Anda di halaman 1dari 13

© 2014 Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP

JURNAL ILMU LINGKUNGAN


Volume 12 Issue 1: 53-65 (2014) ISSN 1829-8907

KEBIJAKAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN DI KAWASAN KENDENG


UTARA PROVINSI JAWA TENGAH

Hartuti Purnaweni 1
1 Jurusan Administrasi Publik, FISIP, Universitas Diponegoro
Magister dan Doktor Administrasi Publik, FISIP, Universitas Diponegoro
Magister dan Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro
hartutipurnaweni@gmail.com

ABSTRAK

Kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia mengalami perubahan dengan


dikeluarkannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Keluarnya Undang-undang ini adalah karena dirasakan kerusakan lingkungan
makin menjadi, sehingga perlu dikeluarkan sebuah kebijakan yang tidak hanya mengharuskan
pengelolaan lingkungan akan tetapi juga perlindungan terhadap lingkungan. Tujuan penelitian ini
adalah : (1) mengetahui tentang kebijakan lingkungan kawasan karst Kendeng Utara di Kecamatan
Sukolilo, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah; (2) mengetahui pengelolaan lingkungan di kawasan
karst Kendeng Utara, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.
Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan lokasi penelitian khususnya di
Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, karena di wilayah ini terutama terjadi
pertentangan kepentingan terhadap pengelolaan lingkungan di kawasan karst Kendeng Utara.
Kesimpulan penelitian adalah: (1) Kebijakan pengelolaan kawasan karst di Kecamatan Sukolilo
terwujud dalam Peraturan Menteri dan Keputusan Gubernur Jawa Tengah, terkait dengan
karakteristik geografis. (2) Pengelolaan lingkungan memenuhi tiga unsur POAC (Planning, Organizing,
Actuating) yang menjadi fokus penelitian ini. Rekomendasinya adalah : (1) Kebijakan kawasan karst
sebaiknya mempertimbangkan keunikan keunikan kawasan karst, kondisi sosial ekonomi sebagian
masyarakat yang masih bersifat tradisional, dan dukungan publik perlu digalang oleh pemerintah
untuk dilakukannya pembangunan yang seharusnya menguntungkan semua pihak, dan mengacu pada
pembangunan berkelanjutan; (2) Pengelolaan lingkungan: (a) Planning/Perencanaan: pembangunan
berkelanjutan seharusnya dikedepankan, dengan menekankan pada terwujudnya pembangunan sosial
dimana peranserta dan keadilan menjadi bagian penting dalam pembangunan; (b)
Organizing/Pengorganisasian: kepentingan yang bersinggungan dalam pengelolaan kawasan karst
antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, yang seharusnya dilakukan dengan mengedepankan win-
win solution, misalnya dengan pelaksanaan zonasi; (c) Actuating/Pelaksanaan: harus dimunculkan
pelaksanaan optimatisasi pemanfaatan sumberdaya alam secara efisien, dengan memanfaatkan
teknologi yang ramah lingkungan, sekiranya pabrik semen jadi didirikan di wilayah Sukolilo.

Kata kunci: kebijakan, lingkungan, kawasan karst, Kendeng Utara.

ABSTRACT

Policy on environmental management in Indonesia is changed with the issuance of Law No 32


Year 2009 on Environmental Management and Protection. The issuance of this law is based on the
worsening condition of the environment. The aim of this research is to: (1) analyzing the policy on karst
area policy in Kendeng Utara, Sukolilo District, Pati Regency, Central Java; (2) analyzing environmental
management in Kendeng Utara karst area, Sukolilo District, Pati Regency, Central Java.
Research method is descriptive qualitative, with research location at Sukolilo District, Pati
Regency, Central Java, since there is an interesting interest conflict on environmental management in
Kendeng area. Summary of this research: (1) There are several policies on karst area in Sukolilo are
based on its geographical characteristics; (2) Environmental management have conformed three out of
POAC aspects as focus of this research, namely Planning, Organizing, Actuating. Recommendation: (1)
Environmental management should be based on karst area uniqueness, socio economic condition of the
local people, and the need of public support for the government for sustainable development; (2)
Environmental Management: a) Planning: focus on sustainable development, by creating social
April 2014 HARTUTI PURNAWENI; PENGELOLAAN DI KAWASAN KENDENG UTARA

development in which local people’s involvement and fairness are parts of development parts; b)
Organizing: the stakeholders’ interest should be managed with win-win solution, such as by zonation; c)
Actuating: optimatization of efficient natural resources management by using environmentally
friendly technology should the cement factory is built in Sukolilo.

Keywords: policy, environment, karst, Kendeng Utara

LATAR BELAKANG

Perubahan paradigma pem- berusaha memaksimalkan segala


bangunan di Indonesia diawali dengan perwujudan keinginannya dan seringkali
berlakunya Undang-undang Nomor 4 dengan cara yang secepat-cepatnya,
Tahun 1882 tentang Pokok-pokok sehingga cenderung mengorbankan
Lingkungan Hidup, yang memberikan kepentingan lingkungan hidupnya.
pedoman sehingga muncul pemahaman Kegiatan penambangan meng-
yang jelas dan seragam antar para akibatkan munculnya banyak
pemangku kepentingan mengenai permasalahan lingkungan. Salah satu
lingkungan hidup. Undang-undang ini masalah yang timbul akibat kegiatan
kemudian berkembang menjadi Undang- penambangan adalah dilakukannya
Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang penambangan kapur di kawasan karst,
Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang sebagaimana dilaporkan dalam hasil
memberikan arahan untuk kegiatan penelitian Suhartadi (2009) dan
pengelolaan lingkungan hidup di Wuspada (2012). Suhartadi menulis
Indonesia. tentang “Evaluasi Pengelolaan
Kemudian kebijakan tentang Lingkungan Kegiatan Penambangan Batu
pengelolaan lingkungan hidup di Kapur PT. Sinar Alfa Fortuna (NAF) di
Indonesia mengalami perubahan dengan Rembang”, sementara Wuspada menulis
dikeluarkannya Undang-undang Nomor tentang “Implementasi Kebijakan
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pelarangan Penambangan di Kawasan
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Karst Kabupaten Gunung Kidul”.
Keluarnya Undang-undang ini adalah Salah satu sarana pemenuhan
karena dirasakan kerusakan lingkungan kebutuhan manusia adalah dengan
makin menjadi, sehingga perlu penambangan berbagai bahan tambang,
dikeluarkan sebuah kebijakan yang tidak yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan
hanya mengharuskan pengelolaan berbagai aktivitas. Namun pemanfaatan
lingkungan akan tetapi juga perlindungan yang berlebih dapat membahayakan
terhadap lingkungan. karena penambangan pasti mengubah
Inti dikeluarkannya kebijakan bentang alam secara signifikan, dan
publik itu adalah diharapkan terjadi dengan demikian sangat berpotensi
perubahan paradigma pembangunan dari merusak lingkungan. Dengan demikian
yang bertumpu pada pertumbuhan yang juga meningkatkan resiko bencana alam,
berfokus pada kepentingan ekonomi, yang kerugiannya bahkan dapat
menjadi bertumpu pada pembangunan mengalahkan kemanfaatan yang dapat
berkelanjutan. Perubahan paradigma ini dipetik dari kegiatan penambangan.
tentunya sangat menuntut kinerja Dari sisi administrasi publik, hal
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ini patut diwaspadai. Harus dimunculkan
yang lebih baik, dengan harapan dapat sense of urgency terutama di kalangan
lebih memperhatikan pengelolaan unsur-unsur pemerintahan terhadap
lingkungan yang lebih baik pula, karena rangkaian bencana yang kemungkinan
itulah sumber jaminan keberlanjutan akan terjadi, apabila kawasan yang rawan
pembangunan. bencana terus menerus dieksploitasi.
Pengelolaan lingkungan merupa- Aparat pemerintah perlu mempunya
kan hal yang sangat penting dilakukan, sense of crisis dan mempraktekkannya
mengingat bahwa manusia selalu dalam tugas keseharian mereka. Ketika

54
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 12 (1) : 53-65 , 2014 ISSN : 1829-8907

bencana sudah dalam ada dalam pelestarian lingkungan, dan kriminalitas,


bayangan mereka, maka pelaksanaan hanyalah bagian dari permasalahan sosial
tugas dengan cara business as usual tidak yang tak terhitung banyaknya yang
dapat lagi diterapkan. mengganggu kehidupan masyarakat
sehingga negara perlu turun tangan
PERUMUSAN MASALAH untuk menyelesaikannya. Tanpa
kebijakan publik, maka rakyat tidak akan
Penelitian tentang “Kebijakan bertindak untuk mengatasinya, dengan
Pengelolaan Lingkungan di Kawasan cara-cara yang diinginkan oleh
Kendeng Utara, Provinsi Jawa Tengah” ini pemerintah.
bermaksud mengetahui tentang: (1) Dari berbagai literatur dan
Bagaimanakah kebijakan lingkungan penjelasannya tersebut, bisa disimpulkan
kawasan karst Kendeng Utara di bahwa definisi kebijakan publik kurang
Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, lebih adalah “serangkaian tindakan yang
Provinsi Jawa Tengah? (2) Bagaimanakah dipilih dan atau dilakukan oleh
pengelolaan lingkungan di kawasan karst pemerintah atau negara secara paksa
Kendeng Utara, di Kecamatan Sukolilo, (sah) kepada seluruh anggota
Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah? masyarakat, yang mempunyai tujuan
tertentu demi memecahkan masalah-
TINJAUAN PUSTAKA masalah publik". Dengan demikian
kebijakan publik dibuat dengan maksud
Kebijakan publik merupakan untuk mengatasi masalah publik.
kebijakan yang dibuat oleh badan-badan
dan pejabat pemerintah, yang bertujuan Pengelolaan Lingkungan
untuk menyelesaikan berbagai masalah
yang dihadapi publik. Penyelesaian Pengelolaan lingkungan hidup
masalah menyangkut berbagai hal, di merupakan usaha pemanfaatan
antaranya adalah masalah alokasi, sumberdaya, namun yang berciri khas
sebagaimana menurut pendapat Keban yaitu merupakan upaya terpadu
(2003:56-57) yang mengutip Peters yang pelestarian fungsi limgkungan hidup yang
menyatakan bahwa kebijakan publik meliputi kebijakan penataan,
adalah aksi pemerintah dalam pemanfaatan, pengembangan, peme-
menghadapi masalah, dengan liharaan, pemulihan, pengawasan, dan
mengarahkan perhatian terhadap alokasi. pengendalian lingkungan hidup. Hal ini
Alokasi di sini dengan demikian sebagaimana yang tertulis dalam Undang-
menyangkut sumberdaya. Kebijakan undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
publik adalah pemanfaatan sumberdaya- Perlindungan dan Pengelolaan
sumberdaya yang ada untuk Lingkungan Hidup.
memecahkan masalah-masalah publik Prinsip pengelolaan lingkungan
atau pemerintah. suatu wilayah dapat dilakukan dengan
menggunakan empat indikator POAC
Kebijakan Publik yaitu Planning, Organizing, Actuating dan
Controlling (Asdak, 2004).
“Masalah publik dan pemerintah” Adapun penjelasannya adalah
di sini lebih meliputi masalah-masalah sebagai berikut: (1) Planning atau Peren-
sosial, sebagaimana dinyatakan oleh canaan adalah kegiatan perencanaan
Harold D. Laswell dan dikutip oleh yang disusun dalam rangka pengelolaan
Nugroho (2003) yang menyatakan bahwa lingkungan secara terpadu terhadap
kebijakan publik “...refers to governmental suatu wilayah; (2) Organizing (Pengor-
decisions designed to deal with various ganisasian), yaitu pelaksanaan kegiatan
sosial problems, such as those related to pengelolaan lingkungan suatu wilayah
foreign policy, environmental protection, secara efektif dan efisien, dalam arti
crime, unemployment, and numerous other masing-masing pihak yang terlibat dapat
sosial problems”. Permasalahan yang menjalankan tugasnya dengan baik dan
menyangkut hubungan luar negeri, bertanggungjawab; (3) Actuating
55
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
April 2014 HARTUTI PURNAWENI; PENGELOLAAN DI KAWASAN KENDENG UTARA

(Pelaksanaan). Pada tahap pelaksanaan, (2) Pengelolaan lingkungan di Kawasan


program-program yang dirancang harus Kendeng Utara, khususnya di Kecamatan
menunjukkan adanya: optimatisasi Sukolilo, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa
pemanfaatan sumberdaya alam secara Tengah. Lokasi penelitian ini adalah di
efisien, dorongan pelaksanaan konservasi lingkungan kawasan Kendeng Utara,
sumberdaya alam dalam penambangan, yaitu di Kabupaten Pati, dan khususnya di
meningkatnya peran stakeholders dan wilayah Kecakatan Sukolilo, karena di
kelembagaan yang terlibat. wilayah ini terutama terjadi pertentangan
kepentingan terhadap pengelolaan
Kawasan Karst lingkungan dengan rencana didirikannya
pabrik semen yang mendapat protes
Faida dkk menulis bahwa karst keras dari masyarakat setempat.
merupakan istilah dalam bahasa Jerman Ada dua jenis data yang
yang diturunkan dari bahasa Slovenia dimanfaatkan dalam penelitian ini, yaitu
kras, yang berarti lahan gersang berbatu. data primer dan data sekunder, dengan
Istilah ini di Slovenia sebenarnya tidak rincian sebagai berikut: (1) Data Primer :
terkait dengan batu gamping dan proses pengambil kebijakan di tingkat Provinsi
pelarutan, namun saat ini istilah karst Jawa Tengah, yaitu Dinas Energi dan
telah diadopsi untuk istilah bentuk lahan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Dinas
hasil proses pelarutan. Mendengar Kehutanan; pengambil kebijakan di
“karst” maka yang terbayang adalah Kabupaten Pati (BLH Kabupaten Pati),
lahan berwarna putih kekuningan atau masyarakat di lingkungan Kecamatan
kecoklatan yang mudah menyerap air. Sukolilo Kabupaten Pati khususnya
Adapun Ford dan Wiliams dikutip komunitas Sedulur Sikep, serta para ahli
oleh Wuspada (2011) mendefinisikan lingkungan yang mempunyai penge-
karst sebagai medan dengan kondisi tahuan dan kepedulian tentang/terkait
hidrologi khas sebagai akibat dari batuan kawasan karst Kendeng Utara. (2) Data
yang mudah larut dan mempunyai Sekunder: berupa data tertulis mencakup
porositas sekunder yang berkembang peraturan-peraturan maupun laporan-
baik. Karst dicirikan oleh: (i) terdapatnya laporan, arsip, gambar, dokumen,
cekungan tertutup dan atau lembah ataupun catatan-catatan, khususnya dari
kering dalam berbagai ukuran dan instansi-instansi pemerintah yang ada
bentuk, (ii) langka atau tidak terdapatnya kaitannya dengan fokus kajian penelitian.
drainase/sungai permukaan, dan (iii) Selain itu berbagai buku pus-
terdapatnya goa dari sistem drainase taka/literatur yang terkait dengan topik
bawah tanah. penelitian ini. Teknik pengambilan data
Kawasan karst merupakan dengan melalui observasi, wawancara
wilayah yang dapat menangkap dan mendalam, dan telaah bahan sekunder.
menyimpan air hujan, sebagai habitat Data kualitatif dianalisis dengan
bagi beberapa spesies makhluk hidup pendekatan analisis kualitatif bersifat
khusus, dan berpotensi pertambangan deskriptif, lebih banyak dikenal dengan
karena fisiografi berbukit-bukit yang metode pendekatan analisis deskriptif
terbentuk dari batu gamping kualitatif (Brannen, 2005).

METODE PENELITIAN GAMBARAN UMUM WILAYAH

Penelitian ini mempergunakan Kabupaten Pati merupakan satu


metode deskriptif kualitatif. Subyek pe- dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa
nelitian terkait dengan Kebijakan Tengah yang mempunyai letak cukup
Pengelolaan lingkungan di lingkungan strategis karena dilewati oleh jalan
Jawa Tengah. Pada penelitian ini, aspek- nasional yang menghubungkan kota-kota
aspek yang dikaji adalah : (1) Kebijakan besar di pantai utara Pulau Jawa.
kawasan karst di Kawasan Kendeng Kabupaten Pati secara administratif
Utara, khususnya di Kecamatan Sukolilo, dibagi menjadi 21 kecamatan, 401 desa
Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah; dan 5 kelurahan. Kecamatan dengan
56
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 12 (1) : 53-65 , 2014 ISSN : 1829-8907

wilayah terluas adalah Kecamatan biasanya bisa dua kali musim padi dan
Sukolilo (15.874 ha), dengan Kecamatan satu kali polowijoPada tegalan milik
Wedarijaksa memiliki luas wilayah penduduk atau tanah tanah terbuka di
terkecil (4.085 Ha). Menurut klasifikasi sekitar pemukiman atau sawah, dapat
Tingkat Perkembangan Desa semua dijumpai berbagai jenis tanaman mulai
sudah menjadi desa/ kelurahan kategori dari tanaman kayu seperti jati, mahoni,
III (Desa Swasembada). randu, bambu, serta tamanan polowijo
Kondisi topografi dan berupa jagung atau ketela pohon dan
morfologinya didominasi oleh berbagai jenis sayur. Masyarakat juga
pegunungan kapur yang membujur di menanam pohon jati, di tegalan atau di
sebelah selatan meliputi sebagian kecil lahan-lahan terbuka milik penduduk.
wilayah Sukolilo, Kayen, Tambakromo, Kondisi tanaman jati milik
Winong, dan Pucakwangi. Kabupaten Pati penduduk ini secara umum tumbuh
mempunyai luas wilayah 1.503.680 Ha dengan baik dan subur, bahkan di
yang terdiri dari 59.332 ha lahan sawah, beberapa wilayah lebih rimbun, rapat,
66. 086 ha lahan bukan pertanian. dan hijau daripada di lahan milik
Dengan luas wilayah terbesar adalah Perhutani. Mengapa demikian? Menurut
Kecamatan Sukolilo dengan luas 15. 874 beberapa informan kunci yang
Ha dan luas wilayah terkecil adalah diwawancarai, ternyata masyarakat
Kecamatan Wedarijaksa dengan luas merasa bahwa lahan milik Perhutani
4.085 Ha. adalah lahan milik Negara, yang
Penduduk Kabupaten Pati tahun merupakan milik bersama, sehingga
2012 sebanyak 1.207.399 jiwa yang mereka cenderung merasa tidak bersalah
terdiri dari penduduk laki-laki sebesar seandainya “memanfaatkan” kayu-
586.870 jiwa dan penduduk perempuan kayunya untuk kebutuhan mereka.
sebesar 620.529 jiwa. kepadatan Sementara itu, lahan milik pribadi
penduduk Kabupaten Pati berada di terlindungi, karena masyarakat
kisaran 802. 96 jiwa/ km2 lebih tinggi mengganggap itu merupakan hak milik
dibanding tahun sebelumnya sebesar perseorangan sehingga tidak dapat
797.06 jiwa/ km2. Berdasarkan data dimanfaatkan dengan bebas karena
mengenai tingkat pendidikan di bukan merupakan milik bersama.
Kecamatan Sukolilo dapat diketahui Selain itu, di kawasan Sukolilo
bahwa tingkat pendidikan terakhir di juga ditemukan berbagai situs yang
Kecamatan tersebut paling banyak adalah dikeramatkan penduduk, misalnya
lulus SD. berupa kuburan para sesepuh desa serta
Mata pencaharian tertinggi gua-gua yang dianggap keramat. Mereka
masyarakat di Kecamatan Sukolilo adalah masih mengganggap kawasan tersebut
bekerja sebagai petani pemilik dengan harus dihormati dan dijaga baik-baik.
jumlah sebesar 23.584. Desa Baturejo Inilah salah satu bentuk budaya yang
merupakan desa dengan jumlah petani terkait dengan lingkungan, yang berlokasi
pemilik paling tinggi yaitu 3.474 jiwa. di kawasan Sukolilo.
Buruh tani berada di urutan kedua mata
pencaharian paling banyak di Kecamatan HASIL DAN PEMBAHASAN
Sukolilo dengan jumlah sebesar 23.281
jiwa atau hanya selisih 303 jiwa dari Di Pulau Jawa, pegunungan karst
jumlah petani pemilik. Adapun industri membentang di selatan dari Ujung Kulon
merupakan mata pencaharian paling kecil ke Sukabumi, Ciamis hingga Kebumen,
di Kecamatan ini dengan jumlah 6 orang lalu Wonosari hingga Tulung Agung.
saja, yaitu yang berada di desa Kuwawur. Begitu juga di bagian utara, terutama
Sebagian penduduk berprofesi perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur,
sebagai petani di lahan sawah dan non dari Blora, Purwodadi, Pati, Tuban,
sawah. Kondisi lahan pertanian Gresik, sampai ke Madura. Pegunungan
penduduk di sekitar Pegunungan Kendeng merupakan salah satu bagian
Kendeng berupa sawah tadah hujan dan dari kawasan ini.
tegalan. Kondisi sawah cukup subur,
57
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
April 2014 HARTUTI PURNAWENI; PENGELOLAAN DI KAWASAN KENDENG UTARA

1. Kebijakan Kawasan Karst dengan lapisan tanah alluvial yang


ketebalannya bervariasi. Lahan ini sejak
Kawasan Kendeng Utara di lama merupakan lahan untuk budidaya
Kabupaten Pati dicirikan oleh deretan tanaman jati. Tanaman yang ada di lokasi
pegunungan karst, yang merupakan dimonopoli oleh Jati yang sekarang ada di
bagian dari pegunungan yang lokasi merupakan hasil penanaman
membentang mulai dari Tuban di sebelah kembali yang dilakukan sekitar tahun
timur hingga Grobogan di sebelah barat. 2000-an, setelah sebelumnya kawasan
Sesuai dengan pendapat Sentosa dkk tersebut mengalami penjarahan pada
(2004) karst di kawasan Kecamatan masa awal reformasi (Jumari, 2011).
Sukolilo dicirikan dengan berkem- Oleh karena kondisi fisik dan
bangnya kubah karst, yaitu positif yang kekayaan flora faunanya, maka
tumpul, tidak terjal. Kawasan karst ini dikeluarkan berbagai kebijakan yang
merupakan kawasan yang sangat penting khas untuk kawasan karst. Kebijakan
dalam ekosistem, karena berbagai jasa pemerintah tentang kawasan karst ini
lingkungan yang diberikannya, antara antara lain muncul dalam bentuk
lain sebagai penyerap air, Undang-undang, Peraturan Menteri,
mencegah/mengurangi banjir, mengan- Peraturan Gubernur, dan lain sebagainya.
dung sumber air di sungai-sungai bawah Kebijakan yang mengenai
tanah dan gua-guanya, dan lain kawasan tersebut adalah Peraturan
sebagainya sehingga berfungsi sebagai Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2012
ruang terbuka hijau. tentang Penetapan Bentang Alam Karsts.
Dari hasil observasi, kawasan karst Pasal 1 Nomor 4 Peraturan Menteri ESDM
Kendeng Utara juga menunjukkan bukti Nomor 17 tahun 2012 tersebut
dari pendapat Haryono, dkk (2002) yang menjelaskan bahwa “bukit karst adalah
menjelaskan bahwa kawasan karst bukit dengan bentuk kerucut (conical),
memiliki fungsi dan arti penting membulat (sinosida), menara (tower)
sebagai: (a) obyek kajian ilmu meja (table) dan /atau bentukan lainnya”.
pengetahuan yang unik dan langka; (b) Selain terdapat bukit karst terdapat pula
kawasan yang sangat sensitif terhadap gua-gua dan sungai bawah tanah.
keberadaan air dan sosial budaya Peraturan Menteri Energi dan
masyarakat; (c) merupakan habitat yang Sumberdaya Mineral (Permen ESDM) ini
mendukung keanegaraman jenis flora juga menyebutkan bahwa “kawasan
dan fauna yang spesifik; serta (d) bentang alam karst merupakan kawasan
memiliki fungsi dalam penyerapan lindung geologi sebagai bagian dari
karbondioksida CO2 dan atmosfer, salah kawasan lindung nasional”. Masih
satu proses alam yang dapat mencegah menurut Permen ESDM Nomor 17 tahun
atau mengurangi terjadinya pemanasan 2012 tersebut, pada pasal 4 ayat (1)
global, karena karbondioksida (CO2) menyebutkan bahwa “ kawasan bentang
merupakan salah satu penyebab alam karst sebagaimana dimaksud dalam
terjadinya pemanasan global. pasal 3 merupakan kawasan bentang
Selain itu kawasan karst alam karst yang menunjukkan bentuk
berfungsi sebagai ekosistem untuk eksokarst dan endokarst”. Bentuk
habitat berbagai hewan dan tumbuhan. eksokarst yang disebutkan dalam Permen
Kekayaan flora dan fauna kawasan karst ESDM Nomor 17 Tahun 2012 pasal 4 ayat
ini luar biasa (Jumari, 2011). Dari hasil (5) terdiri atas : mata air permanen, bukit
pengamatan dan wawancara dengan karst, dolina, uvala, polje, dan atau telaga.
informan dari Dinas Kehutanan Provinsi Sedangkan pasal 4 ayat (6) menyebutkan
Jawa Tengah, nampak bahwa sebagian bahwa “bentuk endokarst terdiri atas
besar kawasan Kendeng merupakan sungai bawah tanah; dan /atau
lahan hutan jati milik Perhutani, speleotem”.
termasuk yang ada di kawasan Sukolilo. Selain itu, kebijakan penting
Seperti halnya Kawasan Kendeng lainnya untuk kawasan karst Kendeng Utara,
daerah ini merupakan kawasan khususnya di kawasan Sukolilo ini ada
pegunungan dengan tanah yang berkapur pada Peraturan Gubernur Jawa Tengah
58
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 12 (1) : 53-65 , 2014 ISSN : 1829-8907

Nomor 128 Tahun 2008 tentang ngunan dengan azas keterpaduan antara
Penetapan Kawasan Lindung Karst berbagai stakeholders, yang dalam
Sukolilo. Peraturan yang terkait dengan penelitian ini mencakup tiga dari empat
tata ruang kawasan karst Sukolilo ini indikator POAC yaitu Planning,
dimaksudkan sebagai sebuah cara Organizing, dan Actuating.
pemataan ruang dalam kaitannya dengan
lingkungan hidup (Sugandhy, 1999). Planning (Perencanaan)
Dalam kebijakan Peraturan Gubernur Dalam hal ini mencakup kegiatan
tersebut ditetapkan bahwa kawasan karst perencanaan dalam rangka pengelolaan
dibagi menjadi kawasan yang dilindungi lingkungan secara terpadu terhadap
dan kawasan yang dapat dimanfaatkan. suatu wilayah. Perencanaan Pemerintah
Dalam Pasal 3 Peraturan Gubernur Jawa yang matang diharapkan dapat
Tengah Nomor 128 Tahun 2008 tentang menghasilkan kebijakan publik yang baik
Penetapan Kawasan Lindung Karst bagi semua pihak dan tidak ada yang
Sukolilo tersebut dinyatakan bahwa: (1) dirugikan. Kebijakan publik adalah
Maksud ditetapkannya kawasan lindung serangkaian keputusan yang kurang lebih
kars Sukolilo adalah sebagai pedoman berhubungan (termasuk keputusan tidak
bagi upaya perlindungan kawasan kars berbuat) yang dibuat badan-badan atau
Sukolilo; (2) Penetapan kawasan lindung kantor-kantor pemerintah, diformu-
kars Sukolilo bertujuan untuk: a) lasikan dalam bidang-bidang isu yaitu
memberikan perlindungan terhadap kars arah tindakan aktual atau potensial dari
Sukolilo; b) sebagai pedoman bagi pemerintah yang di dalamnya
pemanfaatan sumberdaya bahan terkandung konflik antara kelompok
tambang yang berada di kars Sukolilo masyarakat.
tanpa mengorbankan kawasan lindung Kebijakan publik menurut
kars Sukolilo. Thomas Dye dalam Subarsono (2005)
Peraturan Gubernur ini kemudian adalah apapun pilihan pemerintah untuk
menimbulkan kontroversi, karena melakukan sesuatu atau tidak melakukan
dianggap merupakan jalan bagi sesuatu. Definisi tersebut mengandung
diberikannya ijin pendirian pabrik semen antara lain makna bahwa kebijakan
di kawasan Sukolilo karena memberikan publik menyangkut pilihan yang harus
pedoman bagi pemanfaatan sumberdaya dilakukan atau tidak dilakukan oleh
bahan tambang di kawasan tersebur, badan pemerintah. Dalam hal ini adalah
sebagaimana dinyatakan oleh kelompok apakah pemerintah akan melakukan
yang menentang rencana penambangan pemberian ijin penambangan atau tidak
di kawasan karst Sukolilo ini. memberikan ijin penambangan terhadap
Dari hasil wawancara mendalam, kawasan karst di Kecamatan Sukolilo.
Gunretno, tokoh masyarakat asli Sedulur Penambangan batu gamping di
Sikep yang tinggal di Kecamatan Sukolilo kawasan karst amat berpotensi merusak
menyatakan bahwa kelestarian ling- lingkungan. Letak kawasan karst yang
kungan karst harusnya lebih di- berada di daerah tropis menjadikan
utamakan, untuk kepentingan pem- kawasan ini sebagai penyerap karbon
bangunan yang berkelanjutan. Meskipun yang potensial karena pada daerah ini
jumlah masyarakat Sedulur Sikep tidak curah hujan sangat tinggi. Semakin
banyak dalam jumlah, namun mereka banyak curah hujan maka proses
menonjol dalam suara. Akibatnya, karsifikasi lebih intensif sehingga
terbentuk opini publik yang kuat bahwa penyerapan karbon cukup tinggi, karena
masyarakat Sukolilo menolak kehadiran dalam proses karsifikasi terjadi
rencana pabrik semen Gresik di wilayah penyerapan karbon yang berarti dapat
tersebut. mengurangi pemanasan global. Proses
penambangan dapat menyebabkan
2. Pengelolaan lingkungan hilangnya lapisan epikarst, yakni lapisan
tipis di permukaan lahan yang menahan
Pengelolaan lingkungan bertujuan air. Dengan adanya kegiatan
agar tercipta keberlanjutan pemba- penambangan maka terjadi pengurangan
59
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
April 2014 HARTUTI PURNAWENI; PENGELOLAAN DI KAWASAN KENDENG UTARA

penyerapan air dan merusak tata air menekankan pada terwujudnya


serta habitat satwa endemik seperti pembangunan sosial dimana peranserta,
kelelawar, ular, burung walet dan kera dan keadilan menjadi bagian penting
ekor panjang (Wuspada, 2012). dalam pembangunan. Demikian juga
Dibutuhkan pasir untuk pembangunan yang berlaku pada
pembangunan fisik gedung, dibutuhkan kawasan karst Sukolilo. Hadi menjadi
emas untuk keperluan industri dan salah satu informan dalam penelitian ini,
perhiasan yang bernilai tinggi, sebagai penggagas Forum Tata Ruang
dibutuhkan perak untuk membuat Jawa Tengah, yang mendiskusikan
peralatan makan dan juga perhiasan. berbagai masalah tentang tata ruang
Selain itu juga dibutuhkan semen untuk kawasan Kendeng, dengan anggota
membangun tidak hanya bangunan perwakilan berbagai dinas di Jawa
gedung dan rumah, namun juga jalan raya Tengah serta para pakar dari berbagai
karena sifat keras dan padat semen, perguruan tinggi di Jawa. Forum ini
sehingga sangat sesuai untuk terutama didirikan pada tahun 2011 sebagai
pembangunan jalan-jalan di kawasan bentuk kepedulian Universitas
yang lahannya bergerak dan mudah Diponegoro pada pembangunan di
longsor. kawasan karst Kendeng.
Akan tetapi perlu diingat bahwa Menurut seorang informan lain
diperkirakan 30-40 persen sumber air dari kalangan akademisi, Eko Haryono,
berasal dari kawasan karst ini. Kawasan seorang ahli karst yang juga Ketua
Karst merupakan ekosistem yang Program Studi Geografi dan Ilmu
terbentuk dalam kurun waktu ribuan Lingkungan Universitas Gadjah Mada,
tahun, tersusun atas batuan karbonat karst selalu berasosiasi dengan sumber
(batu kapur atau batu gamping) yang air. Sekalipun tampak kering di atasnya,
mengalami proses pelarutan sedemikian di lereng bukit karst pasti terdapat mata
rupa hingga membentuk kenampakan air dengan debit luar biasa. Bahkan,
morfologi dan tatanan hidrologi yang menurutnya, air dari karst ini memasok
unik dan khas. Dibutuhkan waktu kebutuhan air penduduk dunia sekitar 25
puluhan juta tahun untuk membentuk persen. Informan ini aktif dalam
gugusan terumbu karang dan kegiatan-kegiatan terkait penelitian karst
mencuatkannya ke permukaan Bumi dan terlibat dalam pembuatan kebijakan
sebagai pegunungan karst. Sebaliknya, tentang kawasan karst.
bagi pabrik semen, hanya butuh puluhan Menurut Suara Merdeka (17 Juni
tahun untuk menghancurkan dan 2012), kandungan air di balik keringnya
mengubahnya menjadi produk yang lebih kawasan karst adalah sumber kehidupan
diinginkan manusia, dan menghasilkan bagi warga sekitar. Air di balik
banyak uang yang merupakan faktor pegunungan karst ibarat harta karun. Tak
penarik utam dalam setiap kegiatan semuanya muncul di permukaan dan
pembangunan yang masih bertumpu mudah dijangkau. Membutuhkan
pada paradigma pertumbuhan. penelusuran gua untuk mengetahui dari
Dalam hal ini perlu diingat mana datangnya dan ke arah mana air
pendapat Sudharto P.Hadi, pakar mengalir. Secara garis besar, air datang
lingkungan dari Undip, yang menyatakan dari hujan yang jatuh ke permukaan karst
bahwa pembangunan memiliki arti yang berpori dan bercelah. Ada yang
ganda. Makna pertama adalah membentuk bebatuan gamping melalui
pertumbuhan ekonomi, yang lebih proses karstifikasi. Ada juga yang
menekankan pada kuantitas produksi menetes dan jatuh membentuk danau
dan enggunaan sumber-sumber daya. serta sungai kecil.
Makna kedua adalah bahwa Yang menarik, sungai bawah
pembangunan harus memusatkan tanah itu kerap kali tak bisa ditelusuri
perhatian lebih pada hubungan sosial, dari awal sampai akhir. Penelusuran
dalam kaitannya dengan pembangunan sungai bawah tanah kerap harus
berkelanjutan (Hadi, 1996). dikombinasikan dengan teknik menyelam
Pembangunan berkelanjutan seharusnya karena ketika air masuk ke dalam lubang
60
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 12 (1) : 53-65 , 2014 ISSN : 1829-8907

kerap kali antara permukaan air dan tersebut. Situs keramat tersebut juga
dinding gua menyatu. Kekayaan air menjadi habitat beberapa jenis flora
bawah tanah di seluruh Indonesia belum yang jarang ditemukan di tempat lain
seluruhnya terpetakan. Padahal, peta ini di kawasan Punungan Kendeng,
penting sebagai salah satu dasar keberadaan situs tersebut harus
mengklasifikasikan pemanfaatan dipertahankan.
kawasan karst. Dengan demikian masih (d) Kawasan Pegunungan Kendeng
dipertanyakan, bolehkah kawasan karst dengan potensi keanekaragaman
ditambang ataukah harus dilindungi? hayati yang cukup besar, ditambah
Selain kekayaan fisik, kawasan dengan kondisi alamnya yang cukup
Sukolilo juga menyimpan kekayaan flora menarik, antara lain banyak gua-gua
dan fauna, serta kekayaan budaya yang di kawasan kars, sumber mata air,
penting bagi masyarakatnya, sebagai- dan situs situs yang banyak terdapat
mana pendapat Jamari, dosen Biologi, di kawasan Kendeng. Maka kawasan
MIPA, Undip, yang menyatakan bahwa Kendeng sesuai untuk dikembangkan
berdasarkan pengamatan langsung di menjadi kawasan wisata pendidikan,
lapangan dan penelaahan data yang wisata ritual, ekowisata atau
ditemukan dalam penelitian, dapat agrowisata.
dikemukakan Kawasan Kendeng meru- Akan tetapi pemerintah dan dunia
pakan wilayah yang subur dan produktif. bisnis juga mempunyai kepentingan atas
Jamari juga menulis (2011) dalam wilayah perbukitan karst yang sarat
laporan penelitiannya, antara lain: kepentingan ini. Beberapa pabrik semen
(a) Kawasan Tambakromo dan Sukolilo berusaha mendapatkan ijin
sekitar Pegunungan Kendeng penambangan di wilayah tersebut, karena
mempunyai kekayaan sumberdaya batu gamping merupakan bahan baku
hayati yang cukup potensial. utama pembuatan semen. Sementara itu,
Kekayaan ekosistem berupa lahan atas nama pembangunan, pemerintah
hutan jati, lahan pertanian berupa juga berusaha agar keinginan pabrik
sawah dan tegalan, serta kawasan semen tersebut dapat terlaksana.
pemukiman, merupakan ekosistem Masyarakat lokal menganggap
yang lengkap. Berbagai jenis bahwa kebijakan Peraturan Gubernur
kekayaan species tumbuhan meliputi Jawa Tengah Nomor 128 Tahun 2008
tanaman perkebunan hutan jati, tentang Penetapan Kawasan Lindung
tanaman pangan, tanaman obat, Karst Sukolilo dikeluarkan untuk
obatan, pakan ternak, kayu bakar dan mensahkan rencana pembangunan
tanaman liar lainya dan berbagai jenis pabrik semen di kawasan Kecamatan
fauna yang ada. Kekayaan hayati Sukolilo, karena kemudian dijelaskan
beserta lingkunganya di kawasan bahwa ada wilayah-wilayah tertentu yang
tersebut seharusnya cukup untuk bisa ditambang di wilayah tersebut.
menopang kehidupan masyarakat Kelompok yang menentang dengan keras
sekitar. kebijakan penambangan adalah
(b) Potensi kekayaan hayati yang kelompok masyarakat asli Sedulur Sikep
dimiliki dan pemanfaatanya masih yang lebih dikenal sebagai kelompok
belum banyak terungkap, sehingga Samin, karena merupakan keturunan
perlu penelitian lebih lanjut dan Mbah Samin Surosentiko.
upaya upaya untuk mengelola Kelompok yang mempunyai
kawasan tersebut menjadi lebih sistem budaya sendiri yang khas dan unik
berhasilguna dan lebih produktif ini kemudian menjadikan media massa
untuk menunjang pendaptan daerah sebagai partner untuk menyuarakan
dan meningkatkan kesejahteraan dengan keras perlawanan mereka
masyarakat. terhadap rencana pembangunan pabrik
(c) Selain kaya akan sumberdaya alam semen, dibantu oleh para pegiat
kawasan ini juga memiliki situs-situs pelestarian lingkungan. Salah seorang
keramat yang berkaitan dengan pemimpin formal terkemuka kelompok
sejarah dan keberadan di wilayah Sikep ini, Gunretno, menyatakan dalam
61
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
April 2014 HARTUTI PURNAWENI; PENGELOLAAN DI KAWASAN KENDENG UTARA

wawancaranya bahwa pengelolaan hidupnya di Pegunungan Kendeng Utara.


lingkungan di Kendeng seharusnya di- Di sisi lain, kekayaan alam berupa
peruntukkan untuk kawasan pelestarian bentang alam karst menjadi incaran
alam, karena lingkungan alam di Kendeng perusahan semen. Karst adalah bahan
harus dijaga agar tetap dapat baku utama pembuatan semen. Pada titik
memberikan manfaat secara berke- inilah ketegangan muncul, yaitu
lanjutan. Gunretno juga sering muncul pemanfaatan sumber daya alam
diwawancarai di media tv, koran, (Kartodihardjo, 2012). Sebagai dosen di
majalah, bahkan film-film pendek tentang Institut Pertanian Bogor dan Ketua
lingkungan. Himpunan Masyarakat Perhutanan
Indonesia, dalam wawancaranya Hariadi
Organizing (Pengorganisasian) Kartodihardjo menyatakan bahwa
Pelaksanaan kegiatan penge- kondisi ketegangan-ketegangan peman-
lolaan lingkungan suatu wilayah haruslah faatan lingkungan dengan kekayaan
dilakukan secara efektif dan efisien, sumberdaya ini merupakan suatu kondisi
dalam arti masing-masing pihak yang yang umum terjadi belakangan ini di
terlibat dapat menjalankan tugasnya seluruh wilayah Indonesia.
dengan baik dan bertanggungjawab. Menurut beberapa informan
Yang terlibat dalam hal ini masyarakat di kawasan Sukolilo, banjir
khususnya adalah pemerintah, yaitu berulang-ulang terjadi belakangan ini d
dinas-dinas yang terkait dalam kawasan Kendeng. Dimulai dari tahun
pengelolaan kawasan Kendeng Utara. 2004, 2008, 2009, 2009, dan seterusnya
Komitmen aparat dan implementor kemudian terjadi banjir setiap tahun di
dalam pengelolaan lingkungan sangat kawasan Sukolilo. Kondisi yang belum
diperlukan. pernah terjadi pada waktu hutan masih
Dalam Peraturan Pemerintah penuh tanaman Jati di era sebelum
Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana reformasi. Penggundulan hutan
Tata Ruang Wilayah Nasional, semua berdampak negatif terhadap kemampuan
bentang alam karst dan goa termasuk lingkungan untuk menyerap air di
dalam Cagar Alam Geologi (Pasal 60 ayat kawasan Sukolilo.
2 poin C dan F). Cagar Alam Geologi Ada beberapa kepentingan yang
dalam peraturan tersebut dimasukkan bersinggungan dalam pengelolaan
dalam Kawasan Lindung Geologi (Pasal kawasan karst di kendeng Utara ini.
52 ayat 5), Kawasan Lindung Geologi Pemerintah, swasta, dan masyarakat
sebagai bagian dari Kawasan Lindung lokal yang didukung media massa.
Nasional (Pasal 51). Masing-masing dengan kepentingan
Secara hierarki, kedudukan mereka, di satu wilayah yang sama, yaitu
kawasan karst dalam PP No. 26 tahun wilayah Kecamatan Sukolilo.
2008 sangat jelas, yaitu merupakan
bagian dari Kawasan Lindung Nasional. Actuating (Pelaksanaan)
Namun, saat ini muncul berbagai
peraturan dan rencana revisi peraturan Pembangunan harus dilaksa-
yang memungkinkan perusahaan nakan secara berkelanjutan. Dampak dari
menambang di kawasan karst. Contohnya pembangunan yang tidak berkelanjutan
adalah perda-perda tata ruang di dan tidak berwawasan lingkungan amat
kabupaten-kabupaten yang berada di berpotensi berakibat pada kerusakan
pegunungan Kendeng Utara. lingkungan, akibat penurunan daya
Pegunungan Kendeng Utara dukung dan daya tampung lingkungan.
merupakan hamparan perbukitan kapur Kegiatan pembangunan memang amat
yang telah mengalami proses-proses diperlukan untuk peningkatan
alamiah dalam batasan ruang dan waktu kesejahteraan manusia, namun seha-
geologi. Produk dari dinamika bumi yang rusnya pembangunan tersebut
berlangsung dari masa lalu hingga saat ini dilaksanakan secara berkelanjutan,
telah menghasilkan suatu fenomena alam mengacu pada kondisi alam, dan
yang unik. Masyarakat menggantungkan pemanfaatannya agar berwawasan
62
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 12 (1) : 53-65 , 2014 ISSN : 1829-8907

lingkungan. Hal ini diyakini oleh sebagian PENUTUP


informan, khususnya dari kelompok pro
pelestarian lingkungan. Terbukti Kesimpulan
kemudian ketika PT Semen Gresik tahun 1. Kebijakan pengelolaan kawasan karst
2008 berencana memperluas lahan Kendeng Utara di Kecamatan Sukolilo,
garapannya ke sebelah barat, yaitu di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah
wilayah Kecamatan Sukolilo ini , mereka berujud beberapa kebijakan yang
harus berhadapan dengan penolakan bertumpu pada ciri wilayah sebagai
warga yang cukup keras. deretan pegunungan karst, yang
Ketegangan antara masyarakat merupakan bagian dari pegunungan
dan perusahaan semen sudah yang membentang mulai dari Tuban di
berlangsung sejak tahun 2006. Saat itu sebelah timur hingga Grobogan di
PT. Semen Gresik (Persero) Tbk berusaha sebelah barat. Kebijakan-kebijakan ini
akan melakukan eksploitasi bentang alam melindungi kawasan tersebut sebagai
karst di pegunungan Kendeng Utara, kawasan lindung, namun dengan
tepatnya di wilayah Kecamatan Sukolilo memberikan keleluasaan kawasan-
dan Kayen. kawasan tertentu untuk penam-
PT Semen Gresik berencana bangan, sehingga dikeluarkan
mendirikan pabrik semen di Kecamatan beberapa kebijakan khusus untuk
Sukolilo. Rencana pembangunan pabrik kawasan karst Sukolilo.
semen yang dikaji dengan studi AMDAL 2. Pengelolaan lingkungan.
yang dilakukan PT. Semen Gresik Pengelolaan lingkungan di kawasan
(Persero) Tbk kerjasama dengan Pusat Kendeng Utara di Kecamatan Sukolilo,
Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH), dapat dilihat menurut POAC, yaitu: (1)
Lembaga Penelitian Universitas Planning atau Perencanaan, mencakup
Diponegoro (AMDAL, 2008). kegiatan perencanaan dalam rangka
Studi AMDAL dilakukan setelah pengelolaan lingkungan secara
KA ANDAL memperoleh Keputusan terpadu terhadap wilayah karst
Kesepakatan KA ANDAL berdasarkan Kendeng Utara. Dibutuhkan semen
Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah untuk pembangunan fisik gedung,
Nomor: 660.1/BLH.II/2701 tanggal 18 jalan, dan lain sebagainya, sehingga
Desember 2008 dan Nomor kepentingan industri semen harus
660.1/BLH.II/2714 tanggal 23 Desember terpenuhi, namun masyarakat juga
2008. memerlukan lahan untuk hidup; (2)
Akan tetapi, rencana Organizing (Pengorganisasian): ada
penambangan ini dianggap merugikan beberapa kepentingan yang
masyarakat karena terjadi praktik bersinggungan dalam pengelolaan
intimidasi, kampanye hitam terhadap kawasan karst di Kendeng Utara.
tokoh-tokoh kunci hingga kriminalisasi 9 Pemerintah, swasta, dan masyarakat
(sembilan) orang petani. Akhirnya, lokal yang didukung media massa.
PT. Semen Gresik, Tbk gagal melakukan Masing-masing dengan kepentingan
eksploitasi karena penolakan masyarakat. mereka, di satu wilayah yang sama,
Kegagalan rencana Semen Gresik yaitu wilayah Kecamatan Sukolilo; dan
di Kecamatan Sukolilo tidak menyurutkan (3) Actuating (Pelaksanaan): terdapat
niatan pabrik semen lainnya untuk dorongan pelaksanaan konservasi
memanfaatkan lahan galian di kawasan sumberdaya alam, dan meningkatnya
Pegunungan Kendeng Utara, kali ini di peran stakeholders dan kelembagaan
kecamatan tetangga Sukolilo, yaitu yang terlibat. Namun belum muncul
Kecamatan Tambakromo. Bagaimana pelaksanaan optimatisasi peman-
nasib lingkungan kawasan Kendeng Utara faatan sumberdaya alam secara
ke depan nya? Masih menjadi pertanyaan efisien.
semua pihak.

63
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
April 2014 HARTUTI PURNAWENI; PENGELOLAAN DI KAWASAN KENDENG UTARA

Saran: Faida, Lies Rahayu. Rina Laksmi Hendrati


1. Kebijakan kawasan karst sebaiknya dan Hari Sukmono, 2011, Kajian
(1) mempertimbangkan keunikan Pengelolaan Karst Hijau di
keunikan kawasan karst, (2) Kondisi Kabupaten Gunung Kidul, Laporan
sosial ekonomi sebagian masyarakat Akhir Penelitian Kolaboratif,
yang masih bersifat tradisional Yogyakarta: Fakultas
seharusnya menjadi pertimbangan Kehutanan, UGM.
dalam pembuatan kebijakan; (3)
dukungan publik perlu digalang oleh Hadi, Sudharto P, 1996, Pembangunan
pemerintah untuk dilakukannya Berkelanjutan Dalam Era Globalisasi:
pembangunan yang seharusnya Peluang dan Tantangan Bagi
menguntungkan semua pihak, dan Perguruan Tinggi, Pidato Dies Natalis
mengacu pada pembangunan Universitas Diponegoro ke 40,
berkelanjutan. Semarang.
2. Pengelolaan lingkungan: (1) Planning
(Perencanaan), pembangunan berke- Haryono, Eko, dkk, 2010, Geomorfologi
lanjutan seharusnya dikedepankan, dan Hidrologi Kawasan Karst,
dengan menekankan pada terwu- Yogyakarta: Gadjah Mada University
judnya pembangunan sosial di mana Press.
peranserta, dan keadilan menjadi
bagian penting dalam pembangunan; Jumari, 2011, Laporan Penelitian
(2) Organizing (Pengorganisasian): Lapangan Flora dan Fauna Kawasan
ada beberapa kepentingan yang Pegunungan Karst Kendeng,
bersinggungan dalam pengelolaan Semarang: tidk dipublikasikan
kawasan karst di Kendeng Utara.
Pemerintah, swasta, masyarakat, yang Kartodihardjo, 2012, Kartodiharjo,
seharusnya dilakukan dengan Hariadi dan Hira Jhamtani (ed),
mengedepankan win-win solution, 2006, Politik Lingkungan dan
misalnya dengan pelaksanaan zonasi; Kekuasaan di Indonesia, Jakarta :
(3) Actuating (Pelaksanaan): harus Equinox.
dimunculkan pelaksanaan optima-
tisasi pemanfaatan sumberdaya alam Keban, Yeremias T, 2004, Enam Dimensi
secara efisien, dengan memanfaatkan Strategis Administrasi Publik :
teknologi yang ramah lingkungan, Konsep, Teori dan Isu,
sekiranya pabrik semen jadi didirikan Yogyakarta : Penerbit Gava Media.
di wilayah Sukolilo.
Nugroho, Hanan, 2003, paper Kuliah
DAFTAR PUSTAKA Umum di Magister Ilmu Lingkungan
Universitas Diponegoro, Semarang.
AMDAL, 2008, Pembangunan Pabrik
Semen PT. Semen Gresik Persero Tbk, Nugroho, Riant D, 2003, Kebijakan Publik:
Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Formulasi, Implementasi, dan
Semarang: PPLH Undip. Evaluasi, Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Asdak, Chay, 2004, Hidrologi dan
Pengelolaan Daerah ALiran Sungai, Subandono, Pemanasan Global, Jakarta:
Yogyakarta: Gadjah Mada Elex Media Komputindo.
University Press.
Subarsono, AG, 2009, Analisis Kebijakan
Brannen, Julia, terjemahan oleh Nuktah Publik: Konsep, Teori dan Aplikasi,
Arfawie Kurde dan Imam Safe’i, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
2005, Memadu Metode Penelitian :
Kuantitatif dan Kualitatif, cetakan ke Sugandhy, Aca, 1999, Penataan Ruang
VI, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dalam Pengelolaan Lingkungan
Hidup,
64
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP
Jurnal Ilmu Lingkungan , Vol 12 (1) : 53-65 , 2014 ISSN : 1829-8907

Jakarta: P.T Gramedia Pustaka Kebijakan


Utama. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun
2008 tentang Rencana Tata Ruang
Suhartadi. 2009, Evaluasi Pengelolaan Wilayah Nasional
Lingkungan Kegiatan
Penambangan Batu Kapur PT. Peraturan Menteri ESDM Nomor 17
Sinar Alfa Fortuna (NAF) di Tahun 2012 tentang Penetapan Bentang
Rembang. Alam Karsts

Wuspada. Ratna, 2012, Implementasi Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor


Kebijakan Pelarangan Penam- 128 Tahun 2008 tentang Penetapan
bangan di Kawasan Karst Kawasan Lindung Karst Sukolilo
Kabupaten Gunung Kidul”.

Winarto, Yudho, “Rupanya, Pemerintah


Hanya Aktifkan Kembali Inpres
No.2/2008”, Kompas, 25 Juli
2011.

Gunretno, seorang tokoh masyarakat


lokal, Suara Merdeka, 8 Agustus
2013

65
© 2014, Program Studi Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana UNDIP