Anda di halaman 1dari 22

Laporan Praktikum Dosen Pembimbing

Instrumentasi dan pengedalian proses Dra. Wisrayetty, M.Si

PENGUKURAN KONDUKTIVITAS

Disusun Oleh :
Kelompok : III (Tiga)
Kelas :B
Nama Kelompok : Jelly Okta Sari (1507037717)
Kevin Marcellino S (1507037562)
Maulidina Prastike P (1507037633)
Selvia Basril (1507036781)

LABORATORIUM TEKNOLOGI KIMIA


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2017
ABSTRAK
Konduktivitas adalah kemampuan suatu bahan (larutan, gas maupun logam) dalam
menghantarkan atau mentransfer arus listrik. Konduktivitas larutan berkaitan dengan
kadar ion yang terdapat dalam suatu sistem larutan. Tujuan dari percobaan ini yaitu
mempelajari dasar-dasar pengukuran menggunakan alat konduktometer dan
mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi terhadap konduktivitas suatu larutan.
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan jenis larutan yaitu larutan NaCl, NaOH
dan H2SO4. Masing-masing larutan divariasikan konsentrasinya mulai dari 0,06% dan
0,07%. Nilai konduktivitas larutan NaCl dengan konsentrasi 0.06 % dan 0.07 %
adalah berturut-turut 1265 µS/cm dan 1343 µS/cm. Nilai konduktivitas larutan
NaOH dengan konsentrasi 0.06 % dan 0.07 % adalah berturut-turut 2159 µS/cm
dan 2507 µS/cm. Sedangkan nilai konduktivitas larutan H2SO4 dengan
konsentrasi 0.06 % dan 0.07 % adalah berturut-turut 5542 µS/cm dan 6811
µS/cm. Dari hasil percobaan maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh konsentrasi
larutan (elektrolit) secara langsung berdampak kepada nilai konduktivitas larutan,
dimana peningkatan konsentrasi dan suhu larutan akan menyebabkan nilai konduktivitas
meningkat pula.

Kata kunci: konduktivitas, konduktometer, konsentrasi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan Percobaan


1. Mempelajari dasar-dasar pengukuran dengan menggunakan
konduktometer
2. Mempelajari pengaruh perubahan konsentrasi terhadap konduktivitas
suatu larutan.
1.2 Dasar Teori
1.2.1 Larutan Elektrolit
Selain dari ikatannya, terdapat cara lain untuk mengelompokkan senyawa
yakni didasarkan pada daya hantar listrik. Berdasarkan daya hantarnya, senyawa
dibagi menjadi elektrolit dan non elektrolit. Elektrolit adalah zat yang dapat
menghantarkan listrik atau zat yang di dalam larutanya akan terdisosiasi atau akan
terurai menjadi ion-ionnya yang menyebabkan kemampuannya untuk
menghantarkan listrik. Ditinjau dari kesetimbangan peruraiannya atau derajat
disosiasinya, elektrolit dibagi menjadi elektrolit kuat, yaitu zat yang dalam
larutannya terdisosiasi sempurna atau sebagian besar menjadi ion-ion. Zat ini
sangat mudah terionisasi dalam larutan, dengan derajat ionisasi 1 atau mndekati 1,
misalnya garam-garam alkali, asam kuat dan basa kuat. Elektrolit lemah, yaitu zat
yang dalam larutannya hanya sebagian kecil terdisosiasi menjadi ion-ion. Zat ini
sukar terionisasi, derajat ionisasinya mendekati 0, misalnya sebagian kecil garam-
garam, asam lemah dan basa lemah (Supriyana, 2004).
Senyawa yang larutanya dalam air tidak dapat menghantarkan listrik disebut
larutan nonelektrolit. Jika sepasang elektroda dicelupkan ke dalam larutan
elektrolit dan dialiri dengan sumber arus searah, maka ada kemungkinan arus
yang mula-mula besar menjadi mengecil, ini terjadi karena kemungkinan terjadi
peristiwa elektrolisis yang menyebabkan timbulnya lapisan di permukaan
elektoda. Hal ini menyebabkan daya hantarnya menjadi berkurang, sehingga
untuk mencegah hal tersebut pada larutan elektrolit digunakan arus bolak-balik.
Jika dalam larutan elektrolit dihubungkan tegangan melalui kedua elektroda, maka
akan timbul medan listrik antara kedua elektroda tersebut, akibatnya ion positif
akan bergerak menuju elektroda negatif (anoda) untuk mengambil elektron dari
elektroda ini (oksidasi), sedangkan ion negatif akan bergerak menuju elektroda
positif (katoda) untuk menyerahkan elektron pada elektroda ini (reduksi). Ini
berarti dalam larutan elektrolit ini terjadi penghantaran muatan dari elektroda
yang satu menuju elektroda yang lain dengan jalan diangkut oleh ion-ion
(Sukardjo, 1997).
Zat elektrolit dalam air akan terurai menjadi ion-ion dan mereka akan
bergerak kearah elektroda yang muatannya berlawanan (ion negatif akan bergerak
ke elektroda positif dan ion positif akan bergerak ke elektroda negatif).
Pergerakan ion-ion ini ekivalen dengan aliran elektron sepanjang kawat logam.
Larutan yang mengandung suatu elektrolit mampu menghantarkan arus
listrik. Arus listrik dapat dianggap sebagai aliran elaktron yang membawa aliran
negatif melalui suatu pengantar. Perpindahan muatan ini terjadi karena adanya
perbedaan potensial antara dua tempat tersebut.Arus listrik akan mengalir dari
tempat yang potensialnya tinggi ke tempat potensialnya rendah. Jika suatu
elektroda yang dialiri listrik dengan potensial sama, maka arus yang dihasilkan
tergantung pada besarya tahanan. Makin besar tahanan, semakin kecil arus yang
dihasilkan (Bird, 1987).

1.2.2. Pengertian Konduktivitas


Konduktivitas adalah kemampuan suatu bahan (larutan, gas, atau logam)
untuk menghantarkan arus listrik. Dalam suatu larutan, larutan arus listik dibawa
oleh kation-kation dan anion-anion, sedangkan dalam logam arus listrik dibawa
oleh elektron-elektron. Konduktivitas suatu larutan dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu konsentrasi, pergerakan ion-ion, valensi ion dan suhu (Mc.Cabe dkk,
1985).
Daya hantar listrik (konduktivitas) adalah ukuran seberapa kuat suatu
larutan dapat menghantarkan listrik. Daya hantar listrik merupakan kebalikan dari
hambatan listrik (R). Daya hantar listrik disebut Konduktivitas. Satuannya
disingkat Ω-1cm-1. Konduktivitas digunakan untuk pengukuran larutan/cairan
elektrolit. Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas.
Energi listrik dapat di transfer melalui materi berupa hantaran yang bermuatan
listrik yang berwujud arus listrik. Ini berarti bahwa harus terdapat pembawa
muatan listrik di dalam materi serta adanya gaya yang menggerakkan pembawa
muatan tersebut. Pembawa muatan dapat berupa elektron seperti logam, dapat
pula berwujud ion positif dan ion negatif seperti dalam larutan elektrolit dan
lelehan garam. Pembawa muatan yang berwujud logam disebut elektrolit atau
metalik, sedangkan pembawa muatan yang berupa larutan disebut ionik atau
elektrolit. Gaya listrik yang membuat muatan bergerak biasanya berasal dari
baterai, generator atau sumber energy listrik yang lain. Perpindahan muatan listrik
dapat terjadi bila terdapat beda potensial antara satu tempat terhadap yang lain,
dan arus listrik akan mengalir dari tempat yang meiliki potensial tinggi ke tempat
potensial rendah. Terjadinya arus listrik didalam suatu larutan dikarenakan adanya
ion yang bergerak (Supriyana, 2004).
Semakin besar jumlah ion dari suatu larutan maka akan semakin tinggi nilai
konduktivitasnya. Jumlah muatan dalam larutan sebanding dengan nilai daya
hantar molar larutan dimana hantaran molar juga sebading dengan konduktivitas
larutan. Konsentrasi elektrolit sangat menentukan besarnya konduktivitas molar
(∆m). Konduktivitas molar adalah konduktivitas suatu larutan apabila konsentrasi
larutan sebesar satu molar. Larutan encer, ion-ion dalam larutan tersebut mudah
bergerak sehingga daya hantarnya semakin besar. Larutan yang pekat, pergerakan
ion lebih sulit sehingga daya hantarnya menjadi lebih rendah. Hal lain yang
mempengaruhi daya hantar listrik selain konsentrasi adalah jenis
larutan (Sukardjo, 1997).

1.2.3 Pengaruh Konsentrasi dan Suhu


Setiap unsur atau senyawa kimia mempunyai derajat konduktivitas yang
berbeda-beda. Air murni mempunyai konduktivitas yang sangat rendah, beberapa
senyawa atau unsur kimia yang terlarut dalam air dapat meningkatkan
konduktivitas air. Pada umumnya peningkatan konsentrasi zat kimia dalam suatu
larutan akan meningkatkan konduktivitas (Mc.Cabe dkk, 1985).
Perubahan suhu suatu larutan juga mempengaruhi konduktivitasnya,
kenaikan suhu akan meningkatkan pergerakan ion-ion dalam larutan, sehingga
konduktivitas larutan meningkat. Temperatur burhubungan secara linier dengan
konduktivitas, peningkatan konduktivitas akibat kenaikan temperatur dapat
dinyatakan dalam persen per derajat celcius (slope) air murni mempunyai slope
yang relative besar yaitu 5.2% per 0C. Air pada umumnya mempunyai slope antara
1,8 - 2% per 0C larutan garam, asam, atau alkali mempunnyai slope sekitar 1,5%
per 0C (Mc.Cabe dkk, 1985).

1.2.4 Satuan konduktivitas


Hantaran listrik merupakan kebalikan dari tahanan (resistanse) bila tahanan
mempunyai satuan dasar ohm maka satuan dasar hantaran adalah “mho” atau
biasa ditulis “Siemen/cm”, pada pengukuran konduktivitas air dan larutan –larutan
kimia umumnya digunakan satuan Volt atau mV (Mc.Cabe dkk, 1985).

1.2.5 Aplikasi pengukuran konduktivitas


Pengukuran konduktivitas dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi
suatu larutan kimia atau elektrolit seperti larutan NaCl, HCl, H 2SO4, dan NaOH.
Pengukuran konduktivitas secara luas digunakan dalam industri pengolahan air.
Pengolahan air limbah industri untuk menentukan tingkat kontaminasi air dan
lain-lain (Mc.Cabe dkk, 1985).

1.2.6 Alat ukur konduktivitas


Pengukuran konduktivitas dapat dilakukan dengan menggunakan arus
listrik yang dialirkan pada dua elektroda yang dicelupkan kedalam air atau larutan
kimia, dan mengukur tegangan yang dihasilkan. Selama proses ini ,kation
berpindah ke elektroda negatif dan anion berpindah ke elektroda positif , larutan
bertindak sebagai penghantar listrik (Mc.Cabe dkk, 1985).
Beberapa jenis khusus konduktivimeter menggunakan arus listrik bolak-
balik (AC). Pada frekwensi optimal dengan dua elektroda aktif dan mengukur
beda tegangan yang dihasilkan suatu larutan. Kuat arus dan beda tegangan
digunakan untuk menghiutng hantaran listrik (Conductance). Konduktivitimeter
kemudian menggunakan conduktance dan cell konstan untuk menampilkan nilai
konduktivitas (Mc.Cabe dkk, 1985).
Nilai konduktivitas merupakan ukuran terhadap konsentrasi total elektrolit
di dalam air. Kandungan elektrolit yang pada prinsipnya merupakan garam-garam
yang terlarut dalam air, berkaitan dengan kemampuan air di dalam menghantarkan
arus listrik. Konduktivitas listrik didefinsikan sebagai ratio dari rapat arus
terhadap kuat medan. Semakin banyak garam-garam yang terlarut semakin baik
daya hantar listrik air tersebut. Air suling yang tidak mengandung garam-garam
terlarut dengan demikian bukan merupakan penghantar listrik yang baik. Selain
dipengaruhi oleh jumlah garam-garam terlarut, konduktivitas juga di pengaruhi
oleh temperatur. Konduktivitas dapat berupa (Salirawati, 2007) :
1. Konduktivitas listrik , ukuran kemampuan bahan untuk membuat arus listrik
2. Konduktivitas hidrolik , properti kemampuan bahan untuk mengirim air
3. Konduktivitas termal, properti intensif bahan yang menandakan
kemampuannya untuk membuat panas
4. Konduktivitas Rayleigh, menjelaskan kelakuan apertur mengenai aliran
cairan atau gas
5. Konduktivitas listrik adalah ukuran dari kemampuan suatu bahanuntuk
menghantarkanarus listrik. Jika suatu beda potensial listrik ditempatkan pada
ujung-ujung sebuah konduktor ,muatan-muatanbergeraknya akan berpindah,
menghasilkan arus listrik
Senyawa yang larutanya dalam air tidak dapat menghantarkan listrik
disebut larutan nonelektrolit. Jika sepasang elektroda dicelupkan ke dalam larutan
elektrolit dan dialiri dengan sumber arus searah, maka ada kemungkinan arus
yang mula-mula besar menjadi mengecil, ini terjadi karena kemungkinan terjadi
peristiwa elektrolisis yang menyebabkan timbulnya lapisan di permukaan
elektoda. Hal ini menyebabkan daya hantarnya menjadi berkurang, sehingga
untuk mencegah hal tersebut pada larutan elektrolit digunakan arus bolak-balik.
Jika dalam larutan elektrolit dihubungkan tegangan melalui kedua elektroda, maka
akan timbul medan listrik antara kedua elektroda tersebut, akibatnya ion positif
akan bergerak menuju elektroda negatif (anoda) untuk mengambil elektron dari
elektroda ini (oksidasi), sedangkan ion negatif akan bergerak menuju elektroda
positif (katoda) untuk menyerahkan elektron pada elektroda ini (reduksi). Ini
berarti dalam larutan elektrolit ini terjadi penghantaran muatan dari elektroda
yang satu menuju elektroda yang lain dengan jalan diangkut oleh ion-ion
(Sukardjo, 1997).

1.2.7 Pembuatan Larutan


Larutan didefinisikan sebagai campuran homogen antara dua atau lebih zat
yang terdispersi baik sebagai molekul, atom, maupun ion yang komposisinya
dapat bervariasi tetapi memiliki komposisi merata atau serba sama di seluruh
volumenya. Suatu larutan mengandung satu zat terlarut atau lebih dari satu
pelarut. Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit, sedangkan
pelarut adalah komponen yang terdapat dalam jumlah yang banyak. Pengenceran
adalah proses mencampur larutan (zat terlarut) yang berkonsentrasi tinggi dengan
cara menambahkan zat pelarut hingga diperoleh volume yang lebih besar dan
konsentrasi zat terlaru yang lebih rendah. Pengenceran juga dapat meningkatkan
jumlah pH dalam larutan (Saputra, 2013).
Bila dua atau lebih zat yang tidak bereaksi dicampur, campuran yang terjadi
ada 3 kemungkinan, yaitu campuran kasar, disperse kolid, dan larutan sejati. Dua
jenis campuran yang pertama bersifat heterogen dan dapat dipisahkan seacara
mekanis. Sedang larutan yang bersifat homogen dan tidak dapat dipisahkan secara
mekanis. Atas dasar ini campuran larutan didefinisikan sebagai campuran
homogen antara dua zat atau lebih. Keadaan Fisika larutan dapat berupa gas, cair,
atau padat dengan perbandingan yang berubah-ubah pada jarak yang luas
(Sukardjo, 1997).
Pencampuran larutan merupakan penggabungan dua zat atau lebih yang
jenisnya sama. Namun larutan tersebut mempunyai konsentrasi yang berbeda.
Pencampuran tidak menyebabkan adanya perubahan fisik (Salirawati, 2007).

1.2.8 Proses Pengenceran Larutan


Proses pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi)
dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih besar.
Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan, kadang-kadang sejumlah
panas dilepaskan (Saputra, 2013).
Meskipun hantaran jenis dapat diukur dengan mudah, tetapi besaran ini
tidak biasa digunakan dalam membahas proses penghantaran listrik dalam suatu
larutan elektrolit.Suatu larutan dengan konsentrasi yang berbeda akan memiliki
hantaran jenis yang berbeda karena volume larutan dengan konsentrasi yang
berbeda mengandung jumlah ion yang berbeda. Karena itu untuk memperoleh
ukuran kemampuan mengangkut listrik dari sejumlah tertentu elektrolit
didefinisikan sebagai konduktivitas molar (Saputra, 2013).

1.2.9 Mekanisme Penghantar Listrik


Aliran listrik melalui suatu konduktor (penghantar) melibatkan perpindahan
elektron dari potensial negatif yang tinggi ke potensial lainnya yang lebih
rendah.Dalam penghantar elektronik, seperti padatan dan lelehan logam,
penghantaran berlangsung melalui perpindahan elektron langsung melalui
penghantar dengan pengaruh dari potensial yang diterapkan. Dalam hal ini atom-
atom penyusun penghantar tidak terlibat dalam proses tersebut. Akan tetapi pada
penghantar elektrolitik, yang mencakup larutan elektrolit dan lelehan garam-
garam, penghantaran berlangsung melalui perpindahan ion-ion baik positif
maupun negatif menuju elektroda-elektroda.Mekanisme elektrolisis adalah bahwa
elektron masuk dan keluar dari larutan terjadi melalui perubahan kimia pada
elektroda-elektrodanya (Saputra, 2013).

1.2.10 Ketergantungan Konduktivitas Terhadap Konsentrasi


Berdasarkan hantarannya, elektrolit dibedakan menjadi dua yaitu elektrolit
kuat (garam-garam dan sebagian asam seperti nitrat, sulfat dan klorida) dan
elektrolit lemah (seperti asam asetat dan asam organic lainnya).Elektrolit kuat
mempunyai hantaran molar yang lebih tinggi dibandingkan dengan larutan
elektrolit lemah.Untuk elektrolit kuat yang tidak mengandung asosiasi ion,
konsentrasi ionnya berbanding lurus dengan konsentrasi elektrolitnya.Hal ini
terjasi karena adanya interaksi diantara ion-ion yang mempengaruhi hantaran
jenisnya.Interaksi ini berubah dengan berubahnya konsentrasi (Salirawati, 2007).
Menurut Kohlrausch, pada pengenceran tak hingga dimana disosiasi untuk
semua elektrolit berlangsung sempurna dan semua gaya antar ion hilang, masing-
masing ion dalam larutan bergerak bebas dan tida bergantung pada ion
pasangannya. Kontribusinya terhadap daya hantar molar hanya bergantung pada
sifat dari ionnya tersebut. Jadi gaya hantar molar setiap elektrolit pada
pengenceran tak hingga merupakan jumlah dari gaya hantar molar ion-ionnya
pada pengenceran tak hingga (Salirawati, 2007).

1.2.11 Konduktivitas Elektrik


Pengukuran konduktivitas elektrik adalah penentuan konduktivitas spesifik
dari larutan.Konduktivitas spesifik adalah kebalikan dari tahanan untuk 1 cm 3
larutan. Pemakaian cara untuk pengukuran ini antara lain untuk mendeteksi
pengotoran air karena zeolit atau zat kimia seperti limbah industri, pengolahan air
bersih dan lain lain. Karena relevansi antara konduktivitas dengan konsentrasi
larutan maka untuk menentukan konsentrasi larutan dapat dilakukan dengan cara
mengukur konduktivitas larutan tersebut. Dalam hal itu hubungan antara
konduktivitas dan konsentrasi telah ditentukan (Salirawati, 2007).
Larutan asam, basa dan garam dikenal sebagai elektrolit yang dapat
mengahantarkan arus listrik atau disebut konduktor listrik.Konduktivitas listrik
ditentukan oleh sifat elektrolit suatu larutan, konsentrasi dan suhu larutan.Jika
harga konduktivitas dari berbagai macam larutan elektrolit diketahui, maka untuk
menentukan konsentrasi larutan tersebut dapat dilakukan dengan mengalirkan arus
melalui larutan dan mengukur resistivitas atau konduktivitasnya (Salirawati,
2007).

BAB II

METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat yang digunakan


1. Konduktimeter
2. Timbangan digital
3. Gelas kimia
4. Thermometer
5. Labu ukur 100 ml
6. Pipet tetes
7. Gelas kimia 250 ml
8. Gelas ukur 10 ml
9. Spatula
10. Corong

2.2 Bahan yang dipakai


2. Aquades
3. NaCl
4. H2SO4 95% dan 97 %
5. NaOH

Konduktivitimeter

Wadah

Sampel

Gambar 2.1 Skema alat konduktometer

2.3 Prosedur Kerja


2.3.1 Mengukur Konduktivitas larutan NaCl, NaOH dan H2SO4
1. Dituangkan sampel larutan NaCl dari setiap konsentrasi masing-masing
sebanyak 6 mL dan 7 ke dalam gelas kimia 50 mL
2. Dimasukkan aquades ke dalam gelas kimia 100 mL yang dijadikan sebagai
larutan penetral konduktivitas.
3. Konduktometer dihidupkan dengan menekan tombol ON
4. Dicelupkan ujung konduktometer ke dalam gelas kimia yang berisi
aquades, lalu skala yang tertulis dibaca dan dicatat
5. Konduktometer dilap ujungnya dan kemudian dicelupkan ke dalam setiap
sampel larutan NaCl yang berbeda nilai konsentrasinya, setiap penggantian
dalam mengukur nilai konduktivitas perlu dinetralkan terlebih dahulu ke
dalam aquades
6. Skala yang terbaca di alat diamati dan dicatat
7. Hal yang sama dilakukan seperti langkah 1-6 untuk pengukuran larutan
NaOH dan H2SO4
2.3.2 Kalibrasi Konduktometer Digital
1. Disiapkan alat konduktometer digital
2. Dituangkan aquades pada gelas kimia
3. Konduktometer dihidupkan dengan menekan tombol ON
4. Dicelupkan ujung konduktometer ke dalam gelas kimia yang berisi
aquades, lalu skala yang tertulis dibaca dan dicatat
5. Setelah itu elektroda yang sudah dibilas dengan aquades dilap sampai
kering, dan alat siap digu nakan dalam pengukuran konduktivitasnya

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Percobaan


Data hasil percobaan pengukuran konduktivitas larutan NaCl dengan variasi
konsentrasi dapat dilihat pada Tabel 3.1 dibawah ini.
Tabel 3.1 Data hasil pengukuran konduktivitas konsentrasi 0,06% dan 0,07%
Konsentrasi Konduktivitas Konduktivitas Konduktivitas
(%) NaOH H2SO4 NaCl
(µS/cm) (µS/cm) (µS/cm)
0,06 2159 5542 1265
0,07 2507 6811 1343

3.2 Pembahasan
Konduktivitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk
menghantarkan arus listrik. Pengukuran konduktivitas dapat dilakukan dengan
menggunakan arus listrik yang dialiarkan pada dua elektroda yang dicelupkan
kedalam air atau larutan kimia dan tegangan yang dihasilkan diukur (Mc.Cabe
dkk, 1985).
Pengukuran konduktivitas menggunakan larutan NaCl, H2SO4 dan NaOH
merupakan ketiga senyawa tersebut memiliki sifat sebagai elektrolit kuat. Larutan
yang bersifat sebagai elektrolit kuat dapat menghantarkan arus listrik dan jenis
larutan elektrolit kuat bisa diukur nilai hantarnya yang dinamakan konduktivitas
suatu larutan tersebut. Pada percobaan dilakukan pengukuran konduktivitas
larutan dimana faktor yang dilihat adalah perbedaan konsentrasi dari masing-
masing larutan NaCl, H2SO4 dan NaOH yaitu 0.06% dan 0.07%.

3.2.1 Hubungan konduktivitas dengan konsentrasi larutan NaCl


Larutan natrium klorida tergolong dalam larutan elektrolit kuat, dimana
natrium klorida akan mengion menjadi Na+ dan Cl- dalam sistem larutan. Pada
percobaan dilakukan pengukuran konduktivitas larutan NaCl dimana digunakan
variasi konsentrasi larutan yang berbeda yaitu 0.06% dan 0.07%. Data yang
diperoleh dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Kurva Konsentrasi vs Konduktivitas pada larutan NaCl

Dari Gambar 3.1 diatas dapat dilihat nilai konduktivitas larutan NaCl
dengan konsentrasi 0.06 % dan 0.07 % adalah berturut-turut 1265 µS/cm dan
1343 µS/cm. Pada pengukuran NaCl didapat konduktivitas yang cukup besar hal
ini dikarenakan NaCl merupakan pencampuran antara asam kuat dan basa kuat
yang memiliki daya ionisasi tinggi. Dari hasil pengukuran dengan
konduktivitimeter didapat bahwa konsentrasi larutan berbanding lurus dengan
nilai konduktivitas suatu larutan. Hal ini disebabkan semakin pekat konsentarasi
larutan, maka semakin banyak NaCl yang terlarut dalam air sehingga
menyebabkan semakin banyak NaCl yang terionisasi dan menghasilkan muatan-
muatan negatif dan positif. Apabila semakin banyak muatan-muatan dalam
larutan maka semakin banyak arus listrik yang dihantarkan.

3.2.2 Hubungan konduktivitas dengan konsentrasi larutan NaOH


Pada percobaan dilakukan pengukuran konduktivitas larutan NaOH
dimana digunakan variasi konsentrasi larutan yang berbeda yaitu 0.06% dan
0.07%. Data yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2 Kurva Konsentrasi vs Konduktivitas pada larutan NaOH

Dari Gambar 3.2 diatas dapat dilihat nilai konduktivitas larutan NaOH
dengan konsentrasi 0.06 % dan 0.07 % adalah berturut-turut 2159 µS/cm dan
2507 µS/cm. Dari hasil yang didapatkan pada percobaan, hasil tersebut sesuai
dengan teori yang menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi zat kimia dalam
suatu larutan akan meningkatkan konduktivitasnya, sedangkan semakin rendah
konsentrasi dari NaCl maka nilai konduktivitas nya juga akan semakin menurun.

3.2.3 Pengukuran Konduktivitas Larutan H2SO4


Pada percobaan dilakukan pengukuran konduktivitas larutan H2SO4 dimana
digunakan variasi konsentrasi larutan yang berbeda yaitu 0.04% dan 0.08%. Data
yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar 3.3.
Gambar 3.3 Kurva Konsentrasi vs Konduktivitas pada larutan H2SO4

Dari Gambar 3.3 diatas dapat dilihat nilai konduktivitas larutan H2SO4
dengan konsentrasi 0.06 % dan 0.07 % adalah berturut-turut 5542 µS/cm dan
6811 µS/cm. Peningkatan konduktivitas disebabkan oleh kadar atau jumlah ion
yang semakin bertambah seiring dengan peningkatan konsentrasi. Ion-ion yang
membawa muatan listrik bergerak secara acak (Gerak Brown) didalam larutan dan
saling bertumbukan satu sama lain. Selama ion-ion saling bertumbukan maka
terjadi pula proses transfer arus listrik dalam waktu sepersekian detik.

3.2.4 Perbandingan Konduktivitas Larutan NaCl, NaOH dan H2SO4


Konduktivitas pada ketiga larutan sudah dilakukan pengukuran dan diambil
datanya. Nilai konduktivitas larutan NaCl, NaOH dan H2SO4 dengan konsentrasi
0.06 % dan 0.07% mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan
konsentrasi pada NaCl, NaOH dan H2SO4. Nilai konduktivitas larutan NaCl
dengan konsentrasi 0.06 % dan 0.07 % adalah berturut-turut 1265 µS/cm dan
1343 µS/cm. Nilai konduktivitas larutan NaOH dengan konsentrasi 0.06 % dan
0.07 % adalah berturut-turut 2159 µS/cm dan 2507 µS/cm. Sedangkan nilai
konduktivitas larutan H2SO4 dengan konsentrasi 0.06 % dan 0.07 % adalah
berturut-turut 5542 µS/cm dan 6811 µS/cm.
Gambar 3.4 Hubungan Konsentrasi Vs Konduktivitas Antara Larutan
NaCl, H2SO4 dan NaOH
Dari Gambar 3.4 dapat dilihat perbandingan ketiga nilai konduktivitas
larutan tersebut, dimana larutan H2SO4 memiliki nilai konduktivitas larutan
terbesar dibandingkan larutan NaCl dan NaOH, ini dikarenakan larutan H2SO4
bersifat penghantar arus listrik yang baik, dimana saat pembuatan larutan H2SO4
tersebut akan melepaskan panas ketika dilarutkan yang akan membuat
peningkatan konsentrasi zat kimia dalam suatu larutan dan larutan yang terlarut
terionisasi sempurna membuat meningkatnya konduktivitas.
Ketiga larutan sama-sama tergolong sebagai larutan elektrolit kuat dan
merupakan larutan yang dapat terionisasi bila dilarutkan ke dalam air. Hal yang
membedakan ketiga larutan tersebut adalah pada jenisnya yaitu berupa garam
(NaCl dan NaOH) dan asam kuat (H2SO4). Kita ketahui bahwa garam terbentuk
dari hasil reaksi asam kuat dan basa kuat sehingga terjadilah reaksi dan
terbentuklah garam, sehingga bisa diambil alasan nilai konduktivitas NaCl dan
NaOH lebih rendah dibanding H2SO4. Alasannya karena NaCl dan NaOH
terbentuk dari pencampuran asam dan basa (netral), sehingga nilai
konduktivitasnya tidak begitu tinggi (Salirawati, 2007).

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dari percobaan pengukuran konduktivitas yaitu :
1. Apabila semakin besar konsentrasi pada larutan NaCl, larutan H2SO4
dan larutan NaOH maka nilai konduktivitasnya akan semakin
meningkat, sebaliknya semakin rendah konsentrasi larutannya maka
nilai konduktivitasnya akan semakin kecil.
2. Perbandingan nilai konduktivitas, larutan H2SO4 lebih besar
dibandingkan dengan larutan NaCl dan larutan NaOH.
3. Nilai konduktivitas larutan NaCl dengan konsentrasi 0.10 %, 0,11% dan
0.12% adalah berturut-turut 5100 µS/cm, 5363 µS/cm dan 5913 µS/cm.
Nilai konduktivitas larutan NaOH dengan konsentrasi 0.10 %, 0,11%
dan 0.12%adalah berturut-turut 745 µS/cm, 1918 µS/cm dan 2034
µS/cm. Sedangkan nilai konduktivitas larutan H2SO4 dengan konsentrasi
0.02 %, 0,04% dan 0.06 % adalah berturut-turut 1679 µS/cm, 3203
µS/cm dan 4018 µS/cm.

4.2 Saran
1. Lakukan praktikum dengan teliti dan penuh kecermatan.
2. Usahakan dalam melakukan praktikum ini menggunakan perlengkapan
seperti sarung tangan dan masker.
3. Pengambilan data nilai konduktivitas, setelah kondisinya konstan
(stabil).

DAFTAR PUSTAKA

Bird, T. 1987. Kimia Fisika untuk Universitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mc Cabe L Warren, Smith C Julian, Herriot Peter. 1985. Operasi Teknik Kimia
Jilid 1 Edisi Ke-4 .diterjemahkan oleh Jasifi E. Jakarta : Erlangga.
Salirawati, 2007. Belajar Kimia Menarik. Jakarta : Grasindo.
Saputra, Andika. 2013. Pengenceran Asam kuat. https://andikasaputra.web.id /
2013/02/laporan-praktikum-pengenceran-asam-kuat.html. (Diakses tanggal
17 November 2017)
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Yogyakarta : Rineka Cipta
Supriyana. 2004. Kimia untuk Universitas jilid II. Erlangga. Jakarta.
Tim Penyusun. 2017. Buku Panduan Praktikum Instrumentasi dan Kontrol.
Fakultas Teknik Jurusan Diploma III Teknik Kimia. Universitas Riau.

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

A.1 Perhitungan untuk NaCl


1. Menentukan berat dari larutan NaCl dengan konsentrasi 1%

= x 100%

= x 100%

2. Pembuatan larutan NaCl 0,06% dari pengenceran NaCl 1% Maka


volumenya adalah:
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 1 % = 100 x 0,06%
V1 = 6 ml
3. Pembuatan larutan NaCl 0,07% dari pengenceran NaCl 1% Maka
volumenya adalah:
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 1 % = 100 x 0,07%
V1 = 125 ml

A.2 Perhitungan untuk NaOH


1. Menentukan volume larutan NaOH dengan konsentrasi 1% dari NaOH 4%
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 4% = 100 x 1%
V1 = 25 ml
2. Pembuatan larutan NaOH 0,06% dari pengenceran NaCl 1% Maka
volumenya adalah:
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 1 % = 100 x 0,06%
V1 = 6 ml

3. Pembuatan larutan NaCl 0,07% dari pengenceran NaCl 1% Maka


volumenya adalah:
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 1 % = 100 x 0,07%
V1 = 125 ml

A.3 Perhitungan untuk H2SO4


1. Menentukan volume larutan H2SO4 dengan konsentrasi 1% dari H2SO4 98%
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 98% = 100 x 1%
V1 = 1,02 ml
2. Pembuatan larutan H2SO4 0,06% dari pengenceran H2SO4 1% Maka
volumenya adalah:
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 1 % = 100 x 0,06%
V1 = 6 ml
3. Pembuatan larutan H2SO4 0,07% dari pengenceran H2SO4 1% Maka
volumenya adalah:
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 1 % = 100 x 0,07%
V1 = 125 ml

LAMPIRAN B
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum : Pengukuran Konduktivitas


Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 16 November 2017
Nama Kelompok : III (Tiga)
Anggota Kelompok : Jelly Okta Sari (1507037717)
Kevin Marcellino S (1507037562)
Maulidina Prastike P (1507037633)
Selvia Basril (1507036781)
Data Hasil Percobaan:
Tabel B.1 Data hasil pengukuran konduktivitas pada konsentrasi 0,06%
Konduktivitas NaOH Konduktivitas H2SO4 Konduktivitas NaCl
(µS/cm) (µS/cm) (µS/cm)
2161 5545 1267
2158 5540 1264
2159 5543 1266

Tabel B.2 Data hasil pengukuran konduktivitas pada konsentrasi 0,07%


Konduktivitas NaOH Konduktivitas H2SO4 Konduktivitas NaCl
(µS/cm) (µS/cm) (µS/cm)
2507 6813 1342
2505 6810 1344
2509 6811 1343

Mengetahui, Pekanbaru, 16 November 2017


Asisten Praktikan

Hadi Ikrima Selvia Basril