Anda di halaman 1dari 3

TUGAS :

Menganalisis contoh kasus pelanggaaran kode etik profesi dalam bidang keteknikan.

Kasus Robohnya Hanggar Bandara di Makassar

Pada hari Senin 9 Maret 2015 Bangunan Hanggar Bandar Udara Sultan Hasanuddin, Maros,
Makassar collapse/ runtuh mengakibatkan korban meninggal sebanyak 5 (lima) orang dan puluhan pekerja
lain luka- luka. Kejadian ini menambah panjang deretan kasus kegagalan konstruksi yang terjadi dan menjadi
catatan hitam di masyarakat konstruksi Indonesia.

Bangunan ini adalah Hanggar Kalibrasi yang merupakan tempat untuk pesawat yang digunakan
dalam proses tera/ uji peralatan navigasi bandar udara. Total biaya/ anggaran yang dialokasikan adalah Rp
46 Miliar. Tahap perencanaan dilaksanakan pada 11 April – 11 Juni 2014 (2 Bulan). Sedangkan pelaksanaan
konstruksi dimulai sejak 14 Juli 2014. Lebar 60 m dan panjang 90 m. Atap menggunakan struktur rangka
baja. Pondasi sumuran dan kolom beton. Pada saat keruntuhan progress pekerjaan mencapai 78%.

Secara garis besar bahwa kalau terjadi sebuah kegagalan konstruksi di dalam pengerjaan
bangunan maka dapat dipastikan terjadi sebuah kesalahan, utamanya dari sisi teknis. Fakta yang menarik
adalah sejak tahun 1990-an, di Indonesia belum pernah ada lagi pekerjaan hanggar dengan atap free
standing bentang panjang. Hanggar terakhir yang pernah dibangun adalah hanggar Garuda Maintenance
Facility (GMF) Bandara Soekarno-Hatta. Oleh karena itu sepertinya proyek ini (dengan kegagalannya)
menjadi sarana belajar –tentu saja dengan cara buruk dan mahal- untuk kedepannya dapat diambil
pembelajarannya terutama bagi para insinyur Indonesia di masa depan.

Kronologi Kasus

Pembangunan hanggar kalibrasi yang berada di kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin,
Makassar, roboh, Senin, 9 Maret 2015. Reruntuhan material atap hanggar itu menimpa para pekerja yang
tengah sibuk mengerjakan proyek milik otoritas wilayah V Angkasa Pura Makassar.

Berdasarkan informasi dari otoritas Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, sebanyak 17 pekerja
bangunan menjadi korban. Sebanyak lima di antaranya tewas dan 12 orang pekerja mengalami luka serius.

Belum diketahui penyebab pasti robohnya bangunan hanggar tersebut. Namun menurut keterangan
salah seorang saksi mata, bangunan setengah jadi itu roboh sekitar pukul 09.28 WITA.

Kejadian bermula saat para pekerja yang tengah melakukan pemasangan rangka atap baja, dan pengelasan
di atap hanggar. Saat tengah proses pengerjaan, tiba-tiba tiang rangka miring, yang menyebabkan bagian
tengah patah dan jatuh.

"Beberapa pekerja tertimpa besi," ujar salah seorang saksi mata.

Humas PT Angkasa Pura I Makassar, Rio Hendarto, membenarkan kondisi hanggar yang roboh
sedang dalam tahap pembangunan. Orang-orang yang ada di hanggar tersebut juga adalah pekerja proyek.
Sementara itu, tim laboratorium dan forensik dari kepolisian Polda Sulselbar, sudah melakukan
pemeriksaan di lokasi tempat robohnya tiang penyangga. Namun sejauh ini petugas masih memeriksa
sejumlah saksi mata.

Kepolisian Resor Maros akhirnya menetapkan dua tersangka dalam kasus robohnya hanggar
Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Keduanya adalah Direktur Lapangan PT Nur Jaya Nusantara
Lukas Langke dan Project Manager PT Nur Jaya Nusantara Tiku Kombong.

“Penetapan keduanya sebagai tersangka berdasarkan data dan pemeriksaan lapangan serta
keterangan dari tim ahli,” ujar Kepala Bagian Operasional Polres Maros Komisaris Ahmad Mariyadi saat
dihubungi, Jumat, 7 Agustus 2015.
Ahmad mengatakan Lukas Langke dan Tiku Kombong ditetapkan sebagai tersangka pada Juli
lalu. Dalam kasus ini, menurut dia, berdasarkan keterangan para saksi dan juga teknik, terjadi kesalahan
pengawasan dan pekerjaan proyek. “Selain karena adanya kelalaian dalam pengerjaan proyek hingga
mengakibatkan kematian,” ujar Ahmad.
Padahal, kata Ahmad, pekerjaan Balai Besar Kalibrasi hampir rampung mencapai 78 persen. Sesuai
kontrak kerja, proyek dikerjakan sejak 14 Juli 2014 hingga 18 Februari 2015 dengan penambahan
pekerjaan selama 50 hari. Nilai proyek Rp 46 miliar itu, Ahmad mengatakan, dikerjakan oleh pelaksana
PT Lince Romauli Raya dan PT Nur Jaya Nusantara.

Analisis Kasus

Pada kasus ini, saya dapat mengamati bahwa yang menjadi permasalahan dalam pembangunan
proyek seperti hangar bandara ini ialah masalah konstruksinya.

Jika melihat gambar bangunan disamping bisa dipastikan ada yang tidak beres pada konstruksi rangka
bangunan tersebut. Kalau melihat keruntuhannya, maka kelihatannya sistem rangka tersebut sudah saling
terangkai. Jadi ketika ada satu yang gagal, akan menyebabkan pengaruh ke bagian lain. Kesannya seperti
kartu domino.

Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, pihak kepolisian menetapkan 2 tersangka pada kasus
ini akibat terjadinya kesalahan pengawasan dan pekerjaan proyek sehingga runtuhnya bangunan tersebut
bahkan menimbulkan korban jiwa. Hal tersebut tentu sudah pasti melanggar kode etik profesi insinyur yang
tercantum pada “Catur Karsa” no. (3) yakni bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat
sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dan juga aturan yang tertera pada “Sapta Dharma” no. (1)
yakni mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Sebaiknya pihak perusahaan
tersebut memegang teguh nilai-nilai tersebut yang menjadi pedoman bagi seorang insinyur.
Dari beberapa sumber yang saya baca, spek (spesifikasi) bahan-bahan yang digunakan dalam
proyek ini sudah memenuhi standar. Juga melihat aspek keselamatan kerja (K3), pelaksanaan kegiatan kerja
di hanggar tersebut secara umum sudah mematuhi prosedur yang berlaku, para pekerja memakai helm,
mengenakan tali pengaman. Terlepas dari aturan yang telah dipenuhi, seharusnya fungsi pengawasan harus
tetap dilakukan hingga proyek selesai agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan selama pekerjaan berlangsung.
Karena sebaik apapun perencanaan yang dilakukan jika tidak dibarengi dengan pengawasan yang baik,
maka hasilnya akan seperti yang telah terjadi pada kasus ini.

Kasus Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2014


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran,
dalam kasus robohnya hanggar bandara di Makassar yang telah dianlisis diatas ada beberapa pasal dalam
Undang-Undang tersebut yang dilanggar oleh Direktur Lapangan PT Nur Jaya Nusantara Lukas Langke
dan Project Manager PT Nur Jaya Nusantara Tiku Kombong antara lain sebagai berikut.
Yang pertama yaitu melanggar UU Nomor 11 Tahun 2014, Pasal 25 huruf (a) yang berbunyi
“Insinyur dan Insinyur Asing berkewajiban melaksanakan kegiatan keinsinyuran sesuai dengan keahlian dan
kode etik insinyur”. Pelanggaran dalam hal ini ialah pihak tersangka menyalahi aturan kode etik insinyur
Indonesia yakni “catur karsa” dan “sapta dharma”.
Yang kedua yaitu melanggar UU Nomor 11 Tahun 2014, Pasal 25 huruf (c) yang berbunyi “Insinyur
dan Insinyur Asing berkewajiban melaksanakan tugas profesi sesuai dengan standar keinsinyuran”.
Pelanggaran dalam hal ini ialah pihak tersangka lalai dalam pengawasan dan pekerjaan proyek sehingga
terjadi kecelakaan kerja yang tidak diinginkan.
Yang ketiga yaitu melanggar UU Nomor 11 Tahun 2014, pasal 25 huruf (g) yang berbunyi “Insinyur dan
Insinyur Asing berkewajiban mengutamakan kaidah keselamatan kerja, kesehatan kerja dan kelestarian lingkungan
hidup”. Pelanggaran dalam hal ini ialah adanya korban jiwa sebanyak 17 pekerja bangunan lima di antaranya
tewas dan 12 orang pekerja mengalami luka serius.

Yang keempat yaitu melanggar UU Nomor 11 Tahun 2014, Pasal 51 yang berbunyi “Setiap Insinyur dan
Insinyur Asing yang melaksanakan tugas profesi tidak memenuhi standar keiinsinyuran sebagaimana dimaksud dalm
Pasal 25 huruf c sehingga mengakibatkan kecelakaan, cacat, hilangnya nyawa seseorang, kegagalan pekerjaan
Keinsinyuran, dan/atau hilangnya harta benda dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau
pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).