Anda di halaman 1dari 39

Asuhan Keperawatan By. Ny.

L dengan Hiperbilirubinemia 1
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Penyakit

2.1.1 Hiperbilirubin

2.1.1.1 Pengertian

Hiperbilirubinemia adalah terjadinya peningkatan kadar plasma

bilirubin 2 standar deviasi atau lebih dari kadar yang diharapkan

berdasarkan umur bayi atau lebih dari persentil 90.

Hiperbilirubinemia menyebabkan neonatus terlihat berwarna

kuning, keadaan ini timbul akibat akumulasi pigmen bilirubin ( 4Z ,

15Z bilirubin IX alpha ) yang berwarna ikterus pada sklera dan

kulit (Blackburn, 2007). Keadaan bayi kuning disebut juga dengan

ikterus neonatorum.

Ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang

ditandai oleh pewarnaan kuning pada kulit dan sklera akibat

akumulasi bilirubin indirek yang berlebih (Xiaong dkk., 2011).

Pada neonatus baru tampak bila serum bilirubin >5mg/dl

(86µmol/L) (Mishra dkk., 2007). Ikterus lebih mengacu pada

gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit, sedangkan


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 2
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

hiperbilirubinemia lebih mengacu pada gambaran kadar bilirubin

serum total (Abdellatief dkk., 2012).

a. Klasifikasi Ikterus

Klasifikasi ikterus ada 2, yaitu ikterus fisiologis dan patologis.

1) Ikterus Fisiologis

Ikterus fisiologi adalah tidak mempunyai dasar patologi atau

tidak mempunyai potensi menjadi kernikterus. Biasanya

timbul pada hari ke dua dan ke tiga. Kadar bilirubin serum

total 6-8 mg/dL, bahkan hingga 12 mg/dL pada bayi cukup

bulan, masih dianggap fisiologis (Mishra dkk., 2007).

Penurunan kadar bilirubin total akan terjadi secara cepat dalam

2-3 hari, kemudian diikuti penurunan lambat sebesar 1 mg/dL

selama 1- 2 minggu. Pada bayi kurang bulan kadar bilirubin

serum total 10-12 mg/dL, bahkan dapat meningkat hingga 15

mg/dL dengan tanpa adanya gangguan pada metabolism

bilirubin (Mishra dkk., 2007). Kadar bilirubin total yang aman

untuk bayi kurang bulan sangat bergantung pada usia

kehamilan.

2) Ikterus Patologis

Ikterus patologis biasanya terjadi sebelum umur 24 jam. Kadar

bilirubin serum total meningkat > 0,5 mg/dL/jam. Ikterus


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 3
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

biasanya bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan dan 14

hari pada bayi kurang bulan. Keadaan klinis bayi tidak baik

seperti muntah, letargis, malas menetek, penurunan berat

badan yang cepat, suhu tubuh yang tidak stabil, apnea (Martin

dan Cloherty, 2004).

c. Etiologi

Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri

ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Secara garis besar,

penyebab ikterus neonatarum dapat dibagi:

1) Produksi yang berlebihan

Pada ikterus fisiologis biasanya disebabkan karena volume

eritrosit yang meningkat, usia eritrosit yang menurun,

meningkatnya siklus enterohepatik. Pada ikterus patologis

terjadi oleh karena hemolisis yang meningkat seperti pada

inkompatibilitas golongan darah sistem ABO, inkomptabilitias

rhesus, defek pada membran sel darah merah (Hereditary

spherocytosis, elliptocytosis, pyropoikilocytosis,

stomatocytosis), defesiensi berbagai enzim (defisiensi enzim

Glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD), defesiensi

enzim piruvat kinase, dan lainnya), hemoglobinopati (pada

talasemia). Keadaan lain yang dapat meningkatkan produksi


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 4
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

bilirubin adalah sepsis, Disseminated Intravascular

Coagulation (DIC), ekstravasasi darah (hematoma, perdarahan

tertutup), polisitemia, makrosomia pada bayi dengan ibu

diabetes (Mishra dkk., 2007).

2) Gangguan pada proses uptake dan konjugasi hepar

Gangguan ini dapat disebabkan oleh imaturitas hepar,

kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi

hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak

terdapatnya enzim glukoronil transferase (Sindrom Criggler-

Najjar). Penyebab lain adalah defisiensi protein Y dalam hepar

yang berperanan penting dalam uptake bilirubin ke sel hepar

(Mishra dkk., 2007).

3) Gangguan pada transportasi

Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut

ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat

dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, sulfarazole.

Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya

bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat

ke sel otak (Lauer dan Nancy, 2011).

4) Gangguan pada ekskresi


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 5
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau

di luar hepar. Kelainan di luar hepar biasanya diakibatkan oleh

kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat

infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain (Mishra dkk.,

2007; Lauer dan Nancy, 2011).

d. Patofisiologi

Bilirubin adalah produk penguraian heme. Sebagian besar (85-

90%) terjadi dari penguraian hemoglobin dan sebagian kecil (10-

15%) dari senyawa lain seperti mioglobin (Maisels, 2006).

Pembentukan bilirubin dapat dilihat pada Gambar 2.1. Sel

retikuloendotel menyerap kompleks haptoglobin dengan

hemoglobin yang telah dibebaskan dari sel darah merah. Sel-sel ini

kemudian mengeluarkan besi dari heme sebagai cadangan untuk

sintesis berikutnya dan memutuskan cincin heme untuk

menghasilkan tetrapirol bilirubin, yang disekresikan dalam bentuk

yang tidak larut dalam air (bilirubin indirek, indirek) (Maisels,

2006).

Bilirubin dalam plasma diikat oleh albumin sehingga dapat

larut dalam air. Zat ini kemudian beredar dalam tubuh dan melewati

lobulus hati. Hepatosit melepaskan bilirubin dari albumin dan


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 6
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

mengubahnya menjadi bentuk isomerik monoglucuronides dan

diglucuronide (bentuk indirek) dengan bantuan enzim

uridinediphosphoglucuronosyltransferase 1A1 (UGT1A1) (Maisels

dan McDonagh, 2008).

Dalam bentuk glukoronida terkonjugasi, bilirubin yang larut

tersebut masuk ke sistem empedu untuk diekskresikan. Saat masuk

ke dalam usus bilirubin diuraikan oleh bakteri kolon menjadi

urobilinogen. Urobilinogen dapat diubah menjadi sterkobilin dan

diekskresikan sebagai feses. Sebagian urobilinogen direabsorsi dari

usus melalui jalur enterohepatik dan darah porta membawanya

kembali ke hati. Urobilinogen daur ulang ini umumnya

diekskresikan ke dalam empedu untuk kembali dialirkan ke usus,

tetapi sebagian dibawa oleh sirkulasi sistemik ke ginjal, tempat zat

ini diekskresikan sebagai senyawa larut air bersama urin (Porter

dan Dennis, 2002).


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 7
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh pembentukan

bilirubin yang melebihi kemampuan hati normal untuk

ekskresikannya atau disebabkan oleh kegagalan hati (karena rusak)

untuk mengekskresikan bilirubin yang dihasilkan dalam jumlah

normal. Tanpa adanya kerusakan hati, obstruksi saluran ekskresi

hati juga akan menyebabkan hiperbilirubinemia (Lauer dan Nancy,

2011).

e. Manifestasi Klinis
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 8
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Manifestasi klinis yang sering di jumpai pada bayi dengan

hiperbilirubinemia adalah :

1) Ikterus pada kulit dan konjungtiva, mukosa dan alat tubuh

lainnya. Bila ditekan akan timbul kuning.

2) Bilirubin direk ditandai dengan kulit kuning kehijauan dan

keruh pada ikterus berat.

3) Bilirubin indirek dtandai dengan kulit kuning terang pada

ikterus berat.

4) Bayi menjadi lesu.

5) Bayi menjadi malas minum.

6) Tanda-tanda klinis ikterus jarang muncul.

7) Letargi.

8) Tonus otot meningkat.

9) Leher kaku.

10) Opistotonus (Mitayani, 2012).

f. Pemeriksaan Penunjang

Salah satu cara memeriksa derajat kuning pada neonatus secara

klinis, mudah dan sederhana adalah dengan penilaian menurut

Kramer (Szabo dkk., 2001). Lokasi penentuan derajat kuning

berdasarkan Kramer dapat dlihat pada gambar berikut :.


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 9
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Derajat Daerah Ikterus Perkiraan


Ikterus Kadar
Bilirubin
1 Kepala dan leher 5,0 mg%
2 Badan atas 9,0 mg%
3 Badan bawah hingga 11,4 mg%
tungkai
4 Lengan, kaki bawah, 12,4 mg%
lutut
5 Telapak tangan dan kaki 16 mg%

Pemeriksaan dilakukan dengan menekan jari telunjuk pada

tempat-tempat yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung,

dada, lutut dan lain-lain. Tempat yang ditekan akan tampak pucat

atau kuning (Szabo dkk., 2001).

Pemeriksaan serum bilirubin (direk dan indirek) harus

dilakukan pada neonatus yang mengalami ikterus. Terutama pada

bayi yang tampak sakit atau bayi-bayi yang tergolong risiko tinggi

mengalami hiperbilirubinemia berat. Pemeriksaan tambahan yang

sering dilakukan untuk evaluasi menentukan penyebab ikterus

antara lain adalah golongan darah dan Coombs test, darah lengkap

dan hapusan darah, hitung retikulosit, skrining Glucose-6-

phosphate dehydrogenase (G6PD) dan bilirubin direk (Mishra dkk.,

2007).
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 10
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Pemeriksaan serum bilirubin total harus diulang setiap 4-24 jam

tergantung usia bayi dan tingginya kadar bilirubin. Kadar serum

albumin juga harus diukur untuk menentukan pilihan terapi sinar

atau transfusi tukar. Hiperbilirubinemia dianggap patologis (Non

Physiological Jaundice) apabila kadar serum bilirubin terhadap usia

neonatus >95% menurut Normogram Bhutani (American Academy

of Pediatrics, 2004)

g. Komplikasi

Kadar bilirubin indirek yang sangat tinggi dapat menembus

sawar otak dan sel-sel otak, hal ini dapat menyebabkan terjadinya

disfungsi saraf bahkan kematian. Mekanisme dan faktor-faktor

yang mempengaruhi terjadinya disfungsi saraf ini masih belum

jelas. Bilirubin ensefalopati adalah manifestasi klinis yang timbul

akibat efek toksik bilirubin pada sistem saraf pusat yaitu basal

ganglia dan pada beberapa nuklei batang otak (Lauer dan Nancy,

2011). Kern ikterus adalah perubahan neuropatologi yang ditandai

oleh deposisi pigmen bilirubin pada beberapa daerah di otak

terutama di ganglia basalis, pons dan serebelum. Akut bilirubin

ensefalopati terdiri dari 3 fase yaitu:

1) Fase Inisial: ditandai dengan letargis, hipotonik,

berkurangnya gerakan bayi dan reflek hisap buruk.


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 11
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

2) Fase Intermediate: tanda-tanda kardinal fase ini adalah

moderate stupor, iritabilitas dan peningkatan tonus

(retrocollis dan opisthotonus). Demam muncul selama fase

ini.

3) Fase Lanjut: ditandai dengan stupor yang dalam atau

koma, peningkatan tonus, tidak mampu makan, high-pitch

cry dan kadang kejang.

h. Terapi

Pada bayi hiperbilirubin, dapat dilakukan beberapa terapi

pilihan sebagai berikut :

1) Fototerapi

Ikterus klinis dan hiperbilirubin indirek akan berkurang kalau

bayi dipaparkan pada sinar dalam spektrum cahaya yang

mempunyai intensitas tinggi. Bilirubin akan menyerap cahaya

secara maksimal dalam batas wilayah warna biru (mulai dari

420-470 mm). Bilirubin dalam kulit akan menyerap cahaya,

yang melalui fotoisomerasi mengubah bilirubin tak

terkonjugasi yang bersifat toksik menjadi isomer-isomer

terkonjugasi yang dikeluarkan ke empedu dan melalui

ontosensitisasi yang melibatkan oksigen dan mengakibatkan

reaksi oksidasi yang menghasilkan produk-produk pemecahan


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 12
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

yang akan diekskresikan oleh hati dan ginjal tanpa

memerlukan konjugat. Indikasi fototerapi hanya setelah

dipastikan adanya hiperbilirubin patologik. Komplikasi

fototerapi meliputi tinja yang cair, ruam kulit, bayi mendapat

panas yang berlebihan dan dehidrasi akibat cahaya, menggigil

karena pernapasan pada bayi, dan sindrom bayi perunggu,

yaitu warna kulit menjadi gelap, coklat dan keabuan.

2) Transfusi tukar

Dilakukan untuk mempertahankan bilirubin indirek dalam

serum bayi aterm kurang dari 20 mg/dl atau 15 mg/dl pada

bayi kurang bulan. Dapat diulang sebanyak yang diperlukan,

atau keadaan bayi yang dipandang kritis dapat menjadi

petunjuk untuk melakukan transfusi tukar selama hari pertama

atau kedua kehidupan, kalau peningkatan yang lebih diduga

akan terjadi, tetapi tidak dilakukan pada hari keempat pada

bayi aterm atau hari ketujuh pada bayi prematur, kalau

diharapkan akan segera terjadi penurunan kadar bilirubin

serum atau akibat mekanisme konjugasi yang bekerja lebih

efektif. Transfusi tukar mungkin merupakan metode yang

paling afektif untuk mengontrol terjadinya hiperbilirubinemia

(Rukiyah & Yulianti, 2010).


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 13
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

2.1.2 Fototerapi

a. Fototerapi pada Hiperbilirubinemia

Fototerapi dilakukan pada hiperbilirubinemia yang memiliki

kecenderungan mengalami keadaan patologis. Panduan untuk

dilakukannya fototerapi pada bayi dengan usia kehamilan ≥ 35

minggu dapat dilihat pada gambar berikut :

Sebagai patokan yang digunakan adalah kadar bilirubin total.

Fototerapi intensif dilakukan apabila kadar bilirubin total berada di

atas garis kelompok risiko sesuai dengan usia kehamilan. Faktor

risiko termasuk isoimmune hemolytic disease, defesiensi G6PD,


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 14
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

asfiksia, letargi, suhu tubuh yang tidak stabil, sepsis, asidosis, kadar

albumin < 3 gr/dL (American Academy of Pediatrics, 2004).

Prinsip penatalaksanaan hiperbilirubinemia dengan fototerapi

adalah untuk mengurangi kadar bilirubin dan mencegah

peningkatannya. Fototerapi menggunakan sinar untuk mengubah

bentuk dan struktur bilirubin menjadi molekul yang dapat

diekskresikan walaupun ada gangguan konjugasi (Stokowski,

2011).

Ketika bilirubin menyerap sinar maka terjadi dua reaksi yaitu

perubahan 4Z, 15Z-bilirubin menjadi bentuk isomerik yang

berbeda, yaitu 4Z,15E bilirubin (photobilirubin) dan lumirubin.

Photobilirubin dapat diekskresikan melalui hepar tanpa konjugasi,

namun prosesnya lambat dan bersifat reversibel. Photobilirubin

dapat berubah kembali menjadi bilirubin di dalam saluran cerna

(jauh dari paparan sinar). Lumirubin tidak bersifat reversible,

sehingga walaupun pembentukan lumirubin lebih sedikit jika

dibandingkan dengan photobilirubin, namun lebih cepat

dihilangkan dari serum. Pembentukan lumirubin dianggap berperan

penting pada penurunan kadar bilirubin selama fototerapi

(Stokowski, 2011).

b. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan fototerapi


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 15
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan

dilakukannya fototerapi adalah :

1) Kualitas spektrum dari sinar yang digunakan.

Sumber sinar yang paling efektif untuk mendegradasi bilrubin

adalah sinar dengan panjang gelombang 400 – 520 nm, dengan

gelombang terbaik 460 nm (Stokowski, 2011). Pada panjang

gelombang ini sinar menembus kulit paling baik dan paling

maksimal diserap oleh bilirubin. Sinar biru, hijau dan turkois

(antara biru dan hijau) merupakan sinar yang paling efektif.

Banyak pendapat yang salah yang menyatakan bahwa

fototerapi menggunakan sinar ultraviolet (panjang gelombang

< 400 nm) (Maisels dan MsDonagh, 2008; Stokowski, 2011).

2) Intensitas Sinar (Irradiance)

Intensitas sinar yang dimaksud adalah jumlah photon yang

disalurkan per sentimeter kuadrat permukaan tubuh yang

terpapar. Semakin tinggi intensitas sinar maka semakin cepat

penurunan kadar bilirubin. Fototerapi standar biasanya

menggunakan intensitas sinar 10 µW/cm2/nm, sedangkan

fototerapi intensif ≥ 30 µW/cm2/nm (Stokowski, 2011; Maisels

dan McDonagh, 2008).

3) Jarak antara bayi dan sinar


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 16
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Intensitas cahaya berbanding lurus dengan jarak antara bayi

dan sinar, semakin dekat jarak antara bayi dan sinar semakin

tinggi intensitas sinar yang didapat. Jarak yang dianggap

cukup aman adalah sekitar 15-20 cm (Porter dan Dennis,

2002).

4) Area permukaan tubuh yang terpapar sinar

Semakin luas area permukaan tubuh yang terpapar sinar maka

makin efektif fototerapi yang dilakukan. Merubah posisi bayi

secara berulang selama fototerapi tidak meningkatkan

kecepatan penurunan kadar bilirubin (Stokowski, 2011).

Dianjurkan memposisikan bayi dengan posisi supine. Untuk

mendapatkan hasil yang maksimal maka selama fototerapi

bayi dibiarkan telanjang. Pemakaian diaper masih kontroversi,

beberapa penelitian menyatakan penggunaan diaper selama

fototerapi tidak mempengaruhi penurunan kadar bilirubin.

Selama fototerapi diharuskan menggunakan penutup mata

untuk mengurangi risiko kerusakan retina bayi yang masih

imatur (Stokowski, 2011).

5) Jenis sumber cahaya

Jenis sumber sinar yang digunakan juga memperngaruhi

kecepatan penurunan kadar bilirubin. Berbagai inovasi


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 17
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

dilakukan untuk meningkatkan efektivitas sinar yang

dihasilkan. Selain sumber sinar konvensional yang digunakan,

saat ini telah ada sumber sinar Light-Emitting Diodes (LED),

fiberoptic, sinar halogen, dan lain-lain. Masing-masing

memiliki keuntungan dan kerugiannya. Sinar LED memiliki

keuntungan intensitas cahaya yang tinggi, namun tidak

meningkatkan panas yang dihasilkan, lebih hemat dan

bertahan lebih lama (Vreman dkk., 2004).

Penurunan kadar bilirubin yang paling cepat terjadi pada 4-6

jam pertama dilakukannya fototerapi. Pada fototerapi tunggal

(menggunakan 1 alat) diharapkan menurunkan kadar bilirubin

hingga 22% dalam 24 jam pertama. Pada fototerapi ganda

(menggunakan 2 alat) penurunan kadar bilirubin hingga 29% dalam

24 jam pertama. Sedangkan pada fototerapi intensif kadar bilirubin

harus turun 1-2 mg/dL (17-34 µmol/L) dalam 4-6 jam pertama dan

5 mgdL dalam 24 jam pertama (Stokowski, 2011).

Pada bayi yang diberikan Air Susu Ibu (ASI) penurunan kadar

bilirubin lebih lambat jika dibandingkan bayi yang diberikan susu

formula, sekitar 2-3 mg/dL per hari (Maisels dan McDonagh,

2008). Fototerapi dapat dihentikan apabila mencapai kadar 15

mg/dL. Setelah fototerapi kadar bilirubin dapat kembali meningkat,


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 18
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

keadaan ini disebut rebound bilirubin, namun kondisi ini biasanya

hanya rata-rata 1 mg/dL sehingga bayi setelah fototerapi tidak perlu

menunggu dipulangkan untuk observasi rebound bilirubin. Jika

setelah dilakukan fototerapi tidak terjadi penurunan kadar bilirubin

yang diinginkan maka dipertimbangkan untuk melakukan tranfusi

tukar (Maisels dan McDonagh, 2008).

2.1.3 ASI

a. Pengertian ASI

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi karena

mengandung zat gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan

perkembangan serta ASI juga mengandung zat kekebalan tubuh

yang sangat berguna bagi kesehatan bayi dan kehidupan

selanjutnya (Maryunani, 2010). ASI adalah suatu emulasi lemak

dalam larutan protein, laktosa, dan garam organik yang disekresi

oleh kedua kelenjar payudara ibu dan merupakan makan terbaik

untuk bayi. Selain memenuhi segala kebutuhan makanan bayi baik

gizi, imunologi, atau lainnya sampai pemberian ASI memberi

kesempatan bagi ibu mencurahkan cinta kasih serta perlindungan

kepada anaknya (Bahiyatun, 2009).


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 19
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

ASI sebagai makanan alamiah adalah makanan terbaik yang

dapat diberikan oleh seorang ibu pada anak yang baru

dilahirkannya. Komposisinya berubah sesuai dengan kebutuhan

bayi pada setiap saat, yaitu kolostrum pada hari pertama sampai 4-7

hari, dilanjutkan dengan ASI peralihan sampai 3-4 minggu,

selanjutnya ASI matur. ASI yang keluar pada permulaan menyusu

(foremilk = susu awal) berbeda dengan ASI yang keluar pada akhir

penyusuan (bindmilk = susu akhir). ASI yang diproduksi ibu yang

melahirkan prematur komposisinya juga berbeda dengan ASI yang

dihasilkan oleh ibu melahirkan cukup bulan. Selain itu, ASI juga

mengandung zat pelindung yang dapat melindungi bayi dari

berbagai penyakit infeksi (Prawirohardjo, 2009).

ASI Eksklusif adalah bayi hanya diberikan ASI saja, tanpa

tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air

putih dan tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur

susu, biscuit, bubur nasi dan tim. Kecuali obat, vitamin, mineral

dan ASI yang diperas (Maryunani, 2010).

b. Komponen ASI

ASI merupakan makanan paling ideal dan seimbang bagi bayi,

menurut Astutik (2014), zat gizi yang terkandung dalam ASI adalah
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 20
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

1) Nutrien

a) Lemak

Lemak merupakan sumber kalori utama dalam ASI yang

mudah diserap oleh bayi. Asam lemak essensial dalam

ASI akan membentuk asam lemak tidak jenuh rantai

panjang decosahexaenoic acid (DHA) dan arachidoic

acid (AA) yang berfungsi untuk pertumbuhan otak anak.

b) Karbohidrat

Laktosa merupakan karbohidrat utama dalam ASI yang

bermanfaat untuk meningkatkan absorbs kalsium dan

merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus

c) Protein

Protein dalam ASI yaitu whey, kasein, sistin, dan taurin.

Sistin dan taurin merupakan asam amino yang tidak dapat

ditemukan pada susu sapi. Sistin diperlukan untuk

pertumbuhan somatic dan taurin untuk pertumbuhan

anak.

d) Garam dan Mineral

Kandungan garam dan mineral pada ASI relative rndah

karena ginjal bayi belum dapat mengonsentrasikan air

kemih dengan baik. Kandungan garam dan mineral pada


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 21
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

ASI kalsium, kaliun, natrium, tembaga, zat besi, dan

mangan.

e) Vitamin

Vitamin pada ASI diantaranya vitamin D, E, dan K

2) Zat Protektif

a) Lactobasillus bifidus

Lactobasillus bifidus berfungsi mengubah laktosa ,emjadi

asam laktat dan asam asetat yang menyebabkan saluran

pencernaan menjadi lebih asamuntuk menghambat

pertumbuhan mikroorganisme

b) Laktoferin

Laktoferin berikatan dengan zat besi untuk menghambat

pertumbuhan kuman tertentu seperti E. coli dan

menghambat pertumbuhan jamur kandida.

c) Lisozim

Lisozim merupakan faktor protektif terhadap serangan

bakteri pathogen serta penyakit diare.

d) Komplemen C3 dan C4

Komplemen C3 dan C4 berfungsi sebagai daya opsonik,

anafilaktoksik, dan kemotaktik.

e) Faktor antistreptokokus
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 22
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi

kuman steptokokus.

f) Antibodi

Antibodi dalam ASI dapat bertahan di dalam saluran

pencernaan bayi dan membuat lapisan pada mukosanya

sehingga mencegah bakteri pathogen atau enterovirus

masuk kea lam mukosa usus.

g) Imunitas Seluler

Imunitas seluler berfungsi membunuh dan

memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3, C4,

lisozim, serta laktoferin.

h) Tidak Menimbulkan Alergi

Sistem Ig E pada bayi beum sempurna, sehingga bayi

yang diberikan susu formula akan merangsang aktivasi

system Ig E dan menimbulkan alergi.

c. Manfaat ASI

Manfaat ASI bagi bayi menurut Prasetyono (2009)

adalah :

1) Ketika bayi berusia 6-12 bulan, ASI bertindak sebagai

makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60%

kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi,


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 23
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

maka ASI perlu ditambah dengan Makanan Pendampin

ASI (MP-ASI). Setelah berumur 1 tahun, meskipun ASI

hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi,

pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih memberikan

manfaat bagi bayi.

2) ASI memang terbaik untuk bayi manusia,

sebagaimana susu sapi yang terbaik untuk bayi sapi.

3) ASI merupakan komposisi makanan ideal untuk bayi.

4) Para dokter menyepakati bahwa pemberian ASI dapat

mengurangi risiko infeksi lambung dan usus, sembelit,

serta alergi.

5) Bayi yang diberi ASI lebih kebal terhadap penyakit

ketimbang bayi yang tidak memperoleh ASI. Ketika ibu

tertular penyakit melalui makanan, seperti gastroenteritis

atau polio, maka antibodi ibu terhadap penyakit akan

diberikan kepada bayi melalui ASI.

6) Bayi yang diberi ASI lebih mampu menghadapi

efek penyakit kuning. Jumlah bilirubin dalam darah bayi

banyak berkurang seiring diberikannya kolostrum yang

dapat mengatasi kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui

sesering mungkin dan tidak diberi pengganti ASI.


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 24
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

7) ASI selalu siap sedia ketika bayi menginginkannya.

ASI pun selalu dalam keadaan steril dan suhunya juga

cocok.

8) Dengan adanya kontak mata dan badan, pemberian

ASI semakin mendekatkan hubungan antara ibu dan anak.

Bayi merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Hal ini

mempengaruhi kemapanan emosinya di masa depan.

9) Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik

untuk diberikan kepadanya, karena ASI sangat mudah

dicerna. Dengan mengonsumsi ASI, bayi semakin cepat

sembuh.

10) Bayi yang lahir prematur lebih cepat tumbuh jika

diberi ASI. Komposisi ASI akan teradaptasi sesuai

kebutuhan bayi. ASI bermanfaat untuk menaikkan berat

badan dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur.

11) Beberapa penyakit yang jarang menyerang bayi yang

diberi ASI antara lain kolik, kematian bayi secara

mendadak atau SIDS (Sudden Infant Death Syndrome),

eksem, dan ulcerative colitis.

12) IQ pada bayi yang memperoleh ASI lebih tinggi 7-9

poin ketimbang bayi yang tidak diberi ASI. Berdasarkan


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 25
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

hasil penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang

diberi ASI pada usia 9,5 tahun mencapai 12,9 poin lebih

tinggi dari pada anak yang minum susu formula.

13) Menyusui bukanlah sekedar memberi makan, tetapi

juga mendidik anak. Sambil menyusui, ibu perlu mengelus

bayi dan mendekapnya dengan hangat. Tindakan ini bisa

memunculkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan

memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Hal itu

terjadi dasar bagi pembentukan sumber daya manusia yang

lebih baik, yang menyayangi orang lain.

d. Keuntungan ASI

Beberapa keuntungan yang diperoleh bayi dari

mengkonsumsi ASI (Bahiyatun, 2009) :

1) ASI mengandung semua bahan yang diperlukan

untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.

2) Dapat diberikan di mana saja dan kapan saja

dalam keadaan segar, bebas bakteri, dan dalam suhu

yang sesuai, serta tidak memerlukan alat bantu.

3) Bebas dari kesalahan dalam penyediaan.


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 26
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

4) Problem kesulitan pemberian makanan bayi jauh

lebih sedikit dari pada bayi yang mendapatkan susu

formula.

5) Mengandung zat anti yang berguna untuk

mencegah penyakit infeksi usus dan alat pencernaan.

6) Mencegah terjadinya keadaan gizi yang salah

(marasmus, kelebihan makanan, dan obesitas).

2.2. Konsep Asuhan Keperawatan

2.2.1 Pengkajian

Menurut Potter (2005), pengkajian keperawatan adalah suatu proses

yang bertujuan untuk mengumpulkan, meverifikasi, dan

mengomunikasikan data tentang klien. Pengkajian meliputi :

a. Anamnesis

Anamnesis adalah dimana mencari data dari narasumber langsung,

pasien atau keluarga atau tenaga kesehatan yang lain tentang keadaan

pasien. Anamnesis meliputi :

1) Identitas klien :

Nama bayi : Untuk menghindari kekeliruan.


Tanggal lahir : Untuk mengetahui kapan bayi baru lahir,
sesuai atau tidak dengan perkiraan lahirnya.
Dan untuk mengetahui tingkat kenaikan kadar
bilirubin pada bayi cukup bulan.
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 27
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Jenis kelamin : Untuk mengetahui jenis lamin bayi.


Umur : Untuk mengetahui berapa umur bayi yang
nanti akan disesuaikan dengan tindakan yang
akan dilakukan. Dan untuk mengetahui tingkat
keparahan ikterus yaitu jika timbul pada 24
jam sesudah kelahiran termasuk ikterus
patologis sedangkan jika timbul pada hari
kedua atau ketiga termasuk ikterus fisiologi
Alamat : Untuk memudahkan kunjungan rumah.
Nama ibu : Untuk memudahkan memanggil/menghindari
kekeliruan
Umur : Untuk mengetahui apakah ibu termasuk resiko
tinggi/rendah
Pekerjaan : Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi
Pendidikan : Untuk memudahkan pemberian KIE
Agama : Dengan diketahui agama pasien, akan
mempermudah dalam memberikan dukungna
mental dan dukungna spiritual dalam proses
pelaksanaan asuhan kebidanan.
Alamat : Untuk memudahkan komunikasi dan
kunjungan rumah
Nama suami : Untuk memudahkan memanggil/menghindari
kekeliruan
Umur : Untuk mengetahui usia suami
Pekerjaan : Untuk mengetahui tingkat sosial ekonomi
Pendidikan : Untuk memudahkan pemberian KIE
Alamat : Untuk memudahkan komunikasi dan
kunjungan rumah

2) Keluhan utama : mengkaji keluhan yang dirasakan pada

pasien untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan.


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 28
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

3) Riwayat kehamilan dan persalinan sekarang (Sondakh,

Jenny, 2013).

 Riwayat prenatal

Anak keberapa, riwayat kehamilan yang mempengaruhi BBL

adalah kehamilan yang tidak disertai komplikasi seperti DM,

hepatitis, jantung, asma, hipertensi, TBC, frekuensi ANC,

dimana keluhan-keluhan selama hamil, HPHT dan kebiasaan

ibu selama hamil.

 Riwayat natal

Berapa usia kehamilan, jam berapa waktu persalinan, jenis

persalinan, BB bayi, PB bayi, denyut nadi, respirasi, suhu,

bagaimana ketuban, ditolong oleh siapa, komplikasi

persalinan dan APGAR score.

4) Riwayat kesehatan keluarga

Penyakit ini terjadi bisa dengan ibu dengan riwayat

hiperbilirubinemia pada kehamilan atau sibling sebelumnya,

penyakit hepar, fibrosiskistik, kesalahan metabolisme saat lahir

(galaktosemia), diskrasiasi darah atau sfeosititas dan definisi

glukosa-6 fosfat dehidrogenasi (G-6P).

5) Riwayat kesehatan dahulu


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 29
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

Ibu dengan diabetes melitus, mengkonsumsi obat-obatan

tertentu misalnya salisilat, sulfonamidoral pada rubella,

sitomegalovirus pada proses persalinan dengan ekstrasi vakum,

induksi, oksitoksin, dan perlambatan pengikatan tali pusat atau

trauma kelahiran yang lain (Mitayani, 2012).

6) Riwayat nutrisi

Nutrisi yang kurang dapat menimbulkan ikterus pada hari 6-10

kehidupan bayi hal ini karena ASI dapat mendorong usus dan

menyebabkan bilirubin keluar lewat feses dan urin lebih lancar.

b. Pemeriksaan fisik umum

Kesadaran : Compos mentis

Suhu : Normal (36,5-37,5 oC)

Pernapasan : Normal (40-60 kali/menit)

Denyut jantung : Normal (130-260 kali/menit)

Berat badan : Normal (2500-4000 gram)

Panjang badan : Antara 48-52 cm

1) Kepala : Memeriksa ubun-ubun, sutura, moulase,

caput succedaneum, cephal hematoma, hidrosefalus,

ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil.


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 30
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

2) Muka : Memeriksa kesimetrisan muka, kulit muka

tipis dan keriputh. Bayi ikterus warna kulit terlihat

kuning.

3) Mata : Memeriksa bagian sklera pucat atau kuning

dan konjungtiva apakah merah muda atau tidak.

4) Hidung : Memeriksa lubang hidung tampak jelas.

5) Mulut : Memeriksa reflek hisap, menelan serta batuk

masih lemah atau tidak efektif dan tangisannya

melengking.

6) Telinga : Memeriksa kesimetrisan letak dihubungkan

dengan mata dan kepala.

7) Leher : Memeriksa pembengkakan dan benjolan.

8) Dada : Memeriksa bentuk dada, puting susu, bunyi

jantung dan pernafasan.

9) Abdomen : Memeriksa distensi abdomen, defek

pada dinding perut atau tali pusat dimana usus atau

organ perut yang lain keluar, untuk melihat bentuk

dari abdomen.

10) Genitalia : Memeriksa bagian genitalia jika

perempuan labia mayora sudah menutupi labia


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 31
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

minora, sedangkan laki-laki testis sudah turun,

skrotum sudah ada.

11) Anus : Memeriksa terdapat lubang anus.

12) Ekstremitas : Memeriksa posisi, gerakan,

reaksi bayi bila disentuh, dan pembengkakan

.Bayi ikterus terlihat hipotonus.

13) Refleks

a. Refleks moro : Timbulnya pergerakan tangan yang

simetris apabila kepala tiba-tiba digerakkan.

b. Refleks rooting : Bayi menoleh ke arah benda yang

menyentuh pipi.

c. Refleks graphs : Refleks genggaman telapak tangan

dapat dilihat dengan meletakkan pensil atau jari di telapak

tangan bayi.

d. Refleks sucking : Terjadi ketika bayi yang baru lahir

secara otomatis menghisap benda yang ditempatkan di

mulut mereka. refleks menghisap pada bayi ikterus kurang.

e. Refleks tonicneck : Pada posisi telentang, ekstremitas

di sisi tubuh dimana kepala menoleh mengalami ekstensi,

sedangkan di sisi tubuh lainnya fleksi.

Pemeriksaan antropometri
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 32
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

- Berat badan : BB bayi normal 2500-4000 gram.

- Panjang badan : PB bayi normal 48-52 cm

- Lingkar kepala : Normal 33-38 cm

- Lingkar lengan atas : 10-11 cm

c. Data penunjang

Data penunjang diperoleh dari pemeriksaan laboratorium antara lain

pemeriksaan Hb dan golongan darah serta kadar bilirubin dalam

darah.

2.2.2. Diagnosa Keperawatan

Dari data tersebut, diagnosa keperawatan yang mungkin timbul adalah

a. Ikterus neonatus berhubungan dengan BBLR, nutrisi

kurang, bayi menunjukkan kesulitan transisi, usia neonatus 1-7

hari, atau feses terlambat keluar.

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan kurangnya asupan nutrisi

c. Resiko Infeksi berhubungan dengan malnutrisi

2.2.3. Intervensi
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 33
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

1) Ikterus Neonatus berhubungan dengan BBLR, nutrisi

kurang, bayi menunjukkan kesulitan transisi, usia neonatus 1-7

hari, atau feses terlambat keluar.

NOC NIC
Breasfeeding Inefective Phototeraphy : Neonate
 Menyusui secara mandiri  Meninjau sejarah ibu
 Tetap mempertahankan laktasi dan bayi untuk faktor
 Pertumbuhan dan perkembangan resiko untuk
bayi dalam batas normal hiperbilirubinemia
 Mengetahui tanda-tanda  Amati tanda-tanda
penurunan suplai ASI ikterus
 Mengumpulkan dan menyimpan  Malaporkan nilai
ASI secara aman laboratorium untuk praktisi
 Penyapihan pemberian ASI primer
diskontinuitas progresif pemberian  Tempatkan bayi di
 Kemampuan penyediaan isolasi
perawatan untuk mencairkan,  Instruksikan keluarga
menghangatkan dan menyimpan pada prosedur fototerapi
secara aman dan perawatan
 Menunjukkan teknik memompa  Terapkan tambalan
ASI mata untuk menutup kedua
 BB bayi = masa tubuh mata
 Tidak ada respon alergik  Hapus tambalan mata
sistemik setiap 4 jam atau ketika
lampu mati untuk kontak
orang tua atau makan
 Memantau mata untuk
edema, drainase dan warna
 Tempatkan fototerapi
lampu diatas bayi pada
ketinggian yang sesuai
 Periksa intensitas
lampu sehari-hari
 Memonitor tanda-tanda
vital
 Ubah posisi bayi setiap
4 jam
 Memantau tingkat
bilirubin serum
 Mengevaluasi status
neurologis
 Amati tanda-tanda
dehidrasi
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 34
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

 Timbang setiap hari


 Mendorong 8 kali
menyusui perhari

2) Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh

bd Kurangnya Asupan Nutrisi Tubuh

NOC NIC
Status Nutrisi Manajemen Nutrisi
 Asupan nutrisi  Tentukan status gizi pasien
 Asupan makanan dan kemampuan untuk memenuhi
 Asupan cairan kebutuhan gizi
 Energi  Kaji adanya alergi makanan
 Rasio berat badan/tinggi  Ciptakan lingkungan yang
badan optimal pada saat mengkonsumsi
 Hidrasi makanan
 Anjurkan keluarga untuk
membawa makanan favorite
pasien sementara pasien dirumah
sakit
 Anjurkan pasien mengenai
modifikasi diet yang diperlukan
 Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan vitamin
C
 Berikan makanan yang
terpilih (sudah dikonsultasikan
dengan ahli gizi)
 Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi

Monitor Nutrisi
 Identifikasi perubahan berat
badan terakhir
 Monitor turgor kulit dan
mobilitas
 Identifikasi abnormalitas
kulit
 Identifikasi abnormalitas
rambut
 Monitor mual dan muntah
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 35
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

 Identifikasi abnormalitas
eliminasi bowel
 Monitor diet dan asupan
kalori
 Identifikasi perubahan nafsu
makan dan aktivitas akhir-akhir
ini
 Monitor tipe dan banyaknya
latihan yang biasa dilakukan
 Tentukan pola makan
 Monitor adanya kemerahan,
pucat, dan jaringan konjungtiva
yang kering
 Identifikasi adanya
ketidaknormalan kuku
 Lakukan evaluasi
kemampuan menelan
 Identifikasi adanya
ketidaknormalan rongga mulut
 Lakukan pemeriksaan
laboratorium, monitor hasilnya

Terapi Intravena
 Verifikasi perintah untuk
terapi IV
 Instruksikan pasien tentang
prosedur
 Jaga teknik aseptik dengan
ketat
 Periksa tipe cairan
 Lakukan prinsip lima benar
sebelum memulai infus atau
pemberian obat
 Monitor kecepatan aliran
intravena dan area intravena
selama pemberian infus
 Monitor reaksi fisik terhadap
adanya cairan yang berlebihan
 Monitor kepatenan IV
sebelum memberikan pengobatan
IV
 Monitor tanda dan gejala
yang berhubungan dengan
phlebitis infus dan infeksi lokal
 Dokumentasikan terapi yang
diberikan
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 36
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

3) Resiko Infeksi berhubungan dengan malnutrisi

NOC NIC
Status Infeksi Pencegahan Infeksi
 Tidak ada ruam  Periksa tanda-tanda dan
 Tidak ada bau busuk gejala-gejala infeksi.
 Tidak ada demam  Periksa luka apakah infeksi
 Tidak ada nyeri atau tidak.
 Tida ada masalah pencernaan  Periksa jumlah granulosit,
 Tidak lemah WBC dan hasil yang berbeda.
 Ikuti tindakan pencegahan
neutropenic dengan tepat.
 Batasi jumlah
pembesuk/pengunjung.
 Lindungi semua pembesuk
dari penyakit menular.
 Lakukan asepsis pada pasien
yang memiliki resiko infeksi.
 Lakukan teknik pengasingan
dengan tepat.
 Berikan perawatan kulit
dengan benar pada daerah oedem.
 Periksa kulit dan membrane
mukosa dari kemerahan, panas
yang berlebihan dan kekeringan.
 Periksa kondisi luka bekas
operasi.
 Jelaskan proses perawatan
jika dibutuhkan.
 Tambahkan pemasukan
nutrisi yang cukup.
 Meningkatkan pemasukan
cairan dengan tepat.
 Memperbanyak istirahat.
 Periksa perubahan kondisi
pasien.
 Anjurkan pasien untuk
memperbanyak bergerak dan
latihan.
 Anjurkan cara napas dalam
dan batuk yang benar.
 Berikan sistem imun /
kekebalan.
 Sarankan pasien untuk
Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 37
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

memakan antibiotik sesuai resep.


 Ajarkan pada pasien dan
keluarga tentang tanda-tanda dan
gejala dari infeksi dan kapan
harus melaporkannya pada tim
kesehatan.
 Ajarkan pasien dan anggota
keluarga bagaimana cara
menghindari infeksi.
 Hindarkan buah segar,
sayuran dan merica dalam diet
pasien dengan neutropenia.
 Ganti bunga segar dan
tanaman di lingkungan pasien.
 Berikan kamar khusus jika
diperlukan.
 Pastikan air aman dari kadar
hipoklorin yang berlebih laporkan
dugaan infeksi pada anggota tim
kesehatan.
 Laporkan cara perawatan
infeksi pada tim anggota
kesehatan.

2.2.4. Implementasi
Implementasi adalah wujud dari rencana keperawatan yang telah

disusun sesuai intervensi (Setiadi, 2012). Implementasi keperawatan

yang diberikan disesuaikan dengan kondisi pasien dengan keluhan

perharinya.

Macam-macam implementasi menurut Potter dan Perry (2008)

yaitu ; 1) Intervensi keperawatan independen, yaitu tindakan yang

dilakukan perawat sendiri secara mandiri, 2) Intervensi keperawatan

dependen, yaitu tindakan yang membutuhkan arahan dari dokter atau

profesional kesehatan lainnya, dan 3) Intervensi keperawatan


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 38
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

kolaboratif, yaitu tindakan yang membutuhkan gabungan pengetahuan,

keterampilan, dan keahlian berbagai profesional layanan kesehatan.

2.2.5. Evaluasi

Evaluasi adalah melihat hasil dari implementasi yang sudah

diberikan. Tahap evaluasi adalah mengidentifikasi kriteria dan standar

evaluasi, mengumpulkan data untuk menentukan apakah kriteria dan

standar telah terpenuhi, menginterpretasi dan meringkas data,

mendokumentasikan temuan dan setiap pertimbangan klinis dan

menghentikan, meneruskan, atau merevisi rencana perawatan (Potter

dan Perry, 2009).

Macam-macam evaluasi adalah evaluasi formatif dan sumatif.

Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan dan hasil

tindakan keperawatan. Evaluasi formatif ini dilakukan segera setelah

perawat mengimplementasikan rencana keperawatan guna menilai

keefektifan tindakan keperawaatan yang telah dilaksanakan. Perumusan

evaluasi formatif ini meliputi empat komponen yang dikenal dengan

istilah SOAP, yakni subjektif (data berupa keluhan klien), objektif (data

hasil pemeriksaan), analisis data (perbandingan data dengan teori), dan

perencanaan. Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah

semua aktivitas proses keperawatan selesai dilakukan. Evalusi sumatif

ini bertujuan menilai dan memonitor kualitas asuhan keperawatan yang


Asuhan Keperawatan By. Ny. L dengan Hiperbilirubinemia 39
Dengan Pemberian ASI Efektif di Ruang Perinatologi
RSUD Embung Fatimah Kota Batam
Tahun 2018

telah diberikan. Metode yang dapat digunakan pada evaluasi jenis ini

adalah melakukan wawancara pada akhir layanan, menanyakan respon

klien dan keluarga terkait layanan keperawatan, mengadakan pertemuan

pada akhir layanan (Asmadi, 2008).