Anda di halaman 1dari 27

SISTEM ENDOKRIN

Disusun oleh:

Golongan : P

Anggota :

1. Paulina
2. Sifa Rosiyana
3. Ulvita Devi A.W
4. Fabiola Melinda Dewes
5. Aida Nur Fitriani
Asisten :
Ida Ayu A. P., M.Farm.,Apt.

FAKULTAS FARMASI

UNIVERITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA

2018
Golongan : P

Hari : Selasa

Jam Praktikum : 10.30 – 12.30 WIB

Penanggung Jawab Laporan : Aida Nur Fitriani

Kelompok Membuat Praktikum :

1. Paulina (2443018348)
2. Sifa Rosiyana (2443018217)
3. Ulvita Devi A.W (2443018136)
4. Fabiola Melinda D (2443018266)
5. Aida Nur Fitriani (2443018348)
BAB I

TUJUAN PRAKTIKUM

1. Untuk dapat menjelaskan peranan sistem endokrin dalam menjaga homeostasis tubuh dan
dapat menjelaskan mekanisme kerja isulin dalam menurunkan kadar gula darah.
2. Mengetahui macam-macam sistem di dalam tubuh manusia, khususnya sistem endokrin
3. Mengetahui dan memahami berbagai kelenjar yang ada di dalam sistem endokrin di dalam
tubuh manusia
4. Mengetahui berbagai jenis hormon yang disekresikan oleh berbagai kelenjar di dalam sistem
endokrin beserta dengan perbedaannya,sebagai contohnya adalah kelenjar pankreas .
BAB II

LANDASAN TEORI

Dalam tubuh manusia sistem endokrin (selain sistem saraf) berkoordinasi dan
mengintegrasikan fungsi sistem fisiologis yang berbeda. Dengan demikian, sistem endokrin
memainkan peran penting dalam mempertahankan homeostasis pada manusia. Peran ini dimulai
dengan bahan kimia, yang disebut hormon, yang disekresikan dari kelenjar endokrin. Kelenjar
hormon akan mengeluarkan hormon ke dalam kompartemen cairan ekstraseluler. Lebih khusus
lagi, darah biasanya membawa hormon ke sel target. Sel target bisa sangat dekat, atau sangat
jauh dari sumber hormon.

Hormon mengikat reseptor afinitas tinggi yang terletak di permukaan sel target, yaitu
sitosol, atau di nukleusnya. Reseptor hormon ini memiliki kepekaan yang luar biasa, dan
kemudian dapat melakukan tindakan biologis melalui mengenali sifat kimia dari hormon dan
lokasi reseptornya di sel target. Struktur kimia hormon penting dalam menentukan bagaimana ia
akan berinteraksi dengan sel target. Peptida dan hormon katekolamin adalah hormon yang
bertindak cepat yang menempel pada plasma. Misalnya, zat kimia yang disebut cAMP (siklik
adenosin monofosfat) disintesis dari molekul ATP.

Hormon steroid dan tiroksin (hormon tiroid) adalah hormon slow-acting yang
memasuki sel target dan berinteraksi dengan nukleus untuk mempengaruhi transkripsi berbagai
protein yang dapat disintesis oleh sel. Hormon-hormon itu menyentuh nukleus dan menempel
pada titik-titik tertentu pada DNA. Setiap lampiran menyebabkan produksi mRNA spesifik, yang
kemudian dipindahkan ke sitoplasma dimana ribosom dapat menerjemahkan mRNA menjadi
protein. Organ-organ sistem endokrin tidak dapat berfungsi secara independen. Aktivitas satu
kelenjar endokrin sering dikoordinasikan dengan aktivitas kelenjar lain. Tidak ada fungsi sistem
yang terpisah dari sistem lain. Mengingat pengaruh kuat yang dimiliki hormon pada homeostasis.
Mekanisme umpan balik negatif penting dalam mengatur sekresi hormon sintesis, dan efektivitas
pada sel target. Umpan balik negatif memastikan bahwa jika tubuh membutuhkan hormon
tertentu, hormon itu akan diproduksi sampai jumlahnya terlalu banyak. Ketika ada terlalu banyak
hormon maka pelepasannya akan dihambat. Pelepasan oksitosin dari hipofisis posterior adalah
salah satu contoh langka ini.
Oksitosin adalah hormon yang menyebabkan lapisan otot rahim, yang disebut
miometrium, berkontraksi saat melahirkan. Kontraksi miometrium ini menyebabkan oksitosin
tambahan untuk dilepaskan. memungkinkan kontrnctions yang lebih kuat. Tidak seperti apa yang
terjadi pada umpan balik negatif mcchanisms. peningkatan kadar oksitosin yang beredar tidak
menghambat sekresi oksitosin. Banyak metode eksperimental dapat digunakan untuk
mempelajari fungsi kelenjar endokrin. Metode-metode ini termasuk memindahkan kelenjar dari
hewan dan kemudian menyuntikkan, menanamkan. atau mengeluarkan ekstrak kelenjar ke
hewan normal atau hewan yang dicabut dari kelenjar yang sedang dipelajari.

Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang
menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi
organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke
berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu
tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar
keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu merupakan kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya
langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar-kelenjar tersebut tanpa melewati
duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut dengan hormon. Beberapa kelenjar endokrin ada
yang menghasilkan lebih dari satu macam hormon (hormon ganda) dan ada yang menghasilkan
satu macam hormon (hormon tunggal), misalnya kelenjar hipofisis sebagai pengatur kelenjar
yang lain. Kelenjar-kelenjar endokrin ini pula memiliki peranan yang sangat penting, tetapi
dengan fisiologis yang berbeda-beda, di dalam tubuh manusia berperan untuk menjaga
keseimbangan aktivitas tubuh.

Insulin merupakan hormon yang terdiri dari rangkaian asam amino yang dihasilkan oleh
sel beta kelenjar pankreas. Dalam keadaan normal, bila ada rangsangan pada sel beta, insulin
disintesis dan kemudian disekresikan kedalam darah sesuai kebutuhan tubuh untuk keperluan
regulasi glukosa darah. Secara fisiologis, regulasi glukosa darah yang baik diatur bersama
dengan hormon glukagon yang disekresikan oleh sel alfa kelenjar pankreas.
Sintesis insulin dimulai dalam bentuk preproinsulin (precursor hormon insulin) pada retikulum
endoplasma sel beta. Dengan bantuan enzim peptidase, preproinsulin mengalami pemecahan
sehingga terbentuk proinsulin, yang kemudian dihimpun dalam gelembung-gelembung
(secretory vesicles) dalam sel tersebut. Di sini, sekali lagi dengan bantuan enzim peptidase,
proinsulin diurai menjadi insulin dan peptida-C (C-peptide) yang keduanya sudah siap untuk
disekresikan secara bersamaan melalui membran sel. Insulin mempunyai fungsi penting pada
berbagai proses metabolisme dalam tubuh terutama metabolisme karbohidrat. Hormon ini sangat
krusial perannya dalam proses utilisasi glukosa oleh hampir seluruh jaringan tubuh, terutama
pada otot, lemak, dan hepar. Pada jaringan perifer seperti jaringan otot dan lemak, insulin
berikatan dengan sejenis reseptor (insulin receptor substrate = IRS) yang terdapat pada membran
sel tersebut. Ikatan antara insulin dan reseptor akan menghasilkan semacam sinyal yang berguna
bagi proses regulasi atau metabolisme glukosa di dalam sel otot dan lemak, meskipun
mekanisme kerja yang sesungguhnya belum begitu jelas. Setelah berikatan, transduksi sinyal
berperan dalam meningkatkan kuantitas GLUT-4 (glucose transporter-4) dan selanjutnya juga
pada mendorong penempatannya pada membran sel. Proses sintesis dan translokasi GLUT-4
inilah yang bekerja memasukkan glukosa dari ekstra ke intrasel untuk selanjutnya mengalami
metabolism. Untuk mendapatkan proses metabolisme glukosa normal, selain diperlukan
mekanisme serta dinamika sekresi yang normal, dibutuhkan pula aksi insulin yang berlangsung
normal. Rendahnya sensitivitas atau tingginya resistensi jaringan tubuh terhadap insulin
merupakan salah satu faktor etiologi terjadinya diabetes, khususnya diabetes tipe 2.

Gangguan metabolisme glukosa yang terjadi, diawali oleh kelainan pada dinamika
sekresi insulin berupa gangguan pada fase 1 sekresi insulin yang tidak sesuai kebutuhan
(inadekuat). Defisiensi insulin ini secara langsung menimbulkan dampak buruk terhadap
homeostasis glukosa darah. Yang pertama terjadi adalah hiperglikemia akut pascaprandial (HAP)
yakni peningkatan kadar glukosa darah segera (10-30 menit) setelah beban glukosa (makan atau
minum).

GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN

1. Penyakit Addison
Terjadi karena sekresi yang berkurang dariglukokortikoid. Hal ini dapat terjadi misalnya karena
kelenjar adrenal terkena infeksi atau oleh sebab autoimun.
Gejala – gejalanya berupa :
a. Berkurangnya volume dan tekanan darah karena turunnya kadar Na+ dan volume air dari
cairan tubuh.
b. Hipoglikemia dan turunnya daya tahan tubuh terhadap stress, sehingga penderita mudah
menjadi shock dan terjadi kematian hanya karena stress kecil saja misalnya flu atau kelaparan.
c. Lesu mental dan fisik.

2. Sindrom Cushing
Kumpulan gejala – gejala penyakit yang disebabkan oleh sekresi berlebihan dari glukokortikoid
seperti tumor adrenal dan hipofisis. Juga dapat disebabkan oleh pemerian obat – obatan
kortikosteroid yang berlebihan.
Gejalanya berupa :
a. Otot – otot mengecil dan menjadi lemah karena katabolisme protein.
b. Osteoporosis
c. Luka yang sulit sembuh
d. Gangguan mental misalnya euphoria (terasa segan)
3. Sindrom Adrenogenital
Kelainan dimana terjadi kekurangan produksi glukokortikoid yang biasanya akibat kekurangan
enzim pembentuk glukokotikoid pada kelenjar adrenal. Akibatnya kadar ACTH meningkat dan
zona retikularis dirangsang untuk mensekresi androgen yang menyebabkan timbulnya tanda –
tanda kelainan sekunder pria pada seorang wanita yang disebut virilisme yang timbulnya janggut
dan distribusi rambut seperti pria, otot – otot tubuh seperti pria, perubahan suara, payudara
mengecil, klitoris membesar seperti penis dan kadang – kadang kebotakan.
Pada pria di bawah umur timbul pubertas perkoks, yaitu timbulnya tanda – tanda kelamin
sekunder di bawah umur. Pada pria dewasa gejala – gejala diatas tertutup oleh tanda – tanda
kelamin sekunder normal yang disebabkan oleh testosterone. Tetapi bila timbul sekresi
berlebihan dari estrogen dan progesterone timbul tanda – tanda kelamin sekunder wanita antara
lain yaitu ginaekomastia (payudara membesar seperti pada wanita).
4. Peokromositoma
Tumor adrenal medulla yang menyebabkan hipersekresi adrenalin dan noradrenalin dengan
akibat sebagai berikut :
a. Basa metabolisme meningkat
b. Glukosa darah meningkat
c. Jantung berdebar
d. Tekanan darah meninggi
e. Berkurangnya fungsi saluran pencernaan
f. Keringat pada telapak tangan
Kesemuanya menyebabkan berat badan menurun dan tubuh lemah. Pengobatanya melalu
operasi.

Pembengkakan dari kelenjar tiroid yang menimbulkan pembenjolan pada leher bagian depan.
Penyebab struma antara lain peradangan, tumor ataupun defisiensi yodium. Pada defisiensi
yodium, struma terjadi karena kadar T4 dan T3 menurun, kadar TASH meningkat, hal ini
menrangsang sel – sela folikel untuk hipertropi dan hyperplasia.

5. Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit yang disebabkan oleh kalainan hormon yang
mengakibatkan sel – sel dalam tubuh tidak dapat menyerap glukosa dari darah. Penyakit ini
timbul ketikda dala darah tidak terdapat cukup insulin dalam darah. Pada kedua hal tersebut, sel
– sel tubuh tidak mendapat cukup glukosa daridarah sehingga kekurangan energi dan akhirnya
terjadi pembakaran cadangan lemak dan protein tubuh. Sementara itu, system pencernaan tetap
dapat meyerap glukosa dari makanan sehingga kadar glukosa dalam darah menjadi sangat tinggi
dan akhirnya diekskresi bersama urin. Penderita DM dapat meninggal karena penyakit yang
dideritanya atau karena komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini, misalnya penyakit ginjal,
gangguan jantung dan gangguan saraf.
DM terdapat dua macam tipe yaitu DM Tipe I (insuline dependent) yaitu diabetes yang timbul
akibat dari kerusakan sel – sel beta pancreas karena infeksi virus atau kerusakan gen. Gen adalah
materi genetic yang membawa sifat – sifat yang diturunkan. Diabetes tipe I biasanya timbul
sebelum penderita berusia 15 tahun. Penderita membutuhkan suplemen insulin yang diberikan
dengan cara penyuntikan.
DM tipe II timbul karena sel – sel tubuh tidak mampu bereaksi terhadap indulin walaupun sel –
sel beta pancreas memproduksi cukup insulin. Penyakit ini bersifat mneurun dan merupakan
akibat kerusakan gen yang mengkode reseptor insulin pada sel. Biasanya DM tipe II berasosiasi
dengan kegemukan dan baru timbul setelah penderita berusia 40 tauhn. Penyakit ini dapat
dikontrol dengan pengaturan konsumsi gula dan mengurangi berat badan. Selain itu dianjurkan
untuk mengurangi konsumsi lemak dan garam.
Bagaimana cara mendeteksi diabetes, gejala awal diabetes ialah penderita merasa lemas, tidak
bertenaga, ingin makan yang manis, sering buang air kecil, dan mudah sekali merasa haus.
Kombinasi dari gejala – gejala di atas serta memiliki kerabat yang juga menderita diabetes
mengharuskan seseorang melakukan tes toleransi glukosa. Pada tes toleransi glukosa diharuskan
minum larutan gula kemudian kadar glukosanya diukur pada tiap interval waktu.
Diabetes bukan satu – satunya penyakit yang ditimbulkan oleh insulin. Bebrapa orang memiliki
sel – sel beta pancreas yang terlalu aktif sehingga mensekresi terlalu banyak insulin ketika
mengkonsumsi gula. Sebagia akibatnya kadar glukosa dalam darah turun dibawah normal.
Kondisi ini disebut hipoglisemia, biasanya terjadi 2 – 4 jam setelah makan, yang ditandai dengan
rasa lapar, lemas, berkeringat, dan gelisah. Pada beberapa kasus, otak tidak mendapat cukup
glukosa sehingga penderita dapat menjadi pingsan, koma, bahkan meninggal. Hipoglisemia tidak
lazim ditemukan dan kebanyakan dapat dikontrol dengan meningkatkan frekuensi makan yan
glebih serind dan dalam jumlah kecil.
6. Hipotiroidea
Keadaan dimana terjadi kekurangan hormone tiroid. Bila terjadi pada masa bayi dan anak,
hipotiroidea menimbulkan kretinisme yaitu tubuh menjadi pendek karena pertumbuhan tulang
dan otot tersumbat, disertai kemunduran mental karena sel – sel otak kurang berkembang.
Anak yang keratin memiliki muka bulat, perut buncit, leher pendek, dan lidah yang besar.
Kretinisme dapat diobati dengna pemberian hormone tiroid asalkan tidak terlambat. Bila terjadi
pada orang dewasa, hipotiroidea menimbulkan miksedema. Gejala – gejala berupa kulit tebal,
muka bengkak, rambut kasar, mudah gemuk, lemah, denyut jantung lambat, suhu tubuh rendah,
lamban secara fisik atau mental. Hipotiroid dapat terjadi bila terdapat defisiensi yodium pada
makanan. Hal ini dapat dihindarkan dengan mengkonsumsi garam beryodium.
7. Hipertiroidea
Keadaan dimana hormone tiroid disekresikan melebihi kadar normal. Gejala – gejalanya berupa
berat badan menurun, gemetaran, berkeringat, nafsu makan besar, jantung berdebar dan BMR
maneingkatmelebihi 20 sampai 100.
Hipertiroidea paling sering terdapat pada penyakit Graves, suatu penyakit auto imun dimana
terbentuk antibody (thyroid stimulating antibody, TSA6) terhadap reseptor TSH pada sel –sel
tiroid, mengaktifkan reseptor – reseptor. Ini, maka kadar T4 dan T3 darah meninkat. Penyakit
Graves juga disertai dengan goiter (struma, pembengkakan kelenjar tiroid, dan penonjolan bola
mata (eksoptalmus) yang disebabkan oleh reaksi radang terhadap imun kompleks pada otot bola
mata eksternal dan jaringan sekitar bola mata
BAB III

ALAT DAN BAHAN

1. Propylthiouracil
2. Air deionisasi
3. Tabung reaksi
4. Spektrofotometer
5. Dxa
6. Hpllc
7. Reusable syringe
8. Tikus
9. Pipet
BAB IV

LANGKAH KERJA

4.1 Activity 1

4.1.1 Mengetahui Stimulasi BMR pada Tikus

a. Menimbang Berat Badan Tikus Normal pada chamber


b. Menutup tabung bagian atas sehingga tikus hanya menghirup oksigen dalam tabung
c. Berikan waktu 1 menit selama tikus menghirup udara dalam tabung tertutup
d. Setelah itu, menghubungkan manometer dan spuit dengan membuka T-C0nnector agar
tikus dapat menghirup udara dari luar
e. Mengamati manometer lengan kiri dan kanan, setelah itu suntik tambahkan oksigen
hingga mencapai level atau keadaan yang sama dengan manometer kiri dan kanan
f. Menghitung konsumsi oksigen perjam serta metabolisme kg berat tikus
Memeriksa tiroid apakah ada gondok pada hewan coba
g. Kemudian memulihkan peralatan seperti semula, lalu ulangi pada Tikus propylthiouracil,
dan Tikus hypophysectomized

4.1.2 Memberikan Reaksi Tiroid pada Metabolisme Tikus

a. Mengisi syiringe dengan Tiroksin


b. Menyuntikkan Injeksi Tiroksin pada bagian belakang Tikus normal
c. Meletakkan tikus yang telah diinjeksi kedalam chamber
d. Mencatat hasil dari berat tikus, jumlah oksigen yang dikonsumsi tikus dalam satu menit,
oksigen tikus per jam, tingkat metabolisme tikus, dan hasil palpasi tiroid akan dihasilkan
e. Membersihkan jejak injeksi tiroksin dan syringe
f. Mengulangi percobaan injeksi Tiroksin pada tikus tiroidektomi (Tx) dan tikus
hypophysectomized (Hypox)

4.1.3 Menentukan Pengaruh TSH pada Tingkat Metabolisme

a. Menyuntikkan injeksi TSH ke kaki belakang tikus normal


b. Meletakkan tikus yang telah diinjeksi TSH kedalam chamber
c. Mencatat hasil dari berat tikus, jumlah oksigen yang dikonsumsi tikus dalam satu menit,
oksigen tikus per jam, tingkat metabolisme tikus, dan hasil palpasi tiroid akan dihasilkan
d. Membersihkan jejak injeksi TSH dan syringe
e. Mengulangi percobaan injeksi TSH pada tikus tiroidektomi (Tx) dan tikus
hypophysectomized (Hypox)

4.1.4 Menentukan Pengaruh Propylthiouracil pada Tingkat Metabolisme

a. Menyuntikkan injeksi propylthiouracil ke bagian belakang tikus normal.


b. Meletakkan tikus yang telah diinjeksi propylthiouracil kedalam chamber
c. Mencatat hasil dari berat tikus, jumlah oksigen yang dikonsumsi tikus dalam satu menit,
oksigen tikus per jam, tingkat metabolisme tikus, dan hasil palpasi tiroid akan dihasilkan
d. Membersihkan jejak injeksi propylthiouracil secara instan dan syringe
e. Mengulangi percobaan injeksi propylthiouracil pada tikus tiroidektomi (Tx) dan tikus
hypophysectomized (Hypox)

4.2 Glukosa Plasma, Insulin, dan Diabetes Mellitus

4.2.1 Mengembangkan Kurva Standar Glukosa

a. Menyiapkan lima tabung reaksi yang mengandung jumlah glukosa yang berbeda
pula,yakni (30mg/dl, 60mg/dl, 90mg/dl, 120mg/dl, 150mg/dl)
b. Menentukan pembacaan kerapatan optik untuk masing-masing konsentrasi glukosa
Menggunakan spektrofotometer
c. Meletakkan 5 tabung reaksi pada unit inkubasi
d. Meneteskan larutan standar glukosa ke dalam masing-masing tabung menggunakan pipet.
Untuk tabung pertama 30mg/dl berikan 1 tetes, tabung 2 diberikan 2 tetes, tabung 3
diberikan 3 tetes, tabung 4 diberikan 4 tetes, dan tabung 5 juga diberikan 5 tetes
e. Memberikan air deionisasi menggunakan pipet pada tabung 30mg/dl 4 tetes, tabung
60mg/dl 3 tetes, tabung 90mg/dl 2 tetes, tabung 120mg/dl 1 tetes dan tabung 150mg/dl
tidak diberikan air deionisasi.
f. Kemudian mencampur larutan yang berada dalam tabung
g. Setelah itu, memusatkan isi tabung menggunakan proses sentrifugasi
h. Menghapus pellet yang terbentuk selama proses sentrifugasi
i. Meneteskan enzyme colour reagent kedalam masing-masing tabung 5 tetes
j. Menginkubasi kelima tabung, masukkan tabung pertama untuk posisi pertama setelah itu
lanjut pada tabung yang lain
k. Merekam hasil optikal density dan glukosa masing masing tabung menggunakan
spektrofotometer.

4.2.2 Mengukur Tingkat Glukosa Plasma Puasa

a. Menyiapkan lima tabung reaksi


b. Meneteskan masing masing sampel darah sesuai tabung sebanyak 3 tetes
c. Meneteskan air deionisasi pada masing masing tabung sebanyak 5 tetes
d. Meneeteskan barium hidroksida pada masing masing tabung sebanyak 5 tetes
e. Meneeteskan heparin pada masing masing tabung sebanyak 1 tetes, kemudian campurkan
f. Setelah itu, memusatkan isi tabung menggunakan proses sentrifugasi
g. Menghapus pellet yang terbentuk selama proses sentrifugasi
h. Meneeteskan enzyme colour reagent pada masing masing tabung sebanyak 5 tetes
l. Menginkubasi kelima tabung , masukkan pertama pertama pertama untuk posisi pertama
setelah itu lanjut pada tabung yang lain
i. Menganalisis kelima tabung pada spektrofotometer dan reka data.

4.3 Terapi Penggantian Hormon

a. Mengisi jarum suntik dengan 1 ml saline.


b. Meletakkan ujung jarum di daerah perut bawah tikus.Suntikan ke area ini dianggap
intraperitoneal dan akan cepat diedarkan oleh pembuluh darah perut.
c. Membersihkan jarum suntik dari semua residu.
d. Mengisi jarum suntik dengan 1 ml estrogen.
e. Menyuntikkan jarum suntik ke tikus yang diberi estrogen, menempatkan ujung jarum di
daerah perut bawah tikus.
f. Membersihkan jarum suntik dari semua residu.
g. Mengisi jarum suntik dengan 1 ml kalsitonin.
h. Mneyuntikkan ke tikus yang dikalsinasi kalsitonin, letakkan ujung jarum di daerah perut
bawah tikus. Lalu ulangi langkah yang ketiga untuk membersihkan jarum suntik.
i. Setiap tikus harus menerima tujuh suntikan selama tujuh hari (satu suntikan per hari).
Suntikan yang tersisa akan otomatis.
j. Mengulangi rangkaian suntikan masing-masing tikus tujuh kali.
k. Memberikan anestesi untuk melakukan pemindaian X-ray.
l. Merekam data untuk mencatat hasil eksperimen tersebut.

4.4 Mengukur Kortisol dan Hormon Adrenocorticotropic

a. Menyiapkan kolom untuk pemisahan dan pengukuran kortisol.


b. Mengisi jarum suntik dengan plasma yang diisolasi dari pasien pertama
c. Meletakkan jarum suntik ke injektor HPLC. Sampel memasuki tabung dan mengalir
melalui kolom. Konsentrasi kortisol dalam sampel pasien akan muncul di layar detektor
HPLC.
d. Merekam data hasil percobaan
e. Membersihkan bagian bawah jarum suntik untuk sampel berikutnya.
f. Membersihkank Kolom untuk menghapus sisa kortisol dari kolom
g. Mengulang percobaan selanjutnya pada pasien ke 2
h. Mengisi jarum suntuk dengan plasma yang diisolasi dari pasien ketiga, dan ketika
konsentrasi kortisol untuk pasien ketiga dicatat dalam kisi, ulangi pada plasma pasien ke
empat dan kelima.
i. Menyiapkan kolom untuk pemisahan dan pengukuran ACTH.
j. Meletakkan spuit ke tabung pertama untuk mengisi plasma yang diisolasi dari pasien
pertama
k. Meletakkan jarum suntik ke injektor HPLC. Sampel memasuki tabung dan mengalir
melalui kolom. Konsentrasi kortisol dalam sampel pasien akan muncul di layar detektor
HPLC.
l. Merekam data hasil percobaan
m. Membersihkan bagian bawah jarum suntik untuk sampel berikutnya.
n. Membersihkank Kolom untuk menghapus sisa ACTH
o. Mengulangi percobaan pada pasien kedua
p. Mengisi jarum suntuk dengan plasma yang diisolasi dari pasien ketiga, dan ketika
konsentrasi ACTH untuk pasien ketiga dicatat dalam kisi, ulangi pada plasma pasien ke
empat dan kelima.
q. Mengecek tinggi atau rendahnya konsentrasi kortisol dan ACTH (tingkat) untuk setiap
pasien menggunakan breakpoint
BAB V

HASIL PRAKTIKUM

5.1 Activity 1

Rat Weight ml ml BMR Palpation Injected


(g) O2/mi O2/hr (ml O2/kg/hr)
n
Normal 249 7.2 432.00 1734.94 No Mass none
Tx 245 6.3 378.00 1542.86 No Mass none
Hypox 245 6.3 378.00 1542.86 No Mass none
Normal 249 8.5 510.00 2048.19 No Mass thyroxine
Tx 245 7.7 462.00 1885.71 No Mass thyroxine
Hypox 245 7.8 468.00 1910.20 No Mass thyroxine
Normal 249 8.1 486.00 1951.81 Mass TSH
Tx 245 6.3 378.00 1542.86 No Mass TSH
Hypox 245 7.7 462.00 1885.71 Mass TSH
Normal 249 6.3 378.00 1518.07 Mass ptu
Tx 245 6.3 378.00 1542.86 No Mass ptu
Hypox 245 6.3 378.00 1542.86 No Mass ptu

Pada data diatas menunjukkan bahwa ketika tidak diberikan injeksi tikus normal memiliki nilai
BMR yang lebih tinggi sebesar 1734.94. Terlihat bahwa tikus normal memiliki laju metabolik
lebih tinggi dibandingkan tikus tyroidectomized dan tikus hypophysectomized (Hypox). Tetapi
tikus Tx memiliki laju metabolik yang hampir atau relatif sama dengan tikus Hypox. Pada saat
pemberian tiroksin, data yang diperoleh menunjukkanbahwa ketiga tikus mengalami peningkatan
metabolik. Pada tikus normal tetap diperoleh laju metabolic degan angka yang paling tinggi,
serta ntuk tikus Tx dan tikus hypox juga terjadi kenaikan akibat pemberian tiroksin dengan
perbandingan angka yqang tidak terlalu jauh. Kemudian kelompok tikus diberikan TSH, dan data
yang diperoleh menunjukkan adanya kenaikan laju metabolik hanya pada tikus normal dan tikus
hypox, tidak pada tikus Tx yang laju metaboliknya tetap sama seperti pada saat pemberian
tiroksin. Kemudian untuk percobaan laju metabolic terakhir, tikus-tikus diberikan PTU yang
kemudia diperoleh yang menunjukkan adanya penurunan angka metabolik pada tikus normal,
kemudian tidak terjadi peningkatan pada tikus Tx dan tikus hypox terdapat sedikit peningkatan
laju metabolik.
55.2 Activity 2

Tube Optical Density Glukose


(mg/deciler)
Part 1 1 0,30 30
2 0,50 60
3 0,60 90
4 0,80 120
5 1,0 150
Part 2 1 0,73 160
2 0,79 160
3 0,89 160
4 0,83 160
5 0,96 160

Dari gambar diatas dapat disimpulkan pada part 1 dalam tube 1-5 optical densitynya mengalami
peningkatan dan berpengaruh pada glukosa yang juga mengalami peningkatan,sedangkan pada
part 2 pada tube 1-5 optical densitinya mengalami peningkatan tetapi pada tube 4 optical
densitynya mengalami penurunan,dan glukosanya tetap atau stabil.

Rat Elapsed Days Saline Estrogen Calcitonin T score


injections
injections injections
Control 7 7 0 0 -2.82
Estrogen 7 0 7 0 -1.53
Calcitonin 7 0 0 7 -2.21
5.3 Activity 3

Pada tabel di atas dapat dilihat tikus dalam kondisi terkontrol yang diberikan suntikan yang berisi
saline lalu di suntikkan ke tikus 1x penyuntikan per hari dalam waktu 7 hari. Setelah sudah
disuntik 1x per hari dalam jangka waktu 7 hari tersebut, tikus akan diberikan anestesi atau sering
disebut obat bius sementara, lalu dilakukan pemindaian X-ray. Lalu hasil pemindaian X-ray pada
tikus dalam keadaan terkontrol akan menghasilkan T score pada tikus dalam kondisi terkontrol
tersebut adalah -2.82. Pada tikus dalam kondisi estrogen diberikan suntikan yang berisi estrogen
juga dengan pemberian 1x suntikan per hari dalam jangka waktu 7 hari. Seteleah 7 hari
penyuntikan tikus tersebut akan diberikan anestesi atau obat bius untuk dilakukan pemindaian X-
ray. Lalu hasil pemindaian X-ray pada tikus dalam kondisi estrogen akan menghasilkan T score
sebesar -1.53, sehingga bisa dapat di simpulkan bahwa pada saat tikus dalam kondisi estrogen
akan menghasilkan T score yang rendah dari tikus dalam keadaan terkontrol. Pada tikus dalam
kondisi kalsitonin diberikan juga suntikan yang berisi obat kalsitonin dengan pemberian 1x
suntikan per hari dalam jangka waktu 7 hari. Setelah 7 hari penyuntikan tikus tersebut diberikan
anestesi atau obat bius untuk dilakukan pemindaian X-ray. Lalu hasil pemindaian X-ray pada
tikus dalam kondisi kalsitonin akan menghasilkan T score sebesar -2.21. Dalam eksperimen kali
ini memiliki tujuan tertentu yaitu untuk memahami istilah terapi penggantian hormon, hormon
perangsang folikel (FSH), estrogen, kalsitonin, osteoporosis, ovariektomi, dan skor T, untuk
memahami bagaimana kadar estrogen mempengaruhi kepadatan tulang, dan untuk memahami
potensi manfaat terapi penggantian hormon.

5.4 Activity 4 . Mengukur Hormon Kortisol dan Adrenocorticotropic

Patient Cortisol High/Low ACTH High/Low


(mcg/dl) (pg/ml)
1 2.52 Low 16.42 Low
2 35.97 High 13.96 Low
3 46.27 High 83.23 High
4 Low 95.77 High
4.00
5 High 17.21 Low
48.63

Berdasarkan gambar diatas dapat kita simpulkan bahwa pasien dengan penyakit cushing memiliki nilai
Cortisol dan ACTH yang tinggi. Perbedaan itu terjadi cukup signifikan apabila kita bandingkan dengan
pasien cushing syndrome yang nilai Cortisolnya lebih tinggi dari nilai ACTH nya.

Berdasarkan gambar diatas dapat kita simpulkan bahwa pasien dengan penyakit cushing
memiliki kadar Cortisol dan kadar ACTH yang sama sama tinggi. Berbeda dengan pasien
hypopituitarisme yang memiliki kadar Cortisol dan ACTH yang sama sama rendahnya. Pasien
dengan penyakit cushing syndrom cenderung memiliki kadar Cortisol lebih tinggi dibandingkan
dengan kadar ACTH nya. Namun pasien dengan penyakit Addision memiliki kadar ACTH yang
lebih tinggi dibandingkan dengan kadar Cortisolnya.
BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Pembahasan Hasil Praktikum

6.1.1 Activity 1

Pada Praktikum kali ini menggunakan 3 hewan coba yang sama namun dalam keadaan
yang berbeda. Tiga tikus yang berbeda yaitu tikus normal, tikus tyroidectomized, dan tikus
hypophysectomized. Tikus normal adalah tikus coba yang kondisinya normal, tikus ini digunakan
dalam percobaan untuk mengetahui metabolik tikus normal. Tikus tyroidectomized (Tx) adalah
tikus yang telah kehilangan kelenjar tiroidnya sehingga di dalam tubuhnya tidak dihasilkan
hormon tiroksin, dan terakhir untuk tikus hypophysectomized (Hypox) merupakan tikus yang
telah kehilangan kelenjar hipofisisnya sehingga tidak menghasilkan hormon TSH. Pada masing-
masing tikus akan disuntikkan injeksi tiroksin, TSH, dan PTU. Kemudian dalam jumlah
penggunaan oksigen tiap jam disebutkan sebagai laju metabolism dikarenakan proses
metabolisme hewan percobaan memerlukan oksigen sehingga laju metabolisme dapat
diibararatkan dengan penggunaan oksigen per jam.

Tikus normal memiliki angka laju metabolik yang paling tinggi, dan tikus Tx memiliki
laju yang relatif sama dengan tikus hypox. Hal ini karena tikus Tx sudah tidak memiliki kelenjar
tiroid, apasih kelenjar tiroid itu?kelenjar tiroid yaitu kelenjar yang dpat menghasilkan hormon
tiroksin, dan sebgai hormon yang berperan dalam proses metabolisme, sehingga proses
metabolismenya pun menjadi lambat. Kemudian pada tikus hypox tidak lagi memiliki kelenjar
hipofisis yang yang berfungsi untuk melepaskan TSH (thyroid-stimulating hormone).

Kemudian dilakukan kembali percobaan untuk mengetahui pengaruh pemberian tiroksin


terhadap BMR pada setiapi keadaan tikus. Data yang diperoleh menunjukkan kenaikan laju
metabolik pada semua kelompok tikus. Pada tikus normal tetap menunjukkan angka laju yang
paling tinggi karena memiliki kadar tiroksin yang paling tinggi.. Untuk tikus Tx dan tikus hypox
angka laju metaboliknya meningkat menjadi angka normal dikarenakan pada awalnya tidak
terdapat tiroksin pada tubuh tikus sehingga membuat laju metaboliknya rendah kemudian
diberikan tiroksin, laju metaboliknya menjadi meningkat. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa
pemberian hormon tiroksin dapat meningkatkan laju metabolisme tubuh.

6.1.2 Activity 2

Hormone insulin sangat penting untukpengaturan kadar glukoa dalam plasma karena dapat
meneyerap glukosa dari aliran darah, Pada percobaan ke lima tabung part 1, optical densitynya
mengalami peningkatan sehingga berpengaruh pada glukosa yang juga mengalami peningkatan
setelah ditambahkan beberapa tetes dari berbagai larutan diatas,sedangkan pada part 2 pada tube
1-5 optical densitinya mengalami peningkatan tetapi pada tube 4 optical densitynya mengalami
penurunan, serta memiliki glukosa yang tetap atau stabil.

6.1.3 Activity 3

Pada percobaan dengan dilakukannya X-ray pada tikus perobaan, didapatkan bahwa tikus yang
terkontrol, tikus yang telah sintikkan esterogen dan kalsitonin yang masing masing diberikan
suntikkan sebanyak tujah kali dalam sehari menunjukan hasil yang berbdea. Pada efek terapi
hormone kali ini menunjukkan bahwa hasil dari tikus yang diinjeksi saline lebih tinggi
dibandingkan kedua tikus dengan esterogen dan calcitonin. Hormone estergoen dalam plasma
sedniri merupakan hasil dari pengeluaran hormone steroid dari pertumbuhan folikel ovarium.
Setelah menopause, hormone esterogen akan terjadi penurunan produksi.

6.1.4 Activity 4

Pada percobaan didapatkan bahwa pasien yang mempunyai penyakit cushing memiliki kortisol
dan kadar ACTH yang sama sama tinggi. Kemudian pada pasien hypopituitarisme memiliki
kadar Cortisol dan ACTH yang sama sama rendahnya, berbeda dengan hasil pasien dengan
penyakit cushing syndrom memiliki kadar Cortisol lebih tinggi dibandingkan dengan kadar
ACTH nya. Namun pasien dengan penyakit Addision memiliki kadar ACTH yang lebih tinggi
dibandingkan dengan kadar Cortisolnya.

Kortisol merupakan hormone yang disekresikan oleh korteks adrenal, dan berepran penting
dalam respon tubuh. Kemudian pelepasan kortisol sendiri dirangsang oleh hormone ACTH dan
hormone tropic yang dilepaskan oleh hipofisis anterior. Pelepasan kadar kortisol yang negative
menghambat pelepasan kedua ACTH dan CRH. Maka dari itu, semakin tinggi kadar kortisol dan
ACTH menunjukkan bahwa pasien menderita penyakit cushing.

6.2 Pembahasan Pertanyaan Activity 1

6.2.1 Part 1

1. Tikus mana yang memiliki laju metabolisme basal tercepat (BMR)?


Jawab: Tikus normal yang diberi injeksi tiroksin
2. Mengapa tingkat metabolisme berbeda antara tikus normal dan tikus yang mengalami
pembedahan? Seberapa baik hasilnya dibandingkan dengan prediksi Anda?
Jawab: Karena tikus normal bisa menghasilkan hormon sesuai dengan kebutuhannya
tetapi tikus yang mengalami pembedahan yang telah diambil kelenjarnya tidak dapat
mengasilkan hormon dengan normal sehingga tikus normal lebih baik metabolismenya.
3. Jika seekor hewan telah tiroidektomi, hormon apa yang akan hilang dalam darahnya?
Jawab: Hormon tiroksin
4. Jika seekor hewan telah hypophysecsomized, apa efek yang Anda harapkan untuk
melihat dalam kadar hormon dalam tubuhnya?
Jawab: efek hormon TRH yang tidak bisa dirangsang untuk mendapatkan hormon TSH
6.2.2 Part 2
1. Apa efek injeksi tiroksin pada BMR tikus normal?
Jawab : Injeksi tiroksin pada tikus normal menyebabkan peningkatan BMR daripada
seblum diberikan injeksi. Efek dari injeksi tiroksin pada tikus normal yaitu, tikus tersebut
mengalami hipertiroid tetapi tidak menyebabkan gondok.
2. Apa efek injeksi tiroksin pada BMR tikus tyroidectomized? Bagaimana BMR dalam hal
ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Apakah dosis tiroksin dalam suntik terlalu
besar, terlalu kecil, atau tepat?
Jawab. Efek dari injeksi tiroksin pada tikus Tx ialah tikus tersebut mengalami hipertiroid.
Pada awal sebelum pemberian, tikus tx mengalami hipotiroid, baru setelah diinjeksikan
tiroksin, berubah mengalami hipertiroid. Adanya perubahan pada BMR setelah
disuntikkan tiroksin dapat berkemungkinan dosis tiroksin terlalu besar.
3. Apa efek injeksi tiroksin pada BMR tikus hypophysectomized? Bagaimana BMR dalam
hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Apakah dosis tiroksin dalam suntik
terlalu besar, terlalu kecil, atau tepat?
Jawab : Tikus hypox menjadi hipertiroid. Pada keadaan awal, tikus ini mengalami
hipotiroid, namun setelah diinjeksikan tiroksin, berubah menjadi hipertiroid. Sama
seeprti tikus tx, kemungkinan dosis tiroksin terlalu besar sehingga terjadi perubahan

6.2.3 Part 3

1. Apa efek dari suntikan stimulasi tiroid pada BMR tikus normal
Jawab : Dari data pengamatan terlihat bahwa tikus normal memiliki laju metabolic yang
jauh berbeda disbanding tikus tiroidektomi dan tikus hipofisektomi. Laju metabolic tikus
normal tinggi karena pada tikus tersebut masih dihasilkan hormone tiroksin,sebap
tikustersebut masih memiliki kelenjar tiroid dan kelenjar hipofisis sehingga regulasi
hormone berjalan normal.
2. Apa efek dari suntikan TSH pada BMR tiroidektomi? bagaimana BMR dalam hal ini
dibandingkan dengan BMR tius normal? Mengapa efek ini diamati
Jawab : Tikus tiroidektomi memiliki laju metabolic yang relative sama dengan tikus
Hipofisikektomi. Hal ini karena tikus tiroidektomi sudah tidak memiliki kelenjar tiroid
yang menghasilkan hormone tiroksin. Hormone ysng berperan dalam proses
metabolism,srhingga proses metabolismenya menjadi lambat.
3. Apa efek dari suntikan TSH pada BMR tikus hyphopysectomized? Bagaimana BMR
dalam hal ini dibandingkan dengan BMR tikus normal? Apakah dosis TSH dalam
suntikan terlalu besar,kecil,atau tepat?
Jawab : Tikus Hipofisikektomi tidak lagi memiliki kelenjar hipofisis yang merupakan
kelenjar yang berfungsi melepaskan TSH ,yaitu hormone yang menstimulasi pelepasan
hormone tiroksin,sehingga tidak ada tiroksin ysng dilepaskan. Oleh karena itu laju
metabolic tikus Hipofisikektomi lebih rendah dibandingkan tikus normal. Metabolisme
adalah sama karena itu tidak benar, tetapi mencoba dengan hormon untuk
menyamakannya.
6.2.4 Part 4
1. Apa efek injeksi propylthiouracil pada tingkat BMR normal? mengapa tikus ini
mengembangkan gondok yang teraba?
Jawab : Efek suntikan PTU pada tikus normal dapat menurunkan BMR dari sebelum di
injeksi. Karena adanya penumpukan tiroksin yang cukup banyak, menyebabkan tikus
mengalami gondok yang teraba
2. Apa efek dari suntikan PTU pada tingkat BMR tiroidektomi? bagaimana BMR dalam hal
ini dibandingkan dengan BMR tingkat normal? mengapa efek ini diamati?
Jawab : Efek suntikan PTU pada tikus tyroidectomized tidak terlihat karena tidak ada
kelenjar tiroid yang mempengaruhi
BMR tikus tyroidectomized setelah di injeksi PTU dibandingkan dengan sebelum di
injeksi tidak ada peningkatan ataupun penurunan, sedangkan untuk BMR tikus normal
terdapat perubahan setelah pemberian injeksi PTU.
3. Apa efek suntikan PTU pada tingkat BMR yang hipofisektomi? bagaimana BMR dalam
kasus ini dibandingkan dengan BMR tingkat normal? Mengapa efek ini diamati?
Jawab : Efek suntikan PTU pada tikus hypophysectomized tidak terlihat disebabkan tikus
kehilangan kelenjar pituitary.
BMR pada tikus hypophysectomized setelah diberikan injeksi PTU, tikus mengalami
sedikit peningkatan, sedangkan pada BMR tikus normal terdapat perubahan yang sangat
Nampak setelah diberikan injeksi PTU.
BAB VII
KESIMPULAN

7.1 Activity 1
BMR yang paling besar dimiliki oleh tikus normal, tikus normal yang belum diberi injeksi
ataupun yang sudah diberi injeksi. Tetapi pada injeksi propylthiouracil tikus normal, tikus
thyroidectomized dan tikus hypophysectomized memiliki BMR yang sama.
7.2 Activity 2
Diabetes mellitus adalah penyakit yang disebabkan oleh kelainan hormon yang
mengakibatkan sel-sel dalam tubuh tidak dapat menyerap glukosa dari darah. Penyakit ini
timbul ketika di darah tidak terdapat cukup insulin. Semakin banyak glukosa maka semakin
besar nilai densitasnya
7.3 Activity 3
Ketiga hewan coba tersebut mengalamami osteoporosis, osteopenia dan osteopenia. Karena
pada tikus yang osteoporosis memiliki nilai kuantitatif dibawah -2.5, pada tikus yang
osteopenia memiliki nilai kuantitatif diatas -1.0 dan tidak melebihi -2.49.
7.4 Activity 4
Ketika kadar kortisol dan ACTH meningkat maka orang tersebut memiliki penyakit cushing
yang disebabkan oleh tumor pituitari anterior.
BAB VIII
DAFTAR PUSTAKA

http://ilmusainsbiologi.blogspot.com/2011/05/laporan-anfisman-sistem-endokrin.html
Buku Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia
http://ogysogay.blogspot.com/2011/04/sistem-endokrin-laporan-anfisman.html
http://kamilajuanda.blogspot.com/2017/04/laporan-anfisman-sistem-endokrin.html