Anda di halaman 1dari 21

KONSEPTUAL MODEL DALAM KEPERAWATAN

JIWA TERMASUK PREVENSI PRIMER,


SEKUNDER DAN TERSIER

Oleh:

Vega Pretiwi,Amd.Kep

STIKES ALIFA PADANG


TAHUN AJARAN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, karena atas berkat dan limpahan rahmat
nyalah makalah tentang “Konseptual model dalam keperawatan jiwa termasuk prevensi
primer,sekunder dan tersier” ini dapat terselesaikan dengan baik. Meskipun masih banyak
kekurangan baik dari isi, sistematika, maupun cara penyajiannya.

Makalah tentang “Konseptual model dalam keperawatan jiwa termasuk prevensi


primer,sekunder dan tersier” ini adalah sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Keperawatan jiwa.

Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada Ns. Amelia Susanti M.Kep, Sp.Kep.J selaku
dosen pembimbing Mata Kuliah Keperawatan jiwa ini. Serta bagi semua pihak yang turut
mendukung dalam pembuatan makalah ini.

Kami berharap semoga makalah ini dapat membantu mahasiswa dalam mempelajari
materi tentang “Konseptual model dalam keperawatan jiwa termasuk prevensi primer,sekunder
dan tersier”. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca dan peneliti lain yang akan menulis tentang
tema yang sama, khususnya bagi kami sendiri sebagai penyusun.

Padang, 28 September 2018

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii

BAB 1. PENDAHULUAN

§ Latar Belakang........................................................................................................3

§ Tujuan......................................................................................................................3

§ Ruang Lingkup Penulisan.......................................................................................3

BAB 2. PEMBAHASAN

A. Model konseptual keperawatan jiwa....................................................................... ..........4

1. Pengertian ......................................................................................................................4
2. Peran perawat dalam keperawatan jiwa ........................................................................4
3. Macam-macam model onseptual keperawatan jiwa ......................................................5
a. Model psikoanalisa .................................................................................................5
b. Model interpersonal ................................................................................................6
c. Model sosial ...........................................................................................................6
d. Model eksitensi .......................................................................................................6
e. Model komunikasi ..................................................................................................7
f. Model behavioral ....................................................................................................7
g. Model medikal ........................................................................................................7
h. Model keperawatan ................................................................................................7

B. Model konseptual psikoanalisa ........................................................................................ 7

1. Definisi................................................................................................................ 7
2. Prinsip-prinsip model psikoanalisa .....................................................................8
3. Proses terapi model psikoanalisa .........................................................................8
4. Peran perawat dan klien dalam model psikoanaliasa ..........................................9

BAB 3. Aplikasi model psikoanalisa dalam keperawatan jiwa ..............................................10


a. Kasus ...........................................................................................................................11
b. Penyelesaian menggunakan model psikoanalisa .........................................................11

BAB 4. PENUTUP...................................................................................................................12

§ Kesimpulan............................................................................................................12

§ Saran......................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Model konseptual merupakan kerangka kerja konseptual, sistem atau skema yang
menerangkan tentang serangkaian ide global tentang keterlibatan individu, kelompok, situasi,
atau kejadian terhadap suatu ilmu dan perkembangannya. Model konseptual memberikan
keteraturan untuk berfikir, mengobservasi dan menginterpretasi apa yang dilihat, memberikan
arah riset untuk mengidentifikasi suatu pertanyaan untuk menanyakan tentang fenomena dan
menunjukkan pemecahan masalah (Brockopp, 1999 : 73 ).
Model konseptual keperawatan jiwa mengurai situasi yang terjadi dalam lingkungan atau
stresor yang mengakibatkan seseorang individu menciptakan perubahan yang adaptif baik secara
mandiri maupun bantuan perawat. Model konseptual keperawatan jiwa merupakan upaya yang
dilakukan baik oleh perawat untuk menolong seseorang dalam mempertahankan keseimbangan
melalui mekanisme koping yang positif untuk mengatasi stresor yang dialaminya (Videbeck,
2008 : 54).
Model psikoanalisa adalah pandangan pada manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk
dorongan nafsu. Psikoanalisa merupakan model yang pertama dikemukakan oleh Sigmund
Freud, sehingga beliau di kenal dengan bapak Psikoanalisa. Psikoanalisa meyakini bahwa
penyimpangan perilaku pada usia dewasa berhubungan dengan perkembangan pada masa anak
( Kohnstamn & Palland, 1984 : 66 ).
Model psikoanalisa tidak dapat terpisahkan dalam praktik keperawatan khususnya dalam
lingkup keperawatan jiwa. Model psikoanalisa memandang bahwa perilaku yang ditunjukkan
oleh setiap manusia tidak terlepas dari proses tumbuh kembang yang dialaminya. Sehingga
kegagalan seseorang dalam fase tumbuh kembangnya dapat menyebabkan seseorang melakukan
perilaku yang maladaptive.
Berdasarkan masalah-masalah di atas,kami tertarik untuk membahas model konseptual
keperawatan jiwa secara lebih mendalam khususnya tentang model psikoanalisa.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu mengetahui tentang model konsep tual keperawatan jiwa ( model
psikoanalisa )
2. Tujuan khusus
a. Menjelaskan model konseptual keperawatan jiwa
b. Mengidentifikasi model konseptual psikoanalisa
c. Menjelaskan aplikasi model psikoanalisa

C. Ruang lingkup Penulisan


Ruang lingkup penulisan makalah ini yaitu model konseptual keperawatan jiwa
khususnya model konseptual psikoanalisa beserta aplikasinya.

BAB II
Tinjauan Teori
A. Model konseptual keperawatan jiwa
1. Pengertian
Model adalah cara mengorganisasi pokok pengetahuan yang kompleks. Model konseptual
merupakan kerangka kerja konseptual, sistem atau skema yang menerangkan tentang
serangkaian ide global tentang keterlibatan individu, kelompok, situasi, atau kejadian terhadap
suatu ilmu dan perkembangannya (Brockopp, 1999).

Model konseptual keperawatan merupakan suatu cara untuk memandang situasi dan
kondisi pekerjaan yang melibatkan perawat di dalamnya. Model konseptual keperawatan
memperlihatkan petunjuk bagi organisasi dimana perawat mendapatkan informasi agar mereka
peka terhadap apa yang terjadi pada suatu saat dengan apa yang terjadi pada suatu saat juga dan
tahu apa yang harus perawat kerjakan (Brockopp, 1999 : 73).

Model konseptual keperawatan jiwa mengurai situasi yang terjadi dalam situasi
lingkungan atau stresor yang mengakibatkan seseorang individu berupa menciptakan perubahan
yang adaktif dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia. Model konseptual keperawatan
jiwa mencerminkan upaya menolong orang tersebut mempertahankan keseimbangan melalui
mekanisme koping yang positif unutk mengatasi stresor ini (Videbeck, 2008 : 54).

2. Peran Perawat Dalam Keperawatan Jiwa


Seiring dengan perubahan jaman, peran perawat kesehatan jiwa mulai muncul pada tahun
1950 an. Weiss (1947) yang dikutip oleh Stuart Sundeen (1995) peran perawat adalah sebagai
Attitude Therapy, yakni :
1. Mengobservasi perubahan, baik perubahan kecil atau menetap yang terjadi pada klien.
2. Mendemonstrasi penerimaan.
3. Respek
4. Memahami klien.
5. Mempromosikan ketertarikan klien dan berpartisipasi dalam interaksi.
6. Sedangkan menurut Peplau dikutip dari Yosep ( 2009 : 16 ), peran perawat meliputi :
a. Sebagai pendidik.
b. Sebagai pemimpin di dalam situasi yang bersifat local, nasional dan
internasional.
c. Sebagai “surrogate .
d. parent”.
e. Sebagai konselor
Menurut American Nurses Association (ANA) divisi perawatan kesehatan jiwa, mendefinisikan
perawatan kesehatan jiwa sebagai area khusus dalam praktek keperawatan yang menggunakan
ilmu perilaku manusia dan diri sendiri secara terapeutik untuk meningkatkan, mempertahankan,
memulihkan kesehatan jiwa klien dan meningkatkan kesehatan mental masyarakat dimana klien
berada.
Dan sebagai tambahan dari perawat ( Yosep, 2009 : 16 ) adalah :
a. Bekerjasama dengan lembaga kesehatan mental
b. Konsultasi dengan yayasan kesejahteraan
c. Memberi pelayanan kepada klien diluar klinik
d. Aktif melakukan penelitian
e. Membantu pendidikan masyarakat

3. Macam –macam model konseptual keperawatan jiwa

Menurut Yosep (2009 : 12), konseptual model keperawatan, dapat dikelompokkan menjadi
beberapa model yaitu :

a. Model psikoanalisa ( Freud, Erickson )

Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi pada seseorang apabila ego
(akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau insting). Ketidakmampuan
seseorang dalam menggunakan akalnya ( ego ) untuk mematuhi tata tertib, peraturan, norma,
agama (super ego/das uber ich), akan mendorong terjadinya penyimpangan perilaku (defiation of
behavioral).

Proses terapeutik Psikoanalisa memakai : Free association, analisa mimpi dan transfer
untuk membentuk kembali perilaku. Free association : mencurahkan seluruh pikiran dan
perasaan tanpa ada sensor. Terapist akan mencari pola kata-kata dan area yang secara tidak sadar
dihindari. Kemudian dibandingkan dengan ilmu terapist tentang pengetahuan tentang jiwa dan
konflik. konflik yang dihindari klien dianggap hambatan dan harus diselesaikan. Analisa mimpi :
menjadi gambaran konflik intra psikis yang menjadi hambatan klien dalam berperilaku. Simbol-
simbol mimpi dianalisa dan disimpulkan. Kedua proses ini dilengkapi dengan transfer yaitu
terapist menjadi sasaran perilaku atau perasaan klien.

b. Model interpersonal

Teori ini dikemukakan oleh Harri Stack Sullivan. Dia menganggap perilaku itu
merupakan bentukan karena adanya interaksi dengan orang lain atau lingkungan sosial.
Kecemasan disebabkan perilakunya tidak sesuai atau tidak diterima orang lain sehingga akan
ditolak oleh lingkungan. Perilaku timbul karena adanya dorongan untuk kepuasan dan dorongan
untuk keamanan. Perilaku karena adanya dorongan untuk memuaskan diri disebabkan karena
adanya kelaparan, tidur, kenyamanan dan kesepian. Keamanan berhubungan dengan penyesuaian
diri terhadap nila-nilai budayaseperti nilai-nilai masyarakat dan suku. Sulivan beranggapan bila
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan akan kepuasan dan keamanan terganggu maka dia akan
mengalami sakit mental.

c. Model sosial

Konsep ini dikemukan oleh Gerard Caplan, yang menyatakan bahwa perilaku
dipengaruhi lingkungan sosial dan budaya. Caplan percaya bahwa situasi sosial dan menjadi
faktor predisposisi klien mengalami gangguan mental, seperti kejadian kemiskinan, masalah
keluarga dan pendidikan yang rendah. Karena kondisi ini akhirnya individu mengalami
ketidakmampuan mengkoping stes, ditambah lagi dukungan dari lingkungan sangat sedikit.
Individu mengembangkan koping yang patologis. Krisis juga bisa menyebabkan klien
mengalami perubahan perilaku. Koping yang selama ini dipakai dan dukungan dari lingkungan
tidak dapat dipakai lagi sehingga klien mengalami penyimpangan perilaku.

d. Model eksistensi

Konsep ini didasarkan teori dari Sartre, Heidegger dan Keirkegaard. Fokus teori
berdasarkan pengalaman kllien disini dan saat ini, tidak memperhitungkan masa lalu klien.
Seseorang akan merasa hidupnya bermakna bila dia menerima dirinya apa adanya dan memakai
itu untuk berinteraksi dengan lingkungannya.

e. Model komunikasi
Konsep ini dikemukan oleh Eric Berne. Dia mengatakan bahwa setiap perilaku, baik
verbal maupun nonverbal adalah bentuk komunikasi. Ketidakmampuan komunikasi
mengakibatkan kecemasan dan frustasi.

f. Model behavioral

Konsep ini berdasarkan teori belajar. dan mengatakan bahawa semua perilaku itu
dipelajari. Perilaku seseorang karena dia belajar itu dari lingkungannya. Fokus konsep ini
terletak pada tindakan, bukan pada pikiran atau perasaan individu. Perubahan perilaku membuat
perubahan pada kognitif dan afektif.

g. Model medikal

Konsep ini dikemukan oleh Siglar and Osmond. Fokusnya pada diagnosis penyakit
mental dan proses pengobatan berdasarkan diagnosis. Proses pengobatan ke arah somatik :
farmakoterapi, ECT atau psikosurgery. Fungsi model medikal adalah mengobati yang sakit dan
proses pengobatan pada fisik, tidak menyalahkan perilaku kliennya.

h. Model keperawatan

Konsep ini dikemukan oleh Dorethea, Orem, Joan Richi, Roy dan Martha Rogers.
Konsep ini berdasarkan teori sistem, teori perkembangan dan teori interaksi yang bersifat holistik
: bio-psiko-sosial spiritual. Perawat mengarah pada perubahan perilaku, menyediakan waktu
banyak, menciptakan hubungan yang terapeutik dan sebagai pembela klien.

B. Model konseptual psikoanalisa


1. Definisi

Psikoanalisa adalah pandangan evolusionistis-naturalistis: pada hakikatnya manusia itu


adalah makhluk dorongan nafsu. Yang asli adalah Das Es, sedangkan yang lebih tinggi (Das Ich
dan Ueber Ich) hanyalah timbul dari das Es. Semua adalah alam dan perkembangan timbul dari
alam yang tinggi yang rohaniah tidak berdiri sendiri dan diterangkan dari sudut lapisan bawah,
dari alam. Tetapi setelah orang menerima bahwa rohaniah itu berdiri sendiri dan bahwa ada
norma-norma kebenaran, kebaikan, kemurnian dan yang umum serta abadi, maka orang tidak
dapat menerima ajaran psikoanalisa ( Kohnstamn & Palland, 1984 : 66 ).

Menurut Kaplan & Sadock ( 2010 ), psikoanalisa merupakan model yang pertama
dikemukakan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisa meyakini bahwa penyimpangan perilaku pada
usia dewasa berhubungan dengan perkembangan pada masa anak. Setiap fase perkembangan
mempunyai tugas perkembangan yang harus dicapai. Gejala merupakan symbol dari
konflik. Gangguan jiwa terjadi akibat :

a. Perkembangan diri: Artinya gangguan jiwa dapat terjadi karena perkembangan seseorang
ketika masih kecil/kanak –kanak atau kasus yang terjadi adalah akibat masa lalu.
b. Resolusi konflik perkembangan yang inadequate : Artinya gangguan jiwa terjadi karena
seseorang tidak dapat menyelesaikan masalahnya di masa lalu dengan baik, sehingga
muncul ketidakpuasan
c. Ego (akal) tidak dapat mengontrol id (kehendak nafsu atau insting)
a. Gejala – gejala yang muncul adalah hasil usaha untuk berkompromi dengan kecemasan
dan berhubungan dengan konflik yang tidak teratasi. Psikoanalisa sampai saat ini
dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner dibidang psikologi. Hipotesis
psikoanalisis menyatakan bahwa tingkah laku manusia sebagian besar ditentukan oleh
motif – motif tak sadar, sehingga Freud dijuluki sebagai bapak penjelajah dan pembuat
peta ketidaksadaran manusia. Proses terapi psikoanalisa memakan waktu yang lama.
b. Konsep ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. Menurut Maramis (2009 : 34 ) fokusnya
pada perkembangan psikoseksual dari fase – fase Oral, Anal, Phalik, Laten, Genitikal
yang penuh konflik-konflik pada masa penyelesaian tugas setiap fase.

a. Fase oral (usia 0;0 - 1;0)

Daerah pokok aktivitas dinamik: mulut makan sebagai sumber kenikmatan. Bentuk
rangsangan: rangsangan terhadap bibir, rongga mulut, kerongkongan, menggigit dan mengunyah
(sesudah gigi tumbuh), serta menelan dan memuntahkan makanan (kalau makanan tidak
memuaskan).

1) Oral incorporation
Kenikmatan diperoleh dari aktivitas menyuap/menelan Kepribadian oral incorporation
membuiat orang menjadi senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta
benda, atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan orang lain).

2) Oral aggression

Kenikmatan diperoleh dari aktivitas dan menggigit Kepribadian oral agression ditandai
oleh kesenangan berdebat dan sikap sarkastik.

b. Fase anal (usia 1;0 - 2/3;0)

Daerah pokok aktivitas dinamik: dubur pembuangan kotoran sebagai sumber


kenikmatan Bentuk rangsang: bebas dari tegangan anal. Semua bentuk kontrol diri (self control)
dan penguasaan diri (self masery) berasal dari fase anal. Dampak toilet training terhadap
kepribadian di masa depan, tergantung kepada sikap dan metoda orang tua dalam melatih.

c. Fase Phalik (usia 2/3;0 - 5/6;0)

Daerah pokok aktivitas dinamik: alat kelamin. Sumber kenikmatan: Masturbasi dan
peningkatan gairah seksual anak kepada orang tuanya.

d. Fase latency (usia 5/6;0 - 12/13;0)

Perasaan takut kepada pembalasan orangtua menimbulkan represi terhadap dorongan


seksual pada anak, sehingga impuls seksual dan agresi pada fase awal (pregenital
impuls) mereda. Pada fase laten ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi dan mulai
merasa peduli dengan orang lain. Anak menjadi lebih mudah dididik dibandingkan dengan masa
sebeum dan sesudahnya (masa pubertas).

e. Fase Genital (usia 12/13;0 - dewasa)

Fase ini dimulai dengan perubahan fisiologik dari sistem reproduksi, yakni fase pubertas.
Impuls pregenital bangun kembali dan membawa aktivitas dinamis yang harus diadaptasi, untuk
mencapai perkembangan kepribadian yang stabil. Pada fase phalik, cathexis genital mempunyai
sifat narcistik; Pada fase genital narcisme itu mulai disalurkan ke objek di luar seperti
berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis, perkawinan dan
keluarga.

Freud juga mengemukakan struktur psiko / jiwa manusia berdasarkan: Id, Ego, Superego
dan topografi jiwa berdasarkan sadar, prasadar dan tak sadar ( Maramis, 2009 : 37 ).
a. Id adalah tempat dorongan naluri (insting) dan berada di bawah pengawasan proses
primer. Karena itu id bekerja sesuai prinsip kenikmatan,tanpa memperdulikan kenyataan.
Seorang bayi pada waktu lahir telah mempunyai id. Ia tidak mempunyai kemampuan
untuk menghambat,mengawasi,atau memodifikasi dorongan nalurinya. Karena itu,ia
sangat tergantung pada ego orang lain di lingkungannya.
b. Ego lebih teratur organisasinya dan tugasnya adalah untuk menghindari ketidaksenangan
dan rasa nyeri dengan melawan atau mengatur pelepasan dorongan nalurinya agar sesuai
dengan tuntutan dunia luar. Pertentangan utama terletak antar id dan ego. Ego bekerja
sesuai dengan prinsip kenyataan dan mempunyai mekanisme pembelaan,misalnya :
supresi,salah pindah (displacement),rasionalisme,penyangkalan,regresi,identifikasi,dan
sebagainya.
c. Superego mulai nyata waktu komplek Oedipus diselesaikan dengan ini identifikasi
dengan orang tua dari sex yang sama dipercepat. Usaha untuk menolaknya memberi
kepada super ego sipat menolak atau sipat menghalangi. Superego yang mulai terbentuk
pada umur lima sampai enam tahun,membantu ego dalam pengawasan dan pengaturan
pelepasan impuls dari id. Kepribadian dalam psikoalanisis adalah pola adaptasi terhadap
dorongan instingtual dan dorongan dari lingkungan yang sudah menjadi cirri khas atau
kebiasaan individu dan yang langsung dapat diamat (membedakan dari ego),seperti
,perilaku dan cara pembelaan,beraksi,berpikir dan merasa.
a. Penyimpangan perilaku masa dewasa ditentukan perkembangan masa kanak-kanak. Bila
tugas masa perkembangan tidak tercapai, maka timbul konflik, kecemasan, secara
psikologis orang itu terfiksasi pada tingkat perkembangannya untuk mengatasi cemas.
Orang itu menjadi regresi dalam pemakaian koping, pemecahan masalah dan perilaku.
Misalnya : anak perempuan yang merasa kalah pada ibunya dalam mencari perhatian
ayahnya, maka ketika besar dan berhubungan dengan pria, dia berprilaku seperti anak
kecil dalam memcari perhatian pria. Setiap orang membawa konflik masa kecilnya dan
mempengaruhi perilaku di masa dewasa. Misal : sering cuci tangan, karena pada waktu
masa kecil sering dibilang jorok. Semua kenangan itu tertanam ke alam tak sadar
sehingga pada masa dewasa keluar ke alam tak sadar dalam bentuk penyimpangan
perilaku. Psikosis muncul karena ego harus beradaptasi terus dengan keinginan id.

2. Prinsip-prinsip model psikoanalisa


Menurut Stuart (1995), prinsip-prinsip psikoanalisa dikelompokkan menjadi :
a. Prinsip konstansi
artinya bahwa kehidupan psikis manusia cenderung untuk mempertahankan
kuantitas konflik psikis pada taraf yang serendah mungkin, atau setidak-tidaknya
taraf yang stabil. Dengan perkataan lain bahwa kondisi psikis manusia cenderung
dalam keadaan konflik yang permanen (tetap).
b. Prinsip kesenangan
artinya kehidupan psikis manusia cenderung menghindarkan ketidaksenangan dan
sebanyak mungkin memperoleh kesenangan (pleasure principle).
c. Prinsip realitas
yaitu prinsip kesenangan yang disesuaikan dengan keadaan nyata.

3. Proses terapi model psikoanalisa


Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode asosiasi bebas dan analisa mimpi,
transferen,interpretasi serta analisa resistensi untuk memperbaiki traumatik masa lalu ( Yosep,
2009 : 13 ).
a. Asosiasi bebas

Pada teknik terapi ini, penderita didorong untuk membebaskan pikiran dan perasaan dan
mengucapkan apa saja yang ada dalam pikirannnya tanpa penyuntingan atau penyensoran
(Akinson, 1991). Pada teknik ini penderita disupport untuk bias berada dalam kondisi relaks baik
fisik maupun mental dengan cara tidur di sofa. Ketika penderita dinyatakan sudah berada dalam
keadaan relaks maka pasien harus mengungkapkan hal yang dipikirkan pada saat itu secara
verbal.

b. Analisa mimpi
Terapi dilakukan dengan mengkaji mimpi – mimpi pasien, karena mimpi timbul akibat
respon/memori bawah sadarnya. Mimpi umumnya timbul akibat permasalahan yang selama ini
disimpan dalam alam bawah sadar yang selama ini ditutupi oleh pasien. Dengan mengkaji mimpi
dan alam bawah sadar klien maka konflik dapat ditemukan dan diselesaikan.

c. Transferen

Untuk memperbaiki traumatik masa lalu Peran pasien dan perawat Klien mengungkapkan
semua pikiran dan mimpinya Perawat melakukan assessment atau pengkajian tentang keadaan
traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu (pernah disiksa orang tua,
diperkosa pada masa kanak – kanak, ditelantarkan dll) dengan pendekatan komunikasi traumatic
setelah terjalin trust (saling percaya).

d. Interpretasi

Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisi mimpi,
analisis resistensi dan analisis transparansi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis,
penjelasan, dan mengajarkan klien tentang makna perilaku dimanifestasikan dalam mimpi,
asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi interpretasi adalah
membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal
yang tersembunyi. mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien, baik
dalam asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien.

e. Analisa resistensi

Freud memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong
seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Interpretasi konselor terhadap resistensi
ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi. teknik yang
digunakan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi).
4. Peran perawat dan klien dalam model psikoanalisa

Stuart (1995) mengatakan peran perawat dan klien dalam model psikoanalisa adalah sebagai
berikut.

a. Peran perawat adalah berupaya melakukan assessment atau pengkajian mengenai keadaan-
keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu misalnya ( pernah
disiksa orang tua, pernah disodomi, diperlakukan secara kasar, diterlantarkan, diasuh dengan
kekerasan, diperkosa pada masa anak), dengan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik
setelah terjalin trust (saling percaya).

b. Peran klien dalam model psikoanalisa

Peran yang dapat dilakukan oleh klien meliputi :


1) Mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya agar bisa diartikan therapistnya.

2) Mengkuti perjanjian jangka panjang atau kontrak yang telah disepakati.

3) Mendorong transfer, menginterprestasi pikiran dan mimpi.

Peran dan Fungsi Perawat dalam Upaya Pelayanan Kesehatan Jiwa

Meliputi upaya prevensi primer, sekunder dan tersier

a. Prevensi primer

Upaya ini meliputi meningkatnya derajat kesehatan dan pencegahan penyakit

Fungsi perawat :

1. Memberi penyuluhan tentang kesehatan jiwa.

2. Memberikan penyuluhan tentang proses tumbuh kembang dan pendidikan seksual.

3. Mambantu meningkatkan kondisi kehidupan.

4. Melaksanakan rujukan segera bila terdeteksi adanya stressor yan potensial menyebabkan
gangguan jiwa.
5. Bekerjasama dengan keluarga dalam menangani pasien.

6. Berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan jiwa.

b. Prevensi sekunder

Meliputi uapaya penyembuhan melalui deteksi dini dan pengobatan segera

1. Melakukan pengkajian/ anamnesis dan evaluasi.

2. Melakukan kunjungan rumah.

3. Memberikan pelayanan gawat darurat dan psikiatri di Rumah Sakit Umum

4. Menciptakan lingkungan terapeutik.

5. Memantau pasien yang sedang dalam pengobatan.

6. Memberikan konseling pada pasien dan keluarga.

7. Memberikan psikoterpi kepada individu, keluarga dan kelompok.

8. Bekerjasama dengan kelompok/ organisasi penyandang masalah sejenis (kelompok


keluarga penyandang pencandu narkoba)

c. Prevensi tersier

Meliputi upaya menurunkan gejala sisa atau disabilitas akibat penyakit.

Fungsi perawat dalam upaya ini :

1. Meningkatkan keterampilan kerja pasien dan mempersiapkan rehabilitasi.

2. Menyediakan program perawatan lanjutan untuk pasien agar mampu menyesuaikan diri
di masyarakat.

3. Melaksanakan pelayanan rawat siang.

Model Konsep Keperawatan Psikiatri

a. Model Psikoanalisa
b. Model Medikal

c. Model Keperawatan

d. Model Interpersonal

e. Model Sosial

f. Model Eksistensi

g. Model Perilaku

h. Model Komunikasi
BAB III

Aplikasi Model Psikoanalisa dalam Keperawatan Jiwa

A. Kasus

Seseorang mengalami ketidakpuasan pada fase oral antara usia 0-2 tahun, dimana anak
tidak mendapat kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan air susu yang cukup, sehingga cendrung
mengembangkan sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai konvensasi adanya
ketidakpercayaan pada lingkungannya.Ketidakpercayaan yang sudah melekat pada dirinya akan
membentuk pribadi orang tersebut agresif dan mudah marah dalam menghadapi kehidupannya.

B. Penyelesaian menggunakan Model Psikoanalisa

Model psikoanalisa merupakan salah satu alternatif yang yang dapat digunakan dalam
menyelesaikan masalah. Pada kasus diatas, perawat mengkaji perilaku yang maladaptif
menggunakan model psikoanalisa dengan melihat didasari sudut tumbuh kembang yang dialami
klien.

Setelah terbina trust (saling percaya), klien akan lebih rileks untuk mengungkapkan
perasaannya. Seorang perawat harus memberikan tanggapan terhadap respon klien
misalnya sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa sebagai konvensasi adanya
ketidakpercayaan pada lingkungannya. Sikap yang akan ditimbulkan klien dapat
berupa suka marah-marah dan protektif diri terhadap dunia luar. Selain sebagai konselor,
perawat juga dapat perawat dapat memberikan teknik keperawatann seperti mengontrol
marahnya dengan teknik distarksi dan mengajarkan cara marah yang produktif dengan cara
mengalihkan marah pada hal lain.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Model konseptual memberikan kerangka kerja dengan cara mengidentifikasi suatu
pertanyaan untuk mendapatkan pemecahan masalah. Model konseptual keperawatan jiwa
digunakan perawat sebagai acuan untuk menolong seseorang agar dapat menghadapi stressor
melalui meksnisme koping yang positif.
Model psikoanalisa mempunyai pandangan bahwa manusia adalah makhluk dorongan nafsu.
Selain itu, psikoanalisa meyakini bahwa penyimpangan perilaku yang terjadi pada masa dewasa
sangat dipengaruhi oleh perkembangan pada masa anak. Oleh karena itu, kejadian pada masa
lalu (masa kecil) akan sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian seseorang.
Perawat dapat menerapkan model psikoanalisa dalam praktik keperawatan untuk
mengungkapkan masalah yang dialami seseorang. Perawat dapat berperan sebagai konselor yang
dapat memberikan pemecahan masalah pada seseorang yang mengalami pengalaman buruk baik
dimasa lalu maupun yang sedang dialaminya. Contohnya seseorang yang tidak dapat mengontrol
dirinya ketika marah, dapat di ajarkan untuk melakukan marah produktif atau diajarkan teknik
distraksi, sehingga selain sebagai konselor peran perawat promotif.

B. Saran
a. Perawat diharapkan dapat menerapkan model konseptual keperawatan jiwa khususnya
model psikoanalisa dalam merespon setiap perilaku yang maladaptif yang ditunjukkan oleh
klien melalui pendekatan terapeutik dengan cara menjalin rasa saling percaya untuk
mendapatkan pemecahan dari masalah klien.
b. Institusi pelayanan keperawatan khususnya rumah sakit maupun puskesmas diharapkan
mampu menerapkan model psikoanalisa pada setiap perawat yang ada melalui pendekatan
terapeutik dalam mengatasi masalah yang timbul.
c. Institusi pendidikan keperawatan dapat memberikan pendidikan yang mendalam mengenai
model konseptual khususnya model psikoanalisa sehingga mahasiswa dapat menjadikan
model psikoanalisa sebagai salahsatu alternatif yang dapat digunakan untuk mengkaji
penyebab timbulnya perilaku maladaptif yang kelak akan ditemui dilapangan.
DAFTAR PUSTAKA

Perry & potter. 1999. Fundamental keperawatan. Jakarta : EGC


Suliswati, Dkk. 2004. Konsep dasar keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta :
EGC
Maramis, Willy F. & Maramis Albert A. 2009. Ilmu kedokteran jiwa. Jakarta :
AUP
Kohnstamm. 1984. Sejarah ilmu jiwa.
Sunaryo. 2004. Psikologi lingkup keperawatan. Jakarta : EGC
Stuart Wiscarz, Sandra I. Sundeen. 1995 . Prinsip dan Praktik Ilmu
Keperawatan Psikiatri. Ed.5. Missouri: Mosby.
Ann Isaacs. 2005. Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatrik. Ed.3. Jakarta:
EGC
Kaplan, Harold I. & Sadock, Benjamin J. 2010. Synopsis psikiatri. Tengerang:
BINARUPA AKSARA Publisher
Yosep, Iyus. 2009. Keperawatan jiwa. Bandung : PT Refika Aditama