Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

A. PENGERTIAN
Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk dan ditandai dengan
demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker, 2001). Demam dengue/dengue
fever adalah penyakit yang terutama pada anak, remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda
klinis demam, nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash) dan
limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa
menyecap yang terganggu, trombositopenia ringan, dan bintik-bintik perdarahan (ptekie) spontan
(Noer, dkk, 1999).
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus)
yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001).
B. Etiologi
Penyakit Demam Berdarah (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh
virus , menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan sistem pembekuan darah
sehingga mengakibatkan perdarahan, dapat menimbulkan kematian , penyebab penyakit adalah
virus yang menggangu pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga
mengakibatkan perdarahan- perdarahan.
Secondary heterologous dengue infection

Replikasi virus Anamnestic antibody respons

Kompleks virus-antibodi

Aktifasi komplemen
Komplemen menurun
Anafilatoksin (C3a, C5a)
Histamin dalam urin
Permeabilitas kapiler meningkat
Ht meningkat
30% kasus Perembesan plasma Natrium turun
syok
Cairan dalam
Hipovolemia rongga serosa
Anoksia Syok Asidosis

Meninggal
C.

D. Cara Penularan
Penyakit Demam Berdarah ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang mengandung virus
Dengue. Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti:
1. Berwarna hitam dan belang- belang ( loreng) putih pada seluruh tubuh
2. Berkembangbiak di tempat penampungan air ( TPA) dan barang-barang yang memungkinkan
air tergenang seperti: bak mandi, tempayan, drum, vas bunga, ban bekas, dll.
3. Nyamuk aedes Aegypti tidak dapat berkembang biak di selokan /got atau kolam yang airnya
langsung berhubungan dengan tanah
4. Biasanya menggigit manusia pada pagi atau sore hari
5. Mampu terbang sampai 100 meter
E. Pengobatan
Pengobatan terhadap penyakit ini terutama ditujukan untuk mengatasi perdarahan,
mencegah/mengatasi keadaan syok/presyok dengan mengusahakan agar penderita banyak
minum, bila perlu dilakukan pemberian cairan melalui infus. Demam diusahakan diturunkan
dengan kompres dingin atau antipiretika.
F. Sistem Kewaspadaan Dini
Laporan penderita penyakit dari rumah sakit dikirim ke Puskesmas di wilayah penderita untuk
dilakukan penyelidikan epidemiologi. Bila PE positif maka hal yang dilakukan adalah:
1. Foging dilaksanakan pada kasus-kasus dengan PE positif, 2 penderita positif atau lebih,
ditemukan 3 penderita demam dalam radius 100 m dari tempat tinggal penderita DBD
Positif atau ada 1 penderita DBD meninggal
2. Daerah KLB/ wabah DBD

Tabel 1. Manifestasi klinis infeksi virus dengue

Spektrum
Manifestasi Klinis
Klinis
• Demam akut selama 2-7 hari, disertai dua atau lebih manifestasi berikut: nyeri kepala,
nyeri retroorbita, mialgia, manifestasi perdarahan, dan leukopenia.
DD
• Dapat disertai trombositopenia.
• Hari ke-3-5 ==> fase pemulihan (saat suhu turun), klinis membaik.
• Demam tinggi mendadak selama 2-7 hari disertai nyeri kepala, nyeri retroorbita, mialgia
dan nyeri perut.
• Uji torniquet positif.
• Ruam kulit : petekiae, ekimosis, purpura.
• Perdarahan mukosa/saluran cerna/saluran kemih : epistaksis, perdarahan gusi,
hematemesis, melena, hematuri.
DBD
• Hepatomegali.
• Perembesan plasma: efusi pleura, efusi perikard, atau perembesan ke rongga peritoneal.
• Trombositopenia.
• Hemokonsentrasi.
• Hari ke 3-5 ==> fase kritis (saat suhu turun), perjalanan penyakit dapat berkembang
menjadi syok
• Manifestasi klinis seperti DBD, disertai kegagalan sirkulasi (syok).
• Gejala syok :
 Anak gelisah, hingga terjadi penurunan kesadaran, sianosis.
SSD  Nafas cepat, nadi teraba lembut hingga tidak teraba.
 Tekanan darah turun, tekanan nadi < 10 mmHg.
 Akral dingin, capillary refill turun.
 Diuresis turun, hingga anuria.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah :
 Pemeriksaan darah perifer: Hb, leukosit dan hitung jenis, hematokrit, dan trombosit.
 Pada DBD berat/SSD : monitor hematokrit tiap 4-6 jam, trombosit, AGD, kadar
elektrolit, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT, protein serum, PT dan APTT.
DIAGNOSIS
 Diagnosis DD ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai
tabel 1, dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda perembesan plasma (hemokonsentrasi,
hipovolemia, dan syok).
 Sedangkan diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis WHO sebagai
berikut:
1. Kriteria klinis
 Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus
selama 2-7 hari.
 Terdapat manifestasi perdarahan : uji torniquet positif, petekiae, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan atau melena.
 Hepatomegali.
 Syok
2. Kriteri laboratoris
 Trombositopenia (trombosit =100.000 mm3)
 Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit =20% menurut standar umur
dan jenis kelamin)
Diagnosis DBD dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria : 2 kriteria klinis pertama +
trombositopenia dan hemokonsentrasi.
 Pada DBD harus dinilai derajat penyakit, karena membutuhkan penatalaksanaan yang
berbeda.

Tabel 2. Derajat penyakit DBD

Derajat Penyakit Kriteria


Demam disertai gejala tidak khas, dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji
DBD derajat I
torniquet positif.
DBD derajat II Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain.
Terdapat kegagalan sirkulasi (nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun ( < 20
DBD derajat III mmHg) atau hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak
tampak gelisah.
Syok berat (profound shock): nadi tidak dapat diraba, dan tekanan darah tidak dapat
DBD derajat IV
diukur.
KOMPLIKASI DBD
Pada DD tidak terdapat komplikasi berat namun anak dapat mengeluh lemah/lelah (fatigue) saat
fase pemulihan. Komplikasi berat dapat terjadi pada DBD yaitu ensefalopati dengue, gagal ginjal
akut, atau udem paru akut.
PENATALAKSANAAN
1. Demam Dengue
Medikamentosa:
 Antipiretik (apabila diperlukan) : paracetamol 10 – 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari. Tidak
dianjurkan pemberian asam asetilsalisilat/ibuprofen pada anak yang dicurigai DD/DBD.
Edukasi orang tua:
 Anjurkan anak tirah baring selama masih demam.
 Bila perlu, anjurkan kompres air hangat.
 Perbanyak asupan cairan per oral: air putih, ASI, cairan elektrolit, jus buah, atau sup.
Tidak ada larangan konsumsi makanan tertentu.
 Monitor keadaan dan suhu anak dirumah, terutama selama 2 hari saat suhu turun. Pada
fase demam, kita sulit membedakan antara DD dan DBD, sehingga orang tua perlu
waspada.
 Segera bawa anak ke rumah sakit bila : anak gelisah, lemas, muntah terus menerus, tidak
sadar, tangan/kaki teraba dingin, atau timbul perdarahan.
2. Demam Berdarah Dengue
Fase demam
 Prinsip tatalaksana DBD fase demam sama dengan tatalaksana DD.
 Antipiretik: paracetamol 10 – 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari.
 Perbanyak asupan cairan oral.
 Monitor keadaan anak (tanda-tanda syok) terutama selama 2 hari saat suhu turun.
Monitor trombosit dan hematokrit secara berkala.
Penggantian volume plasma
 Anak cenderung menjadi dehidrasi. Penggantian cairan sesuai status dehidrasi pasien
dilanjutkan dengan terapi cairan rumatan.
 Jenis cairan adalah kristaloid : RL, 5% glukosa dalam RL, atau NaCl.
Tabel 3. Kebutuhan cairan pada rehidrasi ringan-sedang

Jumlah Cairan
Berat Badan (Kg)
(ml/kg BB/hari)
<7 220
7 – 11 165
12 – 18 132
>18 88
Tabel 4. Kebutuhan cairan rumatan

Berat Badan (Kg) Jumlah cairan (ml)


10 100 per kg BB
10 – 20 1000 + 50 x kg BB (untuk BB di atas 10 kg)
>20 1500 + 20 x kg BB (untuk BB di atas 20 kg)
Tabel 5. Kriteria rawat inap dan memulangkan pasien

Kriteria rawat inap Kriteria memulangkan pasien


Ada kedaruratan:
• Syok Tidak demam selama 24 jam tanpa
• Muntah terus menerus antipiretik
• Kejang Nafsu makan membaik
• Kesadaran turun Secara klinis tampak perbaikan
• Muntah darah Hematokrit stabil
• Berak hitam Tiga hari setelah syok teratasi
Hematokrit cenderung meningkat setelah 2 kali Trombosit > 50.000/uL
pemeriksaan berturut-turut Tidak dijumpai distres pernafasan
Hemokonsentrasi (Ht meningkat = 20%)
Algoritma 1. Diagnosis Demam Dengue dan DBD
Algoritma 2. Tatalaksana DBD Derajat II

Algoritma 3. Tatalaksana DBD Derajat III/IV atau SSD


C. PATOFISIOLOGI
Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan kemudian
bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus-antibody, dalam asirkulasi akan
mengaktivasi sistem komplemen (Suriadi & Yuliani, 2001).
Virus dengue masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama kali
menyebabkan demam dengue. Reaksi tubuh merupakan reaksi yang biasa terlihat pada infeksi
oleh virus. Reaksi yang amat berbeda akan tampak, bila seseorang mendapat infeksi berulang
dengan tipe virus dengue yang berlainan. Dan DHF dapat terjadi bila seseorang setelah terinfeksi
pertama kali, mendapat infeksi berulang virus dengue lainnya. Re-infeksi ini akan menyebabkan
suatu reaksi anamnestik antibodi, sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks antigen-antibodi
(kompleks virus-antibodi) yang tinggi (Noer, dkk, 1999).

F. PATHWAY DEMAM BERDARAH DHF

H. PENCEGAHAN
Prinsip yang tepat dalam pencegahan DHF ialah sebagai berikut :
a. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan
pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF.
b. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat
rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan.
c. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah sakit
termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
d. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi.
Ada 2 macam pemberantasan vektor antara lain :
a. Menggunakan insektisida. Yang lazim digunakan dalam program pemberantasan demam
berdarah dengue adalah malathion untuk membunuh nyamuk dewasa dan temephos (abate)
untuk membunuh jentik (larvasida). Cara penggunaan malathion ialah dengan pengasapan atau
pengabutan. Cara penggunaan temephos (abate) ialah dengan pasir abate ke dalam sarang-sarang
nyamuk aedes yaitu bejana tempat penampungan air bersih, dosis yang digunakan ialah 1 ppm
atau 1 gram abate SG 1 % per 10 liter air.
b. Tanpa insektisida Caranya adalah :
1. Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu
(perkembangan telur nyamuk lamanya 7–10 hari).
2. Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.
3. Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang
memungkinkan nyamuk bersarang.

KESIMPULAN
Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk dan ditandai dengan
demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker, 2001).
Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue (arbovirus)
yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Suriadi & Yuliani, 2001).
Pesan Dan Saran
1. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan
melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DHF.
2. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat
rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremia sembuh secara spontan.
3. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran yaitu di sekolah, rumah
sakit termasuk pula daerah penyangga sekitarnya.
4. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan
5. Prinsip 3 M
· Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal 1 x seminggu
(perkembangan telur nyamuk lamanya 7 – 10 hari).
· Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.
· Membersihkan halaman rumah dari kaleng bekas, botol pecah dan benda lain yang
memungkinkan nyamuk bersarang.
. Diperlukan tindakan yang bersifat preventif melalui pemakaian kasa dan menghindari
kebiasaan mengantung pakaian yang biasanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan nyamuk.

1. Identitas
 DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja
dan dewasa (Effendy, 1995).
2. Keluhan Utama
 Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan
menurun.
3. Riwayat penyakit sekarang
 Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh,
sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
4. Riwayat penyakit terdahulu
 Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
5. Riwayat penyakit keluarga
 Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan,
karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides
aigepty.
6. Riwayat Kesehatan Lingkungan
 Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban
bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang
dibersihkan.
7. Riwayat Tumbuh Kembang
Pengkajian Per Sistem

1. Sistem Pernapasan
 Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada
simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.
2. Sistem Persyarafan
 Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat
trjadi DSS
3. Sistem Cardiovaskuler
 Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada
grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar
mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat
diukur.
4. Sistem Pencernaan
 Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa,
pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat
menelan, dapat hematemesis, melena.
5. Sistem perkemihan
 Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat
kencing, kencing berwarna merah.
6. Sistem Integumen.
 Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji
tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
2. Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.
3. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya
cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
4. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang
menurun.
5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah
(trombositopeni).
6. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi anak.
7. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan perawatan
anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat informasi.
Intervensi Keperawatan

1. DP 1 : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue

Tujuan :
 Suhu tubuh normal
Kriteria :
 Suhu tubuh antara 36 – 37
 Nyeri otot hilang
Intervensi :
 Kaji suhu tubuh pasien. Rasional : mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan
intervensi
 Beri kompres air hangat. Rasional : mengurangi panas dengan pemindahan panas secara
konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa menyebabkan
hipotermi atau menggigil.
 Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi).
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
 Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat.
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat
dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
 Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau
sesuai indikasi. Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui
keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan umum pasien.
 Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program. Rasional :
Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat
khususnya untuk menurunkan panas tubuh pasien.
2. DP 2 : Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.

Tujuan :
 Tidak terjadi defisit voume cairan
Kriteria :
 Input dan output seimbang
 Vital sign dalam batas normal
 Tidak ada tanda presyok
 Akral hangat
 Capilarry refill < 2 detik
Intervensi :
 Awasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi. Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi
fluktuasi cairan intravaskuler
 Observasi capillary Refill. Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer
 Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ. Rasional : Penurunan
haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.
 Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi ). Rasional : Untuk memenuhi
kebutuhan cairan tubuh peroral
 Kolaborasi : Pemberian cairan intravena. Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan
tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok.
3. DP 3 : Resiko Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya
cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Tujuan :
 Tidak terjadi syok hipovolemik
Hasil yang diharapkan:
• Tanda vital stabil dalam batas normal.
• Kesadaran compos mentis
• Pasien dapat berkomunikasi dengan baik.
• Hematokrit dalam batas normal : 37 – 43 %
Analisis data
Data subyektif : Pasien gelisah , mual, tak nafsu makan, sakit menelan, lemah.
Data obyektif : Perdarahan bawah kulit di lengan dan kaki, epistaxis, perdarahan gusi,
muntah darah.
Laboratorium : Trombositopeni : kurang dari 100.000/m 3
Hematokrit meningkat.

Intervensi :
 Monitor keadaan umum pasien. Rasional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama
perawatan terutama saat terdi perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda
presyok /syok.
 Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih. Rasional : Perawat perlu terus
mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok.
 Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi
perdarahan. Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda
perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera
diberikan.
 Kolaborasi : Pemberian cairan intravena. Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk
mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.
 Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombosit. Rasional : Untuk mengetahui tingkat
kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan
lebih lanjut.
 Monitor intake-output
 Cek Hemoglobin, hematokrit, dan trombosit.
 Observasi perkembangan bintik-bintik merah di kulit, keluhan lemah, keringat dingin,
kulit lembab dan dingin.
 Ukur dan catat perdarahan yang keluar

4. DP 4 : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang
menurun.

Tujuan :
 Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria :
 Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
 Menunjukkan berat badan yang seimbang.
Intervensi :
 Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai. Rasional : Mengidentifikasi
defisiensi, menduga kemungkinan intervensi
 Observasi dan catat masukan makanan pasien. Rasional : Mengawasi masukan
kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan
 Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan). Rasional : Mengawasi penurunan BB /
mengawasi efektifitas intervensi.
 Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan. Rasional :
Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga
mencegah distensi gaster.
 Berikan dan Bantu oral hygiene. Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan
peroral
 Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas. Rasional : Menurunkan
distensi dan iritasi gaster.
5. DP 5 : Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan
darah (trombositopeni)

Tujuan :
 Tidak terjadi perdarahan
Kriteria :
 TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat
 Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat.
Intervensi :
 Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. Rasional :
Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada
tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.
 Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest ). Rasional : Aktifitas pasien yang tidak
terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
 Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda
perdarahan seperti : hematemesis, melena, epistaksis. Rasional : Keterlibatan pasien dan
keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan.
 Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut,
berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah. Rasional : Mencegah terjadinya
perdarahan lebih lanjut.
 Kolaborasi, monitor trombosit setiap hari. Rasional : Dengan trombosit yang dipantau
setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan
perdarahan yang dialami pasien.
6. DP 6 : Kecemasan orangtua berhubungan dengan kondisi anak.

Tujuan :
 Ansietas berkurang/terkontrol.
Kriteria :
 Klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
 Tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.
Intervensi :
 Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien. Rasional : memudahkan intervensi.
 Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.
Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan
mengontrol ansietas.
 Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran
dan perasaan. Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk
mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan.
 Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan
yang positif terhadap terapy yang di jalani. Rasional : alat untuk mengidentifikasi
mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan.
 Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam
keadaan cemas. Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya
mampu mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan
dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.
 Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi. Rasional : menciptakan perasaan
yang tenang dan nyaman.
 Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut
diagnosis, perawatan dan prognosis. Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi
kecemasan.
 Kolaborasi pemberian obat anti ansietas. Rasional : mengurangi ansietas sesuai
kebutuhan.
7. DP 7 : Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan
perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat
informasi.

Tujuan :
 Orang tua mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses
pengobatan.
Kriteria :
 Melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
 Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi :
 Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. Rasional : mengetahui
seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.
 Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyakitnya dan kondisinya
sekarang. Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan
keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.
 Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. Rasional : diet dan
pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.
 Anjurkan keluarga untuk memperhatikan perawatan diri dan lingkungan bagi anggota
keluarga yang sakit. Lakukan/demonstrasikan teknik perawatan diri dan lingkungan
klien. Rasional : perawatan diri (mandi, toileting, berpakaian/berdandan) dan kebersihan
lingkungan penting untuk menciptakan perasaan nyaman/rileks klien sakit.
 Minta klien/keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. Rasional :
mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari
tindakan yang dilakukan.
Evaluasi
1. Suhu tubuh normal
2. Tidak terjadi devisit voume cairan
3. Tidak terjadi syok hipovolemik
4. Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
5. Tidak terjadi perdarahan
6. Ansietas berkurang/terkontrol
7. orang tua memahami tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.
LAPORAN KASUS

Seorang laki-laki berusia 34 tahun dirawat diruang penyakit dalam RSUD Raden Mattaher
dengan keluhan demam naik turun sejak 5 hari yang lalu
RPS : Klien mengeluh demam sejak 5 hari SMRS, demam naik turun tidak menggigil disertai
mual dan muntah sejak 2 hari yang lalu. Klien mengeluh sakit kepala, nyeri ulu hati, nyeri otot
dan sendi, mual, mulut terasa pahit, anoreksia, serta BAB cair 3kali sehari sejak 2 hari SMRS,
BAK tidak ada kaluhan. Terdapat bintik bintik merah di lengan dan tungkai sejak 2 hari yang
lalu, tidak ada perdarahan gusi dan epistaksis
RPD : klien tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya
RPK : keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit seperti ini
RT : klien hanya membeli obat penurun panas di warung untuk keluhannya, tetapi belum ada
perbaikan
RP : klien bekerja sebagai PNS
PEMERIKSAAN FISIK:
Keadaan umum :klien tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Vital sign : TD 110/ 70 mmhg. Frekuensi nadi 80x/i, RR 20x/i, S: 38oC
Antropometri : TB 165 cm BB 54 Kg, IMT 19,8 (N)
PEMERIKSAAN SISTEMATIS
Kepala : rambut hitam, lurus, tidak mudah rontok
Mata :konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), reflex cahaya (+/+), pupil isokor
Hidung : septum deviasi (-), secret (-)
Telinga : normotia, serumen (-/-)
Mulut : bibir pucat (-), bibir kering (+), sianosis (-), lidah kotor (-), stomatitis (-), tonsil
hiperemis (-)
Leher : trakea lurus ditengah, KGB tidak membesar
Dada/thorak :
Inspeksi : dada simetris (+), retraksi dinding dada (-)
Palpasi : fremitus kiri=fremitus kanan
Perkusi : sonor pda kedua lapang paru
auskultasi : vesikuler (+/+), ronchi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung :
Inspeksi : ictus cordis (-)
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : batas Jantung normal
auskultasi : BJ I/II murni, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :
Inspeksi : perut tampak datar, tidak membuncit
auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : supel, nyeri tekan (-), H/L tidak teraba
Palpasi : timpani
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik, edema (-/-)
Pemeriksaan penunjang (lab tanggal 13 JANUARI 2017)
Darah lengkap : Hb 14 gr%, leukosit 10600/mm, eritrosit 5, 09 juta/mm, trombosit 39000/ mm,
hematokrit 42%
Urinalisa : warna; kuning kejernihan: jernih, protein: negative, glukosa: negatif
Diagnosis : DHF
Terapi : IVFD RL 30 tetes/ i
Ranitidine 2x 1 amp
Pct tab 3x 500 mg
IMUNOS 1X1 TAB
Banyak minum
Cek hb, ht, leuko, trombosit/12 jam
Awasi TTV dan tanda-tanda perdarahan
Tanggal 14 januari 2017
S: Demam (-) observasi febris hari ke 6
Mual (-) muntah (-)
Badan pegal-pegal sejak sakit
Tidak ada tanda-tanda perdarahan
BAK dan BAB normal
O: TTV
Keadaan umum: tampak sakit sedang
Kesadaran: kompos mentis
TD 100/ 60 mmhg. Frekuensi nadi 82x/i, RR 20x/i, S: 37,5oC
Pemeriksaan sistemik
Kulit : teraba hangat, tidak pucat, tidak ikterik
Paru : dalam batas normal
Jantung : dalam batas normal
Abdomen : tidak membuncit, hepar dan lien tidak teraba, nyeri epigastrium (+), bising usus
(+) normal
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik
Pemeriksaan penunjang (lab tanggal 14 JANUARI 2017)
Darah lengkap : Hb 13,7 gr%, leukosit 10500/mm, trombosit 44000/ mm, hematokrit 39%
Terapi : IVFD RL 20 tetes/ i
Ranitidine 2x 1 amp
Pct tab 3x 500 mg
IMUNOS 1X1 TAB
Banyak minum
Cek hb, ht, leuko, trombosit/24 jam
Awasi TTV dan tanda-tanda perdarahan
Tanggal 15 januari 2017
S: Demam (-) observasi febris hari ke 7
Mual (+) muntah (+)
Nyeri ulu hati
Badan pegal-pegal sejak sakit
Tidak ada tanda-tanda perdarahan
BAK dan BAB normal
O: TTV
Keadaan umum: tampak sakit sedang
Kesadaran: kompos mentis
TD 100/ 60 mmhg. Frekuensi nadi 84x/i, RR 20x/i, S: 37,4oC
Pemeriksaan sistemik
Kulit : teraba hangat, tidak pucat, tidak ikterik
Paru : dalam batas normal
Jantung : dalam batas normal
Abdomen : tidak membuncit, hepar dan lien tidak teraba, nyeri epigastrium (+), bising usus
(+) normal
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik
Pemeriksaan penunjang (lab tanggal 15 JANUARI 2017)
Darah lengkap : Hb 13,1 gr%, leukosit 6300/mm, trombosit 77000/ mm, hematokrit 37%
Terapi : IVFD RL 20 tetes/ i
Ranitidine 2x 1 amp – stop, diganti omeprazol 1amp/24 jam
Pct tab 3x 500 mg
IMUNOS 1X1 TAB
Banyak minum
Cek hb, ht, leuko, trombosit/24 jam
Awasi TTV dan tanda-tanda perdarahan
Tanggal 16 januari 2017
S: Demam (-) observasi febris hari ke 8
Mual (-) muntah (-)
Nyeri ulu hati (-)
Badan pegal-pegal sejak sakit
Tidak ada tanda-tanda perdarahan
BAK dan BAB normal
O: TTV
Keadaan umum: tampak sakit sedang
Kesadaran: kompos mentis
TD 120/ 80 mmhg. Frekuensi nadi 80x/i, RR 20x/i, S: 37,5oC
Pemeriksaan sistemik
Kulit : teraba hangat, tidak pucat, tidak ikterik
Paru : dalam batas normal
Jantung : dalam batas normal
Abdomen : tidak membuncit, hepar dan lien tidak teraba, nyeri epigastrium (-), bising usus
(+) normal
Ekstremitas : akral hangat, CRT < 2 detik
Pemeriksaan penunjang (lab tanggal 16 JANUARI 2017)
Darah lengkap : Hb 12,9 gr%, leukosit 5700/mm, trombosit 121000/ mm, hematokrit 37%
Terapi :
Ranitidine 2x 1 tab
IMUNOS 1X1 TAB
Boleh pulang
ANALISA DATA

Nama Pasien : Tn. L/ 34 tahun


Ruang rawat : diruang penyakit dalam RSUD Raden Mattaher
Tanggal : 13 januari 2017

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


1 Ds : Proses infeksi virus Peningkatan
Klien mengatakan: dengue suhu tubuh
demam naik turun tidak menggigil sejak 5 hari 
SMRS Viremia
Do : 
 Akral Hangat Thermoregulasi
 TD : 110 / 70 mmHg
 S : 38 °c
 N : 80 x / i
 Rr : 20 x / i
 Tampak bintik merah pada lengan dan tungkai
2 Ds : pindahnya cairan Resiko
Klien mengatakan: intravaskuler ke defisit
demam naik turun tidak menggigil sejak 5 hari ekstravaskuler. volume
SMRS cairan
Do :
 Bibir kering
 CRT < 2 detik
 BAK tidak ada keluhan
 Tidak ada tanda syok
 TD : 110 / 70 mmHg
 S : 38 °c
 N : 80 x / i
 Rr : 20 x / i
3 Ds : Nafsu makan menurun pemenuhan
Klien mengatakan:  kebutuhan
- Mual dan muntah sejak 2 hari Intake nutrisi tidak nutrisi
- mulut terasa pahit adekuat kurang dari
- nafsu makan tidak ada  kebutuhan
Nutrisi kurang dari tubuh
Do : kebutuhan tubuh
- TB 165 cm
- BB 54 Kg
- IMT 19,8 (N)
- Porsi yang disediakan hanya habis 1 sendok
- Tampak muntah
4 Ds : perdarahan yang Resiko Syok
Klien mengatakan: berlebihan, pindahnya hipovolemik
- demam naik turun tidak menggigil sejak 5 hari cairan intravaskuler ke
SMRS ekstravaskuler.
Do :
 Akral Hangat
 TD : 110 / 70 mmHg
 S : 38 °c
 N : 80 x / i
 Rr : 20 x / i
 Tampak bintik merah pada lengan dan tungkai
 CRT <2 detik
 Hb 13,1 gr%,
 leukosit 6300/mm,
 trombosit 77000/ mm,
 hematokrit 37%

DIAGNOSA KEPERAWATAN
No Daftar diagnosa keperawatan ( berdasarkan prioritas masalah ) Paraf
1 Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan Proses infeksi virus dengue
ditandai dengan Klien mengatakan demam naik turun tidak menggigil sejak 5
hari SMRS, Akral Hangat, TD : 110 / 70 mmHg, S : 38 °c, N : 80 x / I, Rr : 20
x / I Tampak bintik merah pada lengan dan tungkai
2 pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan Nafsu makan menurun ditandai dengan Klien mengatakan Mual dan
muntah sejak 2 hari, mulut terasa pahit, nafsu makan tidak ada, TB 165 cm,
BB 54 Kg, IMT 19,8 (N), Porsi yang disediakan hanya habis 1 sendok,
Tampak muntah
3 Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan
intravaskuler ke ekstravaskuler. ditandai dengan Klien mengatakan:
demam naik turun tidak menggigil sejak 5 hari SMRS, Bibir kering, CRT < 2
detik, BAK tidak ada keluhan, Tidak ada tanda syok, TD : 110 / 70 mmHg, S :
38 °c, N : 80 x / I, Rr : 20 x / i
4 Resiko Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler ditandai dengan Klien
mengatakan demam naik turun tidak menggigil sejak 5 hari SMRS, Akral
Hangat, TD : 110 / 70 mmHg, S : 38 °c, N : 80 x / I, Rr : 20 x / I, Tampak
bintik merah pada lengan dan tungkai, CRT <2 detik, Hb 13,1 gr%, leukosit
6300/mm, trombosit 77000/ mm, hematokrit 37%

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


No Diagnosa NOC NIC
1 Peningkatan suhu tubuh Tujuan : 1. mmm Kaji suhu tubuh pasien. Rasional :
berhubungan dengan  Suhu mengetahui peningkatan suhu tubuh,
Proses infeksi virus tubuh memudahkan intervensi
dengue ditandai dengan normal 2. Beri kompres air hangat. Rasional : mengurangi
Klien mengatakan Kriteria : panas dengan pemindahan panas secara
demam naik turun tidak  Suhu konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan
menggigil sejak 5 hari tubuh panas secara perlahan tanpa menyebabkan
SMRS, Akral Hangat, antara 36 hipotermi atau menggigil.
TD : 110 / 70 mmHg, S – 37 3. Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum
: 38 °c, N : 80 x / I, Rr :  Nyeri 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi). Rasional :
20 x / I Tampak bintik otot Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang
merah pada lengan dan hilang akibat evaporasi.
tungkai 4. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian
yang tipis dan mudah menyerap keringat.
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian
yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak
merangsang peningkatan suhu tubuh.
5. Observasi intake dan output, tanda vital (suhu,
nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau sesuai
indikasi. Rasional : Mendeteksi dini kekurangan
cairan serta mengetahui keseimbangan cairan
dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital
merupakan acuan untuk mengetahui keadaan
umum pasien.
6. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan
pemberian obat sesuai program. Rasional :
Pemberian cairan sangat penting bagi pasien
dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya
untuk menurunkan panas tubuh pasien.

2 pemenuhan kebutuhan Tujuan : 1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang


nutrisi kurang dari  Nutrisi disukai. Rasional : Mengidentifikasi defisiensi,
kebutuhan tubuh terpenuhi menduga kemungkinan intervensi
berhubungan dengan Kriteria : 2. Observasi dan catat masukan makanan pasien.
Nafsu makan menurun Tidak ada tanda- Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas
ditandai dengan Klien tanda malnutrisi kekurangan konsumsi makanan
mengatakan Mual dan  Menunju 3. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan).
muntah sejak 2 hari, kkan Rasional : Mengawasi penurunan BB /
mulut terasa pahit, nafsu berat mengawasi efektifitas intervensi.
makan tidak ada, TB badan 4. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau
165 cm, BB 54 Kg, IMT yang makan diantara waktu makan. Rasional :
19,8 (N), Porsi yang seimban Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan
disediakan hanya habis g. dan meningkatkan masukan juga mencegah
1 sendok, Tampak distensi gaster.
muntah 5. Berikan dan Bantu oral hygiene. Rasional :
Meningkatkan nafsu makan dan masukan
peroral
6. Hindari makanan yang merangsang dan
mengandung gas. Rasional : Menurunkan
distensi dan iritasi gaster.

3 Resiko defisit volume Tujuan :  Awasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi.
cairan berhubungan  Tidak Rasional : Vital sign membantu
dengan pindahnya terjadi mengidentifikasi fluktuasi cairan
cairan intravaskuler ke defisit intravaskuler
ekstravaskuler. ditandai voume  Observasi capillary Refill. Rasional : Indikasi
dengan Klien cairan keadekuatan sirkulasi perifer
mengatakan: Kriteria :  Observasi intake dan output. Catat warna
demam naik turun tidak  Input urine / konsentrasi, BJ. Rasional : Penurunan
menggigil sejak 5 hari dan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ
SMRS, Bibir kering, output diduga dehidrasi.
CRT < 2 detik, BAK seimban  Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari (
tidak ada keluhan, Tidak g sesuai toleransi ). Rasional : Untuk memenuhi
ada tanda syok, TD :  Vital kebutuhan cairan tubuh peroral
110 / 70 mmHg, S : 38 sign  Kolaborasi : Pemberian cairan intravena.
°c, N : 80 x / I, Rr : 20 x dalam Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan
/i batas tubuh, untuk mencegah terjadinya
normal hipovolemic syok.
 Tidak
ada
tanda
presyok
 Akral
hangat
 Capilarry
refill < 2
detik

4 Resiko Syok Tujuan :  Monitor keadaan umum pasien. Rasional ;


hipovolemik  Tidak Untuk memonitor kondisi pasien selama
berhubungan dengan terjadi perawatan terutama saat terdi perdarahan.
perdarahan yang syok Perawat segera mengetahui tanda-tanda
berlebihan, pindahnya hipovole presyok /syok.
cairan intravaskuler ke mik  Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih.
ekstravaskuler ditandai Hasil yang Rasional : Perawat perlu terus
dengan Klien diharapkan: mengobaservasi vital sign untuk
mengatakan demam • Tanda vital memastikan tidak terjadi presyok /
naik turun tidak stabil dalam syok. Kolaborasi : Pemberian cairan
menggigil sejak 5 hari batas normal. intravena. Rasional : Cairan intravena
SMRS, Akral Hangat, • Kesadaran diperlukan untuk mengatasi kehilangan
TD : 110 / 70 mmHg, S compos cairan tubuh secara hebat.
: 38 °c, N : 80 x / I, Rr : mentis  Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV,
20 x / I, Tampak bintik • Pasien trombosit. Rasional : Untuk mengetahui
merah pada lengan dan dapat tingkat kebocoran pembuluh darah yang
tungkai, CRT <2 detik, berkomunika dialami pasien dan untuk acuan melakukan
Hb 13,1 gr%, leukosit si dengan tindakan lebih lanjut.
6300/mm, trombosit baik.  Monitor intake-output
77000/ mm, hematokrit • Hematokrit  Cek Hemoglobin, hematokrit, dan
37% dalam batas trombosit.
normal : 37 –  Observasi perkembangan bintik-bintik
43 % merah di kulit, keluhan lemah, keringat
dingin, kulit lembab dan dingin.
 Ukur dan catat perdarahan yang keluar

 Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda
perdarahan, dan segera laporkan jika
terjadi perdarahan. Rasional : Dengan
melibatkan psien dan keluarga maka tanda-
tanda perdarahan dapat segera diketahui
dan tindakan yang cepat dan tepat dapat
segera diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz Alimul A. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak jilid.2. Salemba Medika :
Jakarta

Nasrul, Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta


Noer, Sjaifoellah dkk. 1998. Standar Perawatan Pasien. Monica Ester : Jakarta.

Suriadi & Yuliani, Rita. 2001. Buku Pegangan Praktek Klinik : Asuhan Keperawatan pada Anak.
Sagung Seto : Jakarta

Balai Penerbit FKUI. 1999. Demam Berdarah Dengue: Pelatihan bagi pelatih, dokter spesialis
anak, dan dokter spesialis penyakit dalam, dalam tatalaksana kasus DBD.; Jakarta.

WHO: 1997.Dengue Haemorrhagic Fever: Diagnosis, treatment, prevention and control, second
edition.