Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peran pendidikan sangant penting dalam kehidupan manusia bahkan tidak dapat dipisahkan dari
keseluruhan proses kehidupan manusia. Dengan kata lain, kebutuhan manusia terhadap pendidikan
bersifat mutlak dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, bangsa dan negara.
Jika sistem pendidikanya berfungsi secara optimal maka akan tercapai kemajuan yang dicita-citakanya
sebaliknya bila proses pendidikan yang dijalankan tidak berjalan secara baik maka tidak dapat mencapai
kemajun yang dicita-citakan.
Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap pendidikan, atau
tepatnya terhadap praktek pendidikan, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu
komunitas atau suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada kontibusinya pendidikan. misalnya
sangat yakin bahwa pendidikanlah yang dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok.
Pendapat yang sama juga bisa kita baca dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia
Nomer 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain
menyatakan: “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha
agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang
dikenal dan diakui oleh masyarakat”.
Namun didalam dunia pendidikan sendiri banyak masalah-masalah pendidikan yang dihadapi di era
globalisasi ini. Baik itu masalah yang bersifat internal maupun eksternal.
Kondisi rakyat Indonesia sekarang ini sungguh sangat memprihatinkan, terutama dibidang pendidikan.
Untuk mencapai program wajib belajar yang dicanangkan oleh pemerintah saja, yaitu sembilan tahun,
masih banyak masyarakat yang sangat kesulitan untuk merealisasikan hal tersebut. Bukan tanpa alasan
atas ketidak mampuan mereka akan hal itu. Ketidak mampuan masyarakat untuk mendapatkan
pendidikan yang layak tersebut karena masih banyaknya lembaga-lembaga pendidikan terutama
lembaga pendidikan negeri yang masih mahal dalam menerapkan biaya pendidikannya. Ditambah
pungutan-pungutran liar yang belakangan semakin marak di instansi-instansi pendidikan yang ada
sekarang ini. Hal ini harus segera diperhatikan secara khusus oleh pemerintah dan ada penyelasaian
yang jelas, terutama kementrian pendidikan dan kebudayaan. Mengingat pentingnya akan hal tersebut
demi menjadikan bangsa ini bangsa yang maju dalam hal pendidikannya .
Dari latar belakang diataslah, makalah ini akan menguraikan pembahasan tentang “Komersialisasi
Pendidikan” yang ada di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Dari Uraian diatas dapat kita rumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
a. Apa pengertian komersialisasi pendidikan ?
b. Apa dampak komesialisasi pendidikan ?
c. Bagaimana solusi alternatif penanggulangan komesialisasi pendidikan?
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui pengertian komersialisasi pendidikan.
b. Untuk mengetahui dampak komesialisasi pendidikan.
c. Untuk menjelaskan solusi alternatif penanggulangan komesialisasi pendidikan.
D. Manfaat Penulisan
a. Bagi Penyelenggara Pendidikan
Dengan materi ini dapat dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pendidikan seghingga tidak terjerumus
pada praktek komersialisasi pendidikan.
b. Bagi Pendidik
Materi tersebut manjadi tembahan wawasan tentang penyelenggaraan pendidikan sehingga pendidik
tidak terjebak pada praktek komersialisasi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
KOMERSIALISASI PENDIDIKAN

A. Pengertian Pendidikan dan kendala-kendala yang diahadapi


1. Pengertian Pendidikan
Secara umum pendidikan adalah sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang
fundamental, baik menyangkut daya fikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional). Pendidikan
merupakan aktivitas yang diorientasikan kepada pengembangan individu manusia secara optimal.
Menurut Langeveld, Pendidikan ialah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan
kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap
melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa (atau yang diciptakan
oleh orang dewasa seperti sekolah, buku, putaran hidup sehari – hari dan sebagainya) dan di tujukan
kepada orang – orang yang belum dewasa.
Sedangkan menurut UU No. 20 tahun 2003, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Dari beberapa pengertian atau batasan pendidikan yang diberikan para ahli tersebut, meskipun berbeda
secara redaksional, namun secara essensial terdapat kesatuan unsur – unsur atau faktor yang terdapat
didalamnya yaitu bahwa pengertian tersebut menunjukan suatu proses bimbingan, tuntunan atau
pimpinan yang didalamnya mengandung unsur – unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan dan
sebagainya.

2. Kendala-kendala yang dihadapi


Kendala yang dihadapi dalam dunia pendidikan kita saat ini tak lain disebabkan oleh beberapa hal yang
sangat urgen dan sangat mendasar bagi masyarakat, seperti:
a. Tingginya biaya pendidikan menyebabkan masyarakat kurang mamputidak dapat melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
b. Mengejar dan mengagungkan gelar akademis telah menjadi budaya ditengah-tengah masyarakat
Indonesia. Hal ini mengakibatkan masyarakat melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan gelar
akademis tersebut seperti jalan pintas tanpa melalui proses pembelajaran dengan mengandalkan uang
sehingga praktik komersialisasi pendidikan semakin subur.
c. Penyebab Mahalnya Biaya Pendidikan Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk
menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku
pendidikan.

B. Komersialisasi Pendidikan
1. Pengertian Komesialisasi Pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komersialisasi diartikan: Perbuatan menjadikan sesuatu sebagai
barang dagangan. Merujuk pada arti itu, komersialisasi pendidikan dapat diartikan: Menjadikan
pendidikan sebagai barang dagangan. “cap” komersialisasi pendidikan atau mengomersialisasikan
pendidikan kerap ditimpakan kepada kebijakan atau langkah-langkah yang menempatkan pendidikan
sebagai sektor jasa yang diperdagangkan. Sebenarnya, bukan sesuatu yang baru, bila ada yang
berpendapat, segala sesuatu yang orang butuhkan dan untuk mendapatkannya orang rela untuk
membayarnya adalah suatu kegiatan usaha (bisnis). Tidak peduli apakah yang mereka hasilkan itu
barang atau jasa. Jean Baptiste Say (1767-1832), ekonom Prancis, sudah berpendapat seperti itu ratusan
tahun yang lalu (George Soule, Pemikiran Para Pakar Ekonomi Terkemuka, 1994, h.66). Jadi, tidak usah
heran apabila saat ini sektor pendidikan dan beberapa sektor yang dulunya dianggap “menguasai hajat
hidup orang banyak”, sekarang menjadi barang dagangan atau dikomersialisasikan .
Adapun istilah “komersialisasi pendidikan” mengacu pada dua pengertian yang berbeda, yaitu:
a. Komersialisasi pendidikan yang mengacu lembaga pendidikan dengan program serta perlengkapan
mahal. Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi
kuat, sehingga lembaga seperti ini tidak dapat disebut dengan istilah komersialisasi karena mereka
memang tidak memperdagangkan pendidikan. Komersialisasi pendidikan jenis ini tidak akan
mengancam idealisme pendidikan nasional atau idealisme Pancasila, akan tetapi perlu dicermati juga,
karena dapat menimbulkan pendiskriminasian dalam pendidikan nasional.
b. Komersialisasi pendidikan yang mengacu kepada lembaga pendidikan yang hanya mementingkan
uang pendaftaran dan uang gedung saja, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.
Komersialisasi pendidikan ini biasanya dilakukan oleh lembaga atau sekolah-sekolahyang menjanjikan
pelayanan pendidikan tetapi tidak sepadan dengan uang yang mereka pungut dan lebih mementingkan
laba. Itu hal yang lebih berbahaya lagi, komersialisasi jenis kedua ini dapat pula melaksanakan praktik
pendidikan untuk maksud memburu gelar akademik tanpa melalui proses serta mutu yang telah
ditentukan sehingga dapat membunuh idealisme pendidikan Pancasila. Komersialisasi ini pun telah
berdampak pada tingginya biaya pendidikan.
Secara gamblang, masyarakat “disuguhi sesuatu” yang (seolah-olah) mengamini kondisi tersebut.
Contoh sederhana dapat dilihat ketika memasuki tahun ajaran baru. Tak terbayangkan betapa
banyaknya orang tua yang mengeluh akibat buku pelajaran yang digunakan tahun ajaran sebelumnya
tidak lagi dapat digunakan di tahun ajaran berikutnya. Kondisi ini tentu sangat memberatkan masyarakat
yang sebagian besar masih hidup di bawah garis kemiskinan. Siswa dipaksa menggunakan buku
pelajaran baru sebagai pengganti buku lama yang konon “tidak layak” dipakai acuan lagi, dengan harga
yang relatif tinggi. Padahal jika dicermati, materi atau pokok bahasan di dalamnya sama persis, tanpa
ada “ilmu” baru yang dicantumkan.

2. Aspek-aspek yang Memunculkan Komesialisasi Pendidikan.


a. Aspek Politik
Pendidikan yang merupakan kebutuhan dasar manusia dan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia
juga memiliki aspek politik karena dalam pengelolaan harus berdasarkan ideologi yang dianut negara.
Adapun ideologi pendidikan kita adalah ideologi demokrasi Pancasila, yaitu setiap warga negara
mendapat kebebasan dan hak yang sama dalam mendapat pendidikan. Dalam Pembukaan UUD 45 pada
alinea ke-4 , hal ini pun tercermin ada kalimat mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas dasar itu sudah
seharusnya pemerintah dalam menetapkan setiap kebijakan pendidikan merujuk pada ideologi negara.
Akan tetapi dalam kenyataannya melalui pemerintah mengeluarkan peraturan (PP) No. 61 Tahun 1999
tentang Penetapan Perguruan Tinggi sebagai Badan Hukum, pemerintah telah memberikan otonomi
pada perguruan tinggi dalam mengelola pendidikan lembaganya termasuk pencarian dana bagi biaya
operasionalnya. Apabila pendidikan tetap mahal dan dikomersialisasikan, masyarakat yang kurang
mampu tidak akan dapat meningkatkan status sosial mereka, dan ironisnya komersialisasi pendidikan ini
didukung oleh tatanan sosial dan diterima oleh masyarakat.
b. Aspek Budaya Budaya
Bangsa kita mengagungkan gelar akademis dan sebagaicontoh dihampir setiap dinding rumah yang
keluarganya berpendidikan selalu terpajang foto wisuda anggota keluarga lulusan dari
universitasmanapun. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita masih menganut budaya yang degree
minded. Budaya berburu gelar ini berkembang pada lembaga pemerintah yang mengangkat atau
mempromosikan pegawai yang memiliki gelar sarjana tanpa terlebih dahulu diteliti dan dites
kemampuan akademik mereka. Ironisnya program pendidikan seperti ini banyak diminati oleh pejabat-
pejabat.
c. Aspek Ekonomi
Ekonomi sudah pasti kita akan membicarakan aspek ekonomi terkait dengan masalah biaya. Biaya
pendidikan nasional seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah, akan tetapi dengan keluarnya
UUNo. 20 Tahun 2003 pada bab XIV pasal 50 ayat 6 dinyatakan bahwa perguruan tinggi menentukan
kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan lembaganya. Hal ini menunjukkan
ketidakmampuan pemerintah membiayai pendidikan nasional, khususnya pendidikan tinggi yang dulu
mendapat subsidi dari pemerintah sebanyak75% dan 25% lagi berasal dari biaya masyarakat termasuk
dana SPP.
d. Aspek Sosial
Pendidikan sangat menentukan perubahan strata sosial seseorang, yaitu semakin tinggi pendidikan
seseorang, akan semakin meningkat pula strata sosialnya, begitu juga sebaliknya. Sesuai dengan
pendapat Kartono (1997: 97) yang menyatakan: tingginya tingkat pendidikan dan tingginyataraf
kebudayaan rakyat akan menjadi barometer bagi pertumbuhan bangsa dan negara yang bersangkutan.
Akan tetapi bagaimana orang dapat mencapai pendidikan tinggi apabila biaya pendidikan tersebut
mahal dan hanya dapat dinikmati oleh masyarakat golongan ekonomi mapan saja. lantas bagaimana
dengan masyarakat golongan ekonomi lemah.
e. Aspek Teknologi
Dengan berkembang pesatnya teknologi maka semakin menuntut sekolah-sekolah untuk menunjang
berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Tapi, tak jarang lembaga pendidikan
menjadikannya sebagai tameng untuk melakukan komersialisasi pendidikan. Biasanya lembaga
pendidikan berujar, “Ini dilakukan agar para peserta didik bisa mengikuti perkembangan teknologi yang
dari hari ke hari semakin maju. “Oleh karena, uang masuk ataupun SPP di sekolah ataupun perguruan
tinggi semakin mahal, implikasinya peserta didik yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah tidak
bisa menyanggupinya. Ujung-ujungnya, mereka ketinggalan dalam hal teknologi. Padahal dengan
perkembangan teknologi bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan, dan
kehidupan bangsa.

3. Dampak Komersialisasi Pendidikan


a. Rakyat kalangan bawah yang menginnginkan pendidikan, tak mampu untuk merealkan keinginannya
dikarenakan biaya pendidikan yang mahal.
b. Memperkaya pihak-pihak tertentu
c. Biaya yang dibayar oleh wali murid/wali mahasiswa/i tidakse banding dengan sarana prasarana yang
diterima.
d. Biaya yang dibayar tidak sebanding dengan kualitas lulusan suatulembaga pendidikan formal-informal
e. Menimbulkann kesenjangan sosial, kelompok orang kaya dengan orang miskin
4. Solusi Alternatif Penanggulangan Komersialisasi Pendidikan
Munculnya komersialisasi pendidikan adalah sebagai akibat dari pelepasan tanggung jawab pemerintah
yang telah mencabut subsidi pembiayaan terutama pada perguruan tinggi dan pemberian hak otonomi
serta status BHMN pada perguruan tinggi negeri. Perlu diketahui banyak dari para pe-bisnis menjadikan
dunia pendidikan sebagai salah satu tonggak utama usaha mereka dengan membuka yayasan-yayasan
pendidikan tentu saja dengan tujuan “mendapatkan keuntungan” bukan lagi “mencerdaskan kehidupan
bangsa” seperti tertera pada UUD 1945.
Prinsip nirlaba mestinya menjadi roh dalam penyelenggaraan pendidikan nasional. Sehingga diharapkan
bisa mencegah terjadinya praktek komersialisasi dan kapitalisasi dunia pendidikan. Karena prinsip
nirlaba dalam penyelenggaraan pendidikan, menekankan bahwa kegiatan pendidikan tujuan utamanya
tidak mencari laba, melainkan sepenuhnya untuk kegiatan meningkatkan kapasitas dan/atau mutu
layanan pendidikan. Dewasa ini seperti yang sudah diketahui dana APBN sebesar 20% tidak dapat
mencegah makin maraknya komersialisasi pendidikan diIndonesia, belum lagi pendidikan yang
seyogyanya dijadikan jasa yangdapat dinikmati setiap orang seolah-olah menjadi komoditas utama
yangdapat bahkan harus dijual dengan harga tinggi.
Berikut solusi alternatif penanggulangan komersialisasi pendidikan :

a. Pembentukan lembaga non pemerintah yang diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya sistem
pendidikan. Alasan mengapa lembaga ini harus bersifat non pemerintah adalah agar dalam
pelaksanaannya, lembaga ini tidak terpengaruh dan tidak tertekan oleh pihak manapun. Lembaga ini
nantinya diharapkan mampu bersikap mandiri dan independen, sehingga ketika terjadi penyimpangan,
mereka berani melaporkan apa yang sebenarnya terjadi tanpa takut akan ancaman apapun dan dari
siapapun. Lembaga ini berhak melakukan evaluasi terkait kebijakan-kebijakan pemerintah dibidang
pendidikan, seperti dana BOS dan sekolah dengan status RSBI, agar dapat berjalan sebagaimana
mestinya. Meskipun bersifat nonpemerintah, dalam melaksanakan tugasnya, lembaga ini tetap harus
berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan untuk mencapai tujuan mulia bersama.
b. Pemberian beasiswa yang lebih gencar kepada para pelajar yangberprestasi dan tidak mampu dalam
hal biaya. Upaya ini sebagai antisipasi agar para pelajar yang berprestasi dan tidak mampu dapat terus
melanjutkan pendidikan tanpa harus terbebani biaya dan termotivasi untuk belajar lebih baik.
Pencanangan program “Wajib Belajar 12 Tahun”. Pada program ini, nantinya SMA/sederajat
memperoleh aliran dana BOS, sehingga biaya pendidikan dapat ditanggung oleh pemerintah dan tidak
begitu memberatkan bagi orangtua/wali murid. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi
komersialisasi dan komoditasi pendidikan di jenjang SMA, dan biaya tinggi tak lagi menjadi alasan bagi
mereka yang tidak mampu untuk berhenti belajar disekolah.
c. Pemeriksaan rutin transaksi keuangan di seluruh lembaga pendidikan (tingkat dasar, menengah, dan
perguruan tinggi), baik negeri maupun swasta, oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah. Dari
lembaga pemerintah dapat diwakilkan oleh Badan PemeriksaKeuangan (BPK), sedangkan dari lembaga
non pemerintah dapat diwakilkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli dengan dunia
pendidikan.
d. Penarikan uang untuk biaya sekolah seharusnya disampaikan dengan jelas dan terinci. Biasanya
modus penarikan untuk pendidikan yang bermacam- macam. Diantaranya pembayaran ekstrakulikuler,
dana untuk keselamatan, dana untuk membeli gorden kelas, biaya wisuda, sertabiaya untuk membeli
LKS dan seragam.
e. Penggunaan dana BOS dengan sasaran yang tepat. Adanya dana BOS dari Dinas Pendidikan
seharusnya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk menunjang sarana prasarana lembaga pendidikan.
Tak hanya biaya sekolah yang mahal tetapi fasilitas yang didapat tidak sebanding dengan biaya yang
dikeluarkan. Biaya yang besar dikeluarkan juga mempengaruhi kualitas dari peserta didik. Semakin
mahal sekolah maka semakin baik kualitas pendidikan ditempat tersebut. Apakah hal ini dapat
dibenarkan, tentu saja tidak. Hal ini tidak menjamin.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah kami uraiankan makalah tentang Komersialisasi Pendidikan di atas maka dapat kami simpulkan
sebagai berikut:
1. Pengertian Komersialisasi Pendidikan adalah Perbuatan menjadikan sesuatu sebagai barang
dagangan. Merujuk pada arti itu, komersialisasi pendidikan dapat diartikan: Menjadikan pendidikan
sebagai barang dagangan. “cap” komersialisasi pendidikan atau mengomersialisasikan pendidikan kerap
ditimpakan kepada kebijakan atau langkah-langkah yang menempatkan pendidikan sebagai sektor jasa
yang diperdagangkan.
2. Komersialisasi pendidikan mengacu pada dua hal yaitu komersialisasi dalam arti a). komersialisasi
pendidikan yang mengacu lembaga pendidikandengan program serta perlengkapan mahal, b).
komersialisasi pendidikan yang mengacu kepada lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang
pendaftaran dan uang gedung saja, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.
3. Dampak Komersialisasi Pendidikan, yaitu rakyat kalangan bawah yang menginnginkan pendidikan, tak
mampu untuk merealkan keinginannya dikarenakan biaya pendidikan yang mahal, -memperkaya pihak-
pihak tertentu, -biaya yang dibayar oleh wali murid/wali mahasiswa/i tidakse banding dengan sarana
prasarana yang diterima, -biaya yang dibayar tidak sebanding dengan kualitas lulusan suatulembaga
pendidikan formal-informal, -menimbulkann kesenjangan sosial, kelompok orang kaya dengan orang
miskin
4. Solusi Alternatif Penanggulangan Komersialisasi Pendidikan adalah Pembentukan lembaga non
pemerintah yang diberi kewenangan untuk mengawasi jalannya sistem pendidikan, – Pemberian
beasiswa yang lebih gencar kepada para pelajar yangberprestasi dan tidak mampu dalam hal biaya, –
Pemeriksaan rutin transaksi keuangan di seluruh lembaga pendidikan (tingkat dasar, menengah, dan
perguruan tinggi), baik negeri maupun swasta, oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah, –
Penggunaan dana BOS dengan sasaran yang tepat. Adanya dana BOS dari Dinas Pendidikan seharusnya
digunakan dengan sebaik-baiknya untuk menunjang sarana prasarana lembaga pendidikan.
B. Saran dan Harapan
Perlu adanya badan pengawas intensif yang benar-benar mengawasi jalannya dana untuk lembaga
pendidikan. Tentu diikuti oleh anggota badan pengawas sendiri yang tidak “nakal”. Yang akan
mengakibatkan kerugian Negara. Dan jika mengimpikan sebuah proses pendidikan yang murah di dalam
kondisi saat ini. Maka salah satu jalan adalah dengan membuat sebuah model pendidikan baru, yaitu
model pendidikan alternatif. Model pendidikan yang berpihak kepada kaum menengah kebawah. Model
pendidikan yang bertujuan untuk membebaskan dari segala bentuk ketertindasan. Impian hanya
menjadi khayalan jika kita berharap bias mengubah system pendidikan formal sekarang ini, tanpa
membentuk sebuah sistem pendidikan alternatif sebagai bentuk perlawanan.
Demikian makalah yang kami susun, pastilah dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan
dan kesalahan karena kami sadar ini merupakan keterbatasan dari kami. Makanya kami mengharap
kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita. Amin.

Perayaan tentu tak etis hanya berakhir dengan perayaan itu sendiri yang seringkali menyisakan
romantisme semu serta pesta pora tanpa kesadaran. Masuk bulan ketiga tahun ini penulis
berkesempatan mengunjungi kota Batam. Ketika berkesempatan berkeliling kota, urat geli penulis
sempat tergelitik oleh papan iklan sebuah sekolah. Papan iklan itu terang – terangan menuliskan bahwa
ada diskon 0% untuk masuk sekolah “A” pada periode tertentu, lewat dari tanggal tersebut berarti tidak
ada diskon. Sang model dalam billboard besar itu menurut hemat penulis lebih mirip seorang bankir,
pengusaha atau bisnisman dari pada pembawaan seorang pendidik. Dengan stelan jas necis serta
senyuman ala salesman, penulis jadi berpikir iklan ini sedang menawarkan pendidikan atau jasa
pendidikan?

Jika Ki Hajar Dewantara masih hidup atau guru Umar Bakri itu sungguh nyata adanya, tentu mereka
tidak akan tinggal diam menghadapi fenomena bisnis pendidikan ini. Setidaknya bukan keadaan ini yang
beliau kehendaki. Khusus Ki Hajar Dewantara –pendidik dan pejuang bangsa – seorang yang menyadari
pentingnya investasi sumber daya manusia melalui pendidikan. Indonesia sebagai negara yang
mencantumkan cita – cita “mencerdaskan kehidupan bangsa” dalam pembukaan undang – undang
dasar, sudah selayaknya menjadikan pendidikan sebagai prioritas dalam membangun bangsa.

Selama hampir 63 tahun merdeka, bangsa kita justru seolah kehilangan jati diri. Sekolah – sekolah
merasa hebat jika bertarif mahal dan berstandar internasional bahkan guru pun harus impor dari negri
sebrang. Bahasa Indonesia tidak lagi menjadi bahasa pengantar dan pemersatu di sekolah. Jika begini
keadaannya lalu dimana tempat untuk Indonesia: tanah air, bangsa dan bahasa seperti yang
dikumandangkan para pemuda pada tahun 1928? Apakah cukup kata Indonesia dalam peta dunia,
sedangkan Nusantara tak lagi dipenuhi “jiwa” Indonesia?

Sekolah seperti yang ditulis Louis Althusser merupakan salah satu Idiological State Apparatus dimana
negara bisa “memaksakan” idiologi, nilai atau kehendaknya melalui institusi ini. Dalam arti positif, ia bisa
menjadi media ampuh menamkan rasa nasionalisme, cinta tanah air dan penghayatan pada sejarah
bangsa. Namun apa daya, pendidikan kita telah menjadi ajang mencari untung. Penyelenggara
pendidikan mencari untung dari biaya pendidikan yang dibayarkan siswa, siswa juga mengadu untung
dengan ijazah yang diperolehnya. Pendidikan kemudian berbelok tujuan dari upaya mencerdaskan
kehidupan bangsa menjadi upaya berburu legalisasi proses belajar.

Padahal apakah benar sertifikat yang dikeluarkan lembaga pendidikan berbanding lurus dengan kualitas
apalagi kapabilitas intelektual peserta didik, apalagi jika kelulusan masih ditentukan dengan uji
penyeragaman seperti yang berlangsung hingga saat ini? Anak SMP juga tahu UAN tidak memenuhi rasa
keadilan dan kemanusiaan. Tapi sudahkah para pengambil kebijakan yang mengemban amanat rakyat
memahami hal ini? Lagi – lagi adik – adik kita yang ada di SLTP dan SLTA yang tahu jawabannya.

Keringat dan darah para pejuang pendidikan tak selayaknya dibayar dengan “melacurkan” pendidikan
dengan hitungan materi semata. Dalam iklim binis “jasa pendidikan” seperti sekarang ini, wajar saja jika
selama kurun 86 tahun sejak Ki Hajar Dewantara merintis Taman Siswa pendidikan kita tidak lagi
melahirkan banyak pemikir besar sekelas Ki HD sendiri atau rekan - rekan sezamannya seperti Sukarno,
Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka yang juga penggagas pendidikan untuk rakyat.

Indonesia bukanlah negara bangsa semata, tapi juga sebuah cita – cita bagaimana umat manusia hidup
bermartabat selaras dengan harkat kemanusiaannya di bumi Nusantara. Jauh hari founding fathers kita
sudah mengingatkan bahwa kemerdekaan hanyalah jembatan emas menuju Indonesia yang adil
makmur sejahtera. Karenanya dalam mengisi kemerdekaan, suara dan keinginan rakyat adalah sabda
yang harus didahulukan penyelenggaraannya, bukan malah memperjualbelikan sesuatu yang memang
hak rakyat; dalam hal ini pendidikan atau hak untuk menjadi cerdas dan bermartabat.