Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KEPERAWATAN JIWA

RESIKO BUNUH DIRI

A. Laporan Pendahuluan
1. Keluhan Utama
Resiko Bunuh Diri
2. Proses Terjadinya Masalah
a. Pengertian
Risiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang
dapat mengancam kehidupan. Bunuh diri merupakan kedaruratan
psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya.
Perilaku bunuh diri disebabkan karena stress yang tinggi dan
berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme
koping yang digunakan dalam mengatasi masalah (Rusdi, 2013).
b. Etiologi
Isolasi sosial : menarik diri
c. Tanda Dan Gejala
1) Mempunyai ide untuk bunuh diri
2) Mengungkapkan keinginan unutk mati
3) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
4) Impulsif
5) Menunjukkan perilaku yang mencurigakan
6) Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
7) Verbal terselubung (berbicara tentang kematian)
8) Menanyakan tentang obat dosis mematikan
9) Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panik,
marah, mengasingkan diri)
10) Kesehatan mental (secara klinis klien terlihat sangat depresi,
psikosis, dan menyalahgunakan alkohol)
11) Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau
terminal)

1
12) Pengangguran
13) Kehilangan pekerjaan atau kegagagalan dalam karir
14) Umur 15- 19 tahun atau di atas 45 tahun
15) Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan)
16) Pekerjaan
17) Konflik interpersonal
18) Latar belakang keluarga
19) Orientasi seksual
20) Sumber-sumber personal
21) Sumber-sumber sosial
22) Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil

d. Akibat Resiko Bunuh Diri


Akibat dari resiko bunuh diri yaitu melakukan percobaan bunuh diri
atau pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang
ada. Akibat lain yang ditimbulkan yaitu seseorang melakukan kegiatan
bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang (Stuart, 2004). Tanda dan
gejala dapat dilihat seperti dibawah ini :
1) Bicara mengenai kematian
2) Baru saja kehilangan: kematian, perceraian, putus dengan pacar
atau kehilangan pekerjaan.
3) Perubahan kepribadian: seseorang mungkin memperlihatkan
tanda-tanda kelelahan, keraguan atau kecemasan yang tidak biasa.
4) Perubahan perilaku: kurangnya konsentrasi dalam bekerja,
sekolah atau kegiatan sehari-hari.
5) Perubahan pola tidur.
6) Perubahan kebiasaan makan.
7) Berkurangnya ketertarikan seksual.
8) Harga diri rendah: emosi seperti malu, minder atau membenci diri
sendiri.
9) Ketakutan atau kehilangan kendali

2
10) Kurangnya harapan akan masa depan.
3. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan klien dengan resiko bunuh diri dapat dilaksanakan dengan
2 cara yaitu :
a. Medis :
1) Untuk pasien dengan depresi dapat diberikan terapi elektro
konvulsi.
2) Diberikan obat obat terutama anti depresan dan psikoterapi.
b. Keperawatan :
1) Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu
dengan meminta bantuan dari keluarga atau teman.
2) Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara memberi kesempatan
pasien mengungkapkan perasaannya
3) Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah

4. Pohon Masalah
Bunuh Diri

Core Problem
Resiko Bunuh Diri

Menarik diri

5. Asuhan Keperawatan
a. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji
Masalah keperawatan: Resiko Bunuh Diri
Data yang perlu dikaji:
1)Subjektif :
a) Mengungkapkan keinginan bunuh diri.
b) Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c) Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.

3
d) Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari
keluarga.
e) Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat
yang mematikan.
f) Mengungkapkan adanya konflik interpersonal.
g) Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekeasan saat
kecil.
2)Objektif :
a) Impulsif.
b) Menunujukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi
sangat patuh).
c) Ada riwayat panyakit mental (depesi, psikosis, dan
penyalahgunaan alcohol).
d) Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit
terminal).
e) Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau
kegagalan dalam karier).
f) Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.
g) Status perkawinan yang tidak harmonis
b. Diagnosa Keperawatan
Resiko Bunuh Diri
c. Fokus Intervensi
Tujuan Umum :
Tidak terjadi perilaku yang mengarah bunuh diri.
Tujuan Khusus :
1) TUK 1 : klien dapat membina hubungan saling percaya.
Intervensi :
a) Perkenalkan diri dengan klien
b) Tanggapi pembicaraan klien dengan
sabar dan tidak menyangkal.
c) Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.

4
d) Bersifat hangat dan bersahabat.
e) Temani klien saat keinginan
mencederai diri meningkat.
2) TUK II : Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri.
Intervensi :
a) Jauhkan klien dari benda benda yang
dapat membahayakan (pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan
lain lain).
b) Tempatkan klien di ruangan yang
tenang dan selalu terlihat oleh perawat
c) Awasi klien secara ketat setiap saat
3) TUK III: Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Intervensi:
a) Dengarkan keluhan yang dirasakan
b) Bersikap empati untuk meningkatkan
ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.
c) Beri dorongan untuk mengungkapkan
mengapa dan bagaimana harapannya.
d) Beri waktu dan kesempatan untuk
menceritakan arti penderitaan, kematian, dan lain lain.
e) Beri dukungan pada tindakan atau
ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.
4) TUK IV : Klien dapat meningkatkan harga diri.
Intervensi:
a) Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi
keputusasaannya
b) Kaji dan kerahkan sumber sumber internal individu.
c) Bantu mengidentifikasi sumber sumber harapan (misal:
hubungan antar sesama, keyakinan, hal hal untuk
diselesaikan).
5) TUK V : Klien dapat menggunakan koping yang adaptif

5
Intervensi :
a) Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman pengalaman
yang menyenangkan setiap hari (misal: berjalan-jalan,
membaca buku favorit, menulis surat dll).
b) Bantu untuk mengenali hal hal yang dia cintai dan yang dia
sayangi, dan pentingnya terhadap kehidupan orang lain,
mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan.
c) Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain
yang mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama
dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi
masalah tersebut dengan koping yang efektif
6) TUK VI : Klien dapat menggunakan dukungan social
Intervensi:
a) Kaji dan manfaatkan sumber sumber ekstemal individu
(orang orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok
pendukung, agama yang dianut).
b) Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa
lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
c) Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal: konseling pemuka
agama).
7) TUK VII : Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Intervensi:
a) Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan
efek samping minum obat).
b) Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar
pasien, obat, dosis, cara, waktu).
c) Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang
dirasakan.
d) Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan
benar

6
6. Daftar Pustaka
a. Keliat B.A. dkk. 2009. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1
EGC. Jakarta.
b. Rusdi (2013). Keperawatan Jiwa : Konsep dan Kerangka Kerja
Asuhan Keperawatan Jiwa. Gosyen Publising. Yogyakarta.
c. Stuart G.W dan Sundeen S.J. 2004. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Ed.
3. EGC. Jakarta.

7
B. Strategi Pelaksanaan
1. Pertemuan ke 1
a. Kondisi klien
Klien datang ke puskesmas Kayen diantar keluarga karena di rumah
sering menyendiri, dan menyatakan ingin bunuh diri.
b. Diagnosa keperawatan
Resiko bunuh diri
c. TUK :
Klien dapat membina BHSP dengan perawat
d. Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (SP)
1) Fase Oreintasi
a) Evaluasi / validasi
”selamat pagi mas? Sedang apa?...”
”boleh saya temeni?...”
”bagaimana perasaan mas pagi ini?...”
”coba ceritakan perasaan mas, mungkin saya bisa bantu?...”
b) Kontrak
 Topik : ”Bagaimana kalau
kita bercakap-cakap tentang mas?...”
 Tempat : ”Mau dimana
kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di sini ?...”
 Waktu : ”Mau berapa
lama? Bagaimana kalau 15 menit...”
2) Fase Kerja
a) ”Boleh saya
temeni?...”
b) ”Nama saya Sri
purwaningsih, sering dipanggil pur...”
c) ”mas namanya
siapa?...”

8
d) ”Sering dipanggil
apa?...”
e) Rumah mas
dimana?...”
f) Hobi mas apa?...”
3) Fase Terminasi
a) Evaluasi respon klien
 Evaluasi subyektif
”Saya tinggal di Desa Trimulyo”
”Hobi saya olahraga badminton”
 Evaluasi obyektif
Klien kooperatif dalam membina hubungan saling percaya
dengan perawat
b) Tindak lanjut
”baiklah mas, kita sudah saling kenal dan mas sudah tahu nama
saya. Bagaimana jika besuk saya ke rumah mas ?”
c) Kontrak yang akan datang
 Topik
Bagaimana kalau besuk kita ketemu lagi untuk bincang-
bincang tentang pencegahan keinginan bunuh diri agar
bapak dapat terlindung dari perilaku bunuh diri ?”
 Waktu
“Jam berapa mas,....baiklah jam 9 ya”
 Tempat
”bagaimana kalau di rumah mas....”
2. Pertemuan ke 2
a. Kondisi klien
Klien tampak di rumah di depan TV
b. Diagnosa keperawatan
Resiko bunuh diri
c. TUK :

9
Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
d. Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan (SP)
1) Fase Oreintasi
a) Evaluasi/validasi
”selamat pagi mas? Masih ingat dengan saya?...”
”bagaimana perasaan mas pagi ini?...”
b) Kontrak
 Topik : ”kemarin kita
sudah berkenalan di Puskesmas Kayen, sekarang kita
bincang-bincang tentang pencegahan keinginan bunuh diri
agar mas dapat terlindung dari perilaku bunuh diri”
 Tempat : ”kita jadi
bincang-bincang di ruang tamu ini?...”
 Waktu : ”Mau berapa
lama? Kemarin mas janji 15 menit...”
2) Fase Kerja
a) Apakah mas tahu
cara menghindari perilaku bunuh diri ?
b) Mas jangan
mendekati benda benda yang dapat membahayakan seperti
pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan lain lain.
c) Mas juga jangan
sering menyendiri dan selalu dekat dengan keluarga
d) Apakah mas sudah
tahu cara menghindari bunuh diri yang saya ajarkan tadi ?
3) Fase Terminasi
a) Evaluasi respon klien
 Evaluasi subyektif
”ya bu, saya akan selalu dekat dengan keluarga dan
menjauhi benda-benda yang membahayakan diriku sendiri”
 Evaluasi obyektif

10
Klien kooperatif dalam berkomunikasi dengan perawat.
b) Tindak lanjut
”coba mas ulangi cara menghindari bunuh diri yang saya
ajarkan tadi ?”
c) Kontrak yang akan datang
 Topik
Bagaimana kalau besuk kita ketemu lagi untuk mempelajari
cara mengekspresikan perasaannya mas”
 Waktu
“Jam berapa bapak,....o pagi seperti ini”
 Tempat
”bagaimana kalau di rumah mas lagi....”

11
C. Laporan Kasus Kelolaan
1. JUDUL : ASUHAN KEPERAWATAN RESIKO BUNUH DIRI PADA
SDR.K DI PUSKESMAS KAYEN
2. Pengkajian
a. Identitas klien
Inisial : Tn. K
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Ds. Trimulyo 4/1 Kayen, Pati
No Reg : 3015902
b. Identitas Penanggung Jawab
Inisial : Tn. H
Umur : 47 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Ds. Trimulyo 4/1 Kayen, Pati
Hub. Dengan pasien : Ayah
c. Alasan Masuk

12
Klien Sdr. K diperiksakan di Puskesmas Kayen setelah sering
menyendiri dan mengancam akan bunuh diri. Klien sering
mengeluhkan kepalanya pusing setelah di putus pacarnya 3 bulan
yang lalu
Klien Sdr.K baru pertama kali ke puskesmas dengan gejala
seperti ini. Klien sering menampakan bicara keras dan kadang
histeris, kadang menyendiri di rumah. Dalam keluarga tidak ada
yang mempunyai riwayat gangguan jiwa.
d. Pengkajian Fisik
1) Keadaan Umum : Composmentis
2) Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 120 / 80 mmhg
Nadi : 82 /menit
Suhu : 36,3 0c
Pernafasan : 20 /menit
3) Pemerksaan Fisik
a) Kepala
Bentuk mesochepal, tidak ada benjolan, kulit kepala bersih
dan tidak ada lesi, rambut hitam dan tidak mudah rontok,
rambut kurang rapi, wajah klien tampak tegang.
b) Mata
Konjungtiva anemis, sklera tak ikterik, lensa mata bersih,
fungsi penglihatan baik tidak ada gangguan, mata nampak
merah.
c) Telinga
Daun telinga tak ada deformitas, liang telinga bersih, tak
ada serumen, tak ada nyeri tekan pada telinga dan tak ada
gangguan pendengaran.
d) Hidung
Bersih, tak ada sekret, tak ada pernafasan cuping hidung,
fungsi pernafasan baik.

13
e) Mulut dan Gigi
Rahang klien mengatup, bersih tidak ada stomatitis, mukosa
bibir lembab, tidak terdapat caries gigi, tidak ada gigi palsu,
gigi bersih dan tidak bau.
f) Leher dan Tenggorok
Tidak ada lesi, bersih, tidak terdapat pembesaran kelenjar
tiroid.
g) Dada dan Thorak
I : Bentuk dada simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi,
RR : 20 X/menit.
P : Tidak terdapat nyeri tekan
P : Timpani pada paru kanan dan kiri
A : Tidak ada suara tambahan, suara ronkhi maupun
wheesing
h) Jantung
I : ictus cordis tidak terlihat
P : ictus cordis teraba pada intercosta ke 5
P : tidak ada suara tambahan, suara pekak
A : terdengar bunyi jantung S1 dan S2
i) Abdomen
I : simetris dan bentuk cembung.
A : Peristaltik usus 18 X/menit
P : tidak terdapat nyeri tekan
P : 2 jari di bawah pusat terdengar suara timpani
j) Genital
Tidak terdapat nyeri pada atas anus, tidak ada hemoroid,
kebersihan baik.
k) Ekstrimitas
Atas kanan : bebas bergerak, sering mengepalkan tangan
Atas kiri : bebas bergerak.

14
Bawah kanan : bebas bergerak terkoordinasi, tidak ada lesi,
tidak ada edema.
Bawah kiri : bebas bergerak terkoordinasi, tidak ada lesi,
tidak ada edema.
e. Pengkajian Psikososial
1) Genogram

Laki-laki

Perempuan

Klien

Satu rumah

2) Konsep Diri
a) Gambaran diri
Klien merasa baik-baik saja dengan keadaan tubuhnya dan
tidak terdapat kecacatan pada fisiknya.
b) Identitas Diri
Klien menyatakan tidak puas sebagai seorang laki-laki
karena di putus pacarnya
c) Peran
Klien merasa tidak puas dan bangga terhadap dirinya
sebagai seorang laki-laki karena di putus pacarnya
d) Ideal diri
Klien merasa sebagai laki-laki yang tidak berguna
e) Harga diri
Klien mengatakan merasa tidak berharga dalam keluarga
karena merasa tidak berguna sebagai laki-laki
3) Hubungan sosial
Klien merasa semua orang menjauhinya setelah klien di di putus
pacarnya sehingga klien sering di rumah menyendiri.

15
4) Nilai, keyakinan dan spiritual
Klien beranggapan bahwa gangguan jiwa adalah orang yang
harus di rawat di rumah sakit jiwa.
f. Status mental
1) Penampilan
Klien mengenakan baju yang kurang rapi, rambut kurang rapi.
2) Pembicaraan
Klien termenung, menyendiri, kadang histeris dan bicara keras.
3) Aktivitas Motorik
Tidak ada kemauan untuk beraktivitas.
4) Alam perasaan
Klien merasa bahwa dirinya tidak pantas menjadi seorang laki-
laki.
5) Afek : afek klien labil.
6) Interaksi selama wawancara : klien kooperatif.
7) Persepsi : klien beranggapan bahwa sakitnya dikarenakan
dirinya yang di putus pacarnya
8) Proses pikir : klien mampu beradaptasi dengan baik saat
dilaksanakan wawancara.
9) Isi pikir : Klien merasa bahwa dirinya tidak pantas menjadi
seorang laki-laki
10) Tingkat kesadaran : klien dalam keadaan sadar penuh dan
mampu berkomunikasi.
11) Memori : Klien masih mampu mengingat peristiwa yang terjadi
saat lampau maupun saat sekarang, walaupun tidak secara
keseluruhan.
12) Tingkat konsentrasi : Klien sulit berkonsentrasi, cenderung diam
saat diminta mencoba menghitung klien hanya diam saja.
13) Kemampuan penilainan : Klien tidak mengalami gangguan
kemampuan penilaian bermakna sehingga klien mampu
mengambil keputusan tetapi dengan dibantu oleh orang lain.

16
14) Daya tilik diri : Klien tidak menyadari bahwa klien menderita
gangguan jiwa.
g. Mekanisme koping
Adaptif : Bicara dengan orang lain.
Maladaptif : Bicara keras, menyendiri, sering mengancam bunuh diri
dan histeris.
Masalah : Resiko bunuh diri.

3. Analisa Data
Tgl/ Jam Data Fokus Diagnosis Paraf
27/3/2017 1. Ds : Klien sering mengeluhkan Masalah utama :
Jam 09.00 kepalanya pusing setelah di Resiko bunuh diri
putus pacarnya dan
mengancam akan bunuh diri.
2. DO : Tidak rapi. Klien
mengenakan baju yang kurang
rapi rambut agak berantakan.
Klien sering menyendiri di
rumah.
27/3/2017 1. DS : Penyebab :
Jam 09.00 Klien mengatakan tidak ada Menarik diri
yang memperhatikannya
setelah di putus pacarnya
2. DO :
o Klien sering melamun,
menyendiri, mengurung

17
diri di kamar, tidak mau
bergaul dengan orang lain.
o Apabila ada
keributan/keramaian klien
lebih suka menghindar
o Klien tidak pernah
mengikuti kegiatan yang
diadakan dikampungnya.
o Klien acuh dengan
lingkungan sekitarnya dan
tidak mau bergaul dengan
orang lain.
27/32/2017 1. DS : Klien sering Akibat : Bunuh diri
Jam 09.00 mengeluhkan kepalanya
pusing setelah di putus
pacarnya dan mengancam akan
bunuh diri
2. DO : Wajah klien tampak
tegang, tangan mengepal,
menyendiri di rumah.

4. Pohon Masalah
Bunuh Diri

Resiko Bunuh Diri Core Problem

Menarik diri

5. Diagnosa Keperawatan
Resiko Bunuh Diri

18
19
6. Rencana Tindakan Keperawatan
Rencana Keperawatan
Tgl/ Jam Diagnosis
Tujuan Tindakan Rasional
27/3/2017 Resiko bunuh diri TUK 1 : klien dapat  Perkenalkan diri dengan Hubungan saling percaya merupakan
Jam 09.20 membina hubungan saling klien dasar untuk kelancaran hubungan
percaya  Tanggapi pembicaraan interaksi selanjutnya
klien dengan sabar dan tidak
menyangkal.
 Bicara dengan tegas, jelas,
dan jujur.
 Bersifat hangat dan
bersahabat.
 Temani klien saat keinginan
mencederai diri meningkat.
27/3/2017 Resiko bunuh diri TUK II : Klien dapat  Jauhkan klien dari benda Klien dapat pengwasan oleh orang
Jam 09.25 terlindung dari perilaku benda yang dapat membahayakan terdekat dan terhindar dari perilaku
bunuh diri (pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan lain bunuh diri
lain).
 Tempatkan klien di ruangan
yang tenang dan selalu terlihat oleh

20
keluarga
 Awasi klien secara ketat
setiap saat
27/3/2017 Resiko bunuh diri TUK III : Klien dapat  Dengarkan keluhan yang Klien dapat mengalihkan perasaan
Jam 09.30 mengekspresikan dirasakan yang dialaminya ke dalam harapan
perasaannya  Bersikap empati untuk yang ingin di capai
meningkatkan ungkapan keraguan,
ketakutan dan keputusasaan.
 Beri dorongan untuk
mengungkapkan mengapa dan
bagaimana harapannya
 Beri waktu dan kesempatan
untuk menceritakan arti penderitaan,
kematian, dan lain lain.
 Beri dukungan pada
tindakan atau ucapan klien yang
menunjukkan keinginan untuk hidup

21
27/3/2017 Resiko bunuh diri TUK IV : Klien dapat  Bantu untuk memahami Klien mampu meningkatkan harga
Jam 09.35 meningkatkan harga diri bahwa klien dapat mengatasi dirinya dengan cara mengambil
keputusasaannya keputusan yang tepat terhadap harapan
 Kaji dan kerahkan sumber yang diinginkannya
sumber internal individu.
 Bantu mengidentifikasi
sumber sumber harapan (misal:
hubungan antar sesama, keyakinan, hal
hal untuk diselesaikan).

22
27/3/2017 Resiko bunuh diri TUK V : Klien dapat  Ajarkan untuk Klien mampu menggunakan koping
Jam 09.40 menggunakan koping yang mengidentifikasi pengalaman yang aadaptif dalam mengatasi
adaptif pengalaman yang menyenangkan setiap masalah atau gangguan jiwa yang
hari (misal : berjalan-jalan, membaca dialaminya
buku favorit, menulis surat dll).
 Bantu untuk mengenali hal
hal yang ia cintai dan yang ia sayang,
dan pentingnya terhadap kehidupan
orang lain, mengesampingkan tentang
kegagalan dalam kesehatan.
 Beri dorongan untuk
berbagi keprihatinan pada orang lain
yang mempunyai suatu masalah dan
atau penyakit yang sama dan telah
mempunyai pengalaman positif dalam
mengatasi masalah tersebut dengan
koping yang efektif

27/3/2017 Resiko bunuh diri TUK VI : Klien dapat  Kaji dan manfaatkan Klien mendapat dukungan dari

23
Jam 09.45 menggunakan dukungan sumber sumber ekstemal individu keluarga dan masyarakat sekitar dalam
social (orang orang terdekat, tim pelayanan mengatasi masalah yang sedang
kesehatan, kelompok pendukung, dihadapinya
agama yang dianut).
 Kaji sistem pendukung
keyakinan (nilai, pengalaman masa
lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan
agama).
 Lakukan rujukan sesuai
indikasi (misal : konseling pemuka
agama).
27/3/2017 Resiko bunuh diri TUK VII : Klien dapat  Diskusikan tentang obat Klien mampu mengatasi gangguan
Jam 09.50 menggunakan obat dengan (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek kejiwaan yang dialaminya dengan
benar dan tepat samping minum obat). menggunakan obat
 Bantu menggunakan obat
dengan prinsip 5 benar (benar pasien,
obat, dosis, cara, waktu).
 Anjurkan membicarakan
efek samping yang dirasakan.

24
 Beri reinforcement positif

7. Catatan Keperawatan
Tgl/ Jam Diagnosis SP Implementasi Evaluasi
27/3/2017 Resiko bunuh diri SP 1 1. Memperkenalkan diri dengan klien  S : Klien mengatakan senang berkenalan
Jam 10.00 2. Menanggapi pembicaraan klien dengan sabar dengan perawat.
dan tidak menyangkal.  O:
3. Berbicara dengan tegas, jelas, dan jujur.  Klien kooperatif
4. Memberikan sifat hangat dan bersahabat.  Klien menyebutkan nama, alamat dan
5. Menemani klien saat keinginan mencederai diri hobinya.
meningkat  A : Masalah teratasi
 P : Lanjutkan SP 2
28/3/2017 Resiko bunuh diri SP 2 1. Menjauhkan klien dari benda benda yang dapat  S : Klien mengatakan setiap hari tidur di
Jam 09.00 membahayakan (pisau, silet, gunting, tali, depan TV dan kadang menyendiri di
kaca, dan lain lain). kamar.
2. Menempatkan klien di ruangan yang tenang  O:
dan selalu terlihat oleh keluarga  Klien kooperatif
3. Mengawasi klien secara ketat setiap saat  Klien Terjauh dari benda tajam
 A : Masalah teratasi

25
 P : Lanjutkan SP 3

26