Anda di halaman 1dari 38

1.

PENDAHULUAN

Bumi ini terdiri dari berbagai macam lapisan. Lapisan itu juga terdiri dari
berbagai macam kandungan seperti batuan, mineral dan tanah. Batuan dan mineral
yang ada di bumi memiliki sifat-sifat listrik seperti; potensial listrik alami,
konduktivitas listrik, dan konstanta dielektrik. Ada berbagai metode geofisika
yang dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan. Salah satunya
adalah metode geolistrik. Metode ini dapat dijadikan cara untuk menyelidiki sifat
listrik di dalam bumi melalui respon yang ditangkap dari dalam tanah berupa beda
potensial, arus listrik, dan medan elektromagnetik. Salah satu dari metode
geolistrik ini adalah metode tahanan jenis.

Metode geolistrik tahanan jenis atau resistivitas merupakan salah satu


metode geofisika yang dapat memberikan gambaran susunan dan kedalaman
lapisan batuan, dengan mengukur sifat kelistrikan batuan dibawah permukaan
bumi. Metode geolistrik banyak digunakan dalam dunia eksplorasi khususnya
eksplorasi air tanah karena resistivitas dari batuan sangat sensitif terhadap
kandungan airnya dimana bumi dianggap sebagai sebuah resistor pada geolistrik
tahanan jenis.

Metode resistivitas umumnya digunakan untuk eksplorasi dangkal, sekitar


300 – 500 m. Prinsip dalam metode ini yaitu arus listrik diinjeksikan ke alam
bumi melalui dua elektroda arus, sedangkan beda potensial yang terjadi diukur
melalui dua elektroda potensial. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial
listrik, dapat diperoleh variasi harga resistivitas listrik pada lapisan di bawah titik
ukur.

1.1. Tujuan Praktikum


Praktikum Geolistrik 2D ini bertujuan:

1. Memahami prinsip dasar Geolistrik Tahanan Jenis (resistivitas)


2. Memahami prinsip prinsip pengukuran lapangan Geolistrik Tahanan Jenis.
3. Memahami cara pengolahan dan interpretasi data Geolistrik Tahanan Jenis.

1
1.2. Hasil yang diharapkan
Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa/i diharapkan mampu:

1. Melakukan desain lapangan dan mengukur Geolistrik Tahanan jenis.


2. Melakukan pengolahan dan interpretasi data Geolistrik Tahanan Jenis.

2
2. TEORI DASAR

2.1. Hukum Ohm


Metode geolistrik tahanan jenis didasari oleh hukum Ohm, dimana
menurut hukum Ohm Hambatan (R) sebanding dengan panjang (L) dan
berbanding terbalik dengan luas penampang (A) adalah:
𝑅 = 𝜌𝐿/𝐴 (2.1)
Untuk sebuah rangkaian listrik hukum Ohm dapat ditulis dengan 𝑅 = 𝑉/𝐼 . Dari
persamaan tersebut dapat di rumuskan nilai resistivitas yang digunakan dalam
metode geolistrik, yaitu:
𝑉𝐴
𝜌= (2.2)
𝐼𝐿
Dimana ρ adalah resistivitas, potensial (V), luas penampang (A), arus (I)
dan panjang (L).

2.2. Pengukuran Geolistrik


Geolistrik merupakan salah satu metoda geofisika untuk mengetahui
perubahan tahanan jenis lapisan batuan di bawah permukaan tanah dengan cara
mengalirkan arus listrik yang mempunyai tegangan tinggi ke dalam tanah. Injeksi
arus listrik ini menggunakan elektroda yang ditancapkan ke dalam tanah dengan
jarak tertentu. Semakin panjang jarak elektroda akan menyebabkan aliran arus
listrik bisa menembus lapisan batuan lebih dalam.
Metode geolistrik dapat diaplikasikan untuk hal-hal berikut:
 Investigasi lithologi struktur bawah permukaan
 Estimasi kedalaman, ketebalan, sifat akuifer dan aquiclude
 Penentuan ketebalan zona pelapukan sebagai penutup batuan tak lapuk
 Deteksi retakan dan patahan pada batuan kristalin,
 Pemetaan jalur preferensial aliran air tanah,
 Lokalisasi dan delineasi batas horisontal bahan limbah,
 Perkiraan kedalaman dan ketebalan tempat pembuangan sampah,
 Deteksi kehomogenan pada tempat pembuangan limbah,
 Pemetaan kontaminasi limbah,

3
 Pemantauan perubahan temporal pada sifat listrik bawah permukaan,
 Deteksi rongga bawah tanah atau gua
 Klasifikasi bahan kohesif dan non-kohesif pada tanggul dan bendungan.

2.3. Metode Geolistrik Tahanan Jenis


Metode geolistrik tahanan jenis atau resistivitas merupakan salah satu
metode geofisika yang dapat memberikan gambaran susunan dan kedalaman
lapisan batuan, dengan mengukur sifat kelistrikan batuan.
Metode geolistrik tahanan jenis dapat dibagi beberapa kelompok
1. Metode tahanan jenis mapping
Metode tahanan jenis mapping atau profiling adalah metode yang
digunakan untuk menyelidiki variasi tahanan jenis kearah lateral sehingga
di peroleh informasi posisi benda dipermukaan.
2. Metode tahanan jenis sounding
Metode tahanan jenis sounding digunakan untuk menyelidiki tahan jenis
kearah vertikal, sehingga dapat diperoleh informasi kedalaman benda di
bawah permukaan
3. Gabungan Sounding dan Profiling (2-D Resistivity)
Sounding dan profiling dapat dikombinasikan dalam suatu proses tunggal
(2-D resistivity imaging) untuk menyelidiki struktur geologi yang rumit
dengan kontras resistivitas lateral yang tinggi. Kombinasi ini memberikan
informasi rinci baik lateral mapun vertikal di sepanjang profil dan
merupakan teknik yang paling sering digunakan dalam studi lingkungan.
Inversi 2-D menghasilkan distribusi resistivitas dua dimensi di dalam
tanah
4. Survei Resistivitas 3D (3-D resistivity)
5. Electrical Resistivity Tomography (ERT).
ERT merupakan metode geolistrik multi elektroda. Survei resistivitas 3-D
dan pengukuran ERT memberikan informasi tentang struktur yang
kompleks (Dahlin et al., 2002).

4
2.4. Tahanan Jenis Semu
Pada geolistrik tahanan jenis atau resistivitas yang diperoleh bukan
resistivitas yang sebenarnya melainkan resistivitas semu (ρa), resistivitas semu
dirumuskan dengan:
𝛥𝑉
𝜌𝑎 = 𝐾 (2.3)
𝐼
Dimana K merupakan faktor geometri, ΔV merupakan beda potensial dan I
merupakan kuat arus.

Pada kenyataannya, bumi merupakan medium berlapis dengan masing-


masing lapisan mempunyai harga resistivitas yang berbeda. Resistivitas semu
merupakan resistivitas dari suatu medium fiktif homogen yang ekivalen dengan
medium berlapis yang ditinjau. Perhatikan gambar dibawah:

Permukaan bumi Permukaan bumi

ρ1
ρa
ρ2
Kondisi resistivitas sebenarnya Resistivitas semu
Gambar 2.1 Lapisan dengan resistivitas sebenarnya (ρ1ρ2) dan resistivitas
semu (ρa).

Pada Gambar 2.1 resistivitas semu dapat diubah menjadi resistivitas


sebenarnya, misalnya medium yang berlapis ditinjau terdiri dari dua lapisan yang
mempunyai resistivitas yang berbeda (ρ1 dan ρ2). Dalam pengukuran geolistrik,
medium ini dianggap sebagai medium satu lapis homogen yang memiliki satu
nilai resistivitas yaitu resistivitas semu ( ρa). Konduktansi lapisan fiktif sama
dengan jumlah konduktansi masing-masing lapisan yaitu ρa = ρ1 + ρ2 (Indriana,
R.D., dan Danusaputro, H., 2006)

5
2.5. Faktor Geometri dan Konfigurasi Elektroda
Faktor geometri adalah besaran koreksi konfigurasi kedua elektroda
potensial dan kedua elektroda arus. Faktor geometri (K) dapat didefinisikan
dengan persamaan:

A M N B

1 1 1 1 −1
𝐾 = 2𝜋 [ − − + ] (2.16)
𝐴𝑀 𝑀𝐵 𝐴𝑁 𝑁𝐵
Aturan penempatan elektroda dalam metode geolistrik disebut konfigurasi
elektroda. Konfigurasi elektroda yang digunakan mengakibatkan faktor geometri
tiap-tiap konfigurasi berbeda-beda.
a. Konfigurasi Wenner
Konfigurasi Wenner dikembangkan oleh Wenner di Amerika. Konfigurasi
ini memiliki empat buah elektroda yang terletak dalam satu garis simetris
seperti Gambar di bawah:
A M N B
a a a

Gambar 2.2 Konfigurai elektroda Wenner

Pada Gambar 2.2 jarak MN pada konfigurasi Wenner selalu sepertiga (1/3)
dari jarak AB. Bila jarak AB diperlebar, maka jarak MN juga harus diubah
sehingga jarak MN tetap sepertiga jarak AB.
Keunggulan dari konfigurasi Wenner ini adalah ketelitian pembacaan
tegangan pada elektroda MN lebih akurat dengan angka yang relatif besar
karena elektroda MN yang relatif dekat dengan elektroda AB. Di sini bisa
digunakan alat ukur multimeter dengan impedansi yang relatif lebih kecil.
Sedangkan kelemahannya adalah tidak bisa mendeteksi homogenitas batuan

6
di dekat permukaan yang bisa berpengaruh terhadap hasil perhitungan. Data
yang didapat dari cara konfigurasi Wenner, sangat sulit untuk dapat
dihilangkan faktor non-homogenitas batuan, sehingga hasil perhitungan
menjadi kurang valid (Milson. J., 2003).
Subtitusi nilai yang sebenarnya dari aturan Wenner adalah:
1 1 1 1 2 2 -1
𝐾 = 2𝜋 [ − − + ] -1 = 2𝜋 [ − ]
𝑎 2𝑎 2𝑎 𝑎 𝑎 2𝑎
= 2𝜋𝑎 (2.17)
Karena 𝜌𝑎 = 𝐾𝑅, 𝜌𝑎 = 2𝜋𝑎𝑅
b. Konfigurasi Schlumberger
Aturan konfigurasi Schlumberger pertama dikenalkan oleh Conrad
Schulumberger (1912). Pengukuran dengan konfigurasi Schlumberger ini
menggunakan empat elektroda, masing-masing dua buah elektroda arus
dan dua buah elektroda potensial. Seperti pada (Gambar 2.8)

A M N B
na a na

Gambar 2.3 Konfigurasi elektroda Schlumberger

Pada Gambar 2.3 ditunjukkan bahwa konfigurasi Schlumberger diidealkan


pada jarak MN yang dibuat sekecil-kecilnya, sehingga jarak MN secara
teoritis tidak berubah. Tetapi karena keterbatasan kepekaan alat ukur, maka
ketika jarak AB sudah relatif besar maka jarak MN hendaknya dirubah.
Perubahan jarak MN baiknya tidak lebih besar dari 1/5 jarak AB.
Keunggulan konfigurasi Schlumberger ini adalah kemampuan untuk
mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan batuan pada permukaan, yaitu
dengan membandingkan nilai resistivitas semu ketika terjadi perubahan
jarak elektroda MN/2. Agar pembacaan tegangan pada elektroda MN lebih
akurat, maka ketika jarak AB relatif besar hendaknya jarak elektroda MN

7
juga diperbesar. Perubahan jarak elektroda MN terhadap jarak elektroda AB
yaitu ketika pembacaan tegangan listrik pada multimeter sudah sedemikian
kecil, misalnya kurang dari 1.0 mV. Kelemahan dari konfigurasi
Schlumberger ini adalah pembacaan tegangan pada elektroda MN adalah
lebih kecil terutama ketika jarak AB yang relatif jauh, sehingga diperlukan
alat ukur multimeter yang mempunyai karakteristik high-impedance dengan
akurasi tinggi yaitu yang bisa menunjukkan tegangan minimal empat digit
atau dua digit di belakang koma. Atau dengan cara lain diperlukan peralatan
pengirim arus yang mempunyai tegangan listrik DC yang sangat tinggi
(Broto, S. dan Rohima, S.A., 2008).

c. Konfigurasi dipole-dipole
Konfigurasi ini lebih sensitif pada perubahan nilai tahanan jenis di antara
elektroda-elektroda pasangan dipole-dipole. Konfigursi ini bagus untuk
pemetaan struktur vertikal, kurang bagus untuk pemetaan struktur horizontal
seperti lapisan-lapisan sedimen dan sill. Konfigurasi ini mempunyai
kedalaman investigasi lebih dangkal dibandingkan dengan konfigurasi
Wenner. Kelemahan dari konfigurasi ini adalah kuat sinyalnya sangat kecil
untuk nilai faktor 𝑛 yang besar. Keunggulan dari konfigurasi ini dapat
menutupi beberapa kelemahan dari konfigurasi Wenner dan Schlumberger
seperti pada gambar dibawah:

a na a

C1 C2 P1 P2

Gambar 2.4 Konfigurasi elektroda dipole-dipole

Pada Gambar 2.4 dimana C1 dan C2 adalah elektroda arus dan P1 dan P2
adalah elektroda potensial, a adalah spasi elektroda, n adalah
perbandingan jarak antara elektroda C1 dan P1 atau banyaknya lapisan
pengukuran dengan spasi “a” dipole-dipole C1-C2 atau P1-P2. Faktor

8
geometri adalah besaran koreksi posisi kedua elektroda potensial terhadap
letak kedua elektroda arus.
Berdasarkan letak elektroda maka faktor geometri untuk konfigurasi
dipole-dipole adalah: K = πn (n +1) (n +2) a. Sensitivitas elektroda
dipole-dipole yang paling besar berada di antara pasangan dipole C2-C1,
demikian juga di antara pasangan dipole- dipole P1-P2. Ini berarti bahwa
konfigurasi ini lebih sensitif pada perubahan nilai tahanan jenis arah
vertikal.

d. Konfigurasi Wenner- Schlumberger


Konfigurasi Wenner- Schlumberger merupakan suatu teknik gabungan
antara mapping dan sounding. Hasil dari gabungan antara Wenner dan
Schlumberger menyebabkan nilai k faktor geometrinya juga berubah yaitu:
𝑘 = 𝜋 𝑛(𝑛 + 1)𝑎 (2.4)

Gambar 2.5 Ilustrasi titik- titik pengukuran Wenner-Schlumberger

9
Faktor geometri (k) untuk beberapa konfigurasi
Susunan Konfigurasi Elerktroda Faktor Konfigurasi
Elektroda
Wenner
Wenner α 𝑘 = 2𝜋𝑎
Lee

Schlumberger 𝑘 = 𝜋 𝑛 (𝑛 + 1)𝑎
n>3

Dipole – dipole
Axial dipole 𝑘 = 𝜋 𝑛 (𝑛 + 1) (𝑛 + 2)𝑎
Wenner β

Pole – dipole 𝑘 = 2𝜋 𝑛 (𝑛 + 1)𝑎


Half Schlumberger n>3
Hummel

Pole – pole 𝑘 = 2𝜋𝑎

Gradient 𝑘
1−𝑋
=𝜋𝑛 [ 3
(Y 2 + (1 − X)2 )2
−1
1+𝑋
+ 3]
(Y 2 + (1 − X)2 )2
x y
(X = ; Y = )
Δ Δ

2.6. Resistivitas Batuan


Aliran konduksi arus listrik di dalam batuan/mineral digolongkan atas tiga
macam yaitu:
1. konduksi dielektrik

10
Konduksi dielektrik terjadi jika batuan/mineral bersifat dielektrik
terhadap aliran arus listrik (terjadi polarisasi muatan saat bahan dialiri
listrik).
2. Konduksi elektrolitik
Konduksi elektrolitik terjadi jika batuan/mineral bersifat porus dan pori-
pori tersebut terisi cairan-cairan elektrolitik. Pada kondisi ini arus listrik
dibawa oleh ion-ion elektrolit.
3. Konduksi elektronik
Konduksi elektronik terjadi jika batuan/mineral mempunyai banyak
elektron bebas sehingga arus listrik dialirkan dalam batuan/mineral oleh
elektron bebas.
Secara umum, berdasarkan resistivitas listriknya, batuan dan mineral
dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
 Konduktor baik : 10-8 < ρ < 1 Ωm
 Semi konduktor : 1 < ρ < 107 Ωm
 Isolator : ρ < 107 Ωm
(Telford, W.M., and Sheriff, R.E., 1982)
Resistivitas batuan yang mengandung air secara umum tergantung pada
banyaknya parameter fisik seperti porositas, salinitas, temperatur, konduktivitas
batuan dan perubahan termal. Pada satu sisi porositas dan saturasi dari fluida
cenderung dominan terhadap pengukuran resistivitas, di sisi lain pori patahan
pada kristal batuan juga dapat menurunkan harga resistivitas yang terdapat di
dalam fluida.
Adapun ketergantungan dari harga resistivitas pada batuan :
1. Semakin tinggi kandungan air maka semakin rendah nilai resistivitasnya.
2. Semakin tinggi sifat salinitas maka semakin rendah nilai resistivitasnya.
3. Semakin tinggi temperatur maka semakin rendah nilai resistivitasnya.
4. Semakin tinggi sifat porositas maka semakin rendah nilai resistivitasnya.
5. Semakin tinggi sifat kandungan lempung maka semakin rendah nilai
resistivitasnya.
6. Semakin tinggi kandungan mineral-mineral logam maka semakin rendah
nilai resistivitasnya (Telford, W.M.,, 1990).

11
Adapun beberapa harga resistivitas untuk jenis material-material yang ada
di bumi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 2.1 Resistivitas mineral dan batuan


Resistivitas
Mineral Resistivitas (Ωm) Batuan
(Ωm)
Sulfida:
Kalkopirit 1.2 x 10-5 - 3 x 10-1 Batuan serpih 20 -2x103
Pirit 2.9 x 10-5 -1.5 Konglomerat 2x103 -104
Pirhotit 7.5 x 10-6- 5x10-2 Batupasir 1 -7.4x108
Galena 3x10-5- 3x102 Batugamping 5x10 - 107
Sfalerit 1.5 x 107 Dolomit 3.5x102 -5x103
Oksida: Napal 3 -7x10
Hematit 3.5 x 10 -3-107 Lempung 1 -102
Limonite 103- 107 Aluvial dan pasir 10 -8x102
Magnetite 5 x10-5 -5.7x103 Moraine 10 -5x103
Ilmenit 10-3 -5x10
Sherwood batu pasir 100 -400
2 6
Quartz 3x10 - 10 Tanah (40% lempung) 8
Garam batu 3x10 - 1013 Tanah (20% lempung) 33
Antrasit 10-3 -2x105 Tanah teratas 250 -1700
Lignit 9-2x 102 London tanah liat 4 -20
Lias tanah liat 10 -15
Granit 3x102- x106 Tanah batu 15 -33
Granit (lapuk) 3x10 -5x102 Tanah kering 50 -150
Syenite 102 -106 Mercia batulumpur 20 -60
Diorit 104 -105 Batubara tanah liat 50
Gabro 103 -106 Batubara >100
Basalt 10 1.3x107 Kapur 50- 150
Gamping/mika 20 -104 Batu karang 0.2 -8
Grafit 10 -102 Kerikil (kering) 1400
Batu kapur 6x102 -4x107 Kerikil (jenuh) 100
Marmer 102 -2.5x108 Kuarte/Recent pasir 50 -100

Sumber: Reynolds, 1995.

Tabel 2.1 menunjukkan resistivitas batuan yang sebenarnya. Beberapa


mineral merupakan konduktor baik seperti pirit dan galena. Hematit merupakan
isolator.

12
2.7. Software Pengolahan Data Geolistrik
2.7.1. EarthImager 2D
EarthImager 2D merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk
mengolah data resistivitas dari mulai pembuatan pseudosection resistivitas semu
hasil pengukuran, peramalan resistivitas semu hasil perhitungan hingga
pembuatan model inversi.
Untuk masalah inversi nonlinier, vektor data d merupakan fungsi non
linear dari vektor parameter model m, yaitu, d = g (m). Tujuan inversi least
square adalah untuk meminimalkan ketidakcocokan data pembobotan,
S(m) = (dobs- g(m))T Wd (dobs – g(m)) (2.5)
Permasalahan inversi nonlinear diselesaikan secara iterasi. Pada setiap iterasi,
suatu model vektor yang baru, Δm diperoleh dengan penyelesaian linearisasi
sistem persamaan berikut.
(JTWdJ + λI) ∆m = JTWdJ . (dobs – g(m)) (2.6)

𝜕𝑔(𝑚)
Dimana 𝐽 = adalah matrik Jacobian.
𝜕𝑚

Ada beberapa pilihan metode inversi yang dapat digunakan pada software
ini, salah satunya metode inversi smooth model, yang dirumuskan sebagai berikut:
S(m) = (dobs- g(m))T Wd (dobs – g(m)) + α . mT Rm (2.7)

Dimana:
S(m) = smooth model
Dobs = observasi data
G(m) = data kalkulasi
Wd = data matrik pembobotan
α = faktor peredaman
R = operator kekasaran
(sumber : Instruction for manual Earth Imager 2D, 2009)

13
2.7.2. Res2Dinv
Res2Dinv merupakan program komputer yang secara otomatis
menentukan model resistivitas (2-D) untuk permukaan bawah bumi dari data hasil
survai geolistrik. Model 2-D ini menggunakan program inversi yang terdiri dari
sejumlah kotak- kotak persegi. Susunan kotak – kotak ini terikat oleh distribusi
dari titik – titik pada datum point. Distribusi dan ukuran kotak secara otomatis
dihasilkan dari program, sehingga jumlah kotak tersebut tidak melebihi jumlah
datum point. Program ini dapat digunakan untuk survai geolistrik konfigurasi
Wenner-Schlumberger dan bisa memproses hingga 650 elektroda dan 6500 point
dalam satu waktu. Spasi elektroda terbesar hingga 36 kali spasi kecil dalam kali
set data. Selain dapat dilakukan diatas permukaan tanah, program ini juga dapat
digunakan untuk survai bawah tanah. Tujuan dari inversi ini adalah untuk
menghitung tahanan jenis blok – blok, sehingga akan diperoleh tahanan jenis yang
cocok dengan hasil pengukuran (Loke, 1992).
Inversi rutin yang digunakan oleh program didasarkan pada metode
kuadrat terkecil smoothness terbatas (deGroot-Hedlin dan Constable 1990, Sasaki
1992). Pembatasan Smootness metode kudrat terkecil didasarkan pada persamaan
berikut
(𝐉 𝐓 𝐉 + 𝛌𝐅)𝐝 = 𝐉 𝐓 𝐠
𝐹 = 𝑓𝑥 𝑓𝑥𝑇 +𝑓𝑍 𝑓𝑍𝑇 (2.5)
Dimana:
𝑓𝑥 = ℎ𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙 𝑓𝑙𝑎𝑡𝑛𝑒𝑠𝑠 𝑓𝑖𝑙𝑡𝑒𝑟
𝑓𝑥 = 𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑘𝑎𝑙 𝑓𝑙𝑎𝑡𝑛𝑒𝑠𝑠 𝑓𝑖𝑙𝑡𝑒𝑟
𝐽 = 𝑡𝑢𝑟𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑡𝑟𝑖𝑘 𝑝𝑎𝑟𝑠𝑖𝑎𝑙
𝜆 = 𝑓𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑟𝑒𝑑𝑎𝑚𝑎𝑛
𝑑 = 𝑣𝑒𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑢𝑏𝑎𝑠𝑖 𝑚𝑜𝑑𝑒𝑙
𝑔 = 𝑣𝑒𝑐𝑡𝑜𝑟 𝑑𝑖𝑠𝑐𝑟𝑒𝑝𝑎𝑛𝑐𝑦
Persamaan kuadrat terkecil yang dihasilkan ditunjukkan oleh
(𝐽𝑇 𝐽 + 𝜆𝐹)𝑑 = 𝐽𝑇 𝑔 − 𝜆𝐹𝑟 (2.6)
Dimana r adalah vektor yang mengandung logaritma dari nilai-nilai model
resistivitas.

14
Data resistivitas hasil inversi memiliki nilai error yang disebut RMS
error. Nilai RMS error merupakan nilai error yang menunjukkan perbedaan
antara nilai resistivitas semu hasil pengukuran (measured apparent resistivity) dan
nilai resistivitas semu hasil perhitungan (calculated apparent resistivity). Nilai
RMS error dinyatakan dalam bentuk persen. Proses iterasi dilakukan untuk
memperkecil perbedaan antara nilai resistivitas semu hasil pengukuran dan nilai
resistivitas semu hasil perhitungan. Iterasi dilakukan hingga perubahan nilai RMS
error tidak terjadi secara signifikan

Jenis susunan dan nomor kodenya pada program RES2DINV


Nama sususan Nomor kode
Wenner (alpha) 1
Pole-pole 2
Inline dipole-dipole 3
Wenner (beta) 4
Wenner (gamma) 5
Pole-dipole 6
Wenner-Schlumberger 7
Equatorial dipole-dipole 8
Non-konvensional / susunan umum 11
Cross-borehole survey (nilai resistivitas semu) 12
Survei Cross-borehole (nilai resistansi) 13
Susunan Gradient (hanya digunakan sebagai sub-array 15
nomor dengan data dalam format susunan umum)

15
3. PERALATAN

3.1. Peralatan yang digunakan


Peralatan digunakan dalam praktikum geolistrik ini adalah Resistivitimeter
ARES. Dalam pengukuran geolistrik, peralatan-peralatan yang digunakan antara
lain:

Tabel 3.1 peralatan penelitian geolistrik

No Nama Jumlah

1 Ares 1 Unit
2 Kabel elektroda 10 Roll
3 Kabel T 1 Kabel
4 Kabel Power 1 Kabel
5 Kabel Konverter 1 Kabel
6 Kabel Baterai 12 V 1 Kabel
7 RS232 dan kabel USB 1 Kabel
8 Adapter AC 1 Buah
9 Elektroda 80 Buah
10 Konverter 1 Unit
11 Baterai 12 V 1 Unit
12 Genset 1 Buah
13 Battery Charger 1 Buah
14 Palu 2 Buah
15 Meteran 1 Unit
16 Donggel Res2Dinv 1 Buah
17 GPS Handheal 1 Buah
18 Komputer/ Laptop 1 Buah

16
Gambar 3.1. Resistivitimeter ARES

3.2. ARES dan aksessoris

Gambar 3.2. ARES dan bagian-bagiannya

Keterangan:
1. Power Supply sebagai konektor arus dari Baterai 12 volt dan Adaptor
AC.
2. Konektor ARES dengan Komputer
3. LCD Display berfungsi menampilkan menu

17
4. Keyboard untuk mengetik dan melakukan pengaturan.
5. Stop Button berfungsi untuk pause dan menghentikan pengukuran.
6. Soket sebagai konektor untuk elektroda arus dan tegangan ketika
menggunakan konfigurasi poe-dipole.
7. Aksessories sebagai konektor kabel T dan kabel VES
8. Lampu indikator akan menyala jika mulai dilakukan pengambilan data

18
4. PROSEDUR PENGUKURAN LAPANGAN

4.1. Pengambilan data


Orientasi medan menggunakan peta topografi yang ada dilakukan terlebih
dahulu sebelum pengambilan data lapangan. Orientasi medan ini untuk
perencanaan lintasan-lintasan pengambilan data.
1. Pembuatan lintasan ukur
Dalam pengambilan data di lapangan yang pertama harus dilakukan adalah
pembuatan lintasan ukur, dimana setiap lintasan yang akan di ukur harus
dibuat lurus. Spasi jarak antar elektroda pada lintasan di ukur
menggunakan meteran. Adapun arah lintasan jika kondisi lapangan
memungkinkan sebaiknya dibuat berarah dari Barat-Timur.
2. Pengukuran geolistrik
Pengambilan data geolistrik ini dilakukan menggunakan Resistivitimeter
ARES dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Tancap elektroda ke tanah minimal setengah dari panjang elektroda
pada tiap-tiap jarak spasi yang di buat/di ukur. Elektroda dapat
dipukul dengan palu apabila tanahnya keras. Posisi pengait
konektor pada elektroda disejajarkan untuk memudahkan ketika
konektor dikait ke elektroda.
2) Bentangkan kabel, kemudian pasang konektor pada kabel
kepengait elektroda dengan cara di jepit menggunakan pegas.

19
3) Hubungkan kabel T dengan 2 bagian kabel (kabel T berfungsi
sebagai posisi Center) dan kemudian hubungkan ke
Resistivitimeter ARES. Posisi 0 m atau awal pengukuran
ditunjukkan oleh bagian ujung kabel jantan (jarum). Center dapat
diletakkan antar setiap sambungan kabel elektroda.

4) Pasang kabel Baterai 12 V ke alat dan kemudian hubungkan ke


baterai.

5) Hidupkan alat dengan cara menekan tombol Power beberapa


detik.
6) Pilih New Measurement untuk melakukan pengukuran dan tekan
.
Tekan keypad setelah selesai melakukan setiap pilihan untuk
melanjutkan ke menu selanjutnya.

20
7) Pilih 2D multicable

8) Tekan untuk memulai pengambilan data yang baru atau


untuk melanjutkan pengukuran yang pernah dilakukan
sebelumnya.

9) Ketik nama File yang ingin dibuat, lokasi pengukuran.

10) Ketik Nama operator, Tanggal dan catatan apabila dianggap perlu
ataupun dikosongkan saja.

21
11) Lewati saja menu profil dan grid dengan cara menekan

12) Ketik panjang lintasan yang akan di ukur. Perlu diperhatikan


bahwa jumlah elektroda yang digunakan adalah 80 buah dimana
elektroda 1 berada pada posisi 0 meter. Sehingga apabila
digunakan spasi 1 m maka panjang lintasan kita adalah 79 m.

13) Pilih metode pengukuran yang ingin digunakan. Misalkan Wenner


Schlumberger (Schlumberger N6).

14) Ketik posisi jarak elektroda pertama dan terakhir dan pilih tipe data
hasil yang diinginkan. Disarankan memilih full untuk data yang
lebih baik.

Bentuk-bentuk dari tiap-tiap tipe data hasil yang akan didapat:

22
15) Ketik nilai pulse 1 s dan ketik nilai pada IP-wnd sesuai gambar
dibawah ini jika melakukan pengukuran IP namun abaikan saja
menu dibawah ini saja jika hanya melakukan pengukuran nilai
resistivitas saja.

16) Masukkan nilai potensial, perulangan data, standar deviasi dan


power sesuai kebutuhan atau sesuai kondisi lapangan pengukuran.

Namun pilihlah nilai potensial diatas 100 mV jika akan melakukan


pengukuran IP

23
17) Kemudian akan tampil secara singkat “Generating measurement
data” dan kemudian akan ditampilkan informasi tentang jumlah
lapisan, jumlah titik yang diukur dan lamanya waktu pengukuran.

18) Mulai pengukuran dengan memutar kunci pada tombol Stop Botton

19) Resistivitimeter melakukan cek elektroda dan setelah selesai akan


ditampilkan info tentang elektroda.

Jika tidak ada masalah maka tekan , jika ada masalah misalkan
ada elektroda yang tidak terhubung maka tekan tombol untuk

24
memperbaiki pemasangan elektroda dan kemudian lanjutkan
kembali proses pengukuran.
20) Kemudian akan keluar tampilan pertanyaan untuk mulai mengukur
dan tekan

21) Setelah dimulai pengukuran maka pada layar alat Reistivitimeter


akan ditampilkan nilai data-data yang diukur seperti gambar
dibawah ini.

Untuk melihat data lebih lanjut tekan next yang lama ataupun tekan
pilihan menu pada keypad. Misalkan tekan keypad untuk
menampilkan informasi jumlah point yang sudah diukur.

22) Jika pengukuran sudah selesai maka tampil tulisan “End


measurement” dan tekan STOP botton menggunakan dua jari
kebawah.

25
23) Matikan alat dengan menekan
24) Bongkar kembali semua kabel dimulai dari kabel baterai, kabel T
dan kabel elektroda digulung yang rapi. Cabut elektroda dan
kemudian semua perlengkapan disimpan kembali dengan rapi
kedalam kotak alat.

3. Pengambilan Data Posisi


Untuk pengambilan data posisi dilakukan secara diferensial dengan
metode survai statik singkat menggunakan Portabel GPS tipe Navigasi.
Untuk kondisi lapangan yang datar tanpa topografi pengambilan data
posisi cukup di awal, center dan akhir lintasan saja.

Safety First
Selama pengukuran, alat geolistrik ARES akan menginjeksi arus listrik
maksimal 5 Ampere. Oleh karena itu kepada seluruh peserta praktikum agar
mengikuti petunjuk berikut ini:
a. Jangan sambungkan kabel elektroda ke alat sebelum seluruh elektroda
terpasang dengan benar
b. Peserta diharapkan menggunakan sepatu tapak karet dan sarung tangan.
c. Sebelum dilakukan pengukuran, pastikan lintasan pengukuran aman dari
manusia dan binatang lainnya.
d. Dilarang keras memegang elektroda selama pengukuran berlangsung.
e. Dilarang melakukan pengukuran pada kondisi cuaca sedang berpetir dan
hujan.

4.2. Download data


1. Pasang kabel power ke alat Resisitivitimeter dan hubungkan ke arus listrik
PLN
2. Pasang kabel RS232 dan kabel USB pada alat dan hubungkan ke komputer
yang telah diinstall software ARES.
3. tekan untuk menghidupkan alat

26
4. Klik ganda sofware Ares pada komputer.
5. klik download data

6. Klik pada pilihan data yang ingin di download dan kemudian klik
download.

7. Klik ok setelah download selesai

27
8. Kemudian akan tampil menu seperti saat data di download dan klik close

9. Pilih file dan klik Export to Res2dinv

Kemudian simpan data pada lokasi yang dinginkan

28
klik eksport

klik ok

29
10. Klik close

11. Setelah proses transfer data selesai maka buka kembali kabel download
dan kabel adaptor ac untuk disimpan.

30
5. PENGOLAHAN DATA

Pengolahan data Geolistrik yang sudah diukur menggunakan alat Geolistrik


ARES dapat dilakukan menggunakan software EarthImager 2D atau software
Res2Dinv.

Gambar 5.1. Penampang Geolistrik 2D diolah menggunakan EarthImager 2D.

Gambar 5.2 Penampang Geolistrik 2D diolah menggunakan Res2dinv

5.1 Pengolahan Data Menggunakan Res2Dinv


Adapun tahap – tahap proses pengolahan data menggunakan software
Res2Dinv sebagai berikut:
1. Hidupkan Komputer

31
2. Hubungkan Donggel ke komputer yang telah di install software Res2Dinv
3. Klik ganda pada software Res2Dinv

Sehingga tampil dan kemudian klik OK atau tutup

4. Klik file dan pilih read data file

32
5. Buka folder dimana data yang telah didownload disimpan. Klik ganda pada
file yang berformat dat atau pilih filenya dan kemudian klik Open

Sehingga tampil

33
Kemudian klik OK
6. Klik Inversion dan Pilih least-Squares Inversion

Sehingga tampil pada layar seperti gambar dibawah dan klik Save

34
Tunggu beberapa saat hingga proses iterasi berhenti. Pada layar akan tampil
pertanyaan apakah kita ingin melanjutkan proses iterasi atau tidak. Pilih Yes
jika ingin melanjutkan proses iterasi atau pilih No jika hasil yang didapat
sudah sesuai.

Kemudian akan diperoleh penampang resistivitas seperti contoh dibawah ini

35
7. Klik Print dan pilih Save screen as BMP file untuk menyimpan gambar
penampang resistivitas hasil yang diperoleh

simpan pada folder yang dikendaki dengan mengklik Save

36
Klik OK

Dan klik Close pada sudut kanan atas untuk menutup program.

37
5.2 Pengolahan data Menggunakan EarthImager 2D

38