Anda di halaman 1dari 1

Perjanjian Renville

Dewan keamanan PBB pada tanggal 31 Juli 1947 melakukan sidang untuk membahas masalah
Indonesia dengan Belanda. Didalam sidang tersebut, delegasi dari Australia dan India mengusulkan
agar dewan keamanan mengambil tindakan terhadap aksi sepihak Belanda yang dianggap
mengancam perdamaian dunia. Agresi militer yang bertajuk “Operatie Product” ini berhenti setelah
adanya protes dari pihak Inggris daa AS melalui Dewan Keamanan PBB pada 4 Agustus 1947 yang
diikuti dengan gencatat senjata antara Belanda dan RI.

Dewan keamanan kemudian mengajukan suatu komisi untuk memfasilitasi perundingan antara RI
dan Belanda. Komisi ini dikenal dengan nama Good Offices Committee (GOC) atau komite Tiga
Negara. GOC terdiri dari negara-negara yang dipilih oleh Belanda dan RI, serta satu negara yang
dipilih oleh kedua negara pilihan tersebut. Saat itu Belanda memilih Belgia untuk duduk di Komisi
tersebut, Sementara RI memilih Australia. Lantas Australia dan Belgia memilih AS sebagai mediator.
Pada 27 Oktober 1947, para perwakilan ketiga negara tiba di Indonesia dan GOC efektif mulai
bekerja.

Perundingan antara RI dan Belanda yang dimediasi oleh GOC dimulai setelah kedatangan kapal
logistik milik angkatan laut AS, yaitu USS Renville pada 2 Desember 1947 di Teluk Jakarta. Seminggu
kemudian, pada 8 Desember 1947, perundingan antara kedua belah pihak secara resmi dibuka.
Perundingan tersebut diadakan di atas geladak kapal Amerika itu karena dianggap sebagai tempat
yang netral.

Setelah berjalan dengan cukup alot, pada 17 Januari 1948 pemerintah RI secara resmi
menandatangani salah satu perjanjian paling kontroversial dalam sejaraj revolusi kemerdekaan
Indonesia, yaitu Perjanjian Renville. Perjanjian ini mencaku atas tiga unsur perundingan : Perjanjian
gencatan senjata, perjanjian 12 dasar perundingan politik, serta perjanjian 6 dasar-dasar tambahan
pada dasar-dasar perundingan politik. Salah satu konsekuensi perjanjian renville yang paling terasa
keada masyarakat adalah diakuinya “Garis Van Mook’’, sebuah garis demarkasi yang membelah
wilayah RI di Jawa, serta lepasnya berbagai wilayah di Sumatera. Perjanjian Renville kontroversial
karena sifatnya yang sangat merugikan Republik.