Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH STUDI AL QUR’AN dan HADIST “STRUKTUR dan PEMBAGIAN HADIST”

AL QUR’AN dan HADIST “STRUKTUR dan PEMBAGIAN HADIST” Dosen Pembimbing: Ach. Nashichuddin, MA Oleh : Kelompok

Dosen Pembimbing:

Ach. Nashichuddin, MA

Oleh : Kelompok II Kelas B

Anggota:

Galih Indra Purlistyarini

(16910042)

Putri Aulawiya Rosyida H.

(16910044)

Ira Resmi Melani

(16910045)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UIN MAULANA MALIK IBRAHIM TAHUN 2018

DAFTAR ISI

Halaman Judul

i

 

Daftar Isi

ii

BAB I Pendahulan

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Makalah

1

1.3 Tujuan Makalah

1

BAB II Tinjauan Pustaka

3

2.1

Struktur Hadist dan Contohnya

3

2.1.1 Sanad

3

2.1.2 Matan

5

2.1.3 Rawi

5

2.1.4 Contoh Sanad, Matan, Rawi

9

2.2 Pembagian Hadist Berdasarkan Kuantitas Perawi

10

2.3 Pembagian Hadist Berdasarkan Kualitas Perawi

15

2.4 Hadist Palsu Dalam Sejarah Islam

18

BAB III Penutup

22

3.1 Kesimpulan

22

 

3.2 Saran

22

Daftar Pustaka

23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Al-Qur'an dan hadis merupakan sumber ajaran aran Islam. Hadis sebagai sumber ajaran Islam dalam sejarah perjalananya tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Islam itu sendiri Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur‟an. Sebagai umat Islam kita harus menggunaknnya sebagai acuan dalam menjalani hidup.Hadits merupakan sesuatu yang disandarkan kepada nabi, untuk itu kita harus meneladaninya seperti halnya Al-Qur‟an (Shiddieqy, 1994). Namun banyak terjadi permasalahan mengenai hadits. Hal ini diakibatkan oleh banyak hal antara lain penghimpunan hadits yang memakan waktu lama, tidak seluruh hadits tertulis pada zaman nabi, jumlah kitab hadits yang banyak dan beragam dengan metode penyusunan yang beragam pula, serta timbulnya pemalsuan hadits. Dalam periwayatannya sendiri, hadits nabi berbeda dengan Al-Qur‟an. Untuk Al-Qur‟an, semua periwayatan ayat-ayatnya berlangsung secara mutawatir, sedang untuk hadits nabi, sebagian periwayatnnya berlangsung secara mutawatir dan sebagian lagi Ahad. Sehingga dalam pemaknaannya pun banyak terjadi perbedaan dan perdebatan (Shiddieqy, 1994). Ada juga yang mempermasalahkan mengenai keshahihan dan tidaknya suatu hadits. Penilaian hadits dapat dikatakan shahih tergantung dari berbagai hal. Salah satu yang menjadi acuan penelitian shahih atau tidaknya suatu hadits adalah dilihat dari struktur haditsnya yang terdiri dari sanad, matan dan rawi. Oleh sebeb itu, penulis akan menjelaskan melalui makalah ini tentang struktur sanad, matan dan rawi secara lebih mendalam, pembagian hadist berdasartkan kualitas dan kuantitas perawi, dan sejarah pemalsuan hadist dalam Islam (Shiddieqy, 1994).

1.2 Rumusan Makalah

1.2.1 Bagaimana struktur hadist apabila dilihat dari pengertian Sanad, Matan dan Rawi ?

1.2.2 Bagaimana pembagian hadist berdasarkan kuantintas perawi ?

1.2.3 Bagaimana pembagian hadist berdasarkan kualitas perawi ?

1.2.4 Bagaimana sejarah perkembangan hadist palsu dalam Islam ?

1.3 Tujuan Makalah

1.3.1 Mampu memahami struktur hadist apabila dilihat dari pengertian Sanad, Matan dan

Rawi.

1.3.2 Mampu memahami pembagian hadist berdasarkan kuantintas.

1.3.3

Mampu memahami pembagian hadist berdasarkan kualitas perawi.

1.3.4 Mampu mengetahui sejarah perkembangan hadist palsu dalam Islam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Struktur Hadist dan Contohnya 2.1.1 Sanad Kata sanad atau as-sanad menurut bahasa, dari sanada, yasnudu yang berarti mutamad (sandaran/ tempat bersandar, tempat berpegang, yang dipercaya atau yang sah). Dikatakan demikian karena hadist itu bersandar kepadanya dan dipegangi atas kebenarannya. Sedangkan secara temionologis, difinisi sanad iyalah silsilah orang-orang yang mehubungkan kepada matan hadist. Silsilah orang maksudnya, ialah susunan atau rangkaian orang-orang yang meyampaikan materi hadist tersebut, sejak yang disebut pertama sampai kepada Rasul SAW, yang perbuatan, perkataan, taqrir, dan lainya merupakan materi atau matan hadist. Jadi sanad adalah jalan yang menyampaikan kepada matan hadist. Contoh sanad dalam sebuah hadist berikut:

matan hadist. Contoh sanad dalam sebuah hadist berikut: Terjemahnya: “Dikabarkan kepada kami oleh Malik yang

Terjemahnya:

“Dikabarkan kepada kami oleh Malik yang menerimanya dari Nafi, yang menerimanya dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah sebagian dari antara kamu membeli barang yang sedang dibeli oleh sebagian yang lainnya” (Al-Hadist).

Sebuah hadist dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur atau perawi bervariasi dalam lapisan sanad-nya, lapisan dalam sanad disebut dengan thabaqoh, signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thobaqoh sanad akan menentukan derajat hadist tersebut. (Solahudin, 2008).

1. Tinggi rendahnya rangkaian sanad (silsilatu adz-dzahab)

Menurut Solahudin (2008) Rangkaian sanad yang berderajat tinggi menjadikan suatu hadist lebih tinggi derajatnya daripada hadist yang rangkaian sanad-nya sedang atau

lemah. Para muhadditsin membagi tingkatan sanad-nya sebagai berikut:

a. Ashahhu al-Asanid (sanad-sanad yang lebih shahih) Penilaian ashahhu al-sanid ini hendaklah secara muqoyyad (di khususkan). Contoh asahhu al asanid yang muqoyyad tersebut adalah :

1) Sahabat tertentu, yaitu Umar ibnu Al-Khattab r.a.,yaitu yang diriwayatkan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Salim bin `Abdullah bin Umar, dari ayahnya (Abdullah bin Umar), dari kakeknya (Umar bin Khattab). 2) Penduduk kota tertentu, yaitu kota Mekkah, yang diriwayatkan oleh Ibnu Uyainah dari Amru bin Dinar dari Jabir bin Abdullah.

b. Ahsanu al-Asanid Derajatnya lebih rendah dar Ashahhu al-Asanid, contohnya yaitu, Bahaz bin Hakim dari ayahnya (Hakim bin Muawiyah) dari kakeknya (Muawiyah bin Haidah).

c. Adh`afu al-Asanid Rangkaian sanad yang paling rendah derajatnya, antara lain:

1) Abu Bakar ash-Shiddiq, yaitu hadist yang diriwayatkan oleh Shodaqoh bin Musa dari Aby Ya`qub Farqab bin Ya`qub dari Murrah ath-Thayyib dari Abu Bakar r.a.

2) Kota Yaman ialah yang diriwayatkan oleh Hafs bin `Umar dari al-Hakam bin Aban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Jenis-jenis sanad hadist Sanad dibagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut:

a. Sanad Aliy Sanad aliy adalah sebuah sanad yang jumlah perawinya lebih sedikit jika dibandingkan dengan sanad lain. Hadist-hadist dengan sanad yang jumlah rawinya sedikit akan tertolak dengan sanad yang sama jika jumlah rawinya lebih banyak. Sanad aliy ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu sanad yang mutlak dan sanad yang nisbi (relatif)

(Hasan,1983).

1)

Sanad aliy yang bersifat mutlak adalah sebuah sanad yang rawinya hingga sampai kepada Rosulullah lebih sedikit jika dibandingkan sanad yang lain. Jika sanad tersebut sahih, sanad itu menempati tingkatan tertinggi dari jenis tingkatan aliy

2)

Sanad aliy yang bersifat nisbi adalah sebuah sanad yang jumlah rawi didalamnya lebih sedikit jika dibandingkan dengan para imam ahli hadist, seprti ibnu juraij, malik, as‟syafii, bukhori, muslim dan sebagainya, meskipun jumlah perawinya setelah mereka hingga sampai kepada rosululloh lebih banyak.

b. Sanad Nazil

Sanad Nazil adalah sanad jumlah rawinya lebih banyak jika dibandingkan dengan sanad yang lain. Hadist dengan sanadnya lebih banyak akan tertolak dengan sanad yang sama jika jumlah rawinya lebih sedikit. (Hasan, 1983).

2.1.2

Matan

Kata “matan” atau “al-matn” menurut bahasa berarti mairfa‟a min al-ardhi (tanah yang

meninggi). Secara etimologis, matan berarti segala sesuatu yang keras bagian atasnya,

punggung jalan (muka jalan), tanah keras yang tinggi. Matan kitab adalah yang bersifat

komentar dan bukan tambahan- tambahan penjelasan. Bentuk Jamak adalah „mutun‟ dan

„mitan‟(Suryadi, 2009).

Adapun yang dimaksud matan dalam ilmu hadis adalah,

َ نُداَُسْ شكِ ُ رَ٘زِ ناَثِْٚذَِ ح فَََ ولََكَ

َُّ

ْ

لْا

ِ

َ

ُ

ْ

َ ُ

ِ

َّ

ْ

ناَ س ٕ َٓفَ ناٍََيَُِذَُسَّناَِّْٛ َٓخَِْاا

ْ

َ

نِاَٗ َ

َ

ي َ

.

Perkataan yang disebut pada akhir sanad, yakni sabda Nabi SAW. Yang disebut sesudah

habis disebutkan sanadnya.

Terkait dengan matan atau redaksi, yang perlu dicermati dalam memahami hadis adalah :

1. Ujung Sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan

2. Matan hadist itu terdiri dalm hubunganya dengan hadis lain yang lebih kuat sanad-nya

(apakah ada yang melemahkan atau menguatkan) dan selanjutnya dengan ayat Al Quran

(apakah ada yang bertolak belakang) (Suyadi, 2009).

2.1.3 Rawi

Kata Al-rawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberitahukan hadits. Sebenarnya

antara sanad dan rawi merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad-sanad

hadits pada setiap generasi atau Thabaqah juga terdiri dari para Rawi. Mereka adalah orang-

orang yang menerima dan memindahkan hadits dari seorang guru kepada murid-muridnya

atau kepada teman-temannya. Kemudian bagi perawi yang terakhir yang menghimpun hadits

ke dalam satu kitab Tadwin disebut dengan perawi atau disebut juga dengan mukharrij

demikian juga mereka disebut dengan Mudawwin, karena ia menerangkan para perawi dalam

sanad dan derajat hadits tersebut dalam bukunya (Syahroni, 2008)

Tidak semua perawi yang meriwayatkan hadits dapat diterima periwyatannya. Para

ulama telah membuat beberapa persyaratan agar periwayatan seorang perawi dapat diterima

(Syahroni, 2008)

Menurtut Shiddieqy (1994), ada dua hal yang harus diteliti pada diri periwayat Hadits

untuk dapat diketahui apakah riwayat yang dikemukakannya dapat diterima sebagai sebuah

Hadits yang dapat dijadikan hujjah atau ditolak, yaitu :

1. Adil, keadilan memiliki empat kriteria atau empat unsur yakni beragama Islam, mukalaf,

melaksanakan ketentuan agama dan menjaga muru‟ah. Kriteria tersebut berbeda di saat

menerima dan menyampaikan hadits. Keempat kriteria tersebut harus terpenuhi disaat

periwayat menyampaikan periwayatan hadits. Sedangkan tatkala menerima riwayat,

kriteria beragama Islam dan mukalaf tidak mesti terpenuhi. Periwayat tatkala menerima

hadits riwayat hadits tidak harus beragama Islam dan Mukalaf, asalkan dia telah

Mumayyiz atau dapat memahami maksud pembicaraan dan dapat membedakan antara sesuatu dengan yang lainnya. Akan tetapi tatkala menyampaikan riwayat hadits, dia telah memeluk Islam.

2. Dhabith, yaitu kuat hafalannya atau mempunyai catatan pribadi yang dapat dipertnggungjawabkan. Sebagian ulama menyatakan bahwa orang yang dhabith ialah orang yang mendengarkan pembicaraan sebagai mana seharusnya, dia memahami arti pembicaraan tersebut secara benar, kemudian dia menghafalnya dengan sungguh-sungguh dan sempurna, sehingga dia mampu menyampaikan hafalannya itu kepada orang lain dengan baik. Dhabith ada dua: (1) Dhabith Shadar, yakni menghafal dengan baik, (2) Dhabith Kitab, yakni memelihara kitabnya dengan baik dari kemasukan sisipan atau yang lain.

Menurut Shiddieqy (1987), para ulama mengklasifikasikan para Rawi --dari segi banyak dan sedikitnya Hadits yang mereka riwayatkan serta peran mereka dalam bidang ilmu Hadits-- menjadi beberapa tingkatan. Dan setiap tingkat diberi julukan secara khusus, yaitu:

1. Al-Musnid, adalah orang yang meriwayatkan Hadits beserta sanadnya, baik ia mengetahui kandungan Hadits yang diriwayatkannya atau sekedar meriwayatkan tanpa memahami isi kandungannya.

2. Al-Muhaddits. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Sayyid an-Nas, al-Muhaddits adalah orang yang mencurahkan perhatiannya terhadap Hadits, baik dari segi riwayah maupun dirayah, hapal identitas dan karakteristik para rawi, mengetahui keadaan mayoritas rawi di setiap jamannya beserta Hadits-Hadits yang mereka riwayatkan; tambahan dia juga memiliki keistimewaan sehingga dikenal pendiriannya dan ketelitiannya. Dengan kata lain ia menjadi tumpuan pertanyaan umat tentang Hadits dan para rawinya, sehingga menjadi masyhur dalam hal ini dan pendapatnya menjadi dikenal karena banyak keterangan yang ia sampaikan lalu ditulis oleh para penanyanya. Ibnu al-Jazari berkata, "al-Muhaddits adalah orang menguasai Hadits dari segi riwayah dan mengembangkannya dari segi dirayah." Contohnya adalah Sunan Baihaqi. „Atha‟ bin Abi Ribah, Imam Az Zabidy

3. Al-Hafidh, secara bahasa berarti 'penghapal' Gelar ini lebih tinggi daripada gelar al- Muhaddits. Para ulama menjelaskan bahwa al-Hafidh adalah gelar orang yang sangat luas pengetahuannya tentang Hadits beserta ilmu-ilmunya, sehingga Hadits yang diketahuinya lebih banyak daripada yang tidak diketahuinya. Ibnu al-Jazari berkata, "al-Hafidh adalah orang yang meriwayatkan seluruh Hadits yang diterimanya dan hapal akan Hadits yang dibutuhkan darinya." Beliau diantaranya adalah Ibnu Hajar Al-Asqalany, Al-Iraqi.

4. Al-Hujjah, gelar ini diberikan kepada al-Hafidh yang terkenal tekun. Bila seorang hafidh sangat tekun, kuat dan rinci hapalannya tentang sanad dan matan Hadits, maka ia diberi gelar al-Hujjah. Ulama mutaakhkhirin mendefinisikan al-Hujjah sebagai orang yang

hapal tiga ratus ribu Hadits, termasuk sanad dan matannya. Bilangan jumlah Hadits yang berada dalam hapalan ulama, sebagaimana yang mereka sebutkan itu, mencakup Hadits yang matannya sama tetapi sanadnya berbilang; dan yang berbeda redaksi/matannya. Sebab, perubahan suatu Hadits oleh suatu kata--baik pada sanad atau pada matan--akan dianggap sebagai suatu Hadits tersendiri. Dan seringkali para muhadditsin berijtihad dan mengadakan perlawatan ke berbagai daerah karena adanya perubahan suatu kalimat dalam suatu Hadits seperti itu. Diantaranya Hisyam bin „Urwah, Abu Hudzail bin Al Walid.

5. Al-Hakim, adalah rawi yang menguasai seluruh Hadits sehingga hanya sedikit saja Hadits yang terlewatkan. Contohnya Ibnu inar, Imam Syafi‟i, Imam Malik.

6. Amir al-Mu'minin fi al-Hadits (baca: Amirul Mukminin fil Hadits) adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada orang yang kemampuannya melebihi semua orang di atas tadi, baik hapalannya maupun kedalaman pengetahuannya tentang Hadits dan 'illat-'illatnya, sehingga ia menjadi rujukan bagi para al-Hakim, al-Hafidh, serta yang lainnya. Di antara ulama yang memiliki gelar ini adalah Sufyan ats-Tsawri, Syu'bah bin al-Hajjaj, Hammad bin Salamah, Abdullah bin al-Munarak, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari (wafat 256 H/870M), dan Muslim (wafat 261H/875M), Ad Daruquthny. Dan dari kalangan ulama mutaakhkhirin ialah al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar al-'Asqalani dan lainnya. Jadi yang menjadi ukuran tingkat keilmuan para ulama Hadits adalah daya hapal mereka, bukan banyaknya kitab yang mereka miliki, sehingga orang yang memiliki banyak kitab namun tidak hapal isinya, tidak dapat disebut sebagai al-Muhaddits. Berikut ini adalah daftar para sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits yaitu:

- Abu Hurairah, meriwayatkan 5.374 hadits.

- Abdullah bin Umar, meriwayatkan 2.630 hadits

- Anas bin Malik, meriwayatkan 2.286 hadits.

- Aisyah Ummul Mu‟minin, meriwayatkan 2.210 hadits.

- Abdullah bin Abbas, meriwayatkan 1.660 hadits

- Jabir bin Abdullah, meriwayatkan 1540 hadits

- Abu Sa‟id Alkhudri, meriwayatkan 1.170 hadits (Shiddieqy, 1987)

Mukharij mukhrij hadits kutub as-Sittah (Syuhudi, 1992).

a. Imam Bukhori (194 H-256 H) Nama lengkap beliau adalah Abu‟Abdullah Muhammad ibn isma‟il ibn Ibrahim ibn al-Mugirah ibn Bardizbahal-ju‟fi al Bukhari.Belaiu dilahirkan pada hari jum‟at 13 syawal 194 H di Bukhara,dan meninggal pada tanggal 30 Ramadhan tahun 256 H Pada usia 62 tahun. Kegiatan ilmiyah dan kitab-kitab karyanya Sahih Bukhari: Tarikh as-Shagir. Tarikh al-Ausath, Tarikh al-Kabir dll (Syuhudi, 1992).

b. Imam Muslim ( 206 H -261 H ) Nama lengkapnya adalah Abu Husain Muslim bin al-Hajjah Al-Quraysyi An-Naysaburi.Beliau dilahirkan di Naisabur pada tahun 204 H/820 M yaitu kota kecil yang terlatak di wilayah Khurasan, Iran. Kitab-kitab karya Imam Muslim:

Al-jami‟ al sahih, Al-asma‟ wa al-kuna, Al-musnad al-kabir „ala al-rijal dll (Syuhudi, 1992).

c. Sunan Abu dawud (202-275 H ) Nama lengkap abu dawud adalah Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy‟as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin Imran al-Azdi al-Sijistani. Beliau dilahirkan di Sijistani suatu kota di Basrah pada tahun 202 H. Karya karya kitab Abu dawud:

Sunan Abu Dawud, Al-Marasil, Al-Qadar dll (Syuhudi, 1992).

d. At-Tirmidzi (209 H-729 H ) Tokoh dan ulama hadis yang satu ini adalah Tirmidzi, yang bernama lengkap Abu Isa Muhammad bin Musa bin ad-Dahhak as-Sulami at-Tirmidzi. Kelahiranya pada tahun 209 H di sebuah kota di tepi sungai jihun Khurasan. Kitab-kitab karya imam at-Tarmidzi: Al-Jami‟ atau yang terkenal dengan Sunan at-Tirmidzi, Al-„Illat yang terdapat pada akhir kitab al-Jami‟ tirmidzi, Kitab Tarikh dll (Syuhudi, 1992).

e. Imam An-Nasa‟i ( 215 H-303 H ) Nama lengkapnya adalah Abu „Abdirrahman Ahmad bin Sya‟aib bin Bahr. Beliau dilahirkan pada tahun 215 H. di kota Nasa‟i yang masih termasuk wilayah Khurasan. Dan meninggal pada hari senin 13 shafar 303 H di Palestin dan di kuburkan di Baitul Maqdis (Shiddieqy, 1994).

f. Imam Ibnu Majah ( 207 H-273 H= 824 M-887M ) Ibnu Majah, adalah nama nenek moyang yang berasal dari kota Qazwin, salah satu kota di Iran. Nama lengkap Imam hadits yang terkenal dengan sebutan neneknya ini, ialah: Abu „Abdillah Muhammad bin Yazid Al-Raba‟i Al-Kaswini Ibnuu Majah. Beliau dilahirkan di Qawzin tahun 209 H dan wafat tanggal 22 Ramadlan 273 H (Shiddieqy, 1994).

g. Al-Muwaththa‟ Imam Malik Nama kolektor kitab hadist ini adalah Abu Abdillah Malik bin Anas bin Abi Amir al-Asbahi al- Madani, lahir tahun 75 H dan meninggal di Madinah al- Munawarah tahun 179 H. Dan hadist ini adalah salah satu karangan hadist tertua yang sampai ditangan orang Islam (Shiddieqy, 1994).

h. Kitab Musnad Imam Ahmad Ibnu Hanbal Ulama‟ ahli bahasa dan penulis biografi para tokoh, yaitu Muhammad Abdul „Aziz al-Kulli berkomentar bahwa kitab musnad yang dikarang oleh

Ahmad bin Muhammad bin Hambal al-Syaibani ini memuat tiga puluh ribu buah hadist (Shiddieqy, 1994).

Menurut Syahroni (2008), adapun metode penyusunan kitab koleksi hadist ini, beliau menggunakan sistematika tata urutan nama sahabat yang meriwayatkanya dengan pola:

1. Memperioritaskan sahabat besar terlebih dahulu

2. Memperioritaskan nama-nama mereka atas dasar tempat tinggal

3. Mengakhiri kitab koleksinya dengan menyajikan nama-nama perowi sahabat yang

berjenis kelamin wanita dengan mendahulukan Aisyah binti Abi bakr, fatimah al Zahra, Hafsah bin Umar dan istri- istri nabi Muhammad yang lainnya. Didalam kitab Musnad Ibnu Hambal yang ada sekarang, tidak semua hadist yang ada didalamnya diriwayatkan oleh Imam Hambali sendiri, tetapi diriwayatkan oleh Abdulloh bin Ahmad bin Hanbal (putra Imam Hambali ) dan Abu Bakar al-Quthai dari jalur Abdulloh bin Ahmad bin Hanbal (cucu imam Hanbali) Syahroni (2008).

2.1.4 Contoh Sanad, Matan, Rawi

َ َ أ

شَقَصلى الله عليه وسلمَاللهَلَٕسَُ سَجُعًَِْ س

َ

َلاَقَِّ

ِ

ْٛ عَىعِ يَ ٍب بجٍَُْبذٍ ًََّ ح عَ با

َ

ب َ أٍَْ

َ

ْ

ط

ُ

ِ

شْٛ

ِ

يٍَْ ٓشٍَِباٍَْ عَكٌنِا خ َ أَلَاَقَ فسٍَُُْٕٚبَاللهَذِبْ عاَُ ْ ثَّذ

ُ

َ

ِ

َ

َ

ياََشْ ب

ِ

َ

ْ

ُ

َ

ح َ

ُّ

س ٕ

طناَ ب ِ ش غ ً

ِ

َ

ْ

ْ

ناَِٗف

(٘شخبَِأس)

SANAD

:

َلَاَقَِّ

ِ

ْٛ عَىعِ يَ ٍب بجٍَُْبذٍ ًََّ ح عَ با

َ

ب َ أٍَْ

َ

ْ

ط

ُ

ِ

شْٛ

ِ

يٍَْ ٓشٍَِباٍَْ عَكٌنِا خ َ أَلَاَقَ فسٍَُُْٕٚبَاللهَذِبْ عاَُ ْ ثَّذ

ُ

َ

ِ

َ

َ

ياََشْ ب

ِ

َ

ْ

ُ

َ

ح َ

Memberikan kepada kami Abdullah bin yusuf ia berkata: Memberitahukan kepada kami

Malik dan Ibnu Syibab dari Muhammad bin Jubair bin Murhim dari ayahnya berkata

MATAN :

ُّ

سٕ طناَبِ ناَِٗفَ َ أ شَقَصلى الله عليه وسلمَاللهَلَٕسَُ سَجُعًَِْ س

شغْ ً

ِ

َ

ْ

َ

“Aku mendengar Rasulullah membaca surah Ath-Thur pada shalat Magrib

RAWI

:

(٘شخبَِأس)

(HR. Al-Bukhari)

2.2

Pembagian Hadist Berdasarkan Kuantitas Perawi

Para ulama hadits berbeda pendapat tentang pembagian hadits ditinjau dari aspek

kuantitas atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita. Diantara mereka ada yang

mengelompokkan menjadi tiga bagian, yakni hadits mutawatir, masyhur, dan ahad. Ada juga

yang membaginya menjadi dua, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad. Ulama golongan

pertama, menjadikan hadits masyhur berdiri sendiri, tidak termasuk ke dalam hadits ahad, ini

dilandasi oleh sebagian ulama ushul seperti diantaranya, Abu Bakr Al-Jashshash (305-370 H).

Sedangkan ulama golongan kedua diikuti oleh sebagian besar ulama ushul (ushuliyyun) dan

ulama kalam (mutakallimun). Menurut mereka, hadits masyhur bukan merupakan hadits yang

berdiri sendiri, tetapi hanya merupakan bagian hadits ahad. Mereka membagi hadits ke dalam

dua bagian, yaitu hadits mutawatir dan ahad. (Yuslem,2001)

1. Hadits Mutawatir

a. Pengertian Hadits Mutawatir

Secara etimologi, kata mutawatir berarti Mutatabi‟ (beriringan tanpa jarak). Dalam

terminologi ilmu hadits, ia merupakan hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak, dan

berdasarkan logika atau kebiasaan, mustahil mereka akan sepakat untuk berdusta.

Periwayatan seperti itu terus menerus berlangsung, semenjak thabaqat yang pertama

sampai thabaqat terakhir. Seperti redaksi berikut:

ْ

بزِ

َكَناَٗ ىَُْؤُ ٕحَِةَدا ناَمُْٛحِ ُحَاًغ ثكَناَِٗفَإْ ُغ عا بَ

ِ

َ

ه عَ

َ

ْ

ُ

طا

َ

ْ

َ

ع

َ

ه

يَِة ش

َ

َ

َ

هَبَ ً شَبخْ َ أَسٍْٕسُحْ يٍَْ

ت جَِّ

َ

ٌ

َ

َ

َ

َ

عٌََاَكَاي َ

Artinya: “Hadits yang didasarkan pada panca indra (dilihat atau didengar) yang

diberitakan oleh segolongan orang yang mencapai jumlah banyak yang mustahil menurut

tradisi mereka sepakat bohong.”

Ulama mutaqaddimin berbeda pendapat dengan ulama muta‟akhirin tentang syarat-

syarat hadits mutawatir. Ulama mutaqaddimin berpendapat bahwa hadits mutawatir tidak

termasuk dalam pembahasan ilmu isnad al-hadits, karena ilmu ini membicarakan tentang

shahih tidaknya suatu khabar, diamalkan atau tidak, adil atau tidak perawinya. Sementara

dalam hadits mutawatir masalah tersebut tidak dibicarakan. Jika sudah jelas statusnya

sebagai hadits mutawatir, maka wajib diyakini dan diamalkan. (Wahid, 2005.

Habsy As-Sidiqie dalam bukunya Ilmu Musthalah al hadits mendefinisikan hadits

mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan berdasarkan pengamatan panca indra orang

banyak yang menurut adat kebiasaan mustahil untuk berbuat dusta. (Wahid,2005).

b. Syarat Hadits Mutawatir

1. Hadits Mutawatir harus diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi dan dapat

diyakini bahwa mereka tidak mungkin sepakat untuk berdusta. Ulama berbeda

pendapat tentang jumlah minimal perawi. Al-Qadhi Al-Baqilani menetapkan

bahwa jumlah perawi hadits mutawatir sekurang-kurangnya 5 orang, alasannya

karena jumlah Nabi yang mendapat gelar Ulul Azmi sejumlah 5 orang. Al-Istikhari

menetapkan minimal 10 orang, karena 10 itu merupakan awal bilangan banyak.

Demikian seterusnya sampai ada yang menetapkan jumlah perawi hadits mutawatir

sebanyak 70 orang.

2. Adanya keseimbangan antara perawi pada thabaqat pertama dan thabaqat

berikutnya. Keseimbangan jumlah perawi pada setiap thabaqat merupakan salah

satu persyaratan.

3. Berdasarkan tanggapan pancaindra

Berita yang disampaikan para perawi harus berdasarkan panca indera. Artinya,

harus benar-benar dari hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. Oleh karena itu,

apabila berita itu merupakan hasil renungan, pemikiran, atau rangkuman dari suatu

peristiwa lain, atau hasil istinbath dari dalil yang lain, maka tidak dapat dikatakan

hadits mutawatir.

4. Adanya keyakinan bahwa mereka tidak mungkin bersepakat untuk berdusta

c. Macam-Macam Hadits Mutawatir

1. Hadits Mutawatir Lafzhi,

Menurut Wahid (2005) merupakan hadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi

dengan redaksi (lafal) dan makna yang sama. Contoh :

س اُّناٍََيََُِِذ ع ق يَ أ َٕبَخَٛ هَفَاًذًِّ َ عَخ يَ ٙ ه عَ ب َّ زكٍََْيََ: ى ه س َِّْٔٛ ه عَُاللهَ ٗه صَ اللهَلُ ِ ْٕسَُ

ََ

ْ

َ

َ

ْ

َّ

ْ

َ

ُ

َّ

َ

َ

َ

َّ

َ

َ

َ

َ

َّ

َ

سَلَاَق

ِ

Barang siapa sengaja berdusta kepadaku maka hendaklah bersiap-siap

menempati tempatnya di neraka”

Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadis tersebut diriwayatkan oleh empat puluh

sahabat dengan susunan redaksi dan makna yang sama dan terakhir diriwayatkan

oleh hampir semua imam-imam al-kutubu as-sittah diantaranya:

a) Bukhari dari Abdul Walid dari Shu‟bah dari jamiu bin shidad dari Amir bin

Abdullah dari Abdullah bin Zubair dari Zubair dari Nabi SAW.

b) Abu Dawud dari Amru bin Aun dan Musaddad keduanya dapat hadis dari

Khalid

c) Al-makna dari Bayan bin Bishrin dari Wabirah bin Abdurrahman dari Amir

bin Abdullah dari Abdullah bin Zubair dari Zubair dari Nabi SAW.

d) Ibnu Majah dari Abu Bakar bin Abi Shaibah dan Muhammad bin Basyar

e) dari Ghandur Muhammad bin Jakfar dari Jamiu bin Syidad dari Amir bin

Abdullah

f) dari Abdullah bin Zubair dari Nabi SAW.

2. Hadits Mutawatir Ma‟nawi,

Hadits yang berasal dari berbagai hadis yang diriwayatkan dengan lafad yang

berbeda-beda,

tetapi

jika

disimpulkan

mempunyai

makna

yang

sama tetapi

lafadnya tidak.

Contoh :

َلَََاقَسٍَََ عَجٍ

َ

ْ

ّٛ طبْ

َ أٍَْ

بََاثٍَْ شْٛكَُبَ بَ َ أَ ٙحَََْٚاُ َ

ِ

ث َ ََّذ حَ تَبْٛشََ ٙ ب َ أَ ٍبَْ ش كَبَُْٕبَ َ أََاُ َ ثََّذ حَ َ ىهِسُْ يَلَ َاق

َ

ْ

ِ

ِ

ْ

ُ

ُ

ى ه س عَُاللهَٗ اللهَلُ ْٕسَُ سَجْٚ َ أَ

َ

َ

َّ

َ

َ

َ

ّ

ه

صَ

ِ

س َ

َ

ٌ

َ

ِ

َ

َ

شَُٚٗ َّ حَءِ َاعَُّذناَ ِ ٙفََِّْٚذََٚ عَفشََْٚ َِّْٔٛ ه

َ

عَ

ٍ

َ

ٙ ٍبَْ

ْ

ِ

ِ

إَضُ ََاَٛبَٖ خ

ِ

Hadis riwayat Imam Muslim dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Yahya bin

Abi Bakar dari Shu‟bah dari Thabit dari Anas R.A.berkata: “Aku telah melihat

Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya dalam doa hingga putih-putih kulit

ketiak beliau tampak”.

Hadis yang semacam ini tidak kurang dari tiga puluh buah dengan redaksi

yang berbeda-beda. Hadits ini berjumlah sekitar seratus hadits dengan redaksi yang

berbeda-beda, tetapi mempunyai titik persamaan, yaitu keadaan Nabi Muhammad

mengangkat tangan saat berdo‟a. (Yuslem, 2001)

3. Mutawatir „Amali, yaitu amalan agama (ibadah) yang dikerjakan oleh Nabi

Muhammad SAW, kemudian diikuti oleh para shahabat, kemudian diikuti lagi oleh

Tabi‟in, dan seterusnya, diikuti oleh generasi sampai sekarang. Misalnya, berita-

berita yang menjelaskan tentang shalat baik waktu dan raka‟atnya, shalat jenazah,

zakat, haji, dan lain-lain yang telah menjadi ijma‟ para ulama. (Yuslem, 2001)

Mengingat syarat-syarat hadits mutawatir sangat ketat, terutama hadits mutawatir

lafzhi, maka Ibn Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir lafzhi tidak

mungkin ada. Pendapat mereka dibantah oleh Ibn Shalah. Dia menyatakan bahwa hadits

mutawatir (termasuk yang lafzhi) memang ada, hanya jumlahnya sangat terbatas. Menurut

Ibn Hajar Al-Asqolani, Hadits mutawatir jumlahnya banyak, namun untuk mengetahuinya

harus dengan cara menyelidiki riwayat-riwayat hadits serta kelakuan dan sifat perawi,

sehingga dapat diketahui dengan jelas kemustahilan perawi untuk sepakat berdusta

terhadap hadits yang diriwayatkannya. (Wahid, 2005)

d. Kitab-Kitab Hadits Mutawatir, antara lain sebagai berikut:

1. Al-Azhaar Al-Mutanaatsirah fi Al-Akhbaar Al-Mutawaatirah, karya As-Suyuthi.

2. Qathf Al-Azhaar, karya As-Suyuthi.

3. Nazhm Al-Mutanaatsir min Al-Hadiits Al-Mutawaatir, karya Muhammad bin

Ja‟far Al-Kattani.

4.

Al-La‟aalii Al-Mutanaatsirah fi Al-Ahaadiits Al-Mutawaatirah, karya Muhammad

bin Thulun Ad-Dimasyqi.

2. Hadits Ahad

Secara bahasa berasal dari kata Ahad adalah jamak dari waahid atau yang artinya satu.

Secara istilah Hadits ahad adalah khobar yang jumlah perowinya tidak sebanyak jumlah perowi

hadits mutawatir, baik perowi itu satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya yang memberikan

pengertian bahwa jumlah perawi tersebut tidak mencapai jumlah perowi hadits mutawatir.

(Rahman, 1991)

Ada juga ulama‟ yang mendefinisikan hadits ahad secara singkat yaitu: hadits yang tidak

memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir. Muhammad Abu Zarhah mendefinisikan hadis ahad

yaitu tiap-tiap khobar yang yang diriwayatkan oleh satu,dua orang atau lebih yang diterima oleh

Rosulullah dan tidak memenuhi persyaratan hadits mutawatir (Rahman, 1991).

Abdul Wahab Khallaf mendefinisikan hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh

satu, dua, atau sejumlah orang tetapi jumlahnya tersebut tidak mencapai jumlah perawi hadits

mutawatir. Keadaan perawi seperti ini terjadi sejak perawi pertama sampai perawi terakhir

(Rahman, 1991).

Pembagian hadits ahad ada 3 macam, yaitu hadits, masyhur, „aziz, dan gharib.

a. Hadits Masyhur

Secara bahasa, masyhur diartikan tenar, terkenal, dan menampakkan. menurut istilah

adalah :

َ

َ َٕخناَ سَدَمْ

شُحا ت ج

ِ

َ

َ

َ

صََٚ ش

ْ

كا َ أَفَ ُ ت َ ث َ نَا ٔ

َ

ن

َ َ

َ

ى َٔ س

ْ

َ َ

َّ

ثناَُِا سََاي

ِ

“َHadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih, serta belum mencapai derajat

mutawatir “Menurut para ahli ada beberapa definisi dari hadits masyhur, antara lain:

1) Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih.

2) Hadits yang dalam jumlah setiap tingkatannya tidak sama, tetapi jumlahnya lebih

dari tiga.

3) Hadits yang memiliki jalur terbatas.

4) Hadits yang tidak mencapai derajat mutawatir.

Contoh Hadits Masyhur :

َ ىهِسُْ ًنإَخَُاَ ىهِسُْ ًنا

ِ

ُ

Setiap muslim adalah saudara muslim yang lain. (HR. Bukhori-Muslim)

b. Hadits „Aziz

Secara bahasa, „aziz diartikan langka, sedikit, dan kuat. Karena sedikit atau langkanya

atau terkadang posisinya menjadi kuat ketika di datangkan sanad lain. (Suparta, 2002)

Hadits „aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang perawi pada seluruh

tingkatan (thabaqat) sanad atau walaupun dalam satu tingkatan sanad saja. Misalnya

dikalangan shahabat hanya terdapat dua orang yang meriwayatkannya, atau hanya

dikalangan tabi‟in saja yang terdapat dua orang perawi sementara dikalangan shahabat

hanya terdapat satu orang saja. Jadi, pada salah satu tingkatan sanad hadits tersebut

didapatkan tidak kurang dari dua orang perawi atau satu tingkatan sanad yang terdiri dari

dua orang. (Suparta,2002)

Para Ulama memberikan definisi sebagai berikut:

َذَُِس َّ ناَثِاَقَب عًَِْٛ جَ ٌاَُ سََاي

َ

طَ ِ

ْ

ِٙفَ ْ ِ ثِاَُِا

ٔ َ َ

Hadis yang hanya diriwayatkan oleh dua orang rijalu Al-hadis salah satu dari semua

tingkatan sanad”.

Contoh hadis „Aziz:

َصلى الله عليه وسلمَاللهَلٕسسَلاق:َتِ ياَٛقِ ناَ وٌَََْْٕٕٚ ُ ق سنأٌََْشُخِٜ اٍَُحَْ

Rasulullah SAW bersabda: “Kita adalah orang yang paling akhir (di dunia) dan yang

paling dulu di hari kiamat”.

Hadits ini dinamakan Hadis Aziz karena ditingkat sahabat hanya dua orang yaitu

Hudzaifah bin al- Yaman dan Abu hurairah, walaupun tabaqah setelah diriwayatkan oleh

rijalu Alhadis yang jumlahnya banyak

Hukum Hadits Aziz adakalanya Shahih, Hasan, Dhaif tergantung persyaratan yang

terpenuhi, apakah memnuhi seluruh kriteria persyaratan hadis sahih atau tidak. Jika

memenuhi sebagian atau seluruh persyaratan berarti berkualitas shahih dan jika tidak

memenuhi sebagian atau seluruh persyaratannya maka tergolong hadis hasan atau dhaif.

Adapun kitab-kitab yang khusus menghimpun hadis-hadis Aziz belum didapatkan mungkin

karena kelangkaannya (Suparta, 2002)

c. Hadits Gharib

Secara bahasa, berarti sendirian, terisolir, jauh dari kerabat, perantau asing, dan sulit

dipahami. Menurut istilah Muhadditsin, yang dimaksud dengan Hadits Gharib adalah :

ُْٕ

Hadits Gharib adalah hadits yang rawinya menyendiri dengannya, baik menyendiri

karena jauh dari seorang imam yang telah disepakati haditsnya, maupun menyendiri

karena jauh dari rawi lain yang bukan imam sekalipun.

Dalam tradisi ilmu hadits, hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang

perawi yang menyendiri dalam meriwayatkannya, baik yang menyendiri itu imamnya

maupun selainnya. (As-Shiddiqi, 1987)

َ

ْ

َ

ب

ِ ّ ا َ

ْ

.

وٍَا شْٛغََ ٔ ا سٍَْ عَْٔ َاَُّ ثَْٚذَِ حَ ع ًجَُْٚوٍَا يِاٍَْ عَِّ بََدَشَّ َفَحَ ءَا ٕ سَِّْٚ َٔا سَِّ بََدشَّ َفَحََٖزِ ناَ ثَْٚذَِ حنَا

يِاَ َ ِ

ٍ

َ

َ

ُ َ

َ

َ

ِ

ٌ

َ َ

ِ

َ

ِ

َ

ُ

َّ

ُ

Hadits Ghorib terbagi menjadi dua: yaitu ghorib mutlaq dan ghorib nisbi. Ghorib

mutlaq terjadi apabila penyendirian perawi hanya terdapat pada satu thabaqat. Hadits

ghorib nisbi terjadi apabila penyendiriannya mengenai sifat atau keadaan tertentu dari

seorang perawi. Penyendirian seorang rawi seperti ini bisa terjadi berkaitan dengan

ketsiqahan rawi atau mengenai tempat tinggal atau kota tertentu.( As-Shiddiqi,1987)

Hadits gharib terbagi dua, yaitu:

1. Gharib Mutlak, yaitu:

ي باحَ صَّ

ِ

لا وِ يِْف يذِ َّ لا و ُ ف ط وَ ىُ

َ

َ

ر

دِ َ نسَّ لا لصْ

ِ

َ

أوَ هِدِ نسَ

ُ

لصْ َ أ يِف ةَبا رَغ لا تِ َ ناكَ ا م وَ ىُ

ِ

َ

ْ

َ

Hadits yang gharabah-nya (perawi satu orang) terletak pada pokok sanad. Pokok

sanad adalah ujung sanad yaitu seorang shahabat.

2. Gharib Nisbi (Relatif), yaitu:

ءِ ا َ ث َ أ يِف ةَبا رَغ لا تِ َ نَاكا م

Hadits yang terjadi gharabah (perawinya satu orang) di tengah sanad.

atau

dinisbatkan pada sesuatu tertentu tidak secara mutlak. Ada 3 macam gharabah

nisbi, yaitu:

a. Muqayyad bi ats-tsiqah, yaitu ke-gharib-an perawi hadits dibatasi pada sifat

Kata nisbi memberikan makna bahwa

َ

هِدِ نسَ

ْ

ن

ُ

َ

ْ

َ

gharabah

terjadi

secara

relatif

ke-tsiqah-an seorang atau beberapa orang perawi saja.

b. Muqayyad bi al-balad, yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh suatu

penduduk tertentu sedang penduduk yang lain tidak meriwayatkannya.

2.3 Pembagian Hadist Berdasarkan Kualitas Perawi

Para ulama ahli hadis membagi hadits, ditinjau dari segi kualitasnya, menjadi dua, yaitu

hadis maqbul dan hadis mardud (Mudasir, 2010).

a. Hadis Maqbul

Maqbul menurut bahasa berarti makhudz (yang diambil) dan mushaddaq (yang

dibenarkan atau yang diterima), sedangkan menurut istilah adalah:

لُْٕبَق َ ِ

ناَطِْٔشُ شَُ عًَِْٛ جَِِّْٛف َثْ شَفا َٕحَا

ُ

َ

َ

ي

َ

ْ

Artinya;

Hadis yang telah sempurna syarat-syarat penerimaannya.

Hadis maqbul atau hadis yang dapat diterima digolongkan menjadi dua, yaitu hadis

shahih dan hadis hasan (Mudasir, 2010).

1. Hadis Shahih

Kata shahih berasal dari bahasa Arab as-shahih bentuk pluralnya ashiha‟ dan

berakar kata pada shahha. Dari segi bahasa, kata ini memiliki beberapa arti, diantaranya:

a. Selamat dari penyakit

b. Bebas dari aib/cacat (Alfatih, 2010).

Syarat-syarat hadis shahih adalah:

a. Sanad-nya bersambung

b. Para perawinya bersifat adil

c. Para perawinya bersifat dhabit

d. Matan-nya tidak syadz

e. Matan-nya tidak ber-illat.

Para ulama ahli hadis membagi hadis shahih menjadi dua bagian, yaitu shahih li dzatihi dan shahih li ghairihi. Perbedaan antara kedua bagian ini terletak pada segi hafalan atau ingatan perawinya. Pada hadis shahih li ghairihi, ingatan perawinya kurang sempurna (Mudasir, 2010).

Hadis shahih li dzatihi adalah hadis shahih yang mencapai tingkat keshahihannya dengan sendirinya tanpa dukungan hadis lain yang menguatkannya (Nuruddin, 2012).

Sedangkan yang dimaksud dengan hadis shahih li ghairihi adalah hadis hasan li dzatihi yang diriwayatkan melalui jalur lain yang semisal atau yang lebih kuat, baik dengan redaksi yang sama maupun hanya maknanya saja yang sama, maka kedudukan hadis tersebut menjadi kuat dan meningkat kualitasnya dari tingkatan hasan kepada tingkatan shahih. Dengan kata lain, hadis ini keshahihannya tidak berasal dari sanadnya sendiri melainkan dibantu oleh adanya matan atau sanad yang lainnya (Mudasir, 2010).

Para ulama hadis membagi tingkatan hadis shahih menjadi tujuh, yang secara berurutan adalah sebagai berikut:

a) Hadis yang disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhari dan Muslim, yang lazim disebut dengan istilah “Muttafaqun „alaihi.”

b) Hadis yang dishahihkan oleh Al-Bukhari saja.

c) Hadis yang dishahihkan oleh Muslim saja.

d) Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim, mengikuti syarat-syarat shahih Al-Bukhari dan Muslim.

e) Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim, mengikuti syarat-syarat keshahihan Al-Bukhari.

tetapi

tetapi

f) Hadis shahih yang diriwayatkan oleh selain Al-Bukhari dan Muslim, mengikuti syarat-syarat keshahihan Muslim.

tetapi

g) Hadis shahih yang diriwayatkan oleh ahli hadis yang terkenal selain Al-Bukhari

dan Muslim, tetapi tidak mengikuti syarat-syarat keshahihan Al-Bukhari dan Muslim dan tidak pula mengikuti syarat-syarat keshahihan salah satu dari Al-Bukhari dan

Muslim (Alawi, 2006).

2. Hadis Hasan

Hasan menurut bahasa ialah “sesuatu yang baik dan cantik.” Sedangkan menurut terminologi, hadis hasan ialah hadis yang muttasil sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tetapi kadar kedhabitannya di bawah kedhabitan hadis shahih, dan hadis itu tidak syadz dan tidak pula terdapat illat (cacat).

Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa hadis hasan sama dengan hadis shahih, hanya saja terdapat perbedaan dalam soal ingatan perawi. Pada hadis shahih, ingatan atau daya hafalannya harus sempurna, sedangkan pada hadis hasan, ingatan atau daya hafalannya kurang sempurna. Dengan kata lain bahwa syarat-syarat hadis hasan dapat dirinci sebagai berikut:

1. Sanadnya bersambung

2. Perawinya adil

3. Perawinya dhabit, tetapi kedhabitannya di bawah kedhabitan hadis shahih

4. Tidak terdapat syadz

5. Tidak ada illat (Mudasir, 2010).

Para ulama membagi hadis hasan menjadi dua bagian, yaitu hasan li dzatihi dan hasan li ghairihi. Yang dimaksud dengan hadis hasan li dzatihi ialah hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis hasan diatas. Selain itu, hadis hasan li dzatihi juga sederajat dengan hadis shahih li ghairihi (Mudasir, 2010).

Sedangkan yang dimaksud dengan hadis hasan li ghairi adalah suatu hadis yang meningkat kualitasnya menjadi hadis hasan karena diperkuat oleh hadis lain (Nuruddin,

 

2012).

b.

Hadis Mardud

Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak atau yang tidak diterima, sedangkan

menurut istilah ialah:

Artinya:

ا ٓ َ ضعَْبَْٔ ِ َ أَطِْٔشُ شُّناَكَ هِحَُذ ْ قَف ْ

Hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat atau sebagian syarat hadis maqbul.

Hadis mardud atau hadis yang tidak diterima digolongkan pada hadis Dhaif (Mudasir,

2010).

1. Hadis Dhaif

Kata dhaif menurut bahasa berasal dari kata dhufun yang berarti lemah. Menurut

An-Nawawi, hadis dhaif secara istilah adalah hadis yang di dalamnya tidak terdapat

syarat-syarat hadis shahih dan syarat-syarat hadis hasan. Dengan kata lain, hadis ini

tidak memenuhi syarat-syarat yang dimiliki oleh hadis shahih dan hasan (Alawi, 2006).

Para ulama mensyaratkan kebolehan mengambil hadis dhaif dengan tiga syarat:

1. Kelemahan hadis itu tiada seberapa.

2. Apa yang ditunjukkan hadis itu juga ditunjukkan oleh dasar lain yang dapat

dipegangi, dengan arti bahwa memegangnya tidak berlawanan dengan sesuatu

dasar hokum yang sudah dibenarkan.

3. Jangan diyakini kala menggunakannya bahwa hadis itu benar dari Nabi. Ia hanya

digunakan sebagai ganti memegangi pendapat berdasarkan nash sama sekali (Al-

Qaththan, 2010).

2.4 Hadist Palsu Dalam Sejarah Islam

2.4.1 Sejarah Perkembangan Hadist Palsu

Sejarah pemalsuan hadis bermula pada sekitar tahun 40 H., yaitu kurun sahabat-sahabat

junior dan tabi‟in-tabi‟in senior. Pemalsuan hadis merupakan salah satu dampak penaklukan

negara-negara lain oleh umat Islam, seperti Persia, Romawi, Sham, dan Mesir. Banyak dari

negara-negara yang ditaklukkan tersebut memeluk Islam, namun sebagian dari mereka ada

yang tulus dan ada yang munafik yaitu yang masih menyimpan dendam terhadap Islam.

Benih-benih fitnah tersebut muncul pada masa kekhalifahan Uthman ibn Affan, yaitu Ibn

Saba‟ seorang Yahudi yang berkeliling ke negara-negara Islam dengan hiden agenda

menyebarkan propaganda di bawah tirai dukungan terhadap Ali dan keluarganya, mengaku

bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi dan lebih berhak atas jabatan khalifah. Propaganda

yang dilancarkan Ibn Saba‟ ini menimbulkan perbedaan faham di kalangan kaum muslimin, sampai Uthman terbunuh oleh kelompok yang benci islam dan menyelinap di antara mereka yang berbeda faham. Dalam hal ini, muncul empat kelompok yang bersebrangan faham yaitu pembela Ali, pembela Uthman, kaum Khawarij musuh dari keduanya, dan Marwaniyah pembela Mu‟awiyah dan keluarga Bani Umayyah (Syuhudi, 1992). Sebagian dari oknum-oknum kelompok yang bertikai tersebut memperbolehkan bagi diri mereka menciptakan hadis palsu, guna melegitimasi kebijakannya. Imam Muslim (w. 261 H.) meriwayatkan dalam muqqadimah kitab bahwa Ibn Abbas berkata: “Sesungguhnya kami saling bertukar riwayat hadis Rasulullah SAW ketika orang-orang belum menciptakan kebohongan atasnya, namun ketika mereka mulai menciptakan kebohongan maka kami menghentikan riwayat tersebut.” Ibn Abbas (w. 68 H.) meriwayatkan dan dilanjutkan oleh

Ibn Sirin (w. 110 H.) bahwa, umat Islam tidak menanyakan Sanad dalam periwayatan hadis, namun ketika terjadi fitnah maka mereka berkata “Sebutkan perawi-perawi kalian”, ketika perawi-perawinya adalah ahl al-sunnat mereka menerima hadisnya, namun ketika yang meriwayatkan adalah ahli bid‟ah mereka tidak menerimanya. Peristiwa di atas oleh para ulama dijadikan awal sejarah tradisi penggunaan dan penyebaran sanad. Pada perkembangan selanjutnya mengalami tiga fase perkembangan:

1. Awal mula penggunaan sanad, yaitu sejak dimulainya periwayatan hadis.

2. Tuntutan bagi perawi untuk menyebut sanad, berkembang sejak masa yang dini dari periwayatan hadis, yaitu masa Abu Bakar.

3. Penyebutan sanad oleh perawi secara sukarela, yaitu pada masa berikutnya.

(Syuhudi, 1992).

2.4.2 Pengertian Hadist Palsu Hadist palsu biasanya disebut juga dengan hadist maudhu‟. Menurut bahasa, hadist maudhu‟ merupakan isim maf'ul (objek) dari kata wadha'a Asy-Syaia, yang berarti menurunkannya. Dinamakan seperti itu, karena memang menurunkan derajatnya. Dan menurut istilah, hadist maudhu‟ adalah kedustaan yang dibuat dan direka-reka yang disandarkan atas nama Rasulullah dan ia termasuk periwayatan yang paling jelek (Tharik,

1996).

2.4.3 Ciri-Ciri Hadist Palsu Menurut Mustafa (1985), Ulama' hadis telah menetapkan ciri -ciri maudu' sebagaimana

mereka menetapkan hadis sahib, hasan dan da'If. Adapun ciri-ciri tersebut sebagai berikut

1. Ciri-ciri yang terdapat pada sanad :

- Perawi terkenal pendusta. Sifat tersebut dapat diketahui dari biodatanya.

- Pemalsu mengakui perbuatannya sebagai pemalsu hadis, sebagaimana pengakuan Abdul Karim Auja' yang didalam berbagai kitab ulum hadis dijelaskan jika dirinva telahmem-'nuant hadis palsu tidak kurang dari 4000 hadis.

- Adanya indikasi yang menunjukkan bahwa seorang perawi adalah pembohong. Misalnya perawi tersebut mengaku menerima hadis dari seorang guru, pada hal sebenarnya tidak pernah menerima dari guru atau guru yang disebut tersebut sudah meninggal sebelum la lahir. Indikasi lain, sebagaimana seorang perawi mengaku telah memperoleh hadis seorang guru disebual , negeri, padahal sebenarnya ]a tidak pemah per6 kenegeri tersebut. Misalnya Ma'mun Ibn Ahmad alHalawi yang mengaku telah memperoleh hadis dari Hisyam Ibn Ammar, lantas ditanya Ibn Hibban; Kapan engkau bertemu Hisyam di Syiria ? la menjawab "tahun dua ratus lima puluh" lantas Ibn Hibban mengatakan Hisyam yang anda sebut meninggal pada pada "tahun dua ratus empat puluh lima".

2. Ciri-ciri yang terdapat pada matan

- Kerancuan lafaz-lafaz yang terdapat dalam matan.

- Rusaknya makna yang terkandung dalam hadis seperti menyalahi pandangan akal sehat.

- Kandungan hadis bertentangan dengan al-Qur'an atau hadis mutawatir.

- Kandungan hadis bertentangan dengan fakta sejarah.

- Kandungan hadis cenderung apologis dalam madhabnya rawi, balk fiqh maupun teologi.

- Cenderung menuduh sahabat Nabi dengan sesuatu yang tidak layak dipandang sahabat.

- Kandungan Hadis keterlaluan dalam hal -hal yang berkaitan dengan wa'id.

2.4.4 Motif Munculnya Hadist Palsu

Berikut ini beberapa motif di balik munculnya hadis-hadis palsu di dunia Islam. Pertama, motif politik dan kepemimpinan. Salah satu hadis palsu yang muncul dengan latar belakang politik, antara lain, “Apabila kamu melihat Muawiyah di atas mimbarku, maka bunuhlah.” Kedua, motif untuk mengotori agama Islam ( Zindiq ). Salah satu contoh hadisnya, antara lain, “Melihat muka yang cantik adalah ibadah.” Ketiga, motif fanatisme. Contoh hadisnya, “Sesungguhnya Allah, apabila marah, maka menurunkan wahyu dalam bahasa Arab. Dan apabila tidak marah, menurunkannya dalam bahasa Parsi.” Keempat, motif faham-faham fikih. Contoh hadisnya, “Barang siapa mengangkat dua tangannya di dalam shalat, maka tidak sah shalatnya.” Atau hadis yang berbunyi, “Jibril mengimamiku di depan Ka'bah, dan mengeraskan bacaan bismillah.” Kelima, motif senang kepada kebaikan, tapi

bodoh tentang agama. Salah satu hadisnya, “Barang siapa menafkahkan setali untuk maulud- ku, maka aku akan menjadi penolongnya di hari akhir.” Keenam, motif menjilat kepada pemimpin. Salah satu contohnya, Ghiyas bin Ibrahim an-Nakha al-Kufi pernah masuk ke istana Al-Mahdi, seorang penguasa Abbasiyah yang senang sekali kepada burung merpati. Salah seorang berkata kepadanya, “Coba terangkan kepada Amirul Mukminin tentang sesuatu hadis.” Maka, Ghiyas berkata, “Tidak ada taruhan, melainkan pada anak panah, atau unta atau kuda, atau burung” (Syuhudi, 1992).

2.4.5 Kitab dan Contoh Hadist Palsu

- Al Madhu'at, karangan Ibnu Al Jauzi.

- Al La'ali Al Mashnu'ah fi Al Ahadits Al Maudhu'ah, karaya As Suyuthi, ringkasan kitab diatas.

- Tanzihu Ay Syri'ah Al Marfu'ah 'an Al Ahadits Asy Syani'ah Al Maudhu'ah karya Ibnu 'Iraqi Al Kittani, ringkasan kedua kitab diatas.

- Silsilah Al Ahadits Ad Dha'ifah, karya Al Albani. (Tarikh, 1996).

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan Sanad ialah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadis. Rawi adalah orang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang (guru). Matan hadits, ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rasulullah saw, sahabat atau tabi‟in.Pembagian hadits bila ditinjau dari kuantitas perawinya dapat dibagi menjadi dua, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Berdasarkan kualitasnya Hadits Sahih yang berhubungan (bersambung) sanadnya yang diriwayatkan oleh perawi yang adil , dhabith, yang diterimanya dari perawi yang sama (kualitasnya) dengannya sampai kepada akhir sanad, tidak syadz dan tidak pula berillat. Terdapat pula hadits hasan dan hadits da‟if. Sejarah pemalsuan hadis bermula pada sekitar tahun 40 H. Pemalsuan hadis merupakan salah satu dampak penaklukan negara-negara lain oleh umat Islam., Hadist palsu biasanya disebut juga dengan hadist maudhu‟. Salah satu ciri hadits palsu yaitu Perawi terkenal pendusta. Sifat tersebut dapat diketahui dari biodatanya.

3.2 Saran Dengan mengetahui beberapa definisi dan penjelasan dari sanad, matan rawi hadits, pembagian hadits berdasarkan kulitas dan kuantitasnya dan sejarah munculnya hadits palsu di atas, di harapkan kita paham dan mengerti, sehingga dalam kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari dan lebih mengetahui tentag hadits, serta dapat membedakan hadits sahih dan hadits palsu.

DAFTAR PUSTAKA

Alfatih Suryadilaga, dkk, 2010. Ulumul Hadits. Yogyakarta: Penebit Teras. Al-Khatib, al-Sunnah, 244. lihat juga Muhammad al-Farasi, Fadl al-Khitab bi Mawaqif al-Ashab (al- Ghuriyah : Dar al-Islam, 1996), 17. Ash Shiddieqy M Hasbi, 1987. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits Jilid Pertama, Jakarta: Bulan Bintang. Ash Shiddieqy M Hasbi, 1994. Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadits Jilid Kedua, Jakarta: Bulan Bintang As-Shiddiqi, Hasbi.1987. Pokok-pokok Ilmu Dirasah Hadis. Jakarta : Bulan Bintang.

Ismail Syuhudi, 1992.Metodologi Penelitian Hadits Nabi, Jakarta: Bulan Bintang. Mudasir, Ilmu Hadis. 2010. Bandung: Pustaka Setia. Muhammad Alawi Al-Maliki, 2006. Ilmu Ushul Hadis, terj. Adnan Qohar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mustafa al-Siba'i. 1985. al-Sunnah wa Ifakatiatuha fi al-Tashn' al-Islami (Beirut Dar al-Kutub al- Ilmiyah. Nuruddin Itr, Ulumul Hadis. 2012. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rahman, Fatchur. 1991. Ikhtisar Mushthalahul Hadits . Bandung : PT. Al Ma‟arif.

Suparta, Munzier. 2002. Ilmu Hadis .Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Syaikh Manna' Al Qaththan. 1996. Tarikh At Tasyri' Al Islami. Usman Syahroni, Otentisitas Hadis. (Jakarta:Pustaka Firdaus, 2008), 33. Wahid, Ramli Abdul. 2005. Studi Ilmu Hadis . Bandung : Cita Pustaka Media.

Yuslem, Nawir. 2001. Ulumul Hadis. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya.