Anda di halaman 1dari 18

PENTINGNYA ETIKA PROFESI GURU

MAKALAH

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Pengembangan Profesi Guru
Yang Dibimbing oleh Bapak Masjhudi.

Oleh :
Kelompok 10
Offering C/2015
Difandini Rizky Firdaus (150341606658)
Hosniyah (150341600407)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
September 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat
menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Profesi Guru dengan
judul Pentingnya Etika Profesi Guru. Kami menyadari masih banyak sekali kekurangan dalam
pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, kami membuka diri
apabila ada koreksi atau kritikan dan saran yang diberikan kepada kami untuk pembuatan
makalah ini. Agar nantinya dalam pembuatan tugas yang serupa diharapkan menjadi lebih baik
lagi.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya atau yang
menggunakan sebagai media pembelajaran. Sekiranya penyusunan makalah ini dapat berguna
bagi kami dan orang lain yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila ada kata-
kata yang kurang berkenan, dan kami berharap pembaca dapat memberikan kritik dan sarannya
yang membangun untuk kedepannya agar menjadi lebih baik lagi.

Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Masjhudi sebagai pengampu mata kuliah
Pengembangan Profesi Guru karena telah membimbing kami. Terakhir kami ucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan tugas ini. Mudah-
mudahan kita selalu dalam lindungan Allah swt agar Rahmat dan Hidayah-Nya selalu tercurah
kepada kita. Semoga makalah sederhana ini dapat membantu dalam proses belajar dan
menjadikan kita memiliki wawasan yang lebih luas lagi.

Malang, 5 November 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang .1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan 2

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Etika Profesi Guru ..3
2.2 Sasaran Etika Profesi Guru 4
2.3 Pentingnya Etika Profesi Guru ..7
2.4 Penerapan Etika Profesi Guru 11

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan 14
3.2 Saran 14

Daftar Rujukan 15

iii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok
orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran,
pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi
juga memungkinkan secara otodidak. Pengertian pendidikan tersebut adalah menurut
Wikipedia. Sedangkan pengertian pendidikan sendiri secara garis besar adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Hamalik, 2003). Indonesia
menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama. Hal ini dapat dilihat dari
fungsi pendidikan yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan
di Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan salah satu faktor yang penting dan
mempengaruhi adalah keprofesionalan guru di dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran. Guru adalah pilar sebagai ujung tombak dalam upaya perubahan di
masayarakat dan pendidikan dapat mempengaruhi kehidupan dalam masyarakat. Salah satu
komponen penting dalam pendidikan adalah guru karena mempunyai peranan yang besar dan
strategis yaitu berhadapan langsung dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan
dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan dan
keteladanan (Munib, 2005).
Guru dalam menjalani profesi nya juga harus profesional. Guru yang professional adalah
guru yang melakukan pekerjaan yang sudah dikuasai atau telah dibandingkan baik secara
konsepsional secara teknik atau latihan. Keprofesionalan guru adalah seperangkat fungsi dan
tugas dalam lapangan pendidikan dalam latihan khusus di bidang pekerjaannya dan mampu
mengembangkan keahliannya itu secara ilmiah di samping menekuni bidang profesinya.
Istilah profesi tidak bisa disebutkan untuk sembarang pekerjaan karena hanya pekerjaaan yang

1
memenuhi kriteria tertentu saja yang dapat di katakan sebagai profesi, hal tersebut
dikarenakan dalam sebuah profesi itu juga ada beberapa norma yang mengikat yang sering
disebut sebagai kode etik profesi (Sutomo, 1997). Dengan adanya etika profesi atau kode etik
guru diharapkan menjadi guru yang professional. Oleh karena itu, makalah ini dibuat untuk
menggali pengetahuan mengenai etika profesi guru yang akan dipelajari oleh khususnya
mahasiswa calon guru agar dapat menjadi guru yang memiliki etika sesuai profesi.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan etika profesi guru?
1.2.2 Apa saja sasaran etika profesi guru?
1.2.3 Bagaimana pentingnya etika profesi guru?
1.2.4 Bagaimana penerapan kode etik guru dalam kehidupan masyarakat?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengatahui pengertian etika profesi guru.
1.3.2 Untuk mengatahui apa saja sasaran etika profesi guru.
1.3.3 Untuk mengatahui pentingnya etika profesi guru.
1.3.4 Untuk mengatahui penerapan kode etik guru dalam kehidupan masyarakat.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Etika Profesi Guru


Penjabaran mengenai etika profesi guru berasal dari dua kata utama yang harus
dipahami yaitu etika dan profesi.
 Etika: Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti
karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan
dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah
tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
Menurut Munib (2005) etika didefinisikan sebagai “the discpline which can act as the
performance index or reference for our control system”. Dengan demikian, etika
akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan
manusia di dalam kelompok sosialnya.
 Profesi: Profesi berasal dari bahasa latin “Proffesio” yang mempunyai dua pengertian
yaitu janji/ikrar dan pekerjaan. Bila artinya dibuat dalam pengertian yang lebih luas
menjadi: kegiatan “apa saja” dan “siapa saja” untuk memperoleh nafkah yang
dilakukan dengan suatu keah-lian tertentu. Sedangkan dalam arti sempit profesi
berarti kegiatan yang dijalankan berdasarkan keahlian tertentu dan sekaligus dituntut
daripadanya pelaksanaan norma-norma sosial dengan baik.
 Etika Profesi Guru: Menurut Kartadinatap profesi guru adalah orang yang Memiliki
latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam
melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan
keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh warga masyarakat
pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan (Suryadi, 1993).
Pengertian istilah profesi dan profesional sedikit dibingungkan karena banyak orang
yang profesional tidak atau belum tentu termasuk dalam pengertian profesi sehingga
pengertian etika profesi guru yang tepat adalah orang yang memiliki latar belakang
pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam melaksanakan tugas-tugas
kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan tertentu serta
memiliki karakter, watak kesusilaan atau adat yang sesuai dengan keahlian atau
profesi sebagai guru (Munib, 2005).

3
2.2 Sasaran Etika Profesi Guru
2.2.1 Etika Terhadap Undang-Undang
Etika terhadap undang-undang berguna untuk menjaga agar guru
Indonesia tetap melaksanakan ketentuan-ketentuan yang merupakan
kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan. Guru Indonesia harus tunduk
dan taat kepada pemerintah Indonesia dalam menjalankan tugas. Dalam bidang
pendidikan ia harus taat kepada kebijaksanaan dan peeraturan, baik yang
dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan maupun departemen
lain yang berwenang mengatur pendidikan, di pusat dan di daerah dalam rangka
melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan pendidikan di Indonesia. Butir
Sembilan Kode Etik Guru Indonesia disebutkan bahwa: “Guru melaksanakan
segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan” (PGRI, 1973).
Kebijaksanaan pendidikan di Indonesia di pegang oleh pemerintah, dalam
hal ini oleh Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan mengeluarkan ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang
merupakan kebijaksanaan yang akan dilaksanakan oleh aparatnya yang meliputi
pembangunan gedung-gedung pendidikan, pemerataan kesempatan belajar antara
lain dengan melalui kewajiban belajar, peningkatan mutu pendidikan, pemerataan
kesempatanbelajar antara lain dengan melalui kewajiban belajar, peningkatan
mutu pendidikan, pembinaan generasi muda dengan menggiatkan kegiatan karang
taruna (Hamalik, 2003). Oleh karena itu, guru mutlak perlu mengetahui
kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan, sehingga
dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan yang merupakan kebijaksanaan tersebut
dan etika terhadap undang-undang sangat penting dalam etika profesi guru.
2.2.2 Etika Terhadap Teman Sesama Guru
Etika terhadap sesama guru disebut juga etika terhadap teman sejawat
karena dalam hubungan satu profesi harus ada kondisi yang mendukung seperti
sifat kekeluargaan, kehangatan, dan saling perduli serta saling menghargai. Kode
Etik Guru ayat 7 menyebutkan bahwa “Guru memelihara hubungan seprofesi,
semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.” Dimana hal tersebut berarti
bahwasannya guru harus menciptakan dan memelihara hubungan sesama guru
dan lingkungan kerjanya dan menciptakan dan memelihara semangat

4
kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan
kerjanya. Kode etik guru menunjukkan betapa pentingnya hubungan yang
harmonis perlu diciptakan dengan mewujudkan perasaan bersaudara yang
mendalam antara sesama anggota profesi (Munib, 2005).
Hal-hal yang riil dalam melaksanakan etika terhadap sesama guru adalah
dapat dilakukan dengan beberapa hal yaitu:
 Menjaga nama baik sesama guru dihadapan atasan, siswa maupun wali siswa.
 Menggunakan bahasa yang formal jika didalam sekolah, hal tersebut untuk
menciptakan rasa saling menghormati.
 Membaur dengan semua guru dan tidak membeda-bedakan.
 Bersikap saling menghargai sesama guru.
 Saling membantu dalam hal materi, bahan ajar, dan dapat hal-hal yang lain.
2.2.3 Etika Terhadap Organisasi Profesi
Setiap profesi kebanyakan memiliki organisasi dimana organisasi profesi
tersebut merupakan organisasi yang anggotanya adalah para praktisi yang
menetapkan diri mereka sebagai profesi dan bergabung bersama untuk
melaksanakan fungsi-fungsi sosial yang tidak dapat mereka laksanakan dalam
kapasitas mereka seagai individu (Mulyasa, 2006). Ada 3 ciri organisasi yaitu
umumnya untuk satu profesi hanya terdapat satu organisasi profesi yang para
anggotanya berasal dari satu profesi dalam arti telah menyelesaikan pendidikan
dengan dasar ilmu yang sama, misi utama organisasi profesi adalah untuk
merumuskan kode etik dan kompetensi profesi serta memperjuangkan otonomi
profesi, kegiatan pokok organisasi profesi adalah menetapkan serta meurmuskan
standar pelayanan profesi, standar pendidikan dan pelatihan profesi serta
menetapkan kebijakan profesi.
Kode Etik Guru ayat ke 6 dengan gambling di tuliskan bahwa Guru secara
pribadi dan bersama-sama, mengembangkan, dan meningkatkan mutu dan
martabat profesinya. Organisasi profesi guru tergabung dalam PGRI (Persatuan
Guru Republik Indonesia) dimana guru secara bersama-sama memelihara dan
meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian
(Hamalik, 2003). Dasar ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya peranan
organisasi profesi sebagai wadah dan sarana pengabdian. Dasar ini sangat tegas
mewajibkan kepada seluruh anggota profesi guru untuk selalu meningkatkan
mutu dan martabat profesi guru itu sendiri.

5
2.2.4 Etika Terhadap Anak Didik
Dalam Kode Etik Guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa guru
berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia seutuhnya yang
berjiwa pancasila. Dalam membimbing anak didiknya, Ki Hajar Dewantara
mengemukakan tiga kalimat padat yang terkenal, yaitu: ing ngarso sung tulodo,
Ing madyo mangun karso, dan Tut wuri handayani. Dari kalimat tersebut, etika
guru terhadap peserta didik tercermin. Kalimat-kalimat tersebut mempunyai
makna:
1. Guru hendaknya memberi contoh yang baik untuk anak didiknya
2. Guru harus dapat mempengaruhi dan mengendalikan anak didiknya. Dalam hal
ini, prilaku dan pribadi guru akan menjadi instrumen ampuh untuk mengubah
prilaku peserta didik.
3. Hendaknya guru menghargai potensi yang ada dalam keberagaman siswa.
2.2.5 Etika Terhadap Tempat Kerja
Sudah diketahui bersama bahwa suasana yang baik di tempat kerja akan
meningkatkan produktivitas. Dalam UU No. 20/2003 pasal 1 bahwa pemerintah
berkewajiban menyiapkan lingkungan dan fasilitas sekolah yang memadai secara
merata dan bermutu di seluruh jenjang pendidikan. Jika ini terpenuhi, guru yang
profesional harus mampu memanfaatkan fasilitas yang ada dalam rangka
terwujudnya manusia seutuhnya sesuai dengan Visi Pendidikan Nasional.
2.2.6 Etika Terhadap Pemimpin
Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru maupun
organisasi yang lebih besar (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) guru akan
selalu berada dalam bimbingan dan pengawasan pihak atasan. Oleh sebab itu,
dapat kita simpulkan bahwa sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif,
dalam pengertian harus bekerja sama dalam menyukseskan program yang telah
disepakati, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

2.3 Pentingnya Etika Profesi Guru


Guru harus menyadari bahwa jabatan guru adalah suatu profesi yang terhormat,
terlindungi, bermartabat, dan mulia. Karena itu mereka harus menjunjung tinggi etika
profesi. Mereka mengabdikan diri dan berbakti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
dan meningkatkan kualitas manusia yang beriman dan berakhlak mulia serta menguasai
ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil,
makmur dan beradab. Guru Indonesia selalu tampil secara profesional dengan tugas

6
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik. Mereka memiliki kehandalan yang tinggi sebagai sumber
daya utama untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Penyandang profesi guru
adalah insan yang layak ditiru dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara,
khususnya oleh peserta didik. Untuk itu pihak yang berkepentingan selayaknya tidak
mengabaikan guru dan profesinya.
Dalam melaksanakan tugas profesinya, guru Indonesia menyadari sepenuhnya
bahwa perlu ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia (KEGI). Kode Etik Guru diIndonesia
(KEGI) dapat dirumuskan sebagai himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru
yang tersusun dengan baik, sistematik dalam suatu sistem yang utuh. KEGI yang
tercermin dalam tindakan nyata itulah yang disebut Etika Profesi atau menjalankan
profesi secara beretika. Di Indonesia guru dan organisasi profesi guru bertanggung jawab
atas pelaksanaan KEGI. Kode Etik harus mengintegral pada perilaku guru. Di samping
itu, guru dan organisasi guru berkewajiban mensosialisasikan Kode Etik dimaksud
kepada rekan sejawat, penyelenggara pendidikan, masyarakat, dan pemerintah. Bagi
guru, Kode Etik tidak boleh dilanggar, baik sengaja maupun tidak.
1. Kode Etik Guru
Kode etik guru Indonesia adalah himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi
guru yang tersusun dengan baik dan sistematis dalam suatu sistem yang utuh dan
bulat. Kode etik guru indonesia berfungsi sebagai landasan moral dan pedoman
tingkah laku setiap guru warga PGRI dalam menunaikan tugas pengabdianya sebagai
guru, baik di dalam maupun di luar sekolah serta dalam kehidupan sehari hari di
masyarakat. Dengan demikian, kode etik guru Indonesia merupakan alat yang amat
penting untuk pembentukan sikap profesional para anggota profesi keguruan
(Soedijarto, 1993). Kode Etik Guru Indonesia merupakan pedoman sikap dan perilaku
bertujuan menempatkan guru sebagai profesi terhormat, mulia, dan bermartabat yang
dilindungi undang-undang. Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat
prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional
guru dalam hubungannya dengan peserta didik, orangtua/wali siswa, sekolah dan
rekan seprofesi, organisasi profesi, dan pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama,
pendidikan, sosial, etika dan kemanusiaan.
2. Tujuan Kode Etik Guru

7
Tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan
anggota dan kepentingan organisasi profesi itu sendiri. Secara umum tujuan
mengadakan kode etik adalah sebagai berikut:
a) Untuk menjunjung tinggi martabat profesi
Dalam hal ini kode etik dapat menjaga pandangan dan kesan dari pihak
luar atau masyarakat, agar mereka jangan sampai memandang rendah atau
meremeh terhadap suatu profesi. Oleh karena itu setiap kode etik suatu profesi
akan melarang berbagai tindakan yang dapat mencemarkan nama baik profesi
terhadap masyarakat.
b) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya
Kesejahteraan dalam konteks ini meliputi kesejahteraan yang bersifat lahir
(material) ataupun kesejahteraan yang bersifat batin (spiritual atau mental).
c) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
Tujuan lain kode etik dapat juga berkaitan dengan peningkatan kegiatan
pengabdian profesi, sehingga bagi para anggota profesi dapat dengan mudah
mengetahui tugas dan tanggung jawab pengabdiannya dalam melaksanakan
tugasnya. Oleh karena itu, kode etik merumuskan ketentuan-ketentuan yang
perlu dilakukan para anggota profesi dalam menjalankan tugasnya.

d) Untuk meningkatkan mutu profesi


Untuk meningkatkan mutu profesi, kode etik juga memuat norma-norma
dan anjuran agar para anggota profesi selalu berusaha untuk meningkatkan mutu
pengabdian para anggotanya.
e) Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi
Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi, maka diwajibkan kepada
setiap anggota untuk secara aktif berpartisipasi dalam membina organisasi
profesi dan kegiatan-kegiatan yang dirancang organisasi (Soetjipto dan Raflis,
1999).
3. Fungsi Kode Etik Guru
Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral
yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya
dengan peserta didik, orangtua/wali siswa, sekolah dan rekan seprofesi, organisasi
profesi, dan pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika dan
kemanusiaan.

8
Secara umum, kode etik ini diperlukan dengan beberapa alasan, antara lain:
1. Untuk melindungi pekerjaan sesuai dengan ketentuan dan kebijakan yang telah
ditetapkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
2. Untuk mengontrol terjadinya ketidakpuasan dan persengketaan dari para pelaksana,
sehingga dapat menjaga dan meningkatkan stabilitas internal dan eksternal pekerjaan.
3. Melindungi para praktisi di masyarakat, terutama dalam hal adanya kasus-kasus
penyimpangan tindakan.
4. Melindungi anggota masyarakat dari praktek-praktek yang menyimpang dari
ketentuan yang berlaku (Syaiful, 2000).
Berdasarkan Kongres Guru ke XVI (1989) secara umum fungsi kode etik
guru Indonesia adalah:
1. Guru memiliki pedoman dan arah yang jelas dalam melaksanakan tugasnya, sehingga
terhindar dari penyimpangan profesi
2. Guru bertanggung jawab atas profesinya
3. Profesi guru terhindar dari perpecahan dan pertentangan internal
4. Guru dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan
5. Profesi ini membantu memecahkan masalah dan mengembangkan diri
6. Profesi ini terhindar dari campur tangan profesi lain dan pemerintah.

Dengan demikian, Kode Etik Guru Indonesia merupakan alat yang amat
penting untuk pembentukan sikap profesional para anggota profesi keguruan. Seperti
halnya profesi lain, Kode Etik Guru Indonesia ditetapkan dalam suatu kongres yang
dihadiri oleh seluruh utusan. Cabang dan Pengurus Daerah PGRI dari seluruh
penjuru tanah air, pertama dalam Kongres ke XIII di Jakarta tahun 1973, dan
kemudian disempurnakan dalam Kongres PGRI ke XVI tahun 1989 juga di Jakarta.
Adapun teks Kode Etik Guru Indonesia yang telah disempurnakan tersebut adalah
sebagai berikut:

KODE ETIK GURU INDONESIA

Guru Indonesia menyadari, bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap


Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa, dan negara, serta kemanusiaan pada umumnya. Guru
Indonesia yang berjiwa Pancasila dan setia pada Undang-undang Dasar 1945, turut
bertanggungjawab atas terwujdunya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik

9
Indonesia 17 Agustus 1945. Oleh sebab itu, Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan
karyanya dengan mendominasi dasar-dasar sebagai berikut:

1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia


seutuhnya yang berjiwa Pancasila.
2. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.
3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan
bimbingan danpembinaan.
4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya
proses belajar-mengajar.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat di
sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap
pendidikan.
6. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan
martabat profesinya.
7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan
sosial.
8. Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI
sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
9. Guru melaksanakan segala kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan.
(Sumber: Kongres Guru ke XVI, 1989 di Jakarta).

2.4 Penerapan Kode Etik Guru Dalam Kehidupan Masyarakat

Kode etik guru sebagai pedoman guru dalam berperilaku sesungguhnya dapat
diterapkan di masyrakat. Guru ketika berinteraksi dengan masyarakat harus berpegang
teguh pada kode etiknya. Perilaku yang ditunjukkan harus mencermikan nilai-nilai luhur
kode etik itu sehingga kandungannya menjelma dalam perilakunya.
Berdasarkan isi dari kode etik diatas, berikut ini akan diuraikan penerapan kode
etik guru dalam masyarakat (Djam’an, dkk., 2010).
a. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia
seutuhnya yang berjiwa Pancasila.

10
Konsepsi tentang manusia seutuhnya dapat dianalisis dari beberapa dimensi.
Pertama, keutuhan dimensi rohani-jasmani, yaitu manusia seimbang antara
perkembangan jasmani dan rohaninya. Kedua, keutuhan antara dimensi sosial dan
individual, yaitu masyarakat yang selaras antara pemenuhan kebutuhan individual dan
sosialnya. Ketiga, keutuhan perkembangan potensi yang dimiliki serta optimalisasi
perkembangannya, yaitu keselarasan antara perkembangan psikomotorik, afektif,
kognitif dan emosional. Berkembangnya warga masyarakat seutuhnya dapat dilandasi
oleh nilai-nilai luhur pancasila. Artinya, seorang guru harus mengembangkan
masyarakat seutuhnya dengan berpijak pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam
pancasila itu.
b. Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional.
Guru dalam melaksanakan perannya sebagai pendidik dan pengajaran pada
masyarakat harus berpegang teguh pada kejujuran profesional, yaitu suatu pengakuan
atas batas-batas kemampuan profesionalnya. Ia tidak melakukan hal-hal yanh diluar
batas kemampuannya dan tidak pula melakukan pekerjaan yang ada dalam koridor
kewenangan profesi lain.
c. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan
bimbingan dan pembinaan.
Banyak informasi yang berhubungan dengan peserta didik datang dari
masyarakat dan guru dipandang perlu menggalinya demi kepentingan peserta didik.
Hal ini dapat dilakukan termasuk pada saat guru berada di masyarakat.
d. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya
proses belajar mengajar.
Untuk menciptakansuasana sekolah sebaik-baiknya, guru sebaiknya bekerja
sama dengan masyarakat. Kerja sama tersebut dapat berupa kerja sama dalam
keamanan, kenyamanan, kebersihan, serta kasrian dan kesehatan lingkungannya. Hal
tersebut dilakukan dengan strategi dan pendekatan yang tepat sehingga masyarakat
dapat mendukung untuk menciptakan suasana sekolah dengan sebaik-baiknya
sehingga menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.
e. Guru memlihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya
untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.
Keberhasilan suatu pendidikan bukan hanya tanggung jawab dari
sekolah/madrasah karena pada hakikatnya pendidikan merupakan tanggung jawab
bersama antara sekolah/madrasah (lembaga pendidikan), masyarakat, dan keluarga.

11
Oleh karena itu, guru harus memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan
masyarakat untuk memikul tanggung jawab bersama-sama terhadap pendidikan.
f. Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan
martabat profesinya.
Dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat, guru diharapkan
senantiasa mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya, baik
secara pribadi maupun bersama-sama. Pengembangan dan peningkatan mutu
mengacu pada peningkatan kualitas profesional, yaitu peningkatan keterampilan-
keterampilan profesional dalam bidang kependidikan. Sedangkan peningkatan dan
pengembangan martabat profesi menunjukkan pada upaya untuk menempatkan
profesi keguruan yang ada di hati masyarakat.
g. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan
sosial.
Didalam masyarakat guru memelihara hubungan seprofesi. Artinya, ia
mengadakan dan memelihara hubungan dengan guru lainnya baik dengan guru yang
berlatar keahlian sama maupun berbeda. Dengan pemeliharaan hubungan tersebut
diharapkan antara sesama guru dimasyarakat terjadi persatuan dan kesatuan yang
kokoh dan berakar serta muncul rasa senasib sepenanggungan.

12
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.1.1 Pengertian etika profesi guru adalah orang yang memiliki latar belakang
pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam melaksanakan
tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh pendidikan keguruan
tertentu serta memiliki karakter, watak kesusilaan atau adat yang sesuai
dengan keahlian atau profesi sebagai guru.
3.1.2 Sasaran etika profesi guru adalah etika terhadap undang-undang, etika
terhadap teman sesama guru, etika terhadap organisasi profesi, etika
terhadap anak didik, etika terhadap tempat kerja, etika terhadap pemimpin
3.1.3 Pentingnya etika profesi guru adalah agar guru memiliki pedoman dan arah
yang jelas dalam melaksanakan tugasnya sehingga terhindar dari
penyimpangan profesi, guru dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas
pelayanan, profesi ini membantu memecahkan masalah dan
mengembangkan diri,
3.1.4 Penerapan kode etik profesi guru dalam kehidupan masyarakat adalah guru
berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia
seutuhnya yang berjiwa pancasila, guru memiliki dan melaksanakan
kejujuran profesional, guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta
didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.
3.2 Saran
Sebagai seorang calon guru atau sudah menjadi guru, sebaiknya kita lebih
mengenal lagi tujuan kita menjadi guru karena guru tidak hanya sebagai sebuah
pekerjaan biasa namun merupakan suatu profesi yang mempunyai tanggung
jawab yang besar bagi peserta didiknya. Oleh sebab itu kode etik sebaiknya
difahami oleh setiap calon guru atau guru itu sendiri

13
DAFTAR PUSTAKA

Djam’an Satori, dkk. 2010. Profesi Keguruan. Jakarta. Universitas Terbuka.

Hamalik, Oemar. 2003. Pendidikan Guru. Jakarta: Bumi Aksara

Made Pidarta. 1997. Landasan Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Mulyana. 2007. Guru Professional Dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: Ciputat Pers.
Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional (Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan). Bandung: Remaja Rosdakarya.

Munib, Achmad. 2005. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT MKK UNNES

Soedijarto. 1993. Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu. Jakarta: Balai
Pustaka.
Soetjipto dan Raflis Kosasi. 1999. Profesi Keguruan, Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Suryadi, Ace. 1993. Analisis Suatu Kebijakan Pendidikan Suatu Pengantar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.

Sutomo. 1997. Profesi Kependidikan. Semarang: IKIP Semarang Press.

Syaiful Bahri Djamarah. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT.
Rineka Cipta.

14
PRETES DAN JAWABAN

1. Sasaran etika profesi guru ada.....butir, yaitu... (sebutkan minimal 3)!


Ada 6. Etika Profesi terhadap Undang-Undang, Teman Sejawat, Organisasi Profesi,
Anak Didik, dan Pimpinan (4)
2. Isilah!
a. Butir ke 9 Kode Etik Guru mengatur tentang etika profesi terhadap...
Undang-Undang (1)
b. Butir ke 7 Kode Etik Guru mengatur tentang etika profesi terhadap...
Teman Sejawat/seprofesi (1)
3. Apakah tujuan adanya etika terhadap teman sejawat?
Mewujudkan hubungan yang harmonis dan mewujudkan perasaan bersaudara antara
sesama anggota profesi. (1)
4. Coba sebutkan minimal 3 tujuan dari adanya kode etik guru?
Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya
Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
Untuk meningkatkan mutu profesi.
Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. (3)
5. Seorang guru ketika berinteraksi dengan masyarakat harus berpegang
teguh kepada?
Kode Etik (1)

Total Skor: 11

15