Anda di halaman 1dari 10

BAB I

DEFINISI
1. Kesadaran menurun adalah kondisi kesadaran seseorang yang tidak dapat berorientasi secra
normal terhadap orang, waktu, dan tempat yang disebabkan karena adanya kelaianan
badaniah
2. Kesadaran berubah adalah kondisi kesadaran sesorang yang terganggu jiwanya sehingga
tidak mampu bersosialisasi secara normal
3. Koma adalah kondisi seseorang yang mengalami penurunan kesadaran sehingga tubuhnya
tidak berespon terhadap rangsangan apapun yang diberikan
4. Stupor adalah kondisi sesorang yang mengalami penurunan kesadaran dan hanya berespon
terhadap rangsangan basal berupa nyeri yang adekuat
5. Alat Bantu Napas (Ventilator) adalah suatu system alata bantuan hidup untuk membantu
pernapasan guna mempertahankan ventilasi dan pasokan oksigen dalam suatu waktu tertentu
sesuai kondisi pasien
6. Tindakan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support) adalah tindakan medic pemberian
napas bantuan dan pijat jantung untuk menstimulasi kembalinya nafas dan sirkulasi darah
secara spontan
7. Tindakan Bantuan Hidup lanjut (Advance Life Support) adalah tindakan lanjutan dari
Basic Life Support dengan menggunakan obat-obatan dan alat bantu napas
8. Tindakan Bantuan Hidup Berkepanjangan (Prolonged Life Support) adalah tindakan
medic jangka panjang dengan menggunkan alat bantu napas dan obat-obatan di ruangan
intensif care.
BAB II
RUANG LINGKUP
Asuhan pasien dengan alat bantu hidup terutama dapat terjadi pada pasien yang dirawat di NICU,
IGD dan ICU.
BAB III
TATA LAKSANA

1. Manajemen Pasien dengan Koma

Manajemen pasien dengan kondisi koma harus berfokus untuk menstabilkan kondisi
pasien, menegakkan diagnose, dan tata laksana yang berdasarkan penyebab komanya. Misal :

a) Bila didapatkan peningkatan tekanan intracranial, maka tahapan penanganannya dengan :


 Elevasi kepala
 Intubasi dan hiperventilasi
 Dieresis osmotic Manitol 20% : 0,25 – 0,5 µg / KgBB intravena
 Dexamethasone 10 mg intravena tiap 6 jam pada kasus edema serebri karena tumor
atau abses
b) Pada kasus lesi desak ruang (Space Occupying Lesions / SOL), penanganan emergensi
dekompresi dapat menyelamatkan nyawa pasien
c) Koma hiper atau hipoglikemia dengan diagnose yang cepat dan tepat serta penanganan
yang benar dapat mencegah kerusakan otak yang permanen
2. Terapi Umum
a. Proteksi jalan napas : oksigenasi dan ventilasi yang adekuat
b. Hidrasi intravena : pada kasus edema serebri atau peningkatan tekanan intra cranial
dengan menggunakan cairan normal saline
c. Nutrisi : pemberian nutrisi via enteral dengan naso duodenal tube, hindari penggunaan
naso gastric tube untuk menghindari terjadinya aspirasi dan refluks
d. Kulit : hindari terjadinya dekubitus dengan rehabilitasi pasif setiap 1-2 jam
e. Mata : hindari abrasi kornea dengan menggunakan lubrikan atau mata ditutup dengan
plester
f. Perawatan bowel : berikan ranitidine 50 mg intravena tiap 8 jam untuk menghindari stress
ulcer akibat pemberian steroid dan intubasi
g. Hindari konstipasi dengan obat-obat pelunak feses
h. Perawatan blader : bila diperlukan lakukan indwelling catheter atau intermitten kateter
tiap 6 jam
i. Mobilitas joint : latihan pasif range of movement (ROM) untuk menghindari kontraktur
3. Terapi Etiologik
Penatalaksanaan etiologic pada pasien koma ditujukan pada penyebab komanya sesuai table
berikut :
Struktur Supratentorial Struktur Infratentorial Metabolic
(18% dari total kasus) (14% dari total kasus) (60% dari total kasus)

Trauma kepala : kontusio Stroke iskemik atau Obat-obatan : sedative, opioid,


dengan edema otak, perdarahandi batang otak / transquilizer, salisilat
perdarahan subdural / serebelum
epidural / intraserebral
Tumor otak Tumor batang otak / Hipoksia cardiac / respiratory
serebelum anemia berat, karbon
monoksida

Masif stroke : stroke Anormalitas glukosa darah :


iskemik atau perdarahan hipoglikemia karena
otak pemberian insulin, hiper
glikemia karena diabetes
melitus

Ensefalitis Kelaianan kadar elektrolit

Abses otak Kelaianan organ :


Liver (koma hepatikum)
Ginjal (koma uremikum)
Paru (CO2 narcosis respiratory
failure) tiroid (koma
Myxedema) penurunan
cerebral blood flow(CBF)
ensefalopati hipertensi,
obstruktif hidrosefalus,
penurunan cardiac (infark
miokars, cardiac arythmya)
Toksin : ethanol, methanol,
ethylene glycol

4. Asuhan Keperawatan Pasien Koma


No. Diagnosa Keperawatan / Masalah Kolaborasi Intervensi

1. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan a. Manajemen jalan napas :


dengan fisiologis (disfungsi neuromuskuler), tanda o Buka jalan napas, gunakan
karakteristiknya : teknik chin lift atau jaw
a. Dyspneu, penurunan frekuensi napas thrust bila perlu
b. Kelaianan suara napas (ronchi) o Posisikan pasien untuk
c. Perubahan frekuesnsi dan irama napas memaksimalkan ventilasi
d. Batuk tidak efektif o Identifikasi pasien untuk
e. Produksi sputum banyak menentukan perlunya
f. Pasien gelisah pemasangan alat jalan
napas buatan
o Pasang mayo bila perlu
o Lakukan fisioterapi dada
bila perlu
o Keluarkan secret yang ada
dengan suction melalui
mayo
o Auskultasi suara napas,
catat bila ada perubahan
suara napas
o Beri bronkodilator bila
perlu
o Berikan pelembab udara
o Atur intake cairan untuk
memaksimalkan
keseimbangan cairan
o Monitor respirasi dan status
oksigen
b. Suction jalan napas
o Pastikan kebutuhan oral
suctioning
o Auskultasi suara napas
sebelum dan sesudah
suctioning
o Informasikan terlebih
dahulu pada pasien dan
keluarga tentang suctioning
o Berikan oksigen dengan
menggunakan nasal untuk
memfasilitasi suction naso
trakeal
o Gunakan alat steril setiap
melakukan tindakan
o Hentikan suctioning dan
berikan oksigen bila pasien
menunjukkan bradikardia
dan peningkatan saturasi
oksigen

2. Risiko aspirasi, faktor risiko : a. Suction jalan napas


a. Penurunan tingkat kesadaran b. Pencegahan aspirasi dengan :
b. Penurunan fungsi otot-otot pernapasan o Monitor tingkat kesadaran,
reflex menelan dan
kemampuan menelan
o Monitor status paru-paru
o Pertahankan jalan napas
lancer
o Jaga suction dalam kondisi
siap pakai
o Cek posisi NGT sebelum
memberikan makanan via
NGT
o Hindari pemberian makanan
bila residu masih banyak
o Posisikan kepala head up /
tinggikan bed 30-40 menit
setelah pemberian makanan
c. Monitoring respirasi
o Monitor rata-rata, irama,
kedalaman dan usaha
respirasi
o Catat pergerakan dada, amati
kesimetrisan, penggunaan
otot-otot tambahan, retraksi
otot supra klavikula dan
interkostalis
o Monitor suara napas (
dengkur / ngorok)
o Monitor pola napas :
branipeneu, takipneu,
kussmaul, hiperventilasi,
cheyne-stokes, ataxic
o Palpasi kesamaan ekspansi
paru
o Perkusi dada di anterior dan
posterior, dari apex sampai
basis bilateral
o Catat lokasi trachea
o Monitor kelelahan otot
diafragma (gerakan
paradoksi)
o Auskultasi suara napas, catat
area penurunan atau tidak
adanya ventilasi dan suara
tambahan
o Tentukan kebutuhan suction
dengan auskultasi adanya
cracles dan ronchi pada jalan
napas utama
o Auskultasi ulang suara paru
setelah tindakan
o Monitor hasil ventilasi
mekanik (ventilator) dengan
mencatat peningkatan
tekanan inspirasi dan
penurunan tidal volume
o Catat perkembangan saturasi
oksigen dan tidal CO2
o Monitor kemampuan pasien
untuk batuk efektif
o Monitor secret respirasi
pasien
o Catat onset, karakteristik dan
durasi batuk
o Monitor dyspneu dan
kejadian yang meningkatkan
atau memperburuk respirasi
o Miringkan posisi pasien
untuk mencegah aspirasi
o Lakukan resusitasi bila
diperlukan
o Lakukan tindakan terapi
resporatori
d. Posisioning (mengatur posisi)
o Atur posisi pasien semifowler
dan ekstensi kepala
o Miringkan kepala bila muntah

3. Nutrisi : a. Monitor gizi :


Risiko nutrisi tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh b.
karena factor biologis dengan karakteristik :
a. Dilaporkan adanya intake makanan kurang dari
kebutuhan yang dianjurkan
b. Konjungtiva dan membrane mukosa pucat
c. Pembuluh kapiler rapuh
d. Pasien tidak mampu menelan dan mengunyah
makanan
e. Rontok rambut yang cukup banyak
f. Kolesterol dan trigliserida

BAB IV
DOKUMENTASI
PANDUAN
PELAYANAN PASIEN MENULAR DAN
PENURUNAN DAYA TAHAN (IMMUNO-
SUPPRESSED)
Jl. KH. Sochari No.39 Serang 42118
No.Tlp (0254) 212484
TAHUN 2018

Anda mungkin juga menyukai