garam mineral
bahan tersebut. Pengabuan dapat menyebabkan hilangnya bahan-bahan organik
dan anorganik sehingga terjadi perubahan radikal organik dan terbentuk elemen
logam dalam bentuk oksida atau bersenyawa dengan ion-ion negatif (Anonim,
2008:10).

Penentuan abu total dilakukan dengan tujuan untuk menentukan baik


tidaknya suatu proses pengolahan, mengetahui jenis bahan yang digunakan, serta
dijadikan parameter nilai gizi bahan makanan. Dalam proses pengabuan suatu
bahan, ada dua macam metode yang dapat dilakukan, yaitu cara kering (langsung)
dan cara tidak langsung (cara basah).

Cara kering dilakukan dengan mengoksidasikan zat-zat organik pada suhu


500-600oC kemudian melakukan penimbangan zat-zat tertinggal. Pengabuan cara
kering digunakan untuk penentuan total abu, abu larut, tidak larut air dan tidak
larut asam. Waktu pengabuan lama, suhu yang diperlukan tinggi, serta untuk
analisis sampel dalam jumlah banyak. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam melakukan pengabuan cara kering, yaitu mengusahakan suhu pengabuan
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kehilangan elemen secara mekanis karena
penggunaan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya penguapan
beberapa unsur, seperti K, Na, S, Ca, Cl, dan P.

Sedangkan cara basah dilakukan dengan menambahkan senyawa tertentu


pada bahan yang diabukan sepeti gliserol, alkohol asam sulfat atau asam nitrat.
Pengabuan cara basah dilakukan untuk penentuan elemen mineral. Waktu
pengabuan relatif cepat, suhu yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi, untuk analisis
sampel dalam jumlah sedikit, memakai reagen kimia yang sering berbahaya
sehingga perlu koreksi terhadap reagen yang digunakan.

1.3 Alat dan Bahan


Alat :
- Cawan
- Oven
- Timbangan
- Desicator
- Penjepit
- Spatula
Bahan :

- Serbuk rosella

1.4 Cara Kerja

Cawan pengabuan

- Dimasukkan ke dalam oven selama 30 menit suhu 105oC


- Didinginkan dalam deksikator selama 30 menit hingga berat
konstan
Cawan pengabuan konstan

Simplisia

- Dimasukkan 2 g ekstrak kedalam cawa pengabuan kemudian


panaskan dalam tanur 600oC – 800oCantara 2 – 8 jam
(pengabuan dianggap selesai jika diperoleh sisa pembakaran
yang umumnya berwarna putih abu-abu dan beratnya konstan,
dengan selang waktu 30 menit.
- Ditimbang dalam keadaan dingin.( cawan berisi abu diambil
dari tanur, kemudian dimasukkan dalam oven dengan suhu
105oC, kemudian masukkan dalam deksikator sampai dingin )
- Ditimbang abu hingga berat konstan.
- Dihitung kadar abu.

Kadar Abu Total


1.4 Hasil Pengamatan
Berat Ekstrak : 2 g
Berat cawan kosong : 30,49 g
Berat cawan + abu : 30,58 g
Kadar abu sisa pijar : 30,58 – 30,49 = 0,09 g
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑏𝑢 𝑠𝑖𝑠𝑎 𝑝𝑖𝑗𝑎𝑟
Kadar abu total : 𝑥 100 %
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑖𝑚𝑝𝑙𝑖𝑠𝑖𝑎
0,09
= 𝑥 100 %
2

= 4,5 %
1.5 Pembahasan

Pada praktikum kali ini, proses pengabuan dilakukan dengan menggunakan


Muffle Furnace (tanur) yang memijarkan sampel pada suhu 600-800°C
penggunaan tanur karena suhunya dapat diatur sesuai dengan suhu yang telah
ditentukan untuk proses pengabuan. Sampel yang telah halus ditimbang sebanyak
2 gram, sebelum dimasukkan kedalam tanur cawan pengabuan dimasukkan
kedalam oven selama 30 menit dengan suhu 105oC. Kemudian cawan pengabuan
tersebut didinginkan dalam deksikator selama 30 menit, agar konstan. Untuk kali
ini analisis kadar abu total menggunakan bahan atau sampel daun sirsak. Setelah
tercapai pengabuan yang dapat ditunjukkan pada warna yang dihasilkan sampel
menjadi abu berwarna putih abu-abu. Kadar abu sisa pijar yang didapat pada
sampel daun sirsak adalah 0,09 g. Jauh sekali penurunan berat yang terjadi karena
berat sampel awal 2 g, berarti selama proses pemanasan awal sampai pada proses
pengabuan telah terjadi penguapan air dan zat-zat yang terdapat pada sampel,
sehingga yang tersisa hanyalah sisa dari hasil pembakaran yang sempurna yakni
abu.
Pada sampel daun sirsak didapat kadar abu total 4,5 %, yang dihitung
berdasarkan berat abu sisa pijar, dibagi berat simplisia dikali 100%. Besarnya
kadar abu yang didapat dalam praktikum kali ini, mungkin disebabkan oleh suhu
ruang ataupun adanya pasir dan kotoran yang terdapat dalam sampel. Untuk itu
dilakukan pengujian kadar abu totol yang memiliki berbagai macam tujuan yakni :
menentukan baik tidaknya suatu proses pengolahan,mengetahui jenis bahan yang
digunakan juga sebagai parameter nilai bahan makanan dan mengetahui adanya
abu yang tidak larut dalam asam yang cukup tinggi menunjukkan adanya pasir
atau kotoran lain yang terdapat dalam suatu bahan.

G. KESIMPULAN
Setelah melakukan praktikum analisis kadar abu dapat disimpulkan bahwa :

1. Abu adalah zat organik dari sisa hasil pembakaran suatu bahan organik
2. Proses untuk menentukan jumlah mineral sisa pembakaran disebut
pengabuan
3. Proses pengabuan dapat dilakukan dengan menggunakan tanur yang
memijarkan sampel pada suhu mencapai 600 – 800oC.
4. Kadar abu total yang diperoleh dari hasil pengabuan daun sirsak adalah
4,5%