Anda di halaman 1dari 21

CASE BASED DISCUSSION

PSIKOTIK

Oleh :

1. Rangga Ivananda D 1261050037


2. Dwi Kartika H 1261050167
3. Ode Sitti Aprilianti 1261050158
4. Nana Moscowry M 1361050017
5. Yessi Henny G 1361050101
6. Stephanie Caroline 1361050171
7. Annisa Diah R 1361050229
8. Rene Christian T 1361050123
9. Ester Christien Artauli 1461050170
10. Vania Novita Hutagalung 1461050214

Pembimbing :
dr. Santi Yuliani, M. Sc., Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG
PERIODE 21 JUNI 2018 – 21 JULI 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Usia : 40 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : jl. Japunan RT 007/ RW 003, Magelang
Agama : Islam
Pekerjaan : Tambal Ban
Pendidikan : SMA
Pernikahan : Belum menikah
Suku Bangsa : Jawa
Bahasa : Indonesia dan Jawa
Tanggal Pemeriksaan : 3 Mei 2018

II. IDENTITAS PEMBERI INFORMASI


Nama Ny. R Tn. H
Usia 38 tahun 35 tahun
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki
Agama Islam Islam
Hubungan Istri Adik Kandung

III. ANAMNESIS
Autoanamnesis pada tanggal : 4 Juli 2018
Alloanamnesis pada tanggal : 4 Juli 2018
1. Keluhan Utama
Pasien suka berbicara sendiri sejak 2 bulan yang lalu.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Autoanamnesis :
Pasien mengatakan perasaannya saat ini biasa saja. Pasien mengaku sering
melihat jin yang muncul kapan saja dan mengaku jin itu sering mengajaknya
bicara. Pasien berkata bahwa jin tersebut ingin menyakiti dirinya dan
mengancamnya agar tidak mengadu pada siapapun. Pasien juga mengaku
mendengar bisikan-bisikan yang tidak ada wujudnya. Bisikian tersebut
mengatakan bahwa ada orang yang berusaha untuk mencuri barang milik pasien.
Pasien merasa bahwa pikirannya dikendalikan oleh suatu hal gaib. Selain itu,
pasien juga merasa bahwa dirinya dikejar oleh laki-laki berbadan tinggi besar
yang ingin menyakiti dirinya dan merasa bahwa banyak orang yang ingin
mengambil hartanya. Pasien sadar bahwa sekarang Ia berada di puskesmas tetapi
menyangkal bahwa dirinya sedang sakit.

Alloanamnesis :
Pasien dibawa keluarganya, yakni oleh adik kandung dan istri ke Puskesmas
Mertoyudan I tanggal 4 Juli 2018 karena suka bicara sendiri dan sempat
mengamuk sejak 2 bulan yang lalu. Adik pasien mengatakan bahwa pasien sering
bicara sendiri, tertawa tanpa sebab dan suka keluyuran. Selain itu pasien sering
tampak melamun dan mengurung diri dikamar.
Adik pasien mengatakan bahwa sebelum ada keluhan, pasien sempat
bekerja di tempat tambal ban, namun sekarang pasien tidak lagi bekerja karena
usaha tambal ban yang merupakan sumber usahanya harus dijual untuk membayar
hutang kepada temannya sedangkan sekitar 5 bulan terakhir ini pasien sangat
membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah anaknya. Adik pasien
mengatakan bahwa ayah mereka mengalami keluhan serupa. Menurut adiknya,
pasien memiliki kepribadian yang tertutup dan jarang cerita kepada orang
terdekat. Pasien pernah mengatakan pada istrinya bahwa pasien melihat seseorang
yang akan menyakitinya dan juga mengatakan bahwa ada cahaya surga yang akan
menjemputnya. Pasien juga pernah megatakan kepada istrinya bahwa Ia
mendengar bisikan seseorang yang mengancamnya kalau Ia harus menyakiti
keluarganya. Pasien sering terlihat mencurigai orang-orang sekitarnya karena
merasa bahwa hartanya akan dicuri. Sejak 2 bulan terakhir, pasien mulai jarang
mandi dan nafsu makan mulai berkurang, susah memulai tidur. Buang air besar
dan buang air kecil masih dilakukan sendiri tanpa disuruh.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


a. Riwayat penyakit psikiatri
Adik pasien menyangkal bahwa pasien pernah mengalami gejala seperti ini
sebelumnya.
b. Riwayat medis umum
Pasien tidak memiliki riwayat demam tinggi, kejang, trauma kepala, penyakit
metabolik dan penyakit serebrovaskular.
c. Penggunaan NAPZA (-), riwayat alkohol (-), perokok aktif (+) sudah lebih
dari 20 tahun.

4. Riwayat Kehidupan Personal


a. Masa prenatal dan perinatal
Pasien lahir pada tahun 1978 dan merupakan anak ke tiga dari lima
bersaudara. Pasien merupakan anak dari kehamilan yang direncanakan.
Status gizi ibu baik dan tidak ada masalah dalam proses kehamlian. Pasien
lahir di rumah dengan bantuan dukun beranak. Pasien lahir cukup bulan.
b. Masa kanak awal (0-3 tahun)
Pasien diasuh sendiri oleh keluarga. Pasien minum ASI hingga usia dua tahun
dan rutin mengikuti imunisasi.
- Psikomotorik
Tidak ada data yang valid tentang pasien mulai menunjukkan pertumbuhan
dan perkembangan seperti: pertama kali mengangkat kepala, berguling,
duduk, merangkak, berdiri, berjalan-berlari, memegang benda–benda di
tangannya, meletakkan segala sesuatu di mulutnya dan memegang benda-
benda di tangannya.
- Psikososial
Tidak ada data yang valid mengenai pasien di usia berapa mulai tersenyum
saat melihat wajah orang lain, dikejutkan oleh suara, ketika tertawa pertama
pasien atau menggeliat ketika diminta untuk bermain dan bertepuk tangan
dengan orang lain.
- Komunikasi
Tidak ada data yang valid tentang pasien seperti mulai mengucapkan kata-
kata seperti “ibu” dan “ayah” pada umur satu tahun.
- Emosi
Tidak ada data yang valid reaksi pasien ketika bermain, takut dengan orang
asing, ketika mulai menunjukkan kecemburuan atau daya saing terhadap
lainnya dan pelatihan menggunakan toilet.
- Kognitif
Tidak ada data yang valid usia pasien ketika dapat mengikuti objek,
mengakui ibunya, mengenal anggota keluarganya.
c. Masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
- Psikomotor
Tidak ada data yang valid pada saat pertama kali mengendarai sepeda roda
tiga, jika pasien terlibat dalam olahraga.
- Psikososial
Pasien adalah anak yang pendiam, hanya memiliki jumlah teman yang
sedikit.
- Komunikasi
Pasien dapat bergaul dengan teman-teman dan lingkungannya dengan baik.
- Emosional
Emosi pasien saat usia 3-11 tahun stabil, pasien tidak pernah terlibat dalam
kasus perkelahian di sekolah.
- Kognitif
Pasien merupakan anak yang memiliki prestasi yang cukup.
d. Masa kanak akhir (11-18 tahun)
- Psikomotor
Pasien dapat melakukan semua aktivitas motorik dengan baik tanpa
hambatan.
- Psikososial
Pasien dapat bergaul dengan teman-teman dan tetangga meskipun
- Komunikasi
Pasien kurang bergaul karena kepribadian pasien yang tertutup.
- Emosional
Emosi pasien tergolong stabil karena tidak pernah terlibat kasus di
lingkungan sekitar.
- Kognitif
Pasien merupakan anak yang memiliki prestasi yang cukup.

5. Riwayat Masa Dewasa


a. Riwayat Keagamaan
Pasien beragama Islam dan rajin beribadah.
b. Riwayat Pendidikan
Pasien menyelesaikan pendidikan hingga tamat SMA.
c. Riwayat Pekerjaan
Pasien memiliki usaha tambal ban kecil dipinggir jalan dekat rumahnya.
d. Riwayat Pernikahan
Pasien sudah menikah.
e. Riwayat Psikoseksual
Tidak ada penyimpangan seksual.
f. Riwayat Aktivitas Sosial
Jarang mengikuti aktivitas sosial dilingkungan rumahnya.
g. Riwayat Hukum
Pasien tidak pernah terlibat masalah hukum.
h. Riwayat Militer
Pasien tidak pernah mengikuti kegiatan militer.
i. Riwayat Situasi Hidup Sekarang
pasien tinggal bersama istri dan ketiga anaknya di jalan Japunan Magelang.
Sehari-hari pasien hanya berdiam diri dirumah.
j. Impian, Fantasi, dan Nilai-nilai
Tidak terdapat data yang valid impian dan fantasi pasien sebenarnya karena
pikiran pasien masih belum dapat dipercaya.
6. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit psikiatri : Ayah pasien pernah memiliki gejala yang sama.
Riwayat penyakit umum : disangkal.
IV. GENOGRAM
Keterangan:

= Laki-laki

= Perempuan

= Pasien

= Meninggal

= Tinggal serumah

V. KURVA PERJALANAN PENYAKIT

VI. PEMERIKSAAN FISIK


1. Vital Sign
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 94 x/menit
Frekuensi napas : 20 x/menit
Suhu : 36,3° C
2. Status Internus
Keadaan umum : Baik, kesan gizi cukup
Kesadaran : Compos Mentis
Kepala (mata dan THT)
Kepala : Normocephali
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Hidung : Kavum nasi lapang/lapang, sekret -/-
Telinga : Normotia/normotia, sekret -/-
Mulut : Sianosis (-)
Tenggorokan : Faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-)
Thorax
 Jantung
Tidak dilakukan pemeriksaan
 Paru
Inspeksi pergerakan dinding dada simetris
Palpasi, perkusi dan auskultasi tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : tidak dilakukan pemeriksaan
Urogenital : tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : tidak ada edema, akral hangat
3. Status Neurologis :
1. GCS : E4 V5 M6
2. Kaku kuduk : Tidak ditemukan
3. Saraf kranialis I - XII : Tidak ada penemuan bermakna
4. Refleks fisiologis : Tidak dilakukan pemeriksaan
5. Refleks patologis : Tidak dilakukan pemeriksaan
6. Sensorik : Tidak dilakukan pemeriksaan
7. Motorik : Pasien tidak ada kesulitan menggerakan anggota
tubuh

VII.PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


1. Deskripsi Umum
Penampilan : Rawat diri baik, berpakaian cukup rapi
Tanda jenis kelamin : Pria, sesuai umur
Sikap dan tingkah laku : Kooperatif, normoaktif
Perhatian dengan pemeriksa : Mudah ditarik, sulit dicantum
Hubungan jiwa : Sulit
2. Afek
Keserasian : Inappopriate
Derajat : Luas
Konsistensi : Labil
3. Mood : Tegang
4. Proses pikir
Produktifitas : Asosiasi Longgar
Kontinuitas : Logorhea
Hendaya Bahasa : Inkoheren
5. Isi pikir : Miskin ide, waham (+) bizzare, kejar, curiga
6. Bentuk pikir : Non-realistik
7. Persepsi
Halusinasi : Visual, Auditorik.
Ilusi : Disangkal
Depersonalisasi : Disangkal
Derealisasi : Disangkal

VIII. PANSS-EC
P4: 3 P7: 3 G4: 4 G8: 3 G14: 2

IX. RTA
Terganggu

X. DAYA NILAI
Tidak baik

XI. TILIKAN
Tilikan derajat 1

XII. REABILITAS
Dapat dipercaya
XIII. SENSORIUM DAN KOGNISI
1. Pengetahuan umum: tidak dilakukan pemeriksaan
2. Konsentrasi dan perhatian: kurang baik
3. Orientasi:
a. Waktu: Baik
b. Tempat: Baik
c. Orang: Baik
d. Situasi: Baik
4. Daya Ingat:
a. Segera: Baik
b. Pendek: Baik
c. Sedang: Baik
5. Pikiran Abstrak: Tidak dilakukan penilaian
6. Bakat Kreatif: Tidak dilakukan penilaian

XIV. KUMPULAN GEJALA/SINDROM


a. Sindrom skizofrenia
 Halusinasi auditorik
 Halusinasi visual
 Waham bizzare (delusion of control)
 Waham kejar
 Waham curiga

XV. DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDING


F20.0 Skizofrenia Paranoid dd F22.0 Gangguan Waham

F20.0 Skizofrenia Paranoid


Pedoman Diagnostik Menurut PPDGJ – III Kondisi Pada Pasien
a. Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia
b. Sebagai tambahan:
 Halusinasi dan/atau waham harus menonjol; Terpenuhi
(a) atau memberi perintah, atau halusinasi
auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi
pluit (whistling), mendengung (humming),
atau bunyi tawa (laughing);
(b) halusinasi pembauan atau pengecapan rasa,
atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan
tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi
jarang menonjol;
(c) waham dapat berupa hamper setiap jenis,
tetapi waham dikendalikan (delusion of
control), dipengaruhi (delusion of influence),
atau “passivity” (delusion of passivity), dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam,
adalah yang paling khas;
 gangguan afektif, dorongan kehendak dan
pembicaraan, serta gejala katatonik secara relative
tidak nyata/tidak menonjol.

F22.0 Gangguan Waham


Pedoman Diagnostik Menurut PPDGJ – III Kondisi Pada Pasien
 Waham-waham merupakan satu-satunya ciri khas klinis
atau gejala yang paling mencolok. Waham-waham
tersebut (baik tunggal maupun sebagai suatu sistem
waham) harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya, dan
harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya
setempat.
 Gejala-gejala depresif atau bahkan suatu episode depresif
Tidak Terpenuhi
yang lengkap/ “full-blown” (F32.-) mungkin terjadi
secara intermiten, dengan syarat bahwa waham-waham
tersebut menetap pada saat-saat tidak terdapat gangguan
afektif itu.
 Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit
otak.
 Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadang-
kadang saja ada dan bersifat sementara.
 Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia (waham
dikendalikan, siar pikiran, penumpulan afek, dsb.)

XVI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I : F20.0 Skizofrenia paranoid
Aksis II : None
Aksis III : None
Aksis IV : Masalah Ekonomi
Aksis V : GAF 50-41

XVII. TATALAKSANA
1. Farmakologi
a. Sediaan
Haloperidol 5 mg
Waktu paruh 12-14 jam
b. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja Obat anti-psikosis tipikal adalah memblokade
Dopamine pada reseptor pasca-sinaptik neuron di Otak, khususnya di
sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor
antagonists), sehingga efektif untuk gejala POSITIF.

c. Indikasi
Gejala Sasaran (target syndrome) : SINDROM PSIKOSIS
Butir-butir diagnostik Sindrom Psikosis
- Hendaya berat dalam kemampuan daya menilai realitas (reality
testing ability), bermanifestasi dalam gejala : kesadaran diri
(awareness) yang terganggu, daya nilai norma sosial (judgement)
terganggu, dan daya tilikan diri (insight) terganggu.
- Hendaya berat dalam fungsi-fungsi mental, bermanifestasi dalam
gejala POSITIF : gangguan asosiasi pikiran (inkohherensi), isi
pikiran yang tidak wajar (waham), gangguan persepsi (halusinasi),
gangguan perasaan (tidak sesuai dengan situasi), perilaku yang aneh
atau tidak terkendali (disorganized), dan gejala NEGATIF :
gangguan perasaan (afek tumpul, respon emosi minimal), gangguan
hubungan sosial (menarik diri, pasif, apatis), gangguan proses pikir
(lambat, terhambat), isi pikiran yang stereotip dan tidak ada insiatif,
perilaku yang sangat terbatas dan cenderung menyendiri (abulia).
- Hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi
dalam gejala : tidak mampu bekerja, menjalin hubungan sosial, dan
melakukan kegiatan rutin.
d. Kontra Indikasi
- Penyakit hati (hepato-toksik)
- Penyakit darah (hemato-toksik)
- Epilepsi (menurunkan ambang kejang)
- Kelainan jantung (menghambat irama jantung)
- Febris yang tinggal (thermoregulator di SSP)
- Ketergantungan alkohol (penekanan SSP meningkat)
- Penyakit SSP (parkinson, tumor otak, dll)
- Gangguan kesadaran disebabkan “CNS-depressant” (kesadaran
makin memburuk)
e. Efek Samping
Efek samping obat anti-psikosis dapat berupa :
- Sedasi dan inhibisi psikomotor (rasa mengantuk, kewaspadaan
berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif
menurun).
- Gangguan otonomik (hipotensi, antikolinergik/parasimpatolitik:
mulut kering, kesulitan miksi & defekasi, hidung tersumbat, mata
kabur, tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung).
- Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut, akathisia, sindrom
parkinson : tremor, bradikinesia, rigiditas).
- Gangguan endokrin (amenorrhoe, gynaecomastia), metabolik
(Jaundice), hematologik (agranulocytosis), biasanya pada pemakaian
jangka panjang.
- Efek samping ireversibel berupa tardive dyskinesia (gerakan
berulang involunter pada : lidah, wajah, mulut/rahang, dan anggota
gerak, dimana pada waktu tidur gejala tersebut menghilang).

2. Nonfarmakologi
 Rawat Inap
Pasien perlu dirawat inap dengan tujuan untuk memastikan pasien
mendapatkan pelayanan dan pengobatan yang tepat berupa penyesuaian jenis
obat dan dosis obat, serta mengonsumsi obat secara teratur, rehabilitasi di
bidang kesehatan jiwa, serta tidak mengganggu kehidupan keluarga dan
tetangga saat marah-marah.
 Psikoterapi
- Pengenalan terhadap penyakitnya, manfaat pengobatan, cara pengobatan
dan efek samping pengobatan
- Membantu pasien untuk dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari
secara bertahap
- Membantu pasien untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah
- Memotivasi pasien agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol setelah
pulang dari perawatan
 Edukasi Keluarga
- Menjelaskan tentang penyakit pasien kepada keluarga, perjalanan penyakit
dan prognosisnya
- Menyarankan keluarga pasien agar memberikan suasana/lingkungan yang
kondusif bagi penyembuhan dan pemeliharaan pasien serta memberi
dukungan moral kepada pasien
- Menyarankan kepada keluarga agar lebih berpartisipasi dalam pengobatan
pasien yaitu mengawasi pasien agar teratur minum obat dan membawa
pasien kontrol tepat waktu

 Edukasi Masyarakat
Edukasi diberikan kepada masyarakat khususnya disekitar pasien tinggal,
untuk mensosialisasikan pengertian dan penyebab penyakit jiwa dengan benar.
Diharapkan masyarakat akan mengerti sehingga dapat memperlakukan psaien
sebagaimana manusia yang dihargai dan secara tidak langsung maupun
langsung dapat membantu penyembuhan pasien.

XVIII. PROGNOSIS
a. Premorbid
Riwayat gangguan jiwa pada keluarga : Ada  Buruk
Status pernikahan : Menikah  Baik
Dukungan keluarga : Ada  Baik
Dukungan sosial : Ada  Baik
Status ekonomi : Rendah  Buruk
Stressor : Ada  Buruk
Pernikahan : Baik  Baik
b. Morbid
Jenis penyakit : Skizofrenia  Buruk
Onset : 2 bulan  Buruk
Perjalanan penyakit : Kronis  Buruk
Penyakit organik : Tidak ada  Baik

Ad Vitam : dubia ad bonam


Ad Fungsionum : dubia
Ad Sanationam : dubia ad malam
ANALISA KASUS

Seorang pasien Tn. S usia 40 tahun datang ke Puskesmas Mertoyudan I Magelang dengan
keluhan suka bicara sendiri, tertawa tanpa sebab dan pernah mengamuk. Pasien sering
merasa pikirannya dikendalikan oleh makhluk gaib dan selalu curiga bahwa orang lain
akan mengambil hartanya. Pasien mengaku bahwa Ia dikejar oleh laki-laki berbadan besar
yang akan menyakitinya.

Berdasarkan klasifikasi dan kriteria dari PPDGJ III, diagnosa Axis I adalah F20.0
Skizofrenia Paranoid

KRITERIAN UTAMA SKIZOFRENA

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a. – Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda, atau
– Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu
dari luar dirinya (Withdrawal) dan
– Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umumnyamengetahuinya.

b. – Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan


tertentu dari luar atau
– Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatantertentu dari luar atau
– Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke
pergerakan tubuh/anggota gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan
khusus).
– Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna
sangat khas bagi dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.

c. Halusional Auditorik ;
– Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku
pasien .
– Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang
berbicara atau
– Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap


tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan agama atau
politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya
mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau
dunia lain)

Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang
menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-
bulan terus menerus.

f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation)
yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.

g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh


tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.

h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional
yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari
pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal
tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.
* adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu
satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);
* Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior),
bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,
sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan penarikan diri secara
sosial.
Gejala Skizofrena Paranoid Gejala yang terdapat pada pasien

 Memenuhi kriteria umum diagnosis 


skizofrenia 

 Sebagai tambahan :

* Halusinasi dan/ waham arus menonjol; 
(a) Suara-suara halusinasi yang 
mengancam pasien atau memberi 
perintah, atau halusinasi auditorik

tanpa bentuk verbal berupa bunyi
pluit (whistling), mendengung 
(humming), atau bunyi tawa 
(laughing). 
(b) Halusinasi pembauan atau

pengecapan rasa, atau bersifat
seksual , atau lain-lain perasaan 
tubuh, halusinasi visual mungkin
ada tetapi jarang menonjol.
(c) Waham dapat berupa hampir setiap 
jenis, tetapi waham dikendalikan 
(delusion of control), dipengaruhi 
(delusion of influence) atau
passivity (delussion of passivity), 
dan keyakinan dikejar-kejar yang 
beraneka ragam, adalah yang paling

khas;
· Gangguan afektif, dorongan kehendak 
dan pembicaraan, serta gejala 
katatonik secara relatif tidak nyata /
tidak menonjol.

Onset: 2 bulan

Pada pasien ini kami mendiagnosa dengan Skizofrenia Paranoid karena memenuhi kriteria
sebagai berkit:
- onset satu bulan atau lebih
- Suara-suara halusinasi auditorik yang mengancam pasien atau memberi
perintah, dan halusinasi visual.
- Terdapat waham bizarre, waham kejar dan waham curiga.
AXIS II:
Tidak ada diagnosis

AXIS III:
Tidak ada diagnosis

AXIS IV:
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari keluarga pasien, kami menduga ada beberapa
hal yang menjadi stressor psikososial pasien. Pasien harus menjual usaha tambal ban yang
merupakan sumber utama perekonomian keluarga untuk membayar hutang, disamping itu
pasien harus membayar uang sekolah anaknya. Pasien juga merupakan pribadi yang
pendiam dan jarang terbuka kepada keluarganya.

AXIS V:
GAF 50-41, Gejala berat (terdapat waham bizzare, waham kejar, dan waham curiga),
disabilitas berat (jarang mandi, nafsu makan berkurang, susah memulai tidur).

Tatalaksana Farmakoterapi 3,4


Tab Haloperidol 5 mg
 Haloperidol merupakan obat anti-psikosis jenis tipikal. Mekanisme kerja Obat anti-
psikosis tipikal adalah memblokade Dopamine pada reseptor pasca-sinaptik neuron
di Otak, khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2
receptor antagonists), sehingga efektif untuk gejala POSITIF.
 Haloperidol merupakan antagonis reseptor D2 paling kuat dan haloperidol
memiliki efek sedasi yang ringan cocok untuk diberikan pada pasien ini (dilihat
dari gejala) tetapi mempunyai efek terhadap ekstraperimidal namun tidak menutup
kemungkinan juga EPS tidak muncul pada penggunaan Haloperidol, jika EPS
muncul hal itu dapat diatasi dengan THP.
 Pemilihan dosis yang diberikan ialah initial dose yaitu 5 mg dan diberikan 2 kali
sehari. Dosis dan frekuensi pemberian tersebut didasari dengan waktu paruh
Haloperidol ialah 12-14 jam dan dosis maksimal adalah 40 mg sehari. Diberikan
initial dose karena merupakan dosis permulaan dimana pasien baru memulai terapi
sehingga dapat mencapai konsentrasi terapeutik dalam tubuh yang menghasilkan
efek klinis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, Rusdi. 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Bagian Ilmu Kedokteran
Jiwa FK Unika Atma Jaya. Jakarta
2. Maslim, Rusdi. 2013. Buku Saku DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA. Jakarta: PT Nuh
Jaya.
3. Khaira, N.R., A. Nugroho., A. Saputra. 2015. Drug Related Problems Anti Psikotik
pada Pasien Skizofrenia Paranoid Akut di Rs Jiwa X Jakarta. Farmasains. 2: 275-280.
4. Hariyani., F. Yuliastuti., T. M. Kusuma, 2016. Pola Pengobatan Pasien Schizoprenia
Program Rujuk Balik Di Puskesmas Mungkid Periode Januari-Juni 2014.
Pharmaciana. 6: 63-70.