Anda di halaman 1dari 47

Validasi dan Verifikasi

Metode Pengujian
Disampaikan di Balai Diklat Penguji Mutu Barang
27 Juni 2018

Sujarwo
Pusat Penelitian Kimia
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
sujarwo@lipi.go.id
Pengantar ISO/IEC 17025:2017

1. Ruang Lingkup
2. Referensi Normatif
3. Istilah dan Definisi
4. Persyaratan Umum
5. Persyaratan Struktural
6. Persyaratan Sumber Daya
7. Persyaratan Proses
7.1 Review permintaan, tender dan kontrak
7.2 Seleksi, verifikasi dan validasi metode
7.3 Sampling
7.4 Penanganan item uji atau kalibrasi
7.5 Rekaman teknis
7.6 Evaluasi ketidakpastian pengukuran
7.7 Penjaminan keabsahan hasil
7.8 Pelaporan hasil
8. Persyaratan Sistem Manajemen
Pengantar ISO/IEC 17025:2017

7.2 Seleksi, verifikasi dan validasi metode


7.2.1 Pemilihan dan verifikasi metode
7.2.1.1 Laboratorium harus menggunakan metode dan prosedur yang sesuai untuk semua
aktivitas laboratorium dan, jika sesuai, untuk evaluasi ketidakpastian pengukuran serta
teknik statistik untuk analisis data.
7.2.1.2 Semua metode, prosedur dan dokumentasi pendukung, seperti instruksi, standar,
manual dan data referensi yang relevan dengan kegiatan laboratorium, harus selalu
diperbaharui dan harus tersedia bagi personil
7.2.1.3 Laboratorium harus memastikan menggunakan metode versi terbaru yang valid
kecuali jika tidak sesuai atau tidak mungkin untuk melakukannya. Bila diperlukan,
penerapan metode ini harus dilengkapi dengan rincian tambahan untuk memastikan
penerapan yang konsisten.
7.2.1.4 Bila pelanggan tidak menentukan metode yang akan digunakan, laboratorium harus
memilih metode yang tepat dan memberi tahu pelanggan tentang metode yang
dipilih. Metode yang diterbitkan baik dalam standar internasional, regional atau
nasional, atau oleh organisasi teknis yang memiliki reputasi baik, atau teks ilmiah atau
jurnal yang relevan, atau seperti yang ditentukan oleh produsen peralatan, hal-hal
tersebut direkomendasikan. Metode yang dikembangkan atau dimodifikasi
laboratorium juga dapat digunakan.
Pengantar ISO/IEC 17025:2017

7.2 Seleksi, verifikasi dan validasi metode


7.2.1 Pemilihan dan verifikasi metode
7.2.1.5 Laboratorium harus memverifikasi bahwa laboratorium dapat menerapkan
metode dengan benar sebelum mengaplikasikannya dengan memastikan
bahwa metode dapat mencapai kinerja yang diinginkan. Rekaman verifikasi
harus disimpan. Jika metode direvisi oleh badan penerbit, verifikasi harus
diulang sejauh diperlukan.
7.2.1.6 Bila diperlukan pengembangan metode, hal ini harus merupakan kegiatan
yang direncanakan dan harus diberikan kepada personil yang kompeten yang
dilengkapi dengan sumber daya yang memadai. Sebagai hasil pengembangan
metode, peninjauan berkala dilakukan untuk memastikan bahwa kebutuhan
pelanggan masih terpenuhi. Setiap modifikasi rencana pengembangan harus
disetujui dan diotorisasi.
7.2.1.7 Penyimpangan dari metode untuk semua aktivitas laboratorium hanya akan
diijinkan jika penyimpangan telah didokumentasikan, dibenarkan secara
teknis, disahkan, dan diterima oleh pelanggan.
Pengantar ISO/IEC 17025:2017

7.2 Seleksi, verifikasi dan validasi metode


7.2.2 Validasi metode
7.2.2.1 Laboratorium harus memvalidasi metode tidak baku, metode yang
dikembangkan oleh laboratorium dan metode baku yang digunakan di luar
lingkup yang dimaksudkan atau dimodifikasi. Validasi harus seluas yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan aplikasi atau bidang aplikasi yang
diberikan.
• CATATAN 1 Validasi dapat mencakup prosedur pengambilan contoh, penanganan dan
pengangkutan barang uji atau kalibrasi.
• CATATAN 2 Teknik yang digunakan untuk validasi metode dapat berupa salah satu dari, atau
kombinasi berikut ini: a) kalibrasi atau evaluasi bias dan presisi menggunakan standar acuan atau
bahan acuan;
b) penilaian sistematis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi hasil;
c) pengujian ketahanan metode melalui variasi parameter yang dikontrol, seperti suhu
inkubator, volume dikeluarkan;
d) perbandingan hasil yang dicapai dengan metode lain yang sudah divalidasi;
e) perbandingan antar laboratorium;
Pengantar ISO/IEC 17025:2017

7.2 Seleksi, verifikasi dan validasi metode


7.2.2 Validasi metode
7.2.2.2 Bila perubahan dilakukan terhadap metode yang divalidasi, pengaruh perubahan
tersebut harus ditentukan dan bila terbukti mempengaruhi validasi asli, diperlukan
validasi metode baru.
7.2.2.3 Karakteristik kinerja metode yang divalidasi, sebagaimana dinilai untuk
penggunaan yang dimaksud, harus relevan dengan kebutuhan pelanggan dan
konsisten dengan persyaratan yang ditentukan.
CATATAN Karakteristik kinerja dapat mencakup, namun tidak terbatas pada, rentang pengukuran,
akurasi, ketidakpastian pengukuran hasil, batas deteksi, batas kuantifikasi, selektifitas metode,
linieritas, pengulangan atau reproduksibilitas, ketahanan terhadap pengaruh eksternal atau sensitifitas
silang terhadap gangguan dari matriks sampel atau benda uji, dan bias.
7.2.2.4 Laboratorium harus menyimpan rekaman validasi berikut ini:
a) prosedur validasi yang digunakan;
b) spesifikasi persyaratan;
c) penentuan karakteristik kinerja metode;
d) hasil yang diperoleh;
e) pernyataan tentang keabsahan metode, yang merinci kesesuaiannya untuk
tujuan penggunaan.
Validasi Metode

Method validation is basically the process of defining an analytical requirement, and


confirming that the method under consideration has capabilities consistent with
what the application requires. (EURACHEM Guide MV 2014)

Keabsahan Hasil Pengujian Pengembangan Metode Kepercayaan (Internal dan Eksternal)


Validasi Metode

Verifikasi Metode
1. Pada awal metode baku akan digunakan (fit for purpose);
2. Metode baku yang direvisi oleh badan penerbit.
(ISO/IEC 17025:2017 klausul 7.2.1.5)

Validasi Metode
1. Metode tidak baku;
2. Metode yang dikembangkan oleh laboratorium;
3. Metode baku yang digunakan di luar lingkup yang
dimaksudkan atau dimodifikasi.
(ISO/IEC 17025:2017 klausul 7.2.2.1)
Validasi Metode

Karakteristik Kunci Validasi Verifikasi


1. Konfirmasi identitas √
2. Selektivitas √
3. Limit Deteksi (LOD) √ √

4. Limit Kuantifikasi (LOQ) √ √

5. Rentang Linieritas √ √

6. Sensitivitas √ √

7. Presisi √ √

8. Trueness (Bias, Akurasi, Recovery) √ √


9. Robustness/Ruggedness √
10. Measurement Uncertainty √ √
Validasi Metode

1. Konfirmasi Identitas

Konfirmasi identitas dalam validasi adalah suatu proses analitis di mana


pengukuran dilakukan oleh lebih dari satu teknik, untuk memastikan
kehadiran dari suatu analit.

CITAC/Eurachem Guide to Quality in Analytical Chemistry: An Aid to


Accreditation (2002)
Validasi Metode

2. Selektivitas
Selectivity of a method is the accuracy of its measurements in
the presence of interferences.
(NATA Technical Note 17-2006)

Analytical selectivity relates to “the extent to which the method can be


used to determine particular analytes in mixtures or matrices without
interferences from other components of similar behaviour”
(IUPAC Recommendation 2001)
Validasi Metode

2. Selektivitas
Analit Pengganggu
Ca Al, Si
Cd Ca, Si, Ti
Cr Fe, Ni
Cu Al, Si, Ti
Fe Si, Ti
Mg Al, Si
Mn Si
Mo Fe, Mn, Ni, Cr
Ni Ti
Pb Fe, Ti
Sr Al, Si
Zn Al, Ca, Fe, Si
Validasi Metode

2. Selektivitas
Validasi Metode

3. Limit Deteksi (LOD)


Limit of Detection (LoD) of a method is the smallest amount or
concentration of an analyte that can be reliably distinguished
from zero with a specified level of confidence.

NATA Technical Note 17 (2006)


Validasi Metode
3. Limit Deteksi (LOD)

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode
3. Limit Deteksi (LOD)

m = jumlah pengukuran sampel


n = jumlah pengulangan pengukuran
nb = jumlah pengulangan pengukuran
blanko

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode
3. Limit Deteksi (LOD)

m = jumlah pengukuran sampel


n = jumlah pengulangan pengukuran
nb = jumlah pengulangan pengukuran
blanko

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

4. Limit Kuantifikasi (LOQ)


The LOQ is the lowest level of analyte that can be determined
with acceptable performance.

(‘Acceptable performance’ is variously considered by different


guidelines to include precision, precision and trueness, or
measurement uncertainty)

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

4. Limit Kuantifikasi (LOQ)


Validasi Metode

4. Limit Kuantifikasi (LOQ)

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

Pengukuran Absorban Absorban


ke-
Blanko 0.0029 0.0028
1 0.0130 0.0129
Jika regresi linier Ax = 0.1564.Cs + 0.0006
2 0.0128 0.0130
3 0.0127 0.0128 1. Hitung LoD
4 0.0128 0.0131 2. Hitung LoQ

5 0.0132 0.0129
6 0.0129 0.0131
7 0.0127 0.0128
8 0.0131 0.0126
9 0.0128 0.0133
10 0.0133 0.0131
Validasi Metode

5. Rentang Linieritas
The ‘working range’ is the interval over which the method provides
results with an acceptable uncertainty.

The lower end of the working range is bounded by the limit of


quantification (LOQ). The upper end of the working range is defined by
concentrations at which significant anomalies in the analytical
sensitivity are observed.

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

5. Rentang Linieritas
Validasi Metode

6. Sensitivitas
Analytical sensitivity is the change in instrument response which
corresponds to a change in the measured quantity (for example
an analyte concentration), i.e. the gradient of the response
curve. B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014

Catatan:
• Analit yang berbeda, kepekaannya juga berbeda
• Semakin besar sensitifitas instrumen (semakin besar slope)
maka semakin baik kinerja instrumen untuk menentukan
perubahan sekecil apapun dari konsetransi analit
Validasi Metode

6. Sensitivitas
Perhitungan Sensitifitas, ada 2 versi
A. Kepekaan alat: C1
S  0,0044
A1
(Konsentrasi analit yang memberikan A=0,0044 atau %T=1,0)
diterima bila: S ≤ 1,25 x dari spesifikasi pabrik
(S makin besar maka alat makin kurang sensitif)

B. Kepekaan slope kurva kalibrasi


Persamaan kurva kalibrasi : A1 = aC1 + b
Kepekaan: a=A1-b/C1
Bila kurva kalibrasi lewat titik nol, b = 0, maka kepekaan S= A1/C1 atau
respon alat per unit konsentrasi.
Validasi Metode
6. Sensitivitas

Gb. 1
A
Pada Gambar 1, C1 memberikan respon sebesar
A1 sehingga kepekaan dapat dihitung
A1 Tangen β = A1/C1

Pada Gambar 2, dengan konsentrasi yang sama


β C1 alat memberikan respon A2 dimana A2 < A1
C1 C sehingga kepekaan dapat dihitung
Gb. 2 A Tangen ε = A2/C1
Kepekaan 1 lebih besar daripada kepekaan 2.
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi alat pada
keadaan 2 kinerjanya sudah menurun.
A2

ε
C1 C
Validasi Metode

7. Presisi
• Precision (measurement precision) is a measure of how close results are to one
another.
• Precision is usually expressed by statistical parameters which describe the
spread of results, typically the standard deviation (or relative standard
deviation), calculated from results obtained by carrying out replicate
measurements on a suitable material under specified conditions.
• Repeatability, expected to give the smallest variation in results, is a measure of
the variability in results when a measurement is performed by a single analyst
using the same equipment over a short timescale.*
• Reproducibility, expected to give the largest variation in results, is a measure of
the variability in results between laboratories.

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode
7. Presisi
B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014
Validasi Metode

7. Presisi

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

7. Presisi

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

7. Presisi
• Limit Presisi:

2 = merefleksikan perbedaan dua pengukuran


t = nilai t-student (pada derajat kebebasan tertentu)
sr = standar deviasi repitibilitas
• Umumnya, pada tingkat kepercayaan 95%, t =2 sehingga

• Pengujian dikatakan presisi jika SD < r


B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014
Validasi Metode

7. Presisi
Validasi Metode

7. Presisi

SDHorwitz = CVHorwitz(%) x Assigned value

• Pengujian dikatakan presisi jika

RSD(%) < 0.3 CVHorwitz (%)


Validasi Metode

7. Presisi
Nomor Kadar Protein (%)
Pengujian ke-1 ke-2
1 5.23 5.31
2 5.41 5.38 Apakah pengujian tersebut
presisi?
3 5.33 5.28
4 5.29 5.32
5 5.31 5.29
6 5.26 5.34
7 5.36 5.28
8 5.28 5.31
9 5.35 5.29
10 5.37 5.33
Validasi Metode

7. Presisi
Nomor Kadar pH
Pengujian ke-1 ke-2
1 5.23 5.31
2 5.41 5.38 Apakah pengujian tersebut
presisi?
3 5.33 5.28
4 5.29 5.32
5 5.31 5.29
6 5.26 5.34
7 5.36 5.28
8 5.28 5.31
9 5.35 5.29
10 5.37 5.33
Validasi Metode

8. Akurasi
• Akurasi merupakan pernyataan yang menunjukkan kedekatan
antara nilai yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan nilai benar
(true value) JCGM 200:2008 (VIM)
• Untuk menguji akurasi dilakukan dengan mengukur suatu material
yang telah diketahui nilainya (certified reference materials)

Precision Accuracy Accuracy &


(Trueness) Precision
Validasi Metode

8. Akurasi

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

8. Akurasi

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

8. Akurasi

B. Magnusson et al., Eurachem Guide, 2nd Ed. 2014


Validasi Metode

8. Akurasi
Evaluasi Penggunaan CRM
(ISO Guide 33: 2015) “Reference Materials - Good practice in using reference materials”

-2  X -   2 pada tingkat kepercayaan 95% (k  2)


-3  X -   3 pada tingkat kepercayaan 99,6% (k  3)

SW2
 S  2
b
n

•  = nilai presisi pengukuran CRM


• X = rata-rata nilai pengukuran CRM • µ = nilai dalam sertifikat CRM
• Sw = standard deviasi within
• n = jumlah pengukuran CRM
• uCRM = nilai ketidakpastian baku CRM
Validasi Metode

8. Akurasi
Evaluasi Penggunaan CRM

Uji-t (t-Test)
Membandingkan suatu rata-rata sampel dengan nilai acuan (reference value)
__
(x - ) n
t  • X = rata-rata nilai pengukuran CRM
s __ • µ = nilai dalam sertifikat CRM
t  ttable H0 x   • s = standard deviasi
• n = jumlah pengukuran CRM
__
t  ttable H1 x  
Validasi Metode
Validasi Metode

8. Akurasi
No. Result
Measurement (mg/L)
1 1.26 Bias
2 1.28
3 1.17
4 1.20 value
5 1.22 Mean laboratory Value from
RM value (certificate)
6 1.14
1.215 mg/L 1.25±0.03 mg/L
7 1.16
8 1.23
9 1.20
10 1.29
Mean value 1.215
Validasi Metode

9. Robustness/Ruggedness
Robustness of an analytical procedure is a measure of its capacity to remain unaffected
by small, but deliberate variations in method parameters and provides an indication
of its reliability during normal usage.

Ruggedness testing is an intra-laboratory study to study the behaviour of an analytical


process, when small changes are made in the environmental and/or operating conditions
are made, akin to those likely to arise in different test environments.

It allows information to be obtained on effects of minor changes in a quick and


systematic manner

Eurachem Guide Fitness for Purpose of Analytical Methods – Glossary A25.2


Validasi Metode
9. Robustness/Ruggedness

Factor A B C D E F G
Determination of quinolones
Method (-) Null
Altered (+) Null Factors
A: Rotation time
Sample
B: Turbovap temperature
1 + - - + - + +
C: Volume after evaporation
2 + + - - + - +
D: Vortexing after evaporation
3 + + + - - + -
E: SPE cartridge recycling
4 - + + + - - +
F: Concentration of aqueous
5 + - + + + - - NaOH
6 - + - + + + - G: Null
7 - - + - + + +
8 - - - - - - -
Validasi Metode

10. Estimasi Ketidakpastian

Presisi

Estimasi Ketidakpastian

Linierity
Daftar Referensi

- B. Magnusson and U. Ornemark (eds.) Eurachem Guide: The Fitness for


Purpose of Analytical Methods – A Laboratory Guide to Method Validation
and Related Topics, (2nd ed. 2014). ISBN 978-91-87461-59-0.
Available on www.eurachem.org.
- ISO Guide 33 : 2015
- ISO/IEC 17025 :2017
- Anaytical Method Validation-Training Course, National Measurement Institute, Australia
- General Accreditation Guidance - Validation and verification of quantitative and
qualitative test methods, Published by NATA January 2018,
© Copyright National Association of Testing Authorities, Australia 2004