Anda di halaman 1dari 5

Evaluasi Kerusakan Struktur

Bangunan Akibat Gempa


Evaluasi Kerusakan Struktur Bangunan Akibat Gempa

keruntuhan kolom, sengkang tidak cukup kuat

Sengkang yang digunakan pada kolom di atas berukuran sangat kecil. Sepanjang pengetahuan
kami, di SNI Beton 2002 disebutkan bahwa diameter minimum untuk tulangan sengkang
(lateral) elemen kolom (khususnya dalam memikul beban gempa) adalah 10 mm (boleh polos,
sebaiknya ulir).

Pelanggaran yang kedua adalah, menggunakan tulangan polos pada elemen penahan gempa,
padahal SNI sudah mengatur untuk menggunakan tulangan ulir untuk semua penulangan (kecuali
sengkang boleh polos). Kenapa tulangan polos “diharamkan”? Karena mekanisme lekatannya
hanya mengandalkan adhesi dan friksi. Menurut data, kuat lekat ini hanya 10% dari lekatan
tulangan ulir dengan diameter yang sama. Pada saat gempa, di mana gaya gempa bekeja bolak-
balik, gaya lekatan tulangan polos akan menurun drastis, bahkan bisa hilang (loss) kontak
dengan beton, akibatnya sendi plastis yang diharapkan terjadi pada balok tidak akan terjadi.
dinding rubuh

Walaupun dinding di atas cuma dinding pembatas dua lahan, tapi bisa dibayangkan jika dinding
tersebut jatuh menimpa orang di sebelahnya. Kesalahan fatal dinding tersebut adalah, tidak ada
struktur yang cukup untuk menahan dinding tersebut terhadap arah lateral.
Mutu Beton Yang Kurang Baik

Beton hancur sementara kolom masih berdiri

Pada kolom di atas, tulangan masih terpasang dengan rapi. Sengkang tidak terlepas, tulangan
utama tidak “berhamburan”, tetap justru inti betonnya yang hancur lebur. Ini menandakan
kualitas beton yang terpasang kurang baik.
Tanah bergeser

Di sekitar bangunan tersebut, ada lapisan tanah yang bergeser. Bisa jadi pemicu keruntuhan
tersebut adalah bergesernya lapisan tanah yang mungkin membuat (sebagian) pondasi ikut
bergeser, sehingga struktur di atasnya terganggu keseimbangan maupun kestabilannya.