Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kecenderungan hubungan agama dan kesehatan mental telah banyak ditelusuri dari
zaman kuno yang masih menganggap suatu penyakit sebagai intervensi makhluk gaib,
hingga zaman modern yang menggunakan alat medis dalam mendiagnosa adanya suatu
penyakit. Masyarakat modern pada saat ini memandang bahwa penyakit hanya akan
terdiagnosis apabila muncul gejala-gejala biologis. Teknologi yang telah mengalami
kemajuan pada saat ini membawa manusia kepada keyakinan bahwasannnya suatu
penyakit muncul hanya karena faktor fisik saja. Asumsi pada zaman kuno yang
menyatakan bahwa makhluk halus ada hubungannya dengan suatu penyakit dapat
dipatahkan dengan penggunaan alat medis yang canggih yang membuktikan bahwa itu
adalah kuman atau virus.
Sejak awal-awal abad kesembilan belas oleh dikatakan para ahli kedokteran mulai
menyadari akan adanya hubungan antara penyakit dengan kondisi psikis manusia.
Hubungan timbal balik ini menyebabkan manusia dapat menderita gangguan fisik yang
disebabkan oleh gangguan mental dan sebaliknya gangguann mental dapat menyebabkan
penyakit fisik. Terkait dengan kesehatan mental tentunya tidak lepas dengan peran serta
agama. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai bagaimana pengaruh agama tersebut
kaitannya dengan kesehatan mental.

1.2 TUJUAN PENULISAN


1.2.1 TUJUAN UMUM
Mengetahui konsep terapi spiritual pada lansia
1.2.2 TUJUAN KHUSUS
1.2.2.1 Manpu mengetahui definisi dari spiritual
1.2.2.2 Manpu mengetahui definisi terapi keagamaan
1.2.2.3 Manpu mengetahui dimensi spiritual pada lansia
1.2.2.4 Manpu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual
1.2.2.5 Manpu mengetahui perkembangan spiritual pada lansia
1.2.2.6 Manpu mengetahui agama dan pengaruhnya terhadap spiritual
1.2.2.7 Mampu mengetahui perubahan fungsi spiritual

1
1.3 MANFAAT PENULISAN
Penulis berharap makalah ini dapat bemanfaat bagi mahasiswa untuk menerapkan
pembelajaran teoritis tentang konsep terapi spiritual pada lansia.

1.4 SISTEMATIKA PENULISAN


Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah :
BAB I : Pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan,
dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan teoritis yang berisi definisi dari spiritual, definisi terapi keagamaan,
dimensi spiritual pada lansia, faktor-faktor yang mempengaruhi spiritual,
perkembangan spiritual pada lansia, dan agama, pengaruhnya terhadap
spiritual dan perubahan fungsi spiritual.

BAB III : penutup yang berisi simpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definisi Spiritual


Spiritual adalah kebutuhan dasar dan pencapaian tertinggi seorang manusia dalam
kehidupannya tanpa memandang suku atau asal-usul. Kebutuhan dasar tersebut meliputi:
kebutuhan fisiologis, keamanan dan keselamatan, cinta kasih, dihargai dan aktualitas diri.
Aktualitas diri merupakan sebuah tahapan Spiritual seseorang, dimana berlimpah dengan
kreativitas, intuisi, keceriaan, sukacita, kasih sayang, kedamaian, toleransi, kerendahatian
serta memiliki tujuan hidup yang jelas (Maslow 1970, dikutip dari Prijosaksono, 2003).
Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha
Pencipta (Hamid, 1999). Spiritual juga disebut sebagai sesuatu yang dirasakan tentang
diri sendiri dan hubungan dengan orang lain, yang dapat diwujudkan dengan sikap
mengasihi orang lain, baik dan ramah terhadap orang lain, menghormati setiap orang
untuk membuat perasaan senang seseorang. Spiritual adalah kehidupan, tidak hanya doa,
mengenal dan mengakui Tuhan (Nelson, 2002).
Beberapa istilah yang membantu dalam pemahaman tentang spiritual adalah :
kesehatan spiritual adalah rasa keharmonisan saling kedekatan antara diri dengan orang
lain, alam, dan lingkungan yang tertinggi (Hungelmann et al, 1985 dalam Potter & Perry,
1995). Ketidakseimbangan spiritual (Spirituality Disequilibrium)adalah sebuah
kekacauan jiwa yang terjadi ketika kepercayaan yang dipegang teguh tergoncang hebat.
Kekacauan ini seringkali muncul ketika penyakit yang mengancam hidup berhasil
didiagnosis (Taylor, 2002 dikutip dari Young, 2007).

2.2 Definisi Terapi Keagamaan

Terapi keagamaan adalah terapi yang menggunakan unsur-unsur agama dalam


pengobatan permasalahan kesehatan mental. Pendekatan terapi keagamaan dapat dirujuk
dari informasi al-Qur’an sendiri sebagai kitab suci.
Dalam kondisi dimana seseorang tidak mampu menahan keinginan bagi terpenuhinya
kebutuhan dirinya, maka dalam kondisi seperti itu akan terjadi pertentangan (konflik)
dalam batin. Pertentangan ini akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan
rohani yang dalam kesehatan mental disebut dengan kekusutan rohani. Kekusutan rohan
seperti ini disebut dengan kekusutan fungsional.

3
Bentuk kekusutan fungsional ini bertingkat, yaitu psychopat, psychoneuros,
psikotis. Psychoneuros ditandai bahwa seseorang tidak mengikuti tuntutan-tuntutan bagi
masyarakat. Pengidap psychoneuros menunjukkan perilaku menyimpang. Sedangkan
penderita psikotis dinilai mengalami kekusutan mental yang berbahaya sehingga
memerlukan perawatan khusus.
Sedangkan menurut Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, menyebut bahwa agama sangat
penting bagi kesehatan jasmani dan rohani. Dilihat dari batasan WHO tahun 1984,
katanya, aspek agama atau spiritual merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan
secara keseluruhan. Lebih jauh, Dadang menyatakan, dalam agama Islam bagi mereka
yang sakit dianjurkan untuk berobat kepada ahlinya guna memperoleh terapi medis yang
disertai doa dan dzikir. Sebab dipandang dari sudut kesehatan jiwa, doa dan dzikir ini
jelas mengandung unsur psikoterapeutik yang mendalam. Terapi psikoreligius tidak kalah
pentingnya dibanding psikoterapi psikiatrik, karena ia mengandung kekuatan spiritual
yang membangkitkan rasa percaya diri dan optimisme. Dua hal tadi (percaya diri dan
optimisme) amatlah penting bagi penyembuhan suatu penyakit baik mental maupun
kejiwaan.
Semua uraian-uraian di atas secara garis besarnya adalah memberitahukan bahwa
agama digunakan sebagai terapi dalam penyembuhan penyakit gangguan mental atau
jiwa. Hal ini juga tidak terlepas dari keeratan hubungan antara agama dengan kesehatan
mental. Karena hubungan tersebut, jika terjadi kekusutan mental maka agamalah yang
paling berperan dalam menyelesaikan kekusutan mental tersebut.

2.3 Dimensi Spiritual Pada Pasien Lansia


Menurut Koezier & Wilkinson, 1993 cit Hamid, 2000, dimensi spiritual adalah upaya
untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan dengan dunia luar, berjuang untuk
menjawab atau mendapat kekuatan ketika sedang menghadapi stres emosional, penyakit
fisik atau kematian. kekuatan yang timbul diluar kekuatan manusia.
Dimensi spiritual berupaya untuk mempertahankan keharmonisan atau keselarasan
dengan dunia luar, berjuang untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang
menghadapi stress emosional, penyakit fisik, atau kematian. Dimensi spiritual juga dapat
menumbuhkan kekuatan yang timbul diluar kekuatan manusia (Kozier, 2004).
Spiritualitas sebagai suatu yang multidimensi, yaitu dimensi eksistensial dan dimensi
agama, Dimensi eksistensial berfokus pada tujuan dan arti kehidupan, sedangkan dimensi
agama lebih berfokus pada hubungan seseorang dengan Tuhan Yang Maha Penguasa.

4
Spirituaiitas sebagai konsep dua dimensi. Dimensi vertikal adalah hubungan dengan
Tuhan atau Yang Maha Tinggi yang menuntun kehidupan seseorang, sedangkan dimensi
horizontal adalah hubungan seseorang dengan diri sendiri, dengan orang lain dan dengan
lingkungan. Terdapat hubungan yang terus menerus antara dua dimensi tersebut (Hawari,
2002)

2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Spiritual


Menurut Taylor (1997) dan Craven & Hirnle (1996) dalam Hamid (2000), faktor
penting yang dapat mempengaruhi Spiritual seseorang adalah :
2.4.1 Tahap perkembangan
Spiritual berhubungan dengan kekuasaan non material, seseorang harus
memiliki beberapa kemampuan berfikir abstrak sebelum mulai mengerti spiritual dan
menggali suatu hubungan dengan yang Maha Kuasa. Hal ini bukan berarti bahwa
Spiritual tidak memiliki makna bagi seseorang.
2.4.2 Peranan keluarga penting dalam perkembangan Spiritual individu.
Tidak begitu banyak yang diajarkan keluarga tentang Tuhan dan agama, tapi
individu belajar tentang Tuhan, kehidupan dan diri sendiri dari tingkah laku
keluarganya. Oleh karena itu keluarga merupakan lingkungan terdekat dan dunia
pertama dimana individu mempunyai pandangan, pengalaman tehadap dunia yang
diwarnai oleh pengalaman dengan keluarganya (Taylor, Lillis & LeMone, 1997).
2.4.3 Latar belakang etnik dan budaya
Sikap, keyakinan dan nilai dipengaruhi oleh latar belakang etnik dan sosial
budaya. Pada umumnya seseorang akan mengikuti tradisi agama dan spiritual
keluarga. Anak belajar pentingnya menjalankan kegiatan agama, termasuk nilai moral
dari hubungan keluarga dan peran serta dalam berbagai bentuk kegiatan keagamaan.
2.4.4 Pengalaman hidup sebelumnya
Pengalaman hidup baik yang positif maupun negatif dapat mempengaruhi
Spiritual sesorang dan sebaliknya juga dipengaruhi oleh bagaimana seseorang
mengartikan secara spiritual pengalaman tersebut (Taylor, Lilis dan Lemon, 1997).
Peristiwa dalam kehidupan seseorang dianggap sebagai suatu cobaan yang diberikan
Tuhan kepada manusia menguji imannya.
2.4.5 Krisis dan perubahan
Krisis dan perubahan dapat menguatkan kedalam spiritual seseorang. Krisis
sering dialami ketika seseorang menghadi penyakit, penderitaan, proses spenuaan,

5
kehilangan dan bahkan kematian, khususnya pada pasien dengan penyakit terminal
atau dengan prognosis yang buruk. Perubahan dalam kehidupan dan krisis yang
dihadapi tersebut merupakan pengalaman spiritual yang bersifat fiskal dan emosional
(Toth, 1992; dikutip dari Craven & Hirnle, 1996).
2.4.6 Terpisah dari ikatan spiritual
Menderita sakit terutama yang bersifat akut, sering kali membuat individu
merasa terisolasi dan kehilangan kebebasan pribadi dan sistem dukungan sosial.
Kebiasaan hidup sehari-hari juga berubah, antara lain tidak dapat menghadiri acara
resmi, mengikuti kegiatan keagamaan atau tidak dapat berkumpul dengan keluarga
atau teman dekat yang bisa memberikan dukungan setiap saat diinginkan (Hamid,
2000)
2.4.7 Isu moral terkait dengan terapi
Pada kebanyakan agama, proses penyembuhan dianggap sebagai cara Tuhan
untuk menunjukan kebesaran-Nya, walaupun ada juga agama yang menolak
intervensi pengobatan (Hamid, 2000).

2.5 Perkembangan Spiritual pada Lansia

Kelompok usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk
kegiatan agama dan berusaha untuk mengerti agama dan berusaha untuk mengerti nilai-nilai
agama yang diyakini oleh generasi muda. Perasaan kehilangan karena pensiun dan tidak aktif
serta menghadapi kematian orang lain (saudara, sahabat)menimbulkan rasa kesepian dan
mawas diri. Perkembangan filosofis agama yang lebih matang sering dapat membantu orang
tua untuk menghadapi kenyataan, berperan aktif dalam kehidupan dan merasa berharga serta
lebih dapat menerima kematian sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak atau dihindarkan
(Hamid, 2000).

2.6 Agama dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental

Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem tentang prinsip-
prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk mempertinggi kesehatan ruhani.
Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa
tenang, aman, dan tenteram. Dalam ilmu kedokteran dikenal dengan
istilah psikosomatik (kejiwabadanan). Dimaksudkan dengan istilah tersebut adalah untuk

6
menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang erat antara jiwa dan badan. Jika jiwa berada
dalam kondisi yang kurang normal seperti susah, cemas, gelisah, dan sebagainya, maka badan
turut menderita.

Beberapa temuan di bidang kedokteran dijumpai sejumlah kasus yang membuktikan


adanya hubungan tersebut, jiwa dan badan. Orang yang merasa takut, langsung kehilangan
nafsu makan, atau buang-buang air. Jadi gangguan jiwa membawa pengaruh pada badan, hal
ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara jiwa dan badan, jiwa sehat badan segar
dan badan sehat jiwa normal.

Untuk penyakit gangguan ruhani (jiwa) dikenal pengobatan dengan hipotheria, yaitu
pengobatan dengan cara hipnotis. Dan kemudian dikenal pula adanya
istilah psikoterapi atau autotherapia(penyembuhan diri sendiri) yang dilakukan tanpa
menggunakan bantuan obat-obatan biasa. Untuk psikoterapi atau autoterapi biasanya
dihubungkan dengan aspek keyakinan masing-masing. Sejumlah kasus menunjukkan adanya
hubungan antara faktor keyakinan (agama) dengan kesehatan jiwa atau mental.

Prof. Dr. Muhammad Mahmud Abd Al-Qadir mengungkapkan lebih jauh mengenai
hubungan agama dengan kesehatan mental melalui pendekatan biokimia. Menurutnya, di
dalam tubuh manusia terdapat sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi
persenyawaan-persenyawaan kimia. Persenyawaan-persenyawaan itu disebut hormon.
Menurutnya, segala bentuk gejala emosi (bahagia, rasa dendam, rasa marah, takut, dan lain-
lain) adalah akibat dari pengaruh persenyawaan-persenyawaan kimia hormon, disamping
persenyawaan lainnya. Apabila hal itu terjadi perubahan yang terlampau lama, seperti panik,
takut, dan sedih yang berlangsung lama, akan mengakibatkan penyakit saraf yang bersifat
kejiwaan.

Akan tetapi hal itu semua tidak akan terjadi jika seseorang mempunyai keimanan
yang cukup. Dengan keimanan yang dimiliki oleh seseorang itu, kondisi jiwa orang tersebut
akan selalu stabil yang menjadikan seseorang itu berada dalam keadaan normal, seimbang
hormon dan kimiawinya. Hal ini membuktikan adanya hubungan antara keyakinan agama
dengan kesehatan jiwa. Dan terhadap penyakit gangguan kejiwaan ini pun telah banyak
pengobatan yang dilakukan manusia melalui bantuan agama.

7
Salah satu cabang ilmu jiwa, yang tergolong dalam psikologi Humanistika dikenal
logoterapi. Logoterapi dilandasi falsafah hidup dan wawasan mengenai manusia yang
mengakui adanya dimensi sosial pada kehidupan manusia. Kemudian logoterapi
menitikberatkan pada pemahaman bahwa dambaan utama manusia yang asasi atau motif
dasar manusia adalah hasrat untuk hidup bermakna. Selanjutnya, logoterapi menunjukkan
tiga bidang kegiatan yang secara potensial memberi peluang kepada seseorang untuk
menemukan makna hidup bagi dirinya sendiri. Ketiga kegiatan itu adalah:

a. Kegiatan berkarya, bekerja, dan mencipta, serta melaksanakan dengan sebaik-


baiknyatugas dan kewajiban masing-masing.

b. Keyakinan dan penghayatan atas nilai-nilai tertentu (kebenaran, keindahan, kebajikan,


keimanan dan lainnya), dan

c. Sikap tepat yang diambil dalam keadaan dan penderitaan yang tidak terelakkan lagi.

Untuk menghadapi sikap yang ketiga ini, maka ibadah merupakan salah satu cara yang
dapat digunakan untuk membuka pandangan seseorang akan nilai-nilai potensial dan makna
hidup yang terdapat dalam diri dan sekitarnya. Maka dalam hal ini bisa dikatakan bahwa
agama sebagai jalan terakhir yang akan ditempuh oleh manusia untuk menghadapi segala
sesuatu yang manusia sendiri tidak berdaya menghadapinya.

Melihat uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sangat besar pengaruh agama
terhadap kesehatan mental. Hal ini didasarkan adanya hubungan antara keyakinan agama
dengan kesehatan mental atau jiwa. Seseorang yang mengalami gangguan jiwa atau mental
dipastikan tidak memiliki keimanan yang kuat. Karena orang yang memiliki keimanan yang
kuat tidak akan mengalami gangguan ini. Dan gangguan jiwa ini bisa disembuhkan melalui
terapi agama, karena nilai-nilai agama akan mengembalikan kesadaran manusia yang hilang
sebab gangguan jiwa.

2.7 Perubahan Fungsi Spiritual

Perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme dalam kehidupaannya.


Perawat professional dituntut untuk mampu memahami perubahan fungsi spiritual agar dapat
memberikan asuhan keperawatan pada lingkup kesehatan spiritual sebagai wujud

8
keperawatan holistik. Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh
setiap manusia. Pada laporan tugas mandiri ini, akan dibahas tentang perubahan fungsi
spiritual. Laporan ini dibuat dari beberapa sumber pustaka dan mengunduh dari internet.
Spirituality adalah suatu yang dipengaruhi oleh budaya, perkembangan, pengalaman hidup
kepercayaan dan nilai kehidupan. Spiritualitas mampu menghadirkan cinta, kepercayaan,
harapan, dan melihat arti dari kehidupan dan memelihara hubungan dengan sesama.
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau mengembalikan
keyakinan, memenuhi kewajiban agama, dan kebutuhan untuk mendapatkan maaf atau
pengampunan.

Perilaku dan ekspresi yang beranekaragam mungkin menjadi tanda dari klien yang
mengalami kecemasan spiritual. Setiap manusia pernah mengalami masalah spiritual.
Masalah spiritual ketika penyakit , kehilangan, dan nyeri menyerang seseorang. Kekuatan
spiritual dapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada perkembangan
kebutuhan dan perhatian spiritual. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk
merawat diri mereka dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan.
Distresss spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa
yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan seseorang merasa sendiri dan
terisolasi dari orang lain. Individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka,
mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna
hidup.

Perubahan perilaku mungkin menjadi perwujudan dari disfungsi spiritual. Klien yang
gelisah tentang hasil tes diagnosa atau yang menunjukan kemarahan setelah mendengar hasil
mungkin menjadi menderita distresss spiritual. Beberapa orang menjadi lebih merenung,
berupaya untuk memperhitungkan situasi dan mencari fakta bacaan yang berlaku. Beberapa
reaksi emosional, mencari informasi, dan dukungan dari teman dan keluarga. Pengenalan dari
masalah, kemungkinan yang timbul tidak bisa tidur atau kekurangan konsentrasi. Kesalahan,
ketakutan, keputusasaan, kekhawatiran, dan kecemasan juga mungkin menjadi indikasi
perubahan fungsi spiritual

Kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap


manusia. Individu selama sakit sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan
lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Perubahan fungsi

9
spiritualitas sering terjadi dalam kehidupan. Oleh karena itu, perubahan fungsi spiritualitas
klien perlu dipahami perawat dalam pemberian asuhan keperawatan secara holistik.

10
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Terapi keagamaan adalah terapi yang menggunakan unsur-unsur agama dalam


pengobatan permasalahan kesehatan mental. Pendekatan terapi keagamaan dapat dirujuk
dari informasi al-Qur’an sendiri sebagai kitab suci.
Dalam kondisi dimana seseorang tidak mampu menahan keinginan bagi terpenuhinya
kebutuhan dirinya, maka dalam kondisi seperti itu akan terjadi pertentangan (konflik)
dalam batin. Pertentangan ini akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan
rohani yang dalam kesehatan mental disebut dengan kekusutan rohani. Kekusutan rohan
seperti ini disebut dengan kekusutan fungsional.

3.2 Saran

Saran penulis, Sebagai seorang perawat nantinya, kita diharapkan mampu memahami
konsep terapi keagammaan sehingga nantinya kita dapat menerapkan konsep tersebut
ketika kita sudah bekerja, dan makalah ini masih banyak kekurangan maka saya
mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman yang lain.

11