Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengembangan sektor pariwisata dewasa ini terus berkembang
seiring dengan meningkatnya beragam kebutuhan dan keinginan
manusia, kebutuhan-kebutuhan tersebut bisa berbentuk kebutuhan
fisik, kejiwaan, dan intelektual. Keterlibatan publik memberikan
pengaruh bagi peningkatan sektor pariwisata sebagai pendorong
keterlibatan sektor.
Peranan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan
dalam perekonomian Nasional perlu senantiasa dikembangkan dan
ditingkatkan. Sektor pariwisata diharap menjadi salah satu penghasil
devisa terbesar diantara sektor penghasil devisa di Indonesia.
Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan suatu konsep atau
rumusan perencanaan pengembangan kepariwisataan secara Nasional
(RIPPNAS), regional/propinsi (RIPP-Provinsi), dan lokal kota (RIPP-
Kabupaten/Kota).
Beberapa obyek wisata yang telah dikembangkan sesuai dengan
arah pengembangan pariwisata Propinsi Sulawesi Selatan, demikian
pula beberapa obyek telah dijajaki untuk dibangun sebagai kawasan
pengembangan pariwisata yang baru, maka pemerintah sesuai dengan
usaha pengembangan pariwisata menitikberatkan program/rencana
serta prioritas pada pengembangan sarana dan prasarana untuk
menunjang berkembangnya obyek wisata, baik obyek wisata bahari,
alam, sejarah, budaya maupun wisata agro.
Pariwisata merupakan bagian yang cukup urgent dari perencanaan
pembangunan wilayah regional dan nasional, karena pariwisata
mencakup atau terkait dengan sektor lain seperti: kondisi politik,
transportasi, telekomunikasi, perdagangan, dan industri, serta sektor
lainnya.
Banyak contoh membuktikan keberhasilan promosi yang
mengundang investasi-investasi di suatu kawasan wisata, yang justru
kemudian menjadi persoalan setelah ternyata berkembang demikian
pesatnya, sehingga pemerintah “setempat“ baru memikirkan untuk
melakukan perencanaan.
Idealnya suatu daerah wisata, disamping memerlukan akomodasi,
fasilitas pendukung (cenderamata, pramuwisata, dan toko), dan
infrastruktur (jalan, air, komunikasi) akan disebut sebagai Daerah
Tujuan Wisata apabila ia memiliki atraksi-aktraksi yang memikat
sebagai tujuan kunjungan wisata, atraksi-atraksi ini antara lain;
panorama, keindahan alam yang menakjubkan seperti gunung,
lembah, air terjun, danau, pantai, sungai, udara dan lain-lain yang
berkaitan dengan keadaan sekitarnya.
Potensi sektor pariwisata di Kabupaten Gowa mempunyai prospek
yang cukup potensial karena mempunyai berbagai jenis obyek-obyek
wisata meliputi; wisata bahari, wisata alam, wisata sejarah, keunikan
seni budaya dan agro wisata.
Sehubungan dengan hal tersebut, dibutuhkan visi mengenai
pembangunan yang seimbang, memantapkan kemitraan, dan
kesejajaran antara pariwisata dan sektor lain. Oleh karena itu,
diperlukan konsep perencanaan kepariwisataan terpadu yang terkait
dengan sektor pembangunan lainnya, sesuai dengan konsep
pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development ), untuk dapat
mengembangkan sektor pariwisata secara menyeluruh maka
dibutuhkan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah
(RIPPDA) Kabupaten Bulukumba.
B. TUJUAN DAN SASARAN
a. Tujuan Penyusunan RIPP
Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) Kabupaten Gowa
bertujuan, sebagai berikut;
1. Mendapatkan arahan perencanaan dan pengembangan
kegiatan kepariwisataan Kabupaten Gowa yang dijabarkan
dalam skala 10 tahun, yang selanjutnya dapat dijadikan
pedoman dalam pembangunan sarana dan prasarana
pariwisata serta fasilitas pendukung/penunjang.
2. Menciptakan pola tata ruang pariwisata yang serasi dan
seimbang dengan melengkapi penyebaran sarana dan
prasarana secara merata dan maksimal sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dan wisatawan tanpa mengabaikan
usaha peningkatan kualitas lingkungan kehidupan dan
panorama alam.
3. Sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan pemanfaatan dan
pelestarian kekayaan alam, adat istiadat/kebiasaan penduduk,
benda cagar budaya dan seni budaya yang layak untuk
dijadikan obyek wisata.
4. Mengantisipasi secara dini apa yang menjadi kekuatan,
kelemahan, peluang, dan ancaman sektor kepariwisataan
Kabupaten Gowa.
5. Memberikan rumusan prioritas pengembangan pembangunan
pariwisata secara berkala menurut urutan skala prioritas
dengan memperhatikan tingkatan budaya, sejarah, ekonomi
dari daerah tujuan wisata
b. Sasaran Perencanaan
Sasaran rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP)
Kabupaten Gowa dalam rangka pengembangan pariwisata, sebagai
berikut :
Terlaksananya prioritas pembangunan yang didasarkan atas
keunggulan potensi kota.
Terwujudnya kualitas dan daya saing industri pariwisata sebagai
andalan perekonomian.
Terwujudnya masyarakat sadar wisata dan kondisi sapta
pesona.
Terciptanya peran pariwisata yang berdaya guna dan berhasil
guna melalui terwujudnya nilai tambah yang berdimensi multi
sektoral.

C. LANDASAN HUKUM
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP)
Kabupaten Gowa erat kaitannya dengan pemanfaatan ruang, sehingga
didalam penyusunannya mengacu pada strategi dan dasar-dasar
penyusunan penataan ruang. Selain itu , kepariwisataan merupakan
suatu komponen yang memiliki banyak keterkaitan dengan komponen
lainnya seperti; keterkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup,
budaya dan sejarah serta struktur ekonomi masyarakat. Adapun dasar
hukum penyusunan RIPP Kabupaten Gowa adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang No. 4 Tahun 1982, Tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (LNRI Tahun 1982 No. 12,
No. 3215).
2. Undang-Undang No. 9 Tahun 1990, Tentang Kepariwisataan.
3. Undang-Undang No. 5 Tahun 1992, Tentang Benda Cagar Budaya.
4. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997, Tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
5. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, Tentang Pemerintahan
Daerah.
6. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 275 Tahun 1982 Tentang
Pedoman Kerjasama Pembangunan Antar Daerah.
7. Keputusan Menteri Kimpraswil No. 327/KPTM/M/2002 Tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah.
8. Instruksi Menteri Dalam Negeri No.14 Tahun 1988 Tentang
Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Kota Seluruh Indonesia.

Selain ketentuan tersebut, di dalam penyusunan RIPP Kabupaten


Gowa juga memperhatikan produk-produk hukum di Kabupaten Gowa,
meliputi;
Pola Dasar Pembangunan Kabupaten Gowa.
Rencana Strategis Pembangunan Kabupaten Gowa.
Perda Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gowa.

D. METODOLOGI PENYUSUNAN
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP)
Kabupaten Gowa dengan melakukan pendekatan-pendekatan terhadap
aspek-aspek, sebagai berikut :
1. Hubungan berkesinambungan dengan berbagai produk
perencanaan lain yang bersifat makro maupun mikro yang
disesuaikan dengan perencanaan kepariwisataan.
2. Posisi Kabupaten Gowa yang cukup strategis merupakan wilayah
sebagai pelayanan pariwisata Bagian Selatan Propinsi Sulawesi
Selatan. Serta sebagai tempat sirkulasi transportasi terutama
angkutan darat yang berasal dari Kabupaten Takalar dan Kekota
Makassar.
Secara umum pendekatan yang dilakukan dalam mengembangkan dan
merencanakan pariwisata Kabupaten Gowa, adalah pendekatan
pembangunan berkelanjutan, sebagai berikut;
1. Maksud Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan
Maksud pengembangan pariwisata berkelanjutan adalah;
 Mengembangkan kesadaran dan pemahaman lebih besar
mengenai konstribusi yang dapat diberikan oleh pariwisata
terhadap lingkungan dan ekonomi.
 Mendorong pemerataan dalam pembangunan.
 Memperbaiki kualitas kehidupan dan komunikasi tuan rumah
pariwisata
 Memberikan pengalaman berkualitas tinggi kepada wisatawan .
 Memelihara kualitas lingkungan, yang merupakan tempat
sandaran bagi pencapaian tujuan-tujuan lainnya.
2. Strategi Pengembangan Pariwisata
Strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan dapat dibagi
menjadi 6 (enam) langkah penting yang harus dipertimbangkan
dalam proses penentuan kebijaksanaan, sebagai berikut:
 Pengenalan ide tentang pembangunan berkelanjutan telah
mengubah fokus dari “pertumbuhan tradisional menuju
argumen pembangunan manusia dan alam”. Fokus baru ini
menekankan kesempatan kerja, pendapatan, dan perbaikan
kondisi kehidupan lokal, serta mengupayakan agar seluruh
keputusan/kebijaksanaan pembangunan mencerminkan nilai-
nilai lingkungan alam dan budaya yang menyeluruh.
 Disadari bahwa pembangunan pariwisata dapat menghilangkan
kekayaan alam atau budaya yang ada, atau justru membuat
aset lingkungan meningkat. Semua ini mengisyaratkan
bagaimana generasi mendatang akan membayar kompensasi
atau rusaknya lingkungan. Hilangnya aset alam dan budaya
tidak dapat lagi hanya di subtitusi oleh kekayaan modal yang
diciptakan pembangunan yang baru.
 Pariwisata sebagai sebuah industri, dapat meningkatkan kualitas
lingkungan dan menciptakan lapangan kerja. Hal ini membuat
hubungan antara pariwisata dan lingkungan dapat menjadi
positif. Walaupun pendapatan pekerja di bidang kepariwisataan
tidak setinggi dengan pekerja disektor lain, tetapi lapangan
kerja bidang pariwisata menawarkan kesempatan
pengembangan jangka panjang dibandingkan industri lainnya
yang tidak berkelanjutan.
 Pertumbuhan ekonomi harus diukur melalui keberhasilan sektor
pariwisata. Pertumbuhan ini harus mencakup biaya riel untuk
melindungi dan mendaur ulang sumber-sumber ekonomi, tidak
hanya pada sekarang ini tetapi juga pada masa yang akan
datang, yang pasti membutuhkan biaya besar. Melalui proses
tersebut citra pariwisata dapat lebih baik dari pada sektor
industri lain.
 Pembangunan pariwisata berkelanjutan harus terwujud untuk
menciptakan pemerataan antara generasi. Dapat bersikap adil
terhadap generasi wisatawan dan industri perjalanan (biro
travel) yang akan datang.
 Pembangunan pariwisata berkelanjutan harus menghindari
semua tindakan yang bersifat “irreversible”. Hal ini disebabkan
oleh beberapa sumber daya alam, flora, fauna, dan budaya,
serta peninggalan sejarah tidak dapat diperbaharui.
3. Sasaran Perencanaan
Perencanaan dan pengembangan pariwisata berkelanjutan memiliki
7 (tujuh) sasaran utama, yaitu :
 Pembangunan di suatu wilayah berpengaruh positif dan atau
negatif terhadap wilayah lain disekitarnya (hinterland dan
vorland). Oleh karena itu, diperlukan kerjasama regional,
nasional, maupun internasional untuk mengupayakan pariwisata
terintegrasi dalam keseluruhan perencanaan dan manajemen
lingkungan. Demikian pula dalam menetapkan dan mencapai
tujuan-tujuan terkait, seperti; ekonomi, sosial, dan lingkungan
dalam hubungannya dengan pariwisata.
 Dalam situasi sumberdaya telah terdegradasi secara serius,
maka diperlukan tindakan rehabilitasi untuk mencerminkan
konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan.
 Berupaya mendorong aktivitas dan penggunaan benda-benda
yang dibutuhkan dari karakter “landscape”, dan berupaya untuk
memperkuat “landscape”, “sense of place”, identitas komunitas,
dan pengembangan tempat-tempat bersejarah.
 Pembangunan pariwisata berkelanjutan harus dilengkapi dan
diarahkan oleh kebijaksanaan pemerintah di tingkat nasional,
regional, dan lokal tempat pembangunan tersebut dilaksanakan.
Hal ini dilakukan atas dasar kesadaran terhadap kondisi
lingkungan, sosial, ekonomi, dan kebutuhan setiap wilayah.
Selain itu, diperlukan pula garis pedoman tentang tingkat dan
jenis pertumbuhan yang dapat diterima, tanpa mengabaikan
fasilitas/teknologi dan pengalaman baru.
 Mendorong kemitraan antara jaringan pelaku/praktisi pariwisata,
dan melibatkan riset ilmiah serta konsultasi publik dalam
pengambilan keputusan tentang pembangunan pariwisata.
 Menetapkan pendidikan dan program-program latihan yang
bertujuan untuk memperbaiki pemahaman masyarakat serta
meningkatkan kualitas SDM dan kualitas bisnis kepariwisataan.
E. Sistematika Pembahasan
Dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata
Kabupaten Gowa dilakukan dengan mengurut pembahasan secara
sistematis. Adapun sistematika pembahasan yang dilakukan sebagai
berikut :
Pertama, Merupakan pendahuluan, memuat tentang latar belakang
penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata
(RIPP), tujuan dan sasaran, landasan hukum, metedologi
penyusunan, serta sistematika pembahasan.
Kedua, Membahas review kebijakan pengembangan pariwisata
kabupaten Gowa, memuat tentang tinjauan
RPJMD,tinjauan RTRW,tinjaun RIPPDA,serta teori tentang
kepariwisaataan.
Ketiga, Membahas kajian potensi wisata Kabupaten Gowa.
Keempat, Membahas analisis pengembangan pariwisata.
Kelima, Penutup memuat tentang kesimpulan dan rekomendasi
berdasarkan hasil analisis data dan informasi yang
berkaitan dengan perencanaan pengembangan pariwisata
Kabupaten Gowa.
BAB II REVIEW PENGEMBANGAN PARIWISATA
KABUPATEN GOWA

A. TINJAUAN RPJMD KABUPATEN GOWA


Sesuai amanat dari UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional dan UU Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, dasar penyusunan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai penjabaran
visi, misi Kepala Daerah yang penyusunannya mengacu pada Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional serta memperhatikan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Provinsi. RPJM ini dijabarkan dalam
sasaran-sasaran pokok yang harus dicapai, arah kebijakan, program-
program pembangunan, dan kegiatan pokok.
RPJM Kabupaten Gowa, merupakan dokumen perencanaan yang
memberikan arahan, yang memudahkan pencapaian tujuan secara
terukur. RPJM Kabupaten Gowa disusun berdasarkan kebutuhan
masyarakat dengan memperhatikan amanat Peraturan Presiden Nomor
5 Tahun 2010 tentang RPJM Nasional Tahun 2010-2014. Dengan
adanya keterkaitan antar perencanaan yang lebih tinggi, akan
mempermudah pengembangan sharing pembiayaan dengan
pemerintah pusat untuk program-program yang akan dilakukan.
RPJM Kabupaten Gowa digunakan sebagai acuan utama penyusunan
Rencana Strategis (Renstra) bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD), rujukan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD), RAPBD, penyusunan LKPJ Kepala Daerah dan tolok ukur
kinerja Kepala Daerah. Oleh karena itu, RPJMD ini akan memuat arah
kebijakan, program, dan kegiatan yang akan dilaksanakan di
Kabupaten Bulukumba dan akan dibiayai oleh APBD serta sumber-
sumber dana lainnya.
RPJM Kabupaten Gowa 2010-2015 digunakan sebagai pedoman,
landasan, dan referensi dalam menetapkan RKPD. Penjabaran RKPD
akan dituangkan lebih lanjut dalam Kebijakan Umum (KU) APBD dan
Strategi Prioritas (SP) APBD.
Dalam pengukuran dan evaluasi kinerja kebijakan, program, dan
kegiatan pembangunan Pemerintah Kabupaten Gowa, digunakan
tatacara evaluasi pengukuran kinerja yang dibagi dalam kinerja
sektoral dan kinerja agregat. Kinerja sektoral diharapkan mampu
menunjukkan tingkat capaian program-program yang dilaksanakan dan
diharapkan dengan dicapainya kinerja sektoral ini kinerja agregat
dapat juga dicapai. Namun, disadari bahwa pencapaian kinerja
agregat tidak semata-mata merupakan kontribusi Pemerintah
Kabupaten Gowa, tetapi merupakan kontribusi bersama-sama dari
masyarakat, dunia usaha, Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan
Pemerintah Kabupaten sesuai dengan bobot dan perannya masing-
masing. Kinerja agregat yang digunakan dalam RPJM Kabupaten Gowa
ini seperti pertumbuhan ekonomi, pergeseran struktur ekonomi,
peranan masing-masing sektor ekonomi, Indeks Pembangunan
Manusia, dan sebagainya.

a. Maksud dan Tujuan


Penyusunan RPJM Kabupaten Gowa 2010-2015 dimaksudkan
sebagai upaya untuk mengarahkan sumberdaya yang dimiliki dan
mengupayakan sumberdaya lain dalam mengimplementasikan
program-program pembangunan guna mencapai tujuan
pembangunan yang telah ditetapkan.
Sedangkan tujuan perumusan RPJM Kabupaten Gowa 2010-2015,
sebagai berikut:
1. Menetapkan visi, misi, dan program pembangunan daerah
jangka menengah.
2. Mewujudkan perencanaan pembangunan daerah yang sinergis
dan terpadu antara perencanaan pembangunan nasional dan
provinsi.
3. Menetapkan pedoman dalam penyusunan Renstra SKPD,
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), dan Renja SKPD.

b. Hubungan RPJM Daerah dengan Dokumen Perencanaan


Lainnya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional; Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah adalah rencana pembangunan untuk periode 5
(lima) tahun yang merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program
pemerintah daerah yang disusun dengan berpedoman dan
memperhatikan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun
2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Tahun 2010-2014 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2013.
RPJM Kabupaten Gowa memuat rancangan strategi pembangunan
daerah, kebijakan umum, dan program pemerintah daerah serta
kerangka arah kebijakan keuangan daerah termasuk didalamnya
program kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), lintas SKPD dan
program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka
regulasi dan kerangka anggaran yang bersifat indikatif.
Selanjutnya RPJM Kabupaten Gowa tersebut akan menjadi pedoman
bagi penyusunan dokumen perencanaan daerah dalam hal ini Renstra-
SKPD, Rencana Kerja-SKPD, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
(RKPD). Untuk lebih jelasnya, hubungan antara RPJM Daerah dengan
dokumen perencanaan lainnya, dapat dilihat pada gambar berikut ini:

B. TINJAUAN RIPP KABUPATEN GOWA


Pengembangan sektor pariwisata dewasa ini terus berkembang seiring
dengan meningkatnya beragam kebutuhan dan keinginan manusia,
kebutuhan-kebutuhan tersebut bisa berbentuk kebutuhan fisik,
kejiwaan, dan intelektual. Keterlibatan publik memberikan pengaruh
bagi peningkatan sektor pariwisata sebagai pendorong keterlibatan
sektor.
Peranan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan (leading
sector) dalam perekonomian nasional perlu senantiasa dikembangkan
dan ditingkatkan. Sektor pariwisata diharapkan menjadi salah satu
penghasil devisa terbesar diantara sektor penghasil devisa di
Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan suatu konsep
atau rumusan perencanaan pengembangan kepariwisataan secara
Nasional (RIPPNAS), regional/propinsi (RIPP-Provinsi), dan lokal kota
(RIPP-Kabupaten/Kota).
Kebutuhan perencanaan pariwisata muncul sebagai akibat dari
dorongan isu-isu perencanaan yang umumnya berkembang, aspek-
aspek positif dan negatif dampak dari perkembangan pariwisata serta
pengaruh gagasan konservasi dan rekreasi. Persoalan tersebut timbul
pada skala lokal dengan kecenderungan pembangunan yang ‘Pasif’ dan
ukuran-ukuran besar yang menimbulkan populasi visual, misalnya
disepanjang pantai maupun eksploitasi sumber daya secara berlebihan
dan pada akhirnya dapat merusak lingkungan.
Perencanaan sebagai suatu konsep untuk “menerawang” ke depan dan
mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi yang mungkin dapat terjadi
akibat pengembangan sektor pariwisata dan merupakan satu-satunya
cara untuk dapat memperoleh manfaat dari sektor pariwisata.
Meskipun konsep dan praktek perencanaan lebih berorientasi pada hal-
hal yang fisik, dimensi-dimensi sosial, dan ekonomi, makin lama makin
mendapat perhatian. Proses dan teknik-teknik perencanaan makin
menjadi kompleks namun banyak pihak termasuk pengusaha-
pengusaha pariwisata mulai menyadari bahwa keberhasilan usahanya
menurut kepekaan terhadap pendekatan perencana yang pluralistik.
Sektor pariwisata di Kabupaten Gowa selama ini nampaknya
berkembang dengan sendirinya, sehingga antara obyek yang satu
dengan yang lainnya relatif tidak saling mendukung. Akibat dari tidak
adanya suatu kebijakan atau perencanaan secara makro yang dapat
dipedomani dalam pengembangan sektor pariwisata secara
keseluruhan.
Potensi sektor pariwisata di Kabupaten Gowa mempunyai prospek
yang cukup potensial karena mempunyai berbagai jenis obyek-obyek
wisata meliputi; wisata tirta, wisata alam, kekayaan khasanah sejarah,
keunikan seni budaya dan agro wisata.
Untuk sekedar menggambarkan pesona alam keragaman budaya
maupun sejarah di Kabupaten Gowa, salah satunya dapat disebutkan
keindahan pantai Tanjung Bira, pembuatan perahu Phinisi, kawasan
adat Ammato yang cukup terkenal sampai ke mancanegara dan
kawasan kepulauan diantaranya Pulau Kambing, dan Pulau Liukang
Loe dan obyek wisata lainnya yang cukup menarik untuk dikunjungi.
BAB III POTENSI SUMBER DAYA PARIWISATA
KABUPATEN GOWA
A. Tinjauan Aspek Fisik Dasar Kabupaten
1. Letak Geografis Dan Administratif
Secara umum luas wilayah Kabupaten Gowa kurang lebih
1.883,33 Km2 dan secara administrasi pemerintahan terdiri atas
18 wilayah Kecamatan dan 167 desa/kelurahan. Berdasarkan
posisi dan letak geografis wilayah, Kabupaten Gowa berada pada
koordinat 50.5’ – 50.34,7’ Lintang Selatan dan 120.33,19’ –
130.15,17’ Bujur Timur. dengan ketinggian 0 – 1000 mdpl dengan
ibukota kabupaten adalah Kecamatan Sombaopu. Adapun batas
administrasi wilayah Kabupaten Gowa sebagai berikut :
 Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makassar, Kabupaten
Maros
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar,
Kabupaten Jeneponto
 Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai,
Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Bantaeng
 Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Makassar, Kabupaten
Takalar.

2. Kondisi Hidrologi
Kondisi hidrologi yang ada di Kabupaten Gowa yang terdiri dari
sungai, PDAM, dan sumur bor yang di buat masing-masing oleh
masyarakat setempat di beberapa kecamtan di kabupaten Gowa
masih mengandalkan sistem tradisional karena aliran air yang
bersumber dari kali rilau ale belum maksimal dan belum
memadai.
3. Kondisi Iklim Dan Curah Hujan
Keadaan iklim yang ada di kabupaten Gowa tidak jauh beda
dengan iklim yang ada di kabupaten-kabupaten lain. secara
umum iklim yang berlaku untuk wilayah Indonesia pada
umumnya adalah iklim tropis. Begitupun juga dengan kabupaten
Gowa yang sudah pasti beriklim tropis.
Dengan kondisi iklim tropis yang berjalan dengan dua musim
yaitu musim kemarau dan musim penghujan yang dalam kurun
waktu yang bergantian dalam tiap tahunnya.
Curah hujan yang ada di Kabupaten Gowa hampir sama dengan
kondisi curah hujan yang ada di kabaupaten lainnya di sulawesi
selatan yaitu berkisar rata-rata antara 237,75 – 436,09 mm
setiap bulannya dan suhu udara 27,125 0C.
B. Pola Penggunaan Lahan

Kondisi pola penggunaan lahan Kabupaten Gowa secara umum terdiri


atas lahan bukan sawah yaitu ; tegal, ladang atau hilma, perkebunan,
hutan rakyat, kolam atau empang dan lainnya. Sedangkan lahan bukan
pertanian yaitu : rumah, bangunan dan halaman sekitarnya, hutan
negara dan lainnya.
C. Potensi SDM
Penduduk memiliki pengaruh yang sangat penting dalam pertumbuhan
dan perkembangan pembangunan.
Sehingga penduduk merupakan sumber daya sebagai salah satu faktor
penentu pembangunan, berhasil tidaknya pembangunan tersebut
tergantung kualitas sumber daya manusia masing-masing kabupaten.
Jumlah penduduk Kabupaten Gowa sebesar 652.941 jiwa yang terdiri
dari 320.792 jiwa berjenis kelamin laki-laki, sedangkan jumlah
penduduk yang jerjenis kelamin perempuan sebanyak 332.148 jiwa.
1. Jumlah Penduduk
2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
3. Kepadatan Penduduk
D. Potensi Sumber Daya Alam (SDA)
Sumber daya alam ialah semua kekayaan bumi, baik biotik maupun
abiotik yang dapat di manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan
manusia dan kesejahteraan manusia, misalnya: tumbuhan, hewan,
udara, air, tanah, bahan tambang, angin, cahaya matahari, dan
mikroba (jasad renik). Macam-macam sumber daya alam dapat
dibedakan berdasarkan potensi , sifat, dan jenisnya. Di bawah ini akan
di jelaskan sumber daya alam beradasarkan potensi-potensi.
1. Potensi Perkebunan
Sektor perkebunan memegang peranan penting dalam sektor
perekonomian kabupaten Gowa. Masyarakat bekerja di sektor
perkebunan baik sebagai pemilik maupun pekerja. Oleh karena itu
sektor perkebunan mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Komoditi perkebunan di Kabupaten Gowa antara lain karet, kelapa,
cengkeh, kopi, lada dan kakao namun potensi perkebunan
didominasi oleh kelapa dan kakao baik dikelola oleh swasta maupun
perkebunan rakyat.
2. Potensi Pertanian
3. Potensi Perikanan
4. Potensi Kehutanan
E. Aspek Sarana
Sarana adalah alat penunjang keberhasilan suatu proses upaya yang
dilakukan didalam pelayanan publik, karena apabila hal ini tidak
tersedia maka semua kegiatan yang dilakukan tidak akan dapat
mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana.
Kondisi perkembangan disebuah kota sangat dipengaruhi oleh
kelengkapan sarana dan prasarana. Perkembangan di Kabupaten
Gowa sendiri dipengaruhi oleh aspek fisik yaitu perkembangan
permukiman. Aspek sarana yang tersedia di Kabupaten Gowa antara
lain ialah sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sarana
permukiman. Untuk lebih jelasnya mengenai aspek sarana di
kabupaten Gowa selanjutnya akan di bahas pada uraian berikut :
1. Pendidikan
2. Permukiman
3. Kesehatan
F. Aspek Prasarana
Dalam hal prasarana sangat penting pada suatu wilayah atau kawasan
dalam menunjang kemajuan dan perkembangan suatu wilayah karena
kebutuhan masyarakat makin hari semakin meningkat akan berbagi
fasilitas umum.
Dalam pembahasan kali ini akan di bahas tentang prasarana dan
infrastruktur di Kabupaten Gowa.
1. Aspek Transportasi
2. Kondisi Sistem Hidrologi
3. Kondisi Sistem Drainase
G. Potensi Sumber Daya Wisata
Potensi sumber daya wisata kabupaten gowa sangat baik dengan
adanya wisata – wisata di tempat ini maka akan mampu menarik
perhatian wisatawan local maupun wisatawan asing untuk berkunjung
di daerah ini maka pertumbuhan ekonomi daerah akan sangat baik
dengan wisata – wisata yang ada. Hanya kabupaten gowa sendiri
harus melakukan pelayanan yang baik untuk mampu menarik
perhatian wisatawan untuk kembali berkunjung.