Anda di halaman 1dari 7

Nama : Adi Wijaya

Tugas M5 KB4

Instructions

1. Bacalah seluruh isi modul secara cermat dan buatlah rangkuman tentang isi modul
dalam bentuk artikel !

Pengertian Pembelajaran Anak Usia Dini

Pembelajaran pada anak usia dini merupakan proses interaksi antara anak, orang tua atau
orang dewasa lainnya dalam suatu lingkungan untuk mencapai tugas perkembangan. Interaksi
yang dibangun tersebut merupakan faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan
pembelajaran yang akan dicapai. Vigotsky (Berk, 1994) berpendapat bahwa pengalaman
interaksi sosial merupakan hal yang penting bagi anak. Pembelajaran akan menjadi
pengalaman yang bermakna bagi anak jika anak dapat melakukan sesuatu atas
lingkungannya.

Pada hakekatnya anak belajar sambil bermain, oleh karena itu pembelajaran pada anak
usia dini pada dasarnya adalah bermain. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang
bersifat aktif dalam melakukan berbagai eksplorasi terhadap lingkungannya, maka akitvitas
bermain merupakan bagian dari proses pembelajaran. Pembelajaran diarahkan pada
pengembangan dan penyempurnaan potensi kemampuan majemuk. Untuk itu pembelajaran
pada PAUD harus dirancang dan menggunakan sumber belajar yang tidak membebani serta
membosankan anak. Agar suasana belajar tidak memberikan beban dan membosankan anak,
sumber belajar dan suasana belajar perlu dibuat secara alami, hangat, dan menyenangkan.
Aktivitas bermain (playful activity) yang memberikan kesempatan pada anak untuk
berinteraksi dengan teman dan lingkungannya merupakan hal yang diutamakan.

Agar anak dapat mencapai tahapan perkembangan yang optimal, maka proses
pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut:
1) Berangkat dari yang dimiliki anak; setiap anak membawa segala pengetahuan yang telah
dimilikinya terhadap pengalaman-pengalaman barunya. 2) Belajar harus menantang
pemahaman anak; proses belajar pada anak usia dini dapat terjadi dalam dua arah, dari yang
umum yang khusus dari yang sederhana ke yang komplek. Oleh karena itu untuk memastikan
terjadinya pengembangan pada anak, aktivitas pembelajaran yang dirancang harus menantang
anak untuk mengembangkan pemahaman sesuai dengan apa yang dialaminya. 3) Belajar
dilakukan sambil bermain; belajar pada anak usia dini adalah bermain. Melalui bermain dapat
memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, menemukan, mengekpresikan perasaan,
berkreasi, dan belajar secara menyenangkan. 4) menggunakan alam sebagai sarana
pembelajaran; alam merupakan sarana yang tidak terbatas bagi anak untuk berekplorasi dan
berinteraksi dalam pembangunan pengetahuannya. 5) belajar dilakukan melalui sensorinya;
anak memperoleh pengetahuan melalui sensori alian inderanya yaitu peraba, pencium,
pendengar, penglihatan dan perasa. 6) Belajar membekali keterampilan hidup; pembelajaran
pada hakekatnya membekali anak untuk memiliki keterampilan hidup. 7) Belajar sambil
melakukan; pendidikan hendaknya megarahkan anak untuk menjadi pebelajar yang aktif.
(Sofia Hartati, 2005: 30-35).

Sumber belajar

Tarkleson dalam Cucu Eliyati (2005: 26) mengatakan bahwa sumber belajar adalah segala
sesuatu yang dipergunakan untuk kepentingan pelajaran yaitu segala apa yang ada di sekolah
dan lingkungannya pada masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.
Selanjutnya Association for Educational Coommunikation and Tecnology (AECT)
memberikan batasan sumber belajar sebagai segala sesuatu yang berupa pesan, manusia,
material (media-software), peralatan (hardware), teknik (metode), dan lingkungan yang
digunakan sendiri-sendiri maupun dikombinasikan untuk memfasilitasi terjadinya kegiatan
belajar.

Pemahaman yang mendalam tentang proses pembelajaran pada PAUD dari pendidik
diperlukan agar para pendidik mampu merencana, mengembangkan, dan menggunakan
sumber belajar dan bentuk-bentuk permainan untuk kepentingan pembelajaran PAUD.
Sumber belajar dan bentuk-bentuk permainan yang digunakan dapat dipilih dari permainan-
permainan tradisional yang ada di sekitar lingkungan sekolah.

Permainan tradisional

Yogyakarta memiliki kekayaan budaya yang amat bernilai termasuk permainan tradisional.
Permainan tradisional merupakan simbolik dari pengetahuan yang turun temurun dan
mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan dibaliknya, di mana pada prinsipnya
permainan anak tetap merupakan permainan anak. Dengan demikian bentuk atau wujudnya
tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena tujuannya sebagai media permainan.

Supriyadi (2002; 4) menjelaskan bahwa Bruner dan Danalson dari telaahnya menemukan
bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak
yang paling awal, dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Melalui
permainan tradisional, anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara
optimal, baik potensi fisik yang berhubungan dengan kecerdasan gerak-kinestetik, mental
intelektual dan spiritual. Oleh karena itu, melalui permainan tradisional bagi anak usia dini
merupakan jembatan berkembangnya semua aspek. Adapun manfaat dari permainan
tradisional adalah:

1. Anak menjadi lebih kreatif

Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh pemainnya. Menggunakan barang-


barang, benda-benda, atau tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini
mendorong anak lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan. Selain itu, permainan
tradisional tidak memiliki aturan secara tertulis. Biasanya, aturan yang berlaku, selain aturan
yang sudah biasa digunakan, ditambah dengan aturan aturan yang disesuaikan dengan
kesepakatan para pemain. Di sini juga juga terlihat bahwa pemain dituntut untuk kreatif
menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.
2. Dapat digunakan sebagai terapi kepada anak

Saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan
bergerak. Kegiatan semacam ini dapat digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang
memerlukan kondisi tersebut.

3. Mengembangkan kecerdasan majemuk anak, yaitu kecerdasan; intelektual, emosional


dan personal, gerak, natural, spasial, musikal dan spiritual

Adapun permainan tradisional Yogyakarta yang akan dibahas penulis adalah permainan
tradisional yang lebih banyak menggunakan aktivitas fisik, diantaranya:

1. Gotri Legendri

Anak anak bermain melingkar, jongkok di tanah. Mereka saling menggilirkan batu ke
sebelahnya sambil menyanyikan lagu. Gotri legendri nogosari thiwul uwal awul jadah
mbantul. Dolan awan awan nggolek kodok titenana besok gedhe dadi apa apadha mbako
enak mbako sedhep dhempo ewa ewo kaya kodok. Kemudian, yang mendapatkan batu
terakhir dia jadi kodok (menirukan gerakan katak melompat).

2. Tawonan
Permainan berkelompok, dimainkan dengan membuat lingkaran besar di tanah tempat
memenjarakan pemain lawan yang tertangkap.

3. Udan Barat

Permainan menggunakan gacuk, bisa dari pecahan tegel atau kereweng. Dimainkan dengan
melemparkan batu ke garis, yang paling dekat dengan garis dia yang mulai
main. Gacukdipasang di kaki, kemudian orang berjalan jingkat jingkat
dengan gacuk terpasang disatu kaki.Yang kalah menggendong yang menang, dari garis ke
garis

4. Jamuran
Dimainkan berkelompok beramai ramai bergandengan tangan melingari seorang di tengah,
sambil menyanyikan lagu lagu. Jamuran, yo ge gethok, jamur apa, yo ge gethok, semprat
semprit jamur apa? lalu pemain yang ditengah menyebutkan sesuatu, seperti: Jamur parut,
maka pemain yang melingkar harus mengangkat kakinya untuk dikili kitik dengan kereweng,
jika tertawa maka dia jadi yang ditengah Jamur kendhil borot, semua pemain harus kencing
(wakakakakkaakakaka marahi kemekelen) dan jamur jamur lainnya.

5. Ancak-ancak Alis

Permainan yang juga dimainkan beramai ramai. Dua orang anak menggabungkan kedua
tangan mereka dan diangkat tinggi. Anak-anak yang lain membuat rangkaian satu persatu
memasuki melewati kedua anak tadi, sambil menyanyikan lagu. Ancak-ancak alis, si alis
kabotan kidang anak-anak kebondungkul si dhungkul.

6. Dhingklik Oglak Aglik.


Permainan dimainkan dengan saling mengaitkan salah satu kaki ke kaki teman dalam sebuah
lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu di tanah dan melakukan gerakan berjalan seperti
berjingkat bersama. Masing-masing tangan pemain memegang pundak atau tangan pemain
lainnya.

7. Cublak-cublak suweng

Satu orang diminta melakukan posisi seperti orang bersujud, ndhekem. Kemudian empat atau
lima anak lainnya bermain menggilirkan sebuah kerikil di tangan mereka. Setelah selesai,
anak yang ndhekem tadi menebak kerikil di tangan siapa. Cublak cublak suweng, suwenge
ting gelenter, mambu ketundhung gudel pak gemppng lela legung sapa ngguyu
ndhelikake sirpon dhele kosong sir, sirpong dhele kosong.

8. Petak Jongkok

Dimainkan oleh banyak anak dan tidak memerlukan alat bantu. Tentukan satu orang yang
akan mengejar, setiap anak boleh jongkok. Bila jongkok berarti dia tidak dapat disentuh oleh
pengejar. Anak yang berdiri dapat membangunkan anak yang jongkok. Tetapi anak yang
terakhir jongkok berarti akan menjadi pengejar menggantikan pengejar yang lama. Begitu
juga dengan anak yang tidak jongkok namun berhasil disentuh oleh pengejar akan menjadi
pengejar selanjutnya.

9. Engklek

Pemain harus mengangkat satu kaki dan melompat dengan satu kaki melewati kotak-kotak
dalam engklek. Permainan ini membutuhkan gacon (bisa pecahan genting atau sejenisnya)
untuk dilempar. Dalam tingkatan yang lebih tinggi pemain harus membawa gacon di atas
telapak tangan dan menaruh di atas kepala sambil sambil melompat dengan satu kaki. Ada
beberapa variasi dalam hal aturan permainan dan prosedur engklek. Variasi ini juga terjadi
dalam bentuk engklek yang berbeda misalnya engklek gunung, engklek tangga, engklek
lingkaran.

Permainan tradisional sebagai sumber pembelajaran gerak

Menurut Skinner dalam Sofia Hartati (2005: 24) beranggapan bahwa perilaku manusia yang
dapat diamati secara langsung adalah akibat konsekuensi dari perbuatan sebelumnya. Kalau
konsekuensinya menyenangkan maka hal itu akan diulangi lagi. Hal, tersebut sejalan dengan
permainan tradisional yang prosesnya sangat digemari anak-anak.

Dalam permainan Gotri legendry, stimulasi gerak terjadi pada saat anak
mengilirkan/memindahkan batu secara estafet kesebelahnya sambil bernyanyi ini dibutuhkan
konsentrasi tinggi, jongkok di tanah dan gerakan melompat menirukan gerakan katak
(kodok). Dalam permainan ini koordinasi mata-tangan, mata-kaki dan keterampilan
lokomotor serta keterampilan non lokomotor berjalan.

Tawonan; Stimulasi gerak terjadi pada saat anak membuat lingkaran menaksir secara
visul dengan memenjarakan teman. Dalam hal ini keterampilan koordinasi berjalan.
Udan barat; Stimulasi gerak terjadi pada saat menggunakan gacuk, melemparkan batu ke
garis, memasang gacuk di kaki, berjalan, jingkat jingkat dengan gacuk terpasang disatu kaki,
dan menggendong. Keterampilan koordinasi, keterampilan lokomotor dan non lokomotor,
kemampuan mengatur dan mengontrol tubuh berjalan.

Jamuran; Stimulasi gerak terjadi pada saat beramai ramai bergandengan tangan membuat
lingkaran menyanyikan lagu lagu, mengangkat kakinya untuk dikili kitik dengan kereweng.

Ancak-ancak Alis; Stimulasi gerak terjadi pada saat anak menggabungkan kedua tangan
mereka dan mengangkat tangan tinggi, anak membuat rangkaian satu persatu memasuki
melewati kedua anak tadi, sambil menyanyikan lagu.

Dhingklik Oglak Aglik; Stimulasi gerak terjadi pada saat anak saling mengaitkan salah
satu kaki ke kaki teman dalam sebuah lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu di tanah dan
melakukan gerakan berjalan seperti berjingkat bersama.

Cublak-cublak Suweng; Stimulasi gerak terjadi pada saat anak melakukan posisi seperti
orang bersujud (ndhekem), empat atau lima anak lainnya bermain menggilirkan sebuah
kerikil ditangan mereka. Anak menebak kerikil di tangan siapa.

Petak Jongkok; Dimainkan oleh banyak anak dan tidak memerlukan alat bantu. Stimulasi
gerak terjadi pada saat anak mengejar, jongkok. anak membantu membangunkan anak yang
jongkok.

Engklek Stimulasi gerak terjadi pada saat anak mengangkat satu kaki dan melompat
dengan satu kaki melewati kotak-kotak dalam engklek, melempar.

Secara umum permainan-permainan tradisional di atas memuat unsur-unsur gerak


koordinasi, keterampilan lokomotor, keterampilan non lokomotor, dan kemampuan
mengontrol serta mengatur tubuh, sehingga dapat merangsang terhadap kecerdasan gerak-
kinestik anak, yang pada akhirnya membantu perkembangan dan pertumbuhannya. Jadi,
tidak ada alasan bagi pendidik, tidak bisa melaksanakan pembelajaran dengan materi
permainan tradisional karena jelas-jelas permainan tradisional mempunyai banyak kelebihan
dibandingkan dengan permainan modern.

Penutup

Permainan tradisional sebagai sumber belajar dapat mempermudah dalam pembelajaran


gerak pada anak usia dini, proses pembelajarannya dapat digunakan di dalam pemanasan,
inti, ataupun penenangan. Selain itu permainan tradisional juga memenuhi prinsip-prinsip
belajar pada anak usia dini, yaitu; berangkat dari yang dimiliki anak, harus menantang
pemahaman anak, dilakukan sambil bemain, menggunakan alam sebagai sarana
pembelajarannya, dilakukan melalui sensorinya, membekali keterampilan hidup, dan belajar
sambil melakukan.
Permainan tradisional yang termasuk di dalam pembelajaran penjasorkes, akan
memberikan dasar-dasar gerak yang komplit pada anak usia dini, sehingga dikemudian hari
pertumbuhan dan perkembangan anak akan berjalan optimal selaras, serasi dan seimbang
antara jiwa dan raga sebagai satu kesatuan yang utuh.

2. Tuliskan salah satu permainan tradisional dengan melengkapi atribut soft skill
(karakter) yang terkandung didalamnya !

Begitu banyak nilai-nilai karakter yang ada dalam permainan tradisonal indonesia. Misalnya
permainan gobak sodor

Peraturan dan Cara Bermain


1. Pemain di bagi menjadi dua kelompok, setiap kelompok beranggotakan minimal
4-5 orang.
2. Setiap kelompok mempunyai benda yang nantinya akan dijadikan sebagai
benteng, bisa terbuat dari tiang, bambu ataupun potongan batu bata.
3. Setiap kelompok mempunyai kawasan kekuasaan, yang disepakati di awal
permainan.
4. Pemain yang memasuki kawasan lawan jika tersentuh oleh pemain lawan akan
ditahan di sebelah benteng lawan dengan jarak sekitar 3-5 meter.
5. Pemain itu dapat kembali lolos jika pemain yang satu kelompok menyentuhnya
kembali.
6. Pemenang adalah kelompok yang berhasil menyentuh benteng lawan tanpa
terkena sentuhan dari pemain lawan.
Skor bisa ditentukan sesuai kesepakatan
Beberapa nilai karakter yang didapat dalam permainan gobak sodor antara lain

Nilai yang berhubungan dengan diri sendiri dalam permainan ini melatih anak untuk berbuat
jujur, yaitu Jika berada dalam kelompok yang mentas mengakui jika tersentuh lawan atau
melewati batas mati. Dan jika berada dalam kelompok jaga garis, tidak berbuat curang
dengan keluar dari garis penjagaan

Bertanggung jawab dengan melakukan tugas jaga garis dengan baik sesuai perannya
masing-masing, sebagai anggota kelompok yang menjaga garis horizontal ataupun jaga garis
vertikal bergaya hidup sehat,

Disiplin anak-anak mematuhi ketentuan dan peraturan dalam permainan gobak sodor

kerja keras, anak-anak berusaha keras menerobos garis-garis yang dijaga lawan untuk
mendapatkan nilai dan kemenangan. Kerja keras ditunjukkan kelompok yang sedang jaga
garis dengan berusaha mengejar anggota kelompok yang sedang mentas untuk menyentuhnya
agar keadaan menjadi berbalik.

Bergaya hidup sehat Sebagai anggota tim yang menjaga garis berlari mengejar lawan dan
sebagai anggota kelompok yang mentas harus menghindari sentuhan lawan merupakan
kegiatan yang memerlukan tenaga sama seperti kegiatan berolahraga

Percaya diri Ketika mulai bermain anak-anak tidak pernah berpikir untuk kalah duluan,
mereka yakin terhadap kemampuannya untuk menang dan dengan berani menghadapi lawan
dalam permain.

Berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif gobak sodor merangsang aktivitas berpikir
menentukan strategi untuk menerobos garis penjagaan lawan, melihat situasi dan kondisi
mengambil kesempatan, mengecoh lawan dan memikirkan bagaimana cara memperoleh
kemenangan tanpa tersentuh penjaga garis.