Anda di halaman 1dari 59

Usulan Teknis

DATA TEKNIS 5
Uraian Pendekatan, Metodologi
dan Program Kerja

Konsultan akan membagi pendekatan dan metodologi pelaksanaan Perencanaan /


DED PDAM Kec.Pengandonan dalam tahapan-tahapan agar pekerjaan dapat
diselesaikan dengan tepat waktu, tepat mutu, tepat administrasi, sehingga tidak
menyulitkan metode dan cara kerja. Tahapan Perencanaan / DED PDAM
Kec.Pengandonan secara umum terbagi atas beberapa tahapan yaitu :

1. Pekerjaan persiapan
2. Pengumpulan data sekunder
3. Pekerjaan survey pendahuluan
4. Pekerjaan survey lapangan dan pengambilan data
5. Analisa data hasil pekerjaan di lapangan
6. Pekerjaan perencanaan perkuatan tebing
7. Pembuatan Laporan

5.1. PEKERJAAN PERSIAPAN


Persiapan awal kegiatan setelah penandatanganan kontrak meliputi;
penyusunan personil, Penyusunan Rencana Mutu Kontrak, penyusunan
program kerja, kantor kerja, peralatan kantor, pengurusan izin-izin dan surat
menyurat dengan direksi pekerjaan, penyusunan daftar instansi yang akan
dihubungi sesuai dengan keterkaitanya dengan perencanaan pengendalian
banjir dan kerusakan sungai.

Persiapan yang bersifat desk studi dari literatur-literatur tetap dapat dilakukan
oleh para ahli teknik sungai, hidrologi dan hidrolika. Terutama analisa
kemungkinan penyebab banjir, sifat-sifat banjir dan kerusakan sungai sungai
aluvial di dataran rendah, mempelajari kejadian-kejadian banjir dan kerusakan

1
Usulan Teknis

sungai yang pernah terjadi di sepanjang sungai pada umumnya, menetapkan


lokasi-lokasi yang perlu akan diamati dilapangan.

Begitu juga untuk bidang pengembangan wilayah, pemanfaatan rawa atau


genangan alam, pertanian, sosial ekonomi dan kepedudukan, untuk melihat
arah dan kecendrungan prilaku alamiah yang akan terjadi bila pemanfaatan
lahan dataran rendah sungai yang pesat, belajar dari kasus-kasus
pengembangan wilayah yang ada di Indonesia.

Pekerjaan persiapan adalah awal dari kegiatan pelaksanaan pekerjaan


termasuk dalam pekerjaan sebagai berikut :
 Persiapan Administrasi
 Mempersiapkan pengadaan personil.
 Mempersiapkan pengadaan peralatan/pustaka.
 Mempersiapkan pengadaan bahan yang dipakai.
 Mempersiapkan base camp lapangan
 Menghubungi pemerintah setempat guna memperoleh keterangan tentang
daerah yang disurvey dengan mengikut sertakan staf dan Dinas atau para
pengamat dan Prasarana Pengaman Tebing Sungal.
 Mengecek alat-alat ukur agar alat ukur yang dipakai dalam keadaan baik.
 Orientasi lapangan bersama Direksi guna memantapkan hasil survey, bila
ada masalah penting, terdapat kejanggalan-kejanggalan pada daerah
survey, dan lain-lain.
 Mengkaji Laporan Terdahulu Hasil Detailed Engineering Design (DED)
(Original Contract)
 Mempelajari Peta-peta yang ada.
 Pengumpulan Data. Meliputi data curah hujan dan klimatologi, banjir dan
sebagainya.

Pada tahap persiapan awal ini dibentuk tim pelaksanaan pekerjaan yang akan
bekerja sama dalam melakukan pekerjaan. Organisasi tim terdiri dari satu

2
Usulan Teknis

orang tim leader yang akan dibantu oleh beberapa tenaga ahli dan tenaga
penunjang. Kegiatan yang tercakup dalam pekerjaan ini adalah :

 Konsolidasi tim pelaksana Perencanaan / DED PDAM Kec.Pengandonan


 Penetapan organisasi pelaksana
 Melakukan studi literatur
 Persiapan data dan informasi awal
 Persiapan instrument survey lapangan
 Penyusunan laporan pendahuluan

Sebelum tim survey lapangan diberangkatkan maka perlu ada pekerjaan persiapan
yang meliputi :

a. Pengumpulan data, Konfirmasi Status Lahan dan Penetapan Lokasi


Studi Definitif

Pengumpulan data terdiri dari pekerjaan pengumpulan data sekunder untuk


mempelajari kondisi awal daerah proyek guna tindak lanjut tahap berikutnya.

Data yang dikumpulkan meliputi :


- Data laporan hasil studi yang dihasilkan pada tahap sebelumnya baik berupa
studi identifikasi, feasibility studi, perencanaan awal, perencanaan teknis
detail, maupun kegiatan lainnya.
- Data peta topografi, geologi, peta tanah atau hasil pengukuran yang telah
dilakukan sebelumnya.
- Data informasi lapangan dari instansi yang terkait

b. Pembuatan Rencana Kerja

3
Usulan Teknis

Setelah mengkaji perencanaan sebelumnya dan melakukan diskusi maka


konsultan membuata rencana kerja, baik untuk lapangan maupun untuk
pekerjaan kantor. Rencana kerja terdiri dari :
- Metode penanganan proyek.
- Struktur organisasi serta personalia untuk penanganan proyek.
- Rencana penugasan personalia serta peralatan yang nyata dipergunakan.
- Pembuatan laporan persiapan ke lapangan dan rencana kerja survey
lapangan.

c. Mobilisasi Personil dan Alat

Setelah rencana kerja lapangan disepakati, maka selanjutnya dilakukan


pengumpulan tenaga kerja lapangan dan pemberian penjelasan tentang metode
kerja dengan syarat-syaratnya, serta melakukan pengecekan peralatan, baik di
kantor maupun di lapangan.

5.2. PENGUMPULAN DATA SEKUNDER DAN PRIMER

a. Pengumpulan data sekunder meliputi data – data sebagai berikut :


 Sistem penanganan sungai yang ada
 Peta genangan, daerah retensi banjir, danau, waduk, embung serta
lahan-lahan yang memungkinkan digunakan unutk system penanganan
sungai
 Peta Topografi (bakosurtanal, dll)
 Peta Geologi permukaan
 Data hidroklimatologi (curah hujan,dll)
 Data sungai (DAS, morfologi, dimensi, kapasitas dll)
 Data RUTR / RTRW dan tata guna lahan daerah yang bersangkutan
 Data social ekonomi
 Data Mekanika Tanah
 Data-data hidrogeologi (infiltrasi, muka air tanah, dll)

4
Usulan Teknis

 Citra Satelit atau foto udara (jika dimungkinkan)


 Propeda (Kebijakan dan peraturan pemerintah daerah yang berlaku)

b. Pengumpulan data primer meliputi kegiatan sebagai berikut :


 Site visit
 Identifikasi permasalahan sungai
 Identifikasi sarana dan prasana existing
 Sosialisasi kepada masyarakat
 Identifikasi pengaruh pasang surut terhadap pelaksanaan pekerjaan
 Identifikasi kerugian banjir dan kerusakan tebing

5.3. PEKERJAAN SURVEY PENDAHULUAN

Untuk mempelajari dan meninjau ke lapangan areal kawasan Perencanaan / DED


PDAM Kec.Pengandonan , Team Survey didampingi oleh Team Teknis dan Pimpinan
Pelaksana Kegiatan yang akan melakukan survey pendahuluan. Survey pendahuluan
Ini juga sekaligus dalam rangka mendapatkan data awal konstruksi dan situasi
medan yang akan di tangani dan penentuan arah dan awal lokasi efektif link dan
inventori data awal untuk membuat shop drawing.

Pada waktu survey diperoleh informasi adanya titik-titik kontrol/station yang pernah
dipakai dan ditetapkan sebagai kerangka acuan untuk pekerjaan survey berikutnya.
Juga untuk menentukan gambaran pasti tentang Lokasi pekerjaan, Titik referensi
untuk pengukuran, Kondisi Prasarana Pengaman Tebing Sungai dan pengumpulan
dari data-data survey dan verifikasi bangunan yang telah ada serta bangunan
pelengkap lainnya. Bentuk form pengambilan data survey dan verifikasi bangunan
yang telah ada dapat dilihat pada tabel pada lampiran laporan ini.

5.4. PEKERJAAN SURVEY DI LAPANGAN

5
Usulan Teknis

5.4.1. Persiapan Survey Lapangan

Persiapan pelaksanaan survei lapangan meliputi:


1. Penyusunan program kerja
2. Penyusunan personil
3. Persiapan peralatan
4. Persiapan base camp / kantor lapangan
5. Persiapan dana / biaya

5.4.2.1. Survey Topografi

Pada garis besarnya lingkup pekerjaan Survey Topografi adalah sebagai berikut :
 Pekerjaan Persiapan
Dalam tahap pekerjaan persiapan, dilakukan persiapan peralatan yang
digunakan, pembuatan patok-patok bantu dari kayu, persiapan lahan dan
pengumpulan data titik-titik kerangka dasar horisontal dan vertikal yang ada
dan peta dasar, seperti peta situasi lama. Dengan peta dasar dan titik-titik
kerangka dasar tersebut, direncanakanlah sistem pengukuran topografi.
Peralatan pengukuran yang digunakan adalah alat ukur theodolite dan alat
ukur waterpas, daftar peralatan yang digunakan selengkapnya.
 Pengumpulan Data
Secara garis besar tahap pekerjaan pengumpulan data topografi pada
Perencanaan / DED PDAM Kec.Pengandonan ini antara lain meliputi :
 Pengukuran Polygon
 Pengukuran Sifat Datar
 Pengukuran Situasi Detail

6
Usulan Teknis

Tabel 5.1. Daftar Peralatan Yang Digunakan

Nama
No Tipe Alat Jumlah
Alat
1. Theodolite T.1 1 buah

2. Waterpass B.2 1 buah

3. Bak Ukur 4m 2 buah

4. Meteran 50 m 1 buah

1. Pengukuran Polygon

Pengukuran polygon bertujuan untuk menggambarkan titik kerangka


dasar horisontal pemetaan. Pengukuran polygon terdiri dari polygon
utama dan polygon sekunder. Data hasil pengukuran dan perhitungan
polygon dapat dilihat pada halaman lampiran dari laporan ini.

a. Pengukuran Utama

a.1. Pengukuran Sudut


 Pengukuran sudut dilakukan double seri dengan ketelitian
5“ (sekon). Alat theodolite yang digunakan adalah Nicon
NT.2A T-1.
 Salah penutup sudut maksimum 30” n , dimana n = jumlah
titik polygonnya.
a.2. Pengukuran Jarak
 Sisi polygon diukur dengan alat theodolite Nicon NT.2A T-1
 Ketelitian pengukuran jarak kurang lebih + 1/10.000.

b. Polygon Sekunder

b.1. Pengukuran Sudut

7
Usulan Teknis

 Pengukuran sudut dilakukan satu seri dengan ketelitian sudut


2’ (menit)
 Alat theodolite yang digunakan adalah Nicon NT.2A T-1.
 Salah penutup maksimum 30’ n , dimana n = jumlah titik
polygon.
b.2. Pengukuran Jarak

 Sisi-sisi polygon diukur pulang pergi dengan pita fiber


 Kesalahan pengukuran jarak 1/10.000.

b.3. Pemasangan Patok Kayu

Patok kayu dipasang sesuai rencana pengukuran polygon


sekunder. Patok kayu dipasang setiap jarak 25 m sampai
dengan 50 m. Ukuran patok kayu dolken kurang lebih diameter
3 inchi, ditengah-tengahnya diberi paku payung, dicat merah
dan diberi nomor/kode pengenal. Patok kayu ditanam 30 cm,
sehinggga bagian patok kayu yang berada di atas permukaan
tanah 10 cm. Patok kayu ditanam ditempat yang aman dan
mudah dicari.

2. Pengukuran Sifat Datar

Pengukuran sifat datar meliputi pengukuran sifat datar utama, sifat


datar sekunder, sifat datar luas (titik tinggi/spotheight) dan pengukuran
profil. Data hasil pengukuran sifat datar dapat dilihat pada halaman
lampiran dari laporan ini.

a. Pengukuran Sifat Datar Utama

- Pengukuran sifat datar utama adalah untuk menentukan tinggi


titik-titik polygon utama.

8
Usulan Teknis

- Sebelum dan sesudah pengukuran waterpass dilakukan


pengecekan kesalahan garis bidik. Apabila kesalahan garis bidik
terlalu besar, alat waterpass dikalibrasi/distel.
- Pengukuran dilakukan pergi pulang atau kering tertutup.
- Rambu diberi alas dan strat pot.
- Kesalahan penutup maksimum 10 D mm, dimana D adalah jarak
dalam satuan km.
- Jumlah slag genap.
- Dalam masing-masing slag pengukuran waterpas dilakukan 2 kali
berdiri alat.
- Jumlah jarak kebelakang (DB) diusahakan sama dengan jumlah
jarak ke muka (DM). Apabila  DB   DM, hasil beda tinggi
perlu dikoreksi.
- Dalam pengukuran waterpass, rambu-rambu digunakan secara
selang-seling, sehinggga rambu yang diamati pada titik awal
menjadi rambu yang diamati pada titik akhir.
- Titik BM dari permukaan tanah diukur.

b. Pengukuran Sifat Datar Sekunder

- Pengukuran sifat datar sekunder adalah untuk menetukan tinggi


titik-titik polygon sekunder.
- Kesalahan penutup maksimum 10 D mm, dimana D adalah jarak
dalam satuan Km.
- Pengukuran hanya dilakukan untuk arah pergi saja.
- Tinggi patok kayu dari permukaan tanah diukur.

c. Pengukuran Sifat Datar Luas (Titik Tinggi / Spotheight)

- Pengukuran sifat datar luas (tinggi titik/spotheight) bertujuan


untuk memperbanyak titik tinggi, yang mana dengan tambahan

9
Usulan Teknis

data titik-titik tinggi tersebut, kita dapat melakukan interpolasi


kontur dengan baik dan benar.
- Disamping itu pengukuran titik tinggi (spotheight) bertujuan untuk
mendapatkan gambar profil memanjang dan profil melintang.
- Pengukuran titik-titik tinggi dilakukan dengan sistem kotak (raster)
atau sistem pengukuran sifat datar luas, untuk daerah yang sedikit
terdapat bangunan, interval kotak diambil setiap 10 m.
- Untuk daerah yang terdapat banyak bangunan, pengukuran untuk
tinggi dapat dilakukan dengan cara tachimetri.
- Pengukuran sifat datar menurut arah utara selatan magnetis.

d. Pengukuran Profil Memanjang

- Pengukuran profil memanjang dilakukan setiap 25 m sepanjang


areal pengukuran topografi.
- Pengukuran profil memanjang dilakukan dengan alat waterpass.
- Pengukuran profil memanjang diambil setiap jarak 10 m dan setiap
ada perbedaan tinggi yang menyolok.
- Ketentuan lain sama seperti pada pengukuran sifat datar sekunder
dan pengukuran profil melintang.

e. Pengukuran Profil Melintang

- Pengukuran profil melintang dilakukan setiap 25 m selebar areal


pengukuran topografi.
- Pengukuran profil melintang diambil setiap jarak 10 m dan setiap
ada perbedaan tinggi yang menyolok.
- Dalam pengukuran profil melintang ini, titik-titik yang perlu
diperhatikan adalah titik-titik tinggi tepi saluran drainase, dalam
saluran drainase, dalam rawa, tinggi permukaan air saluran
drainase, tinggi muka air rawa dan sebagainya.

10
Usulan Teknis

3. Pengukuran Situasi Detail

- Pengukuran situasi detail mencakup semua detail yang ada di


lapangan, seperti saluran drainase, rawa, pipa eksisting, garis tepian
sungai, bangunan, jalan, rumah penduduk, data banjir (peil banjir
tertinggi, historis, peil normal) dan sebagainya.
- Pengukuran situasi detail dilakukan dengan metode tachimetri, serta
menggunakan alat theodolite Nicon NT.2A T-1.
- Dimensi bangunan (lebar dan panjang badan bangunan) dan jarak
antara bangunan juga diukur dengan pita ukur, kemudian
dicantumkan dalam gambar detail. Koordinat batas persil, jalan,
saluran, bangunan serta jarak antar titik koordinat dicantumkan dalam
gambar daerah.
Bagan Alir survey topografi diperlihatkan pada gambar 3.1.

11
Usulan Teknis

START

Peninjauan Lokasi Studi

Mobilisasi dan Demobilisasi

PENGUKURAN LOKASI

TOPOGRAFI PEMETAAN

Data Pengukuran

ANALISA DATA

TIDAK
Visualisasi / PRINT OUT
Tidak

EVALUASI

Diterima

SELESAI

Gambar 5.1. Bagan Alir Survey Topografi.

64.2.2. Pengukuran dan Kajian Hidrolik Sungai Musi

Lingkup kegiatan pekerjaan ini dapat dikelompokan menjadi :


a. Persiapan
b. Pengumpulan data
- Pengumpulan data dan Informasi
- Desk study dan mengenal kondisi secara keseluruhan
- Membuat rumusan awal jenis kegiatan yang akan dilakukan
c. Survey bathimetri sungai, pasang surut, hidrometri dan sedimen
d. Permodelan matematik hidrologi dan hidrodinamik sungai
e. Alternatif penyelesaian masalah banjir dan kerusakan sungai
f. Pemilihan alternatif jangka panjang, menengah dan mendesak
g. Perencanaan teknis alternatif yang dipilih
h. Penyusunan laporan

12
Usulan Teknis

A. Persiapan

Persiapan awal kegiatan setelah penandatanganan kontrak meliputi; penyusunan


personil, Penyusunan Rencana Mutu Kontrak, penyusunan program kerja, kantor
kerja, peralatan kantor, pengurusan izin-izin dan surat menyurat dengan direksi
pekerjaan, penyusunan daftar instansi yang akan dihubungi sesuai dengan
keterkaitanya dengan perencanaan pengendalian banjir dan kerusakan sungai.

Persiapan yang bersifat desk studi dari literatur-literatur tetap dapat dilakukan
oleh para ahli teknik sungai, hidrologi dan hidrolika. Terutama analisa
kemungkinan penyebab banjir, sifat-sifat banjir dan kerusakan sungai sungai
aluvial di dataran rendah, mempelajari kejadian-kejadian banjir dan kerusakan
sungai yang pernah terjadi di sepanjang sungai pada umumnya, menetapkan
lokasi-lokasi yang perlu akan diamati dilapangan.

Begitu juga untuk bidang pengembangan wilayah, pemanfaatan rawa atau


genangan alam, pertanian, sosial ekonomi dan kepedudukan, untuk melihat arah
dan kecendrungan prilaku alamiah yang akan terjadi bila pemanfaatan lahan
dataran rendah sungai yang pesat, belajar dari kasus-kasus pengembangan
wilayah yang ada di Indonesia.

B. Pengumpulan data

1. Pengumpulan data dan informasi


 Peta topografi jaringan sungai dan daerah rawan banjir dan kerusakan
sungai
 waktu kejadian banjir, lama, tinggi dan luas genangan
 kerusakan-kerusakan akibat banjir
 curah hujan dan data-data aliran
 data-data klimatologi
 Kondisi sosial ekonomi daerah studi
 Peta tata ruang dan pengembangan wilayah
 Peta lokasi prasarana yang telah di bangun

13
Usulan Teknis

2. Desk studi terhadap data-data terkumpul


3. Membuat rumusan awal tentang kegiatan yang akan dilakukan

C. Survey di lapangan (Bathimetri sungai, Pasang surut, Hidrometri dan


Sedimentasi)

1. Pengukuran Topografi dan Bathimetri Sungai

Pengukuran sungai dimulai dengan mencari / menetapkan elevasi BM


terdekat yang berkaitan dengan Trianggulasi Nasional. Untuk hal ini dapat
dicari BM yang dibuat waktu pekerjaan The Study Comprehensive Water
Management of Musi River Basin, tahun 2003. Kegiatan dimulai dengan
pengukuran :
1) Pembuatan dan pengukuran Poligoon, dapat dilakukan mengelilingi
sungai (sisi kiri dan kanan sungai) atau karena sungai sangat lebar
diperkirakan pembacaan waterpass terjadi kesalahan karena sangat jauh
> 200 m, maka poligoon dibuat pada satu sisi kiri sungai saja.
2) Pengukuran waterpass harus dilakukan pulang-pergi (jangan dilakukan
dengan doble stand).
3) BM dan Trianggulasi Nasional.

Pengukuran Topografi dan batimetri meliputi:


1) Pengukuran profil memanjang Sungai Musi dihulu dimulai dari sebelah
hulu (lebar sungai yang normal) pertemuanya dengan Sungai Ogan dan
dihilir sampai sebelah hilir pertemuanya (lebar sungai yang normal)
dengan Sungai Komering, dan profil melintang sungai dengan batas kekiri
dan kanan 100 m diluar tanggul / tebing sungai.
2) Pengukuran profil melintang
Jarak antar potongan melintang 50–200 m, lurus jarak 200 m, belokan
50 m.

Hasil pengukuran ini untuk mendapatkan peta situasi beserta gambaran


kontur dasar dan tebing dan bantaran sungai. Dengan peta situasi tersebut

14
Usulan Teknis

tergambaran morfologi sungai saat ini, yang digunakan sebagai dasar untuk
peridiksi kemungkinan perubahan morfologi, bila dibangun perkuatan tebing
skitar perkotaan.

Hasil pekerjaan ini adalah :


 Peta Situasi dan Topografi Sungai skala 1 : 2000.
 Penampang memanjang dan melintang Sungai dan rencana tanggul,
dengan skala minimal 1:100,

Dengan mendapatkan peta situasi, potongan memanjang dan melintang


dilakukan permodelan mathematik hidroulik, dengan melewatkan beberapa
kondisi debit aliran seperti :
a. Kondisi saat ini dengan dengan debit banjir rencana tertentu, untuk 2
kondisi saat terjadi pasang dan saat terjadi surut. Yang diamati adalah
perubahan dasar dan tebing sungai.
b. Kondisi saat tebing-tebing sungai dibangun perkuatan tebing, juga
dengan 2 kondisi saat terjadi pasang dan saat terjadi surut. Yang diamati
adalah perubahan dasar dan tebing sungai.

Dengan mendapatkan hasil-hasil simulasi kondisi seperti tersebut diatas,


dilakukan analisa dan evaluasi / perbandingan terhadap hasil pengamatan
langsung. Hal ini sangat berguna untuk membuat suatu kesimpulan dan
rekomendasi operasi dan pemeliharaan sungai serta perencanaan konstruksi
perkuatan tebing sungai.

Metode Pelaksanaan Pengukuran Pasang Surut


1. Pengukuran pasang surut di 2 lokasi di muara dan Kecamatan Buay
Madang
2. Lama pengamatan selama 15 hari, setiap hari tinggi muka air diamati
setiap ½ jam. Maka akan didapatkan 15 hari hasil pengamatan pasang

15
Usulan Teknis

surut yang berbeda setiap hari. Hasil 15 hari pengamatan pasang-surut


digambarkan, maka akan didapat pasang dan surut tertinggi.

Untuk pengukuran ini harus berpegangan pada titik referensi yang sama,
kesulitan pengamatan di muara biasanya tidak ada perkampungan sekitar
muara, maka dapat dipilih di kampung yang terdekat dengan mulut muara.

2. Pengukuran Hidrometri dan Sedimentasi

Untuk debit akan dihasilkan 2 grafik Routing Curve pada satu lokasi
pengukuran yaitu; pada saat air pasang dan pada saat air surut. Besar
kemungkinan bentuknya berbeda, karena saat pasang aliran menanjak dan
pada surut aliran menurun. Contoh ilustrasi ini menggambarkan debit surut
lebih besar dari debit pasang. Pada tampang basah dan tinggi air yang sama.
Perbedaan debit tersebut akan menghasilkan volume angkutan sedimen yang
berbeda pula.

Perbedaan angkutan sedimen kehulu/pasang dan kehilir/surut yang berbeda


dapat digunakan membuat perkiraan yang akan terjadi pada ruas sungai
tersebut. Apakah agradasi atau degradasi. Hasil pengukuran ini akan
diperiksa dengan Program Komputer tentang Simulasi Hidroulik Aliran
seperti; HEC-RAS. Program simulasi model mathematik ini dapat melihat
kondisi yang akan terjadi pada saat awal sebelum perkuatan tebing di
bangun dan setelah perkuatan tebing di bangun. Hal ini berguna untuk
antisipasi waktu membuat perencanaan bangunan.

16
Usulan Teknis

CONTOH ROUTING CURVE SAAT PASANG (aliran menuju hulu)

debit Gambar. 6.3 Routing Curve Aliran Pasang


pengukur tinggi air
aliran Q
an h (m)
(m3/dt) 10

Tinggi air h (m)


1 125 6 8
2 80 3 6
3 230 6.5
4
2
0
0 50 100 150 200 250
Debit Q (m3/dt)

CONTOH ROUTING CURVE SAAT AIR SURUT (aliran menuju hilir)

debit
pengukur tinggi air h Gambar. 6.4 Routing Curve Aliran Surut
aliran Q
an (m)
(m3/dt)
10
1 140 6
Tinggi air h (m)

8
2 100 3
3 250 6.5
6
4
2
0
0 100 200 300
Debit Q (m3/dt)

Dan untuk angkutan sedimen akan dihasilkan grafik hubungan debit dan
sedimen, untuk kondisi pasang dan surut pada 2 lokasi. Dari pengukuran
angkutan sedimen tersebut akan dibuat analisa dan evaluasi tentang apa
yang akan terjadi pada ruas sungai yang akan diperkuat tebing-tebingnya.

Pelaksanaan Pengukuran Hidrometri dan Sedimentasi


 Cara Pengukuran

Pengambilan sample debit dan sedimen di lakukan sebanyak 3 kali,


untuk satu kali pengambilan sample dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
1) Setiap kali pengambilan dilakukan 3 titik berjarak masing-masing
¼ lebar sungai.

17
Usulan Teknis

2) Setiap titik pengambilan 2 sample yaitu pada kedalaman 0,20 h


dan 0,80 h.
3) Tinggi air diikatkan pada titik tetap (BM)

Setiap pengambilan sample sedimen, debit diukur dengan Current


Meter sesuai dengan kedalaman pengambilan sample. Yang didapat
dari lapangan kecepatan (m/dt) dan tinggi air setiap titik
pengambilan. Dengan mengetahui luas tampang basah dan
kecepatan rata-rata aliran, debit dapat dihitung.

Titik nol Rai dihitung dari kiri

¼L ¼L ¼L ¼L

0,2 h III IV
I II
0,8 h

Gambar. 5.5 Titik Pengukuran Debit dan Pengambilan Sample Sedimen

 Pengolahan Data Sample di Laboratorium

Data yang diambil dari lapangan disimpan dalam Jerigen plastik


berwarna putih atau transparan yang telah dilabel dan diberi tanggal,
kedalaman, lokasi dan jam serta nomor titik (tepi kiri) I (tengah) II
dan (tepi kanan) III dipandang kearah aliran.

Pekerjaan Laboratorium meliputi:


a. Menetukan pH air

18
Usulan Teknis

b. ppm sedimen
c. penyaringan dengan kertas filter
d. penyaringan dengan oven
e. penimbangan
f. analisa distribusi partikel sedimen yang telah dikeringkan
g. pentabelan sesuai dengan permintaan spesifikasi

 Peralatan yang digunakan


Dalam kegiatan survei hidrometri dan sedimen digunakan perelatan
sebagai berikut :
a. Current Meter
b. Peralatan sampler
c. Jerigen plastik
d. Kendaraan roda empat untuk operasional
e. Peralatan laboratorium

D. Simulasi Model Mathematik Hidroulik

Simulasi model hidroulik dilakukan dengan program komputer terbaru dengan


bantuan aplikasi HEC-RAS dan HEC-HMS dengan memasukan faktor-faktor/
variable hidroulik yang sesuai kondisi setempat. Analisa hidroulik diharapkan
dapat memberikan petunjuk pengaruh aliran terhadap berbagai kemungkinan
yang akan terjadi di sungai dan bangunan sungai. Simulasi model mathematik
hidroulik akan dibahas lebih lanjut pada laporan akhir pekerjaan.

5.4.2.3. Survey Mekanika Tanah


Pekerjaan survey mekanika tanah ini dimaksudkan untuk mengetahui kondisi lapisan
tanah di proyek dan untuk mendapatkan parameter mekanik serta properties tanah,
sehubungan dengan keperluan pada perencanaan teknis turap.

19
Usulan Teknis

a. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan dilakukan pembentukan tim pelaksana pekerjaan yang
akan bekerjasama dalam melakukan pekerjaan. Organisasi tim pelaksana
terdiri dari satu orang chief surveyor yang akan dibantu oleh beberapa
surveyor dan tenaga penunjang. Kegiatan yang tercakup dalam tahap ini
adalah :
 Konsolidasi tim pelaksana.
 Penetapan organisasi pelaksana.
 Melakukan kunjungan lokasi (site visit).
 Persiapan data dan informasi awal.
 Persiapan peralatan survey lapangan.

b. Tahap pengujian di lapangan


(1) Pengujian Sondir

 Reference : ASTM D 3441-86


 Peralatan sondir yang digunakan terdiri dari :
1. Mobil truk untuk mobilisasi peralatan sondir ringan.
2. Bagan apabila pekerjaan dilakukan diatas air atau rawa.
3. Satu unit pesawat sondir ringan kapasitas 2,5 ton.
4. Satu buah Manometer 0 – 60 kg/cm2.

5. Satu buah Manometer 0 – 250 kg/cm2.


6. Satu buah Bikonus tipe Begemann.
7. Tiga puluh stang sondir panjang @ 1 meter beserta perlengkapan
lainnya.

 Metode pelaksanaan pekerjaan penyelidikan tanah dengan


menggunakan sondir adalah sebagai berikut :

20
Usulan Teknis

a. Memasang mesin sondir pada posisi yang akan diperiksa dengan


menggunakan angkur. Mesin sondir dipasang vertikal dan
pengisian minyak hidrolik harus bebas dari gelembung udara.
b. Kemudian memasang bikonus sesuai kebutuhan pada ujung pipa
pertama.
c. Memasang rangkaian pipa pertama beserta bikonus tersebut pada
mesin sondir.
d. Kemudian menekan pipa tersebut untuk memasukkan bikonus
sampai kedalaman tertentu (umumnya setiap 20 cm).
e. Setelah itu batang sondir ditekan. Pada tahap penetrasi ini
pertama-tama akan menggerakkan ujung konus ke bawah
sedalam 4 cm dan membaca manometer sebagai perlawanan
penetrasi konus. Penekanan selanjutnya akan menggerakkan
konus beserta selubung ke bawah sedalam 8 cm, dan membaca
manometer sebagai hasil jumlah perlawanan (JP) yaitu
perlawanan penetrasi konus (PK) dan hambatan lekat (HL).
f. Kemudian pipa dan batang sondir ditekan sampai kedalaman
berikutnya yang diukur. Pembacaan dilakukan pada setiap
penekanan pipa sedalam 20 cm.
g. Pengujian dilakukan hingga pembacaan nilai konus  150 kg/cm2
atau nilai kumulatif total friksi melebihi kapasitas mesin yaitu
sebesar 2,5 ton.

(2) Pekerjaan Bor Dalam

 Penyelidikan tanah di lapangan dengan bor dalam :


a) Deskripsi visual tanah di lokasi proyek
Reference : ASTM D 2488
b) Pengujian NSPT
Reference : ASTM D 1586-84
c) Pengambilan sampel disturbed dan undisturbed

21
Usulan Teknis

Reference : ASTM D 1587-83, ASTM D 4220

 Peralatan bor mesin yang digunakan terdiri dari :


1. Mobil truk untuk mobilisasi peralatan bor.
2. Bagan apabila pekerjaan dilakukan diatas air atau rawa.
3. Seperangkat alat bor dalam yang terdiri dari mesin bor Koken dan
mesin penggerak beserta angkur.
4. Stang bor rod AW panjang 3 meter, 1,5 meter dan 1 meter
dengan total panjang 50 meter beserta housting draad AW.

5. 5 (lima) buah pipa casing dia. 90 cm, panjang 1,5 meter.


6. Satu set Tripod panjang 6 meter.
7. 3 (tiga) buah bit single dia 73 mm.
8. 1 set single core barrel.
9. Hammer otomatis untuk pengujian SPT.
10. Satu buah Pompa air beserta selang hisap dan selang tekan.

11. Tabung SPT dan tabung-tabung sample diameter 60 mm


(seperlunya).
12. 1 (satu) buah Water Swipel.
13. Beberapa alat bantu seperti kunci pipa, kunci Inggris, tambang,
katrol dll.

 Metode pelaksanaan pekerjaan bor dalam penyelidikan tanah dengan


menggunakan bor mesin adalah sebagai berikut :
1. Pertama-tama dilakukan pemasangan angkur yang digunakan
untuk tempat mengikatkan mesin bor.
2. Dilakukan pemasangan tripot diatas mesin bor yang merupakan
alat bantu untuk menarik dan mengangkat stang-stang bor serta
hammer pada saat pengujian SPT.

22
Usulan Teknis

3. Stang bor pertama dirangkaikan dengan mata bor (bit single) dan
dimasukkan kedalam mesin bor yang sudah digerakkan dengan
mesin penggerak.
4. Pengeboran tanah dimulai dengan menekan secara kontinu
rangkaian stang bor kedalam tanah, diiringi dengan penyemprotan
air kedalam tanah yang dilakukan dengan mesin pompa air.
5. Hancuran tanah (lumpur) yang keluar dari lubang bor dapat
dialirkan keluar lokasi pengeboran dengan membuat parit.
6. Pada kedalaman-kedalaman tertentu, mata bor dapat diganti
dengan tabung untuk mengambil contoh tanah, atau mata bor
dapat diganti dengan tabung SPT bilamana diinginkan pengujian
SPT.
7. Pekerjaan pengeboran dihentikan bilamana kedalaman maksimum
yang diinginkan telah dicapai atau dicapai nilai SPT  50.

c. Tahap Pengujian di Laboratorium

Prosedur pelaksanaan pengujian di laboratorium dilakukan dengan mengikuti


ASTM standard 1985. Dari pengujian di laboratorium tersebut didapatkan
nilai index propertis dan nilai parameter mekanik tanah.
Pengujian terhadap contoh tanah yang dilakukan di laboratorium meliputi :

1. Indeks Properties yaitu :


- Berat isi tanah () dalam kondisi asli dan kering
Reference : ASTM D 2937s
Peralatan yang digunakan :
1. Container of known volume (canning jar)
2. Balance weighting to 0.1 g
3. Garduated Cylinder (500 mL or larger)
- Spesific Gravity (Gs)
Reference : ASTM D 854, AASHTO T 100
Peralatan yang digunakan :

23
Usulan Teknis

1. Pycnometer
2. Vacuum pump
3. Mortar and pestle
4. Balance sensitive to 0.1 g
5. Temperature – stabilized water

- Kadar air asli ()


Reference : ASTM D 2216-90 (ASTM Standard Vol. 4.08), AASHTO T
265 (AASHTO Materials : Part II : Tests)
Peralatan yang digunakan :
1. Moisture cups
2. Oven with accurate temperature control

2. Atterberg Limit Test yang terdiri dari :


- Batas Cair (LL),
- Batas Plastis (PL),
- Indeks Plastis (PI)

Reference : ASTM D 4318, AASHTO T 89 dan T 90


Peralatan yang digunakan :
1. Liquid- limit device with grooving tool
2. Moisture cans
3. Plastic-limit plate
4. Soil Mixing equipment
5. Balance sensitive to 0.1 g
6. Sieve, pan and lid

3. Test konsolidasi : untuk mendapatkan nilai Cc


Reference : ASTM D 2435-90, AASHTO T 216-83
Peralatan yang digunakan :
1. Consolidometer (Oedometer)
2. Dial indicators

24
Usulan Teknis

3. Loading device
4. Stop Watch
5. Thermometer
6. Sample trimming equipment

4. Analisis saringan (Grain Size Analysis) dan hidrometer


Reference : ASTM D 421 (Sampel preparation), ASTM D 422 (Test
procedure), AASHTO T 87 (Sampel preparation), AASHTO T 88 (Test
procedure)
Peralatan yang digunakan :
1. Set of sieves
2. Mortar and pestle or mechanical soil pulverizer
3. Balance sensitive to 0.01 g
4. Supply of thoroughly air dried

5. Test Triaksial (CU) : untuk mengetahui nilai kohesi undrained (


cu ) dan sudut geser dalam ()
Reference : ASTM D 2850-87, AASHTO T 234-85
Peralatan yang digunakan :
1. Compression machine
2. Triaxial cell
3. Specimen mold
4. Vacuum pump and air pressure source with pressure
5. Caliper
6. Specimen trimmer

6. Test Kuat Tekan Bebas (unconfined compression test) : adalah


untuk mendapatkan nilai qu
Reference : ASTM D 2166-85, AASHTO T 208-90
Peralatan yang digunakan :
1. Unconfined compression testing machine

25
Usulan Teknis

2. Dial gauge
3. Device to measure length and diameter
4. Sampel extruder
5. Trimming tools
6. Harvard miniature compaction equipment
7. Water content cans
8. Balance sensitive to 0.1 g and to 0.01 g

7. Test kuat geser langsung (direct shear test) : untuk


mendapatkan nilai kohesi (cu) dan sudut geser dalam () pada
tanah pasir.
Reference : ASTM D 3080-90, AASHTO T 236-90
Peralatan yang digunakan :
1. Direct shear device
2. Two dial gauges or LVDT
3. Calipers
4. Small level
Tahapan Pelaksanaan survei soil investigation pada Perencanaan / DED
PDAM Kec.Pengandonan dapat dilihat pada gambar 5.5.

Start

Pekerjaan Persiapan

Survey Lapangan

Bor Dalam Sondir Ringan

Laboratorium Test

Kompilasi Data

Analisa Data
26
Evaluasi/Print Out

Finish
Usulan Teknis

Gambar 5.5. Bagan Alir Survey Soil Investigation

5.4.3. Tahap Analisa Data

Penyusunan hasil survei dan pengukuran meliputi:


1. Penggambaran hasil survei dan pengukuran seperti; penggambaran peta
situasi sungai, profil memanjang dan melintang
2. Penyusunan hasil survei Investigasi geologi dan mekanika tanah sebagai
data penunjang perencanaan konstruksi
3. Penyusunan hasil survei sosial ekonomi yang meliputi tentang; wilayah
pemerintahan, kependudukan, mata pencaharian, pemanfaatan lahan,
pengembangan wilayah, tata ruang, pertanian, perkebunan, kehutanan
dsbnya
4. Analisa dan perhitungan tentang hidrologi, pasang-surut, debit banjir
rencana, hidrolika, angkutan sedimentasi, kestabilan sungai, morfologi
sungai
5. Alternatif-Alternatif pengendalian banjir, kerusakan sungai dan justifikasi
ekonomi
6. Pemilihan alternatif yang terbaik
7. Perencanaan pengendalian banjir dan kerusakan sungai yang mendesak

A. Analisa Data Pengukuran Topografi


Setelah semua data-data hasil survey diperoleh maka dilakukan analisa
terhadap data tersebut. Analisa data dilakukan dengan menggunakan
software komputer berupa program-program aplikasi yaitu MS-Office, AutoCad
terbaru, AutoCad Land Development dan beberapa program aplikasi lain yang
diperlukan sesuai dengan jenis pengujian.

27
Usulan Teknis

Analisa data pengukuran topografi dilakukan dengan melakukan beberapa


perhitungan dan penggambaran dengan menggunakan software AutoCAD dan
AutoCAD Land Development. Perhitungan dilaksanakan secara bertahap yang
meliputi :
- Hitungan Poligon Utama
- Hitungan Sifat Datar Utama
- Hitungan Hasil Pengukuran Situasi Detail

Penggambaran dilakukan setelah semua jenis hitungan selesai, dan


dilaksanakan secara bertahap meliputi :
- Peta situasi detail skala 1 : 2000 dengan interval kontur 0,50 m.
- Penampang memanjang dan penampang melintang dengan skala
horizontal minimal 1 : 100 dan skala vertikal minimal 1 : 100

B. Analisa Data Survey Mekanika Tanah


Analisa data hasil pengujian sondir ringan berupa pembacaan manometer di
lapangan pembacaan 1 dan 2 diolah untuk mendapatkan nilai konus (qc) dan
jumlah hambatan pelekat (JHP) disajikan dalam bentuk tabel dan grafik
sondir. Data hasil pengujian sondir ringan yang disajikan dalam bentuk tabel
hubungan antara nilai konus (qc) dan Jumlah Hambatan Pelekat (JHP) serta
dalam kurva hubungan kedalaman dengan nilai konus, qc dan nilai JHP. Dari
tabel dan kurva tersebut dapat dilihat stratifikasi lapisan tanah.
Data hasil pengeboran disajikan dalam bentuk boring log yang terdiri dari
deskripsi jenis tanah dan nilai Standard Penetration Test (SPT) serta hasil-hasil
tes sifat fisik dan mekanis di laboratorium.

Cara kerja pengukuran debit dan pengambilan data sedimen dilakukan pada saat
air pasang dan surut, maka dihasilkan 2 macam data, dari data ini diolah menjadi
grafik;

28
Usulan Teknis

Saat Pasang:
1) hubungan tinggi air dan debit,
2) hubungan debit dan sedimen

Saat Surut :
1) hubungan tinggi air dan debit,
2) hubungan debit dan sedimen

Pekerjaan Laboratorium :
a. Analisa granulair material dasar dan tebing sungai
b. Analisa granulair angkutan sedimen

Pengukuran debit dan sedimen langsung dilakukan pada 2 lokasi (hulu dan hilir
batas pekerjaan), Pengukuran debit dan sedimen dilakukan bersamaan. Dari 2
lokasi tersebut dibandingkan hasilnya, antara saat air pasang berapa volume
sedimen (Qsp) dan saat surut berapa pula volume sedimenya (Qss). Akan dapat
dibuat kesimpulan antara lain :

1) Bila lebih besar sedimen saat pasang (Qsp) dari saat surut(Qss), maka lama
kelamaan akan terjadi pendangkalan sungai.
2) Dan bila sedimen saat pasang (Qsp) < dari saat surut (Qss), maka lama
kelamaan akan terjadi penggerusan.
Akibat dari angkutan sedimen ini akan besar pengaruhnya terhadap bangunan-
bangunan sungai seperti; perkuatan tebing, kolam pelabuhan, tebing-tebing
sungai dan lain-lain.

2. Pemeriksaan kestabilan morfologi sungai


Pada sungai alam terdapat hubungan yang saling berkaitan antara debit, lebar
dan dalam tampang basah, kemiringan dan besar partikel dasar dan tebing
sungai. Pada sungai-sungai tua yang tidak terganggu variable-variable tersebut
telah terjadi keseimbangan. Bila ada perubahan maka keimbangan akan
terganngu dan selanjutnya akan terjadi keseimbangan yang baru dalam waktu

29
Usulan Teknis

tetentu. Saat-saat menuju keseimbangan yang baru tersebut akan terdapat


pengaruh-pengaruh yang besar terhadap bangunan-bangunan sungai.

Maka untuk pekerjaan yang akan direncanakan seperti pembangunan perkuatan


tebing dalam kegiatan kajian ini perlu ditinjau apakah morfologi sungai tersebut
sudah terganggu kestabilannya. Bila itu terganggu apa antisipasi yang perlu
dilakukan.

Ada beberapa hasil penelitian untuk perencanaan tampang basah saluran stabil,
yang bertujuan agar tidak terjadi scouring dan pengendapan pada tampang
basah sungai diantaranya metode “tractive force teori” dan “regime theory”.
1. Tractive force theory atau teori gaya geser
2. Regime theory teori berdasarkan pengalaman

Kedua teori tersebut mempunyai pendekatan yang berlainan, Regime theory


berasal dari India, dikembangkan oleh Kennedy, Lacey, Lindley, Inglis, Bose,
Blench dan sebagainya. Rumus-rumus dibuat berdasarkan pengalaman di
lapangan dari saluran-saluran pengairan dan data-data praktek dari sungai-
sungai.

Sedangkan tractive force teory atau teori gaya geser labih menekankan pada
teori-teori hidrolika dan sedimen secara ilmiah, teori ini banyak digunakan di
Amerika seperti; United State Berau Reclamation (USBR) diperbaharui oleh E.W
Lane.

Maka untuk saluran yang dibuat seperti saluran irigasi, saluran banjir yang
debitnya relatif konstan baik digunakan tractive force teori atau teori gaya geser.
Sedangkan untuk sungai yang terbuat secara alamiah mungkin lebih ditekankan
menggunakan Regime theory.

1) The Tractive Force Method

30
Usulan Teknis

Tractive force telah dikembangkan oleh USBR, digunakan untuk non-cohesive


material dan lebih khusus lagi butir kasar non-cohesive. Teori ini lebih
menekankan kepada pergerakan butir (Dm) material akibat kedalaman aliran
air (d). Perencanaan sungai yang stabil didasarkan kepada tidak bergeraknya
butir material dasar dan tebing sungai.

This method determines the tractive force at which the bed material will be in
state of incipient motion, but not actually moving. So this method is less
appropriate for large channels in sandy sediments supplied from heavily
loaded rivers.

Tractive force atau teori gaya geser kurang cocok digunakan canal yang
besar dengan material dasar pasiran. Beberapa teori yang dapat diklompokan
pada teori gaya geser antara lain adalah:

US Bereau of Reclamation

Dari US Bereau of Reclamation

Stable Cross Section

T/2

x
dx
y=d
d max dy

dx 2  dy 2

Gambar 5.9 TAMPANG IDEAL SALURAN STABIL

31
Usulan Teknis

Pembentukan rumus shear stress (tegangan geser) pada pada pias sepanjang
AB ditentukan oleh persamaan sebagai berikut yaitu tegangan geser adalah
merupakan hasil bagi dari berat air diatas permukaan suatu bidang dibagi
dengan luas bidang tersebut:

 . ydy.S
c    . yS cos 
dx 2  dy 2

dimana : S = slope memanjang saluran atau sungai

Shear stress (tegangan geser) pada titik tengah:    .d max S


Shear stress (tegangan geser) pada slope :  AB   .d max SK
o tg 2 sin 2 
dimana : K   cos  1  ( )  1
c tg sin 2 

Jika  c   AB tampang saluran stabil, karena itu:

 . y.S cos    .d max SK

persamaan diatas adalah kondisi minimum keseimbangan. Dengan subtitusi


nilai K dan nilai :

dy
  tg 2 ( ) , maka rumus menjadi:
dx

dy 2 y 2 2
( ) ( ) tg   tg 2
dx d max

pada titik tengah akan didapat y = dmax dan x = 0. Dengan kondisi tersebut
hasil deferensial persamaan :

tg
y  d max cos( x)
d max

32
Usulan Teknis

Merupakan kurve persamaan cosinus bentuk tampang saluran yang ideal (lihat
gambar diatas).

U.S Bereau of Reclamation (1951)

Mendefinisikan cross sectian saluran yang stabil:

2d max
A
tg 
B1 Lt B2
1 d cos  2 / 3 1 / 2
U  ( max ) S
n E (sin  )
 1 Q1 Qt Q2
E (sin  )  (1  sin 2  )
2 4
c
d max 
0.97S
T  d max

2 2 tg  Gambar 5.10 TAMPANG SALURAN

dimana:
A = Luas tampang basah saluran (m2)
U = kecepatan aliran (m/dt)
dmax = kedalaman maksimum ditengah saluran (m)
T = Lebar permukaan air bagian atas tampang basah (m)
S = Slope / kelandaian saluran memanjang
 = berat jenis air yang mangalir (kg/m3)
n = n Strikcler’s / Manning’s

Pendekatan untuk mendapatkan nilai n berdasarkan diameter partikerl (D)


dari:
1/ 6 1/ 6
D D
Mayer-Peter dan Mueler (1948). n  90 dan Lane’s: n  75
26 39

33
Usulan Teknis

Studi White (1940), keseimbangan butir partikel pada aliran laminer


didapatkan besaran tegangan geser (shear stress) adalah:

 c  0,18( s   w ) Ds tg

Ds = diameter butir, γw= berat volume air, γs = berat volume partikel

Metode gaya geser diatas banyak digunakan untuk desain saluran banjir,
drainase dan saluran irigasi dimana debit yang meliwati dapat diatur
sedemikian rupa dapat konstan, lain halnya dengan sungai alam yang
perbedaan debit minimum dan maksimum sangat besar. Maka untuk
perencanaan sungai alam harus dapat ditentukan debit yang dominan untuk
digunakan sebagai dasar perencanaan bentuk dan dimensi tampang basah
sungai yang relatif stabil.

Beberapa ahli membuat kesimpulan debit dominan adalah debit yang telah
membuat tampang basah sungai sedemikian rupa seperti yang ada dilapangan
(bankfull discharge).

Muka tanah lapangan


Muka air bankfull

Muka air banjir

Gambar 5.11 Sketsa Tampang Basah Sungai


Bankfull
Maka dalam perencanaan persungaian perlu dihitung besarnya debit bankfull
berdasarkan hasil pengukuran profil melintang sungai, sedangkan kelandaian
diambil dari hasil pengukuran profil memanjang sungai dan untuk penaksiran
n Manning berdasarkan material dasar yang ada dilapangan.

34
Usulan Teknis

Untuk kalibrasi dilakukan pengukuran debit langsung untuk berbagai macam


ketinggian air (h) dan selanjutnya digambarkan routing curve hubungan Q
dan h. Apakah benar pada ketinggian h bankfull debit yang dihasilkan grafik
routing curve mendekati atau hampir sama dengan hasil perhitungan debit
bankfull terhitung.

2) The Regime Methode

Persamaan Dasar Regime


Persamaan regime sungai semula dikembangkan di India oleh Kennedy. Hasil
dari berbagai penelitianya membuat suatu kesimpulan bahwa kecepatan aliran
(V) dalam (ft/s) yang berkaitan dengan kedalaman air (d) dalam (ft) lebih
menentukan regime sungai (beda dengan teori gaya geser hubungan
diameter butir dan kedalaman air). Formula yang dihasilkan dalam satuan
feet, second), dimana hubungan kecepatan dan kedalaman adalah sebagai
berikut:

Kennedy,s formula : V  0,84d 0,64

Berdasarkan rumusan diatas dapat dibuat tiga persamaan regime sungai atau
saluran yang dapat ditulis :
Lebar permukaan air: W  K1Q1 / 2

Radius Hidroulik: R  K 2 Q1 / 3

Kelandaian / Slope: S  K 3Q 1 / 6

dimana:
Q = dominan discharge (cfs) dan d = kedalaman air (ft)
K1,K2,K3 = koefisien yang tergantung dari ukuran bed Material dan angkutan
sediment.
Blench dan Lacey menyempurnakan persamaan tersebut menjadi :

35
Usulan Teknis

a. Penelitian Blench
Membuat persamaan:

*
Q  F
W '  Fb 
 ( b * )1 / 2 Q 1 / 2
Fs Fs
*
 Q F
d  R  3 Fs 2
 ( s*2 )1 / 3 Q1 / 3
Fb Fb
5 / 6 K
S  Fb Fs
1  189g (1 ac) 
1  6   1/ 4 
K Q 
12
 
Fb  Fbo (1  0,12c)

dimana:
W’= lebar rata-rata potongan saluran
Fb* = V2/d (metric unit) = bed factor
Fs* = V3/W’ (metric unit) = side factor
 = viscositas air bercampur pasir halus.
d = kedalaman air (depth of trapezium)
a = 1/233 (for natural river bed sands)
c = bed load charge in part per 100.000 by weight
g = grafitasi bumi

b. The Regime Method – Lacey Equation

36
Usulan Teknis

Dalam satuan feet :


W  2,67Q1 / 2
0,473
R  1 / 3 Q1 / 3
f
S  0,000547 f 5 / 3 Q 1 / 6

dimana :
f = silt factor, dihitung dengan rumus: V  1,17 fR dalam satuan feet.

Dengan mengukur V dan menghitung R, maka f dapat dihitung.

Pada paragraf berikutnya akan dijelaskan hasil penelitian Lacey’s tentang


nilai silt factor (f) untuk beberapa jenis material dasar sungai. Ternyata
butiran dasar sangat berpengaruh pada kecepatan aliran, silt factor juga
mempengaruhi terbentuknya kelandaian (S).

c. Penelitian Simons dan Albertson

Penelitianya telah mengumpul data dan informasi dari seluruh dunia,


sehingga membuat klasifikasi tentang material dasar sungai sbb:
1. Sand bed and banks; dasar dan tebing sungai berpasir
2. Sand bed and cohesive banks; dasar sungai berpasir dan tebingnya
tanah berkohesif.
3. Cohesive bed and banks; dasar sungai dan tebing sungai berkohesif
seperti; saluran tanah untuk irigasi dan drainase yang digali / dibuat.
4. Coarse non-cohesive material (gravel); dasar sungai terdiri dari krikil.
5. Imperial Valley data, like b. but heavy silt load; sungai-sungai
dataran rendah, sungai aluvial.

Simons dan Albertson rumusanya, membuat hubungan antar keliling


basah P dan debit Q, radius hidroulik R dan debit Q serta kecepatan V,

37
Usulan Teknis

radius hidroulik R dan kelandaian S, membuat rumusan berdasarkan


klasifikasi sungai.
P  4,8 Q 0,512
For b: R  0,48 Q 0,361 dasar berpasir, tebing kohesif
V  10,8 R 2 / 3 S 1 / 3

R  0,28 Q 0,361
For d: dasar sungai krikil, batu-batu
V  12,1 R 2 / 3 S 1 / 3

Contoh untuk sungai yang debitnya Q = 1.049,19 m3/dt, kelandaian S =


0,0005. Debit ini dijadikan dalam satua Inggeris Q= 35.052 cuft.
Keliling basah P  4,8x37.052 0,512  1.048,27 ft  319,51m
Radius hidroulik R  0,48Q 0,361  0,48x37.052 0,361  21,40 ft  6,53 m
Kecepatan V  10,8R 2 / 3 S 1 / 3  10,8x21,40 2 / 3 x0,00061 / 3  6,75 ft / sec  2,06 m / dt

d. Penelitian Lacey’s

Penelitian termasuk dalam klompok Regime theory, Lacey’s (1929)


melakukan percobaan berdasarkan data lapangan, telah melakukan
penelitian lebih kurang selama 2 tahun sejak tahun 1929 mendapatkan
hubungan yang cukup baik untuk kecepatan dan radius hidroulik pada
sungai besar, yang dasarnya pasir serta berlandai kecil. Merumuskan

besarnya kecepatan: U  a1 R b1
a1 = 1,17 dan b1 = 0,5, sehingga U  1,17 R1 / 2 , hasil penelitian Lacey’s

mirip / serupa dengan rumus dari Kennedy’s V  0,84d 0,64 .

U  1,17 R1 / 2 persamaan ini dalam satuan Iggeris. Pada sungai yang

sangat lebar R = d.

Contoh untuk kasus yang sama d = 5 ft.

Kennedy’s V  0,84d 0,64  0,84(5) 0,64  2,35 ft / sec .

Lacey’s U  1,17 R1 / 2  1,17(5)1 / 2  2,62 ft / sec.

38
Usulan Teknis

Dari hasil dua rumus diatas terdapat perbedaan, rumus-rumus ini adalah
hasil pengamatan dari beberapa penelitian sungai. Maka untuk
perencanaan sungai diperlukan pengalaman untuk menentukan mana
yang akan dipilih.
Tetapi Lacey’s masih mencari penyempurnaan rumusanya dengan
penelitian lebih lanjut, untuk saluran yang digali / dibuat, sehingga
mendefinisikan besarnya silt factor f ditetapkan:
a
f  ( 1 )2 Untuk saluran yang digali / dibuat.
1,17

In fact for large plains of mild slope and fine granular soil Lacey’s method
is reasonbly successful. Lacey’s selanjutnya mendefinisikan besarnya silt
a
factor f ditetapkan: f  ( 1 ) 2 Untuk saluran yang digali: Rumus
1,17

kecepatan aliran: U  1,17 Rf Lacey’s memberikan dua rumus yaitu


satu lagi mirip sama dengan koefisien 1,17 diganti dengan 1,15.
Tabel. 3.2 Values of Silt factor (f) proposed by LACEY’S

No Natural Soil Silt factor


1 Lower Mississippi Silt 0,375
2 Standard Kennedy Silt 1,000
3 Medium Sand 1,310
4 Coarse Sand 1,44 – 1,56
5 Fine Gravel 2,000
6 Large Pabbles and Coarse Gravel 4,680
7 Small boulders, shingle and fine gravel 6,120
8 Medium boulders, shingle and fine 9,750
gravel
9 Large boulders, shingle and fine gravel 20,900
10 Large Stone 38,600
11 Massive boulders 39,600
Roudkivi, A,J (1967)
Lacey’s menyarankan; hubungan f dan n Manning’s

Untuk ukuran butir D50 (satuan dalam inchis) n Manning,s adalah

39
Usulan Teknis

n  0,022 f 0, 2
f2
D50 
64
f  8 D50 , D50 (inchis )

untuk diameter dalam mellimeters; f  1,59 D50

Lacey’s formula for Computation of Stable Channels (dalam satuan feet) Yang
berperan penting adalah besarnya partikel dan kecepatan aliran.
1. U  1,15 Rf 6. U  0,794Q 1 / 6 f 1 / 3
f  1,59 D50 f  1,59 D50
2
U Q1 / 3
2. R  0,7305 7. R  0,473
f f 1/ 3
U5 Q5/ 6
3. A  3,8 8. A  1,26
f2 f 1/ 3
U3 8 1/ 3
4. P  3,8 9. P  Q
0,7305 f 3
f2 f 5/3
5. S  0,00044 10 S  0,000547
U Q1 / 6

Formula ini saling berkaitan, apabila semua formula dipenuhi maka dapat
dikatakan morfologi sungai tersebut memenuhi teori rigime sungai.

Teori regime sungai dapat digunakan untuk memeriksa suatu tampang sungai
yang telah diketahui kedalaman, lebar, kelandaian beserta debitnya pada
kondisi tertentu. Rumus-rumus dari Lacey’s dapat digunakan untuk
merencanakan tampang saluran atau sungai yang stabil. Apabila rumus
Regime Sungai tidak dipenuhi, maka akan terjadi ketidak stabilan pada sungai
tersebut.

3. Pemeriksaan lokal scouring untuk bangunan sungai

40
Usulan Teknis

Perkiraan gerusan pada ujung krib menjadi penting, karena kerusakan krib
dimulai dari ujung dan berlanjut kepangkal selanjutnya terjadi ambruk. Unsur-
unsur yang menimbulkan gerusan / skouring.
1) Perkiraan gerusan lokal pada ujung (Ys1)
2) Gerusan maksimum pilar tunggal (Ys2)
3) Gerusan akibat penyempitan (Ys3)

Sumber rumus dari Pedoman


Gerusan gabungan : Ys  Ys1  Ys 2  Ys 3 Pengendalian Banjir, Jilid III Ditjen
SDA (1996). Sumber ini sesuai dengan
“SCOURING” dari HNC. Breusers dan
AJ. Raudkivi (1991)

Gerusan lokal akibat debit :

Ys1  K .q2  Y2
2/3

dimana :
Ys1 = kedalaman relatif gerusan lokal terhadap elevasi dasar normal (m)
Y2 = kedalaman normal aliran seragam pada bagian konstraksi (m)
K = faktor gerusan gabungan = K0.K1.K2.K3 tersedia pada tabel 5.3, 5.4, 5.5
K0 = 2,0 pengaruh debit akibat penyempitan, maka K = 2.K1.K2.K3
q2 = Q/b2 debit persatuan lebar (m3/dt)
b2 = lebar sungai pada konstraksi (penyempitan) (m)

Gerusan pada pilar tunggal :


Ys 2  2,3 b
Ys2 = kedalaman gerusan pilar / tiang tunggal (m)
b = diameter atau lebar pilar (m)

41
Usulan Teknis

Gerusan akibat penyempitan :


Gerusan pada klompok tiang pancang cenderung menghasilkan gerusan lebih
besar dibanding dengan pilar tunggal.
d2 b
 ( 1 )
d1 b2

d1, b1 = kedalaman dan lebar aliran pada tampang normal (m)


d2, b2 = kedalaman dan lebar aliran pada tampang penyempitan (m)
θ = eksponen atau pangkat yang dipengaruhi oleh geseran butir grafik 3.12

merupakan grafik hubungan antara d 2  ( b1 )  dan  c perbandingan


d1 b2 1
tegangan geser krtis butir (  c) dengan tegangan geser yang terjadi
(  1). Dalam menentukan kedalaman skouring perlu diameter nominal
partikel dasar dan tebing sungai.

Gambar 3.12 VARIASI KEDALAMAN EKSPONEN RELATIF


ASCE, 1975

0.9

0.85
Eksponen 

0.8

0.75

0.7

0.65

0.6
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1

c/1

4. Pemeriksaan kestabilan tikungan sungai

Berdasarkan penelitian dilaboratorium pada belokan sungai akan terjadi aliran


spiral yang menimbulkan tikungan luar tergerus dan tikungan dalam tertimbun

42
Usulan Teknis

sedimen. Dari berbagai percobaan untuk mendapatkan proporsi lengkungan yang


tepat, disarankan menggunakan perbandingan antara jari-jari tikungan dan lebar
sungai minimal = 3, (Open Channel Hidroulics, Ven Te Chow)
rc
 3 dimana rc = jari-jari tikungan, b = lebar sungai.
b
Apabila rc / b < 3 , akan terjadi aliran spiral yang dapat mempercepat tikungan
semakin tajam, tebing luar longsor, karena lokal scouring ditikungan luar yang
semakin besar.

rc
T/2 T/2
ro
x
O

A
D
T y 1,445 D

Pusat Lengkung

Gambar 5.13 POTONGAN SUNGAI / SALURAN PADA BELOKAN

Pada tikungan
Gbr. sungaiTAMPANG
5.1 BENTUK aluvial, nampak
BASAHbahwa konfigurasi
SUNGAI DI penampang lintang
TIKUNGAN
sungai kira-kira sesuai dengan hukum-hukum alam. Persoalan ini telah diselidiki
oleh beberapa ahli Ilmu Pengetahuan dan Sarjana Teknik hidrolika sungai,
dimulai dari Bouisssinesq. Sesuai dengan studi yang dilakukan Ripley, konfigurasi
pada lengkungan sungai aluvial Gambar diatas, dinyatakan dalam bentuk
persamaan empiris sebagai berikut:

x2 17,52 x
y  6,35D( 0,437  2
 0,433)(1  )
T ro

Dalam satuan (feet), dimana y adalah ordinat atau kedalaman, x adalah absis
atau jarak dari pusat lengkiung, D kedalaman hidroulis adalah perbandingan
antara luas tampang basah A dengan lebar permukaan air T. Dan T adalah lebar
atas muka air dan K adalah koefisien yang besarnya = 17,52.

43
Usulan Teknis

5. Angkutan Sedimen

Akibat penyadapan sungai akan terjadi perubahan debit, angkutan sedimen,


tampang basah sungai antara lain seperti diperdalam, diperlebar, dipercuram dan
lain-lain. Pada prinsipnya sungai bila ada perubahan akan menimbulkan respon
yang baru terhadap morfologinya.

Untuk penyelesaian permasalahan dapat digunakan persamaan kekekalan


sedimen, dimana walaupun terjadi perubahan sesaat, dengan lambat laun
perilaku aliran dan angkutan sedimen akan kembali mencapai keseimbangan.

Persamaan kontinuitas debit (Q) dan angkutan sedimen (S). Pada tampang
sungai yang debitnya tidak ada penambahan untuk jarak yang pendek (setempat)
akan berlaku persamaan Q1 = Q0 dan angkutan sedimen S1 = S0 serta koefisien
Chezy C1 = C0.

Dengan 2 rumus dasar hidroulik problem dapat diselesaikan yaitu: persamaan


kontinuitas dan angkutan sedimen. Angkutan sedimen dalam fungsi lebar S = B.s
= B.a.vb = B1-b.a.Qb.h-b dimana kecepatan v = Q.B-1.h-1 pangkat b tergantung
pada besar angkutan sedimen. Menurut Engelund b = 5, Shinohara b = 4,6 untuk
rates sedimen tinggi dan materialnya halus, secara umum nilai b sekitar 3 – 7,
untuk angkutan sedimen tinggi rates transport rendah b = 4 - 5.

Persamaan Kekekalan Sedimen

Q1  Q0
S1  S 0
b
 Q  1b b
S  B.s  B.av  B.a b
  B aQ .h
b

 B.h 
b b
1b aQ1 1b aQ0
B1 b
 B0 b
h1 h0

44
Usulan Teknis

aQ1  aQ0 maka:


1b
b 1b
 h0  B  B  b
    0  ......................h1  h0  1 
 h1   B1   B0 
Persamaan kecepatan aliran dari Chezy

u u
u  C RI .................C  
RI hI
C1  C 0
Q1 Q0
B1 .h1 B0 h0
1/ 2 1/ 2
 1/ 2 1/ 2
Q1  Q0 maka:
h1 I1 h0 I0
Q1 Q0
3/ 2 1/ 2
 3/ 2 1/ 2
B1 h1 I 1 B0 h0 I0

 B0 h0
3/ 2 1/ 2 3/ 2 1/ 2
B1 h1 I1 I0
1/ 2 3/ 2
 I1  B  h0  B0 2 h0 3
    0   ...................I 1  I 0 .( ) ( )
 I0   B1  h1  B1 h1
3
1
I   B1  b
atau  1    
 I0   B0 

nilai b diambil sama dengan 6, maka persamaan diatas ditulis:


5 / 6
B 
hubungan tinggi air dan lebar sungai: h1  h0 . 1 
 B0 
0,5
B 
hubungan kemiringan dan lebar sungai: I 1  I 0 . 1 
 B0 
Angkutan sedimen bed load sungai
Mayer - Peter dan Muller

45
Usulan Teknis

3/ 2
 
1/ 2  
3/ 2  s  w   .h.I
T  8b.Dm  g.   0,047 
   S  W 
 w   .Dm 
 W 
3/ 2
C
  
 C' 
12h
U  5,75U * log
k  2 / 7
12h
C  18 log
k  2 / 7
12.h
C '  18 log
D90

11,6.

U
U *  ghI

Dimana:
T = Angkutan sedimen bed load (m3/dt)
b = lebar sungai (m)
h = tinggi air sungai (m)
Dm = diameter rata-rata partikel dasar (m)
D90 = diameter partikel dasar lolos 90% (m)
k = diameter kekasaran dasar (bukan diameter butir) (m)
ρ = rapat massa untuk air pakai indek w, untuk air indek a (kg/m3)
g = gravitasi bumi = 9,81 m/dt2.
δ = tebal lapisan laminer (m)
µ = perbandingan C rata-rata denga C90.

5.5. PEKERJAAN PERENCANAAN STRUKTUR PERKUATAN TEBING

Metode yang digunakan dalam pembangunan suatu konstruksi adalah dilakukan


secara bertahap. Tahapan tersebut dapat dilakukan berdasarkan pendekatan
SIDCOM (Survey, Investigation, Desain, Construction, Operation & Maintenance).

46
Usulan Teknis

Tahapan Pekerjaan Perencanaan Perkuatan Tebing Kampung 11-14 Ulu secara


umum terbagi atas 4 (empat) tahapan yaitu :
 Tahap Persiapan
 Tahap Survey dan Investigasi Lapangan
 Tahap Analisa Data
 Tahap Perencanaan Desain Struktur

Bagan Alir Pekerjaan Perencanaan / DED PDAM Kec.Pengandonan diperlihatkan


pada Gambar 5.14.

Start

Tahap Persiapan dan


Pengumpulan Data

Survey Lapangan

Survey Survey Mekanika Survey Hidrolik Sungai


Topografi Tanah (Bathimetri, Pasang
Surut, Hidrometri
danSedimentasi)

Analisa Data dan Perhitungan

Presentasi
Prelimanary Design
dan diskusi

FINAL DESIGN
 Gambar Perencanaan A3
 Rencana Anggaran Biaya (RAB)
 Rencana Kerja dan Syarat (RKS)
 Laporan Perhitungan

Finish

47
Usulan Teknis

Gambar 5.14. Bagan Alir Metodologi Perkuatan Tebing

5.5.1. Dasar Teori Perencanaan Perkuatan Tebing

5.5.1.1. Lay Out Sungai Sekitar Kecamatan Buay Madang

Bentuk lay out sungai harus diperhatikan dalam rangka penempatan bangunan di
sungai, hal ini supaya tidak banyak merubah aliran dari kondisi awal, maka
perletakan bangunan perkuatan tebing harus dibuat mengikuti bentuk morfologi
sungai yang sesuai dengan kehendak alam. Dari foto udara terbaru (Google earth),
Sungai Musi sekitar Kecamatan Buay Madang terdapat 2 tikungan yang berjari-jari
sekitar 1,0 – 1,5 km yaitu sebelum Jembatan Ampera dan sesudah Jembatan
Ampera. Kampung 11-14 Ulu terletak sebelum Jembatan Ampera yaitu ditikungan
dalam. Penempatan bangunan sungai yang kurang tepat akan berdampak pada
perilaku aliran sungai, maka untuk hal itu harus dibuat letak yang tidak banyak
mempengaruhi kondisi aliran. Untuk Pelaksanaan harus dibuat titik tetap yang dapat
dipedomani saat pelaksanaan. Syarat agar tidak terjadi aliran spiral ditikungan luar
adalah :
rc
 3 dimana rc = jari-jari tikungan, b = lebar sungai.
b
Apabila rc / b < 3 , akan terjadi aliran spiral yang dapat mempercepat tikungan
semakin tajam, tebing luar longsor, karena lokal scouring ditikungan luar yang
semakin besar.

Dari kajian hidroulik akan dapat terlihat kondisi yang akan terjadi dari bentuk
tikungan yang berdekatan. Kelihatanya pada sekitar Jembatan sungai lurus.
Pembangunan perkuatan tebing sekitar Kecamatan Buay Madang yang ada saat ini
masih setempat-setempat, hal ini akan membentuk morfologi sungai menuju
keseimbangan baru.

48
Usulan Teknis

5.5.2.1. Metode Perhitungan

Perhitungan stabilitas turap kantilever (cantilever sheet pile wall) dilakukan dengan
menggunakan metode perhitungan free earth method dan fixed earth method
dengan memperhitungkan berbagai variasi elevasi muka air pada sisi aktif dan sisi
pasif turap. Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan momen lentur maksimum
(Mmaks) yang timbul pada turap dan besarnya gaya angkur (Fa).

1. Metode Perhitungan Metode Ujung Bebas (Free Earth Method)


Dalam metode ini diasumsikan bahwa kedalaman turap tidak mencapai tanah
keras sehingga ujung bawah turap tidak cukup kaku dan dapat berotasi.
Kedalaman turap di bawah dasar galian dianggap tidak cukup untuk menahan
tekanan tanah yang terjadi pada bagian atas dinding turap.

Anggapan dalam analisis slabilitas turap diangker dengan metode ujung bebas:
1. Turap merupakan bahan yang sangat kaku dibandingkan dengan tanah
disekitarnya.
2. Kondisi tekanan tanah yang bekerja dianggap memenuhi syarat teori Rankine
atau Coulomb.
3. Turap dianggap berotasi dengan bebas pada ujung bawah dan tidak
dizinkan bergerak secara lateral di tempat angker.

49
Usulan Teknis

Gambar 5.20. Diagram Tekanan Tanah yang bekerja pada dinding turap
yang didesain Metode Free Earth Method

2. Metode Perhitungan Ujung Tetap (Fixed Earth Method)

Dalam metode ini diasumsikan bahwa kedalaman turap sudah mencapai tanah
keras sehingga ujung bawah turap dianggap kaku. Kedalaman penembusan
turap di bawah dasar galian dianggap sudah cukup dalam, sehingga tanah di
bawah dasar galian mampu memberikan tahanan pasif yang cukup untuk
mencegah ujung bawah turap berotasi.
Anggapan dalam analisis slabilitas turap diangker dengan metode ujung tetap :

1. Kondisi tekanan tanah yang bekerja dianggap memenuhi syarat teori


Rankine atau Coulomb.

2. Turap bebas berotasi, namun tidak diizinkan bergerak pada angkernya.

3. Titik Balik ditentukan dari teori elastisitas

Pada metode ujung tetap hanya cocok untuk turap yang secara keseluruhan
terletak dalam tanah granuler.

50
Usulan Teknis

Gambar 5.21. Diagram Tekanan Tanah yang bekerja pada dinding turap yang
didesain Metode Fixed Earth Method

Untuk menghitung stabilitas turap dipakai persamaan tekanan tanah Rumus


Coulomb berikut :
1 1
Pa  (q  h) tan 2 (45 o   )  2c(45 o   )
2 2

1 1
Pp  h tan 2 (45 o   )  2c tan(45 o   )
2 2

Di mana, Pa : Tekanan tanah aktif (t/m2)


Pp : Tekanan tanah pasif (t/m2)
q : Beban yang harus ditahan (t/m2)

51
Usulan Teknis

 : Berat volume tanah di bawah air (t/m3)


h : Jarak dan permukaan tanah (m)
 : Sudut geser dalam untuk tanah (o)
c : Kohesi tanah (t/m2)

Dalam perencanaan pembangunan turap ini direncanakan beban yang bekerja pada
struktur turap adalah :
1. Beban Tetap
Beban tetap Jembatan adalah beban sendiri dari masing-masing bagian
struktural dan bagian non struktural Jembatan. Masing-masing berat
elemen ini harus dianggap sebagai aksi yang tak boleh dipisahkan. Beban-
beban tersebut dapat berupa :
a. Berat sheet pile turap, platform slab, balok-balok dan pilecap.
b. Beban mati tambahan

2. Beban Lateral
Beban yang diakibatkan oleh tanah timbunan, baik tanah aktif maupun
tanah pasif dan tekanan akibat muka air tanah dan air sungai.

3. Beban Hidup
Beban hidup yang diperhitungkan terdiri dari beban tersebar merata (UDL)
dan beban garis (KEL).
Beban UDL diambil :
- untuk L ≤ 30 m maka q=8 kN/m2
- untuk L > 30 m maka q=8 (0.5 + 15/L) kN/m2
Beban garis KEL P= 25 kN/m.

Beban gempa ini juga dikombinasikan untuk arah x (transversal) dan arah y
(longitudinal), selain ditinjau untuk masing-masing arah x dan y. Untuk beban gempa
kombinasi yaitu 100 % arah x + 30 % arah y dan 100 % arah y + 30 % arah x.

52
Usulan Teknis

5.5.2.2. Penulangan Struktur Beton

Analisis terhadap struktur turap dan pondasi pile didasarkan pada penggunaan
sistem struktur precast, dimana pengecekan terhadap struktur sebagai berikut :

Penulangan lentur balok dihitung secara verifikasi dan manual berdasarkan hasil/
output program SAP2000. Perhitungan tulangan pada turap didasarkan pada tingkat
daktilitas 1 (daktilitas terbatas). Analisis balok dibagi menjadi dua perhitungan dua
balok dan kemudian dihitungan dengan cara superposisi. Distribusi regangan,
tegangan dan gaya dalam pada balok ini ditunjukkan pada gambar b sampai d.
Untuk analisis Balok 1, terdiri dari tulangan tekan pada bagian atas dan sebagian
tulangan tarik pada bagian bawah dengan kesetimbangan gaya adalah T1 = Cs , dan
Balok 2 terdiri dari bagian tekan beton dan sisa tulangan tarik, seperti pada
gambar e dan f. Dengan asumsi tulangan tekan leleh.

53
Usulan Teknis

Gambar 5.23. Regangan, Tegangan dan gaya-gaya pada balok dengan tulangan
leleh

Balok 1 Sebagian tulangan tarik dan tekan

C s  T1

A' s  As 1 . f y

Dimana : As1  A' s dari gambar e, kapasitas momen nominal adalah :


M n1  A' s . f y .(d  d ' )

Balok 2 Beton dan tulangan tarik sisa

As2  As  As1

Perhitungan Rasio Penulangan :


CR = M/Mu

Hasil dari perhitungan di atas :


• Bila CR ≤ 1 maka batang yang ditinjau tersebut aman.
• Bila CR > 1 maka batang yang ditinjau harus dirubah dimensinya.

Sedangkan penulangan geser ditentukan sebagai berikut :

• Batas atas untuk gaya geser sengkang adalah :


2
Vs max  f ' c.b.d
3
• Besar kuat geser penampang balok beton adalah :

54
Usulan Teknis

f 'c
Vc  .b.d
6
• Besar kuat geser nominal penampang balok beton adalah :
V
Vn 

• Besar kuat geser nominal tulangan geser :
Vs  Vn  Vc

55
Usulan Teknis

RENCANA KERJA

7.1. PEKERJAAN PERSIAPAN DAN PENGUMPULAN DATA SEKUNDER

Pekerjaan persiapan termasuk organisasi personil dan pengumpulan data awal


adalah koordinasi dari staf konsultan dan inventarisasi alat-alat yang akan digunakan
untuk pekerjaan ini.

Pekerjaan Detailed Engineering Design akan dimulai setelah mempelajari semua


data, peta, survey, pengenalan dan data lapangan.

Selama kegiatan ini berlangsung, konsultan akan mengatur detail rencana kerja.

Untuk pelaksanaan survey ini, konsultan membentuk team untuk mencatat data-data
yang diperlukan, seperti :
 Data mengenai kondisi prasarana pengaman tebing yang ada dan bagian-
bagian yang rusak.
 Data lokasi rencana trase bangunan pengaman tebing sungai, dan daerah
sekitarnya.
 Data lain yang diperlukan untuk bangunan air, gorong-gorong dan bangunan
pelengkap lainnya.
 Data nbanjir dan erosi yang terjadi beserta periode banjir tahunan dan muka
air banjir tertinggi.
 Bahan yang tersedia yang dapat menentukan macam konstruksi yang paling
menguntungkan.
 Data yang berupa informasi mengenai harga satuan dan biaya hidup sehari-
hari.
 Data lain yang diperlukan dan dianggap penting.
 Usulan lainnya dari pengguna jasa

56
Usulan Teknis

7.2. SURVEY INVENTORY


7.2.1. Survey Prasarana pengaman tebing eksisting

Survey ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan prasarana pengaman tebing


sungai yang ada dan kategori prasarana pengaman tebing sungai yang dimaksud.
Pemeriksaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
 Pemeriksaan dan pendataan klasifikasi prasaran pengaman tebing sungai
yang ada.
 Pemeriksaan dan pendataan konstruksi yang digunakan.
 Pemeriksaan dan pendataan perkerasan tanah dasar yang ada.
 Pemeriksaan dan pendataan kondisi utilitas prasarana pengaman tebing
yang ada.
 Pemeriksaan dan pendataan arah dan fungsi prasarana pengaman tebing
yang ada.

Pemeriksaan juga untuk informasi sumber material dalam formulir adalah sebagai
berikut :
 Jenis konstruksi yang digunakan untuk pengaman tebing sungai yang telah
ada beserta keterangan kondisinya.
 Jenis bahan untuk perkerasan yang ada, misalnya pasir, kerikil, tanah
timbunan, batu.
 Lokasi quarry setiap jenis bahan perkerasan berikut perkiraan jumlah yang
ada. Perkiraan harga satuan tiap jenis bahan perkerasan.
 Perkiraan jarak pengangkutan bahan dari quarry ke base camp proyek.
 Peta lokasi quarry berikut keterangan lokasinya (Km, Sta)
 Data yang diperoleh dicatat dalam formulir.

Semua hasil survey inventory akan dilaporkan dalam bentuk laporan survey lengkap
dengan photo berwarna ukuran post card.

57
Usulan Teknis

7.2.2. Inventarisasi Geometrik Sungai/ Bangunan Utama

Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendapatkan informasi mengaenai kondisi


prasarana pengaman tebing sungai/bangunan utama prasarana pengaman tebing
sungai dan bangunan pelengkap yang terdapat ruas prasarana pengaman tebing
sungai yang ditinjau.
Informasi yang harus diperoleh dan dicatat dalam formulir adalah sebagai berikut :
 Nama dan lokasi bangunan.
 Dimensi bangunan yang meliputi bentang, lebar, kebebasan, jenis lantai dan
kondisi bangunan.
 Perkiraan volume pekerjaan bila diperlukan pekerjaan perbaikan atau
pemeliharaan.
 Data yang diperoleh dicatat dalam formulir.
 Foto dokumentasi sebanyak 2 (dua) lembar untuk setiap bangunan yang
diambil dari arah memanjang dan melintang. Foto ditempel pada formulir.

7.2.3. Survey Jumlah Kerusakan dan Rencana Penanganan

Survey ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan prasarana pengaman


tebing sungai dalam menentukan kategori dan rencana penangan prasarana
pengaman tebing sungaiyang dimaksud. Pemeriksaan yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
 Pemeriksaan dan pendataan jumlah kerusakan yang aktif dan rencana
penanganan kerusakan prasarana pengaman tebing sungai yang ada.
 Pemeriksaan dan pendataan volume luasan areal yang akan ditangani
secepatnya.

Semua hasil survey ini akan dilaporkan dalam bentuk laporan survey lengkap dengan
foto berwarna ukuran post card.

58
Usulan Teknis

7.2.4. Pengumpulan Data Lainnya


Data-data tersebut terutama yang berkaitan dengan ruas prasarana pengaman
tebing sungaiyang bersangkutan yang berguna dalam proses pelaksanaan Direktorat
Sungai Danau dan Waduk, misalnya data jarak bangunan rakyat, data perhitungan
luas areal, peta lokasi dan lain-lain.

59