Anda di halaman 1dari 33

TUGAS SISTEM RESPIRASI

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN TUBERCULOSIS

(TBC)

Disusun Oleh:

Di susun oleh :

1. Riyan Mayasari 10215014


2. Karunia Wati Susanti 10215015
3. Sagita Arisandy 10215042
4. Sindy Septikasari 10215051

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI

2016/2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
Asuhan Keperawatan “TUBERCULOSIS’ ini dengan baik meskipun banyak
kekurangan didalamnya.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang turut
serta dalam menyusun makalah ini, baik dari segi ide, kreatifitas, dan usaha. Tanpa
ada bantuan dari teman-teman semua, mungkin kita akan mengalami hambatan
dalam penulisan makalah ini
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan juga menambah informasi
serta edukasi bagi kami selaku penyusun serta bagi siapapun yang membacanya.
Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata dan penulisan yang kurang
berkenan. Oleh sebab itu, penyusun berharap adanya kritik dan saran dalam
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak
ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Kediri, 25 November 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................. i

Kata Pengantar ................................................................................................. ii

Daftar Isi........................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Tuberculosis .................................................................... 3
B. Klasifikasi Tuberculosis ................................................................ 3
C. Etiologi Tuberculosis .................................................................... 5
D. Faktor Resiko ................................................................................ 6
E. Patofisiologi Tuberculosis ............................................................. 7
F. Manifestasi Klinis Tuberculosis .................................................... 9
G. Pemeriksaan Penunjang Tuberculosis ........................................... 10
H. Penatalaksanaan Tuberculosis ....................................................... 11
I. Kriteria Sembuh ............................................................................ 15
J. Komplikasi .................................................................................... 16
K. Pathwy ........................................................................................... 17
L. Asuhan Keperawatan..................................................................... 18
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 28
B. Saran .............................................................................................. 28
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 29

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberculosis adalah penyakit langsung yang mengenai parenkim paru yang
disebabkanoleh basil mycobacterium tuberculosis.Sebagian besar kuman tuberculosis
mengenai parutapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Brunner & Suddarth, 2001).
Laporan TB paru dunia oleh WHO tahun 2006, pernah menempatkan Indonesia
sebagai penyumbang terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus
baru sekitar 539.000 jiwa dan jumlah kematian sekitar 101.000 jiwa per tahun. Di Indonesia
jumlah kematian akibat penyakit tuberculosis terutama TB paru hingga tahun 2008
menurun hingga 88.113 jiwa dari jumlah kasus penularan TB paru yang berjumlah 534.439
jiwa. Sedangkan pada tahun 2009 kasus penularan TB paru menurun mencapai jumlah
528.063 jiwa dan 236.029 untuk kasus TB paru BTA positif, akan tetapi angka kematian
naik menjadi 91.368 jiwa. Sepertiga dari jumlah tersebut terdapat di sekitar Puskesmas, di
pelayanan rumah sakit/klinik pemerintah dan swasta, praktik swasta dan sisanya belum
terjangkau unit pelayanan kesehatan. Sedangkan prevalensi untuk semua kasus TBC
diperkirakan sebanyak 565.614 atau 244/100.000 penduduk. Angka kematian karena TB
paru diperkirakan 91.368 per tahun atau setiap hari ada 250 orang meninggal (Depkes,
2010).
Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 TBC di
Indonesiamerupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit jantung yang
merupakanpenyakit nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Kematian akibat
TBC padawanita lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan, dan
nifas.Setiap tahunterjadi 583.000 penderita baru dan kematian karena TBC sekitar 140.000.
Selain itu setiap100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita TBC dengan BTA
(+)(Barmawi, 2004).
Pada tahun 2005 Indonesia telah berhasil mancapai angka kesembuhan sesuai
dengantarget global yaitu sebesar 85% yang tetap dipertahankan dalam lima tahun terakhir
ini.Penemuan kasus TBC di Indonesia pada tahun 2005 baru mencapai angka 67%. Angka
inibelum mencapai target yang diharapkan yaitu sebesar 70%, tapi angka penemuan kasus
TBC
mengalami peningkatan hingga melewati target yang diharapkan yaitu sebesar 76%
padatahun 2006 (Depkes RI, 2007).
Di Jawa Tegah berdasarkan data pola penyakit di puskesmas dan rumahsakit, jumlah
kasus TB menempati urutan ke tiga setelah penyakit jantung.(Profil kesehatan kota, 2001)
Berkaitan dengan data tersebut di atas,kamitertarik untuk menyusun asuhan
keperawatan dengan Tuberculosis paru, dalam bentuk penyusunan karya makalah ini.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Tuberculosis (TBC) ?
2. Apaklasifikasi Tuberculosis (TBC)?
3. Apa etiologi Tuberculosis (TBC)?
4. Bagaimana patofisiologi dari Tuberculosis (TBC)?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari Tuberculosis (TBC)?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Tuberculosis (TBC) ?
7. Bagaimana komplikasi dari Tuberculosis (TBC)?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari Tuberculosis (TBC)?
9. Bagaimana pathway Tuberculosis (TBC) ?
10. Bagaimana Asuhan Keperawatan dari Tuberculosis (TBC)?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahuidefinisi dari Tuberculosis (TBC),
2. Untuk mengetahuiklasifikasi Tuberculosis (TBC),
3. Untuk mengetahuietiologi Tuberculosis (TBC),
4. Untuk mengetahuipatofisiologi dari Tuberculosis (TBC),
5. Untuk mengetahuimanifestasi klinis dari Tuberculosis (TBC),
6. Untuk mengetahuipemeriksaan penunjang dari Tuberculosis (TBC),
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Tuberculosis (TBC),
8. Untuk mengetahui komplikasi dari Tuberculosis (TBC),
9. Untuk mengetahui pathways Tuberculosis (TBC),
10. Untuk mengetahuiasuhan keperawatan dari Tuberculosis (TBC).

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh M.Tuberculosis


yang biasanya ditularkan dari orang ke orang melalui nuclei droplet lewat udara.
(Netina,2002).

Tuberculosis merupakan suatu penyakit infeksi yang menular secara langsung


disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Sumber penularannya melalui batuk
dan dahak yang mengandung kuman Tuberkulosis. Gejala umum Tuberkulosis pada orang
dewasa adalah batuk terus menerus dan berdahak selama tiga minggu atau lebih, bila tidak
diobati maka setelah lima tahun sebagian besar (50%) klien akan meninggal (Depkes RI,
2000)

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberculosa, yaitu suatu bakteri tahan asam. (Suriadi,2001).

Tuberculosis paru adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis


yang biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet), orang ke orang dan
mengkolonisasi bronkiolus atau alveolus (Corwin, 2009)

Tuberculosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TBC


(Mycobacterium Tuberculosis).Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi juga
mengenai organ tubuh lainnya (Departemen Kesehatan, 2002, hal. 9).

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Tuberculosis Paru adalah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis suatu basil yang tahan
asam yang menyerang parenkim paru atau bagian lain dari tubuh manusia.

B. Klasifikasi
Ada beberapa klasifikasi TB yaitu menurut Depkes (2007) yaitu:
1) Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
a. Tuberkulosis paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim)
paru.tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
b. Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
TB ekstra-paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahanpenyakitnya, yaitu:
- TB ekstra paru ringan, misalnya: TB kelenjar limfe, pleuritis eksudativa
unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
3
- TB ekstra-paru berat, misalnya: meningitis, milier, perikarditis, peritonitis,
pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih
dan alat kelamin.

2) Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA) TB paru dibagi dalam :


a. Tuberkulosis Paru BTA (+)
- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif
1) Tuberkulosis Paru BTA (-)
1) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik dan
kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif serta tidak respons dengan
pemberian antibiotik spektrum luas
2) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M.tuberculosis
positif
3) Jika belum ada hasil pemeriksaan dahak, tulis BTA belum diperiksa
3) Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, dibagi menjadi beberapa tipe
pasien, yaitu:
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan
OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
b. Kasus kambuh (Relaps)
Adalahpenderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan
positif.
c. Kasus setelah putus berobat (Default )
Adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2
minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat. Umumnya penderita
tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif.
d. Kasus setelah gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
e. Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah penderita yang sedang mendapatkan pengobatan di suatu kabupaten dan
kemudian pindah berobat ke kabupaten lain. Penderita pindahan tersebut harus
membawa surat rujukan/pindah
f. Kasus kronik

4
Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih positif setelah
selesai pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik
g. Kasus bekas TB
• Hasil pemeriksaan dahak mikroskopik (biakan jika ada fasilitas) negatif dan
gambaran radiologik paru menunjukkan lesi TB inaktif, terlebih gambaran
radiologik serial menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan
OAT yang adekuat akan lebih mendukung
• Pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan lesi TB aktif, namun setelah
mendapat pengobatan OAT selama 2 bulan ternyata tidak ada perubahan
gambaran radiologik

 Klasifikasi Kesehatan Masyarakat (American Thoracic Society) :

- Kategori 0 = - Tidak pernah terpapar / terinfeksi


- Riwayat kontak negatif
- Tes tuberculin negatif
- Kategori I = - Terpapar TB tapi tidak terbukti ada infeksi
- Riwayat / kontak negatif
- Tes tuberkulin negatif
- Kategori II = - Terinfeksi TB tapi tidak sakit
- Tes tuberkulin positif
- Radiologis dan sputum negatif
- Kategori III = - Terinfeksi dan sputum sakit

C. Etiologi
Penyebab dari penyakit tuberculosis paru adalah terinfeksinya paruoleh
mycobacterium tuberculosis yang merupakan kuman berbentuk batangdengan ukuran
sampai 4 mycron dan bersifat anaerob.Sifat ini yangmenunjukkan kuman lebih menyenangi
jaringan yang tinggi kandunganoksigennya, sehinggaparu-paru merupakan tempat prediksi
penyakittuberculosis.Kuman ini juga terdiri dari asal lemak (lipid) yang membuatkuman
lebih tahan terhadap asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimiadan fisik.Sifat dari
bakteri ini agak istimewa, karena bakteri ini dapat bertahanterhadap pencucian warna
dengan asam dan alkohol sehingga sering disebut dengan bakteri tahan asam (BTA).Hal ini
terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant.Dari sifat dormant ini kuman dapat
bangkit lagi dan menjadikan penyakit TB menjadi aktif lagi (Amin, 2007).Selain itu bakteri
ini juga tahan terhadap suasana kering dan dingin. Bakteri ini dapat bertahan pada kondisi
rumah atau lingkungan yang lembab dan gelap bisa sampai berbulan-bulan namun bakteri
ini tidak tahan atau dapat mati apabila terkena sinar, matahari atau aliran udara
(Widoyono,2011).Penyebaran mycobacterium tuberculosis yaitu melalui dropletnukles,
kemudian dihirup oleh manusia dan menginfeksi (Depkes RI, 2002).
5
D. Faktor Resiko
Faktor resiko yang menyebabkan imunitas menurun sehingga memudahkan penularan
bakteri Tuberculosis.Beberapa faktor karakteristik individu yang menjadi faktor risiko
terhadap kejadian TB paru adalah:
Faktor personal/dari dalam :
1) Faktor usia
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Haryanto dkk.(2004), kasus kematian penderita
TB paru hampir tersebar pada semua kelompok usia dan paling banyak pada kelompok
usia produktif yaitu usia 20-49 tahun sekitar 58%.Di Indonesia sendiri diperkirakan
75% penderita TB paru adalah usia produktif yaitu usia 15-50 tahun. (Heryanto dkk.,
2004)
2) Jenis Kelamin
Penyakit Tb Paru menyerang orang dewasa dan anak-anak, laki-laki dan
perempuan.Tb paru menyerang sebagian besar laki-lakiusia produktif.
3) Status gizi
Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi, dan lain-lain,
akan mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang sehingga rentan terhadap penyakit
termasuk TB paru. Keadaan ini merupakan faktor penting yang berpengaruh di negara
miskin, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. (Hiswani, 2009).
Bila daya tahan tubuh sedang rendah, kuman Tb paru akan mudahmasuk ke dalam
tubuh. Kuman ini akan berkumpul dalam paru-paru kemudian berkembang biak.Tetapi,
orang yang terinfeksikuman TB Paru belum tentu menderita Tb paru. Hal ini
bergantungpada daya tahan tubuh orang tersebut. Apabila, daya tahan tubuhkuat maka
kuman akan terus tertidur di dalam tubuh (dormant) dantidak berkembang menjadi
penyakt namun apabila daya tahantubuh lemah makan kuman Tb akan berkembang
menjadi penyakit.Penyakit Tb paru Lebih dominan terjadi pada masyarakat yangstatus
gizi rendah karena sistem imun yang lemah sehingga memudahkan kuman Tb Masuk
dan berkembang biak.

Faktor dari luar :

1) Faktor toksik ( Rokok)


Pada asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya bagi kesehatan. Sehingga, merokok
dapat mengganggu dapat mengganggu kejernihan mukosa silia yang digunakan sebagai
mekanisme pertahanan utama dalam melawan infeksi. Hal ini juga dapat memperbaiki
menempelnya bakteri dan infeksi. Merokok dimungkinkkan menghasilkan penurunan
fungsi sel T yang dimanifestasikan oleh penurunan perkembangbiakan mitogen sel T.
Polarisasi fungsi sel T dari respon TH-1 ke TH-2 mungkin juga mengganggu dampak
negatif pada fungsi limfosit B untuk menurunkan produksi imunoglobulin (Eisner,

6
2008). Perempuan cenderung lebih banyak mengalami konversi BTA hal ini
dipengaruhi faktor hormon. Pada perempuan terdapat estrogen yang dapat
meningkatkan sekresi INF-γ dan mengaktifkan makrofag sehingga respon imun
meningkat dan terjadi konversi BTA sedangkan pada laki-laki terdapat testosteron
yang menghambat respon imun (Utami dkk, 2012).
2) Faktor Kondisi Rumah
Beberapa faktor lingkungan yang menjadi faktor risiko terhadap kejadian TB paru
adalah:
a) Kepadatan hunian rumah
Kepadatan hunian rumah (in house overcrowding) diketahui akan meningkatkan risiko
dan tingkat keparahan penyakit berbasis lingkungan. Persyaratan kepadatan hunian
untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dengan m2/orang. Luas minimum per orang
sangat relatif, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk
rumah sederhana minimum 10 m2/orang, sehingga untuk satu keluarga yang
mempunyai 5 orang anggota keluarga dibutuhkan luas rumah minimum 50
m2.Sementara untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang. Dalam
hubungan dengan penularan TB paru, maka kepadatan hunian dapat menyebabkan
infeksi silang (cross infection). Adanya penderita TB paru dalam rumah dengan
kepadatan cukup tinggi, maka penularan penyakit melalui udara ataupun “droplet”
akan lebih cepat terjadi (Suyono,2005).
b) Ventilasi rumah
Ventilasi adalah suatu usaha untuk memelihara kondisi atmosfiryang menyenangkan
dan menyehatkan bagi manusia. Umumnya penularan TB terjadi dalam ruangan yang
memungkinkan percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat
mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh
kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan
lembab (Depkes RI, 2007).
3) Kondisi sosial ekonomi
Sebagai penderita Tb paru adalah dari kalangan miskin. Data WHOpada tahun 2011
yang menyatakan bahwa angka kematian akibatTb paru sebagaian besar berada di
negara yang relatif miskin.

E. Patofisiologi
Penularan TB Paru terjadi karena kuman mycobacterium tuberculosis. dibatukkan
atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat
hidup dalam udara bebas selama kurang lebih 1-2 jam, tergantung pada tidaknya sinar
ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Suasana lembab dan gelap kuman dapat
tahan berhari– hari sampai berbulan–bulan. Bila partikel ini terhisap oleh orang sehat maka
ia akan menempel pada jalan nafas atau paru–paru.

7
Partikel dapat masuk ke dalam alveolar, bila ukuran vartikel kurang dari 5
mikrometer. Kuman akan dihadapi terlebih dulu oleh neutropil, kemudian baru oleh
makrofag. Kebanyakan partikel ini akan dibersihkan oleh makrofag keluar dari cabang
trakea bronkhial bersama gerakan sillia dengan sekretnya. Bila kuman menetap di jaringan
paru maka ia akan tumbuh dan berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Di sini ia
dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya.
Kuman yang bersarang ke jaringan paru akan berbentuk sarang tuberkulosis
pneumonia kecil dan disebut sarang primer atau efek primer atau sarang ghon (fokus).
Sarang primer ini dapat terjadi pada semua jaringan paru, bila menjalar sampai ke pleura
maka terjadi efusi pleura. Kuman dapat juga masuk ke dalam saluran gastrointestinal,
jaringan limfe, orofaring, dan kulit. Kemudian bakteri masuk ke dalam vena dan menjalar
keseluruh organ, seperti paru, otak, ginjal, tulang. Bila masuk ke dalam arteri pulmonalis
maka terjadi penjalaran keseluruh bagian paru dan menjadi TB milier.

Sarang primer akan timbul peradangan getah bening menuju hilus (limfangitis
lokal), dan diikuti pembesaran getah bening hilus (limfangitis regional). Sarang primer
limfangitis lokal serta regional menghasilkan komplek primer (range). Proses sarang paru
ini memakan waktu 3–8 minggu.Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis
adalah pencairan dimana bahan cairan lepas ke dalambronkus dengan menimbulkan
kapiler materi tuberkel yang dilepaskan daridinding kavitis akan masuk ke dalam
percabangan keobronkial. Proses inidapat terulang kembali di bagian lain dari paru-paru
atau basil dapat terbawasampai ke laring, telinga tengah atau usus.Kavitis untuk kecil
dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dengan meninggalkan jaringan parut yang
terdapat dekat dengan perbatasan bronkusrongga. Bahan perkijaan dapat mengontrol
sehingga tidak dapat mengalirmelalui saluran penghubung, sehingga kavitasi penuh
dengan bahan perkijuandan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang terlepas. Keadaan ini
dapat tidakmenimbulkan gejala dalam waktu lama dan membentuk lagi hubungan
denganbronkus dan menjadi limpal peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah.Organisme
atau lobus dari kelenjar betah bening akan mencapai aliran darahdalam jumlah kecil, yang
kadang-kadang dapat menimbulkan lesi padaberbagai organ lain. Jenis penyebaran ini
dikenal sebagai penyebaran limfohematogen yang biasanya sembuh sendiri, penyebaran ini
terjadi apabila fokusnekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk
kedalam sistem vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh (Price & Wilson,
2005).

Cara Penularan
Penyakit TB paru ini dapat ditularkan oleh penderita dengan hasil pemeriksaan
bakteri tahan asam (BTA) positif. Lebih jauh lagi, penularan TB paru dapat terjadi di

8
dalam ruangan yang gelap dan lembab karena kuman M. tuberculosis ini dapat bertahan
lama apabila di kondisi ruangan yang gelap dan lembab tersebut. Dalam hal ini, makin
tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan, maka orang itu makin berpotensi untuk
menularkan kuman tersebut. Selain itu, faktor yang memungkinkan seseorang untuk
terpapar yaitu seberapa lama menghirup udara yang sudah terkontaminasi kuman M.
tuberculosis tersebut dan konsentrasi percikan dalam udara itu. (Depkes RI,2007). Risiko
seseorang untuk tertular TB paru tergantung dari tingkat pajanan percikan dahak. Pasien
TB paru dengan BTA positif akan memberikan risiko penularan lebih besar dibandingkan
pasien TB paru dengan BTA negatif (Depkes RI, 2007; Widoyono, 2011).

F. Manifestasi Klinis
Menurut Crofton (2002), gejala yang dirasakan oleh penderita TB paru dapat
digambarkan sebagai berikut:
1) Permulaan Sakit
Pertumbuhan TB paru sangat menahun sifatnya, tidak berangsur-angsur
memburuk secara teratur, tetapi terjadi secara ”melompat-lompat”. Seranganpertama
menyerupai ”influenzae” akan segera mereda dan keadaan akan pulihkembali.
Berbulan-bulan kemudian akan timbul kembali serangan ”influenzae”.Tergantung dari
daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi basil, serangan kedua bisa terjadi setelah 3
bulan, 6 bulan, 9 bulan dan seterusnya. Dikatakan sebagaimultiplikasi 3 bulan.
Serangan kedua akan bertahan lebih lama dari yang pertamasebelum orang sakit
”sembuh” kembali. Pada serangan ketiga serangan sakit akanlebih lama dibandingkan
serangan kedua. Sebaliknya masa ”tidak sakit” menjadilebih pendek dari masa antara
serangan pertama dan kedua. Seterusnya masa aktif ”influenzae” makin lama makin
panjang, sedangkan masa ”bebas influenzae” makin pendek. Salah satu keluhan
pertama penderita TB paru adalah sering mendapatkan serangan ”influenzae”. Setiap
kali mendapat serangan dengan suhu bisa mencapai 40ºC-41ºC.
2) Malaise
Peradangan ini bersifat sangat kronik akan di ikuti tanda-tanda malaise:
anoreksia,badan makin kurus, sakit kepala, badan terasa pegal-pegal, demam subfebril
yang diikuti oleh berkeringat malam dan sebagainya.
3) Batuk
Mycobacterium tuberculosis mulai berkembang biak dalam jaringan paru.
Selamabronkus belum terlibat dalam proses penyakit, orang sakit tidak akan batuk.
Batukpertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk
membuang produk-produk ekskresi dari peradangan keluar.
4) Batuk Darah (hemoptoe)

9
Batuk darah akan terjadi bila ada pembuluh darah yang terkena dan kemudianpecah.
Tergantung dari besarnya pembuluh darah yang pecah maka akan terjadi batuk darah
ringan, sedang, atau berat tergantung dari berbagai faktor. Satu hal yang harus diingat
adalah tidak semua batuk darah dengan disertai gambaran lesi di paru secara radiologis
adalah TB paru. Batuk darah juga terjadi pada berbagai penyakit paru lain seperti
penyakit yang namanya bronkiektesi, kanker paru dan lain-lain.
5) Sakit/ Nyeri Dada
Gejala ini.. dapat ditemukan bila infiltrasi radang sudah sampai pada pleura,sehingga
menimbulkan pleuritis, akan tetapi, gejala ini akan jarang ditemukan.
6) Keringat Malam
7) Demam
Umumnya subfebris, kadang-kadang 40-410C, keadaan ini sangat dipengaruhi oleh
daya tahan tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
8) Sesak Nafas.
Pada gejala awal atau penyakit ringan belum dirasakan sesak nafas. Sesak nafas akan
ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian
paru-paru.

Tidak semua penderita TB paru punya semua gejala diatas, kadang-kadang hanya satu atau
2 gejala saja. Berat ringannya masing-masing gejala juga sangat
bervariasi (Aditama, 2002).
Gejala-gejala tersebut diatas di jumpai pula pada penyakit paru selain TB paru. Oleh karena
itu setiap orang yang datang ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK)
dengan gejala tersebut diatas, harus di anggap ”suspek tuberculosis” atau
tersangkapenderita TB paru dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis
langsung (Aditama, 2002).

G. Pemeriksaan Penunjang
Pasien tuberculosis dapat dilakukan pemeriksaan melalui :
1) Radiologi
Foto thoraks PA dan lateral yang menunjang TB paru.
a. Ada bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah.
b. Bayangan berawan atau bercak (nodular).
c. Adanya kavitas tunggal atau ganda.
d. Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru.
2) Tes tuberculin atau Tes mantoux adalah penyuntikan 0,1 cc PPD intradernal atau
intracutan kemudian indurasi yangtimbul dibaca 42 – 72 jam setelah tes. Dikatakan
positif bila diameter indurasi lebih besardari 10 mm.
3) Sputum : BTA

10
Pada BTA (+) ditermukan sekurang-kurangnya 3 batang kuman
pada satu sediaan dengna kata lain 5.000 kuman dalam 1 ml
sputum.
4) Radiologis TB Paru Milier
TB milier akut diikuti oleh invasi pembuluh darah secara masif atau menyeluruhserta
mengakibatkan penyakit akut yang berat dan sering disertai akibat yang fatal sebelum
penggunaan OAT.
Hasil pemeriksaan Rontgen thoraks bergantung pada ukuran dan jumlah tuberkel
milier.Pada beberapa klien TB milier, tidak ada lesi yang terlihat pada hasil Rontgen
thoraks,tetapi ada beberapa kasus, bentuk milier klasik berkembang seiring dengan
perjalanan penyakitnya.
5) Mikrobiologi Tes Bakteri Tahan Asam ( BTA )
Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi adalah sputum pada pagi hari.Bilasanlambung
dan cairan pleura beserta bilasan dari cairan bronkoskopi. Kultur digunakanuntuk
diagnosis dan test resistensi bakteri.
( Depkes RI, 2002 ).
6) Bronkoskopi
Suatu prosedur kesehatan yang dilakukan dengan memasukkan alat bernama
bronkoskop melalui tenggorokan, laring, trakea ke dalam bronkus untuk melihat bagian
toraks (dada)
7) Becton Dikinson Diagnotic Instrumen System (BACTEC)
Deteksi Growth Index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak
oleh Mycobacterium Tuberculosis.
8) Mycodot
Deteksi antibodi memakai antigen lipoparabinomanon yang direkatkan pada suatau alat
seperti sisir lalau dicelupkan ke serum pasien, bila terdapat antibodi spesifik dalam
jumlah memadai maka sisir akan berubah warna.
( Arif Mansjoer, 1999 )

H. Penatalaksanaan

1) Pencegahan
a. Pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul erat
dengan penderita tuberculosis paru BTA positif.
b. Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan missal terhadap kelompok – kelompok
populasi tertentu misalnya : karyawan rumah sakit, siswa – siswi pesantren.
c. Vaksinasi BCG (bacille Calmette-Guérin, organisme attenuated bovin), digunakan
untuk menginduksi sejumlah tertentu resistansi pada orang yang sangat terpajan
dengan infeksi.

11
d. Kemofolaksis dengan menggunakan INH 5 mg/kgBB selama 6 – 12 bulan dengan
tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri yang masih sedikit.
e. Komunikasi, informasi, dan edukasi tentang penyakit tuberculosis kepada
masyarakat.
(Muttaqin, 2008)

2) Tindakan keperawatan
Tindakan atau perencanaan keperawatan pada pasien dengan Tuberkulosis
paruberdasarkan NOC NIC.
c. Observasi dispnea, takipnea, menurunya bunyi nafas dan memantau peningkatan
upaya
d. Pernafasan, terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan.
e. Pantau fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama, dan kedalaman
serta
f. Penggunaan otot bantu pernafasan.
g. Berikan klien posisi semi fowler, bantu klien untuk batuk dan latihan nafas dalam.
h. Catat status nutrisi klien : kaji adanya penurunan berat badan, kemampuan atau
ketidakmampuan menelan, riwayat mual dan muntah.
( Wilkinson, 2007 )

3) DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORT COURSE (DOTS)


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kunci keberhasilan
program penanggulangan tuberkulosis adalah dengan menerapkan strategi DOTS,
yang juga telah dianut oleh negara kita. Oleh karena itu pemahaman tentang DOTS
merupakan hal yang sangat penting agar TB dapat ditanggulangi dengan baik.

DOTS mengandung lima komponen, yaitu :


1. Komitmen pemerintah untuk menjalankan program TB nasional
2. Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis
3. Pengobatan dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan
pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)
4. Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin
5. Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan evaluasi
program penanggulangan TB. (Depkes RI,2002).

Istilah DOT diartikan sebagai pengawasan langsung menelan obat jangka pendek setiap
hari oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).Tujuannya mencapai angka kesembuhan yang
tinggi, mencegah putus berobat, mengatasi efek samping obat jika timbul dan mencegah
resistensi.(Permatasari, 2005).

12
Pengawasan dilakukan oleh :
a. Penderita berobat jalan
1. Langsung di depan dokter
2. Petugas kesehatan
3. Orang lain (kader, tokoh masyarakat dll)
4. Suami/Istri/Keluarga/Orang serumah
b. Penderita dirawat
Selama perawatan di rumah sakit yang bertindak sebagai PMO adalah petugas RS,
selesai perawatan untuk pengobatan selanjutnya sesuai dengan berobat jalan.

4) Pengobatan
Menurut Mansjoer (1999 hal 473) penatalaksanaan pada tuberculosis paru antara lain:
A) Obat anti TB (OAT)
OAT harus di berikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisi
dengan atau tanpa obat ketiga.
Tujuan pemberian OAT, antara lain:
a. Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui
kegiatan bekterisid.
b. Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan
sterilisasi.
c. Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan
imunologis.
B) Pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase, yaitu:
i. Fase awal intensif, dengan kegiatan bekterisid untuk memusnahkan populasi kuman
yang membelah dengan cepat.
ii. Fase lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau
kegiatan bakteriostatik pada pengobatan konvensional.

OAT yang biasa digunakan antara lain Isoniazid (INH), Rifampisin (R),
Pirazinamid (Z) dan Steptomosin (S) yang bersifat bekterisid dan etambutol yang bersifat
bakteriostatik.

b. Panduan OAT pada TB paru (WHO 1993)

Klasifikasi dan Fase


Panduan OAT Fase Awal
Tipe Penderita Lanjutan
Kategori 1 - BTA (+) baru 2 HRZS (E) 4 RH
- Kasus berat: BTA 2 RHZS (E) 4 R3H3
(-) TB di luar paru

13
Kategori 2 - Kambuh, BTA (+) 2 RHZES/1 RHZE 5 RHE
- Gagal pengobatan 2 RHZES/1 RHZE 5 R3H3E3

Kategori 3 - TB paru, BTA (-) 2 RHZ 4 RH


- TB luar paru 2 RHZ/2R3H3Z3 4 R3H3
Kategori 4 - TB kronik RHZES Sesuai hasil
ujiresistensi

Keterangan:
4 HRZ : Tiap hari selama 2 bulan
4 RH: Tiap hari selama 4 bulan
4 H3R3: 3 kali seminggu selama 4 bulan

DOSIS PENGGUNAAN OAT

Dosis yang direkomendasikan


JENIS
SIFAT (mg/kg)
OAT
Harian 3x seminggu
Isoniazid (H) Bakterisid 5 (4-6) 10 (8-12)
Rifampicin (R) Bakterisid 10 (8-12) 10 (8-12)
Pyrazinamide (Z) Bakterisid 25 (20-30) 35 (30-40)
Streptomycin (S) Bakterisid 15 (12-18) 15 (12-18)
Ethambutol (E) Bakteriostatik 15 (15-20) 30 (20-35

 TB Paru kasus lalai berobat


Penderita TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan kembali sesuai
dengan kriteria sebagai berikut :
- penderita yang menghentikan pengobatannya < 2 minggu,
pengobatan OAT dilanjutkan sesuai jadwal
- Penderita menghentikan pengobatannya > 2 minggu
- Berobat > 4 bulan, BTA negatif dan klinik, radiologik negatif,
pengobatan OAT STOP
- Berobat > 4 bulan, BTA positif : pengobatan dimulai dari awal
dengan paduan obat yang lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama
- Berobat < 4 bulan, BTA positif : pengobatan dimulai dari awal
dengan paduan obat yang sama

14
- Berobat < 4 bulan, berhenti berobat > 1 bulan, BTA negatif, akan tetapi
klinik dan atau radiologic positif : pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat
yang sama.
- Berobat < 4 bulan, BTA negatif, berhenti berobat 2-4 minggu
pengobatan diteruskan kembali sesuai jadwal.

 Bila tidak minum obat secara teratur maka akan menyebabkan beberapa hal
berikut ini :
1. Kuman akan kebal sehingga penyakit lebih sulit diobati.
2. Kuman berkembangbiak lebih banyak dan menyerang organ lain.
3. Membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.
4. Biaya pengobatan semakin mahal.
5. Masa produktif yang hilang semakin banyak.

5) Tindakan Invasif

a. Terapi Pembedahan
Pusat radang TB terdiri atas pengejuan yang dikelilingi jaringan fibrosa. Seperti
halnya infeksi lain, adanya jaringan nekrosis akan menghambat penetrasi antibiotik ke
daerah radang sehingga pembasmian kuman tidak efektif. Oleh karena itu, sarang infeksi
di berbagai organ, misalnya kaverne di paru dan debris di tulang, harus dibuang. Jadi,
tindak bedah menjadi syarat mutlak untuk hasil baik terapi medis. Selain itu, tindak bedah
juga diperlukan untuk mengatasi penyulit, misalnya pada TB paru yang menyebabkan
destruksi luas dan empiema, pada TB usus yang menimbulkan obstruksi atau perforasi,
dan osteitis atau artritis tuberkulosa yang menimbulkan cacat (Karnadihardja, 2004).

b. Selain pembedahan
- Punksi pleura.
Pengambilan atau penyedotan cairan pleura.
- Pemasangan WSD (Water Sealed Drainage)
Suatu tindakan pemasangan kateter pada rongga toraks, rongga pleura dengan
tujuan untuk mengeluarkan udara atau cairan dari rongga tersebut.

I. Kriteria sembuh
Pasien Tbc dikatakan sembuh jika :
a. BTA mikroskopik negatif dua kali (pada akhir fase intensif dan akhir pengobatan) dan
telah mendapatkan pengobatan adekuat.
b. Pada foto toraks , gambaran radiologis tetap sama / perbaikan.

15
c. Bila ada fasilitas biakan, maka kriteria ditambah biakan negatif.

Evaluasi pasien yang telah sembuh

Pasien TB yang telah dinyatakan sembuh tetap dievaluasi minimal dalam 2 tahun pertama
setelah sembuh, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kekambuhan. Hal yang dievaluasi
adalah mikroskopik BTA dahak dan foto toraks. Mikroskopik BTA dahak 3,6,12 dan 24
bulan (sesuai indikasi/bila ada gejala) setelah dinyatakan sembuh. Evaluasi foto toraks 6,
12, 24 bulan setelah dinyatakan sembuh.(PDPI,2006).\

J. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada penderita stadium lanjut menurut Depkes (2005):
- Hemoptisis berat (pendarahan dari saluran nafas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan nafas.
- Bronkiektasis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan
ikat pada proses pemulihan atau retraktif) pada paru.
- Pneumotorak (adanya udara didalam rongga pleura) spontan: kolapsspontan
karena kerusakan jaringan paru.
- Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian,ginjal dan
sebagainya.
- Meningitis, radang meningen (selaput pelindung) yang menyelimuti otak dan
syaraf belakang.
- Spondilitis, inflamasi pada tulang vetebra.
- Pleuritis, peradangan pada pleura.
- Bronkopneumoni, peradangan pada dinding brinkiolus (saluran nafas kecil pada
paru-paru)
- Atelektasis, paru-paru mengerut sebagian atau keseluruhan akibat penyumbatan
udara di bronkus atau bronkiolus.

(Suriadi (2006)

16
Penyakit imunologi
Faktor toksik Terpapar penderita TBC Lingkungan yang buruk Gizi buruk
devisiensi/HIV
K. Pathway
L.
Mycobacterium Malnutrisi
tubercolosis aktif
menjadi kuman patogen Imun menurun

Droplet infection
(batuk, bersin) Daya tahan tubuh
menurun
Masuk lewat jalan nafas

fas
Menempel pada paru

Sembuh Keluar dari


Dibersihkan oleh makrofag
tanpa tracheobionchial Menetap dijaringan
pengobatan bersama sekret paru
Terjadi proses
peradangan

M.

Mempengaruhi
N. Pengeluaran zat Tumbuh & Berkembang
hipotalamus pirogen (zat yang di sitoplasma makrofa
menyebabkan
demam)
Demam Sarang primer / afek
primer (fokus ghon)
MK : HIPERTEMI

Limfangitis lokal (peradangan


getah bening)
Komplek primer Limfangitis regional
(pembesaran getah bening)

Meneyebar ke organ lain (paru Sembuh sendiri tanpa Sembuh dengan bekas fibrois
lain, saluran pencernaan, tulang) pengobatan (bercak ringan di paru)
melalui media
(bronchogen/saluran nafas,
percontinuitum/pertumbuhan ke
sekitar, hematogen,
limfogen/saluran limfe)

Radang tahunan di Pertahanan primer tidak


bronkus adekuat

Di paru
Berkembang Pembentukan tuberkel Kerusakan membran
menghancurkan alveolar
Peradangan paru
jaringan ikat sekitar
Menurunnya
Bagian tengah Pembentukan sputum permukaan efek
nekrosis paru
MK : KETIDAKEFEKTIFAN
17
BERSIHAN JALAN NAFAS
Menurunnya
permukaan
Sekret keluar saat Penumpukan Alveolus mengalami
batuk sekret konsolidasi & eksudasi
O. (terisi cairan berupa
eksudat)
Batuk produktif Sesak
(batuk terus
menerus Abnormalitas nilai
gas darah arteri
MK: KETIDAK
EFEKTIFAN POLA
NAFAS
MK: GANGGUAN
PERTUKARAN GAS

Droplet infection Batuk berat

Terhirup orang Distensi abdomen


sehat (penggelembungan/pembengka
kan abdomen krn berisi gas dan
cairan)
MK: RESIKO
PENYEBARAN
INFEKSI
Mual, muntah

Anoreksia

MK: KETIDAK
SEIMBANGAN
Kurangnya NUTRISI KURANG
informasi DARI KEBUTUHAN
TUBUH

MK:
KURANGNYA
PENGETAHUAN

18
P. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian tergantung pada tahap penyakit dan derajat yang terkena
1) Aktivitas atau istirahat
Gejala :kelelahan umum dan kelemahan, mimpi buruk, nafaspendek karena kerja,
kesulitan tidur pada malam hari,menggigil atau berkeringat.
Tanda : takikardia. takipnea/dispnea pada kerja, kelelahan otot,nyeri dan sesak (tahap
lanjut).
2) Integritas EGO
Gejala : adanya faktor stress lama, masalah keuangan rumahperasaan tidak
berdaya/tidak ada harapan. Populasibudaya/etnik, missal orang Amerika asli atau
imigran dariAsia Tenggara/benua lain.
Tanda : menyangkal (khususnya selama tahap dini) ansietasketakutan, mudah
terangsang.
3) Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan. tidak dapat mencerna penurunanberat badan.
Tanda : turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilanganotot/hilang lemak
subkutan.
4) Nyeri atau kenyamanan
Gejala : nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
5) Pernafasan
Gejala : batuk produktif atau tidak produktif, nafas pendek, riwayattuberculosis
terpajan pada individu terinfeksi.
Tanda : peningkatan frekuensi pernafasan (penyakit luas ataufibrosis parenkim paru
pleura) pengembangan pernafasan tidaksimetri (effuse pleura) perkusi pekak dan
penurunan fremitus(cairan pleural atau penebalan pleural bunyi nafasmenurun/tidak
ada secara bilateral atau unilateral efusipleural/pneumotorak) bunyi nafas tubuler dan
bisikan pectoraldi atas lesi luas, krekels tercabut di atas aspek paru selamainspirasi
cepat setelah batuk pendek (krekes posttussic)
6) Karakteristik sputum: hijau, puluren, muloid kuning ataubercak darah deviasi trakeal
(penyebaran bronkogenik).
7) Keamanan
Gejala : adanya kondisi penekanan imun. contoh: AIDS, kanker, Tes BTA positif.
Tanda : demam rendah atau sedikit panas akut.
8) Interaksi social
Gejala : perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular,perubahan bisa dalam
tanggungjawab/perubahan kapasitasfisik untuk melaksanakan peran.

19
2. Diagnosa Keperawatan
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveolar sehingga
menyebabkan aleolus mengalami konsolidasi dan eksudasi.
2. Ketidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan pembentukan sputum berlebih.
3. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan penumpukan sekret.
4. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan.
5. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anofeksia dan
mual muntah.
6. Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi aturan tindakan dan pencegahan berhubungan
dengan kurangnya informasi.
7. Resiko penyebaran infeksi penularan berhubungan dengan droplet infection dari batuk
produktif.

3. Intervensi

Diagnosa Tujuan dan Kriteria


No Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil
1. Gangguan Tujuan : 1. Kaji dispnea, 1. TB paru
pertukaran gas Setelah dilakukan takipnea, tidak menyebabkan efek
berhubungan tindakan keperawatan normal atau luas pada paru dari
dengan kerusakan selama 2 x 24 menurunnya bunyi bagiankecil
membran alveolar jam, diharapkan nafas,peningkatan bronkopneumonia
sehingga gangguan pertukaran upaya pernafasan, sampai inflamasi
menyebabkan gas teratasi, klien dapat terbatasnya difus luas nekrosis
aleolus mengalami mempertahankan dan ekspansi dinding effure pleural
konsolidasi dan meningkatkan ventilasi dada dan untuk fibrosis
eksudasi. dan oksigenisasi kelemahan. luas.
yangadekuat
2.Evaluasi tingkat 2.Akumulasi
Kriteria hasil : kesadaran, catat sekret/pengaruh
sianosis dan jalan nafas
1. Tanda – tanda vital perubahan dapatmengganggu
klien dalam batas padawarna kulit, O2 organ vital dan
normal ( tekanan termasuk membran jaringan.
darah : 120/80 mukosa dan kuku.
mmHg, nadi : 60 – 3. Membuat tahanan
100 x/menit, suhu : 3. Tunjukkan/dorong melawan udara
36 – 37, pernafasan bernafas dengan luar untuk
20
: 16 – 24x bibir selama mencegahkolaps
permenit) indikasi,khususnya atau penyempitan
2. Bunyiparu normal, untuk pasien jalan nafas,
tidak adanya dengan fibrosis sehingga
distress pernafasan, atau kerusakan membantu
dapat menunjukkan parenkim. menyebarkan
ventilasi yang udara melalui paru
adekuat,tidak ada 4. Tingkatkan tirah dan
sianosis. baring / batasi menghilangkan
 Menunjukkanperbai aktivitas dan bantu atau menurunkan
kan ventilasi dan aktivitas nafas pendek.
O2 jaringan adekuat pasiensesuai
dengan AGP keperluan. 4. Menurunkan
dalamrentang konsumsi
normal.. 5. Kolaborasi oksigen/kebutuhan
medis dengan selamaperiode
pemeriksaan penurunan
ACP dan pernafasan dapat
pemberianOks menurunkan
igen. beratnya gejala.
5. Mencegah
pengeringan
membran mukosa,
membantu
pengenceran
sekret.
6. Mencegah
pengeringan
membran mukosa,
membantu
pengenceran
sekret.
2. Ketidak efektifan Tujuan : 1. Kaji fungsi 1. Peningkatan bunyi
jalan nafas pernapasan,seperti nafas dapat
Setelah dilakukan
berhubungan bunyi menunjukkan
tindakan keperawatan
dengan nafas,kecepatan, atelektasis,ronchi,
selama 2 x 24 jam,
pembentukan irama,kelemahan mengi
bersihan jalan napas
sputum berlebih. dan penggunaan menunjukkan
kembali normal.
otot bantu. akumulasi sputum

21
atau ketidak
Kriteria hasil :
2. Catat kemampuan mampuan untuk
untuk membersihkan
 Klien tidak
mengeluarkan jalan nafas yang
mengeluh sesak
mukosa batuk dapat
nafas, secret encer
efektif, catat menimbulkan
dan mudah
karakter, jumlah penggunaan otot
dikeluarkan,
sputum, adanya pernafasan.
 Ronkhi berkurang
hemoptisis.
atau hilang, tanda –
2. Pengeluaran sulit
tanda vital klien
3. Berikan klien bila sekret sangat
dalam batas normal
posisi semi atau tebal sputum
( tekanan darah:
fowler tinggi. berdarah
120/80 mmHg, nadi
kental/darah cerah
: 60 – 100x
4. Bersihkan sekret (misal efek infeksi,
permenit, suhu : 36
dari mulut dan atautidak kuatnya
ᴼ sampai 37 ᴼ C ,
trakea, hidrasi).
pernafasan : 16 –
penghisapan sesuai
24 x/menit ).
keperluan. 3. Posisi membantu
 Mempertahankan
memaksimalkan
jalan nafas pasien,
5. Pertahankan ekspansi paru dan
 Mengeluarkan
masukan cairan menurunkan upaya
sekret tanpa
sedikitnya 2500 pernafasan.
bantuan,
m/hari
 Menunjukkan
kecualikontra 4. Mencegah
perilaku untuk
indikasi. obstruksi respirasi,
mempertahankan
penghisapan dapat
kebersihan jalan
diperlukan bila
nafas,
pasien tidak
 Berpartisipasi
mampu
dalam progam
mengeluarkan
pengobatan .
sekret.

5. Pemasukan
tinggi cairan
membantu untuk
mengencerkan
sekret,
membantu untuk

22
mudah
dikeluarkan.
3 Ketidak efektifan Tujuan : 1. Kaji kualitas dan 1. Kecepatan
pola nafas kedalaman biasanya
berhubungan Setelah dilakukan pernafasan meningkat,
dengan tindakan keperawatan 2 penggunaan otot dispnea
penumpukan x 24 jam pola nafas pernafasan,catat terjadipeningkatan
sekret. kembali aktif. setiap perubahan. kerja nafas,
kedalaman
Kriteria hasil : 2. Kaji kualitas pernafasan dan
sputum, warna, bervariasi
Dispnea berkurang, bau dan tergantung derajat
frekuensi, irama dan konsistensi. gagal nafas.
kedalaman dan 3. Baringkan klien
pernafasan normal untuk 2. Adanya sputum
mengoptimalkan yang tebal, kental,
pernafasan (semi berdarah
fowler) danpurulen diduga
terjadi sebagai
masalah sekunder.

3. Posisi duduk
memungkinkan
ekspansi paru
maksimal upaya
batuk untuk
memobilisasi dan
membuang sekret.
4 Peningkatan suhu Tujuan : 1. Pantau suhu tubuh. 1. Sebagai indikator
tubuh untk mengetahui
berhubungan Setelah dilakukan 2. Anjurkan untuk status hipertermi.
dengan tindakan keperawatan mempertahanan
peradangan. selama 1 x 24 masukan cairan 2. Dalam kondisi
jam, diharapkan adekuat untuk demam terjadi
masalah suhu tubuh mencegah peningkatan
kembali normal. dehidrasi. evaporasi yang
memicu
Kriteria hasil : 3. Berikan kompres timbulnya
hangat pada lipatan dehidrasi.

23
 Suhu tubuh dalam ketiak dan femur.
rentang normal (360 3. Menghambat
C - 370C) 4. Anjurkan pasin pusat simpatis
 Tidak ada keluhan untuk memakai dan hipotalamus
demam pakaian yang sehinggaterjadi
menyerap keringa. vasodilatasi kulit
dengan
merangsang
5. Kolaborasi
kelenjar
pemberian
keringatuntuk
antipiretik
mengurangi
panas tubuh
melalui
penguapan.

4. Kondisi kulityang
mengalami
lembab
memicutimbulny
a pertumbuhan
jamur. Juga akan
mngurangi
kenyamanan
pasien
5. Mengurangi
panas dengan
farmakologis.
5. Ketidak Tujuan : 1. Catat status nutrisi 1. Berguna dalam
seimbangan nutrisi pasien dari mendefinisikan
kurang dari Setelah dilakukan penerimaan, catat derajat/luasnya
kebutuhan tubuh tindakan keperawatan turgor kulit, masalah dan
berhubungan selama 2 x 24 beratbadan dan pilihan intervensi
dengan anofeksia jam diharapkan nutrisi derajat yang tepat.
dan mual muntah. pada pasien terpenuhi. kekurangannya
berat badan, 2. Membantu dalam
Kriteria hasil : riwayat mual atau mengidentifikasi
muntah, diare. kebutuhanpertim
 Pasien menunjukkan bangan keinginan
peningkatan berat 2. Pastikan pada diet individu dapat

24
badan dan biasa pasien yang memperbaiki
melakukan perilaku disukai atau tidak masukan diet.
atau perubahan pola disukai.
hidup. 3. Dapat
3. Selidiki anoreksia, mempengaruhi
mual dan muntah pilihan diet dan
dan catat mengidentifikasiar
kemungkinanhubu ea pemecahan
ngan dengan obat, masalah untuk
awasi frekuensi, meningkatkan
volume konsistensi pemasukan atau
feces. penggunaan
nutrien.
4. Dorong dan berikan
periode istirahat 4. Membantu
sering. menghemat energi
khususnyabila
5. Berikan perawatan kebutuhan
rnulut sebelum dan meningkat saat
sesudah demam.
tindakanpernafasan
. 5.Menurunkan rasa
tidak enak karena
sisa sputum
atauobat untuk
pengobatan
respirasi yang
merangsang pusat
muntah.
6. Kurangnya Tujuan : 1. Kaji kemampuan 1. Belajar tergantung
pengetahuan pasien untuk pada emosi dari
mengenai kondisi Setelah dilakukan belajar. kesiapan fisik
aturan tindakan tindakan keperawatan danditingkatkan
2. Berikan instruksi
dan pencegahan selama 2 x 24 jam pada tahapan
dan informasi
berhubungan diharapkan defisiensi individu.
tertulis pada pasien
dengan kurangnya pengetahuan teratasi
untuk rujukan
informasi. dan pengetahuan 2. Informasi tertulis
contoh: jadwal
pasien bertambah menentukan
obat.
tentang penyakit hambatan pasien

25
tuberkulosisparu. 3. Jelaskan dosis untukmengingat
obat, frekuensi sejumlah besar
Kriteria hasil : pemberian, kerja informasi
yang pengulangan
Pasien menyatakan diharapkandan menguatkan
mengerti tentang alasan pengobatan belajar.
penyakittuberkulosis lama, dikaji
paru. potensial interaksi 3. Meningkatkan
dengan obat atau kerjasama dalam
subtansi lain. program
pengobatandan
4. Dorong untuk tidak
mencegah
merokok.
penghentian obat
sesuai perbaikan
5. Kaji bagaimana
kondisi pasien.
yang ditularkan
kepada orang lain
4. Meskipun
merokok tidak
merangsang
berulangnyaTBC
tetapi
meningkatkan
disfungsi
pernafasan.
5. pengetahuan dapat
menurunkan resiko
penularan
atau reaktivitas
ulang juga
komperkasi
sehubungan dengan
reaktivitas.
7. Resiko Tujuan : 1. Kaji patologi 1. Membantu pasien
penyebaran infeksi penyakit dan menyadari/mener
penularan Setelah dilakukan potensial ima
berhubungan tindakan keperawatan penyebaran infeksi perlunyamematuh
dengan droplet selama 2 x 24 jan melalui droplet i program
infection dari diharapkan tidak terjadi udara selama pengobatan untuk
penyebaran infeksi. batuk, bersin, mencegah

26
batuk produktif. meludah, bicara, pengaktifan
Kriteria hasil : tertawa. berulang atau
komplikasi serta
Pasien 2. Identifikasi orang membantu pasien
mengidentifikasi lain yang beresiko, atau orang
intervensi untuk missal: anggota terdekat untuk
mencegahatau keluarga,sahabat mengambil
menurunkan resiko karib/teman. langkah untuk
penyebaran infeksi, mencegah infeksi
melakukan 3. Kaji tindakan ke orang lain.
perubahanpola hidup. kontrol infeksi
sementara, missal: 2. Orang-orang yang
masker atau terpejan ini perlu
isolasipernafasan. program
terapiobat untuk
4. Anjurkan pasien mencegah
untuk batuk/bersin penyebaran/terjad
dan mengeluarkan inya infeksi.
pada tisudan
menghindari 3. Dapat membantu
meludah. Kaji menurunkan rasa
pembuangan tisu terisolasi pasien
sekali pakai dan danmembuang
teknik mencuci stigma sosial
tangan yang tepat, sehubungan
dorong untuk dengan penyakit
mengulangi menular.
demonstrasi.
4. Perilaku yang
5. Tekanan diperlukan untuk
pentingnya tidak mencegah
menghentikan penyebaran.
terapi obat.
5. Periode singkat
6. Dorong memilih berakhir 2-3 hari
mencerna makanan setelah kemoterapi
seimbang, berikan awal, tetapi pada
makansering, adanya rongga
makanan kecil pada atau penyakit luas,

27
jumlah, makanan sedang resiko
besar yang tepat. penyebaran infeksi
dapat berlanjut
sampai 3 bulan.

6. Adanya anoreksia
(mal nutrisi
sebelumnya,merenda
hkan tahapan
terhadap proses
infeksi dan
mengganggu
penyembuhan,
makanan kecil dapat
meningkatkan
pemasukan semua.

28
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Tuberculosis adalah penyakit langsung yang mengenai parenkim paru yang
disebabkanoleh basil mycobacterium tuberculosis.Sebagian besar kuman tuberculosis
mengenai parutapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Brunner & Suddarth, 2001).
Ada beberapa klasifikasi TB menurut Depkes (2007) yaitu tuberkulosis paru,
tuberkulosis ekstra paru, tuberkulosis Paru BTA (+) , tuberkulosis Paru BTA (-).
Penyebab dari penyakit tuberculosis paru adalah terinfeksinya paruoleh
mycobacterium tuberculosis yang merupakan kuman berbentuk batangdengan ukuran
sampai 4 mycron dan bersifat anaerob.
Penularan TB Paru terjadi karena kuman mycobacterium tuberculosis dibatukkan
atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara.
Tindakan atau perencanaan keperawatan pada pasien dengan Tuberkulosis
paruberdasarkan NOC NIC.

B. Saran
Sebagai tenaga propesional tindakan perawat dalam penanganan masalah
keperawatan khususnya Tuberculosis (TBC) harus di bekali dengan pengetahuan yang luas
dan tindakan yang di lakukan harus rasional sesuai gejala penyakit.

29
DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T. Y. 2002. Tubercolusis Paru, Diagnosa, Terapi dan Masalahnya, Edisi 4.

Jakarta : IDI

Amin, Zulkifli. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : Airlangga

University Press.

Depkes RI. 2002. Pedoman Nasional Penanganan Tubercolusis. Jakarta : Depkes.

Depkes RI. 2010. Pedoman Nasional Penanganan Tuberculosis. Jakarta : Depkes.

Hiswani. 2004. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi yang Masih Menjadi

Masalah Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Sumatera Utara

Muttaqin Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem

Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika.

Price, SA en Wilson, LMC., 2006. Tubercolusis Paru dalam Patofisiologi Konsep

Klinis Proses-Proses Penyakit, bagian 1, edisi 2. Jakarta : EGC.

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 1 & 2.

Jakarta : EGC.

Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta : EGC.

Departemen Kesehatan RI. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan TB. Jakarta.

Doenges, ME at. ALL., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk

Perencanaan, Edisi III, Cetakan 1. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif, dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1. Jakarta :

FKUI.

30