Anda di halaman 1dari 3

Pertanyaan :

1. Berdasarkan kasus pelanggaran etika pemasaran dah etika produksi yang dilakulan oleh
produk HIT di Indonesia yaitu ditemukannya zat kimia berbahaya. Tentu membuat
kepercayaan konsumen hilang dan enggan untuk membeli produk tsb meskipun kita
ketahui bahwa produk HIT ini sangat dibutuhkan. Menurut kalian hal apa yang perlu
dilakukan perusahaan terkait untuk memunculkan kembali kepercayaan konsumen?
2. Seperti yang kita ketahui dalam etika bisnis dikatakan bahwa seorang provider tidak
diperbolehkan untuk membuat iklan yang menjatuhkan produk lawan. Seperti yang
tercermin dalam kasus pelanggaran dimensi etik iklan as dan xl. Hal ini tentu akan dinilai
kurang baik oleh masyarakat sehingga masyarakat enggan memilih kedua produk dan hal
ini akan berimbas pada perkembangan ekonomi. Sebagai masyarakat awam , bagaimana
caranya menyikapi kasus ini?

Jawaban :

1. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam membangun suatu perusahaan produksi, hal paling
utama yang perlu kita pegang adalah suatu kepercayaan baik dari konsumen maupun para
investor. Kepercayaan konsumen merupakan satu hal yang harus dijaga dan ditingkatkan
demi pengembangaan suatu bisnis. Seperti kita ketahui dalam etika bisnis, suatu
kepercayaan dibangun dengan rasa kejujuran, kenyamanan, kualitas, serta pelayanan yang
baik. Kepercayaan adalah syarat mutlak berkembangnya sebuah bisnis. Perlu usaha yang
lebih untuk mendapatkan, mempertahankan, dan meningkatkan kepercayaan para
konsumen. Bukanlah hal mudah untuk mengembalikan kepercayaan konsumen terhadap
suatu produk. Dalam kasus ini, kita ketahui bahwa PT. Megarsari Makmur sudah
melakukan perbuatan yang sangat merugikan dengan memasukkan 2 zat berbahaya pada
produk mereka yang berdampak buruk pada konsumen yang menggunakan produk mereka.
Seperti yang sudah dipaparkan juga bahwa kasus ini melanggar beberapa pasal –pasal
diantaranya pasal 4, hak konsumen ayat (1 dan 3). Dalam kasus ini sudah dipastikan bahwa
PT. Megarsari Makmusr telah melanggaran prinsip etika pemasaran yaitu prinsip kejujuran
dimana perusahaan tidak memberikan peringatan kepada konsumennya mengenai
kandungan yang ada pada produk mereka yang sangat berbahaya untuk kesehatan dan
perusahaan juga tidak memberi tahu penggunaan dari produk tersebut yaitu setelah suatu
ruangan disemprot oleh produk itu semestinya ditunggu 30 menit terlebih dahulu baru
kemudian dapat dimasuki/digunakan ruangan tersebut. Akibat dalam kasus ini salah
satunya adalah hilangnya kepercayaan konsumen terhadap produk HIT, keadaan ini tentu
akan berimbas pada kelangsungan perusahaan dimana akan terjadi krisis ekonomi yang
akan berakibat fatal bagi perusahaan. Lalu hal perlu dilakukan untuk mengembalikan
kepercayaan konsumen agar perusahaan dapat kembali melanjutkan usahanya yaitu :
- Memperbaiki sistem produksi yang sebelumnya, dengan menggunakkan bahan-bahan
yang aman bagi konsumen dan telah diuji standar pemakaiannya.
- Mengembalikan nama baik produk, dengan melakukan klarifikasi kepada publik
terhadap kesalahan sebelumnya melalui even-even tertentu
- Membuat iklan produk dengan kesan yang baik, memberikan kesan yang membangun,
dan memotivasi konsumen
- Memberikan petunjuk prosedur pemakaian produk secara jelas dan rinci serta mudah
dipahami kepada para pengguna
- Rajin mengadakan promosi-promosi, mungkin dengan memberikan souvenir bagi
pembelian berapa (4/5) bungkus kemasan
- Membuat citra yang baik kepada masyarakat dengan bersikap jujur dan terbuka
Semua ini, tentu harus juga didasari pada keinginan baik dari perusahaan yang
bersangkutan. Perusahaan yang bersangkutan harus menyadari kesalahan yang telah
dilakukan demi kebaikan bersama. Melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan
pada dasarnya boleh dilakukan asal tidak merugikan pihak mana pun dan tentu saja pada
jalurnya. Disini perusahaan seharusnya lebih mementingkan keselamatan konsumen yang
menggunakan produknya karena dengan meletakkan keselamatan konsumen diatas
kepentingan perusahaan maka perusahaan itu sendiri akan mendapatkan keuntungan yang
lebih besar karena kepercayaan/loyalitas konsumen terhadap produk itu sendiri.

2. Dalam industri telekomunikasi di tanah air pada satu dasawarsa terakhir berkembang iklim
kompetisi dan persaingan usaha yang sangat ketat dengan dukungan kemajuan teknologi
dan sumber daya manusia yang semakin pesat. Industri telekomunikasi berkembang
dengan cakupan wilayah semakin luas. Masing-masing penyedia layanan berlomba untuk
menawarkan produknya kepada konsumen dengan beragam janji. Untuk menarik minat
konsumen dalam membeli produknya, para penyedia layanan (provider) telekomunikasi
membuat berbagai cara dan strategi demi terpenuhinya target produksi dari perusahaan
sekaligus memberikan keuntungan yang signifikan agar dapat menguasai pasar.Dengan
berdasar hal tersebut, para provider telekomunikasi menjadi lebih profit oriented dalam
menjalankan bisnisnya dan mulai menerobos etika maupun koridor-koridor periklanan.
Provider berlomba-lomba membuat iklan yang sedikit “menipu” konsumen dengan
memberikan informasi tarif yang kurang jelas, bonus-bonus yang banyak syaratnya, dan
yang menyatakan bahwa produknya merupakan yang terbaik untuk merebut konsumen
walaupun mereka tahu bahwa konsumen dapat menjadi kecewa dan berpaling kepada
provider lain. Bahkan para provider tidak ragu untuk membuat iklan/promosi yang saling
menjatuhkan produk serupa lain. Hal ini berkaitan dengan kasus pelanggaran dimensi etis
iklan kartu AS dan XL. Padahal mereka tau bahwa hal tersebut jelas melanggar etika bisnis
yang berlaku. Mereka semata-mata hanya mencari keuntungan tanpa mempertimbangkan
segala dampak yang akan terjadi terhadap masyarakat. Pada dasarnya, dalam periklanan
kita tidak dapat lepas dari etika. Dimana di dalam iklan itu sendiri mencakup pokok-pokok
bahasan yang menyangkut reaksi kritis masyarakat Indonesia tentang iklan yang dapat
dipandang sebagai kasus etika periklanan. Iklan mempunyai unsur promosi, merayu
konsumen, iklan ingin mengiming-imingi calon pembeli. Karena itu bahasa periklanan
mempergunakan retorika sendiri. Masalah manipulasi yang utama berkaitan dengan segi
persuasive dari iklan (tapi tidak terlepas juga dari segi informatifnya). Karena
dimanipulasi, seseorang mengikuti motivasi yang tidak berasal dari dirinya sendiri, tapi
ditanamkan dalam dirinya dari luar. Maka di dalam bisnis periklanan perlulah adanya
kontrol tepat yang dapat mengimbangi kerawanan tersebut. Etika diakui sebagai studi
konsep-konsep seperti seharusnya, harus, dan sebagainya, sementara "moral" cenderung
ditendensikan pada kegiatan.

Anda mungkin juga menyukai