Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Ahl al-Ra’yi merupakan sebutan yang digunakan bagi kelompok yang dalam
menetapkan fiqh lebih banyak menggunakan sumber ra’yu atau ijtihad ketimbang
hadis. Kelompok ini muncul lebih banyak di wilayah Iraq, khususnya di Bashrah
dan Kufah. Menurut Muhammad Ali as-Sayis bahwa munculnya aliran sangat
dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni:1 Keterikatan yang sanga kuat terhadap guru
pertama mereka yaitu Abdullah bin Mas’ud yang dalam metode ijtihadnya banyak
dipengaruhi oleh metode Umar bin Khattab yang sering menggunakan ra’yu
Minimnya mereka menerima hadis nabi, hal ini dikarenakan mereka hanya
memadakan hadis yang disampaikan oleh para sahabat yang datang ke Iraq seperti
Ibnu Mas’ud, Sa’ad bin Abi Waqqas, Ammar bin Yasar, Abu Musa al-Asy’ari
dan sebagainya. Di samping itu, mereka juga meinim menggunakan hadis
sehingga mendorong mereka untuk menggunakan ra’yu juga dipengaruhi oleh
ketatnya proses seleksi mereka terhadap hadis dengan cara memberikan kriteria-
kriteria yang sangat sulit. Seleksi yang sungguh ketat yang mereka terapkan
berpengaruh terhadap minimnya hadis yang dapat diterima sebagai dasar hujjah.
Pada dasarnya, seleksi ketat yang mereka lakukan ini termotivasi oleh munculnya
pemalsu-pemalsu hadis yang kala itu jumlahnya yang tidak sedikit.
Munculnya berbagai masalah baru yang membutuhkan legitimasi hukum.
Masalah-masalah ini muncul dikarenakan pesatnya perkembangan budaya yang
terjadi di Iraq kala itu, terutama yang berasal dari Persia, Yunani, Babilonia dan
Romawi dan ketika budaya-budaya yang berkembang ini bersentuhan dengan
ajaran Islam maka harus dicari solusi hukumnya. Minimnya hadis yang mereka
peroleh menggiring mereka untuk menggunakan ra’yu.

1
Sayis, Muhammad Ali. Tarikh al-Fiqh al-Islami. Mesir: Matba’ah Ali Shabih wa Auladuh, hal 99

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Peranan Ushul Fiqh?
2. Bagaimana pengertian Ahl Al-Ra’yi ?
3. Bagaimana pengertian Ahl Al-Hadist ?
4. Bagaimana pengertian Kitab Ushul Fiqh?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Bagaimana Peranan Ushul Fiqh
2. Untuk mengetahui Bagaimana pengertian Ahl Al-Ra’yi
3. Untuk mengetahui Bagaimana pengertian Ahl Al-Hadist
4. Untuk mengetahui Bagaimana pengertian Kitab Ushul Fiqh

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Peranan Ushul Fiqh


Peranan ushul fiqh menyiapkan kaidah-kaidah dengan mempergunakan
dalil-dalil yang terinci yang diperlukan dalam menetapkan hukum syara’.
Ringkasnya bahwa peranan Ushul Fiqh itu adalah kaidah-kaidah yang
diperguanakan mengistimbathkan hukum dan dalil-dalil yang terinci dan kuat.
Jadi Ushul lebih dulu lahirnya dari Fiqh, sebab Fiqh diciptakan dari Ushul Fiqh,
maka peran ushul itu adalah apa-apa yang diciptakan di atasnya ushul adalah
lainnya ushul yaitu Fiqh (hukum islam). Maka kedudukan Ushul Fiqh itu adalah
sebagai dasar dari Fiqh Islam: artinya Ushul Fiqh itu merupakan sumber-
sumber/dalil-dalil dan bagaimana cara menunjukkan dalil-dalil tersebut kepada
hukum syara’ secara ijmal/garis besar. Dengan kata lain tanpa pembahasan
mengenai Ushul Fiqh, maka Fiqh tidak dapat diciptakkan, karena dasarnya (ushul
fiqh) harus dipahami terlebih dahulu. 2
Jadi peranan dan kedudukan Fiqh dan Ushul, adalah suatu hal yang tidak
dapat dipisahkan, sebab keduanya buth membutuhkan, dalam sasarannya
menerapkan hukum Islam terhadap orang-orang yang mukallaf.
Peranan Ushul al-Fiqh dalam Menalar Hukum Islam Muhammad Abu
Zahrah,3 seorang ulama kenamaan dari Mesir, setidaknya ada dua peranan yang
dimainkan oleh Ushul al-Fiqh, yaitu: Sebagai metode yang menjadi
pegangan bagi seorang faqih yang hendak berijtihad. Sebagai kaidah (qanun)
yang menjaga seorang faqih dari kesalahan dalammelakukan ijtihad (istinbat
hukum). Dalam hal menalar hukum ini, Ushul al-Fiqh bisa diibaratkan sebagai
sebuah peta jalan atau rute yang menuntun seorang pengembara mencapai

2
Drs. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994, cet. ke-
1, h. 193
3
Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, (Pustaka Firdaus) h. 58

3
tujuannya. Boleh jadi, antara satu mujtahid dan mujtahid lain memiliki konten
Ushul al-Fiqh yang berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama,
yaitu melaksanakan perintahAllah dan menjauhi larangan-Nya dalam kerangka
maslahah manusia sebagaimakhluk individu maupun sosial.
a. Ushul al-Fiqh sebagai Metode Ijtihad
Sebagai metode berijtihad, Ushul al-Fiqh berperanan sebagai jalan
yang menuntunseorang mujtahid dalam melakukan istinbat. Atau sebagai
penjelasan jalan yangtelah ditempuh oleh seorang mujtahid, sehingga orang-
orang yang datangsesudahnya bisa memahami alasan mujtahid tersebut
menempuh jalan tersebut.

b. Ushul al-Fiqh sebagai Kaidah


Sebagai kaidah, Ushul al-Fiqh memiliki peranan sebagai pengingat
mujtahid darikesalahan yang mungkin akan dilakukannya. Atau korektor atas
kesalahan yang telah dilakukannya. Tentu saja fungsi atau peranan Ushul al-
Fiqh ini amat membantu mujtahid dalammelaksanakan tugasnya. Bagaimana
pun cerdasnya seorang mujtahid, ia adalahseorang manusia biasa yang bisa
melakukan kesalahan kapan saja. Nah, di sinilah peranan Ushul al-Fiqh amat
dirasakan oleh mujtahid itu, yaitu menghindari atau setidaknya
meminimalisir kesalahan-kesalahan tersebut.

B. Aliran Ahl Al-Ra’yi


Ahl al-Ra’yi yaitu garakan pemikiran keislaman yang berpusat di Baghdad
atau Irak dengan kondisi yang berbeda dengan Madinah dan jarang dijumpai
tradisi-tardisi sahabat dalam berbagai persoalan kehidupan, sehingga dalam
menyelesaikan persoalan kehidupan kembali kepada kemampuan menghayati atau
memahami ajaran Islam sesuai dengan kapasitas akal atau rasio.4

4
Drs. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994, cet. ke-
1, h. 193

4
Sebagai kelanjutan dari gerakan ini muncul suatu gerakan yang mencoba
mengadakan "modifikasi" terahadap pemikiran keslaman melalui pendekatan
rasionalitas dengan mengutamakan aspek kemaslahatan ummat, penelitian 'illat
dan maqasid syar'i. 5Kerangka pemikiran semacam ini merupakan sebuah strategi
intelektual yang rasional berdasarkan data sosiologis, tapi keberadaannya tidak
menyimpang dari ruh Islam.6 Oleh karenanya pola pendekatan gerakan pemikiran
ini lebih lazim bila disebut gerakanrasionalistik.
Banyak aliran dan mazhab yang timbul sepanjang sejarah umat Islam.
Mulai dari timbulnya aliran berlatarbelakang politik, yang kemudian aliran
tersebut berevolusi dan memicu kemunculan aliran bercorak akidah (teologi),
hingga bermacam mazhab Fikih, Ushul Fikih dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Mu’tazilah adalah aliran yang secara garis besar sepakat dan mengikuti
cara pandang Washil bin ‘Atha’ dan temannya ‘ Amru bin Ubaid dalam masalah-
masalah teologi, atau aliran teologi yang akar pemikirannya berkaitan dengan
pemikiran Washil bin ‘Atha’ dan temannya ‘ Amru bin Ubaid.7
Sebagai kelanjutan dari gerakan ini muncul suatu gerakan yang mencoba
mengadakan "modifikasi" terahadap pemikiran keislaman melalui pendekatan
rasionalitas dengan mengutamakan aspek kemaslahatan ummat, penelitian 'illat
dan maqasid syar'i.8 Kerangka pemikiran semacam ini merupakan sebuah strategi
intelektual yang rasional berdasarkan data sosiologis, tapi keberadaannya tidak
menyimpang dari ruh Islam.9 Oleh karenanya pola pendekatan gerakan pemikiran
ini lebih lazim bila disebut gerakan rasionalistik. Ide-Ide Pokok Mu’tazilah;

5
Dr. Muhammad Imarah, Karakteristik Methode Islam, Jakarta: Media Da'wah, 1994, cet. ke-1, h.
154
6
A. Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1993, cet. ke-
3, h. 58
7
http://ragab304.wordpress.com/2009/02/05/mutazilah-asal-usul-dan-ide-ide-pokok/
8
Dr. Muhammad Imarah, Karakteristik Methode Islam, Jakarta: Media Da'wah, 1994, cet. ke-1, h.
154
9
A. Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1993, cet. ke-
3, h. 58

5
1. Al-Tauhid (Tauhid/Keesaan)
Mu’tazilah adalah kelompok yang banyak melakukan pembelaan
terhadap penyelewengan yang terjadi terhadap Keesaan Allah SWT, seperti
yang dilakukan oleh Syi’ah Rafidhah yang menggambarkan Tuhan dalam
bentuk jism (tubuh) seperti halnya manusia, atau agama-agama lain di luar
Islam yang tidak mengakui Keesaan Tuhan. Hal itu tidak lain mereka lakukan
adalah untuk memantapkan Tauhid, bahwa Allah SWT Maha Esa, tidak ada
yang bisa menandingi-Nya dan serupa dengan-Nya. Pembelaan mereka
terhadap Keesaan Allah itu melahirkan pokok pikiran yang selanjutnya
dikenal juga dengan konsep al-Tanzih (pensucian) . Sehingga bisa dikatakan
inti konsep Tauhid mereka adalah Tanzih.
2. Tentang dzat Allah
Aliran Mu’tazilah dalam merealisasikan konsep tauhid ini secara global
menempuh dua cara. Pertama: Menafikan keqadiman sifat-sifat Tuhan, dan
kedua: Menetapkan kemakhlukan Alqur’an. Mu’tazilah berpendapat, bahwa;
apabila kita mengakui keqadiman sifat-sifat Tuhan berarti dengan sendirinya
menetapkan adanya sesuatu yang qadim selain Allah, itu berarti mengakui
berbilangnya sesuatu yang qadim selain Allah, dan pada akhirnya
membatalkan prinsip keesaan Allah SWT. Sebagai konsekwensi logis dari
pendapat ini, Mu’tazilah mengatakan bahwa; Tuhan tidak memiliki sifat yang
berdiri sendiri dari zat-Nya, tapi sifat-sifat itu hanya ada pada simbol
penamaan tanpa mempunyai esensi. Kalau dikatakan bahwa “Tuhan itu
melihat” berarti Tuhan melihatnya dengan zat-Nya (Bashiran bi Dzatihi)
begitupun sifat-sifat lainnya.
3. Mengatakan al-Qur’an makhluk.
Tentang Kalam (Firman Allah), mereka seolah-olah tidak lagi
berpegang pada kesimpulan di atas. Mereka mengatakan bahwa Kalam tidak
mungkin disamakan dengan sifat Ilmu dan Qudrah (Kuasa), sebab hakikat
Kalam menurut Mu’tazilah adalah huruf-huruf yang teratur dan bunyi-bunyi

6
yang jelas dan pasti, baik nyata maupun ghaib . Kalam bukanlah sesuatu yang
memiliki hakikat logis, namun dia hanyalah sebuah istilah, yang tidak
mungkin ada/terwujud kecuali melalui lidah. Dan Allah SWT sebagai
Mutakallim (Yang Berfirman) menciptakan Kalam itu. Hakikat-hakikat yang
mereka simpulkan inilah yang menyebabkan mereka mengatakan bahwa
kalam itu adalah sesuatu yang bersifat baru (hadits), tidak bersifat qadim,
sehingga pada gilirannya al-Qur’an sebagai Kalamullah adalah sesuatu yang
hadits, dan sesuatu yang hadits itu adalah makhluk.
4. Mengingkai bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan mata telanjang.
Mu’tazilah memandang bahwa pendapat yang mengatakan Allah dapat
dilihat dengan mata telanjang di akhirat (di sorga), membawa pada ide yang
sangat bertentangan dengan Tauhid yaitu tasybih, menyamakan Allah SWT
dengan makhluk. Karena menurut mereka, ru’yah (pandangan) adalah kontak
sinar (ittishal syu’a') antara “yang melihat” dengan “yang dilihat”, dan mereka
memberikan satu syarat agar ru’yah itu bisa terjadi yaitu binyah
(tempat/media), dan ru’yah tersebut mesti berhubungan dengan benda nyata
(maujud), dan Allah SWT bukanlah yang demikian, oleh karena itulah mereka
mengatakan hal itu mustahil terjadi pada Allah SWT. Dengan pendapat yang
demikian, mereka melakukan takwilan terhadap ayat yang menggambarkan
kemungkinan terjadinya ru’yah tersebut, seperti ayat:
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.
Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. al-Qiyamah: 22-23)

C. Aliran Ahl Al-Hadist


Secara etimologi, “As-Sunnah” berarti “cara” atau “jalan”, baik cara atau
jalan itu benar atau salah, terpuji atau tercela. Istilah ini pertama kali muncul
berdasarkan hadis Nabi tentang Iftiraq (perpecahan umat) : “umatku ini akan
terpecah-belah menjadi tujuh puluh tiga kelompok, semuanya akan masuk neraka
kecuali satu saja. Para sahabat bertanya : “Siapa mereka itu wahai Rasulullah

7
?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Mereka itu yang mengikuti
sunnahku dan jamaah para sahabatku pada hari ini” [HR Tirmidzi dan Ath-
Thabrani].
Ahlus Sunnah adalah mengikuti sunnah Nabi. Dan Wal Jama’ah
mengikuti jama’ah para sahabat, serta selalu bersatu dalam jama’ah kaum
muslimin. Istilah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah kemudian dipopulerkan oleh Imam
Abu Hasan Asy’ari (260 H - 326 H) untuk memberi identitas kepada para
pengikut theologi Asy’ariyah.10
Sebenarnya Aswaja dari aspek teologis, seperti yang diungkapkan Dr. Ahmad
Mahmud Subhi dalam bukunya “Fi Ilmil Kalam” terdiri dari dua
golongan:Pertama: Aliran Salaf. Aliran ini dikenal sejak Imam Ahmad bin
Hambal kemudian aliran ini secara bersambung diwariskan sampai kepada Ibnu
Taimiah dan mencapai puncak keemasannya. Kedua: Aliran Khalaf, dan yang
termasuk di dalamnya adalah golongan as-Shifatiyyah serta al- Maturidiyyah.11
Pertama: Kalam Nafsi, yaitu esensi yang berada pada zat Tuhan, dankedua:
Kalam Lafzhy, yaitu indikator-indikator yang menunjukkan kepada esensi
tersebut, termasuk diantaranya lafazh-lafazh dan huruf-huruf serta suara-suara
yang diturunkan Allah kepada Nabi- nabi-Nya. Asy’ari mengatakan: Yang
pertama adalah Qadim dan yang kedua adalah Hadits (baru) dan makhluq, tidak
kekal. 12
As-Syahrastani, seorang tokoh dalam aliran Asy’ari menjelaskan
pendapat Asy’ari antara Kalam dan Ibarah. Ia mengatakan bahwa Kalam adalah
esensi yang berada pada Tuhan, sedangakan Ibarah merupakan indikator yang
menunjukkan kepada Kalam tersebut. 13 Bahkan Imam al-Haramain al-Juwainy
salah seorang tokoh terkemuka yang banyak berjasa terhadap perkembangan
faham Asy’ari menjelaskan bahwa yang dimaksud penurunan Alqur’an kepada
Nabi adalah Malaikat Jibril sebagai pengantar wahyu memahami maksud

10
http://ahmadfaruq.blogdetik.com/ahlus-sunnah-wal-jamaah/
11
Ibnu Mandzur, Lisan al-’Arab, (Beirut: Dar Shadir) vol. XIII, hal. 225
12
Hammudah Gurabah, Abu al-Hasan al-Asy’ari, Kairo: Mathba’ah ar-Risalah, 1954, hal. 65-66.
13
Ibid.,66-67

8
“Kalam” itu di atas langit ke tujuh lalu turun ke bumi menyampaikan pemahaman
itu kepada Nabi.14
Baik Mu’tazilah maupun Asy’ari masing-masing mengakui sifat keadilan
Tuhan. Mu’tazilah meninjau keadilan Tuhan dengan kaca mata rasionalitasnya
dengan menitikberatkan kepada “kepentingan manusia”. Sementara Asy’ari
menitikberatkan pendekatan teologinya dalam meninjau keadilan Tuhan kepada
“kehendak otoritas Tuhan”
Teori dalam faham Asy’ari dengan term al Kasb. Teori ini akan mencoba
menggabungkan dua faham yang saling kontradiktif, yakni faham Jabariyyah
(yang mengatakan bahwa segala yang terjadi atas diri manusia adalah cipataan
manusia tanpa ada ikhtiar bagi manusia) dengan faham Qadariyah (yang
beranggapan bahwa segala perbuatan manusia adalah ditentukan manusia sendiri
terlepas dari campur tangan Allah). Dalam teori al-Kasb ini, Asy’ari membagi
perbuatan manusia dua bentuk: pertama: Al-Af’al al-Idhtirariyyah, dan yang
kedua; Al-Af’al al-Ikhtiyariyyah. Yang termasuk dalam bagian pertama adalah
segala perbuatan yang bersifat reflektif yang dilakukan secara terpaksa atau di
luar alam kesadaran. Sedangkan yang masuk pada bagian kedua adalah segala
perbuatan yang dilakukan secara terencana atau terprogram.
Postulat yang digunakan Asy’ari dalam pemahaman ini adalah “Sebuah
perbuatan diusahakan (al-Kasb) oleh manusia dengan kekuatan yang diciptakan
(al-Khalq) oleh Allah padanya”. Baik perbuatan idhtirary maupun ikhtiyary dalam
konsep “Kasb” Asy’ari termasuk ciptaan Allah, namun bedanya adalah, yang
pertama dilakukan oleh manusia secara terpaksa dan yang kedua dilakukan
berdasarkan usaha dengan daya diciptakan Allah padanya[ Selanjutnya dikatakan
bahwa perbuatan yang mendapat tuntutan dan pertanggungjawaban hanyalah
perbuatan yang kedua (ikhtiyary) tanpa yang pertama (idhtirary. Argumen yang
dimajukan oleh Asy’ari menyangkut diciptakannya Kasb oleh Allah adalah ayat

14
Thabaqat as-Syafi’iyyah, Al-Subki, (cet. Kairo), vol. II, hal 250-251.

9
Alqur’an: “Allâhu khalaqakum wamâ ta’malûn“, artinya: “Allah menciptakan
kamu dan perbuatan-perbuatan kamu”.
Dalam konsep Asy’ari ikhtiar tersebut tetap tinggal di depan, dalam arti daya
pemberian Tuhan datang bersamaan dengan terlaksananya suatu perbuatan (al-
Fi’l). Dengan demikian ikhtiarlah yang menjadi syarat utama unmtuk menilai
status sebuah perbuatan. Besar kecilnya sebuah amal kebajikan, demikian juga
pelanggaran, selalu ditentukan oleh kualitas ikhtiar seseorang. Jadi ikhtiarlah yang
melatarbelakangi terjadinya sebuah usaha (al- Kasb). Meski demikian tidaklah
berarti ikhtiar manusia tersebut lepas dari ilmu, iradah dan qudrat Allah SWT.
Sebab ikhtiar manusia itu sendiri merupakan kemuliaan dari Allah SWT. untuk
hamba-Nya. Tapi ikhtiar dalam pandangan Asy’ari sama sekali tidak mengandung
unsur paksaan. Itu sebabnya Asy’ari --seperti disebutkan sebelumnya-- membagi
perbuatan manusia kepada dua bagian: perbuatan idhtirariyyah dan perbuatan
ikhtiyariyyah.

D. Kitab Ushul Fiqh


Golongan Mutakallimin dalam pembahasannya selalu mengikuti cara-cara
yang lazim digunakan dalam ilmu kalam, yaitu dengan memakai akal-pikiran dan
alasan-alasan yang kuat dalam menetapkan peraturan-peraturan pokok (ushul),
tanpa memperhatikan apakah peraturan-peraturan tersebut sesuai dengan
persoalan cabang (furu') atau tidak. Di antara kitab-kitab yang ditulis oleh
golongan ini adalah;
1. Al-Mu'tamad oleh Muhammad bin Ali
2. Al-Burhan oleh Al-Juwaini
3. Al-Mustashfa oleh Al-Ghazali
4. Al-Mahshul oleh Ar-Razy
Golongan Hanafiyah dalam pembahasannya selalu memperhatikan dan
menyesuaikan peraturan-peraturan pokok (ushul) dengan persoalan cabang
(furu').

10
Setelah kedua golongan tersebut muncullah kitab pemersatu antara kedua aliran
tersebut di antaranya adalah;
1. Tanqihul Ushul oleh Sadrus Syari'ah
2. Badi'unnidzam oleh As-Sa'ati
3. Attahrir oleh Kamal bin Hammam
4. Al-Muwafaqat oleh As-Syatibi
Selain kitab-kitab tersebut di atas, juga terdapat kitab lain yaitu, Irsyadul Fuhul
oleh Asy-Syaukani, Ushul Fiqih oleh Al-Chudari. Terdapat juga kitab Ushul fiqih
dalam bahasa Indonesia dengan nama "Kelengkapan dasar-dasar fiqih" oleh Prof.
T.M. Hasbi As-Shiddiqi

11
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari apa yang telah diuraikan di atas, jelaslah bahwa metodologi
pemikiran Asy’ari mengambil posisi ekstrim rasionalis menggunakan metapor
dan golongan ekstrim tekstualis yang literlijk. Adalah sebuah metodologi yang
dianggap mampu menjamin orisinilitas aqidah Islam dalam menghadapi
tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru.
Dengan kata lain, para penganut aliran teologi ini mampu mengikuti dan
mentolerir segala perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan
saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang.
Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan bisa dimanfaatkan
sebagai mana mestinya.

12
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat yang diberikan Allah SWT sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Guru yang telah membantu


penulis dalam membuat makalah ini dan teman-teman yang telah memberi motivasi
dan dorongan serta semua pihak yang berkaitan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah dengan baik dan tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak


terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan
saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang.

Penulis

i 13
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i

DAFATR ISI .................................................................................................... ii


BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Tujuan .................................................................................................. 2
C. Manfaat ............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Peranan Ushul Fiqh .............................................................................. 3
B. Ahl Al-Ra’yi ...................................................................................... 5
C. Ahl Al-Hadist .................................................................................... 8
D. Kitab Ushul Fiqh .................................................................................. 11
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .......................................................................................... 13
B. Kritik dan Saran .................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... iii

ii
14
DAFTAR PUSTAKA

A.Syafi’i Ma’arif, Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, Bandung: Mizan,


1993, cet. ke-3.
Drs. Badri Yatim, M.A., Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1994, cet. ke-1.
Dr. Muhammad Imarah, Karakteristik Methode Islam, Jakarta: Media Da'wah, 1994,
cet. ke-1.
Dr. Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Yayasan Paramadina,
cet. I th. 1992.
Ibnu Jarir alThabary, Tahdzibul Atsar, (Makkah: Al-Shafa, th. 1402 H.), vol. II.
Thabaqat as-Syafi’iyyah, Al-Subki, (cet. Kairo), vol. II.
Sayis, Muhammad Ali. Tarikh al-Fiqh al-Islami. Mesir: Matba’ah Ali Shabih wa
Auladuh, t.th

15
MAKALAH
USHUL FIQIH
Peranan Ushul Fiqh, Aliran dan Kitab Ushul Fiqih

16