Anda di halaman 1dari 16

PENGAUDITAN II

EKA 446 C1

BAB 20

KELOMPOK 11
NAMA ANGGOTA :

MADE SAWITRI KUMALA DEWI (1607531062 / 25)


PUTU PRADNYANI (1607531072 / 27)

Disampaikan kepada :
Dr. Drs. I Dewa Gede Dharma Suputra, M.Si., Ak.

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2018
PENGAUDITAN KAS DAN INSTRUMEN KEUANGAN
Kas merupakan satu-satunya akun yang tidak dimasukkan dalam setiap siklus kecuali
persediaan dan pergudangan. Kas merupakan hal yang penting bagi auditor terutama karena
besarnya potensi kecurangan, atau karena kemungkinan terjadinya kesalahan yang tidak
disengaja.
A. AKUN-AKUN KAS DAN INSTRUMEN KEUANGAN
Terdapat beberapa jenis akun kas yang umumnya digunakan oleh sebagian perusahaan
besar. Auditor akan mengetahui lebih banyak jenis saldo kass setelah memahami bisnis klien.
Berikut jenis akun kas yang utama:
1. Akun Kas Umum
Akun kas umum adalah titik fokus bagi banyak perusahaan karena semestinya
seluruh penerimaan kas dan pengeluaran kas mengalir melalui akun ini. Misalnya,
pengeluaran dalam siklus akusisi dan pembayaran biasanya dibayar melalui akun kas
umum, dan penerimaan kas dalam siklus penjualan dan penagihan juga disetorkan ke
dalam akun tersebut.
2. Akun Impres
Pada umumnya banyak perusahaan yang mengunakan akun impres. Misalnya,
membuat akun penggajian impres terpisah untuk meningkatkan pengendalian internal
pembayaran gaji. Saldo tetap, misalkan Rp. 5.000.000,- dibuat dalam akun bank
penggajian. Segera sebelum setiap periode pembayaran, suatu cek atas transfer elektronik
ditarik pada akun kas umum untuk menyetorkan total jumlah penggajian bersih ke akun
penggajian. Setelah cek untuk gaji dilakukan pada akun penggajian impres, akun bank
seharusnya memiliki saldo Rp. 5.000.000,-. Satu-satunya setoran ke dalam akun adalah
untuk penggajian mingguan dan semi bulanan dan satu-satunya pengeluaran adalah
pembayaran cek kepada karyawan.
Terdapat jenis akun impres lain yang terdiri atas satu akun bank untuk penerimaan
dan pengeluaran. Perusahaan bisa saja memilikin akun ini untuk setiap divisi berbeda.
Seluruh penerimaan disetorkan ke dalam akun impres dan totalnya dipindahkan ke akun
umum secara periodik. Akun pengeluaran dibentuk berbasis impres, tetapi dengan cara
yang berbeda dengan akun pengajian impres.

2
3. Akun Bank Cabang
Akun bank cabang berguna untuk membangun relasi dengan bank dalam komunitas
lokal dan memungkinkan sentralisasi operasional pada tingkat cabang. Dalam beberapa
perusahaan, penyetoran dan pengeluaran untuk setiap cabang dibuat dalam akun yang
berbeda, dan kelebihan kas secara periodik dikirimkan ke akun bank umum pada kantor
pusat. Akun cabang dalam ini seperti akun umum, tetapi pada tingkat cabang.
4. Dana Kas Kecil Impres
Dana kas kecil impres bukan merupakan akun bank, tetapi hampir sama dengan kas
pada bank. Kun kas kecil biasanya merupakan akun kas yang simpel untuk keperluan
biaya yang mendadak. Akun ini digunakan untuk pengeluaran kas berjumlah kecil yang
lebih mudah dibayarkan jika menggunakan uang tunai dibandingkan dengan cek atau
untuk memudahkan karyawan dalam mencairkan cek gaji atau pribadi.
5. Setara Kas
Perusahaan ini biasanya menginvestasikan kelebihan akumulasi kas dalam bagian
tertentu dalam suatu siklus, dimana kas tersebut akan diperlukan dalam waktu dekat dan
bisa disebut setara kas yang sangat likuid. Setara kas meliputi deposito berjangka,
sertifikat deposito, dan dana pasar uang. Setara kas bisa sangat material dan dimasukan
dalam laporan keuangan sebagai keuangan dari akun kas jika merupakan investasi jangka
pendek yang siap dikonversikan menjadi kas dalam jumlah yang pasti, dan tidak dapat
dirisiko signifikan atas perubahan nilai dari perubahan tingkat bunga. Sekuritas yang
dapat diperdagangkan dan investasi berbunga dengan jangka waktu yang lebih panjang
bukan merupakan setara kas.
6. Instrumen Keuangan
Akun instrument keuangan meliputi investasi dalam surat berharga seperti misalnya
sekuritas utang dan sekuritas saham, instrument derivatif, dan aktivitas hedging. Investasi
dalam instrument keuangan dapat dikelompokkan sebagai sekuritas untuk
diperdagangkan, tersedia untuk dijual, dan dimiliki sampai jatuh tempo, sedangkan
derivatif dapat dikelompokkan sebagai asset atau kewajiban, sesuai dengan standar
akuntansi keuangan.

3
B. KAS DI BANK DAN SIKLUS TRANSAKSI
Jumlah kas yang mengalir masuk ke dalam dan keluar dari akun kas sering kali lebih
besar dari pada jumlah kas yang mengalir untuk aku lainnya. Kas lebih rentan digelapkan
dari pada akun aset lainnya, karena sebagian besar aktiva lainnya itu harus dikonversikan
menjadi kas agar dapat digunakan. Auditor harus membedakan antara memverifikasi
rekonsiliasi saldo pada laporan bank dan saldo di buku besar umu, serta memverifikasi kas
yang tercatat merefleksikan dengan benar semua transaksi yang terjadi selama tahun tersebut.
Salah saji berikut menghasilkan kesalahan dalam pembayaran atau penerimaan kas, tetapi
tidak satupun dapat ditemukan dalam audit atas rekonsiliasi bank:
a. Kegagalan menagih pelanggan
b. Penggelapan kas dengan menghambat pembayaran kas dari konsumen sebelumnya
dicatat, dengan akun dianggap sebagai piutang tak tertagih
c. Kesalahan pembayaran faktur vendor
d. Pembayaran tidak semestinya atas biaya pribadi pejabat
e. Pembayaran atas bahan baku yang tidak diterima
f. Pembayaran atas karyawan lebih besar dari jam kerja actual
g. Pembayaran atas bunga pada pihak luar jumlahnya lebih besar dibandingkan tingkat
bunga sebenarnya.
Seluruh jenis salah saji yang berbeda tersebut biasanya umunya sebagai bagian dari
pengujian atas rekonsiliasi bank:
a. Kegagalan memasukkan cek yang belum di kliring oleh bank pada daftar cek yang
beredar, walaupun telah dicatat pada jurnal pengeluaran kas
b. Kas yang diterima dari klien setelah tanggal neraca, tetapi dicatat dalam penerimaan kas
pada tahun berjalan
c. Setoran dicatat sebagai penerimaan kas mendekati akhir tahun, disetorkan pada bank
dibulan yang sama, dan dimasukan dalam rekonsiliasi bank sebagai setoran dalam
perjalanan.
d. Pembayaran atas wesel bayar didebet langsung dari saldo bank oleh bank, tetapi tidak
dimasukkan dalam catatan klien.

4
C. AUDIT ATAS AKUN KAS UMUM
Dalam mengujian saldo akhir tahun dalam akun kas umum, auditor harus
mengakumulasikan bukti yang cukup memadai untuk mengevaluasi apakah kas, seperti yang
tercantum dalam neraca, telah dinyatakan dan diungkapkan secara layak sesuai dengan lima
dari delapan tujuan audit terkait saldo yang digunakan untuk seluruh pengujian perincian
saldo (eksistensi, kelengkapan, akurasi, pisah batas, dan detail tie-in). Hak atas kas umum,
klasifikasinya dalam neraca, dan nilai realisasi kas tidak dapat diaplikasikan. Metodologi
untuk kas pada akhir tahun sama dengan saldo akun neraca lainya.

Tahap I: Mengidentifikasi risiko bisnis klien yang mempengaruhi kas


Risiko bisnis klien dapat muncul dari kebijakan menajemen kas yang tidak tepat atau
penanganan dana yang dilakukan oleh pihak lain. Risiko bisnis klien lebih banyak muncul dari
Ekuivalen kas dan jenis investasi lainya. Auditor harus memahami risiko yang dari kebijakan dan
strategi investasi klien, serta pengendalian manajemen yang mengurangi risiko tersebut.
Tahap I: Menetapkan Salah Saji yang Dapat Ditoleransi dan Menilai Risiko Inheren
Saldo kas bersifat tidak material pada sebagian besar audit, tetapi transaksi kas yang
mempengaruhi saldo itu hampir selalu sangat material. Oleh karena itu, sering muncul potensi
salah saji material dalam kas. Karena kas lebih rentan terhadap pencurian dibandingkan aset
lainya, terdapat risiko inheren yang tinggi untuk tujuan eksistensi, kelengkapan dan keakuratan.
Tujuan tersebut biasanya akan berfokus pada audit saldo kas.
Tahap I: Menilai Risiko Pengendalian
Pengendalian internal atas saldo kas akhir tahun dalam akun umum dapat dibagi menjadi dua
kategori, yaitu:
1. Pengendalian atau siklus transaksi yang memengaruhi pencatatan kas.
2. Rekonsiliasi bank independen
Pengendalian yang mempengaruhi pencatatan transaksi kas, penting dalam penelitian dan
pengendalian untuk kas. Dalam siklus akuisisi dan pembayaran, pengendalian utama meliputi
pengendalian pemisahan tugas yang memadai antar fungsi hingga pasa verifikasi internal yang
memadai. Jika pengendalian yang mempengaruhi transaksi yang berhubungan kas beroperasi
efektif, risiko pengendalian akan menurun sebagaimana pengujian audit untuk rekonsiliasi bank
akhir tahun.

5
Rekonsiliasi bank merupakan pengendalian yang penting atas saldo akhir kas. Rekonsiliasi
itu akan memastikan bahwa catatan akuntansi mereflesikan saldo kas yang sama seperti jumlah
aktual kas di bank setelah mempertimbangkan item rekosiliasi. Rekonsiliasi bank yang cermat
oleh personil klien yang kompeten meliputi tindakan-tindakan berikut:
a. Membandingkan cek yang dibatalkan dengan catatan pengeluaran kas menyangkut
tanggal, payee dan jumlahnya.
b. Memeriksa cek yang dibatalkan menyangkut tanda tangan, endorsement dan pembatalan.
c. Membandingkan setoran di bank dengan penerimaan kas yang tercatat.
d. Memeriksa urutan nomer pada cek dan menyalidiki cek yang hilang.
e. Merekonsiliasi semua item yang menyebabkan perbedaan saldo dan meverifikasi
kesesuaiannya dengan bisnis klien.
f. Merekonsiliasi total debet pada laporan bank dengan total catatan pengeluaran kas.
g. Merekonsiliasi total kredit pada laporan bank dengan total catatan penerimaan kas.
h. Mereview transfer antar bank pada akhir bulan untuk melihat kesesuaian dan pencatatan
yang tepat.
i. Menindaklanjuti cek beredar dan pemberitahuan penghentian pembayaran.
Pengendalian rekonsiliasi bank dapat ditingkatkan dengan cara review rekonsiliasi bank
bulanan oleh karyawan yang kompeten segera setelah rekonsiliasi selesai.
Tahap II: Mendesain dan Melakukan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substansif
Atas Transaksi
Saldo kas dipengaruhi oleh seluruh siklus, kecuali persediaan dan pergudangan, sehingga
terdapat banyak sekali jumlah transaksi akun memengaruhi kas, dan transaksi kas akan diaudit
sepanjang pengujian siklus transaksi tersebut.
Tahap III: Merancang dan Melaksanakan Prosedur Analitis
Dalam banyak audit, rekonsiliasi bank pada akhir tahun di audit secara ekstensif. Karena itu
penggunaan prosedur analitis untuk menguji kewajaran saldo kas menjadi kurang penting
dibandingkan untuk sebagian besar audit lainya. Auditor biasanya juga membandingkan saldo
akhir kas dengan saldo bulan sebelumnya. Prosedur analitis tersebut mungkin akan
mengungkapkan salah saji dalam kas.
Tahap III: Merancang Pengujian Perincian Saldo Kas

6
Langkah awal dari verifikasi saldo dalam akun bank umum adalah mendapatkan rekonsiliasi
bank dari klien untuk dicantumkan dalam dokumentasi auditor. Tujuan yang paling penting
dalam audit kas pada pengujian atas rincian saldo adalah eksistensi, kelengkapan, dan
keakuratan, sehingga tujuan tersebut mendapat perhatian paling besar. Auditor juga melakukan
pengujian yang berhubungan dengan keempat tujuan penyajian dan pengungkapan. Prosedur
audit aktual bergantung pada materialitas dan risiko dalam kas yang sudah diidentifikasi auditor
pada audit di bagian lainya. Berikut tiga prosedur yang layak dibahas lebih lanjut karena arti
penting dan kompleksitasnya: penerimaan konfirmasi bank, penerimaan laporan pisah batas bank
dan pengujian rekonsiliasi bank.
1. Penerimaan Konfirmasi Bank
Meskipun tidak disyaratkan oleh standar audit, auditor biasanya meminta konfirmasi dari
setiap bank atau institusi keuangan lainnya yang berbisnis dengan klien, kecuali jika terdapat
sejumlah besar akun yang tidak aktif. Pentingnya konfirmasi bank dalam audit lebih dari sekedar
verifikasi saldo kas aktual. Bank tidak bertanggung jawab untuk mencari pencatatan atas saldo
bank atau pinjaman selain yang dimasukkan dalam formulir dari klien kantor akuntan publik.
Dampak dari tanggung jawab yang terbatas ini mensyaratkan auditor agar memenuhi tujuan
kelengkapan atas saldo dan utang bank yang tidak tercatat dengan cara lain. Jika auditor
menginginkan konfirmasi atas jenis informasi ini, maka mereka harus mendapatkan konfirmasi
yang terpisah dari institusi keuangan yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Setelah auditor
menerima konfirmasi bank secara lengkap, saldo dalam akun bank yang dikonfirmasi oleh bank
harus ditelusuri ke saldo yang disebutkan dalam konfirmasi bank. Jika konfirmasi bank tidak
sesuai dengan skedul audit, maka auditor harus memeriksa selisihnya.
2. Permintaan atas Laporan Bank Pisah Batas
Tujuan dari laporan bank atas pisah batas adalah untuk memberikan verifikasi bagian yang
direkonsiliasi pada rekonsiliasi bank klien di akhir tahun dengan bukti yang tidak dapat diakses
ke klien. Untuk memenuhi tujuan ini, auditor meminta klien agar bank mengirimkan laporan
langsung kepada auditor dalam waktu 7 samoai 10 hari setelah tanggal neraca. Banyak auditor
melakukan verifikasi periode laporan bank jika laporan pisah batas tidak diterima langsung dari
pihak bank. Tujuannya adalah untuk menguji apakah karyawan klien tidak memasukkan,
menambahkan, atau menggantikan dokumen sesuai dengan laporan. Pengujian ini jelas

7
dilakukan untuk salah saji yang disengaja. Auditor melakukan verifikasi berikut ini dalam bulan
setelah tanggal neraca:
a. Memfooting daftar semua cek yang dibatalkan.
b. Memverifikasi bahwa laporan bank dalam keadaan seimbang ketika total footing
digunakan.
c. Mereview item yang dibatalkan dala footing untuk memastikan bahwa hal yang sudah
dibatalkan oleh bank pada periode yang tepat dan tidak memasukkan penghapusan atau
perubahan
3. Pengujian Rekonsiliasi Bank
Auditor menguji rekonsiliasi bank untuk menentukan apakah pihak klien sudah menyiapkan
rekonsiliasi dengan cermat dan melakukan verifikasi apakah saldo bank yang dicatat klien sama
jumlahnya dengan kas di bank, kecuali bila ada setoran dalam perjalanan, cek beredar, dan jenis
rekonsiliasi lainnya. Dalam verifikasi rekonsiliasi, auditor menggunakan informasi dalam
laporan bank atas pisah batas untuk melakukan verifikasi kewajaran rekonsiliasi. Verifikasi
auditor dalam rekonsiliasi meliputi beberapa prosedur:
a. Melakukan verifikasi bahwa rekonsiliasi bank klien akurat secara matematis.
b. Menelusuri saldo konfirmasi bank dan atau saldo awal pada laporan pisah batas ke saldo
per bank pada rekonsiliasi bank utnuk memastikan jumlahnya sama.
c. Menelusuri cek yang ditulis dan dicatat sebelum akhir tahun dan dimasukkan ke laporan
bank atas pisah batas ke daftar cek beredar pada rekonsiliasi bank dan juga jurnal
pengeluaran kas dalam periode neraca atau periode sebelumnya.
d. Menyelidiki seluruh cek yang jumlahnya signifikan termasuk dalam daftar cek beredar
yang belum dikliring oleh bank pada laporan pisah batas.
e. Menelusuri setoran dalam perjalanan ke laporan pisah batas bank.
f. Memperhitungkan item yang direkonsiliasi lainnya pada laporan bank dan rekonsiliasi
bank.

D. PROSEDUR-PROSEDUR BERORIENTASI KECURANGAN


Auditor harus memperluas prosedur dalam audit akhir tahun untuk menentukan kemungkinan
adanya kecurangan yang material apabila pengendalian internal tidak memadai. Dalam
merancang prosedur audit untuk mengungkap kecurangan auditor harus mempertimbangkan

8
secara teliti sifat kelemahan pengendalian internal, jenis kecurangan yang mungkin terjadi,
materialitas kecurangan yang potensial dan prosedur audit yang efektif untuk mengungkapnya.
Prosedur yang dapat mengungkapkan kecurangan dalam penerimaan ks masuk antara lain:
konfirmasi piutang dagang, pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi lapping, mereview ayat
jurnal buku besar umum akun kas untuk pos yang tidak biasa, memebandingkan pesanan,
penjualan dan penerimaan kas, memerika persetujuan dan dokumen pendukung untuk piutang
tidak tertagih dan retur. Sedangkan untuk mengungkapkan kecurangan yang berhubungan secara
langsung dengan saldo kas akhir tahun terdapat 3 prosedur yang mungkin dilakukan yaitu:
1. Memperluas Pengujian atas Rekonsiliasi Bank
Jika auditor yakin rekonsiliasi bank disalah saji dengan sengaja, maka perlu dilakukan
perluasan pengujian atas rekonsiliasi bank akhir tahun. Prosedur yang dilakukan auditor :
a. Memulai rekonsiliasi bank dan membandingkan semua item dengan cek yang dibatalkan
dan dokumen lainnya.
b. Membandingkan semua cek yang dibatalkan dan slip setoran dalam laporan bank
tertanggal dengan jurnal pengeluaran dan penerimaan kas.
c. Menelusuri seluruh item yang belum dikliring dan jurnal penerimaan dan pengeluaran
kas ke rekonsiliasi bank klien untuk memastikan semua sudah dimasukkan.
d. Memverifikasi bahwa seluruh bagian rekonsiliasi dalam rekonsiliasi bank dari jurnal
untuk rekonsiliasi bank tertanggal yang belum dikliring ke bank.
2. Pembuktian Kas
Auditor menggunakan pembuktian kas jika pengendalian internal terhadap kas lemah
untuk menentkan: semua penerimaan kas yang tercatat telah disetorkan, seluruh setoran ke
bank dicatat dalam pencatatan akuntansi, seluruh pengeluaran kas dibayarkan oleh bank,
seluruh jumlah yang dibayarkan oleh bank sudah dicatat. Bukti kas memasukkan empat tugas
rekonsiliasi yaitu:
a. Merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besar pada awal periode bukti kas.
b. Merekonsiliasi penerimaan kas yang disetorkan ke bank dengan penerimaan yang tercatat
dalam jurnal penerimaan kas pada periode tertentu.
c. Merekonsiliasi kliring cek yang dibatalkan dicatat dalam jurnal pengeluaran kas untuk
periode tertentu.

9
d. Merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besar pada akhir periode
pembuktian kas.
Ketika mengumpulkan pembuktian kas, auditor mengkombinasikan pengujian susbtantif
atas transaksi dan pengujian perincian saldo. Pembuktian kas merupakan metode yang sangat
baik dalam membandingkan pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas dengan akun bank
dan rekonsiliasi bank.
3. Pengujian Transfer Antarbank
Pengujian transfer bank penting untuk menguji kiting dan kesalahan tidak sengaja dalam
mencatat transfer antarbank. Terdapat beberapa yang sebainya diaudit dalam skedul transfer
antara bank, yaitu:
a. Keakuratan informasi pada jadwal transfer antarbank harus diverifikasi
b. Transfer antarbank harus dicatat, baik di bank penerima maupun bank yang mengirimkan.
c. Tanggal pencatatan pengeluaran dan penerimaan untuk setiap transfer harus dilakukan di
tahun fiskal yang sama.
d. Pengeluaran pada skedul transfer antarbank harus dimasukkan atau dikeluarkandengan
benar dari rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai cek beredar.
e. Penerimaan dalam skedul tranfer antarbank harus dimasukkan atau dikeluarkan dengan
benar dari rekonsiliasi bank akhir tahun sebagai setoran dalam perjalanan.
Walaupun pengujian audit atas transfer antarbank biasanya terkait kecurangan, tindakan
ini juga bisa dilakukan banyak transfer antarbank tanpa memerhatikan pengendalian internal.
Bila ada kemungkinan kiting, maka dapat mengakibatkan salah perhitungan antara kas dan
utang dagang.

D. PENGAUDITAN AKUN-AKUN INSTRUMEN KEUANGAN


Dalam pengujian saldo-saldo instrument keuangan akhir tahun, auditor harus
mengumpulkan bukti yang cukup dan akurat untuk mengevaluasi apakah akun-akun
instrument keuangan, sebagaimana Nampak dalam neraca telah disajikan dengan wajar dan
diungkapkan dengan tepat, sesuai degan delapan tujuan audit saldo yang digunakan untuk
pengujian rinci saldo(keberadaan, kelengkapan, keakuratan, penggolongan,pisah-
batas,kecocokan saldo, nilai bersih bisa terealisasi , dan hak).

10
Tahap I: Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien Terhadap Instrumen Keuangan

Risiko bisnis yang berpengaruh terhadap instrument keuangan berbeda-beda


ttterganntung pada signifikansi dan keagresifan suatu perusahaan dalam aktivitas investasi.
Risiko akan tinggi untuk perusahaan yang melakukan investasi dalam sekuritas atau instrument
keuangan derivatif yang kurang likuid, dan apabila investasi mencermikan proporsi yang besar
terhadap total aset. Perusahaan-perusahaan jasa keuangan memiliki risiko tinggi karena tingginya
volume aktivitas dan jenis instrument yang diperdagangkan, sebagai contoh, banyak perusahaan
menderita kerugian cukup besar sebagai akibat dari aktivitas investasi dan sado kas yang tidak
tepat. Auditor harus mendapatkan pemahaman mengenai risiko dari kebijakan dan strategi
investasi klien, dan bagaimana manajemen mengatasi hal tersebut.

Tahap II: Menetapkan Materialitas Kinerja dan Menilai Risiko Inheren

Saldo akun-akun instrument keuangan bisa material tergantung kepada tipe dan frekuensi
aktivitas investasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko inheren instrument keuangan
meliputi : tujuan manajemen berkaitan dengan aktivitas investasi (misalnya : untuk
meminimumkan risiko), kompleksitas sekuritas atau derivatif, pengalaman perusahaan di masa
lalu dengan investasi tertentu, dan apakah faktor eksternal seperti misalnya risiko kredit atau
risiko tingkat bunga berdampak terhadap asersi-asersi yang relevan. Banyak dari risiko tersebut
berkaitan dengan tujuan keakuratan, penggolongan, dan nilai bisa direalisasi. Faktor lain yang
menambah risiko inheren untuk instrument keuangan adalah kompleksitas standar akuntansi
yang relevan. Sebagaian besar instrument keuangan diniliai berdasarkan taksiran nilai wajar (fair
value estimates). Standar akuntansi membedakan estimasi nilai wajar level satu (bisa
diobservasi, misalnya “quoted”, harga di pasar aktif untuk aset dan utang), dan estimasi level dua
atau level tiga. Estimasi level dua menggunakan input yang bisa diobservasi (langsung atau tidak
langsung) yang bukan quoted price, seperti misalnya harga untuk aset atau utang yang serupa,
sedangkan estimasi level tiga menggunakan input yang tidak bisa diobservasi seperti misalnya
pricing model atau aliran kas didiskonto (discounted cash flow). Estimasi-estimasi tersebut
membutuhkan pertimbangan manajemen yang signifikan dan auditor juga perlu
mempertimbangkan insentif manajemen untuk menggolongkan investasi apakah sebagai level
dua atau level tiga. Semua risiko tersebut dikombinasikan dengan volatilitas pasar terakhir dan

11
potensi pasar menjadi tidak likuid, menghasilkan potensi signifikan untuk terjadinya kesalahan
penggolongan saldo-saldo instrument keuangan.

Tahap I : Menilai Risiko Pengendalian

Auditor harus mendapatkan pemahaman mengenai perancangan dan efektivitas


pengoperasian pengendalian internal yang berkaitan dengan inisiasi, otorisasi, pengolahan,
pengukuran nilai wajar, dan pengungkapan aktivitas investasi. Di atas segalanya, yang terpenting
adalah bahwa manajemen memiliki: (1) strategi investasi dan pemahaman tentang tingkat
berbagai risiko; (2) prosedur yang diterapkan untuk menggolongkan instrument keuangan
sebagai untuk diperdagangkan (trading), tersedia untuk dijual, atau disimpan hingga jatuh tempo;
(3) prosedur-prosedur yang diterapkan untuk menginisiasi, mencatat transaksi, dan (4)
pengendalian internal yang kuat dalam mengestimasi nilai pasar, seperti misalnya personil yang
memiliki keahlian dan pengalaman dalam menilai estimasi level dua dan level tiga. Apabila
perusahaan klien menggunakan organisasi jasa, seperti misalnya penasihat investasi atau
manajer, untuk mengelola aktivitas investasi klien, auditor perlu juga memperoleh pemahaman
tentang pengendalian pada organisasi jasa tersebut. Auditor sering kali mengandalkan pada
pengendalian internal organisasi jasa apabila auditor yang mengaudit perusahaann jasa
menerbitkan laporan tentang pengendalian internal perusahaan jasa tersebut. Bila tidak demikian,
auditor perlu mencari bantuan dari spesialis/pakar atau mengandalkan pada spesialis yang
dimiliki kantor akuntan untuk memahami system informasi yang relevan.

Tahap II : Merancang dan Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujian


Substantif Transaksi

Berbeda dengan akun-akun yang lain di mana auditor dapat memilih untuk melakukan
pengujian substantif yang lebih luas dan mengurangi pengandalan atas pengendalian , penilaian
pengendalian internal atas instrument keuangan diperlukan untuk mengurangi risiko audit ke
tingkat yang dapat diterima, terutama untuk tujuan audit transaksi. Pengujian transaksi yang
dilakukan berkaitan dengan instrument keuangan meliputi pembelian dan penjualan sekuritas dan
derivatif atau transaksi hedging, laba-rugi yang berkaitan, dan pendapatan bunga dan dividen.
Auditor biasanya mengandalkan pada laporan (pemberitahuan dari pialang kepada klien yang
rinci tentang pembelian dan penjualan) dari manajer investasi untuk menguji pembelian dan
penjualan sepanjang pengendalian dipandang efektif, menelusur pembayaran atau hasil yang

12
diperoleh ke catatan pengeluran kas dan penerimaan kas, dan juga memeriksa ketelitian
perhitungan laba atau rugi. Pendapatan bunga dapat dihitung ulang, demikian pula dividen dapat
dihitung ulang dan dibandingkan ke sumber-sumber independen.

Tahap II: Merancang dan Melaksanakan Prosedur Analitis

Prosedur analitis biasanya tidak begitu penting dalam menilai saldo akhir tahun
instrument keuangan karena saldo-saldo tersebut bisa berfluktuasi dari tahun ke tahun, dan tidak
selalu berkaitan dengan akun yang lain. Namun demikian, prosedur analitis bisa digunakan untuk
menguji kewajaran pendapatan bunga dan dividen. Auditor juga bisa membandingkan presentase
relatif investasi pada ketiga kategori nilai wajar (level satu, dua, atau tiga) dari tahun ke tahun
untuk menilai perubahan dalam srategi investasi atau risiko portfolio.

Tahap III: Merancang Pengujian Rinci Saldo Instrumen Keuangan

Titik tolak pengujian saldo akhir akun-akun instrument keuangan adalah mendapatkan
suatu daftar (skedul) aktivitas investasi selama tahun yang diperiksa. Daftar aktivitas investasi
meliputi saldo awal, pembelian dan penjualan instrument keuangan termasuk laba atau rugi, dan
saldo akhir yang dicatat pada nilai wajar pasar atau nilai lain sesuai dengan standar akuntansi
keuangan yang berlaku. Daftar tersebut juga berisi pendapatan dividend dan pendapatan bunga.
Tujuan audit saldo dan pengujian rinci saldo atas instrument keuangan yang lazim dilakukan
auditor dapat dilihat pada Tabel 20. Tujuan terpenting adalah keberadaan, keakuratan, nilai bisa
direalisasi untuk investasi dalam sekuritas, sedangkan kelengkapan juga penting untuk keuangan
derivatif. Tujuan penyajian dan pengungkapan juga sangat penting karena banyaknya
persyaratan dan pengungkapan berkaitan dengan estimasi nilai wajar.

Auditor meminta konfirmasi dari pialang untuk mengonfirmasi investasi yang dimiliki
pada akhir tahun termasuk transaksi yang sudah selesai maupun yang belum selesai selama tahun
yang diaudit. Konfirmasi memberi keyakinan tentang keberadaan, kelengkapan, dan keakuratan.
Ini penting untuk secara serempak memeriksa saldo kas, setara kas, dan instrument keuangan
untuk memastikan bahwa manajemen tidak berusaha menutupi kekurangan kas dengan cara
mencatat ganda (double counting) kas. Pengujian yang lebih luas berkaitan demgan kelengkapan
diperlukan untuk instrument keuangan yang derivatif yang ada, seperti misalnya memeriksa

13
kontrak dan juga membaca notulen rapat dewan komisaris berkaitan dengan aktivitas hedging
dan investasi

Pengujian berkaitan dengan nilai bisa direalisasi bisa berbeda-beda tergantung pada jenis
sekuritas dan standar akuntansi yang berlaku. Standar akuntansi bisa mensyaratkan bahwa
instrument keuangan dicatat atas dasar biaya perolehan (cost), nilai wajar, atau berdasarkan hasil
keuangan di tempat penanaman.

Tabel 20 Tujuan Audit Saldo dan Pengujian Rinci Saldo Untuk Akun-akun Instrumen
Keuangan

Tujuan Audit Saldo Prosedur-prosedur Pengujian Komentar


Rinci Saldo
Instrumen-instrumen keuangan Jumlahkan menurun daftar Investasi bisa diklasifikasikan sebagai
yang tercantum daftar aktivitas aktivitas investasi untuk diperdagangkan, tersedia
investasi telah dijumlah menurun dijual, dan disimpan hingga jatuh
dengan benar dan cocok dengan Periksa kebenaran penjumlah dan tempo.
buku besar pengurangan dalam daftar
aktivitas investasi Daftar mencakup sekuritas yang
dinilai menggunakan estimasi nilai
Telusur saldo akhir per kategori wajar level satu, level dua, atau level
ke buku besar tiga.

Instrument keuangan yang Konfirmasi kepaada pialang Biasanya konfirmasi dipandang sudah
tercantum dalam daftar aktivitas memberi bukti yang cukup tanpa
investasi benar-benar ada Inspeksi fisik sekuritas atau auditor melakukan inspeksi fisik atas
(keberadaan) kontrak derivative sekuritas atau kontrak.

Instrumen keuangan yang ada Inspeksi perjanjian Sekuritas dan kontrak biasanya
telah dicatat (kelengkapan) disimpan oleh pialang.

Instrumen keuangan yang


tercantum dalam daftar aktivitas
investasi benar-benar akurat
(keakuratan)

Instrumen keuangan telah Pengujian ketepatan sebagai Penggolongan ini didasarkan pada
digolongkan dengan tepat dalam diperdagangkan, tersedia dijual, tujuan manajemen dan
laporan keuangan (penggolongan) atau disimpan hingga jatuh membutuhkan pertimbangan
tempo

Periksa ketepatan penggolongan


dalam catatan kaki tentang
estimasi nilai wajar level 1, 2,

14
atau level 3.

Transaksi instrumen keuangan Periksa sejumlah transaksi Pisah batas lebih penting dalam
telah dicatat pada periode yang menjelang akhir tahun dan pengujian transaksi karena klien ingin
tepat (pisah-batas) laporan dari pialang untuk mencatat laba atau rugi penjualan
memastikan bahwa transaksi pada akhir tahun.
dicatat pada periode yang tepat

Instrument keuangan yang Periksa kuota harga pasar. Ini adalah tujuan yang paling sulit
tercantum dalam daftar aktivitas untuk diuji, dan prosedurnya bisa
investasi akhir tahun telah di Uji penggolongan yang dibuat berbeda tergantung pada strategi
tetapkan dengan jumlah yang manajemen investasi klien serta jenis instrument
tepat sesuai dengan standar keuangannya.
akuntansi keuangan yang berlaku Ujilah asumsi manajemen
(nilai bisa direalisasi) berkaitan denan penilaian

Pertimbangkan untuk
menggunakan pakar/spesialis
untuk menguji estimasi nilai
wajar

Pertimbangkan apakah
diperlukan untuk mengakui
kerugian karena penurunan nilai

Perusahaan mempunyai hak Periksa dokumen pendukung dan Hak diuji dalam kaitannya dengan
kepemilikan atas instrumen kontrak-kontrak pengujian keberadaan dan
keuangan yang tercantum dalam keakuratan ketika me-review
daftar aktivitas investasi (hak) Konfirmasi ketentuan-ketentuan pembelian.
penting dalam kontrak derivative

Review notulen rapat dewan


komisaris untuk memastikan ada
tidaknya sekuritas yang dijadikan
argumen

15
DAFTAR PUSTAKA

Jusuf, Al Haryono. 2014. Auditing (pengauditan berbasis ISA).Bagian penerbitan


Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN: Yogyakarta.

16