Anda di halaman 1dari 17

BAB I

ANATOMI WAJAH

Wajah adalah bagian anterior dari kepala, dengan batas kedua telinga di lateral,
dagu di inferior dan garis batas tumbuhnya rambut di superior. Wajah terbentuk dari
tulang belakang dan jaringan lunak yang terletak diatasnya (jaringan otot, jaringan tulang
rawan, pembuluh darah, saraf, pembuluh limfe dan kelenjar-kelenjar), yang secara
bersama-sama memberikan tampilan dan fingsi dari wajah..

KULIT WAJAH
Garis kerutan dikulit wajah berjalan membentuk pola kulit bawang dari mulut
sampai ke telinga, sejajar dan bersesuaian dengan sumbu panjang otot yang berada
dibawahnya. Sebaliknya, keriput ketuaan memiliki pola tegak lurus dengan otot
dibawahnya. Jika dilakukan insisi pada wajah, hendaklah dilakukan sejajar dengan garis
kerutan wajah sehongga penyembuhkan luka memberikan parut minimal.

OTOT WAJAH
Berdasarkan embriologinya, otot-otot ekspresi wajah terbentuk dari mesoderm
lengkung faring II. Otot-otot wajah dipersarafi oleh saraf lengkung faring II yaitu nervus
fasialis (N.VII).
Berdasarkan fungsinya, otot-otot wajah diklasifikasikan sebagai otot-otot sfingter
dan otot-otot dilator, kedua jenis otot tersebut mengelilingi orifisium pada wajah (mata,
hidung, mulut) dan memiliki fungsi yang berlawanan. Fungsi keduanya secara silih
berganti mengatur gerakan orifisium pada wajah sehingga terbentuk mimik dan ekspresi
dari wajah.

Otot-otot kelopak mata


M. Orbikularis Okuli terdiri atas 2 bagian yaitu pars palpebralis dan pars orbitalis.
Pars palpebralis terbatas pada kelopak mata, sedangkan pars orbitalis meluas melewati
batas tulang orbita pada wajah. Pars palpebralis terdiri dari serabut yang muncul dari
ligamen palpebra medial, melengkung sepanjang kelopak mata didepan tarsus dan
berinsersi pada raphe palpebra lateralis. Beberapa serabut pada kelopak mata bawah
menempel di medial pada krista lakrimalis posterior dan sakus lakrimalis. Pars orbitalis
berjalan dari krista lakrimalis anterior dan prosesus frontalis maksila. Otot-otot ini
letaknya mendatar melalui dahi dan pipi. Persarafan M. Orbikularis Okuli didapatkan dari
cabang temporalis dan cabang zigomatikus N.VII.
Kontraksi otot pars palpebralis menyebabkan mata tertutup secara lembut atau
menyebabkan gerakan mengedip. Pada gerakan ini bulu mata masih terlihat dan isi sakus
konjungtiva tidak berkurang. Kontraksi otot pars orbitalis menyebabkan alis terletak lebih
rendah. Gerakan ini biasanya terjadi saat akan melindungi mata dari cahaya yang terlalu
terang. Jika kedua jenis otot berkontraksi bersamaan, mata akan tertutup rapat (strwing up
the eyes) sehingga isi sakus konjungtiva berkurang dan bulu mata tidak terlihat. Air mata
dapat mengalir ke pipi. Pada penutupan mata secara normal, bagian sisi lateral kelopak
mata atas menutup terlebih dahulu daripada sisi medial sehingga memudahkan
penyebaran sekresi kelenjar lakrimal menuju medial (hidung).
M. Levator Palpebra superior termasuk otot penggerak bola mata dan mendapat
persarafan dari nervus trochlearis.
M. Oksipitofrontalis termasuk bagian dari otot kepala dan mendapat persarafan
dari nervus facialis.

Otot-otot cuping hidung.


M. Kompresor Naris berjalan dari maksila dan terletak tranversal pada hidung.
Kontraksi otot ini menyebabkan cuping hidung menyempit.
M. Dilator Nasir berjalan dari maksila dan berinsersi pada alae nasi lateral.
Kontraksi otot ini menyebabkan cuping hidung melebar.
M. Procerus dam M. Levator Labii Superior Alae Nasi jika berkontraksi akan
menyebabkan elevasi hidung namun tidak begitu dapat dilihat secara nyata.
Semua otot cuping hidung mendapat persarafan dari cabang zigomatikus dan
cabang bukalis N. VII.

Otot-otot bibir dan pipi


M Orbikularis Oris terdiri dari serabut intrinsik dan ekstrinsik. Serabut intrinsik
terdiri atas incisive slips dan mental slips, menempel pada tulang dekat garis tengah dan
masing-masing sisi berjalan mengelilingi bibir. Serabut intrinsik ini adalah serabut yang
terdapat dari seluruh serabut M. Orbikularis Oris dan melekat erat pada mukosa bibir.
Serabut ekstrinsik terutama dari M. Bucinator, menyusun sebagian besar M. Orbicularis
Oris. Serabut ini berkumpul disuatu lokasi yang disebut modiolus. Dari modiolus, serabut
teratas dan terbawah menuju bibir atas dan bibir bawah. Serabut yang terletak ditengah
akan mengalami penyilangan, dimana serabut yang terletak diatas menuju bibir bawah
dan demikian sebaliknya. Kontraksi M. OrbikulARIS Oris menyebabkan mulut mengecil
hingga diameter terkecil (seperti saat bersiul). Otot-otot ini mendapat persarafan dari
cabang bukalis dan cabang mandibularis N VII. Kerusakan cabang N VII misalnya akibat
pembedahan kelenjar submandibula akan menyebabkan tarikan sudut bibir tertinggi.
M Bucinator adalah otot utama pipi yang membentuk batas otot lateral dalam
rongga mulut. Otot ini berorigo pada tonjolan alveolaris mandibula dan maksila serta
kedua raphe pterigomandibula. Serabut otot ini berjalan ke arah sudut mulut dan
bergabung dengan serabut M. Orbikularis Oris melewati bibir atas dan bibir bawah.
Persarafan otot ini didapat dari cabang bukalis N. VII. Otot ini bertanggung jawab atas
gerakan mengunyah dan dibutuhkan untuk mengembalikan bolus makanan dari kantong
pipi ke gigi molar. Otot ini sama sekali tidak menggerakkan rahang. Sebenarnya otot ini
merupakan otot ekspresi muka sesuai persarafan N VII dan tidak dikelompokkan ke
dalam otot-otot pengunyah (otot masseter, temporalis, pterigoid) yang dipersarafi cabang
mandibula nervus trigeminus.

Otot-otot dilator bibir


Terdiri atas kelompok otot yang menyebar dari M. Orbikularis Oris seperti jari-
jari roda. Beberapa otot berinsensi pada bibir, lainnya pada modiolus. Otot-otot ini
dipersarafi cabang bukalis dan cabang mandibula N VII. Kontraksi otot-otot ini
menyebabkan mulut membuka, dan gerakan ini biasanya terjadi secara simultan dengan
gerakan membuka rahang.
 M.Levator Labii Superior Alae Nasi berjalan dari prosesus frontalis os maksila dan
berinsersi pada kartilago alae nasi dan bibir atas.

 M Levator Labii Superior berjalan dari margo inferior orbita dan berinsersi pada bibir
atas. Otot ini berada di atas foramen tempat keluarnya nervus infraorbita.

 M Zigomatikus Minor berjalan dari suara zigomatikomaksila, berkumpul pada
modiolus.

 M Zigomatikus Mayor berkumpul pada modiolus.

 M Levator Anguli Oris terletak profunda, berjalan dari fossa kanina menuju
modiolus, kemudian keluar kembali sebagai M.Depressor Anguli Oris yang terletak
superfisial.

 M Depressor Anguli Oris.
 M Risorius dianggap sebagai perluasan ke atas platisma dan berkumpul pada
modiolus. Terdapat rongga diatas dan dibawah otot ini sehingga pada tempat itu arteri
dan vena fasialis terlihat.

 M Depressor Labii Inferior terletak profunda dari M Depresor Anguli Oris, berinsersi
pada bibir bawah.

 M Mentalis berjalan dari simfisis mentalis dekat garis tengah lalu turun menuju dagu.
Kontraksi otot ini menyebabkan elevasi dagu dan sering membuat dagu berkerut.

SARAF SENSORIK WAJAH


Kulit wajah dipersarafi oleh ketiga cabang nervus trigeminus, kecuali sebagian
kecil daerag di atas angulus mandibula dan kelenjar parotis yang dipersarafi nervus
aurikularis mayor (C2 dan C3) Nervus oftalmikus mempersarafi regio yang berkembang
dari tonjolan frontonasal, nervus maksilaris, untuk regio yang berkembang dari tonjolan
maksila (lengkung faring I), nervus mandibularis untuk regio yang berkembang dari
tonjolan mandibula (lengkung faring I).
1. Nervus oftalmikus mempersarafi kulit dahi, kelopak mata atas, konjungtiva dan
hidung. Saraf ini memiliki 5 percabangan :
a. Nervus lakrimalis mempersarafi kulit dan konjungtiva kelopak mata bagian
lateral.
b. Nervus supraorbitalis terdapat di tepi atas orbita pada takik supraorbita. Beberapa
cabangnya mempersarafi kulit dan konjungtiva kelopak mata atas bagian tengah
serta kulit dahi.
c. Nervus supratroklearis terdapat ditepi atas orbita lebih medial dari saraf
supraorbital. Beberapa cabangnya mempersarafi kulit dan konjungtiva kelopak
mata atas bagian medial serta kulit dahi bagian bawah.
d. Nervus infratroklearis meniggalkan orbita di bawah M.Oblikus superior,
mempersarafi kulit dan konjungtiva kelopak mata atas bagian medial serta
hidung.
e. Nervus nasalis eksterna meninggalkan hidung dan keluar diantara os nasal dan
kartilago nasal. Saraf ini mempersarafi kulit hidung sampai je ujung hidung.
2. Nervus maksilaris mempersarafi kulit hidung bagian posterior, bagian bawah
kelopak mata, pipi, bibir atas dan sisi lateral orbita. Saraf ini memiliki 3 percabangan
:
a. Nervus infraorbitalis merupakan lanjutan nervus maksilaris yang memasuki orbita
dan muncul di wajah melalui foramen infraorbita. Cabang-cabangnya
mempersarafi kelopak mata bawah, pipi, sisi lateral hidung dan bibir atas.
b. Nervus zigomatikofasialis memasuki wajah melalui lubang kecil pada sisi lateral
os zigomatikum, mempersarafi kulit di atas tonjolan pipi.
c. Nervus zigomatikotemporalis keluar dari fosa temporalis melalui lubang kecil
pada sisi posterior os zigomatikum, mempersarafi kulit di atas temporal.
3. Nervus mandibularis mempersarafi kulit bibir bawah, bagian bawah wajah, daerah
temporal dan sebagian aurikula, kemudian saraf ini menarik ke arah sisi kulit kepala.
Saraf ini memiliki 3 percabangan :
1. Nervus mentalis keluar dari foramen mandibula dan mempersarafi kulit bibit
bawah dan dagu.
2. Nervus bukalis keluar dari bawah otot masseter sisi anterior, mempersarafi kulit
bagian pipi.
3. Nervus aurikulotemporalis naik dari tepi atas kelenjar parotis antara pembuluh
darah temporal superfisial dan aurikula, mempersarafi kulit aurikula, meatus
auditorius eksterna, permukaan luar membran timpani dan kulit kepala di atas
aurikula.

SARAF MOTORIS WAJAH


Semua otot wajah yang tersebut diatas dipersarafi oleh cabang-cabang nervus
fasialis. Saraf ini tidak mengandung serabut sensoris untuk wajah. Saraf proprioseptif
yang diterima otot wajah berasal dari cabang kutaneus nervus trigeminus yang
mempersarafi kulit di atas otot bersangkutan.
Nervus fasialis keluar dari basis kranii melalui foramen stilomastoideus, di dekat
origo M. Digastrikus venter posterior. Sepanjang perjalanannya, saraf ini
memberikan percabangan sebagai berikut :
1. Nervus aurikularis posterior berjalan ke atas di belakang telinga, mempeersarafi
bagian oksipital M.Oksipitofrontalis.
2. Cabang muskular yang mempersarafi M.Digastrikus venter posterior dan
M.Stilohyoid. selanjutnya saraf ini berlanjut sampai mencapai sisi poosteromedial
kelenjar parotis.
3. Sebelum memasuki kelenjar parotis, saraf ini bercabang menjadi nervus
temporozigomarikus di sebelah atas, dan nervus servikofasialis di bagian bawah.
Dalam kelenjar parotis cabang-cabang tadi membentuk jalinan dan saat keluar
dari kelenjar parotis sudah menjadi 5 cabang akhir nervus fasialis :
a. Cabang temporal, keluar dari tepi atas kelenjar parotis, mempersarafi
aurikular anterior-superior, sebagian frontalis. Fungsi mengerutkan dahi.
b. Cabang zigomatikus atas dan bawah yang masing-masing berjalan di atas dan
bawah mata, mempersarafi frontalis dan bagian atas M.Orbikularis Okuli dan
otot-otot bawah mata.
c. Cabang bukalis mempersarafi M.Bucinator dan serabut otot bibir atas.
d. Cabang mandibularis marginal mempersarafi serabut otot bibir bawah.
e. Cabang servikalis berjalan vertikal ke bawah dari tepi bawah kelenjar parotis,
mempersarafi platisma.
PEMBULUH ARTERI WAJAH

Wajah banyak menerima aliran darah dari 2 pembuluh arteri utama yaitu arteri
fasialis dan arteri temporalis superfisial.
Arteri fasialis adalah cabang submandibula, arteri ini melengkung sepanjang
tepi inferior korpus mandibula pada sisi anterior otot masseter. Di lokasi ini, denyut
arteri dapat teraba jelas. Arteri ini lalu berjalan naik dan berkelok menuju sudur
mulut, dilapisi oleh platisma dan otot risorius. Arteri ini masih naik lagi di bawah otot
zigomatikus dan M.Levator Labii Superior, berjalan sepanjang sisi hidung menuju
sudut medial mata kemudian beranastomosis dengan cabang arteri oftalmikus.
Sepanjang perjalanannya, arteri ini mempercabangkan :
1. Arteri submentalis keluar setinggi tepi bawah korpus mandibula kemudian berjalan ke
depan sepanjang tepi bawah mandibula, memperdarahi kulit dagu dan bibir bawah.
2. Arteri Labialis inferior keluar dari dekat sudut mulut kemudian berjalan ke arah
medial pada bibir bawah dan mengadakan endo-to-end anastomosis dengan arteri
sejenis kontra lateralnya.
3. Arteri Labialis Superior keluar dari mulut kemudian berjalan ke arah medial pada
bibir atas, memiliki cabang yang menuju septum dan alae nadi.
4. Arteri Nasalis Lateral keluar saar arteri fasilais berjalan naik sepanjang sisi hidung,
memperdarahi kulit hidung.
Arteri temporalis superfisialis adalah cabang terminal arteri karotis eksterna setinggi
kelenjar parotis, arteri ini menaik hingga mencapai depan aurikula, mempersarafi regio
temporal dan kulit kepala. Arteri fasialis transversa merupakan cabang arteri temporalis
superfisialis yang berawal dari kelenjar parotis, berjalan ke depan menyilang pipi.
Arteri supraorbitalis dan arteri supratroklearis merupakan cabang arteri oftalmikus
yang memperdarahi kulit dahi. Pada kulit kepala, kedua jenis arteri ini bernastomosis
dengan arteri temporalis superfisialis membentuk hubungan sistem karotis interna dan
eksterna.
PEMBULUH VENA WAJAH
Aliran darah balik dari regio frontal dibawa oleh supraorbital dan vena
supratroklear, melewati sisi medial kantus, kemudian bergabung membentuk vena
angularis. Selanjutnya vena angularis disebut vena fasialis, berjalan bersama arteri
fasialis sampai suatu titik di bawah tepi inferior mandibula, kemudian menembus fasia
servikalis profunda untuk bergabung dengan cabang anterior vena retromandibula.
Aliran darah balik dari regio temporal dibawa oleh cabang-cabang vena
temporalis superfisial. Selanjutnya vena ini bergabung dengan vena maksilaris dari
pleksus pterigoideus membentuk vena retromandibula yang berjalan ke bawah melewati
kelenjar parotis. Pada saat keluar dari sisi bawah kelenjar parotis, vena retromandibula
bercabang menjadi cabang anterior dan cabang posterior. Cabang anterior bergabung
dengan vena fasialis bermuara ke vena jugularis interna. Cabang posterior menembus
fasia servikalis profunda dan bergabung dengan vena aurikularis posterior berujung pada
vena jugularis eksterna.
Anastomosis vena-vena wajah dengan vena-vena otak :
 Disudut medial mata vena fasialis beranastomosis dengan vena oftalmika dan
bermuara pada sinus kavernosus otak.

 Vena fasialis profunda cabang vena fasialis beranastomosis dengan pleksus
pterigoideus, dimana pleksus ini dihubungkan dengan sinus kavernous oleh vena
yang melewati foramen ovale.

ALIRAN LIMFE WAJAH


Aliran limfe dari dahi dan bagian anterior wajah bermuara pada kelenjar getah
bening submandibula. Aliran limfe dari sisi-sisi lateral wajah termasuk sisi lateral
kelopak-kelopak mata bermuara pada kelenjar getah bening parotis. Aliran limfe dari
bagian medial bibir bawah dan kulit dagu bermuara pada kelenjar getah bening
submental.

KELENJAR PAROTIS

ANATOMI

Kelenjar parotis yang merupakan kelenjar saliva terbesar, terletak secara bilateral di depan
telinga, antara ramus mandibularis dan prosesus mastoideus dengan bagian yang meluas ke
muka di bawah lengkung zigomatik (Leeson dkk., 1990; Rensburg, 1995). Kelenjar parotis
terbungkus dalam selubung parotis (parotis shealth). Saluran parotis melintas horizontal dari
tepi anterior kelenjar. Pada tepi anterior otot masseter, saluran parotis berbelok ke arah
medial, menembus otot buccinator, dan memasuki rongga mulut di seberang gigi molar ke-2
permanen rahang atas (Leeson dkk., 1990; Moore dan Agur, 1995).

PAROTIDEKTOMI

Prosedur pembedahan yang paling umum untuk pengangkatan tumor parotid disebut
PAROTIDEKTOMI SUPERFISIAL, disebut demikian karena mengangkat keseluruhan
lobus superfisial kelenjar parotid lengkap dengan tumor.

Bedah parotid merupakan operasi besar, dan sangat penting karena pengangkatan kelenjar
parotid memerlukan pemotongan yang hati-hati dan teliti dan preservasi syaraf wajah. Syaraf
wajah merupakan syaraf penting yang keluar dari dasar tengkorak, melalui zat parotid dan
membagi menjadi lima cabang rumit atau lebih, yang memasok otot-otot animasi wajah.
Otot-otot ini memengaruhi fungsi-fungsi seperti penutupan kelopak mata, mengerutkan dahi,
tersenyum dan meniup. Bidang syaraf wajah dan cabangnya membagi kelenjar parotid
menjadi lobus superfisial dan lobus dalam, dan karena kebanyakan tumor terletak di dalam
lobus superfisial, parotidektomi superfisial adalah prosedur pembedahan yang sesuai. Risiko
kerusakan permanen pada syaraf wajah kurang dari 1 % jika pembedahan dilakukan oleh
dokter yang berpengalaman dalam bedah parotid. Apabila tumor terletak di lobe dalam dari
kelenjar parotid, maka baik lobus superfisial dan lobus dalam diangkat, prosedur ini disebut

PAROTIDECTOMI TOTAL, yang dilakukan lagi dengan preservasi yang hati-hati pada
saraf wajah dan semua cabang periferinya.

Umumnya bedah kelenjar parotid dilakukan melalui sayatan yang cukup besar yang dimulai
dari bagian atas belakang dan membelok ke bawah dengan lembut sampai leher paling
bawah, yang disebut sayatan Blair termodifikasi. Alasan untuk sayatan lebar tradisional ini
adalah agar dapat mengidentifikasi dengan hati-hati dan mempelajari saraf wajah dari titik
keluarnya di dasar tengkorak melalui kelenjar.

Namun, selama satu dekade terakhir, sayatan yang jauh lebih estetis, yang disebut sayatan
facelift termodifikasi, telah dikembangkan untuk mengangkat tumor parotid. Sayatan ini juga
dimulai di bagian atas telinga, tetapi membelok di sekeliling cuping telinga di belakang
telinga, dilanjutkan ke garis rambut bukan ke bawah leher. Sayatan ini nyaris tidak terlihat
setelah penyembuhan total, oleh karena itu lebih disukai pasien. Meskipun pasien harus
sangat berhati-hati untuk memilih pendekatan ini, saat ini kami rutin melakukan sayatan
facelift termodifikasi pada kebanyakan pasien yang memerlukan bedah parotid.

Bentuk pemulihan bedah parotid cepat. Umumnya pasien hanya menginap satu malam di
rumah sakit, dan diperbolehkan meninggalkan rumah sakit sehari setelah bedah dilakukan
dengan fungsi normal dan diet, mobilitas mandiri dan sakit pascaoperasi yang minimal.
Jahitan diambil seminggu setelah pembedahan.

KOMPLIKASI :
1. Lesi nervus fasialis
Biasanya temporer, bila permanen dikoreksi dengan :-
 Neurotransfer menggunakan n hipoglossus
 Nervgraft dengan n aurikularis magnus
 Muskulo temporalsing pada bibir dan lidload pada palbebra superior
2. Infeksi
Berikan antibiotika sesuai pola kuman,lakukan kultur pus bila ada pusnya.
3. Fistel
Biasanya akan menutup spontandengan perawatan luka dan bebat tekan
4. Sindroma Frey’s,
Disebabkan oleh crosinnervasi cabang parasimfatis(sekretomotorik) dari korda timpani
yangikut n aurikulo temporalis yang terpotong.
5. Hematoma
6. Anestesia didaerah telinga
BAB II
LAPORAN KASUS

Nama : NR
Usia :56 tahun
Jenis kelamin :Perempuan

Anamnesis
Keluhan utama : Adanya benjolan di depan bawah telinga kanan.
Telaah : Keluhan benjolan di depan bawah telinga kanan yang makin lama makin
besar sejak 2 tahun yang lalu, tidak nyeri dan tidak merah, tidak disertai
demam dan tidak dikeluhkan mulut mencong serta tidak disertai
penurunan berat badan.
RPO :-
RPT :-

Pemeriksaan Fisik :
Tanda Vital : Sens : CM BB : 56 kg
TD : 120/80 mmHg TB : 149 cm
HR : 88 x/i
RR : 20 x/i
Temp : 36,3°C

Status Lokalisata :
Pada pemeriksaan Telinga, hidung dan tenggorok tidak didapatkan kelainan. Regio parotis
dekstra didapatkan benjolan ukuran 5x4x2 cm, kenyal, dan ada bagian yang fluktuatif, tidak
nyeri tekan, tidak terdapat tanda-tanda radang, permukaan licin, tidak terfiksir pada jaringan
disekitarnya dan tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening leher. Pada pemeriksaan
fisik tidak ditemukan tanda parese N.Fasialis.

Pemeriksaan Penunjang :
Saat itu ditegakkan diagnosis kerja tumor parotis dekstra, dan direncanakan untuk dilakukan
FNA,. Hasil pemeriksaan FNA (No. S.759-05) didapatkan hasil makroskopik, keluar cairan 10
cc merah kecoklatan, dari pemeriksaan mikroskopik hanya tampak eritrosit (darah) dengan sel
makrofag, tak tampak sel-sel tumor, kesan hematom. Dari CT scan parotis didapatkan hasil
kesan, sugestif tumor parotis superfisial kanan. Selanjutnya direncanakan untuk pengangkatan
tumor dalam narkose, untuk itu dilakukan pemeriksaan laboratorium darah, rontgen toraks PA,
EKG dan dari konsul bagian Penyakit Dalam tidak ada kontra indikasi untuk dilakukan operasi
dalam narkose.

Tatalaksana :
Pada hari ke 2 dilakukan operasi parotidektomi superfisial dektra dengan pemeliharaan saraf
fasial. Insisi menembus subkutis dimulai dari anterior tragus kearah inferior kebagian bawah
lobulus membelok ke posterior menyusuri tepi batas depan M. sternokleidomastoideus dan
melengkung setinggi hioid. Dilakukan identifikasi massa tumor, selanjutnya dilakukan diseksi
secara tumpul dengan melepaskan kapsul tumor dari jaringan sekitarnya. N. Fasialis
diidentifikasi dan cabang-cabangnya dan dibebaskan dari jaringan sekitarnya, massa tumor
dengan bagian yang kistik mengandung cairan berwarna coklat kehitaman dilepaskan secara
intoto, dengan ukuran 5x4x2 cm, dilakukan pemasangan salir, luka operasi ditutup lapis demi
lapis. Selama perawatan keadaan umum baik, luka operasi tenang , pada pemeriksaan tidak
ditemukan tanda-tanda parese N. Fasialis. Pengobatan pasca operasi diberikan Antibiotik,
analgetik, antiimolamasi steroid dan neurotrofik. Salir (drain) dicabut hari ketiga pasca tindakan.
Dari Pemeriksaan Patologi Anatomi (No.P.2173-05) terhadap massa tumor didapatkan hasil,
kesan pleomorfik adenoma dengan bagian-bagian yang melebar kistik serta sialodenitis kronis.
Pada hari ke tujuh pasca operasi jahitan dibuka, luka operasi tenang, dan tidak terdapat tanda-
tanda parese saraf fasial. Pada follow up satu dan dua bulan pasca operasi tidak terdapat tanda-
tanda kekambuhan dan tanda sindroma frey.
BAB III
DISKUSI

Pada follow up satu dan dua bulan pasca operasi pada pasien ini tidak terdapat tanda-tanda
sindroma Frey dan kekambuhan, tapi masih butuh follow up lebih lama mengingat adenoma
pleomorfik mempunyai ciri khas tumbuh lambat dan kekambuhan lambat.6 Pada pasien ini,
dilakukan pemeliharaan saraf fasial, seperti dikatakan
Eisele DW, Johns ME bahwa pemeliharaan saraf fasial harus dilakukan kecuali tumor
melibatkan saraf fasial, potong beku (frozen section) digunakan untuk menentukan batas bebas
tumor.3 Pada pasien ini seharusnya waktu operasi dilakukan potong beku, namun tidak dapat
dilakukan karena saat operasi belum ada fasilitas untuk itu. Pada evaluasi pasca operasi pada
pasien ini tidak terdapat tanda-tanda kelumpuhan saraf fasial. Witt RL melaporkan bahwa
insiden kelumpuhan saraf fasial pasca operasi tumor jinak parotis antara 3-5%, sedangkan
Harney et al mendapatkan 17% dari 75 pasien dengan tumor jinak parotis yang menjalani
parotidektomi superfisial mengalami kelumpuhan saraf fasial yang bersifat sementara, semuanya
telah pulih setelah 12 bulan, dengan waktu pulih rata-rata 4,5 bulan, tidak terdapat kelumpuhan
permanen.18 Komplikasi setelah operasi yang lain seperti Sindroma Frey dan fistel kelenjar liur
tidak ditemukan pada pasien ini.
Referensi :
1. Sadler TW head and neck. In : Sadler TW editor. Langeman’s medical embryology
5th edition. Baltimore : Williams & Wilkins, 1985 ; p281 – 308.
2. McMinn RMH. Face. In : McMinn RMH (editor). Last’s anatomy : regional and
applied. 9th edition. London : Churchill-Livingstone, 1994 : p445-53.
3. Anderson JE (editor). Grant’s atlas of anatomy. 8th edition. Baltimore : Williams &
Wilkins, 1983.
4. Staubesand J (editor). Atlas anatomi manusia Sobota. Edisi ke-19.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1989.