Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM DIAGNOSA KLINIK

PEMERIKSAAN FISIK PADA ULAR

Disusun oleh :
Nama : Dinda Adinda
NIM : 135130101111039
Kelas : B-2013
Kelompok : B-9
Asisten : Nevi Diyah Santika

LABORATORIUM DIAGNOSA KLINIK


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
A. Metode Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan keadaan tubuh melalui cara penentuan kondisi
fisik dengan beberapa teknik pemeriksaan fisik yang meliputi :
a. Inspeksi
Pemeriksaan pasien adalah inspeksi, yaitu melihat dan mengevaluasi pasien secara visual.
Inspeksi ini menggunakan indera penglihatan, pendengaran maupun penciuman untuk
mengathui kondisi lebih lanjut.
b. Palpasi
Palpasi, yaitu menyentuh atau merasakan dengan tangan. Palpasi struktur individu,baik
pada permukaan maupun dalam rongga tubuh, terutama pada abdomen, akan memberikan
informasi mengenai posisi, ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas/gerakan komponen-
komponen anatomi yang normal, dan apakah terdapat abnormalitas.
c. Perkusi
Perkusi merupakan pemeriksaan pasien dengan menepuk permukaan tubuh secara ringan
dan tajam, untuk menentukan posisi, ukuran dan densitas struktur atau cairan atau udara
di bawahnya
d. Auskultasi
Auskultasi adalah ketrampilan untuk mendengar suara tubuh pada paru-paru, jantung,
pembuluh darah dan bagian dalam/viscera abdomen dengan menggunakan stetoskop.
Pemeriksaan fisik merupakan tindakan untuk mengidentifikasi kelainan-kelainan
klinis dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya suatu penyakit pada individu maupun
populasi. Melalui informasi yang didapatkan selama pemeriksaan dapat ditentukan beberapa
penyebab penyakit, organ yang terlibat, lokasi, tipe lesio, patogenesa, maupun tingkat
keparahan penyakit. (Jackson & Cockroft 2002).
Sebelum dilakukan pemeriksaan fisik perlu dilakukan pengisian ambulator untuk
mendapatkan informasi mengenai data pasien , klien serta mengetahui anamnesa pada pasien
untuk memudahkan dalam pemeriksaan fisik. Ambulator ini terbagi menjadi beberap abgian
yang meliputi (Bassert, 2014) :
1. Sinyalemen
Terdiri dari nama hewan, jenis kelamin, jenis hewan, sex, umur, ciri khas dari hewan
tersebut. Selain itu memuat semua hal guna mengambil tindakan lebih lanjut untuk
memudahkan dalam penanganannya agar tepat sasaran.
2. Anamnesa
Tindakan wawancara dengan klien untuk menggali informasi yang berkaitan dengan
penyakit hewan tersebut dengan memberikan pertanyaan yang padat dan jelas namun
dapat memberi jawaban yang tepat untuk menujang diagnosa.
B. Hasil praktikum
Berdasarkan pemeriksaan umum yang dilakukan terhadap seekor ular jenis Phyton
curtus, maka diperoleh hasil yang dituliskan di dalam ambulator sebagai berikut :

Tanggal : 30 November 2016


Nama Hewan : Malika
Spesies : Phyton curtus
Jenis Kelamin : Betina
Sinyalemen : Berwarna coklat muda dengan motif batik warna coklat tua
Anamnesa : kurus, kulit kering, sisik kasar, warna kusam tidak mengkilap, ujung ekor
mengelupas sisiknya dan luka kering
Pemeriksaan Fisik
Suhu : Poikiloterm Frek.Pulsus 40x/menit Frek. Nafas 8x/menit BB 1,5 kg
BB kurus
Kondisi Umum N
Cara melata normal
Kulit & Rambut N adanya lesi pada sisik di sisi dorsal vertebrae
Membran Mukosa N Warna gusi pink pucat

Lingua N Normal

Muskuloskeletal N Posisi kepala dan leher normal

Jantung normal saat auskultasi dengan stetoskop.


Sistem Sirkulasi N
Terdengar bunyi LUB DUB

Sistem Jacobson N Normal


Tidak ada discharge pada nasal
Sistem Respirasi N
Nasal kering
Mulut : Gigi Normal
Sistem Digesti N Palpasi abdomen : normal
Feses : normal
Normal
Sistem Urogenital N Saat dilakukan sexing tidak terdapat hemipenis 
betina
Sistem Syaraf N kondisi sadar dan semuanya normal

Mata dan telinga N Mata dan telinga sehat tanpa adanya discharge
C. Pembahasan
Pemeriksaan fisik ini mengkaji parameter fisiologi yang meliputi :
1. Suhu Tubuh
Rata-rata suhu optimal pada ular antara 18-34oC. Apabila ular berada pada daerah
yang sesuai biasanya suhu tubuh 24oC dan ular tropis sekitar 28oC. Heat stress biasanya
terjadi pada suhu 35oC dan kematian pada suhu 38-44oC. Ular atau reptil ini tergolong hewan
poikiloterm karena suhu tubuhnya menyesuaikan dengan keadaan disekitarnya. Ular memiliki
mekanisme pertahanan temperatur dengan cara melingkarkan tubuhnya untuk
meminimalisasi kehilangan panas dengan cepat (O'Malley, 2005).
Berdasarkan praktikum, kami tidak melakukanpengukuran temperatur tubuh karena
ular merupakan hewan poikiloterm (suhu tubuh menyesuaikan keadaan sekitar).
2. Anatomi Ular
Ular merupakan reptil dengan fitur tidak memiliki kaki untuk sistem lokomosi,
namun digantikan dengan oto-otot ditubuhnya untuk lokomosi. Anatomi dari ular yang
secara fisik memiliki bentuk memanjang ini mengakibatkan organ viscera tidak dalam posisi
simetris. Berdasarkan pembagian regio tubuhnya, ular dibagi menjadi 3 yaitu (O'Malley,
2005). :
 1/3 cranial: jantung, trachea, esophagus, tiroid fan pulmo sisi proximal. Jantung berada
pada cranioventral tepat di terminal dari trachea. Kelenjar tiroid pada kranial jantung.
Kelenjar tymus tipis dan terletak di proksimal trakea.

 1/3 medial: abdomen, hepar, pulmo, limpha dan pankreas. Vesica urinaria terletak di
dekat pilorus lambung (epigastrium). Pada beberapa spesies limpha dan pankreas
menyatu yang disebut dengan splenopancreas dan posisinya bebatasan dengan gall
bladder membentuk triad organ. Posisi ovarium kanan ini dekat dengan triad atau
sedikit ke caudal.
 1/3 caudal:intestine, ginjal, dan organ reproduksi
Posisi ovarium kanan dan kiri berurutan, lalu diikuti dengan ginjal kanan dan kiri. Usus
dan sekum terletak di percabangan dari usus dan kolon. Lemak terletak meutupi ventral
dari seluruh organ viscera, mulai dari gall bladder dan caudal dari kloaka.

Gambar.
Anatomi ular secara keseluruhan

3. Sistem Skeletal
a) Tulang tengkorak
Ciri khas dari kerangka ular adalah susunan tengkorak dan gigi. Adaptasi di
tengkorak memungkinkan ular untuk makan mangsa yang jauh lebih besar dari diri mereka
sendiri. Tulang dihubungkan oleh ligamen elastis, yang banyak peregangan. Sendi maxilla
dan mandibula ditempatkan sangat posterior (jauh ke belakang) di tengkorak, yang
memungkinkan mulut untuk membuka selebar mungkin. Tulang mandibula tidak menyatu
bersama-sama di depan sehingga mereka dapat bergerak terpisah ketika ular menelan mangsa
besar. Selain itu, ular memiliki tulang longgar terpasang tambahan disebut “kuadrat” di setiap
sisi. Ini memberikan “ganda engsel” pada sendi dan sebagai menelan ular, itu bergantian
bergerak rahang pada setiap sisi wajah dan “berjalan” mangsa ke dalam mulutnya (O'Malley,
2005).

b) Vertebrae
Semua ular hanya memiliki os. vertebrae, os.costae dan cranio facialis. Terdapat 400
os vertebarae dengan tulang rusuk yang melekat pada masing-masing dimana setiap vertebrae
memiliki lima artikulasi yang terpisah sehingga bersifat fleksibel. Otot hypaxial dan epaxial
ini memanjang sepanjang os vertebrae oleh sistem interlocking pada muskulus dan tendo
sehingga mendukung tubuh ular sangat lentur. Muskulus intercostalis dan hypaxial ini tidak
hanya membantu untuk lokomosi, namun juga membantu dalam digesti dan
respirasi(O'Malley, 2005).
Berdasarkan praktikum dengan melakukan inspeksi diketahui jika ular tersebut
kurus, karena tampak os vertebrae dengan penampakan bentuk segitiga.
c) Lokomosi
Sistem lokomosi ular berdasarkan tipe gerakannya ini dibedakan menjadi 4 yaitu (O'Malley,
2005).:
 Lateral undulating: bergerak dengan menggosokkan badan kekanan kekiri

 Rectilinear: menggunakan sisik perut, jadi gerakan lurus kedepan

 Concertina: gerakan seperti spiral/per, kepala menjulur ke depan,badan ditarik


membentuk spiral
 Sidewinding: bergerak dengan melemparkan badan kearah samping. Contohnya: ular
derik di pada pasir

Berdasarkan praktikum, spesies ular Phyton curtus dalam pergerakannya ini


tergolong Lateral undulating (bergerak dengan menggosokkan badan kekanan kekiri)

4. Sistem Cardiovaskular
Ruang jantung ular terdiri dari dua atrium dan satu ventrikel membentuk jantung
tiga bilik ular. Atrium kiri menerima darah dari paru-paru lalu menyebarkannya ke ventrikel
untuk diedarkan lagi.. Jantung terbungkus dalam kantung, yang disebut “perikardium,”.
Jantung terletak di percabangan dari bronkus. Penyesuaian ini melindungi jantung dari
kerusakan potensial ketika mangsa tertelan besar melewati kerongkongan. Limpa melekat
pada kandung empedu dan pankreas dan berfungsi untuk menyaring darah dan mendaur ulang
sel darah merah tua. Kelenjar timus terletak di jaringan lemak di atas jantung dan bertanggung
jawab untuk pematangan sel kekebalan khusus dalam darah (O'Malley, 2005).
Berdasarkan praktikum, secara anatomis jantung terletak pada 1/3 cranial. Dalam
auskultasi untuk menghitung denyut jantung, maka stetoskop diletakkan di 1/3 cranial yang
terdengar LUB DUB tapi sangat pelan suaranya. Jumlah dari denyut jantung sebanyak 40
kali/menit yang tergolong normal.
5. Sistem respirasi
Sistem pernapasan ular meliputi trakea (tenggorokan), bronkus, paru-paru, dan
kantung udara. Trakea terletak di belakang rongga mulut, dan berakhir di dekat jantung,
dimana bercabang menjadi dua bronkus. Bronkus kiri mengarah ke paru-paru kiri, yang
sangat kecil atau sama sekali vestigial. Bronkus kanan mengarah ke paru-paru kanan, yang
memanjang. Bagian depan dari paru-paru adalah pembuluh darah (dengan pembuluh darah)
yang berfungsi dalam pertukaran gas, tetapi paruh kedua paru-paru adalah avascular (tanpa
pembuluh darah). Kantung udara yang meluas ke daerah ekor yang memiliki fungsi
hidrostatik di sebagian besar ular, mengatur tekanan di dalam rongga tubuh. Karena ular tidak
memiliki diafragma, udara masuk dan keluar paru-paru karena aksi otot tubuh dan gerakan
tulang rusuk (O'Malley, 2005).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, perhitungan frekuensi respirasi dengan
cara inspeksi sebanyak 8 kali/menit yang tergolong normal.
6. Sistem digesti
A. Dental
Adaptasi lain yang membantu ular untuk menelan mangsa adalah
kurva mundur dari gigi. Mereka miring ke arah tenggorokan dan bertindak
sebagai kait untuk mencegah mangsa hidup dari menggeliat longgar. Ular
gigi keduanya acrodont (melekat pada tulang) dan polyphydont (mampu
tumbuh kembali ketika hilang), dan ular mungkin memiliki beberapa set
gigi sepanjang masa. Hal ini diperlukan, karena gigi sering hilang saat
makan. Jenis gigi ular memiliki berbeda tergantung pada metode yang digunakan untuk
menangkap dan membunuh mangsanya. Ada tiga jenis gigi di snake (O'Malley, 2005):
 Constrictor gigi: Kebanyakan ular memiliki dua baris gigi pada setiap rahang atas dan
satu baris pada setiap rahang bawah. Semua gigi yang pendek dan seperti hook. Semua
ular non-berbisa memiliki pembatas gigi, terlepas dari apakah atau tidak mereka benar-
benar menyempitkan mangsanya.
 Groove bertaring: ular bertaring hanya memiliki satu baris gigi pada setiap rahang atas,
ditambah sepasang taring. fang memiliki alur yang berfungsi sebagai jalan untuk racun
mengalir ke mangsa dari kelenjar racun yang terletak di bagian atas kepala.
 Taring berlubang: Gigi berlubang pada ular bertaring seperti taring berlekuk, tetapi taring
lebih seperti jarum suntik di mana racun mengalir. Taring ini dapat berupa ereksi atau
tetap. Gigi ereksi telah ditarik ke dalam alur pada langit-langit mulut dan memperpanjang
ketika mulut terbuka untuk menyerang, tapi taring tetap selalu diperpanjang.
Berdasarkan tipe giginya, ular dibedakan menjadi (O'Malley, 2005):
 Aglypha : Tidak memiliki taring bisa. Contoh : Ptyas korros (Ular kayu), Python
reticulatus (Ular sanca batik). Ular ini tidak berbisa.
 Ophistoglypha : Memiliki taring bisa pendek dan terletak agak ke belakang pada rahang
atas. Contoh : Boiga dendrophila. (ular cincin emas). Ular ini berbisa menengah.
 Proteroglypha : Memiliki taring bisa panjang dan terletak di bagian depan. Contoh
: Naja naja sputatrix (ular kobra), Ophiophagus hannah(ular king kobra) Ular ini berbisa
tinggi.
 Solenoglypha : Memiliki taring bisa sangat panjang di bagian depan dan dapat dilipat.
Contoh : Agkistrodon rhodhostoma (Ular tanah) Ular ini berbisa tinggi.
Berdasarkan praktikum, pengamatan dilakukan pada spesies Phyton curtus yang
tergolong Aglypha yaitu tidak memiliki taring bisa sehingga ular ini cocok untuk dipelihara.
B. Venom gland

Pada venom gland ini, mampu memberikan efek pada mangsanya sehingga dibedakan
menjadi beberapa jenis seperti (O'Malley, 2005):
 Neurotoxin : bisa beracun yang menyebabkan kerusakan dan kelumpuhan pada
fungsi-fungsi syaraf
 Myotoxins : racun yang merusak kinerja otot
 Haemotoxins : menghancurkan system pembekuan darah (Koagulan), rasa sangat
nyeri, dan sakit
 Haamorrhagins : merusak dan mengancurkan pembuluh darah, sehingga menyebabkan
pendarahan luar dan dalam
 Haemolysins :merusak dan menghancurkan sel-sel darah.
 Nephrotoxins :merusak fungsi ginjal
 Cardiotoxin :merusak fungsi jantung
 Necrotoxins : menyebabkan kematian jaringan
C. Lidah
Lidahnya panjang, ramping, dan bercabang serta
terletak di bawah glotis dan trakea rostral. Lidah ini sangat
mudah untuk bergerak dan dapat menonjol keluar tanpa
mulut haru membuka. Fungsi dari lidah ini yaitu sebagai
penciuman, perasa dan rangsanga terhadap sentuhan
(O'Malley, 2005).
D. Gatrointestinal tract
Sistem pencernaan terdiri dari esophagus, lambung, usus kecil, usus besar, dan
kelenjar. Kerongkongan berjalan berdekatan dengan kantung udara dari faring. Esofagus
memiliki sangat sedikit otot dan makanan pindah ke perut dan bergerak ke seluruh tubuh. Hal
ini pendek dan sempit dengan lipatan memanjang interior untuk meningkatkan luas
permukaan untuk pencernaan dan penyerapan. Usus kecil terdiri daria loop atau lipatan, tetapi
untuk sebagian besar itu adalah tabung panjang yang menerima makanan dari lambung,
menyerap nutrisi dari itu, dan transport ke usus besar, atau usus besar. Usus kemudian
membawa kotoran untuk pembukaan kloaka mana dibuang. Kloaka adalah ruang umum,
menerima produk dari pencernaan, berkemih, dan sistem reproduksi.

7. Sistem urogenital
Pada sistem urinasi, Ginjal adalah organ yang bertanggung jawab untuk output urin. Pada
ular, ginjal memanjang, dan ginjal kanan terletak lebih dekat ke kepala dari kiri. Organ-organ
ini menyaring darah dan mengeluarkan produk sisa, yang kemudian diangkut melalui ureter
dan keluar melalui kloaka (O'Malley, 2005).

Pada sistem genital pada jantan yaitu:

testis intra abdominal dan terletak


diantara pankreas dan ginjal. Ular jantan
memiliki sepasang hemipenis yang berada
di area kloaka pada ventral ekor. Setiap
hemipenis memiliki muskulus retraktor
yang memanjang (O'Malley, 2005).

Pada betina ovarium berlokasi asimetris di dekat pankreas. Ovarium kanan lebih besar dan
cranial dibandingkan dengan ovarium kiri (O'Malley, 2005).
8. Sistem reproduksi
Pada small snake mempertahankan kematangan seksualnya bisa selama satu tahun,
sedangkan pada large snake bisa selama 5 tahun. Sistem reproduksi ular ini bersifat ovipar
maupun ovovivipar.
9. Sexing
Sexing digunakan untuk mengethaui jenis kelamin dengan menggunakan 2 teknik yaitu
(O'Malley, 2005):
1. Popping
Pada popping ini dengan menggunakan jari dimana jari menekan pada cranial dari kloaka,.
Jika keluar hemipenis maka ular tersebut jantan
2.Probing
Probe tumpul dimasukkan ke arah kaudal ekor pada lateral kloaka. Apabila jantan maka
probe akan masuk hemipenis (10-12 baris sisik), sedangkan pada betina masuk musk gland
(2-3 baris sisik).

Pada praktikum kali ini untuk sexing kita menggunakan probe sesuai dengan
prosedur dan diketahui jika ular tersebut betina karena probe hanya masuk pasa 2 baris sisik.
10. Organ sensorik
Organ indra ular unik yang berbeda dimana ular mengandalkan indra penciuman dan
sentuhan. Ular tidak memiliki kelopak mata bergerak, tapi memiliki disebut “brille” sebagai
pelindung mata. Karena itu, gerakan mata mereka cukup terbatas. Mereka juga tidak memiliki
telinga eksternal, telinga tengah, atau membran timpani (gendang telinga). Namun ular
menggunakan tulang kecil kecil (tulang telinga), yang disebut “columella,” untuk mendeteksi
getaran gelombang suara dilakukan melalui tanah. Mereka mampu mengambil beberapa
gelombang suara dilakukan melalui udara, tetapi hanya pada frekuensi yang sangat rendah.
Ada organ kecil di atap rongga mulut yang disebut “organ vomeronasal”, atau “organ
Jacobson.” Lidah ular bercabang digunakan untuk membawa partikel udara menit ke dalam
kontak dengan organ ini, dan ular kemudian merasakan dan mengidentifikasi bau sebagai
mangsa, predator, atau sebaliknya (O'Malley, 2005).
Ular berbisa, ular derik, dan anggota lain dari keluarga ular yang dikenal sebagai ‘pit
viper’ memiliki lubang-lubang khusus yang terletak di antara mata dan lubang hidung.
Lubang-lubang yang digunakan untuk merasakan perubahan suhu menit sebagai sinar infra
merah, sebagai bantuan dalam menemukan mangsa berdarah panas seperti tikus.
11. Sistem integument
Ular, seperti semua reptil, yang ditutupi oleh sisik yang melindungi mereka dari
abrasi atau dehidrasi. Ular hanya memiliki dua kelenjar kulit yaitu sepasang kelenjar bau anal
yang mengeluarkan zat untuk menarik pasangan, memberikan perlindungan dari predator.
Keadaan kulit ular secara inspeksi yaitu:
 normal : cerah, bersinar, elastis, turgor baik
 dehidrasi: kering, melipat, turgor jelek
 dysecdysis: ada serpihan kulit yang tidak lepas
Ular berganti kulit secara periodik mereka dalam proses yang disebut “ecdysis.”
Sebelum shedding kulit, ular mengambil rona sedikit kebiruan dan mata tampak berawan. Hal
ini disebabkan oleh cairan terletak di antara lapisan kulit (O'Malley, 2005).
Pada praktikum ini, ular akan memasuki periode untuk ganti kulit (ecdysis) sehingga
kulit tampak kusam, tidak mengkilap dan mata berkabut. Namun juga ditemukan adanya lesi
yang mengering di dorsal dan bagian ekor.
LAMPIRAN

Ular dalam posisi rebah dorsal dan dilakukan Ular lokomosi dengan tipe lateral undulating
palpasi pada jantung di 1/3 cranial

Dilakukan auskultasi menggunakan stetoskop Penampakan kloaka di bagian ventral untuk


pada 1/3 cranial untuk menghitung denyut palpasi sexing
jantung

Ular kurus dengan bentuk tubuh segitiga Dilakukan penimbangan berat badan, dan ular
membentuk os. vertebrae tergolong kurus

Dilakukan sexing menggunakan probe pada Alat probe untuk sexing


kloaka
DAFTAR PUSTAKA

O'Malley,B. Clinical Anatomy and Physilogy of Exotic Species: Structure and Function of
Mamals,Bird,Reptiles and Amphibians. Elsevier Saunder Publisher.Germany

Bassert,JM. 2014. Mccurnin's Clinical Textbook For Veterinary Technicians Eight Edition.
Elsevier Saunders.
Jackson PG, Cockroft PD. 2002. Clinical Examination of Farm Animals. University of
Cambridge, UK http://www.wanfangdata.com.cn/NSTLHY_NSTL_HY323912.aspx.
[05 Desember 2016].