Anda di halaman 1dari 7

STUDI KASUS MANDIRI PADA UNGGAS DAN IKAN

A. Ayam
1. Keadaan Umum
 Nama Pemilik : Iqbal Ramadan
 Alamat Pemilik : Kelapa lima
 Jenis Hewan : Ayam
 Signalemen : jantan, broiler, >1 bulan, putih
 Tanggal Pemeriksaan : 16 Oktober 2018
 Anamnesa : Ayam mengalami ngorok, vaksinasi dilakukan setelah
gejala ngorok muncul, populasi mengalami gejala yang sama
 Pemeriksaan Fisik : ada leleran dari hidung yang sudah mulai kering,
ayam terlihat sering mengantuk
2. Perubahan Patologi :

Gambar 1. Terdapat cairan seperti busa pada bagian rongga nasal

Gambar 2. Terdapat lendir berlebih pada trakea


Gambar 3. Terdapat daerah yang berwarna gelap (hitam) pada paru-paru
kiri

Gambar 4. Terdapat massa berwarna kuning pada kedua sisi rongga


abdomen
3. Hasil Pengamatan
Pada pemeriksaan fisik ditemukan ayam mengalami ngorok dan terdapat
lendir yang telah mengering di daerah sekitar hidung serta ayam kelihatan
mengantuk. Kondisi ngorok yang dialami ayam kemudian dikuatkan dengan
pemeriksaan patologi anatomi dimana ditemukannya cairan seperti busa pada
rongga nasal, serta terdapat lendir berlebih pada trakea. Paru-paru kiri ayam
terlihat menghitam pada beberapa bagian. Pada saat nekropsi juga ditemukan
adanya massa kekuningan seperti perkejuan di kedua sisi rongga abdomen.
Adanya perkejuan ini merupakan akibat ikutan dari sacculitis atau radang
kantong udara, akan tetapi pada saat nekropsi, kantong udara tidak teramati.
Lendir yang berlebih kemungkinan merupakan upaya tubuh ayam dalam
menanggapi infeksi, dimana lendir merupakan salah satu sistem pertahanan
dari organ pernapasan terhadap benda asing. Lendir yang berlebih ini juga
menyebabkan terdengar suara seperti ngorok saat ayam bernapas, diakibatkan
bertumpuknya lendir di rongga nasal. Lendir pada organ pernapasan
diproduksi oleh kelenjar dan sel-sel goblet dan pada keadaan infeksi lendir
akan diproduksi dalam jumlah yang banyak. Akibatnya sebagian lendir ikut
masuk ke paru-paru.
Paru-paru normal seharusnya hanya berisi udara saja, sehingga lendir
akan dianggap sebagai benda asing. Pada saat nekropsi terlihat perubahan
patologi anatomi pada paru-paru, dimana pada paru-paru kiri terdapat
beberapa bagian yang menghitam dan dicurigai terjadinya hemoragi.

4. Diagnosa Tentatif
Berdasarkan pengamatan patologi anatomi saat nekropsi, diagnosa
sementara yang dapat diambil adalah Chronic Respiratory Disease (CRD).
Chronic Respiratory Disease (CRD) adalah penyakit menular pada ayam
yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum yang ditandai dengan
sekresi hidung katar, kebengkakan muka, batuk dan terdengarnya suara
sewaktu bernafas. Ayam semua umur dapat terserang CRD.
Agen penyebab CRD adalah Mycoplasma gallisepticum dari famili
Mycoplasmataceae dan Ordo Mycoplasmatales. Mycoplasma gallisepticum
berukuran 0,25-0,50 mikron berbentuk pleomorfik, biasanya kokoid dan
bersifat Gram negatif. Penularan dapat secara horisontal dan vertikal.
Penularan secara horizontal dapat berupa kontak langsung dari hewan ke
hewan dan yang tidak langsung melalui makanan, air minum, debu, alat-alat
kandang yang tercemar oleh M.galliseptiificum dan melalui udara dengan
jarak tidak melebihi 6 meter. Penularan secara vertikal terjadi lewat telur yang
dihasilkan oleh induk penderita.
Mekanisme infeksi, M.galliseptiificum masuk melalui rongga hidung
kemudian melekat pada reseptor epitel. Selanjutnya, sel mikoplasma
melakukan penetrasi dan merusak mukosa epitel sambil memperbanyak diri.
Dengan perantaraan gerakan silia epitel, sel mikoplasma bergerak menuju
kantong membran udara abdominal. Peradangan yang terjadi pada jaringan
epitel bukanlah akibat dari toksin mikoplasma tetapi lebih disebabkan karena
respons imun dari induk semang berupa reaksi peradangan.
Masa inkubasi CRD berkisar antara 4-21 hari. Bila CRD menyerang,
biasanya seluruh kelompok ayam terkena meskipun derajat keparahannya
berbeda. Kelainan utama yang diakibatkan oleh CRD ialah radang sekresi
hidung kataral dalam alat pernafasan mulai dari rongga hidung, sinus sampai
kantong udara. Kantong udara terlihat keruh dan bereksudat kasar. Bila terjadi
komplikasi dengan bakteri, perubahan hebat yang dapat ditemukan berupa
perikarditis, perihepatitis fibrinosa atau fibrino purulenta disertai dengan
radang kantong udara. Faktor predisposisi yang memperparah terjadinya
infeksi yaitu airsacculitis mulai dari penebalan kantong udara rongga perut
sampai terlihat adanya perkejuan di satu atau kedua sisi rongga perut,
tergantung dari derajat keparahan infeksi.
5. Diagnosa Banding
Diagnosa banding pada kasus ini adalah Infeksius Bronkitis. Infectious
Bronchitis (IB) adalah penyakit pernapasan akut dan sangat menular pada
ayam. Penyakit ini ditandai dengan adanya gejala pernapasan, seperti
terengah-engah, batuk, bersin, ngorok, dan keluarnya sekresi hidung.
Virus IB tergolong genus coronavirus dari family Coronaviridae, ss-
RNA, berbentuk spherik atau pleomorfik dengan diameter 90-200 nm,
diselubungi kapsid bentuk simetri heliks dan beramplop yang terdiri dari
lipoprotein. Pada ayam dewasa gejala klinis tampak seperti batuk, bersin dan
ngorok dapat diamati. Patologis-anatomis terkait dengan IB bentuk pernafasan
yakni adanya radang saluran pernapasan bagian atas.

B. Ikan
1. Keadaan Umum
 Nama Pemilik : Balai Pembibitan Ikan Noekele
 Alamat Pemilik : Noekele
 Signalemen : jantan, nila,
 Tanggal Pemeriksaan : 15 Oktober 2018
 Anamnesa : Ikan terlihat berenang abnormal (miring) sehingga
dipindahkan ke kolam karantina, merupakan ikan calon indukan
 Pemeriksaan Fisik : tidak terdapat perubahan signifikan pada
tampakan luar tubuh ikan
2. Perubahan Patologi :
Pada saat nekropsi tidak terdapat perubahan patologi anatomi pada ikan.

Referensi

https://vet.uga.edu/ivcvm/courses/VPAT5200/01_circulation/ diakses pada tanggal 24


Oktober 2018

Pudjiatmoko., Syibli, M., Nurtanto, S., dkk. 2014, Manual Penyakit Unggas; Cetakan
ke-2. Subdit Pengamatan Penyakit Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan,
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

Soeripto. 2009, Chronic Respiratory Disease (CRD) pada Ayam. Wartazoa.


(3)19:134-142