Anda di halaman 1dari 4

TUGAS 3

ANALISA KERUSAKAN
(FA)

SRI RAMAYANTI TEKNIK METALURGI DAN MATERIAL


UNIVERSITAS INDONESIA
1706990445
Tugas - 03

1. Jelaskan tujuan pengujian metalografi pada FA suatu material serta jelaskan pula
tahapan dalam “preparasi & pengujian” metalografi!
Jawab :
Pengjian metalografi bertujuan untuk menguji karakteristik struktur mikro dari material yang
diuji, selain itu digunakan untuk memberikan informasi tentang tingkat mutu material seperti
fasa, butir, komposisi kimia, orientasi butir, jarak atom, dislokasi, topografi dan sebagainya.

Pada metalografi, secara umum yang diamati adalah dua hal yaitu macrostructure (stuktur
makro) dan microstructure (struktur mikro). Struktur makro adalah struktur dari logam yang
terlihat secara makro pada permukaan yang dietsa dari spesimen yang telah dipoles tapi
belum dietsa. Sedangkan struktur mikro adalah struktur dari sebuah permukaan logam yang
telah dipoles dan dietsa sehingga batas butir terlihat jelas dengan menggunakan perbesaran
sedikitnya 25x.

Secara umum tahapan dalam preparasi dan pengujian metalografi :

a. Pemotongan (Sectioning)
Proses Pemotongan merupakan pemindahan material dari sampel yang besar menjadi
spesimen dengan ukuran yang kecil. Pemotongan yang keliru akan mengakibatkan
diperoleh struktur mikro yang tidak sebenarnya karena telah mengalami perubahan.
Kerusakan pada material pada saaat proses pemotongan tergantung pada jenis
material yang dipotong, alat yang digunakan untuk memotong, juga kecepatan
potong. Pada beberapa spesimen, kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu banyak
dan dapat dibuang pada saat pengamplasan dan pemolesan.
b. Pembingkaian (Mounting)
Pembingkaian diperlukan pada persiapan spesimen metalografi, meskipun pada
beberapa spesimen dengan ukuran yang agak besar namun hal ini tidaklah mutlak.
Untuk bentuk yang kecil atau tidak beraturan sebaiknya dibingkai guna memudahkan
dalam memegang spesimen pada saat proses pngamplasan dan pemolesan. Sebelum
melakukan pembingkaian, pembersihan spesimen haruslah dilakukan dan dibatasi
hanya dengan perlakuan yang sederhana dan detail yang ingin kita lihat tidak hilang.
Sebuah perbedaan akan tampak antara bentuk permukaan fisik dan kimia yang
bersih. Kebersihan fisik yang dimaksud adalah permukaan spesimen bebas dari
kotoran padat, minyak pelumas dan kotoran lainnya, sedangkan kebersihan kimia
adalah permukaan spesimen bebas dari segala macam kontaminasi. Pembersihan ini
bertujuan agar spesimen hasil pembingkaian tidak retak atau pecah akibat pengaruh
1
kotoran yang ada. Dalam pemilihan material untuk pembingkaian yang perlu
diperhatikan adalah perlindungan dan pemeliharaan spesimen. Bingkai haruslah
memiliki kekerasan yang cukup, meskipun kekerasan bukan merupakan suatu
indikasi dari karakteristik abrasif. Material bingkai juga harus tahan terhadap distorsi
fisik yang disebabkan oleh panas selama pengamplasan, selain itu juga harus dapat
melakukan penetrasi ke dalam lubang yang kecil dan bentuk permukaan yang tidak
beraturan. Bahan yang dapat digunakan untuk pembingkaian adalah resin.
c. Pengerindaan, Pengamplasan dan Pemolesan
Pada proses ini dilakukan penggunaan partikel abrasif tertentu yang berperan sebagai
alat pengiris secara berulang-ulang. Partikel-partikel abrasif tersebut disatukan dalam
lembar kertas yang kita kenal sebagai kertas ampelas. Pengamplasan adalah proses
untuk mereduksi permukaan spesimen dengan pergerakan permukaan abrasif yang
bergerak kontinyu sehingga mengikis permukaan spesimen. Dari proses
pengamplasan yang didapat adalah permukaan yang relatif lebih halus atau goresan
yang seragam pada permukaan spesimen. Pengamplasan juga menghasilkan
deformasi plastis lapisan permukaan spesimen yang cukup dalam.
Proses pemolesan menggunakan lembar kain wool untuk menciptakan permukaan
yang sangat halus seperti kaca sehingga dapat memantulkan cahaya dengan baik.
Pada pemolesan biasanya digunakan pasta gigi, karena pasta gigi mengandung Zn
dan Ca yang akan dapat mengasilkan permukaan yang sangat halus. Proses untuk
pemolesan hampir sama dengan pengamplasan, tetapi pada proses pemolesan hanya
menggunakan lembar abrasif yang relatif lebih halus dari pada kertas ampelas.
d. Pengetsaan (Etching)
Etsa dilakukan dalam proses metalografi adalah untuk melihat struktur mikro dari
sebuah spesimen dengan menggunakan mikroskop optik. Spesimen yang cocok
untuk proses etsa harus mencakup daerah poles dengan hati-hati yang bebas dari
deformasi plastis karena deformasi plastis akan mengubah struktur mikro spesimen
tersebut. Proses etsa untuk mendapatkan mikro struktur kontras dapat
diklasifikasikan atas proses etsa tidak merusak (non disctructive etching) dan proses
etsa merusak (disctructive etching).
 Etsa Tidak Merusak (Non Discructive Etching)
Etsa tidak merusak terdiri atas etsa optik dan perantaraan kontras dari struktur
dengan pencampuran permukaan secara fisik terkumpul pada permukaan
spesimen yang telah dipoles. Pada etsa optik digunakan teknik pencahayaan
khusus untuk menampilkan struktur mikro. Beberapa metode etsa optik
adalah pencahayaan gelap (dark field illumination), polarisasi cahaya
mikroskop (polarized light microscopy) dan differential interfence contrast.
Pada penampakan kontras dengan lapisan perantara, struktur mikro 2
ditampilkan dengan bantuan interfensi permukaan tanpa bantuan bahan
kimia. Spesimen dilapisi dengan lapisan transparan yang ketebalannya kecil
bila dibandingkan dengan daya pemisah dari mikroskop optik. Pada
mikroskop interfensi permukaan, cahaya ynag terjadi pada sisa-sisa film
dipantulkan ke permukaan perantara specimen
 Etsa Merusak (Desctructive Etching)
Etsa merusak adalah proses perusakan permukaan spesimen secara kimia
agar terlihat kontras atau perbedaan intensitas dipermukaan spesimen. Etsa
merusak terbagi dua metode yaitu etsa elektrokimia (electochemical etching)
dan etsa fisik (phisical etching). Pada etsa elektrokimia dapat diasumsikan
korosi terpaksa, dimana terjadi reaksi serah terima elektron akibat adanya
beda potensial daerah katoda dan anoda. Beberapa proses yang termasuk etsa
elektokimia adalah etsa endapan (precipitation etching), metode pewarnaan
panas (heat tinting), etsa kimia (chemical etching) dan etsa elektrolite
(electrolytic etching).
Pada etsa fisik dihasilkan permukaan yang bebas dari sisa zat kimia dan
menawarkan keuntungan jika etsa elektrokimia sulit dilakukan. Etsa ion dan
etsa termal adalah teknik etsa fisik yang mengubah morfologi permukaan
spesimen yang telah dipoles.
e. Cleaning (Pembersihan)
Cleaning adalah permbersihan permukaan logam yang belum dan sesuda dietsa dari
kotoran ataupun reagen kimia. Bahkan sangat dianjurkan setiap tahapan selalu
dilakukan pencucian permukaan sampel sebelum masuk tahap berikutnya. Pencucian
dapat dilakukan dengan menggunakan air mengalir sampai pada tahap polishing dan
menggunakan alcohol untuk etsa.
f. Drying (pengeringan)
Tahapa akhir adalah pengeringan sampel sebelum pengamatan mikroskop.
Permukaan sampel harus benar-beanr kering. Air yang tersisa pada permukaan akan
teruapkan saat pengamatan yang dapat merusak lensa mikroskop. Selian itu air juga
bisa mmeberikan interprets yang salah.

2. Jelaskan maksud dari pengujian komposisi kimia & peralatan apa saja yang
digunakan untuk pengujian tersebut
Jawab :

Anda mungkin juga menyukai