Anda di halaman 1dari 21

PROSEDUR OPERASI DAN PEMELIHARAAN (OP)

JARINGAN IRIGASI

Kebutuhan air irigasi untuk Daerah Irigasi diambil dari Sungai yang melintasi di Bendung
pada suatu Daerah Irigasi.

Pengamat Pengairan dan Juru Pengairan harus memantau kegiatan operasional di lapangan
meliputi: rencana tata tanam, pembagian air dan pemantauan debit, curah hujan, banjir dan
lainnya. Kegiatan operasional di lapangan ini dilakukan sepenuhnya oleh Staf Lapangan, yaitu
para Pengamat Pengairan, Juru Pengairan, Petugas Pintu Air (PPA) dan Petugas Operasi
Bendung (POB) yang diwajibkan mengisi formulir Operasi dan Pemeliharaan (OP).

3.1 RENCANA PEMBAGIAN AIR


Pengaturan distribusi air didapatkan sesuai dengan waktu yang diperlukan oleh
tanaman menurut tersedianya air, yaitu pola tata tanam yang sudah ditetapkan.
Pembagian air, yaitu pengaturan dan pengukuran air ke masing-masing petak tersier
melalui jaringan tersiernya. Pembagian air ini dapat dilakukan dengan 2 cara :
a. Cara terus-menerus, apabila air disalurkan mencukupi kebutuhan (setinggi air
normal) kondisi debit air andalan (tersdia) 100 %.
b. Cara giliran, apabila debit air andalan (tersedia) disalurkan tidak mencukupi
kebutuhan (kurang dari 70 %).
Metoda faktor K digunakan untuk merencanakan pembagian air. Jaringan Irigasi
didesain untuk dioperasikan dengan anggapan air pada semua saluran primer,
sekunder dan tersier mengalir terus-menerus (debit andalan cukup) memenuhi
kebutuhan air irigasi, kecuali dalam periode sangat kekurangan air atau dan pada
waktu banjir.
Debit air pada setiap saluran tidak boleh melampaui kapasitas desain. Untuk
pengontrolan maka aliran air pada setiap pengambilan harus dipantau sekurang
kurangnya dua kali sehari oleh Petugas Pintu Air (PPA).
Pola dan Jadwal tanam di suatu Daerah Irigasi direncanakan sesuai dengan hasil
analisis keseimbangan air (analisis ketersediaan air), yaitu:
Pola Tanam : Padi – Padi – Palawija (kacang-kacangan)
Jadwal Tanam : MT - I (Padi) mulai tanam (disesuaikan dengan bulan MT)
MT - II (Padi) mulai tanam (disesuaikan dengan bulan MT)
MT - III (Palawija) mulai tanam (disesuaikan dengan bulan MT)
Kebutuhan air untuk tanaman padi menurut golongan adalah sebagai berikut :
3.1.1 Langkah-langkah Persiapan Rencana Pembagian Air (RPA)
1. Langkah ke 1 :
Ketua P3A/Ulu-ulu mengisi blangko 01-0 (Rencana Luas Tanam Per-Petak
Tersier) pada kolom usulan kemudian disampaikan ke Juru Pengairan.
2. Langkah ke 2 :
Dari blangko 01-0, Juru Pengairan membuat kutipan usulan (P3A) ke blangko
02-0 (Rencana Tanam Per Wilayah Juru Pengairan Per Musim Tanam/MT).
3. Langkah ke 3 :
Komisi Irigasi membuat surat keputusan tentang Rencana pola Tata Tanam yang
didalamnya tercantum lampiran Keputusan Komisi Irigasi mengenai Rencana Tata
Tanam Global (RTTG).
Di dalam Rencana Tata Tanam Global (RTTG) dimunculkan juga Neraca airnya.
4. Langkah ke 4 :
Dari Rencana Tata Tanam Global (RTTG) dipindahkan ke blangko 02-0 kolom
kutipan Keputusan Komisi Irigasi yang mendetail sampai per petak tersier per
Wilayah Juru Pengairan. Kemudian dipindahkan ke blangko 01-0 kolom
keputusan Komisi Iirigasi luas tanam per petak tersier untuk diberikan kepada
masing-masing P3A/Ulu-ulu.
5. Langkah ke 5 :
Juru Pengairan mulai mengumpulkan data laporan :
Laporan usulan luas tanam per petak tersier per periode setengah bulanan dari
P3A atau Ulu-ulu (Blangko 04-0) setiap tanggal 10 dan tanggal 25 setiap
bulannya.
Data harus dikumpulkan sesuai dengan tanaman yang terdapat dipetak tersier
Rencana tanam untuk periode pemberian air setengah bulan berikutnya.
Blangko 04-0 digunakan untuk mengisi kedua blangko tersebut dan Juru
Pengairan harus mengecek di lapangan.
Bila terdapat gadu (tanaman) tidak ijin (tidak sesuai kesepakatan Pola Tanam)
harus dicatat juga.
6. Langkah ke 6 :
Dengan terkumpulnya data isian dalam blangko 04-0 kemudian masukkan
blangko 05-0 (Rencana kebutuhan air di pintu tersier) masing-masing petak.
Dari blangko 05-0 dengan satuan kebutuhan air di masing-masing Daerah
Irigasi yang bersangkutan dan dapat dihitung kebutuhan air di sawah.
7. Langkah ke 7 :
Berdasarkan kebutuhan air di pintu tersier dapat dihitung kebutuhan air di saluran
sekunder dan saluran induk (intake/pengambilan) pada blangko 07-0 setiap periode
setengah bulanan.
Dalam blangko 07-0 juga ditulis :
 Realisasi debit pada periode sebelumnya (l/dt)
 Ditulis juga rencana kebutuhan air pada periode pemberian air tersebut, yaitu
kebutuhan air di pintu tersier (Qt), kebutuhan lain-lain (Q1), debit hilang di
saluran pembawa (Qsp) dan debit suplesi (Qspl)
 Dengan demikian kebutuhan air di bangunan bagi (Qb) dapat dihitung dengan
rumus :

Qb = Qt + Q1 + Qsp + Qspl

Selanjutnya kita usulkan faktor K yang diharapkan.


8. Langkah ke 8 :
Untuk menghitung faktor K pada blangko 09-0 dibutuhkan data :
Debit dialirkan (Qa) dari blangko 08-0
Debit atau kebutuhan air di pintu tersier (Qt), kebutuhan lain-lain (Q1),
kehilangan air (Qsp), debit suplesi (Qspl) dan kebutuhan air di bangunan bagi
(Qb).
Dari data tersebut di atas, dapat dihitung faktor K nya dengan rumus :

( Qa + Qspl ) + ( Q1 + (Qsp )
K =
Qt

Penjelasan : Qa = Debit dialirkan (l/dt)


Qspl = Debit suplesi (l/dt)
Q1 = Keperluan lain ( pabrik dan lain-lain ) (l/dt)
Qsp = Debit hilang di saluran pembawa (l/dt)
Qt = Debit tersedia (l/dt)
Setelah faktor K didapat, kemudian dimasukkan di blangko 07-0 pada kolom
12 yaitu debit diberikan
Dari perhitungan faktor K dapat dihitung kebutuhan air di petak tersier masing
masing dan diisikan pada skematik pembagian air.
Kemudian para penjaga pintu air melaksanakan pembagian air berdasarkan
kebutuhan di masing-masing petak dan debit yang lewat sadap tersier dan
bangunan pengatur diisikan ke Papan Operasi. Papan Operasi dimaksudkan
agar yang bersangkutan (para petani) dapat mengetahui jatah air yang
diberikan.
9. Langkah ke 9 :
Pelaksanaan pembagian air oleh Petugas Pintu Air (PPA) pada periode pemberian
air setengah bulanan perlu diadakan cek/kontrol oleh Juru Pengairan, Pengamat
Pengairan dan Staf Pengamat Pengairan.
Kegiatan di atas dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh kebenaran/
ketelitian para Petugas Pintu Air (PPA) dalam melaksanakan pembagian/
pemberian air yang kita kenal dengan nama Rasio Penyelenggaraan Pembagian
Air (RPPA).
RPPA dapat dilaksanakan di beberapa bangunan ukur yang dianggap mewakili.
Angka RPPA dapat dihitung dengan rumus :

Qa
RPPA =
Qt

Penjelasan : Qa = Debit dialirkan pada waktu pengecekan (l/dt)


Qt = Debit rencana yang dialirkan (l/dt)
Untuk mengetahui akurat atau tidaknya hasil perhitungan tersebut dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
RPPA antara 0,75 - 1,25 Baik
RPPA 0,60 s/d 0,75 dan 1,25 s/d 1,40 Sedang
RPPA 0,40 s/d 0,60 dan 1,40 s/d 1,60 Kurang
RPPA < 0,40 dan > 1,60 Tidak dapat dipertanggung jawabkan lagi.
3.1.2 Pedoman Pembuatan Rencana Pembagian Air ( RPA )
1. Dalam merencanakan pembagian air dibutuhkan blangko-blanko berikut :
a Blangko (01-0 s/d 09-0)
01-0 = Rencana tanam per petak tersier
02-0 = Rencana tanam per kejuron per masa tanam
03-0 = Lampiran keputusan panitia irigasi tentang Rencana Tata Tanam Global (RTTG).
04-0 = Laporan keadaan air dan tanaman di petak tersier.
05-0 = Rencana kebutuhan air di petak tersier.
06-0 = Pencatatan debit saluran
07-0 = Rencana kebutuhan air di jaringan utama dan faktor K.
08-0 = Pencatatan debit sungai normal.
09-0 = Perhitungan faktor K.
b Papan Operasi.
Macam Papan Operasi.
Papan Operasi Tersier
Papan Operasi Induk dan Sekunder
Papan Operasi Bendung
c Skematik Pembagian Air
2. Petunjuk/Penjelasan Blngko Operasi.
a. Blangko 01-0
Rencana luas tanam per petak tersier.
Blangko ini dibuat 2 ganda (kuning-biru) oleh P3A/Ulu-ulu pada kolom
"Usulan P3A" diilaporkan kepada Pengamat Pengairan melalui Juru Pengairan.
Pada kolom "Keputusan Komisi Irigasi" dibuat oleh Pengamat Pengairan
dengan dibantu Juru Pengairan setelah memperoleh data dari Seksi OP
Pengairan/SDA dan dikembalikan ke P3A (biru).
b. Blangko 02-0
Rencana Tanam Per Wilayah Juru Pengairan Per Musim Tanam (MT).
Blangko ini dibuat 3 ganda (putih-kuning-hijau) oleh Pengamat Pengairan
dibantu Juru Pengairan dan Staf Pengamat pada kolom "kutipan usulan P3A"
dilaporkan kepada Seksi OP Pengairan/SDA.
Pada kolom "Keputusan Komisi Irigasi" dibuat oleh Seksi OP Pengairan/SDA
setelah ada Surat Keputusan Komisi Irigasi Kabupaten, diberikan kepada
Pengamat Pengairan (kuning) dan Juru Pengairan (hijau).
c. Blangko 03-0
Lampiran Keputusan Komisi Irigasi mengenai Rencana Tata Tanam Global
(RTTG).
Blangko ini dibuat 4 ganda (3 merah-putih dan kuning) setelah disahkan oleh
Komisi Irigasi Kabupaten, kemudian dikirim kepada Pengamat Pengairan
(kuning), Balai Wilayah Sungai NT II/UPTD (merah), Kepala Bidang
Pengairan/SDA (merah) dan Direktur OP/Kasubdit OP (merah) masing-masing
lewat jenjang organisasi.
d. Blangko 04-0
Laporan Keadaan Air dan Tanaman pada petak Tersier.
Blangko ini dibuat 3 ganda (kuning-hijau-biru) oleh P3A/Ulu-ulu (biru)
dilaporkan kepada Juru Pengairan (hijau) dan kepada Pengamat Pengairan
(kuning).
Laporan diketahui/ditandatangani Juru Pengairan.
e. Blangko 05-0
Rencana Kebutuhan Air di Pintu Tersier.
Blangko ini dibuat 2 ganda (kuning-hijau) oleh Juru Pengairan dilaporkan
kepada Pengamat Pengairan (kuning).
Juru Pengairan menginformasikan kepada P3A yang bersangkutan termasuk
besarnya faktor K yang ditetapkan dalam Blangko 07-0 dan debit yang
dialirkan di masing-masing petak tersier.
f. Blangko 06-0
Pencatatan Debit Saluran.
Blangko ini dibuat 2 ganda (kuning-hijau) oleh Juru Pengairan dan dilaporkan
kepeda Pengamat Pengairan (kuning).
g. Blangko 07-0
Rencana Kebutuhan Air di Jaringan Utama dan Pengusulan Faktor K.
Untuk Daerah Irigasi dalam satu Wilayah Pengamat Pengairan dibuat 1 ganda
(kuning). Untuk Daerah Irigasi dalam beberapa Wilayah Pengamat Pengairan
dibuat 2 ganda (putih-kuning) dan dilaporkan kepada Seksi OP Pengairan/
SDA (putih).
h. Blangko 08-0
Debit Normal Sungai.
Blangko ini dibuat 2 ganda (kuning-hijau) oleh Juru Pengairan dan dilaporkan
kepada Pengamat Pengairan (kuning).
i. Blangko 09-0
Perhitungan Faktor K.
Blangko ini dibuat 2 ganda (putih-kuning) oleh Pengamat Pengairan dan
dilaporkan kepada Seksi OP Pengairan/SDA (putih).
j. Blangko 10-0
Pencatatan Debit Sungai Banjir
Blangko ini dibuat 3 ganda (putih-kuning-hijau) oleh Juru Pengairan
dilaporkan kepada Pengamat Pengairan (kuning) dan Seksi OP Pengairan/
SDA (putih). Apabila dalam satu Daerah Irigasi terdapat lebih dari satu
Wilayah Pengamat maka perhitungan dan penetapan faktor K dilakukan oleh
Seksi OP Pengairan/SDA (putih).
k. Blangko 11-0
Pencatatan Curah Hujan.
Blangko ini dibuat 3 ganda (putih-kuning-hijau) oleh Juru Pengairan dan
dilaporkan kepada Pengamat Pengairan (kuning) dan Seksi OP Pengairan/
SDA (putih).
l. Blangko 12-0
Data Curah Hujan Tahunan.
Blangko ini dibuat 3 ganda (merah-merah-putih) oleh Seksi OP Pengairan/
SDA dan dilaporkan kepada Balai Wilayah Sungai NT II/UPTD (merah) dan
kepada Kepala Bidang Pengairan/SDA (merah).
m. Blangko 13-0
Data Debit Sungai Tahunan.
Blangko ini dibuat dalam 4 ganda (merah-merah-putih-kuning) oleh Pengamat
Pengairan. Dilaporkan kepada Seksi Pengairan (putih), Balai Wilayah Sungai
NT II (putih) dan Kepala Bidang Pengairan/SDA (merah).

n. Blangko 14-0
Laporan Produktifitas dan Neraca Pembagian Air per Daerah Irigasi.
Blangko ini dibuat dalam 4 ganda (merah-merah-putih-kuning) oleh Pengamat
Pengairan untuk Daerah Irigasi dalam satu Pengamat dan oleh Seksi OP
Pengairan/SDA untuk Daerah Irigasi pada beberapa Wilayah Pengamat.
Pelaporan dilakukan kepada Seksi OP Pengairan/SDA (putih), Balai Wilayah
Sungai NT II (merah) dan Kepala Bidang Pengairan/SDA (merah).
o. Blangko 15-0
Realisasi Luas Tanam per Daerah Irigasi selama masa Tanam. Blangko ini
dibuat 2 ganda (putih-kuning) oleh Juru Pengairan untuk satu Wilayah Juru
Pengairan dan oleh Pengamat Pengairan untuk beberapa Wilayah Juru
Pengairan dalam satu Daerah Irigasi, sedangkan untuk beberapa Wilayah
Pengamat dalam satu Daerah Irigasi atau lebih dilakukan oleh Seksi OP
Pengairan/SDA. Dilaporkan kepada Kepala Bidang Pengairan/SDA (putih).
p. Blangko 16-0
Realisasi Luas Tanam per Seksi Pengairan selama setahun.
Blangko ini dibuat dalam 4 ganda (merah-merah-merah-putih) oleh Seksi OP
Pengairan/SDA dan dilaporkan kepada Balai Wilayah Sungai NT II (merah),
Kepala Bidang Pengairan/SDA (merah), dan Direktur OP/Kasubdit OP
(merah).
3. Cara Pengisian Blangko-blangko dalam kegiatan operasi.
1. Blangko 01-0 : Rencana Luas Tanam Per Petak Tersier
Kira-kira 3 bulan sebelum memulai MT-1 di tiap-tiap Seksi OP Pengairan/
SDA, untuk tiap petak tersier harus diisi bagian (1) Blangko 01-0, atas
permintaan penanaman di tahun yang akan datang oleh P3A di petak tersier itu,
dan disampaikan ke Juru Pengairan yang bersangkutan. Jika ada petak tersier
yang belum ada P3A atau P3A belum aktif, maka permintaan ini boleh diisi
oleh Juru Pengairan yang bersangkutan bersama Kepala Desa/Lurah yang
bersangkutan harus dilibatkan. Apabila petak itu lebih dari satu
Desa/Kelurahan, blangko 01-0 akan ditandatangani oleh Kapala Desa/Kepala
Kelurahan yang luas sawah irigasinya paling besar di petak tersebut.
Setelah RTTG per Daerah Irigasi disahkan oleh Komisi Irigasi dan Dinas
Pengairan/Bidang Pengairan/SDA/Dinas PU harus mengisi bagian (2) dari
blangko 01-0. Satu copy blangko yang sudah lengkap harus diberikan
selambat-lambatnya pada satu bulan sebelum MT-1 dimulai kepada P3A/Ulu-
ulu.
2. Blangko 02-0 : Rencana Tanam Per Juru Per Masa Tanam
Bagian (1), dalam blangko 01-0 yang oleh Pengamat Pengairan merupakan
ringkasan dari bagian (1) dalam blangko 01-0 yang sudah diterima dan
diperiksa olehnya. Pengisian ini harus diselesaikan dan diajukan ke Seksi OP
Pengairan/SDA selambat-lambatnya pada 2,5 bulan sebelum mulai MT-1 di
daerah Seksi Pengairan yang bersangkutan. Satu blangko harus dilengkapi
untuk setiap Musim Tanam (MT), dan blangko-blangko ini harus dibuat per
Daerah Irigasi setelah RTTG per Daerah Irigasi disahkan oleh Komisi Irigasi,
Seksi Pengairan harus mempersiapkan rencana secara terinci, yakni RTTD
untuk tiap petak tersier, menurut RTTG yang sah itu dan membetulkan
blangko 02-0 bagian (1), dan kemudian RTTD petak tersier masing-masing
pada bagian (2) dalam blangko ini pada waktu 1,5 bulan sebelum MT-1
memulai.
3. Blangko 03-0 : Lampiran Panitia Irigasi Mengenai RTTG Per Daerah Irigasi
Di blangko ini tercantum isi keputusan tentang RTTG bagi semua Daerah
Irigasi. Di dalam daerah satu Wialayah Seksi OP Pengairan/SDA.
Keputusan itu dibuat oleh Panitia Irigasi Kabupaten yang bersangkutan sambil
konsultasi dengan Dinas Pengairan/SDA/PU dan Dinas Pertanian Kabupaten
yang bersangkutan.
Usulan RTTG tiap Daerah Irigasi. Perlu dilangkapi dengan analisa neraca air,
dan memperhitungkan parameter lain pada Daerah Irigasi/Lokasi yang
bersangkutan.
4. Blangko 04-0 : Laporan Keadaan Air dan Tanaman Pada Petak Tersier
Blangko ini dimaksudkan untuk diisi dalam 5 kelompok :
a. Keputusan target areal tanaman, yang sumber datanya ada pada blangko
01-0 bagian (2).
b. Realisasi luas tanam pada akhir periode Musim Tanam (MT I) sebelum
masuk ke periode rencana Musim Tanam (MT II).
c. Usulan luas tanam, untuk periode rencana seperti disebut didepan ini.
d. Keadaan air irigasi di petak tersier perlu dicatat luas areal tanaman yang
ada kelebihan dan atau kekurangan air.
e. Pencatatan luas tanam yang mengalami kerusakan, karena kekeringan atau
kebanjiran. Data untuk blangko ini bagian (2) s/d (5) harus
dikumpulkan/diisi oleh P3A tiap setengah bulan pada tanggal 10 dan 25
tiap bulan. Blangko tersebut harus diserahkan pada tanggal tersebut kepada
Juru Pengairan, untuk mengetahuinya dan diteruskan sesuai jenjang
organisasi.
5. Blangko 05-0 : Rencana Kebutuhan Air di Pintu tersier
Blangko ini harus diisi oleh Juru Pengairan pada tanggal 12 dan 27 setiap
bulan. Data kolom “Usulan Luas Tanam” dipindahklan dari blangko 04-0, dan
kemudian dikalikan dengan angka tercantum dalam kolom “Satuan Kebutuhan
Air di Sawah”. Angka-angka untuk satuan kebutuhan air dapat bervariasi dari
satu daerah dengan daerah lainnya, maka yang tercantum dalam blangko ini
hanya sebagai referensi/acuan saja.
6. Blangko 06-0 : Pencatatan Debit Saluran
Juru Pengairan mencatat debit air setiap hari pada blangko ini, dan juga harus
mengisi kolom “Cara Pengukuran Debit” dan “Kondisi Alat Ukur”. Dalam
prakteknya, semua Bangunan Bagi, Sadap, Bagi/Sadap dan Pengatur lainnya
harus dicatat debit airnya, biarpun alat ukur sudah rusak, penggantian harus
segera dilakukan.
Pencatatan debit harus dilakukan pada jam tertentu setiap hari, misalnya jam
08.00 WIB atau disesuaikan dengan waktu/kesempatan Juru Pengairan.
Catatan-catatan :
Blangko ini tiap tanggal 13 dan 28 dibuat satu copy (untuk keperluan
mengerjakan blangko 07-0) dikirimkan ke Pengamat Pengairan dan aslinya
terus diisi sampai akhir periode (setengah bulanan), inilah merupakan catatan
debit saluran yang lengkap untuk setiap setengah bulanan.
7. Blangko 07-0 : Rencana Kebutuhan Air di Jaringan Utama dan Pengusulan
Faktor K
Blangko ini diisi oleh Staf Pengamat Pengairan dan disetujui tanggal 14 dan 29
tiap bulan, data dari blangko 05-0 harus dipindahkan ke kolom 7 dalam
blangko ini.
Isi blangko mulai dari petak tersier paling hilir jaringan saluran lalu menuju ke
petak tersier paling hulu. Semua sadap yang berada di suatu ruas sekunder diisi
kebutuhan airnya masing-masing (dari blangko 05-0), lalu diisi kebutuhan
lainnya, kehilangan air beserta suplesi diruas itu. Semua data itu dijumlahkan
menjadi kebutuhan debit untuk ruas tersebut.
Debit ini ditambah jumlah kebutuhan air di ruas bagian hilir bila ada, akan
didapat debit yang dibutuhkan pada bangunan bagi yang langsung memberi air
masuk ke ruas itu.
Selanjutnya jumlahkan data untuk setiap saluran sekunder dan saluran primer,
kemudian Juru pengairan menghitung faktor K menggunakan data dari blangko
08-0 (catatan debit sungai), dengan menggunakan blangko 09-0. Bilamana + 0,
7 < K < 14, 0 kebutuhan air (kolom 7 dan 11) pada pintu-pintu air harus
dikalikan nilai K untuk mendapat debit yang akan diberikan (kolom 12). Tetapi
jika dalam satu Daerah Irigasi. Terdapat lebih dari satu Juru Pengairan maka
perhitungan dan penetapan faktor K harus ditetapkan oleh Seksi OP Pengairan/
SDA.
8. Blangko 08-0 : Pencatatan Debit Normal Sungai
Blangko ini untuk Kantor Dinas PU, Balai Wilayah Sungai NT II, Bidang
Pengairan/SDA, Seksi OP Pengairan/SDA tidak digunakan, karena debit yang
ada di masing-masing saluran sekunder diambil dari saluran induk.
9. Blangko 09-0 : Perhitungan Faktor K
Diisi lengkap oleh Pengamat Pengairan pada tanggal 15 berdasarkan data dari
blangko 07-0 dan blangko 09-0.
a. Bagian (1) debit diperlukan (contoh) :
Dari blangko 07-0 kolom 7 total kebutuhan air
di pintu tersier (Qt) …………………….. 217 l/dt
Keperluan lain untuk penduduk (Q1) …….…….. 20 l/dt
Q Hilang (Qh)…………………………………… 30 l/dt
Q Suplesi (Qsp-dianggap negatif)……………… 20 l/dt

Qb = Qt + Q1 + Qh – Qsp

b. Bagian (2) Debit tersedia


Bila debit disungai berubah drastis maka, faktor K harus dihitung lagi
dengan menggunakan blangko 09-0 yang baru.
c. Bagian (2) Debit dialirkan
Semua air yang mengalir dari sungai diambil sehingga q tersedia = Q
dialirkan.
Dari luas areal pada Daerah Irigasi Impor dan kebutuhan air irigasi di
dapat:
Q Saluran Primer = 1.66 lt/dt
Disini diketahui bahwa Q tersedia < Q min Saluran, maka pemberian air
secara giliran dimungkinkan.
d. Bagian (4) Perhitungan Faktor K
Faktor K dihitung dengan menggunakan tabel 4 pada blangko 09-0.

Total air tersedia di pintu tersier


K =
Total kebutuhan air di pintu tersier

( Q dialirkan + Qsp ) – ( Q1 + qh )
=
Qt
Setelah menghitung K debit baru, untuk tiap tersier secara sederhana
dihitung pada blangko 07-0 dengan mengalirkan nilai-nilai dari kolom 7
dengan K.
10. Blangko 10-0 : Pencatatan Debit Sungai Banjir
Blangko ini untuk Kantor Dinas PU, Balai Wilayah Sungai NT II, Bidang
Pengairan/SDA, Seksi OP Pengairan/SDA tidak digunakan, karena debit yang
ada di masing-masing saluran Sekunder dan Indukdiambil dari debir di Sungai.
11. Blangko 11-0 : Pencatatan Curah Hujan Tahunan
Dalam blangko ini nomor/nama dan ketinggian/elevasi tiap hujan harus
disebut/dicatat setiap hari hujan. Pembacaan kuantitas hujan dalam alat
penakar ditulis dalam mm dan diisi di kolom yang disediakan. Curah hujan
diukur pada jam 07.00 wib pagi dan harus ditanggali untuk hari membaca itu,
bukan tanggal hujan jatuh. Curah hujan harus diukur sampai angka mm yang
dibulatkan misalnya :
3,1 s/d 3,4 mm ditulis 3 mm
3,5 s/d 3,9 mm ditulis 4 mm
Dan untuk :
0,4 mm atau kurang di tulis 0
tidak ada hujan ditulis 0
penakar rusak ditulis H ( dicatat bila ada hujan ) tidak dibaca ditulis X
Juru Pengairan harus segera diberitahu. Bilamana ada keragu-raguan dalam
menuliskan sebuah angka tentang jumlah curah hujan lebih baik menuliskan
angka “H” karena datanya akan diperoleh dari stasiun hujan yang terdekat.
Tiap lembar blangko 11-0 ini cukup untuk mencatat 3 stasiun penakar hujan
selama satu bulan. Maka blangko ini dikirim oleh Juru Pengairan ke Seksi OP
Pengairan/SDA tiap tanggal 2 pada bulan berikutnya, hanya dengan isian curah
hujan saja. Sedang barisan-barisan lain untuk pengolahan kuantitas curah hujan
harian yang dicatat itu dikerjakan oleh Staf Kantor Seksi OP Pengairan/SDA
dan disetujui Kepala Bidang Pengairan/SDA. Data dari pengolahan tersebut
mencakup jumlah hujan, jumlah hari hujan, rata-rata hujan harian selama
setengah bulan, hujan minimum dan hujan maksimum dalam periode itu.
Rata-rata hujan dihitung hari-hari yang ada dan tiada curah hujan, tetapi tidak
termasuk hari-hari yang ada hujan tapi penakar rusak atau belum dibaca juga
(H).
12. Blangko 12-0 : Data Curah Hujan Tahunan
Isi blangko ini dikerjakan oleh Seksi OP Pengairan/SDA, untuk menunjukkan
pendaftar curah hujan harian per bulan dalam satu tahun kalender bagi tiap
stasiun penakar hujan. Pada bulan Pebruari blangko yang diisi lengkap dikirim
ke biro meteorologi yang bersangkutan, Direktur/Kasubdit OP Pusat.
Selain mengutip data curah hujan harian dari blangko 11-0, dalam blangko 12-
0 juga dihitung jumlah hujan bulanan, tahunan dan hujan harian maksimum
harian dalam tiga bulan.
13. Blangko 13-0 : Data Curah Hujan Tahunan
Blangko ini untuk Kantor Dinas PU, Balai Wilayah Sungai NT II, Bidang
Pengairan/SDA, Seksi OP Pengairan/SDA tidak digunakan, karena Data Curah
Hujan di catat dari Stasiun Hujan terdekat atau dari Kantor BMG setempat.
14. Blangko 14-0 : Laporan Produktifitas dan Neraca Pembagian Air Per DI.
Saat satu Musim Tanam (MT) di suatu Daerah Irigasi baru, maka Pengamat
Pengairan beserta stafnya harus segera mengisi blangko 14-0 bagian (1) :
realisasi tanam, luas tanam selama setiap setengah bulanan, dan juga luas
tanaman yang mengalami kerusakan.
Dalam blangko 14-0 ini bagian (4) untuk menyajikan keadaan air dan bagian
(5) untuk menunjukkan produksi per jenis/kelompok tanaman. Dibagian (4)
berisi hal-hal sebagai berikut antara lain:
 Debit residu dan debit masuk Daerah Irigasi termasuk suplesi :
Semuanya debit rata-rata 1/2 bulanan (datanya dari blangko 08-0 dan
09-0).
 Debit keluaran dari Daerah Irigasi termasuk yang disadap (diambil) pada
pintu tersier dan diluar pintu tersier (datanya dari blangko 06-0), dan
taksiran kehilangan air di saluran primer/sekunder (datanya dari blangko
07-0). Semuanya adalah debit rata-rata dalam periode 1/2 bulanan.
 Dari debit-debit yang bersangkutan neraca air (kolom 23) per 1/2 bulanan.
 Nilai faktor K rata-rata periode 1/2 (datanya dari blangko 09-0).
 Nilai ratio antara debit air, diambil (kolom 14, datanya dari blangko 08-0)
dan debit air rencana (kolom 21, datanya dari blangko 07-0), ditulis dalam
kolom 24.
 Untuk Daerah Irigasi yang meliputi lebih dari satu stasiun hujan harus :
a. Dihitung hujan rata-rata dengan sistem polygon atau cara lain lebih
sederhana.
b. Pilih satu stasiun hujan yang dapat mewakili Daerah Irigasi yang
disebut pada blangko ini.
 Perhitungan neraca air dari ratio tersebut, yang masing-masing mengambil
data dari kelompok lain yang bersangkutan, diberikan rumusnya dalam
bagian penjelasan.
15. Blangko 15-0 : Realisasi Luas Tanam per Daerah Irigasi Selama Masa
Tanam.
Blangko menyangkut rencana/target luas tanam dan realisasinya setiap musim
tanam (MT1, MT2) bagi setiap Daerah Irigasi. Pengisiannya harus diolah
dengan menggunakan data dari blangko 02-0 (untuk bagian rencana/target) dan
blangko 04-0 (untuk bagian realisasi). Mengenai jumlah luas padi ijin dan padi
tanpa ijin yang ada di Daerah Irigasi itu diisi dalam bagian realisasi luas tanam.
Pada blangko ini luas areal tanam yang pernah mengalami bencana kekeringan
dan atau genangan/kebanjiran dalam setiap masa tanam itu diisikan juga.
Blangko 15-0 ini dikerjakan oleh Juru Pengairan setelah tiap MT baru lewat,
dan isinya yang lengkap dikirim ke Seksi OP Pengairan/SDA pada awal bulan
kedua setelah setiap MT lewat/berlalu, sebab hampir semua Daerah Irigasi
ditanam lebih satu musim tanam tiap tahun, maka setelah satu musim tanam
tahunan sudah lewat isi blangko 15-0 ini dari semua Daerah Irigasi. Perlu
dibuat rekapitulasi untuk periode selama satu masa tanam tahunan.
Blangko 15-0 yang sudah diisi lengkap untuk setiap MT harus dikirim ke Seksi
OP Pengairan/SDA pada akhir bulan ke 2 setelah MT itu berakhir.
4. Rapat di Kantor Pengamat Pengairan.
Tiap tanggal 30/31 dan tanggal 15 diadakan rapat di Kantor Pengamat yang
dihadiri oleh :
 Kepala Seksi OP Pengairan/SDA beserta staf
 Para Juru Pengairan
 Petugas Pintu Air (PPA)
Pada rapat tersebut dibahas segala masalah O&P khususnya yang menyangkut
rencana pembagian air untuk periode mendatang antara lain :
 Rancana Pembagian Air (RPA)
 Kondisi ketersediaan air (debit andalan)
 Usulan luas tanam berdasarkan keadaan tanaman di lapangan dan debit saluran
pada periode mendatang.
 Perhitungan faktor K dan pemberian air
 Persiapan giliran dalam petak tersier kalau debitnya kecil karena debit sungai
menurun drastis
Kesimpulan pokok hasil rapat adalah :
 Didapat besarnya faktor K ( K1 )
 Tiap tanggal 1 dan tanggal 16 diadakan rapat P3A/Ulu–ulu untuk
mengumumkan hasil rapat tanggal 30/31 dan tanggal 15.
Rapat dihadiri oleh :
 Seksi OP Pengairan/SDA beserta staf
 Para Juru Pengairan dan PPA serta POB
 Para P3A/Ulu-ulu.
Dari hasil rapat Juru Pengairan harus mencatat bagian dari blangko-blangko yang
berkaitan dengan pintu tersier dan pintu bangunan bagi, sadap, bagi/sadap dan
bang. sadap di daerah masing-masing yaitu :
No Data Sumber (Blangko No.)
a. Debit diberikan 07-0
b. Faktor K 09-0
c. Debit diperlukan di pintu tersier 09-0
d. Keperluan lain-lain (Q1) 09-0
e. Kehilangan (Qh) 09-0
f. Suplesi (Qsp) 09-0
g. Kebutuhan air di bang Bagi (Qb) 09-0
h. Data tanaman 04-0
I. Kebutuhan air dipintu tersier (Qt) 07-0
5. Papan Operasi.
a. Pada tanggal 17 dan tanggal 2 jam 08.00 Juru Pengairan yang dibantu para
Petugas Pintu Air melaksanakan pengoperasian pembagian/pemberian jatah air
yang harus diberikan.
Pelaksanaan pembagian/pemberian air yang nyata (berdasarkan debit
kenyataan yang diukur pada bangunan ukur) diisikan pada Papan Operasi pada
Bangunan Utama (Bendung), Jaringan Primer (Induk), Papan pada Jaringan
Sekunder dan Papan Operasi pada Jaringan Tersier.
Tulisan pada papan eksploitasi adalah :

Tinggi bukaan : h = …………………………Cm


Debit Kenyataan : Q = ………………………….lt/dt

b. Pada tanggal seterusnya Juru Pengairan dibantu Petugas Pintu Air memonitor
debit kenyataan disemua pintu bagi dan tersier dan melaporkannya (diisi) ke
dalam blangko 06-0 tiap hari yang termuat dalam Buku Petugas Pintu Air
(PPA) dan Petugas Operasi Bendung (POB) pada buku catatannya.
Apabila pintu telah dioperasikan/diatur dengan debit yang benar juru pengairan
tidak boleh merubah-rubah pintu sebelum menerima perintah baru dari
Pengamat Pengairan.
Debit kenyataan adalah pencatatan debit air saluran yang nantinya dievaluasi
dan akan bermanfaat untuk lebih memantapkan perencanaan pembagian air
pada periode musim tanam yang akan datang.
Dari evaluasi debit kenyataan pada jaringan utama (intake/pengambilan,
bangunan bagi, bagi sadap dan sadap) dapat diketahui :
 Besarnya kehilangan air di jaringan utama
 Besaran Rencana Penyelenggaraan Pembagian Air (RPPA) dengan
kategori baik, sedang atau kurang.
Secara normal akan ada fluktuasi debit yang terjadi dari hari ke hari, tetapi
dengan tidak merubah-rubah letak pintu, perubahan ini akan dibagi sama rata
ke semua pintu sadap.
Bila terjadi fluktuasi/perubahan debit lebih besar atau lebih kecil dari 10 %,
maka Seksi OP Pengairan/SDA harus menghitung kembali faktor K.
Juru Pengairan boleh merubah operasi pintu tanpa perintah dari Pengamat
Pengairan dengan mengurangi arus debit ke saluran, apabila terjadi kelebihan
kebutuhan air atau kelebihan kapasitas saluran. Terutama bila curah hujan di
daerah oncoran  75 mm semua pintu tersier dan intake harus ditutup.
6. Perubahan Faktor K
Kalau terjadi perubahan debit tersedia lebih besar atau lebih kecil dari 30 % maka
faktor K dihitung kembali. Nilai faktor K dapat beberapa kali (K1, K2, dst). K1
untuk periode mulai tanggal 17 dan tanggal 2. K2 untuk dihitung pada tanggal
apabila perubahan debit yang tersedia menyolok > 30 %. K3 untuk periode
berikutnya yang terjadi pada keadaan tersebut diatas.

3.2 PROSEDUR PERENCANAAN POLA TANAM


Dalam menyusun pola tanam pada suatu daerah irigasi perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
1. Keinginan dan kebiasaan petani.
2. Kebijaksanaan Pemerintah.
3. Kesesuaian lahan.
4. Ketersediaan air.
5. Iklim.
6. Ketersediaan tenaga kerja.
7. Input usaha tani.
3.2.1. Rencana Tata Tanam dan Persetujuan.
Pada awal Juli diadakan rapat yang dihadiri oleh P3A, Penyuluh Pertanian dan Dinas
Pengairan.
1. Rencana Tata Tanam Global (RTTG).
 Tiga bulan menjelang MT, P3A menyusun rencana luas tanam per petak
tersier, menggunakan Blangko 01-0.
 Pada pertengahan September Juru Pengairan menyusun rencana tanam per Juru
per Musim Tanam dengan menggunakan Blangko 02-0.
 Pada akhir Oktober Komisi Irigasi Kabupaten membuat Surat Keputusan
tentang Rencana Pola Tata Tanam yang lampirannya menggunakan Blangko
03-0 yaitu Lampiran Keputusan Panitia Irigasi mengenai Rencana Tata Tanam
Global (RTTG).
2. Rencana Tata Tanam Detail (RTTD).
 Seksi OP Pengairan/SDA mengisi Blangko 02-0 Rencana Tanam per Juru
Pengairan, per Masa Tanam kolom Komisi Irigasi berdasarkan RTTG.
 Selanjutnya Seksi OP Pengairan/SDA mengisi 01-0 Rencana Luas Tanam per
Petak Tersier pada Keputusan Komisi Irigasi.
3.2.2. Periode Penutupan Saluran.
A. Periode Penutupan Saluran ini merupakan masa pengeringan seluruh jaringan
irigasi. Kegiatan ini diperlukan untuk memeriksa dan melaksanakan pekerjaan
pemeliharaan atau perbaikan tertentu.
B. Dalam masa pengeringan itu setiap bangunan diperiksa dengan teliti terutama
bagian-bagian yang berada dibawah permukaan air. Dengan adanya masa
pengeringan, maka pekerjaan-pekerjaan normalisasi saluran yang terdiri dari
perbaikan tebing saluran dan pengangkatan sedimen (lumpur) bisa dilakukan
dengan mudah.
Prosedur untuk memperoleh persetujuan mengenai periode penutupan saluran ini
dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan rapat Rencana Tata Tanam Global dan
Rencana Tata Tanam Detail.
Secara skematis, prosedur itu dapat digambarkan sebagai berikut:

Rencana Tata Tanam Global

Rencana Tata Tanam Detail

Menjelang selesainya MT. Gadu, Seksi Pengairan menerbitkan Surat


Pemberitahuan Periode Penutupan Saluran berdasarkan RTTG & RTTD

Juru Pengairan menyampaikan Pemberitahuan Seksi OP Pengairan/SDA


kepada Perkumpulan P3A melalui Para Juru

P3A menerima pemberitahuan dengan menyampaikan kepada para petani melalui


pertemuan – pertemuan dengan anggota P3A maupun melaui Ketua – ketua Blok.

C. Setelah masa pengeringan, maka awal tanam padi rendeng dimulai pada 1
Desember. Dengan mengacu pada pengalaman, maka diperlukan waktu peralihan
untuk perjalanan air dari bendung hingga sawah, karena dalam waktu tersebut
seluruh saluran bisa dibuat jenuh. Dengan adanya masa pengeringan tahunan
selam 15 hari maka awal tanam, tata tanam dan pola tanam bisa dikontrol dengan
baik. Disamping itu siklus populasi hama (serangga dan tikus) bisa dipatahkan.
Pengeringan khusus kadang-kadang dijumpai di setiap saluran yang sedang
diperbaiki oleh Proyek. Selama masa konstruksi fisik maka masa pengeringan
diperbolehkan untuk berlangsung hingga tiga bulan, yakni dimulai dari tanggal
panen hingga awal musim tanam berikutnya. Masa Pengeringan tahunan
dimaksudkan oleh Seksi OP Pengairan/SDA kabupaten untuk melaksanakan
pemeliharaan berkala sebagai berikut:
 Perbaikan dan pemulihan saluran-saluran induk dan sekunder dan bangunan-
bangunan silang, bila dijumpai kerusakan dan timbunan waled.
 Perbaikan dan pemulihan saluran-saluran induk dan sekunder dan bangunan-
bangunan silang di jaringan tersier, yang harus dikerjakan oleh P3A.
Gambar 3.1
PROSEDUR RENCANA TANAM TAHUNAN

Rapat antara P3A, Penyuluh Pertanian dan Seksi OP


Pengairan/SDA : Awal Agustus
- Terangkan prosedur rencana tanam
- Bagi blangko 01-0 baru pada P3A
Akhir Agustus.
P3A Mengisi Blangko 01-0
Awal Sept.
Juru mengumpulkan blangko 01-0, dan mengisi blangko 02-0

Kepala Pengamat Pengairan mengumpulkan blangko 02-0 dan Tengah Sept.


mengirimkan ke Seksi OP Pengairan/SDA

Seksi memeriksa blangko02-0, membuat konsep rencana tanam untuk Akhir Sept.
Surat Keputusan Bupati

Rapat Komisi Irigasi untuk menyetujui rencana tanam dan konsep SK Awal Okt.
Bupati

Rapat disetiap kecamatan antara P3A Dinas Pengairan, penyuluh


pertanian membahas konsep SK Bupati Awal Okt.

Rapat Komisi Irigasi untuk menyelesaikan SK Bupati Awal Nov.

Surat Bupati diterbitkan

Catatan :
Berdasarkan atas prosedur Operasi di Modul Training O & P
Gambar 3.2
RENCANA TATA TANAM GLOBAL

P3A (1) P3A (2)


Mengisi Mengisi
Blangko 01-0 Blangko 01-0

Juru mengumpulkan blangko01-0


Mengisi blangko 02-0

Pengamat Pengairan mengumpulkan


blangko 02-0

Cabang menyusun RTTG


(Rencana Tata Tanam Global)

Komisi Irigasi Kabupaten


Mengukuhkan RTTG
Mengisi blangko 03-0

Blangko 03-0 yang telah menunjukan RTTG


dikirim kesemua Pengamat Pengairan
Gambar 3.3
RENCANA TATA TANAM DETAIL

Seksi OP Pengairan/SDA mengisi blangko 02-0


bagian 2 ( RTTD ) berdasarkan RTTG

Pengamat pengairan mengisi blangko 01-0 bagian 2


berdasarkan blangko 02-0

P3A menerima 01-0 dari juru dan memberi informasi kepada


para petani

Para petani mulai merencanakan Tata Tanam

3.3 OPERASI MUSIM HUJAN


3.3.1 Prosedur
Pada musim hujan, jaringan irigasi tidak secara langsung mendapat pengaruh dari
curah hujan. Curah hujan yang terjadi pada musim hujan akan mempengaruhi secara
langsung ketersediaan air di sungai. Dengan bertambahnya ketersediaan air, akan
menambah besarnya faktor K yang dipakai untuk menghitung penggunaan air, baik di
saluran Primer/Induk maupun saluran Sekunder.
Karena ketersediaan air yang rata-rata di atas normal, pada musim hujan, sistem
operasi jaringan irigasi dapat melaksanakan pembagian air secara terus-menerus.
Selain itu staf lapangan (Juru Pengairan, Petugas Pintu Air/PPA, Petugas OPerasi
Bendung/POB) yang bertugas diharuskan menghubungi Pengamat Pengairan dan
Kepala Seksi OP Pengairan/SDA apabila keadaan darurat (bencana Banjir dan
lainnya) diperkirakan akan terjadi.
Selama tahap peringatan keadaan kritis, keadaan bahaya dilaporkan kepada Kepala
Seksi OP Pengairan/SDA Kabupaten, selanjutnya keadaan tersebut akan dilaporkan
kepada tujuh instansi ini melalui telepon sebagai berikut :
 Bupati
 Wakil Bupati
 Sekretaris Daerah Kabupaten (Setda Kabupaten)
 Komandan Distrik Militer (Kodim)
 Kepala Kepolisian Resort (Kapolresta/Kapolres)
 PBPP Kabupaten/SATLAK PBPP Kabupaten
 Instansi Teknis yang terkait.
 Camat yang bersangkutan.
Keadaan bahaya dilaporkan melalui jaringan telepon/HP, tetapi karena tjaringan
elepon/HP tersebut sering tidak berfungsi selama waktu hujan deras atau waktu banjir.
Maka jaringan telepon untuk komunikasi perlu diperkuat dengan SSB untuk musim
penghujan dan juga fasilitas transport yang baik perlu disediakan untuk
menanggulangi keadan bahaya.
Selama musim penghujan staf lapangan dan para petani harus bersiap untuk menjaga
agar pintu-pintu tersier selalu tertutup selama debit air tinggi, hal ini untuk menjaga
saluran-saluran pembuang bersih dari kotoran-kotoran dan untuk memeriksa bahwa
tiap kerusakan pada tanggul di sepanjang saluran segera ditutup.
3.3.2 Tindakan Selama Hujan Lebat
 Staf lapangan dan para petani harus siap terus menerus menjaga agar pintu-pintu
bangunan selalu tertutup/terbuka sedikit selama debit air tinggi.
 Saluran pembuang harus bersih dari kotoran/sampah
 Kerusakan disepanjang tanggul saluran harus segera diperbaiki dengan cara
mengeringkan saluran.
Apabila curah hujan cukup tinggi maka :
 Air irigasi tidak perlu dialirkan ke saluran tersier (Pintu Intake harus ditutup).
 Pada waktu curah hujan tinggi sadap tersier tidak harus ditutup.

3.4 OPERASI MUSIM KEMARAU


Pengoperasian bangunan-bangunan distribusi air dilaksanakan sesuai dengan prosedur
yang direncanakan dalam pembagian air menurut golongannya.
Dari data yang ada dan informasi dari penduduk setempat, dengan sistem operasi yang
sudah berjalan pada musim kemarau terjadi kekurangan air.

3.5 PROSEDUR OPERASI BANGUNAN UTAMA


Bangunan Utama di Daerah Irigasi adalah Bendung serta fasilitasnya dan prosedur
pengoperasiannya mengikuti standart operasi bangunan pengambilan.

3.6 PROSEDUR OPERASI BANGUNAN PENGATUR DAN PENGUKURAN DEBIT


Pembagian air merupakan realisasi dari ketetapan-ketetapan yang berlaku, sehingga
pemanfaatan air bisa mencapai optimal. Agar pemanfaatan air sesuai dengan
kebutuhan tanaman, maka pengaturan pembagian air lewat pintu perlu dioperasikan
sesuai dengan kebutuhan sehingga kebutuhan air di petak-petak tersier dapat dipenuhi.
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur debit adalah alat ukur Ambang Lebar yang
telah banyak dijumpai pada suatu Jaringan Irigasi/Daerah Irigasi, untuk mengetahui
pengoperasian bangunan ukur yang ada secara berkala perlu dilakukan kalibrasi alat
pengukur debit, guna mengetahui tingkat keakurasiannya, sehingga dalam pengukuran
debit dapat lebih teliti dan tingkat akurasinya dapat dipertanggungjawabkan.