Anda di halaman 1dari 10

Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup

Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner

Aan Nuraeni, Ristina Mirwanti, Anastasia Anna, Ayu Prawesti, Etika Emaliyawati
Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran
Email : aan.nuraeni@unpad.ac.id

Abstrak

Prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dan menjadi masalah
kesehatan utama di masyarakat saat ini. PJK berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan penderitanya baik
fisik, psikososial maupun spiritual yang berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Isu kualitas hidup dan
faktor-faktor yang berhubungan didalamnya belum tergambar jelas di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini
adalah mengidentifikasi faktor yang memengaruhi kualitas hidup pada pasien PJK yang sedang menjalani rawat
jalan. Faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, tingkat penghasilan, revaskularisasi
jantung, rehabilitasi jantung, kecemasan, depresi dan kesejahteraan spiritual. Kecemasan diukur dengan Zung
Self-rating Anxiety Scale, depresi diukur dengan Beck Depression Inventory II, kesejahteraan spiritual diukur
dengan kuesioner Spirituality Index of Well-Being dan kualitas hidup diukur menggunakan Seattle Angina
Questionnaire. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif deskriptif dan analitik multivariate dengan
regresi logistic. Diteliti pada 100 responden yang diambil secara random dalam kurun waktu 1 bulan di Poli
Jantung. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang memengaruhi kualitas hidup pada pasien PJK adalah
cemas (p) 0,002; Odd Ratio (OR) 4,736 (95% confidence interval (CI), 1,749 – 12,827); depresi (p) 0,003; OR
5,450 ( 95% CI, 1,794 – 16,562); dan revaskularisasi (p) 0,033; OR 3,232 (95% CI, 1,096 – 9,528). Depresi
menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien PJK. Faktor yang memengaruhi
kualitas hidup pada pasien PJK meliputi depresi, cemas dan revaskularisasi. Dari ketiga variabel tersebut
depresi merupakan variabel yang paling signifikan berpengaruh, sehingga manajemen untuk mencegah
depresi perlu mendapatkan perhatian lebih baik lagi dalam discharge planning ataupun rehabilitasi jantung.

Kata kunci: Cemas, depresi, faktor yang memengaruhi, kualitas hidup, spiritual.

Factors Influenced the Quality of Life among Patients Diagnosed with


Coronary Heart Disease

Abstract

Coronary Heart Disease (CHD) has affected multidimensional aspects of human live nowadays. Yet, quality of life
and factors associated with quality of life among people who live with heart disease has not been explored in Indonesia.
This study aimed to identify factors influenced the quality of life among people with CHD received outpatient services.
Those factors are gender, income, revascularization, cardiac rehabilitation, anxiety, depression and spiritual well-
being. Zung Self-rating Anxiety Scale was used to measure anxiety where depression level measured using Beck
Depression Inventory II. Spirituality index was used to measure spiritual well-being. The quality of life level was
measured using the Seattle Angina Questionnaire. This study used quantitative descriptive with multivariate analysis
using logistic regression. 100 respondents were randomly selected from the Cardiac Outpatient Unit. Findings
indicated factors influenced the quality of life of CHD patients using a significance of ƿ-value < 0.005 were: anxiety
(ƿ=0,002, OR = 4,736, 95% CI, 1,749 – 12,827); depression (ƿ=0,003; OR=5,450, 95% CI, 1,794 – 16,562); and
revascularizations (ƿ=0,033; OR=3,232, 95% CI, 1,096 – 9,528). Depression was considered as the most significant
factor; therefore, managing depression is a priority in the discharge planning or cardiac rehabilitation programme.

Keywords: Anxiety, depression, quality of life, spiritual, well-being.

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 107


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

Pendahuluan penyakit jantung terhadap kualitas hidup


penderitanya. Selain itu Failde dan Soto
Penyakit Jantung Koroner (PJK) berdampak (2006) menyatakan bahwa terjadi penurunan
terhadap berbagai aspek kehidupan yang signifikan pada dimensi fungsi fisik,
penderitanya. Secara fisik penderita akan kesehatan secara umum, dan vitalitas pada 3
merasakan sesak, mudah lelah, mengalami bulan pasca serangan jantung.
gangguan seksual, serta nyeri dada Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa
(Rosidawati, Ibrahim, & Nuraeni, 2015), terdapat hubungan yang erat antara status
selain itu masalah psikososial seperti sosiodemografi dan psikososial pasien PJK
cemas dan depresi juga sering dialami oleh dengan kualitas hidup. Terjadi peningkatan
pasien (Lane, Carroll, & Lip, 2003; Gustad, kualitas hidup pada pasien yang masih tetap
Laugsand, Janszky, Dalen, & Bjerkeset, bekerja, menikah, aktif secara fisik dan
2014) ditambah distres spiritual yang dapat menjalani rehabilitasi dan tidak depresi pada
terjadi pada pasien-pasien dengan penyakit populasi pasien PJK di Amerika (Christian
terminal seperti kanker (Mako, Galek, & et al., 2007). Pada penelitian yang dilakukan
Poppito, 2006), mungkin juga dialami oleh di Spanyol oleh Failde dan Soto (2006)
pasien dengan PJK, karena penyakit ini didapatkan hasil bahwa tidak ada perbedaan
merupakan penyakit akut dan mengancam kualitas hidup yang signifikan pada pasien
kehidupan namun membutuhkan perawatan yang menjalani monitoring maupun yang
dan penyesuaian gaya hidup yang terus- drop out. Setelah 3 bulan, terjadi penurunan
menerus dan masif sepanjang hidup pasien. signifikan pada aspek fisik dan kesehatan
Pencegahan agar tidak terulangnya kembali secara umum, namun pasien yang menjalani
serangan jantung, pasien dengan PJK perlu revaskularisasi jantung memiliki kondisi
melakukan perubahan gaya hidup yang cukup fisik 6,4 poin lebih baik dibanding yang
masif. Seperti perubahan dalam pola diet, tidak menjalani revaskularisasi. Aspek fisik
kebiasaan merokok, pembatasan aktivitas, lebih buruk dirasakan pada pasien dengan
serta pengendalian stres dan kecemasan. usia yang lebih muda dan memiliki lebih
Kondisi ini justru dapat memicu timbulnya dari satu faktor resiko. Penelitian lain yang
distres baru, ditambah lagi perubahan dalam dilakukan di Singapura menunjukkan hasil
kondisi fisik dan perubahan peran yang bahwa tingkat pendidikan dan depresi secara
terjadi akibat sakit yang berkepanjangan. signifikan dapat memprediksi kondisi fisik
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pasien sedangkan umur, kecemasan dan
stress, depresi, rendahnya dukungan sosial depresi dapat memprediksi kesehatan mental
dan spiritual dapat meningkatkan perburukan pasien dengan penyakit jantung (Muhammad
kondisi penyakit pada pasien dengan PJK et al., 2014).
(Aldana et al., 2006; Fukuoka, Lindgren, Penelitian tentang kualitas hidup pada
Rankin, Cooper, & Carroll, 2007; Davidson pasien dengan penyakit PJK di Indonesia
et al., 2013). Dan beberapa penelitian sudah banyak dilakukan namun penelitian
lainnya mengungkapkan masih tingginya yang secara khusus menganalisis tentang
angka cemas dan depresi pada pasien PJK di faktor yang memengaruhi kualitas hidup pada
Indonesia (Krisnayanti, ; Widiyanti, 2013) pasien dengan PJK belum banyak dilakukan.
sehingga komplikasi dan perburukan pun Padahal peningkatan kualitas hidup pasien
kemungkinan jumlahnya cukup tinggi. PJK merupakan tujuan dari penatalaksanaan
Perubahan kondisi fisik, psikososial kesehatan pada pasien ini, sehingga studi
dan spiritual pada pasien PJK berpengaruh tentang kualitas hidup serta faktor-faktor
terhadap kualitas hidup pasien. Beberapa yang memengaruhinya penting untuk
penelitian menunjukkan hal tersebut dilakukan. Dari penelitian ini diharapkan
diantaranya Christian, Cheema, Smith, dan faktor yang memengaruhi kualitas hidup yang
Mosca (2007) mereka mengungkapkan ditemukan dari penelitian ini dapat dijadikan
bahwa terdapat efek negatif yang besar dari bahan pertimbangan dalam intervensi untuk

108 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

meningkatkan kualitas hidup pasien dengan peningkatan kecemasan dan 5 item untuk
PJK di Indonesia. pernyataan tentang penurunan kecemasan.
Zung Self-rating Anxiety Scale memiliki
nilai validitas 0,66 yang meningkat menjadi
Metode Penelitian 0,74 pada pasien yang didiagnosis gangguan
kecemasan Zung Self-rating Anxiety Scale
Rancangan penelitian menggunakan metode mempunyai nilai alpha cronbach 0,85
kuantitatif deskriptif dan analitik multivariat. (McDowell, 1989).
Peneliti menguji data yang dikumpulkan pada Alat ukur depresi dalam penelitian ini
satu kesempatan dengan subjek yang sama menggunakan instrumen Beck Depression
(cross sectional). Populasi pada penelitian Inventory II (BDI-II) versi bahasa Indonesia
ini adalah pasien dengan PJK yang menjalani yang sudah dilakukan uji construct validity
rawat jalan di Ruang Poli Jantung RSUP Dr. oleh Ginting, Naring, Veld, Srisayekti, &
Hasan Sadikin Bandung dan sudah menjalani Becker (2013) dengan nilai validasi r = 0,55,
rawat jalan minimal 1 bulan. Sampel pada p < 0,01 dan reliabilitas yang diukur dengan
penelitian ini diambil dengan teknik simple alpha cronbach sebesar 0,90. Selanjutnya
random sampling. Ukuran sampel untuk Spirituality Index of Well-Being digunakan
multiple regresi menurut Sugiyono (2010) untuk mengukur tingkat kesejahteraan
adalah minimal 10 responden untuk setiap spiritual. Instrumen ini dikembangkan oleh
variabel yang diukur. Dalam penelitian ini Daaleman & Vande Creek (2000) Kuesioner
terdapat 6 variabel bebas dan satu variabel Spirituality Index of Well-Being dan memiliki
terikat, total terdapat 7 variabel jumlah nilai reliabilitas 0,70. Sebelum digunakan
sehingga responden minimal adalah 70, instrumen-instrumen ini dilakukan back
dalam penelitian ini didapatkan responden translation dan dilakukan uji validitas dan
sebanyak 100 orang. reliabialitas.
Kualitas hidup diukur menggunakan Uji yang digunakan untuk melihat
instrumen Seattle Angina Questionaire. hubungan antar variabel dilakukan analisis
Kuesioner ini khusus mengukur kualitas data bivariate menggunakan uji Rank
hidup pada pasien PJK, didalamnya Spearman. Dan untuk menentukan faktor
terdapat 19 pertanyaan meliputi 5 buah yang memengaruhi yang paling dominan
dimensi klinis yaitu 1) keterbatasan fisik; selanjutnya dilakukan analisis data
2) stabilitas angina; 3) frekuensi angina; multivariate dengan teknik multiple regresi
4) Kepuasan terhadap pengobatan; dan 5) logistic menggunakan metode backward
Persepsi terhadap penyakit. Nilai reliabilitas stepwise (wald) mengingat variabel terikat
Seattle Angina Questionnaire yaitu 0,83 berupa data kategorik dikotomi. Hasil analisa
untuk dimensi keterbatasan fisik, 0,24 untuk data disajikan dalam bentuk tabel, dan uraian
dimensi stabilitas angina, 0,76 untuk dimensi narasi.
frekuensi angina, 0,81 untuk dimensi
kepuasan terhadap pengobatan, 0,78 untuk
dimensi persepsi terhadap penyakit (Spertus, Hasil Penelitian
et al., 1995), kualitas hidup dari subvariabel
tersebut selanjutnya akan dihitung secara Dari seratus orang responden sebagian besar
keseluruhan kemudian dikategorikan ke berusia lebih dari 45 tahun (91 %) dan berjenis
dalam kategori tinggi dan rendah. kelamin laki-laki (77%) serta memiliki
Kecemasan diukur dengan menggunakan penghasilan antara 1 – 3 juta per bulan (51%).
Zung self-Rating Anxiety Scale (SAS) yang Selain itu sebanyak 53% responden tidak
dirancang oleh William W. K. Zung pada menjalani revaskularisasi jantung dan hanya
tahun 1971 dikembangkan berdasarkan gejala 39% yang menjalani rehabilitasi jantung
kecemasan dalam Diagnostic and Statistical namun sebagian besar responden saat dikaji
Manual of Mental Disorders (DSM-II). tidak memiliki penyakit penyerta (64%) serta
Kuesioner ini berisi 20 item pernyataan yang tidak memiliki kebiasaan merokok (93%).
terdiri dari 15 item untuk pernyataan tentang Variabel independen yang memiliki

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 109


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

hubungan signifikan dengan variabel Hal ini digambarkan lebih lengkap dalam
dependen (kualitas hidup) adalah tabel 1.
revaskularisasi, rehabilitasi jantung, cemas, Dalam pemodelan terdapat dua variabel
depresi dan kesejahteraan spiritual, lebih independen yang tidak dapat diikutkan
lanjut keseluruhan korelasi tersebut memiliki dalam analisis multivariat yaitu variabel
tingkat kesalahan 1% (p < 0,001). Cemas penghasilan dan penyakit penyerta. Hasil
dan depresi memiliki koefisien korelasi analisis multivariat ditampilkan pada tabel
(r) negatif, hal ini berarti semakin tinggi 2. Tabel 2 tersebut tidak terlihat lagi variabel
kecemasan dan depresi maka kualitas jenis kelamin dan kesejahteraan spiritual.
hidup akan semakin rendah. Sebaliknya Kedua variabel tersebut dikeluarkan dari
revaskularisasi, rehabilitasi jantung, dan pemodelan karena memiliki nilai signifikansi
kesejahteraan spiritual memiliki nilai r (p) > 0,05 serta nilai p yang lebih besar
positif hal ini berarti pasien yang menjalani dibandingkan dengan variabel lainnya, dan
revaskularisasi, rehabilitasi jantung dan setelah dikeluarkan tidak merubah nilai Exp
memiliki kesejahteraan spiritual yang tinggi B (OR) > 10% pada variabel yang lain. Dari
akan memiliki kualitas hidup yang tinggi. tabel 2 tersebut juga dapat dilihat bahwa

Tabel 1 Hubungan antara Jenis Kelamin, Penghasilan, Penyakit Penyerta, Revaskularisasi


Jantung, Rehabilitasi Medik, Cemas, Depresi , SIWB dan Kualitas Hidup.
Jenis Peng- Penyakit Revaskul- Rehab Cemas Depresi SIWB Kualitas
Kelamin hasilan Penyerta arisasi Jantung Hidup
Jenis (r) 1 -0,184 -0,097 -0,086 -0,01 0,438** 0,216 -0,142 -0,128
Kelamin
Peng- (r) -0,184 1 0,074 0,167 -0,173 -0,026 -0,120 0,267* 0,016
hasilan
Penyakit (r) -0,097 0,074 1 -0,023 -0,058 -0,043 0,280** -0,156 -0,098
Penyerta
Revasku- (r) -0,086 0,167 -0,023 1 0,438** -0,134 -0,132 -0,118 0,335**
larisasi
Rehab (r) 0,001 0,173 -0,058 0,438** 1 -0,132 -0,059 0,141 0,317**
Jantung
Cemas (r) 0,438** -0,026 -0,043 -0,134 -0,132 1 0,371** -0,197 -0,414**
Depresi (r) 0,216* -0,120 0,280** -0,132 -0,059 0,371** 1 -0,571 -0,481**
SIWB (r) -0,142 0,267** -0,156 0,118 0,141 -0,197 -0,571** 1 0,336**
Kualitas (r) -0,128 0,016 -0,098 0,335** 0,317** -0,414** -0,418** 0,336** 1
Hidup
Keterangan :
*p < 0,05 ; **p < 0,01

Tabel 2 Analisis Multivariate dengan Regresi Logistik


B S.E. Wald df Sig. Exp (B) 95% C.I for EXP (B)
Lower Upper
Cemas 1,555 0,508 9,361 1 0,002 4,736 1,749 12,827
Depresi 1,696 0,567 8,942 1 0,003 5,450 1,794 16,562
Rehabilitasi 1,032 0,558 3,426 1 0,064 2,807 0,941 8,376
jantung
R e v a s - 1,173 0,552 4,524 1 0,033 3,232 1,096 9,528
kularisasi
Constant -3,157 0,665 22,525 1 0,000 0,043

110 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

variabel cemas, depresi dan revaskularisasi serta gangguan seksual (Rosidawati et al.,
merupakan faktor yang memengaruhi 2015) dan secara psikologis pasien dengan
dari kualitas hidup karena memiliki nilai PJK sering mengalami cemas dan depresi
signifikansi < 0,05, sedangkan variabel (Aldana et al., 2006; Fukuoka, Lindgren,
rehabilitasi jantung merupakan faktor Rankin, Cooper, & Carroll, 2007; Davidson
confounding dari variabel revaskularisasi et al., 2013), lebih lanjut Sarafino dan Smith
karena nilai OR berubah > 10 % setelah (2014) mengungkapkan bahwa masalah
rehabilitasi jantung dikeluarkan dari model, psikososial yang dialami oleh pasien dengan
artinya pasien yang menjalani revaskularisasi penyakit kronis adalah cemas, depresi,
jantung memiliki kualitas hidup 3,23 kali lebih kemarahaan, dan keputusasaan. Cemas dan
tinggi dibandingkan dengan pasien yang tidak depresi yang dialami oleh pasien PJK menurut
menjalani revaskularisasi jantung setelah Amin, Jones, Nugent, Rumsfeld, dan Spertus
variabel cemas, depresi dan rehabilitasi medis (2006) dapat terjadi karena diagnosis dokter
dikontrol. Pasien yang tidak mengalami tentang penyakit serius, status kesehatan
kecemasan, kualitas hidupnya lebih tinggi yang memburuk, intervensi pengobatan, dan
4,7 kali dibanding pasien yang cemas setelah kekambuhan gejala yang berulang.
faktor revaskularisasi dan depresi dikontrol. Stres, cemas maupun depresi secara
Dan pasien dengan depresi minimal kualitas langsung dapat memengaruhi jantung.
hidupnya lebih tinggi sebanyak 5,4 kali Berawal dari stimulasi sistem saraf simpatis
dibanding pasien yang mengalami depresi kemudian akan meningkatkan heart rate
setelah faktor cemas dan revaskularisasi (HR), kecepatan konduksi melalui AV node,
dikontrol. Variabel yang memiliki pengaruh dan kekuatan kontraksi atrial dan ventrikel
terbesar terhadap kualitas hidup dapat terlihat jantung serta vasokonstriksi pembuluh
dari nilai exp (B) yang paling tinggi dalam darah yang akan mengaktifkan sistem
hal ini depresi menjadi faktor terbesar yang renin angiotensin. Kondisi tersebut akan
memengaruhi kualitas hidup responden. meningkatkan kebutuhan supply oksigen
di jantung, sedangkan pasien dengan PJK
memiliki gangguan dalam aliran darah
Pembahasan koroner dengan kata lain kebutuhan
oksigen yang meningkat tersebut sulit untuk
Berdasarkan hasil analisis multivariate, dapat terpenuhi (Lewis, Heitkemper, & Dirksen,
diketahui bahwa yang menjadi faktor yang 2010; Monahan, Sands, Neighbors, Marek,
memengaruhi kualitas hidup pada pasien PJK & Green, 2007). Efek yang muncul akibat
dalam penelitian ini adalah cemas, depresi, dari gangguan pemenuhan oksigenasi dapat
dan revaskularisasi jantung dengan depresi berupa nyeri dada, sesak, intoleransi aktivitas
menjadi faktor yang paling berpengaruh dan meningkatkan pula stress ataupun
terhadap kualitas hidup pasien PJK dibanding kecemasan yang sudah dialami sebelumnya.
kedua faktor yang lain. Lebih jauh hasil Lebih lanjut disebutkan bahwa depresi dapat
penelitian menjelaskan bahwa pasien PJK meningkatkan reaksi inflamasi dimana reaksi
yang tidak mengalami kecemasan kualitas ini merupakan bagian intrinsik dari timbulnya
hidupnya 4,7 kali lebih baik dibanding atherosclerosis dan berhubungan dengan
pasien cemas, sedangkan pasien yang pelepasan sitokin (C-reactive protein dan IL-1
tidak mengalami depresi memiliki kualitas dan IL-6) (Frasure-smith, Théroux, & Irwin,
hidup 5,4 kali lebih baik dibanding dengan 2004), oleh Ridker, Hennekens, Roitman-
pasien depresi dan pasien yang menjalani Johnson, Stampfer, dan Allen (1998) disebut
revaskularisasi memiliki kualitas hidup 3,23 sebagai penanda inflamasi masih menurut
kali lebih baik dibanding pasien yang tidak Ridker, et al (1998) penanda inflamasi
menjalani revaskularisasi. ini merupakan faktor yang memengaruhi
Pasien dengan PJK secara fisik mengalami dari insidensi PJK dan menurut Lindmark,
berbagai perubahan yang dapat berpengaruh Diderholm, Wallentin, & Siegbahn (2001)
terhadap aspek lainnya seperti aspek dapat memperburuk prognosis pasien dengan
psikologis dan spiritual. Secara fisik pasien PJK.
dapat mengalami angina, sesak, mudah lelah Efek buruk akibat cemas maupun depresi

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 111


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

seperti yang diuraikan diatas antara lain sesak, PJK pun menjadi lebih tinggi dibandingkan
nyeri dada, dan intoleransi aktivitas dapat dengan pasien yang hanya mengalami cemas
meningkatkan keterbatasan fisik, frekuensi saja.
angina (nyeri dada), dan mengganggu Depresi merupakan faktor yang
stabilitas angina. Kondisi tersebut dapat memengaruhi yang paling signifikan terhadap
memperburuk penyakit dan gejala yang kualitas hidup. Berdasarkan beberapa
dialami sehingga memungkinkan timbulnya penelitian yang sudah dilakukan hal ini
persepsi yang buruk terhadap penyakit, dan dapat terjadi salah satunya berkaitan dengan
rendahnya kepuasaan terhadap pengobatan. serotonin. Di dalam neuron keberadaan
Kelima parameter tersebut merupakan serotonin yang berikatan dengan reseptor
bagian dari kualitas hidup yang diukur dalam serotonin dapat mengaktivasi sinyal kimiawi
penelitian ini, sehingga sangat mungkin yang dipercaya dapat memengaruhi fungsi
ditemukan munculnya korelasi negatif antara psikologis seseorang (pengaturan mood,
variabel cemas maupun depresi dengan hasrat seksual, tidur, nafsu makan) (Belmaker
kualitas hidup pasien PJK seperti yang & Agam, 2008). Serotonin secara eksklusif
terlihat dalam hasil penelitian ini. Sehingga disimpan dalam sirkulasi platelet di perifer
kedua variabel ini menjadi faktor yang (Markovitz & Matthews, 1991 dalam Sanner,
memengaruhi dalam menentukan kualitas 2011). PJK sangat erat kaitannya dengan
hidup pasien tersebut. injuri vaskuler, dan platelet akan melakukan
Cemas dan depresi memiliki perbedaan agregasi dalam merespon hal ini termasuk
dalam tingkat keparahan maupun durasi didalamnya serotonin yang tersimpan dalam
kejadiannya. Kecemasan menurut Videbeck platelet (platelet serotonin). Platelet serotonin
(2014) adalah perasaan tidak nyaman atau ini menstimulasi agregasi platelet lebih lanjut
takut dan mungkin memiliki firasat akan pada tempat injury tersebut dan berkontribusi
ditimpa malapetaka padahal ia tidak mengerti terhadap perkembangan thrombosis (Libby &
mengapa emosi tersebut terjadi. Kecemasan Théroux, 2005). Thrombosis yang terbentuk
dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai dapat menyebabkan sumbatan baru pada
hal positif sebagai peringatan terhadap arteri koroner dan menimbulkan serangan
adanya ancaman, sehingga individu dapat baru.
mempersiapkan proses penyesuaian diri yang Para ilmuwan pada awalnya menduga
lebih efektif (Sadock, Kaplan, & Sadock, bahwa penurunan serotonin berhubungan
2007). Sedangkan depresi disebut juga sebagai dengan kejadian depresi namun pendapat ini
mood disorder menurut Videbeck (2014) kemudian terbantahkan setelah ditemukannya
merupakan perubahan dalam emosi yang Serotonin Reuptake Inhibiting Drugs (SRID).
dimanifestasikan dengan depresi, mania atau Namun demikian masih belum jelas apakah
keduanya. Hal ini memengaruhi kehidupan depresi berhubungan dengan penurunan
seseorang, dengan kesedihan yang sangat atau peningkatan kadar serotonin, para
mendalam dalam jangka waktu yang panjang, peneliti menyatakan bahwa SSRI mampu
agitasi ataupun kegembiraan, menyertai mengembalikan kadar serotonin kembali
keraguan diri, rasa bersalah, dan kemarahan normal pada pasien depresi. Menurut
dan mengubah kehidupan terutama berkaitan Dayan dan Huys (2008) depresi berkaitan
dengan harga diri, pekerjaan dan hubungan dengan peningkatan aktivitas dari sistem
sosial. Berdasarkan uraian diatas dapat serotonin (Dayan & Huys, 2008). Temuan
dilihat bahwa depresi memiliki pengaruh ini memperkuat dugaan terhadap hubungan
negatif yang lebih besar terhadap seseorang antara depresi dengan PJK. Menurut hasil
dibandingkan dengan kecemasan, sehingga penelitian Sanner (2011) bahwa terjadi
efeknya pun terhadap kualitas hidup pasien peningkatan platelet agregasi sebagai respon
dengan PJK akan jauh lebih berat, apalagi dari peningkatan platelet serotonin pada
depresi terjadi dalam jangka waktu yang pasien depresi bahkan pada sebagian pasien
lama. Kesedihan yang berkepanjangan akan depresi ditemukan adanya peningkatan
memengaruhi kemampuan aktivitas fisik platelet agregasi yang cukup tinggi walaupun
dan sosial seseorang sehingga dampak peningkatan platelet serotoninnya minimal,
penurunan kualitas hidup pada penderita jika dibandingkan dengan pasien yang tidak

112 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

mengalami depresi. program rehabilitasi jantung tidak memiliki


Faktor lain yang memengaruhi kualitas efek signifikan dalam persepsi kualitas
hidup pasien jantung koroner adalah hidup. Penelitian lain dengan hasil serupa
revaskularisasi. Revaskularisasi adalah dilakukan oleh Tavella dan Beltrame (2012)
suatu tindakan membuka sumbatan dalam penelitian tersebut dikatakan bahwa
yang terjadi pada pasien dengan PJK. rehabilitasi jantung tidak memengaruhi
Tindakannya dapat berupa terapi trombolitik, kualitas hidup baik yang diukur secara generik
percutaneous coronary intervension maupun spesifik. Padahal dalam penelitian
(PCI) dan coronary artery by pass graft sebelumnya disebutkan bahwa rehabilitasi
(CABG). Revaskularisasi merupakan satu- jantung ini berhubungan dengan penurunan
satunya faktor yang memengaruhi positif gejala angina, peningkatan kebugaran fisik,
yang mampu meningkatkan kualitas hidup mengontrol tekanan darah, dan aritmia serta
pasien PJK dalam penelitian ini. Dengan meningkatkan aliran darah koroner dan
terbukanya kembali aliran darah koroner meningkatkan kesehatan psikologis pasien
hal ini dapat meningkatkan perfusi pada PJK (Connolly, 2009). Masih banyak faktor
otot jantung sehingga dapat meningkatkan yang belum diketahui yang memengaruhi
kembali cardiac output (CO) yang terganggu perbedaan hasil penelitian ini, hal ini
akibat gangguan kontraktilitas miokard. merupakan tantangan bagi praktisi kesehatan
Peningkatan CO dapat meningkatkan aliran untuk terus memperbaiki dan meningkatkan
darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke program rehabilitasi jantung yang sudah ada
seluruh tubuh sehingga metabolisme dapat agar semakin baik dan mampu meningkatkan
berjalan dengan baik lebih lanjut hal ini kualitas hidup pada pasien dengan PJK.
akan meningkatkan kemampuan fisik pasien,
menurunkan frekuensi angina, meningkatkan
persepsi yang baik terhadap penyakit, Simpulan
serta meningatkatkan kepuasaan terhadap
pengobatan. Peningkatan dari parameter Berdasarkan hasil penelitian yang sudah
tersebut akan berpengaruh terhadap dilakukan dapat disimpulkan bahwa
peningkatan skor kualitas hidup pasien. faktor yang memengaruhi kualitas hidup
Namun demikian sumbatan dapat kembali pada pasien PJK meliputi depresi, cemas
terjadi pada pasien yang sudah menjalani dan revaskularisasi. Depresi dan cemas
terapi revaskularisasi jantung terutama pada merupakan faktor yang memengaruhi negatif
pasien yang tidak menjalankan pola hidup sedangkan revaskularisasi jantung merupakan
sehat termasuk didalamnya ketidakmampuan faktor yang memengaruhi positif untuk
dalam mencegah timbulnya cemas dan kualitas hidup. Dari ketiga variabel tersebut
depresi. depresi merupakan variabel yang paling
Penelitian ini menemukan bahwa signifikan memengaruhi kualitas hidup pada
rehabilitasi jantung merupakan faktor pasien PJK. Hal ini memungkinkan karena
confounding dari revaskularisasi jantung depresi berhubungan dengan pelepasan
artinya revaskularisasi jantung baru akan katekolamin, dan pelepasan faktor-faktor
meningkatkan kualitas hidup sebanyak 3,23 penanda inflamasi serta disfungsi serotonin.
kali jika variabel rehabilitasi jantung, cemas Faktor-faktor tersebut berperan dalam
dan depresi dikontrol. Rehabilitasi jantung meningkatkan kebutuhan oksigen pada
dalam penelitian ini tidak termasuk kedalam jantung serta dapat memperburuk kejadian
faktor yang memengaruhi kualitas hidup. thrombosis pada pasien dengan PJK. Kondisi
Beberapa penelitian sejalan dengan hasil tersebut baik secara langsung maupun tidak
ini antara lain penelitian yang dilakukan di langsung berpengaruh terhadap kemampuan
Hongkong yang menyebutkan bahwa tidak fisik pasien, frekuensi dan stabilitas angina,
ada perbedaan yang signifikan dalam persepsi persepsi terhadap penyakit, serta kepuasaan
kualitas hidup pada pasien yang menjalani terhadap pengobatan, kelima hal ini
rehabilitasi jantung ataupun tidak (Chan, merupakan dimensi dari kualitas hidup yang
Chau, & Chang, 2005), lebih lanjut penelitian diukur dalam penelitian ini.
ini menyatakan bahwa partisipasi dalam Fokus peningkatan kualitas hidup pada

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 113


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

pasien PJK masih menitikberatkan pada among women with coronary heart disease.
aspek fisik, diet dan gaya hidup saja walaupun Quality of Life Research : An International
saat ini sudah banyak dilakukan penelitian Journal of Quality of Life Aspects of
yang mempelajari hubungan dan dampak Treatment, Care and Rehabilitation, 16(3),
aspek psikologis maupun spiritual terhadap 363–73. http://doi.org/10.1007/s11136-006-
kualitas hidup. Berdasarkan penelitian ini 9135-7.
stress, cemas maupun pencegahan depresi
perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik Connolly, S. (2009). Cardiac rehabilitation
lagi melalui berbagai program manajemen should be tailored to the patient. In Symposium
stress, cemas dan depresi terutama di dalam Cardiovascular medicine (Vol. 253, pp.
program rehabilitasi jantung. Selain itu perlu 22,24–26). Retrieved from http://www.ncbi.
dilakukan penelitian lebih lanjut menyangkut nlm.nih.gov/pubmed/19606611.
faktor-faktor yang memengaruhi depresi
pada pasien PJK untuk melihat lebih jauh Daaleman, T. P., & VandeCreek, L. (2000,
lagi penyebab depresi yang terjadi sehingga November). Placing religion and spirituality
kedepan intervensi yang diberikan dapat in end-of-life care. JAMA : The Journal of
lebih tepat mengatasi penyebab. the American Medical Association.

Dayan, P., & Huys, Q. J. M. (2008). Serotonin,


Daftar Pustaka Inhibition, and Negative Mood. PLoS
Computational Biology, 4(2), e4. http://doi.
Aldana, S. G., Whitmer, W. R., Greenlaw, org/10.1371/journal.pcbi.0040004.
R., Avins, A. L., Thomas, D., Salberg, A.,
… Fellingham, G. W. (2006). Effect of Davidson, K. W., Bigger, J. T., Burg, M. M.,
intense lifestyle modification and cardiac Carney, R. M., Chaplin, W. F., Czajkowski,
rehabilitation on psychosocial cardiovascular S., … M, G. (2013). Centralized, Stepped,
disease risk factors and quality of life. Patient Preference–Based Treatment
Behavior Modification, 30(4), 507–25. http:// for Patients With Post–Acute Coronary
doi.org/10.1177/0145445504267797. Syndrome Depression. JAMA Internal
Medicine, 173(11), 997. http://doi.
Amin, A. ., Jones, A. M. ., Nugent, K., org/10.1001/jamainternmed.2013.915.
Rumsfeld, J. ., & Spertus, J. . (2006). The
prevalence of unrecognized depression in Failde, I. I., & Soto, M. M. (2006). Changes in
patients with acute coronary syndrome. Health Related Quality of Life 3 months after
American Heart Journal, 152(5), 928–934. an acute coronary syndrome. BMC Public
Retrieved from http://ovidsp.ovid.com/ Health, 6, 18. http://doi.org/10.1186/1471-
ovidweb.cgi?T=JS&PAGE=reference&D=e 2458-6-18.
med7&NEWS=N&AN=2006527695.
Frasure-smith, N., Ph, D., Théroux, P., &
Belmaker, & Agam, G. (2008). Major Irwin, M. (2004). The Association Between
Depressive Disorder. The New England Major Depression and Levels of Soluble
Journal of Medicine, 358, 55 – 68. http://doi. Intercellular Adhesion Molecule 1 ,. American
org/10.1056/NEJMra073096 Journal of Psyc, 161, 271–277.

Chan, D. S. K., Chau, J. P. C., & Chang, Fukuoka, Y., Lindgren, T. G., Rankin, S.
A. M. (2005). Acute coronary syndromes: H., Cooper, B. A., & Carroll, D. L. (2007).
Cardiac rehabilitation programmes and Cluster analysis: a useful technique to
quality of life. Journal of Advanced Nursing, identify elderly cardiac patients at risk for
49, 591–599. http://doi.org/10.1111/j.1365- poor quality of life. Quality of Life Research,
2648.2004.03334.x. 16(10), 1655–1663. http://doi.org/10.1007/
s11136-007-9272-7.
Christian, A. H., Cheema, A. F., Smith, S. C., &
Mosca, L. (2007). Predictors of quality of life Ginting, H., Näring, G., van der Veld, W.

114 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

M., Srisayekti, W., & Becker, E. S. (2013). d=EMBASE&issn=00987484&id=doi:&atit


Validating the Beck Depression Inventory- le=Relationship+between+interleukin+6+an
II in Indonesia’s general population and d+mortality+in+patients+with+unstable+cor
coronary heart disease patients. International onary+arter.
Journal of Clinical and Health Psychology, Mako, C., Galek, K., & Poppito, S. R.
13(3), 235–242. http://doi.org/10.1016/ (2006). Spiritual pain among patients with
S1697-2600(13)70028-0. advanced cancer in palliative care. Journal of
Palliative Medicine, 9(5), 1106–1113. http://
Gustad, L. ., Laugsand, L. ., Janszky, I., doi.org/10.1089/jpm.2006.9.1106.
Dalen, H., & Bjerkeset, O. (2014). Symptoms
of anxiety and depression and risk of acute McDowell, I. (1989). Measuring
myocardial infarction: the HUNT 2 study. Health — a Guide To Rating Scales
European Heart Journal, 35(21), 1394–403. and Questionnaires. The Journal of the
http://doi.org/10.1093/eurheartj/eht387. Canadian Chiropractic Association (Vol.
33). Oxford University Press. http://doi.
Gustad, L. T., Laugsand, L. E., Janszky, I., org/10.1179/108331900786166731.
Dalen, H., & Bjerkeset, O. (2014). Symptoms
of anxiety and depression and risk of acute Monahan, F. D., Sands, J. K., Neighbors, M.,
myocardial infarction: the HUNT 2 study. Marek, J. ., & Green, C. J. (2007). Phipps’
European Heart Journal, 35(21), 1394–403. Medical Surgical Nursing: Health And
http://doi.org/10.1093/eurheartj/eht387. Illness Persfective (8th ed.). philadelphia:
Mosby Elsevier.
Krisnayanti, K. D. (n.d.). Depresi dan cemas
Pada PAsien dengan Sinrom Koroner Akut. Muhammad, I., He, H.-G., Koh, K.,
Thompson, D. R., Kowitlawakul, Y., &
Lane, D., Carrol, D., & Lip, G. Y. H. (2003). Wang, W. (2014). Health-related quality of
Anxiety, Depression, and Prognosis after life and its predictors among outpatients with
Myocardial Infarction. Journal of the coronary heart disease in Singapore. Applied
American College of Cardiology, 42(10), Nursing Research : ANR, 27(3), 175–80.
1808 – 1810. http://doi.org/10.1016/j. http://doi.org/10.1016/j.apnr.2013.11.008.
jacc.2003.08.018.
Ridker, P. M., Hennekens, C. H., Roitman-
Lewis, S. M., Heitkemper, M. M., & Dirksen, Johnson, B., Stampfer, M. J., & Allen, J.
S. R. (2010). Medical Surgical Nursing (1998). Plasma concentration of soluble
Assesment and Management of Clinical intercellular adhesion molecule 1 and risks
Problems (7th ed.). St. Louis: Mosby. of future myocardial infarction in apparently
healthy men. Lancet. http://doi.org/10.1016/
Libby, P., & Théroux, P. (2005). S0140-6736(97)09032-6.
Pathophysiology of Coronary Artery
Disease. Circulation, 111(25), Rosidawati, I., Ibrahim, K., & Nuraeni, A.
3481–3488. http://doi.org/10.1161/ (2015). Kualitas Hidup Pasien Pasca Bedah
CIRCULATIONAHA.105.537878. Pintas Arteri Koroner (BPAK) Di RSUP
DR Hasan Sadikin Bandung. Universitas
Lindmark, E., Diderholm, E., Wallentin, L., Padjadjaran.
& Siegbahn, A. (2001). Relationship between
interleukin 6 and mortality in patients with Sadock, B. J., Kaplan, H. I., & Sadock, V. A.
unstable coronary artery disease: Effects of (2007). Synopsis of Psychiatry Behavioral
an early invasive or noninvasive strategy. Sciences/Clinical Psychiatry (Tenth).
Journal of the American Medical Association, Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
286(17), 2107–2113. Retrieved from http://
www.embase.com/search/results?subaction= Sanner, E. J. (2011). The Role of Serotonin
viewrecord&from=export&id=L34041595\ in Depression and Clotting in The Coronary
nhttp://sfxhosted.exlibrisgroup.com/sfxtul?si Artery Disease Population. The University

Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016 115


Aan Nuraeni : Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien Jantung Koroner

of Texas Health Science Center at Houston Tavella, R., & Beltrame, J. F. (2012). Cardiac
School of Nursing. rehabilitation may not provided a quality of
life benefit in coronary artery disease patients.
Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2014). Health BMC Health Services Research, 12(1), 406.
Psychology: Biopsychosocial Interactions http://doi.org/10.1186/1472-6963-12-406.
(8th ed.). New Jersey: Wiley.
Videbeck, S. L. (2014). Psychiatric Mental
Spertus, J. A., Winder, J. A., Dewhurst, T. Nursing. (Sixth, Ed.)Psychiatric Mental
A., Deyo, R. A., Prodzlnski, J., Mcdonell, Health Nursing. Philadelphia: Lippincott
M., & Fihn, S. D. (1995). Development Williams & Wilkins.
and Evaluation I ? f the Seattle Angina
Questionnaire : A New Functional Status Widiyanti, M. (2013). Hubungan Antara
Measure for Coronary Artery Disease, 25(2). Depresi, Cemas dan Sindrom Koroner
Akut. Retrieved July 16, 2015, from
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian http://download.portalgaruda.org/article.
Kuantitatif Kualitatif & RND. Bandung : php?article=14464&val=970.
Alfabeta.

116 Volume 4 Nomor 2 Agustus 2016