Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komunikasi massa berubah sangat pesat sejak ditemukannya era komunikasi
digital. Sebelum ada komunikasi digital, pengertian komunikasi massa sangat sederhana,
kini definisinya semakin kompleks. Komunikasi massa adalah proses komunikasi dengan
menggunakan media massa.

Joseph R. Dominick (dalam Nurudin, 2004) mendefiniskan komunikasi massa


sebagai proses yang di dalamnya suatu organisasi yang kompleks dengan bantuan satu
atau lebih mesin produksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang besar,
heterogen, dan tersebar. Dan menurut Elizabeth-Noelle Neuman, apabila sistem
komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi interpersonal, secara teknis ada
beberapa ciri komunikasi massa yang membedakan nya dengan komunikasi
interpersonal.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini :

 Apa itu Model Teori Komunikasi Massa ?


 Apa itu Model Teori Komunikasi Meletzke ?
 Apa itu Model Teori Komunikasi Bryant and Wallace ?

1.3 Tujuan Masalah


 Bagaimanakah Model Teori Komunikasi Massa
 Bagaimanakah Model Teori Komunikasi Massa Meletzke
 Bagaimanakah Model Teori Komunikasi Massa Bryant and Wallace

1.4 Manfaat Makalah


Untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Teori Komunikasi terutama
pada Teori Komunikasi Model Meletzke dan Bryant and Wallace.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Komunikasi Massa


Menurut Jalaludin Rakhmat Komunikasi Massa diartikan sebagai jenis
komunikasi di tunjukan kepada sejumlah masyarakat yang tersebar, heterogen dan
anonym melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat di terima
secara serentak dan sesaat. ( Hartiningsih, 2014 ; 3 )
Salah satu contoh model komunikasi massa adalah model dari Maletzke dan
Model dari Bryant and Wallece.

2.2 Model Komunikasi Massa Maletzke

A. Analisis Model Maletzke


Model Komunikasi Maletzke adalah model proses komunikasi massa yang
menekankan pada 4 komponen utama yaitu: Communicator, message, medium, and
receiver. Dalam model ini khalayak didalam melakukan pencarian informasi, disebabkan
oleh kebutuhan rasa ini ingin tahu (need cognition) dan gaya intuisi seseorang (personal
cognition style). Keterpaan media massa dapat diukur melalui sumber-sumber media
massa yang digunakan, curahan waktu untuk penerimaan pesan media, dan jenis
pemakaian pesan. Tipologi kebutuhan manusia yang dapat dipenuhi media massa adalah
kebutuha hiburan, hubungan personal, identitas pribadi dan pengumpulan informasi.

( Ardianto Elvinaro, 2004 ; 76 )

2
Menurut Maltzke, khalayak tidak dipengaruhi oleh media massa dalam keadaan
kosong. Pesan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari khalayak. Pesan itu disaring
berdasarkan keyakinan, sikap, nilai-nilai, dan lingkungan sosialnya.

Gambar Model Maletzke


Schema des Feldes der Maasencommunication

Dari gambar diatas, Maletzke memeprlihatkan secara menyeluruh mengenai


komunikasi massa sebagai sebuah proses yang secara psikologis dan sosiologis dengan
kompleks sifatnya. Mengandung elemen-elemen tradisional dimana kita menemukan
tanda yakni C (Communicator), M (Message), Medium, dan R (Respon). Dalam masing-
masing bagian tersebut terdapat hal-hal yang mempengaruhi.

( Ardianto Elvinaro, 2004 ; 76 . dan http://abikadzeya.blogspot.com )

3
B. C ( Communicator )
Dalam C (Comminicator) terdapat bagian-bagian yang mempengaruhi, yakni:
1. The Communicator’s self image/ Citra Pribadi Komunikator
Disini dijelaskan bagaimana komunikator memposisikan perannya dalam
menyampaikan suatu pesan. Misalnya saja apakah dia sebagai penyampai
pesan, penilai atau pengkampanye suatu pesan. Contoh : jika saya
menyampaikan pesan tentang korupsi, posisi saya apakah hanya
menyampaikan berita tersebut, menilai tentang korupsi atau
mengkampanyekan tentang korupsi.
2. The communicator personality Structure/ Struktur kepribadian komunikator
Bagaimana kepribadian komunikasot mempengaruhi perilakunya.
Kepribadian disini maksudnya luas mencangkup berbagai aspek, diantaranya
aspek psikologi dan aspek ideology.
3. The communicator working team/ kerjasama komunikator dalam tim
Seseorang yang bekerja dalam team maka ia harus bisa menempatkan diri
atau beradaptasi dengan kelompoknua. Dimana si komunikator harus
menanggalkan ego pribadinya karena mungkin tidak sesuai dengan norma
teamnya.
4. The communicator in organization/komunikator didalam organiasasi
Menekankan pada tipe organisasi media yakni: authoritarian lines,
capitalist line, and public service line. Misalnya saja seorang reporter menulis
berita, maka yang dituntut adalah organisasinya karena kerja reporter sebagai
kerja team,.
5. The communicator’s sosial environment/ lingkungan sosial komunikator
Keanggotaan dalam suatu kelompok memperkuat kepercayaan, perilaku
dan nilai-nilai yang dianut oleh individu. Semakin besar dia yakin terhadap
kelompoknya semakin banyak pula pesan-pesan yang dia sampaikan
dipengaruhi oleh norma-norma yang dianut oleh kelompoknya.

4
6. Pressure and constraint caused by the public character of the media content/
tekanan dan paksaan mengenai isi media yang disebabkan oleh karakter public
Komunikator harus mempertimbangkan pandangan, pendapat, norma-
norma, dan nilai-nilai yang sedang berkembang di masyarakat. Pada saat itu
komunikator dipengaruhi oleh apa yang diharapkan oleh publik terhadap
pesan yang disampaikan publik disini bukan hanya pendengar tapi semua
pihak yang berkaitan.
( http://abikadzeya.blogspot.com )

C. M ( Message )
Dalam M (message) dipengaruhi oleh selection and structure of conten/seleksi
dan susunan pesan. Hal-hal yang dijelaskan diatas tadi akan mempengaruhi bagaimana
komunikator memilih dan menyususn isi dari pesan yang akan desampaikan. Pressure or
contraint from the messagge/tekanan atau paksaan dari pesan, dimana informasinya harus
dilengkapi dengan informasi lainnya yang menunjang pesan.
Dalam model Maletzke pengaruh medium terhadap komunikator masing-masing
memiliki karakter sendiri, yang menentukan apa yang bisa disampaikan dan bagaimana
hal itu disampaikan. Sehingga menyampaikan suatu pesan masing-masing medium
memiliki batasan yang berbeda.
Model ini menjelaskan tentang R (Receiver) dalam memposisikan perannya
sebagai penerima pesan, receiver akan menyeleksi media apa yang dikonsumsinya sesuai
denbgan personality dia dan juga kebutuhan yang memotivasi dia, misalnya saja orang
yang konservatif kemungkinan besar mendisregard pesan yang berbau liberal, orang
bisnis akan mencari berita ekonomi. Seorang receiver juga akan memilih suatu media
tertentu berdasarkan apa yang sedang trend atau berkembang dalam kelompok
sosialnya/komunitas dia berada. Dimana hal tersebut, sesuai dengan pendekatan dari teori
uses & gratification yang menyatakan bahwa seseorang akan mencari berita yang berguna
untuk memenuhi kebutuhan dia (yang akan diimplementasikan dalam kelompok). Selain
itu juga pesan yang kita terima dari media akan disaring oleh kepercayaan, perilaku, dan
nilai-nilai yang kita anut, yang dibentuk dari hasil diskusi/sosial kontak dengan orang-
orang dimana kita bersosialisasi.

5
Dalam model Maletzke pada gambar diatas kita juga dapat melihat pengaruh
receiver terhadap media, yakni selection from media content/seleksi dari susunan media
ada 3 hal penting dalam pemilihan/penerimaan pesan yakni :
a) Selective attention, kihta lebih memilih pesan yang kita setujui/inginkan
b) Selection interpretation, kita hanya akan menginterpretasi pesan sesuia
dengan kemampuan komunikasi, perilaku dan posisi sosial budaya serta
level pengetahuan kita.
c) Selective retention, dimana receiver cenderung tidak lagi memberikan
perhatian pada pesan yang sudah diketahui atau sudah pernah
didengar/dibaca dan cenderung melupakan pesan yang tidak dianggap
penting oleh receiver.

Kita juga akan melihat adanya pengaruh medium terhadap receiver dalam model
maletzke ini, dimana menutr Maletzke, efek dari media massa sangat luas dan masih
menjadi perdebatan, karena ada banyak faktor/variable yang mempengaruhi efek tersebut.
Kita harus memastikan bahw kita benar-benar kenal dan paham dengan berbagai
pendekatan terhadap efek media. Setiap media selalu memiliki kelebihan-kelibihan dan
keterbatasan tertentu. Kemudian the receiver image of medium, dijelaskna bahwa tingkat
kepercayaan receiver terhadap media yang akan dikonsumsi. Dimana receiver percaya
bahwa berita yang disampaikan oleh media adalah berita yang kredibel dan bisa dipercaya.
Dalam Model Maletzke ini feedback dari receiver adalah spontan, merupakan umpan
balik langsung dari receiver terhadap komunikator. Seperti dalam acara talkshow TV
yang menerima telepon pemirsa dan delay/less spontan feedback sperti di surat kabar.
Posisi Receiver disini memiliki beberapa hal yakni bagaimana receiver
memandang komuikator, apakah kredibel dan bisa dipercaya, bagaimana komunikator
memandang receiver, apakah khalayak itu intelektual atau berpendidikan rendah,
sehingga dalam hal ini baik komunikator maupun receiver mampu saling berhubungan
tetapi tidak bisa saling mengontrol.

6
Dalam beberapa studi dan model-model komunikasi massa, para peneliti
menyisihkan satu atau kadang-kadang dua faktor untuk dijelaskan. Misalnya efek-efek
tertentu terhadap tingkah laku. Ini dapat mengarah pada kesalahan kesimpulan, bahwa
riset komunikasi massa sebaiknya dianalisa dengan menjelaskan satu atau dua faktor saja.
Maletzke (1963), seorang ilmuwan Jerman menawarkan perspektif yang agak berbeda,
dengan mengajukan “Schema des Feldes der Maasenkommunikation”. Model yang
dibentuk secara metodis menyeluruh ini memperlihatkan komunikasi massa sebagai
sebuah proses yang secara sosiologis dan psikologis dengan kompleks sifatnya.
Karenanya, diperlukan penjelasan yang menyangkut berbagai faktor bukan hanya satu
dua saja. Maletzke membuat modelnya dengan berdasarkan elemen-elemen “tradisional”,
yaitu komunikator, isi pernyataan, medium dan komunikan. Tetapi diantara medium dan
komunikan dia menambahkan elemen-elemen lain yaitu tekanan atau kendala dari
medium, dan citra medium itu pada diri komunikan.
Dalam hal tekanan atau kendala medium, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa
ada perbedaan jenis adaptasi oleh komunikan terhadap media yang berbeda-beda pula.
Setiap medium ada kelebihan dan keterbatasannya dan sifat-sifat medium haruslah
dianggap mempunyai pengaruh terhadap cara komunikan menggunakannya dan sejauh
mana isi medium tersebut. Misalnya, kita sulit memahami sebuah drama yang dimainkan
di televisi dengan cara yang sama jika drama tersebut dimainkan di radio. Ungkapan
“medium is the message” McLuhan (1964) yang sering dikutip, menunjukkan betapa
seriusnya peran medium dalam hubungannya dengan isi pertanyaan. Dalam konteks ini,
Maletzke menyatakan hal-hal yang relevan untuk dibicarakan, yaitu :
1. Jenis persepsi yang dituntut dari pihak komunikan (pemirsa, pembaca,
dan sebagainya)
2. Sejauh mana komunikan terikat dengan medium secara ruang dan waktu
3. Perbedaan waktu antara peristiwa dengan konsumsi pesan tentang
peristiwa tersebut.
( Ardianto Elvinaro, 2004 ; 77 dan http://abikadzeya.blogspot.com )

7
D. MEDIUM
Medium yang dimaksudkan dalam teori ini adalah media massanya. Maketzke
menempatkan elemen-elemen tekanan atau kendala dari medium dan citra medium pada
diri komunikan diantara proses medium dan komunikan.
Dalam hal tekanan atau kendala medium, dihadapkan pada kenyataan bahwa ada
perbedaan jenis adaptasi komunikan terhadap media yang berbeda. Setiap medium ada
kelebihan dan keterbatasannya, dan sifat-sifat medium haruslah dianggap mempunyai
pengaruh terhadap cara komunikan menggunakannya dan sejauh mana si medium
tersebut.
Citra medium yang ada pada komunikan menimbulkan harapan-harapan tentang
isi medium tersebut, dan karenanya harus dianggap punya pengaruh terhadap cara
komunikan memilih isi medium tersebut. Gengsi dan kredibilitas medium merupakan
elemen-elemen dari citra tersebut.
Harian Seputar Indonesia merupakan salah satu media yang memiliki
kredibilitas cukup baik di mata masyarakat meskipun harian ini belum lama muncul
dibandingkan kompetitor besar lainnya. Tetapi karena satu manajemen dengan program
berita Seputar Indonesia di stasiun TV RCTI maka harian ini sudah punya tempat
tersendiri di masyarakat. Sehingga tidaklah mengherankan saat awal kemunculannya,
harian ini sudah berhasil menyaingi kompetitor besar lainnya seperti Kompas dan Media
Indonesia. Image yang dibangun oleh media ini berhasil mempengaruhi komunikannya
ditunjang dengan nilai informasi yang diberikan media ini membuat komunikator dan
komunikan memilih media ini sebagai penghubung penyampaian pesan agar komunikasi
efektif dan tepat sasaran. ( http://abikadzeya.blogspot.com )

8
E. RECEIVER (KOMUNIKAN)
Komunikan yang dimaksud disini adalah konsumen harian Seputar Indonesia
yang membaca artikel Thoby Mutis tersebut. Dalam hal ini komunikan dipengaruhi
faktor-faktor sebagai berikut :

 Citra Diri Komunikan (Self Image)


Merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri, peranan,
sikap, menciptakan sebuah disposisi dalam menerima isi pernyataan, penelitian-
penelitian psikologi-sosial, misalnya telah memperlihatkan bahwa komunikan
cenderung menolak informasi yang tidak sama dengan nilai-nilai yang dianutnya.
Tidak menutup kemungkinan pada artikel yang ditulis Thoby ini ada komunikan
yang menolak pesan atau bahasan yang disampaikan karena perbedaan nilai atau
pandangan. Dan ada komunikan lain yang menerima pesan tersebut dan
menjadikan tulisan tersebut sebagai referensi tambahan. Hal tersebut menjadikan
pesan yang disampaikan Thoby efektif karena adanya feedback.

 Struktur Kepribadian Komunikan (Personality Structure)


Ahli-ahli psikologi sosial seringkali menganggap bahwa ada orang-orang
dengan kategori tertentu yang lebih mudah dipengaruhi daripada orang lainnya.
Dinyatakan bahwa orang yang punya harga diri (self-essteem) rendah lebih mudah
dibujuk. Dan ini seringkali terjadi pada proses komunikasi massa. Komunikan
yang memiliki wawasan sempit akan lebih mudah untuk dipengaruhi atau
menerima bahasan artikel Thoby tetapi komunikan yang wawasannya luas besar
kemungkinan sulit untuk dipengaruhi.

 Konteks Sosial Komunikan (Social Environment)


Pada faktor ini bisa berupa masyarakat di sekitarnya, komuniti dimana si
komunikan tinggal, kelompok yang diikutinya atau juga orang-orang yang
berhubungan dengannya. Pentingnya peran kelompok ini telah pernah diteliti oleh
para pelajar komunikasi. Semakin yakin seseorang bahwa dia adalah anggota

9
sebuah kelompok tertentu, semakin kecil kemungkinan dia terpengaruh oleh isi
pernyataan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut kelompok tersebut.

Maletzke juga menyatakan bahwa “pencipta pendapat (creator of


opinion)”, lewat mana isi media massa biasanya disaring sebelum sampai pada
komunikan, seringkali berada di lingkungan sosial komunikan yang terdekat,
misalnya komuniti lokal tempat dia tinggal.

 Komunikan Sebagai Anggota Publik (Member of the Audience)


Situasi waktu menerima isi pernyataan pada komunikasi massa berbeda
dengan pada komunikasi tatap muka. Sebagai anggota dari massa publik yang
tidak terorganisir, seorang komunikan tidak menghadapi tuntutan yang besar
untuk menanggapi atau melakukan tindakan-tindakan tertentu seperti dia
melakukan komunikasi tatap muka. Situasi waktu menerima isi pernyataan dapat
mempengaruhi pengalaman komunikasi. Dalam hal ini, pada saat komunikan
menerima isi pesan yang disampaikan Thoby lewat tulisannya berada di
lingkungan kerja akan berbeda situasinya dengan pada saat berada di rumah.
Dimana akan terjadi diskusi panjang membahas isi pesan tersebut apabila berada
dengan rekan-rekan di lingkungan kerja, sedangkan dirumah diskusi akan terbatas
bahkan besar kemungkinan tidak akan terjadi diskusi.

Secara garis besar keefektifan proses komunikasi yang berlangsung dari unsur-
unsur komunikasi yang telah dibahas sebelumnya pada Model maletzke ini, berisi faktor-
faktor sebagai berikut :

 Citra dalam diri komunikan terhadap satu sama lainnya


Sewaktu menciptakan isi pernyataan atau pesan, komunikator memiliki
gambaran tentang komunikan, walaupun yangterakhir ini tidak hadir atau berada
didepannya secara fisik. Bagi komunikator massa, muncul masalah-masalah
tertentu karena audiensnya bersifat heterogen dan anonim (tidak dikenal), dan
karena umpan balik yang ada tidak memberikan gambaran yang memuaskan

10
tentang bagaimana keadaan audiens tersebut. Keadaan yang seperti ini akan
mengurangi keefektifan komunikasi.
Citra medium bagi komunikan sangat penting artinya bagi pemilihan dan
pengalaman memakai media itu. Seringkali komunikan sulit membentuk
gambaran komunikator di kepalanya, tetapi dalam hubungannya dengan medium,
komunikan dianggap terpengaruh, misalnya oleh faktor kredibilitas. Hal lain yang
perlu diperhatikan ialah apakah komunikan beridentifikasi terhadap komunikator
dan nilai-nilai yang dianutnya atau tidak.

 Umpanbalik spontan dari komunikan


Komunikasi massba dianggap proses satu arah (linier), karena proses ini
hampir selalu tidak memunculkan umpanbalik spontan seperti yang ada pada
komunikasi tatap muka. Seperti telah dibahas sebelumnya, ketiadaan umpanbalik
yang demikian ini merupakan sebab kenapa komunikator seringkali tidak
memiliki gambaran yang tepat tentang audiensnya.
( http://nurmasetiana.blogspot.com )

11
2.3 Model Komunikasi Massa Bryant dan Wallace
Model dari Bryant dan Wallece ini khas untuk mengamati model arus pesan dalam
media radio dan televisi. Misalnya, ada pesan yang disebarkan dengan memakai peralatan
pengeras suara ( yang berkait erat dengan unit – unit lainnya ) dan disisi lain ada
pendengar kepada komunikator. Baik komunikator maupun pendengar memiliki
separangkat nilai, motivasi, perasaan, sikap tertentu yang berasal dari lingkungannya dan
mempengaruhi proses penerimaan serta penyebaran pesan – pesannya.
Secara khusus, model ini tidak memasukan gatekeeper dalam proses predaran
pesan. Oleh karena itu, model ini bisa dikatakan masih terlalu umum di dalam
menggambarkan model komunikasi masa. Secara khusus model ini tidak memasukkan
gatekeeper dalam proses peredaran pesan, Sebab, sebagai mana diketahui gatekeeper
adalah hal yang mutlak harus ada dalam saluran komunikasi masa yang meruk pakan
elemen utamanya. Jelas sekali bahwa model ini belum bisa dikatakan relevan, sebab
dalam prosesnya tidak ada pengontrolan informasi yang masuk. Ini dapat berakibat
umpan balik yang dari berbagai posisi muncul tanpa adanya pengendali.
Model Bryant dan Wallace ini khas untuk mengamati model arus radio dan televise

( Nurudin , 2007 ; 159 )

12
2.4 Studi Kasus Maletzke

Model Maletzke dalam kehidupan sehari-hari:


Misalnya pemberitaan yaitu kasus tabrakan AQJ. Bagi masyarakat awam yang
tidak mengetahui siapa AQJ dan mengenalnya, maka masyarakat akan mendapatkan
perkembangan berita mengenai AQJ tersebut agar masyarakat mendapatkan informasi
mengenai hal-hal yang terkait mengenai peristiwa tabrakan tersebut melalui media.
Kemudian masyarakat akan mengolah pesan yang disampaikan media sesuai dengan
keyakinan, sikap, nilai-nilai, dan lingkungan sosialnya sehingga masing-masing khalayak
memunculkan banyak persepsi dan opini terhadap kasus tersebut.
Tetapi opini tersebut tidak hanya berasal dari faktor keyakinan, sikap, nilai-nilai
masyarakat semata tetapi juga media tersebut sendiri karena menurut model maletzke,
masyarakat juga turut serta memilih media yang mereka anggap paling dekat dan paling
dipercaya dalam membawa pesan oleh mereka sehingga media yang dalam hal ini sebagai
komunikator juga dapat salah satu faktor terhadap pembentukan opini masyarakat
tersebut. ( http://missdilliepiece.blogspot.com )

2.5 Studi Kasus Bryant dan Wallece

Model Bryant dan Wallace dalam kehidupan sehari hari :

Misalnya pemberitahuan bahwa adanya pelaksanaan gotong royong, komunikator


memberikan suatu pengumuman kepada pendengar yaitu warganya. Maka warganya akan
mendapat nilai, perasaan atau hal – hal dari komunikator tersebut agar bersemangat
bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar.
Akan tetapi opini tersebut tidak hanya berasal dari factor nilai, sikap, motivasi
warganya semata tetapi juga kesukarelaan keikhlasan hati dari warganya. sebab dalam
prosesnya tidak ada pengontrolan informasi yang masuk. Ini dapat berakibat umpan balik
yang dari berbagai posisi muncul tanpa adanya pengendali.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Komunikasi massa berubah sangat pesat sejak ditemukannya era komunikasi
digital. Sebelum ada komunikasi digital, pengertian komunikasi massa sangat sederhana,
kini definisinya semakin kompleks. Komunikasi massa adalah proses komunikasi dengan
menggunakan media massa.
Model Komunikasi Maletzke adalah model proses komunikasi massa yang
menekankan pada 4 komponen utama yaitu: Communicator, message, medium, and
receiver.
Secara khusus, model ini tidak memasukan gatekeeper dalam proses predaran
pesan. Oleh karena itu, model ini bisa dikatakan masih terlalu umum di dalam
menggambarkan model komunikasi masa. Secara khusus model ini tidak memasukkan
gatekeeper dalam proses peredaran pesan.
Bahwa tayangan kriminalitas/tercela yang inten berefek pada tingginya tingkat
pengetahuan seseorang terhadap beragam jenis hal hal berupa kriminalitas atau perbuatan
tercela.

3.2 Saran
Sebaiknya media massa meyaring atau memilah berita yang baik dan benar agar
masyarakat dapat mencontoh hal yang baik terhadap lingkungan sosialnya.

14
Daftar Pustaka
Hartiningsih. 2014. Komunikasi Massa Televisi, dan Tayangan kekerasan dalam
pendekatan kasus. Jakarta : Rajawali pers

Nurudin. 2009 Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : Rajawali Pers

Ardianto Elvinaro, Komala Likiati. 2004. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar.


Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

Fikse John. 2014. Pengantar Ilmu Komunikasi – Edisi Ketiga. Jakarta : Rajawali Pers

Internet :
http://nurmasetiana.blogspot.com
http://abikadzeya.blogspot.com
http://missdilliepiece.blogspot.com

15