Anda di halaman 1dari 2

Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan

Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT)

Seiring dengan meningkatnya kompleksitas produk, aktivitas dan teknologi informasi pada bank, maka risiko
bank digunakan sebagai media atau tujuan kegiatan pencucian uang dan pendanaan terorisme semakin meningkat.

Dalam rangka mencegah bank dijadikan sasaran kegiatan pencucian uang dan pendanaan teroris maka bank tunduk pada:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pendanaan Terorisme;
3. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.12/POJK.01/2017 tanggal 21 Maret 2017 tentang Penerapan Program Anti
Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan.

Upaya meningkatkan efektifitas penerapan program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme
(APU dan PPT), bank telah membangun infrastruktur dan sistemberdasarkan 5 Pilar sebagai berikut:

1. Pengawasan Aktif Direksi dan Komisaris

a. Pengawasan Aktif Direksi

1. Memastikan Bank telah memiliki kebijakan dan prosedur Program APU dan PPT,
2. Mengusulkan kebijakan tertulis Program APU dan PPT kepada Dewan Komisaris,
3. Memastikan penerapan Program APU dan PPT dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan prosedur tertulis yang
telah ditetapkan,
4. Membentuk Unit Kerja Khusus (UKK) yang melaksanakan Program APU dan PPT dan/atau menunjuk pejabat yang
bertanggung jawab terhadap Program APU dan PPT di Kantor Pusat,
5. Melakukan pengawasan atas kepatuhan satuan kerja dalam menerapkan Program APU dan PPT,
6. Memastikan bahwa kantor cabang wajib memiliki pegawai atau pejabat yang menjalankan fungsi Unit Kerja
Khusus.
7. Memastikan bahwa kantor cabang dengan kompleksitas usaha yang tinggi memenuhi kewajiban sebagaimana
dimaksud pada angka 6) dan terpisah dari satuan kerja yang melaksanakan kebijakan dan prosedur Program APU
dan PPT,
8. Memastikan bahwa kebijakan dan prosedur Program APU dan PPT sejalan dengan perubahan dan pengembangan
produk, aktivitas, dan teknologi serta sesuai dengan perkembangan modus pencucian uang atau pendanaan
terorisme, dan
9. Memastikan bahwa seluruh pegawai, khususnya pegawai dari unit kerja terkait dan pegawai baru, telah
mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan Program APU dan PPT secara berkala.

Dalam melaksanakan pengawasan aktif Direksi, Direktur Kepatuhan mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai
berikut:

a. Menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan Bank telah memenuhi ketentuan Bank
Indonesia mengenai Program APU dan PPT dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait,
b. Memantau pelaksanaan tugas Unit Kerja Khusus dan/atau pejabat Bank yang bertanggung jawab atas penerapan
Program APU dan PPT,
c. Memberikan rekomendasi kepada Direktur Utama mengenai pejabat yang akan memimpin Unit Kerja Khusus
atau pejabat yang bertanggung jawab atas penerapan Program APU dan PPT,
d. Memberikan persetujuan terhadap Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM/STR), dan
e. Menetapkan dan mengevaluasi transaksi yang memerlukan persetujuan pejabat senior.

b. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris

Pengawasan aktif Dewan Komisaris meliputi:

1. Memberikan persetujuan atas kebijakan Program APU dan PPT,


2. Mengawasi pelaksanaan tanggung jawab Direksi terhadap penerapan Program APU dan PPT, termasuk komitmen
yang dibuat oleh Bank kepada Bank Indonesia.

2. Kebijakan dan Prosedur


Bank telah memiliki Kebijakan dan Prosedur yang meliputi:

a. Permintaan informasi dan dokumen Nasabah (Customer Due Diligence/CDD dan Enhance Due Dilligence/EDD)
b. Beneficial Owner
c. Verifikasi dokumen
d. CDD yang lebih sederhana
e. Pelaksanaan CDD oleh pihak ketiga
f. Penerapan Risk Based Approach (RBA)
g. Ketentuan mengenai area berisiko tinggi dan Politically Exposed Person (PEP)
h. Penanganan Walk in Customer
i. Pengkinian data nasabah dan pemantauan transaksi nasabah
j. Cross Border Correspondent Banking (CBCB)
k. Payable Through Account (PTA)
l. Prosedur transfer dana
m. Pemantauan Terhadap Penerapan APU dan PPT Pada cabang dan anak perusahaan di Luar Negeri
n. Sistem informasi manajemen
o. Pemberian data dan informasi
p. Pemblokiran dan penyitaan simpanan
q. Penutupan hubungan dan penolakan transaksi
r. Sumber Daya Manusia dan program pelatihan karyawan
s. Penatausahaan dokumen
t. Pelaporan kepada pihak regulator
u. Pengendalian Intern
v. KYE (Know Your Employee)

3. Pengendalian Intern

Untuk menguji efektivitas bahwa pelaksanaan program APU dan PPT tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, maka diperlukan pemantauan oleh pihak independen secara berkala oleh Internal Audit dan Eksternal Audit.

4. Sistem Informasi Manajemen

Dalam mendukung kegiatan pemantauan profil dan transaksi nasabah, agar dapat berjalan efektif, maka telah dibuat dan
dikembangkan Sistem Informasi yang dapat memantau, mengidentifikasi, menganalisa dan menyediakan laporan dengan
karakteristik transaksi berdasarkan risiko yang dilakukan nasabah.

5. Sumber Daya Manusia dan Pelatihan

Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mempunyai tingkat keahlian dan pengetahuan yang memadai didalam
menjalankan tugas-tugasnya, maka bank berkewajiban menyediakan program pelatihan bagi seluruh karyawannya
dibidang APU dan PPT. Adapun cakupan materi pelatihan diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan program APU danPPT;


b. Tipologi pencucian uang dan pendanaan terorisme ; dan
c. Kebijakan dan prosedur internal penerapan program APU dan PPT serta peran dan tanggung jawab karyawan
dalam memberantas pencucian uang dan pendanaan terorisme.

Anda mungkin juga menyukai