Anda di halaman 1dari 249

LAMPIRANII : PERATURAN DAERAH KABUPATEN PACITAN

NOMOR : 7 TAHUN 2016


TANGGAL: 30-12-2016

RENCANA D E T A I L T A T A RUANG
D A N P E R A T U R A N ZONASI
BAGIAN W I L A Y A H P E R K O T A A N PACITAN
KABUP T E N PACITAN
2Cl 1 6 - 2 0 3 6
kata pengantar
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan
Zonasi (PZ) merupakan salah satu produk rencana
tata ruang yang merupakan penjabaran dari Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW). Seiring dengan telah
ditetapkannya RTRW Kabupaten Pacitan pada tahun
2010, maka Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) di salah
satu kecamatan d i Kabupaten \ Pacitan yaitu
Kecamatan Pacitan perlu disusun produk rencana
tata ruangnya. Hal i n i juga ' sebagai pelaksanaan
ketentuan pasal 4 ayat (3) huruf a Peraturan
Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang.

Penyusunan RDTR dan PZ i n i penting dilakukan


disamping sebagai acuan dalam pelaksanaan
pembcmgunan * juga sebagai acuan dalam investasi
yang akati dilakukan pemerintah, swasta, masyarakat
maupun stakeholders yang lain guna mewujudkan
BWP Pacitan sebagai kota"^ tujuan berbasis pariwisata
dan kelautan yang '^^nyaman, hijau, produktif dan
berkelanjutan dengan didukung fasilitas transportasi,
,\ pemerintahan, perdagangan dan jasa.

P'-iidt HiaFarxi
SKPD/ Bagian Pemrakarsa

"SKPDI Bagian Terkait:

Kaijag 2 — M
i-'iikc-'n
daftar i s i

KATA PENOANTAR
DAFTAR I S I
DAFTAR T A B E L
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR P E T A

BAB 1 PENDAHULUAN
1,1 Latax Belakang , 1-2
1.2 Tujuan Penyusunan 1-2
1.3 Dasar H u k u m 1-2
1.4 Ruang Lingkup Perencanaan, 1-3
1.5 Sistematika Pembahasan , 1-4

BAB 2 KETENTUAN UMUM


2.1 Istilah dan Definisi II-2
2.2 Kedudukan n-6
2.3 Fungsi dan Manfaat .4 II-8
2.4 Kriteria dan Lingkup Wilayah Perencanaah; II-8
2.5 Masa Berlaku .'57.1h..^ IMO

BAB 3 TUJUAN PENATAAN BWP


3.1 Tinjauan RTRW terhadap Wilayah Perehcanaan I1I-2
3.1.1 Kebijakan dan Strategi S h u k t u r R u a n g Wilayah
Kabupaten Pacitan '4..774..^.7dl7:::4 ni-4
3.1.2 Kebijakan dan'Strategi Ppla RuangWilayah
Kabupaten Pacitan ?.'^; .Y}.;;r. III-6
3.1.3 Kebijakan dan Strategi Kawasan Strategis III-7
3.1.4 Kebijakan dan Stmtegi Wilayah Pesisir
dan Pulau^Pulau Kecil, I1I-7
3.2 Profil Wilayah Perencanaan III-8
3.3 Isu Strategis BWP Pacitan 4. 111-14
3.4 Tujuan Penataaii BWP III-15
3.5 Kebijairan dan Strategi Penataan BWP III-17

BAB 4 RENCANA POLA RUANG


4.1 Konsep. Pengembangan BWP IV-2
4.1.1 Skenario dan Arahan Pengembangan IV-2
.4.1.2>v Sistem Pusat Kegiatan IV-4
4,2 Pembagian Sub BWP dan Blok IV-4
4.3 Penetapan Kode Zona dan Sub Zona IV-9
4.4 Rencana Sebaran Penduduk IV-9
4.5 Rencana Zona Lindung IV-10
4.5.1 Zona H u t a n Lindung IV-10
4.5.2 Zona Perlindungan Setempat IV-32
4.5.3 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota IV-33
4.5.4 Zona Rawan Bencana Alam rv-36
4.6 Rencana Zona Budidaya IV-41
4.6.1 Zona Perumahan IV-41
4.6.1.1 Perumahan Kepadatan Tinggi rv-43
4.6.1.2 Perumahan Kepadatan Sedang lV-43
4.6.1.3 Perumahan Kepadatan Rendah IV-44
4.6.2 Zona Perdagangan dan Jasa IV-52
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal. IV-52
P?r3t Hisrarki
rdagangan dan Jasa bentuk Deret. rv-52
SKPD/ Bagian PcrrirakiiVr
Sekda
SKPD/ Gaoian Terkait:
• Asisten
r
•a'
;7"^4- rf 3.
4.6.3 Zona Perkantoran IV-55
4.6.3.1 Perkantoran Pemerintah IV-55
4.6.3.2 Perkantoran Swasta IV-62
4.6.4 Zona Industri IV-69
4.6.5 Zona Sarana Pelayanan U m u m IV-72
4.6.5.1 Pendidikan IV-72
4.6.5.2 Transportasi.... IV-72
4.6.5.3 Kesehatan IV-73
4.6.5.4 Olah Raga IV-85
4.6.5.5 Sosial Budaya IV-85
4.6.5.6 Peribadatan IV-96
4.6.6 Zona Lainnya IV-96
4.6.6.1 Pertanian IV-96
4.6.6.2 Pariwisata • IV-97
4.6.6.3 Hutan Rakyat L..... IV-97
4.6.6.4 Hutan Produksi IV-98
4.6.7 Zona Khusus \\. IV-106
4.6.7.1 Pertahanan Keamanan IV-106
4.6.7.2 Pelabuhan Perikanan Pantai 'vw;IV-106

BAB 5 RENCANA JARINGAN PRASARANA


5.1 Rencana Pengembangan Jaringan Peigerakmi;^.. V-2
5.1.1 Jaringan Transportasi Darat >t:... ^:{;. V-2
5.1.1.1 Sistem jaringan jalan „..7\% -4:. ^"^
5.1.1.2 Sistem jaringan pedestriah^-jalur kendaraan'
tidak bermotor daii;parkir....".Xj-. '.4. V-11
5.1.1.3 Sistem terminal ....^:>. .XiYL^ V-12
5.1.1.4 Sistem angkutan u m u m i...:i7. V-13
5.1.2 Jaringan Transportasi Udara...'X7i.......,7u V-15
5.1.3 Jaringan Transportasi hayxti^-'r V-15
5.2 Rencana Pengembangah JaringanJ Energi dan Kelistnkan V-15
5.3 Rencana Pengembangah Jaringan'Telekomunikasi V-22
5.4 Rencana Pengembangah Jaringan Air^Minum V-26
5.5 Rencana Pengembangan Jaringan Drainase V-35
5.6 Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah V-37
5.7 Rencana Pengembangan Jaringan Persampahan V-37
% '^;7.
BAB 6 PENETAPAN SUB BWP TANG DIPRIORITASKAN PENANGANANNTA
6.1 Lokasi ^^v-.'-v* VI-3
6.2 Tema Penanganan TTV. VI-4
6.2J1- . Penahgahan Sub BWP A VI-4
, # ^ . 2 . 2 ' ^ Penanganan Sub BWP D VI-9

BAB 7 r KETENTUAN PEBCANFAATAN RUANG


7.1 Program Perwujudan Pemanfaatan Ruang VII-3
7X:X. ,/lTogram Perwujudan Rencana Pola Ruang VIM
'''^yp 7.1.1.1 Program Perwujudan Zona Lindung VIM
7.1.1.2 Program Perwujudan Zona Budidaya VlI-5
7.1.2 Program Perwujudan Rencana Jaringan Prasarana VII-7
7.1.3 Program Perwujudan Penetapan Sub BWP
yang Diprioritaskan VII-9
7.1.4 Lokasi VII-10
7.1.5 Besaran VII-IO
7.1.6 Sumber Pendanaan VII-10
7.1.7 Instansi Pelaksana VlI-11
LLa_WaiaujlatlJ[hhaga^^ VII-12
' h a y - P i J ^ i j m ' ? F i y i q n f a ^ ^ Ruane Prioritas VII-12
Sekda bKi-O/ Batjido Pe.firj.'vi.sd
• BA _ aOTMAJf=«©NASL ! ^ ! L

>ei^Brah^hM^^lokKl VIII-Al-3
ff
Kabag
2. -
3 iii
8.1.1 Zona Perlindungan Setempat Blok A l VIII-Al-12
8.1.2 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok A l VIII-Al-18
8.1.3 Zona Perumahan Blok A1 VIII-Al-27
8.1.4 zona Perdagangan dan Jasa Blok A l VIII-Al-48
8.1.5 Zona Perkantoran Blok A1 VIII-Al-82
8.1.6 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok A l . . VIILAl-109
8.1.7 Zona Khusus Blok A l VIII-Al-175
8.2 Peraturan Zonasi Blok A2 VIII-A2-1
8.2.1 Zona Perlindungan Setempat Blok A2 VIII-A2-10
8.2.2 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok A2 VIII-A2-16
8.2.3 Zona Perumahan Blok A2 VIII-A2-25
8.2.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok A2 VIII-A2-68
8.2.5 Zona Perkantoran Blok A2 VIII-A2-101
8.2.6 Zona Industri Blok A2 VIII-A2-116
8.2.7 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok A2 .. VIII-A2-132
VIII-A2-184
8.2.8 Zona Khusus Blok A2
. VIII-A3-1
8.3 Peraturan Zonasi Blok A3
7IVIII-A3-IO
8.3.1 Zona Perlindungan Setempat Blok A3
-VIII-A3-16
8.3.2 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok A3 V11I-A3-25
8.3.3 Zona Perumahan Blok A3 \ VIII-A3-68
8.3.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok A3..'.V:» VIII-AS-lOl
8.3.5 Zona Perkantoran Blok A3 VIII-A3-116
8.3.6 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok A3 ,; VIII-Bl-1
8.4 Peraturan Zonasi Blok H I VIII-Bl-10
8.4.1 Zona Perlindungan Setempat;Blok BT,... VIII-Bl-16
8.4.2 Zona Ruang Terbuka Hijau'Kota Blok B l VIII-Bl-25
8.4.3 Zona Perumahan Blok B l .X Vin-Bl-90
8.4.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok B l ... VIII-Bl-107
8.4.5 Zona Perkantoran B l o k B l . 44. VIII-Bl-121
8.4.6 Zona Industri Blok Bi4S44:y44I4:£-. VIII-Bl-137
8.4.7 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok B l VIII-B1-165
8.4.8 Zona Lainnya Blok BL.....V;:.;-: ..UX VIII-B2-1
8.5 Peraturan Zonasi Blok B2.,....l.'. L; Vin-B2-10
8.5.1 Zona Perlindungan Setempat Blok B2 VIII-B2-16
8.5.2 Zona Ruaiig Terbuka'Hijau Kota Blok B2 VIII-B2-25
8.5.3 Zona Perumahan Blok B2 VIII-B2-68
8.5.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok B2 V1II-B2-101
8.5.5^,^ Zona Perkantoran Blok B2 VIII-B2-116
8,5.6^1|XZona Industri Blok B2 VIII-B2-132
8.5.7 Zoha.Sarana Pelayanan U m u m Blok B2 VIII-C-l
PeraturariZohasi Blok C VIII-C-10
8.6
8.6.1 Zona Periindungan Setempat Blok C VIII-C-16
: , 8^6.2 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok C
s^: 8.6.3 * Zona Perumahan Blok C vm-c-25
8.6.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok C VIII.C-90
8.6.5 - Zona Industri Blok C Vin-C-123
8.6.6 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok C . VIII-C-139
8.6.7 ' Zona Lainnya Blok C VIlI-C-161
8.6.8 Zona Khusus Blok C VIII-C-206
Peraturan Zonasi Blok D 1 VIIl-Dl-l
8.7
8.7.1 Zona Perlindungan Setempat Blok D1 VIII-Dl-10
VIII-Dl-16
8.7.2 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok D 1
VIII-Dl-25
8.7.3 Zona Perumahan Blok D 1
VIII-Dl-90
8.7.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok D l
VIII-Dl-125
8.7.5 Zona Perkantoran Blok D 1
VIII-Dl-153
8.7.6 Zona Industri Blok D l
VIlI-Dl-169
8.7.7 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok D 1
VIII-D1-183
8.7.8 Zona Lainnya Blok D 1
VIII-Dl-212
^ m ^ ^ P d M P ^ g ^ s Blok D l VIII-D2-1
Paraf Hierarki
okD2
Sekda
• SKPD/ Bagian Terkait: Iv
Asiatan 1.. I
% Kabsg 1 *
1 Hiikiin
8.8.1 Zona Perlindungan Setempat Blok D2 VIII-D2-10
8.8.2 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok D2 VIII-D2-16
8.8.3 Zona Perumahan Blok D2 VIII-D2-25
8.8.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok D2 VI1I-D2-68
8.8.5 Zona Industri Blok D2 VIII-D2-103
8.8.6 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok D2 VIII-D2-119
8.8.7 Zona Lainnya Blok D2 VIII-D2-130
8.9 Peraturan Zonasi Blok E l VIlI-El-1
8.9.1 Zona Hutan Lindung Blok E l VIII-El-10
8.9.2 Zona Perlindungan Setempat Blok E l VIII-El-11
8.9.3 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok E l Vin-El-17
8.9.4 Zona Perumahan Blok E l . VIII-El-27
8.9.5 Zona Perdagangan dan Jasa Blok E l VIII-El-91
8.9.6 Zona Perkantoran Blok E l VIII-El-109
8.9.7 Zona Industri Blok E l VIII-El-123
8.9.8 Zona Lainnya Blok E l . t x VIII-El-139
8.10 Peraturan Zonasi Blok E2 .7..;.'C;:^......7\ VIII-E2-1
8.10.1 Zona Perlindungan Setempat Blok E2 .::.;.;v;.';: v 7 y i l L E 2 - 1 0
8.10.2 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok E2 . . C ; . . ^ ~^xVllI-E2-16
8.10.3 Zona Perumahan Blok E2 4:4M.....M VIIi-E2-25
8.10.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok E2.;^X7 ':4.4M. % VIII-E2-68
8.10.5 Zona Perkantoran Blok E2 44i. 4.£:7:4:y 'VIII-E2-101
8.10.6 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok E2:7.. 14. VIII-E2-116
8.10.7 Zona Lainnya Blok E2 .'.XV.. '44. .Xj V11I-E2-155
8.11 Peraturan Zonasi Blok F l 44i4...:4:.. d& 4 VUI-Fl-l
8.11.1 Zona Perlindungan Setempat Blok Fi2h J;.;. VIII-Fl-10
8.11.2 Zona Ruang Terbuka Hijau k o t a Blok Fllfe VIIl-Fl-16
8.11.3 ZonaPerumahan Blok F l VllI-Fl-25
8.11.4 Zona Perdagangan dan Jasa Blok F l - " 4 1 VIII-Fl-90
8.11.5 Zona Perkantoran Blok ElXSb....X!xX;^ VIII-Fl-123
8.11.6 Zona Sarana Pelayanan U m u i h B l o k F l VIII-Fl-138
8.11.7 Zona Lainnya Blok Ft,.,.4i:4(. "41 VlII-Fl-163
8.12 Peraturan Zonasi Blok F2 KL 44 VIII-F2-1
8.12.1 Zona Hutan Lindung Blok F24 VIII-F2-10
8.12.2 Zona Perlindungan Setempat Blok F2 VIII-F2-11
8.12.3 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota Blok F2 VIII-F2-17
8.12.4 Zona Perumahan Blok F2 VIII-F2-27
8.12.5 . Zona Perdagangan dan Jasa Blok F2 VIII-F2-69
8.12.6'.^ .Zona Perkantoran Blok F2 VIII-F2-86
8.12.7 :Zoha Industri Blok F2 VIII-F2-99
8.12.8 Zona Smana Pelayanan U m u m Blok F2 VI1I-F2-115
8.12.9irZ6ha Lainnya Blok F2 V11I-F2-142
8.13 X Peraturan Zofiasi Blok F3 VIII-F3-1
• % 8 . 1 3 r i X Z o n a PerHndungan Setempat Blok F3 VIII-F3-10
' 8:13.2 \ Z o n a Ruang Terbuka Hijau Kota Blok F3 V1II-F3-16
8.13.3 ..XZona Perumahan Blok F3 VIII-F3-25
8.13.^ I Zona Perdagangan dan Jasa Blok F3 VIII-F3-68
8.13.5 ' Zona Perkantoran Blok F3 VIII-F3-101
8.13.6 Zona Sarana Pelayanan U m u m Blok F3 VIII-F3-116
8.13.7 Zona Lainnya Blok F3 Vin-F3-155
8.14 Ketentuan Pelaksanaan VIII-KP-1
8.14.1 Perizinan VlII-KP-1
8.14.2 Ketentuan Variansi Pemanfaatan Ruang VIlI-KP-2
8.14.3 Insentif dan Disinsentif VIII-KP-2
8.14.4 Sanksi VIlI-KP-4
8.15 Ketentuan Pilihan VIlI-KP-5
8.15.1 Ketentuan Khusus VIII-KP-5
8.15.1.1 Zona Rawan Bencana VIII-KP-5
K e t r n t i m r Standar Teknis VIlI-KP-12
. Paraf Koorriina^i
SKPD/ Bagian Pem^5^ar5a

SKPD; Bdgian Tsrkait:


1 '
daftar tabel

Tabel 3. 1 Perkembangan Penduduk. III- 8


Tabel 3. 2 Eksisting Pola Ruang III- 13

Tabel 4. 1 Kode Zona/Sub Zona... IV- 9


Tabel 4.2 Rencana Distribusi dan Kepadatan Penduduk, IV- 10
Tabel 4. 3 Distribusi Rencana Pola Ruang , IV-12
Tabel 4. 4 Kebutuhan Lahan Perumahan IV-46
Tabel 4. 5 Kebutuhan Lahan Perdagangan dan Jasa IV-56
Tabel 4. 6 Kebutuhan Lahan Perkantoran , IV-63
Tabel 4. 7 Kebutuhan Lahan Fasilitas Pendidikan , IV-75
Tabel 4. 8 Kebutuhan Lahan Fasilitas Kesehatan IV-80
Tabel 4. 9 Kebutuhan Lahan Fasilitas Olah Raga IV-86
Tabel 4. 10 Kebutuhan Lahan Fasilitas Sosial Budaya .' IV-91
Tabel 4. 11 Kebutuhan Lahan Fasilitas Peribadatan IV- 99

Tabel 5. 1 Fungsi Jalan r-.---^ J....T.X. V- 6


Tabel 5. 2 Rumaja, Rumija dan Ruwasja V-8
Tabel 5. 3 Kebutuhan Listrik -••v: V- 18
Tabel 5. 4 Ketentuan Lokasi Penempatan Menara Telekomunikasi.X. V-24
Tabel 5. 5 Kebutuhan Air Bersih I'll '14 V-29
Tabel 5. 6 Kebutuhan M i n i m u m Sarana Penanganan Persampahan. V- 41

Tabel 6. 1 Penilaian Sub BWP yang Diprioritaskan Penanganannya. VI- 3

Tabel 7. 1 Indikasi Program Pembangunan Prioritas VII-13

Tabel A 1 . 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok A1 VIII-Al-3


Tabel A l . 2 Ketentuan.Kegiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
B i o k A i ;7x;;:.. 4:,.,. VlII-Al-5
Tabel A l . 3 VIII-Al-10
Ketentuan Intensitas Perhanfaatan Ruang Blok A l
Tabel A l . 4 VIII-Al-11
KetentuanXTata Bangunan Blok A l
Tabel A l . 5 , Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok A l VIII-Al-12
Tabel A 1. 6 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
^Perlindungan Setempat (PS) Blok A 1 Vlll-Al-13
Tabel A^177 kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
•v'^ "% Perlindungan Setempat (PS) Blok A l VIII-Al-14
Tabel A l . 8 ^ Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok A l VIII-Al-18
Tabel A l . 9 ^ Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
• RTH Kota (RTH) Blok A l VIII-Al-19
Tabel A l . 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok A l VIIl-Al-20
Tabel A l . 11 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok A l VIII-Al-27
Tabel A l . 12 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi {R-2) Blok A l VIIl-Al-29
Tabel A l . 13 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok A l VllI-Al-37
Tabel A l . 14 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-1) Blok A 1 VIlI-Al-48
Tabcl A l . 15 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
, pprdfl^^qgan Han Jasa bcntuk Tunggal (K-1) Blok A l VIlI-Al-50
fabd-AJ!2l5l"!KegiatniLBersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona

SKPD/ Gagidn Fiitkait: vl


1 1
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-1) Blok A l VUI-Al-SS
Tabel A l . 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Caret (K-3) Blok A l VIII-Al-65
Tabel A l . 18 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok A1 VIII-Al-66
Tabel A l . 19 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok A l VIlI-Al-75
Tabel A l . 20 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok A l VIII-Al-82
Tabel A 1 . 2 1 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) B l o k A l VIII-Al-83
Tabel A l . 22 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) B l o k A l VIII-Al-91
Tabel A l . 23 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perkantoran Swasta (KT-2) Blok A l VIlI-Al-96
Tabel A l . 24 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona ~ X^
Perkantoran Swasta (KT-2) B l o k A l L.4:4.M4y,ym-M-m
Tabel A l . 25 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona '44''--<:y.::7.
Perkantoran Swasta (KT-2) Blok A l 4:4.,. '4:...,. W I M l - 1 0 4
T a b e l A l . 26 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona . X
Pendidikan (SPU-1) B l o k A l yM. j;;....::.:X......^'^Vin-Al-109
Tabel A l . 27 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) 'pada Sub Z o n a V -X *
Pendidikan (SPU-1) B l o k A l i44...44. l.l VIII-Al-111
Tabel A 1 . 28 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona. '4
Pendidikan (SPU-1) Blok A1....;:::;XX;...7> ::lx.„....X; VIII-Al-117
Tabel A l . 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Transportasi (SPU-2) Blok Al..^.!.. VIII-Al-123
Tabel A l . 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Siib Zona
Transportasi (SPU-2) Blok A l . .v*. VIII-Al-124
Tabel A l . 3 1 Kegiatan Bersyarat Terteiitu (Bj'pada Sub Zona
Transportasi (SPU-2) Blok Al,....X.;r.X;,,.. Vin-Al-130
Tabel A l . 32 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Kesehatan (SPU-3)'Blok'Al ....Yv. VIII-Al-136
Tabel A l . 33 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Kesehatan (SPU-3) B l o k ' A l VIlI-Al-137
Tabel A l . 34 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Kesehatan (SPU.-3) Blok A l " Vin-Al-143
Tabel A l . 35 .^Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Sosial Budaya (SPU-5) B l o k A l VIII-Al-149
Tabel A1..36 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
' Sosial Budaya (SPU-5) Blok A l VIlI-Al-151
TabeTAl.^37 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
•4 " ^ . S o s i a l Budaya (SPU-5) B l o k A l VIlI-Al-157
T a b d A l . 38"- Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
' Peribadatan (SPU-6) Blok A l VIII-Al-164
T a b e l A l . 3 9 . Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
"XPeribadatan (SPU-6) Blok A l Vin-Al-165
Tabel A l . 40 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Peribadatan (SPU-6) Blok A l VIII-Al-170
Tabel A l . 4 1 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pertahanan Keamanan (KH-1) Blok D l VIII-A1-176
Tabel A l . 42 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pertahanan Keamanan (KH-1) B l o k A l VIII-Al-177
Tabel A l . 43 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pertahanan Keamanan (KH-1) B l o k A l VIlI-Al-185

Tabel A2. 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok A2 VIII-A2-1


Tabel A2. 2 Ketentuan I^egiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
Rtr.VAO X VIU-A2-3
:abeLA^i-.'Ketehtuan-In^ensitas Pemanfaatan Ruang Blok A2 VIII-A2-8
SKPO/ Bagian Pe/T.(a;u, sa 4^,

SKPD/ Gagian ferhaii: vil


1 :
Tabel A2. 4 Ketentuan Tata Bangunan Blok A2 VIII-A2-9
Tabcl A2. 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok A2 VI1I-A2-10
Tabel A2. 6 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok A2 VIII-A2-11
Tabel A2. 7 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok A2 Vin-A2-12
Tabel A2. 8 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok A2 VIII-A2-16
Tabel A2, 9 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok A2 VII1-A2-17
Tabel A2. 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok A2 VIII-A2-18
Tabel A2. 11 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok A2 !: Vin-A2-25
Tabel A2. 12 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok A2 • X VIII.A2-27
Tabel A2. 13 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona ''-y
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok A2...:t.;;...„ 1 '•'-Xvin-A2-35
Tabel A2. 14 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub'Zoria
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok A2 4;...4:4. VI1I-A2-46
Tabel A2. 15 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub ZonaX =
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok A2 11.... VI1I-A2-48
Tabel A2. 16 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona,
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok A2, VIII-A2-56
Tabel A2. 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal ( K - l j Blok A2 VI1I-A2-68
Tabel A2. 18 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pad^ Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok A2 ... VIII-A2-69
Tabel A2. 19 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok A2 ... VIII-A2-77
Tabel A2. 20 Kegiatan Diperboiehkan/diizihkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan danUasa bentuk Deret (K-3) Blok A2 VIII-A2-85
Tabel A2. 2 1 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona.
Perdagangan "dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok A2 VI1I-A2-86
Tabel A2. 22 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok A2 VIII-A2-94
Tabel A2. 23 .Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok A2 V11I-A2-101
Tabel A 2 . 2 4 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VIII-A2-103
" 4 P c ^ I ^ I ° ^ ? ^ " ^ ^ " ' ^ I ^ (KT-1) Blok A2
TaberA2X25 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VIII-A2-110
l. '% Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok A2
Tabel A2. 26 xKegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
VIII-A2-116
4 T Aneka Industri (1-4) Blok A2
Tabel A2. 27 \ Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VI1I-A2-117
xAheka Industri (1-4) Blok A2
Tabel A2. 28 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VIII-A2-125
Aneka Industri (1-4) Blok A2
Tabel A2. 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
VIII-A2-132
Pendidikan (SPU-1) Blok A2
Tabel A2. 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VIII-A2-133
Pendidikan (SPU-1) Blok A2
Tabel A2. 3 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VIII-A2-140
Pendidikan (SPU-1) Blok A2
Tabel A2. 32 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VIII-A2-146
Transportasi (SPU-2) Blok A2
Tabel A2. 33 Kegiatan.B^^syarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-A2-147
X "TTTransportast (SPU-2) Blok A2
[''SJ?B^^l3-4iX»S^S^^ Tcrtentu (B) pada Sub Zona
1 Sekda
If
Asisten SKFU/Gagian leikaii: vHi
1 1
Kabag 2
J4^^ 3
mtmpzfX0PPA<3fANtmmeNPmm

Transportasi (SPU-2) Blok A2 Vin-A2-153


Tabel A2. 35 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Olah Raga (SPU-4) Blok A2 Vin-A2-158
Tabel A2. 36 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Olah Raga (SPU-4) Blok A2 VI1I-A2-159
Tabel A2. 37 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Olah Raga (SPU-4) Blok A2 VIII-A2-167
Tabel A2. 38 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Peribadatan {SPU-6) Blok A2 VIII-A2-173
Tabel A2. 39 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Peribadatan (SPU-6) Blok A2 VIII-A2-174
Tabel A2. 40 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Peribadatan (SPU-6) Blok A2 VI1I-A2-179
Tabel A2. 4 1 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona ^
Pertahanan Keamanan (KH-1) Blok A2 VI1I-A2-184
Tabel A2. 42 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pertahanan Keamanan (KH-1) Blok A2 4.d44^..44yiil-(V2'185
Tabel A2. 43 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona x ^.' ' % 4 4 \
Pertahanan Keamanan (KH-1) B l o k A 2 44.,.,. :4.... ''VIILA2-194
Tabel A3. 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok A3 Ml 4;...M:.....S4 Vin-A3-1
Tabel A3. 2 Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX) ,- ;,
Blok A3 1.1 r VIII-A3-3
Tabel A3, 3 Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Riiang Blok A3 ...41 VIII-A3-8
Tabel A3. 4 Ketentuan Tata Bangunan BlokA3X...Xi4-t Vin-A3-9
Tabel A3. 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok A3 XV;;;-. VI1I-A3-10
Tabel A3. 6 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS)LBlok A3;.,.....,.Xf. VUI-AS-IO
Tabel A3. 7 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Z o n a '
Perlindungan Setempat (PS) ,Blok A3^... VI1I-A3-12
Tabel A3. 8 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (if pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok A3|. X:». VIII-A3-16
Tabel A3. 9 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok A3 ).. VI1I-A3-17
Tabel A3. 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
RTH Kpta (RTH) Blok A3 VII1-A3-18
Tabel A3. 11 > Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok A3 VIII-A3-25
Tabel A 3 . d 2 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
^^^XxPerlimahah;Kepadatan Tinggi (R-2) Blok A3 V1I1-A3-27
TaberA37l3 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
' % P e r u m a h a n Kepadatan T i n g ^ (R-2) Blok A3 VIII-A3-35
Tabel AS, J 4 "^ Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
' CC Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok A3 VIII-A3-46
Tabel A3. 15\., Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
^Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok A3 VII1-A3-47
Tabel A3. 16 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok A3 VIII-A3-56
Tabel A3. 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-1) Blok A3 VIII-A3-68
Tabel A3. 18 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Penlagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok A3 VI1I-A3-69
Tabel A3. 19 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-1) Blok A3 VI1I-A3-77
Tabel A3. 20 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok A3 V1II-A3-85
Tabel A3. 2 1 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
I ; ; •• • Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok A3 VIII-A3-86

SKPD/ dagian Tarkajt: 1 Ix

2.
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok A3 VIII-A3-94
Tabel A3. 23 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok A3 VI1I-A3-101
Tabel A3. 24 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok A3 VIII-A3-103
Tabel A3. 25 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok A3 VIII-A3-110
Tabel A3. 26 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) Blok A3 VIII-A3-116
Tabel A3, 27 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) Blok A3 VIII-A3-117
Tabel A3. 28 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) Blok A3 VIII-A3-124
Tabel A3. 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona ^
Peribadatan (SPU-6) Blok A3 VI1I-A3-130
Tabel A3. 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona 4y..
Peribadatan (SPU-6) Blok A3 .X^Xft:...... 4 Y I " - A 3 - 1 3 1
Tabel A3. 3 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona ''''M4y.74...
Peribadatan (SPU-6) Blok A3 .X. .7..... " VIII-A3-136

Tabel B l . 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok B l ...4?. 74M4:..M>. VIII-Bl-1


Tabel B l . 2 Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan.L^'an (Matriks ITBX)Xi?
Blok B l 1::. VlII-Bl-3
Tabel B l . 3 Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang Blok B l VIII-Bl-8
Tabel B l . 4 Ketentuan Tata Bangunan Blok B i : . . . ; : ' ; . VIII-Bl-9
Tabel B l . 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Zona 4
Perlindungan Setempat (PS) Blok B l .4 VllI-Bl-10
Tabel B l . 6 Kegiatan Bersyarat Secara Jerbatas (T) pada Zona
PerUndungan Setempat (PS) Blok BIy. .4. VIII-Bl-11
Tabel B l . 7 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B)'pada Zbha^
Perlindungan Setempat (PS) B l o k B l > . . VIII-Bl-12
Tabel B l . 8 Kegiatan Diperboiehkan/diizihkan (Ij pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok Bit. .4:. VIII-Bl-16
Tabel B 1 . 9 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok B U . VlII-Bl-17
Tabel B l . 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok B l ...X VIII-Bl-18
Tabel B l . 11 . Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok B l VIII-Bl-25
Tabel B 1 . 1 2 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
.... ' 4 Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok B l VIII-Bl-27
Tabel s i x 1 3 "Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
4. "4 Perumahan Kepadatan Tingg? (R-2) Blok B l X VIII-Bl-35
Tabel B l . J4'XlCegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
' v ' l Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok B l VIII-Bl-46
Tabel B l . 15 ...Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
• Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok B l VIII-Bl-48
Tabel B l . 16 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok B l VIlI-Bl-56
Tabel B l . 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok B l VIII-Bl-68
Tabel B l . 18 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok B l VIIl-Bl-69
Tabel B l . 19 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok B l Vin-Bl-77
Tabel B l . 20 Kegiatan DiperbJ)lehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-1) Blok B 1 VIII-B 1 -90
Tabel B l . 2 1 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
r—•:z ri—Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok B l VIII-Bl-92

SKPD/Bagian Terkait:

2.
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok B l VIII-Bl-100
Tabel B l . 23 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok B 1 Vin-Bl-107
Tabel B l . 24 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok B l VIII-Bl-108
Tabel B l . 25 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok B 1 VIII-Bl-116
Tabel B l . 26 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Aneka Industri (1-4) Blok B l Vin-Bl-121
Tabel B l . 27 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Aneka Industri (1-4) Blok B l VIll-Bl-123
Tabel B l . 28 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Aneka Industri (1-4) B l o k B l VIII-B 1-131
Tabel B l . 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) Blok B l Vin-Bl-137
Tabel B l . 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) B l o k B l ;;VIII-B1-139
Tabel B l . 3 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona V-.'..
Pendidikan (SPU-l) Blok B l .C.....
Tabel B l . 32 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zoria?.. 4'^ V i n - B l - 1 4 5
Kesehatan (SPU-3) B l o k B l 4x4 :4.,..44.M'
Tabel B l . 33 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) 'pada Sub Zona'?' -X %y V i n - B i - i s i
Kesehatan (SPU-3) B l o k B l
Tabel B l . 34 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona, i \ VIII-Bl-152
Kesehatan (SPU-3) Blok Bl.....;;;:-XXl..J;4..
Tabel B l . 35 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona VIII-B 1-159
Pertanian (PL-1) B l o k B l 4,, XXXX....
Tabel B l . 36 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada, Siib Zona VIII-B1-165
Pertanian (PL-1) Blok B l S : ^ . . , . . . . : ^ . . . . . . . . ^
Tabel B l . 37 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B)'pada Siife Zona Vin-Bl-166
Pertanian (PL-1) B1o£b1...X:4..4.:7^:...
VIII-Bl-170
Tabel B l . 38 Kegiatan Diperbolehkah/diizihkhn (Ij'pada Sub Zona
Hutan Rakyat (Pl74) Blok B l
VIII-Bl-174
Tabel B l . 39 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Hutan^Ralqrat (PL-4) Blok B l VIII-Bl-175
Tabel B l . 40 Kegiatan,Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Hutan Rakyat ( P M ) Blok B l VIII-B 1-181
Tabel B l . 4 1 . Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
H u t a n Produksi (PI^5) Blok B l VIII-Bl-187
Tabel B l . 42 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
' • 4 Hutan Produksi (PL-5) Blok B l VIII-Bl-188
Tabel BiX;43 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
XX H u t h n Produksi (PL-5) Blok B l VIII-Bl-189

Tabel B24L Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok B2 VIII-B2-1


Tabel B2. 2 X . Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
^ -Blok B2 VIII-B2-3
Tabel B2. 3 Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang Blok 0 2 VIII-B2-8
Tabel 8 2 , 4 Ketentuan Tata Bangunan Blok 3 2 VIII-B2-9
Tabel B2. 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok B2 VIII-B2-10
Tabel B 2 . 6 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok B2 VIII-B2-10
Tabel B2. 7 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok B2 V1II-B2-12
Tabel B2. 8 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTH) B l o k B 2 VIII-B2-16
Tabel B2. 9 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
- - R T l L K o t a j K r H ) Blok B2 VIII-B2-17
Pars* Hit nrKi
i)~kegiat€m Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
Y
oXPD/ xl

"ST* 2
J, . J
RTH Kota (RTH) Blok B2 VIII-B2-18
Tabel B2. 11 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok B2 VIII-B2-25
Tabel B2. 12 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok B2 VIII-B2-27
Tabel B2. 13 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok B2 VIII-B2-35
Tabel B2. 14 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang {R-3) Blok B2 VIII-B2-46
Tabel B2. 15 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok B2 VI1I-B2-47
Tabel B2. 16 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok B2 VIII-B2-56
Tabel 0 2 . 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk T u n ^ a l (K-l) Blok B2 ...x4,.. VI1I-B2-68
Tabel B2. 18 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona "'••X-^
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok B2 ..X;;,.,... 4 V I " " ^ 2 - 6 9
Tabel B2. 19 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona '^4My
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok B2 ...."rXX;... ^XvinrB2-77
Tabel 3 2 . 2 0 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona... 4x_
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok B2 4 VIII-B2-85
Tabel B2. 2 1 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona';' '• -7^^,
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret.(K-3) Blok B2 .X..." VI1I-B2-86
Tabel 8 2 . 2 2 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zoha,,^
VI1I-B2-94
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blo£ 82.. XX
Tabel B2. 23 Kegiatan Diperboiehkan/diizihkan (I) pada Sub Zona
VI1I-B2-101
Perkantoran Pemerintah (KT-1) ,Blok B2 4x..
Tabel 3 2 . 24 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VIII-B2-103
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok B2.....tv.......
Tabel B 2 . 25 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B)" pada Sub Zona
VIII-B2-110
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok B2
Tabel 3 2 . 26 Kegiatan Diperbolehkmi/diizinkan (ij pada Sub Zona
VIII-B2-n6
Aneka Industri (I-4j Blok-B2 44
Tabel 8 2 . 27 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VIII-B2-117
Aneka Industri, (1-4) Blok B2
Tabel 8 2 . 28 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VIII-B2-125
Aneka Industri'(1-4) Blok B2
Tabel 3 2 . 29 ^Kegiatmi Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
V1II-B2-132
Pendidikan (SPU::1) Blok B2
Tabel 8 2 . 30 Keigiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VI1I-B2-133
i^Pendidikan: (SPU-1) Blok 8 2
Tabel 82X31 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VIII-B2-140
'''4. "4 Pendidikan (SPU-1) B l o k B 2
•^Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VIII-B2-I46
Tabel B2, 32 Transportasi (SPU-2) Blok 3 2
Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-B2-147
Tabel B2. 33 t r a n s p o r t a s i (SPU-2) Blok B2
kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona Vin-B2-153
Tabel B2. 34 Transportasi (SPU-2) Blok B2
Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VII1-B2-158
Tabel B2. 35 Kesehatan (SPU-3) Blok B2
Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-B2-159
Tabel B2. 36 Kesehatan (SPU-3) Blok 3 2
Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VI1I-B2-166
Tabel B2. 37 Kesehatan (SPU-3) Blok B2
VIII-C-1
Tabel C. 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok C
Tabel C. 2 Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
BloXCi.: vin-c-3
""Farai nie/arki'*
:ensitas Pemanfaatan Ruang Blok C
SjgianFerinaKaru
VlII-C-8
S/iPD/Gaylo.n l£,'k3;i':
xli
3
Tabel C. 4 Ketentuan Tata Bangunan Blok C VIII-C-9
Tabel C. 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok C VIII-C-10
Tabel C. 6 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok C VIlI-C-11
Tabel C. 7 Kegiatan B e r ^ a r a t Tertentu (B) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok C vin-c-12
Tabel C. 8 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTH) B l o k C VllI-C-16
Tabel C. 9 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok C VIII-C-17
Tabel C. 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
RTH Kota (RTH) B l o k C VIII-C-18
Tabel C. 11 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok C VIII-C-25
Tabel C. 12 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona XZ:
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok C l.M. VIIl-C-27
Tabel C. 13 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona '"^y
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok C ....4.4.,. '.. XVlII-C-35
Tabel C. 14 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona : ,
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok CX 4.....1.7 VIlI-C-46
Tabel C. 15 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) 'pada Sub Z6na'7
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3} Blok C.7.. 44.. VIII-C-48
Tabel C, 16 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona,
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok C VIII-C-56
Tabel C. 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok C;.. VIII-C-68
Tabel C. 18 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada, Siib Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-41 Blok CX VIII-C-69
Tabel C. 19 Kegiatan Bersyarat Tertetitu (Bj pada Siib Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok C. VIlI-C-77
Tabel C. 20 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
VIII-C-9Q
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok C . . .
Tabel C. 2 1 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VIII-C-92
Perdagahgah'Xdan Jasa! bentuk Tunggal (K-l) Blok C . . .
Tabel C. 22 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VIII-C-100
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok C . . .
Tabel C. 23 , Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
VIII-C-107
Perdagangan han Jasa bentuk Deret (K-3) Blok C
Tabel C. 24 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VIlI-C-108
;> Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok C
TabelU; 25 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VIII-C-116
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok C
Tabel X;;26; -Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VIII-C-124
Aneka Industri (1-4) Blok C
Tabel C. 27 %4 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-C-125
^ Aneka Industri (1-4) Blok C
Tabel C. 28 kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VIII-C-133
Aneka Industri (1-4) Blok C
Tabel C. 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VIIl-C-140
Pendidikan (SPU-1) Blok C
Tabel C. 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-C-141
Pendidikan (SPU-1) Blok C
Tabel C. 3 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VlII-C-148
Pendidikan (SPU-1) Blok C
Tabel C. 32 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VIII-C-153
Transportasi (SPU-2) Blok C
Tabel C. 33 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-C-154
Transportasi (SPU-2) Blok C
Psrarhiyrarki . TaM*e?^3^^iKiegJStaK^^ Tcrtentu (B) pada Sub Zona

y SKPD/ Bagian PemraXaiEa


xiil
SKPD/Bagian Ismait:
Asisten
1. _ :
Kabag 2.
3.
Transportasi (SPU-2) Blok C VIII-C-155
Tabel C. 35 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok C VIII-C-161
Tabel C. 36 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok C VIII-C-162
Tabel C. 37 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok C VIII-C-165
Tabel C. 38 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pariwisata (PL-3) Blok C VIII-C-170
Tabel C. 39 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pariwisata (PL-3) Blok C VIlI-C-171
Tabel C. 40 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pariwisata (PI^3) Blok C VIII-C-178
Tabel C. 41 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Hutan Rakyat (PL-4) Blok C 4.... VIII-C-187
Tabel C. 42 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona ' 4
Hutan Rakyat (PL-41 Blok C MllMx^^m-C-lSS
Tabel C. 43 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona '''••x774>7y'..
Hutan Fakyat (PL-4) Blok C 44.., :.X:..,/"X. Vni.c-193
Tabel C. 44 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona ,
Hutan Produksi (PL-5) Blok C .44 4...4r'"-"M Vin-C-199
Tabel C. 45 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T)'pada Sub z6na > ' "X^;-
Hutan Produksi (PL-5) Blok C u4....44, VIII-C-200
Tabel C. 46 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona^ v^
Hutan Produksi (PL-5) B]xkC4444:4., 44.....4 VIII-C-201
Tabel C. 47 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pertahanan Keamanan (KH-l) Blok C .;.4.. VIlI-C-206
Tabel C. 48 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pertahanan Keamanan (KH-1) BIok;c,.......4 VIlI-C-207
Tabel C. 49 Kegiatan Bersyarat Terteiitu (BJ pada Sul) Zona
Pertahanan Keamanan (KH-1) Blok ,C VIlI-C-215

Tabel D l . 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona B l o k D l VIII-Dl-1


Tabel D l . 2 Ketentuan Kegiatan dah Pengguhaan Lahan (Matriks ITBX)
Blok DV444 , 44, VIII-Dl-3
Tabel D l . 3 Ketentuan Intensitas Perhanfaatan Ruang Blok D l VIII-D 1-8
Tabel D 1 . 4 Ketentuan' Tata Bangunan Blok D1 VIII-D 1 -9
Tabel D l . 5 . Kegiatan DipeVbolehkan/diizinkan (1) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok D l VIII-Dl-10
Tabel DU;6. Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
4 ; Perlihduhgmi^Setempat (PS) Blok D 1 VIII-D 1-11
Tabel t ) fyj Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok D l VlII-Dl-12
Tabel D l . SiXtKegiatanXDiperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok D l VIII-Dl-16
Tabel D l . 9 4 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
4 R T H Kota (RTH) Blok D l VIII-Dl-17
Tabel D l . 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok D l VIII-Dl-lS
Tabel D l . 11 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok D l VIll-Dl-25
Tabel D l . 12 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok D 1 VIIl-D 1 -27
Tabel D l . 13 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok D l VIII-D 1-35
Tabel D l . 14 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok D l VIII-D 1-46
Tabel_Dl. 15 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pan', hierarki pj^arKcnrrPefOKiShah Kepadatan Sedang (R-3) Blok D l VIII-Dl-48
Sekda ! T a b b ^ ^ i l F l K ^ K c g p ^ ^ | ^ s y a r a t Tertentu (B) pada Sub Zona

Asisten SAf'D/Gagiaii fsrsji;;


1 J, xlv
'vabr.g 2. ^
3. _,^
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok D l Vin-Dl-56
Tabel D l . 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok D l VIIl-Dl-68
Tabel D l . 18 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok D l VIII-Dl-69
Tabel D l . 19 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok D l VIlI-Dl-77
Tabel D l . 20 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok D l . . VIII-Dl-90
Tabel D l . 2 1 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-I) Blok D l . . VIII-Dl-92
Tabel D l , 22 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok D l . . VIII-Dl-100
Tabel D l . 23 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok D l VllI-Dl-108
Tabel D l . 24 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok D l .X.,..C:r..,...'*' :VIII-D1-109
Tabel D 1 . 25 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona '7
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok D l .X:;.... ' v i n - D i - 1 1 7
Tabel D l . 26 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub'Zona,.,. 4 X
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok Dljlx. 74.M4i.,.4. ; VIII-D 1-125
Tabel D l . 27 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona^-xx,
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok D l ....iX ' VIII-Dl-127
Tabel D l . 28 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zoha^ %
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok D17..........4;:—..." VIII-Dl-134
Tabel D l . 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinlran (I) pada Sub Zona
Perkantoran Swasta (KT-2) Blok" D l 44., VIlI-Dl-140
Tabel D l , 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perkantoran Swasta (KT-2) Blok D l . ; ; . . . . . . . . i t VIII-Dl-141
Tabel D 1 . 3 1 Kegiatan Bersyarat,Tertentu ( s j pada SiibtZona
Perkantoran Swasta (KT-2) Blok D i ' i ; - . . VIIl-D 1-148
Tabel D l . 32 Kegiatan Diperbolehkmi/diizinkan (I) pada Sub Zona
Aneka Industri (I-4j Blok D l 44 VIlI-Dl-153
Tabel D l . 33 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Aneka Industri,(I-4) B l o k D l VIII-Dl-154
Tabel D 1 . 34 Kegiatari Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Aneka Industri'(1-4) Blok D l VIII-Dl-162
Tabel D l . 35 .Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pendidikan (SPlJ-l) Blok D l Vin-Dl-169
Tabel D L 36 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
^^4Perididikari;(SPU-l) Blok D l VIII-D 1-170
TabePD i ; J 7 kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VlII-Dl-177
%. ^X ^Pendidikan (SPU-1) Blok D l
Tabel b l . 38 ^Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
VIlI-Dl-183
4K Pariwisata (PL-3) Blok D l
Tabel D l . 3 9 ^ Kei^atan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VIII-D 1-184
'\Pariwisata (PL-3) Blok D l
Tabel D l . 40 kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VIII-Dl-191
Pariwisata (PL-3) Blok D l
Tabel D l . 4 1 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
VIII-D 1-200
Hutan Rakyat (PL-4) Blok D l
Tabel D l . 42 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
VlII-Dl-201
Hutan Rakyat (P1^4) Blok D l
Tabel D l . 43 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VIII-D 1-207
Hutan Rakyat (PL-4) Blok D l
Tabel D l . 44 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VIII-D 1-213
Pertahanan Keamanan (KH-1) Blok D l
Tabel D l . 45 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-D 1-214
' e4si7ZKeri^arairaiHCeamanan (KH-1) Blok D l
ll!abeTij:gSXr4¥!^,^^^^ Tertentu (B) pada Sub Zona

S.\PD/ Jagiu.i lerhali:


I ' XV
Pertahanan Keamanan (KH-1) Blok D l VUI-D1-222
Tabel D l . 4 7 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pelabuhan Perikanan Pantai (KH-4) Blok D l VIlI-Dl-229
Tabel D l . 4 8 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pelabuhan Perikanan Pantai (KH-4) Blok D l VIII-Dl-230
Tabel D l . 4 9 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pelabuhan Perikanan Pantai (KH-4) Blok D l VIII-D 1-238

Tabel D2. 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok D2 VI1I-D2-1


Tabel D2. 2 Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
Blok D2 V1II-D2-3
Tabel D2. 3 Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang Blok D2 VII1-D2-8
Tabel D2. 4 Ketentuan Tata Bangunan Blok D2 VIII-D2-9
Tabel D2. 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok D2 VI1I-D2-10
Tabel D2. 6 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona ^w. "
Perlindungan Setempat (PS) Blok D2 Mz.,.,,. Sxyui-D2-10
Tabel D2. 7 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona ^_ M7''^7:Mx
Perlindungan Setempat (PS) Blok D2 My-: --"r Vlil:D2-12
Tabel D2. 8 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Z o n a l 4^^- ,
RTH Kota (RTH) Blok D2 4x4. M.4:4'-M- Vin-D2-16
Tabel D2. 9 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (Tj pada Zona X 4/ x; .
RTH Kota (RTH) Blok D2 MX VI1I-D2-17
Tabel D2. 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona '4
RTH Kota (RTH) Blok D2 .MM..Mi.. X^X.....4 VIII-D2-18
Tabel D2. 11 Kegiatan Diperboiehkan/diizihkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok D 2 M , VIII-D2-25
Tabel D2. 12 Kegiatan Bersyarat secara J'^^I'^I^^s (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok D21. Vin-D2-27
Tabel D2. 1 3 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B)"pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan.Tinggi (R-2) Blqk D2 VIII-D2-35
Tabel D2. 1 4 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (ij pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok D2 VIII-D2-46
Tabel D2. 1 5 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Penimahari'Kepadatan'Sedang (R-3) Blok D2 VII1-D2-47
Tabel D2. 1 6 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perrirhahan JCephdatan Sedang (R-3) Blok D2 VIII-D2-56
Tabel D2. 1 7 ^Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok D2 VIII-D2-68
Tabel D2. J 8 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
' 4Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok D2'. VI1I-D2-69
Tabel D2l : 1 9 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
'4. '% Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok D2 VIII-D2-78
Tabel b2, 20* Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
%4 Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3} Blok D 2 VI1I-D2-86
Tabel D2. i21. Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Xperdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok D2 VI1I-D2-87
Tabel D2. 22 kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok D2 VI1I-D2-95
Tabel D2. 2 3 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Aneka Industri (1-4) Blok D2 V1II-D2-103
Tabel D2. 2 4 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Aneka Industri (1-4) Blok D2 VIII-D2-104
Tabel D2. 2 5 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Aneka Industri (1-4) Blok D2 VIII-D2-112
Tabel D2. 2 6 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Peribadatan (SPU-6) Blok D2 Vin-D2-119
,TabfiI„D2. 27 K*^gifltflri__Rersvarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
^£LJl££P.eril^datej(SPU-6) e i o k D 2 v i i i - D 2 - 120
l^M'b2??2fe-'-fkdg^^3e|syarat Tertentu (B) pada Sub Zona
SKFD/ Uagia.T T^rns::: |
Peribadatan (SPU-6) Blok D2 VI1I-D2-125
Tabel D2. 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pariwisata (PL-3) Blok D2 V1II-D2-131
Tabel D2. 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pariwisata (PI^3) Blok D2 Vin-D2-132
Tabel D2. 3 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pariwisata (PL-3) Blok D2 VIII-D2-139

Tabel E l . 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok E l VIII-El-1


Tabel E l . 2 Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
Blok E l VIIl-El-3
Tabel E l . 3 Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang Blok E l VIII-El-8
Tabel E l . 4 Ketentuan Tata Bangunan Blok E l VllI-El-9
Tabel E l . 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
Hutan Lindung (HL) Blok E l VIII-El-10
Tabel E l . 6 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona 'vX
Hutan Lindung (HL) Blok E l ^ M - M :;,VI1I-E1-10
Tabel E l . 7 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Zona '"^xl'Yx--'.
Perlindungan Setempat (PS) Blok E l -M-... 44,4 - V I I I - E l - 1 1
Tabel E l . 8 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona"7:-':,.. '4^
Perlindungan Setempat (PS) Blok E l . . . . . . ^ - 4,^444.47 X VIIl-El-12
Tabel E l . 9 Kegiatan Bersyarat Tertentu (8) pada Zoha, 444 ""4>-
Perlindungan Setempat (PS) Blok E 1 , M . . . 4 M IZ ' VIIl-El-13
Tabel E l . 10 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) padaZoha 4
RTH Kota (RTH) Blok E l ,:;p'4...;M- Vin-El-17
Tabel E l . 11 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona %•
RTH Kota (RTH) Blok E l M M:. VIlI-El-18
Tabel E l . 12 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona.,, " 4
RTH Kota (RTH) Blok E l M X : ; ; . . . . . X M . , . » . . . M VIII-El-19
Tabel E l . 13 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-;2) Blok E l VlIl-El-27
Tabel E l . 14 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T)'pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi'(R-2) Blok E l . VIII-El-28
Tabel E l . 15 Kegiatan, Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok E l VIlI-El-36
Tabel E l . 16 Kegiatari; Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok E l VIII-El-47
Tabel E l . 17 .Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok E l VIIl-El-49
Tabel E l . r i S kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VIlI-El-57
4 Peinmah'ah'Kepadatan Sedang (R-3) Blok E l
TaberElXU9 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
44 '% Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok E l VIII-El-69
Tabel E l . 20'X^KegiatanXBersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
4> Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok E l Vin-El-70
Tabel E l . 2 1 \ Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok E l VlIl-El-79
Tabel E l . 22 kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok E l VlII-El-92
Tabel E l . 23 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok E l VIII-El-93
Tabel E l . 24 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok E l VIII-El-101
Tabel E l . 25 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok E l VIII-El-109
Tabel E l . 26 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok E l VIlI-El-110
Tabel E l . 27 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pafijf Hrer.irKi Zi^i:X.P£ri^;Siii2J^jP^"^^"^I^^ (KT-1) Blok E l , VIIl-El-117
iTkbeiEai.ii28m.Kegia|tanJ2i^ (I) pada Sub Zona
Stikda
Y
Asisten xvil
Kabag
mzi>MPzm>pmANimim£NPmAN

Aneka Industri (1-4) Blok E l , VIII-El-123


Tabel E l . 29 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Aneka Industri (1-4) Blok E l VIII-El-125
Tabel E l . 30 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Aneka Industri (1-4) Blok E l , VIII-El-133
Tabel E l . 3 1 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok E l VIII-El-139
Tabel E l . 32 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok E l VIII-El-140
Tabel E l . 33 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok E l VlII-El-144
Tabel E l . 34 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Hutan Rakyat (PL-4) Blok E l VIII-E1-149
Tabel E l . 35 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Hutan Rakyat {PL-4) Blok E l VIII-El-149
Tabel E l . 36 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Hutan Rakyat (PL-4) Blok E l ......X ;VIII-E1-155
Tabel E l . 37 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Hutan Produksi (PI^5) Blok E l 44,.., VIII-El-161
Tabel E l . 38 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Siib Zona
Hutan Produksi (PI^5) Blok E l ..44. 4,...XX vyiII-El-162
Tabel E l . 39 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada SubXZona %M
Hutan Produksi {PL-5) Blok E l . VIII-E 1-163

Tabel E2. 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok E2 ....".VX.. :*. VIII-E2-1


Tabel m^ Ketentuan Kegiatan dan P e n ^ u h a a n Lahan (Matriks ITBX)
E2. 2 Blok E2 M Ml.; VIII-E2-3
^n
Tabel Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang Blok E2 VIII-E2-8
E2. 3
Tabel Ketentuan Tata Bangunan Blqk E2X.-;........M Vm-E2-9
E2. 4
Tabel Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan. (I) pada Zona
E2, 5
Perlindungan Setempat (PS);Blok.E2... VIII-E2-10
Tabcl E2, 6 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok E2 VIII-E2-10
Tabel E2. 7 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok E2 VIII-E2-12
Tabel E2. 8 Kegiatari Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTHj Blok E2 , VIII-E2-16
Tabel E 2 . 9 .Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
RTH Kota (RTH) ,Blok E2 VIII-E2-17
Tabel E2<10 Kegiatari Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
VIII-E2-18
Tabel Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok E2 VIII-E2-25
Tabel E2. 12 ^ Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
M Perumahan Kepadatan Tinggi [R-2) Blok E2 VIII-E2-27
Tabel E2. I S ^ Ke^atan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Mperumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok E2 VIII-E2-35
Tabel E2. 14 kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-31 Blok E2 VIII-E2-46
Tabel E2. 15 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok E2 VIII-E2-47
Tabel E2. 16 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang {R-3) Blok E2 Vin-E2-56
Tabel E2. 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok E2... VIII-E2-68
Tabel E2. 18 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok E2... VIII-E2-69
Tabel E2. 19 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
i^^ggangaA dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok E2 V1I1-E2-77
Par?fH(pnrl<i,
l^iJ^^l^Ti^IJ^Ii^gife^ erbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Sekda
SKPD/ Gsgian Terkjii:
Asisten xviil
1.
2.
3.
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok E2 Vin-E2-85
Tabel E2. 21 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok E2 VIII-E2-86
Tabel E2. 22 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok E2 VIII-E2-94
Tabel E2. 23 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok E2 Vin-E2-101
Tabel E2. 24 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok E2 VI1I-E2-103
Tabel E2. 25 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok E2 VIII-E2-110
Tabel E2. 26 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) Blok E2 Vin-E2-116
Tabel E2. 27 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) Blok E2 VIII-E2-117
Tabel E2. 28 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) Blok E2 4 4 Wfi-E2-124
Tabel E2. 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona'7;
Kesehatan (SPU-3) Blok E2 -..44.... Vin-E2-130
Tabel E2. 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Siib Zona
Kesehatan (SPU-3) Blok E2 .44 5_VIII-E2-131
Tabel E2. 3 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona 4 , J l
Kesehatan (SPU-3) Blok E2 M....44.. VIII-E2-138
Tabel E2. 32 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub ZonaX'v
Peribadatan (SPU-6) Blok E2 . , M M . . M ; . . . . ; . . „ M ; , 4 VI1I-E2-144
Tabel E2. 33 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Peribadatan (SPU-6) Blok E2 M,, .XM. VIII-E2-145
Tabel E2. 34 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zoha^
Peribadatan (SPU-6) B l o k E 2 ......M:.........M VIII-E2-150
Tabel E2. 35 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Hutan Rakyat {PI?4) Blqk E 2 . . . . 4 M ; : . . VIII-E2-155
Tabel E2. 36 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Hutan Rakyat (PL-4) Blolc E2 M . VIII-E2-156
Tabel E2. 37 Kegiatan .Bersyarat Teriehtu (Bj pada Sub Zona
Hutan Ralorat (PL-4) Blok E2 Vin-E2-162
yx
Tabel F l . 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok F l VlII-Fl-1
Tabel F l . 2 ^Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
BlokFlM :M VIII-Fl-3
Tabel F l . 3;,. KetentuaiiTntehsitas Pemanfaatan Ruang Blok F l VIII-Fl-8
Tabel F l . 4 MKetentuah^^^^ Bangunan Blok F l VIlI-Fl-9
TabeLFlXs Kegiatan diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
4 ^ Perlindungan Setempat (PS) Blok F l VUI-Fl-lO
Tabel F l , 6X7 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
%4 Perlindungan Setempat (PS) Blok F l VIII-Fl-10
Tabel F l . 7\x. Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
XPerlindungan Setempat (PS) Blok F l VIII-Fl-12
Tabel F l . 8 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTH) B l o k F l VIII-Fl-16
Tabel F l . 9 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok F l VIII-Fl-17
Tabel F l . 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) p a d a ^ n a
RTH Kota (RTH) Blok F l VIII-Fl-18
Tabel F l . 11 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok F l VIII-Fl-25
Tabel F l . 12 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok F l VIII-Fl-27
Tabel F l . 13 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
?^;Tr?FeTiithafiaifKepadatan T i n ^ (R-2) Blok F l VIII-Fl-35
• •I'M ^
T i b e l FBXlfirFaKeglataA^^ (I) P^da Sub Zona

Sf.f>L?/djgian Tttkait:
xtx
KdLSq t 2..
H'li'in 3._
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok F l VIII-Fl-46
Tabel F l . 1 5 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok F l VIII-Fl-47
Tabel F l . 1 6 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok F l VIII-Fl-56
Tabel F l . 1 7 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok F l VllI-Fl-68
Tabel F l . 1 8 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok F l VlII-Fl-69
Tabel F l . 1 9 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Rendah (R-4) Blok F l VIII-Fl-77
Tabel F l . 2 0 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok F l VlII-Fl-90
Tabel F l . 2 1 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona ^
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok F l ....XXx,. VIII-Fl-92
Tabel F l . 2 2 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona ..^ X^
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok F l .X.Xv..,...'X ::;yiii-Fi-ioo
Tabel F l . 2 3 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona 74'44,
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok F l Xf.:;... VIII-Fl-107
Tabel F l . 2 4 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona, 4^
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) ;Blok F l .„.;;..': . 7 ;;;VIII-F1-108
Tabel F l . 2 5 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) p a d a S u b Z o n a "\>.4/^'-h^
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok F l ..X....... VlII-Fl-116
Tabel F l . 2 6 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona X ,
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok F1X..........XXX.......4 VIII-Fl-124
Tabel F l . 2 7 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok F l .......X. VIII-Fl-125
Tabel F l . 2 8 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perkantoran Pemerintah (KTrl) Blok F l .......X Vin-Fl-132
Tabel F l . 2 9 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (ij pada Sub Zona
Pendidikan (SPUri) Blok Flt^MM,^ VIII-Fl-138
Tabel F l . 3 0 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T)"pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-lj Blok F l ...M VlIl-Fl-139
Tabel F l . 3 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (Bj'pada Sub Zona
Pendidikan'(SPy-1) Blok F l VIII-Fl-146
Tabel F l . 3 2 Kegiatan DiperSolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Peribadatan (SPlJ-6) B l o k F l VIII-Fl-152
Tabel F l . 3 3 .Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Peribadatan (SPU;6) Blok F l VIII-F1-153
Tabel F 1 . . 3 4 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
'4||:eribadatan (SPU-6) Blok F l VIlI-Fl-158
Tabel;F1X;35 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
4 , H ^ t a n Rakyat (PL-4) Blok F l VIII-Fl-164
Tabel F l . SbXSKegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
*4S H u t a n Rakyat (PL-4) Blok F l VIIl-Fl-164
Tabel F l . 37,:.. Ke^atan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
"XHutan Rakyat (PL-4) Blok F l VIII-Fl-170

Tabel F 2 . 1 Klasifikasi Zona/Sub Zona Blok F 2 VIII-F2-1


Tabel F 2 . 2 Ketentuan Kegiatan dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
Blok F 2 VIII-F2-3
Tabel F 2 . 3 Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang Blok F 2 VIII-F2-8
Tabel F 2 . 4 Ketentuan Tata Bangunan Blok F 2 VIir-F2-9
Tabel F 2 . 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
H u t a n Lindung (HL) Blok F 2 VI1I-F2-10
Tabel F 2 . 6 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
Hutan Lindung (HL) Blok F 2 VIII-F2-10
Tabel F 2 . 7 JCegiatan^Di^rboleh (I) pada Zona
Setempat (PS) Blok F2, Vin-F2-ll
Wi'^Qm^ f ^Ke^Att n^pcrjVarat Secara Terbatas (T) pada Zona

XX
Perlindungan Setempat (PS) Blok F2 Vin-F2-12
Tabel F2. 9 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok F2 VIII-F2-13
Tabel F2. 10 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok F2 VIII-F2-17
Tabel F2. 11 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok F2 VIII-F2-18
Tabel F2. 12 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok F2 VIII-F2-19
Tabel F2. 13 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok F2 VIII-F2-27
Tabel F2. 14 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok F2 VIII-F2-28
Tabel F2. 15 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok F2 VIII-F2-36
Tabel F2. 16 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona,,
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok F2 :),,VIII-F2-47
Tabel F2. 17 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona:;)
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok F2..XM.........M -XVin-F2-49
Tabel F2. 18 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Z o n h M 4 ;
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blp£F2 %.M4 VIII.F2-57
Tabel F2. 19 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona -CJ
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K- l J Blok F2 X VIII-F2-69
Tabel F2. 20 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Siib Zona';
Perdagangan dan Jasa bentukTuriggal (K-l) Blok F2 ..:X... VIir-F2-70
Tabel F2. 2 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B)'pada Sub Zona ^ 4
VIII-F2-79
Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok F2
Tabel F2. 22 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona
VIII-F2-86
Perkantoran Swasta (KT-2) Blok F24..^..,.M
Tabel F2, 23 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T)"pada Sub Zona
VIII-F2-87
Perkantoran Swasta (KT-2) Blok
Tabel F2. 24 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
VIII-F2-94
Perkantoraa Swasta (KT-2) Blbk;F2
Tabel F2. 25 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
VIII-F2-99
Aneka Industn (1-4) Blok F2
Tabel F2. 26 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
V1II-F2-100
Aneka Industri (1-4) Blok F2
Tabel F2. 27 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona Vin-F2-108
Aneka Industri ( M ) Blok F2
Tabel F2. 28 Kegiatan Diperbofehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona V1II-F2-115
Pendidikan,(SPU-l) Blok F2
Tabel F 2 i 2 9 kegia:tan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-F2-116
4 , 7X Pendidikan (SPU-1) Blok F2
Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VIII-F2-123
TabefF2.36 Pendidikan (SPU-1) Blok F2 ,
V Ke^atan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VIII-F2-129
Tabel F2. 3>1 ^Kesehatan (SPU-3) Blok F2
Tabel F2. 32 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona VIII-F2-130
Kesehatan (SPU-3) Blok F2
Tabel F2. 33 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VIII-F2-137
Kesehatan (SPU-3) Blok F2
Tabel F2. 34 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona VIII-F2-143
Hutan Rakyat (PL-4) Blok F2
Tabel F2. 35 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) p a d a S u b Zona VIII-F2-143
Hutan Ralcyat (PIM) Blok F2
Tabel F2. 36 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona VIII-F2-149
Hutan Rakyat (pL-4) Blok F2
Paraf H.som Paraf f'.iorairns VI1I-F3-1
TIU^ •j-y^an Ft^WS^i^F^I'^'fl^^/Eub Zona Blok F3.
Sekda
Y Ti belFSTi^ Ketentil a a i ^ g i a t a n dan Penggunaan Lahan (Matriks ITBX)
SKPD/ Bagian Terkdii:
Asistpn
4- 1
2.
:
xx!
J.Vi ra 1.
mkmiPzmpAcnANmxm£NPA(S!AN

Blok F3 Vin-F3-3
Tabel F3. 3 Ketentuan Intensitas Pemanfaatan Ruang Blok F3 VIII-F3-8
Tabel F3. 4 Ketentuan Tata Bangunan Blok F3 VIII-F3-9
Tabel F3. 5 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
PerUndungan Setempat (PS) Blok F3 VIII-F3-10
Tabel F3. 6 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
Perlindungan Setempat (PS) Blok F3 VI1I-F3-11
Tabel F3. 7 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
PerUndungan Setempat (PS) Blok F3 VI1I-F3-12
Tabel F3. 8 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok F3 VIII-F3-16
Tabel F3. 9 Kegiatan Bersyarat Secara Terbatas (T) pada Zona
RTH Kota (RTHj Blok F3 VI1I-F3-17
Tabel F3. 10 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Zona
RTH Kota (RTH) Blok F3 .7:.... VIII-F3-18
Tabel F3. 11 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona . ""4^
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok F3 41x4,4% ,,VIII-F3-26
Tabel F3. 12 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub 7/yx4tx44:4'
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok F3....1.M... M . . . . 4 W I - F 3 - 2 7
Tabel F3, 13 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona-IT^'vj ., '7
Perumahan Kepadatan Tinggi (R-2) Blok,F3X Zx,.444.,4% ; VIII-F3-35
Tabel F3. 14 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona y- "
Perumahan Kepadatan Sedang (R-3) Blok F3;.. VIII-F3-46
Tabel F3. 15 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zoha);
Perumahan Kepadatan Sedang {R-3) Blok F3...M,......tr VIII-F3-48
Tabel F3. 16 Kegiatan Bersyarat Tertentu (Bjipada Sub Zona 4
Perumahan Kepadatan Sedang jR-3) Blok F3 y . V1II-F3-56
Tabel F3. 17 Kegiatan Diperbolehkan/diizinlmh (I) pada Suh Zona
Perdagangan dan Jasa behtiik Tunggal (K-j) Blok F3 VII1-F3-68
Tabel F3. 18 Kegiatan Bersyarat,secara JerUatas (Tj'pada Sub Zona
Perdagangan dan'Jasa bentuk Tunggal (K-l) Blok F3 V1II-F3-69
Tabel F3. 19 Kegiatan Bersyarat Tertentu'(Bj pada Sub Zona
Perdagangan dan Jhsa bentukTunggal (K-l) Blok F3 VIII-F3-78
Tabel F3. 20 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Perdagarigan'dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok F3 VIII-F3-85
Tabel F3. 2 1 Kegiatmi Bersyarat secarajerbatas (T) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok F3 Vin-F3-86
Tabel F3, 22 v Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Perdagangan dan Jasa bentuk Deret (K-3) Blok F3 Vin-F3-94
Tabel F3..23 Kegiatan Diperbblehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
PerkantorahTemerintah (KT-1) Blok F3 V1II-F3-102
Tabel F3;- 24 kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
7|,i, "XfX Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok F3 VIII-F3-103
Tabel F3. ,25 ^kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
4; Perkantoran Pemerintah (KT-1) Blok F3 VIII-F3-110
Tabel F3, 26 Keigiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona
4 Pendidikan (SPU-1) Blok F3 Vin-F3-116
Tabel F3. 27 kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) B l o k F 3 VIII-F3-117
Tabel F3. 28 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pendidikan (SPU-1) Blok F3 VI1I-F3-124
Tabel F3. 29 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Kesehatan (SPU-3) Blok F3 VIII-F3-130
Tabel F3. 30 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Kesehatan (SPU-3) Blok F3 VIII-F3-131
Tabel F3. 3 1 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Kesehatan_(SPU-3) Blok F3 VIII-F3-138
'BBhrtTTO73l2j^^^ (1) pada Sub Zona
I'KPD/ B'rg~nTfci5?a!riiah^a:^pU-6) Blok F3 VI1I-F3-144
Sekda y 1 nlxtL&'L^,3-iL.Kc£iat'^" f^e^^^^ra^ secara Terbatas (T) pada Sub Zona
si<Pbf iagian TerKait:
Asislsn
k . 1 •—'- xxii
2._^
1 .
mKmpzmpmANmm£NPmAM

Peribadatan (SPU-6) Blok F3 VIII-F3-145


Tabel F3. 34 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Peribadatan (SPU-6) Blok F3 VIII-F3-150
Tabel F3. 35 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (I) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok F3 VII1-F3-155
Tabel F3. 36 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok F3 VIII-F3-156
Tabel F3. 37 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Pertanian (PL-1) Blok F3 V1II-F3-160
Tabel F3. 38 Kegiatan Diperbolehkan/diizinkan (1) pada Sub Zona
Hutan Rakyat (PL-4) Blok F3 VIII-F3-164
Tabel F3. 39 Kegiatan Bersyarat secara Terbatas (T) pada Sub Zona
Hutan Rakyat (PL-4) Blok F3 VIII-F3-165
Tabel F3. 40 Kegiatan Bersyarat Tertentu (B) pada Sub Zona
Hutan Rakyat (PL-4) Blok F3 M.... V1II-F3-171

• X-'- '"'X "'^•'ly:, •r-'r...

•n. •'4/'4%
,M % M>M'
M4 44 '
M M M
'XX "X-f- x.
Y7 4 -
'i y
Xh

-> X 4y
.•x--^. v:\ X\..
i M - \ ^ 4 * 4

'-^v. Xa ^4
Yx f.y, . X^
XC":

% x %4F%

x7 y
4^^4^"4

farsf hierarKi Fi(3f Kocjinasi


Sekda
V SKPDJ Bagian ParTi;iK2.-^a

SKPO/ Bacian tarkalt:


yi
mkmpzmPAcnANimim94pAcsfAN

daftar gambar

Gambar 2. 1 Kedudukan RDTR dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang


dan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional II-7

Gambar 4. 1 Berbagai model Penataan Tapak Kavling Perumahan


Yang Dapat Digunakan Sebagai Acuan Penataan
Zona Perumahan IV-42
Gambar 4. 2 Ilustrasi Penataan Zona Pelayanan Jasa dan Perdagangan
Skala Kota IV-52
Gambar 4. 3 Ilustrasi Perkantoran Pemerintah .V7i... IV-62

Gamb£ir5, 1 Bagian Jalan .V;;..;........" 4 V-8


Gambar 5. 2 Konsep Dimensi Jalan Raya yang Dilengkapi Jalur Lambat 4,4r- V-9
Gambar 5 . 3 Konsep Dimensi Jalan Sedang 44>, 4 . 4y>y
dengan Fungsi Arteri dan Kolektor „ XM.X:........"X;'. " ' V-9
Gambar 5 . 4 Konsep Dimensi Jalan Kecil y4 4. " 4,
dengan Fungsi Arteri, Kolektor, Lokal...y..X.- X."...;.,:^.;r.;.j, " V-IO
Gambar 5. 5 Konsep Dimensi Jalan Kecil dengan FuhgriiUngkungan V-10
Gambar 5. 6 Konsep Dimensi Jalan Kecil T^^y "^ -4. 4;
dengan Fungsi Lingkungan {sepeda motor) .V.?,.„...„•*.' V-11
Gambar 5. 7 Ilustrasi J a l u r Pedestrian dan Zona A m a n ; . . 1:4 V-11
Gambar 5, 8 Ilustrasi Jalur Kendaraan Tidak Bermotor .4„ V-12
Gambar 5, 9 Ilustrasi Sarana Pemilahan/Pewadahan Sampah V-38
Gambar 5. 10 Ilustrasi Sarana Pengangkutan Sampah . . . M V-39
Gambar 5. 11 Ilustrasi Sarana Pengolahan Sampah V-39

Gambar 7. 1 Mekanisme Alokasi Keuangah Pemerintah Kabupaten VII-11


'"'4 4

4. <4
JX 4x0

: ^ 4 4

SKPD/ Bagian Pern.aKarsa

6KPD/ Jagian TerKali:


1 1.
yi xxlv
2 ^
daftar peta
Peta 3. 1 Orientasi Wilayah III-10
Peta 3. 2 Wilayah Perencanaan/Batas Administrasi III-11
Peta 3. 3 Eksisting Pola Ruang III- 12

Peta 4. 1 Pembagian Sub BWP IV-7


Peta 4. 2 Pembagian Blok IV- 8
Peta 4. 3 Rencana Distribusi dan Kepadatan Penduduk IV- 11
Peta 4. 4 Rencana Pola Ruang IV-13
Peta 4. 5 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-I 44 IV-14
Peta 4. 6 Rencana Pola Ruang 1:5,000 Potongan Ke-II 44 4%^ IV-15
Peta 4. 7 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-III .:X..V.::X.'.v, y|; IV-16
Peta 4. 8 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-IV..;:~ '44„44j k IV-17
Peta 4. 9 Rencana Pola Ruang 1:5,000 Potongan Ke-V...444:.., .X7u^ IV-18
Peta 4. 10 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Kej-W.....?'„...Llh.....]XK\ IV-19
Peta 4. 11 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-VII XX:.....;MX;,.. IV-20
Peta 4. 12 Rencana Pola Ruang 1:5,000 Potongan Ke-VlII M:7. 4' IV-21
Peta 4. 13 Rencana Pola Ruang 1:5,000 Potongan Ke-IXc^.. 44 IV-22
Peta 4. 14 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-X...M.. V.X rv-23
Peta 4. 15 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-XI . . . . . M , IV-24
Peta 4. 16 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-XII ".X IV-25
Peta 4. 17 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-XIIk- IV-26
Peta 4. 18 Rencana Pola Ruang l:5.600_Potohgan Ke-XIV IV-27
Peta 4. 19 Rencana Pola Ruang ksXooO Pptongan Ke)XV IV-28
Peta 4. 20 Rencana Pola Ruang 1:5.000, Potongan Ke^XVI IV-29
Peta 4. 21 Rencana Pola Riiahg I:5.000:p6t6ngah Ke-XVII IV-30
Peta 4. 22 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-XVIIl IV-31
Peta 4. 23 Rencana Zona Hutan Lindung 44 IV-38
Peta 4. 24 Rencana Zona Perlindungan Setempat IV-39
Peta 4. 25 Rencana Zona RTH Kota';.>.. IV-40
Peta 4. 26 Rencana Zona perumahan^! IV-51
Peta 4. 27 Rencana Zona Perdagangan dan Jasa IV-61
Peta 4. 28 IV-68
' Rencana Zona Perkantoran
Peta 4. 29 Rencana2k»na Industri IV- 71
Peta 4. 30 ^vRehcaha Zoha Sarana Pelayanan U m u m IV-104
Peta.4: 3 k • Rencana Zbha Peruntukan Lainnya IV-105
Peta4'. 32 X Rehcaha Zona Khusus IV-108
yx %
Peta 5. 1 Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan V- 17
Peta 5. 2 Rencana Pengembangan Jaringan Energi dan Kelistrikan V- 21
Peta 5. 3 • Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi V-25
Peta 5. 4 Rencana Pengembangan Jaringan Air M i n u m V-34
Peta 5. 5 Rencana Pengembangan Jaringan Drainase V-36
Peta 5. 6 Rencana Jaringan Persampahan ..... V- 46

Peta 6. 1 Rencana Sub BWP yang Diprioritaskan Penanganannya. VI- 13

Peta A 1 . 1 Peta Zonasi Blok A 1 . VIII-Al-4


Peta A2. 1 Peta Zonasi Blok A2. Vin-A2-2
Peta A3. 1 Peta Zonasi Blok A3. VIII-A3-2
PetaBl. 1 Peta Zonasi Blok B 1 . VIII-B 1-2
Peta B2. 1 Peta Zonasi Blok B2. V1II-B2-2
VIII-C-2
Paraf HierarKi
•p. bkDl VIII-D 1-2
Sekda
y ta.D2J[ Eeta Zo lasi B lIbk D2 VIII-D2-2
SKPu/ Gagia.i Terkait:
Asisten XXV
1 1
Kabag 2
•^ ,
Peta E l . 1 Peta Zonasi Blok E l VIII-El-2
Peta E2. 1 Peta Zonasi Blok E2 VIII-E2-2
PetaFl. 1 Peta Zonasi BlokFl VIII-Fl-2
Peta F2. 1 Peta Zonasi Blok F2 ; VI1I-F2-2
Peta F3. 1 Peta Zonasi Blok F3 VIir-F3-2

Peta KP. 1 Zona Rawan Tsunami VIIl-KP-8


Peta KP. 2 Zona Rawan Banjir/Genangan VIII-KP-9
Peta KP. 3 Zona Rawan Kebakaran VIII-KP-10
Peta KP. 4 J a l u r dan Lokasi Evakuasi Bencana VIIl-KP-11
bab 1
pendahuluan
'''-A-

1.1 Latar Belakang


Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan PeraturahX Zonasi (PZ) merupakan salah satu
produk rencana tata ruang yang merupakan penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW). Seiring dengan telah ditetapkannya RTRW Kabupaten Pacitan pada t a h u n 2010.
maka Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) d i ^ a h satu kecamatan d i Kabupaten Pacitan
yaitu Kecamatan Pacitan perlu disusun produk rencana tata ruangnya. Merujuk pada
ketentuan pasal 4 ayat (3) h u r u f a Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang,, Rencmia'Detail f a t a Ruang dan Peraturan Zonasi
Bagian Wilayah Perkotaan Padtah -Kabupaten Pacitan Tahun perlu ditetapkan dalam
Peraturan Daerah. ^y. •'

Penyusunan RDTR dah'iPZ i n i penting dilakukan disamping sebagai acuan dalam


pelaksanaan p e m b a n ^ n a n j u g a sebagai acuan dalam investasi yang akan dilakukan
pemerintah, swastai masyarakat m a u p u n stakeholders yang lain,
M 0-

1.2 Tujuan Penyusunan %


Tujuan penyusunan RDTR dan PZ BWP Pacitan Kabupaten Pacitan sebagai berikut:

O Merurhuskan skenario pengembangan;


Jyjy. >(y^
O Mefencanakan pola ruang dan sistem jaringan prasarana;
0 -Xa

O Menentiikan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya;

O Merumuskan indikator program pembangunan;

O Merumuskan ketentuan peraturan zonasi;

1.3 Dasar Hukum


Landasan h u k u m penyusunan RDTR dan PZ BWP Pacitan adalah sebagai berikut:

1) Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah


I Paraf Hiewh ,

) Sekda SKPD/ Bagian Pcmrakjfsa


y
1 1 •! 1 •
^J Asisten
^• . SKPD/ Bagian Terkaii:
1. 1-2
2.
3.^
Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Nomor 9) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1965;

3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara


Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4725);

4) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran


Negara Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5587)
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 2015 (Lembaran Negara Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 5679);

5) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan


Ruang (Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 2 1 , Tambahan Lembaran Negara
Nomor 5103); tf;=v., <f

6) Peraturan Menteri Pekerjaan U m u m Nomor 20/PRT/M/2011; tentang)Pedoman


Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kabupateh/Kota;

7) Peraturan Daerah Kabupaten Pacitan Nomor 3^Tahun 2010 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Pacitan 2009:20287 (lembaran Daerah Kabupaten
Pacitan Nomor 3 Tahun 2010). •Ii--'

1.4 Ruang Lingkup Perencanaan


Lingkup wilayah perencanaan i n i merupalmh-, area dengan luas 4.249,80 h a yang
mencakup 5 kelurahan dan 14 desa d i Kecamatan Pacitan yaitu:
y.
Kelurahan Pacitan;
•J y
t'':
Kelurahan Balehaijo; Xr-
Kelurahan Pucangsewu;
AJ 'J-x

Kelurahan Sidoharjo;, tX
0 y
' Y-
Kelurahan Ploso;v;^
Desa Tanjuhgsari; \1
jx fv. " <• X 'Iv
Desa Ariowinahgun; -7 ':\
b e s a Simoboyo;C:7,
'"77:J'J''ix ' y
Desa Menadi; Xj

Desa Mentorp;

Desa Purworejo;

Desa Widoro;

Desa Nanggungan;

Desa Sumberhaijo;

Desa Bangunsari;

Sebagian Desa Kembang;

Paraf Hierarki
SKPD/ aagwrt Pemraharsa
Sekda
y
SKPO/dagiaii Teikait:
Asisten
1
1-3
Katag
-f 2.
3. ^
3 Sebagian Desa Ponggok; i

3 Sebagian Desa Semanten. I

Adapun ruang lingkup materi yang dibahas meliputi:

3 Ketentuan U m u m . Beberapa h a l yang dibahas pada bagian i n i adalah istilah dan


definisi, kedudukan RDTR dan peraturan zonasi, fungsi dan manfaat RDTR, kriteria
dan lingkup wilayah perencanaan serta masa berlaku RDTR.

3 Tujuan Penataan BWP. Bab i n i membahas mengenai tinjauan RTRW terhadap wilayah
perencanaan, profil singkat wilayah perencanaan, i s u strategis pembangunan, tujuan
penataan serta kebijakan dan strategi penataan BWP.

3 Rencana Pola Ruang. Pada bagian i n i , dirumuskan rencana pola ruang pada zona
lindung d a n budidaya yang didahului dengan konsep pengembangan BWP d a n
pembagiannya dalam Sub BWP dan blok perencanaan.
y. 'V>^ "''770^
3 Rencana Jaringan Prasarana. Terdapat beberapa jaringan yang dibahas yaitu jaringan
pergerakan, energi dan kelistrikan, telekomunikasi, ai** n u h u m , drainase, air limbah
dan persampahan. A y % 0 M > ^'
fAv. Xj ^
3 Penetapan Sub BWP yang Diprioritaskan Penanganannya. Pada bagian i n i ditetapkan
Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya : berserta rencana penanganannya
secara spesifik d i Sub BWP tersebut. vl v> ''C?
fl A-
3 Ketentuan Pemanfaatan Ruang. Bab i n i mengulas mengenai program pembangunan
u n t u k mewujudkan pola ruang dan jaringan prasarana.
yv
3 Peraturan Zonasi. Bab i n i merupakan; bagian yang membahas mengenai ketentuan
kegiatan, intensitas, tata bangunan, prasarana dan sarana minimal u n t u k setiap zona
penggunaan lahan. 'SA> 0 0
AlO JJ
AJ4,1;^ 'Jj_
V- y x^,,
1.5 Sistematika Pembahasan <i
•i''. , : i :
Dokumen i n i disusun dengan sistematika sebagai berikut:
TJf J..
BAB 1 PENDAHULUAN.. Pada; bab i n i dibahas mengenai latar belakang, tujuan, dasar
h u k u m , ruang lingkup perencanaan dan sistematika pembahasan.
BAB 2 KETENTUAN UMUM; Beberapa h a l yang dibahas pada bagian i n i adalah istilah dan
defiiiisi, kedudukan RDTR dan peraturan zonasi, fungsi dan manfaat RDTR, kriteria dan
lingkup wilayah perencanaan serta masa berlaku RDTR.
BAB 3 T U J U A N R E N A T A A N BWP. Bab i n i membahas mengenai tinjauan RTRW terhadap
wilayah perencanaan, profil singkat wilayah perencanaan, isu strategis pembangunan,
tujuan penataan serta kebijakan dan strategi penataan BWP.

BAB 4 RENCANA POLA RUANG. Pada bagian i n i , dirumuskan rencana pola ruang pada
zona lindung dan budidaya yang didahului dengan konsep pengembangan BWP dan
pembagiannya dalam Sub BWP dan blok perencanaan.

BAB 5 RENCANA JARINGAN PRASARANA. Terdapat beberapa jaringan yang dibahas yaitu
jaringan pergerakan, energi dan kelistrikan, telekomunikasi, a i r m i n u m , drainase, air
limbah dan persampahan.
Paraf Htt:srki

Sekda
y
SKPOf Bagian Pemrakarsa
yi
SKPD/ aagian Terkait:
Asisten 1-4
1

f
KaCiag 2
3.,
BAB 6 PENETAPAN SUB BWP YANG DIPRIORITASKAN PENANGANANNYA. Pada bagian
ini ditetapkan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya berserta rencana
penanganannya secara spesifik d i Sub BWP tersebut.

BAB 7 KETENTUAN PEMANFAATAN RUANG. Bab i n i mengulas mengenai program


pembangunan u n t u k mewujudkan pola ruang dan jaringan prasarana.

BAB 8 PERATURAN ZONASI. Bab i n i merupakan bagian yang membahas mengenai


ketentuan kegiatan, intensitas, tata bangunan, prasarana dan sarana minimal u n t u k
setiap zona penggunaan lahan serta ketentuan pelaksanaan.

"X

Parsf Hierarki
SKPD/ Bagian Pemrakarsa
Sekda
Y
AsisUn SKPD/ Sagian Terkait:
1 1-5
Ka^jg 2
3.
bab 2
ketentuan u m u m
y % '^Y:
2.1 Istilah dan Definisi
Istilah dan definisi yang berkaitan dengan penyusunan., RDTR ;dan PZ BWP Pacitan
meliputi: M , '"0 '-4^
3 Daerah adalah Kabupaten Pacitan. f) "j-^ -4

3 Bupati adalah Bupati Pacitan. ^..^ ' '7. M M

3 Pemerintah Daerah adalah Pemerintah'Kabupaten Pacitan.

3 Dewan Penvakilan RakyatX Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pacitan.
M -f^ "y
3 Ruang adalah wadah,yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
termasuk ruang d i dalam b u m i sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan
m a k h l u k lain hidup; melakukan kegiatan, dan memelihara kelangsungan hidupnya.
3 Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang.

3 Rencana tata riiang adalali hasil perencanaan tata ruang.

3 Peniataan ruang adalah^ suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang,'dan pengendalian pemanfaatan ruang.

3 Perencanaan" tata ruang adalah suatu proses u n t u k menentukan struktur ruang dan
pola ruang yang meliputi pen3rusunan dan penetapan rencana tata ruang.

3 Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan


prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi
masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional.

3 Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang u n t u k fungsi lindung dan peruntukan ruang u n t u k fungsi budi
daya.

3 Pemanfaatan ruang adalah upaya u n t u k mewujudkan struktur ruang dan pola ruang
sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan pelaksanaan program
"peseytaipembiayaann;^
SKPD/ Bagian PsmraKarsa
y i
3 Izln pemanfaatan ruang adalah izin yang dipersyaratkan dalam kegiatan pemanfaatan
ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3 Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya u n t u k mewujudkan tertib tata ruang.

3 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pacitan Tahun 2009-2028 yang selanjutnya
disebut RTRW Kabupaten Pacitan adalah rencana tata ruang yang bersifat u m u m dari
wilayah Kabupaten Pacitan, yang merupakan penjabaran dari RTRW provinsi, dan
yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah, rencana struktur
ruang wilayah, rencana pola ruang -wilayah, penetapan kawasan strategis, arahan
pemanfaatan ruang wilayah, dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
Kabupaten Pacitan.

3 Rencana Detail Tata Ruang kabupaten/kota yang selanjutnya disebut RDTR adalah
rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota yang dilengkapi
dengan peraturan zonasi kabupaten/kota. ) V ' "x dj

3 Peraturan Zonasi yang selanjutnya disebut PZ adalahMetentuari yang mengatur


tentang persyaratan pemanfaatan ruang d a n ketentuan pengendaliannya dan
disusun u n t u k setiap blok/zona peruntukan yang penetapan zonanya dalam rencana
rind tata ruang. -s, ' X\
Ms 'M '••'•\
3 Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan'yang selanjutnya disebut RTBL adalah
panduan rancang bangun suatu lingkiingan/kawasan yang dimaksudkan u n t u k
mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan d a n lingkungan, serta
memuat materi pokok ketentuan ketentuan. program bangunan dan lingkungan,
rencana u m u m dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian
rencana, dan pedoman xx, pengendalian^ pelaksanaan pengembangan
lingkungan/kawasan. ' M M 41
3 Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan, sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif
dan/atau aspek fungsional.
"\\ 4 0
3 Bagian Wilayah\Perkotaan yang selanjutnya disebut BWP adalah bagian dari
kabupaten dan/atau kawasan strategis kabupaten yang akan atau perlu disusun
rencana.rincinya, dal£im hal i n i RDTR, sesuai arahan atau yang ditetapkan d i dalam
, RTRW: kabupaten yahg bersangkutan, dan memiliki pengertian yang sama dengan
zona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15
Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
A J '):>

3 Sub Bagian Wilayah Perkotaan yang selanjutnya disebut Sub BWP adalah bagian dari
BWP yang dibatasi dengan batasan fisik dan terdiri dari beberapa blok, dan memiliki
pengertian yang sama dengan subzona peruntukan sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang.
3 Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan d a n distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial. dan
kegiatan ekonomi.

Paraf KiordniaiVt
parqf Hierarki
SKPD/ Bagian Pemrakarsa
Sekda
"SKPh; Bagian lerRatt:
Asiaten i -3

lyyrir.
Kawasan strategis adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten terhadap ekonomi,
sosial, budaya, dan/atau lingkungan.

3 Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung dan budidaya.

3 Kawasan l i n d u n g adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi


kelestarian lingkungan h i d u p yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya
buatan.

3 Kawasan budidaya adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama u n t u k


dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya
manusia dan sumberdaya buatan.

3 Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu
satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana,f utilitas " u m u m , serta
mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain d i kawasan perkotaan i'atau, kawasan
perdesaan. ^j^M-y ^- M

3 Perumahan adalah k u m p u l a n r u m a h sebagaixbagian^dari^permukiman, baik


perkotaan m a u p u n perdesaan, yang dilengkapi dengan pfasaranai' sarana, d a n
utilitas u m u m sebagai hasil upaya pemenuhan r u m a h yang layak h u n i .

3 Prasarana adalah kelengkapan dasar;fisik lingkungan"^hunian yang memenuhi


standar tertentu u n t u k kebutuhan bert'empat tinggal yang layak, sehat, aman, dan
nyaman. ^s. M . 0
xM M h
3 Jaringan adalah keterkaitan antara unsur yaiig satu dan u n s u r yang lain.
3 Jalan adalah prasarana transportasi darat yahg meliputi segala bagian j a l a n , termasuk
bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang
berada pada permukaan tanali/di atas permukaan tanah, d i bawah permukaan tanah
dan/atau air, serta d i atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, j a l a n lori, dan j a l a n
kabel.
JA
Sistem jaringan j a l a n adalah satu kesatuan ruas j a l a n yang saling menghubungkan
dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh
pelayanannya dalam satu hubungan hierarki.
yj,>. >• -^jX
Ruang manfaat j a l a n yang selanjutnya disingkat Rumaja adalah suatu ruang yang
dimanfaatkan urituk konstruksi jalan dan terdiri atas badan jalan, saluran tepi j a l a n ,
sertk ambang pengamannya.
7T f J
Ruang milik j a l a n yang selanjutnya disingkat Rumija adalah sejalur tanah tertentu d i
luar ruang "manfaat j a l a n yang masih menjadi bagian dari ruang milik j a l a n yang
dibatasi oleh tanda batas ruang milik j a l a n yang dimaksudkan u n t u k memenuhi
persyaratan keluasan keamanan penggunaan j a l a n antara lain u n t u k keperluan
pelebaran ruang manfaat j a l a n pada masa yang akan datang.
Ruang pengawasan j a l a n yang selanjutnya disingkat Ruwasja adalah ruang tertentu
yang terletak d i luar ruang milik j a l a n yang penggunaannya diawasi oleh
penyelenggara j a l a n agar tidak mengganggu pandangan pengemudi, konstruksi
bangunan j a l a n apabila ruang milik j a l a n tidak cukup luas, dan tidak mengganggu

1 Par'.f H-cjiiRi
SKPO/ Sagiart Pem*aka.'S
Sekda

SKPD/ Gayijti terkait:


Asisten
1., -4
j Kabjg 2.,
V Hlikl-'-T) 3.
3 Blok adalah sebidang lahan yang dibatasi sekurang-kurangnya oleh batasan fisik yang
nyata seperti jaringan jalan, sungai, selokan, saluran irigasi, saluran udara tegangan
ekstra t i n ^ , dan pantai, atau yang belum nyata seperti rencana jaringan j a l a n dan
rencana jaringan prasarana lain yang sejenis sesuai dengan rencana kota, d a n
memiliki pengertian yang sama dengan blok peruntukan sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang.

3 Sub blok adalah pembagian fisik d i dalam satu blok berdasarkan perbedaan subzona.

3 Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik spesifik.

3 Sub zona adalah suatu bagian dari zona yang memiliki fungsi dan karakteristik
tertentu yang merupakan pendetailan dari fungsi dan karakteristik: pada zona yang
bersangkutan. y •. 4Y._^

3 Koefisien Dasar Bangunan yang selanjutnya disebut KDB adalah'aiigka'persentase


perbandingan antara luas seluruh lantai dasar baiigUnan gedung-^dan luas
lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yan£>dikuasai - sesuai;rencana tata
ruang dan RTBL. Mk.' % • ''^

3 Koefisien Daerah Hijau yang selanjutnya disebut KDH adalah angka persentase
perbandingan antara luas seluruh ruang|terbuka d i luan^ bangunan gedung yang
diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dantduas tanah perpetakan/daerah
perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang ilan RTBL.

3 Koefisien Lantai Bangunan yang selhnjutnya ,disebut . KLB adalah angka persentase
perbandingan antara luas ,=^selunih7 lantai. bangiihan gedung d a n luas tanah
perpetakan/daerah perencahaah yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan RTBL.

3 Garis Sempadan Bangunan yang selanjutnya disebut GSB adalah sempadan yang
-X
membatasi j a r a k teraekat bangunan terhadap tepi jalan; dihitung dari tepi badan jalan
sampai batas terluar m u k a bangurian, berfungsi sebagai pembatas ruang, atau j a r a k
bebas m i n i m u m dmd'bidang terluar suatu massa bangunan terhadap lahan yang
dikuasai, batas tepi siihgai atau pantai, antara massa bangunan yang lain atau
'' - J "*4\ '^•4-"-

rencana saluranj jaringan tegangan tinggi listrik, jaringan pipa gas, dsb (building line),
3 Ruang Terbuka':Hijau y a n g selanjutnya disebut RTH adalah area memanjang/jalur
dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat t u m b u h
tanaman,l)aik yang t u m b u h secara alamiah m a u p u n yang sengaja ditanam.
^j-y JJ
3 Ruang Terbuka Non Hijau yang selanjutnya disingkat RTNH adalah ruang terbuka d i
bagian wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH, berupa lahan yang
diperkeras atau yang berupa badan air, m a u p u n kondisi permukaan tertentu yang
tidak dapat d i t u m b u h i tanaman atau berpori.
3 Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan sistem penyangga kehidupan u n t u k mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
3 Hutan produksi adalah kawasan h u t a n yang mempunyai fungsi pokok memproduksi
hasil hutan.

SKPD/ Bagian Pemraka.aa


xX
•SKpffS^^nTsrkait:
1.. —1 -5
2
3 Hutan kota adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang
kompak dan rapat d i dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara m a u p u n tanah
hak, yang ditetapkan sebagai h u t a n kota oleh pejabat yang berwenang.

3 Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar
Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan
Kawasan Cagar Budaya d i darat dan/atau d i air yang perlu dilestarikan
keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan,
pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

3 Saluran Udara Tegangan Tinggi yang selanjutnya disebut SUTT adalah saluran tenaga
listrik yang menggunakan kawat telanjang (konduktor) d i udara bertegangan nominal
diatas 3 5 k V sampai dengan 230 k V sesuai dengan standar d i bidang
ketenagalistrikan. *7-,v.
y.-'Z', 'i Y-

3 Saluran Udara Tegangan Menengah yang selanjutnya disebut'SUTM . adalah saluran


tenaga listrik yang menggunakan kawat penghantarivyaiig " digunakahx^ u n t u k
penyaluran tenaga listrik dengan tegangan d i atas 1 kV ^ m i p a i dengan 35 kV sesuai
dengan standar d i bidang ketenagalistrikan. Jlf ^j '::\Xr, 0}
-y y^ X' •
3 Saluran Udara Tegangan Rendah yang selanjutnya disebut'SUTR adalah saluran
tenaga listrik yang menggunakan kawat., penghantar^. yang 7, digunakan u n t u k
penyaluran tenaga listrik dengan tegangan kurang dari 1 k V sesuai dengan standar d i
'J ''-Xl.. -'.A
bidang ketenagalistrikan. '0.^
y. ' 4 - . »'%
3 Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok'i orang termasuk masyarakat
h u k u m adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan non Pemerintah lain dalam
penyelenggaraan penataan ruang.-.. ,4j'0?,.

2.2 K e d u d u k a n ;r^., M
y:^yY-.
Sesuai ketentuan Pasal 59XPeraturan, Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap RTRW Kabupaten/Kota harus menetapkan
bagian dari wilayah I^bupaten/Kota yang perlu disusun RDTR-nya. Bagian dari wilayah
yang akan disusun RDTR tersebut merupakan kawasan perkotaan atau kawasan strategis
Kabupaten/KptaM^wasan strategis Kabupaten/Kota dapat disusun RDTR apabila
merupakan: " * v x M
3 Kawasan vyang'rhempunyai ciri perkotaan atau direncanakan menjadi kawasan
perkotaan; dan
'M 4
3 Memenuhi •• kriteria lingkup wilayah perencanaan RDTR yang ditetapkan dalam
pedoman i n i .
Kedudukan RDTR dalam sistem perencanaan tata ruang dan sistem perencanaan
pembangunan nasional dapat dilihat pada Gambar Kedudukan RDTR dalam Sistem
Perencanaan Tata Ruang dan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

SKPO/ Bagiaa Pemrakarsa ^^0^

SKPDI Jagian Tarkait:

2 —
1 _
RTRWKASlONAt
RTSPULAU

RTRKAA
'A' &M
STRATHaSkiASlONAL

RTR-.VFRCMNS) RTR KAWASAN


STRATEGIS PROVINSI

ROTRKABL^ATEH
DEO 1
RTRW
KASUPATBf
RTR KAWASAN
1 WKOIMn ^ PROSES sue DAM
PENYELENGGARAAN
BANAUNAN GEOUNG
DANlVtGKUNGAN
RTR KAWASAN
STRATEGIS . RTBL
KABUPATEN

PERATURAN CAERAH UlN


Lt^SlrPERUNTUKAN P^TURANOAERAH
LAHAN BANGUNAN GEDUNG

-a -Ti.- P»ia!aan Bangunan dan Lkigkungan

Gambar 2.1 Kedudukan RDTR dalam Sistem Perencanaan Tata Ruang dan Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional 0. 0 >•;•- ' . 7 J^
Sumber: Permen PU Nomor 20 Taliun 2011 5 '•

RDTR disusun berdasarkan;-kebutuhan^ RTRW Kabupaten Pacitan perlu dilengkapi


dengan acuan lebih detail pengendalian pemanfaatan ruang Kabupaten. Dalam hal RTRW
Kabupaten Pacitan memerlukan RDTR, maka disusun RDTR yang muatan materinya
lengkap, termasiiik PZ, sebagai salah satu dasar dalam pengendalian pemanfaatan ruang
dan sekaUgus^ menjadi i d penyusunan RTBL bagi zona-zona yang pada RDTR
ditehtukanX sebagai 7zona "yang penanganannya diprioritaskan- Dalam h a l RTRW
Kabupaten Pacitan tidak memerlukan RDTR, PZ dapat disusun u n t u k kawasan perkotaan
baik yahg sudah ada m a u p u n yang direncanakan pada wilayah Kabupaten Pacitan.
0-. JX
RDTR merupakan rencana yang menetapkan blok pada kawasan fungsional sebagai
penjabaran kegiatan ke dalam wujud ruang yang memperhatikan keterkaitan antar
kegiatan dalam kawasan fungsional agar tercipta lingkungan yang harmonis antara
kegiatan utama dan kegiatan penunjang dalam kawasan fungsional tersebut.
RDTR yang disusun lengkap dengan PZ merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
u n t u k suatu BWP tertentu- Dalam h a l RDTR tidak disusun atau RDTR telah ditetapkan
sebagai perda n a m u n belum ada peraturan zonasinya sebelum keluamya pedoman i n i ,
maka PZ dapat disusun terpisah dan berisikan zoning map dan zoning text u n t u k seluruh
kawasan perkotaan baik yang sudah ada m a u p u n yang direncanakan pada wilayah

Paraf Hierarki inasi —J


Sekda
y SKPD/ bagian Perr.fSKaraa

SKPD/ Ougian Terkaii:


Asisten
1 : 11-7
Kafcag 2
3.
2.3 Fungsi dan Manfaat
RDTR yang dilengkapi dengan PZ berfungsi sebagai:

a. Kendali m u t u pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota berdasarkan RTRW;

b. Acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan pemanfaatan
ruang yang diatur dalam RTRW;

c. Acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang;

d. Acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang; dan

e. Acuan dalam penjnjsunan RTBL.

Adapun fungsi dari RDTR d a n PZ BWP Pacitan adalah sebagai<;instrumen untuk


mendukung upaya pengembangan BWP Pacitan sebagai Ibukota Kabupaten Pacitan yang
sejalan dengan prinsip-prinsip tata ruang s e h i n ^ a terciptanya kawasan perkotaan yang
aman, produktif, dan berkelanjutan. ' X ' 'x>Xx

RDTR dan PZ bermanfaat sebagai:


-x 4x
Xv
a. Penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaah fungsi dari Imgkungan
permukiman dengan karakteristik tertentu; 4

b. Alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan <; pengawasan pelaksanaan


pembangunan fisik kabupaten/kota yang ^dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah
daerah, swasta, dan/atau masyarakat;

c. Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang u n t u k setiap bagian wilayah sesuai dengan


fungsinya d i dalam s t r u k t u r ruang kabupaten/kota secara keseluruhan; dan
X l 0 0
d. Ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan u n t u k disusun program
pengembangan kawasan dari pengendalian pemanfaatan ruangnya pada tingkat BWP
atau Sub BWP.
xMM> M M
0 4\ 0.
Sedangkan manfaat ""dari RDTR dan ' PZ BWP Pacitan adalah sebagai arahan bagi
masyarakat dalam pengisian^pembangunan fisik kawasan serta sebagai pedoman bagi
instansi dalam^/menyusun zonasi, dan pemberian perijinan kesesuaian pemanfaatan
bangunan, dengan peruntukan"lahan.
07 0
-77. '''Jx J 'x;;:, 7
2.4MKriteria dan Lingkup Wilayah Perencanaan
RDTR d M K Z disusun'apabila:
•J- iA
a. RTRW kabupaten/kota dinilai belum efektif sebagai acuan dalam pelaksanaan
pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang karena tingkat ketelitian
petanya belum mencapai 1:5.000; dan/atau
b. RTRW kabupaten/kota sudah mengamanatkan bagian dari wilayahnya yang perlu
disusun RDTR-nya.
Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada h u r u f a dan b tidak terpenuhi, maka
dapat disusun peraturan zonasi. tanpa disertai dengan penyusunan RDTR yang lengkap.

Wilayah perencanaan RDTR dan PZ mencakup:

1 ajrab a d min istm si;


Paraf Higrarki 7 Pp!3tKoorf^:n3!;i
Pa-3fl
Sekda
" yY iSKPK^fgg^Sdrirftfripi jji^JTsbperti bagian wilayah kota/subwilayah kota;

SKPD/ Jagian Ttrkait:


Asisten -8
1.,
Kabag 2.
3.
c. Bagian dari wilayah kabupaten/kota yang memiliki ciri perkotaan;

d. Kawasan strategis kabupaten/kota yang memiliki ciri kawasan perkotaan; dan/atau

e. Bagian dari wilayah kabupaten/kota yang berupa kawasan pedesaan d a n


direncanakan menjadi kawasan perkotaan.

Adapun lingkup wilayah perencanaan Penjrusunan RDTR dan PZ BWP Pacitan Kabupaten
Pacitan ditentukan dengan kriteria:

3 Bagian dari wilayah kabupaten/kota yang memiliki ciri perkotaan. Ciri perkotaan
yang dimaksud adalah adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan,
pemusatan d a n distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, d a n
kegiatan ekonomi. Wilayah yang memenuhi kriteria i n i adalah Kelurahan Pacitan,
Baleharjo, Pucangsewu, Sidoharjo, Ploso d a n Desa Tanjungsari, Aijowinangun,
Simoboyo, Menadi, Mentoro, Purworejo, Widoro, NanggungahM:,Surriberhario,
Bangunsari. 4P7'n.. "'4 '^^'0
Jk ' J j . x.x,
3 Bagian dari wilayah kabupaten/kota yang berupa lSiwasah>.perdesaan dan
direncanakan menjadi kawasan perkotaan. Wilayah yang reemehuhi kriteria i n i
adalah sebagian Desa Kembang, sebagian Desk Sambong, sebagian Desa Ponggok dan
sebagian Desa Semanten. 4.7^
Xy' J-%\ • A/h
Dengan demikian, wilayah perencanaan BWp Pacitan meliputi 5'Kelurahan dan 14 desa
yaitu Kelurahan Pacitan, BaJeharjo, Pucangsewu, SidoharioVtpIoso dan Desa Tanjungsari,
Arjowinangun, Simoboyo, Menadi, %Mentoro;x^ Purworejo, Widoro, Nanggungan,
Sumberhaijo, Bangunsari, sebagian Desa, Kembang/sebagian Desa Sambong, sebagian
Desa Ponggok dan sebagian Desa Semantem^^ ' M ^" M
H 0
Adapun batas-batas wilayah perencanaan BWP Pacitan adalah:
77j 01 ^
3 Sebelah utara /: ,Desa Sambong^ J I . A.R. Hakim, Desa Banjarsari
4i •; -' •i " XV
3 Sebelah t i m u r M , : Desa Ketepung, Desa Wonogondo, Desa Kayen, Desa Sukohaijo
3 Sebelah selatan C Samudera Indonesia

3 Sebelah barat ; Desa Dadapan, Desa Ngadirejan, Desa Sedeng


77^.--. M x M

Batas'sebagiaii'Desa Kemliahg adalah:


Xk 'X "^4Xx
3 Sebelali li'tara ' : Desa Simoboyo
-Si j - - -'7 ix
3 Sebelali,timur! : Desa Sukoharjo

3 Sebelah selatan : Desa Plumbungan

3 Sebelah barat : Kelurahan Ploso

Batas sebagian Desa Sambong adalah:


3 Sebelah utara : J l . A.R. Hakim

3 Sebelah t i m u r : Desa Widoro

3 Sebelah selatan : Kelurahan Pucangsewu, Kelurahan Pacitan

3 Sebelah barat : J l . A.R. Hakim


Paraf Hierarki
•PmigK)k adalah:
Sekda

SKPDf ^agidii lerkait:


Asisten 11-9
1 1
Kabag 2
tMuira
3 Sebelah u t a r a : J l . A.R. Hakiin

3 Sebelah t i m u r : Desa Semanten

3 Sebelah selatan : Desa Sambong

3 Sebelah barat : J l . A.R. Hakim

Batas sebagian Desa Semanten adalah:

3 Sebelah utara : J l . A.R. Hakim

3 Sebelah t i m u r : J l , Tentara Pelajar

3 Sebelah selatan : Desa Sambong, Desa Widoro

3 Sebelah barat : Desa Ponggok

2.5 Masa Berlaku MM '7 J- -

RDTR dan PZ BWP Pacitan Kabupaten Pacitan berlaku 2016-2036 dan ditinjau kembali 1
(satu) kali dalam w a k t u 5 (lima) tahun. Peninjauan kembali RDTR clan PZ BWP Pacitan
Kabupaten Pacitan dapat dilakukan lebih dari 1 (satu):kali dalam w a k t u 5 (lima) t a h u n
apabila terjadi perubahan lingkungan strategis berupa: %
3 bencana alam skala besar yang ditetapkanMengan peraturan, perundang-undangan;
/| '0^, ' M
3 perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan undang-undang; atau

3
y, %
0 ^
perubahan batas wilayah daerah yang ditetapkan dengan undang-undang.
'%07 '-=7y
y \ 7 . p'-••>-:>

0 0 w
0 $
4X1
%
7

40 M. 0
% 0 M 4

Y X-47
0^ fx
0 y

Pant Hteraiki Paraf K(j'ord;'-?5i


SKPD/ Bagian Pemrakarsa
Sekda
SKPD/ Bagian reikatt:
Asiuten 11-10
1
Kabag
Hukum 3
3.1 Tinjauan RTRW terhadap Wilayah Perencanaan
D i dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pacitan 2009 - 2028, terdapat
beberapa h a l pokok yang ditetapkan sehubungari dengan penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan Zonasi (raj BagianMilayaii Perkotaan (BWP) Pacitan
Kabupaten Pacitan. Kebijakan dan arahan RTRW Kabupaten Pacitan yang terkait dengan
penyusunan RDTR dan PZ BWP Pacitan Kabupaten Pacitan disajikan pada penjelasan
berikut.

Struktur ruang wilayah Kabupaten^, Pacitan ^.mempunyai tingkat kepentingan u n t u k


mengatur daerah perdesaan, perkotaan dan pusat pertumbuhannya (pusat permukiman)
serta kaitan antar pusat pertumbuhan,'agar masalah ketimpangan pertumbuhan wilayah
utara d a n wilayah ; V selatan d i Kalsupaten Pacitan dapat terselesaikan. Strategi
pengembangan wilayah.^ Kabupaten Pacitan terbagi atas strategi terhadap sistem
pengembangan pennukiman;perdesaan, perkotaan dan infrastruktur wilayah. Selain i t u
dasar perumiisan.struktur riiang harus mempertimbangkan:

O Kegiatan ekonomi yang tidak memerlukan dukungan lahan relatif luas;


'-i-.yx.^ "•'iYx''v'4
3 .Pehgembahgan'iahanXil wilayah Utara hendaknya dikendalikan secara ketat karena
terkait dengan fungsi sebagai kawasan perlindungan bagi wilayah bawahnya;
3 Kondisi lahari d i wilayah Tengah yang rawan longsor, menyebabkan wilayah i n i relatif
kurang'^ berkembang, sehingga interaksi antara wilayah Utara dan Selatan relatif
rendah; A'

3 Wilayah Karst Pacitan Barat yang terletak d i wilayah Selatan - Barat merupakan
kawasan Karst kelas 1, sehingga d i wilayah i n i tidak boleh dilakukan kegiatan
pertambangan;

3 Kegiatan ekonomi diarahkan pada pemberdayaan ekonomi lokal dengan sektor


pariwisata sebagai sektor penggerak d i hilir yang pada a k h i m y a akan menarik sektor-
sektor primer u n t u k berkembang (misalnya: perikanan laut, lobster, melinjo,
janggelan, j c r u k , batu aji, keramik dan gerabah);

Para! Hierarki P e i a y ^ f t ^ ^ S j ^ i a s dan) prasarana perkotaan hendaknya dilakukan dengan sistem


Sekda
Y SKE(^^^ gfi!ii^e/3U j ^ k j p y j dengan skala yang lebih rendah;

SKPD/tJagioi lerkait:
Asisten III-2
1 1
Kabag 2
3.
O Prioritas pengembangan ditekankan pada wilayah Selatan dengan penekanan fungsi
utama sebagai pariwisata pantai dan gua. Serta kegiatan pertambangan d i wilayah
Selatan Timur.

Pemantapan daerah pusat-pusat pelayanan wilayah perlu dilakukan agar pengembangan


fungsi pusat pelayanan terkait dengan sistem pusat-pusat permukiman d i tingkat wilayah
lainnya dapat terjadi. Hal i n i dilakukan dengan membentuk fungsi bagi setiap kecamatan
di Kabupaten Pacitan, sehingga tersusun suatu fungsi yang berhierarki dari hinterland,
Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL), Pusat Pelayanan Kawasan (PPK), Pusat Kegiatan Lokal
(PKL), dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).

Hirarki kawasan perkotaan dan Ibukota Kecamatan d i Kabupaten Pacitan adalah sebagai
berikut: 4^^.^
'J\
O Kawasan perkotaan Pacitan dengan hirarki K - l berfungsi sebagai Pusat Kegiatan
Wilayah (PKW II/C/2); Y M x?M'
O Ibukota Kecamatan yang berfungsi sebagai pusat Kegiatan Lokal (PKL) dengian hirarki
K-2 meliputi: Ibukota Kecamatan Punung, Ibukota Kecamatan Ngadirojo, dan Ibukota
Kecamatan Bandar; 0 0 \1 y J y ^ '
x)'' Ay j y '''-^
3 Ibukota Kecamatan yang berfungsi sebagai pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dengan
hirarki K-3 meliputi: Ibukota KecamatantDonorbjo, Ibukota Kecamatan Pringkuku,
Ibukota Kecamatan Kebonagung, Ibukota Kecamatan Aijosari, Ibukota Kecamatan
Tegalombo, Ibukota Kecamatan Nawangan, Ibukota'Kecamatan Tulakan, Ibukota
Kecamatan Sudimoro. M, J7
Fungsi perkotaan dan Ibukota Kecamatml meliputi:"
ml
3 Kawasan Perkotaan Pacitan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW n/C/2) berfungsi
sebagai pusat pelayanan wilayah\sekitar'Kabupaten Pacitan; pusat pemerintahan,
perdagangan, dan jasa wilayah kabupaten; pusat pelayanan sosial dan pertumbuhan
wilayah kabupaten; pusat komunikasi antar kecamatan; pusat pengembangan
wilayah belaliang seluruh wilayah Kabupaten Pacitan (12 kecamatan); pusat
permukirrian perkotaan; pusat jasa informasi dan akomodasi pariwisata kabupaten.
'lYy y '4k
3 Ibukota Kecamatan-Punung'sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berfungsi sebagai
pusat kegiatan) pariwisata pantai, gua dan budaya; pintu gerbang barat kegiatan
<pariwisata Selatan Pacitan (terkait pengembangan pariwisata Pawonsari); pusat
pelayanah)sosial:dan pertumbuhan wilayah Kecamatan Donorojo, Punung, d a n
Prinjgkuku; pusat komunikasi antar permukiman perdesaan d i Kecamatan Donorojo,
Punung,) dan Pringkuku; pusat pengembangan wilayah belakang Kecamatan
Donorojo,''Punung, Pringkuku.
3 Ibukota Kecamatan Bandar sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berfungsi sebagai
pusat kegiatan agrowisata dan budaya; perlindungan bagi kawasan d i bawahnya;
pusat pelayanan sosial dan pertumbuhan wilayah Kecamatan Tegalombo, Nawangan
dan Bandar; pusat komunikasi antar permukiraan perdesaan d i Kecamatan
Tegalombo, Nawangan, d a n Bandar; pusat pengembangan wilayah belakang
Kecamatan Tegalombo, Nawangan dan Bandar.

3 Ibukota Kecamatan Ngadirojo sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berfungsi sebagai
. pu sat I. kflpatanjpariwisata pantai, goa, dan budaya; pintu gerbang timur kegiatan

r
Paraf Hierarki
"^Tgej^tmrr^E tan (terkait pengembangan Selatan-Selatan Provinsi Jawa
Sekda .... ^
SKf-D/ Cagian le.'kair:
Asisten -3
1 1
2
3.
Timur); pusat pelayanan sosial dan pertumbuhan wilayah Kecamatan Tulakan,
Ngadirojo, d a n Sudimoro; pusat komunikasi antar permukiman perdesaan d i
Kecamatan Tulakan, Ngadirojo, d a n Sudimoro; pusat pengembangan wilayah
belakang Kecamatan Tulakan, Ngadirojo, dan Sudimoro.

3 Ibukota Kecamatan Donorojo, Ibukota Kecamatan Pringkuku, Ibukota Kecamatan


Kebonagung, Ibukota Kecamatan Aijosari, Ibukota Kecamatan Tegalombo, Ibukota
Kecamatan Nawangan, Ibukota Kecamatan Tulakan, Ibukota Kecamatan Sudimoro
sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) berfungsi sebagai pusat kegiatan skala
kecamatan masing-masing.

3.1.1 Kebijakan dan Strategi Struktur Ruang Wilayah


Kabupaten Pacitan
A. Kebijakan dan Strategi Sistem Perkotaan

Kebijakan: 'M'^'-,

Kawasan perkotaan dengan kegiatan utama bukan pertanian d i arahkan u n t u k


memilki pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, pelayanan perekonomian,
insfrastruktur dengan skala perkotaan; M, 7",

Strategi! 0 "Xx, y

a. Menyiapkan kawasan perkotaan memiliki rencanhj tata ruang yang terpadu,


sehingga tidak teijadi ketimpangan perkembangan wilayah;
b. Meningkatkan pelayanan sistem'prasarana w i l a y ^ d i kawasan perkotaan dalam
rangka meningkatkan liubungan e k p n o i i ^ a n g kondusif bagi pertumbuhan dan
pemerataan ekonomi wilayahr| 04 ^
c. Pengembangan kawasan perkotaan diarahkan u n t u k memanfaatkan semaksimal
mungkin potensi)sumber daya kawasan perdesaan sebagai daerah penyangga
4i'J-*' '07'.^ -'-

sesuai dengan fungsi/tipologi kawasan perdesaan.


B. Kebijakan dan Strategi Sistem Perdesaan
KebiiakanrK %
%M.. %
Kawasan perdesaan dengan^ kegiatan utama pertanian, diarahkan u n t u k memiliki
pelayanEihjasa penierihtahan, pelayEinan sosial, pelayanan perekonomian, pelayansin
^infrastruktur dengan skala perdesaan yang diharapkan dapat mendukung kegiatan
utama d i Icawasahhya,
Strategi:

a. Menyiapkan semua kawasan perdesaan memiliki rencEma tata ruang yang


terpadu, sehingga tidak teijadi ketimpangan perkembangan wilayah.

b. Meningkatkan pelayanan sistem prasarana wilayah d i kawasan perdesaan dalam


rangka meningkatkan hubungan ekonomi yang kondusif dengan kawasan
perkotaan.

c. Pengembangan kawasan perdesaan diarahkan untuk menunjang d a n


mendukung pengembangan kawasan perkotaan.

Paraf K^^ofdi'^as"
SKPD/ Bagtan PemraKaisa
Sekda
SKPO/ Bagian Terkait:
Asisten
1 -4
Kobag 7
3.
C. Kebijakan dan Strategi Jaringan Prasarana Wilayah

Kebijakan:

a. Pembangunan prasarana d a n fasilitas pelayanan u m u m dilakukan secara


terpadu u n t u k menunjang pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pacitan,
pemerataan pembangunan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

b. Pembangunan prasarana harus mampu mendukung perkembangan kawasan


strategis agropolitan dengan fungsi didalamnya sebagai sentra produksi dan
pusat pengumpul, kemudian j u g a mendukung perkembangan kawasan strategis
pariwisata dan kawasan strategis teknologi tinggi.

c. Meningkatkan pelayanan publik yang kondusif serta mengalokasikan berbagai


fasilitas dan sarana kegiatan pelayanan kota ke seluruh wilayah kabupaten
secara terstruktur. 7 ly. 7)

Strategi: . JJJ^ 0
''00-.. ^'^"^0
a. Meningkatkan kemudahan hubungan antar lokasi, k a w a ^ n , dan antar wilayah
dengan membangun jalan, meningkatkan fungsi dan/peran j a l a h ) kuantitas,
kualitas, dan tingkat pelayanan jalan, penyediaan.pedestrian, fasilitas terminal,
pelabuhan laut dan penyediaan sarana angkutan u m u m . y
''•y._ \7._ X'
b. Menyediakan fasilitas pelayanan dan fasilitas penunjang kegiatan budidaya d i
wilayah laut, seperti Pelabuhan Pendaratan Ikah (PPI), Tempat Pelelangan Ikan
(TPI), stasiun bahan bakar, ^sarana pelayanan'industri kelautan, dan sarana
wisata bahari.
c. Menyediakan fasilitas pelayanaiiUasilitas* penunjang pariwisata pada masing-
masmg obyek wisata guna mendukung perkembangan objek wisata yang ada.
d. Mengembangkan|JaIan Lintas Selatan Selatan guna menghubungkan sistem
perdesaan antar wilayah dan mendorong pertumbuhan wilayah.

e. Menyediakan dahj meningkatkan pengembangan fasilitas penunjang kehidupan


ekonomi,, sosial dan jbudaya, mencakup fasilitas perbelanjaan/pasar, fasilitas
pendidilmnpsfasilitas kesehatan, fasilitas peribadatan, fasilitas rekreasi d a n
...olaliraga dan lairiflain.

• f j Meningkatk^^^pengembangan sumber-sumber a i r bersih, kapasitas instalasi


Mpepgolahan, sistem distribusi pelayanan, dan mewujudkan sistem produksi air
bersih siap m i n u m u n t u k melayani seluruh wilayah Kabupaten Pacitan.

g. Menjaga kelestarian badan-badan air serta mata air-mata air dan meningkatkan
sediaan air tanah melalui pemantapan perlindungan kawasan-kawasan resapan
air bagi pemenuhan kebutuhan air bersih d i kawasan perdesaan, serta kawasan-
kawasan lain yang belum atau tidak terlayani oleh sistem perpipaan

h. Pengembangan sistem jaringan drainase air hujan, sistem pembuangan limbah


domestik, limbah industri, dan persampahan secara terpadu, terencana dan
terprogram u n t u k seluruh wilayah Kabupaten Pacitan dalam rangka
penanggulangan banjir dan penyehatan lingkungan permukiman kota.

Peningkatan pengembangan sistem pelayanan energi listrik dengan perluasan


Pargf Hierarki / raniifsaii: n i s t r i b u si Delayanan dan peningkatan kualitas pelayanan.
Sekda SKPD/ Bagian Pemrakarsa
— . . . y i
Asisten SKPD/ Jdglan Terksit:
1 -5

f
Kabag 2.
X
j, Peningkatan kualitas pelayanan dan pengembangan sistem telekomunikasi dan
informasi dengan mempertimbangkan kemajuan teknologi d i bidang
telekomunikasi dan informasi.

3.1.2 Kebijakan dan Strategi Poia Ruang Wilayah Kabupaten


Pacitan
A. Kebijakan dan Strategi Pelestarian Kawasan Lindung

Kebijakan:
a. Pengelolaan kawasan lindung secara terpadu dengan memperhatikan hubungan
keterkaitan dan dampak kegiatan d i r u a n g darat, b u m i , laut dan udara terhadap
eko sistem; y.

b. Menyelesaikan masalah-masalah d i kawasan lindung, baik permasalahan yang


menyangkut status h u k u m maupun fungsi kawasan.):/. '-4 "^-^4

Strategi:
40
a. Memantapkan status h u k u m dan penegasah baias kawasan lindung.

b. Mengembangkan ruang hijau kota untUk mbnunjarig fungsi lindung, mencakup


hutan kota, j a l u r hijau kota, taman kota, taman lingkungan, dan zona penyangga
hijau kota (buffer zone). vk M
10 Mv 7 4
c. Menekan seoptimal mungkin dampak negatif pembangunan dan perkembangan
kawasan terhadap lingkungan. '1^ ] '^Jy nx,yfy,:.

d. Mengembalikan fungsi, kawasan lindung yang mengalami kerusakan melalui


kegiatan reboisasi, konservasi tanah dan air, serta upaya-upaya pemulihan
lainnya.
0
B. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya

Kebijakan;

a. Menciptakan, ^menjaga, memupuk dan mengoptimalkan manfaat d a n


kesempatan yahg'ada dari keunggulan lokal yang dimiliki Kabupaten Pacitan.

*;b, Pengembangan secara terpadu d i permukiman perkotaan, permukiman


•% perdesaan, kawasan strategis d i wilayah darat, bawah tanah, udara, pesisir, dan
di\ wilayah laut u n t u k menunjang perkembangan seluruh wilayah Kabupaten
Pacitan'./*

c. Meningkatkan pembangunan prasarana dan sarana dasar, u n t u k meningkatkan


pengembangan potensi kawasan.

d. Meningkatkan laju pertumbuhan sektor/sub-sektor ekonomi yang produk-


produknya telah mampu bersaing dan raengisi pasar diluar Kabupaten Pacitan
serta mengamankan dan memantapkan pasar domestik u n t u k meningkatkan
ketahanan ekonomi wilayah kota.

e. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah agar dapat mengisi peluang
usaha.
Parat Hierarki ^ Paraf K!X>rfliiasi •
Sekda SKPD/ Bagian Pernrakars-ii

Asisten SKPu'/ Jagian ferKait:


1 -6

1
Kabag 2.
3. .. _ ^
strategi:

a. Mengoptimalkan pengembangan segenap potensi yang ada dengan menekankan


pengembangan pada sektor/subsektor unggulan d a n sektor strategis, baik
pariwisata, pertanian, pertambangan, maupun industri, yang mampu memberi
nilai tambah elonomi yang tinggi tanpa harus merusak lingkungan;

b. Menyiapkan pembangunan kawasan strategis dengan menyediakan prasarana


dan sarana pelayanan dasar;

c. Meningkatkan keterkaitan kawasan permukiman perkotaan dengan kawasan


permukiman perdesaan, terutama antara sentra-sentra produksi d i kawasan
perdesaan dengan pusat-pusat kegiatan pelayanan kota;
7-
d. Mengembangkan potensi ekonomi r a l ^ a t dan potensi perekonomian daerah
dengan mengkaitkan ekonomi antara pusat-pusat pertumbuhan dengan daerah
hinterlandnya; ^-y. 'M 0 0 0
e. Meningkatkan kemitraan antara Pemerintah Kabupaten'Pacitan," masyarakat dan
swasta dalam pelaksanaan pembangunan. ,y,$M '
47 0
3.1.3 Kebijakan dan Strategi Kawasan Strategis
Kebijakan: f/ ,. X .
^" A ••'
a. Pengembangan sistem keruangan wisata terpadu melalui pembentukan kawasan
pengembangan pariwisata dengan tema-tema khusus;
A 0
b. Pengembangan fasihtasriayanan). wisata t e r p a d u dalam rangka pembentukan
simpul-simpul pusat pelayanan skala regional dan lokal;

c. Pengembangan produk kepariwisataan mengacu pada pendekatan koridor wisata


terpadu lintas batas wilayah (borderless tourism);
KA rx, V'-,
d. Pengembangan sistem dan jaringan aksesibilitas yang handal antar wilayah.
% 4 0
Strategi; )xv. JL " 0
'J0- ^7 0 .
a. Pengembanjgan kepariwisataan Kabupaten Pacitan melalui pengembangan dan
, .-1 peran ; obyek wisata unggulan sebagai sumbu atau poros pengembangan dan
li obyek potensial sebagai jaring-jaring pengembangan;
'\A .V'-y--. 0 J \
b. ' 7 Pengembangan' produk kepariwisataan Kabupaten Pacitan melalui strategi
pengembangan tematik kepariwisataan terpadu dalam satu kesatuan kawasan
pengembangan pariwisata;
c. Pengembangan kepariwisataan Kabupaten Pacitan berbasis wisata alam dan
wisata budaya melalui pengembangan paket-paket wisata yang kreatif dan
inovatif;
d. Pengembangan kepariwisataan Kabupaten Pacitan yang berwawasan lingkungan
melalui sineigi pengelolaan lingkungan secara terpadu dan berkesinambungan.

3.1.4 Kebijakan dan Strategi Wiiayah Pesisir dan Pulau-Puiau


Paraf Hierarti '•-I'xg^t
Sekda
Y SK?D/ Bagian Terkait:
Asisten Ill-7
1 :
Kabag 7
H'Jkun 3.
3.1.4 Kebijakan dan Strategi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil
Kebijakan;

Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara terpadu dari tahap
perencanaan, pengelolaan hingga pengawasan dan pengendalian.
Strateri!

a. Strategi perencanaan dilakukan dengan pendekatan pengelolaan wilayah pesisir


secara terpadu, dengan arah mcnuju pemanfaatan sumberdaya pesisir dan
pulau-pulau kecil yang berkelanjutan, dengan mcmadukan kepentingan
pembangunEin ekonomi dengan pelestarian sumberdaya pesisir.- _

b. Strategi pengelolaan dilaksanakan dilakukan dengan pemberian izin


pemanfaatan sesuai peraturan perundang-undangan dan kewenangan masing-
masing instansi terkait dan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir {HP3) bagi
kawasan perairan budidaya atau zona perairan pemanfaatan umum.

c. Strategi pengawasan dan pengendalian dilakukan sebagai upaya antisipasi


terhadap penyimpangan dalam pelaksanaan rencana dan implikasinya terhadap
perubahan kualitas ekosistem pesisir yang didalam pelaksanaannya, strategi
pengawasan dan pengendalian meliputi penetapan dan pemberian sanksi
terhadap penyimpangan yang terjadi. / ^

3.2 Profil Wilayah Perencanaah ;


Wilayah perencanaan terdiri dari 5 kelurahan d a n ^ H desa dengan luas 4.249,80 ha.
Rata-rata pcrtambahan penduduk selama O tahun cukup tinggi yaitu 2,12%. Dengan
penduduk pada tahun 20X2 yang mencapai 56.102 jiwa, maka kepadatan penduduk
rata-rata adalah 13 jiwa per hcktar.
Tabel 3. 1 Perkembangan Penduduk
TiJlun
Ho
2007 2008 2009 2010 2011 2012
Baleheujo V 3283 3273 3263 3266 2888 2831
Tanjungsari - • 4029 3921 3882 3898 4029 4143
V3 • Nanggungan 1880 1838 1838 1828 2210 2182
4 .. Widoro 1635 1670 1673 1674 1788 1798
Pacitan 3697 3705 3681 3669 3311 3254
Pucangsewu 3324 3346 3353 3344 3111 3127
Bangunsari 3332 3439 3488 3479 4397 4439
Sumberh arjo 1351 1309 1338 1314 1421 1430
Aijowinangun 3138 3182 3219 3220 3230 3333
10 Menadi 1572 1568 1578 1585 1912 1933
11 Simoboyo 3815 4295 4323 4306 4304 4321
12 Mentoro 2235 2248 2260 2275 2583 2643
13 Purworejo 1663 1666 1676 1650 1662 1704
14 Ploso 6033 6054 6083 6163 6700 6713
15 Sidoharjo 5286 5366 5523 5473 7047 7419
16 Kembang 2059 2327 2359 2357 2394 2430
17 Sambong 1164 1162 1162 1154 1170 1174
18 Ponggok 287 301 303 305 330 305
19 Semanten 817 822 830 829 897 923

r
Paraf HierarM > \rsx2f:.
hfti£i. S0,S99 01,492 01.833 01,789 00,380 06,102

Sekda ^b^B^^m^I^^f^'^ ^ " S * ^ 2008-2013


SKPD/ Jagia.T hma: Ili-S
Asistan
1 :
Ksbag 2.
O Sebelah timur: Desa Ketepung, Desa Wonogondo, Desa Kayen, Desa Sukohaijo, Desa
Kembang, Desa Plumbungan

O Sebelah selatan: Samudera Indonesia

O Sebelah barat: Desa Dadapan, Desa Sedeng

Ell Topografi
Topografis BWP Pacitan terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan.
Kondisi tersebut membawa konsekuensi munculnya keberagaman perilaku
masyarakat terutama perbedaan mata pencaharian. Dataran datar terkonsentrasi d i
Kelurahan Ploso, Kelurahan Baleharjo, Kelurahan Sidoharjo, Desa Aijowinangun,
Desa Menadi dan Desa Simoboyo, sedangkan lokasi lainnya sebagian berbukit.

Tantangan yang dihadapi adalah menjaga keseimbangan lingkungan;daerah pantai,


perbukitan dan kawasan hutan menjadi satu kesatuan ekologis/yang dapat dikelola
secara maksimal demi kesejahteraan masyarakat. Kondisi topo^afis'/tersebut
berpotensi terhadap permasalahan bahaya kekeringan, banjir> dan tanah Idhgsor. Hal
i n i perlu diantisipasi sejak dini dan ditetapkan mekanisme pengelolaannya secara
• tepat. jiy.. "40 ''4

• Klljnatologi M . " Y ^M
Curah hujan tahunan d i BWP Pacitan rata-rata sebesar 190 m m , suhu udara berkisar
antara 22,6* C sampai dengan 32,1° C, dengan kelembaban udara tahunan rata-rata
77%. BWP Pacitan dilalui oleh sungai Grindulu sehingga terbagi menjadi dua bagian
yaitu wilayah Barat dan Timur Sungai. Grindulu. ^Wilayah Barat Grindulu sistem
drainase bertumpu pada saluran Benglral/lan Kali K u n i r , sedangkan wilayah T i m u r
menggunakan sungai Jelok iiari saluran Arjowihagun. Saluran Bengkal menerima air
hujan dari catchment area seluas + 2,80 k m , dengan panjang saluran 2.200 m ,
dengan kondisi morfologi m a u p u n lopograTi medan sama dengan sungai yang lain dan
mempunyai beda. t i n g g i 2 , 5 m;'-Sedangkan u n t u k saluran Kali Kunir, menerima
curah hujan dari catchment area dengan luas + 2 k m 2 , panjang 2.600 m, pada tinggi
+ 5 m yang d i b a ^ a n hiilunya merupakan wilayah perbukitan, dengan kemiringan +
30 - 45°, sehingga)sifaLaliran yang super kritis memungkinkan sering teijadinya
Iuapan;baniirvMv%. ''''^
r-"7 M "'^/M •
E! v Pola pengguaaan laliaii
Pola penggunaan)lahan eksisting didominasi perumahan dan h u t a n rakyat/hutan
produksi. U n t u k lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan peta Eksisting Pola
Ruang^M Y$

Paraf Koc^ninar-f
SKPD/ Bagian Pemrakarsa

SKPD; 33g!ai5 Terkait:


ft2_
III-9
7
111-11
I
I
i
Tabel 3. 2 Eksisting Pola Ruang 32 Pan^alan Militer 0,069
wo PBHUTUP IJgAJf LUAS (ha) 33 Pasar 5.994
1 X U U I 1 CUUI4 2,596 34 Pendidikan Dasar 3,668
0 0.039 0,487
35 Pendidikan Lainnya
0 055 Pendidikan Meneneah Atas 4,383
I_>CUcU W C U f£,d
36
4 4,837 37 Pendidikan Meneneah Pertama 1,754
5 Pa<silltAq
k C 1 3 U 1 L C 1 3 HftTllfATTl
I I C U U ^ C U U TjiiT^Tiva 0,052
kxkl'kkkj a
38 Pendidikan Tineei 0,793
Fasilitas Olah Ra^a Lainnva 0,421 39 Pereudanean 0,655
7 Gaduriji^ Serbaj2[una 0,157 0.194
40 Perkantoran Hankam Lainnya
8 Gcrcia 0.053 41 Perkebunan Camouran 712,112
GosoncE Suiif^ai 5.688 42 Pertemakan 0,004
10 Hamparan Pasir 76,732 43 Pertokoan dan Jasa 13,302
11 Hotel dan Penf^inapan 1,448 0,164
44 Pesantren
1 lULCUl uCUl tiiVct 1472,407 45 Petemakan 0.665
I lULCUi i aJiOAllCUl 1 1 UUurvTOi 80,822 46 Puskesmas • - 0,157
If ir^/li 1 ott^ An4^ro 1 49Q 0,153
47 Restoran "• • *-
dalan 102,179 48 Rumah Dinas ' - 0,035
1A .101111" 1*111011 2,942 0.947
11.1
49 Rumah Sakit
17 7,794 234,295
rVCULLUl ( ^1 4 u 4t.m 1^U>
50 Rumah Tineeal
1R £\.CU 1 L U I 1 UU4I 0,553 51 Saluran Irieasi dan Drainase 12.634
19 ICantor Swasta 0,717 52 Sawah XH> 822,727
:•!
20 Klinik 0,334 53 261,565
Semak Belukar
91 ICnHim 0.657 54 SPBU' 0,203
l^UUJJ it
4 J.
22 Rolain ^ 4,770 55' Stadion 2.712
23 TCrtmmil ) 0,010 56 94.132
fkUi CUIUI Suneai
94 ToliftTi TAfriiiko ' 137,734 57 Taman 1,081
25 Landas Pacu x. 3^946 58 Tambak 13,952
26 Lapanj^an Olahreea 11,521' 59 Teealan 126,434
27 Laut Danfdcal ^ 3,728 60 Terminal 1,916
28^ Makam 6,583 61 Warune 0,585
29 Masjid 1.216 JUHLAH 4249,800
30 Museum " >• '^ 0,110

31 Obyek Wisata 0,498

Paraf Hierarki , Paraf Koorsina^i


Sekda Y SKPD/ Sagian Pemrakarsa

-13
SKPD/ Jagian larKait:
Asisten
1

1
Kabag 3
.A.L^au^.K;iiar,r~mvm
3.3 Isu Strategis BWP Pacitan
Isu strategis dalam penataan ruang BWP Pacitan Kabupaten Pacitan, adalah sebagai
berikut:

1. BWP Pacitan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)

Peran dan fungsi ibukota kabupaten sebagai pusat pemerintahan, perdagangan sosial
ekonomi dan jasa pelayanan lainnya tentunya memerlukan fasilitas yang memadai
dan layak dengan pelayanan skala regional atau kabupaten. Permukiman
memerlukan fasilitas yang layak dan pantas, dalam kenyataannya fasilitas tersebut
belum tersedia sehingga dalam pemanfaatan ruang perlu penyediaan yang sesuai
kebutuhan dari pemukim tersebut d i samping i t u memerlukan penataan zone-zone
elemen lainnya dengan sistem transportasi yang mampu memenuhi kebutuhan
internal m a u p u n ekstemal wilayah. x• - 0 ^ . ^ ^ > x .

Sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), BWP Pacitan,^ini memiliki);beberapa


keunggulan d i antaranya yaitu: ..^r^ M ' i / ; ; . , . 4 4

a. Sebagai kota transit yang menghubungkan antara Kabupaten Pacitan - Ponorogo,


Pacitan - Solo / Yogyakarta; dan kota-kota kecamatan lainnya dalam wilayah
kabupaten; x<'>
' 0

b. Penggunaan lahan yang masih relatif rendah sehingga lahan belum terbangun
masih luas hanya saja harga tanah c u k u p mahal mengingat keterbatasan lahan
datar; l4> "0 1\
y
c. Dilalui oleh jalan arteri yang mehghubungkan ^wilayah selatan pulau Jawa dari
Banten (provinsi Jawa. Barat) - Banyuwaiigi (Provinsi Jawa Timur) dan BWP
Pacitan sebagai daerah transit atau rest area u n t u k istirahat para pengguna jalan
Jalur Lintas Selatan (JLS), 4
•*'vVX
2. Kota Pariwisata'%^ 'k-i'
BWP Pacitan mempunyai pantai yang cukup indah dan bersih sebagai obyek wisata
yaitu pantai Tamperan.' Teleng Ria dan Pancer Door. Ketiga obyek wisata tersebut
belum dilengkapi pleh komponen-komponen wisata yang harusnya sudah tersedia,
sehingga panorama mam yang begitu indah tidak dimanfaatkan secara optimal oleh
^pemerintah baikVpemerintah daerah, provinsi m a u p u n pusat.

3. Kota MlnapoUtan^'
"0 4
BWP Pacitan sebagai pusat produksi perikanan laut dan telah memiliki dermagayang
sangat reprensentatif. Dengan produksi ikan segar setiap harinya cukup besar
terutama ikan t u n a dan sejenisnya, umumnya dipasarkan ke luar kabupaten Pacitan
kadangkala u n t u k kebutuhan ekspor. Sebagai kota penghasil ikan, pemerintah pusat
mencanangkan kota Pacitan sebagai kota Minapolitan tentunya d i samping berfuingsi
penghasil ikan laut j u g a dapat berfungsi sebagai kota wisata pantai dan makan ikan
segar. Apalagi didukung oleh adanya pembangunan JLS tentunya peran dan fungsi
minapolitan akan lebih berdaya guna.
4. Kota Pelabuhan Niaga

fjWP Parifan nifh ppmprintah pusat j u g a dicanangkan sebagai kota pelabuhan niaga
Paraf HierarKi Parat K
iTncnampungi kegiatan industri d i kawasan sekitamya seperti Kabupaten
Sekda
Y iZlXYu

t
SKPO/ Bagian TerK^it:
Asisten 111-14
1 1
i Kabag 2
3.
Wonogiri (Jateng), Kabupaten Trenggalek, Tulungagung (Jatim) dan Kabupaten
Wonosari (DIY Yogyakarta).

Sebagai pusat pelabuhan niaga tentunya aktifitas yang diemban cukup besar karena
sebagai pelabuhan bongkar muat barang ekspor dan impor, tentunya memerlukan
prasarana j a l a n yang memadai u n t u k masuk dan keluar pelabuhan, Prasarana j a l a n
menuju pelabuhan saat i n i masih berupa j a l a n setapak dan topograllnya menanjak.
Hal yang paling menguntungkan adalah adanya JLS yang menghubungkan antar
kabupaten d i wilayah selatan pulau Jawa, sehingga arus keluar masuk barang ekspor
impor ke pelabuhan niaga Pacitan lebih akses.

5, J a l a n Llngkar Kota

Isu i n i sudah dicanangkan sejak t a h u n 1999 tapi hingga saat iniv belum beijalan
dengan baik. Pembangunan jalannya telah dilaksanakan khususnya lingkar bagian
•— \ •- '»rv_ x :^
barat sedangkan lingkar t i m u r baru separuhnya yang dibangun.' -Konsep i n i
sebeiiamya ingin mengurangi beban lalu lintas pusat v kota " dan menipercepat
pertumbuhan kawasan barat dan t i m u r BWP Pacitan, namun, dalam: kenyataannya
hingga k i n i konsep tersebut tidak realisasikan raleh pemerintah) daerah, padahal
frekwensi lalu lintas d i perkotaan saat i n i sudah'cukdp padat apalagi obyek pariwista
sudah h i d u p tentunya beban lalu lintas akamlebih padat.y "^
xA 4h
3.4 Tujuan Penataan BWP ^.
••if
Penataan ruang BWP Pacitan berdasarkan asasrVx.

1) keterpaduan;
Yang dimaksud dengari. "keterpaduan* ^^adalah bahwa penataan ruang
diselen^arakan dengan mengintegrasikan berbagai kepentingan yang bersifat lintas
sektor, lintas wilayah;- dan lintas.pemangku kepentingan. Pemangku kepentingan,
antara lain, adalah Pemenntah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

2) keserasian, keselarasanjfSan keseimbangan;


M;,. M '7\.
Yang dimaksud,dengan "keserasian, keselarasan, dan keseimbangan* adalah bahwa
penataan ruang diselenggarakan dengan mewujudkan keserasian antara s t r u k t u r
ruang. d a n p o l a " r u a n g , keselarasan antara kehidupan manusia dengan
"^ikigkurigannyaY-keseimbangan pertumbuhan dan perkembangan antardaerah serta
antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan.
3) keberlahjutan;

Yang dimaksud dengan "keberlanjutan* adalah bahwa penataan ruang


diselenggarakan dengan menjamin kelestarian dan kelangsungan daya d u k u n g dan
daya tampung lingkungan dengan memperhatikan kepentingan generasi mendatang.

4) keberdayagunaan dan keberhasilgunaan;

Yang dimaksud dengan "keberdayagunaan d a n keberhasilgunaan* adalah bahwa


penataan ruang diselenggarakan dengan mengoptimalkan manfaat ruang dan sumber
daya yang terkandung d i dalamnya serta menjamin terwujudnya tata ruang yang
berkualitas.

I Paraf HiersrtifS r^*^^U,A?ACAX4>0(-iy3l

j Sekda
Y SKPD/ Eagian Porr.iakaisa

SKPD/ aagijn Terkait:


1 Asisten 111-15
1 Katiag
] Hutu m
Yang dimaksud dengan "keterbukaan* adalah bahwa penataan ruang
diselenggarakan dengan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat
u n t u k mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penataan ruang.

6) kebersamaan dan kemitraan;

Yang dimaksud dengan "kebersamaan dan kemitraan" adalah bahwa penataan ruang
diselenggarakan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

7) pelindungan kepentingan u m u m ;

Yang dimaksud dengan "pelindungan kepentingan u m u m " adalah bahwa penataan


ruang diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat.

8) kepastian h u k u m dan keadilan; 0 ,

Yang dimaksud dengan "kepastian h u k u m dan keadilan" adalah bahwa penataan


ruang diselenggarakan dengan berlandaskan h u k u m / k e t e n t u a n x i peraturan
perundang-undangan d a n bahwa penataan ruang.:v dilaksanakan);; dengan
mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat serta meb'ndungi hak dan kewajiban
semua pihak secara adil dengan j a m i n a n kepastian j i u k u m : ! - . 0 0 ''''
7 y. \-A
9) akuntabilitas. 0 %
:i;A\ "4,. 7:
Yang dimaksud dengan "afmntabiHtas") adalah' bahwa penyele^ penataan
ruang dapat dipertanggungjawabkan, baik proseshya, pembiayaannya, maupun
hasilnya. ...^ Mx ^"M,
4J>'-, '1
Tujuan penataan BWP berfungsi untuk:>MMx.^ r 4?
a. Sebagai acuan u n t u k penyusunan rencana pola ruang, penyusunan rencana jaringan
prasarana, penetapan Sub/BWP'yang •diprioritaskan penanganannya, penyusunan
ketentuan pemanfaatan ruangV|)enyusuhan peraturan zonasi; dan
b. Menjaga konsisterisi dan keserasian pengembangan kawasan perkotaan dengan
RTRW. M " ^ MB "^^
Adapun perumusan tujuan penataan BWP didasarkan pada;
A-.~-'.~: •, » "V-
7'J:A-
a. Arahan pencapaian^sebagmmana ditetapkan dalam RTRW;
b. Isuv)strategiSsBWP, yahg antara Iain dapat berupa potensi, masalah, dan urgensi
' penanganan; dan • K
0 0 0 0
c. Karakteristik BWP.
"'<y\ pA
Tujuan penataaii BWP dirumuskan dengan mempertimbangkan:
,£V'

a. Keseimbangan dan keserasian antar bagian dari wilayah kabupaten/kota;

b. Fungsi dan peran BWP;

c. Potensi investasi;

d. Kondisi sosial dan lingkungan BWP;

e. Peran masyarakat dalam pembangunan; dan

f. Prinsip-prinsip yang merupakan penjabaran dari tujuan tersebut.


Paraf H'erark'i '
i^ftfB^sganHiwil^yihj > ^ t b h | 'aten Pacitan dan keterkaitannya dengan rencana tata
Sekda
SKPD/ Sagidi'i TerKait:
1 Asisten 1 i Ill -16
I Kafcag 2
3.
ruang provinsi dan kabupaten. Visi pengembangan wilayah Kabupaten Pacitan yaitu
"Terwujudnya Pacitan Aman, Damai, Adil Sejahtera dan Berakhlak Mnlla".

Ditinjau dari RTRW Provinsi Jawa Timur, v i s i penataan ruang Provinsi Jawa Timur
(Pasal 4 RTRW Provinsi Jawa Timur) adalah "terwujudnya ruang wilayah Provinsi
berbasis agribisnis dan j a s a komersial yang berdaya salng global dalam pembangunan
berkelanjutan".

Berdasar Pasal 19 ayat (3) h u r u f c RTRW Provinsi Jawa Timur, Pacitan termasuk dalam
WP Madiun. "WP Madiun dan sekitamya dengan pusat d i Kota Madiun meliputi: Kota
Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan, Kabupaten
Pacitan, d a n Kabupaten Ngawi dengan fungsi: pertanian tanaman pangan,
perkebunan, hortikultura, kebutanan, petemakan, pertambangan, pariwisata,
pendidikan, kesehatan, dan industri;" ^ XX,
0$jpK XK
Dalam konteks pariwisata, Pasal 8 1 ayat 11 h u r u f c RTRW Provinsi M a w a Timur
menyebutkan bahwa "Penetapan pnsat pelayanan koridor.^wisata meliputi: Jalur
pengembangan koridor C dengan pusat pelayanan d l Kabupaten Pacitan dan Kota
Malang;" , Y % MM'k
4 0 ' 0 ' 0 4 ' " ' 4
Adapun ditinjau dari fungsi perkotaan Pacitan ^berdasar RTRW' Kabupaten Pacitan
"Kawasan Perkotaan Pacitan sebagai Pusat Kegiatan Wilayab (PKW U/C/2) berfungsi
sebagai pusat pelayanan wilayab sekitar .Kabupaten. Pacitan;, pnsat pemerintahan,
perdagangan, dan j a s a wilayab kabupaten; : pnsat pelayanan sosial dan pertumbuhan
wilayab kabupaten; pnsat komunikasi antar kecamatan; pusat pengembangan
wilayab belakang seluruh wUayab\;Kabupaten .^ Pacitan (12 kecamatan); pusat
permukiman perkotaan; pusat j a s a informasi dan akomodasi pariwisata kabupaten."
Berdasarkan i s u strategis "" dan visi pengembangan Kabupaten Pacitan serta
pengembangan perkotaan Pacitan teri^but diatas, maka tujuan dari penataan ruang BWP
Pacitan Tahun 2016-2636: adalah:'"Mewujudkan BWP Pacitan sebagai kota tujuan
berbasis pariwisata dan kelantan yang nyaman, bijau, produktif dan berkelanjutan
dengan didnkung fasilitas triEmsportasi, pemerintahan, perdagangan dan j a s a " .
Jk A-K
% Ay
3,5 Kebijakan dan Strategi Penataan BWP
KebyaiSh ^penataan BWP adalah:
O pengelolaan^ zona lindung dan budidaya secara harmonis dan berkelanjutan;
X'ty'
y "'?XV
O penyediaan sarana dan prasarana/infrastruktur yang memadai guna mendukung
BWP Pacitan sebagai Ibukota Kabupaten dan Pusat Kegiatan Wilayah;
•<cy"
O perumusan pengelolaan pembangunan pada sub BWP yang diprioritaskan;
3 perumusan pengembangan investasi dalam program pembangunan yang terintegrasi
dengan pelibatan berbagai pemangku kepentingan;

3 perumusan peraturan zonasi yang operasional.

Adapun strategi penataan BWP adalah:

3 strategi dalam rangka pengelolaan zona lindung dan budidaya secara harmonis dan

01
SKPD/ Bagian Pemraxarsa
SeXda
SKPD/Bagian Terkait:

4
AsisUn -17
•>
Kdbag
o pengembalian fungsi zona lindung yang mengalami kerusakan melalui kegiatan
reboisasi, konservasi tanah dan air, serta upaya-upaya pemulihan lainnya.

o pengembangan ruang terbuka hijau kota u n t u k menunjang fungsi lindung.

o pengoptimalan pengembangan potensi berbasis pariwisata dan kelautan yang


mampu memberi nilai tambah ekonomi dan sineigitas dengan kawasan
hinterland.

o pengendalian dampak negatif pembangunan terhadap lingkungan.

o peningkatan peran Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat dan swasta


dalam pelaksanaan pembangunan.

strategi dalam rangka penyediaan sarana dan prasarana/infrastruktur yang memadai


guna mendukung BWP Pacitan sebagai Ibukota Kabupaten dan Pusat Kegiatan
Wilayah meliputi: . ' ^ ^. . ^

o peningkatan kemudahan hubungan antar lokasi, Irawasan, dan antar wilayah


melalui pembangunan sarana dan prasarana transportasi darat, udara dan laut
yang terintegrasi dan berwawasan lingkungan):( - .
77 °'VX '-"i'
-ft'- •--.>'<,

o pengembangan sistem pelayanan energi^'melalui'^pengembangan janngan listrik


dan jaringan energi lainnya. 4|®^ - 0
o peningkatan kualitas pelayanan danVpengembahgan sistem telekomunikasi dan
informasi dengan mempertimbangkan kemajuan teknologi d i bidang
telekomunikasi dan infbrmasil8%x. M x ^
% 0 7 • "
o pengembangan sumber^^air bersih,4kapasitas instalasi pengolahan, sistem
distribusi pelayanan dan mewujudfcMi sistem produksi air bersih siap m i n u m .
AJ th 0
. y. , .7 . " .
o pengembangan sistem jarmgan dramaseyang termtegrasi.
y00K 4%
o peningkatan kualitas sistem pembuangan limbah domestik, limbah industri, dan
o pengembangap
limbah lain yahgpengelolaan
berwawasanpersampahan
lingkungan. secara terpadu.
x:Xx \K 7%
yy,;7 K/S
Strategi. dalam ranglra perumusan pengelolaan pembangunan pada Sub BWP yang
diprioritaskan'meliputi.^
M v hkselerasi'pembangunan pada Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya
sesuai^engah'^tema penanganan.
''0 0
strategi ; j dalam rangka perumusan pengembangan investasi dalam program
pembangunan yang terintegrasi dengan pelibatan berbagai pemangku kepentingan
meliputi:
o peningkatan peran dari u n s u r pemerintahan, masyarakat dan swasta dalam
pelaksanaan pembangunan.
o optimalisasi pemanfaatan sumber-sumber pendanaan dalam pembangunan.
strategi dalam rangka perumusan peraturan zonasi yang operasional meliputi:

o perumusan kegjatan d a n penggunaan lahan yang diizinkan, bersyarat terbatas,


r5ftd?E|:5^£it7terieHirdan dilarang pada setiap zona/ sub zona.
-1 : — • — - *7*^4^*****'fsi".

o^" ^'peSgatiiimi'm^ bangunan, tata bangunan, sarana dan prasarana minimal.


IV-1
R
encana pola ruang merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam BWP
Pacitan yang meliputi rencana peruntukan-ruang u n t u k fungsi* lindung dan
rencana peruntukan ruang u n t u k fungsi biidi dayh; yaitu: 'x\
,y\ ''"•4 '4A- 0
Sebagai alokasi ruang u n t u k berbagai)kegiatantsosial Ekonomi masyarakat dan
kegiatan pelestarian lingkungan dalam zona perencanaan yang disusun RDTRnya;
'.•x vx . 0
3 Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukanjioiang;

3 Sebagai dasar penyusunan, indikasi,program jangka menengah 5 (lima) tahunan


u n t u k 20 (dua puluh) tahiiri;
\jY Kf
3 Sebagai dasar pemberian izin pemanfaatan ruang.

_/400: ^

4.1 Konsep Pengembangan BWP


4.1.1 Skenario dan Arahan Pengembangan
Rencana pola ruang BWP,P^citan dirumuskan berdasarkan pada kebijakan dan strategi
penataaii: ruahg,^ daya d u k u n g (prasarana dan utilitas dalam blok) dan daya tampung
lin^cungart hidup zona perkotaan, kebutuhan ruang u n t u k pengembangan kegiatan sosial
ekonomi; dan" * iingkurigan, d a n ketentuan peraturan perundang-undangan terkait,
Rencana detml pola ruang dirumuskan dengan kriteria:
3 Merujuk pada rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Pacitan;

3 Memperhatikan rencana pola ruang bagian wilayah/zona yang berbatasan;

3 Memperhatikan mitigasi bencana pada zona perkotaan;

3 Memperhatikan kepentingan pertahanan dan keamanan dalam zona perkotaan;


3 Menyediakan ruang terbuka hijau minimal 3 0 % (20% RTH publik dan 10% RTH
privat) dari luas BWP;

3 Menyediakan ruang u n t u k kegiatan sektor informal;

MenVtediakan: riiang Jcr|3Uka non hijau u n t u k menampung kegiatan sosial, budaya,


s^Safi^gfibff<3Mi^aW%4t; dan
SKPD/ SagiJii ISiW.
1 : IV-2

3 . „ _
O Dapat diwujudkan dalam jangka waktu perencanaan pada zona bersangkutan.

O Rencana pola ruang dimuat dalam peta yang j u g a berfungsi sebagai zoning map bagi
peraturan zonasi.

Rencana pola ruang berfungsi sebagai:

3 Alokasi ruang u n t u k berbagai kegiatan sosial, ekonomi, serta kegiatan pelestarian


fungsi lingkungan dalam BWP;

3 Dasar penerbitan izin pemanfaatan ruang;

3 Dasar penyusunan RTBL; dan

3 Dasar penjTisunan rencana jaringan prasarana.

BWP Pacitan mempunyai bentuk struktur ruang yang linear dan konsehtris (memusat)
u n t u k pusat kegiatan kota. Pada awalnya pertumbuhan kota i n i berawal d i sekitar pasar
BWP Pacitan kemudian menyebar mengikuti perkembangan secara linear ice arah Utara,
Barat, Selatan dan Timur. M M M\ ' '•^'

U n t u k memperoleh struktur tata ruang yang dituju, diperlukan pengelompokan beberapa


kegiatan yang mempunyai karakteristik sama a t a u ' m e m p u n y a i ; ketergahtungan satu
dengan yang lainnya, yang selanjutnya dapat diketahui tingkat hubungan fungsional
antar komponen kegiatan kota yang akan direncaiiakan. Setelah hubungan fungsional
antara komponen kota dapat disusun dan diperbandingkan dengan altematif yang telah
ada, maka kemudian dapat diperoleh altematif pengembangan fisik BWP Pacitan yang
dimaksud. ' 4 0 - '4. fk

Dengan pertimbangan tersebutyyang dipadukan.Mehgan visi, tujuan, kebijakan dan


strategi maka skenario dan^ arahah^pengembangan BWP Pacitan sebagai Ibu Kota
Kabupaten Pacitan dan Pusat Ke^tah)Wilayah secara u m u m adalah sebagai berikut:
.•"Jr.- "MV 0
3 Pengembangan fungsi) primer yang berada d i sekitar alun-alun dengan kegiatan
utama perdagangan dan jasa dan perkantoran.
4 0 0
3 Pengembangan fungsi sekunder kesatu yang berada d i bagian selatan wilayah BWP
dengan kegiatan utama Pelabuhan Perikanan Pantai dan Pelabuhan Niaga.
0 M'"XV,% '0
3 Pengembangan fungsi sekunder kedua yang berada d i :
: o* d i r sepanjang pantai, dengan kegiatan utama pariwisata dan ruang terbuka
'0 hijau/ sempadan
o d i kawasan GOR dan taman budaya, dengan kegiatan utama fasilitas olah raga
terpadu yang dilengkapi sarana dan prasarana pendukung
o d i persimpangan Kel. Sidoharjo, dengan kegiatan utama pendidikan dan militer

o d i persimpangan Kel. Sidoharjo, dengan kegiatan utama perdagangan dan jasa


dan perkantoran

o d i persimpangan JLS dengan kegiatan utama perdagangan dan jasa dan


transportasi

3 Pengembangan fungsi sekunder ketiga d i persimpangan Desa Bangunsari, Kel.


E^icangsewu, Desa Widoro, Desa Mentoro, dan Kel. Ploso, dengan kegiatan utama
Trmtp^^fn^^ia^n^irjasa^^ang ditunjang dengan fasilitas pendidikan, perkantoran dan
SKfaaeajiai p e t i u n j a n ^ ^ m n y a .
— — f -*
SKPD/ Bagian farkjii:
1 : IV-3
2
mKmpzm>PAenMtmmeNPAC!rAN

4.1.2 Sistem Pusat Kegiatan


Sistem pusat kegiatan d i wilayah perencanakan diarahkan sebagai berikut:

3 pusat kegiatan perkantoran, perdagangan dan jasa, sarana pelayanan u m u m


(pendidikan, transportasi/terminal, kesehatan, olah raga, sosial budaya, peribadatan)
yang didukung perumahan berada d i bagian tengah BWP.

3 pusat kegiatan perdagangan dan jasa yang didukung perumahan dan hasil hutan
berada d i bagian t i m u r BWP.

3 pusat kegiatan sarana pelayanan u m u m (transportasi/pelabuhan) yang didukung


perumahan dan hasil hutan berada d i bagian tenggara BWP.

3 pusat kegiatan pariwisata, kelautan (pelabuhan perikanan pantai) yang didukung


perdagangan dan jasa, sarana pelayanan u m u m (transportasi/bandar^ udara) dan
perumahan berada d i bagian selatan BWP. 44'y--y0
J>--. M- 'MjCj..
3 pusat kegiatan perumahan yang didukung hasil h u t a n dan perdagangan dan jasa
berada d i bagian barat BWP. 'y ' / > . ' M
3 pusat kegiatan perumahan, hasil hutan yang didukung perdagangaii dan jasa berada
d i bagian u t a r a BWP. XyP.-
4. • "1
0 Y\
4.2 Pembagian Sub BWP dan Blok X
S t r u k t u r tata ruang merupakan k e r a n ^ a : secara'garis besar bagi perkembangan suatu
kota atau wilayah terutama terkait dengan pemusatan'atau orientasi kegiatan dengan
t i t i k - t i t i k sub pusat disekitarnya yang saling mendukung, sehingga dari s t r u k t u r tata
ruang i n i dapat diketahui pusat-pusat pertumbuhan beserta jangkauan pelayanannya.
Wilayah perencanaan merupakan Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) Pacitan terdiri dari 5
(lima) kelurahan dan/ H (empat belasj-desa dengan luas 4.249,80 h a sehingga u n t u k
mempermudah penetapan s t r u k t u r ruang pada masa mendatang perlu dilakukan
pembagian menjadi v beberapa Sub Bagian Wilayah Perkotaan (Sub BWP) dan blok
peruntukan. ^Mx^I J 4
j>.- '7 '*XX- '"'j't
Pertimbangan yang digunakan dalam pembagian s t r u k t u r wilayah perencanaan adalah:
••yy 'Kh. y 77
1 ) Batas Fisik dan/atau Administrasi
•"vx X)-'*". 'X.l'.
Yahg digunakan sebagai batasan fisik adalah jaringan j a l a n , dan sungai/saluran.
Wilayah perencanaan yang merupakan wilayah perkotaan dengan berbagai kegiatan
dibentuk^oleh jaringan j a l a n sehingga u n t u k memudahkan pembatasan fisik
mayoritas akan menggunakan jaringan jalan. Disamping i t u j u g a mempertimbangkan
batas administrasi mengingat data yang tersedia berdasarkan administrasi.
2) J u m l a h dan Kepadatan Penduduk

Pertimbangan atas pola perkembangan kepadatan penduduk d i wilayah perencanaan


dilakukan u n t u k mempermudah pembagian/penentuan Sub BWP Pacitan;

3) Homogenitas Penggunaan Lahan dan Kegiatan

Homogenitas atau keseragaman dalam penggunaan lahan dan kegiatan pada tiap-tiap
iminynb ppptipyaj^^nT^mpiinyfli tujuan u n t u k mempermudah dalam perencanaan
Paraf h=erarKi
Sekda
Y TKP&wm
-aui-uj-iwi j]i,uiwii.,j„
SKPO/Bagian rajHaU:
0i
Asisten !V-4
1
Ksbag 2.
3.
4) Kccendcrungan perkembangan

Pertimbangan i n i dilakukan u n t u k menjaga kesesuaian dan keruntutan antara arah


kecenderungan perkembangan wilayah dengan rencana tata ruang yang sedang
disusun.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, maka pembagian Sub BWP Pacitan menjadi 6
(enam) Sub BWP dan 13 (tiga belas) Blok, dengan rincian sebagai berikut:

1) Sub BWP A dengan luas 754,79 ha, terdiri dari 3 (tiga) Blok yaitu Blok A l , Blok A2,
dan Blok A3.

Batas wilayah Sub BWP A:

o sebelah utara: J l . Yos Sudarso, J l . Satsuit T u b u n , J l . Kol. Sugiono, J l . Pierre


Tendean, J l . Veteran, J l . Dr. Sutomo, J l . Basuki Rahmat ?- Xx

o sebelah t i m u n Sungai Grindulu ' 0f4'0K


o sebelah selatan: Jalan Lintas Selatan \'" 1\ 00

o sebelah barat: Sungai Sundeng 0 Al

Wilayah Sub BWP A direncanakan menampung kegiatan utama berupa perkantoran,


perdagangan dan jasa, sarana pelayanan,umum (pendidikan, transportasi/terminal,
kesehatan, olah raga, sosial budaya, peribadatan) dan perumahan.

2) Sub BWP B dengan luas 956,96 ha, terdiri dari 2 (dua)'Blok, yaitu Blok B l dan Blok
B2. . "')>^^
4s yj 'X^:^.
Batas wilayah Sub BWP B: .^^7. % ''''0
o sebelah utara: Desa Banjarsari 0'

•7 M X
o sebelah t i m u n Desa Ketepung, Desa Wonogondo, Desa Kayen

o sebelah selatan: Jalan Lintas Selatan

o sebelah barat: Sungai Grindulu


Wilayah Sub BWP B direncanakan menampung kegiatan utama berupa perdagangan
3) Sub
dan BWP
jasa, Cperumahan
dengan luas"389,34
dan hasil ha terdiri dari 1 (satu) Blok.
hutan.
M- Y "'-yJ.
Batas w i i a y ^ Su£

o sebelah utara: Jalan Lintas Selatan

o sebelah t i m u n Desa Sukohaijo

o sebelah selatan: jalan Simoboyo-Plumbungan, j a l a n makadam/tanah Desa


Kembang
o sebelah barat: Sungai Grindulu, Samudera Indonesia

Wilayah Sub BWP C direncanakan menampung kegiatan utama berupa sarana


pelayanan u m u m (transportasi/pelabuhan), pemmahan dan hasil hutan.

4) Sub BWP D dengan luas 503,12 ha, terdiri dari 2 (dua) Blok, yaitu Blok D l dan Blok

Paraf Koo.-'TrLa-;! 'i


Sekda
V
I
SKPO/ Oagian TerKait:
Asisten IV-5
1.,
Kaoag 2.
3.
o sebelah utara: Jalan Lintas Selatan

o sebelah timur: Sungai G r i n d u l u

o sebelah selatan: Samudera Indonesia

o sebelah barat: Jalan Lintas Selatan, Desa Dadapan

Wilayah Sub BWP D direncanakan menampung kegiatan utama berupa pariwisata,


kelautan (pelabuhan perikanan pantai), perdagangan dan jasa, sarana pelayanan
u m u m (transportasi/bandar udara) dan perumahan.

5) Sub BWP E dengan luas 619,36 ha, terdiri dari 2 (dua) Blok, yaitu Blok E l dan E2.

Batas wilayah Sub BWP E:

o sebelah utara: Desa Sedeng, Desa Sumberhaijo, J l . Sam Ratulangi, J l . R.E.


Martadinata

sebelah timur: J l . Satsuit Tubun, J l . Yos Sudarso, Sungai Sundeng X4


sebelah selatan: Jalan Lintas Selatan 77
0
o sebelah barat: Jalan Lintas Selatan, Desa Dadapan
4..
Wilayah Sub BWP E direncanakan menampung kegiatan utama berupa perumahan,
hasil h u t a n dan perdagangan dan jasa. ~

6) Sub BWP F dengan luas 1026,23 ha, terdiri dari 3 (tiga),blok, yaitu Blok F l , F2 dan
'•'ij
Blok F3.
00.
Batas wilayah Sub BWP F:
0 04
o sebelah utara: Desa Sambohgi J l . 'A-R)" Hakim, Sungai Semanten
•%. M %
o sebelah timur: Sungai Grindulu 'J.
o sebelah selatan: Desa Banguhsari, J l . Sam Ratulangi, J l . R.E. Martadinata, J l .
Kol. Sugiono, Pierre Tendean.'^jl. Veteran. J l . Dr. Sutomo, J ! . Basuki Rahmat

o sebelah barat:: Desa Sedeng


'v--"^)x. X\ Jii-
Wilayah SUID BWP,F direncmiakan menampung kegiatan utama berupa perumahan,
-••1%. • 'X'l: '•' x
hasil h u t a n dan perdagangan dan jasa.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta Pembagian Sub BWP dan Peta Pembagian
Blok.

Paraf Kaofdinasi
Sekda

Asisten
Y SKPD/ Bagian Pemrakarsa

SKPD) Bag'ran Teraaii:


y\
IV-6
Kaiiag 3
3 ^ . . ^
Sumber: HasU Reruxuia, 2016

IV-8
mzm pzm tmm mmea pmm

4.3 Penetapan Kode Zona dan Sub Zona


Pembagian zona dan sub zona dilakukan dengan merujuk pada tujuan, arahan, dan
skenario pengembangan, serta pembagian Sub BWP/Blok. Dengan pertimbangan hal-hal
tersebut, maka dalam rencana pola ruang, zona dan sub zona pada BWP Pacitan adalah
sebagai berikut:

Tabel 4. 1 Kode Zona/Sub Zona


no Zona/Sub Zona VA J A
1
1 Hut3n Lindunf^ urKode
o D — f Ii n A l 1A il A O FA n o t
Till
3 RuajT^ Terbuka Hijau Kota RTH
4 Peru niH han R
• Perunialian Kepadatan TinEffi R-2
• Perumalian Kepadatan Sedans R-3
* Peruinahan Kepadatan Rendah R-4
5 Perdagangan dan J a s a K
. PprHapancan Han .Taaa b^nPilf Tiincfcal K - l Vi .;.--
. 1P^fHairan^an
'ii 1 i| l ^ i y . ^ n 1 I f . ^ 1Han
i - I O X i.Ta^a
\J C I O C*Iv^nfiilr
1. «Vn^r^t
L UIL|^,^CU K-3 X
6 Perkantoran
— 1 \JCkfF.dHf£,OJ i 1 I r . i I %J d o c i LABIAL y,i ^ L >• KT
* Perkantorsin Pemerintah f'-.-t KT-1
• Perkantoran Swasta , KT-2
-7 Industri X - 1 v...„
• Aneka Industri yY'?^ 1-4 ' X X
8 Sarana Pelayanan Umum 'Y 't^ SPU v.
• Pendidikan '-^ SPU-1
. Transportasi SPU-2
• Kesehatan X>.. Xv SPU-3
* Olahraga ^Xx'* X X SPU-4
• Sosial Budaya "->. x-:-; - SPU-5
• Peribadatan -X. \A SPU-6
9 Lainnya ',- ^^^^ ' ^ x PL
• Pertanian •- ' " X. P U
• Pariwisata ' p, AA PL-3
. Hutan Rakyat . .-r-,^^, ' PL-4
* Hutan Produksi" ' - - % v ' • ^ • ••r Pt^5
10 Khusus - v., KH
• Pertahanan Keamanan ' KH-1
• Pelabuhan Perikanaii Pantai KH-4
Sumben Hasil Rencana, 2016,

Adapun sebaran sub zoria.dan liiasannya setiap Sub BWP dan setiap Blok dapat dilihat
pada Tabel Rencana Pola Ruang.

4.4 Rencana Sebaran Penduduk


Analisis pola*^sebaran penduduk dapat dipakai sebagai indikator dasar bagi analisis
penentuan lokasi fasilitas pelayanan penduduk sesuai dengan kriteria radius pelayanan
suatu fasilitas, dalam a r t i tidak terlalu j a u h dari pusat perumahan dan mudah dijangkau.

Dengan menggunakan model h'raer, j u m l a h penduduk wilayah perencanaan pada t a h u n


akhir tahun perencanaan diperkirakan mencapai 79.212 j i w a dengan kepadatan 19
jiwa/Ha.

Ditinjau dari distribusi penduduk wilayah BWP Pacitan nampak bahwa distribusi
penduduk belum merata. Pengelompokan penduduk tampak terjadi d i pusat kota. Hal i n i
teijadi karena hampir semua fasilitas pelayanan kebutuhan penduduk berada d i zona i n i .
Paraf Horarki , Parat Koordincisl i

Sekda
y SKPD/ Bagtan Pemrakarsa

Asisten
SKPD/ dagijft TerkaiU
1 IV-9
Kabag 3
U n t u k rencana pengembangan kota pada masa mendatang, permasalahan dalam
pendistribusian penduduk akan berpengaruh terhadap pola pelayanan yang cukup
merata ke seluruh wilayah kota yang akan dikembangkan. Bila pcrtambahan j u m l a h
penduduk BWP Pacitan sesuai dengan asumsi dan pertimbangan yang diambil, maka
pemenuhan kebutuhan pelayanan penduduk kota pada masa mendatang dapat dilakukan
secara bertahap dengan pendekatan j u m l a h pcrtambahan penduduk sesuai dengan
standar yang disarankan. Perkiraan j u m l a h penduduk dan kepadatan penduduk BWP
Pacitan pada t a h u n akhir tahun perencanaan adalah sebagai berikut:

Tabel 4. 2 Rencana Distribusi dan Kepadatan Pendttdnk


JoniUli Pendadok (liwal Keiladatan Pendndok (jlwa/ha)
Tnluip Taha Taha Taha Taha
2016 Talukp Tahap 2016 pke- p fce- pke- pke-
kfl-I k»-n ke-m ke-IV I n IV
m
Baleharjo 2887 3164 3442 3720 3997 30 33 •-'-36 39 42
Tanjungsari 4224 4631 5037 5443 5850 36 : 39 43 46 50
NangRungan 2225 2439 2653 2867 3081 13 14' 15 16 18
Widoro 1833 2010 2186 2362 2539 13 14 •Xsl5 •V 17 18
PaciUi) 3318 3637 3956 4275 4594 23 25 27 . 29 32
Pucangsewu 3188 3495 3802 4108 4415 • 20 22 ' . 24 - ^ 2 6 ' 28
Bangunsari 4526 4961 5397 5832 6268 U • 12 13 14- 15
Sumbcfhario 1458 1598 1739 1879 2019 7 - 8 9 9 10
Ariowinangun 3398 3725 4052 4379 .4706 39 > 43 '47 •' 50 54
Menadi 1971 2161 2350 2540 -:2729 36 40' - 4 3 47 50
Simoboyo 4406 4830 5253 5677 •v>^6101 25 • 28 30 33 35
Men two 2695 2954 3213 3473 • 3732 13 14 16 17 18
Purworejo 1737 1905 2072 2239 •->-2406 6 7 7 8
Ploso 6845 7503 8161 • 8820^ - 9478 19 21 22 24 26
Sidoharjo 7565 8292 9020 h 9747 10475 9 . 10 11 12 13
Kembang 2478 2716 2954 ^•3193 3431: 5 ' 6 6 7 7
Sambong 1197 1313 1428 >1543 1658 ,^ 11 12 13 14 15
Pmtgsok 311 341 -370 400 430 X 18 20 22 24 25
Semanten 941 1031 1122 1212 1303 7 8 9 9 10
JUMLAH 57.202 62.705 68.207 73 710 '79.212 14 15 16 18 19
Sumber: Hasil Rencana, 2016 - .^.j,.^ ? * • : — *^YJY

4.5 Rencana Zona Lindung %


Zona lindung adalah • wilayah y a n g : ditetapkan dengan fungsi utama melindungi
kelestarian lingkungan hiduR yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya
buatan. Rencana zona lindung d i BWP Pacitan meliputi zona hutan lindung, zona
perlindungan Wtempat; zona RTH kota dan zona rawan bencana.

4.5.1 Zona Hutan Lindung


2k)na hutari lindung ditetapkan dengan kriteria kawasan h u t a n dengan faktor kemiringan
lereng,jenis tanah, dan intensitas hujan yang j u m l a h hasil perkalian bobotnya sama
dengan 175 (seratus t u j u h p u l u h lima) atau lebih; kawasan h u t a n yang mempunyai
ketinggian paling sedikit 2.000 (dua ribu) meter d i atas permukaan laut; dan kawasan
yang dapat diusahakan sebagai h u t a n oleh orang pada tanah yang dibebani hak milik.

Berdasarkan kriteria diatas dan dengan mempertimbangkan status kepemilikan lahan,


zona h u t a n l i n d u n g ditetapkan pada hutan lindung milik Perhutani dengan luas 101,54
ha yang berada d i :

O Sub BWP E dengan luas 70,49 ha, yaitu pada Blok E l ; dan

O Sub BWP F dengan luas 31,05 ha, yaitu pada Blok F2

1 pVaf HifirarVi Paraf KoQiriTS-^.i


SKPD/ Bagian PemraKjrsa
] Sekda
r X)
OSflf .III
asBSTrerkaii:
SKPD/ Bagian
! Asistan IV-10

ft
\ Kdbag
X 7^
o>
7> to
'3. a.
&i a.
E'
Peta 4. 3 Rencana Distribusi dan Kepadatan Penduduk
a;

fta/muK iwciufk u v u t c h rujim


•nwM r iiMM •>!•
maum

PETA U
l PAOATAN POKMAXM

t i l

Sumben HasU Rencana, 2016

IV-11
)Fgf > CO
. I f cr Uj'
fD
d a> a. a. .
(3"
F. X
3 fa"
u

Tabel 4. 3 Distribusi Rencana Pola Ruang


Si SUB BWP/BLOK
B lABO BUB BUB
BUB
c/ SUB SUB F3 BUB BWP TOTAL
1 M D
Al A3 A3
BWP A Bl B3
BWPB BWPC
Dl D3
BWPD B3
BWPE Fl P3
P
(j HL 0.00 0,00 0,00 70,49 70,49 31,05 31,05 101,54
CM
(i "D
( . a- PS 15.80 1,45 21,84 39,09 27,09 60,90 87,99 33,81 2989 57,90 87,49 24,59 ':24,59 7.10 6382 7082 34389
J JX.
5*1 i \
tTH 7,49 4,11 0,51 12.11 6,46 3,88 10,33 0,83 0,38 5.53 5,91 1,65 '•'-.2,75 • J . - 4 , 4 0 ' 1,79 10,02 1181 45,39
I
: 'k 11-3 110,63 88,26 97,09 295,97 49,63 176,38 225,01 24,24 3184 13,55 44,88 '•.J389 69,06: 82,75 VY 62.16 47,19 88.19 197,54 871,39
I
>
!L3 66,71 23,86 90,58 14,95 63,60 78,55 96,63 58,96 86.61 145,57i 7,84 •^•••15.53 X'23,37 8,66 6,92 83,67 99,24 533,95
i
0,00 9,95 9,95 3,90 13,59 /\;i3,59 3,09 ^'"-"^ 3,09 3,34 3,34 33,87
\ F-
t i
77,99 34,71 53,26 165,95 24,03 76,12 100,15 21,20 3189 e.ed'i 4082 V,,, L74
V',;
V*,J280
14,54 7,14 17,67 40.70 65,51 407,86
r '7 _
K-3 0,61 1,2/ 0,20 2.07 7,39 7,39 1,30 1,69 2.55 '0 2,25 2,25 0,54 5.53 6,07 31,63

KT-1 12,61 6,81 0,73 20,14 0,55 0,71 1.27 0,25 0,25., 1.73, 1 0,47 2,19 0,10 0,23 0,32 34,18

KT-3 0,85 0.85 0,29 0,29 2.19 2,19 Vu 0.00 287 2,37 5.70

1-4 1,44 1.44 0.20 0,10 0,31 14,73 j.28.. 1.9Tj^ "1.75 1,75 1,72 1.72 31,91

8PD-1 5,35 8,73 7,36 21,44 1,71 2,87 4.S7 0,17 "d,38' ^-.1^- 0,38 0,36 086 0,69 0.13 6,03 6,86 33,79

BPD-3 1,88 0,16 2,05 0,15 0,15 (•?.j42,63'-. ,''-"',"1 "• 0,00 0,00 0,00 44,83

BrD-3 4,57 4,57 0,08 1,05 1,13 ""<x 'Vi Y, 0,00 0,10 0,10 6.95 0,13 7.08 13,87

BPU-4 24,09 24,09 fl 0,00 0,00 0,00 34,09


SPU-8 0,67 0.15 0.82 0,00 \,
-. «.
0,00 0,00 0,00 0,83

8PU-6 . 1,49 0,68 0.18 2,35 V\o,oo; j • 0,11 0,11 0,41 0,41 , 0,09 0,09 0,18 3,05
1;;' X
PL-1 0,00 13,23. 13,23. 15,73 0,00 0,67 0,67 8,49 8,49 38,11

PL-3 0,00 0,00 v . 5,16 38,10 5,63 43,73 0,00 0,00 48,90

PL-4 0,00 '375,28 J- '• •\ V 375,28 81,88 39,09 39,09 262,65 51,91 314,56 254,74 212,08 12,88 479,70 1290,51

PL-8 0,00 •,\. 0.73 "0,73 2181 0,00 57,44 57.44 0,00 T9,98

KH-1 0,59 18.08 ' 18,67 0,00 0,54 24,75 24,75 0,00 0,00 43,96

KH-4 0,00- 0,00 9,84 9,84 0,00 0,00 9.S4

JjUJUl 15,03 7,82 8,20 31.05 "'';4,53 14,87 19,39 4,40 9,54 4,14 13,68 5,24 7,11 1285 5,57 5,48 10,27 2182 103.18

LAIUHTA 6,36 6,34 8,87 21.57 4,35; 15,89 20.23 2089 11.23 1588 26,61 3,12 0,92 4,04 081 2,42 10,60 1383 106,17

TOTAL 261,90 370.79 333.09 754,79 533,06 433,91 956,96 389.34 303,51 199,61 503,13 455,67 163,69 619,36 343,34 343,85 340,04 1026,33 4249,80

Sumber. Hasil Rencana, 2016

IV-12
IV-13
'r*MMi'i
f. j" "

I liinl! jjil!
-ry\ ' 1*
II
1 -j-jy-T.
|ii,(
Jii
ILlli! Il ,lLiil!!ll' lit I
ii
1 nijiniU^HniiiiP

Paraf HlcnrH
SKPDf Bagidf^ Pemrakjfi^ \^0^

SKPD) aagian Teikaiu


As\s'.8fi 1 —^
Kasag
^_
1 .._
,3
Peta 4. 8
- I Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-IV

Sumber. HasU Rencana, 2016

IV-17
IV-19
IV-21
Sumber HasU Rencana, 20 J 6

IV-22
Sumber HasU Rericana, 2016

IV-23
Sumber HasU Rencana, 2016
•• • •

,1 > cr>
to
: if 'ii. or ta
IK C3 CX a>
vi X
ilT %: Peta 4. 16 Rencana Pola Ruang 1:5.000 Potongan Ke-XII

WUTVIMH fUflUH KACUWTOI nkCmM


KNKO T lAHlH mt
X ' • a m i n m aiMH* E w m H t M * * W M > •WMcnu

Sumber HasU Renama, 2016

IV-25
I CS

8^

o
&
o
o
o

&
o
a<
a to
o
a
a>
K
a;

rra/?f J!w;-rartt >


SKPO/S;i>Y Pen*.;

SKPD/i?ri-3iS3 iS'M/!.;

3
IV-28
Sumber HasU Rencana, 2016

IV-29
4.5.2 Zona Perlindungan Setempat
Zona lindung yang ada d i wilayah BWP Pacitan salah satunya yaitu zona perlindungan
setempat dengan luas 343,29 ha berupa sempadan pantai, sungai, mata air. Sempadan
penting u n t u k melindungi kelestrian pantai sepanjang pantai dan pengamanan terhadap
pengguna pantai dari ancaman bencana tsunami dan bencana alam lainnya. Sempadan
sungai merupakan zona sepanjang kanan-kiri sungai yang mempunyai manfaat penting
u n t u k mempcrtahankan kelestarian lingkungan hidup. Sempadan mata air yaitu zona
sekitar mata air yang mempunyai manfaat penting u n t u k mempertahankan kelestarian
lingkungan hidup, dan sempadan mata air yaitu zona sekitar mata air yang mempunyai
manfaat melindungi ekosistem tersebut, U n t u k j e l a s n y a a k a n diuraikan sebagai berikut:

A. Sempadan pantai Vu

Wilayah BWP Pacitan berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia d i sebelah


selatan. Garis sempadan pantai ditetapkan dengan kriteria daratan sepanjang tepian
yang lebamya proporsional dengan bentuk dan kondisi fi3ik.pantai, minimai'100 m
(seratus meter) dari titik pasang tertinggi ke arah darat. % 0 .

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka sempadan pantai d i BWP Pacitan berada d i


Sub BWP D, yaitu pada Blok D l dan Blok D 2 M '%

B. Sempadan sungai .1

0
Sempadan sungai berada d i seluruh Sub BWP. Ketentuan sempadan sungai d i BWP
Pacitan adalah:
X: 0 X-

Garis sempadan sungai bertanggul ditentukan paling sedikit beijarak 3 m (tiga


meter) dari tepi luar k a k i tanggul sepanjang alur sungai.
0 '4i
Garis sempadan sungai tidak bertanggul ditentukan:
• paling sedikit berjarak 10)m (sepuluh meter) dari tepi k i r i dan kanan palung
sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai kurang dari atau
sama dengan 3 i n (tiga meter);

• paling sedikit beijarak 15 m (Uma belas meter) dari tepi k i r i dan kanan palung
' M j sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai lebih dari 3 m
7 A0 (tiga rneter) sampai dengan 20 m (dua puluh meter); dan
•:
\;V. • ^V paling sedikit beijarak 30 m (tiga p u l u h meter) dari tepi k i r i dan kanan palung
' X^C sungai sepanjang alur sungai, dalam hal kedalaman sungai lebih dari 20 m
M(tiua p u l u h meter).

Bcrdasarlran ketentuan tersebut, maka sempadan sungai d i BWP Pacitan berada d i


seluruh Sub BWP.

C, Sempadan mata air

Sempadan mata air ditentukan mengelilingi mata air paling sedikit beijarak 200 m
(dua ratus meter) dari pusat mata air.

Mata air yang ada adalah mata air Jaten dan Slare yang berada d i Sub BWP E, yaitu
pada Blok E l . dengan demikian, pada radius 200 m dari mata air tersebut ditetapkan
sebagai sempadan rnata air.
'X.-af Hiorgrlii

• '1
Y SKf-O/GagianTotjcj'.t:
1 1 IV-32
2.
1 3.
4.5.3 Zona Ruang Terbuka Hijau Kota
Ruang terbuka hijau (RTH) adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat t u m b u h tanaman, baik yang t u m b u h
tanaman secara alamiah m a u p u n yang sengaja ditanam. Ruang terbuka hijau d l BWP
Pacitan mempunyai beberapa fungsi dan manfaat. yaitu antara lain:

O Fungsi biologis yaitu memberikan udara yang segar dan cahaya yang cukup bagi
bangunan d i sekelilingnya.

O Fungsi ekologis yaitu memberikan proteksi ekologis u n t u k mencegah polusi udara,


suara, bau dan terutama sebagai daerah resapan air.

O Fungsi estetika y a i t u dengan membentuk perspektif dan efek visual yang indah bagi
lingkungan perkotaan yang cenderung semakin padat. ., " X ,

O Fungsi fisik y a i t u sebagai pembatas yang memisahkan antar,; dua* kegiatan yang
berbeda aktivitasnya, seperti antara lingkungan perumahan dengan m d u s t n dan Iain-
lain. XA
,f,y •. •••-"••>
O Fungsi konservasi yaitu sebagai penjaga dan pelindung zona-zona tertentu dari segala
kegiatan budidaya pada zona terbangun. Zona tertentu tersebut adalah sungai dan
Xy\
mata air. ,.-^y.. y.., XK K&

Sistem Tata Hijau merupakan pengembangan'dari kualitas estetika lingkungan yang ada
saat i n i , berupa pengaturan komponen d i sepanjang jalan;- zona perumahan, sepanjang
sungai d a n pantai, disekitar
bangunan u m u m d a n d i zona ruang terbuka
•• '• * -;-',v-i. YA':s.. i .„•
(lapangan/taman). Perlu diperhatikan pula penataanCruang terbuka hijau sebagai buffer
zona industri. jy^kx %
0. 4 W
Fasilitas ruang terbuka yang berupa taman rdan j a l u r hijau pada lokasi eksisting akan
tetap dipertahankan dengan pengembangan sariana dan prasarana pendukungnya. Selain
i t u , direncanakan pengembangan t a m ^ d i wilayah kelurahan/desa yang lain. H a l
tersebut direncanmcan agar terdapat keseimbangan antara lahan yang terbangun dan
yang tidak terbangun serta menambah daerah resapan d i BWP Pacitan.
vjK M, 0,
Tujuan penataan; R T H ^Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan
perkotaan 00 Xx " % > M
• .,^fC%x, 0 0 0
O vMewujudkah-.keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan d i
pefkotaantdan ^ 'IV
' 7%.
7 " Y'<Ai
\

O Meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih dan nyaman.

Fungsi RTH

O Pengamanan keberadaan zona lindung perkotaan

O Pengendalian pencemaran dan kerusakan tanah, air, dan udara

O Tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati

O Pengendalian tata air; dan

O Sarana estetika kota.

i'li'Hicfarki /Manfaat RTH


' ^ k f t ^ ^ ^ j ^ ^ ^ i i ^ ^ P ^ ^ ^ ^ j ^ " ^ ^ identitas daerah;

IV-33
mum PzmpmANmumeN PACITAN

O Sarana penelitlan, pendidikan dan penyuluhan;

O Sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial;

O Meningkatkan ekonomi lahan perkotaan;

O Menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestisc daerah;

O Sarana aktivitas sosial bagi anak-anak remaja, dewasa dan manula;

O Sarana evakuasi u n t u k keadaan darurat;

O Memperbaiki i k l i m mikro; dan

O Meningkatkan cadangan oksigen d i perkotaan.

RTH d i BWP Pacitan berupa RTH Publik dengan target luas 849,96 ha (20% dari luas BWP
Pacitan) berada d i seluruh Sub BWP. ^ ... • •V?

RTH publik adalah RTH yang penyediaan d a n pemeliharaannya menjatii ; tanggung


jawab pemerintah. Beberapa arahan pengembangan d i seluruh BWP Pacitan yang
perlu dilakukan penyesuaian didalamnya adalah> berupa "pembangunan baru,
pemeliharaan, dan pengamanan RTH. rVxM 4J'''4x '
,0 0 VV
RTH Publik ditargetkan memiliki luas 849,96 ha (20% dari luas BWP Pacitan) meliputi
RTH taman dan h u t a n kota, RTH j a l u r hijau'jaIari,Jan RTH ,fungsi tertentu berada d i
seiuruh Sub BWP. Selain i t u pada pengembangan)perumahan baru perlu adanya
taman yang mampu memenuhi kebutuhan ruang Vterbuka bagi masyarakat.
Pengembangan RTH Publik d i BWP Pacitahj'uga dilakukan dengan memanfaatkan
tanah aset Pemerintah Kabupaten Pacitan yang merupakan lahan belum terbangun
(ruang terbuka hijau). ^ - x^
• R T H taman dan hutan kota h;
• > " - -r.

RTH taman dan~hutan kota berupa taman imgkungan (taman RT, taman RW,
taman kelurahan/desa); taman kota; h u t a n kota; atau berupa lapangan hijau
yang dilerigkapi^dengan fasilitas rekreasi dan olah raga dan berfungsi sosial dan
estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif, edukasi atau kegiatan lain.
1;.. Tamah Lingkungan
Taman, lingkungan adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik
'
sebagai sarana kematan rekreatif, edukasi atau kegiatan lain pada tingkat
\ ^ . lingkungan. Taman lingkungan dikembangkan d i masing-masing Sub BWP
Y dengan memanfaatkan lahan kosong yang ada. U n t u k BWP Pacitan
seharusnya tersebar d i beberapa lokasi, seperti Kelurahan Pacitan,
Kelurahan Baleharjo, desa Tanjungsari, Nanggungan, Widoro, Menadi,
Bangunsari Sumberharjo, Aijowinangun, Simoboyo, Kelurahan Ploso dan
Sidoarjo.

2. Taman Kota
Taman kota adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai
sarana kegiatan rekreatif, edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota.
Taman i n i dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau), yang dilengkapi
dengan fasilitas rekreasi dan olah raga, dan kompleks olah raga dengan
minimal RTH 70%. Semua fasilitas tersebut terbuka u n t u k u m u m . Taman-
P=i'3f ftieratSii ,
-Ataman kota perlu dikembangkan berupa taman dengan skala kota, zona dan
Y
• ~ T ~ r —

SKPJ/U>^;«:.-X, ,
- K T K S r - - 9V»^Z7y.K—\
f
, ' j
SKf'Cf JJ;;{: j i ' •-
IV-34

k
1
Kicag 2
LhkMia. Lft=n:x^u.-
u n i t lingkungan sebagai perwujudannya yang mengarah pada penciptaan
land mark lingkungan. Taman memiliki fungsi dasar u n t u k memperindah
kota, sebagai sarana u n t u k mengatasi polusi udara, suara dan resapan air.

RTH taman dan h u t a n kota pada saat i n i keberadaannya masih sangat


kurang sehingga u n t u k pengembangannya akan dilakukan pembangunan
b a r u dimana u n t u k penempatan lokasi diarahkan pada zona d i sepanjang
pantai sekaligus u n t u k membentuk areal b u m i perkemahan Pancer Dorr.
Taman kota berada d i Sub BWP A, yaitu pada Blok A l dan Sub BWP D, yaitu
pada Blok D2.

3. Hutan Kota
Hutan kota merupakan h u t a n yang mempunyai fungsi pokok menyerap
oksigen atau polutan d i perkotaan, dengan kriteria apabila digunakan u n t u k
budidaya h u t a n alam dan h u t a n tanaman dapat memberi manfaat:

• Meningkatkan fungsi lindung; Y;?C>^ "V.. '''XJl


7r.. 'A''A:X, XX
• Meningkatkan upaya pelestarian kemampuan sumberdaya h u t a n ;

• Menyerap oksigen dari asap mobil'dan sepeda motor; '


J- '"Cr.
• Memperindah wajah kota dan menjamin lingkungan hidup.
jj'''"' y\ '"A.
Hutan kota d i BWP Pacitan 1 seharusnya merata)'' keseluruh Sub BWP
khususnya Sub BWP yang mempunyai karakteristik pegunungan dan d i
sepanjang aliran sungai, herdasarkan. analisa yang ada bahwa h u t a n kota d i
BWP Pacitan ditetapkan di) area; stadion . d a i i pantai Teleng Ria atau lebih
tepatnya berada d i Sub BWP A, y a i t u pada Blok A2 dan Sub BWP D, yaitu
pada B l o k D l . ''0 % W

• RTH Jalur hijau Jadan Yy J


RTH j a l u r hijau jalan berupa RTH pulau dan median jalan dan RTH j a l u r pejalan
k a k i yang disediakan'dengan penempatan tanaman antara 20-30% dari Ruang
Milik Jalan (Rumija)'sesuai dengan kelas dan fungsi jalan.
%; A>v. 0 0
U n t u k j a l u h hijau jalah, RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman
^. . .antara 20-30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan kelas jalan. U n t u k
0' rnenentiikah* pemilihan jenis tanaman, perlu memperhatikan 2 (dua) hal, yaitu
M fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Disarankan agar dipilih jenis
tahaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-burung, serta tingkat
evapotranspirasi rendah. Sedangkan median berupa j a l u r pemisah yang membagi
j a l a n menjadi d u a lajur atau lebih.
RTH j a l u r hijau jalan saat i n i hanya d i terdapat beberapa ruas j a l a n saja.
Sehingga u n t u k pengembangan selanjutnya diperlukan pemeliharaan terbuka
hijau yang telah ada dan j u g a pembangunan baru dibeberapa ruas jalan yang
perlu dikembangkan seperti d i J l . WR. Supratman, J l . Gatot Subroto, J l . Basuki
Rachmad, J l . Tentara Pelajar, Jalan Yos Sudarso, J l . A. Yani, J l . Jendral
Sudirman, J l . Petung dan J l . Maghribi.

• RTH fungsi t e r t e n t u

PttrafR'j-.ir
SKPO/eagian ?io\r,,hjji0:
" I I » III I I II , Lj ^ *

SKFD/ Bagian Teiki^G ' j IV - 3 5


RTH fungsi tertentu berupa sempadan SUTT; sempadan pantai, sungai, dan
sempadan mata air sebagaimana dimaksud dalam zona perlindungan setempat;
dan pemakaman.

1. Sempadan SUTT
Sempadan SUTT merupakan lahan sepanjang sisi k i r i dan kanan SUTT
ISOkV yang merupakan SUTT dari PLTU Pacitan menuju Gardu Induk
Pacitan yang diteruskan ke Wonogiri/Ponorogo. Sempadan SUTT i n i berada
di Sub BWP B, yaitu pada Blok B l dan Sub BWP F, yaitu pada Blok F3.

2. Sempadan pantai, sempadan sungai dan sempadan mata air


Sempadan pantai, sungai dan mata air juga merupakan zona perlindungan
setempat. Penjelasan mengenai hal i n i seperti telah dituangkan dalam sub
bab zona perlindungan setempat. _^XK 4%

• sempadan pantai berada d i Sub BWP D, yaitu pada Blok^Rl'dan Blok


D2; S0 0 00
yx
sempadan sungai berada d i seluruh Sub BWP; x ); >, '4

•I* sempadan mata air berada d i Sub BWP E, y a i t u pada Blok E l ;

3* Pemakaman yXii. "4 "v. M


JP' "-^x.. '-y
Pemakaman tersebar d i selunih Sub BWR. yang merupakan pemakaman
lingkungan (dusun/kelurahan/desa). Pemakaman terbesar adalah Makam
KucurdiSubBWPA. 0X %
Disamping i t u , area yang berada d i sepanjang jalan dapat pula direncanakan sebagai
RTH. Ketentuan ruang perigawasan jalan (Ruwasja) yang seyogyanya berupa RTH
yaitu: 'M fl M
''40 M
o j a l a n arteri primer : 15 (lima belas) meter;
"FX \X.
o j a l a n kolektor' primerilO (sepuluh) meter;
VX ''VX J'^^'

o jalan lokal primer 7, (tujuh) meter,


o jalan Ihigfiingan piiriier-5 (lima) meter;
7X.\. . ^'Jt\
o^Cjalan arteriCisekUrider 15 (lima belas) meter;
oA jalan kolektor sekunder 5 (lima) meter;
'00^4y
o jaian lokal sekunder 3 (tiga) meter,
'Y,P.

o jalah,lingkungan sekunder 2 (dua) meter;


RTH Publik ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya melalui optimalisasi peran serta
masyarakat dan/atau organisasi kemasyarakatan bidang lingkungan, ruang terbuka
hijau dan penataan kota.

Lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta Rencaoa Zona R T H Kota,

4.5.4 Zona Rawan Bencana Alam


Zona rawan bencana alam meliputi:

• J'^wq^Jf!^iitlf,g' beradaMi:

o ^qttij j^ada Blok A l , Blok A2, dan Blok A3.


SKPO/ Bjgian rsrkalt:
1 I 1 IV-36
2
o Sub BWP B, yaitu pada Blok B2.

o Sub BWP C, yaitu pada Blok C.

o Sub BWP D. yaitu pada Blok D1 dan Blok D2.

o Sub BWP E. yaitu pada Blok E l dan Blok E2.

O rawan gempa b u m i berada d i seluruh Sub BWP, yaitu pada seluruh blok

O rawan tanah longsor berada d l :

o Sub BWP B, yaitu pada Blok B 1 .

o Sub BWP C. yaitu pada Blok C.

o Sub BWP D, yaitu pada Blok D l . "<A

o Sub BWP E, yaitu pada Blok E l dan Blok E2.


,.. *" \:i . -•.-7-..

o Sub BWP F, yaitu pada Blok F l , Blok F2 dan Blok F3.

O rawan banjir berada d i : 77

o Sub BWP A, yaitu pada Blok A 1 , Blok A2 dan Blok A3.


4:- 4s
o Sub BWP B, yaitu pada Blok B l dan Blok B2. A,

o Sub BWP C, yaitu pada Blok C. M M . 0


'•':-7' \~j: Y'
o Sub B W P D , yaitu pada B l o k D l dan'Blok D2.
yj__ ^•jx, X 4
o Sub BWP F, yaitu pada Blok FZZl^^ ""Mx. 0
M "J;-"., "''4ljfX
O rawan kebakaran berada di: • % j4z^..
4i 0 XXJ 'i^iF
o Sub BWP A, yaitu pada Blok A l , Blok A2 dan Blok A3,

o Sub BWP B, yaitu pada Blok B2. ^'^

o Sub BWP E, yaitu pada Blok F/2xx


'•v\ ''K'x- 4x
o Sub BWP F, yait£pada Blok F2 dan Blok F3.
40 0, 0.
O rawan gelombang pasang herada d i sub BWP D, yaitu pada Blok D 1 dan Blok D2
•Xjjy y. •Jxkk
Terhadap, pembangunan pada setiap sub zona wajib memperhatikan ketentuan j a l u r
evakuasi bencana dan lokasi evakuasi bencana. Penanganan zona rawan rencana diatur
dalami ketentuan khusus peraturan zonasi.
''•'0 J

Faraf firsrarki / P^rgfK-.^O'V'i'a.-ii


.aJ_

Sekda

! Asisten
Y SKPD/ Segidn Pemrakarsa

SKi>D/ Dagian Verkjit:


1 :
IV-37

: ' -c-ig 2
3.,
Sumber HasU Renama, 2016

IV-38
Sumber HasU Rencana, 2016

IV-39
Sumber. HasU Rencana, 2016

IV-40
4.6 Rencana Zona Budidaya
Zona budidaya meliputi zona perumahan; zona perdagangan dan jasa; zona perkantoran;
zona industri; zona sarana pelayanan u m u m ; zona lainnya; dan zona khusus.

4.6.1 Zona Perumahan


Zona perumahan direncanakan dengan luas 1.439,22 h a meliputi perumahan kepadatan
tinggi, perumahan kepadatan sedang dan perumahan kepadatan rendah.

Perumahan pada BWP Pacitan didominasi oleh perumahan yang tidak terencana (hal i n i
terlihat masih sedikitnya keberadaan perumahan terencana yang dikembangkan oleh
developer). Perumahan d i BWP Pacitan terpusat dan cukup padat berada d i Kelurahan
Pacitan, Baleharjo, Ploso, Desa Tanjungsari, Desa Aijowinangun dan Simoboyo umumnyn.
mengikuti jaringan jalan d a n berkelompok. Perumahan yang telah ;terehcana baru
Perumnas Bangunsari dan Perum Asabri Ploso sedangkan zona lainnya masih tergolong
belum padat. Perkembangan perumahan pada wilayah perencanaan akan terus" t u m b u h
dan meyebar keseluruh kelurahan dan desa perkotaan guna mendukung tingkat
perkembangan perkotaan, dimana dalam pengembangan peruinahan harus didukung
dengan infrastruktur yang memadai, seperti: Mx. '0 'Jx
jfij ^7 10 4
O Sarana dan prasarana transportasi yaitu berupa jaringan j a l a n , minimal jalan
lingkungan atau j a l a n lokal yang menghubungkan ;antar perumahan penduduk,
menghubungkan ke pusat pelayanan dan transportasi seperti angkutan atau jenis
moda lain yang menguasai topografi bergeloriibang misalkan ojek.

O Sarana dan prasarana peirimahan^sesuaiY hirarki dan tingkat pelayanan masing-


masing berupa jaringan listrik, telepoh,;air bersih, drainase, sistem persampahan,
dan Iain-Iain. " ^ 0,

Zona perumahan merupakan zona yang mendominasi perkembangan pola ruang d i


seluruh wilayah BWP jPacitaniCmulai dari tingkat Sub BWP hingga ke blok. Perumahan i n i
dapat berupa: ^ I X% ' •'•7:-
XL
,i'' J

O Perumahan kampung eksisting.

O Perumahan baru (dibmigun oleh real estate maupun secara individual). Perumahan
Yyahg dibangun oleh pehgembang dapat berupa perumahan yang dibangun pada lahan
real estate^ i t u sendiri atau pada zona TTWC-USB.

O Rumah Dina£

Adapun strategi pengembangan zona perumahan d i setiap Sub BWP adalah:

O Mengembangkan zona peruinahan ke arah lahan pertanian yang telah memiliki


embrio dengan munculnya beberapa perumahan baru yang dibangun secara swadaya
oleh masyarakat atau ke lahan pertanian yang kurang produktif. Kondisi i n i banyak
teijadi pada bagian tengah dan utara. Dengan demikian maka pengembangan zona
perumahan bagian tengah d a n utara ditujukan bagi pengembangan fungsi
perumahanan bercirikan perkotaan. Adapun perumahan bercirikan perdesaan
dikembangkan khususnya d i lahan yang berbatasan langsung dengan zona hutan
rakyat atau hutan produksi,
. f
bArOl Sagian PemraKar&a
1<
SK,'DJ Jag^an TerKalU
1 1 IV-41
2
3 „ ^
Tidak mengembangkan zona perumahan ke arah lahan dengan kemiringan melebihi
40 %, hal i n i dimaksudkan u n t u k mempertahankan kondisi fisik alamiah agar tidak
menimbulkan bahaya apabila dilakukan proses cutSsfill.

Mengembangkan zona perumahan sesuai dengan kebutuhan proyeksi penduduk dan


kecenderungan perkembangan pola ruang yang ada,

Mengembangkan zona perumahan pada lahan-lahan yang telah memiliki ijin lokasi
{khususnya u n t u k perumahan oleh developer) u n t u k dimanfaatkan sebagai lahan
perumahan.

Pada pembangunan perumahan real estate, pelaksana pembangunan


perumahan/developer wajib menyediakan prasarana Imgkungan, utilitas u m u m dan
fasilitas sosial dengan proprosi 40 % dari keseluruhan luas lahan perumahan dan
selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Pacitan; . C.

o Intensifikasi pembangunan perumahan perkotaan u n t u k menambah RTH; >

o Pembangunan perumahan yang terpadu dengan pengembangah sarana dan


prasarana kota. /M

Pola pengaturan kavling dapat dirancang dengan pola liriier, grid dan cluster sebagaimana
terlihat dalam gambar berikut
J.

l i i r 0^^f^

CUL-DE-SAC SIMPANGAN LOOP

Gambar 4.'1 B e r b a ^ model Penataan Tapak Kavling Perumalian Tang Dapat Digunakan
JJJx M Sebagai Acuan Penataan Zona Perumahan
jy -•••h 0Y-4F
Pengembangan peruinahan diarahkan d i seluruh BWP Pacitan dengan ketentuan sebagai
berikut:

Setiap orang yang membangun perumahan dan kawasan permukiman wajib dengan
hunian berimbang, kecuali seluruhnya diperuntukkan bagi r u m a h sederhana
dan/atau r u m a h susun u m u m .

Penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman dengan hunian berimbang


dilaksanakan d i perumahan, permukiman, lingkungan h u n i a n dan kawasan
permukiman dengan skala:

o perumahan dengan j u m l a h r u m a h sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) sampai


dengan 1.000 (seribu) r u m a h ;

o [peraiukimmi_dengan jumlah r u m a h sekurang-kurangnya 1.000 (seribu) sampai


SKFO/Bac^^^l^^si^Ap^f^jribu) rumah;

SHf'D/02^-=^ U'l-Ajii:
1 1 IV-42
0 lingkungan h u n i a n dengan j u m l a h r u m a h sekurang-kurangnya 3.000 (tiga ribu)
sampai dengan 10.000 (sepuluh ribu) r u m a h ; dan

o kawasan permukiman dengan j u m l a h r u m a h lebih dari 10.000 (sepuluh ribu)


rumah.

O Perbandingan j u m l a h r u m a h dengan h u n i a n berimbang sekurang-kurangnya 3:2:1


(tiga berbanding dua berbanding satu), yaitu 3 (tiga) atau lebih rumah sederhana
berbanding 2 (dua) r u m a h menengah berbanding 1 (satu) r u m a h mewah.

o Rumah sederhana adalah r u m a h u m u m yang dibangun d i atas tanah dengan


luas kavling antara 60 m^ sampai dengan 200 m^ dengan luas lantai bangunan
paling sedikit 36 m^ dengan haiga j u a l sesuai ketentuan pemerintah.

o Rumah menengah adalah r u m a h komersial dengan harga j u a l lebih besar dari 1


(satu) sampai dengan 4 (empat) kali harga j u a l r u m a h sederhana^ j

o Rumah mewah adalah r u m a h komersial dengan harga j u a l - lebih b e ^ r dari 4


(empat) kali harga j u a l r u m a h sederhana. ^ M M . "M '

Pada lahan dengan kemiringan lebih dari 40%, dilakukan pembatnsah-pengembangan


perumahan. % 0 ^
M x ' 0 1 0

Pengembangan areal perumahan hingga akhin tahuri; perencanaan dapat dikelompokkan


secara berimbang menjadi perumahan kavling kecil (nimah sederhana), sedang (rumah
menengah) dan besar (rumah mewah) dengan proporsi
-'A 3:2:1. Berdasarkan hasil proyeksi.
diperoleh data kebutuhan r u m a h d i ^masing-masing Sub''BWP hingga akhir tahun
perencanaan. Lebih jelasnya mengenai^perhitungan-kebutuhan m i n i m u m perumahan
secara berimbang d i BWP Pacitan dapat diihat pada Tabel Kebutuhan I^ahan Perumahan.
xx
Perumahan d i BWP Pacitan dibagi mcnjadl'3 (tiga) jenis yaitu perumahan kepadatan
tinggi, sedang dan rendah.^ " 0
;XJX'X
4.6.1.1 Perumahan Kepadatan Tinggi
Perumahan kepadatan tinggi dengan luas 871,39 ha berada d i seluruh Sub BWP, yaitu
pada seluruh Bl6k» Rencana penetapan zona perumahan kepadatan tinggi adalah sebagai
berikut: 0x„ M % x ! %

3 ^Perumahan/kepadatanYtinggi diarahkan pada penyediaan h u n i a n yang layak dan


dilayani pleh sarana dan prasarana perumahan yang memadai.

3 Membentuk-Ccluster-cluster perumahan u n t u k menghindari penumpukan d a n


penyatuan antar zona perumahan, dan diantara cluster perumahan disediakan ruang
terbuka liijau;

Perumahan kepadatan tinggi bercirikan perumahan perkotaan.

4.6.1.2 Perumahan Kepadatan Sedang


Perumahan kepadatan sedang dengan luas 533,95 ha berada d i :

3 Sub BWP A dengan luas 82,97 ha, yaitu pada Blok A2 dan Blok A3;

3 Sub BWP B dengan luas 72,12 ha, yaitu pada Blok B l dan Blok B2;

';4~y
1 Paraf HieraA-i , p™StrU33^5n(^;^^ 92,06 ha, yaitu pada Blok C;

Y 5
-•-"*
Sub*BWP D denfefih ifi^s 88,21 ha, yaitu pada Blok D 1 dan Blok D2;
- ^ J W J M - T ^ ^ .

SKPD/ Jagian TalH/iiii


.

4
1 : IV-43
2
3.
O Sub BWP E dengan luas 22,67 ha, yaitu pada Blok E l dan Blok E2; dan

3 Sub BWP F dengan luas 89,74 ha, yaitu pada Blok F l , Blok F2 dan Blok F3.

Rencana penetapan zona perumahan kepadatan sedang adalah sebagai berikut:

3 Perumahan kepadatan sedang diarahkan pada penyediaan hunian yang layak dan
dilayani oleh sarana dan prasarana perumahan yang memadai.

3 Membentuk cluster-cluster perumahan u n t u k menghindari penumpukan d a n


penyatuan antar zona perumahan, dan diantara cluster perumahan disediakan ruang
terbuka hijau;

Perumahan kepadatan sedang tiercirikan perumahan perkotaan.

Beberapa jenis perumahan kepadatan tinggi dan kepadatan sedang (bercirikan perkotaan)
yang direncanakan d i BWP Pacitan antara lain: Yx

3 Pengembangan Perkantoran
v>..-f.
Mengingat BWP Pacitan akan dijadikan Pusat Kegiatan'Wilayah/-(PKW), maka
perkantoran selayaknya mengelompok atau berdekatan dengan r u m a h dinas Bupati
dengan adanya perkantoran tersebut tentunya'akaii d i i k u t i dengan perkembangan
r u m a h dinas bila memungkinkan dan lokasiriya d i sekitar kantor pemerintahan.
3 Pengembangan Perumahan Jf M - 0x

Pada langkah selanjutnya dalam pengembangan perumahan perkotaan terlebih


dahulu harus memperhatikan keserasian lingkungan d i mana dalam membangun
perumahan-perumahan dengan berbagai u k u r a n dan lokasinya menyebar.

4.6.1.3 Perumahan Kepadatan Rendah


Perumahan kepadatan rendah dengan 33,87 ha berada d i :

3 Sub BWP B dengan luas 9,95 ha, yaitu pada Blok B 1 ;


0 0. 0 4
3 Sub BWP C dengan luas 3,90 ha, yaitu pada Blok C;

3 Sub BWP D dengari luas 13,59 ha, yaitu pada Blok D l ;


iX 40J. %, 0
3 Sub BWP E dengan luas 3,09 ha, yaitu pada Blok E l ; dan

3 ; Sub BWP F dengan luas 3,34 ha, yaitu pada Blok F l .


X ; ••'^^x X"",X
Perumahan- kepadatan: rendah bercirikan perumahan perdesaan. H a l i n i memiliki
karakteristik: 0
3 Sifat dan karakteristik lingkungan perumahan masih mencitikan tata dan lingkungan
kehidupan rural.

3 Lingkungan kegiatan usaha didominasi oleh sektor pertanian.

3 Interaksi pergerakan masih rendah dan sangat dipengaruhi oleh interaksi hubungan
ekstemal.

Rencana pemantapan perumahan kepadatan rendah, dengan memperhatikan beberapa


hal yaitu:

3 Menyediakan sarana dan prasarana pendukung berdasarkan fungsi dan hirarkhi


Perumahan kepadatan rendah dapat dikembangkan pada zona yang dapat dialih
fungsikan ke b u k a n pertanian.
Tabel 4. 4 Kebutuhan Lahan Penimahan
Jumlah Kapling Besar Kapllng Sedang Kapling K e c U Jumlah
No Tahun oeMZ/ Kel Penduduk Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas
(Jiwa) fUnit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha)
tc \f**A.9 fUK|
1 DaienaT]0 1 on ft ni OA1 7 OO 1ft 1
oo X ft AlX
0,*f -< , / AA 1 R ftA
Tan 1 u n^s an A OO A 1<o R Rn
o,ow HO 1 r» oo
XX/, ftft ftOR
O^O 7 QO ' i n ftft 071OR
A ,Ao
4^Z4 XOOO
Nan^gV n^an Z8^o 170 A ftA 1 OO
1 Rft 'ft ftft
o,oo OTR f' ^ ftftft
A'1 7 X'ti. ooo 1 A 17
Widoro iooo 7fi
/o 1 RO
o,o^ 1 oo
ftl A ftR 1 AA • >i,
- •• '""'A* T
ftR*
OO 11 RA
D n A , t- A M 1 7R ft Q1 07ft tjOO
a oQ Al ft ft OO
OO l o X oo o,^y H10 -!„ / Ot!^ '^ a Ol A l
raciian fi f u
Pucan^ewu o loo ft ftA Ofifi 7 Q7 / 1QQ '"• \ ft OR '"7Q7 on ftQ
oan^u n a a n IRQ Q Al 177 1/,y/
1 10 X"*='-. ftftfi - X 0,70
R AQ~ '' Vl ^v/,o:/
OQ OI
XOty O X1l,OA ' X lO^
Sumberharjo - 1 aRQ ftl
oX 1 (OA 1 /oof ftft •- . , . \
ISOOOQ
xo^ O 71 Ifift
ooo Q AO
Ar] owi nanqu n ooyts 1 AO
XH^ 7/ ,uo
no OR1
^OO Q RA' AO ft ft 17' oou 01 Oft
Menadi 1 0-7 1 RO
O^ All 1 ftA
XDt YVi V A ' Q I ''X's OAft 'XX1 0,0o on" AOI ^10x,yo
71
ly/I 1 o, / o t y o
Sirnoboyo fl >i fy/. 1RA
xot V, ID 1ft7*
OO 1 1 ni OO X ' R' Oft 11 n 1 OR Aft
'•• - X
Mentoro zoyo 1 1o C C1
5,Dl Z,15 0,74 Oof • C OC 1OX(<J4 X 1 T ,1 o
1IZ 1 / ,4U
Purworejo 1737 70 1 ftO X1 Aft
xto A lA 017 1 Oft A1A
HOf X X1,AA
1 OO
Ploso DO-tO 1A Of; o /U bet: 1 O Q1 1/11 AA O
44,A1 1
l^,BO
Sidoharjo 7555 315 15,76- :^:X 630' -18,91, 946 14,18 1891 48,85
Kembang 2478 103 5.16 '==1-206 4x6,19' 310 4,65 619 16,00
Sambong 1197 50 2,49' . ,^=100 0. 2,99 150 2,25 299 7.73
Ponggok 311 13- -., 0,65 01 26 '^•0,78 39 0.58 78 2.01
Semanten 941 .•.•••39 '^78 2,35 118 1,76 235 6,08
JUHLAH 87202 •52383 119,17 4767 143,01 7150 107,25 14301 369,43

•0 '10
^X'-'^ xj

u 'MM',

IV-46
Jumlah Kapllng Besar Kapllng Sedang Kapllng KecU Jumlah
No Tahun Desa/Kel Penduduk Luas wUmXalh Luas
(Jiwa) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha)
Tahap
2 ke-I Baleharjo 3164 132 6,59 264 7,91 396 5,93 V- 791 20,44
TEUijungsari 4631 193 9,65 386 11,58 579 8,68 '"'1158 29,91
Nanggungan 2439 102 5,08 203 6,10 305 4,57: eio 15,75
Widoro 2010 84 4.19 167 5,02 251 3,77< s"'^^r502' V 12,98
Pacitan 3637 152 7,58 303 9,09 455'4X 6,82 KJ 909* 5 - 2 3 , 4 9
Pucangsewu 3495 146 7,28 291 8,74 ^437 ' ' h 6,55 •-874 22,57
Bangunsari 4961 207 10,34 413 12,40 • 620 -59,30 jx. 1240' 32,04
Sumberharjo 1598 67 3,33 133 4,00 • .r --1 F 3.00 '*4oo 10,32
Ariowinangun 3725 155 7,76 310 9,31' r "200 466' 6,98 931 24,06
Menadi 2161 90 4,50 180 'Vf5,40 \\ 270 '0. 4,05'- 540 13,95
Simobovo 4830 201 10,06 402 Pfl2,07 X604 ^^.06 1207 31.19
Mentoro 2954 123 6,15 246 369. 5,54 739 19,08
Purworejo 1905 79 3,97 JlS9 •4,76 238* ' 3,57 476 12,30
Ploso 7503 313 15,63 625^ V* 18,76 =... . 938 14,07 1876 48,46
Sidoharjo 8292 346 17,28 691- "20,73 "•'•'^'1*037 15,55 2073 53,55
Kembang 2716 113 5,65 "''•lV-226'- Y.=S;'6,79' ' 340 5,09 679 17,54
Sambong 1313 55 2,73 tl09 XX 3,28 164 2.46 328 8,48
Pcn^ok 341 14 0,71 .744 28 V'^0,85 43 0,64 85 2,20
Semanten 1031 43 VX 2,15 '4 - 86 2.58 129 1,93 258 6,66
JUHLAH 62705 2613 130,63 5225 156,76 7838 117,57 15676 404,97

lV-47
Jumlah Kapling Besar Kapling Sedang Kapling K e c U Jumlah
No Tahun Deaa/Kel Penduduk Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas
(Jiwa) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha)
Tahap
3 ke-II J_FCU C1ICU J V 1449 143 7.17 287 S,DO 430 6,45 -X 860 22,23
•! -f
1 A flA 112,o9
0 c n n ^ fi •- - 1 A C A
T f l rtii i r t ere a n iy\JO i ' 1259 32,53
111 e Co 001 fd n t r
N a n crcri 1 r i t r a tt 6,63 332 •Viv 663 17,13
111 5,53 4,97
A 1 fl c c 1 OA c ft e AAO ,t 1 n '
U/iHofo 4,55 5,46 4,10- V 546 'It n A ^ ft

VV iteV/i u y1 182 273 X.-A'f AOA"


X 14,12
ICC • 0 Aft 00 A A OA ft A C "
^ ' 25,55
9,89 495 ^ 989
P I 1 p a t\ ff<i**wi 1 3802 1 I S •7 A A 31/
010 n CA -'ft A C V,M "T- 1''2
950 24,55
ioiS 7,92 y,5u 4/5
1 t Afl CA 1 0 ft A Tn i 0 L 1 Oft A"
Ra 01 m flfifi A
, .,'-1' 0ATtZ
„ -•X- /5 34,85
45U 13,49 10,12 f 1349
1739 0 CA 1 ft e ft O C ' fl 0 c
RiimlYprharin / A 145 '••^ 217 3,26 11,23
3,OJ 4,35 435
1 CO 0 fl fl 000 t A 10 ' CAA • A C A 1Al 0 nc d T
0,44 338
my 5U7 7,60 26,17
XF1U,13
1013
MpnaHi AQ A AA 1 AC c 00
1 5,88
AAft •'••-X ft fl 1''-
4,41- COO
15,18
IVl ^ 1 iCLl_l 1 yo 4,yu lyo 1 - - 294 588
A 1 A 1 A A r1 CA
Ri m 0 riovrt 438 ^--'13,13 -'• A
'59,85 1313 33,93
%yll V V 219 10,94 X 657
hA Art rtfrt A CA
2oo J ^ 8,03 ft A A ^ n n on'4
20,75
0,D9 402 6,02 803
9079 ft O A
P i 1 trtX7rtT"A10 8 0 V 173 5,18 259 3,88 518 13,38
4,32
Plnao Al 1 o4U 1 T AA £ o n - " "X AA A A' . 1 AAA 1 C OA AAft A t n T d
1 /,uu 1U20 15,30 2O40 52,71
1 0 OA ' " Cn
RiHoriaTirt 376 22,55 1127 16,91 2255 58,25
18,79 752
1f"Afn l ^ a rt c 123 ^•15 ••HV246- 0X7,39 • Y 369 5,54 739 19.08
Sambong 1428 59 2.97^ tii9 % 3,57 178 2.68 357 9,22
Ponggok 370 15 0.77 31 150,93 46 0,69 93 2,39
Semanten 1122 Y47' ' ? e \ 2 , 3 4 ''X-Y93 2,80 140 2,10 280 7,25
JUMLAH 68207 2842 142,10 S684. 170,52 8526 127,89 17052 440,51

J:

•'•4 ^i^'i^

If':-. '.-.X.

IV-48
flTiiTnlfiH Kapling Besar Kapling Sedang Kapling KecU Jumlah
No Tahun Desa/Kel Penduduk Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas
TO TO (Jiwa) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha)
^"
Tahap
-O fl •««
Balehario 3720 155 7,75 310 9,30 465 6,97 930 24,02
d 4 fce-ill
c- *^
Tajiiungsari CAAH 227 11,34 454 13,61 680 10,21 ^?1351 35,15
lX 5443
Nanggungan 2857 119 5,97 239 7.17 358 5,38" 717 18,51
TJ
•1 Widoro 2352 98 4,92 197 5,91 295 4,43 15,25
o X
*
o
c- jj Pacitan A O T C
178 8,91 356 10,69 534' •/X 8,02 ''X",.1069 . -' 27,61
is'
i> 4275
Pu cangsewu A 1 no 171 8,56 342 10,27 '514 X * 7,70 ^1027 26,53
X" it, •
Bangunsari 5oo2 243 12,15 486 14,58 j-^'i.y729 JO.94 ./Xa458 37,67
Sumberharjo 1879 78 3,91 157 4,70 1' ^" 235 3,52 "470 12,13
Ar j owi nangu n A rt*70 182 9,12 365 10,95' 547' 8.2 i 1095 28.28
Sdl.-..fK - J I
4379
2540 106 5,29 212 .•'•> 6,35 317 4,76- 635 16,40
Menadi
Simoboyo 5o77 237 11,83 473 V^14,19 "710 10,64 1419 36,67
Mentoro 3473 145 7,23 289 ^7 8,68 434 6,51 858 22,43
Purworejo 2239 93 4,66 "i 187 ''5;60 280' •' 4,20 560 14.46
Ploso 8820 367 18,37 735 22,05" 1102 16,54 2205 56,96
Sidoharjo 9747 406 20,31 812 "24,37 ' 1218 18.28 2437 62.95
Kembang 3193 133 ^,65 '•'^•"^•'266' -*'Y,98 ? 399 5,99 798 20,62
Sambong 1543 64 3.2l- ^129 0. 3,86 193 2,89 386 9,97
Ponggok 400 17. 0,83 v,i,oo 50 0,75 100 2,59
Semanten 1212 xsr ''•€^:.2.53 '"'Vioi 3,03 152 2,27 303 7.83
JUHLAH 73710 > 3071 1S3.56 6142 184,27 9214 138,21 18427 476,04
y't

"'••it'

IV-49
jumian Kapling Besar Kapling Sedang Kapling K e c i l Jumlah
No Tahun Deaa/Kel Penduduk .vTUnUf fLnllccLi fUi .Tddndlafi VT fui dxvuixl acfud g *Til m 1s h Luas
(Jiwa) (Unit) (ha) dJiuniftti
(ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha)
(Unit)
Tahap
8 ke-IV Baleharjo 3997 167 8,33 333 9,99 500 7,49 4- 999 25.82
Tanjungsari 5850 244 12.19 487 14.62 731 10,97 "Vl462 37.78
Nanggungan 3081 128 6,42 257 7.70 385 5,78- 770 19,90
Widoro 2539 106 5,29 212 6,35 317 4,76' •.'••'''-ress' V. 16,40
Pacitan 4594 191 9.57 383 11.49 574 U 8,61 W l l 4 9 : 29,67
Pucangsewu 4415 184 9.20 368 11.04 .^552 8,28 4104 28.51
Bangunsari 6268 261 13,06 522 15.67 783 '41.75 ;-i".xi567' 40.48
Sumberharjo 2019 84 4,21 168 5.05 J ' 252 3.79' "505 13,04
Ariowinangun 4706 196 9,80 392 11,76 588 8^2 1176 30,39
Menadi 2729 114 5,69 227 '•"'^6)82 0 341 0 5,lM 682 17,63
Simoboyo 6101 254 12,71 508 15,25 "4'763 41,44 1525 39,40
Mentoro 3732 155 7,77 311 •V>9,33 466-. 7,00 933 24,10
Purworejo 2406 100 5.01 v'''200 ' 6;01 301' 4,51 601 15,54
Ploso 9478 395 19,75 790 '^".23,70 1185 17,77 2370 61.21
Sidoharjo 10475 436 21,82 873 "26,19 ""'''"1309 19,64 2619 67.65
Kembang 3431 143 7,15 "4X236" \4'i'S,6Q'- F 429 6.43 858 22,16
Sambong 1658 69 3,45" i 138 4 4.15 207 3.11 415 10,71
Ponggok 430 18 0,90 00 36 'Vl,08 54 0,81 108 2.78
Semanten 1303 ''Vii09 3,26 163 2,44 326 8.41
JUMLAH 79212 1 3301 16S,03 6601. 198.03 9902 148,52 19803 Sll.SS
Sumben HasU Rencana, 2016

IV-50
b^--* iTO«

It:
•a
a« i i fj. I s.
r> 1 X
]
Peta 4. 26 Rencana Zona Perumahan

TO ls>
iiitnM

MT> ftCMC AHA Pom RUANO


ZOHAPERUIUUMH

o
^•1 «!',:»-

1 J '

\ Mk4
•.5 j

C—t..

SUmben Hosfl J?encan£t 2016

IV-51
4,6.2 Zona Perdagangan dan Jasa
Zona perdagangan dan jasa dengan luas 429,50 ha meliputi perdagangan dan jasa bentuk
tunggal dan perdagangan dan jasa bentuk deret.

4.6.2.1 Perdagangan dan Jasa bentuk Tunggal


Perdagangan dan jasa bentuk tunggal dengan luas 407,85 ha berada d i seluruh Sub BWP,
yaitu pada seluruh Blok. Perdagangan dan jasa bentuk tunggal diprioritaskan d i jalan
kolektor, lokal dan jalan lingkungan.

4.6.2.2 Perdagangan dan Jasa bentuk Deret


Perdagangan dan jasa bentuk deret dengan luas 21,63 h a berada d i : Vn .

O Sub BWP A dengan luas 1,67 ha, yaitu pada Blok A l dan B l o k A2;

O Sub BWP B dengan luas 6,73 ha, yaitu pada Blok B2; i000::0

O Sub BWP C dengan luas 1,20 ha, yaitu pada Blok C;,^

O Sub BWP D dengan luas 2,33 ha, yaitu pada B l o k ' D l dan Blok D2;M? v

O Sub BWP E dengan luas 2,06 ha, yaitu pada Blok E2; dan x.
. - " • i , . ' ' J - "••4.

O Sub BWP F dengan luas 5,56 ha, yaitu pada Bloic F l dan Blok F3.
Berbeda dengan perdagangan dan jasa bentUk tunggal, perdagangan dan jasa bentuk
deret diprioritaskan di jalan kolektor dan lokal saja. s '••

Gambar.4.,2 Ilustrasi Penataan Zona Pelayanan Jasa dan Perdagangan Skala Kota

Pengelompokan j e n i s sarana jasa perdagangan yang direncanakan d i kawasan rencana


berdasarkan'"fungsinya adalah: toko/warung, pertokoan, pusat pertokoan d a n pasar
lingkungan serta pusat perbelanjaan dan niaga.

Pola perkembangan d a n sebaran perdagangan dan jasa yang ada d i BWP Pacitan
cenderung berpola linier terutama pada sepanjang jalan utama yaitu j a l a n A. Yani dan
Panglima Sudirman. Namun ada kecenderungan perkembangan zona perdagangan ke
arah jalan u t a m a Pacitan - Ponorogo dan Pacitan - Solo dan jalan utama lainnya. Dengan
masuknya m i n i market d i seluruh zona perkotaan cenderung fasilitas perdagangan akan
berkembang secara linier d i j a l u r j a l a n utama perkotaan d a n pusat-pusat kegiatan
^ l a i n n ^ a ^ P e n y e d i ^ n fasilitas perdagangan dan jasa seharusnya berdasarkan tingkat
Paraf Hierarki - h u l u l a n penduduk, lebih diutamakan pada penyediaan jenis
Sokcia ry SKPD/8aajanp€nir£k3rsa r ^ , v ^ , ... , , u U MJ I t.
k siltas berupa warun ;<fan Ifoko yang diharapkan keberadaannya menyebar pada seluruh
SKrO/ aa^ian Itrkaii:

t 2. IV-52
c K.ioag
3
perkotaan. Hal i n i disebabkan fasilitas yang telah ada sebelumnya masih memenuhi
kebutuhan penduduk setempat.
I
Oleh karena i t u d i sepanjang j a l u r utama jalan kota seperti j a l a n A.Yani, P.Sudirman,
Tentara Pelajar, Basuki Rahmat, Gatot Subroto, Wr. Supratman, Yos Sudarso, Letjen
Suprapto. Maghribi d a n Petung fungsi zonanya dipekenankan u n t u k kegiatan
perdagangan dan jasa serta perumahan atau zona campuran. Terkait dengan adanya JLS
(Jalan Lintas Selatan) yang melewati pinggiran BWP Pacitan, maka u n t u k kedepannya
zona perdagangan dan jasa akan dikembangkan p u l a u n t u k mendukung adanya J LS dan
j u g a mendukung BWP Pacitan.
Sarana perdagangan dan jasa merupakan salah satu sarana yang harus disediakan d i
lingkungan perumahan hingga kota. Sarana i n i tidak selalu berdiri sendiri dan terpisah
dengan bangunan lain. Pengelompokan jenis sarana jasa perdagangan yang direncanakan
d i zona rencana adalah : toko/warung, pertokoan, pusat pertokoan (3an pasaij lingkungan
serta pusat perbelanjaan dan niaga. Pusat-pusat kegiatan. jasa dan perniagaan dapat
disebar sesuai dengan skala pelayanannya, Selanjutnya dalam penataan yang lebili detail,
penataan dan pembinaan pasar rakyat, pusat perbelanjaan "dan toko swalayan diatur
dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia NomoCvll2 tahun 2007.' Dalam rangka
mewujudkan i k l i m usaha yang sehat dilakukan penataan pasar rakyat, pasar modem dan
sektor informal. .747 'Mx 47..

Pasar rakyat dapat bempa: f

S pasar lingkungan; 0y

O pasar desa; 74'


O pasar rakyat kota; dan

O pasar khusus.

Pasar modem dapat berupa:


4>.
pusat perbelanjaan; dan V;

toko swalayan, yang dapat berupa:


''j-'pyy 'i,v
o minimarket; V 0 4'
7:X''' '»!•'•.

^- 6 V ' supermarket;
o"%hjpermarkeh)^

o departement store; dan


X'x .••X'"

o pusat perkulakan.

Garis besar penataan tersebut adalah :

1) Pasar Rakyat wajib memenuhi ketentuan:


o memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan keberadaan Pasar
Rakyat, Usaha Mikro, KecU dan Menengah, Pasar Modem, dan Toko Swalayan;
o menyediakan fasilitas yang menjamin pasar rakyat yang bersih, sehat higienis,
aman, tertib dan ruang publik yang nyaman;

SKA/ Bd^Wy^}^^^'f^^^0^ parkir kendaraan bermotor d a n tidak bermotor yang


memadai d i k ^ a m brea bangunan;
SKPD/ Datrisn Tarksit:
o menyediakan fasilitas halte atau pemberhentian sementara kendaraan angkutan
u m u m bagi kepentingan penumpang yang masuk dan keluar pasar;

o kejelasan pembagian blok tempat usaha sesuai penggolongan jenis barang


dagangan, dengan kelengkapan dan kecukupan sistem pendanaan, dan sirkulasi
udara baik buatan maupun alaini;

o kecukupan kuantitas dan kualitas u m u m , antara lain meliputi fasilitas kamar


mandi dan toilet u m u m , tempat sampah, mushola dan fasilitas lainnya;

o ketersediaan sarana pemadam kebakaran dan j a l u r keselamatan bagi petugas


maupun pengguna pasar; dan

o perbaikan sistem persampahan dan drainase guna meningkatkan kualitas


kebersihan d i dalam pasar. 0,

2) Pusat perbelanjaan, supermarket, hypermarket, departementTsiore vdan pusat


perkulakan wajib memenuhi ketentuan: j j 0^ ""-^M

o memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat/keberadaan Pasar Rakyat,


Usaha Kecil dan Usaha Menengah yang ada d i wilayah yang bersangkutan;

o memperhatikan j a r a k antara pusat perbelanjaan; . supermarket, hypermarket,


departement store dan pusat perkulakan dengan Pasar Rakyat yang telah ada
sebelumnya; |g "M

o menyediakan areal parkir pusat perbelanjaanJ'-Vsupermarket, hypermarket,


departement store dan pusat perkulakan;^ i^x
'%"'47 '40:0
o menyediakan fasilitas Vyang menjamin pusat perbelanjaan, supermarket,
hypermarket, departement "store\dan pusat perkulakan yang bersih, sehat
(hygienis), aman, tertib dan ruang publik yang nyaman; dan
o khusus u n t u k Pusat Perbelanjaan wajib menyediakan tempat usaha u n t u k usaha
kecil dengan tiarga j i i a l atau biaya sewayang sesuai dengan kemampuan Usaha
Kecil, a t a u y a n g dapat dimanfaatkan oleh Usaha Kecil melalui keijasama lain
dalam rangka kemitraan.
Y'^•V'-- n 'K}\

3) Lokasi pasar ralq/at dan pasar modem diatur dengan ketentuan:

. 0 ^ 'pasar"ralg/at d i p e r b o l e h l ^ berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan;


o';xmmimarket diperbolehkan berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan;
o k h u s u s / u n t u k minimarket beijaringan diatur dengan memperhatikan j a r a k
terhadap Pasar Rakyat dan waning/toko yang telah ada sebelumnya.
o supermarket dan departement store, diatur sebagai berikut:

• tidak diperbolehlan berlokasi pada sistem jaringan jalan lingkungan;

• tidak diperbolehkan berada pada kawasan pelayanan lingkungan.

o hypermarket dan pusat perbelanjaan, diatur sebagai berikut:

• hanya diperbolehkan berlokasi pada akses sistem jaringan jalan arteri atau
kolektor;
I Pf!/?f Mier.irki ^^'^^ ^^f\a^'dippThn\f'\\\ean berada pada kawasan pelayanan lokal atau lingkungan.
^^^"4-1
SKPD/ Bagian Periirskarua
10kdi

YK00"
o perkulakan hanya diperbolehkan berlokasi pada akses sistem jaringan jalan
arteri atau kolektor primer.

4) Sektor informal diatur sebagaimana tertuang dalam Sub BWP yang diprioritaskan
penanganannya.

Kebutuhan m i n i m u m fasilitas perdagangan dan jasa adalah (dapat dilihat pada Tabel
Kebutohan Lahan Perdagangan dan Jasa):

O Toko/Warung dengan luas lahan 3,17 ha.

3 Pertokoan dan pasar lingkungan dengan luas lahan 3,96 ha.

O Pusat pertokoan dan pasar lingkungan dengan luas lahan 2,64 ha.

O Pusat perbelanjaan dan niaga dengan luas lahan 2,38 ha.


XX-, I7
4,63 Zona Perkantoran
Zona perkantoran dengan luas 29,88 h a meliputi perkantoran p e m e r i n t a h dan
perkantoran swasta. 0 4\ 0J.-,. "'-0
7
4,6.3.1 Perkantoran Pemerintah i•y
Perkantoran pemerintah dengan luas 24,18 h a berada d i :
0"'" ''••'S "KK
O Sub BWP A dengan luas 18,08 ha, yaituPada Blok A l . d a n Blok A2;
Vi- 0
O Sub BWP B dengan luas 1,38 ha, y a i t u pada Blok Blj,dari Blok B2;

O Sub BWP D dengan luas 0,23 ha, yaiJiTpada Bfok p i ; '

O Sub BWP E dengan luas 2,93¥a, yaitu pada Blok E l dan Blok E2; dan
'J\ 4, VJ
O Sub BWP F dengan luas 0,30 ha, yaitu pada Blok F l dan Blok F3.
Perkantoran pemerintah saat i n i sudah reperesentatif dan strategis yang dapat dilakukan
dengan bertingkat^, (vertikal) |melalui pembangunan baru, pengembangan dan/atau
revitalisasi. 4% 0/'P
0 M M
Zona perkantoran penierintah' sebaiknya berada pada perkantoran yang sudah ada saat
ini dan berkelompok sehingga dalam pelayanan pada masyarakat lebih mudah.
Fungsi pendukung lain d i sekitamya sebaiknya fungsi ekonomi yaitu zona perdagangan
skala kecil dan zona perumahan. Selain kantor pemerintahan, bangunan-bangunan lain
yang dibangun d i dalam zona kantor pemerintahan tersebut, antara lain:
0 P)
O Pendopo; dan Rumah Dinas Bupati sebagai ikon atau simbol dari sebuah Kantor
Pemerintah Kabupaten.
O Kantor SKPD

O Alun-alun sebagai landmarfc dan Pusat kegiatan.

O Masjid Agung.

O Rumah Pintar

O Taman-taman kota.
1 F/i?»f(iergfk( i Paraf Kocr'Jinafi

K- Y S.KPO; Gagiaii Parr.takafss

SKPD; b'agian Terkait:


1. IV-55
f
2.
1 H'!*<'->ra
bel 4. 5 Kebtttiihan Lahan Perdagangan dan J a s a
Pusat
Pusat Pertokoan +
Jumlah Toko/Warung Pertokoan Perbelaojaan + Jumlah
pasar Lingkungan
No Tahun Deu/Kel Penduduk Niaga
(Jiwa) Jumlah Luaa Jumlah Luas Jumlah Luas /Jumlah Luas Jumlah
Luas (ha)
(Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) • (Unit) (ha) (Unit)

1 2016 Balehario 2887 12 0,12 0 0.14 0 0,10 0 0.09 12 0,44


Tanjungsari 4224 17 0.17 I 0,21 0 0,14- '•4:.. 0 0.13 18 0,65
Nanggungan 2225 9 0,09 0 0,11 0 0,07 •s ""- '6' 0,07 9 0.34
Widoro 1833 7 0,07 0 0,09 0 •V/' 0,06 4iy 0 0,05 8 0,28
Pacitan 3318 13 0.13 1 0.17
-J
,*V- 0 ¥•0.11- Jo 0,10 14 0,51
Pucangsewu 3188 13 0.13 1 0,16 •VY-.-X 0 •6.ri) " '"•17 0 0.10 13 0,49
Bangunsari 4526 18 0.18 1 0,23 •6 0.15 0 0.14 19 0.69
Sumberharjo 1458 6 0,06 0 0,07' K 0 V„ 0,05' 0 0,04 6 0,22
Aijowinangun 3398 14 0.14 1 •^'•^'0,17 "Vo.ii 0 0,10 14 0,52
Menadi 1971 8 0,08 0 4 0,10 'Jo 0,07 0 0,06 8 0,30
Simoboyo 4406 18 0,18 x~ 1 ' > 0,22 6 0.15 0 0,13 19 0,68
Mentoro 2695 11 0,11 %: 0 0,13 J0 0,09 0 0,08 11 0,41
Purworejo 1737 7 0,07 "0 "'•-'0.09 0:4 0 0.06 0 0.05 7 0.27
Ploso 6845 27 0,27 x-V-,. 1- •^'0,3^' 0 0.23 0 0,21 29 1.05
Sidoharjo 7565 30 0,30 1 0 0,38 0 0,25 0 0.23 32 1,16
Kembang 2478 10 0,10 7 0 0 •Vs0,12 0 0,08 0 0.07 10 0,38
Sambong 1197 X- 5'. r;., 0,05 0.. 0 -0,06 0 0,04 0 0,04 5 0.18
Ponggok 311 V'l 'i'o.Ol 4 0 0,02 0 0.01 0 0,01 1 0,05
SemEuiten 941 4. 4: • 0,04 6 0,05 0 0.03 0 0.03 4 0,14
JUMLAH 57202 229 . 2,29 10 2,86 2 1,91 0 1,72 241 8,77

'a'

IV-55
Pusat
Pusat Pertokoan +
Jumlah Toko/Warung Pertokoan Perbelanjaan + Jumlah
Pasar Lingkungan
no Tahun Penduduk Niaga
(Jiwa) Luas . i T i m i n n Luas Jumlah Luas Luas Jumlah
Luas (ha)
(Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) . (Unit) (ha) (Unit)
Tahap
2 fce-I Beilehano 3164 13 0,13 1 0,16 0 0,11 0 0 0,09 13 0,49
Tanfungsari 4631 19 0.19 I 0,23 0 6,15 7. "<"o. 0.14 19 0,71
Nanggungan 2439 10 0,10 0 0.12 0 0,08^ Y- o'- ¥ 0,07 10 0,37
Widoro 2010 8 0,08 0 0,10 0 ¥''0,07 J\ o' 0 0.06 8 0,31
Pacitan 3637 15 0,15 1 0,18 Y'V 0 ¥ 0.12 "00 0,11 15 0.56
Pucangsewu 3495 14 0,14 1 0.17 4X4, 0 V0,12 0,10 IS 0.54
Bangunsari 4961 20 0.20 1 0,25 y 00 0.17 0 0,15 21 0,76
Sumberhaijo 1598 6 0,06 0 0,08' b 0,05- 0 0,05 7 0,25
Ariowinangun 3725 15 0,15 1 0ofl9 0. 0 \S 0.12~ 0 0.11 16 0,57
Menadi 2161 9 0,09 0 4 0,11 0 0 '0,07 0 0,06 9 0,33
SimoboYo 4830 19 0,19 1 \Y0,24 -Q 0,16 0 0,14 20 0,74
Mentoro 2954 12 0.12 < " :^ 0 d;i5 ^0 0,10 0 0,09 12 0.45
Purworejo 1905 8 0,08 0.. o.io) ^•.•^0"xO
"'V-o'- 0,06 0 0,06 8 0,29
Ploso 7503 30 0,30 -7 r- 0 0,25 0 0,23 32 1,15
rs • J L
8292 33 6,33 0 I •.¥>'b,4i'- > • 0 0,28 0 0.25 35 1,27
Sidohano
Kembang 2716 11 o.ir . 4 0 4- 0,14 0 0,09 0 0,08 11 0,42
Sambong 1313 5 0,05 JC'J 0 X0,07 0 0,04 0 0,04 6 0.20
Ponggok 341 ^--1 H>:0.01 '0 0 0,02 0 0.01 0 0,01 1 0,05
Semanten 1031 0,04 "O' 0,05 0 0,03 0 0,03 4 0,16
JUMLAH 62705 X2S1 4 Y"2,51 10 3.14 2 2.09 1 1,88 264 9.61
f ,1 • .

IV-57
Pusat
Pnsat Pertokoan -f
Jnmlah Toko/Warnng Pertokoan Perbelanjaan + Jumlah
Pasar Llngknngan
No TaJmn Desa/Kel Pendndnk Niaga
Jomlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jnmlah Luas Jumlah
Luaa (ha)
(tinltl (Unit) fhal (hal ftlnitl
Tahap
3 ke-II Balehaijo 3442 14 0.14 1 0,17 0 0,11 % . 0 0.10 14 0,53
TEiniunfisari 5037 20 0,20 1 0,25 0 0,17 X-,., "•''0 0.15 21 0,77
Nanggungan 2653 11 0,11 0 0.13 0 0,09 > " : 0 0,08 11 0.41
Widoro 2186 9 0.09 0 0.11 0 •¥ 0,07 "••vV, o' ,::)o.07 9 0.34
Pacitan 3956 16 0,16 I 0,20 . '\ 0 V 0 ,13 0.12 17 0.61
Pucangsewu 3802 15 0,15 1 0,19 0 Y0.13 .•••V-.„ '6 0.11 16 0.58
Bangunsari 5397 22 0,22 1 0,27" /•-• I'O 0.18 0 0,16 23 0,83
Sumberhaijo 1739 7 0,07 0 0,09 d' 0.06- 0 0,05 7 0,27
Aijowinangun 4052 16 0,16 1 .•''V6)20 'Y'-X. 0 ¥v 0,14 0 0,12 17 0,62
Menadi 2350 9 0,09 0 •V 0.12 "0 0 "b,08 0 0.07 10 0,36
Simoboyo 5253 21 0,21 1 V- 0,26 0 0.18 0 0.16 22 0.81
Mentoro 3213 13 0,13 tl-: 1 '0,16 lo 0.11 0 0.10 14 0.49
Purworeio 2072 8 0,08 •=';o' V - 0,10 :/ ro 0,07 0 0.06 9 0.32
Ploso 8161 33 0.33 V- "6,41 0 0,27 0 0.24 34 1.2S
Sidoharjo 9020 36 6,36 0 2 • ''¥o,45' 0 0,30 0 0,27 38 1.38
Kembang 2954 12 0,12- XX 0 ¥ - 0.15 0 0.10 0 0,09 12 0.45
Sambong 1423 6 0,06 40 0 *<0,07 0 0,05 0 0.04 6 0.22
Ponggok 370 ¥n' '0 0,01 -0 0 0,02 0 0,01 0 0.01 2 0.06
Semanten 1122 0,04 0 0,06 0 0.04 0 0,03 5 0.17
JUHLAH 68207 '-273 7 42,73 11 3,41 2 2,27 1 2,05 287 10,46
'•(4

'"4\. J-i J- ••••


"0:0

IV-58
a
mtmpzpufP PAPUAN mumeNPAorAN
Pusat
Pusat Pertokoan +
Jumlah Toko/Warung Pertokoan Perbelanjaan Jumlah
Pasar Llngknngan
No Tahun Deu/Kel Penduduk Niaga
(Jlwaj Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jnmlah Luas Jumlah
Luaa (ha)
"i CO) CO (unitj (na| (ua) luniC) (uaj fITMlfl
/t.Ak |unit|
Tahap f iunic| (ha)
U-uj Cc>O 4 ke-IIl Balehario 3720 15 0,15 1 0,19 0 0,12 -0 0 0.11 16 0.57
CD Taniungsari 5443 22 0.22 1 0.27 0 6.18 /, -Q 0.16 23 0,83
c- Nanggungan 2867 11 0.11 0 0.14 0 0.10 \ "--.•'0 V. 0.09 12 0.44
n
t-;
Widoro 2362 9 0,09 0 0,12 0 0 0,08 o' 44 0,07 10 0.35
*•» Pacitan 4275 17 0,17 1 0,21 y'y 0 V*. 0,14- 0,13 18 0,66
Jt Pucangsewu 4108 16 0,16 1 0,21 .xx.- 0 X0,14 0,12 17 0,63
} 1
i Bangunsari 5832 23 0.23 1 0,29 /' Jo 6,19 ' 0 0.17 25 0,89
Yi Sumberharjo 1879 8 0,08 0 0.09 0- 0,06 0 0.06 8 0.29
Ariowinangun 4379 18 0,18 1 ¥ 0.22 0. 0 " ¥ v 0.15- 0 0.13 18 0.67
Menadi 2540 10 0,10 0 X 0,13 0.0 '6.08 0 0,08 11 0.39
Simoboyo 5677 23 0,23 1 4 0,28 '"0 0.19 0 0,17 24 0.87
Mentoro 3473 14 0,14 tJ.l 'o;i7 lo 0.12 0 0,10 15 0.53
Purworejo 2239 9 0,09 Jd . o.ii: -..,.XYVO 0,07 0 0,07 9 0.34
Ploso 8820 35 0,35 :-x. i- .:0>4 0 0,29 0 0,26 37 1.35
Sidoharjo 9747 39 0.39 XX 2 •¥¥'0.49' 0 0,32 0 0,29 41 1.49
Kembang 3193 13 0.13 XX 1 0 0.16 0 0.11 0 0,10 13 0.49
Sambong 1543 6-0,06 •XX- 0 '<0,08 0 0.05 0 0,05 6 0.24
Ponggok 400 02 '"0 0.02 0 0 0,02 0 0.01 0 0.01 2 0,06
Semanten 1212 S "5 )6,05 "0 0,06 0 0,04 0 0,04 5 0.19
JUHLAH 73710 y 295 s - 2,95 12 3,69 2 2.46 1 2,21 310 11.30

"•j^y---

IV-59
Pusat
Pusat Pertokoan +
Jumlah Toko/Warung Pertokoan Perbelanjaan + Jumlah
Pasar Lingkungan
Tahun Desa/Kel Penduduk Niaga
(Jlwal Jumlah Luas Jnmlah Luaa Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah
(ha) (ha) Luas (ha)
(Unit) (ha) (Unit) (Unit) : (Unit) (ha) (Unit)
Tahap '>.¥,
5 ke-IV BaJeharjo 3997 16 0,16 1 0,20 0 0,13 •yy. 0 0,12 17 0.61
TanjuriRsari 5850 23 0,23 1 0,29 0 6,19 -x, '--0 0,18 25 0,90
Neuiggungan 3081 12 0,12 1 0,15 0 0,10 >, " ' - v ' O 0,09 13 0.47
Widoro 2539 10 0,10 0 0,13 0 0,08 '0.: 0 0:> 0,08 11 0.39
Pacitan 4594 18 0,18 1 0.23 0 0 4. 0.15 0 0,14 19 0,70
Pucangsewu 4415 18 0.18 1 0,22 0'" 0 ' ;o,i5 6 0,13 19 0.68
Baingunsari 6268 25 0,25 1 0,31 y 00 6,21 ' 0 0.19 25 0,96
1. Sumberharjo 2019 8 0,08 0 0,10 b 0,07- 0 0.06 8 0,31
Ariowinangun 4706 19 0,19 1 Y"T0.24 0. 0 N\0,16' 0 0.14 20 0.72
Menadi 2729 11 0.11 0 F ; 0,14 ' 0 0,09 0 0,08 11 0.42
Simoboyo 6101 24 0.24 1 \>0,31 0.20 0 0,18 26 0.94
Mentoro 3732 15 0,15 V 41 0.19 No 0,12 0 0,11 16 0,57
Purworejo 2406 10 O.IO Jo' YX 0,12 w . ' V ' O 0,08 0 0,07 10 0,37
Ploso 9478 38 0,38 2" '• 0,47 0 0,32 0 0,28 40 1.45
Sidoharjo 10475 42 0.42 M'- 2 '¥'0,52 0 0,35 0 0.31 44 1.61
Kembang 3431 14 0,14 . 1 * V 0,17 0 0,11 0 0,10 14 0.53
Sambong 1658 7 0.07 04 0 'Vo.os 0 0,06 0 0,05 7 0,25
Ponggok 430 J-Q '0-0,02 0 0,02 0 0,01 0 0,01 2 0.07
Semanten 1303 4. ''5- 0,05 Q- 0,07 0 0.04 0 0,04 5 0,20
JUHLAH 79212 '317 X Y3,17 13 3,96 3 2,64 1 2,38 333 12.15
Sumben Hasil Rencana, 2016
4
"''0 X;

•:0 0

IV-60
IV-61
Adapun terhadap bangunan perkantoran pemerintah yang tidak berada d i sekitar A l u n -
alun (pendopo) tetap dipertahankan dan direkomendasikan u n t u k dikembangkan secara
vertikal dengan metode pembangunan baru, pengembangan dan/atau revitalisasi.
Terhadap bangunan perkantoran tersebut j u g a dapat dialihfungsikan/dikeijasamakan
dengan pihak ketiga dalam pengelolaannya, seperti dapat dimanfaatkan u n t u k kegiatan
sosial budaya, gedung pertemuan dan sebagainya sesuai kebutuhan.

U n t u k lebih jelasnya kebutuhan m i n i m u m sarana perkantoran pemerintah dapat dilihat


pada Tabel Kebutuban Lahan Perkantoran.

Oambar 4. 3 -.Ilustrasi Perkantoran Pemerintah


4,6.3.2 Perkantoran Swasta Y
Perkantoran swasta dengan luas 5,70 h a berada d i :
Xy 0.
3 Sub BWP A dengan luas 0,52 ha, yaitu pada Blok A 1 ;
4\ '"0 ij
3 Sub BWP^B dengan luas 0,29 ha, yaitu pada Blok B l ;
3 Sub BWP b dengari'luas 2,01 ha, yaitu pada Blok D l ;

3 Sub BWP.F dengan luas 2,17, yaitu pada Blok F2.


.400 0 0
Bangunan V perkantoran swasta dapat dilakukan pengembangan secara bertingkat
(vertikal) melalm pembangunan baru, pengembangan dan/atau revitalisasi.

i Parat Hicratki
SKPO/ Bdgvan Pe.T.f ik^fia J|^]^
I Sekda
L- — r 3ijm*fc.i^..'-m.'j

SKPD/ Sagian Terkait:


1 ts'slen
1 :
IV-62
2
3
^ a b e t 4. 6 Kebutuban Laban Perkantoran
Kabupaten/
Jnmlah RW Kelurahan / Desa Kecamatan/BWP Jumlah
Re^onal
No Tahun Desa/Kel Pendndnk
p? Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jnmlah Luas Jumlah T A A ft* AX
O £; (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) V' (Unit) (ha) (Unit) Luas (na)
CO
to 2016 Baleharjo 2887 1 0,05 0 0,02 0 0,02 1 0,10
Tanjungsari 4224 2 0.08 0 0,03 0 0,03 2 0,14
Nanggungan 2225 1 0,04 0 0,02 0 0,02 • ''00 1 0,07
Widoro 1833 1 0.03 0 0,01 0 • '4 0.01 '"'I..:- 1 0,06
Pacitan 3318 1 0,06 0 0,02 4S 0 4\ 0,02 1 0.11
Pucangsewu 3188 1 0.06 0 0,02 .40 0 ¥o,02 •' 'y 1 0.11
Bangunsari 4526 2 0.09 0 0,03 7 "J 0 0,03 2 0,15
Sumberharjo 1458 1 0,03 0 0,01- 6-' 0.01- 1 0,05
Aijowinangun 3398 1 0,06 0 rv';o,o2 ••Vx. 0 •Vl. 0,03^ 2 0.11
Menadi 1971 1 0,04 0 ^'' 0.01 * 0 ^6,01 1 0,07
Simobovo 4406 2 0,08 0 '4 0,03 ''0 = 0.03 2 0,15
Mentoro 2695 1 0,05 00 '0",02 1.0 0.02 1 0,09
Purworejo 1737 1 0,03 xd ¥ - 0,01 z..,.0O 0,01 1 0.06
Ploso 6845 3 0,13 6- vo.os 0 0,05 3 0,23
Sidoharjo 7565 3 0,14 'Jx o ' •'X¥'0,05' ? 0 0,06 3 0,25
Kembang 2478 1 0,05 • n 0 4< 0,02 0 0,02 1 0,08
Sambong 1197 0^ 0,02 40 0 ¥o,oi 0 0,01 1 0,04
Ponggok 311 ¥.0 "•¥=•0,01 -0 0 0,00 0 0,00 0 0,01
SemEuiten 941 0. '0 )6,02 '6 0,01 0 0,01 0 0,03
JUMLAH 57202 > - 1,08 2 0.41 0 0,42 46 11,50 71 13,42

"7 7...

'•Y'a
% •"'MMx
0 0 -M

IV-63
Kabupaten/
Jumlah RW Kelurahan/Desa Kecamatan/BWP Jumlah
Regional
No Tabun Desa/Kel Penduduk
(Jiwa) Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah T..11 a • fit a )
(Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit)
Tahap 'wV
2 ke-1 Baleharjo 3164 1 0,06 0 0,02 0 0,02 0,11
Tanjungsari 4631 2 0,09 0 0,03 0 o763 2 0,16
Nangj^ungan 2439 1 0,05 0 0,02 0 0,02 70-.._ 7. 1 0,08
Widoro 2010 1 0,04 0 0,01 0' ".7 0,01 -:K "0 1 0,07
Pacitan 3637 I 0,07 0 0,03 . 0 '10 0,03 'J .V. 2 0,12
Pucangsewu 3495 1 0,07 0 0,03 0 VV 0,03 • '. "Y'h, 2 0 12
Bangunsari 4961 2 0,09 0 0,04 0.04 i * 'I-; 2 0,17
Sumberharjo 1598 1 0,03 0 0,01 ¥6 0,61 1 0 05
Arjowinangu n 3725 1 0,07 0 „' 0,03 'X: O' ¥. 0,03' 2 0 12
Menadi 2161 1 0,04 0 ¥-f'o,02 '"•0 0 "¥0,02 1 0,07
Simoboyo 4830 2 0,09 0 0,03 Jo 6,04 0 0 16
Mentoro 2954 X \Jf\f\y >v. 0 fl fl'3 , o J fl fl9 1 W] L W

Purworeio 1905 1 0,04 10)' 0,01 • fl : 0,01 1 0,06


3 -Q Y:- 0
Ploso 7503 0 14 "=U;o,05 0.06 0 25
Sidoharjo 8292 3 o;i6 '0 6'. • ¥ o ; o 6 ' 0 0,06 4 0,28
Kembang 2716 1 0,05 0 0 0 0,02 0 0,02 1 0,09
Sambong 1313 I 0,02 7 0 0 V'O.Dl 0 0,01 1 0,04
Ponggok 341 S-h 0,01 '0 0 'o.oo 0 0,00 0 0.01
Semanten 1031 , 00 0o/y2 00 0.01 0 0.01 0 0,03
JUMLAH 62705 0 25 2 0,45 1 0,46 46 11,50 74 13.60

.-:0%-. Mj:%

IV-64
Kabupaten/
Jnmlah RW Kelurahan/Deaa Kecamatan/BWP Jnmlah
Regional
No Tahun Deaa/Kel Penduduk
(Jiwa) Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luaa Jumlah Luas Jnmlah T « « A A I L A I

(Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) Luaa (na)
Tahap
3 ke-U Balehaijo 3442 11 n nft n no fl n m 0- d fl 10
U.XJQ X/

Tanjungsari 5037 o
J, n 1n X/ n nd n rid • n 17
Nanggungan 2653 n nft n no n rio^ 0,17
n no
1
1 Vl
fl 1
XJ
X/^X/d 1
Widoro 2186 1 xj,v/*t n n no n n no 1 n n7
o1 • '\Jj\JA
V/ X
Pacitan 3955 X/ n ni n V- c\ n i 0 n 11
Pucangsewu 3802
At l-/,V/ r n n ni
X/
,./?.YY- 0 Vx n n i • 0
X/, X D
nil
Bangunsari 5397 n 7 n n nd • '. V iJ-ii f l ' ' x/,x/o
n nd' Ai
0
xo
n xo
X/,
<J, 1 R
X/, I X /
Sumberharjo 1739 1 n m x/ n m n n n i1
U,U 1 n nft
1
Aijowinangun 4052 o X/ .^•^ n m Yf n" K n ni: 0 n 1X*td
u,
Menadi 2350 1i n nd. i-i-" • n
M/¥ nn
U,X/^ "•jy n no A
11 n no
Simoboyo 5253 o n 1n n £-.\ f l f i j , 'X'C\ ri n d d nU, 1IQB
X/, XXJ X/ ». X/,X/H XJ V/,U'»
Mentoro 3213 1 rx rift
- U ^>n no
. U,Ud fl
' n m
U,UZ 1 n0,11
il
11 1
11
Purworejo 2072 n nd I- I. X/ - n n1 n no n n7
IJ^X/ji
Ploso 8161 •a
o n 1 fl XJ iJ.XJO '.-1. U n fift n0,2/
no
Sidoharjo 9020 4 0.^7" 0 ' - ..¥b,D7' 0 0.07 4 0,30
Kembang 2954 1 d;65 ¥ V 0 V¥ 0,02 0 0,02 1 0,10
Sambong 1428 1 X 0
0.03' 0 "^¥0,01 0 0,01 1 0.05
Ponggok 370 0. 0,01 ''0. 0 0,00 0 0,00 0 0,01
Semanten 1122 •'•c'o "•0,02 00 0.01 0 0,01 0 0.04
JUMLAH 68207 W 27-" 1;29 2 0,49 i 0,50 46 11,50 76 13,78

Js. 0
MM- k =0

MY, ""'Mn?M
•¥^.

IV-65
f VI

^- D
Tl TO Jo a.
u zc

H
S•

\ Kabupaten/
Jumlah RW Kelurahan/Desa Kecamatan/BWP Jumlah
Regional
No Tahun Deaa/Kel Penduduk
TO o Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah Luas Jumlah
-c (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit) (ha) (Unit)
Si
C3 Tahap
IU jg
3720 1 0 0 . 2
Ice-III Baleharjo 0 07 0,03 0,03 t-f f A ^
(*j'
T
4
51 Tanjungsari CAAH 2 0,10 0 0,04 0 0,04 2 0,18
5443
I Nanggungan 2867 1 0,05 0 0,02 0 0,02 1 0 10
0; 12
11 AAA 1 0,04 0 0,02 o' Xs-~ 0,02 1 0 08
Wiaoro
Pacitan 4275 2 0,08 0 0,03 . 0 -¥ ' bio3 xs,. 2 0 14

V
Pucangsewu 4100 2 0,08 0 0,03 0 J- 0,03 • 2 0.14
Bangunsari 5832 2 0,11 0 0.04 XjXx 0 0,04 = 3 0,20
Sumberharjo 18/y 1 0,04 0 o,ol= " 0, 0,01 1 0,06
Arj owinangu n 43/y 2 0,08 0 ..,'0,03 7. 0 ¥ 0,03' 2 0 15
Menadi 2540 1 0,05 0 f¥ 0,02 Js 0 *¥o.02 1 0 09
Simoboyo oo// 2 0 11 0 X'\ 0,04 "=?0 0,04 3 0 19
Mentoro H A To 1 0,07 v* > . 0 0,03 . 6" i 0,03 2 0,12
3473
Purworejo 2239 1 0,04 0 02- 0 0 09 A n 07
1
Ploso 8S20 4 0,17. '¥'"0,06 0U 0 0,06 4 WflJ
0 30 i
Sidohano 9747 4 "0. 0, Y: 0,07: 0 0.07 4 0,33
Kembang 3193 1 0,06 0 0 •¥/ 0,02 0 0,02 1 0.11
Sambong 1543 1 0,03 7.0 0 •¥o.oi 0 0,01 I 0,05
Ponggok 400 •N- 0,01 7x 0 0,00 0 0.00 0 0,01
Semanten 1212 . =¥o •0,02 •4o 0,01 0 0,01 1 0,04
JUHLAH 73710 vY 29 i;39 2 0,S3 1 0,54 46 11.50 79 13,97

IV-66
4,6.7 Zona Khusus
Zona k h u s u s dengan luas 53,80 h a meliputi pertahanan keamanan dan Pelabuhan
Perikanan Pantai.
4.6.7.1 Pertahanan Keamanan
Sub zona pertahanan keamanan dengan luas 43,96 ha berupa pertahanan dan keamanan
darat, laut dan udara meliputi:

O pertahanan darat meliputi Kodim 0 8 0 1 , Koramil, Detasemen Kesehatan Tentara, dan


pertahanan darat lainnya berada d i Sub BWP A dengan luas 16,84 ha, yaitu pada
B l o k A l dan Blok A2;

O pertahanan laut meliputi POSAL d i Sub BWP C dengan luas 0.49 tia, yaitu pada Blok
C; dan v

O pertahanan udara meliputi RAHLAT KOOPSAUII Sidoharjo d i Sub"BWP D dengan luas


22,67 ha, yaitu pada Blok D l .

Pengembangan pertahanan keamanan dilakukan ^ dengan Y-memperhatikan radius


keselamatan pada kawasan d i sekitamya. I- \' \ "" ' ,
•'1' '• ••••
Pada area pertahanan darat (Kodim 0801) masih terdapat lahan yang cukup luas yang
dapat dimanfaatkan u n t u k kegiatan produktif dengan pelibatan masyarakat. Sebagai
contoh, lahan tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar u n t u k olah raga atau
bercocok tanam atau kegiatan lain berdasarkan kesepakatan antara pemangku otoritas
pertahanan keamanan darat dengan masyarakat sekitar., |
Pada area pertahanan laut, direncanalmri pernbangundn POSAL yang akan menjalankan
fungsinya dalam pertahanan dari sisi l a u t . " 0
•^»/ "T i '7
Pada area pertahanan udara RAHLAT^ KOOPSAU I I Sidoharjo, saat i n i terdapat fasilitas
r u n way u n t u k pesawat terbang. Pada'masa mendatang, fasilitas i n i dapat dijadikan salah
satu altematif pengembangan;bandar udara dengan keijasama antara pemangku otoritas
pertahanan keamanan udara aengan instansi pemerintah serta maskapai penerbangan.

4.6.7.2 PelabuKan Perikanan Pantai


Sub zona Pelabuhan Perikanan Pantai dengan luas 9,84 h a berada d i Sub BWP D, yaitu
p a d a ) B l o k " p i . Pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai dilakukan dengan perluasan
lahari^pada;daratan dan/atau reklamasi sesuai kebutuhan u n t u k mendukung fungsi
minapoUtah yahg dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang diperlukan dengan tetap
memperhatikan daya d u k u n g lingkungan dan fungsi d i sekitamya. Hal i n i penting karena
sub zona ini"^ berbatasan langsung dengan sub zona pariwisata yang menekankan
keindahan dan kebersihan kawasan.

Perluasan lahan pada daratan dan/atau reklamasi memperhatikan:

O kebutuhan pengembangan kawasan budidaya yang telah ada d i sisi daratan;

3 BWP yang padat d a n membutuhkan pengembangan wilayah daratan untuk


mengakomodasi kebutuhan yang ada;

O memberikan akses kepada masyarakat menuju pantai;

Paral Hiefarld ' s niph^^^^^j^=^^?'''''''fU'f pencaharian penduduk sebagai nelayan, pembudidaya ikan.
S£kda

Asisttn
Y jf— -JlTO1X_i -
SKPO/ Bagiaii Tsrkaii:
tan p_erikanan lainnya;

1 - IV-106
2 —

\i
Kabag
3.
3 memberikan kompensasi atau ganti kerugian kepada masyarakat sekitar yang
terkena dampak reklamasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;

3 merelokasi permukiman bagi masyarakat yang berada pada lokasi reklamasi; dan

3 memberdayakan masyarakat sekitar yang terkena dampak reklamasi.

Paraf Koordinasi

Sskda

Asisten
T SKPt)/ Bagian Pemrakaraa

11111 ' I I ~™"


SKPO/ Bagian Terkai::
II
-0
IV-107
Kabsg 7
r

-4^

C I

• './S r4

IV-108 -Si T«£^

TJ
tj> E
<« tn ~!
VJ <
bab 5
rencana jaringan prasarana

»iW*TOl^ullTO.^3i•-fTO" 'rf^.iiVr.t.o2=-:—''fJAnavJl-^iiaj,-, v.-.t..l>:;a^4>ilNm. i-fHiA'r.-tMiA—i M^ME^,/i, iiiL Jr.^fc^f^j^M.*TO


--'-.y
0 M M '0

M ateri yang diatur dalam rencana sistem jaringan prasarana dalam RDTR dan PZ
meliputi rencana yang mengatur seluruh'rencana pengembangan jaringan
pergerakan, rencana pengembangan jaringan energi dari kelistrikan, rencana
pengembangan jaringan telekomunikasi, rencana pengembangan jaringan air m i n u m ,
rencana pengembangan jaringan drainase, rencana pengembangan jaringan air limbah
dan rencana pengembangan jaringan persampkhan sebagaiM.
O Pembentuk sistem pelayanan dalam BWP; M-,.^, . ;

O Dasar perletakan jaringan serta rencaria pembangunan prasarana dan utilitas dalam
BWP sesuai dengan fungsi pelayanannya; dan
0. 0 S
O Dasar rencana sistem pergerakan' dan aksesibilitas lingkungan dalam RTBL dan
rencana teknis selctoral.'M M.
X Mx M
U n t u k lebih jelasnya mengienai rencana jaringan prasarana d i BWP Pacitan akan
diuraikan sebagai berikut: '--^

5.1 Rencana Pengembangan Jaringan Pergerakan


5.1.1 Jaringan Transportasi Darat
Jaringan transportasi darat dikembangkan melalui sistem jaringan jalan; sistem jaringan
pedestrian, j a l u r kendaraan tidak bermotor dan parkir; sistem terminal; dan sistem
angkutan u m u m .

5.1.1.1 Sistem jaringan jalan


Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian j a l a n , termasuk
bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang
berada pada permukaan tanah, d i atas permukaan tanah, d i bawah permukaan tanah
dan/atau air, serta d i atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan
kabel.

['Paraf HiftrarSii

I Sekda

1 Aii:-!an
SKFD/ Oagiar, Terk:i;:
1 V-2
1
7
; H'll-'lflll
O Rencana jaringan j a l a n berdasarkan statusnya adalah rencana pengembangan
jarmgan j a l a n nasional, jaringan jalan provinsi, jaringan jalan kabupaten, jaringan
j a l a n desa.

3 Rencana jaringan j a l a n berdasarkan fungsinya adalah rencana pengembangan jalan


arteri, j a l a n kolektor, j a l a n lokal, jalan lingkungan.

3 Ruang Manfaat Jalan (Rumaja), Ruang Milik Jalan (Rumija) dan Ruang Pengawasan
Jalan (Ruwasja) pada setiap fungsi jalan ditentukan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

3 Secara u m u m , jaringan jalan dikembangkan dengan:

o pembangunan j a l a n lintas selatan dan jembatannya j

o pembangunan j a l a n dan jembatan penghubung bagian-barat"^dan t i m u r BWP


pacitan '^'00000

o pembangunan j a l a n lingkar kota 'JfX--,^ ^^"^• i ^

o pembangunan dan/atau pengembangan j a l a n arteri, jalan kolektor j a l a n lokal,


jalan lingkungan baik primer maupun sekunder,, '0tM''M

o peningkatan konstruksi dan dimensi jaringan jalan ^^^^^ "x,,^


' 0 7 ' ^ 0 : , , 0 . X

Adapun penjelasan lebih detail terhadap pengembangan jaringan jalan tersebut adalah
sebagai berikut: M
M%
FX: XV
1) pembangunan jalan lintas selatan dan jembatannya
Jalan lintas selatan beserta jembatannya yahg^berstatus j a l a n nasional dibangun
membuka peluang perkembangan permiiidnian baru dan memperlancar kegiatan
ekonomi masyarakat. M
Fy X-
2) pembangunan jalan dan jembatan pen^^ubung bagian barat dan timur BWP
pacitan vJ" ^-J
Kondisi eksisting menunjukkan bahwa wilayah BWP Pacitan bagian barat dan t i m u r
secara fisik terpisahkan oleh Sungai Grindulu d a n dihubungkan oleh 1 buah
jembatan (Jeinbatan Grindulu). Hal i n i tidak dapat secara optimal mengembangkan
BWP^I^citariVsecara|keseluruhan. Oleh karena i t u pada masa mendatang perlu
dilalmkantpembangpria^ jembatan-jembatan lain yang melintasi Sungai Grindulu
'yang nienghubuiigkan bagian barat dan t i m u r BWP Pacitan.
M 0:P0. 'M
3) Pembangunan jalan Lingkar Kota
Tujuan'pengembangan jalan lingkar kota u n t u k mengurangi beban arus lalu lintas d i
pusat kotaVterutama dari jenis kendaraan berat seperti t r u k , bus dan tronton. Jalan
lingkar i n i berupa ruas JLS d i sisi selatan, ruas j a l a n mulai dari Desa Simoboyo
hingga Desa Purworejo d i sisi timur, ruas j a l a n mulai dari Desa Purworejo hingga Desa
Sambong d i sisi utara, dan ruas jalan mulai Desa Sidoharjo hingga Desa Sambong d i
sisi barat.
4) pembangunan dan/atau pengembangan jalan kolektor, jalan lokal, jalan
lingkungan baik primer maupun sekunder
Sistem jaringan jalan primer disusun berdasarkan rencana tata m a n g dan pelayanan
Paraf Hierarki distribusi barang dan jasa u n t u k pengembangan semua wilayah d i tingkat nasional,
g g H ^ g r ^ j g t j j E I b U f i ^ c a nn semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat
Sekda
1 jaringan jalan sekunder disusun berdasarkan rencana tata
Asisten i;KPD/ Qagian Terkait:
V-3
Ksbag
Mm. t
mtmpzm PAPUAN immeNPAcifAN

ruang wilayah kabupaten/kota dan pelayanan distribusi barang dan jasa u n t u k


masyarakat d i dalam kawasan perkotaan. Rencana jaringan jalan d i BWP Pacitan
yang akan dikembangkan mencakup jaringan jalan kolektor, lokal dan lingkungan
baik primer m a u p u n sekunder.

• J a l a n kolektor primer
Jalan kolektor primer adalah j a l a n yang menghubungkan secara berdaya guna
antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan
wilayah, atau antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal. Yang
termasuk jalan kolektor primer adalah:

• j a l a n lintas selatan dan jembatannya serta seluruh ruas j a l a n nasional y a i t u


ruas glonggong-batas kota pacitan, ruas batas kota pacitari-batas kabupaten
trenggalek, ruas ploso-pacitan-hadiwamo, J l . W.R,Supratman, J l . Gatot
Subroto, J l . Jend. Sudirman dan J l . Maghribi. Lebih lengkapnya dapat dilihat
d i tabel fungsi jalan. M "^xM - v

• seluruh ruas jalan provinsi yaitu ruas bts, Kab> Ponorogo¥- Pacitan, J l .
Basuki Rahmat dan J l . Tentara Pelajar.VLebih lengkapnya dapat dilihat d i
tabel fungsi jalan. ^.x- -0
M M M
• ruas J l . Jend. A. Yani, J l . Kom. Yos Sudarso dari J L Ranuwijaya (bangunsan-
ngadirejan). Lebih lengkapnya dapat dilihat d i tabel fungsi j a l a n .
Pada prinsipnya, Jalan kolektor primer didesain berdasarkan kecepatan rencana
paling rendah 40 (empat puluhj kilometer per j a m dengan lebar badan jalan paling
sedikit 9 (sembilan) meter, Jalan kolektor primer mempunyai kapasitas yang lebih
besar dari volume lalu ' lintas rata-rata.Y J u m l a h jalan masuk dibatasi d a n
persimpangan sebidarig pada jalan kolektor primer dengan pengaturan tertentu
harus tetap memenuhi ketentuan. %
. >','•: X " " * ¥ » '""'X.
• J a l a n lokal primer M '^Y,
'-is • j x
Jalan lokal primer adalah jalan yang menghubungkan secara berdaya guna pusat
kegiatan nasional" dengan pusat kegiatan lingkungan, pusat kegiatan wilayah
dengari Vpusat vkegiatah, lingkungan, antarpusat kegiatan lokal, atau pusat
kegiatan Tok^ldengan pusat kegiatan lingkungan, serta antarpusat kegiatan
.¥i^ Ungkungan,VYan£-termasuk dalam jalan lokal primer antara Iain J l . A. Insp.
M . , Sasuit Tubun.'Jl. R Saleh, J l . KH. Agus Salim, J l . KA Posong, J l . Kol. Sugiyono,
Ml.''lffi.^;Wakid Hasim, J l . Cut Meutea, J l . AR. Hakim, J l . KA. Petung, J l KA.
Buwonq Keling, J l . Sultan Agung/Bengawan Solo, J l , Tirto Wiyono/Pelabuhan,
J l . RM:' Suiyo, J l . Marsda. Adisucipto, J l . Majjend. Sutoyo, J l . mentoro-
gunungsari, dsb. Lebih lengkapnya dapat dilihat d i tabel fungsi j a l a n .
Perlu dipahami bahwa j a l a n lokal primer didesain berdasarkan kecepatan
rencana paling rendah 20 (dua puluh) kilometer per j a m dengan lebar badan jalan
paling sedikit 7,5 (tujuh koma lima) meter.

• J a l a n lingkungan primer
Jalan lingkungan primer adalah jalan yang menghubungkan antarpusat kegiatan
di dalam kawasan perdesaan dan jalan d i dalam lingkungan kawasan perdesaan.
---'^^^^jtqngiapTiyarq^^ dilihat d i tabel fungsi j a l a n .

SKPUl Baaian teiUit:


1 1 V-4
mtmpzmpmANimmeN PAPUAN

Selanjutnya, jalan Imgkungan primer didesain berdasarkan kecepatan rencana


paling rendah 15 (lima belas) kilometer per j a m dengan lebar badan jalan paling
sedikit 6,5 (enam koma lima) meter. Persyaratan teknis jalan lingkungan primer
tersebut diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda tiga atau lebih. Adapun
Jalan lingkungan primer yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan bermotor
beroda tiga atau lebih harus mempunyai lebar badan jalan paling sedikit 3,5 (tiga
koma lima) meter.

J a l a n arteri sekunder
Jalan arteri sekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan primer
dengan kawasan sekunder kesatu, kawasan sekunder kesatu dengan kawasan
sekunder kesatu, atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder
kedua.. Lebih lengkapnya dapat dilihat d i tabel fungsi j a l a n . "'4S.
4 0 M.
Lebih lanjut, j a l a n arteri sekunder didesain berdasarkan; kecepatan rencana
paling rendah 30 (tiga puluh) kilometer per j a m dengan lebar badan jalan paling
sedikit 11 (sebelas) meter. Jalan arteri sekunder mempunyai kapasitas yarig lebih
besar daripada volume lalu lintas rata-rata. Pada jalan' arteri sekunder lalu lintas
cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat. Persiihpangan sebidang pada
jalan arteri sekunder dengan pengaturan tertentu harus dapat memenuhi
ketentuan. -X-x n Js
¥
Jalan kolektor sekonder Mx
IX. • '•i'.-p
Jalan kolektor sekunder adalah jalan'yang menghubungkan kawasan sekunder
kedua dengan kawasan sekuriderkedua atau kawasan sekunder kedua dengan
kawasan sekunder ketiga.VYang termasuk jalan kolektor sekunder antara lain J L
Letjend. R. Suprapto,^dsb. Lebih lerigkapnya dapat dilihat d i tabel fungsi j a l a n .
M M
Pada prinsipnya, jalan kolektor sekunder didesain berdasarkan kecepatan
rencana paling rendah 20 (dua puluh) kilometer per j a m dengan lebar badan jalan
paling sedikit 9 (semtiilan) meter, Jalan kolektor sekunder mempunyai kapasitas
yang lebitfibesar; daripada volume lalu lintas rata-rata. Pada jalan kolektor
sekunder lalu ^lintas cepat tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lambat.
Persimpangan 'sebidang pada jalan kolektor sekunder dengan pengaturan
....tertentu hains'memenuhi ketentuan.
iM MM M
^ J a l a n lokal seknnder
"*?Jalari''iokal s'ekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan sekunder
kesatu ^dengan perumahan, kawasan sekunder kedua dengan perumahan,
kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan. Yang termasuk
jalan lokal sekunder antara lain J l . R. Saleh, J l . Letjend. S. Parman, J l . Kapt.
Pierre Tendean, J l . Veteran, J L Dr. Sutomo, JL R Dewi Saitika, J l . P. Diponegoro,
J l . T. Imam Bonjol, J l . Dr. Wahidin, J l . SA. Tirtoyoso, dsb. Lebih lengkapnya dapat
dUihat d i tabel fungsi j a l a n .
Perlu dipahami bahwa Jalan lokal sekunder didesain berdasarkan kecepatan
rencana paling rendah 10 (sepuluh) kilometer per j a m dengan lebar badan jalan
paling sedikit 7,5 (tujuh koma lima) meter.
Jalanlingknngan seknnder
^a&mrSnftttt^gaw"'^ ekunder adalah menghubungkan antarpersil dalam kawasan
•.^ .. -„Ji?^£QtQ^- -'g™^dengkapnya dapat dilihat d i tabel fungsi jalan. Yang termasuk
SKPO/ Bagian Terkai::
1., V-5
2.
mtmpzm PAPUAN mxrneN PAPUAN

jalan lingkungan sekunder antara lain J l . Blibing-ngledok-sumberharjo, J l .


Satren-widoro-bali Ds, nanggungan, J l . Krajan I I (sedeng) - bangunsari (fambu),
dsb

Selanjutnya, jalan lingkungan sekunder didesain berdasarkan kecepatan rencana


paling rendah 1 0 (sepuluh) kilometer per j a m dengan lebar badan jalan paling
sedikit 6 , 5 (enam koma lima) meter. Persyaratan teknis jalan lingkungan
sekunder tersebut diperuntukkan bagi kendaraan bermotor beroda 3 (tiga) atau
lebih. Adapun j a l a n lingkungan sekunder yang tidak diperuntukkan bagi
kendaraan bermotor beroda 3 (tiga) atau lebih harus mempunyai lebar badan
jalan paling sedikit 3 , 5 (tiga koma lima) meter.

Tabel 5. 1 Fimgsi J a l a n
Ham a IZnaa JAP JKP .n.p .TT.tntf P JA4 JKR
mJ flLA
Glon^ons - Bts. Kota Pacitan V
J l . W.R. Supratman V .'\ •'>',.•'•

J l . Gatot Subroto V
m t^^Aff I~1TOTO'*TO 1—*. • fl 1 fM t 1
V V F FT .F
Bts. Kota Pacitan - Bts. Kab. Tren^alek
Il T fi T'OTOTO TO V
V .iy-,J
I fTO- t _ 1 l _ '
JMaRhnbi
l . Jend. Sudirman " ••

Ploso - Pacitan - Hadiwamo V - -'ff'f . t '

J l . Basuki Rahmat
J l . Tentara Pelajar
V
V ..
Letjend. R. Suprapto 'vV
Jend. A. Yani V y.
A.Insp. Sasuit Tubun V — 0 .
Kom. Yos Sudarso
1TOA ' fi A

Letjend. MT. Haryono


I T TO
V
R. Ssuen V
KH. A ^ s Salim V
KA. Posong ^V
Letjend. S. Parman ..^y.^- yL'-C:. V
Kapt. P. Tendean U V
Veteran '7- V
Dr. Sutomo V
KoL Sugiyono K V
R. Dewi Sartika ./ X '•yy. V
P. Diponegoro ^ Y^ = V
T. Imam Bonjol 'X. /a V
Dr. Wahidin .-y V
S.A. Tirtoyoso • ' ' ' V
KH. Wakid Hasim V
Cut Meutea y-y « ' •4-' V
AR, Hakim "X<K, Yi,., ^-JK\y- V
GajahMada ~Y>- X J F V
JA. Suprapto '-'FY V
Mayjend Sungkono "F • £ V
KA. Petung^- '£ V
KA. Buwono Keling« V
Kapten Patimura - : ' V
HOS. Cokroaminoto V
H. Saman Hudi V
RA. Kartini V
K. Umar V
AES. Nasution V
Slamet Riyadi V
Ronggowarsito V
Kanjeng Jimat V
KH. Dimyati V
Urip Sumoharjo V
Pemuda V
Sultan Agung / Bengawan Solo V
H. Rasuna Said
DI. Panjaitan V
V
Parjf Hierarki
V
V

SKPO/ Jsgian TEikalt:


Asisten V-6
1.

t
Kabag 2.,
3.
m^bMPzmpmm immm pmm

Nama Ruas JAP JKP JLP JLlng.P JA3 JKS JLS JLlng.S
Tirto Wiyono / Pelabuhan V
Pramuka V
Teleng Fha I V
Sultan Hasanudin V
KH. Ahmad Dahlan V
RM. Suryo V
Teleng Ria 11 V
Cut Nyak Din V
Walanda Maramis V
RE. Martadinata V
Dr. G S S J . Ratulangi V
Dr. Saharjo. SH V
Marsda. Adi Sucipto V
Kusuma Admaja V
1ICI01 am naaa^a a V
MavienH RiitYWO V —

ivmy i^iiift. t—'ui.\jy*j


Bangunsari-Ngadirejan/Ranuwiiaya V
ilifliiU./iU ,;uilU11,;3ai i V it
aimnhrTVrt * nliimhiinpy^Ti V *;.
oil liULAl Y V * sfrtpnc
ftiHnhartA I..11^1111/U i 1,:C111 - V.'
olMNli ICU fyJ -a^u^fii)^
bangunsari sidoharjo ...
V
glin^^angan - sambong V
iati /^aniiTYil - mpntTirn ^V
%- - •
ICIL-I \ ,:ci l^ui aJ}^1.11lii%f1lu.ll
llaciaiK/av yj
L uuaf%.i:oillcloJ .'u
J •; •=v-.. V
menadi/ ariowinangun
jZ r'-'j.
simoboyo(sltn SD) - sukoharjo (jemb.) V
masjid pager - simoboyo • Nr'- V
blimbing - ngledok - sumberharjo 4Zk •L V
satrean - widoro - balai Ds. 'vjY % ,"i_ V
Nang^ngan il •F
krajan II (sedeng - bangunsari (jambu) V
bengkej - PLN - widoro - seunbong », V
Jalan Iain yang menghubungkan secara %X~.
"7
berdaya guna antarpusat kegiatan
V i 7i X #
nasional atau antara pusat kegiatan,;;""f^ t
nasional dengan pusat kegiatan wilayah S .A
Jalan lain yang menghubungkan secara *s;*
berdaya guna antara pusat k e ^ t a n " f Xi
nasioned dengan pusat kegiatan lokal, VV
antarpusat kegiatan wilayah,'atau -JJ
antara pusat kegiatan wilayah dengan
pusat kegiatan lokal - ''7 4Y 0
Jalan lain yang menghubungkan secara
berdaya guna pusat kegiatan nasional
dengan pusat kegiatan lihgkungaji;.
pusat kegiatan wilayah dengan pusat
kegiatan Imgkungan, antarpusat ' V
kegiatan lokal, atau pusat kegiatan
lokal dengan pusat kegiatan
lihgkungan„ serta antarpusat kegiatan
linglcungari '•' .T:-, '7-7
Jalan lain yang menghubungkan
antarpusat kegiatan di dalam kawasan
V
peitlesaan dan jalan di dalam
lingkungan kawasan perdesaan
Jalan lain yang menghubungkan
kawasan primer dengan kawasan
sekunder kesatu, kawasan sekunder
V
kesatu dengEin kawasan sekunder
kesatu, atau kawasan sekunder kesatu
dengan kawasan sekunder kedua
Jalan lain yang menghubungkan
kawasan sekunder kedua dengan
kawasan sekunder kedua atau kawasan V
sekunder kedua dengan kawasan
sekunder ketiga
Jalan lain yang menghubungkan
kawasan sekunder kesatu/ kedua/ V
ketiga dan seterusnya sampai ke
Paraf Hifirarki

r
n antar V
Sekda

Asistsn SKPO/fijgia.T Terkait


1 1 V-7
Kabag 2._
Nama Raaa JAP JKP JLP JLlll£.P JAS JKS JLS
Ket:
JAP: jalan eirteri primer
JKP: jalan kolektor primer
JLP: jalan lokal primer
JUng.P; jalan lingkungan primer
JAS: jalan arteri sekunder
J K S : jalsin kolektor sekunder
J L S : jalan lokal sekunder
JLing.S: jalan lingkungan sekunder
Sumber: Hasil Rencana, 2016

5) peningkatan konstruksi dan dimensi Jaringan Jalan


Dalam Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006 tentang Jalan, dijelaskan bahwa
bagian-bagian jalan meliputi ruang manfaat jalan (Rumaja), ruang milik jalan
(Rumija), dan ruang pengawasan jalan (Ruwasja). Ruang manfaat jalan meliputi
badan j a l a n , saluran tepi jalan, d a n ambang pengamannya., Ruang milik j a l a n
meliputi ruang manfaat jalan dan sejalur tanah tertentu d i luar riiang manfaat jalan.
Ruang pengawasan jalan merupakan ruang tertentu d i luar ruang milik jalan yang
ada d i bawah pengawasan penyelenggara jalan. Berdasarkan.keterituan tersebut,
maka bagian-bagian j a l a n dapat digambarkan sebagai berikut. V>

Gambar 5. 1 Bagian Jalan ' M

6 m

U J(-
rt . a_ ; >j

• R u a n g m a n f a a t j a l a n (Rumaja) ' Ruang pengawasan jalan (Ruwasja)


' R u a n g m i l i k j a l a n (Rumija) l'"-"-"-~-1 = B a n g u n a n

& - jalur lalu lintas d - ambang pengaman


b - bohu jalan x - b+a+b - badan jalan
c " saluran tepi

Arahari lebarTiadan j a l a n , rumaja, rumija, dan ruwasja dapat dilihat pada Tabel
Rumaja, Rumija dan Ruwasja berikut:

No •'• y KribufJalan Bsdan J s l a a Ronuja RomJJa Rawssis


1 Jalan Arteri Primer 11-18 13-38 15-25 15
2 Jalan Kolektor Primer 9-18 13-38 15-25 10
3 Jalan Lokal Primer 7,5 8,5-38 11-25 7
4 JalEin Lingkungan Primer 3,5 - 6,5 8.5 - 38 11-25 5
5 Jalan Arteri Sekunder 11-18 13-38 15-25 15
6 Jalan Kolektor Sekunder 9-18 13-38 15-25 5
7 Jalan Lokal Sekunder 7,5 8.5 - 38 11-25 3
8 Jalan Lingkungan Sekunder 3,5-6,5 8.5-38 11-25 2
Sumber : Hasil Rencana, 2016

\ Parsf HiEravki Par;>( S<.r;c-r!l;-a':i


SKPD/Baoisn FtmrA{:rz3
Sekda

SK?C,' asgia.T Tai ftaiu


Asistan
V-8
K2bag 7
Hykun
U n t u k konsep-konsep ruas jalan utama d i BWP Pacitan ditunjukkan sebagai berikut:
KOimGURASI BADAN JALAN PADA JALAH RATATANQ DILENGKAn JALUR LAUBAT

*4—w-tsa:s*7*=^-tsr:

^1 1 I

Gambar 5. 2 Konsep Dimensi Jalan Raya yang Dilengkapi Jalur Lambat


KONTIGURASI BADAN JALAN PAUHG KECU, PADA JAIAN SEDANG

vKCMiMus M U M r«UM n o t
u U J m U M MTOi M a M m M M M U M n c K

jHHfl,MW.VW*l_

TMM MMa

,iMM"toa.*.M „

MMTM r
M<v« M a fflm *.•• I
K « M airrmKMffmamf
• M r M M ,aNa paMf Mtil L M M N r
M M ILM • M M aMfM M M MMa>sM
a w M * M M * * M M V W M r M ' M M M l . MI
•MCf MM*^,«tt*f m a * M M O r a i u n M* *•***>•*• |ai^a^*f

M M , M « » • !•»•• • • * • • ; • — , « , — M t M M »«— •MMM I


/•Ml fmm§ M M l.*« M M * f
Mrr«UMr »**•*•.*• M M - .
»f1M fMf * l f **** MifM

Gambar 5; 3 Konsep Dimensi Jalan Sedang dengan Fungsi Arteri dan Kolektor
X'-'-i Y.-=-;-. V'.,
< 0 'M

M^ Mm
'XCK' "'is
•iY 4,
0': -/tl

V-9
mitmpzPiu>pmANimm€N PAPUAN

KONFIGURASI BAl>AN JALAH PAUHO KECIL PADA JALAN KECIL

t M T M * JMLAS KBCn. T A M S M T M t O M M M
n n u u r Mi,>ui xxca M U M KHCB,

~Lxjv» tkiM IOTAS -riAwa iAurlOTAl~

TAHMMAIUI TAAAXDASAA

10? 27? 100

.Xn/UI USUUIJALUL.

CATATAV1 C A TA tA S :
-• r***-! * " - " '^-•—f—j-j-'— •--^' ff f f .
M w t a S a f l u f rftywtsiai Aafa*9»rh*mmm l i r / i i u A i , mtn

Gambar 5. 4 Konsep Dimensi Jalan Kecil dengan Fungsi Arteri, Kolektor, Lokal
KOHFIGURASI BADAN JALAN PALING KECIL PADA JALAN LINGKUNGAN

D A U U t B S T A M J A H I K U a JALAX SAKDHOAH AASA KOHPIM


K X U r A n KXyPAAAAM aODA 3 A T A O L E K B KXTSHSATASAX LABAX. BABU JALAX DATAY DIXOAT THOTOAX

nniRAi M u i Q n c a J A U S i z c i i
miAA PAlOra HXCn. J A I A A K A C I L B A A T H O T O A A

lAlAH HASAX JAIAA PALOrD IXCIt a «.U>

AJLHU JALUH LALU L U T A l lAST JAitnuAlu tnrtAA i TPITOA .

TAZAHDASAH

m 5 5/
I

CATATAX: CATATAX:
kvKfigwal paOttf k*e{l dari BaMttJatan tardiri dari marka trotaoT tardiri dari JcanaS dan. Itxntxd tntaargaing diparktras
y g t i Upi (mmwMatdsxamJbahpdriurtaenfcirpaauii/WTta nm^fwnakait p4ikw maw y o n ^ mtnadai sasuot pddamm
f r f c a m s t t i i tidak hmfiMnuii\fi. PWAbsAMii t T M o o r y a n y fcarioAA. P a a m Irwtaar ifaput Jisabatoh
kafiun (saparvE fttMAor d i • tailtflM b a l o h fcvi.

P a d a l a t a r tadon/cicM yen# i
p a d a diM s i s i >aiaA,
tadaf. traCoor dapat dilanfkapi
Gambar 5. 5 Konsep Dimensi Jalan Kecil dengan Fungsi Lingkungan

Paraf Hierarki , Parsf Koordinasi i

SKPO/ Bagian Pemrakarsa


Sekda

SKPD/ Bagian laikalt:


Asisten
V-10
7
i Ksbsg
mtmPzmPAcuANimmeN PAP

KONHGURASI BADAN JALAN PALING KECIL PADA JALAN LINGKUNGAN


JAUJI KgCIL UXOITXaAK TAXO XXtATAn
MUAT A n BAJTA KIXOAHAAM BAATA KnmABAA* •KUIOTOa BOOA 3
B t m c m i H BOOA 3 IlKPIOA MOTOKJ ( U r U A XOTOS). FASA KOXDUI UHA>
TAX9 TUtBATAI BABV JALAX DAPAT
DIPAXAt TBOTOAH

noauji PAioKmatJAuumffUA MORM OKUIIAJIPAUXO n c n . JALAX MROA MOTOK

L u U A K U A X JJUJUl rUfD^ LAIAK XAOAX JAIAX PALOrO


n O L a a A O
>BaLaa.to
.*AK9 JALCRiAUf AAXT; JALntAlS
lUT"
j — u r c u

11
is
5.

V' y)

It" 1» 130 nti 1 K

Gambar 5. 6 Konsep Dimensi Jalan Kecil dengan Fungsi Lingkungan (sepeda motor)

.•(•''•L-iZia
5.1.1.2 Sistem jaringan pedestrian, jalur kendaraan tidak bermotor dan
parkir ' ? 4 0

Pengembangan sistem jaringan pedestrian dilaksanakan pada setiap fungsi jalan d i setiap
zona. Dengan demikian, pada'masa. mendatang setiap ruas j a l a n diharapkan memiliki
j a l u r pedestrian. J a l u r pedestrian i n i dapat berupa trotoar yang berada d i sisi badan jalan.
Dapat pula berfungsi sebagai penutup salurdn air/jaringan drainase. Terkait dengan
pedestrian d a n laluf,lirita£>^di zonaVpadat seperti pada ruas j a l a n d i pendidikan,
perdagangan dan ?jasa ; perkantoran diperlukan penanda berupa zona aman. Hal i n i
dimaksudkan u n t u k meningkatkan keselamatan pejalan k a k i dan pengendara kendaraan.
Beberapa ruas yang perlu mendapat prioritas penanda zona keselamatan antara lain pada
ruas J l . A : Yani dan J l . Letjen Suprapto (banyak terdapat sarana pendidikan, kesehatan
dan perkantoran), ruas JL'Gatot Subroto (banyak terdapat perdagangan dan jasa).

Gambar 5. 7 Ilustrasi Jalur Pedestrian dan Zona Aman


jiicmBs»i Paraf Kncrd;n,-.r*i

ScVda SKPD/ Bagiati f'€mrai.3/£a j ^ y ^

SKPD/ Bagion Tarksi*.:


Asisten V-11

f
1
Kabag 7

Hi.i'(i|i"n 3.
Pengembangan j a l u r kendaraan tidak bermotor terutama pada zona RTH, zona
perumahan, zona perdagangan dan jasa, zona perkantoran, zona industri, zona sarana
pelayanan u m u m dan sub zona pariwisata. J a l u r kendaraan tidak bermotor i n i dapat
memanfaatkan badan j a l a n yang diberi penanda khusus u n t u k lajur kendaraan tidak
bermotor dan dapat pula berupa lajur tersendiri pada bahu jalan yang diperkeras yang
diberikan pembatas fisik dengan j a l u r kendaraan bermotor. Sebagai contoh, pada ruas J l .
A. Yani diprioritaskan adanya lajur sepeda karena pada ruas j a l a n i n i banyak terdapat
fasilitas pendidikan dasar dan menengah dimana j u m l a h pengguna sepeda cukup tinggi.
Begitu pula d i seputar alun-alun yang menjadi salah satu landmark Pacitan.

£• i.

'''•-iY-

Gambar 5. 8 Ilustrasi Jalur Kendaraan Tidak Bermotor

Parkir dilaksanakan dengan pengaturan pakir. d i dalam r u a n g m i l i k jalan dan d i luar


ruang milik jalan, yaitu: • VV%N> •

'iY Xj^_
O fasilitas parkir d i dalam ruang, m i l i k ' j a l a n ; hanya riapat diselenggarakan d i tempat
tertentu pada j a l a n kabupaten!" j a l a n desa; ataU j a l a n kota yang harus dinyatakan
dengan Rambu Lalu Lintas dan/atau Marka Jalan dan paling sedikit memiliki 2 (dua)
lajur per arah u n t u k jalan kabupaten/kota dan memiliki 2 (dua) lajur u n t u k jalan
desa, diarahkan pada nias J l . Raden Saleh, J L R.M. Suiyo, J l . M.T. Haryono, J l . Dewi
Sartika, J l . R ! A Kartini;] J l . Diporiegoro, J L Imam Bonjol, J l , K. Umar, J l .
Ronggowarsito, Jl.iD.L Panjaitan, J l . Samanhudi, JL H.O.S. Cokroaminoto, J l . Letjend.
S. Paiman,\Jl;-Brigiend. Katamso, J l . R.E. Martadinata, J l , Cut Meutia, J l . K.H. Wahid
Hasyira, J l . Hasyim Ashari, dan ruas jalan lain yang memungkinkan.
'1 - i L - • 'X.--N

O fasilitas parkir di luar ruang milik jalan dapat berupa taman parkir dan/atau gedung
parkir uL-. " '^c "\
5.1.1.3 Sistem terminal
Pengembangan sistem terminal dilakukan melalui pengembangan terminal penumpang
dan sub terminal penumpang, halte, terminal barang.

S> Terminal penumpang dan sub terminal penumpang dikembangkan dengan revitalisasi,
perluasan, dan/atau pembangunan d i lokasi baru yang strategis. Terminal
penumpang yang ada saat i n i berfungsi u n t u k pangkalan bus antar kota antar provinsi
dan antar kota dalam provinsi dan lokasinya berada d i perbatasan Kelurahan
Baleharjo d a n Ploso. Guna mendukung kelancaran sistem transportasi, lokasi
Terminal tipe A ditempatkan pada lokasi terminal yang ada saat i n i , dengan cara
mengembangkan dan memperluas lokasi yang sudah ada saat i n i . Disamping i t u juga
•^^'Hu f d i b u a t t o i i ialiiiiajlses altematif agar sirkulasi masuk-keluar yang terjadi tidak
cadangan pengembangan terminal d i masa yang akan datang
SKPC/'Bagfcntifi'.si
V-12

3.
mKmpzm PmAN immeN PAPUAN

dapat diarahkan pada lokasi d i sekitar Jalan Lintas Selatan. Adapun sub terminal
penumpang berada d i Desa Aijowinangun tempat pangkalan angkutan antar kota
kecamatan dan perdesaan sehingga sub terminal dapat berfungsi melayani kendaraan
u m u m u n t u k angkutan antar kota kecamatan dan perdesaan.

O U n t u k memudahkan dan mengatur pergerakan, dikembangkan pula halte pada lokasi


yang strategis. Halte i n i berfungsi sebagai tempat menaikkan dan menurunkan
penumpang bagi angkutan u m u m khususnya angkutan u m u m perkotaan dan
angkutan u m u m perdesaan.

O Disamping i t u , j u g a dilakukan pembangunan terminal barang pada sekitar j a l a n lintas


selatan, j a l a n lingkar kota dan/atau jalan arteri/kolektor primer. Hal i n i penting
karena dengan adanya jalan lintas selatan dan pelabuhan membutuhkan lahan u n t u k
tempat parkir dan istirahat bagi kendaraan angkutan barang. _ "X
• -1.1 .".

O Sebagai tambahan, diperleukan pula penyediaan dan pembangunan sarana angkutan


jalan dikembangkan sesuai kebutuhan. « ^ " ^

5.1.1.4 Sistem angkutan umum M


Sistem angkutan darat dikembangkan dengan pengembangan angkutan penumpang
(antar kota antar provinsi, antar kota dalam provinsi,¥perdesaan, dan perkotaan);
pengaturan sirkulasi angkutan barang; dan pengembangan j a l u r khusus kendaraan tidak
bermotor. ^ Xj x

I) Angkutan Penumpang Jxiy. \¥ %


X-,•.^•'1,, :ff "w^ >^ -i^k:

Dengan adanya rencana pengembanganrtrahsportasi darat, udara dan laut, maka


angutan penumpang j u g a akan dikembangkan. pada ketiga sektor tersebut.
M ' M
Tersedianya sarana angkutan penumpang yang memadai d a n menjangkau seluruh
wilayah perkotaan merupakan bagian dari sistem transportasi. J a l u r angkutan
penumpang yang tida d i BWP Pacitan selama i n i berada pada j a l u r Pacitan- Ponorogo
dan Padtan -/Solo y a i t u Jalan Gatot Subroto, yaitu dengan moda angkutan u m u m
bus antar kota dalam provinsi dan bus antar kota antar provinsi. Sedangkan u n t u k
menjangkau; daerah pinggiran kota dan luar wilayah BWP Pacitan menggunakan
angkutan pedesaariVdan cyek. Hal tersebut dlkarenakan ojek merupakan moda
transportasi utama'.yang digunakan penduduk d i BWP Padtan, karena dapat
^menjangkauVke^selurUh pelosok dan daerah terpendl atau karena keterbatasan
ahgkutarrperdesaan yang tidak menjangkau seluruh kawasan.

Arahan,pengembangan angkutan u m u m adalah terlayaninya seluruh wilayah BWP


Pacitan" oleh/jalur angkutan u m u m baik antar kota dalam provinsi dan antar kota
antar provinsi j u g a antar kawasan kota dapat dilayani oleh terminal Kota Padtan
sedangkan u n t u k antar kecamatan dan perdesaan dilayani oleh sub terminal d i desa
Aijowinangun.

Sistem angkutan penumpang darat dikembangkan dengan pengembangan angkutan


antar kota antar provinsi, antar kota dalam provinsi, perdesaan, dan perkotaan.

o Pengembangan Angkutan U m u m Antar Kota Antar Provinsi meliputi Pacitan -


Solo, Padtan - Yogyakarta, Pacitan - Semarang, Pacitan - Jakarta, Pacitan -
Bandung. Pacitan - Sumatera (Lampung, Bengkulu, Padang, Pekanbaru, Dumal
•^5ih"i1<6fftlil^§rig"*?trategis sesuai kebutuhan), Pacitan - Bali (Denpasar dan kota
SKPD/ eai^rfsryah^a^q^feii^ sesuai kebutuhan), Pacitan - Lombok (Pacitan - Bima,
•j^aarriij.i LiiVjaTOSAscsa-
£KF'i);Sasia/iTfefliSit:
1 1 V-13
2
Mataram dan kota lain yang strategis sesuai kebutuhan) dan kota lain yang
strategis sesuai kebutuhan.

Pengembangan Angkutan U m u m Antar Kota Dalam Provinsi meliputi Pacitan -


Ponorogo - Madiun, Pacitan - Surabaya, Pacitan -Malang, Pacitan - Banyuwangi
dan kota lain yang strategis sesuai kebutuhan.

Pengembangan Angkutan U m u m Perdesaan meliputi:

• pemantapan Angkutan U m u m antar kecamatEui yang telah ada;

• pengembangan Angkutan Perintis Pacitan - Ngadirojo - Sudimoro melalui


Jalan Lintas Selatan;

• pengembangan Angkutan Perintis menuju obyek wisata diluar BWP;

• pengembangan Angkutan Perintis menuju kawasan lain yang strategis sesuai


kebutuhan. M-

Pengembangan Angkutan U m u m Perkotaan meliputir^x':.. x. " 'J-

• pengembangan angkutan u m u m melalul> j a l a n kolekton; danV/jalan lokal


dan/atau melalui jalan lain yang terdapat zona RTH; zoha perumahan, zona
perdagangan dan jasa, zona perkantoran, zona sarana pelayanan u m u m ,
zona lainnya, zona khusus. y , ;^-^ '-7.
it "%z M
• pengembangan angkutan u m u n i penghubung terminal/sub terminal, bandar
udara dan pelabuhan. Vfe. K
Sistem angkutan udara dikembangkan dengari^penyediaan pesawat terbang menuju
kota Iain sesuai kebutuharii 'Adapuri^sistem'angkutan laut dikembangkan dengan
penyediaan kapal pengangkut dan kapal pesiar menuju kota lain sesuai kebutuhan.
M 0
2) Angkutan Bazang xj^-.^ X i j '4
Angkutan barang d i BWP Pacitan' mempunyai j a l u r - j a l u r pergerakan yang lebih
bebas daripada angkutan; penumpEuig, hal tersebut dlkarenakan angkutan barang
yang ada^jdi wilayahVperencanaan tidak mempunyai trayek khusus j u g a u n t u k
kepentingan khusus. Jenis angkutan barang berdasarkan klasifikasi yang ada, antara
lam:^¥x MMMMh
. "7\. •""^ '"TO-;*;,Y,

, 6> 'Angkutan barang aedang, seperti t r u k biasa.

o¥H Angkutan barang ringan, seperti mobil pick up dan mobil box.
'\ ''\ ~'Pir •' 4--,
";'i
SehubunganVdengan jalan raya yang menghubungkan antara Pacitan dengan
Ponorog6,¥Tfenggaiek, Wonogiri, Solo/Yogyakarta d a n kota-kota lainnya maka
pengembangan sistem angkutan barang yang melewati wilayah perencanaan
diarahkan melalui j a l u r j a l a n arteri primer (JLS) dan j a l a n lingkar kota bila sudah
memasuki BWP Pacitan dan/atau j l a n arteri/kolektor primer. Hal tersebut ditunjang
dengan kondisi serta dimensi j a l a n yang ada saat masih layak u n t u k dilalui kedua
jenis angkutan barang tersebut. Selain i t u pengembangan sistem angkutan barang
diarahkan mempunyai lokasi khusus dalam pembongkaran dan perparkiran (terminal
barang).
Paraf Hierarki / 3) Kendaraan Tidak Bermotor
Sekda
y nniQTn rnngkn rrtf^gjjijflknn sistem transportasi yang ramah lingkungan kendaraan
"sj^pgl^^^^U^tQ^ perkembangannya sebagai salah satu eltematif moda
Asisten SKPO/ Oagian Terkait:
1 1 V-14
Kaaag 2.
3.
mzmtpzmPAcifANmmeN PAPUAN

kendaraan bagi masyarakat seperti sepeda, becak, dokar, dsb. Moda I n i difokuskan
u n t u k memenuhi kebutuhan transportasi anak sekolah, aparat pemerintah dan
swasta serta masyarakat pada umumnya. U n t u k i t u diperlukan pengembangan j a l u r
khusus kendaraan tidak bermotor u n t u k meningkatkan kenyamanan terutama pada
zona RTH, zona perumahan, zona perdagangan dan jasa, zona perkantoran, zona
industri, zona sarana pelayanan u m u m , dan sub zona pariwisata.

5.1.2 Jaringan Transportasi Udara


Dalam rangka meningkatkan aksesibilitas melalui j a l u r udara, dilakukan pengembangan
bandar udara d i Sub BWP D, y a i t u pada Blok D l , dilakukan dengan memperhatikan
radius keselamatan pada kawasan d i sekitamya, Lokasi bandar udara i n i adalah
optimalisasi bandar udara eksisting yang merupakan bagian dari zona k h u sus pertahanan
keamanan (bandar udara milik angkatan udara). Bandar udara dikembangkan u n t u k
mendukung mobilitas orang, barang, kepentingan militer, klimatologi.;^dan fungsi lain
sesuai kebutuhan. Sistem angkutan udara dikembangkan .dengan penyediaan pesawat
terbang menuju kota lain sesuai kebutuhan. ^ ¥;,

5.1.3 Jaringan Transportasi Laut MM M MM


M M^ Vi
Dalam rangka mengoptimalkan potensi perikanan, kelautan, pariwisata, transportasi,
serta u n t u k pengamanan wilayah selatan, dibangun pelabuhan d i Sub BWP C yaitu pada
Blok C (Desa Kembang Teluk Pacitan) yarig berbatasan langsung dengan Samudera
Indonesia. Adanya pelabuhan i n i akan^ menjadi . salah satu altematif transportasi dalam
skala regional dan nasional serta mendukung pengembangan kepariwisataan, khususnya
dalam mengeksploitasi potensi Samudera^lridonesiaVserta sarana transportasi niaga.
Sistem angkutan laut dikembangkan, dengan,*penyediaan kapal pengangkut dan kapal
pesiar menuju kota lain sesuai kebutdhan. ~

4 4'-pi

5.2 Rencana Pengembangan Jaringan Energi dan


Keiistrikan
Usaha-usaha pengembangan listrik d i BWP Pacitan adalah sebagai berikut:
V '' VVs.
O Penyediaan:, listrik darii pembangkit listrik yang disalurkan melalui SUTT, SUTM dan
SqTR;¥ .
7s J:LJ^. 7 0
S'K S'''r' 7-
O Menselaraskan usaha-usaha pelayanan listrik dengan pengembangan zona/sub zona;
"0 V
D Pengaturan sistem distribusi;
¥'
O Meningkatkan daya dengan pengembangan kapasitas gardu i n d u k dan penambahan
trafo-trafo distribusi; dan
O Memberikan pelayanan secara merata pada area yang belum terlayani.
Arahan pengembangan jaringan listrik d i BWP Pacitan berdasarkan kebutuhan tenaga
listrik yang disesuaikan dengan pola pengembangan kota. Kebutuhan m i n i m u m listrik d i
BWP Pacitan 26.583,924 VA dapat dilihat pada Tabel Kebutuhan Listrik.

Dalam rangka pemenuhan bahan bakar minyak u n t u k u m u m , dilakukan optimalisasi


f\ l ^Faraf
H EHisrar'ifi
i ^ i ^y ngsi"SPMj."^^grtelaK^a9ajaan pembangunan SPBU baru sesuai kebutuhan, Disamping

Y
SKPU/ Bagian Psmrsk^rss
Sekda •^_,
"SArji Bagtan T£r:^ait:
l Asislen
1.
V-15
2.,
J Ksbag X
mkmpzmpmANmmfEN PAPUAN

i t u dalam rangka pemenuhan bahan bakar minyak u n t u k nelayan, dilakukan optimalisasi


fungsi SPBN yang telah ada.

Dalam rangka diversifikasi energi, dilakukan pembangunan SPBE, SPBG, infrastruktur


pemanfaatan tenaga surya, tenaga angin, tenaga air (mini hidro, mikro hidro), bio gas dan
bio mass,

O Pembangunan SPBE dan SPBG diprioritaskan pada zona perdagangan dan jasa
dengan memperhatikan keselamatan area sekitamya. Mengingat elpiji dan gas
merupakan komoditas yang memiliki resiko terbakar cukup tinggi, maka keselamatan
terhadap bahaya kebakaran i n i harus menjadi perhatian.

O Pembangunan infrastruktur tenaga suiya dilaksanakan d i seluruh Sub BWP yang


dapat dilengkapi dengan jaringan transmisi dan distribusi. Kondisi cuaca dan iklim
BWP Pacitan yang berada d i daerah tropis dan tepi pantai m e n y e b a b k ^ tenaga suiya
sangat berlimpah. Oleh karena i t u sangat dimungkinkan pengembmigan tenaga surya
i n i sebagai energi altematif yang terbaharukan. *' x 0 ¥ •\

O Pembangunan infrastruktur tenaga angin dilaksanakan di^ seluruh Sub BWP yang
dapat dilengkapi dengan jaringan transmisi dan distribusi. Melimpahhya tenaga angin
j u g a dapat dioptimakan u n t u k dikonversi menjadi energi altematif. Contoh sederhana
adalah dengan pembangunan kincir angin .sebagai alat penghasil listrik.
0'''' "VN 0y:.
O Pembangunan infrastruktur tenaga air (mini hidro/mikro hidro) diprioritaskan pada
Sungai Grindulu, Sungai Sundeng dan^Sungai Serhanten yang dapat dilengkapi
dengan jaringan transmisi dan distribusi.'^ Infrastruktur tenaga air i n i juga perlu
didukung dengan pengaturan alirah- airVagar^debit^dan kecepatan aliran mampu
menunjang fungsinya dengan optimal.^, pjjyj^^
O Pembangunan infrastruktur bio gas^ dan bio mass dilaksanakan d i seluruh Sub BWP
yang dapat dilengkapi dengan jaringan transmisi dan distribusi. Bio gas dan bio mass
merupakan energiVramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan terutama u n t u k
menunjang kebutuhan individu/keluarga.

0 M Mt
'vkx M •%
0.. M 0 0
M s M>i% M
V;. '*¥ ¥i'v;\
V 77

TO J

Paraf Hierarki Paraf Koorvii^'iri


SKPD/ Sagan Pemrakarsa
Sekda

SKFD/ Bagian Terkail:


Azistcn
25 7.
V-16
Keoag
3
Jml Kapllof Bsaar KapUng Sadang KapUng KscU Fsfdagangan Paaflltaa Penetangan Laln-latan
No
TiJinn Deaa/Kal Psnd Jml Jml Jml Kabutnhan Jml Kebutuban A Jaaa Umum Jalan (144 (10%) VA Jumlah
(Jiwa) (Unit) (Unit) (Unit) (40%) VA (30%) VA VA
3 Tahap Bnlrhario 3442 143 186,434 287 258,139 430 193.605 860 638 178 255 271 191,453 6.382 63.818 1.155.I02
ko-n TanjuFiRRari 5037 210 272.835 420 377.772 630 283,329 1.259 933.936 373.574 280.181 9,339 93.394 1.690.424
NfinBRuriilftn 2653 111 143.695 221 198.962 332 149,221 663 491 877 196.751 147.563 4.919 49.188 890.298
Widoro 2185 91 118 406 182 163.947 273 122.960 546 405,314 162.126 121,594 4.053 40.531 733.619
Pacitan 3956 165 214.291 330 296.710 495 222,532 989 733 533 • 293 413 : •', 220.060 7.335 73.353 1.327.693
Pucarmsewti 3802 158 205 927 317 285.130 475 213,847 950 704.904 281.962 -;'-21I.471 7.049 70.490 1.275.876
Banttunsari 5397 225 292,328 450 404.762 675 303 571 1.349 1 000 662 -400 265 300.198 10.007 100.066 1.811.197
Sumbertiario 1739 72 94.172 145 130.392 217 97.794 435 322.358 128 943 • 96.707 3.224 32.236 583.468
AriowinanRiin 4052 169 219.493 338 303.913 507 227.933 1.013 751,341 300.537 •225.402- 7.513 75.134 1.359.928
Menodi 2350 98 127.297 195 176.257 294 132.193 588 435,747 174299 130.724 4.357 43.575 788,701
Simoboyo 5253 219 284.557 438 394.002 657 295.502 1.313 " 974,061 - 389.625 - 292.218 9.741 97.406 1.763,051
Mentoro 3213 134 174.053 268 240,997 402 180,748 803 - - - 595.798 238,319 =-•'178.739 5.958 59.580 1.078.395
Purworeio 2072 86 112.216 173 155,376 259 116,532 518 •-• 384.124 153 650 115.237 3.841 38 412 695 265
Ploso 8161 340 442.081 680 612.112 1.020 459,084 2.040 • •- 1.513.278 -•^ 605 311 - 453 983 15.133 151.328 2.739 033
Sidoharjo 902O 376 488.574 752 675.488 1.127 507.366 2.255 !.672.428 668,971 501.728 16.724 167.243 3.027.095
KembanB 2954 123 160.026 246 221 575 369 166.181 *-739 547.783 '219.113 164.335 5.478 54.778 991.487
SamboitE 1428 59 77.340 119 107 085 178 80.314 357 264.739 105.896 79,422 2.647 26.474 479.178
PonRRok 370 15 20,053 31 27.779 46 20.834 68.676 • 27.470 20.603 687 6.868 124.303
Semanten 1122 47 60.771 93 84.144 140 63,108 280 '.: 208.022 ' 83.209 62.407 2.080 20.802 376.520
JUMLAH 68207 3.842 3.694.859 8.684 8.118.843 8.826 3.836.687 iT.osa 12.646.789 * S.058.7O4 3.794.038 136.468 1.364.676 33.890.634
\
¥
A:. ?•

Jml Kapllng Besar Kapllng Ssdang KapUng KteU f: Jnmlah- Perdagangan raaOItaa Penemngan Laln-lalan
No
Tafana Data/Ksl Fsnd Jml Ksbntuhan Jml Ksbntuhan Jml Ksbatuhan , Jml, ,f>.' Jalan (14(4
(JlwaJ (Unit) (V^ (Unit) (VA) (Unit) (VA) >. (Unltj h ,. Kebutnhan AJaaa (30%) VA VA (10%) VA Jumlah
Tahap •TV
" -
. (VA) (40%) VA
4 ka-ni Balehario 3720 155 201.474 310 278,964 • 209,^23 > 1-'
-'.930 689.662 275,865 206,898 6 897 68.966 1.248.287
TaniunKBBrl 5443 227 294.843 454 408.248 • 680 •••4 306,186 1.361' 1 009,279 403.711 302.784 10.093 100.928 1.826,794
Nansmnsan 2867 119 155.287 239 215,012 -="•358 • - 161.259- 717 531,558 212.623 159,467 5.316 53.156 962.121
Widoro 2362 98 127.959 197 177.173 295 7 132,880 • 591 438,012 175.205 131.404 4.380 43.801 792.801
Pacitan 4275 178 231.578 356 .. 320.646 534 240,485 -'« 1.069 792.709 317.084 237,813 • 7.927 79.271 1.434.803
PucaniiBewu 4108 171 222.540 342 '•^'308.132 514 231.099 1.027 761.770 304.708 228,531 7.618 76.177 1.378,804
Baneunsarl 5832 243 315,91! 486 437.415 729 • 328,061 1,458 1.081,387 432.555 324,416 10.814 108.139 1.957.311
Sumberhario 1879 78 101.769 157 140.91I-, 235 ''-105.683 470 348,363 139.345 104.509 3.484 34.836 630,537
AriowinanEurt 4379 182 237.200 "-365 =^ ' 328,43r 547 246.323 1.095 811.954 324.782 243 586 8.120 81.195 1.469.637
Menadi 2540 106 137.566 212 '190,476 317 142,857 635 470.899 168,360 141.270 4.709 47.090 852.328
Simobovo 5677 237 307.513 473' 425,788 710 319.341 1.419 1.052.641 421,057 315.792 10.526 105.264 1.905.281
Mentoro 3473 145 188.095 s 289 250.439 434 195.329 868 643,863 257.545 193.159 6.439 64.386 1.165,392
Purworeio 2239 93 121.269 • "'IST •/ 167.911 -, 280 125.933 560 415.112 166 045 124.534 4.151 41.511 751.354
FIOBO 8820 367 477.745 •' 73S •".'661.493 .'1,102 496.120 • 2.205 1.635.358 654,143 490.607 16.354 163.536 2.959.998
Sidoharjo 9747 406 •527.989 ••• 812 '731.062 1.218 548,296 2.437 1.807,347 722.939 542.204 18.073 180.735 3.271.298
KembariE 3193 133 172.936 266 y 239.450 399 179.588 798 591.974 236 789 177.592 5.920 59.197 1.071.472
SambonE 1543 64 83.579' 129' 115.724 193 86,793 386 286.096 114,439 83.829 2,861 28.610 517.834
Poneeok 400 •-17 •=21.681 -••-aS" 30.020 50 22.515 100 74.216 29.686 22.265 742 7,422 134.331
Semanten 1212 51 • 65.673 101 90.932 152 68.199 303 224 804 89 922 67.441 2.248 22-480 406.895
JUMLAH 73710 3.071 •- 3.992.608 • h.i*2 •• 8.828.237 9.314 4.146,170 18.427 13.667.005 5.466.S03 4.100.103 136.670 1.366.701 34.737.379
A'-J
AS

V
Jml Kapllng Baaar KapUng Sadang Kapling Kacfl Jumlah Perdagangan PaatUtaa Penerangan Laln-lalan
Ka 1 anun Pend Jml Kabntukaa Jml Kebutuhan Jml Kebutuhan Jml Kebutuban A Jaaa Umum Jalan (1%) (19%) VA Jumlah
fJIwa) (Unit) (VA) (Untt) (VA) (Unit) (VA) (Unit) (VA) (40%) VA (30%) VA VA
1 aoap
5 ka-rv Balehario 3997 167 316,314 333 299.789 500 224 842 999 741,145 296.458 222.344 7,411 74. l i s 1.341.473
TanjiingBari 5850 244 316.856 487 438.723 731 329 043 1462 1,084.622 433 849 325 386 10 846 lOS 462 1 Qr.3 i65
NanRBurtBan 3081 128 I66-B79 257 231.063 385 173.297 770 571.239 228.496 171.372 5.712 57.124 1.033.943
Widoro 2539 106 137.311 212 190.399 317 142.600 635 470.710 188.284 141.213 4.707 47.071 851.984
Pacitan 4594 191 248.863 383 344.583 574 258.437 1,149 851.885 .. 340.754 ., 255.565 a 519 65.188 1.541.912
PucanRacwn 4415 184 239.152 368 331.134 552 248 350 1.104 818.637 327 455 • • 24 5 591 8 186 a I a64 1 481 732
BaoBunsari 6268 261 339 494 522 470 068 783 352 551 1.567 1 162.113 464.845 348.634 11.621 I ]6,2]) 2.103.425
Sumbcrtiario 2019 84 109.366 168 151.430 252 113 572 505 374.369 149,747 ' '112.311 3.744 37,437 677,607
AriowinanBu n 4706 196 254.907 392 352,948 588 264.711 1,176 872,567. 349,027' 261.770 8.726 87.257 1.579.346
Menadi 2729 114 147.835 227 204.695 341 153.521 682 506.053 202 421 • 151.616' S.061 50.605 915.954
Simoboyo 6101 254 330.469 508 457.573 763 343.180 1,525 1.131.221 '. 452 489 339 366 11 312 113 122 2 047 511
Mentoro 3732 155 202.136 311 279,881 466 209.911 933 691,927 276.771 - 207.578 6 919 69 193 1.252.398
Purworejo 2406 loo 130 322 20O 180 445 301 135 334 601 446.101 178.440 133 830 4.461 44 610 807,442
Ploso 9478 395 513.409 790 710,874 I.IS5 533 155 2,370 • 1.757.438 • 702.975 < 527,231 17.574 175,744 3,180.963
Sidoharjo 10475 436 567.404 873 785.636 1,309 589.227 2619' 1.942,266 - 776,906 582-680 19.423 194.227 3.515.501
KerabnnB 3431 143 185.846 286 257.325 429 192.994 •'<858 636.165 '254.465 190,849 6.362 63.616 1.151.458
SambonB 1658 69 89.818 138 124.363 207 93 272 ...... 415- 307.453 122.981 92.236 3 075 30.745 556.491
Ponanok 430 18 23,300 36 32.261 54 24.196- 79.756 31,902 23.927 798 7.976 144,359
Semanten 1303 54 70.576 109 97.720 163 73 290 326 241 586 95 634 72.476 2.416 24.159 437.270
JUMLAH 79312 3.301 4.390,653 6.601 B.940.911 9.»oa 4.43S.6S3 19.B03 14.6S7.251 • S,ST4.900 4.406.175 146.873 1.468.725 36.B83.934
Sumber: HasiZ Rencana, 2016 •7
7. 0
YM % x /3
% " ^ N ¥ . '^-"•'•
0 0

•7s 1 '%.
J J 0

Jj0S
7 0
'0
Yi s-i
7:-
M
'J'K
\ 0
Fff:- MV.. ta
A.4^-'7
•7 KS XX. ^•X.
"''Ks • IB
J4

Y% "*=tY>. E
a>
O.
M 0 0 0 1=
.2
'%7;7 '7^ en m
TO
C
Q
M 0

to

•X \
E:
OTO
'lA r> j*i
JC 'in in
«£
to u : 3^
5.3 Rencana Pengembangan Jaringan Telekomunikasi
Jaringan telekomunikasi yang dikembangkan meliputi jaringan telekomunikasi sistem
terestrial dan menara.

O Jaringan telekomunikasi yang dikembangkan meliputi:

o Pengembangan jaringan terestrial. Yang dimaksud dengan jaringan terestrial


adalah jarmgan mikro digital, serat optik (fiber optic), mikro analog, dan kabel
laut.

o Penataan menara telekomunikasi satelit.

3 U n t u k meningkatkan pelayanan d i wilayah yang belum mendapatkan pelayanan


jaringan telekomunikasi, pemerintah memberi dukungan .dalam"'-pengembangan
jaringan telekomunikasi. •'/ Y / V ,

Penataan lokasi menara diselenggarakan dengan mengendalikan menara yarig telah ada,
membangun menara baru, mengatur posisi penempatan menara,'; serta mengendalikan
pembangunan dan penggunaan menara berdasarkan cell plan. Mengingat sarigat pesatnya
perkembangan teknologi komunikasi d a n inforinatika, perkembangan teknologi
khususnya dalam bidang komunikasi dan informatika u n t u k . 2 0 tahun kedepan sangat
sulit u n t u k diprediksikan. Oleh karena i t u , penataan zona menara akan diatur lebih lanjut
dalam Peraturan Bupati. Adapun arahan u m u m dalam penataan zona menara adalah
sebagai berikut:
' 'Yi.Y.
TO" TO '0 V
O Penataan lokasi menara diselenggarakan dengari;tujuan:

o Memberikan kepastian h u k i i m kepadaTeriyelenggara Telekomunikasi, Penyedia


Menara dan Pengelola Menara dalam mendapatkan lahan dan izin mendirikan
menara; 0
o Memenuhi kebutuhan Penyelenggara Telekomunikasi u n t u k pengembangan
coverage dan kapasitas trafik layanan telekomunikasi;

o Memenuhi kebutuhan masyarakat d i bidang jasa layanan telekomunikasi;


7'-.-'y. 7. 'S"x
o Mendukung kehidupan ekonomi masyarakat dan kegiatan pemerintahan daerah.
. '',N-N- ¥
O Meriam ditempatkan berdasarkan cell plan (zona menara) kecuali menara tertentu.
"•y-i.

o^ Y>Zoha menara adalah area dalam radius tertentu dari cell plan. Zona Menara
adalah area yang diperbolehkan terdapat menara sesuai kriteria teknis yang
ditetapkari.

o Zona menara dapat berupa Sub Zona Menara atau Sub Zona Menara Bebas
Visual. Sub Zona Menara adalah sub zona yang diperbolehkan terdapat menara
tanpa rekayasa teknis. Sub Zona Menara Bebas Visual adalah zona yang
diperbolehkan terdapat menara dengan persyaratan rekayasa teknis dan desain
tertentu sehingga menara tidak terlihat seperti menara.

O Pada zona bebas menara tidak diperbolehkan dibangun Menara Roof Top dengan
ketinggian lebih dari 6 meter atau Menara Green Field. Pada zona bebas menara
layanan telekomunikasi dapat dipenuhi dengan cara penempatan BTS atau antena
Parai Hierarki , tersemJaUKQii-dinasr
SKPD/ Bagian Pemrakarsa
^ . Y ^ E f i t H S a l o k a s i pei^bk igunan menara tidak berlaku u n t u k menara tertentu yaitu:
EKf-C/ ilacjran Terkait:
Asisicn
1 : v-21
Kabag 2.
1 H-kum
o Menara yang digunakan u n t u k keperluan Jaringan Utama; atau

o Menara yang dibangun pada daerah-daerah yang belum mendapatkan layanan


telekomunikasi atau daerah-daerah yang tidak layak secara ekonomis; atau

o Menara yang dibangun pada daerah terpencil dan/atau daerah tertlnggal; atau

o Menara yang digunakan khusus dengan kriteria tersendiri u n t u k keperluan


meteorologi dan geofisika, navigasi, penerbangan, pencarian dan pertolongan
kecelakaan, pertahanan dan keamanan dan sistem peringatan dini bencana.

O Dalam rangka menjamin keselamatan akibat kecelakaan yang ditimbulkan menara,


radius keselamatan ruang d i sekitar menara dihitung 125% (seratus dua p u l u h lima
persen) dari tinggi menara. Radius keselamatan ruang d i sekitar menara sepenuhnya
menjadi tanggung jawab Penyedia Menara dan/atau Pengelola Menara.

O Dalam upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan ruang, menara harus dapat
digunakan secara bersama dengan tetap memperhatikan kesinafnbungan dan
pertumbuhan industri telekomunikasi serta konstruksi, struktur dari 'desairi menara.
Penggunaan menara secara bersama minimal y u n t u X \ 2 (dua) Penyelenggara
Telekomunikasi. M 0. 'V 4
. 7:>. X4
0 'FX 0
O Menara dibangun berdasarkan konstruksi, struktur daii desain tertentu.
o Konstruksi menara diklasifikasikan menjadi 2 (dua) yaitu Menara Green Field dan
Menara Roof Top. Menara Green Field adalah menara yang didirikan d i atas
tanah. Menara Roof Top adalah menara yang d i d i r i k ^ d i atas bangunan.
MM '0'.. ...0
o Struktur menara diklasifdmsikan menjadi 3;(tjga) yaitu Menara Mandiri (Self
Supporting Tower), Menara],Tunggaiy(Mdriopole Tower) dan Menara Teregang
(Guyed Tower). Menara^Maridiri (Self Supporting Tower) adalah menara yang
memiliki pola batang yang disusun dan disambung sehingga membentuk rangka
yang berdiri sendiri tanpa adanya sokongan lainnya, dapat didirikan d i atas tanah
maupun d i atas bangunan. Menara Tunggal (Monopole Tower) adalah menara
yang bangurianriya berbentuk tunggal tanpa adanya simpul-simpul rangka yang
mengikat.satu .sama lain, dapat didirikan d i atas tanah tetapi tidak dapat
didirikan d i atas bangunan. Menara Teregang (Guyed Tower) adalah menarayang
.^vj beriiiri dengan diperkuat kabel-kabel yang diangkurkan pada landasan tanah dan
M disusun atas pola batang yang memiliki dimensi batang lebih kecil dari menara
^^^^man'diri, dapat didirikan d i atas tanah m a u p u n d i atas bangunan.
o Desain menara diklasifikasikan menjadi dua yaitu Menara Kamuflase dan
Menara>*Non Kamuflase. Menara Kamuflase adalah menara dengan desain
tertentu u n t u k diselaraskan dengan lingkungan sekitamya.
O Lokasi yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan u n t u k pembangunan menara
telekomunikasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Paraf Koordinasi
SKPOf Bagian Pemrakarsa

V-23
1
2
mzmpzm PAPUAN mumeN pmm

Tabel 5 . 4 Ketentuan Lokasi Penempatan Menara Telekomunikasi


M Konstznksl Manaxa struktur Heaani
o Funcii Kawasan Diatas Diatas Katonuigan
Mauura Tasah BCandizl Tunggal Ter^puag
KAWASAN UNDUHG
A • Kawasan Hutan Lindunq V V
B Zona Perlindungan Setempat
_
• Sempadan Pantai
• Sempadan Sungai
• Kawasan Sekitar Mata Air
— ;
c Zona RTH Kota (termasuk 4 J — -.

4%&IA l%v%a 1 Ul%i ¥ ¥ Kecuali untuk


didalamnya Hutan Kota) RTH h ^ n i n a
taman skala
RT, RW
KAWASAN BUDIDAYA kel./desa, kec.
D Zona Hutan Rakyat •J V 4
E Zona Hutan Produksi
• Kawasan Hutan Produksi V , V 4 "NX V
Terbatas
• Kawasan Hutan Produksi V V 4
Tetap " Vf As Vy
*VTO.,/.J-,
* Kawasan Hutan yang V •J
dapat Dikonversi
F Zona Pertanian * •-

• Kawasan Pertanian Lahan - M 4%


•'4.''
V
Basah •= Y'l •=
V V J -V••- y
• Kawasan Pertanian Tjihan V V V
Kering '' A-
• Kawasan Pertanian Pangsin V
M V\'
Berkelanjutan
• Kawasan Tanaman i: • V..r. V
Tahunan/ Perkebunan
• Kawasan Petemakan •J¥x J;
G Zona Perikanan • >,.TO- "^i •

• Kawasan Peruntukan >/ 'W


Perikanan Darat ,; >-"0%.
H Zona Pertambangcin *- ''x

• Galian Strategis, Galian \.-.!;.• V


Vital dan Lainnya 0 0 'iF'-.

I Zona Industri y.

• Industri t V,,:-. V V
J Zona Pariwisata •

• Kawasan Wisata Alam •-•-=^' V V


• Kawasan Wisata Buatan A V V V
K Zona Permukiman '••TO,

• Kawasan Permukiman di/,;^ X ^ X V V V


Perkotaan 7 7 ''7 "•
N
L Zona Peruntukan KhUsus '»
• KawasEui Pertahanan dan v; V- f f ff ff ff
Keamanan 7 K'V
• Bandar Udara -TO>f V ./ V f i ff ff ff
• Pelabuhan > V t t ff ff ff
• Jeilur Kendaraan Khusus •V V V V V Diluar
Ruwasja
Keterangan : V v=' : diperbolehkan
: dilarang
# : sesuai dengan ketentuaui instansi terkait

Parai f-iiar arki P.iial Koordi'rasi


SKPD/ Bagian Fcmranarsa
Sekda
SKPD/Bagian Terkait:
Asistan V-24
i
Kabag
\
mtmpzmpmANi(mm9ipmm
C U n t u k meningkatkan pelayanan d i wilayah yang belum mendapatkan jaringan
telekomunikasi dengan sistem kabel dan seluler, pemerintah memberi dukungan
dalam pengembangan jaringan telekomunikasi.

5.4 Rencana Pengembangan Jaringan Air Minum


Sistem penyediaan air bersih d i BWP Pacitan oleh PDAM Kabupaten Pacitan pada masa
akan datang perlu ditingkatkan dengan sistem perpipaan dengan memanfaatkan sumber
yang ada (BWP Pacitan). Sumber yang telah ada tersebut adalah mata air Slare, mata air
Jaten dan Sungai Grindulu.

Dalam rangka pengembangan pelayanan air bersih, serta penyediaan air bersih bagi
seluruh penduduk yang memenuhi persyaratan kesehatan. niaka diperlukan
pengembangan saluran distribusi air bersih d i BWP Pacitan. ' . \
A -TO • 4''.
Adapun rencana pengembangan jaringan air bersih/air m i n u m dilakukan dengan:

O pengadaan Sistem Penyediaan Air M i n u m (SPAM) khusus; •s ' , - . 0.


.'•jyT" TO; .TO
• J J-f: ,-. A
O optimalisasi
o dan peningkatan
pembangunan u n i t air baku, dilakukan dengan: A 7
sumur bor;
o pembangunan Sistem Penampungan Air Hujari (SPAH);

o perlindungan air baku; "¥ ^-'j


o pembangunan intake;
X ' M
o pembangunan Sistem Akuifer Buatan d a n Simpanan Air Hujan (SABSAH).
-ft, 7K VYUS' "--^
0. }''' -0Zi. ' ' V "•

O optimalisasi dan pengembangan u n i t produksi, dilakukan dengan:


TO ^ •

o pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA);


o penambahan sarana. Instalasi Pengolahan Air (IPA);
TO%, %p-./Vs?
o perbaikan Instalasi Pengolahan Air (IPA);
o perawatan dan'pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air (IPA).
"•hS yy-f 'YP.r'. TO* 1-
:0 J, 'XS<4
O optimalisasi d a i i pengembangan u n i t distribusi, dilakukan dengan:
1-Y Yx'. ^'xY'Y'.
' oS. pengadaan dan pemasangan pompa;

o ^' pengembangan jaringan perpipaan;

o pembangunan jaringan perpipaan;

o pengadaan dan pemasangan pipa lengkap dengan asesoris;

0 percepatan perbaikan kebocoran pipa.

O optimalisasi dan pengembangan u n i t pelayanan, dilakukan dengan:

o penmgkatan sambungan r u m a h ;

o pengadaan mobil tangld air;

o pengadaan dan pemasangan sambungan r u m a h m u r a h ;


1 Pa rsf Hierarki J
\ Sekda SXPD/ Sagian Pemrakarsa
"^m^mm^^^^^^ 171. pengelola.
1 Asistan SKPD/ aayian Terkait:
V-26
1 1
Kabag 2. _
Hvkun 3. _
Dari uraian rencana tersebut diatas, maka hal pokok dalam perencanaan pengadaan air
bersih d i BWP Pacitan adalah:

O Pemilihan sumber air b a k u yang mampu u n t u k memenuhi kebutuhan air bersih


penduduk;

O Perencanaan dan pengembangan sistem jaringan distribusi yang disesuaikan dengan


perencanaan tata ruang kota Pacitan;

O Studi kelayakan pengadaan air bersih.

Arahan pemilihan salah satu sumber air baku sebagai pengembangan yang telah ada
tersebut diatas diperlukan suatu studi kelayakan lebih lanjut. Sehingga pemilihan
altematif dapat dipertanggung jawabkan secara teknis dan ekonomis.

Berdasarkan hal tersebut diatas rencana pengadaan pelayanan air bersih d i BWP Padtan
tergantung kepada; • --?N =, '¥

O Tingkat ekonomi daerah. ¥ "'^'MY


O Pertimbangan ekonomi dalam h a l pengadaan jaringan-distribusi (pengkajian investasi
.00.
dan nilai tambah yang didapat). 7 7 -JY'"'' '
O Tingkat kebutuhan air m i n u m penduduk. Vs

O Pertimbangan apek teknis p e r e n c a n a a n . r 0 .

Dengan pertimbangan diatas, maka kebijakan pelayanan air. bersih d i BWP Pacitan adalah
sebagai berikut:

Z> Pemilihan kapasitas sumber ; u n t u k menjawab t u n t u t a n kebutuhan a i r d i masa


mendatang. fi^ ' ^
Vk • -J.
O Pembangunan jaringan distribusi air m m u m (janngan perpipaan dan non perpipaan)
dengan pemanfaatarTair permukaan dan pemanfaatan air tanah.
O Pengembangah; sistem pelayanan dengan hidran u m u m dan kran u m u m disamping
pelayanan^dengan . sambungan langsung. Hal i n i akan memberi keuntungan, karena
penduduk yang akan dilayani oleh jaringan air m i n u m akan lebih banyak j i k a dilayani
hanya'dengah cara sambuiigan langsung.
O Kualitas a i n y a n g alrah^didistribusikan kepada konsumen harus berkualitas sesuai
dengan'persyaratan air m i n u m yang berlaku.
MAWx. ""A
Di dalam; pengembangan dan pembangunan utilitas air bersih d i BWP Pacitan terutama
ditujukan u n t u k keperluan:
O Rumah tangga, (kebutuhan domestik) yaitu kebutuhan r u m a h tangga u n t u k
keperluan mandi, masak, m i n u m , mencuci dan Iain-lain.
O Kebutuhan non domestik, yaitu kebutuhan d i luar r u m a h tangga terutama u n t u k
berbagai aktivitas seperti:

o ; Perkantoran

o Fasilitas-fasilitas dan aktivitas perkantoran, dan

o Keperluan pemadam kebakaran.


t t - w m a n f a a t a n air permukaan d a n air tanah u n t u k melayani
^cbuJuhan^air.pendqQuk BWP Pacitan dengan prioritas penggunaan air permukaan.
SKPD; Bagian Terkait:
1.. V-27
2.,
3.
Q Pemanfaatan Air Permukaan
Air permukaan yang ada d i BWP Pacitan dan sekitarnya berupa air sungai dan a i r
dari saluran irigasi. Air permukaan telah dimanfaatkan dan diolah yang berasal dari
air permukaan sungai Grindulu. Pengolahan a i r permukaan tersebut telah
didistribusikan ke seluruh permukiman d i BWP Pacitan sebagai air bersih dan
kualitas air sungai telah disesuaikan dengan standartyang telah ditetapkan tapi pada
u m u m n y a masyarakat memanfaatkan u n t u k mandi saja dan air pencucian. J i k a akan
digunakan sebagai penyediaan air bersih/minum, maka perlu adanya pengolahan air
[water treatmentj baik secara fisik, kiinla maupun biologi agar memenuhi syarat
sebagai a i r bersih/minum, dengan biaya yang cukup besar. Ditinjau dari debitnya,
air sungai yang ada relatif mencukupi, u n t u k penyediaan air bersih d i BWP Pacitan
dan sekitamya. Hingga saat i n i air permukaan d i BWP Pacitan dimanfaatkan u n t u k
pengolahan air bersih, pertanian dan sebagai penampung buangan air; hujan.

H Pemanfaatan Air Tanah ^ 3 > J 0 i ^ M ' A

Air tanah yang ada d i BWP Pacitan mempunyai kedalaman ibervariasi dan rata-rata
sekitar 6 - 8 m d i bawah permukaan tanah, Kualitas air tanah d i BWP Pacitan dapat
dikatakan cukup memenuhi persyaratan sebagai a i r bersih/minum, namun
selayaknya perlu dilakukan u j i laboratorium terlebih d a h u l u . " %

Kebutuhan m i n i m u m air bersih dapat dilihat pada Tabel Kebutnhaxi Air Bersih dengan
menggunakan asumsi: 0 ••0 s
"c TO, Tkluui
VtkMOX Satnui
2016 Talupke-1 TO Tahap k»>n Tahap ke-m Tahap ke-IV
Tingkat pelayanan % 30 40 77. 55 Y , . 85 100
Kebutuhan 1/hari 110^ 110 "• 120 120
domestik:
Pemakaian per
orang
M. TO Ay, s 7-

Kebutuhan non 1/hari15%darit > . f T5%dariY 15% dari 15% dari 15% dari
domestik kebutuhan ¥ kebutuheui kebutuhan kebutuhan kebutuhan
"domestik 'domestik domestik domestik domestik
Kehilangan air l/haiis 2 0 % dari 20% dari 20% dari 20% dari 20% dari
kebutuhan kebutuhan kebutuhan kebutuhan kebutuhan
^ ;x domestik domestik domestik domestik domestik
i X-
i'h
dan non
domestik
dan non
domestik
dan non
domestik
dan non
domestik
dan non
domestik
Kebutuhan air ^ 1/hari A .120% dari 120% dari 120% dari 120% dari 120% dari
maksimum (beban
puncak)/?^^ "Kj-.
%M 1 kebutuhan
•;domestik
kebutuhan
domestik
kebutuhan
domestik
kebutuhan
domestik
kebutuhan
domestik
a* '''':="• i . 0 dan non dan non dan non dan non dan non
'••L,: ":iy
7 fl-. . domestik domestik domestik domestik domestik
A,TO 7s4^-0. -cy

t Farath Paraf KoGf Jiricii

07
Lfl««iKuateMeM
SXPD/ Bd0ian Hemralvarsa
SeWa

: Asision EXPO/ Bagian Terkait: V-28


1
Kabag 2
Hokt-m 3.
mii>mpztM>McnANimim£NPAcn
Tabel 5. 5 Kebutuhan Air Bersih
Jumlah
Jumlah Kebutuhan (Uter/harl) Jumlah Kebutuhan
No Tahnn Desa/Kel Kehilangan pada Beban
Pendnduk Kebutuhan
(Uter/harl)
(Jiwa) Domestik Non Domestlk Jumlah (Uter/harl) Pnncak
(liter/haril
1 2016 Baleharjo 2837 86.596 12.989 99.585 19 Q17 '' 110 ftn9 148 408
4224 126.728 19.009 145.737 ' 00 1 il7 • • 7.cJI.^^
^W7*OVJ^
Nanggungan 2225 66.744 10.012 76.756 7 - f ' -V 'r ; • , 92.107
*15.351" 110.528
Widoro 1833 54.998 8.250 63.248 '" -' A - 12.650 75.897 91.077
Pacitan 3318 99.535 14.930 114.465 ^A.07TO 1ft7RftR 164 880
Pucangsewu 3188 95.650 14.348 109.998 •^v- 99 non 1R1 907 158.397
Bangunsari X 31.230 X*-f
187X*77
'^80f
4526 135.782 20.367 ise.isb' 224.855
Su mbe rh arj o 1458 43.742 6.561 "'¥50.303 lOOfil 72.436
A n n w i n a n c n 1 Tl 3398 101.951 15.293 117.244 ' '- ^0-*T*Ty 168 R89
M^naHi 1971 59.128 8.869 ' 67.997 97 91 ft
Simoh>oyo 4406 132.173 19.826 * RO 4no 189 898 21R 878
0 151.999
M^n torn XU^*070
111 ^ 7 ITT RRfl
2695 80.845 ^12.127 \¥ 92.972
P I 1 mmr^t n ¥¥59.941' 11 QRR 1 X XQ9Qr
71 RA TIA
1737 52.123 7.818'
1 U l wUI UIyJ
Ploso 6845 205.340 . T O X V ao.'sol .'•'./•TO, 236;i42 9AT T7n 340-044
RiHiiharirt ^t^*J* V ' L/
7565 226.936' S '¥34.040 y' ""260.976 %J^t T1 T 179 T7A RDA
viuvliuj jaj
Kembang 2478 74.330 'v\ -hj.iso' 85.480 17.096 102.575 123.090
Sambong 1197 -. 35.923 41.312 8.262 49.574 59.489
00 5.388
Ponggok 311
J0 9.319 ¥¥,398 10.717 2.143 12.860 15.432
Semanten 941 ••.28.227- 4.234 32.461 6.492 38.953 46.744
JUMLAH S7202 1.716.070 257.411 1.973.481 394.696 2.368.177 2.841.812

"J ¥y>^^ =;
'TO*^¥*
' A s

•: "'ft TO: "I


1.(7 T •-
y.-v,,.,
'TOY. •• '• ; •,. TO

•y!'fl •m
ro
ca

r3
Id 1?;
Cf) * - 0 1 C T

e
•a
uc •ui ft*
fl =
4 id n:
mkmpzm>pmmmum£NPmm
Jumlah
Jumlah Kebutuhan (Uter/harl) Jumlah Kebutuhan
No Tahun Kehilangan
Desa/Kel Penduduk Kebutuhan pada Beban
fJiwa) (Uter/hari)
Domestlk Non Domestlk Jumlah filter/harll
(Uter/hari)
Tahap
1 Balehario O i ft/1
OlD'+ 139.225 20.884 160.108 flD DDD 1 nn 1 o r \ nnn e cc
230.5 50
192,130 Anc
Tant u ngsan .1 ft fl 1
203.747 30.562 234.309 46.862 281.171 337.405
Nanggu ngan 0/1 flrt
107.308 16.096 123.404 24.681' t A 0 n0 c 177.702
- -a 148-085
Widoro 2\}\\J 88.423 13.263 101.687 2u*337 0 ' 1 rt/¥ nnA 1 7i c A nn
145,429
¥.-j- y HC - ' 122.024
Pacitan flftflT
160.027 24.004 184.031 '-K
or\r;
30.0UO 220,83o 2 o 5c- U
OC nn0 5c

Pucangsewu 153.782 23.067 176.849 ¥'"" OC oTn


oo.o7U 212,218 nCA
2 5 4 . 0c0c2o

Bangu ns ari A Dft 1


218.304 32.746 '25 i . 049 ^ 50*210
••) Hf\t nan 361,511
A 301.259
%> u in ocrnaji o 70.325 10.549 ¥>- 80.874' *¥ J o , 11^7 c5
•-1 c n*7
y 7 - Unjtn
49 115,459
Ariowinangun 163.912 24.587 •X'Jl •188.499 ,0. *7/-t/\ nn£. 1 nr\ rtT i ^¥00
•'Y 37.700 226.199 271.439
Menadi O 1 ft 1
95.062 14.259 / 109.322 D 1 Oft y1 8 0 t 1 0^ 1 A nn
157.423
^ lol '5 21.854 131.186
Simoboyo /I Ofl/fl
212.501 31.875 244.37'6" 48.875 293.251 351.901
4o3t)
Mentoro ( I D C/1
129.979 ¥i9,497 0 s 149.476 29.895 179.371 215.245
jyo4
Purworeio 1 DDC
83.800 12.570 ¥¥>. 95.370 19.274 115.644 138.773
Din.. A
7303 330.136 ,,.y v.. 49.520 70:, 379.656 75.931 455.588 546.705
rioso
Sidoharfo c r \ o cnt
QOOO
364.856 7 " ' " 0 - 54.728 0 ' '•^¥;/419.584 00 P^ 1 0 AinA
OO4.2O2
nnn
o^y^ o 3 , y 17
Kembang O f l 1 ft
119.504 j s ¥7.926 137.430 27.486 1 c if n t c 1 n^onn
2I\K> 164.916 197.899
Sambong 1313 57.755 ¥¥..TO¥ 8.663 v¥ 66.419 13.284 79.702 95.643
Ponggok 341 TO:'TO14.982 ¥-r, 2.247 17.230 3.446 20.676 24.311
Semanten 1031 ¥¥45.382/ 6;807 52.189 10.438 62.627 75.153
JUHLAH 62705 2.759.011 413.852 3.172.862 634.572 3.807.435 4.568.922

tt V
e J C

tl.
c;
.3
K
ro B tfl
Sej
'j-iXX' m
a
n Cu i
rv (4

'it

1 D
'ft
,n j t
0 .it
<c pj ft.
0- uj .Id 3 :
W
Jnmlah
Jumlah Kebutuhan (Uter/harl) Jumlah Kebutuhan
Kehilangan
no Tahun Kebu tu han pada Beban
(Uter/hari)
(Jiwa) Domestlk Non Domestlk Jnmlah (Uter/hari) Pnncak
(llter/hari)
Tahap
3 ke-II Baleharjo 3442 208.233 31.235 239,467 47.893 287.361 344.833
Tanjungsari 5037 304.736 45.710 350.446 ¥;:70.089 , 420.536 504.643
Nanccuncran 2653 150.495 24.074 184.570 36.914 ;- , •' 221.484 265.781
Widoro 2186 132.251 19.838 152.088 30.418 '•'TOV 182.506 219.007
Pacitan 3955 239.346 35.902 275,248 :55.O50 330.298 396.357
Pucangsewu 3802 230.005 34.501 Q64;505 52.901 Y> 317.406 380.888
Bangunsari 5397 326.508 48.976 375./i84 7 75.097 ¥ 450.581 540.697
S u mber h arjo 1739 105.183 15.777 %TO,i20.960- TO, '24.192 145.152 174.183
Ariowinangun 4052 245.157 36.774 y0S. 281.930 "0, 56.*386 338.316 405.980
Menadi 2350 142.181 21.327 : 163.508 '0\ 32.702 196.209 235.451
Simoboyo 5253 317.829 47.674 •X 365.503 73.101 438.603 526.324
Mentoro 3213 194,404 Y29.161 223,565 0 44.713 268.278 321.933
Purworejo 2072 125.337 18.801. ¥=¥:.144.137- 28.827 172.965 207.558
Ploso 8161 493.771 74.066 -¥>v 567.836 113.567 681.404 817.684
Sidoharjo 9020 545.700 V'^ "¥¥81.855 -ra-f 527.555 125.511 753.066 903.679
Kembang 2954 178.737 Jx '/26.8lf 205.548 41.110 246.657 295.989
Sambong 1428 86.382 ¥¥¥^12.957 99.340 19.868 119.208 143.049
Ponggok 370 ¥¥22.408 ¥¥^3.361 25.770 5.154 30.924 37.108
Semanten 1122 ^. "•<> 67.876' 10.181 78.057 15.611 93.669 112.403
JUMLAH 68207 ¥¥4,126,538 618.981 4.745.519 949.104 5.694.622 6.833.547

00
Js Fs'^^Mh 07
. M '% MM
M MM ^^3tk
0 4

00
0

a'
V V <L

U W D> S
•C
nj ft
5 *
mzbmpzm>Pmmimm&JPA(mm
Jumlah
Jumlah Kebutuhan (Uter/harl) Jumlah Kebutuhan
Kehilangan
No Tahun Desa/Kel Penduduk Kebutuhan pada Beban
(Uter/hari)
{Jiwa) Domestlk Non Domestlk Jumlah (Uter/hari) Pnncak
(Uter/harl)
Tahap
( n Q t~i n
4 TW T 7 9 n 379.391 56.909 436.300 0 / .ftDU ftOR ftftO ftOft 070
^Hs rt11uii^aai
I cuij m n n1 1 db\J
0S44T
555.217 83.283 638.499 ¥ 1 6 7 7nn 'Jii 7ftft 1 Q Q Q IQ 4ftQ
vd 9 n ocn 1 n o^s n i 1 A / i f Lf U •c ^nfl ftflft ABA 040
/ 292.417 43.863 336.279 AT oftfi
Uf iff^lfM^n 240.956 36.143 277.099 " •' •: ftft 40 n - RftO ftlQ ftoo noft
W lUI-J] ' Di3-*TftVf
P 9f*l t"9uTN 4275 436.079 65.412 501.491 -'-innoQR- ftm 7RQ 700 147
X U kpCLi 1 E kV Ls 4108 419.059 62.859 481.918 ±\l\Jt^irO
Qfi'ftRd v" ft7Q ftno ftQftOfiO
U f O.OUft
RsiTl
l_f Cl_k 1Cnh,1U1
IN13CL
TN
1X 5832 594.885 89.233 684.117 ' - ' 1 ftfi «Oft i^.^' Ron 0 4 1 you. X Jiy
QRft10Q
Ri 1 tn fN^rlN 9 ri rt 1S7Q • 44 — U^U. 7-,X
Ofi4 4ftO ft 1 7 ft ft4
191.639 28.746 ¥•¥220.385- n 7 7

A t^rtiWJl IN 9 TN 011 TN 4870 446.666 67.000 513.666 \'7. 1 no 7ftft ft 1 f t ftOQ 7/ftQ
oyft7Q
.Q / y
X^^tNnHt 9540 259.048 38.857 297.905 XX- ftQ ftOI ftft7 4Rft 40ft Oftft
H^o.you
iViCplXCaUt
Al TTN fNrVlVn ftfi77 579.071 86.861 A 665.932 7QQ
Ou
lift
f .*TOO
Qftft Q40
IvlcnLOl *J T47T 354.197 Y 53.130 0: 407.326 -c Rl 4 f t ft
ol.-rOQ 4ftft 7QO irOo.X3HA
ftftft ftftn
Pi 1 T
I^Ui Nir/iNCr|^1l-/
Wl_' XN Q9TQ 228.358 34.254 262.612 ftO ftOO ft 1ft1 ftft IftO
0ft7ftr 0.10^
PI nan 899.631 134.945 00. 1.034.57^ onft Qi ft 1 0 4 1 4on 1 ftSO 7 f t f t
l.HOy. / Oo
01 ^ n PN 9 Fl n Q7il7 994.244 "^¥ri4g. i 3 7 . ¥¥ ""ih43.381 OOR ft7fi 1 ft70 nft7 1l.DHO.HOO
AAft Aftft
7Tlf QT
*T / AAQ Ann flftQ OQO
l\dTl Ucul^ 325.652 "48.848 374.500 / *».yuu
ooy.Aou
Sambong 1543 157.385 ¥;¥,.*"'-23.608 •TO 180.993 36.199 217.191 260.630
Ponggok 400 ¥/4b.'827 6.124 46.951 9.390 56.341 67.610
Semanten 1212 . ""-¥123.667' 18.550 142.217 28.443 170.661 204.793
JUHLAH 73710 \Y7.518.388 1.127.758 8.646.147 1.729.229 10.375.376 12.450.451
fS. '

A!5A.. %
•••A

F.\. ;¥n-fl, \444


(1*
a. F—
•A, '"'-r-TOAA
*bA'>A.-,

M V ca
Q*
ro
CQ
" 0 . _ 4 X
a.
s
:£ P^ -
« t o ^ (4

.'ST
w V
i <=
TO E
ft] JIT.
<fl ::•
VX < id X
Jumlah
Jumlah Kebutuhan (Uter/harl) Jumlah Kebutuhan
nA*a / If A I Kehilangan
no Tannii Pendnduk Ke Dutu uau pada Beban
(Uter/hari)
(Jiwa) Domestlk Non Domestlk Jumlah (Uter/harl) Pnncak
(Uter/hari)
Tahap
s ke-IV Baleharjo 3997 479.662 71.949 551.612 110.322 661.934 794.321
Tanj u ng3 ari 5850 701.957 105.294 807.251 \ 161.450 968.701 1.162.441
Nanggu ngan 3081 369.701 55.455 425.156 85.031^ - '' 510.187 612.225
Widoro 2539 304.639 45.696 350.335 ¥ "''TO 70.067 'VO 420.402 504.482
Pacitan 4594 551.332 82.700 634.032 ''¥126.806* 760 838 913.006
Pu can gse wu 4415 529.814 79.472 609.'286 V\ 12i;857 '¥;> 731.144 877.373
Bangunsari 6268 752.109 112.816 864.926 ¥'172.985 ¥ 1.037.911 1.245.493
Sumberharjo 2019 242.288 36.343 V - 278.631* 55.726 334.357 401.229
Ariowinangun • 4706 564.717 84.708 '649.425 ' 129.885 779.310 935.172
Menadi 2729 327.512 49.127. / 376.639 0 7 75.328 451.967 542 360
Si moboyo 6101 732.116 109.817 <• 841.934 168.387 1 010 32Q 1 212 385
X« v A\fl*v^W X •A X & , v U v
Mentoro 3732 447.809 = 67.171 0 514.981 0 102.996 617.977 741.572
Pu rwore jo 2406 288.712 43;3b7 V>T332.019' 66.404 398.423 478.108
Ploso 9478 1.137.398 170.610 - 1.308.008 261.602 1 569 609 1 883 531
Sidoharjo 10475 1.257.017 S rl88.S53 '•1V445.57O 289.114 1 734 684 2.081.620
Kembang 3431 411.720 VV '61.758 473.478 94,696 568.174 681 809
Sambong 1658 198.981 7,7 .TO'2g.847 •'h 228.828 45.766 274.594 329.513
Ponggok 430 -A: 51.618 V V 7.743 59.360 11.872 71.232 85.479
Semanten 1303 ''•¥]l56.352'; 23.453 179.805 35.961 215.766 258.919
JUHLAH 79212 9.S0S.4S7 1.425.819 10.931.275 2.186.255 13.117.530 15.741.036
Sumber Hasil Rencana, 2016

s
,L % tf n 1
ro..Ittfn
SI

6 (3
0
o Eu Jt
0.
r;
3
a. '6» ,1
tn
u
ai
4:7 3
1

V -357
I
•n -O
ro-''~
iC r c
SS Rencana Pengembangan Jaringan Drainase
Limpasan air hujan yang ada d i BWP Pacitan perlu penanganan khusus yaitu dengan
penyediaan saluran-saluran pembuangan. Hal i n i disebabkan kondisi topograli kota yang
relatif datar, sehingga limpasan air hujan dapat tergenang d i lokasi-Iokasi tertentu. Selain
i t u pematusan air hujan yang terencana dengan sistem drainase yang baik dapat
mencegah erosi akibat aliran air, mencegah kerusakan bangunan lainnya seperti jalan,
perumahan, bangunan-bangunan penting lainnya. Dengan demikian pengadaan saluran
drainase didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan:

O Besamya kerugian yang mungkin teijadi akibat genangan air hujan.

O Derajat nilai bangunan \p-x


''cTi
O Biaya pembangunan sistem drainase iVYj^Vj
F 0 "XTS.JJ,
Klasifikasi jaringan drainase adalah sebagai berikut: ¥^TO. , 0:---tx
H Jaringan drainase primer Js % ¥;.,**• *¥
Jaringan drainase primer meliputi Sungai Grindulu, Sungai,Sundeng'dan Sungai
Semanten <M '''74 '/-^
''7j Yr
• Jaringan dranase sekunder " % Y , '%
" Jf 0 '0
Jaringan drainase sekunder meliputi Kali Tani dan Kali Kunir*
B Jaringan drainase tersier Yx M. .V v*
Jaringan drainase tersier meliputi saluran drainase lainnya baik yang berupa saluran
tertutup m a u p u n saluran terbuka 0
4. \yY- -^'^
Berikut i n i adalah program pengembangan jaringan drainase:

O pengembangan Bozem Teleng; M.

O pengembangan bozem BUmbing; \^


AY, V>xv=TO-
O revitalisasi.Muara.Teleng;
O pembangunan dan'pengembangan saluran lingkar barat;
"07. J\ "•'*S>ylJ^
O pembangunan dan pengembangan saluran Ungkar timur;
JJ""'H'K . '^''•"

O ' pembangunan retarding bazin Kali Kunir;

O penibangunan retarding bazin Sumberharjo;

O pembangunan dan pengembangan saluran tepi jalan;

O pembangunan pintu-pintu air,

3 pengembangan sistem drainase bagi kawasan permukiman;

O pembuatan saluran drainase tersier pada setiap kawasan fungsional;

O pembersihan d a n pemeliharaan saluran drainase, baik yang terbuka m a u p u n


tertutup;

O pembangunan tanggul sungai


. -TV"-"-
Paraf Kcoraii-'rji ,
SKPD/ Sagur, Pcmr;:xa;ja
I £3i£d3

SKPD; Qjgia.A Terkaii:


1 V-35
Kabag ?
3.,
Peta 5. 5 Rencana Pengembangan Jaringan Drainase

k uui Hjieumi s PScrrsH


eoiicii T t i i u 1>H
TrSTMQ
* * — " " DVTML lan Tif ^•ii> pan rmsTDTi I n sensn MP mcnaw

KTA KENCAMA PENOeMBAHOAH JAflMOAN DAAIHASfi


o

1 J '
• ;
•L. 1
- *.
* C"» HF-

=;

SuTTiiber HasU Rencana, 2016


5.6 Rencana Pengembangan Jaringan Air Limbah
Perencanaan penyaluran air limbah dan pematusan yang akan dibahas dalam bagian i n i
adalah meliputi:

O Penyaluran limbah air bekas (air kotor), yaitu penyaluran limbah yang berasal dari
r u m a h tangga m a u p u n fasilitas lainnya seperti industri, perkantoran dan Iain-lain.

O Penyaluran limbah air hujan, yaitu penyaluran limpasan air hujan yang j a t u h ke tanah
dan tidak dimanfaatkan lagi.

Rencana pengembangan jarmgan air limbah dilakukan dengan:

O Pembangunan/pengembangan sistem tangki septik dengan bidang resapan atau


cubluk yang ditingkatkan menjadi small bore sewer. Hal i n i mengingat kondisi air
tanah d i B W P Pacitan bervariasi, dalam wilayah bagian utara^daii dangkal bagian
selatan, maka perencanaan u n t u k menerapkan sistem septictanlc u n t u k penyaluran
atau pembuangan air bekas c u k u p efisien. ,, YVY A '=
00 0 "''J'Y 0.:
O Pembangunan/pengembangan Instalasi Pengolanah A i r Limbah''(IPAL). Aktivitas
industri, hotel, loundry, r u m a h sakit/sarana kesehatan yangcmenghasilkan limbah
M?--' ' VT'^ \'Y^
dan kegiatan lain yang menghasilkan limbah harus membuat studi AMDAL/RKL-RPL
sesuai dengan batasan besaran beban. Dari studi AMDAL/RKL-RPL tersebut dapat
* •.'•7,,
ditentukan jenis pengolahan yang harus, dilakukanyterhadap air limbah sebelum
dibuang ke badan air. Sebagai contoh, setiap kegiatan hotel dan restoran d i kawasan
pariwisata d i Perkotaan Pacitan harus' melehgkapi sarana pembuangan air limbah
dapurnya dengan •Unit Penangkap Lemak dan Minyak*. Selanjutnya air limbahnya
diperbolehkan masuk ke sistem perpipaan pengelolaan air limbah terpusat. Demikian
pula a i r limbah dari kegiatanfcbinatu, (laundry) harus melewati pengolahan
pendahuluan berupa^fUnit Penangkap Busa atau Pemecah Busa* sebelum masuk ke
sistem perpipaan'yang ada.
4:- 0 M 0
74.
O Pembangunan/pengembangan
Penerapan sistem lain yarig j u gInstalasi
a c u k u p Pengolahan Lumpur
menguntungkan Tinjapengadaan
adalah (IPLT). saluran
air buangan yang diiisahakari oleh penduduk kota secara berkelompok/komunal dan
pembangunan saluran'^induk yang disediakan oleh pemerintah. Saluran i n i harus
terkait dengari sungai yang mengalir d i BWP selama tidak memberikan dampak negatif
terhadap ekosistem^sungai dan sekitamya. Perencanaan saluran air limbah r u m a h
tangga d i BWP^Pacitan, dapat disatukan dengan saluran air hujan/drainase yang akan
direncanakan (setelah diolah terlebih dahulu/dibuatkan resapan).

5.7 Rencana Pengembangan Jaringan Persampahan


Penanganan sampah meliputi kegiatan pemilahan. pengumpulan, pengangkutan,
pengolahan d a n pemrosesan akhir sampah. Pengelolaan sampah d i BWP Pacitan pada
tahap pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan d a n pemrosesan akhir
direncanakan ditangani oleh instansi yang berwenang bersama-sama masyarakat
pemulung dan pekeija sampah sebagai mitra keija dalam pengelolaan sampah perkotaan.
Sampah yang dihasilkan d i BWP Pacitan berupa Rumah Tangga yaitu sampah yang
Parat Hwr3r{ii :feidtaii-sehari-han dalam r u m a h tangga, yang tidak termasuk t m j a dan

I
Sekda yr s tmpam^spesink ser^a*cainbah Sejenis Sampah Rumah Tangga yaitu sampah r u m a h
SKPD/ Jagian Terkait:
1 Asisten
1. V-37
Kabag 2.
3.,
tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas
sosial, fasilitas u m u m , dan/atau fasilitas lainnya.

Adapun rencana pengelolaan persampahan pada setiap tahapan (pemilahan d a n


pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah)
dengan konsep 3R (reduce, reuse, recycle) adalah sebagai berikut:

Pemilahan dan pewadahan


Pemilahan adalah kegiatan mengelompokkan d a n memisahkan sampah sesuai
dengan jenis. Pemilahan dilakukan melalui kegiatan pengelompokan sampah menjadi
paling sedikit 5 jenis sampah yang terdiri atas:

o Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan
berbahaya d a n beracun antara lain kemasan obat serangga, kemasan o l i ,
kemasan obatobatan, obat-obatan kadaluarsa, peralatan'lislrik, dan peralatan
elektronik r u m a h tangga. . '
7- -. ••• ^ .
*. TO -5,.-, , •

o Sampah yang mudah terurai antara lain sampah yang berasal dari tumbuhan,
hewan, dan/ataubagian-bagiannya yang dapat teruiai oleh m a k h l u k hidup
lainnya dan/atau mikroorganisme seperti sampah makanan dan serasah.
0 Sampah yang dapat digunakan kembali, merupakan 'sampah yang dapat
dimanfaatkan kembali tanpa melalui " proses pengolahan'antara lain kertas
'--t-v *^;TO.. '^,v\
kardus, botol minuman, dan kaIeng/1 "JK ''^
0 0-1
o Sampah yang dapat didaur ulang merupakan sampah yang dapat dimanfaatkan
kembali setelah melalui proses pengolahan antara lain sisa kain, plastik, kertas,
dan kaca. .XYx. "
•iv-f'' Vx ^ K "
o Sampah lainnya merupakan residu: i
0 0f 0
Pemilahan sampah dilakukan oleh setiap orang pada sumbemya; pengelola kawasan
permukiman, kawasan |komersial,-.,kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas
u m u m , fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya; dan pemerintah kabupaten.
\F- ''7:-. p0
Sarana pewadahan harus diberi label atau tanda; dibedakan bahan, bentuk dan/atau
w a m a wadah; dan menggunakan wadah yang tertutup. Pewadahan dapat berupa b i n ,
*i--¥V, 1 'KKJ-. ¥ -1^
Sampah B3wadah Iain yang Sampah
TPS atau memenuhi persyaratan.
Organik S a m p a h 6una Ulang / 1—lA
(Bahan Beracun Berbahaya) Botol k a c aatmu pteatik. V - —• -i
Stoa iiMl(aMn.Tidaiig. Duri.
Lompu hieon Film Bxtcrc iiotwig vMfcttiiflii dfli 1 JT"^ 1
b o w Koring. Ooging dB
Kosel Oijket PacunS^'engga minunMn dH i f
J • • • • •

Scunpoh Dour Ulang


Kordds, Korton makonw
don minuman, Iwran b d w , puRKmg-rnilB^ffmmmi
tnffni bekas
-1

Gambar 5. 9 Ilustrasi Sarazia Pemilahan/Pewadahan Sampah


• Pengumpulan
Pengumpulan adalah kegiatan mengambil dan memindahkan sampah dari sumber
sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah dengan
prinsip 3R. Pengumpulan sampah tidak boleh dicampur kembali setelah dilakukan
pemilahan dan pewadahan.

""'••'^^•Qamt^peflabnapuian sjtmpah dapat bempa, motor sampah, gerobak sampah, sepeda


tau alat pengumpul u n t u k sampah terpilah.
SKPO/ Sagian Terkait:
Asistsn
1..
1 Kabag 2., V-38
3.
TPS tersebar d i seluruh Sub BWP Pacitan khususnya d i tempat permukiman dan
pelayanan u m u m u n t u k menampung sampah yang dihasilkan oleh penduduk kota
setiap harinya. Desain sarana pemilahan/pewadahan d a n pengumpulan harus
diperhatikan sesuai karena terkait erat dengan kesehatan masyarakat dan estetika
kota,

• Pengangkatan
Pengangkutan adalah kegiatan membawa sampah dari sumber atau tempat
penampungan sementara menuju tempat pengolahan sampah terpadu atau tempat
pemrosesan akhir dengan menggunakan kendaraan bermotor yang didesain u n t u k
mengangkut sampah.

Pengangkutan sampah dari TPS dan/atau TPS 3R ke TPA ataUvTPST tidak boleh
dicampur kembali setelah dilakukan pemilahan dan pewadahan. Dalam^ hal terdapat
sampah yang mengandung bahan berbahaya d a n beracun; serta limbah bahan
berbahaya dan beracun, pengangkutan sampah yang mengandung bahan berbahaya
dan beracun serta limbah bahan berbahaya d a n beracun-mengikuti ketentuan
peraturan perundang-undangan. /S''^ 0^ \/ ¥.

Sarana pengangkutan dapat berupa dump-truck/tipper truck, armroll truck,


compactor truck, street sweeper vehicle atau trailer. Vj V\

Oambar 5. 10 Ilustrasi Saraaa Pengangkutan Sampah


• Pengolahan '''V, fl 'M
Pengolahan adalah kegiatan ihengubah karakteristik, komposisi, dan/atau j u m l a h
sampah. Pengolahan ^sampah meliputi kegiatan pemadatan, pengomposan, daur
ulang materi dan niengqbah sampah menjadi sumber energi.

Sarana pengolahan dapat ditempatkan d i lokasi TPS 3R, SPA, TPA. atau TPST.

• v c y Gambar 5. 11 Ilustrasi Sarana Pengolahan Sampah


• Pemrosesan akhir sampah
Pemrosesan Akhir Sampah adalah proses pengembalian sampah dan/atau residu
hasil pengolahan sampah sebelumnya ke media lingkungan secara aman. Pada
wilayah BWP Pacitan tidak direncanakan pembangunan TPA. Namun, sampah residu
yang telah dikelola d i TPS/TPST TPA akan d i k i r m ke TPA yang berada d i luar BWP
Pacitan dan direncakan menggunakan metode lahan u r u g saniter (sanitary landfiU).
Pemrosesan akhir sampah yang dilakukan d i TPA meliputi kegiatan
penimbunan/pemadatan, penutupan tanah, pengolahan lindi dan penanganan gas.

Paraf hierarJti .

Sekda y E ^ p G l 3 2 g t t l £ B € t i ^ i i i 4 % m b e n ukan bank sampah dan/atau bentuk penanganan sampah

Asisten
V-39
Katag
Kebutuhan m i n i m u m peralatan penanganan sampah dapat dilihat pada Tabel Kebutuban
Minimum Sarana Penanganan Persampaban.

Adapun peta rencana lokasi TPS/TPST dapat dilihat pada Peta Rencana Jaringan
Persampaban.

P-^nf Hierarki Paraf Koordinasi

7 SKPO/ Bagian PeinraKarsa ^ ^ ^ ^

SKPD/ Bagian Terkait:


Aslitcn
mii3mpziW>tmANmxmENPAcnAN

Tabel 5. 6 Kebutuhan Minimmn Sarana Penanganan Persampahan


Podaksl Sampah (Uter/harl) Pemilahan Pengumpulan Pengangkutan Pengolahan

Jumlah 4:
No Tahun Desa/Kel Penduduk Bak/ Gerobak/ ( T P S
Sejenis Bin Truk Truk Mesin
(Jiwal Rumah Kontalner Motor
Rumah Jumlah (40 (6000 (6000 (8000 Pengolah
Tangga (1000 (1000
Tangga Uter) Uter) Uter) Uter) (pada TPS)
Uter) uter) ,-• X '•
•«Y.
1 2016 Baleharjo 2887 8660 3031 11690 292 12: 0. 12' 2 •0 0 0 2
Tanjungsari 4224 12673 4435 17108 428 J i 17 ¥• 0U '•'<%3 0 0 3
NancEunean 2225 6674 2336 9010 225 9 ¥\ .¥"9- •7 "2 0 0 2
Widoro 1833 5500 1925 7425 186 TO- '74 7 "<••'¥' 7 1 0 0 1
Pacitan 3318 9953 3484 13437 336- V 'IS-- ¥'13 2 0 0 2
Pucangsewu 3188 9565 3348 12913 0323 0 13 0 '13 2 0 0 2
Bangunsari 4526 13578 4752 18331 J 458 18 0 18 3 1 0 3
Sumberharjo 1458 4374 1531 5905 '¥-148 6 1 0 0 1
A rj owinangu n 3398 10195 3568 13763 "'344 h 14' 14 2 0 0 2
Menadi 1971 5913 2069 7982 0. 200 009 8 8 1 0 0 1
Simoboyo 4406 13217 4626' 07 17843 18 18 3 0 0 3
Mentoro 2695 8085 2830 ^10914' . 273' 11 11 2 0 0 2
Purworejo 1737 5212 1824" \ -7037 0 176 7 7 1 0 0 1
Ploso 6845 20534 7187 0^7721 ¥'693 28 28 5 1 1 5
Sidoharjo 7565 22694 - 7943 30636 766 31 31 5 1 1 5
Kembang 2478 7433 7 2602 10035 251 10 10 2 0 0 2
Sambong 1197 3592 ¥¥•1257 4850 121 5 5 1 0 0 1
Ponggok
Semanten 941
311 /
* 2823
932'
¥>
¥'325
988^
1258
3811
31
95 4
1
4
1 0
1
0
0
0
0
0
1
=;
JUHLAH 57202 171607 - ¥ 60062 231669 5792 232 232 39 6 5 39

0 cv
'¥ .

"'0
Podnksi Ranipah (Uter/hari) Pemilahan Pengumpulan Pengangkutan Pengolahan

Jumlah
No Tahun Desa/Kel Penduduk Bak/ Gerobak/,
SeJenU Bin TPS Truk Truk ineaul
(Jiwa) Rumah Kontalner Motor';.'
Rumah Jumlah (40 (6000 (6000 (8000 Pengolah
Tangga (1000 (1000
Tangga Uter) Uter) Uter) Uter) (pada TPS)
Uter) Uter).

Tahap .
2 ke-I J_J Ai ^ J iCU 1 \J 3164 9493 3322 12315 320 13 is 0 0 2
2
Tfln 111 T N ^ < i j*ri 4531 13892 4862 18754 469 19 TO • y^ 19 3 1 0 3
Nfl n CC71 f nffjin 2439 7316 2561 9877 247 10 10 ¥'2 0 0 2
11 OJ 1 T%/% U i 1 fCjJk 11 2010 6029 2110 8139 203 0'-0 8 "•Vrf-Y's 0 1 0 0 1
X^ftn\fstr\ 3637 10911 3819 14730 368 "¥iS V'-.15 2 0 0 2
%JVJ\J
34Qftr 14: 2
1 fN CT^^rm 1 10485 3670 14155 .V354 VTO ^14 2 0 0
I U^CUlf^SCWLX
F^/l tN 011 T l Q A r i 4961 14884 5210 20094 V;- ' 502 20 JK 20 3 1 0 3
T^V^ 1
'0 6
A
Rll m rN^rriitno 1 ftQR 4795 1678 6473 162 6 1 0 0
UUlllL/^l iLAl ft
AfNrtTViiNAncrii n 11176 3912 15087 ¥377 TO 15 15 3 0 0
%J
1
K^f^tinrit 0161 6482 2269 8750 TO 219 0 9 9 1 0 0
iVl^llALJl
Rir^/ilTjTTm 14489 5071 - 19560 '00V 20 20 3 1 0
9Q ^4 8862 3102' '•v"ll964 0299 12 12 2 0 0 0
P
X Iu1
i nwk./iu:]
vfNt*^i f l ions 5714 2000= 7713 0. 193 8 8 1 0 0 1
A

Plnq/N
s i u a u / ^3jO 22509 7878 30388 "5/760 30 30 5 1 1 %J
1>J1U V1ICLIJ \J ft9Q9 24877- >¥:••• 8707 "33583 840 34 34 6 1 1
l ^ ^ t n t~m ri rY 4 r 8148' 2852 liobo 275 n 11 2 0 0 f.
Sambong 1313 3938 1378 5316 133 5 5 1 0 0 1
Ponggok 341 V - 1022 '' 358 1379 34 1 1 0 0 0 0
Semanten 1031 ' v / 3 0 9 4 ' ¥ 1083 4177 104 4 4 1 0 0 1
JUMLAH 62705 188114 ' V 65840 253954 6349 254 254 42 7 5 42

0'':t\- -j,-'
rLrJ-'.F;^,
J M'
'"^'-'Vi E
a.
a":'

=' Kn
Y* •3
O.
l</i -r- cat to

V 42
Podnksi Sampah (llter/hari) Pemilahan Pengumpulan Pengangkutan Pengolahan

Jumlah
No ^flhtitk D^flfl / Kel f e n fin (1 n Ic Bak/ Gerobak/
Sejenis Bin TPS Truk Truk uesin
•N V
(Jiwa) Rumah Kontalner Motor •
Rumah Jnmlah (40 (6000 (6000 (8000 Pengolah
Tanmra (1000 (1000
Tangga Uter) Uter) Uter) Uter) (pada TPS)
uter) Uter),

Tahap
o Irn Tl • fl4AO
10326 3614 13940 348 14 14^^ ''2 -• 0 0 o
ae-ii Balehario A
1 aniun^san ouo / 15111 5289 20400 510 ,. 20 TO ^^ ^ x 20 3 1 0 ft
itanRKunRan 06
AOftft
Oo 7958 2785 10744 269 -:V; 11 •A u ''•-2 0 0 o
wiuoro 6558 2295 8853 221 •'"••• 0 9 -sY 1 0 0 1
1

Ddfl.F fl n ftOftft 11868 4154 16022 401- •*16 VY 16 3 0 0 ft


u

Pu cangsewu ftftno 11405 3992 15397 .''385 ••0. 15: Y '--15 3 0 0 ft


ftftOT 07 22 '0 22 0
O
A
H
B angu nsan 16190 5667 21857 546 4 1
Sumberhario 1 "7 ftQ 5216 1825 7041 176 7 7 1 0 0 1
Ariowin angu n 4UoZ 12157 4255 16411 ¥410 TO 16' 16 3 0 0 ft
O
\MmramA: OftCQ 7050 2468 9518' TO 238 .'=?10 10 2 0 0 A
ZOoU
Simoboyo ftO ftft 15760 5516 - 21276 "^••£•532 0 0 21 21 4 1 0 A
*•

Mentoro OA lO
ftO 1 ft 9640 3374' '<Y3014 •¥'•'325 13 13 2 0 0 A
rurworcjo 0070 6215 2175 8390 i .:: 210 8 8 1 0 0 1
X
Diflafl ftl ftl 24484 8570 VTO/33054 '1/826 33 33 6 1 1 ft
rlOSQ
Q1A fll.a n fl A
27060 •JJ 9471 ^36530 913 37 37 6 1 1 W

Kembang 8863 3102 11965 299 12 12 2 0 0


Sambong 1428 4283 VN 1499 5783 145 6 6 1 0 0 1
Ponggok 370 -V. iiii* ^"x; 389 1500 38 2 2 0 0 0 0
Semanten 1122 ¥r.¥-3366"' : 1178 4544 114 5 5 1 0 0 1
JUMLAH 68207 204622 . 71618^ 276239 6906 276 276 46 8 6 46

•=v¥i
J-7
K
Podnksl Sampah (llter/hari) Pemilahan Pengumpulan Pengangkutan Pengolahan

Jumlah
No • nuuu H n M /tfel Bak/ Gerobak/, fl*wn1r
fl - J A A t _
Bin TPS TruK Mesin
(Jiwa) Rumah sejenis Kontalner Motor 7 TruK
Jumlah (40 (6000 (6000 Pengolah
Tangga Rumah (1000 (1000 (8000
Uter) ~ Uter) Uter) (pada TPS)
Tangga Uter) uter) „ Uter)
T
.O '"'
Tahap
A, Ire TTT
Daienano 3720 111 ftQ ftonft 1 ftnfta ft 77 1 ft
xo 1Xft'
0
•ft • n n
O i l

ft71 1 OQDH 00 "¥¥, 4 n A


0 i ft oonaft
Taru'ungsari CAAH ee
±\JaJaJ\J 10 00 X •-,
'.TO
¥«•
.'-• 1"
00 1
5443 AA\J-rO
X 4
Nanggu n gan 2857 ftnin 1 1ft1
1 ID X 11 00
ftyflD ^ '• 12 ~12' - * n n
nH£.n D
Widoro 23o2 TORT OdRO Qftfi7
you 9 QftQ X'j- in TO':'* 10 " 2 0 0 s^
f Vyd ( A VJ ft
Pacitan 4275 lOROft aaRo
HHoy t7ft1
X / 0 Xft0 aftft^
HOO •'? 17 n n 3
1 AoAO
• t jX7/ ft n
Pu Gangs ewu 4108 IbftOft aftia 1ftftftQ i-?raift 17"' •\ D J
•N
lAOAiJ
XDDOy tJ.".'. HXD '""•C'-.-; 94 1^ -x / • 0
a 1 n A
Bangunsari 5832 17AQ7 OftftOn *\' ftQI
oy X V?:'.'. 04 X
/ Hy H 41
S umberhario 1879 ftft
1
ftft/ lQ7ft
l y 10 7ftnQ
/ Dvjy v% i o n X% ft ft
0
1 n D
n 1
X D
A rj owinangu n 4379 T ftl ft7 aftQR 177ft ft
X / 100 'laaft c1 1 ft"
xo- 1R
Xo 0ft n n 3
IQ Oftft 7 HHO 1 n 1n D
n
Menadi 2540 7ft Oft7 •
?
• 1 u
0
KJ 2
/ o ly
A
D
Simoboyo 5677 1 / WOe ftQftl OOQQft ¥x':ft7ft
.-0/0
'"• '•XXX Oft Oft A 1
X n ><

4S0
eO H 4
Mentoro 3473 1nam ftftAft' •¥>-ftfto'
' • -OOA ' 'v.. 1 a la 0 n n 2
A
ODHO
Purworejo 2239
IQH
ft? lO
Q / 1ft
lO Oftft 1: onft/7 '-i'
^yuD 0 0 7
XH
Q
y
XH
Q A nD D
V
. > AA 1
Dl y ft D
A A A
8820 oftaftn -L?V' .'ftCftOl
OOf ^ X J- (SO ft ftft
00 ftft X
1 1 6
Ploso oyo OD X
GC*A1. A H A
9747 29242 7- ¥10235 ••39477 987 39 39 7 1 1 7
Didoliar]0
Kembang 3193 9578- 3352 12930 323 13 13 2 0 0 2
Sambong 1543 4629 v¥ 1620 6249 156 6 6 1 0 0 1
Ponggok 400 0. I261Y "•¥¥420 1621 41 2 2 0 0 0 0
Semanten 1212 V .-' 3637 ¥ 1273 4910 123 5 5 1 0 0 1
JUHLAH 73710 221129. VV7739S 298524 7463 299 299 SO 8 6 50

'4

ja
K
HI
V :^
A
X
•n Ifl
'(•1
r^.:>-%
.t>

a. iX0

(lO
Poduksl Sampah (llter/hari) Pemilahan Pengumpulan Pengangkutan Pengolflhan

Jumlah
No Tahun Desa/ Kel m VUU UU U A <1 A tenia Bak/ Gerobak/. TPS Trnk
1 8U A Mesin
(Jiwa) Rumah Kontalner Motor' 4• U A
Rumah Jumlah (40 (6000 (60O0 Pengolah
Tangga |iUUU I lUUU (8000
Tangga Uter) Uter) Uter) (pada TPS)
uter) uter) ,. Uter)
V
Tahap •••TO.
5 ke-IV 1a 1 % ^ Fs n flQQ7 11992 4197 16189 405 16 . 16 •.••.•":T
'O 0 0 fl
C JT ail O
T&n j iin^ssin 17549 6142 23691 592 .. • 2 4 ' • 24 •4K 4 1 0 A
H
flQQ t 9243 3235 12477 312 0 0 12 """,j2" '¥'2 0 0 A
oUo 1
wiaQi o 7616 2666 10282 257 sX"'VX 10 ¥"'"'¥=10 •* ¥> 2 0 0 n
A
DA Aa p A fN /ic:o4
13783 4824 18607 465 ¥"19 V¥ 10 3 1 0 fl
H H I O 13245 4636 17881 .=:'447 W 18 = J- ''18 3 0 0 fl
D 2 0 O 18803 6581 25384 :; ¥ 635 •""-•"V 25 25 4 1 1 A
H

S u mbcrh HT\ O ZUly 6057 2120 8177 204 ¥>:8 8 1 0 0 1


A n owman^^u n /l7iftA
H/Uo 14118 4941 10059 ¥476 TO. 19*: 19 3 1 0 fl
0

n70Q 8188 2866 11054 276" ,-'¥ii 11 2 0 0 rt


A

Simoboyo £ 1 Q1 18303 6406- ,.. 24709 '"¥618 '00 25 25 4 1 1 A


H
O l U l
M cntoro 3 / 3.^ 11195 3913' S15114. "-378 '. 7 15 15 3 0 0 fl
r u nvorci o 0.4 Oft
7218 2526' '•0744 ' ¥ 244 10 10 2 0 0 A

rtOSO
Q47Q 28435 9952 "'•'X, '38387 VY 060 38 38 6 1 1 D
V H / O
Q •^ A a A tI UnATtx
H / O 31425' Uiv^Y10999 '•'42424 1061 42 42 7 1 1 1
(7

Kembang fl 4fl1 10293- 3603 13896 347 14 14 2 0 0 A


3 4 3 1
Sambong 1653 4975 • 1741 6716 168 7 7 1 0 0 1
PonRRok 430 ,'S. 1290 "'=*¥452 1742 44 2 2 0 0 0 0
Semanten 1303 ''V;-¥3909^ ¥ 1368 5277 132 5 5 1 0 0 1
JUHLAH 79212 2 3 7 6 3 6 ' •7 83173 320809 8020 321 321 53 9 7 53
Surrdjen HasU Rencxma, 2016

V
rj) E
T* ro
£3 ^
X
(IJ Zl,
01
407
'•• 'F"\ '''c'S-a "v'
encana penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya ditetapkan

R berdasarkan:
O tujuan penataan BWP;
YrVj--. W ' " J

nilai penting Sub BWP yang akan ditetapkan; ^^^^

kondisi ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan Sub BWP yang akan ditetapkan;

daya d u k u n g dan daya tampung lingkungan hidup BWP; dan

ketentuan peraturan peruridahg-undangari terkait.


V|x,- Yh Vt
Tujuan dari penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya adalah upaya dalam
rangka operasionalisasi^ rencana ^tata ruang yang diwujudkan ke dalam rencana
penanganan Sub BWP yang diprioritaskan, u n t u k mengembangkan, melestarikan,
melindungi, memperbaiki, mengkoordinasikan keterpaduan pembangunan, dan/atau
melaksanakariv^revitalisasi;di kawasan yang bersangkutan, yang dianggap memiliki
prioritas tinggi Jdibahclingkaii:, Sub BWP lainnya. Sub BWP yang diprioritaskan
penanganannya merupakan lokasi pelaksanaan salah satu program prioritas dari RDTR.

Penetapan',Suti - BWP^ yarig diprioritaskan penanganannya harus memuat sekurang-

1) Lokaii, "
Lokasi Sub-BWP yang diprioritaskan penanganannya divisualisasikan dalam peta.
Lokasi tersebut pada u m u m n y a meliputi seluruh wilayah Sub BWP yang ditentukan,
atau dapat j u g a meliputi sebagian saja dari wilayah Sub BWP tersebut. Batas delineasi
lokasi Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya ditetapkan dengan
mempertimbangkan:
o Batas fisik, seperti blok dan subblok;

o Fungsi kawasan, seperti zona dan subzona;

1/ oo Wilayah administratif, seperti RT, RW, desa/kelurahan, dan kecamatan;


Perbemtuatt^secaralcu
Pflraf-Hi^irki

01
SKPD/ fe^l^^rnraiiafsa tural tradisional, seperti kampung, desa adat, gampong, dan
SKPO; Uagian Terkaii:
Asisten
1
VI-2
Kabag 7
Htiktim 3.
o Kesatuan karakteristik tematik, seperti kawasan kota lama, lingkungan sentra
perindustrian rakyat, kawasan sentra pendidikan, kawasan perkampungan
tertentu, dan kawasan permukiman tradisional; dan

o Jenis kawasan, seperti kawasan baru yang berkembang cepat, kawasan terbangun
yang memerlukan penataan, kawasan dilestarikan, kawasan rawan bencana, dan
kawasan gabungan atau campuran.

2) Tema Penanganan
Tema penanganan merupakan visualisasi dari program-program pengembangan yang
diintegrasikan u n t u k lokasi Sub BWP yang diprioritaskan atau diutamakan. Dengan
mempertimbangkan urgensi keberadaan BWP Pacitan sebagai Pusat Pemerintahan
Ibukota Kabupaten Pacitan, perdagangan dan Pariwisata, maka .tema penanganan
cenderung mengarah pada pengembangan Sub BWP prioritas ¥ sebagai pusat
pemerintahan, perdagangan d a n pariwisata dengan didukung ¥ ketersediaan
prasarana dan sarana yang memadai serta tidak mengindahkan'Tutigsi- fungsi
ekologis demi mencapai tujuan penataan ruang. • , ' -;Y

6.1 Lokasi J.
Penilaian terhadap penetapan Sub BWP yahg- a k a n . diprioritaskan' penangannyannya
dilakukan dengan metode scoring terhadap beberapa kriteria yaitu:

a merupakan faktor kunci yang mendukung perwujudan rencana pola ruang dan
rencana jaringan prasarana, serta pelaksanaan peraturan zonasi d i BWP;
M^ '^'MM
b) mendukung tercapainya agenda pembangunan dan pengembangan kawasan;
M M M¥ ''^'^
merupakan Sub BWP yang meiniUki nilai penting dari sudut kepentingan d i
A" A
antaranya:
c . l . Ekonomi, sosial dan budaya;

C.2. Pendayaguriaan^sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi,


•0
C.3. Fungsidari daya d u k u n g lingkungan hidup;
"Jy
, c.4:%MerriLliki¥vnilai penting lainnya yang sesuai dengan kepentingan
r' Vl''' prirebarigurian BWF^,
M V,^_ "MY
d) ¥~; merupakan Sub BWP yang dinilai perlu dikembangkan, diperbaiki, dilestarikan,
dan/atau^ direvitalisasi agar dapat mencapai standar tertentu berdasarkan
pertimbangan ekonomi, sosial-budaya, dan/atau lingkungan.
Skoring penilaian dengan menggunakan criteria-kriteria tersebut dapat dilihat pada tabel
Penilaian Sub BWP yang Diprioritaskan.

Tabel 6. 1 PenJlalan Sub BWP yang Diprioritaskan Penanganannya


Nllol poda Kiltorla /Sob Kriteria
Ho Sob BWP b o Total filial
a d C.2 c3 c4
d
1 Sub BWP A 5 4 5 3 3 5 S 30
2 Sub BWP B 3 3 4 4 2 3 2 21
3 Sub BWP C 3 3 3 4 3 4 4 24
4 Sub BWP D 5 5 5 2 3 5 5 30
S Sub BWP E 3 2 3 4 2 2 3 19
: Psr?f HierarKi 2 3 4 2 3 3 21

SKPO/ Bagian TerKait:


1 Vl'3
2.
, 3 ^
Berdasarkan hasil skoring tersebut maka lokasi Sub BWO yang diprioritaskan
penanganannya adalah Sub BWP A dan Sub BWP D.

6.2 Tema Penanganan


Rencana penanganan d i BWP Pacitan pada Sub BWP yang diprioritaskan mencakup:

O Tema penanganan Sub BWP A adalah mewujudkan pusat kota yang nyaman, hijau,
produktif dan berkelanjutan dengan fokus penanganan meliputi
pembangunan/revitalisasi perkantoran pemerintah; perluasan dan pembangunan
terminal; penyediaan ruang dan bangunan sektor informal; penyediaan ruang home
industri makanan; pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa; pengembangan
dan/atau revitalisasi gedung olah raga dan taman budayaj^pengembangan
perumahan; dan penyediaan RTH dan RTNH. ,- Vx

O Tema penanganan Sub BWP D adalah mewujudkan pesisir yang nyaman,^ hijau,
produktif dan berkelanjutan dengan fokus penanganan meliputi pembangunan dan
pengembangan pariwisata; pengembangan perumahan; penanganan kawasan dan
bangunan; dan penyediaan RTH dan RTNH.
<v
6.2.1 Penanganan Sub BWP A
1) Rencana Pembangunan/Revitalisasi Perkantoran Pemerintah
Kriteria rencana pembangunan/revitalisasi .perkantoraii;pemerintah d i Sub BWP A
adalah: Vfj^ M
\K H'K J>y.0-:y
'ix '07. '7:\r7
o pengelolaan ruang pelayanan yang diperuntukkan bagi pembangunan/revitalisasi
perkantoran pemerintah;. VL YM ""^
M YV
o lokasi u n t u k kegiatan pembangunan/revitalisasi perkantoran pemerintah tidak
mengganggu lalu lintas j a l a n raya sesuai perundang-undangan yang berlaku;
..K M. Y\ "\v
o pembatasan --^ruang .yang diperbolehkan d a n tidak diperbolehkan u n t u k
pembangunan/revitalisasi perkantoran pemerintah;
''¥•;••„ IK t,l=
0 Y.
o kewajiban{pengaturan sistem sirkulasi peigerakan keluar masuk kendaraan d i
,pembanguhan/reyitalisasi perkantoran pemerintah;
J0;j "XX, K\
o f luas. lahan { u n t u k penampungan kendaraan/perparkiran dan u n t u k bangunan
^Vmaksimum 9 0 % d a n ruang terbuka hijau m i n i m u m 10% dari luas areal
* -? (-'• \'"-.

pembangunan/revitalisasi perkantoran pemerintah;


o dalam 'pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan ketertiban, kebersihan
dan keindahan, keselamatan dan keamanan pengguna ruang publik.

2] Rencana Perluasan dan Pembangunan Terminal


Kriteria rencana perluasan dan pembangunan terminal d i Sub BWP A adalah:

o pengelolaan ruang pelayanan u m u m yang diperuntukkan bagi perluasan dan


pembangunan terminal tipe A;

o lokasi u n t u k kegiatan terminal tidak mengganggu lalu lintas jalan raya dan
perumahan disekitarnya sesuai perundang-undangan yang berlaku;

diperbolehkan dan tidak diperbolehkan u n t u k perluasan


V &KPD/Bagian Terkaii:
VI-4

f 2
\
mKi)mpzmpmmmim£NpmAN

0 kewajiban pengaturan sistem sirkulasi pergerakan keluar masuk kendaraan d i


terminal;

0 luas lahan u n t u k bangunan maksimum 6 0 % dan ruang terbuka hijau m i n i m u m


10% dari luas areal terminal;

o dalam pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan ketertiban, kebersihan


dan keindahan, keselamatan dan keamanan pengguna ruang publik.

3) Rencana Penyediaan Ruang dan Bangunan Sektor Informal


Kriteria rencana penyediaan ruang dan bangunan sektor informal d i Sub BWP A
adalah:

0 pengelolaan ruang pelayanan u m u m yang diperuntukkan bagi penyediaan ruang


dan bangunan sektor informal yang menyangkut luas, lokasi dan'waktu;
'-;V
o lokasi u n t u k kegiatan perdagangan informal pada lokasi yarig tidak mengganggu
kepentingan u m u m sesuai perundang-undangan yang berlaku";V, " -¥{:x. { .

o pembatasan ruang publik yang diperbolehkan.dan tidak^diperbolehkan u n t u k


kegiatan sektor informal; J J

o luas u n t u k sektor informal pada setiap { r u a n g ' publik yang diizinkan u n t u k


dimanfaatkan secara reguler oleh sekto^ informal dibatasi rriaksimum 10 % dari
luas area tersebut, sedangkan ruang publik yang diizinkan u n t u k dimanfaatkan
secara insidental oleh sektor informal rriaksimum 75.% dari luas area tersebut;
C-:r-i.. MY f*.
o pemanfaatan ruang publik u n t u k kegiatan sektor informal hanya diperbolehkan
pada w a k t u yang telah ditetapkan; ' . ^
0 dalam pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan ketertiban, kebersihan
dan keindahan, keselamatan dan keamanan pengguna ruang publik.
.'?'':>- ' 'Y
4) Rencana Penyediaan Home Industri Makanan
Kriteria rencana penyediaan home industri makanan d i Sub BWP A adalah:
\F, ''i2>.. /J
o pengelolaan ruang home industri makanan yang diperuntukkan bagi penyediaan
ruang u n t u k home industri makanan yang menyangkut luas, lokasi dan waktu;
Y- 'YJ%4%. 'V
o pembatasan ruang; home industri yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan
u n t u k kegiatan industri makanan;
;V-? .,
o '^Uuas u n t u k kegiatan home industri yang diizinkan u n t u k dimanfaatkan secara
reguler oleh kegiatan industri makanan, ruang penjualan/toko, penampungan
kendaraan/perparkiran maksimum 9 0 % dan ruang u n t u k ruang terbuka hijau
m i n i m u m 10% dari luas lahan;
o dalam pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan ketertiban, kebersihan
dan keindahan, keselamatan dan keamanan pengguna ruang publik.

5) Rencana Pembangunan Fasilitas Perdagangan dan J a s a


Kriteria rencana pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa d i Sub BWP A adalah:

o pengelolaan ruang pelayanan u m u m yang diperuntukkan bagi rencana


pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa yang menyangkut luas, lokasi dan
flmktuL
f Paraf Hierarki Paraf K3(*fd;nasi
SXPD/ Bagiaii Psmrsksi^a
1 Sekda
01
SKPD/ Bagijii TarKsit:
\ Asisten
1 1
J
VI-5
1 ('.£bag 2
3 „
o lokasi u n t u k kegiatan rencana pembangunan fasilitas perdagangan dan jasa pada
lokasi strategis d a n akses serta d i zona perdagangan dan jasa yang telah
ditetapkan atau sesuai yang ditetapkan dalam pola ruang dan perundang-
undangan yang berlaku;

o pembatasan ruang fasilitas perdagangan dan jasa yang diperbolehkan dan tidak
diperbolehkan u n t u k kegiatan perdagangan dan jasa;

o luas u n t u k fasilitas perdagangan dan jasa pada setiap ruang publik yang diizinkan
untuk dimanfaatkan secara reguler dan untuk penampungan
kendaraan/perparkiran dibatasi maksimum 9 0 % d a n ruang terbuka hijau
m i n i m u m 10 % dari luas areal fasilitas perdagangan dan jasa;

o pemanfaatan ruang fasilitas perdagangan dan jasa u n t u k kegiatan sektor informal


diperbolehkan pada waktu yang telah ditetapkan dan mendapat izin dari pengelola
fasilitas perdagangan dan jasa; ¥if! ¥ { Y = , J -

o dalam pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan,,ketertiban, kebersihan


dan keindahan, keselamatan dan keamanan pengguna'ruarig pubiik..
J j % JM.
6) Rencana Pengembangan dan/atau revitalisasi Gedung Olah Raga dan taman
budaya Jj ^'V. 0
Kriteria rencana pengembangan dan/atau" revitalisasi Gedung Olah Raga dan taman
budaya d i Sub BWP A adalah: Ii: ''••j. M
o penyediaan ruang pengembangan dan/atau revitalisasi Gedung Olah Raga dan
'V'X*=- V. ••A,
taman budaya menyangkut lokasi; Masterplan darijRTBL, dan pengelolaannya;
'%"^Ms ^^-'400
o lokasi u n t u k kegiatan pengembangan dan/atau revitalisasi Gedung Olah Raga dan
taman budaya d i Sub^ A f berada^ d i Kelurahan Sidoharjo dengan
pengembangan kawasan stadion yarig.telah ditetapkan atau sesuai dalam pola
ruang BWP dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
V4. a' '*X.

o pembatasan.ruang perigembangan dan/atau revitalisasi Gedung Olah Raga dan


taman budaya yarig diperbolehkan dan tidak diperbolehkan mengacu pada konsep
Masterplmi, RTBL dan dokumen perencanaan lainnya d a n memperhatikan
ketentuari{£ih, Mendirilmri Bangunan yang telah ditetapkan;
o f . pengcrnbangan dan/atau revitalisasi Gedung Olah Raga dan taman budaya sesuai
"'¥^. , dengan kebutuhan yang telah diproyeksikan pada Masterplan, RTBL dan dokumen
' perencanaan lamnya serta wajib menyediakan ruang u n t u k perparkiran d a n
fasilitas penunjang lainnya;
MM.
o luas u n t u k pengembangan dan/atau revitalisasi Gedung Olah Raga dan taman
budaya disesuaikan dengan Masterplan, RTBL dan dokumen perencanaan lainnya;
o pemanfaatan ruang pengembangan dan/atau revitalisasi Gedung Olah Raga dan
taman budaya dapat menyediakan ruang u n t u k kegiatan sektor informal dengan
waktu kegiatan yang telah ditetapkan dan mendapat izin dari pengelola;
o dalam pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan ketertiban, kebersihan
dan keindahan, keselamatan dan keamanan pengguna ruang publik.

7) Rencana Pengembangan Perumahan


• Paraf HierarKi K'Ti#^''*'^rii^gVig ppngpmhangan perumahan d i Sub BWP A adalah:
SKPO/ Bagjan Pcmrskai-aa
Sekda
SKPD/ Bagian Tarkaii:
Asisten
1 : VI-6
1 Kcbag 2
; H-'ku'Ti 3 :
o penyediaan ruang pengembangan perumahan yang diperuntukkan bagi kegiatan
perumahan yang menyangkut lokasi, jenis perumahan;

o lokasi u n t u k kegiatan pengembangan perumahan d i Sub BWP D berada d i


Kelurahan Sidoharjo dan Kelurahan Ploso yang telah ditetapkan atau sesuai
dalam pola ruang dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

o pembatasan ruang pengembangan perumahan yang diperbolehkan dan tidak


diperbolehkan u n t u k kegiatan bangunan perumahan dengan mengacu pada
peraturan zonasi;

0 perumahan yang dikembangkan oleh developer/pengembang diarahkan dengan


variasi perbandingan kavling kecil (rumah sederhana), sedang (rumah menengah)
dan besar (rumah mewah) 3:2:1 dan menyediakan prasarana dan sarana utilitas;

o dalam pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan ketertiban, kebersihan


dan keindahan, keselamatan dan keamanan pengguna ruang publik. •

\) Rencana Penyediaan Ruang R T H dan RTNH v - ¥


a) Rencana Penyediaan R T H ^^
RTH direncanakan tersebar d i seluruh wilayah BWP Pacitan dan pengalokasian
luasan ruang mengacu pada UU Nomor 26 t a h u n 2007 tentang Penataan Ruang,
Permendagri No. 1 t a h u n 2007, Permen PU No. 5/PRT7M/2008 dengan ketentuan
sebagai berikut: (I :Y "J

• RTH publik dengan total luas m i n i m u m 20 % dari luas Sub BWP atau BWP;

Ruang terbuka hijau yang terdapat d i Sub BWP A yaitu RTH publik. RTH publik
, . 7 7.-..--iy

berupa: M M MM''J%
• RTH taman dan h u t a n kota berupa taman lingkungan (taman RT, taman RW,
taman kelurahan/desa);;taman kecamatan; taman kota; h u t a n kota; sabuk
hijau (green belt); atau^berupa lapangan hijau yang dilengkapi dengan
« Y.:- _ ff. \P''\
fasilitas rekreasijdan olah'raga dan berfungsi sosial dan estetik sebagai
sarana kegiatari rekreatif, edukasi atau kegiatan lain.
VM M M
•. RTH j a l u r hijau j a l a n berupa RTH pulau dan median jalan dan RTH j a l u r
v/pejalan kaki:'v.
M \K - J J
.TO-'_^/-*-.:,;TO^ -<•• : -Vi ?

{ " Sh RTH fungsi tertentu berupa sempadan SUTT; sempadan pantai; sempadan
'•iK. -ff. ^ M ;

^YX sungai; sempadan mata air; dan pemakaman.


"x>,
Kriteria/penetapan ruang terbuka hijau perkotaan adalah lahan dengan luas
paling {'sedikit 2.500 dan berbentuk satu hamparan, berbentuk j a l u r , atau
kombinasi dari bentuk satu hamparan dan j a l u r serta didominasi t u m b u h a n .
b) Rencana Penyediaan RTNH
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekeijaan U m u m No. 12/PRT/M/2009 tentang
Pedoman Penyediaan d a n Pemanfaatan RTNH perkotaan, maka tujuan
penyediaan dan pemanfaatan RTNH adalah:
• Tempat berlangsungnya aktivitas masyarakat, keindahan dan kenyamanan
serta memberikan keuntungan ekonomis;

FsrsfKocrdnisi
SKPD/ e a g « n P€n)ri!;ar£3

SKPD/ Bagian Teitci-:


1X2
1 1 VI-7
2
mzmiPzm>pmf\NmmfeNPmAN
• Manfaat RTNH adalah mercduksi permasalahan d a n nkonflik sosial,
meningkatkan produktivitas masyarakat, pelestarian lingkungan d a n
meningkatkan nilai ekonomis lahan sekitamyanya,

• Arahan dan kriteria penyediaan diantaranya pekarangan bangunan, skala


sub kawasan, wilayah kota/perkotaan, fungsi tertentu dan penyediaan lahan
parkir.

Penyediaan dan pemanfaatan RTNH d i Sub BWP A diatur berdasarkan tipologi


sebagai berikut:

• Secara Hirarkhis

Secara hirarkhis merupakan pengelompokan RTNH berdasarkan perannya


pada suatu tingkatan admininstratif dan dikelompokkan sebagai berikut:

• RTNH skala Kabupaten;

• RTNH skala kecamatan;

• RTNH skala kelurahan/desa; . j M


JM

• RTNH skala lingkungan/RW; ^M -j^'

• RTNH skala lingkungan RT. j ^ Yj Y. -J


XX--'''
f. 'J- H-"^
*"TO %_ • •=
Secara Fungsional 61 M.. '¥>
% %
Secara fungsional merupakan pengelompokan RTNH berdasarkan perannya
sebagai penunjang dari suafu. furigsi bangunan tertentu. Hal i n i terkait
dengan suatu pola m a n g dalam* penggunaan m a n g yang secara detail
digambarkan dalam fungsi ^bdnguhan. RTNH secara fungsional dapat
dikelompokkan sebagai berikutrfx
• RTNH pada lingkungan bangunan h u m a n ;
VY \iX iM
o -•- TO s
<* RTNH pada lingkungan bangunan komersial;
• RTNH paiia lingkungan bangunan sosial budaya;
7:l, ^
• Y R T N H pada lingkungan bangunan pendidikan;
• RTNH pada lingkungan bangunan olahraga;
J>.Y>-
•, RTNH pada lingkungan bangunan kesehatan;

• :RTNH pada lingkungan bangunan transportasi;

•>. ,.' RTNH pada lingkungan bangunan industri;

• RTNH pada lingkungan bangunan instalasi.

Secara Linier
Secara linier mempakan pengelompokan RTNH berdasarkan perannya
sebagai penunjang dari jaringan aksesibilitas suatu wilayah. RTNH yang
diatur d i sini bukan mempakan jalan atau j a l u r pejalan kaki, tetapi berbagai
bentuk RTNH yang disediakan sebagai penunjang aksesibilitas pada jaringan
j a l a n skala tertentu. RTNH secara linier dapat dikelompokkan sebagai

SKPD/Bagian P e ^ a k s R X N t ^ ^ jalan arteri;


SKPD/ Bagian TerKait:
1 1 ! VI-8
• RTNH pada jalan kolektor;

• RTNH pada jalan lokal;

• RTNH pada jalan lingkungan.

6.2.2 Penanganan Sub BWP D


1) Rencana Pengembangan dan Pembangunan Pariwisata
Kriteria rencana pengembangan dan pembangunan pariwisata d i Sub BWP D adalah:

o penyediaan ruang pembangunan d a n pengembangan pariwisata yang


diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata yang menyangkut lokasi, komponen
prasarana wisata yang dibutuhkan, w a k t u kegiatan dan pengelolaannya;

o lokasi u n t u k kegiatan pembangunan dan pengembangan pariwisata pada lokasi


pantai Telengria, Tamperan dan Pancer Dorr yang telah ditetapkan atau sesuai
dalam pola ruang dan peraturan perundang-undangan yang berlaku; " ,

o pembatasan ruang pembangunan d a n pengembangan pariwisata yang


diperbolehkan dan tidak diperbolehkan untufe''kegiatan bangunan* prasarana
pariwisata dengan mengacu pada ketentuan sempadan pantai;
M M: Yf
o luas u n t u k pembangunan dan pengembangan pariwisata pada setiap ruang publik
yang diizinkan dapat dimanfaatkan secara reguler,untuk bangunan prasarana dan
sarana pariwisata dibatasi maksimurn 4 0 % dari ruang terbuka hijau m i n i m u m
10% dari luas areal wisata serta dilenglmpi fasiltas penampungan
kendaraan/perparkiran yang niemadai; ^v^^. ^ Y Y
o pemanfaatan ruang pembangunan d a n pengembangan pariwisata u n t u k kegiatan
sektor informal diperbolehlmn pada w l l c t u dan tempat yang telah ditetapkan dan
mendapat izin; %

o dalam pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan ketertiban, kebersihan


dan keindahan^keselamatan dan keamanan pengguna ruang publik..
0 J J
2| Rencana Pengembangan Perumahan
Kriteria rencana pengembangan perumahan d i Sub BWP D adalah:

o ^- penyediaan' ruang pengembangan perumahan yang diperuntukkan bagi kegiatan


f x perumahan yang menyangkut lokasi, jenis perumahan;

o dqkasi^ u n t u k kegiatan pengembangan perumahan d i Sub BWP D berada d i


Kelurahan Sidoharjo dan Kelurahan Ploso yang telah ditetapkan atau sesuai dalam
pola ruarig dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

o pembatasan ruang pengembangan perumahan yang diperbolehkan dan tidak


diperbolehkan u n t u k kegiatan bangunan perumahan dengan mengacu pada
peraturan zonasi;

o perumahan yang dikembangkan oleh developer/pengembang diarahkan dengan


variasi perbandingan kavling kecil (rumah sederhana), sedang (rumah menengah)
dan besar (rumah mewah) 3:2:1 dan menyediakan prasarana dan sarana utilitas;

o dalam pelaksanaannya harus memperhatikan ketentuan ketertiban, kebersihan


dan keindahan, keselamatan dan keamanan pengguna ruang publik.
Pfffil Hieiarki
Kawasan dan Bangunan
X iagian Pemrakarsa
01
Sekda

SKPD/BaglaaTerkaft:" VI-9

i
Asisten
1 V
Kabag 2.
Htiku"! 3.
Rencana penanganan kawasan dan bangunan d i Sub BWP D, meliputi:

o Kawasan Pariwisata Telengria, Tamperan d a n Pancer Dorr, dengan program


penanganan:

• penyusunan masterplan pengembangan kawasan ekowisata, minapolitan


dan pembangunan ruang terbuka hijau;

• pembangunan dan/atau pengembangan pariwisata;

o Kawasan Bandar Udara, dengan program penanganan:

• Penyusunan RTBL dan/atau pedoman rancang kawasan.

• Penjmsunan Rencana Pengembangan Prasarana Terpadu Kawasan Bandar


Udara;

• Pengembangan bandar udara.

o Kawasan Kompleks Militer, dengan program penanganan:


XT'"-','"''
• Penjoisunan RTBL dan/atau pedoman rancang kawasan
c-'.'f ...L • • }
• Penyusunan Rencana Pengembangan Prasarana Terpadu Kawasan kompleks
militer; ' , 'j\
-TOVX M- •• "'M- V
• Pembangunan dan/atau pengembangan kompleks militer.
ki •••"X J
o Kawasan perkotaan disepanjang j a l a h : primer di^Sub BWP D, dengan program
penanganan:
• Penyusunan RTBL dan/atau .pedoman rancang kawasan disepanjang jalan
primer; f X M^ %
JS >3 \ 0

• Penataan koridor kawasan perkotaan sepanjang jalan primer;


Y=^M ~Mf' V
• Perbaikaii infrastruktur,^lingkungan dan utilitas.
"04 V¥ 07
Kawasan perumahan,: dengan program penanganan:
• Penyusunan RTBL dan/atau pedoman rancang kawasan perumahan;
'xM- "Y M
•^v., Pembamguhan perumahan;
Perbaikan infrastruktur, lingkungan dan utilitas;
" • • . 3 . Vl"-

M-X' . I ' Penyediaah RTH d i perumahan.


V'XY XM • -• •
o Kawasan sepanjang sungai, dengan program penanganan:
MM
• Penyusunan RTBL dan/atau pedoman rancang kawasan sempadan sungai;

• Perbaikan badan dan sempadan sungai;

• Penertiban pemanfaatan ruang d i sempadan sungai.


4) Rencana Penyediaan Ruang R T H dan RTNH
a) Rencana Penyediaan R T H
RTH direncanakan tersebar d i seluruh wilayah BWP Pacitan dan pengalokasian
luasan ruang mengacu pada UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
Permendagri No. 1 tahun 2007, Permen PU No. 5/PRT/M/2008 dengan ketentuan
fee^agMi.UeriKut:
SKPD/ Bagian Pemrakarsa
RTH p i b»K tjengan total luas m i n i m u m 20 % dari luas Sub BWP atau BWP;
Asisten SKPD/ Bagian Terkait
1 : VI-10
Kabag 2
•5
Ruang terbuka hijau yang terdapat d i Sub BWP A yaitu RTH publik. RTH publik
berupa:

• RTH taman dan h u t a n kota berupa taman lingkungan (taman RT, taman RW,
taman kelurahan/desa); taman kecamatan; taman kota; h u t a n kota; sabuk
hijau (green belt); atau berupa lapangan hijau yang dilengkapi dengan
fasilitas rekreasi dan olah raga dan berfungsi sosial dan estetik sebagai
sarana kegiatan rekreatif, edukasi atau kegiatan lain.

• RTH j a l u r hijau jalan berupa RTH pulau dan median jalan dan RTH j a l u r
pejalan kaki.

• RTH fungsi tertentu berupa sempadan SUTT; sempadan pantai; sempadan


sungai; sempadan mata air; dan pemakaman. 'f,

Kriteria penetapan ruang terbuka hijau perkotaan adalah lahanTdengan luas


paling sedikit 2.500 dan berbentuk satu hamparan, tierbentuk;jalur, atau
kombinasi dari bentuk satu hamparan dan j a l u r serta didominasi t u m b u h a n .
KK "%"X•¥^ 'M
Rencana Penyediaan RTNH J ' " M. f ' X 'M
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekeijaan'Umum No. 12/PRT/M/2009 tentang
Pedoman Penyediaan d a n Pemanfaatan, RTNHX perkotaan, maka tujuan
penyediaan dan pemanfaatan RTNH.adalah:'¥{v V^
t'-F
lis M-;.,
'A'X
4
• Tempat berlangsungnya aktivitas .masyarakat, .keindahan dan kenyamanan
serta memberikan keuntungan ekonomis; M
0007- Vj. V
• Manfaat RTNH adalah mereduksi 'permasalahan d a n nkonflik sosial,
meningkatkan produktivitas\masyarakat, pelestarian Imgkungan d a n
meningkatkan nilai ekonomis lahan sekitamyanya.
...TO-'!.'f ' J

• Arahan dan^loiteria penyediaan diantaranya pekarangan bangunan, skala


sub kawasan, wjlayah kota/perkotaan, fungsi tertentu dan penyediaan lahan
parkiiVY Yx^^ ijj
Penyediaan dan pernanfaatan RTNH d i Sub BWP A diatur berdasarkan tipologi
sebagai berikutf, "Vx
XV''- 0\ Mi,
• Secara'Hirarkhis
M
X Secara; hirarkhis merupakan pengelompokan RTNH berdasarkan perannya
iv f x pada suatu tingkatan admininstratif dan dikelompokkan sebagai berikut:

RTNH skala Kabupaten;

RTNH skala kecamatan;

• RTNH skala kelurahan/desa;

• RTNH skala lingkungan/RW;

• RTNH skala lingkungan RT.

Secara Fungsional
Secara fungsional mempakan pengelompokan RTNH berdasarkan perannya
«££SS§8^«2SJiyBi^g suatu fungsi bangunan tertentu. Hal i n i terkait
t*:;"^ (Hierarki pola m a n g dalam penggunaan m a n g yang secara detail
Sekda Y SKPD/ Bagun Pemraklrsa

SKPD/ QagianTerkaii:
i Asisten
sr VI-11
7
1 Hi!'<:in
digambarkan dalam fungsi bangunan. RTNH secara fungsional dapat
dikelompokkan sebagai berikut:

• RTNH pada lingkungan bangunan h u n i a n ;

• RTNH pada lingkungan bangunan komersial;

• RTNH pada lingkungan bangunan sosial budaya;

• RTNH pada lingkungan bangunan pendidikan;

• RTNH pada lingkungan bangunan olahraga;

• RTNH pada lingkungan bangunan kesehatan;

• RTNH pada lingkungan bangunan transportasi; X ,

• RTNH pada lingkungan bangunan industri; V^

• RTNH pada lingkungan bangunan instalasi.^ M ^ '^'•'MMp

Secara Linier X •••{A,.. ' x


Secara linier merupakan pengelompokan RTNH v berdasarkan perannya
sebagai penunjang dari jaringan aksesibilitas suatu wilayah. RTNH yang
diatur d i sini bukan merupakanjalan'atau j a l i i r pejalan kaki, tetapi berbagai
bentuk RTNH yang disediakan sebagai penunjang'aksesibilitas pada jaringan
j a l a n skala tertentu. RTNH secara linier^'dapat dikelompokkan sebagai
berikut: j->- ' K \ % 'V
M Y

• RTNH pada jalan arteri; " * ^ ; : > K " J J - X J

• RTNH pada jalan £6lektori¥fP'^^%^


• RTNH pada j a l a n lokal; 'x

• RTNH pada jalan lingkungan,


% % ^* \F

• J \ X ,
Y.-.<V% -\\.

0 . 0 Y^ " M M ^•

M ' M . 04 % 0 ; j y

% M h . " J

Paraf Hiersrki Paraf Koordinasi


SKPD/ Bagian Pamrakarsa
ScktJa

SKPD/ Bagian Terkait:


ML
Asisten VI-12

2
1

Kabag
bab 7
ketentuan pemanfaatan
ruang
encana pemanfaatan ruang dalam RDTR dan PZ BWP Pacitan menipakan upaya

R! mewujudkan RDTR dalam b e n t u k ^ - indikasi • program


ang/pengembangan BWP Pacitan dalam janglmfwaktu perencanaan 5 (lima)
tahunan sampai akhir tahun perencanaan' sebagaimana diatur dalam pedoman i n i .
penataan

Rencana pemanfaatan ruang berfungsi: \- iv^ \::o

O Dasar pemerintah d a n ma;


masyarakat> dalam Xpemrograman penataan
ruang/pengembangan BWP PacitaajV-'Xt- YfS-i..,_..X:ff
.sy... 0^ ""M. 'M.:0
O Arahan u n t u k sektor dalam penyusunan program;
''J\ \*K MJ
O Sebagai dasar estimasi kebutuban/pembiayaan dalam jangka w a k t u 5 (lima) tahunan
VT
\V Ml Y '--0

m a u p u n penyusunan program tahunan u n t i i k setiap jangka waktu 5 (lima) t a h u n ; dan


.-.Y-V TO;>>,,

O Sebagai acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi.


Y- Vx V '''^
Arahan pemanfaatanjraang dalam RDTR dan PZ BWP Pacitan disusun berdasarkan:
fx %.
O Rencana detail s t r u k t u r riiang dan pola ruang;
J '<7jJ 0 TO,.;*

O Ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan;


O Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan; dan
O Prioritas' pengembangan dalam kawasan perkotaan d a n pentahapan rencana
pelaksanaan program sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) i i i a u p u n Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Arahan pemanfaatan ruang dalam RDTR dan PZ BWP Pacitan disusun dengan k r i t e r i a :

O Mendukung perwujudan rencana struktur dan pola ruang BWP Pacitan;

O Mendukung program penataan ruang kawasan perkotaan;

O Realistis, objektif, terukur dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu perencanaan;

O Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun, baik dalam jangka
w a k t u t a h u n a n m a u p u n antar lima tahunan; dan

jprffl^ftfj^j^ftifffri krop' ^ 4^ antar program dalam satu kerangka program terpadu


^^n^^'Skti!^%,^ perkotaan.
SKPO/ Sagian Terkait:
1 1 VII-2
2
7.1 Program Perwujudan Pemanfaatan Ruang
Perwujudan pemanfaatan ruang berisi mengenai:

O program perwujudan rencana pola ruang;

O program perwujudan rencana jaringan prasarana;

O program perwujudan penetapan Sub BWP yang diprioritaskan penanganannya.

Pada dasamya Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) BWP Pacitan menjadi pedoman dalam
kegiatan pembangunan, antara lain:

O Memberikan arahan alokasi kegiatan pembangunan, yaitu pada kawasan budidaya


sesuai dengan daya d u k u n g pembangunan d a n konsep pembangunan yang
berkelanjutan. j-^s^ X a

O Memberikan kepastian h u k u m dan kriteria yang jelas dalam usaha pemantapan fungsi
lindung. Fungsi lindung tidak lain bertujuan agar s u m b e r d a y a alam yang tersedia
tetap berkelanjutan dan memberikan j a m i n a n pada kegiatan /pembangunan yang
berdimensi lingkungan. Y X J . \k JJMK'-

D Memberikan arahan struktur kegiatan dalam'skala Sub BWP, dalam bentuk arahan
struktur pelayanan d a n kelengkapan fasiUtasl] pelayanan regional serta arahan
orientasi pelayanan dari setiap u n i t lingkungan. ' % X . Vx

O Memberikan arahan investasi, khususnya-Ayang berkaitan dengan pengembangan


sektor ekonomi agar selaras dengaii kemampiian dan'daya d u k u n g sumber daya dan
7\ ' - X J - 00y-X'.7
multiplier effect yang dapat ditimbulkan. '^MiX

O Menjadi sumber kebijaksamaan dalami/menjoisUn program-program pembangunan


' ''7
jangka pendek atau proyek-proyek/yang/ben^ pada pemanfaatan sumber daya
alam sesuai dengan daya dukurignya agar kegiatan pembangunan dapat mengurangi
ketimpangan kemalonurah antar wilayah.
TV. XM JA xY
Sebagai kebijaksanaan pembangunan yang mempunyai kekuatan h u k u m , Rencana Detail
Tata Ruang bersifat "mengikat pada proses-proses pembangunan yang
dilaksanakan.Pengembangan wilayab perencanaan didasarkan pada sektor dan subsektor
yang perlu^<iipri6ntaskriri)„ pelaksanaannya. Ditinjau terhadap urgensi d a n tingkat
permasalabannya; pnorita5 pembangunan pada RDTR BWP Pacitan disusun berdasarkan
urutari sebagai berikut:)
Mx ' . -
S Pembahgimaii mendesak;
yaitu pembangunan sektor dan subsektor guna menanggulangi masalah utama yang
menyebabkan masalah lainnya. Bila tidak segera ditanggulangi akan menimbulkan
masalah lebih besar dan semakin sulit diatasi.
m Pembangunan yang diprioritaskan;
yaitu pembangunan sektor dan subsektor yang diharapkan dapat menggerakkan
mekanisme percepatan pertumbuhan dan perkembangan sektor utama kota dan
kawasan rencana yang berdampak positif. Hal i n i meliputi : perdagangan, fasilitas
E L pendidikan. kesehatan dan perhubungan.
j j wffiurwwiiTm Parat ftoord'Hssi


SKPD/ Bagbn Psmrakarsa
SeVda
SKPD/ Bagian Terkait:
\ Asisten 1 : VII-3
Kabag 2
3
yaitu pembangunan sektor dan subsektor penting yang memberikan implikasi
struktural dalam jangka panjang sesuai dengan tujuan pembangunan masyarakat
adil dan makmur. Hal i n ! meliputi : fasilitas perkantoran, penertiban penggunaan
tanah dan bangunan, pengadaan utilitas yang memadai, dan Iain-lain.

Q Pembangunan pelengkap;
yaitu pembangunan sektor dan subsektor yang tidak bersifat kebutuhan dasar, tetapi
dipandang perlu u n t u k dibangun sesuai dengan kemampuan dan potensi wilayah.
Hal i n i meliputi: fasilitas rekreasi, pembangunan pusat kegiatan olahraga dan
pembangunan pusat kegiatan kemasyarakatan.

7.1.1 Program Perwujudan Rencana Pola Ruang


Dalam kegiatan pembangunan d i BWP Pacitan, pemanfaatan dan pengendalian ruang d i
setiap lokasi berpedoman pada RDTR BWP Pacitan khususnya {pada tabel indikasi
program dengan mengacu pada perencanaan yang dilakukan pada bab-bab sebelumnya.
Namun demikian j i k a diperlukan u n t u k operasionalisasinya/secara teknis dapat diatur
lebih lanjut seperti dalam bentuk rencana tata r u a i i g t u n i n a n n y a (RTBL) maupun
peraturan teknis operasional dalam bentuk pei^tufuri. daerah,- Pemturan Bupati dan
V'iM *'.'Y,V, '•
sebagainya baik u n t u k kawasan lindung maupun kawasan; budidaya.
7.1.1.1Program Perwujudan Zona Lindung "Xi:. M M

77-
Program perwujudan zona lindung (hutan lindung, perlindungan setempat, RTH Kota]
tertuang dalam tabel indikasi program yang berisi antara laih:

• Perwujudan zona hutan lindung M '^^YBJ^


o penetapan hutan lindung X .4-0J J

o penanaman dan pelestarian h u t a n lindung

• Perwujudan zona pculindnngan setempat


(O M
T , Jk . M
o penetapan sempadan sungai ^
TO~=.
'J. V 0
o normalisasi sempadan sungai terhadap kegiatan yang berpotensi merusak fungsi
J Y'£¥%.., XX 0 7

hndung,^-,;^^^ •
Js0.. VA. 'xy-- ' Y
o.-Mi penetapari'seihpaiian pantai
.7
normalisasi sempadan pantai terhadap kegiatan yang berpotensi merusak fungsi
M Y "
o penetapan sempadan mata air
o normalisasi sempadan mata air terhadap kegiatan yang berpotensi merusak
fungsi lindung

EH Perwujudan zona R T H Kota


o pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) publik (20%)

• Perwujudan pengelolaan zona rawan hencana


o pembangunan dan pengembangan sistem peringatan dini

o penyediaan zona penyangga u n t u k mengurangi energi tsunami

langunan agar tahan terhadap tekanan gelombang dan arus kuat


SKPD/ Bagtan Pemrakarsa
Sflkda Y*
SKPD/ eagianTerkait:
t, Asisten
1 1 VII-4
2
H-Vi.-n 3
o pembangunan sistem dan j a l u r evakuasi yang dilengkapi sarana dan prasarana

o pemodifikasian sistem transportasi u n t u k dapat memfasilitasi evakuasi massal


secara cepat

o penyediaan lokasi evakuasi

o penguatan bangunan agar tahan terhadap gempa b u m i

o pembangunan dan pengembangan r u m a h pompa

o penghijauan dengan tanaman

o perbaikan drainase tanah, seperti perbaikan sistem drainase menggunakan


penyemprotan bibit tanaman, dan pemasangan beton penahan tanah

o pembangunan berbagai pekeijaan struktural MY.

o pembangunan terasering dengan sistem drainase yang tepat" = ^ •>

o pembuatan tanggul penahan, baik berupa bangunan konstruksi, tanaman


maupun parit ^M ' ^

o penyediaan ruang terbuka hijau yang raemadaiM v


M M M
o pembuatan tanggul sungai, baik berupa barigunan konsiruksi, lanaman m a u p u n
pant "X. M
^X ¥ M V
o pembangunan dan pengembangan drainase;
Mx. M. K "M
o pembangunan dan pengembangan penampung air (bozem, dsb)
o pembangunan dan pengembangan hidran-kebakaran
M %M M
o pembangunan dan pengembangan sumur/penampung air (bozem, dsb)
- M
o pembangunan dan pengembangan jalan yang dapat diakses kendaraan pemadam
kebakaran; ¥X M M
o penyediaan zona penyangga
Vi u n t u0 k mengurangi energi gelombang pasang
M M • 00
Adapun rincian Iprogram dapat dilihat pada Tabel.

7.1.1.2Prdgrain Pervinijudan Zona Budidaya


Program penvujudanAzona budidaya (perumahan, perdagangan dan jasa, perkantoran,
industry,. sarana pelayanan u m u m , lainnya, khusus) tertuang dalam tabel indikasi
program yang berisi antara lain:

• Perwnjndan zona perumahan


o membentuk cluster-cluster perumahan

o peningkatan keterpaduan prasaranan, sarana, dan utilitas u m u m lingkungan


hunian

o pencegahan tumbuhnya zona perumahan k u m u h melalui intensifikasi perizinan


bangunan

o pencegahan tumbuhnya perumahan pada zona lindung

ffl^uh dan berkembangnya Imgkungan h u n i a n yang tidak


SKPD/ Sagtift-efKraittg'd aiyi^ajc teratur melalui penerapan standar intensitas dan tata massa

SKPD/BacliW!il|4i'^ a f e ™ r i z i n a n bangunan
o pengembangan zona perumahan baru dilengkapi penyediaan/ pengembangan
prasarana, sarana dan utilitas u m u m penunjang, termasuk penyediaan IPAL
komunal

o pembangunan/pengembangan rumah tunggal (Detached -house), r u m a h kopel


(Semi-detached House), r u m a h deret (Row houses), rumah Maisonnette, rumah
i n t i , r u m a h toko/rumah kantor, rumah susun dan r u m a h tinggal lain sesuai
kebutuhan

o pembangunan/ pengembangan hunian berimbang (rumah mewah, rumah


menengah, r u m a h sederhana), kecuali seluruhnya diperuntukkan bagi r u m a h
sederhana dan/atau r u m a h susun u m u m

o penanganan/revitalisasi perumahan k u m u h ''^J

Q Perwujudan zona perdagangan dan Jasa V(> .


o penataan zona perdagangan dan jasa ditunjang fasilitas parkir o j j street, j a l u r
pejalan k a k i dan ruang terbuka hijau - . MM

perbaikan dan revitalisasi zona perdagangan dan jasa v

penyusunan studi penataan sektor informal J , YX

penataan kegiatan sektor informal d i zona perdagangan dan jasa


Ska
revitalisasi sentra sektor informal
<7

pengembangan zona perdagangan jasa dengan bangunan vertikal d i sepanjang


jalan arteri primer, kolektor primer! kolektor sekunder, dan lokal primer
• • .0B3'>. M f^'X^:., """'"^
pemeliharaan d a n perigembangan^irifr^truktur serta fasilitas pendukung
kawasan perdagangan dan jasa skala regional.
pembangunan pusat perbelanjaan/mall
f ? " ' ^Mt. MK
revitalisasi pasar
X
pengaturan lokasi tempat belanja modem dan tradisional

o pemenuhan kebutuhanjminimum fasilitas perdagangan dan jasa

• Perwujudan zona p^louitoran


JiJ"j0 'XJ.,^ 0)
pehyusuhari masterplan dan DED perkantoran pemerintah dan swasta

o ^pembangunan dan/atau revitalisasi perkantoran pemerintah dan swasta


XAs Y^
o pemenuhan kebutuhan m i n i m u m perkantoran pemerintah dan swasta
• Perwujudan zona industri
o penyusunan masterplan kesesuaian lokasi bagi pengembangan zona industri
aneka industri
o pengembangan IPAL (bagi industri yang wajib menyediakan IPAL)

o pengendalian pertumbuhan sektor informal d i sekitar zona industri;

o penataan bangunan dan lingkungan zona aneka industri meliputi penyediaan


fasilitas parkir, RTH, dan sejenisnya;
="i
' Paraf Hiprarxi |
:ka industri melalui pola kemitraan dengan industri kecil/
>KPD/ Bagian Famrakarsa J^
1 Ctfcda y Tuman tans itC* *-
SAFOI Bagian TerkaiL*
1" : VII-6
Ksisg 2
E] Perwnjndan zona sarana pelayanan umum
o Pemenuhan kebutuhan m i n i m u m fasilitas pendidikan

o Pembangunan perguruan tinggi/akademi

Pembangunan terminal penumpang, sub terminal penumpang, halte d a n


terminal barang

o Pengembangan bandar udara

o Pembangunan pelabuhan

o Pemenuhan kebutuhan m i n i m u m fasilitas kesehatan

o Pembangunan dan/atau revitalisasi r u m a h sakit J


o Pemenuhan kebutuhan m i n i m u m fasilitas olah raga

o Pembangunan kawasan GOR dan taman budaya '•7

o Pemenuhan kebutuhan m i n i m u m fasilitas peribadatan T^ ,

• Perwujudan zona lainnya Xlf x A) 'M, X


o Penyediaan lahan pertanian 'J
'X, "'"J'.
o peningkatan infrastruktur irigasi dan prasarana jalari{ usaha tani
¥V
' "MX ••
'<>

o peningkatan sistem agribisnis pertanian meliputi sistem agribisnis h u l u , on farm,


dan hilir •7.;

intensifikasi lahan pertanian J

Pembangunan sarana dan jprasarana penunjang pariwisata


Xv *Y jif
Pengembangan wisata baru dengan pelibatan swasta dan masyarakat

Penetapan hutan'rakyat yahg melindungi kawasan bawahannya


Xx •. v>,
Penanaman dan pelestarian h u t a n rakyat
E] Perwujudan zona khusus
o Pembangunan sarana dan prasarana pertahanan keamanan

o. /v: Pengembangan dan perluasan Pelabuhan Perikanan Pantai

Adapun rincian prbjgram pembangunan dapat dilihat pada Tabel.

7.1.2 Program Perwujudan Rencana Jaringan Prasarana


Program perwujudan rencana jaringan prasarana secara lebih detail dapat dilihat pada
tabel indikasi program. Secara garis besar adalah sebagai berikut:

• Perwujudan sistem pergerakan


• Perwujudan sistem jaringan jalan, melipnti:
• pembangunan j a l a n lintas selatan dan jembatannya;

• pembangunan jalan dan jembatan penghubung bagian barat dan t i m u r BWP


pacitan;

• pembangunan jalan lingkar kota;


! P;:r?f Hicmiti Paraf Koortlinssi
SKPO/Sag'an Psk{f?(i^t i g t m a r i dan/atau pengembangan j a l a n arteri, j a l a n kolektor, j a l a n
Y
SKPD/Bagian Terkait: ,
Asislcn
1 VII-7
YaSVc-H ?
y'lifaU-r, 3. - • H m m j 11 m i l
• peningkatan konstruksi dan dimensi jaringan j a l a n .

• Perwujudan sistem pedestrian, jalnr kendaraan tidak bermotor dan parkir,


meliputi:
• Pengembangan sistem jarmgan pedestrian yang dapat dilengkapi dengan
zona keselamatan;

• Pengembanganjalur kendaraan tidak bermotor.

• Pengaturan parkir didalam ruang milik jalan dan diluar ruang milik j a l a n

• Perwujudan sistem terminal, meliputi:


• Penuntasan pengembangan dan pembangunan terminal penumpang, sub
terminal penumpang, halte dan terminal barang;

• Penyediaan dan pembangunan sarana angkutan j a l a n ; . x .

• . Perwujudan sistem angkutan, meliputi:


• Pengembangan angkutan antar kota antar provinsi, antar kota/dalam
provinsi, perdesaan, dan perkotaan; M " -
AY
• Pengaturan sirkulasi angkutan barang^ (dipriontaskan ? melalui j a l a n lintas
selatan, j a l a n lingkar kota dan j a l a n arteri/kblektor prim
-ifXka 'xT- V."j
• Perwnjadan sistem transportasi ndaraf^melipnti: ' Y
J.-= TO'TO- V^'-
• Pengembangan bandar udara; ¥ 4 M'% '''
ML

Penyediaan pesawat terbang;,, MK h '

Penetapan kawasan keselamatan Operasional penerbangan.
JxYx X MM
• Perwujudan sistem transportasi laut, meliputi:
• Pembangunan pelabuhari.f '
...'irTs, \¥.<. ™'
• Penyediaan kapal pengangkut dan kapal pesiar.
. 'A M
E] Perwujudan sistem jaringan energi dan kelistrikan, di antaranya:
0 03-'X
o Penyediaan listrik'dari pembangkit listrik yang disalurkan melalui SUTT, SUTM
danSUTR/x % M

o ,.,^,Meriselaraskmi usaha-usaba pelayanan listrik dengan pengembangan zona/sub

o '^v-Pengaturan sistem distribusi;


o Meninglmtkan daya dengan pengembangan kapasitas gardu induk dan
penambahan trafo-trafo distribusi;

o Memberikan pelayanan secara merata pada area yang belum terlayani.

o Optimalisasi fungsi SPBU yang telah ada dan pembangunan SPBU baru.

o Optimalisasi fungsi SPBN yang telah ada.


o Pembangunan SPBE, SPBG, infrastruktur pemanfaatan tenaga suiya, tenaga
angin, tenaga air (mini hidro, mikro hidro), bio gas dan bio mass.
B Perwujudan sistem jaringan telekomunikasi, di antaranya:
P^faf HierarKi y r^SmVmt^^g^ kabel;
Tckda Y SKFD/Bjqiart Pemrakarsa \^M^i
o '^nataan jxmfais
. . . . .
telekomunikasi.

AaisEen
VII-8

Hf¥.irn
t
• Perwujudan sistem jaringan air bersih, di antaranya:
o pengadaan Sistem Penyediaan Air M i n u m (SPAM) khusus;

o optimalisasi dan penmgkatan unit air baku;

o optimalisasi dan pengembangan unit produksi;

o optimalisasi dan pengembangan u n i t distribusi;

o optimalisasi dan pengembangan u n i t pelayanan;

• Perwujudan sistem jaringan drainase, di antaranya:

o pengembangan bozem Teleng;

o pengembangan bozem Blimbing;

0 revitalisasi muara Teleng;

o pengembangan saluran lingkar barat;

o pengembangan saluran lingkar timur; -^ *

o pembangunan retarding bazin Kali Kunir;


<k'
o pembangunan retarding bazin Sumberbafjo;
y<^7 M.
o pembangunan dan pengembangan saluran tepi jalan;-^v
o pembangunan pintu-pintu air; M
W xj
Jh » M
o pengembangan sistem drainase bagi kawasan permukiman;
o pembuatan saluran drainase tersier pada setiap kawasan fungsional;
i¥¥" "0 MM
o pembersihan dan pemeliharaan saluran drainase, baik yang terbuka maupun
tertutup; dan V^ti~0 C\
*=?Y> 'X"=y F
o pembangunan tanggul sungaiV'.
0 Xx. • f. M
B Perwujudan pengolahan air limbah (sanitasl), di antaranya:
y•.'->TO MM'-./'V

o Pembangunan/pehgembangan sistem tangki septik dengan bidang resapan atau


cubluk yaiig ditingkatkmi menjadi small bore sewer.
"M-'X ¥j!i ' 'Sx 'iX
Q"-:;Pembangunan/pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
jM'Mh Ms 0 JF
;.l -* %}ja 'V
M' jV V*-

• 6 Y Pembangurian/pengembangan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).

o Pembangunan/pengembangan saluran air limbah komunal


"Ms M

B Perwujudan sistem jaringan persampahan, di antaranya:


o Pemilahan d a n pewadahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan
pemrosesan akhir sampah dengan konsep 3 R (reduce, reuse, recycle}
o penyediaan sarana dan prasarana pada setiap tahap (pemilahan dan pewadahan,
pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan pemrosesan akhir)
o pembentukan bank sampah dan/atau bentuk penanganan sampah Iain sesuai
kebutuhan
7.1.3 Program Perwujudan Penetapan Sub BWP yang Diprioritaskan
BWP sebagaimana telah dibahas pada sub bab sebelumnya
liahwar^i:^waJ?adJ difokuskan pada Sub BWP A dan Sub BWP D dengan prioritas
SKPD/ BaqianTdrkait:
m^mpzm pmm KmmQ4 PAPUAN

pelaksanaan pembangunan dapat dilihat pada tabel indikasi program, .Secara garis besar
adalah sebagai berikut:

O Pada Sub BWP A meliputi rencana pembangunan/revitalisasi perkantoran


pemerintah; perluasan dan pembangunan terminal; penyediaan ruang dan bangunan
sektor informal; penyediaan ruang home industri makanan; pembangunan fasilitas
perdagangan dan jasa; pengembangan dan/atau revitalisasi gedung olah raga dan
taman budaya; pengembangan perumahan; dan penyediaan RTH dan RTNH.

O Pada Sub BWP D meliputi rencana pembangunan dan pengembangan pariwisata;


pengembangan perumahan; penanganan kawasan dan bangunan; dan penyediaan
RTH dan RTNH.
<M,.
7.1.4 Lokasi
Lokasi pemanfaatan ruang d i BWP Padtan berdasarkan pada ;^rencana yang telah
dicanangkan dan program yang akan dilaksanakan meUputi-seluruh; BWP I ^ c i t a n dan
didistribusikan ke Sub BWP dan Blok menurut kebutuban dafi masing-masing Sub BWP
dan Blok.

7.1.5 Besaran
•"¥\.
Besaran usulan program d i BWP Pacitan tergahtuhg pada rencana dan» 1
program yang akan
dilaksanakan serta lokasi dari rencana tersebut. Besafah dana'mengikuti harga satuan
setempat dan belanja dari material yang dibutuhkan serta kemampuan dana daerah.
Y . V . M . ^, 7-
7.1.6 Sumber Pendanaan
,,/=/Y:-'.X.,
Sumber-sumber pendanaan yang " diperlukan^ dalam rangka Pembangunan Kawasan
Perkotaan berasal dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten,
Pinjaman/Hibah/Bantuan. Luar Negeri,' Swasth dan Swadaya Masyarakat.
Sumber pendapatan Pemerintah Kabupaten dapat dikelompokkan ke dalam penerimaan
r u t i n dan penerimaan pembmigunan. Penerimaan r u t i n berasal dari subsidi pemerintah,
instansi yang lebih tinggi dan pendapatan daerah. Sedangkan penerimaan pembangunan
berasal dari subsidi pemerintah. atau instansi yang lebih tinggi dan pinjaman Daerah.
U n t u k lebili jelasnya dapat, dilihat pada Gambar 7.1.
xVA-. Mx V\ " C ?

FX

%J

Porjf Hi^facKt . ParsfKoora'iiiYu j

Y SKPO/ Bagiar. PemrakiSisa

SKPOJ Bagian Tarkait:


Asisten
1 VII-10
7
3.
(Mil.

Pendapatan
Asli Daerah

RENCANA ALOKASI
PROGRAM/PROYEK

KABUPATEN/KOTA
Gambar 7. 1 Mekanisme Alokasi Keuangan Pemerintaii Kabupaten N,
VM
M
Sumber dana yang potensial bagi Kabupaten; Pacitan adalah pendapatan asli daerah,
mengingat hanya sektor inilah sumber dana yang bisa ditingkatkan lebih lanjut. Dalam
pembiayaan pembangunan kawasan perkotaan kabupaten, selain mengandalkan
pendapatan asli daerah j u g a haruSv<diupayakan agar ma^^arakat terus berpartisipasi
membiayai pembangunan kotanya. VY'M. = h... / J
Pendapatan Pemerintah Kabupaten {Pacitan, sumber-sumbemya secara u m u m berasal
dari: % v(
0 F'<: Lx
O Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Lalu

O •-a meliputi:
Pendapatan Asli Daerah yang
JJ
o Pajak daerah.
•V X. "K
%:
o Retribusi Daerah. "J
Laba Badan Usaha,Milik Daerah.
o Vx " M s "M ' ' ^ - 0
Penerimaan dari Dinas-Dinas.
X'MPX'MM *¥ {j
o XPenerimaan Lain-lain.
J J . VV

O Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak yang terdiri dari Pos-pos:

o Sumbangan.

o Bantuan.

O Penerimaan Pembangunan yang meliputi:

o Pinjaman Pemerintah daerah,

o Pinjaman U n t u k Badan Usaha Milik Daerah.


7.1.7 Instansi Pelaksana
] astansl-iidakSariauid. emanfaatan ruang d i BWP Pacitan merupakan pibak-pihak
7 elaksarfa program idhtas yang meliputi pemerintah seperti satuan keija perangkat
SKPOrBagianTcTksiil
1 1 VII-11
2
3..
daerah (SKPD), dinas teknis terkait dan /atau kementerian/lembaga, swasta, dan/atau
masyarakat.

7.1.8 Waktu dan Tahapan Pelaksanaan


Indikasi program pembangunan merupakan arahan operasional pelaksanaan rencana
pembangunan dalam bentuk program pembangunan yang akan dilakukan sesuai dengan
tahapan perencanaan. Tahapan perencanaan pembangunan dilakukan dalam tahap 5
(lima) tahunan sehingga dalam pelaksanaan RDTR BWP Pacitan 2016 - 2036 akan terbagi
menjadi 4 (empat) tahap yaitu:

O tahap ke-I (2016-2021)

O tahap ke-II (2022-2026) <Y

O tahap ke-III (2027-2031) •

O tahap ke-IV (2032-2036) ^ ' J - *

M ^Y ' i
7.2 Indikasi Program Pemanfaatan Ruang Prioritas
Setiap program pembangunan tersebut akan dijabaxkan dalam bentuk beberapa bentuk
program. Penjelasan mengenai program-program pembangunan dapat dilihat dalam tabel
matrik Indikasi program berikut: M,

••a:.i.'»4K_ J S , %X 0'-^
= -1 "•TO

Faraf HicfarKi y
SKFD/ Sagtan Pemrakarsa
Sekda Y
SKPD/Sagiaa Terkait:
Asistsn
VII - 1 2

3
Tabel 7 . 1 Indikasi Program Pemanfaatan Ruang Prioritas
WaktB Pelaksanaan fTahap ket
Propua Lokasi Baaaran Bnmber Pendanaan Instansi Pelnksann 1
'19 '20 '21 II in IV
PERWUJUDJUI

mwm
REHCABAPOLA,
'%
RUAMa s—
Zona L i n d a n e
Hutan lindung Penetapan hutan lindung Sub BWP A, Sub APBO Kab.. Swasta Kchutanan, Perhutaul, -'•
DW r Dp QUO D W r IJ dsb • 1 - '\

Perlindungan
Penanaman dan pelestarian hutan hndung

Penetapan sempadan sungai


Sub BWP A, Sub
BWP B. Sub BWP D
Qasliftpiih Q i i l i DWr
oCluTUXL t>UtJ nU/P
APBD Kab., Swasta

AORM A O R r t I7a1%
Kebutanan, F^rhatani,, -
dab -•
pej^airan... Kelautan,
m


Setempat Swasta Cipta Kaiya, Bappedij^ -
dsb * - - X
Normalisasi sempadan sungai terhadap kegiatan C ^ l v i n . h Qiilft nWP r\rat*t nt^DLJ n.BD,p4 -pengairan, Kelautan,
yang berpotensi merusak fungal lindung sciurun auD rjwr Swaata ^ Cipta Kaiya, Dappcda,
dsb - •'-
ftnetapan sempadan pantai A PRn i/ Q m a tn '
t V n g n t T f i n , Kclautan,


C ^ t a Kaiyn, Bappeda,
nrou Aaijif ownBia ^
dab
xi.v
Normalisasi sempadan pantai terhadap kegiatan Sub BWP C Sub APBD Kab.,
I-.* Swasta '-if,. \ Pengairan, Kelautan,
yang berpotensi merusak fungsi lindung nmn
o Oj
W r rt Oi«i%
oUDnmo
o w e oCf - Cipta Karya, Bappeda,
dsb
Penetapan sempadan mata air Seluruh Sub BWP APBD Kab., Swasta ^ Pengairan, Kelautan,


'•47 'K ; Cipta Kaiya, Bappeda,
•-. M'+^TO- M.<», • dsb
Normalisasi sempadan mala air terhadap Selunih Sub BWP APBD Kab., Swasta . !..p4 - Pengairan, Kelautan,
kegiatan yang berpotenai merusak fimgsi '0. '"KM. Cipta Karya, Bappeda.
lindune .JM\: dsb
RTH Kota PengembangaD ruang terbuka hijau (RTH) publik Sehuuh Sub BWP >; ••• 1.',! PHLN, APBN. APBD :v Tata Ruang,
' I. '""a
Prov., APBD Kab.. F^itamanan.
M ¥ Lingkungan Hidup,

III 1
Swasta M
•"iX'v Bappeda, dsb
Rawan bencana pembangunan dan pengembangan sistem Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD penanggulan gan
peringatan dini "71% Prov., APBD Kab., Bencana, Tata Ruang,
.^Swasta Cipta Ka^ya, Bina
Marga, IHmgairan,
M KehutEuian, Lingkungan
Hidup. Bappeda, dsb
penyediaan sona penyangga untuk mengurangi 'a PHLN, APBN, APBD Penanggi i lan gan

. i n
Sub BWP DTO
cncTgJ tsurtami CFi t. a
'I f
"a •
-c v.
Piov., APBD Kab., Bencana, Tata Ruang,
Swasta Cipta Kaiya, Btna
;,\
•% ir-ii Marga, PengAiran,
•> • I-.- •'•,.•1.
Kebutanan, Lingkungan
•KK. Hidup. Bappeda, dsb
penguatan bangunan agar tahan terhadap Sub BWP A, Sub .. PHLN, APBN, APBD Penanggulangan
tekanan gelombang dan arus 1ivat0'0K ""^;
, B W P B , Sub BWPC, F i w . , APBD Kab., Bencana, Tata Ruang,
•:Sub B W P D , Sub Swasta Cipta KEuya, Bina
S'L't 0h EJWPE:\ Marga, Pengairan,
M j "M Kebutanan, Lingkungan
Hidup, Bappeda, dsb

j
pembangunan sistem dan jalur evakuasi yang Seluruh Sub BWP PHLN.APBN, APBD Penanggu langan ,3
dilengkapi sarana dan prasarana X-j^*' Prov., APBD Kab.. Bencana, Tata Ruang, '-.-hi
Swasta Cipta Karya, Bina nj
"v^'v • Marga, FkngaiiBn, ca
'v.
Kebutanan, Lingkungan
Hidup, Bappeda, dsb
Wsktn Pelaksanaan fTahap ke)
Ptogctan Lokasi Bosaraa Sumber Pendanaan Instansi Pelaksana I

111 I
II III IV
pemodifikasian Bislem transportasi untuk d^>at Selunih Sub BWP PHLN. APBN, APBD Penanggulangan 7 7
'16 1 'IT 1'18 1 '19 1 '20 1 '31
memfasilitasi evakuasi massal secara cepat Prov., APBD Kab., Bencana, Tata Ruang, l.
Swasta Cipta Karya, Bina
Marga, Pengairan,
Kchutanan, Lingkungan

11 I
Hklup, Bappeda, dsb -
penyediaan lokasi evakuasi Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD Penanggulangan \
Prov., APBO Kab., Bencana, Tata Ruang.'
Swasta C^ta Karya, Bina M
Marga, nmgairan,
Kebutanan, Lingkungan
iS Hidup, Bappeda, dsb
penguatan bangunan agar tahan tcibadap Schirub Sub BWP PHLN.AreN, APBD ,- , ITnanggulangan •- •,
gempa bumi Prov., APBD Kab.,,f-'{.-; ' ' * Bencana, Tata Ruang,
Swasta Y- Cipta Karya, Bina
Marga, Peugairaii:>'
Kehutnnan, Lingkungan
Hidup, Bappeda, dsb
penghijauan der^an tnniiman Seiuruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD - i S FViiau ggulaugan
Prov., APBD Kab., . Bencana. Tata Ruang,
Swasta. -Cipta Karya, Bina
Marga, Pengairan,
VYi;, Kchutanan, Lingkungan
Hidup, Bappeda, dsb
perbaikan drainase tanah, seperti peifoaikan Seluruh Sub BWP -PHLN,APBN, APBD .. Penanggulangan
sistem drainase menggunakan penyemprotan /frov.; APBD tCab., i^lV-vs.;? Bencana, Tata Ruang,
bibit tanaman, dan pemasai^an beton penaban Swasta ''••.•iXij. "oXi C^ta Kaiya, Bina
tanah Marga, Pengairan.
Kebutanan, Lingkungan
t " M Hidup, Bappeda, dsb
pembangunan berbagai [wkerjaan struktural Seluruh Sub BWP "•0. )
raLN, APBN. APBD Penanggulangan
Prov., APBD Kab., Bencana, Tata Ruang,
M M -
Swasta 'c^% Cipta l^a^ya, Bina
7'r'.-'7-;. j j Marga, Pnigairaii,
Kebutanan, Lingkungan
-V. Hidup, Bappeda, dsb
pembangunan terasering dengan sistem Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD Penanggulangan
drainase yang tepat *- M fl Prov., APBD Kab., Bencana, Tata Ruang,
Swasta Cipta Kaiya, Bina
f Marga, Pengairan,
Kebutanan, Lingkungan
r % *• Hidup, Bappeda, dsb
pembuatan tanggul penaban, baik berupa Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD Penanggulangan
bangunan konstruksi, tanaman maupun pant Prov., APBD Kab., Bencana, Tata R u a n g
Swasta Cipta Kaiya, Bina
iJ--~'7 " 'C- Marga, Brngairan,
J-'iJ "''vj t a. Kebutanan, Lingkungan
Hidup. Bappeda. dsb
Ks^h-mh
flciuiuu <i—ya
O U O onu/p
we enLin, / v r o j i , neoij Penanggulangan
pompa ' K 7 0 0 ' ' ' ' ' ' ' ^ V i !j Prov., APBD Kab,, Bencana, Tata Ruang,
Swasta Cipta ICaiya, Bina
Marga, Pengairan,
-'>^ Kebutanan. Lingkungan
Hidup. Bappeda. dab
penyediaan ruang terbuka bijau yang memadai Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD Penanggulangan
Prov,, APBD Kab.. Bencana, Tata Ruang,
Swasta Cipta Kaiya, Bina
Marca. PenHairan,
fm.bmpzm>pmm mm&i pmm

Wakta Pelaksaaaan fTahap ke)


Loknsl Besvaa Bnmber Pendanaan Inatansi Palaksana I
•16"i ' ' 1 7 •19 r ' 2 0 n m IV

IIII
Kebutanan. langkungan
Hidup, Bappeda. dsb • =-
pembuatan tanggul aungai, baik berupa Seluruh Sub BWP PHLN. APBN, APBD Penanggulangan
bangunan konatrukai, tanaman maupun parit Prov., APBD Kab.. Bencana, Tata Ruang,
Swasta Cipta Kaiya, Bina . • , .
Marga, Pengakan,~ s',-
Kchutanan, Lingkungan
Hidup, Bnppcda. dsb ='
pembangunan dan pengembangan drainaae; Sehiruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD PeuanggulangHn
Prov., APBD Kab., Bencana. Tata Ruang,
Swasta '• Cipta Karya, Bina '
Marga, Pengairan. ~ -,
Kebutanan, Lingkungan ^
y ': -y ''' Hidup, Bappeda. dsb
pembangunan dan pengembangan penampung Seluruh Sub BWP PHLN, APBN. APBD - I^nanggulangan
air (bozem, dab) Prov., APBD Kab.,% Bencana. Tata Ruang,

1
Swasta J Cipta Ka^ya, Bina M
F'Y-J- Marga, Rmgairan, •*
Kchutanan, Lingkungan
-t ' Hidup, Bappeda. dsb
pembangunan dan pengembangan bid ran Seluruh Sub BWP PHLN. APBN, APBD ' f^iianggulangan
kebakaran Prov., APBD Kab., Bencana. Tata Ruang,

1
X Swasta •(•:\ . Chpta Kaiya, Bina
; Marga, Progairan,
. Kebutanan, Lingkungan
m S % > ' Hidup, Bappeda, dsb
pembangunan dan pengembangan Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD
aumur/penampung air (bozem, dab) Prov.. APBD Kob.,,^ Bencaua, Tata Ruang,
c MM\ Swasta •'• ''..J Cipta Kmya, Bina
Majga, ftngairan,
Kehulanan, Lingkungan
Hidup, Bappeda, dsb
pembangunan dan pengembangan jalan yang Seluruh Sub BWP PHLN. APBN, APBD F^nanggiiian gan
dapat diakaea kendaraan pemadam kebakaran^ •"X'«-¥ V Prov., APBD Kab., Bencana, Tata Ruang.
Swasta Cipta Ka^ya, Bina
$y 'M '1 Marga, Pengairan,
'';!•> Kchutanan, Lingkungan
Hidup, Bappeda. dsb
penyediaan zona penyangga untuk mengurangi Sub B W P D y PHLN, fiPBU, APBO Penanggulangan
energi gctombang paaang (4., Prov., APBD Kab., Bencana. Tata Ruang,
¥X ••

;'>=• Swasta Cipta Ka^ya, Biua
M Y% ¥"
X Marga, Pengairan,
v., X X -..-.- Kchutanan, Lingkungan
Hidup, Bappeda. dsb
Zona BndldaTa
Perumahaa membentuk cluatcirocluster perumahan • -v S c l u n d i S u b BWP. PHLN, APBN, APBD Tata Ruang, Cipta
Prov., APBD Kab., Karya, Penanaman
Swasta Modal, FVrizinan,
Bappeda, dsb
peningkatan keterpaduan prasaranan, sarana, . Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD Tata Ruang, Cipta
dan utiUlas nmmn lingkungan hunian j i { J Prov., APBD Kab.,
Swasta
Karya, FTnanaman
Modal, PerixiDan. Bina
Marga, Pengairan,
Bappeda, dsb
pencegahan tumbuhnya zona perumahan 'c Seluruh Sub BWP APBD Kab., SwBBta Tata Ruang, Cipta
kumuh melalui intcnsiCkasi perizinan bangunan Karya, Penanaman
Modal, Perizinan,
Bappeda. dsb

y
n -y
a
n ft)
y< Vl
.o _>.
Cl n
•J
w
3d 01
Lohaal Besaran Snmbm Peadonoon Inatansi Palaksana

pencegahan tumbuhnya penimahan pada zona Seluruh Sub BWP APBD Kab., S w a s U Tata Ruang, Cipta 0
lindung Karya, Penanaman L
Modal, Perizinan,
Bappeda, dsb '•'
pencegahan tumbuh dan berkembangnya Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD Tata Ruang, Cipta.
lingkungan hunian yang tidak leiencana dan Prov., APBD Kab., Karya, Penanaman
tidak teratur melalui peneiapan alandar Swasta Modal, fVrizinan, ~.
intensitas dan tata massa bangunan dalam Bappeda, dsb Y
perizinan banfjunan
pengembangan zona perumahan baru dilengkapi Schinih Sub BWP PHLN, APBN, APBD Tata Ruang, Cipta
penyediaan/ pengembangan prasarana, sarana Prov., APBD Kab., : Kaiya, Pcoanamoa
dan utilitas umum penunjang, termasuk Swasta y' Modal. Periziaan, Bina
penyediaan IPAL komunal Marga, Ptngairan,'s- =
Bafrpeda. dsb • "
Pembangunan/pengembangan rumah tunggal Seturub Sub BWP PHLN, APBN, APBD Tata Ruang. Cipta
(Detached -bouse), rumah kopel (Seml-dctacbcd Prov., APBD Kab., Kaiya. Pmananian
House), rumah deret (Row houses), rumah Swasta ^ Modal. Perizinao;: *=
Maisoiuudte, nimah Inii, nimab toko/rumah Bappeda, dsb =*
kantor, nunah susun dan rumah tinggal lain
sesuai kebutuhan VY
f^mbangunan/pengembangan hunian Seluruh Sub BWP PHLN, APBN, APBD Tola Ruang, Cipta
berimbang (rumab mewah, rumah menengah, Prov., APBD Kab.. Kaiya, fcnanaman
rumah sedeibani^, kecuali seluruhnya Swasta , Modal. Perizinao,
diperuntukkan bagi nimah sederhana dan/atau Bappeda, dab
rumah susun umum
Mr. \\
f^rumganan/rcviialisasi perumahan kumuh Selunih Sub BWP -PHLN. APBN. APBD . T a t a Ruang, Cipta
Prov., APBD Kab., ' Karya, Penanaman
Swasta Modal, perizinan.
7. Bappeda, dab
Perdagangan dan penataan zona perdagangan dan j a s a dhunjang Sehinih Sub BWP PHLN, APBN, APBD Tata Ruang, Cipta
Jasa lasilitaa parkir off atreot, Jalur pejalan k a k i dan 'r-'L Prov., APBD Kab., Karya, Pediubungan,
mang tertmka bijau Swasta % \ FVrdagangan, I^riziiiaii,

pertHiikan dan revitalisasi zona penlagangan dan


M. APBN, APBD Prov.,
Bappeda, dsb
Tata Ruang, Cipta
Seluruh Sub BWP
jasa M , ,APBD Kab., Swasta Karya. Pertiubuiigaii,
M- Peidagaogaa, Penzinan,
Bappeda, dab
penyusunan studi penataan K k t o r inlbniial Seturub Sub BWP APBD Kab., Swasta Tata Ruang, Cipta
Karya, F^rfaubungan,
V\ 'A lyidBgangan, Periziiian,
Bappeda, dab
penataan kegiatan sektor mfonnal di zona Seluruh Sub BWP APBD Prov., APBD Kab., Tata Ruang, Cipta
perdagangan don j a s a ¥> Swasta Karya, Perhubungan,

M_ "MY
Perdagangan, Perizinan,
%. Bappeda, dab
•Seluruh Sub BWP' APBN, APBD Kab., Tata Ruang, Cipta
revitalisasi sentra sektor informal y-
M Swasta Karya, Perbubungan,
'VT''V.V¥ Perdagangan, Perizinan,
•*J4 Bappeda, dab
pengembangan zona perdagangan j a s a dengan TO Seluruh Sub BWP HILN, APBN, APBD Tata Ruang, Cipta
bangunan vertikal di sepanjang Jalan arteri Prov., APBD Kab.. Kaiya, f^rfaubungan,
priiner, kolektor primer, kolektor sekunder, dan Swasta F^idagangan, l^rizinan,
lokal primer Bappeda, dab
pemeliharaan dan peogcmtiangan infiastruktur -; Selunih Sub BWP PHLN, APBN, APBD Tata Ruang, Cipta
scTta fasilitas pendukung kawasan perdagangan 'J Prov., APBD Kab., Kaiya, Perbubungan,
dan j a s a skala r e g n a l . Swasta Perdagangan, Perizinan,
Bappeda. dab

>*TO^-
mTtmpzm>pmmmumsNPmAN