Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

SPONDILITIS TUBERCULOSA

Disusun Oleh:
Luluk Nafisah

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2018 M/ 1438 H
A. ANATOMI FISIOLOGI
Tulang punggung atau columna vertebralis adalah tulang tak beraturan
yang membentuk punggung yang mudah digerakkan. terdapat 33 tulang
punggung pada manusia, 5 di antaranya bergabung membentuk bagian sacral,
dan 4 tulang membentuk tulang ekor (coccyx).
Tulang vertebrae terdri dari 33 tulang: 7 buah tulang servikal, 12 buah
tulang torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sacral. Tulang servikal,
torakal dan lumbal masih tetap dibedakan sampai usia berapapun, tetapi
tulang sacral dan koksigeus satu sama lain menyatu membentuk dua tulang
yaitu tulang sakrum dan koksigeus. Diskus intervertebrale merupkan
penghubung antara dua korpus vertebrae. Sistem otot ligamentum membentuk
jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan memungkinkan mobilitas
vertebrae.
Struktur Umum sebuah tulang punggung (vertebrae) terdiri atas dua
bagian yakni bagian anterior yang terdiri dari badan tulang atau corpus
vertebrae yang berfungsi untuk menyangga berat badan, dan bagian posterior
yang terdiri dari arcus vertebrae yang berfungsi untuk meindungi medula
spinalis. Arcus vertebrae dibentuk oleh pediculus dan dua lamina, serta
didukung oleh( penonjolan ) procesus yakni procesus articularis, procesus
transversus, dan procesus spinosus yang merupakan tempat perlekatan otot
dan membantu pergerakan vertera. Procesus tersebut membentuk lubang yang
disebut foramen vertebrale. Ketika tulang punggung disusun, foramen ini
akan membentuk saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau
medulla spinalis. Di antara dua tulang punggung dapat ditemui celah yang
disebut foramen intervertebrale.
Susunan Tulang Belakang

1. Tulang cervical
Secara umum memiliki bentuk tulang yang kecil dengan spina
atau procesus spinosus (bagian seperti sayap pada belakang tulang)
yang pendek, kecuali tulang ke-2 dan 7 yang procesus spinosusnya
pendek. Diberi nomor sesuai dengan urutannya dari C1-C7 (C dari
cervical), namun beberapa memiliki sebutan khusus seperti C1
atau atlas, C2 atau aksis.
2. Tulang thorax
Procesus spinosus akan berhubungan dengan tulang rusuk.
Beberapa gerakan memutar dapat terjadi. Bagian ini dikenal juga
sebagai ‘tulang punggung dorsal’ . Bagian ini diberi nomor T1
hingga T12.
3. Tulang lumbal
Bagian ini (L1-L5) merupakan bagian paling tegap
konstruksinya dan menanggung beban terberat dari yang lainnya.
Bagian ini memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi tubuh, dan
beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil.
4. Tulang sacral
Terdapat 5 tulang di bagian ini (S1-S5). Tulang-tulang
bergabung dan tidak memiliki celah atau diskus intervertebralis
satu sama lainnya.
5. Tulang coccygeal
Terdapat 3 hingga 5 tulang (Co1-Co5) yang saling bergabung
dan tanpa celah. Beberapa hewan memiliki tulang coccyx atau
tulang ekor yang banyak, maka dari itu disebut tulang
pungLigamen dan otot

Untuk memperkuat dan menunjang tugas tulang belakang


dalam menyangga berat badan, maka tulang belakang di perkuat
oleh otot dan ligament, antara lain :

1. Ligament
Untuk memperkuat dan menunjang tugas tulang belakang dalam
menyangga berat badan, maka tulang belakang di perkuat oleh
otot dan ligament, antara lain :
a. Ligament Intersegmental (menghubungkan seluruh panjang
tulang belakang dari ujung ke ujung)
b. Ligament Intrasegmental (Menghubungkan satu ruas tulang
belakang ke ruas yang berdekatan)
c. Ligamentum-ligamentum yang memperkuat hubungan di
antara tulang occipitalis dengan vertebra CI dengan C2, dan
ligamentum sacroilliaca di antara tulang sacrum dengan tulang
pinggul
2. Otot-otot yang terdiri dari otot: Otot-otot dinding perut, Otot-otot
extensor tulang punggung, Otot gluteus maximus, Otot Flexor
paha ( illopsoas ), Otot hamstrings
Otot punggung bawah dikelompokkan sesuai dengan fungsi
gerakannya. Otot yang berfungsi mempertahankan posisi tubuh
tetap tegak dan secara aktif mengekstensikan vertebrae lumbalis
adalah: muskulus quadraus lumborum, Muskulus sacrospinalis,
Muskulus intertransversarii dan muskulus interspinalis.

B. SPONDILITIS TUBERCULOSA
1. Pengertian
Spondilitis tuberkulosa atau dikenal dengan nama Pott’s disease of the
spine atau tuberculous vertebral osteomyelitis adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang mengenai tulang
belakang. Spondilitis tuberkulosa merupakan bentuk paling berbahaya dari
tuberculosis muskuloskeletal karena dapat menyebabkan destruksi tulang,
deformitas dan paraplegia. Kondisi umumnya melibatkan vertebra thorakal
dan lumbosakral. Vertebra thorakal bawah merupakan daerah paling banyak
terlibat (40-50%), dengan vertebra lumbal merupakan tempat kedua terbanyak
(35-45%). Sekitar 10% kasus melibatkan vertebra servikal.

2. Etiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium tuberculosis yang merupakan anggota ordo
Actinomicetales dan famili Mycobacteriase. Bakteri ini merupakan kuman
batang tahan asam. Hal ini disebabkan oleh karena kuman bakterium memiliki
dinding sel yang tebal yang terdiri dari lapisan lilin dan lemak (asam lemak
mikolat). Selain itu bersifat pleimorfik, tidak bergerak dan tidak membentuk
spora serta memiliki panjang sekitar 2-4 μm. Spesies Mycobacterium yang
lain pun dapat juga bertanggung jawab sebagai penyebabnya, seperti
Mycobacterium africanum (penyebab paling sering tuberkulosa di Afrika
Barat), bovine tubercle baccilus, ataupun non-tuberculous mycobacteria
(banyak ditemukan pada penderita HIV).
3. Stadium perjalanan penyakit
Bakteri TB menyebar di dalam tubuh manusia melalui saluran
pernafasan dan saluran cerna, denga perjalanan infeksi berlangsung dalam
4 fase (Moesbar, 2006 dalam Haryani, 2013):
a. Fase Primer
Basil masuk melalui saluran pernafasan sampai ke alveoli. Jaringan
paru timbul reaksi radang yang melibatkan sistem pertahanan tubuh,
dan membentuk afek primer. Bila basil terbawa ke kelenjar limfoid
hilus, maka akan timbul limfadenitis primer, suatu granuloma sel
epiteloid dan nekrosis perkijuan. Afek primer dan limfadenitis primer
disebut kompleks primer. Sebagian kecil dapat mengalami resolusi dan
sembuh tanpa meninggalkan bekas atau sembuh melalui fibrosis dan
kalsifikasi.
b. Fase Miliar
Kompleks primer mengalami penyebaran miliar, suatu penyebaran
hematogen yang menimbulkan infeksi diseluruh paru dan organ lain.
Penyebaran bronkogen menyebarkan secara langsung kebagian paru
lain melalui bronkus dan menimbulkan bronkopneumonia tuberkulosa.
Fase ini dapat berlangsung terus sampai menimbulkan kematian,
mungkin juga dapat sembuh sempurna atau menjadi laten atau dorman.
c. Fase Laten
Kompleks primer ataupun reaksi radang ditempat lain dapat
mengalami resolusi dengan pembentukan jaringan parut sehingga basil
menjadi dorman. Fase ini berlangsung pada semua organ yang
terinfeksi selama bertahun tahun. Bila terjadi perubahan daya tahan
tubuh maka kuman dorman dapat mengalami reaktivasi memasuki fase
ke 4, fase reaktivasi. Bila bakteri TB memasuki tulang belakang maka
bakteri TB berdublikasi dan berkoloni kemudian mendestruksi korpus
vetebra dan terjadi penyempitan ringan pada diskus. Setelah itu, terjadi
destruksi massif pada korpus vetebra dan terbentuk abses dingin yang
kemudian terjadi kerusakan pada diskus intervetebralis dan terbentuk
gibus (penonjolan tulang) sehingga bentuk badan kifosis (Agrawal,
Patgaonkar, & Nagariya, 2010).
d. Fase Reaktivasi
Fase reaktivasi dapat terjadi di paru atau diluar paru. Pada paru,
reaktifasi penyakit ini dapat sembuh tanpa bekas, sembuh dengan
fibrosis dan kalsifikasi atau membentuk kaverne dan terjadi
bronkiektasi. Reaktivasi sarang infeksi dapat menyerang berbagai organ
selain paru. Ginjal merupakan organ kedua yang paling sering terinfeksi
; selanjutnya kelenjar limfe, tulang, sendi, otak, kelenjar adrenal, dan
saluran cerna. Tuberkulosa kongenital dapat ditemukan pada bayi,
ditularkan melalui vena umbilical atau cairan amnion ibu yang
terinfeksi.

Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium, yaitu :

1. Stadium Implantasi
Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh
penderita menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang
berlangsung selama 6–8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada
daerah paradiskus dan pada anak–anak umumnya pada daerah sentral
vertebra.
2. Stadium Destruksi Awal
Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus
vertebra serta penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini
berlangsung selama 3–6 minggu.
3. Stadium Destruksi Lanjut
Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra dan
terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses
dingin), yang terjadi 2–3 bulan setelah stadium destruksi awal.
Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus
intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di sebelah
depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus vertebra, yang
menyebabkan terjadinya kifosis atau gibus.
4. Stadium gangguan neurologis
Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang
terjadi, tetapi terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis
spinalis. gangguan ini ditemukan 10% dari seluruh komplikasi
spondilitis tuberkulosa. vertebra thorakalis mempunyai kanalis spinalis
yang lebih kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudah terjadi
pada daerah ini. Bila terjadi gangguan neurologis, maka perlu dicatat
derajat kerusakan paraplegia, yaitu :
(1) Derajat I: Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah
melakukan aktifitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini
belum terjadi gangguan saraf sensoris.
(2) Derajat II: Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi
penderita masih dapat melakukan pekerjaannya.
(3) Derajat III: Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang
membatasi gerak/aktivitas penderita serta hipestesi/anesthesia
(4) Derajat IV: Terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai
gangguan defekasi dan miksi. Tuberkulosis paraplegia atau Pott
paraplegia dapat terjadi secara dini atau lambat tergantung dari
keadaan penyakitnya.

Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia terjadi oleh karena tekanan
ekstradural dari abses paravertebral atau akibat kerusakan langsung
sumsum tulang belakang oleh adanya granulasi jaringan. Paraplegia pada
penyakit yang sudah tidak aktif / sembuh terjadi oleh karena tekanan pada
jembatan tulang kanalis spinalis atau oleh pembentukan jaringan fibrosis
yang progresif dari jaringan granulasi tuberkulosa. Tuberkulosis
paraplegia terjadi secara perlahan dan dapat terjadi destruksi tulang
disertai angulasi dan gangguan vaskuler vertebra. Derajat I–III disebut
sebagai paraparesis dan derajat IV disebut sebagai paraplegia.
5. Stadium deformitas residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 3–5 tahun setelah timbulnya
stadium implantasi. Kifosis atau gibus bersifat permanen oleh karena
kerusakan vertebra yang masif di sebelah depan.

a. Patofisiologi
Terlampir

b. Manifestasi klinis
Seperti manifestasi klinik pasien TB pada umumnya, pasien mengalami
keadaan sebagai berikut:
1. Berat badan menurun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang
jelas
2. Demam lama tanpa sebab yang jelas
3. Pembesaran kelenjar limfe superfisial yang tidak sakit
4. Batuk lebih dari 30 hari
5. terjadi diare berulang yang tidak sembuh dengan pengobatan diare
disertai benjolan/masa di abdomen dan tanda-tanda cairan di abdomen.

Manifestasi klinis pada spondilitis TB tidak ditemukan pada bayi di bawah


1 tahun. Penyakit ini baru muncul setelah anak belajar berjalan atau
melompat. Gejala pada spondilitis TB:
1. Adanya benjolan pada tulang belakang yang disertai oleh nyeri.
2. Sulit menggerakkan punggungnya, sehingga seakan-akan kaku.
3. Keluhan deformitas pada tulang belakang (kyphosis) terjadi pada 80%
kasus disertai oleh timbulnya gibbus yaitu punggung yang membungkuk
dan membentuk sudut, merupakan lesi yang tidak stabil serta dapat
berkembang secara progresif. Terdapat 2 tipe klinis kiposis yaitu mobile
dan rigid. Pada 80% kasus, terjadi kiposis 100, 20% kasus memiliki
kiposis lebih dari 100 dan hanya 4% kasus lebih dari 300.
4. Kelainan yang sudah berlangsung lama dapat disertai oleh paraplegia
ataupun tanpa paraplegia. Abses dapat terjadi pada tulang belakang yang
dapat menjalar ke rongga dada bagian bawah atau ke bawah ligamen
inguinal. Paraplegia pada pasien spondilitis TB dengan penyakit aktif
atau yang dikenal dengan istilah Pott’s paraplegi, terdapat 2 tipe defisit
neurologi ditemukan pada stadium awal dari penyakit yaitu dikenal
dengan onset awal, dan paraplegia pada pasien yang telah sembuh yang
biasanya berkembang beberapa tahun setelah penyakit primer sembuh
yaitu dikenal dengan onset lambat. (Paramarta et al, 2008)

6. Komplikasi
a) Cedera corda spinalis (spinal cord injury). Dapat terjadi karena adanya
tekanan ekstradural sekunder karena pus tuberkulosa, sekuestra tulang,
sekuester dari diskus intervertebralis (contoh : Pott’s paraplegia–prognosa
baik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan korda spinalis oleh
jaringan granulasi tuberkulosa (contoh : menigomyelitis – prognosa
buruk). Jika cepat diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi
paralisis pada tumor). MRI dan mielografi dapat membantu membedakan
paraplegi karena tekanan atau karena invasi dura dan corda spinalis.
b) Empyema tuberkulosa karena rupturnya abses paravertebral di torakal ke
dalam pleura.

6. Faktor Resiko
1. Mempunyai sejarah kontak erat ( serumah ) dengan penderita TBC BTA
positif
2. Tulang belakang merupakan tempat yang paling sering terkena
tuberkulosa tulang. Walaupun setiap tulang atau sendi dapat terkena,
akan tetapi tulang yang mempunyai fungsi untuk menahan beban (weight
bearing) dan mempunyai pergerakan yang cukup besar (mobile) lebih
sering terkena dibandingkan dengan bagian yang lain.
3. Pernah menderita penyakit ini sebelumnya karena spondilitis tuberculosa
merupakan infeksi sekunder dari tuberculosis di tempat lain dalam tubuh.
7. Pemeriksaan Pada Pasien Dengan Spondilitis TB
1. Pemeriksaan penunjang
a. Tuberkulin skin test : positif
b. Laju endap darah : meningkat
c. Mikrobiologi (dari jaringan tulang atau abses) : basil tahan asam (+)
d. X-ray tulang belakang:
1) destruksi korpus vertebra bagian anterior
2) peningkatan wedging anterior
3) kolaps korpus vertebra
e. CT scan :
1) menggambarkan tulang lebih detail dengan lesi lytic irregular,
kolaps disk dan kerusakan tulang
2) resolusi kontras rendah menggambarkan jaringan lunak lebih
baik, khususnya daerah paraspinal
3) mendeteksi lesi awal dan efektif untuk menggambarkan bentuk
dan kalsifikasi dari abses jaringan lunak
f. MRI
1) standar untuk mengevaluasi infeksi disk space dan paling efektif
dalam menunjukkan perluasan penyakit ke dalam jaringan
lunak dan penyebaran
2) debris tuberkulosis di bawah ligamen longitudinalis anterior dan
posteriorpaling efektif untuk menunjukkan kompresi neural

8. Penatalaksanaan
Bakteri TB dapat dibunuh atau dihambat dengan pemberian obat-obat
anti tuberkulosa, misalnya kombinasi INH, ethambutol, pyrazinamid dan
rifampicin (Nawas, 2010 dalam Haryani, 2013). Dasar penatalaksanaan
spondilitis tuberkulosa adalah mengistirahatkan vertebra yang sakit, obat-
oabat anti tuberkulosa dan pengeluaran abses (Moesbar, 2006 dalam
Haryani, 2013).
Kategori I untuk penderita baru BTA (+/-) atau rontgen (+).

1. Tahap 1 diberikan Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg, dan
Pirazinamid 1.500 mgsetiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali).
2. Tahap 2 diberikan Rifampisin 450 mg dan INH 600 mg 3 kali seminggu
selama 4 bulan (54 kali).

Kategori II untuk penderita BTA (+) yang sudah pernah minum obat selama
sebulan, termasuk penderitayang kambuh.

1. Tahap 1 diberikan Streptomisin 750 mg, INH 300 mg, Rifampisin 450 mg,
Pirazinamid 1500 mg, danEtambutol 750 mg setiap hari. Streptomisin
injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90
kali).
2. Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg, dan Etambutol 1250
mg 3 kali seminggu selama 5bulan (66 kali). Kriteria penghentian
pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita bertambah baik, LED
menurun dan menetap, gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme
berkurang, serta gambaran radiologis ditemukan adanya union pada
vertebra.

Dengan demikian penatalaksanaan spondilitis TB meliputi terapi


konservatif dan juga pembedahan. Moesbar (2006 dalam Haryani, 2013)
menyatakan bahwa penatalaksanaan spondilitis TB meliputi terapi
konservatif dan terapi operasi. Terapi konservatif dapat dilakukan dengan
istirahat ditempat tidur yang bertujuan untuk mengurangi nyeri, dan spasme
otot serta mengurangi destruksi tulang belakang). Terapi konsevatif lain
yaitu dengan mengkonsumsi obat OAT untuk mencegah bakteri untuk
resisten. Selain itu, terapi konservatif yang lain dapat dilakukan dengan
imobilisasi dengan pemasangan gips bergantung pada level lesi, pada daerah
servikal dapat dilakukan immobilisasi dengan jaket minerva, torakolumbal
dan lumbal atas immobilisasi dengan body jacket atau gips korset disertai
fiksasi pada salah satu panggul (Moesbar, 2006 dalam Haryani, 2013).

Terapi operatif yang dilakukan untuk spondilitis TB yaitu debridement


Tujuan dilakukan tindakan ini yaitu untuk menghilangkan sumber infeksi,
mengkoreksi deformitas, menghilangkan komplikasi neurologik dan
kerusakan lebih lanjut. Terapi operasi dilakukan jika terapi konservatif tidak
memberikan hasil yang memuaskan, terjadi kompresi pada medulla spinalis,
dan hasil radiologis menunjukkan adanya sekuester dan kaseonekrotik
dalam jumlah banyak. Agrawal, Patgaonkar, dan Nagariya menyatakan
bahwa prosedur operasi yang dilakukan pada penderita spondilitis TB
meliputi debridement posterior dan anterior untuk mengeluarkan abses
ataupun pus yang berada pada tulang belakang. Chanplakorn et al
menyatakan bahwa prosedur operasi lain yang dilakukan untuk mengurangi
nyeri penderita spondilitis TB yaitu dengan spinal shortering osteotomy
yang ditujukan untuk penderita spondilitis TB dengan kifosis (Moesbar
2011 dalam Haryani, 2013)

9. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keluhan utama
Keluhan utama pada klien spondiitis TB terdapat nyeri punggung bagian
bawah.

2. Riwayat Kesehatan Sekarang


Pada awal dapat dijumpai nyeri redikuler yang mengelilingi dada dan perut.
nyeri dirasakan meningkat pada malam hari dan bertambah berat terutama
pada saat pergerakan tulang belakang. Data Subjektif yang mungkin adalah:
badan terasa lemah dan lesu, nafsu makan berkurang serta sakit pada
punggung, pada anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam
hari, berat badan menurun, nyeri spinal yang menetap, nyeri radikuler yang
mengelilingi dada atau perut. Data Ojektif yang mungkin adalah: suhu
sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari, paraplegia,
paraparesis, kifosis (gibbus), bengkak pada daerah paravertebra.

3. Riwayat Kesehatan Dahulu


Biasanya pada klien di dahului dengan adanya riwayat pernah menderita
penyakit tuberculosis paru.

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Salah satu penyebab timbulnya spondilitis tuberkulosa adalah klien pernah
atau masih kontak dengan penderita lain yang menderita penyakit TB atau
lingkungan keluarga ada yang menderita penyakit tersebut

5. Psikososial
Klien akan merasa cemas, sehingga terlihat sedih dengan kurangnya
pengetahuan mengenai penyakit TB, pengobatan dan perawatannya
sehingga membuat emosinya tidak stabil dan mempengaruhi sosialisasi
penderita.

6. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi: terlihat lemah, pucat dan pada tulang belakang terlihat bentuk
kiposis
b. Palpasi: sesuai yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang belakang
terdapat adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi
c. Perkusi: pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri
ketok
d. Auskultasi :pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak ditemukan
kelainan
e. Review of System (ROS)

1) B1 (Breating )
Inspeksi: batuk, peningkatan produksi sputum, sesak nafas,
penggunaan otot bantu nafas, peningkatn frekuensi pernafasan.
Palpasi: taktil fremitus seimbang kanan dan kiri

Perkusi: resonan pada seluruh lapang paru

Auskultasi: Suara nafas tambahan (ronki pada klien peningkatan


produksi secret)

2) B2 (Blood ).
Dengan komplikasi paraplegi: Hipotensi ortostatik (penurunan TD
sistolik ≤25 mmHg dan diastolik ≤ 10 mmHg ketika klien bangun
dari posisi berbaring ke posisi duduk)

Tanpa komplikasi paraplegia: kelainan system kardiovaskular

3) B3 (Brain ).
Tingkat kesadaran kompos mentis

Kepala: tidak ada gangguan, yaitu normosefalik, simetris, tidak ada


penonjolan, sering didapatkan adanya nyeri belakang kepala.

Leher: pada spondilitis tuberkulosa yang mengenai vertebra servikalis,


sering didapatkan adanya kekakuan leher sehingga mengganggu
mobilisasi leher dalam melakukan rotasi, felksi dan ekstensi kepala.

Wajah: wajah terlihat menahan sakit, tidak ada perubahan fungsi


maupun bentuk. wajah simetris, tidak ada lesi dan edema.

Mata: tidak ada gangguan, seperti konjungtiva tidak anemis.

Telinga: tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal, tidak ada
lesi atau nyeri tekan.

Hidung: tidak ada deformitas, tidak ada pernafasan cuping hidung.

Mulut dan Faring: tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi
perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
Pemeriksaan fungsi serebral status mental : Observasi penampilan dan
tingkah laku klien. biasanya status mental klien tidak mengalami
perubahan.

4) B4 (bladder ).
Pada spondilitis tuberkulosa daerah torakal dan servikal, tidak ada
kelainan pada system ini.

Pada spondilitis tuberkulosa daerah lumbal, sering didapatkan keluhan


inkontinensia urine, ketidak mampuan mengkomunikasikan kebutuhan
eliminasi urine.

5) B5 (Bowel ).
Inspeksi: Bentuk datar, Simetris, tidak ada hernia.

Palpasi : Turgor baik, tidak ada kejang otot abdomen akibat adanya
abses pada lumbal, hepar tidak teraba.

Perkusi: suara timpani, ada pantulan gelombang cairan.

Auskultasi: peristaltic usus normal ±20 kali/ menit.

Inguinal–genitalia–anus: tidak ada hernia, tidak ada pembesaran limfe,


tidak ada kesulitan BAB.

Pola nutrisi dan metabolism: pada klien spondilitis tuberkulosa, sering


ditemukan penurunan nafsu makan dan gangguan menelan karena
adanya stimulus nyeri menelan dari abses faring sehingga pemenuhan
nutria menjadi berkurang

6) B6(Bone ).
Look: Kurvatura tulang belakang mengalami deformitas (kifosis)
terutama pada spondilitis tuberkulosa daerah torakal. pada spondilitis
tuberkulosa daerah lumbalis, hampir tidak terlihat deformitas, tetapi
terlihat adanya abses pada daerah bokong dan pinggang. pada
spondilitis tuberkulosa daerah servikal, terdapat kekakuan leher.

Feel: Kaji adanya nyeri tekan pada daerah spondilitis

Move : Terjadi kelemahan anggota gerak (paraparesis dan paraplegia)


dan gangguan pergerakan tulang belakang. pergerakan yang berkurang
tidak dapat dideteksi di daerah toraks, tetapi mudah diamati pada
tulang belakang lumbal, punggung harus diperhatikan dengan teliti,
sementara gerakan dicoba. biasanya seluruh gerakan terbatas dan
usaha tersebut meninmbulkan spasme otot.

10. Diagnosis keperawatan


a. Nyeri akut berhubungan dengan kompresi radiks saraf servikal,
spasme otot servikal
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
musculoskeletal dan nyeri
c. Gangguang citra tubuh berhubungan dengan gangguan struktur tubuh
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan nutrisi
tidak adekuat sekunder akibat nyeri tenggorokan dan gangguan
menelan
e. Risiko Infeksi berhubungan dengan port de entrée luka pasca-bedah
f. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
mengenai penyakit, pengobatan dan perawatan
Perencanaan

DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA HASIL


RENCANA TINDAKAN
KEPERAWATAN

Nyeri berhubungan dengan Tujuan: NIC: Manajemen Nyeri


kompresi radiks saraf servikal, Nyeri klien berkurang atau hilang setelah 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
spasme otot servikal dilakukan tindakan keperawatan 2x24 2. Observasi adanya petunjuk non verbal mengenai
jam ketidaknyamanan
NOC: 3. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk
Kontrol nyeri mengetahui pengalaman nyeri klien.
Kriteria Hasil: 4. Gali bersama klien faktor yang dapat menurunkan dan
1) Mengenali kapan nyeri terjadi memberat nyeri.
2) Menggambarkan faktor penyebab 5. Anjurkan menggunakan teknik non farmakologi dengan
3) Menggunakan tindakan pencegahan teknik distraksi dan relaksasi.
4) Melaporkan perubahan terhadap nyeri 6. Berikan informasi mengenai nyeri yang dirasakan
5) Ekspresi wajah 7. Kolaborasi pemberian analgesik dengan dokter
6) Tanda-tanda vital

Hambatan mobilitas fisik Tujuan: NIC: Exercise Therapy: Join Movement


berhubungan dengan kerusakan Klien dapat melakukan mobilisasi dalam 1. Tentukan batasan gerakan
musculoskeletal dan nyeri waktu 3 x 24 jam 2. Dorong klien untuk menunjukan gerakan tubuh
NOC: sebelum latihan
Mobility level 3. Bantu pasien untuk mengoptimalkan posisi tubuh
Kriteria Hasil: untuk gerakan pasif atau aktif
1) Klien meningkat dalam aktivitas fisik 4. Lindungi pasien dari trauma selama latihan
2) Mengerti tujuan dari peningkatan 5. Jelaskan pada keluarga/pasien tujuan fungsi
mobilitas. melakukan latihan gerak.
3) Klien terlihat mampu melakukan 6. Kolaborasi dengan fisioterapis dalam mengembangkan
mobilisasi secara bertahap dan menentukan program latihan
4) Mempertahankan koordinasi dan
mobilitas sesuai tingkat optimal

Ketidak seimbangan nutrisi NOC : NIC : Nutrition Management


kurang dari kebutuhan tubuh Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Kaji adanya alergi makanan
berhubungan dengan 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
ketidakmampuan menelan terpenuhi jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
makanan Kriteria Hasil : 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan
1) Adanya peningkatan berat badan vitamin C
sesuai dengan tujua 5. Berikan substansi gula
2) Berat badan ideal sesuai dengan tinggi 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung
badan 7. tinggi serat untuk mencegah konstipasi
3) Mampu mengidentifikasi kebutuhan 8. Berikan makanan yang terpilih ( sudah
nutrisi dikonsultasikan dengan ahli gizi)
4) Tidak ada tanda tanda malnutrisi 9. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
5) Tidak terjadi penurunan berat badan makanan harian.
yang berarti 10. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
11. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
12. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring

1. BB pasien dalam batas normal


2. Monitor adanya penurunan berat badan
3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
4. Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
5. Monitor lingkungan selama makan
6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam
makan
7. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
8. Monitor turgor kulit
9. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
10. Monitor mual dan muntah
11. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
12. Monitor makanan kesukaan
13. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
14. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan
konjungtiva
15. Monitor kalori dan intake nuntrisi
16. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
17. Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet
Gangguan citra tubuh NOC: NIC :Body image enhancement
berhubungan dengan 1) Body image 1. Kaji secara verbal dan nonverbal respon klien
perubahan struktur tubuh 2) Self esteem terhadap tubuhnya
Setelah dilakukan tindakan 2. Monitor frekuensi mengkritik dirinya
3. Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan
keperawatan selama …. dan prognosis penyakit
gangguan body image 4. Dorong klien mengungkapkan perasaannya
5. Identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat
pasien teratasi bantu
6. Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam
Kriteria hasil:
kelompok kecil
1) Body image positif
2) Mampu mengidentifikasi kekuatan
personal
3) Mendiskripsikan secara faktual
perubahan fungsi tubuh
4) Mempertahankan interaksi sosial
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, et al. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC). Elsevier:


Mocomedia

Haryani. 2013. Analisis Praktik Keperawatan Kesehatan Masalah Perkotaan


(KKMP) Pada Kasus Spondilitis Tuberkulosis (TB) Di Gedung Profesor Dr.
Soelarto Lantai 1 Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati. Fakultas Ilmu
Keperawatan: Depok. Dalam https://www.lib.ui.ac.id

Moorhead, et al. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Elsevier:


Mocomedia

NANDA Internasional. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-


2017 Edisi 10. Jakarta: EGC

Nurarif dan Kusuma. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan Penerapan


Diagnosa Nanda, NIC NOC dalam Berbagai Kasus. Jilid 1. Yogyakarta:
Mediaction

Zuwanda dan Janitra. 2013. Diagnosis dan Penatalaksanaan Spondilitis Tuberkulosis


CDK-208/ vol. 40 no. 9: Nusa Tenggara Timur. Dalam
https://www.kalbemed.com