Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH SKI

POLA KEPEMIMPINAN KHALIFAH UMAR BIN KHATTAB

OLEH
KELOMPOK III
ANGGOTA: 1. LIA DWI NESTIKA
2. KHOIRUNNISA

3. JIHAN KESUMA WARDANI

4. LINA MATUNISA

5. KURNIA SRI WIDARI

MADRASAH ALIYAH NEGRI 1 OGAN ILIR

TAHUN AJARAN 2017/2018


KATA PENGANTAR

Assalammuaalaikum Wr. Wb
Puji dan syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah swt ,karena berkat rahmat dan
karunia-Nya lah sehingga makalah ini selesai tersusun. Solawat dan salam, semoga selalu
dilimpahkan kepada nabi akhir zaman, Muhammad saw,kepada keluarganya dan para sahabatnya
,amin.
Makalah ini saya tujukan untuk memenuhi tugas Pembelajaran SKI . kami berharap
dengan tersusunnya makalah ini kita dapat mengetahui tentang siapa Umar bin Khattab, dan
mengambil pelajaran dari sejarah Umar bin Khattab.
Terima kasih kepada Bapak Iskandar sebagai guru yang memberikan tugas makalah
Pembelajaran SKI . Semoga dengan adanya tugas ini akan menambah ilmu dan wawasan kita ,
serta memberikan manfaat untuk di masa yang akan datang.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan.Untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari guru dan teman-teman , atau siapa saja. Akhir kata, kami
ucapkan terima kasih.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................ i

DAFTAR ISI.................................................................................... ii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang............................................................................... 1

B. Rumusan Masalah........................................................................... 1

C. Tujuan........................................................................................... 1

BAB II : PEMBAHASAN

A. Pola kepemimpinan khalifah umar bin khattab………………… 2

BAB III : PENUTUP

A. Kesimpulan..................................................................................... 3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setelah Nabi Muhammad saw wafat,umat islam kemudian memilih seorang pemimpin atau
khalifah sebagai pengganti nabi untuk memimpin umat islam. Para khalifah pengganti nabi
Muhammad saw tersebut dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin. Khulafaur Rasyidin terdiri
dari Abu Bakar As-siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Abu Bakar As-siddiq menjabat sebagai khalifah hanya 2 tahun, karena beliau sakit lalu
wafat. Setelah itu beliau digantikan oleh seorang sahabat nabi yang terkenal dengan
keberaniannya yaitu bernama Umar bin Khattab. Umar bin khattab menjabat sebagai khalifah
cukup lama, sekitar sepuluh tahun. Selama beliau memimpin, banyak sekali jasa-jasa yang
dilakukannya untuk kemajuan umat Islam. Oleh karena itu di dalam makalah ini, kami akan
menguraikan kisah singkat khalifah Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua umat islam.

B. Rumusan Masalah
2. Bagaimana kepemimpinan Umar bin Khattab?

C. TUJUAN
Makalah ini bertujuan untuk : , (1). Mengetahui bagaiman kepemimpinan Umar bin Khattab
BAB II
PEMBAHASAN

Kepemimpinan Umar Bin Khatab

Pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a, sang khalifah dipanggil dengan sebutan khalifah
Rasulullah. Sedangkan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab r.a, mereka disebut dengan
Amirulmu’minin. Sebutan ini sendiri diberikan oleh rakyat kepada beliau. Salah satu sebab
penggantian ini hanyalah makna bahasa, karena bila Abu Bakar r.a dipanggil dengan khalifah
Rasulullah (pengganti Rasulullah), otomatis penggantinya berarti khalifah khalifah Rasulullah
(pengganti penggantinya Rasulullah), dan begitulah selanjutnya, setidaknya begitulah menurut
Haikal. Selain itu karena wilayah kekuasaan Islam telah meluas, hingga ke daerah-daerah yang
bukan daerah Arab, yang tentu saja memerlukan sistem pemerintahan yang terperinci, sementara
ia tidak mendapatkan sistem pemerintahan terperinci dalam Alquran al-Karim dan sunnah nabi,
karena itu ia menolak untuk dipanggil sebagai khalifatullah dan khalifah Rasulullah.
Kebijakan-kebijakan politik dan pengaturan pemerintahan Umar bin Khattab.
1. Mengatur seluruh strategi perluasan islam bahkan pada beberapa hal sampai dengan strategi
teknis.
2. Menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, menindak orang-orang yang dholim dengann tegas
(dicopot jabatannya, dll).
3. Membentuk Hakim (Qadhi) di kota besar (Madinah, Syam, Mesir, dan Persia).
4. Membentuk lembaga keuangan dan melakukan sensus penduduk.
5. Mengendalikan seluruh sistem pemerintahan dengan ketat (supervise/ pengendalian ketat).
6. Menekankan keimanan, tanggung jawab sosial diatas pribadi hidup sederhana, keteladanan
kepada seluruh wakil-wakilnya didaerah.
7. Umar melarang memberi zakat pada muallaf.
8. Dimulai penanggalan Hijriyah berdasarkan Hijrahnya Umat Islam, sebagai upaya penguatan
identitas muslim.
9. Talak tiga sekali ucapan
10. Pembagian harta ghonimah yang tersentral & membentuk departemen keuangan.
11. Melakukan sensus penduduk.
12. Penghapusan nikah mut’ah
13. Melarang mengumpulkan hadits, kemudian membiarkannya

Di zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi, ibu
kozta Syiria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara Bizantium
kalah dipertempuran Yarmuk,seluruh daerah Syiriah jatuh kebawahkekuasaan islam. Dengan
memakai Syiriah sebagai basis ekspansi diteruskan ke mesir dibawah pimpinan ‘Amr ibn ‘Ash
dan ke Irak dibawah pimpinan Sa’ad ibn Abi Waqqash. Iskandariyah,ibu kota Mesir, ditaklukkan
tahun 641M. dengan demikian, Mesir jatuh kebawah kekuasaan islam. Al-Qadisiyah, sebuah
kota dekat Hirah di Irak,jatuh pada tahun 637M. dari sana serangan dilanjutkan ke ibukota
Persia. Pada tahun 641M, Mosul dapat dikuasai. Dengan demikian, pada masa kepemimpinan
Umar, wilayah kekuasaan islam sudah meliputi Jazirah Arabiyah, Plastina, Syiriah,sebagaian
besar wilayah Persia, dan Mesir.
Karena perluasaan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi Negara
dengan mencontohkan administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia. Administrasi
pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jaziriah,
Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada
masanya mulai diatur dan diterbitkan system pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan
didirikan dalam rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk
menjaga keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan
pekerjaan umum.1[5] Umar juga mendirikan Bait Al-mal, menempa mata uang dan menciptakan
tahun hijrah.2[6]
Umar memerintah selama 10 tahun (13 sampai 23 H-634 sampai 644M). Masajabatannya
berakhir dengan kematian. Ia dibunuh oleh seorang budak Persia bernama Abu Lu’lu’ah. Untuk
menentukan penggantinya, dia menunjuk 6 orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk
memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah yaitu Usman, Ali, Thalahah, Zubair, Sa’ad
ibn Abi Waqqash, dan Abdurrahman ibn’Auf. Setelah Umar wafat tim ini bermusyawarah
danberhasildan menunjuk Usman sebagai khalifah.
Pada zaman kepemerintahan Umar bin Khatab sudah diperhatikan konsep dasar hubungan
antara Negara dan rakyat, pentingnya tugas pegawai pelayanan public dan menjaga kepentingan
rakyat dari otoritas pemimpin. Umar melakukan pemisahan antara kekuasaan peradilan dengan
kekuasaan eksekutif,beliau memilih hakim dalam system yang independen guna memutuskan
persoalan masyarakat. System peradilan ini terpisah dari kekuasaan eksekutif, dan ia
bertanggung jawab terhadap khalifah secara langsung.
Khalifah Umar menjelaskan dasar-dasar system peradilan. Surat yang dikirimkan beliau
kepada Abdullah bin Qais (Abu Musa al-Asy’ari) hakim kota bashrah, menjelaskan dasar-dasar,
prinsip dan karakter yang harus melekat dalam system peradilan. Para hakim merupakan
golongan yang memiliki peranan penting dan bertanggung jawab untuk merealisasikan keadilan
dalam masyarakat muslim, dan mereka merupakan bagian dari pegawai Negara.3[7]
Dasar-dasar sitem yang dijelaskan Umar dalam surat tersebut mecerminkan
kesadaran,intelektual dan kemampuan yang tinggi dari diri sahabat Umar. Surat ini dijadikan
sebagai dasar system peradilan. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ditelorkan pemikiran
adanya pengawasan manajemen terhadap kinerja pegawai public. Pengawasan ini dimaksudkan
untuk menjaga penduduk (masyarakat) tindak kedzaliman dan kesewenangan pegawai pelayanan
publik atau seorang pemimpin. Pemikiran ini kemudian dikembangkan dengan membentuk
lembaga pengawasan pada masa abbasiyah. Dengan mendirikan diwan (lembaga) khusus dengan
orang yang bertanggung jawab untuk melaksanakanyayang kemudian dikenal dengan ‘Shahib al
Madzalim’. Khalifah umar menjelaskan ketakutan khalifah terhadap kedzaliman dan
kesewenangan pemimpin terhadap umatnya.
Khalifah Umar tidak akan mengangkat seorang pemimpin kecuali ia telah menuliskan
perjanjian yang disaksikan oleh beberapa sahabat muhajirin dan Anshor. Khalifah juga
memberikan syarat untuk makan-makanan yang baik dan bersih, memakai pakaian tebal dan
khalifah umar juga senantiasa mengelilingi rumah-rumah kaum muslimin untuk mengetahui
kondisi rakyat yang sebenarnya, juga berkeliling dipasar dan memberikan putusan terhadap
pelaku pasar yang sedang berselisih. Bahkan beliau memiliki tekad untuk melakukan inspeksi
langsung di provinsi dan wilayah kekuasaan islam untuk mengetahui kondisi rakyat yang
sebenarnya. Khalifah umar mempunyai pemikiran untuk memisahkan administrasi, penarikan
harta kaum muslimin dari system peradilan dan kekuasaan ekskutif. Lembaga keuangan Negara
ini tepisah dan independen dari kekuasaan pemimpin ekskutif, system peradilan ataupun
pemimpin tetara perang.

Lembaga keuangan ini memiliki pegawai yang akan mengatur keuangan Negara sesuai
dengan pos-pos yang telah disepakati jika masih dapat kelebihan, dana itu dikumpulkan dan
diserahkan kerumah khalifah untuk disimpan ke baitul Mal kaum muslimin. Di masa
kekhalifahan umar wilayan kekuasaan islam semakin luas, sehingga wilayah tersebut dibagi
beberapa provinsi untuk mempermudah pengaturannya dan pemberdayaan sumberdaya yang ada.

Umar mengendalikan islam saat itu dengan pola kepemimpinan sosial yang baik, yakni:
1. Pola hidup Umar yang sederhana, dan sangat mengutamakan kesejahteraan umatnya khususnya
orang fakir miskin daripada keluarganya sendiri.
2. Kasus saudara Umar yang minta bagian maal lebih banyak, yang ditolak, karena lebih
mendahulukan muslim yang mempunyai jasa terhada islam terlebih dahulu, berdasarkan
masuknya, dan kualitas jasanya.
3. Kasus anaknya Amr bin Ash yang menganiaya orang miskin yang kemudian dihukum dengan
keras.
4. Kasus seorang Yahudi yang mengadu ke Umar karena rumahnya digusur oleh Amr di Mesir,
yang kemudian Amr diperingatkan oleh Umar dengan tulang yang digaris dengan pedangnya.
5. Kasus pembantu yang mencuri malah dibela, malah juragannya yang dihukum sebab tidak
melaksanakan haknya.
6. Kasus anaknya Umar bin Khattab yang minum Khamr kemudia dihukum 2 kali lipat oleh umar
langsung kemudian sakit & meninggal.
7. Saat perjalanan menuju ke Palestina gantian dengan pembantunya serta sikap Umar melihat
sambutan mewahnya Muawiyah
8. Kasus saat paceklik Umar hidup prihatin sama seperti rakyatnya, dan senantiasa mengontrol
keadaan umatnya, bahkan pada suatu malam ada seorang ibu yang memasak batu untuk
menenangkan anaknya karena tidak punya makanan, ketika Umar tahu hal itu, maka dia
langsung turun tangan menyelesaikannya saat itu juga. Karena takut akan pertanggung jawaban
nantinya diakherat.
9. Sangat takut akan pertanggung jawaban sebagai pemimpin di akherat, sehingga dia benar-benar
totalitas untuk membantu umatnya
· Menata administrasi dan keuangan pemerintahan
Selama pemerinatahannya, Umar melakukan banyak reformasi secara administratif . antara lain
dengan pembentukan:
1) Baitul Mal sebagai lembaga yang mengurusi keuangan negara
2) Dewan Perang lembaga administrasi ketentaraan
Selain itu, Umar juga memberikan santunan kepada seluruh rakyat berdasarkan lamanya
memeluk Islam
 Penetapan kalender hijriyah
Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan
keputusan tentang aturan penanggalan Islam, bahwa:
1) Awal penghitungan tahun hijriyah berdasarkan hijrah Rasul ke Madinah
2) Hijrah adalah simbol titik balik kemenangan Islam
3) Hijrah menandai pembagian surah-surah al-Qur’an
4) Hijrah menandai dua periode dakwah
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat
dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya,
tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang
tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya,
keterampilan, bakat, sifat-sifatnya atau kewenangannya yang dimiliki yang sangat berpengaruh
terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkannya.
Rahasia utama kepemimpinan yaitu kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan hanya dari
kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati
selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain. Pemimpin
bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan
berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal.
Gaya Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ash Shidiq merupakan seorang khalifah penerus
perjuangan Nabi yang berusaha menciptakan sebuah masyarakat yang hidup dalam zaman
“Baldatun tayyibatun warabbun ghafur”. Dengan dua sifat yang menonjol yaitu, kelembutannya
beliau menginsyafkan orang yang berbuat munkar dengan ketegasannya beliau mengatasi orang
yang memberontak.

Khalifah Umar bin Khatab dikenal sebagai pemimpin yang sangat disayangi rakyatnya
karena perhatian dan tanggungjawabnya yang luar biasa pada rakyatnya. Salah satu kebiasaannya
adalah melakukan pengawasan langsung dan sendirian berkeliling kota mengawasi kehidupan
rakyatnya. Dalam banyak hal Umar bin Khatthab dikenal sebagai tokoh yang sangat bijaksana
dan kreatif, bahkan genius. Beberapa keunggulan yang dimiliki Umar, membuat kedudukannya
semakin dihormati dikalangan masyarakat Arab, sehingga kaum Qurais memberi gelar ”Singa
padang pasir”, dan karena kecerdasan dan kecepatan dalam berfikirnya, ia dijuluki ”Abu Faiz”

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini,
tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya
rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Wassalammualikum Wr. Wb.