Anda di halaman 1dari 8

Kuda hidup berkelompok dan sering kali membentuk sebuah keluarga yang terdiri atas satu

pejantan, satu atau beberapa betina dan keturunannya. Kelompok jantan muda biasanya
membentuk kelompok yang terdiri atas satu hingga delapan jantan muda. Kuda jantan yang
memimpin dan menguasai sekelompok betina, akan melindungi kuda betina dewasa yang
merupakan bagian kelompoknya dari gangguan kuda jantan lain khususnya selama masa estrus.
Kuda berkomunikasi dengan cara mengeluarkan suara, menggerakan tubuhnya seperti ekor,
telinga, mulut, kepala, dan leher atau mengeluarkan bau yang berasal dari kotorannya untuk
menandakan teritori. Kuda memiliki indera penciuman dan pendengaran yang kuat (Kilgour dan
Dalton, 1984).

TINGKAH LAKU MAKAN

Pakan yang biasanya dikonsumsi oleh kuda adalah hijauan dan konsentrat. Hijauan merupakan
pakan dengan kandungan serat tinggi. Hijauan dapat berupa rumput dan legum. Konsentrat
adalah campuran pakan yang mengandung serat kasar kurang dari 18% dan tinggi protein.
Komposisi hijauan dan konsentrat yang diberikan pada kuda dapat bervariasi. Kuda dapat
mengkonsumsi hijauan untuk hidup pokoknya sebanyak 1,5-2% bobot badan dan konsentrat
sebanyak 0,5% bobot badan (NRC, 1989).

 Hijauan

Hijauan mempunyai arti yang penting dalam makanan kuda. Performa yang dihasilkan kuda
akan seiring dengan kualitas hijauan. Hijauan berkualitas baik akan menghasilkan performa kuda
yang baik pula. Hijauan yang bagus tentunya tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga
sebagai sumber protein, vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya (Mansyur, 2006).

Salah satu hijauan yang dapat digunakan dalam ransum kuda adalah African star grass (Cynodon
plectostachyus). African star grass adalah jenis rumput yang tumbuh dan dapat beradaptasi
dengan baik di daerah tropis. African star grass dapat berkembang dengan stolon. Rumput ini
baik digunakan untuk padang penggembalaan atau pastura, namun perlu dilakukan pengelolaan
yang intensif dengan cara membuat paddocks dan rotasi. Paddocks digunakan sebagai pasture
kurang lebih selama 3-4 hari dan diistirahatkan selama 21-28 hari (González et al., 2010).
African star grass dapat berproduksi sebanyak 47,0-55,6 ton/ha/tahun, dengan pemberian 150
atau 300 kg nitrogen/ha/tahun dan interval pemanenan selama 21 hari (Miller et al., 2010).
Rumput ini dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 500-1200 mm. Rumput ini
tidak dapat tumbuh pada tanah yang tergenang dan kekurangan nitrogen (Partridge, 2010).
Kandungan nutrien African star grass adalah 32% bahan kering; 3,4% abu; 0,6% lemak kasar;
9,6% serat kasar; 15,4% BETN; dan 2,8% protein kasar (Hartadi et al., 1986). Menurut Miller et
al. (2010), DE atau Digestible Energy dari rumput African star adalah 10,66 MJ per kg bahan
kering, satu joule sama dengan 0,24 kal, maka 10,66 MJ sama dengan 2,56 Mkal.

 Konsentrat

Pakan utama kuda adalah rumput. Pakan rumput hanya cukup untuk kelangsungan hidup tetapi
untuk kuda pacu atau olahraga perlu tambahan konsentrat dan vitamin. Pakan konsentrat
merupakan pakan sumber energi bagi kuda. Konsentrat yang dapat diberikan antara lain
konsentrat serealia yang terdiri atas gandum, jagung, sorgum, berbagai produk sereal dan non
sereal yang terdiri atas gula bit, legum seperti kedelai dan kacang (McBane, 1994).

TINGKAH LAKU REPRODUKSI

 Kuda Jantan

Kuda jantan mulai dewasa kelamin pada usia 15 bulan (Kilgour dan Dalton, 1984). Pejantan
yang akan digunakan sebagai pemacek sebaiknya sudah berumur empat tahun (Jacoebs, 1994).
Keberhasilan dalam pengawinan membutuhkan betina yang sedang birahi serta pejantan yang
memiliki kualitas semen dan spermatozoa yang baik (McBane, 1991).

Performa pejantan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu nutrisi, lingkungan, penyakit, dan
hormon. Hormon yang mempengaruhi kualitas pejantan diantaranya adalah FSH atau Folicle
Stimulating Hormone (mengatur produksi sperma) dan LH atau Luteinizing Hormone (mengatur
pengeluaran hormon testosteron). Hormon testosteron berpengaruh terhadap karakteristik fisik
pejantan, libido, dan produksi semen (McBane, 1991). Ukuran testis adalah salah satu indikator
kemampuan kuda menghasilkan sperma, kuda jantan yang memiliki ukuran testis lebih besar
dapat menghasilkan sperma lebih banyak. Kuda jantan yang berumur dua hingga tiga tahun
menghasilkan sperma lebih sedikit dibandingkan dengan kuda yang lebih tua. Kuda jantan
biasanya akan tetap subur hingga berumur 20 tahun (Freeman, 2010).

Pejantan yang akan dikawinkan mulai diberikan makanan yang bergizi dan vitamin dua hingga
tiga bulan sebelum pengawinan, dengan tujuan meningkatkan kesuburan pejantan. Pejantan
sebaiknya diistirahatkan dan dijauhkan dari kuda jantan lainnya agar tidak mengalami stress
sebelum pengawinan (Jacoebs, 1994). Morel (2008) menyatakan hal-hal yang harus diperhatikan
saat mempersiapkan jantan untuk kawin adalah kecukupan nutrisi dan latihan, karena kondisi
fisik kuda saat kawin harus sehat dan tidak gemuk. Latihan dapat memperbaiki kondisi kuda
jantan, mencegah kegemukan, menjaga kesehatan otot, dan meningkatkan stamina.

 Kuda Betina

Seekor kuda betina dara akan mencapai pubertas atau masak kelamin pada umur 12 sampai 15
bulan. Namun hendaknya kuda itu tidak dikawinkan sebelum mencapai umur dua tahun dan
lebih baik setelah berumur tiga tahun. Kuda betina bila dikawinkan pada umur yang lebih muda,
biasanya memiliki tingkat kebuntingan yang rendah. Kuda betina yang dikawinkan pada umur
tiga tahun dan dirawat dengan cermat maka selama hidupnya dapat menghasilkan 10 sampai 12
ekor anak karena kuda betina masih dapat beranak meski telah mencapai umur 20 tahun atau
lebih (Blakely dan Bade, 1991).

Siklus estrus (birahi) kuda betina rata-rata adalah 21 hari dengan kisaran waktu antara 10 sampai
37 hari. Periode birahinya rata-rata adalah empat sampai enam hari. Tanda-tanda birahi kuda
adalah gelisah, keinginan untuk ditemani oleh kuda lain, urinasi (kencing) yang berulangkali,
serta vulva membengkak dan berwarna merah. Ovulasi terjadi pada saat-saat akhir periode
birahi. Ovum yang dihasilkan dapat bertahan hidup sekitar enam jam. Oleh karena itu dianjurkan
agar seekor kuda betina yang birahi dikawinkan tiap hari atau dua hari sekali mulai pada hari
ketiga awal timbulnya birahi (Blakely dan Bade, 1991). Estrus kuda betina yang baru beranak
dapat dihitung dengan kisaran 9 hingga 30 hari sesudah beranak (McBane, 1991).

 Kebuntingan

Pengujian kebuntingan dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya adalah palpasi
rektal, tes darah, tes urin, dan ultrasound (McBane, 1991). Rataan masa kebuntingan seekor kuda
betina adalah 335 hari dengan kisaran 315 sampai 350 hari (Blakely dan Bade, 1991).
Kegemukan pada betina bunting harus dihindari karena dapat menyebabkan kesulitan dalam
pemeriksaan kebuntingan khususnya diakhir kebuntingan. Kuda juga harus sering latihan untuk
menjaga kondisi tubuh kuda betina (Morel, 2008). Betina yang sedang bunting dan mendekati
masa beranak akan terlihat lesu, namun beberapa betina akan bersikap agresif (Kilgour dan
Dalton, 1984).

Induk kuda yang sedang bunting dan menyusui membutuhkan pakan yang cukup banyak baik
untuk induk maupun anaknya (Jacoebs, 1994).

 Kelahiran

Tanda-tanda menjelang kelahiran diantaranya adalah membesarnya ambing, dan munculnya zat
seperti wax (malam) yang terdapat pada ujung puting. Biasanya dalam waktu 12 sampai 24 jam
saat kelahiran, wax tersebut melunak dan jatuh lalu puting mulai meneteskan air susu, kadang-
kadang tetesan itu agak deras. Jika tandatanda tersebut sudah muncul namun cukup lama
moncong ataupun kaki depan tidak juga muncul, maka proses kelahiran memerlukan bantuan
peternak atau dokter hewan (Blakely dan Bade, 1991).

Plasenta idealnya harus bisa keluar dalam waktu tiga jam setelah beranak dan harus diperiksa
bahwa tidak ada potongan-potongan atau sisa-sisa yang tertinggal karena hal itu dapat
menyebabkan timbulnya infeksi. Bila dalam waktu enam jam tidak keluar seluruhnya, perlu
dimintakan bantuan dokter hewan. Latihan-latihan fisik yang ringan diperlukan guna
merangsang uterus induk agar kembali normal. Perlu disediakan petak kandang sebagai tempat
latihan, pasangan induk dan anak itu dapat dilepas juga ke lapangan rumput (Blakely dan Bade,
1991).

 Pasca kelahiran

Pasca Kelahiran Anak kuda yang baru saja lahir, baik yang prosesnya dibantu maupun tidak,
harus langsung diperiksa kemungkinan adanya kesulitan dalam pernafasan. Membran atau pun
cairan yang menutupi mulut atau lubang hidung harus segera disingkirkan. Berilah waktu selama
dua atau tiga jam agar anak kuda memperoleh kekuatan untuk menyusu pada induknya. Anak
kuda harus cukup memperoleh kolostrum sehingga mendapatkan antibodi, vitamin, dan energi
yang diperlukan untuk memulai dan mempertahankan hidupnya. Antibodi akan membangun dan
memberikan perlindungan pada tubuh anak. Antibodi akan hilang dari kolostrum setelah 24
hingga 36 jam. Anak kuda hampir sepenuhnya tergantung pada kolostrum untuk mendapatkan
kekebalan. Tali pusar hendaknya dibiarkan lepas dengan sendirinya, jangan diikat karena ada
kemungkinan timbul penyakit pada pusar yang bersifat fatal. Yodium dan merthiolate (nama
dagang dari thimerosal antiseptic) diberikan setiap hari setelah tali pusar terputus. Hal ini
dilakukan untuk mencegah masuknya organisme berbahaya kedalam aliran darah (Blakely dan
Bade, 1991). Induk kuda setelah beranak harus dibiarkan menjilati anaknya agar terbentuk ikatan
antara induk dan anak kuda. Induk kuda akan mengenali anaknya saat proses ini sehingga dia
mau merawat dan menyusui anaknya (Morel, 2008).

Defekasi/Urinasi

Tahap-tahap :

 Apetitif : mencium-cium tempat


 Konsumatoris : ekor diangkat kemudian defakasi
 Refraktoris : tempat berak dicium-cium lalu ditinggalkan.

Jantan biasanya membelakangi lahan tempat defekasi, sementara betina menghadapi


lahan dan beraknya. Betina beranak posisi beraknya lebih hati-hati agar tidak mengotori putting
susu. Kuda yang sehat berak : 5 – 12 kali/ hari. kuda lemah / sakit : 7 – 11 kali/hari. Defekasi
dipengaruhi oleh iklim dan sifat makanan.

Membersihkan Tubuh

Badan kotor / gatal digosokkan pada benda lain. Menolak digosok di sekitar kepala, telinga, dan
bawah perut. Untuk kuda yang baru dikenal sebaiknya digosok dibagian leher, gumba dan
punggung.
Istirahat

Dalam kelompok tidak semuanya istirahat / tidur seekor tetap terjaga meskipun kelihatannya
tidur, dan akan bereaksi terhadap gerakan asing, meskipun ringan.

Dua sikap berbaring:

 Kaki depan ditekuk dibawah badan, dada kontak dengan tanah tetapi tidak menahan
badan, kepala terangkat/tegak.
 Berbaring di salah satu sisi, kaki dijulurkan, kepala diletakkan di atas tanah pada sebelah
pipi. Pada saat bangun bagian kaki bagian depan lebih dahulu diangkat.

Perilaku Tidur

 Kuda biasa tidur Selama 7 – 24 jam dengan posisi berdiri


 Jarak dan lama tidur teratur tergantung pada derajar lapar dan iklim
 Anak kuda cara beristirahat lebih sering dengan berbaring (sampai dengan usia 3 bulan)
 Kuda dewasa istirahat dengan berdiri karna mempunyai struktur otot kaki depan yang
sangat kuat. Pada masa pertumbuhan istirahat makin kurang, menyusu kurang

Tiga tahap perkenalan bila dua ekor kuda bertemu:

 Kedua kuda saling mengelilingi dalam jarak tertentu


 Saling menciumkan hidung meneliti badan dan ekor masing-masing dengan hidungnya.
 Bila bisa berteman saling memberi gigitan kecil di leher lawannya.
DAFTAR PUSTAKA

Blakely, J. & D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan (terjemahan). Edisi ke-4. Gadjah

Mada University Press, Yogyakarta.

Freeman, D.W. 2010. An overview of stallion breeding management: Oklahoma

State University. http://osufacts.okstate.edu. [22 Juni 2010].

González, F.L., J.G.E. Flores, F A. Nova, G.Y. Ángel, P.H. Morales, R.M. Loperena, P.E.

Beltrán, & O.A.C.Ortega. 2010. Agronomic evaluation and chemical composition of


African star grass (Cynodon plectostachyus) in the southern region of the state of
Mexico. Tropical and Subtropical Agroecosystems. http://www.ccba.uady.mx/. [22 Juni
2010]

Hartadi, H., Tilman, Reksohadiprodjo, & Soedomo. 1986. Tabel komposisi pakan

untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Jacoebs, T.N. 1994. Budidaya Ternak Kuda. Kanisius, Yogyakarta.

Kilgour, R. & C. Dalton. 1984. Livestock Behaviour a Practical Guide. Granada Publishing,

Great Britain.

Lane, T.J. 2010. Care and Management of the Young Foal. http://foxtrotters.tripod.com/. [22

Juni 2010].

Mansyur, U. 2006. Eksplorasi hijauan pakan kuda dan kandungan nutrisinya. Seminar Nasional

Teknologi Peternakan dan Veteriner. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran,

Bandung.

McBane, S. 1991. Horse Care and Ridding a Thinking Approach. Grillian Cooper, Paperback.
McBane, S. 1994. Modern Stables Manajement. Ward Lock, United Kingdom.

Bowling AT, Ruvinsky A. 2000. Genetic aspect of domestication breed and the origins. Di
dalam: Bowling AT, Ruvinsky A. editor. The Genetic of Horse. New York: Cabi
publishing. hlm 25-52.

Ensminger, M, E. 1962. Animal Science. Animal Agriculture Series. 5th Ed. Printers &
Publisher, Inc. Danville, Illinois.

Edwards, E. H. 1994. The Encyclopedia of Horse. First Published in Great Britan, London.

Edward EH. 1994. Ensyclopedy of Horse. New York: McGraw Hill.

Kilgour, R. & C. Dalton. 1984. Livestock Behaviour a Practical Guide. Granada Publishing,
Great Britain

Soeharjono O.1990. Kuda. Jakarta: Yayasan Pamulang Equstrian Centre.