Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH IPNH

FORMULA RANSUM UNTUK PENGGEMUKAN


KAMBING
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Mata Kuliah IPNH

Dosen Pembimbing: Dr. Tri Nurhajati, MS., Drh.

Disusun oleh:

Kelompok 5
1. Humika Yoseph Suhendra Habeahan (061711133109)
2. Sherina Lashita Candrakirana (061711133153)
3. Javica Sukma Argerista (061711133167)
4. Amirul Muslim Amrullah (061711133169)
5. Wynda Intra Widya Melati Sukma (061711133171)
6. Annisa Nur Fitria Rahma (061711133172)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ilmiah ini dapat tersusun hingga selesai.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Dan harapan kami semoga makalah ilmiah ini dapat menambah


pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca dalam menyusun formula
ransum untuk hewan ternak kambing.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya dikarenakan
oleh keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami. Oleh karena itu dengan
tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami
dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Surabaya, 26 April 2018

Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………... i
DAFTAR ISI………………………………………………………………..ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A. Latar Belakang……………………………………………………... 1
B. Rumusan Masalah………………………………………………….. 1
C. Tujuan……………………………………………………………….2
D. Manfaat…………………………………………………………….. 2
BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………...3
A. Pengertian Ransum Ruminan Dan Non Ruminan…………………..3
B. Metode Penyusunan Ransum….…………………………………… 5
C. Susunan Ransum Untuk Penggemukan Kambing…………………..7
BAB III PENUTUP………………………………………………………... 10
A. Kesimpulan………………………………………………………….10
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kambing merupakan salah satu jenis ternak ruminansia penghasil
daging yang cukup potensial. Kambing dapat memanfaatkan bahan alami dan
hasil ikutan industri yang tidak dikonsumsi oleh manusia sebagai bahan
pakan. Makanan utama ternak kambing adalah hijauan berupa rumput
lapangan. Hijauan merupakan sumber energi dan vitamin yang baik, namun
kandungan protein kasarnya relatif rendah dibanding dengan bahan pakan biji-
bijian, misalnya kacang kedelai dan jagung.
Kemampuan seekor ternak mengkonsumsi pakan tergantung pada
hijauan, temperatur lingkungan, ukuran tubuh ternak dan keadaan fisiologi
ternak. Konsumsi makanan akan bertambah jika aliran makanan cepat tercerna
atau jika diberikan makanan yang berdaya cerna tinggi. Penambahan makanan
penguat atau konsentrat ke dalam pakan ternak juga dapat meningkatkan
palatabilitas pakan yang dikonsumsi dan pertambahan berat badan
(Anggorodi, 1990).
Untuk meningkatkan bobot badan pada ternak kambing, pemberian
pakannya sebaiknya dimulai pada pagi hari yaitu mulai pukul 08.00 – 14.00.
Hal ini dilakukan karena pada pagi hari ternak mendapat kesempatan yang
banyak pula untuk mengunyah makanan tersebut. Semakin banyak waktu
yang diberikan kepada ternak kambing untuk mengkonsumsi pakan, maka
akan menghasilkan bobot badan yang lebih optimal. Sebaliknya, pemberian
pakan pada ternak kambing yang dilakukan pukul 14.00 – 17.30, ternak tidak
memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk mengkonsumsi pakan dan
tidak dapat menguyah makanannya dengan baik, sehingga akan menghasilkan
bobot badan yang kurang optimal.
Pertumbuhan merupakan sebagai pertambahan yang terkoordinir dari
struktur tubuh yang terjadi sampai individu menjadi dewasa. Ketika ternak
bertambah besar ada dua hal terjadi bobot badan bertambah sampai dewasa,
dan perubahan pada komposisi, bentuk dan fungsi kearah yang lebih
sempurna. (Tillman dkk., 1991).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ransum ruminan dan non ruminan?
2. Sebutkan metode apa saja yang dapat digunakan dalam menyusun
ransum?
3. Bagaimana cara membuat susunan ransum untuk penggemukan kambing?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian ransum ruminan dan non ruminan
2. Untuk mengetahui metode apa saja yang dapat digunakan dalam
menyusun ransum
3. Untuk mengetahui cara membuat susunan ransum khususnya untuk
penggemukan kambing
D. Manfaat
1. Dapat mengetahui metode apa saja yang dapat digunakan dalam menyusun
ransum sehingga nantinya dapat dipraktekkan sendiri
2. Dapat mengetahui susunan ransum yang cocok untuk penggemukan
kambing

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ransum Ruminan Dan Non Ruminan


Ransum adalah pakan yang diberikan kepada ternak selama 24 jam.
Sedangkan ransum seimbang adalah ransum yang mengandung semua zat-zat
makanan dalam kuantitas, kualitas, dan perbandingan yang cukup (seimbang)
untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan ternak sesuai tujuan
pemeliharaan. Bahan pakan adalah segala bahan yang dapat dimakan, disukai,
dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, bermanfaat, serta tidak berbahaya
atau mengganggu kesehatan. Ransum adalah segala sesuatu yang berupa
bahan organik maupun anorganik yang dapat diberikan kepada ternak baik
dapat dicerna sebagian maupun keseluruhan (Anggorodi, 1994). Ransum
adalah pakan jadi yang siap diberikan pada ternak yang diberikan pada ternak
yang disusun dari berbagai jenis bahan pakan yang sudah dihitung
(dikalkulasi) sebelumnya berdasarkan kebutuhan nutrisi dan energi yang
diperlukan. Berdasarkan bentuknya, ransum dapat dibagi menjadi tiga jenis
yaitu mash, pellet, dan crumble (Saulan Sinaga, 2009).
Ransum merupakan gabungan dari beberapa bahan yang disusun
sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak
selama satu hari dan tidak mengganggu kesehatan ternak. Ransum dapat
dinyatakan berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan
nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi
ternak. Siregar (1994) menambahkan bahwa ransum merupakan campuran
dari dua atau lebih bahan pakan yang diberikan untuk seekor ternak selama
sehari semalam. Ransum harus dapat memenuhi kebutuhan zat nutrien yang
diperlukan ternak untuk berbagai fungsi tubuhnya, yaitu untuk hidup pokok,
produksi maupun reproduksi.
Ransum perlu mendapatkan perhatian khusus dalam usaha peternakan.
Kualitas dan harga ransum sangat erat kaitannya dengan kandungan
protein dalam ransum tersebut. Semakin tinggi kandungan protein dalam
ransum maka harga ransum semakin mahal, begitu sebaliknya. Pemberian
ransum dengan kandungan protein yang terlalu rendah akan menurunkan
produksi ternak dan kelebihan protein akan diubah sebagai energi sehingga
tidak efisien. Menurut Kamal (1995), pemberian protein yang berlebihan tidak
ekonomis sebab protein yang berlebihan tidak dapat disimpan dalam tubuh,
tetapi akan dipecah dan nitrogennya dikeluarkan lewat ginjal.
Ransum yang diberikan oleh peternak biasanya dibuat berdasar usaha
coba-coba sehingga kurang efisien karena ada kemungkinan kandungan
nutriennya kurang mencukupi atau bisa kelebihan. Untuk mendapatkan hasil
yang optimal maka ransum untuk ternak harus sesuai dengan kebutuhannya,
baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Ransum seimbang adalah ransum

3
yang diberikan selama 24 jam yang mengandung semua zat nutrien (jumlah
dan macam nutriennya) dan perbandingan yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan gizi sesuai dengan tujuan pemeliharaan ternak (Chuzaemi, 2002).
Menurut (Anonim a 2008) berdasarkan bentuknya ransum dibagi
menjadi 3 jenis : yaitu mash, pellet,dan crumble. Mash adalah bentuk ransum
yang paling sederhana yang merupakan campuran serbuk (tepung) dan
granula. Pellet adalah ransum yang berasal dari berbagai bahan pakan dengan
perbandingan komposisi yang telah dihitung dan ditentukan. Bahan tersebut
diolah menggunakan mesin pellet (pelletizer) untuk mengurangi loss nurisi
dalam bentuk yang lebih utuh. Ransum berbentuk pellet yang dipecah menjadi
2-3 bagian untuk memperkecil ukurannya agar bisa dimakan ternak.
Kelebihan ransum berbentuk pellet adalah distribusi bahan pakan lebih merata
sehingga loss nutrisi mudah dicegah dan tidak tercecer pada waktu dikonsumsi
ternak.
Konsumsi ransum setiap minggu bertambah sesuai dengan
pertambahan bobot badan. Setiap minggunya ayam mengonsumsi ransum
lebih banyak dibandingkan dengan minggu sebelumnya (Fadilah, 2004).
Ransum merupakan faktor penentu terhadap pertumbuhan dan produktivitas,
di samping bibit dan tatalaksana pemeliharaan. Ransum menempati biaya
produksi terbesar yaitu 60-70% dalam suatu usaha peternakan. Bahan baku
pakan yang umum dipergunakan berasal dari tumbuh-tumbuhan dan produk
asal hewan dalam bentuk produk olahan ataupun produk
sampingan (by product). Penggunaannya sebagai komponen penyusun ransum
harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya mempunyai kualitas baik,
murah, dan tidak berbahaya untuk ternak yang mengkonsumsinya.

1. RANSUM TERNAK RUMINANSIA


Ransum dapat dinyatakan berkualitas baik apabila mampu
memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta
imbangan nutrien tersebut bagi ternak. Ransum yang berkualitas baik
berpengaruh pada proses metabolisme tubuh ternak sehingga ternak dapat
menghasilkan daging yang sesuai dengan potensinya.
Pada umumnya ransum untuk ternak ruminansia terdiri dari pakan
hijauan dan pakan konsentrat. Pakan pokok (basal) dapat berupa rumput,
legum, perdu, pohon-pohonan serta tanaman sisa panen; sedangkan pakan
konsentrat antara lain berupa biji-bijian, bungkil, bekatul dan tepung ikan

2. RANSUM TERNAK UNGGAS (NON RUMINANT)


Dalam industri perunggasan, penghematan biaya ransum merupakan
tujuan yang harus dicapai agar mendapatkan keuntungan yang maksimal,
karena sebagian besar (60-80%) biaya produksi adalah biaya ransum. Ransum
merupakan salah satu kendala yang dirasakan sebagai beban oleh para

4
peternak dari sistem peternakan intensif (dikandangkan), terutama penyediaan
bahan ransum yang berkualitas dengan kontinuitas yang terjamin.
Ransum berperan sangat penting dalam produksi ayam broiler.
Ransum yang sesuai dengan kebutuhan baik kualitas maupun kuantitasnya
sangat menentukan produk akhir bahan pakan alternatif yang masih memiliki
kandungan nutrisi yang baik sehingga dapat digunakan dalam penyusunan
ransum. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam formulasi ransum ayam
broiler adalah kebutuhan protein, energi, serat kasar, Ca dan P. Komponen
nutrien tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi ayam broiler terutama
untuk pertumbuhan dan produksi daging.
Konsumsi ransum ayam pedaging tergantung pada strain, umur,
aktivitas serta temperatur lingkungan (Wahju,1992). Menurut Sudaro dan
Siriwa (2000), pemberian ransum dapat dilakukan dengan cara bebas maupun
terbatas. Cara bebas, ransum disediakan ditempat pakan sepanjang waktu agar
saat ayam ingin makan ransumnya selalu tersedia. Cara ini biasanya disajikan
dalam bentuk kering, baik tepung, butiran, maupun pelet. Ransum untuk ayam
pedaging dibedakan menjadi dua macam yaitu ransum untuk
periode starter dan periode finisher. Menurut Rasyaf (1994), konsumsi
ransum ayam broiler merupakan cermin dari masuknya sejumlah unsur nutrien
ke dalam tubuh ayam. Jumlah yang masuk ini harus sesuai dengan yang
dibutuhkan untuk produksi dan untuk hidupnya.
Ransum itik umumnya terbuat dari bahan nabati dan hewani (Sudaro
dan Siriwa, 2000). Bahan pakan yang dipergunakan dalam menyusun ransum
pada itik belum ada aturan bakunya, yang terpenting ransum yang diberikan
kandungan nutriennya dalam ransum sesuai dengan kebutuhan itik (Rasyaf,
1993). Sedangkan menurut Wahju (1992), bahan makanan untuk ransum itik
tidak berbeda dengan ransum ayam. Ransum dasar dianggap telah memenuhi
standar kebutuhan ternak apabila cukup energi, protein, serta imbangan asam-
amino yang tepat (Rasyaf, 1993).

3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RANSUM


a. Jenis/bentuk bahan pakan hijauan, konsentrat, rumput, legum, hay,
silase, tepung, butiran.
b. Kandungan nutrisi bahan pakan.
c. Teknik formulasi manual, komputerisasi, mekanisasi, trial and error,
pearson square, aljabar, dan lain-lain.
d. Teknik dan waktu pemberian/penyajian.

B. Metode Penyusunan Ransum


Metode penyusunan ransum dapat dibagi menjadi lima, diantaranya:
1. Trial and Error

5
Metode ini mempunyai dua langkah awal yang harus dilakukan
terlebih dahulu sebelum melangkah lebih lanjut yaitu memilih bahan
pakan yang tersedia dan mencari data untuk mengetahui kandungan
nutrient penyusun masing-masing bahan pakan yang telah terpilih,
selanjutnya menyusun dan menghitung berulang kali kandungan nutrient
yang sesuai ataupun yang dikenhendaki. Trial and error method bila
ditinjau dari cara perhitungannya merupakan metode yang kurang praktis,
apalagi mereka yang tidak berkecimpungan dalam penyusunan ransum
akan mendapatkan kesulitan.

2. Pearsons Square
Merupakan metode yang sederhana dan yang hanya digunakan
untuk membuat campuran yang hanya terdiri dari dua macam bahan
pakan. Kedua bahan pakan tersebut yang berbeda hanya kadar satu macam
nutrient. Hasil campurannya mempunyai kadar nutrient diantara kadar dari
kedua bahan pakan tersebut. Jadi metode ini misalnya hanya untuk
menentukan PK saja, untuk satu macam mineral atau satu macam vitamin
dari campuran yang tersusun dari dua macam bahan pakan.

3. Exact
Metode ini lebih praktis digunakan untuk menyusun ransum ternak
ruminansia, walaupun dapat pula digunakan untuk ternak non ruminansia.
Pada penggunaan metode ini harus diketahui adanya beberapa ketentuan
terlebih dahulu, yaitu meliputi jumlah nutrient yang dibutuhkan ternak
sesuai dengan bobot kadarnya, macam dan kandungan nutrient bahan
pakan yang akan digunakan untuk menyusun ransum, jumlah pakan
hijauan untuk memenuhi semua TDN (total digestible nutrient) yang
dibutuhkan, jumlah konsentrat untuk memenuhi sebagian dari pakan
hijauan, dan pengujian kandungan nutrient ransum.

4. Simultaneus equation
Metode ini disebut pula dengan nama persamaan aljabar.
Digunakan XY (aljabar) karena ada dua hal yang belum diketahui dan
yang akan dicari, misalnya PK (X%) dan ME (Y mcal/Kg). Disamping itu
bahan pakan yang akan digunakan adalah lebih dari dua macam.

5. Linear Progamming
Metode ini merupakan penjabaran dari simultaneous equation
method yang biasanya dilakukan dengan bantuan komputer. Metode ini
menggunakan berbagai macam bahan pakan dan menggunakan berbagai
macam faktor pembatas. Keunggulan dari metode ini, yaitu efektif, efisien
dalam waktu dan keakuratan tinggi.

6
Kelompok kami memutuskan untuk menggunakan metode Trial and Error
untuk tahap pertama dan Pearsons Square untuk tahap kedua dalam membuat
pakan ransum kambing karena dengan kedua metode ini kita dapat
menggunakan bahan-bahan yang kita miliki dengan menyesuaikan kebutuhan
nutrisi pakan pada kambing. Selain itu, bahan-bahan yang dipilih untuk
dijadikan ransum dapat sesuai kehendak dari yang kita inginkan. Kedua
metode ini juga sudah kita terima di perkuliahan jadi kami lebih mudah dalam
membuatnya.

C. Susunan Ransum Untuk Penggemukan Kambing


Kambing Jantan:
- Berat Badan (BB) = 25 Kg
- Bahan Kering (BK) = 100 Kg
- Protein = 14-16%
- Lemak = 2,5 %
- Serat Kasar (SK) = 18 %
No Bahan Pakan BK Protein Lemak Serat Kasar Ca P
. (%) (%) (SK %) (%) (%)
1. Rumput gajah 18,98 10,19 1,64 31,15 - -
2. Tepung kacang merah 85,49 29,16 1,3 5,01 - -
3. Centrosema 19,27 19,61 1,2 32,21 - -
4. Dedak terigu kasar 89,29 16,69 3,54 7,54 - -
5. Jagung kuning 87,08 9,91 2,72 2,78 1,1 0,41

Tahap 1

30 Kg Rumput gajah 30/100 X 10,19 % = 3,06 %


10 Kg Tepung kacang merah 10/100 X 29,16 % = 2,92 %
20 Kg Centrosema 20/100 X 19,61 % = 3,91 %
60 Kg = 9,9 %

Kekurangan bahan pakan = 100 Kg - 60 Kg = 40 Kg


Kekurangan protein = 15 % - 9,9 % = 5,1%
Persen kekurangan protein berdasarkan bahan = 5,1/40 X 100% = 12,75%

Tahap II

Dedak terigu kasar 16,69 5,07 bagian


12,75
Jagung kuning 7,68 3,94 bagian
9,01 bagian

7
Kebutuhan dedak terigu kasar = 5,07/9,01 X 40 = 22,51 Kg
Kebutuhan jagung kuning = 3,94/9,01 X 40 = 17,49 Kg
Dari perhitungan tersebut maka susunan ransumnya terdiri dari:
- Rumput gajah 30 Kg
- Tepung kacang merah 10 Kg
- Centrosema 20 Kg
- Dedak terigu kasar 22,51 Kg
- Jagung kuning 17,49 Kg
Jumlah 100 Kg

Untuk mengetahui kualitas ransum yang disusun, maka perlu ada cek ulang
terhadap kandungan nutriennya, yaitu:
Kandungan Protein Kasar
- 30 Kg Rumput gajah 30/100 X 10,19 % = 3,06 %
- 10 Kg Tepung kacang merah 10/100 X 29,16 % = 2,92 %
- 20 Kg Centrosema 20/100 X 19,61 % = 3,92 %
- 22,51 Kg Dedak terigu kasar 22,51/100 X 16, 69 % = 3,76 %
- 17,49 Kg Jagung kuning 17,49/100 X 9,91 % = 1,73 %
Jumlah 15,39 %
Kandungan Lemak
- 30 Kg Rumput gajah 30/100 X 1,64 % = 0,49 %
- 10 Kg Tepung kacang merah 10/100 X 1,3 % = 0,13 %
- 20 Kg Centrosema 20/100 X 1,2 % = 0,24 %
- 22,51 Kg Dedak terigu kasar 22,51/100 X 3,54 % = 0,8 %
- 17,49 Kg Jagung kuning 17,49/100 X 2,72 % = 0,48 %
Jumlah 2,14 %
Kandungan Serat Kasar
- 30 Kg Rumput gajah 30/100 X 31,15 % = 9,25 %
- 10 Kg Tepung kacang merah 10/100 X 5,01 % = 0,5 %
- 20 Kg Centrosema 20/100 X 32,21 % = 6,44 %
- 22,51 Kg Dedak terigu kasar 22,51/100 X 7,54 % = 1,7 %
- 17,49 Kg Jagung kuning 17,49/100 X 2,78 % = 0,39 %
Jumlah 18,18 %
Kandungan Mineral Ca
- 17,49 Kg Jagung kuning 17,49/100 X 1,1 % = 0,19 %

Kandungan Mineral P
- 17,49 Kg Jagung kuning 17,49/100 X 0,41 % = 0,07 %

8
Kebutuhan bahan jika membuat ransum 1 Kg berdasar BK
- 30 Kg Rumput gajah 30/100 X 1 Kg = 0,3 Kg
- 10 Kg Tepung kacang merah 10/100 X 1 Kg = 0,1 Kg
- 20 Kg Centrosema 20/100 X 1 Kg = 0,2 Kg
- 22,51 Kg Dedak terigu kasar 22,51/100 X 1 Kg = 0,2251 Kg
- 17,49 Kg Jagung kuning 17,49/100 X 1 Kg = 0,1749 Kg
Jumlah 1 Kg

Kebutuhan bahan segar


- 30 Kg Rumput gajah 100/18,98 X 0,3 Kg = 1,58 Kg
- 10 Kg Tepung kacang merah 100/85,49 X 0,1 Kg = 0,12 Kg
- 20 Kg Centrosema 100/19,27 X 0,2 Kg = 1,04 Kg
- 22,51 Kg Dedak terigu kasar 100/89,29 X 0,2251 Kg = 0,25 Kg
- 17,49 Kg Jagung kuning 100/87,08 X 0,1749 Kg = 0,20 Kg
Jumlah 3,19 Kg

Harga pakan berdasarkan kebutuhan bahan segar


- 30 Kg Rumput gajah 1,58 Kg X Rp. 300 = Rp. 474
- 10 Kg Tepung kacang merah 0,12 Kg X Rp. 50.000 = Rp. 6000
- 20 Kg Centrosema 1,04 Kg X Rp. 800 = Rp. 832
- 22,51 Kg Dedak terigu kasar 0,25 Kg X Rp. 1500 = Rp. 375
- 17,49 Kg Jagung kuning 0,20 Kg X Rp. 3150 = Rp. 630
Jumlah Rp. 8.311

9
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Ransum adalah pakan yang diberikan kepada ternak selama 24 jam.


Sedangkan ransum seimbang adalah ransum yang mengandung semua zat-zat
makanan dalam kuantitas, kualitas, dan perbandingan yang cukup (seimbang)
untuk memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan ternak sesuai tujuan
pemeliharaan. Bahan pakan adalah segala bahan yang dapat dimakan, disukai,
dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, bermanfaat, serta tidak berbahaya
atau mengganggu kesehatan. Ransum adalah segala sesuatu yang berupa
bahan organik maupun anorganik yang dapat diberikan kepada ternak baik
dapat dicerna sebagian maupun keseluruhan. Metode dalam membuat susunan
ransum ada lima yaitu trial and error, pearsons square, exact, simultaneous
equation, dan linier programming. Kelompok kami memutuskan untuk
menggunakan metode trial and error dalam membuat pakan ransum kambing
karena dengan metode ini kita dapat menggunakan bahan-bahan yang kita
miliki dengan menyesuaikan kebutuhan nutrisi pakan pada kambing. Selain
itu, bahan-bahan yang dipilih untuk dijadikan ransum dapat sesuai kehendak
dari yang kita inginkan.

10
DAFTAR PUSTAKA

https://myluckyta.wordpress.com/2011/12/08/pakan-ransum-konsentrat-hijauan/

http://www.ilmuternak.com/2015/03/ransum-ternak.html

http://paj89.blogspot.co.id/2013/03/ransum.html

http://itsupportbbpkhcinagara.com/index.php/14-artikel-kesehatan-hewan/51-
metode

http://info-peternakan.blogspot.co.id/2011/07/pengertian-pakan-bahan-pakan-
ransum.html

https://www.agrinak.com/2016/08/5-cara-menyusun-ransum-pakan-ternak.html

http://andakafarm.blogspot.co.id/2012/12/kandungan-nutrisi-bahan-pakan-
dari.html

http://www.agrobisnisinfo.com/2015/11/cara-menghitung-kebutuhan-nutrisi-
untuk.html

http://bumiternak-betha.blogspot.co.id/2013/04/tabel-nilai-nutrisi-bahan-pakan.html

http://dokterternak.com/2013/04/12/tabel-kandungan-nutrisi-pakan-ternakklobot-
jagung-jerami-padi-jerami-kedele-jerami-kulit-kedelai-jerami-kacang-tanah-jerami-
kacang-panjang-jerami-kacang-otok-jerami-kacang-hijau-kulit-coklat/

Tillman, Hartadi. H, Rekso Hadiprojo. S., Prowirokusumo, Lebdosoekodjo. 1998.


Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Fakultas Peternakan
UGM. Yogyakarta.

Badan Standart Nasional. Bibit Kambing Peranakan Ettawa (PE). Jakarta.

Rudiah. 2011. Respon Kambing Kacang Jantan Terhadap Waktu Pemberian


Makan. Media Litbang Sulteng IV. No. 1:67 – 74.

Marnomo, Anggodo. Ilmu Beternak. Suatu Tinjauan Dari Sisi Pakan Ternak.

Kumpulan SNI pakan.

Syamsudin, Amir. Suswono. 2014. Permentan Pembibitan Kambing. Berita


Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1081.

Kumpulan Persyaratan Teknis Minimal (PTM) Bahan Pakan.

11
Direktorat Pakan Ternak. Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan.
Kementerian Pertanian. Kumpulan Persyaratan Teknis Minimal (PTM) Kambing.
Jakarta.

Kumpulan Persyaratan Teknis Minimal (PTM) Pakan.

Kumpulan Standart Nasional Indonesia (SNI) Bahan Pakan.

12