Anda di halaman 1dari 5

RADIKALISME (Radikalisme (historis), sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan

tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan electoral yang mencakup mereka yang
berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan
pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme.)

Gerakan radikal adalah gerakan perubahan yang mengakar atau mendasar, contohnya adalah keinginan
sekelompok orang yang ingin mengubah idiologi Negara. perkembangannya pemikiran radikal sering
dibarengi oleh oknum-oknum anarkis dan Vandalisme (kegiatan kriminal yang menghancurkan,
merusak). Faktanya Terorisme lebih mendekati Vandalisme, daripada Radikalisme. Aksi para teroris
bukan merupakan gerakan radikal yang sesungguhnya. Karena terorisme hanya menyebar rasa takut,
bukan merupakan sebuah perubahan yang radikal.

2.1 Ciri Ciri Paham Radikalisme

Syaikh Yusuf Qordawi mengungkapkan bahwa kelompok fundamentalis radikal yang fanatik dapat
dicirikan oleh beberapa karakter, sebagai berikut:

1. Acapkali mengklaim kebenaran tunggal. Sehingga mereka dengan mudahnya menyesatkan kelompok
lain yang tak sependapat dengannya. Mereka memposisikan diri seolah-olah "nabi" yang diutus oleh
Tuhan untuk meluruskan kembali manusia yang tak sepaham dengannya.

2. Cenderung mempersulit agama dengan menganggap ibadah mubah atau sunnah seakan-akan wajib
dan hal yang makruh seakan-akan haram. Sebagai contoh ialah fenomena memanjangkan jenggot dan
meninggikan celana di atas mata kaki. Bagi mereka ini adalah hal yang wajib.. Jadi mereka lebih
cenderung fokus terhadap kulit daripada isi.

3. Mereka kebanyakkan mengalami overdosis agama yang tidak pada tempatnya. Misalnya, dalam
berdakwah mereka mengesampingkan metode gradual, "step by step", yang digunakan oleh Nabi dan
Walisanga. Sehingga bagi orang awam, mereka cenderung kasar dalam berinteraksi, keras dalam
berbicara dan emosional dalam menyampaikan. Tetapi bagi mereka sikap itu adalah sebagi wujud
ketegasan, ke-konsistenan dalam berdakwah, dan menjunjung misi "amar ma'aruf nahi munkar".
Sungguh suatu sikap yang kontra produktif bagi perkembangan dakwah Islam ke depannya.

4. Mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat. Mereka mudah berburuk sangka kepada
orang lain yang tak sepaham dengan pemikiran serta tindakkannya. Mereka cenderung memandang
dunia ini hanya dengan dua warna saja, yaitu hitam dan putih.

4.1 Latar Belakang Paham Radikalisme

Sepuluh tahun terkhir dunia (Islam), termasuk Indonesia, terus diguncang berbagai tindakan
terorisme, anarkisme, dan radikalisme beragama. Realitas ini jelas bukan sesuatu yang lumrah dan tidak
menyenangkan bahkan justru dapatmenghancurkan citra Islam. Hal itu secara otomatis telah menjadi
tugas bagi paraulama dan pemimpin Islam dunia dengan bersama-sama merapatkan barisan,
berpegangan tangan untuk maju bersama dalam membangun dan mengembalikan peran dan posisi Islam
sebagai agama yang ´rahmatan Lil alamin.
Sehingga kita mulai bertanya mengapa radikalisme agama itu bisa terjadi? Mengapa agama dijadikan
kendaraan untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai hakiki dari agama itu
sendiri? Menurut Horace M.Kallen (1972), radikalisme ditandai tiga kecenderungan umum.

Selain karena faktor tersebut, radikalisme terjadi karena beberapa faktor lain,yaitu:

a) Faktor Pemikiran:

Merebaknya trend paham yang ada dalam masyarakat Islam, Sedang pemikiran yangkedua adalah
mereflesikan penentangannya terhadap alam relaitas yangdianggapnya sudah tidak dapat ditolerir lagi,
dunia saat ini dipandanganya tidak lagi akan mendatangkan keberkahan dari Allah Swt, penuh dengan
kenistaan,sehingga satu-satunya jalan selamat hanyalah kembali kepada agama. Namun jalan menuju
kepada agama itu dilakukan dengan cara-cara yang sempit, keras,kaku dan memusuhi segala hal yang
berbau modernitas.Pemikiran ini merupakananak kandung dari pada paham fundamentalisme.

Terdapat kesalahpahaman di tengah sebagian masyarakat dalam menyikapi tindakan radikalisme,


dimana mereka berasumsi bahwa tindakan radikal hanya dilakukan oleh orang yang fanatik dalam
beragama.

Terdapat sebagian pihak yang memanfaat isu radikalisme untuk menghambat laju perjalanan dakwah
sunnah di bumi nusantra ini. Dan menyebarkan informasi yang menyesatkan di media masa bahwa
radikalisme disebabkan oleh kepanatikan terhadap ajaran Islam.

Radikalisme, berasal dari kata radikal yang berarti secara mendasar (sampai kepada hal yang
prinsip); amat keras menuntut perubahan ( undang-undang pemerintah dan sebagainya ); maju dalam
berfikir atau bertindak.

Sedangkan radikalisme adalah paham atau aliran yang radikal dalam politik; paham atau aliran yang
menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; sikap
ekstrim dalam suatu aliran politik.

Kalu menurut saya, contoh dari radikalisme itu salah satunya peristiwa Bom Bali, mereka beralasan
bahwa untuk memusnakan bentuk penyimpangan dalam Islam. Itu dikerenakan pakaian-pakaian yang
digunanakan para turist Bali yang begitu “WAOW”, sehingga mereka merasa terpanggil untuk
menegakkan kebenaran.

Apa harus seperti itu caranya ?...

Dengan bertindak seperti itu, banyak juga saudara yang dari umat muslim ikut menjadi korban,
bukankah itu termasuk pembunuhan ?... apakah Islam mengajari untuk demikian ?... menurut saya Islam
itu lembut. Entah mereka memiliki dasar apa dan berkeinginan apa, sehingga bertindak demikian.
Menurut saya itu tindakan kurang terpuji, tapi entah apa pendapat mereka. Karena pasti sudah jelas apa
yang saya fikirkan dengan jalan fikiran mereka tentu sangan berbeda.

Hadirnya semangat menjadikan Islam sebagai agama sekaligus negara kembali merisaukan
belakangan ini. Gerakan yang lebih dikenal dengan gerakan radikalisme agama mulai
menemukan caranya dalam menyebarkan ajarannya. Gerakan ini dikatakan radikal karena lebih
mengedepankan pemahaman literal terhadap teks dan cenderung mudah menggunakan
kekerasan dalam memaksakan pemahaman mereka. Bila dahulu gerakan radikalisme agama
dalam menyampaikan ajarannya hanya melalui jalan revolusioner, seperti Jamaah Islamiyah
dengan bom bunuh dirinya, dan terbukti gagal maka sekarang turut menggunakan cara baru
yaitu jalan evolusioner.

Boleh jadi munculnya gagasan mengubah Islam kedalam negara disebabkan oleh semangat berlebihan
tanpa dibarengi pengetahuan agama yang memadai. Berawal dari situ maka munculah klaim kebenaran
tunggal untuk menghindari pemahaman lain yang berseberangan. Pandangan yang berbeda atau
bersebrangan harus diberangus dan dianggap sesat. Selanjutnya agama dijadikan dalih terhadap
pemahaman literal mereka sehingga tanpa mereka sadari apa yang mereka perjuangkan adalah ideologi
mereka dan bukan islam itu sendiri.

Karena itu alasan utama menolak radikalisme agama ialah untuk mengembalikan wajah Islam
yang penuh rahmat sekaligus menyelamatkan NKRI dari keterpecah belahan. Seluruh
masyarakat Indonesia perlu bersama mewujudkan islam yang lebih moderat dan akomodatif
terhadap kekayaan budaya nusantara. Islam yang terbuka dan tidak meneriakkan kekerasan
adalah kunci perdamaian di Indonesia sehingga gerakan radikalisme agama yang sekedar
menekankan sisi luar dari Islam tidak akan pernah menemukan relevansinya di negeri ini.

melampaui batas perintah agama, sampai akhirnya terjerumus kepada perbuatan bid’ah. Berikut
kita sebutkan dalil dari al Qur’an dan sunnah tentang larangan tindakan ghuluw dalam agama:
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
‫َّللا إِ هَل ْال َح هق‬ ِ ‫يَا أ َ ْه َل ْال ِكت َا‬
َ ‫ب ََل ت َ ْغلُوا فِي دِينِكُ ْم َو ََل تَقُولُوا‬
ِ ‫علَى ه‬
Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu
mengatakan terhadap Allâh kecuali yang benar [An-Nisâ/4:171]
Dan Firman Allâh Azza wa Jalla :
‫يل‬
ِ ‫س ِب‬ َ ‫ضلُّوا‬
َ ‫ع ْن‬
‫س َواءِ ال ه‬ ً ‫ضلُّوا َكث‬
َ ‫ِيرا َو‬ َ َ ‫ضلُّوا مِ ْن قَ ْب ُل َوأ‬ ِ ‫غي َْر ْال َح‬
َ ‫ق َو ََل تَت ه ِبعُوا أ َ ْه َوا َء قَ ْو ٍم قَ ْد‬ ِ ‫قُ ْل يَا أ َ ْه َل ْال ِكت َا‬
َ ‫ب ََل ت َ ْغلُوا فِي دِينِكُ ْم‬
Katakanlah, “Hai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara
tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah
sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan
(manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus” [Al-Mâidah/5:77]
Diriwayat oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Kegiatan bertemakan Radikalisme Agama ini bukan kebetulan saja melainkan campur tangan Tuhan
sendiri. Sehingga kegiatan ini terlaksana bersamaan dengan sehari setelah tragedi bom Terminal Kampung
Melayu. Sebelumnya juga bom melanda kota Manchester dan peperangan tentara Filipina melawan
pejuang ISIS di wilayah selatan Filipina. Bertepan dengan itu pula hari tersebut (Jumat, 26/5/2017), umat
muslim memulai masa puasa atau bulan Ramadhan. Tentu ini berkaitan dengan partisipasi kita untuk
menjamin kedamaian bagi umat Islam yang menjalani bulan puasa – tidak terprovokasi situasi di luar.
Oleh karena itu momentum seperti ini pantas diapresiasi untuk merawat kebhinekaan kita.

Wajah Ganda Radikalisme Agama


Beberapa terminologi yang sering dikaitkan dengan keagamaan seperti seperti radikalisme,
fundamentalisme, fanatisme, militansi, konservatisme dan terorisme. Kita sering terjebak dalam
penggunaan atau penuturan terminologi-terminilogi ini sesinonim, kenyataan masing-masing terminologi
menimbulkan ambiguitas dalam pemaknaan.

Radikalisme, secara etimologis berasal dari kata radix, bahasa Latin, yang berarti akar. Dimaknai sebagai
gerakan kembali ke akarnya yaitu Kitab Suci dan tradisi. Demikian pula fundamentalisme, berasal dari
kata fundamen (bahasa Latin), yang berarti dasar atau fundasi, berarti berarti kembali ke dasar atau
basisnya yaitu Kitab Suci dan tradisi juga.
Sedangkan kata radikal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memiliki pengertian
berikut, pertama, secara mendasar atau sampai pada hal yang prinsip; kedua, berkaitan dengan politik
yakni amat keras dalam menuntut perubahan, misalnya yang berkaitan dengan undang-undang dan
pemerintahan; dan ketiga, maju dalam berpikir atau bertindak.
Penggunaan kata radikal dalam konteks agama, maka nuansa itu merujuk pada keyakinan yang
fundamental terhadap ajaran-ajaran keagamaan yang dianut. Dengan demikian, dalam konteks itu kata
radikal tidak berkonotasi negatif sejauh tidak disertai dengan tindakan kekerasan (violence). Namun
kenyataan, bebeapa dekade ini kelompok radikal, fanatik atau fundamental sering menampakkan sifat dan
watak kekerasan.
UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan
ORGANISASI KEMASYARAKATAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang:
a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat merupakan bagian dari
hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
c. bahwa sebagai wadah dalam menjalankan kebebasan berserikat, berkumpul, dan
mengeluarkan pendapat, organisasi kemasyarakatan berpartisipasi dalam pembangunan untuk
mewujudkan tujuan nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berdasarkan Pancasila;
d. bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan sudah
tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara sehingga perlu diganti;
Bagaimana Pembubaran HTI Menurut UU Ormas?
HTI tidak melaksanakan peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan
guna mencapai tujuan nasional.

- Wiranto

Bagaimana aturannya?

Ormas diatur di Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi


Kemasyarakatan.

Pasal 1 Organisasi Kemasyarakatan adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh
masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan,
kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya
tujuan Negara Kesatuan RI yang berdasarkan Pancasila.

Pasal 2 Asas ormas tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Pasal 3 Ormas dapat mencantumkan ciri tertentu yang mencerminkan kehendak dan cita-cita
Ormas yang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

"Bahwa kita sepakat menjadikan Pancasila sebagai falsafah bangsa, kita sepakat menjadikan UUD 45
sebagai konstitusi kita. Kita sudah sepakat, jadi jangan diutak-utik lagi, jangan diubah dan diganti
lagi," tutur Anwar.