Anda di halaman 1dari 36

Laporan Family Folder

Puskesmas Kecamatan Tirtajaya Kabupaten Karawang

Periode 27 Agustus 2018 – 3 November 2018

Disusun oleh:

Tressy A. Padahana

11 2016 213

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Agustus 2018
BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Nutrisi yang tepat merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan normal anak. Bayi, anak, dan remaja yang tumbuh
dengan cepat mempunyai kebutuhan tertentu, tetapi tidak tetap akan makronutrien
(protein, lemak, karbohidrat, dan cairan) serta mikronutrien (vitamin, trace element, dan
mineral). Mekanisme patofisiologi yang muncul selama berbagai stadium penyakit dapat
berpengaruh buruk pada status nutrisi, menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan
terlambat walaupun asupan makronutrien maupun mikronutrien normal sesuai yang
dianjurkan. Penyakit yang disebabkan oleh radang (misalnya, penyakit infeksi, lupus
eritematosus, dan penyakit radang usus), trauma (misalnya fraktur dan luka bakar),
keganasan, malarbsorpsi, dan kelainan metabolisme bawaan dan insufisiensi
kardiopulmonar kronik (gagal jantung dan bronkopulmonar) akan memberi stress
tambahan pada keseimbangan nutrisi, dapat mengubah kebutuhan energi dan nutrisi
sehingga mungkin memerlukan tambahan nutrisi atau diet khusus.
Di seluruh dunia, diperkirakan terdapat 825 juta orang yang menderita gizi buruk
pada tahun 200-2002, dan 815 juta diantaranya hidup dinegara berkembang. Prevalensi
yang tinggi terdapat pada anak-anak di bawah umur 5 tahun (anak Balita). Prevalensi
anak Balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan
provinsi selama tahun 2005 terdapat 76.178 anak Balita yang mengalami gizi buruk dan
data Susenas (Survei Sosial dan Ekonomia Nasional) tahun 2005 mempelihatkan
prevalensi anak Balita gizi buruk sebesar 8,8%. Pada tahun 2005 telah terjadi peningkatan
jumlah kasus gizi buruk di beberapa provinsi dan yang tertinggi terjadi di Nusa Tenggara

Timut dan Nusa Tenggara Bara. 1


Penyebab terjadinya gizi buruk yaitu anak kurang mendapatkan asupan gizi seimbang
dalam waktu cukup lama dana nak menderita penyakit infeksi. Secara tingak langsung
penyebab terjadinya gizi buruk yaitu tidak cukupnya persediaan pangan di rumah tangga.
Pola asuh kurang memadai, dan sanitasi atau kesehatan lingkungan kurang baik, serta
akses pelayanan kesehatan terbatas. Akar masalah tersebut berkaitan erat dengan
1
rendahnya tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan kemiskinan keluarga.

2
Kenyataan di lapangan menunukan bahwa anak gizi buruk dengan gejala klinis
(marasmus, kwashiorkor, marasmus kwashiorkor) umumnya disertai dengan penyakit
infeksi seperti diare, ISPA, tuberculosis, serta penyakit infeksi lainnya. Data dari WHO
menunjukan bahwa 54% angka kesakitan pada anak Balita disebabkan karena gizi buruk,
19% diare, 19% ISPA, 18% perinatal, 7% campak, 5% malaria, dan 32% penyebab

lainnya.1

1.2 Tujuan

Dengan melakukan kunjungan ke rumah salah seorang pasien, diharapkan kita


dapat melakukan analisa keadaan pasien atau kasus penyakit yang dideritanya dengan
pendekatan keluarga, yakni diantaranya sebagai berikut :
- Mengetahui diagnosis kerja beserta diagnosis banding yang terjadi pada pasien
tersebut melalui anamesis dan pemeriksaan fisik maupun penunjang.
- Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan kesehatan pada pasien
tersebut seperti status tumbuh kembang anak.
- Dapat menyusun strategi yang akan dilakukan untuk meningkatkan kesehatan pasien.
- Mengingatkan kesadaran keluarga pasien mengenai pentingnya pemantauan tumbuh
kembang anak balita.
- Memberikan penjelasan mengenai pentingnya datang ke posyandu untuk melakukan
penimbangan, pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi dan pemantauan tumbuh
kembang anak.

1.3 Sasaran

Semua anak Balita berusia 12 – 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas


Tirtajaya, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang periode Agustus 2018
sampai dengan November 2018.

3
Bab II
Metode dan Materi

2.1 Metode
Metode yang digunakan adalah penemuan penderita pasif (Passive case finding).
Penemuan penderita pasif adalah kegiatan mendatangi pasien ke rumahnya dengan
berdasarkan data yang didapat dari puskesmas, atau dari pasien yang sedang berobat ke
Puskesmas.

Hal yang dilakukan adalah :


- Mendapatkan data lengkap mengenai pasien dari aspek biologis, psikologis, dan
sosialnya.
- Mendapatkan data lengkap mengenai keadaan rumah dan keluarga pasien.
- Mendapatkan data lengkap tentang keadaan lingkungan tempat tinggal pasien.
- Menganalisa dan memberikan penjelasan kepada orang tua pasien mengenai
manfaat pemantauan pertumbuhan, perkembangan , pemberian vitamin A, dan
pengobatan anak bila sakit.

2.2 Materi
Materi yang disampaikan pada saat kunjungan adalah:

- Pemantauan pertumbuhan anak Balita dengan penimbangan anak Balita setiap


bulan tercatat pada KMS
- Penilaian hasil penimbangan
- Konseling, penyuluhan anak Balita BGM 2 kali berturut-turut
- Pelayanan gizi oleh petugas
- Penilaian perkembangan
- Pemberian vitamin A

4
Bab III
Kerangka Teori

3.1 Definisi

Gizi buruk adalah keadaan dimana seseorang anak tampak sangat kurus, ditandai dengan
BB/PB< - 3 SD dari median WHO child growth standard, atau didapatkan edema nutrisional, dan
2
pada anak umur 5-59 bulan Lingkar Lengan Atas (LILA) < 110 mm. Gizi buruk dibagi atas tiga
bentuk klinis yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmik-kwashiorkor. Kwashiorkor atau
malnutrisi edematosa adalah keadaan gizi buruk yang disebabkan oleh asupan protein yang tidak
cukup meskipun asupan kalori cukup sampai baik. Marasmus merupakan malnutrisi non-
edematous dengan wasting berat yang disebabkan terutama oleh kurangnya asupan energi dan
asupan protein. Marasmik-kwashiorkor merupakan campuran dari tanda dan gejala klinis
3
marasmus, dan kwashiorkor secara bersamaan.

Diagnosis Gizi buruk ditegakan berdasarkan kriteria berikut yaitu anak terlihat sangat
4
kurus, Edema nutrisional, BB/TB < -3 SD, LILA < 115 mm. WHO dan UNICEFmenggunakan
cut-off BB/PB < -3SD median standard rujukan WHO (WHO child growth standard), dengan
alasan bahwa anak di bawah cut-off tersebut mempunyai risiko lebih tinggi dibanding anak yang
berada di atasnya, jika anak tersebut mendapat terapi diet, akan mengalami peningkatan BB yang
lebih cepat, sehingga akan mempercepat penyembuhan, dan tidak ada risiko atau pengaruh
5
negatif pemberian terapi makan pada kelompok anak ini.

3.2. Epidemiologi

Prevalensi balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Prevalensi
gizi kurang pada periode 1989-1999 menurun dari 29.5% menjadi 27.5% atau rata-rata terjadi
penurunan 0.40% per tahun, namun pada periode 2000-2005 terjadi peningkatan prevalensi
gizi kurang dari 24.6% menjadi 28.0% . Berdasarkan laporan propinsi selama tahun 2005
terdapat 76.178 balita mengalami gizi buruk dan data Susenas tahun 2005 memperlihatkan
prevalensi balita gizi buruk sebesar 8.8%. Pada tahun 2005 telah terjadi peningkatan jumlah
kasus gizi buruk di beberapa propinsi dan yang tertinggi terjadi di dua propinsi yaitu Nusa
Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pada tanggal 31 Mei 2005, Pemerintah Propinsi
Nusa Tenggara Timur telah menetapkan masalah gizi buruk yang terjadi di NTT sebagai

KLB, dan Menteri Kesehatan telah mengeluarkan edaran tanggal 27 Mei tahun 2005.1
5
3.3. Etiologi

Ada 2 faktor penyebab yang mempengaruhi gizi buruk diantaranya penyebab


langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung dapat dikarenakan kurangnya jumlah dan
kualitas makanan yang dikonsumsi, menderita penyakit infeksi, cacat bawaan dan menderita
penyakit kanker. Sedangkan penyebab tidak langsung dapat berupa ketersediaan pangan
4
rumah tangga, perilaku, pelayanan kesehatan.

Secara garis besar gizi buruk disebabkan oleh karena asupan makanan yang kurang
atau anak sering sakit, atau terkena infeksi. Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh
berbagai faktor, antara lain tidak tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup
mendapat makanan bergizi seimbang, dan pola makan yang salah. Kaitan infeksi dan kurang
gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait
4
dan saling memperberat.

3.4 Alur Pemeriksaan dan Penemuan Kasus

Terdapat beberapa langkah-langkah dalam menentukan diagnosis gizi buruk pada


masyarakat, untuk mempermudah dalam penentuan diagnosis Departemen Kesahatan pada
tahun 2011 telah membuat alur pemeriksaan adalam penemuan kasus gizi buruk, langkah-

langka tersebut antara lain sebagai berikut :6

1. Penemuan Anak Gizi Buruk, dapat menggunakan data rutin hasil penimbangan anak
di posyandu, menggunakan hasil pemeriksaan di fasilitas kesehatan (Puskesmas dan
jaringannya, Rumah Sakit dan dokter/bidan praktek swasta), hasil laporan masyarakat
(media massa, LSM dan organisasi kemasyarakatan lainnya) dan skrining aktif

(operasi timbang anak). 6

2. Penapisan Anak Gizi Buruk, anak yang dibawa oleh orangtuanya atau anak yang
berdasarkan hasil penapisan Lila < 12,5 cm, atau semua anak yang dirujuk dari
posyandu (2T dan BGM) maka dilakukan pemeriksaan antropometri dan tanda klinis,
semua anak diperiksa tanda-tanda komplikasi (anoreksia, pneumonia berat, anemia
berat, dehidrasi berat, demam sangat tinggi, penurunan kesadaran), semua anak
diperiksa nafsu makan dengan cara tanyakan kepada orang tua apakah anak mau

makan/tidak mau makan minimal dalam 3 hari terakhir berturut-turut. 6

6
3. Bila dalam pemeriksaan pada anak didapatkan satu atau lebih tanda berikut: tampak
sangat kurus, edema minimal pada kedua punggung kaki atau tanpa edema, BB/PB
atau BB/TB < -3 SD, LiLA< 11,5 cm (untuk anak usia 6-59 bulan), nafsu makan baik,
maka anak dikategorikan gizi buruk tanpa komplikasi dan perlu diberikan penanganan
6
secara rawat jalan.

4. Bila hasil pemeriksaan anak ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: tampak sangat
kurus, edema pada seluruh tubuh, BB/PB atau BB/TB < -3 SD, LiLA< 11,5 cm (untuk
anak usia 6-59 bulan) dan disertai dari salah satu atau lebih tanda komplikasi medis
sebagai berikut: anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam
sangat tinggi, penurunan kesadaran, maka anak dikategorikan gizi buruk dengan
6
komplikasi sehingga perlu penanganan secara rawat inap.

5. Bila hasil pemeriksaan anak ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: BB/TB < -2 s/d -3
SD, LiLA 11,5 s/d 12,5 cm, tidak ada edema, nafsu makan baik, tidak ada komplikasi
6
medis, maka anak dikategorikan gizi kurang dan perlu diberikan PMT Pemulihan.

6. Bila kondisi anak rawat inap sudah membaik dan tidak lagi ditemukan tanda komplikasi
medis, tanda klinis membaik (edema kedua punggung tangan atau kaki), dan nafsu makan
6
membaik maka penangan anak tersebut dilaukan melalui rawat jalan.

7. Bila kondisi anak rawat inap sudah tidak lagi ditemukan tanda- tanda komplikasi
medis, tanda klinis baik dan status gizi kurang, nafsu makan baik maka penanganan
anak dengan pemberian PMT pemulihan. 6

8. Anak gizi buruk yang telah mendapatkan penanganan melalui rawat jalan dan PMT
pemulihan, jika kondisinya memburuk dengan ditemukannya salah satu tanda
komplikasi medis, atau penyakit yang mendasari sampai kunjungan ke tiga berat
badan tidak naik (kecuali anak dengan edema), timbulnya edema baru, tidak ada nafsu
6
makan maka anak perlu penanganan secara rawat inap.
7
Alur Pemeriksaan diambil dari :

Buku Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk Departemen Kesehatan RI6

3.5. Kriteria Anak Gizi Buruk

 Gizi Buruk Tanpa Komplikasi 6


 BB/TB : < -3SD dan atau;
 Terlihat sangat kurus dan atau;
 Adanya edema dan atau;
 LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan.

Gizi Buruk dengan Komplikasi 6
Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut diatas disertai salah satu atau lebih
dari tanda komplikasi medis berikut:
 Anoreksia
 Pneumonia Berat
8
 Anemia Berat
 Dehidrasi Berat
 Demam Tinggi
 Penurunan Kesadaran

3.6. Defisiensi Makronutrien

Diseluruh dunia, kekurangan energi protein (KEP) merupakan penyebab utama


kematian pada anak yang berusia kurang dari 5 tahun. KEP adalah spektrum keadaan yang
disebabkan oleh berbagai tingkat defisiensi protein dan kalori. KEP primer disebabkan oleh
faktor sosial dan ekonomi yang mengakibatkan kekurangan makanan. KEP sekunder terjadi
pada anak dengan berbagai keadan yang disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan kalori
(misalnya infeksi, trauma, dan kanker), peningkatan kehilangan kalori (anoreksia dannkanker,
dan pembatasan asupan oral), dan faktor sosial, atau kombinasi dari ketiga variabel ini. Pada

defisiensi makronutrien terdapat 2 bagian yaitu marasmus dan kwashiorkor.7

Marasmus adalah bentuk KEP primer tersering dan disebabkan oleh kehilangan kalori
berat. Banyak bentuk KEP marasmik sekunder disebabkan oleh penyakit-penyakit, seperti fibrosis
kistik, tuberkulosis, kanker, AIDS, atau penyakit seliak. Manifestasi klinis utama pada anak
dengan malnutrisi berat adalah tubuh yang sangat kurus dan lemah dengan berat badan di bawah
70% dari berat badan ideal menurut tinggi badan dan habisnya simpanan lemak tubuh. Meskipun
pertumbuhan kerdil dapat diamati pada malnutrisi yang berjangka lebih lama, rasio berat badan
per tinggi badan yang diamati terhadap yang di harapkan menunjukan terjadinya penurunan
massa tubuh melebihi penykit lainnyayang terkain pertumbuhan kerdil. Kehilangan massa otot
dan simpanan lemak subkutan dikonfirmasi melalui inspeksi atau palpasi dan diukur dengan
pengukuran antropometrik. Kepala tampak besar, tetapi biasanya sebanding dengan panjang
tubuhnya. Edema biasanya tidak ada. Kulit kering dan tipis, dan rambut mungkin tipis, jarang,
dan mudah dicabut. Anak marasmik biasanya apatis dan lemah. Bradikardi dan hipotermia
menandari malnutrisi berat dan mengancam jiwa. Biasanya terjadi atrofi papila filiformis lidah,
7
dan stomatitis monilia jug cukup sering terjadi.

Malnutrisi sering disertai dengan diare kronik akibat penaruh malnutrisi pada saluran
pencernaan (atrofi mukosa dan malarbsorbsi sekunder) dan peningkatan kerentanan terhadap
virus, bakteri, protozoa, dan infeksi parasit yang terkin dengan imunodefisiensi sel-T dan Sel-B.
Episode diare berulang yang diobati dengan periode puasa yang lama atau larutan elektrolit

9
oral akan mengurangi asupan kalori dan turut menyebabkan malnutrisi. Diare dapat memburuk
selama rehabilitasi sebagai akibat pemberian makan berlebihan atau intoleransi susu formula
(malarbsorbsi laktosa atau monosakarida sementara atau intolerasi protein susu). Meskipun
demikian, merehabilitasi anak kurang gizi, dengan hasil yang baik. Pada kasus diare berat,
7
malarbsorbsi, dan malnutrisi, pemberian makan intravema mungkin diperlukan.

Kwashiorkor ditandai dengan edema pitting yang dimulai pada tungkai bawah dan
naik dengan bertambahnya keparahan, disebabkan asupan protein yang tidak cukup meskipun
asupan kalori cukup sampai baik. Penyakit ini biasa terjadi di negara berkembang jika anak
disapih dengan makana rendah protein, tetapi dapat juga merupakan komplikasi penyakit
kritis eperti luka bakar, kanker, infeksi akut dan kronis, kegagalan multiorgan, penyakit
7
radang usus, anoreksia nervisa, serta pasca bedah.

Manifestasi klinis utama kwashiorkor adalah berat badan anak berkisar antara 60-80%
dari berat badan yang dibaharpakan menurut usia, berat badan mungkin tidak mewakili status
nutrisi karea adanya edema. Pemeriksaan fisik menunjukan jaringan adiposa subkutan relatif
terpelihara dan atrofi massa otot uang mencolok. Edema bervariasi dari pitting minor di
punggung kaki sampai edema menyeluruh dengan termasuk kelopak mata dan skrotum.
Rambut jarang, mudah dicabut, dan tampak cokelat, merah, atau kuning kusam. Asupan
protein yang cukup akan megembalikan warna rambut (flag sign), menyebabkan terdaat
bagian rambut dengan peribahan pigmenasi yang diikuti oeh bagian rambut dengan
pigmentasi normal. Perubahan kulit biasanya terjadi dan berkisar dari hiperkeratosis
hiperpigmentasi sampai ruam makular eritematosus pada batang tubuh dan ekstremitas. Pada
bentuk kwashiorkor yang paling berat, terjadi deskuamasi superfisial pda permukaan yang
tertekan. Umumnya terjadi keilosis angular dan atrofi dari papila filiformis lidah. Stomatitis
monilia sering terjadi. Pemeriksaan perut dapat menunjukan hati yang membesar, lunak
dengan tepi tidak jelas. Jaringan limfatik biasanya atrofi. Pemeriksaan dada mungkin

menunjukan ronkhi di basal. Perut kembung dan suasa usus cenderung hipoaktif. 7

Jika skrining yang digunakan hanya dengan LILA dan atau BB/RB maka yang
terhjaring hanyalah penderita marasmus, sementara penderita kwashiorkor hanyasedikit
terjaring. Oleh karena itu penerita gizi buruk sebaiknya mengguakan tanda klinis yaitu sangat
kurus (marasmus) dan edema (kwashiorkor) serta pemeriksaan LILA dan atau BB/TB. Untuk
7
itu diperlukan tenaga yang terampil dan petugas kesehatan yang kompeten.

10
3.7. Tatalaksana Malnutrisi

Kriteria atau indikasi seperti yang dijelaskan pada bagan Departeman Kesehatan diatas
bukanlah harga mati. Pada Departemen Kesehatan pada tahun 2009 menambahkan beberapa
6
hal diantaranya :

 Sering muntah
 Infeksi yang ekstensif / berat
 Semua keadaan yang memerlukan pemasangan infus atau pipa nasograstrik (NGT)

Mereka dirawat di rumah sakit atau puskesmas untuk tatalaksana gizi buruk fase stabilisasi
sesuai buku panduan WHO 1999. Dalam panduan tersebut tatalaksanan penderita gizi buruk
yang dirawat di RS dibagi menjadi 2 tahap yaitu fase stabilisasi dan fase rehabilitasi dengan
6
tindakan atau kegiatan yang terdiri atas 10 langkah utama yaitu :

1. Atasi / cegah hipoglikemia


2. Atasi / cegah hipotermia
3. Atasi / cegah dehidrasi
4. Koreksi ketidakseimbangan elektrolit
5. Atasi / cegah infeksi
6. Koreksu defisiensi mikronutrien
7. Memulai pemberian makan
8. Mengupayakan tumbuh-kejar
9. Memberikan stimulasi sensoris dan dukungan emosional
10. Mempersiapkan untuk tindak lanjut pasca perbaikan

Pada saat anak gizi buruk tiba di RS, eringkali terdapat komplikasi berat yang mengancam jiwa
seperti hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi, dll. Sehingga memerlukan tindaka segera. Pada
penderita gizi buruk seluruh rgan tubuhnya mengalami atrofi (otot, usus, liver, pankreas, dll),
lemak subkutan sebagai cadangan energi sanat tipis . kemampuan memproduksi enzim sanat
terbatas, kekebaan sangat terganggu dan reaksi ubuh sanat kacar dan didapatkan gangguan
elektrolit. Oleh karena itu pada fase stabilisasi, penderita dianjurkan dirawat di ruang khusus non
infeksi dengan suhu ruangan yang cukup (tidak dingin). Segera beri makanan berupa formula 75
(F75) setiap 2-3 jam sekali dan pada 2 jam pertamaF75 diberikan ¼ dari jumlah yang dibutuhkan
setiap 30 menit. Dilakukan pemantauan akseptabilitas, suhu tubuh, frekuensi nadi, kadar gula
darahm dan waspadai kemungkinan kelebihan cairan. Tindakan pada fase
11
stabilisasi bertujuan untuk mengatasi kedaruratan medis dan menstabilkan kondisi klinis
anak, sedangkan tujuan fase rehabilitasi adalah pemulihan serta tumbuh kejar memerlukan
waktu lebih lama. Walaupun secara klinis terdapat perbedaan antara marasmus dan
6
kwashiorkor, prosedur tatalaksana terapi pada marasmus maupun kwashiorkor sama.

Langkah 1. Atasi / Cegah Hipoglikemia

Semua anak gizi buruk berisiko untuk terjadi hipoglikemia (kadar gula darah <3 mmol/dL
atau <54 mg/dL) yang sering kali merupakan penyebab kematian pada 2 hari pertama
perawatan. Hipoglikemia dapat terjadi karena adanya infeki berat atau anak tidak mendapat
makanan selama 4-6 jam. Hipoglikema dan hipotermia seringkali terjadi bersamaan dan
biasanya merupakan pertanda adanya infeksi. Carilah tanda hipoglikemia bila menemukan

tanda hipotermia (suhu aksila <350C dan rektal <35,50C). Pemberian makanan frekuensi
6
sering setiap 2-3 jam sangat penting dalam mencegah dia kondisi tersebut.

Terapi pada anak sadar dan dapat minum : 6

 Bolus 50 ml larutan Glukosa 10% atau sukrosa 10% ( 1 sendok the penuh gula dengan 50
ml air), baik per oral maupun dengan pipa nasograstrik. Kemudian mulai pemberian F75
setiap 2 jam, untuk 2 jam pertama berikan ¼ dari dosis makanan setiap 30 menit.
 Antibiotik spektrum luas
 Pemberian makan per 2 jam, siang, dan malam.

Terapi pada anak tidak sadar : 6

 Glukosa 10% intravena (5mg/ml) diikuti dengan 50 ml glukosa 10% atau sukrosa
lewat pipa NGT. Kemudian mulai pemberian F75 setiap 2 jam, untuk 2 jam pertama
berikan ¼ dari dosis makanan setiap 30 menit.
 Antibiotik spektrum luas
 Pemberian makanan per 2 jam, siang dan malam.

6
Monitor :

 Kadar gula darah : setelah 2 jam, ulangi pemeriksaan kadar gula darah (menggunakan
darah jari atau tumit). Selama terapi , umumya anak akan stabil dalam 30 menit. Bila
kadar gula darah masih rendah ulangi pemerian 50 ml bolus glukosa 10% atau larutan
sukrosa, kemudian lanjutkan pemberian makanan F75 setiap 2 jam hingga anak stabil.

12
0
 Suhu rektal : jika turun hingga <35,5 C, ulang pengukuran kadar gula darah.
 Tingkat kesadaran : bila belum pulih, ulang pengukuran kadar gula darah sambil
mencari penyebabnya.

6
Pencegahan :

 Berikan makanan F75 setiap 2 jam, mulai secara langsung atau bila perlu lakukan
rehidrasi terlebih dahulu.
 Selalu berikan makanan pada malam hari.

Langkah 2. Atasi / Cegah Hipotermia

Jika suhu aksila <35,00C, lakukan pemeriksaan suhu rektal menggunakan termometer air
raksa. Jika suhu rektal <35,50C: 6

 Berikan makanan secara langsung ( atau mulai rehidrasi bila diperlukan )


 Hangatkan anak : selain memakaikan pakaian tutupi dan tutupi dengan selimut hangat
hingga kepala (kecuali wajah) atau tempatkan di dekat penghangat atau lampu (jangan
gunakan botol air panas), atau letakan anak pada dada ibu (skin to skin, cara
kangguru) lalu tutupi selimt keduanya.
 Berikan antibiotik spektrum luas.

6
Monitor :

 Suhu Tubuh : selama menghangatkan anak, lakukan pemeriksaan suhu rektalsetiap 30


0
menit hingga mencapai suhu >36,5 C.
 Yakinkan bahwa anak telah tertutupi seluruh permukaan tubuhnya, terutama di malam
hari.
 Kadar gula darah : ukur kadar gu;a darah ketika didapati adanya hipotermia.

Pencegahan : 6

 Berikan makanan setiap 2 jam, langsung dimulai pemberian makan.


 Selalu berikan makanan (F75 dan F100), baik siang maupun malam hari.
 Tetap tutupi anak dan hindari paparan langsung dengan udara.

13
 Jaga agar anak tetap kering, segera ganti popok, pakaian dan alas tempat tidur anak
bila basah.
 Hindari paparan langsung dengan udara.
 Biarkan anak tidur dengan ibu/pengasuh pada malam hari agar kehangatan tetap terjaga.
6

Langkah 3. Atasi / Cegah Dehidrasi

Tidak mudah menentukan adanya dehidrasi pada anak gizi buruk karena tanda dan gejala
dehidrasi seperti tugor kulit dan mata cekung sering didapati pada gzi buruk walaupun tidak
dehidrasi. Di sisi lain, pada anak gizi buruk keadaan dehidrasi walau ringan dapat
menimbulkan komplikasi lain (hipoglikemia, letargi) sehingga memperberat kondisi klinis.
Karenanya prlu antisiasi terjadinya dehidrasi pada anak gizi buruk dengan riwayat diare atau
muntah dan melakukan tindakan pencegahan. Diagnosis pasti adanya dehidrasi adalah dengan
pengukuran berat jenis urin (>1.030) selain tanda dan gejala klinis khas bila ada, antara lain
6
rasa halus dan mukosa mulut kering.

Terapi :

Larutan gula-garam standar untuk rehidrasi oral (75 mmol Na/L) mengandung terlalu banyak
natrium dan terlalu sedikit kalium bagi anak malnutrisi berat. Oleh karena itu diberikan
laruan rehidrasi khusus yaitu rehydration salution for malnutrition (ReSoMal).Sulit untuk
memperkirakan status dehidrasi dengan melihat klinis saja pada anak malnutrisi berat. Maka
6
diasumsikan bahwa setiap anak dengan diare cair dapat mengalami dehidrasi dan berikan :

 ReSoMal 5ml/kg setiap 30 menit selama 2 jam, baik per oral maupun lewat NGT.
 Kemudian 5-10 ml/jam selama 4-10 jam berikutnya: jumlah yang seharusnya
diberikan pada anak ditentukan oleh berapa banyak anak mau minum, dan jumlah
diare dan muntah, ganti dosis ReSoMal pada jam ke 4,6,8 dan 10 dengan F75 bila
rehidrasi masih dibutuhkan.
 Selanjutnya bila sudah rehidrasi, hentikan pemberian ReSoMal dan lanjutkan F75
setiap 2 jam.
 Bila masih diare, beri ReSoMal setiap anak diare : anak <2 tahun : 50-100 ml dan anak

> 2 tahun : 100-200 ml.3

14
Monitor kemajuan dehidrasi tiap 30 menit selama 2 jam pertama kemudian tiap 1 jam untuk
6-12 jam selanjutnya dengan memeriksan denyut jantung, frekuensi napas, frekuensi miksi,
dan frekuensi defekasi/muntah. Adanya air mata, mukosa kulit yang lembab, mata dan
fontanella yang sudah tidak cekung dan perbaikan turgor kulit, merupakan tanda-tanda
keberhasilam rehidrasi. Harus diperhatikan bahwa banyak anak dengan malnutrisi berat tidak
menunjukan tanda-tanda tersebut walaupun sudah tercapai rehidrasi. Frekuensi napas dan
nadi yang cepat selama rehidrasi mengindikasikan adanya infeksi atau over hidrasi. Tanda-
tanda kelebihan cairan antara lain meningkatnya frekuensi napas, nadi, timbul / bertambahnya
edema dan papebra bengkak. Jika tanda-tanda tersebut muncul, maka entukan pemberian
6
cairan secepatnya dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam.

Pencegahan untuk mencegah dehidrasi saat anak masih mengalami diare cair :

 Tetap memeberikan makanan dimulai dengan pemberian F75.


 Gantikan cairan sejumlah perkiraan jumlah cairan yang hilang dengan ReSoMal.
Sebagai panduan berikan 50-100 ml setiap kali diare cair untuk anak <2 tahun dan
100-200 ml bagi anak > 2 tahun.
 Bila anak masih menyusu ASI, dianjurkan untuk melanjutkan pemberian ASI di
antara pemberian F75 atau F100.

Langkah 4. Koreksi Gangguan Keseimbangan Elektrolit

Semua anak dengan malnutrisi berat mengalami kelebihan natrium. Defisiensi kalim dan
magnesium juga terjadi dan membbutukkan waktu minimal dua minggu untuk melakukan
koreksi. Oedem yangmuncul bisa disebabkan ketidakseimbangan elektrolit. Jangan

memerikan diuretik sebagai terapi edema. Berikan : 6

 Ekstra kalium 3-4 mmol/Kg/Hari


 Ekstra magnesium 0,4-0,6 mmol/Kg/hari
 Saat rehidrasi berikan cairan rendah natrium misalnya ReSoMal.
 Siapkan makanan tanpa garam.

Langkah 5. Obati / Cegah Infeksi

Pada malnutrisi berat, tanda umum adanya infeksi, seperti demam, sering tidak dijumpai dan
infeksi sering terembunyi. Oleh karena itu beri secara rutin saat rawat inap adalah antibiotik

15
spektrum luas dan vaksin campak jika anak > 6 bulan dan belum mendapat imunisasi (tunda
jika kondisi klinis syok). Pilihan antibiotika spektrum luas : 6

 Jika anak tidak terdapat komplikasi atau infeksi tidak nyata, berikan kotrimoksasol 5
ml larutan pediatrik per oral dua kali sehari selama 5 hari (2,5 ml jika berat <6kg).
 Jika anak terlihat sangat sakit (apatis,letargi) atau terdapat komplikasi (hipoglikemia,
gipotermia, dermatosis, infeksi traktur respiratorius atau urinarius) berikan ampisilin
50 mg/kg IM/IV per 6 jam untuk 2 hari, kmudian dilanjutkan dengan amoksisilin per
oral 15 mg/kg per 8 jam untuk 5 hari, atau jika amoksisilin tidak tersedia lanjutkan
dengan ampisilin per oral 50 mg/kg per 6 jam.

Gentamisin 7,5 mg/kg IM/IV ditamabahkan sekali sehari selama 7 hari. jika anak tidak ada
perbaikan klinis dalam 48 jam tambahkan kloramfenikol 25 mg/kg IM/IV per 8 jam selama 5
hari. jika infeksi spesifik teridentifikasi tambahkan antibiotik spesifik yang sesuai dan terapi
antimalaria jika pemeriksaan parasit malaria pada darah perifer menunjukan hasil positif. Jika
anoreksi tetap ada seteah 5 hari pemberian antibiotika, lanjutkan sampai 10 hari. selain itu
evaluasi ulang anak seutuhnya perika fokal infeksi dan organisme yang potensial untuk
6
resisten dan pastikan bahwa suplemen vitamin dan mineral telah diberika secara benar.

Langkah 6. Koreksi Defisiensi Mikronutrien

Semua anak malnutrisi berat juga mengalami defieisnei vitamin dan mineral.
Meskipin anemia sering tejadi, pada periode awal tidak boleh diberikan preparat besi tetapi
ditunggu sampai anak memiliki nafsu makan yang baik dan dimulai saat berat badan
bertambah. Pemberian preparat besi dapat memperburuk keadaan infeksi serta terjadinya

reaksi oksidatif oleh besi bebas yang akan merusak membran sel dan berakibat fatal. 6

Pemberian pada hari pertama adalah Vitamin A per oral (dosis untuk >12 buan
200.000 SI, untuk 6-12 bulan 100.000 SI, untuk 0-5 bulan 50.000SI) ditunda bila klinis buruk
dan asam folat 5 mg oral. Pemberian harian selama 2 minggu setelahnya adalah suplemen
multivitamin, asam folat 1 mg/hari, zink 2 mg/kgbb/hari, copper 0,3 mg/kgbb/hari dan
6
preparat besi 3 mg/kgbb/hari pada fase rehabilitasi.

Langkah 7. Pemberian Makanan

Pada fase stabilisasi diperlukan pendakatan yang hati-hati karena kondisi fisiologis anak yang
rapuh dan berkurangnya kapasitas homeostatis. Pemberian makan sebaiknya dimulai sesegera
16
mungkin setelah passien masuk dan harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi dan
protein secukupnya untuk mempertaahankan proses fisiologis dasar. Hal-hal penting dalam

pemberian makan pada fase stabilisasi adalah sebagai berikut : 6

 Peberian makanan dengan porsi kecil dan sering dengan osmolaritas rendah dan
rendah laktosa
 Pemberian makan secara oral atau lwat pipa nasogastrik
 Energi : 80-100 kcal/kgbb/hari
 Protein : 1-1,5 g/kgbb/hari
 Cairan : 130 ml/kgbb/hari cairan (100 cc/kgbb/hari bila anak edema berat)
 Apabia anak minum ASI, lanjutkan pemberian ASI tetapi setelah formula dihabiskan.

Pemberian susu formula awal (F75) dan jadwal pemberian makanan yang
disarankan dibuat untuk memenuhi target diatas. F75 mengandung 75 kcal/100 ml dan 0,9
gram protein /100 ml cukup memenuhi kebutuhan bagi sebagin besar anak. Berikan dengan
menggunakan cangkir atau sendok. Anak yang sangat lemah, mungkin perlu diberikan
dengan sendok atau secara drop atau dengan spuit. Jadwal yang diberikan dimana volume
secara bertahap ditingkatkan dan frekuensi secara bertahap dikurangi adalah sebagai berikut :

Hari Frekuensi Volume/ Volume/Kg/Hari


KgBB/pemberian

1-2 Tiap 2 jam 11 cc 130

3-5 Tiap 3 jam 16 ccc 130

6-7+ Tiap 4 jam 22 cc 130

Perubahan frekuesi makan dari tiap 2 jam menjadi tiap 3 jam dan 4 jam dilakukan bila
anak mampi menghabiskan porsinya. Untuk anak dengan nafsu makan yang baik dan tanpa
edema, jadwal ini dapat diselesaikan dalam 2-3 hari. gunakan perhitungan berat badan harian
untuk menghitung berapa banyak yang harus diberikan, karena anak mengalami penurunan berat
badan atau mengalami peningkatan berat badan pada fase ini. Jika karena sesuatu sebab (muntah,
diare, dan letargi) asupan tidak mencapai 80 kkal/kgbb/hari (jumlah yang harus

17
dicapai), makanan harus diberikan melalui NGT untuk mencukupi jumlah asupan. Jangan
melebihi 100kcal/kg/hari pada fase ini. Monitor dan catat : 6

 Jumlah yang diberikan dan yang dikeluarkan atau tersisa


 Frekuensi muntah
 Frekuensi BAB cair
 Berat badan harian (ditimbang pad awaktu dan kondisi yang sama)

Langkah 8. Mencapai Kejar Tumbuh

Pada fase rehabilitasi perlu pendekatan y ang baik untuk pemberian makan dalam pencapaian
asupan yang tinggi dan kenaikan berat badan yang cepat ( > 10 g/kg/hari).formula yang
dianjurkan pada fase ini adalah F100 yang mengandung 100 kkal/100 ml dan 2,9 g
protein/100 ml. kesiapan untuk memasuki fase rehabilitasi ditandai dengan kembalinya nafsu
makan biasanya sekitar satu setelah perawatan. Transisi yang bertahap direkomendasikan
untuk mencegah resiko gagal jantung yang dapat muncul bila anak mengkonsumsi makanan
langsung dalam jumlah banyak. Untuk mengubah dari pemberian makanan awal ke makanan

kejar tumbuh (transisi) dilakukan : 6

 Ganti formula F75 dengan F100 dalam jumlah yang sama selama 48 jam
 Kemudian volume dapat ditambah bertahap sebanyak 10-15 ml per kali, kenaikan
volume ini dapat dilakukan per hari hingga mencapat 150 kkal/kgbb/hari
 Energi : 100-150 kkal/kgbb/hari
 Protein : 2-3 g/kgbb/hari
 Bila anak masih mendapat ASI, tetap diberikan diantara pemberian formula

6
Setelah fase transisi, anak masuk ke fase rehabilitasi :

 Lanjutkan menambah volume pemberian F100 hingga ada makaan sisa yang tidak
termakan oleh anak. Tahapan ini biasanya terjadi pada saa tpemberian makanan
mencapai 30 ml/kgbb/makan (200 ml/kgbb/hari)
 Pemberian makanan yang sering dari jumlah formula tumbuh kejar
 Energi : 150-220 kcal/kg/hari
 Protein : 4-6 gram protein/kg/hari
 Bila anak masih mendapat ASI tetap berikan di antara pemberian formula

18
6
Monitor kemajuan setelah transisi dengan menilai peningkatan berat badan :

 Timbang berat badan tiap pagi sebelum makan, plot pada formulir pematauan berat
badan
 Tiap minggu hitung dan catat pertambahan berat badan dalam satuan gram/kgbb/hari

Bila kenaikan berat badan : 6

 Buruk( < 5 gram/kgbb/hari) anak perlu dilakukan penilaian ulangsecara menyeluruh,


apakah target asupan makanan memenuhi kebutuhan atau cek apakah ada tanda-tanda
infeksi
 Sedang (5-10 gram/kgbb/hari), lanjutkan tatalaksana
 Baik ( > 10 gram/kgbb/hari), lanjutkan tatalaksana

Langkah 9. Memberikan stimuli fisik, sensorik, dan dukungan emosional

Pada malnutrisi berat didapatkan perkembanga mental dan perilaku yang terlambat,
6
menyediakan :

 Perawatan dengan kasih sayang


 Kegembiraan dan lingkungan yang nyaman
 Terapi bermain yang terstruktur 15-30 menit/hari
 Aktivitas fisik sesuai dengan kemampuan psikomotor anak
 Keterlibatan ibu (contoh : kenyamanan, makan, mandi , dan bermain)

Langkah 10. Persiapan Tindak Lanjut Setelah Perawatan

Bilaanak sudah mencapat persentil 90% BB/TB (setara -1SD) maka anak sudah pulih dari
keadaan malnutrisi, walaupun mungkin BB/U masih rendah karena umumnya anak pendek
(TB/U). pola maka yang baik dan stimulasi fisik dan sensorik dapat dilanjukan di rumah.
6
Tunjukan kepada orang tua atau pengasuh bagaimana :

 Pemberian makan secara sering dengan kadungan energi dan nutrient memadai
 Berikan terapi bermain yang terstruktur
 Membawa anak secara terkontrol
 Memberikan imunisasi booster
 Memberikan vitamin A setiap 6 bulan.

19
3.8. Posyandu

Pada tahun 1975 pemerintah telah mencanangkan konsep “pembangunan kesehatan


masyarakat Desa” (PKMD) dengan bentuk operasional “pos pelayanan terpadu” (Posyandu)
dengan dasar Panca Krida Posyandu, yaitu melaksanakan gerakan keluarga berencana,
pembinaan kesehatan ibu dan anak, imunisasi ibu dan anak, perbaikan gizi, pembagian FE,
dan penanggulangan diare. Untuk meningkatkan peranan kader masyarakat desa, dicetuskan
ide desa wisma artinya setiap kader desa dalam posyandu hanya berhubungan dengan sepuluh
rumah tangga. Degna demikian diharapkan dapat dijamin keefektifan dan efisiensi dalam
8
melaksanakan posyandu, yang diselenggarakan satu kali dalam sebulan.

Posyandu memiliki beberapa sasaran yaitu balita, ibu hamil dan menyusui, pasangan
usia subur (PUS). Kegiatan posyandu dilaukan satu kali dalam sebulan, di tempat yang
mudah dijangkau masyarakat. Sistem pelayanan posyandu ini dilakukan secara “sistem lima
meja”. Meja pertama adalah meja pencatatan dan pelaporan, kemudian dilakukan
penimbanngan di meja kedua, selanjutnya di meja ketiga dilakukan penerangan dan
pendidikan. Lalu di meja keempat dilakukan peningkatan tentang gizi/ASI. Meja kelima
berupa pelayanan kesehatan (Pemeriksaan kehamilan, imunisasi balita, anak dan ibu hamil,
program keluarga berencana dan oemberian tablet besi dan vitamin A). Meja pertama sampai
keempat dilayani oleh kader desa, sedangkan meja kelima oleh tenaga kesehatan. Tenaga
kesehatan yang terkait adalah bidan swasata, bidan desa, tenaga kesehatan puskesmas, dan
9
dokter swasta. Posyandu sendiri melaksanakan sistem “Kader Desa”.

Dalam tahap yang dilakukan posyandu, hasil penimbangan berat bedan akan dicatat di
Kartu Menuju Sehat (KMS). KMS adalah kartu yang memuat data pertumbuhan dan
perkembangan anak sejak lahir hingga berusia lima tahun. Juga memuat informasi mengenai
jadwal imunisasi, pemberian ASI dan kemampuan yang harus dimiliki sesuai dengan tingkat
usianya. Pengisian KMS dilakukan oleh tenaga kesehatan. Model KMS biasanya berbeda-
10
beda, namun data yang harus diisikan semuanya sama.

20
10
Gambar 1. Lembar depan KMS

Gambar 2. Lembar belakang KMS 10

Yang harus diperhatikan dari KMS adalah grafik pertumbuhan berat badan berdasarkan
umur (BB/U). Grafik ini diisi setiap bulan sehabis penimbangan. Beberapa hal yangh harus

21
diperhatikan mengenai grafik pada KMS adalah sebagai berikut. Setelah ditimbang maka tenaga
medis akan memberikan titik sesuai bulan penimbangan dan berat di kecil. Jika titik tersebut
berada di bawah garis merah artinya si kecil mengalami kurang gixi tingkat sedang bahkan bisa
jadi tingkat berat. Jika si kecil mengalami ini maka segera bawa ke bidan atau dokter spesialis
anak. Jika pada daerah dua pita warna kuning (diatas garis merah), hal ini menunjukan si kecil
mengalami kurang gizi ringan. Ibu kangan terlalu panik. Yang pertama kali dilakukan adalah
mengevaluasi pemberiaan makanan pada si kecil. Bisa jadi kurang gizi yang dialami si kecil
diakibatkan karena kelalaian ibu dalam pemberian makan, ketidaksabaran ibu dalam memberi
makan si kecil, makanan yang diberikan kurang tepat waktu mutu jumlah, bila ibu sudah merasa
optimal dalam berusaha da n berdia tetapi balita masih berstatus gizi kurang maka bawalah ke
bidan / dokter spesialis anak. Jika berada di daerah dua [ita warna hijau muda dan 2 warna hijau
tua di atas kuning, berarti status gizi balita itu baik atau normal. Bila berada di posisi empat garis
diatas pita warna hijau tua, balita memiliki berat badan yang lebih dari seharusnya. Balita yang
10
obesitas rentan terkena penyakit akibat kegemukan.

22
Bab IV
Pengumpulan Data

Puskesmas Tanggal : Kecamatan Tirtajaya


Kunjungan : 10 September 2018

4.1. Identitas Pasien


a. Nama : An. Y
b. Umur : 2 tahun 4 bulan (28 bulan)
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Pekerjaan :-
e. Pendidikan :-
f. Alamat : Desa Sabajaya

4.2. Ideentitas Orang Tua

Ayah Pasien

a. Nama : Tn. J
b. Umur : 28 tahun
c. Jenis kelamin : Laki laki
d. Pekerjaan : Supir Angkutan
e. Pendidikan : SD
f. Alamat : Desa Sabajaya, RT007/RW002, Kecamatan Tirtajaya,
Kabupaten Karawang
g. Telepon :-
Ibu Pasien

a. Nama : Ny. S

b. Umur : 25 tahun
c. Jenis kelamin : Perempuan
d. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
e. Pendidikan : SD
23
f. Alamat : Desa Sabajaya, RT007/RW002, Kecamatan Tirtajaya,
Kabupaten Karawang
g. Telepon :-

4.3. Riwayat Biologis Keluarga


a. Keadaan kesehatan sekarang : Cukup Baik
b. Kebersihan Perorangan : Cukup Baik
c. Penyakit yang sering diderita : Diare, batuk, pilek
d. Penyakit keturunan : Tidak ada
e. Penyakit kronis/ keturunan : Tidak ada
f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
g. Penyakit keluarga : Tidak ada
h. Pola makan : Teratur, variasi kurang, 1 hari makan 3 kali
i. Pola istirahat : Cukup
j. Jumlah anggota keluarga : 3 orang

4.3. Psikologis Keluarga


a. Kebiasaan : Tidak ada
b. Pengambilan keputusan : Musyawarah bersama
c. Ketergantungan obat : Tidak ada
d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas/Praktek bidan
e. Pola rekreasi : Kurang

4.4. Keadaan Rumah/Lingkungan


a. Jenis bangunan : Permanen
b. Lantai Rumah : Keramik
c. Luas Rumah 2
: 80 m
d. Penerangan : Cukup
e. Kebersihan : Cukup
f. Ventilasi : Baik
g. Dapur : Ada
h. Jamban keluarga : Ada
i. Sumber air minum : Air isi ulang
24
j. Sumber pencemaran air : Tidak Ada
k. Pemanfaatan perkarangan : Ada
l. Sistem pembuangan limbah : Ada
m. Tempat pembuangan sampah : Ada
n. Sanitasi lingkungan : Cukup
4.5. Keadaan Sosial dan Ekonomi

a. Ketaatan beribadah : Baik


b. Keyakinan tentang kesehatan : Cukup
4.6. Keadaan Sosial Keluarga

a. Tingkat pendidikan : Cukup


b. Hubungan antar anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan orang lain : Baik
d. Kegiatan organisasi sosial : Baik, mengikuti kegiatan pengajian
e. Keadaan ekonomi : Kurang
4.7. Kultural Keluarga

a. Adat yang berpengaruh : Sunda


b. Lain-lain : Tidak ada
4.8. Daftar Anggota Keluarga

25
Keterangan:

4.9. Keluhan Utama


Ibu OS mengatakan berat badan anaknya tidak naik sejak 2 bulan yang lalu, serta
nafsu makan OS menurun. Sehingga OS menjadi kurang aktif. Ibu OS mengatakan
awalnya sama sekali tidak mau makan, OS hanya makan mie instan sulit untuk makan
buah dan sayuran. Menurut pengakuan ibunya OS lahir dengan prematur BBL hanya 1,8
kg. Riwayat imunisasi tidak lengkap hanya dilakukan saat pertama kali dilahirkan.

4.10. Keluhan Tambahan


Tidak ada

4.11. Riwayat Penyakit Sekarang

4.12. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat kelainan jantung (-), alergi (-)

4.13. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Tinggi Badan : 37 cm
Berat Badan : 13 kg
Status Gizi : BB/TB = -2 SD (Z score) = Gizi Kurang
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital

Frekuensi Nadi : 86 kali/menit


26
Tekanan Darah : Tidak diperiksa
Frekuensi Napas : 24 kali/menit
Suhu : 36,7 0C

4.14. Pemeriksaan Lokalis


Kepala
Bentuk dan ukuran : Normocephali, tidak ada deformitas
Rambut dan kulit kepala : Rambut berwarna kecoklatan, tipis, kulit kepala dalam batas
normal
Wajah : Mongoloid Face (+)
Mata : Conjunctiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Telinga : Bentuk normal, liang telinga lapang, sekret -/-
Hidung : Bentuk normal, sekret -/-, Pernapasan cuping hidung (-)
Bibir : Merah, tidak kering, sianosis (-)
Gigi-geligi : Dalam batas normal
Mulut : Bentuk normal, stomatitis (-), sianosis (-)
Lidah : Bentuk normal, lidah kotor (-)
Tonsil : T1-T1 tenang, hiperemis (-)
Faring : Hiperemis (-)

Leher
Tidak ada kelainan bentuk, tiroid dan kelenjar getah bening tidak teraba membesar.

Toraks
Paru : Suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung : Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Tampak membuncit
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-) epigastrium, hepar dan lien tidak
teraba. Ballotement (+)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Anus dan Rektum : (tidak dilakukan)
Genitalia : (tidak dilakukan)

27
Anggota Gerak : Akral hangat, Udem (-)

4.15. Diagnosis kerja


Gizi Buruk
4.16. Diagnosis Keluarga : -
4.17. Anjuran Penatalaksanaan Penyakit
Promotif
- Melakukan penyuluhan mengenai pentingnya melakukan penimbangan
berat badan rutin setiap bulan di Posyandu, semakin mengvariasikan jenis
makanan dan minuman yang dikonsumsi, mengunjungi petugas Gizi di
Puskesmas secara rutin sesuai jadwal untuk dipantau serta mendapatkan
PMT
Preventif
- Melakukan pencegahan lebih buruk lagi status gizinya dengan
mengkonsumsi makanan bergizi dan seimbang secara perlahan dan
memperkenalkan variasi makanan. Mengunjungi Posyandu untuk
mendapatkan Vitamin A untuk usia 1-5 tahun pada bulan Februari dan
Agustus.
Kuratif
- Menganjurkan orang tua pasien untuk membawa pasien ke Puskesmas
agar mendapat rujukan ke Rumah Sakit terdekat yang memiliki fasilitas
fisioterapi anak sehingga dapat tumbuh mandiri dan tidak melulu
bergantung pada keberadaan dan bantuan orang lain.

Rehabilitatif
- Meminta orang tua pasien untuk melakukan kunjungan ke bagian Gizi
Puskesmas untuk mendapatkan informasi dan pendampingan mengenai
gizi anaknya sehingga diketahui asupan yang boleh atau harus dikonsumsi.
- Kontrol ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut jika gejala
berulang dan bertambah parah.
- Kontrol ke fasilitas kesehatan atau posyandu untuk memeriksakan
kehamilannya secara rutin.

28
4.18. Prognosis
a. Penyakit
Prognosis kurang baik, jika tidak dilakukan tindakan lanjutan, sehingga orang
tua perlu diedukasi untuk rajin berkunjung ke posyandu atau puskesmas.
b. Keluarga
Hubungan antar keluarga baik. Ibu pasien memiliki keinginan yang kuat untuk
mengubah keadaan anaknya.
c. Masyarakat
Masyarakat baik, karena tidak terlalu dipengaruhi keadaan pasien.

4.19. Resume
Pasien berusia 2 tahun 4 bulan dengan keluhan berat badan tidak naik sejak 2 bulan lalu.
Pasien memiliki riwayat lahir prematur dengan BBL 1,8 kg. OS hanya melakukan
imunisasi HB0 saat lahir. Pada pemeriksaan fisik lain-lain dalam batas normal.

29
Bab V
Analisa Kasus
5.1. Analisa Kasus
An. Y berusia 2 tahun 4 bulan dengan keluhan berat badan tidak naik sejak 2 bulan lalu.
Saat ini keluhan OS tidak nafsu makan dan anak terlihat lemas. Pada awalnya sama sekali tidak
mau makan. Biasanya OS hanya makan mie instan, sulit untuk makan buah dan sayuran.
Biasanya pasien berobat ke puskesmas tirtajaya jika OS mengalami sakit. Pasien tidak pernah
berkunjung ke Posyandu setiap bulan sehingga tidak terpantau dengan baik status gizinya. Pasien
hanya melakukan imunisasi HB0 saat lahir.

5.2. Riwayat Keluarga


Tidak ada di keluarga pasien yang menderita penyakit serupa. Keadaan kesehatan kelurga
baik.

5.3. Analisa Kunjungan Rumah


5.3.1. Kondisi Pasien
Kondisi pasien kurang baik dan tampak lemas, karena asupan makanan yang
kurang bila dibandingkan dengan usianya
5.3.2. Pendidikan
Pasien belum sekolah
5.3.3. Keadaan Rumah
Rumah pasien cukup baik dengan luas sekitar 80m 2 dengan pekarangan yang
ditanami tumbuhan, terdapat teras yang cukup bersih dan seluruh rumah sudah
diberikan keramik.
5.3.4. Pencahayaan
Pencahayaan dalam rumah pasien sudah baik dengan banyaknya jendela dan
juga lampu penerangan.
5.3.5. Kebersihan
Kebersihan rumah pasien cukup baik, semua diatur dengan cukup rapih dan tidak
terlalu berdebu.
5.3.6. Ventilasi
Ventilasi udara rumah pasien sudah baik
5.3.7. Sanitasi Dasar
Kurang baik, karena terdapat beberapa sampah berceceran didepan pekarangan
rumah pasien
5.4. Analisa Fungsi Keluarga

5.4.1. Keadaan Biologis


Keadaan biologis kurang baik, karena kurangnya gizi, perkembangan yang
terhambat, dan juga imunisasi yang tidak lengkap.
5.4.2. Keadaan Psikologis
Keluarga pasien baik, hubungan antar keluarga berjalan dengan cukup baik
5.4.3. Keadaan Sosiologis
Pasien dan keluarga tidak mengikuti kegiatan pemberdayaan ataupun organisasi
disekitar tempat tinggal.
5.4.4. Keadaan Ekonomi
Keadaan ekonomi cukup karena pekerjaan suami yang hanya sebagai supir
angkutan.
5.4.5. Keadaan Religius
Menjalani ibadah sesuai agamanya dengan baik.

31
Bab VI

Penutup

Kesimpulan

Gizi kurang merupakan ketidakseimbangan antara suplai nutrisi dan energi dengan
kebutuhan tubuh untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan fungsi tertentu. Gizi kurang defisiensi
makronutrien termasuk kwashiorkor, marasmus, dan marasmus kwashiorkor. Pemeriksaan yang
dilakukan untuk mendiagnosis gizi kurang dapat menggunakan BB/TB dan mengukur lingkar
lengan atas. Kasus Gizi kurang pada anak sebetulnya dapat ditanggulangi bila cepat ditemukan
dan cepat diberikan intervensi, dengan tatalaksana sesuai pedoman yang sudah ditetapkan
diharapkan anak akan perlahan-lahan bebas dari keadaan gizinya. Keadaan ini mungkin dapat
diminimalisir dengan melakukan kunjungan rutin ke Posyandu setiap bulan untuk dipantau
keadaan gizinya sehingga dapat perlahan-lahan di obati. Di posyandu juga bisa dilakukan
pemberian makanan tambahan, atau vitamin A, dan bahkan imunisasi catch up yang perlu
dilakukan.

32
Daftar Pustaka

1. Departmen Kesehatan Republik Indonesia Direktorst Jendral Bina Kesehatan Masyarakat


Direktorat Bina Gizi Mayarakat. Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB-Gizi Buruk.
Departemen Kesehatan RI, 2008.
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Buku saku pedoman pelayanan kesehatan anak
di rumah sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2008.h.193-219.
3. Behrman RE, Kliegman RM. Esensial nelson pediatrik. Edisi Ke-4. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2010.h.80-1.
4. Susanto J, Mexitalia M, Nasar S. Malnutrisi akut berat dan terapi nutrisi berbasis
komunitas; buku ajar nutrisi pediatrik dan penyakit metabolit. Jakarta: Badan Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2011.h.128-54.
5. World Health Organization. WHO child growth standards and the identification of severe
acute malnutrition in infants and children. A joint statement by WHO and the UNICEF;
2009.
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pelayanan anak gizi buruk.
Jakarta: Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia; 2011.h. 2-5.
7. Sjarif DR, Lestari ED, Mericalia M, Nasar SS. Editor. Buku ajar nutrisi pediatrik dan
penyakit metabolik. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2011.h. 184-5.
8. Gibney MJ. Margetts Bm, Kearney JM, Arab L. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta:
EGC; 2008.
9. Manuaba IBG. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana. Jakarta;
EGC; 2007.h. 43.
10. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Pusat Promosi Kesehatan. Buku pegang kader
posyandu; 2012.

33
LAMPIRAN

34
Gambar 1. Saat melakukan Kunjungan Rumah terhadap pasien

Gambar 2. Keadaan Rumah

35