Anda di halaman 1dari 17

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Disusun Oleh:

Rayana Fitriawan
13670013

PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
2016
RENCANA PELAKSAAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah : SMA N Sunan Kalijaga

Mata Pelajaran : Kimia

Kelas / Semester : XI/Genap

Materi Pokok : Larutan Asam dan Basa

Alokasi Waktu : 25 menit

A. Kompetensi Inti

KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,


peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan
pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial
dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.

KI 3 : Memahami ,menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,


prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian
yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan
masalah.
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah
secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator

1.1. Menyadari adanya keteraturan dari sifat hidrokarbon, termokimia, laju


reaksi, kesetimbangan kimia, larutan dan koloid sebagai wujud kebesaran
Tuhan YME dan pengetahuan tentang adanya keteraturan tersebut sebagai
hasil pemikiran kreatif manusia yang kebenarannya bersifat tentatif.
2.1. Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu, disiplin, jujur,
objektif, terbuka, mampu membedakan fakta dan opini, ulet, teliti,
bertanggung jawab, kritis, kreatif, inovatif, demokratis, komunikatif) dalam
merancang dan melakukan percobaan serta berdiskusi yang diwujudkan
dalam sikap sehari-hari.
3.10. Menganalisis sifat larutan berdasarkan konsep asam basa dan/atau pH
larutan.
3.10.1. Menjelaskan tentang konsep larutan.
3.10.2. Menjelaskan konsep asam basa menurut Arhenius.
3.10.3. Menjelaskan konsep asam basa menurut Bronsted-Lowry.
3.10.4. Mengidentifikasi spesi asam basa dari suatu persamaan reaksi asam
basa Bronsted-Lowry.
3.10.5. Menjelaskan konsep asam basa menurut Lewis.
3.10.6. Mengidentifikasi spesi asam basa dari suatu persamaan reaksi asam
basa Lewis.
4.10. Mengajukan ide/gagasan tentang penggunaan indikator yang tepat untuk
menentukan keasaman asam/basa atau titrasi asam/basa..
4.10.1. Terampil menyimpulkan hasil diskusi asam basa dalam bentuk
laporan.
C. Tujuan Pembelajaran

Setelah proses pembelajaran, peserta didik dapat :

1. Menjelaskan tentang konsep larutan.


2. Menjelaskan konsep asam basa menurut Arrhenius.
3. Menuliskan reaksi ionisasi asam basa menurut Arrhenius.
4. Menjelaskan konsep asam basa menurut Bronsted-Lowry.
5. Mengidentifikasi spesi asam basa dari suatu reaksi asam basa Bronsted-
Lowry.
6. Menjelaskan konsep asam basa menurut Lewis.
7. Mengidentifikasi spesi asam basa dari suatu reaksi asam basa Lewis.
8. Terampil menyimpulkan hasil diskusi asam basa dalam bentuk laporan.

D. Materi Pembelajaran
1. Konsep Larutan
Larutan adalah campuran yang homogen dari dua atau lebih zat. Zat
yang jumlahnya lebih sedikit disebut zat terlarut, sedangkan zat yang
jumlahnya lebih banyak disebut pelarut.
2. Konsep Asam Basa Arrhenius
Pada tahun 1884 seorang ilmuwan Swiss, Svante August Arrhenius,
mengemukakan suatu teori tentang asam basa. Arrhenius berpendapat
bahwa dalam air, larutan asam dan basa akan mengalami penguraian
menjadi ion-ionnya. Asam merupakan zat yang di dalam air dapat
melepaskan ion hidrogen (H+). Sedangkan basa merupakan zat yang di
dalam air dapat melepaskan ion hidroksida (OH–).
Teori ini cukup rasional, akan tetapi setelah beberapa saat, para ahli
kimia berpendapat bahwa ion H+ hampir tidak bias berdiri sendiri dalam
larutan. Hal ini dikarenakan ion H+ merupakan ion dengan jari-jari ion
yang sangat kecil. Oleh karena itu, ion H+ terikat dalam suatu molekul air
dan sebagai ion oksonium (H3O+). Sehingga reaksi yang benar untuk
senyawa asam di dalam air adalah sebagai berikut.

Akan tetapi, ion H3O+ lebih sering ditulis ion H+, sehingga
penulisannya menjadi seperti berikut.

3. Konsep Asam Basa Bronsted-Lowry

Teori asam basa Arrhenius tidak dapat menjelaskan tentang sifat


asam basa pada larutan yang bebas air. Misalnya asam asetat akan bersifat
asam, tetapi sifat asam tersebut tidak tampak ketika asam asetat
dilarutkam ke dalam benzena. Pada tahun 1923, Johannes N. Bronsted-
Lowry secara terpisah, mengemukakan bahwa, reaksi asam basa dapat
dipandang sebagai reaksi transfer proton, dan asam-basa dapat
didefinisikan dalam transfer proton (H+). Menurut Bronsted-Lowry,
Asam adalah spesi donator (pemberi) proton dan basa adalah spesi
akseptor (penerima) proton.

Dari reaksi di atas terlihat bahwa CH3COOH memberi 1 proton


(H+) kepada H2O, sehingga CH3COOH bersifat sebagai asam dan H2O
bersifat sebagai basa.
Bronsted-Lowry juga menyatakan bahwa jika suatu asam
memberikan proton (H+), maka sisa asam tersebut mempunyai
kemampuan untuk bertindak sebagai basa. Sisa asam tersebut dinyatakan
sebagai basa konjugasi. Demikian pula untuk basa, jika suatu basa dapat
menerima proton (H+), maka zat yang terbentuk mempunyai kemampuan
sebagai asam disebut asam konjugasi. Perhatikan reaksi di bawah ini.

4. Konsep Asam Basa Lewis

Teori asam basa terus berkembang dari waktu ke waktu. Pada tahun
1923, seorang ahli kimia Amerika Serikat, Gilbert N. Lewis,
mengemukakan teorinya tentang asam basa berdasarkan serah terima
pasangan elektron. Lewis berpendapat asam adalah partikel (ion atau
molekul) yang dapat menerima (akseptor) pasangan elektron. Sedangkan
basa didefinisikan sebagai partikel (ion atau molekul) yang memberi
(donor) pasangan elektron. Reaksi asam basa menurut Lewis berkaitan
dengan pasangan elektron yang terjadi pada ikatan kovalen koordinasi.
Perhatikan reaksi di bawah ini.
Pada reaksi antara BF3
dan NH3, BF3 bertindak
sebagai asam, sedangkan
NH3 bertindak sebagai basa.
Perhatikan pula reaksi berikut.
Pada reaksi di atas, H2O
bertindak sebagai basa sedangkan
CO2 bertindak sebagai asam.

Teori asam basa Lewis lebih luas daripada teori asam basa
Arrhenius dan teori asam basa Bronsted-Lowry. Hal ini disebabkan:
 Teori Lewis dapat menjelaskan reaksi asam basa dalam pelarut air,
pelarut selain air, bahkan tanpa pelarut.
 Teori Lewis dapat menjelaskan reaksi asam basa tanpa melibatkan
transfer proton (H+), seperti reaksi antara NH3 dengan BF3.
E. Metode Pembelajaran

Strategi Pembelajaran : Cooperative (Pembelajaran kelompok)

Pendekatan : Deduktif

Model Pembelajaran : Direct Instruction (Pembelajaran langsung)

Metode Pembelajaran : Ceramah, diskusi kelompok,dan penugasan


F. Media dan Sumber Belajar

Media Belajar : LDS (Lembar Diskusi Siswa), papan tulis, spidol

Sumber Belajar : Buku KIMIA SMA Kelas XI yang relevan, internet.

G. Langkah-langkah Pembelajaran
No. Kegiatan Langkah-langkah Kegiatan Alokasi
Waktu
1. Pendahuluan  Guru membuka pembelajaran dengan 5 menit
salam.
 Guru meminta salah satu siswa untuk
memimpin do’a.
 Guru memeriksa kehadiran siswa.
 Apersepsi:
“Pernahkah kalian membuat minuman
susu dengan susu bubuk? Setelah jadi,
terdiri dari apa sajakah minuman susu
tersebut?”
“Pernahkah kalian memakan buah
jeruk? Atau obat maag? Bagaimana
rasanya?
 Guru menyampaikan tujuan
pembelajaran tentang larutan dan
perkembangan teori asam basa.
2. Inti  Mengamati 15
1. Guru memberikan sebotol air dan
minuman sachet (marimas atau
sejenisnya) kepada salah satu siswa
dan diminta untuk mencampurkannya.
2. Siswa mengamati proses pembuatan
minuman
 Menanya
1. Guru menanyakan kepada siswa:
“Terdiri dari apa sajakah minuman
yang telah dibuat ini? Bagaimana
rasanya? Asam atau basa?” (dilihat
secara umum)
2. Siswa menjawab pertanyaan.

 Mengumpulkan Data
1. Guru memberikan materi tentang
konsep larutan dan perkembangan
teori asam basa.
2. Siswa menyimak penjelasan guru.
3. Guru membagi kelas kedalam
beberapa kelompok (kelompok terdiri
dari 3-4 orang).
4. Guru memberika LDS (Lembar
Diskusi Siswa) kepada siswa.
(terlampir).
 Mengasosiasi
1. Masing-masing kelompok menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang ada pada
LDS.
2. Siswa menyimpulkan konsep-konsep
perkembangan teori asam basa.
 Mengkomunikasi
1. Guru meminta salah satu kelompok
untuk mempresentasikan di depan
kelas.
2. Guru memberikan penjelasan lebih
lanjut jika masih ada yang ditanyakan
dalam pembelajaran.
3. Penutup  Guru dan siswa bersama-sama 5 menit
membuat kesimpulan tentang
perkembangan teori asam basa.
 Guru memberikan tugas kepada siswa
untuk dikumpulkan pada pertemuan
berikutnya.
 Guru mengakhiri proses pembelajaran
dengan do’a dan salam.

H. Penilaian Pembelajaran
1. Penilaian Kognitif (terlampir)
2. Penilaian Afektif (terlampir)

Yogyakarta, 5 Maret 2016

Kepala SMA Negeri Sunan Kalijaga Guru Mata Pelajaran Kimia

Karmanto, M.Sc. Rayana Fitriawan


NIP. 19820504 200912 1 005 NIM 13670013
LAMPIRAN

1. Lembar Diskusi Siswa


Nama Kelompok : 1.___________________
2.___________________
3.___________________
4.___________________
Kelas : ____________________
Sekolah : ____________________

Bacalah artikel di bawah ini dengan cermat!

Kimia asam basa menjadi inti kimia sejak dari zaman kuno sampai zaman
modern kini, dan memang sebagian besar kimia yang dilakukan di laboratorium di
zaman dulu adalah kimia asam basa. Ketika kimia mulai menguat di bidang studi
teoritisnya di akhir abad ke-19, topik pertama yang ditangani adalah kimia asam basa.
Sebagian besar bahan kimia yang umum kita jumpai adalah asam dan basa. Namun,
hanya belakangan ini saja kimiawan dapat menyimpan dan menggunakan dengan
bebas berbagai asam basa dalam raknya di laboratorium.

Satu-satunya asam yang diketahui di zaman dulu adalah asam asetat yang tak
murni, dan basa yang dapat mereka gunakan adalah kalium karbonat kasar yang
didapatkan dari abu tanaman. Di abad pertengahan, kimiawan Arab mengembangkan
metoda untuk menghasilkan asam mineral semacam asam hidrokhloratatau asam
nitrat dan menggunakannya. Demikia juga basa-basa. Bahkan, kata “alkali”, nama
umum untuk basa kuat, berasal dari bahasa Arab.

Di zaman modern, peningkatan populasi dan dengan perlahan naiknya


standar mengakibatkan kebutuhan berbagai bahan juga meningkat. Misalnya, sabun,
awalnya merupakan barang mewah dan mahal, kini menjadi tersedia luas. Akibatnya,
kebutuhan natrium karbonat, bahan baku sapun, emingkat dengan tajam. Kebutuhan
pakaian juga meningkat, yang menyebabkan peningkatan berbagai bahan kimia untuk
pewarna dan sejenisnya. Untuk memenuhi kebutuhan ini, kini menghasilkan sejumlah
cukup asam dan basa bukan masalah yang sederhana. Inilah awal munculnya industri
kimia.

Di pertengahan abad ke-17, kimiawan Jerman Johann Rudolf Glauber (1604-


1670), yang tinggal di Belanda, menghasilkan dan menjual tidak hanya berbagai asam
dan basa, tetapi juga banyak alat kimia. Dalam hal ini ia dapat disebut insinyur kimia
pertama. Ia juga menjual natrium sulfat sebagai obat mujarab dan mendapat
keuntungan besar dari usaha ini.

Studi mendasar tentang asam basa dimulai di zaman yang sama. Boylem
rekan sezaman dengan Glauber, menemukan metoda penggunaan pewarna yang
didapatkan dari berbagai tumbuhan semacam Roccella sebagai indikator reaksi asam
basa.13 Di saat-saat itu, telah diketahui bahwa asam dan basa mempunyai sifat
berlawanan dan dapat meniadakan satu sama lain. Sebelum perkembangan kimia,
asam didefinisikan sebagai sesuatu yang masam, dan alkali sebagai sesuatu yang akan
menghilangkan, atau menetralkan efek asam.

Awalnya ada kebingungan tentang sifat dasar asam. Oksigen awalnya


dianggap sebagai komponen penting asam. Bahkan nama “oksigen” berasal dari
bahasa Yunani, yang berarti “membuat sesuatu masam”. Di pertengahan abad ke-19,
Davy menemukan bahwa hidrogen khlorida (larutan dalam airnya adalah asam
hidrokhlorida) tidak mengandung oksigen, dan dengan demikian membantah teori
bahwa oksigen adalah komponen penting dalam asam. Ia, sebagai gantinya,
mengusulkan bahwa hidrogen adalah komponen penting asam.

Sifat asam pertama diketahui dengan kuantitatof pada akhir abad ke-19. Di
tahun 1884, kimiawan Swedia Svante August Arrhenius (1859-1927)
mengusulkan teori disosiasi elektrolit yang menyatakan bahwa elektrolit
semacam asam, basa dan garam terdisosiasi menjadi ion-ion komponennya dalam air.
Ia lebih lanjut menyatakan bahwa beberapa elektrolit terdisosiasi sempurna (elektrolit
kuat) tetapi beberapa hanya terdisosiasi sebagian (elektrolit lemah). Teori asam
basa berkembang dengan cepat belandaskan teori ini.

Sumber: http://k15tiumb.blogspot.co.id/2009/10/perkembangan-konsep-asam-dan-
basa.html

Perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut dan diskusikan dengan kelompok!

1. Teori asam basa apa yang ada pada artikel di atas?


2. Adakah kesamaan teori asam basa di atas dengan teori asam basa Arrhenius,
Bronsted-Lowry, dan Lewis?
3. Berilah contoh reaksi yang menerapkan konsep asam basa Arrhenius,
Bronsted-Lowry, dan Lewis!
LEMBAR DISKUSI

2. Penilaian Kognitif
1. Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dan sertakan alansannya!
1. Asam menurut Arrhenius adalah ….
a. Spesi donator (pemberi) proton dalam suatu reaksi.
b. Senyawa yang dapat menerima pasangan elektron (akseptor pasangan
elektron).
c. Senyawa yang dapat memberikan pasangan electron kepada senyawa
lain (donor pasangan elektron).
d. Suatu zat yang dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion H+.
e. Suatu zat yang dilarutkan ke dalam air akan menghasilkan ion OH–.
Alasan : ________________________________________________

2. Bahan yang bersifat basa di antara bahan berikut ini adalah . . . .


a. larutan cuka c. jus lemon e. jus jeruk
b. obat maag d. yoghurt
Alasan : ________________________________________________

3. Reaksi: H3PO4 + OH–  H2O + H2PO4-.


Pada reaksi di atas, spesi kimia yang bersifat asam menurut Bronsted-
Lowry adalah . . . .
a. H2PO4–
b. H3PO4
c. H2O
d. H3PO4 dan H2PO4–
e. H3PO4 dan H2O
Alasan : ________________________________________________
4. Pada reaksi HSO4– + H2O  H3O+ + SO42–, yang merupakan pasangan
asam-basa konjugasi adalah . . . .
a. HSO4– dan SO42–
b. H3O+ dan SO42–
c. H2O dan H3O+
d. HSO4– dan H3O+
e. HSO4– dan H2O
Alasan : ________________________________________________

5. Perhatikan reaksi berikut: O2– + CO2  CO32–


Pernyataan berikut yang sesuai dengan teori Lewis adalah . . . .
a. ion O2– adalah asam
b. ion O2– bersifat netral
c. CO2 adalah asam
d. ion CO32– bersifat netral
e. CO2 bersifat netral
Alasan : ________________________________________________

Pedoman Penskoran

Skor maksimum = Skor maksimum setiap pernyataan x jumlah pernyataan

= 5 x 5

= 25

Konversi nilai = Skor maksimum yang diperoleh X 4

= 25 x 4

= 100

Kriteria penilaian : Baik = Jika memperoleh nilai 81 – 100

Cukup = Jika memperoleh nilai 61 – 80

Kurang = Jika memperoleh nilai ≤ 60


3. Penilaian Afektif
a. Teknik Penilaian : Observasi
b. Bentuk Instrumen : Lembar pengamatan sikap
c. Instrumen : Non test

Petunjuk :

Berilah tanda cek (√) pada kolom skor sesuai dengan sikap yang ditampilkan oleh
peserta didik!

Skor
No Pernyataan
1 2 3
1 Peserta didik datang tepat waktu (disiplin waktu)
2 Peserta didik dengan rasa ingin tahunya bertanya
terkait materi yang akan dipelajarinya.
3 Peserta didik bekerjasama dalam melakukan
diskusi kelompok.
4 Peserta didik teliti dalam menyimpulkan hasil
diskusi kelompok.
5 Peserta didik menunjukkan sikap sopan santun
kepada guru.
Rubrik Penilaian Afektif

No Pengamatan Skor Kriteria Penskoran


Peserta didik mengerjakan LDS sesuai dengan
3
petunjuk dan tepat waktu.
Peserta didik Peserta didik mengerjakan LDS sesuai dengan
1 2
menjalani diskusi petunjuk dan tepat waktu.
Peserta didik menaati peraturan main dalam
1
kerja mandiri dan kelompok.
Peserta didik bertanya mengenai materi yang
Peserta didik dengan 3
belum dipahami ketika belajar di rumah.
rasa ingin tahunya
Peserta didik mencoba untuk memahami
2 bertanya terkait 2
materi yang akan dipelajari.
materi yang akan
Peserta didik tidak mencoba untuk memahami
dipelajarinya. 1
materi yang akan dipelajari.
Peserta didik Peserta didik mengerjakan LKPD dengan
3
bekerjasama dalam sungguh-sungguh.
3
melakukan diskusi 2 Siswa menunjukkan sikap bersahabat.
kelompok. 1 Siswa menghargai pendapat orang lain.
Peserta didik teliti dan objektif dalam
3
Peserta didik teliti menyimpulkan hasil diskusi kelompok.
dan objektif dalam Peserta didik teliti dalam menyimpulkan hasil
4 2
menyimpulkan hasil diskusi kelompok.
diskusi kelompok. Peserta didik objektif dalam menyimpulkan
1
hasil diskusi kelompok.
Peserta didik Peserta didik selalu menundukkan badan
3
5 menunjukkan sikap ketika berpapasan dengan pendidik.
sopan santun kepada 2 Peserta didik selalu memberi salam ketika
guru. berpapasan dengan pendidik.
1 Peserta didik berbicara sopan dengan pendidik.

Pedoman Penskoran

Skor maksimum = Skor maksimum setiap pernyataan x jumlah pernyataan

= 3 x 6

= 18

𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛


Konversi nilai = 𝑥 100
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

Kriteria penilaian : Baik = Jika memperoleh nilai 81 – 100

Cukup = Jika memperoleh nilai 61 – 80

Kurang = Jika memperoleh nilai ≤ 60