Anda di halaman 1dari 29

BAB I

ANATOMI WAJAH

Wajah adalah bagian anterior dari kepala, dengan batas kedua telinga di lateral,
dagu di inferior dan garis batas tumbuhnya rambut di superior. Wajah terbentuk dari
tulang belakang dan jaringan lunak yang terletak diatasnya (jaringan otot, jaringan tulang
rawan, pembuluh darah, saraf, pembuluh limfe dan kelenjar-kelenjar), yang secara
bersama-sama memberikan tampilan dan fingsi dari wajah..

KULIT WAJAH
Garis kerutan dikulit wajah berjalan membentuk pola kulit bawang dari mulut
sampai ke telinga, sejajar dan bersesuaian dengan sumbu panjang otot yang berada
dibawahnya. Sebaliknya, keriput ketuaan memiliki pola tegak lurus dengan otot
dibawahnya. Jika dilakukan insisi pada wajah, hendaklah dilakukan sejajar dengan garis
kerutan wajah sehongga penyembuhkan luka memberikan parut minimal.
ANATOMI DASAR KEPALA (CRANIUM)
Tulang Kepala (Os. Cranium)

1. Gubah tengkorak yang terdiri atas tulang-tulang seperti :


a. Os frontal (tulang dahi)
b. Os parietal (tulang ubun-ubun)
c. Os Occipital (tulang kepala bagian belakang)
2. Dasar tengkorak, yang terdiri dari tulang-tulang seperti :
a. Os Sfenoidalis (tulang baji), tulang yang terdapat ditengah-tengah dasar tengkorak
dan berbentuk seperti kupu-kupu, dengan tiga pasang sayap.
b. Os Ethimoidalis (tulang tapis), terletak disebelah depan dari os sfenoidal diantara
lekuk mata.
c. Selain kedua tulang tersebut diatas dasar tengkorak dibentuk pula oleh tulang-
tulang lain seperti : tulang kepala belakang, tulang dahi dan tulang pelipis.
3. Samping tengkorak, dibentuk oleh tulang-tulang seperti :
a. Tulang pelipis ( os Temporal )
b. Sebagian tulang dahi
c. Tulang ubun-ubun
d. Tulang baji.
Os. Cranium tersusun atas:
1 tulang dahi (os.frontale)
2 tulang ubun-ubun (os.parietale)
1 tulang kepala belakang (os.occipitale)
2 tulang baji (os.sphenoidale)
2 tulang pelipis (os.temporale)
2 tulang tapis (os.ethmoidale)

Sutura
Tulang-tulang tengkorak kepala dihubungkan satu sama lain oleh tulang bergerigi yang disebut
sutura. Sutura-sutura tersebut adalah :
1) Sutura coronalis yang menghubungkan antara os frontal dan os parietal.
2) Sutura sagitalis yang menghubungkan antara os parietal kiri dan kanan.
3) Sutura lambdoidea/ lambdoidalis yang menghubungkan antara os parietal dan os occipital.

Bagian muka/wajah (os.splanchocranium)


2 tulang rahang atas (os.maxilla)
2 tulang rahang bawah (os.mandibula)
2 tulang pipi (os.zygomaticum)
2 tulang langit-langit (os.pallatum)
2 tulang hidung (os.nasale)
2 tulang mata (os.laximale)
1 tulang lidah (os.hyoideum)
2 tulang air mata (os.lacrimale)
2 tulang rongga mata (os.orbitale)

Tengkorak wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari tengkorak otak. Didalam
tengkorak wajah terdapat rongga-rongga yang membentuk rongga mulut (cavum oris), dan
rongga hidung (cavum nasi) dan rongga mata (orbita). Tengkorak wajah dibagi atas dua bagian:
Bagian hidung terdiri atas :
1. Os Lacrimal (tulang mata) letaknya disebelah kiri/kanan pangkal hidung di sudut mata.
2. Os Nasal (tulang hidung) yang membentuk batang hidung sebelah atas
3. Os Konka nasal (tulang karang hidung), letaknya di dalam rongga hidung dan bentuknya
berlipat-lipat.
4. Septum nasi (sekat rongga hidung) adalah sambungan dari tulang tapis yang tegak.

Bagian rahang terdiri atas tulang-tulang seperti :


1. Os Maksilaris (tulang rahang atas)
2. Os Zigomaticum, tulangpipi yang terdiri dari dua tulang kiri dan kanan.
3. Os Palatum atau tulang langit-langit, terdiri dari dua dua bua tulang kiri dan kanan
4. Os Mandibularis atau tulang rahang bawah , terdiri dari dua bagian yaitu bagian kiri dan
kanan yang kemudian bersatu di pertengahan dagu. Dibagian depan dari mandibula
terdapat processus coracoid tempat melekatnya otot.
OTOT WAJAH
Berdasarkan embriologinya, otot-otot ekspresi wajah terbentuk dari mesoderm
lengkung faring II. Otot-otot wajah dipersarafi oleh saraf lengkung faring II yaitu nervus
fasialis (N.VII).
Berdasarkan fungsinya, otot-otot wajah diklasifikasikan sebagai otot-otot sfingter
dan otot-otot dilator, kedua jenis otot tersebut mengelilingi orifisium pada wajah (mata,
hidung, mulut) dan memiliki fungsi yang berlawanan. Fungsi keduanya secara silih
berganti mengatur gerakan orifisium pada wajah sehingga terbentuk mimik dan ekspresi
dari wajah.

Otot pada bagian kepala dibagi menjadi 5 bagian:


1. Otot pundak kepala, funsinya sebagian kecil membentuk gales aponeurotika disebut juga
muskulus oksipitifrontalis, dibagi menajdi 2 bagian:
a. Muskulus frontalis, funsinya mengerutkan dahi dan menarik dahi mata
b. Oksipitalis terletak di bagian belakang, fungsinya menarik kulit ke belakang
2. Otot wajah terbagi atas:
a. Otot mata (muskulus rektus okuli) dan otot bola mata sebanyak 4 buah
b. Muskulus oblikus okuli/otot bola mata sebanyak 2 buah, fungsinya memutar mata
c. Muskulus orbikularis okuli/otot lingkar mata terdapat di sekliling mata, funsinya
sebagai penutup mata atau otot sfingter mata
d. Muskulus levator palpebra superior terdapat pada kelopak mata. Fungsinya
menarik, mengangkat kelopak mata atas pada waktu membuka mata
3. Otot mulut bibir dan pipi, terbagi atas:
a. Muskulus triangularis dan muskulus orbikularis oris/otot sudut mulut, fungsinya
menarik sudut mulut ke bawah
b. Muskulus quadratus labii superior, otot bibir atas mempunyai origo penggir lekuk
mata menuju bibir atas dan hidung
c. Muskulus quadratus labii inferior, terdapat pada dagu merupakan kelanjutan pada
otot leher. Fungsinya menarik bibir ke bawah atau membentuk mimik muka ke
bawah
d. Muskulus buksinator, membentuk dinding samping rongga mulut. Origo pada taju
mandibula dan insersi muskulus orbikularis oris. Fungsinya untuk menahan
makanan waktu mengunyah.
e. Muskulus zigomatikus/otot pipi, fungsinya untuk mengangkat dagu mulut ke atas
waktu senyum.
4. Otot pengunyah/otot yang bekerja waktu mengunyah, terbagi atas:
a. Muskulus maseter, fungsinya mengangkat rahang bawah pada waktu mulut
terbuka
b. Muskulus temporalis fungsinya menarik rahang bawah ke atas dan ke belakang
c. Muskulus pterigoid internus dan eksternus, fungsinya menarik rahang bawah ke
depan
5. Otot lidah sangat berguna dalam membantu pancaindra untuk mengunyah, terbagi atas:
a. Muskulus genioglosus, fungsinya mendorong lidah ke depan
b. Muskulus stiloglosus, fungsinya menarik lidah ke atas dan ke belakang

Otot-otot bibir dan pipi


M Orbikularis Oris terdiri dari serabut intrinsik dan ekstrinsik. Serabut intrinsik
terdiri atas incisive slips dan mental slips, menempel pada tulang dekat garis tengah dan
masing-masing sisi berjalan mengelilingi bibir. Serabut intrinsik ini adalah serabut yang
terdapat dari seluruh serabut M. Orbikularis Oris dan melekat erat pada mukosa bibir.
Serabut ekstrinsik terutama dari M. Bucinator, menyusun sebagian besar M. Orbicularis
Oris. Serabut ini berkumpul disuatu lokasi yang disebut modiolus. Dari modiolus, serabut
teratas dan terbawah menuju bibir atas dan bibir bawah. Serabut yang terletak ditengah
akan mengalami penyilangan, dimana serabut yang terletak diatas menuju bibir bawah
dan demikian sebaliknya. Kontraksi M. Orbikularis Oris menyebabkan mulut mengecil
hingga diameter terkecil (seperti saat bersiul). Otot-otot ini mendapat persarafan dari
cabang bukalis dan cabang mandibularis N VII. Kerusakan cabang N VII misalnya akibat
pembedahan kelenjar submandibula akan menyebabkan tarikan sudut bibir tertinggi.
M Bucinator adalah otot utama pipi yang membentuk batas otot lateral dalam
rongga mulut. Otot ini berorigo pada tonjolan alveolaris mandibula dan maksila serta
kedua raphe pterigomandibula. Serabut otot ini berjalan ke arah sudut mulut dan
bergabung dengan serabut M. Orbikularis Oris melewati bibir atas dan bibir bawah.
Persarafan otot ini didapat dari cabang bukalis N. VII. Otot ini bertanggung jawab atas
gerakan mengunyah dan dibutuhkan untuk mengembalikan bolus makanan dari kantong
pipi ke gigi molar. Otot ini sama sekali tidak menggerakkan rahang. Sebenarnya otot ini
merupakan otot ekspresi muka sesuai persarafan N VII dan tidak dikelompokkan ke
dalam otot-otot pengunyah (otot masseter, temporalis, pterigoid) yang dipersarafi cabang
mandibula nervus trigeminus.

Otot-otot dilator bibir


Terdiri atas kelompok otot yang menyebar dari M. Orbikularis Oris seperti jari-
jari roda. Beberapa otot berinsensi pada bibir, lainnya pada modiolus. Otot-otot ini
dipersarafi cabang bukalis dan cabang mandibula N VII. Kontraksi otot-otot ini
menyebabkan mulut membuka, dan gerakan ini biasanya terjadi secara simultan dengan
gerakan membuka rahang.
· M. Levator Labii Superior Alae Nasi berjalan dari prosesus frontalis os maksila dan
berinsersi pada kartilago alae nasi dan bibir atas.
· M. Levator Labii Superior berjalan dari margo inferior orbita dan berinsersi pada
bibir atas. Otot ini berada di atas foramen tempat keluarnya nervus infraorbita.
· M. Zigomatikus Minor berjalan dari suara zigomatikomaksila, berkumpul pada
modiolus.
· M. Zigomatikus Mayor berkumpul pada modiolus.
· M. Levator Anguli Oris terletak profunda, berjalan dari fossa kanina menuju
modiolus, kemudian keluar kembali sebagai M.Depressor Anguli Oris yang terletak
superfisial.
· M. Depressor Anguli Oris.
· M. Risorius dianggap sebagai perluasan ke atas platisma dan berkumpul pada
modiolus. Terdapat rongga diatas dan dibawah otot ini sehingga pada tempat itu arteri
dan vena fasialis terlihat.
· M. Depressor Labii Inferior terletak profunda dari M Depresor Anguli Oris, berinsersi
pada bibir bawah.
· M. Mentalis berjalan dari simfisis mentalis dekat garis tengah lalu turun menuju dagu.
Kontraksi otot ini menyebabkan elevasi dagu dan sering membuat dagu berkerut.

SARAF SENSORIK WAJAH


Kulit wajah dipersarafi oleh ketiga cabang nervus trigeminus, kecuali sebagian
kecil daerah di atas angulus mandibula dan kelenjar parotis yang dipersarafi nervus
aurikularis mayor (C2 dan C3) Nervus oftalmikus mempersarafi regio yang berkembang
dari tonjolan frontonasal, nervus maksilaris, untuk regio yang berkembang dari tonjolan
maksila (lengkung faring I), nervus mandibularis untuk regio yang berkembang dari
tonjolan mandibula (lengkung faring I).
1. Nervus oftalmikus mempersarafi kulit dahi, kelopak mata atas, konjungtiva dan
hidung. Saraf ini memiliki 5 percabangan :
a. Nervus lakrimalis mempersarafi kulit dan konjungtiva kelopak mata bagian
lateral.
b. Nervus supraorbitalis terdapat di tepi atas orbita pada takik supraorbita. Beberapa
cabangnya mempersarafi kulit dan konjungtiva kelopak mata atas bagian tengah
serta kulit dahi.
c. Nervus supratroklearis terdapat ditepi atas orbita lebih medial dari saraf
supraorbital. Beberapa cabangnya mempersarafi kulit dan konjungtiva kelopak
mata atas bagian medial serta kulit dahi bagian bawah.
d. Nervus infratroklearis meniggalkan orbita di bawah M.Oblikus superior,
mempersarafi kulit dan konjungtiva kelopak mata atas bagian medial serta
hidung.
e. Nervus nasalis eksterna meninggalkan hidung dan keluar diantara os nasal dan
kartilago nasal. Saraf ini mempersarafi kulit hidung sampai je ujung hidung.
2. Nervus maksilaris mempersarafi kulit hidung bagian posterior, bagian bawah
kelopak mata, pipi, bibir atas dan sisi lateral orbita. Saraf ini memiliki 3 percabangan:
a. Nervus infraorbitalis merupakan lanjutan nervus maksilaris yang memasuki orbita
dan muncul di wajah melalui foramen infraorbita. Cabang-cabangnya
mempersarafi kelopak mata bawah, pipi, sisi lateral hidung dan bibir atas.
b. Nervus zigomatikofasialis memasuki wajah melalui lubang kecil pada sisi lateral
os zigomatikum, mempersarafi kulit di atas tonjolan pipi.
c. Nervus zigomatikotemporalis keluar dari fosa temporalis melalui lubang kecil
pada sisi posterior os zigomatikum, mempersarafi kulit di atas temporal.
3. Nervus mandibularis mempersarafi kulit bibir bawah, bagian bawah wajah, daerah
temporal dan sebagian aurikula, kemudian saraf ini menarik ke arah sisi kulit kepala.
Saraf ini memiliki 3 percabangan :
a. Nervus mentalis keluar dari foramen mandibula dan mempersarafi kulit bibit
bawah dan dagu.
b. Nervus bukalis keluar dari bawah otot masseter sisi anterior, mempersarafi kulit
bagian pipi.
c. Nervus aurikulotemporalis naik dari tepi atas kelenjar parotis antara pembuluh
darah temporal superfisial dan aurikula, mempersarafi kulit aurikula, meatus
auditorius eksterna, permukaan luar membran timpani dan kulit kepala di atas
aurikula.

SARAF MOTORIS WAJAH


Semua otot wajah yang tersebut diatas dipersarafi oleh cabang-cabang nervus
fasialis. Saraf ini tidak mengandung serabut sensoris untuk wajah. Saraf proprioseptif
yang diterima otot wajah berasal dari cabang kutaneus nervus trigeminus yang
mempersarafi kulit di atas otot bersangkutan.
Nervus fasialis keluar dari basis kranii melalui foramen stilomastoideus, di dekat
origo M. Digastrikus venter posterior. Sepanjang perjalanannya, saraf ini
memberikan percabangan sebagai berikut :
1. Nervus aurikularis posterior berjalan ke atas di belakang telinga, mempeersarafi
bagian oksipital M.Oksipitofrontalis.
2. Cabang muskular yang mempersarafi M.Digastrikus venter posterior dan
M.Stilohyoid. selanjutnya saraf ini berlanjut sampai mencapai sisi poosteromedial
kelenjar parotis.
3. Sebelum memasuki kelenjar parotis, saraf ini bercabang menjadi nervus
temporozigomarikus di sebelah atas, dan nervus servikofasialis di bagian bawah.
Dalam kelenjar parotis cabang-cabang tadi membentuk jalinan dan saat keluar
dari kelenjar parotis sudah menjadi 5 cabang akhir nervus fasialis :
a. Cabang temporal, keluar dari tepi atas kelenjar parotis, mempersarafi
aurikular anterior-superior, sebagian frontalis. Fungsi mengerutkan dahi.
b. Cabang zigomatikus atas dan bawah yang masing-masing berjalan di atas dan
bawah mata, mempersarafi frontalis dan bagian atas M.Orbikularis Okuli dan
otot-otot bawah mata.
c. Cabang bukalis mempersarafi M.Bucinator dan serabut otot bibir atas.
d. Cabang mandibularis marginal mempersarafi serabut otot bibir bawah.
e. Cabang servikalis berjalan vertikal ke bawah dari tepi bawah kelenjar parotis,
mempersarafi platisma.
PEMBULUH ARTERI WAJAH

Wajah banyak menerima aliran darah dari 2 pembuluh arteri utama yaitu arteri
fasialis dan arteri temporalis superfisial.
Arteri fasialis adalah cabang submandibula, arteri ini melengkung sepanjang
tepi inferior korpus mandibula pada sisi anterior otot masseter. Di lokasi ini, denyut
arteri dapat teraba jelas. Arteri ini lalu berjalan naik dan berkelok menuju sudur
mulut, dilapisi oleh platisma dan otot risorius. Arteri ini masih naik lagi di bawah otot
zigomatikus dan M.Levator Labii Superior, berjalan sepanjang sisi hidung menuju
sudut medial mata kemudian beranastomosis dengan cabang arteri oftalmikus.
Sepanjang perjalanannya, arteri ini mempercabangkan :
1. Arteri submentalis keluar setinggi tepi bawah korpus mandibula kemudian berjalan ke
depan sepanjang tepi bawah mandibula, memperdarahi kulit dagu dan bibir bawah.
2. Arteri Labialis inferior keluar dari dekat sudut mulut kemudian berjalan ke arah
medial pada bibir bawah dan mengadakan endo-to-end anastomosis dengan arteri
sejenis kontra lateralnya.
3. Arteri Labialis Superior keluar dari mulut kemudian berjalan ke arah medial pada
bibir atas, memiliki cabang yang menuju septum dan alae nadi.
4. Arteri Nasalis Lateral keluar saar arteri fasilais berjalan naik sepanjang sisi hidung,
memperdarahi kulit hidung.
Arteri temporalis superfisialis adalah cabang terminal arteri karotis eksterna setinggi
kelenjar parotis, arteri ini menaik hingga mencapai depan aurikula, mempersarafi regio
temporal dan kulit kepala. Arteri fasialis transversa merupakan cabang arteri temporalis
superfisialis yang berawal dari kelenjar parotis, berjalan ke depan menyilang pipi.
Arteri supraorbitalis dan arteri supratroklearis merupakan cabang arteri oftalmikus
yang memperdarahi kulit dahi. Pada kulit kepala, kedua jenis arteri ini bernastomosis
dengan arteri temporalis superfisialis membentuk hubungan sistem karotis interna dan
eksterna.
PEMBULUH VENA WAJAH
Aliran darah balik dari regio frontal dibawa oleh supraorbital dan vena
supratroklear, melewati sisi medial kantus, kemudian bergabung membentuk vena
angularis. Selanjutnya vena angularis disebut vena fasialis, berjalan bersama arteri
fasialis sampai suatu titik di bawah tepi inferior mandibula, kemudian menembus fasia
servikalis profunda untuk bergabung dengan cabang anterior vena retromandibula.
Aliran darah balik dari regio temporal dibawa oleh cabang-cabang vena
temporalis superfisial. Selanjutnya vena ini bergabung dengan vena maksilaris dari
pleksus pterigoideus membentuk vena retromandibula yang berjalan ke bawah melewati
kelenjar parotis. Pada saat keluar dari sisi bawah kelenjar parotis, vena retromandibula
bercabang menjadi cabang anterior dan cabang posterior. Cabang anterior bergabung
dengan vena fasialis bermuara ke vena jugularis interna. Cabang posterior menembus
fasia servikalis profunda dan bergabung dengan vena aurikularis posterior berujung pada
vena jugularis eksterna.
Anastomosis vena-vena wajah dengan vena-vena otak :
· Disudut medial mata vena fasialis beranastomosis dengan vena oftalmika dan
bermuara pada sinus kavernosus otak.
· Vena fasialis profunda cabang vena fasialis beranastomosis dengan pleksus
pterigoideus, dimana pleksus ini dihubungkan dengan sinus kavernous oleh vena
yang melewati foramen ovale.

ALIRAN LIMFE WAJAH


Aliran limfe dari dahi dan bagian anterior wajah bermuara pada kelenjar getah
bening submandibula. Aliran limfe dari sisi-sisi lateral wajah termasuk sisi lateral
kelopak-kelopak mata bermuara pada kelenjar getah bening parotis. Aliran limfe dari
bagian medial bibir bawah dan kulit dagu bermuara pada kelenjar getah bening
submental.
KELENJAR PAROTIS

ANATOMI

Kelenjar parotis yang merupakan kelenjar saliva terbesar, terletak secara bilateral di depan
telinga, antara ramus mandibularis dan prosesus mastoideus dengan bagian yang meluas ke
muka di bawah lengkung zigomatik. Kelenjar parotis terbungkus dalam selubung parotis
(parotis shealth). Saluran parotis melintas horizontal dari tepi anterior kelenjar. Pada tepi
anterior otot masseter, saluran parotis berbelok ke arah medial, menembus otot buccinator,
dan memasuki rongga mulut di seberang gigi molar ke-2 permanen rahang atas.

Tipe dan Posisi Kelenjar


Kelenjar saliva yang terbesar dan hampir seluruhnya tersusun oleh kelenjar tipe acini serosa.-
Terletak di bawah meatus acusticus eksternus dan terletak di dalam suatu lekukan di belakang
ramus mandibulae dan didepan M.sternocleidomastoideus.

Bentuk, Lobus dan Processus Kelenjar


 Dari superficial, berbentuk baji, dengan dasarnya di atasdan apeksnya di belakang
angulus mandibulae.
 N.facialis dan cabang-cabangnya berjalan ke depan didalam glandula parotidea dan
membagi glandula ini dalamlobus superficialis dan profunda.
 Margo superior glandula meluas ke atas di belakangarticulation temporomandibularis
masuk ke bagian posteriorfossa mandibularis. Bagian kelenjar ini disebut processus
glenoidalis
 Margo anterior glandula ini meluas ke depan, superficial terhadap
M.masseter, membentuk processus facialis. Sebagian kecil dari processus facialis dapat
terpisah dari glandula utama dan disebut sebagai glandula parotidea acessoria.
 Pars profunda kelenjar dapat meluas ke depan di antaram.pterygoideus medialis dan
ramus mandibulae,membentuk processus pterygoideus

Kapsula Kelenjar
Glandula parotidea adalah massa berlobus yang dikelilingioleh kapsula jaringan ikat.- Selain itu
glandula dibungkus oleh kapsula fibrosa padatyang berasal dari lamina superficialis fascia colli
profunda

Duktus Parotideus
 Duktus parotideus berjalan ke depan di atas permukaan lateral M.masseter, 1 jari di bawah arcus
zygomaticus.
 Jalan ductus ini yang miring di antara membrane mucosa dan m.buccinator berfungsi
mencegah masuknya udara ke dalam duktus pada saat meniup dengan kuat.
 Glandula parotidea accessoria bermuara melalui duktus kecil ke dalam bagian atas ductus
parotideus

Struktur di Dalam Glandula Parotidea


Struktur di dalam glandula parotidea, dari lateral ke medial adalah
n.facialis, v.retromandibularis dan a.carotis eksterna. Beberapa nodus dari kelompok nodi
lymphoidei parotidei juga terdapat di dalam kelenjar

Batas-Batas Glandula Parotidea


 Batas superficial: nodi lymphoidei parotidei, fascia,n.auricularis magnus, dan kulit.
 Batas superior : meatus acusticus eksternus dan faciesposterior
articulation temporomandibularis.
 Batas posteromedial : processus mastoideus,M.sternocleidomastoideus, selubung carotis
a.carotisinterna, v.jugularis interna, n.vagus, n.glossopharyngeus,n.acessorius, n.hypoglossus, dan
n.facialis.
 Batas anteromedial: pinggir posterior ramus mandibula,articulation temporomandibularis,
m.masseter danm.pterygoideus medialis. Glandula ini menempel padadinding faring

Perdarahan
 A.carotis eksterna dan cabang terminalnya. Vena bermuara ke dalam vena retromandibularis.
Aliran Limfe
 Pembuluh limfe bermuara ke dalam nodi lymphoideiparotidei dan nodi lymphoidei cervicales
profundi.
Persarafan
 Serabut-serabut sekretomotorik parasimpatis dari nucleus salivatorius inferior n.IX
mempersarafi glandula parotidea

Fisiologi Kelenjar Parotis


Fungsi utama dari kelenjar liur adalah produksi air liur. Air liur diproduksi di sel-sel asinus,
dikirim secara aktif dan disimpan oleh sel-sel duktal. Sel-sel pada kelenjar parotis hampir
seluruhnya merupakan sel serosa, sehingga cairan yang dihasilkan lebih encer dan rendah
kadar musinnya, tetapi tinggi kadar enzimnya. Produksi air liur setiap hari 500 sampai 1500
milliliter. Air liur penting untuk mempertahankan rongga mulut tetap basah dan melindungi
dari trauma kimia, mekanik dan suhu. Informasi rasa juga dihantarkan dengan bantuan air
liur. Air liur mengandung komponen organik dan nonorganik. Komponen organik terdiri dari
protein seperti musin, amilase, enzim, dan karbohidrat. Komponen nonorganik antara lain ion
kalsium, flour, magnesium, dan fosfat.

Saraf Fasialis
Saraf fasialis merupakan bagian penting pada anatomi kelenjar parotis. Keberhasilan teknik
operasi pada semua jenis parotidektomi tergantung pada identifikasi dan pemeliharaan saraf
ini. Saraf fasialis keluar dari tulang temporal melalui foramen stilomastoideus yang terletak
pada bagian paling medial dari fisura timpanomastoid, yaitu antara tip mastoid dengan liang
telinga luar. Pada tempat ini arteri stilomastoideus berjalan tepat di lateral dari trunkus saraf
fasialis. Saraf fasialis memasuki dan membagi kelenjar parotis menjadi dua lobus superfisial
dan profunda. Saraf fasialis ini bercabang menjadi dua cabang utama yaitu bagian lebih
superior (temporofasial) yang akan mencabangkan ramus temporalis, ramus zigomatikus dan
ramus businator superior, sedangkan cabang bagian inferior (servikofasial) akan
mencabangkan ramus servikal, ramus submandibula dan ramus businator inferior. Rangkaian
saraf-saraf ini disebut pes anserinus karena menyerupai kaki angsa.

PAROTIDEKTOMI
PENATALAKSANAAN
Pilihan utama penatalaksanaan tumor kelenjar liur adalah bedah dengan mengangkat tumor
secara komplit. Sisa tumor dapat mengakibatkan terjadinya kekambuhan dan sebagian dapat
berubah menjadi ganas. Parotidektomi dengan perawatan saraf fasialis dapat dilakukan pada
kasus dimana tumor parotis berada pada daerah ekor parotis atau superfisial dari saraf fasialis.
Pada beberapa kasus kita juga tidak memerlukan pengangkatan lobus parotis secara keseluruhan
jika pada temuan operasi tumor dapat diangkat secara komplit.
Saat ini terdapat berbagai teknik pembedahan dalam pengangkatan pada tumor parotis
berdasarkan pengangkatan terhadap kelenjar parotis, antara lain:
 Parotidektomi total
 Parotidektomi superfisial
 Parotidektomi medial
 Parotidektomi subtotal
 Enukleasi

A. Parotidektomi Total
Parotidektomi total adalah pengangkatan tumor parotis dengan mengangkat seluruh
kelenjar parotis baik dengan mengangkat saraf fasialis atau merawat saraf fasialis.
Parotidektomi total diindikasikan pada tumor jinak yang mengenai kedua lobus kelenjar
parotis atau pada tumor ganas parotis.
B. Parotidektomi Superfisial
Parotidektomi superfisial adalah pengangkatan tumor parotis dengan mengangkat seluruh
lobus superfisial parotis baik dengan pengangkatan saraf fasialis atau dengan perawatan
saraf fasialis. Teknik operasi ini dilakukan pada tumor jinak atau tumor dengan
keganasan rendah yang hanya mengenai lobus superfisial dari parotis. Parotidektomi
superfisialis dapat dilakukan dengan mengangkat saraf fasialis jika tumor mengenai saraf
fasialis atau tanpa mengangkat saraf fasialis.
C. Parotidektomi Medial
Parotidektomi medial adalah pengangkatan tumor parotis dengan mengangkat seluruh
lobus profunda parotis baik dengan pengangkatan saraf fasialis atau dengan perawatan
saraf fasialis.15Teknik operasi ini dilakukan pada tumor jinak atau tumor dengan
keganasan rendah yang hanya mengenai lobus profunda dari parotis.
D. Parotidektomi Subtotal
Parotidektomi subtotal ialah reseksi konservatif dalam pengangkatan tumor kelenjar
parotis dimana kelenjar yang diangkat kurang dari parotidektomi superfisial atau medial
atau diseksi saraf fasialis yang tidak komplit. Pengangkatan tumor dengan batas yang
adekuat dengan jaringan normal, diharapkan kekambuhan tidak terjadi dan fungsi
fisiologis kelenjar dan saraf fasialis dapat dipertahankan, komplikasi yang mungkin
timbul dari pengangkatan kelenjar parotis dapat dikurangi.Walaupun parotidektomi
superfisial atau medial dengan perawatan saraf fasial merupakan standar dalam
pengangkatan tumor jinak parotis, namun berdasarkan temuan operatif parotidektomi
parsial atau subtotal dapat menjadi pilihan untuk dilakukan. Pengangkatan lobus kelenjar
parotis tidak diperlukan jika tumor memungkinkan untuk diangkat secara komplit.1
E. Enukleasi
Enukleasi adalah pengangkatan tumor tanpa melakukan pengangkatan terhadap kelenjar
parotis. Ini dapat dilakukan jika tumor memungkinkan terangkat secara komplit.
Biasanya dilakukan pada tumor yang ukurannya kecil, tumor yang mempunyai kapsul
atau pada tumor yang letaknya berada di daerah ekor dari kelenjar parotis. Komplikasi
yang ditimbulkan pada parotidektomi seperti kelumpuhan saraf fasialis, dan sindroma
Frey, akan bekurang dengan teknik enukleasi. Namun dipihak lain angka kekambuhan
akan meningkat dengan teknik enukleasi terutama jika terjadi kerusakan kapsul, namun
jika kapsul dapat dipertahankan angka kekambuhan ini dapat ditekan bahkan lebih kecil
dari 2%. Setiap pembedahan pengangkatan tumor jinak parotis selalu dimulai dengan
parotidektomi superfisial. Kemudian berdasarkan temuan operasi dapat diperluas ke
lobus medial jika diperlukan untuk mengangkat tumor secara komplit.
Komplikasi
Komplikasi akibat pengangkatan tumor parotis dapat timbul terutama jika dilakukan dengan
parotidektomi. Komplikasi yang timbul dapat berupa:
1. Sindroma Frey
Reinervasi yang bersilang dari jalur otonom kelenjar parotis, ke kelenjar keringat,
sehingga serabut parasimpatis, yang dirangsang oleh penciuman, pengecapan, akan
mempersarafi kelenjar keringat dan pembuluh darah. Hal ini berakibat timbulnya keringat
dan kemerahan di sekitar kulit pada region parotis pada waktu mengunyah. Kejadian ini
berkisar 30%-60% pasien pasca parotidektomi.
2. Kelumpuhan saraf fasialis.
Kelumpuhan saraf fasialis lebih sering terjadi pada tindakan parotidektomi total dari pada
parotidektomi superfisial, dan akan semakin berkurang jika hanya melakukan
parotidektomi subtotal atau enukleasi. Kelumpuhan saraf fasial terjadi akibat tarikan yang
dilakukan saat operasi atau oleh trauma operasi. Kelumpuhan yang terjadi dapat bersifat
sementara atau menetap.
3. Fistula kelenjar liur
Merupakan komplikasi yang sering muncul setelah dilakukan parotidektomi, dimana air
liur akan berkumpul didaerah bekas operasi, sehingga cairan yang terkumpul ini akan
keluar melalui celah sehingga terbentuk fistula. Kondisi ini biasanya akan berhenti
sendiri karena air liur yang terkumpul dapat diserap kembali atau dapat dihisap dengan
menggunakan spuit.
BAB II
LAPORAN KASUS

Nama : NR
Usia :55 tahun
Jenis kelamin :Perempuan

Anamnesis
Keluhan utama : Adanya benjolan di depan bawah telinga kiri.
Telaah : Keluhan benjolan di depan bawah telinga kiri yang makin lama makin
besar sejak 16 tahun yang lalu. Benjolan tidak nyeri dan tidak merah, tidak
panas, tidak disertai demam. Telinga kiri kadang-kadang berdengung.
Tidak ada kesulitan membuka mulut, mulut tidak terasa kering. Tidak
dikeluhkan wajah mencong atau kesulitan menutup mata
RPO :-
RPT :-

Pemeriksaan Fisik :
Tanda Vital : Sens : CM BB : 56 kg
TD : 120/80 mmHg TB : 149 cm
HR : 88 x/i
RR : 20 x/i
Temp : 36,3°C

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, kesadaran komposmentis kooperatif.
Pada pemeriksaan telinga, hidung dan tenggorok tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan
pendengaran dengan penala dalam batas normal. Regio parotis sinistra didapatkan benjolan
ukuran 12x10x8 cm, kenyal padat, tidak ada bagian yang fluktuatif, tidak nyeri tekan, tidak
terdapat tanda-tanda radang, permukaan licin, terfiksir pada jaringan disekitarnya.
Tidak ditemukan pembesaran kelenjar getah bening leher. Pada pemeriksaan wajah tanda-tanda
kelumpuhan saraf fasialis tidak ditemukan. Hasil FNA, kesannya adalah tumor campur kelenjar
liur dan tidak tampak sel-sel ganas

Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan CT Scan, pemeriksaan darah rutin, kimia darah, fungsi hati, dan ginjal, Rontgen
torak PA, EKG, untuk persiapan parotidektomi dalam narkose umum.
Didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium darah didapatkan hasil yang normal yaitu;
Haemoglobin : 14,8gr%
 Leukosit : 8.300/mm3
 Trombosit : 210.000
 Hematokrit: 45%
 PT : 10,5
 APTT : 33,5
 Gula darah random : 153mg/dl
 SGOT/SGPT : 28/26 u/l
 alkali fosfatase : 213
 ureum : 36 mg/dl
 kreatinin : 0,7 mg/dl
 natrium (Na+) : 143nmol/L
 kalium (K+) : 4,3 nmol/L
 chlorida (Cl-) : 101 nmol/L.

CT Scan :
Dari CT Scan parotis terlihat massa isoden inhomogen dengan batas tegas, tepi irreguler disertai
kalsifikasi, massa meluas ke daerah parafaring dan subkutis. Tidak nampak pembesaran kelenjar
limfa leher. Kesan adalah tumor parotis

Diagnosa : Adenoma pleomorfik parotis

Rencana :
Direncanakan untuk dilakukan parotidektomi. Berdasarkan konsul dengan bagian Penyakit
Dalam saat ini dapat dilakukan tindakan operasi dalam narkose dengan risiko rendah. Di
rencanakan dilakukan operasi pengangkatan tumor parotis dalam narkose.

Laporan operasi:
1. Pasien tidur telentang di meja operasi dalam narkose
2. Dilakukan aseptik antiseptik pada daerah operasi.
3. Dibuat insisi kulit pada daerah preaurikuler setinggi tragus dari kranial ke kaudal
melingkari ujung kaudal daun telinga sampai pada tip mastoid dan dilanjutkan ke kaudal
mengikuti kerutan kulit angulus mandibula sepanjang 1/3 panjang angulus mandibula,
irisan dilanjutkan kearah kaudal sepanjang otot sternokleimomastoideus.
4. Kulit dipisahkan secara tumpul dari jaringan di bawahnya.
5. Terlihat massa tumor dengan ukuran yang cukup besar melengket pada parotis pada
bagian posteroinferior sehingga mendorong kelenjar parotis kearah anterosuperior.
Tumor terlihat berkapsul.
6. Dilakukan pembebasan massa tumor dari daerah sekitarnya seperti dari otot
sternokleidomastoideus, dan daerah angulus mandibula.
7. Massa tumor dibebaskan secara tumpul dari kelenjar parotis. Saraf fasialis tidak dapat
diidentifikasi karena kelenjar parotis telah terdorong ke anterosuperior sehingga
menyulitkan mencari landmark saraf fasialis.
8. Dilakukan pembebasan massa tumor dari otot-otot digastrik, maseter dan stilohioideus.
Massa tumor dapat diangkat secara komplit. Didapatkan massa tumor berkapsul
permukaan berlobus-lobus, konsistensi kenyal padat, ukuran 10cmx8cmx7cm
9. Perdarahan diatasi, dilakukan penjahitan lapis demi lapis, dipasang salir.
10. Operasi selesai.

Terapi :
 Antibiotik ceftazidime 2 x 1 gr IV
 Gentamisin 2x80gr IV
 Analgetik tramadol drip dalam ringer laktat 16 tetes per menit.

Hari 1
Pada follow up hari pertama kondisi umum pasien baik, kesadaran baik dan kooperatif, tidak
ditemukan adanya perdarahan dari luka operasi, tidak ada tanda kelumpuhan saraf fasialis, tidak
ada demam. Perdarahan melalui salir sebanyak 18 cc. Hasil pemeriksaan laboratorium darah
rutin pasca operasi adalah haemoglobin 11,8g%, leukosite 12.800/mm3, trombosit
254.000/mm3. Terapi antibiotik dilanjutkan, analgetik diganti dengan asam mefenamat 3x500mg
peroral. Pada hari ke tiga pasca operasi didapatkan kondisi umum pasien baik, tidak demam,
tidak ada tanda tanda kelumpuhan saraf fasialis.
Pada pemeriksaan lokalis daerah parotis kiri luka operasi kering, ditemukan edema, tidak
terdapat fluktuasi, tidak ditemukan tanda tanda infeksi. Pada kantong salir didapatkan darah 8 cc.
Terapi antibiotik dan analgetik dilanjutkan. Salir dilepas.

Hari ke 6
Pada hari keenam pasca operasi, kondisi umum pasien baik, tidak ada demam, luka operasi
kering dan tidak ada fluktuasi. Jahitan dilepas selang seling. Terapi ceftazidime 2x1gr IV dan
asam mefenamat jika perlukan.

Hari ke 8
Pada hari kedelapan tanggal, jahitan sudah dibuka seluruhnya, kondisi umum pasien baik, tidak
ada demam, tidak ada kelumpuhan saraf fasialis, tidak ada kemerahan ataupun keringat pada
daerah parotis kiri saat mengunyah. Luka operasi baik. Tidak ada keluhan dalam membuka
mulut. Tidak ada muncul pembengkakan di daerah parotis kiri. Hasil pemeriksaan histopatologi
tumor adenoma pleomorfik parotis tidak ditemukan tanda-tanda ganas. Pasien boleh pulang, dan
dianjurkan untuk kontrol 1 minggu lagi.
BAB III
DISKUSI

Telah dilaporkan satu kasus adenoma pleomorfik parotis kiri pada seorang wanita
berusia 55 tahun. Kasus ini sesuai dengan berbagai laporan bahwa tumor ini sering terjadi
pada wanita usia 40-60 tahun.
Benjolan di depan bawah telinga kiri telah dirasakan sejak 16 tahun, pada perabaan
massa tumor kenyal padat, melekat pada jaringan sekitar dan tidak terdapat bagian yang
fluktuatif, ukuran 10cmx8cmx7cm, tidak ada pembesaran kelenjar limfe leher. Ini sesuai
dengan suatu adenoma pleomorfik yang jinak dengan pertumbuhan yang sangat lambat
namun dapat tumbuh sangat besar lebih dari beberapa sentimeter, dan bahkan Takahama
A.Jr. dkk19 melaporkan adanya suatu tumor adenoma pleomorfik dengan pertumbuhan lebih
30 tahun dengan ukuran tumor mencapai 28cm x 20cm x 16 cm dan berat 4 Kg.
Dari hasil FNAB didapatkan kesannya adalah tumor campur kelenjar liur. Tidak
tampak sel-sel ganas, ini sesuai dengan hasil histopatologi yang dilakukan terhadap massa
tumor setelah dilakukan pengangkatan, yaitu adenoma pleomorfik. Ini berarti bahwa FNAB
dengan hasil pemeriksaan histopatologi tumor memberikan hasil yang sama. Biopsi aspirasi
jarum halus merupakan cara yang aman dan cepat untuk mendiagnosis tumor parotis,
sekalipun keakuratan hasilnya tergantung pada keterampilan ahli sitopatologi yang
memeriksa. Harney M, dkk20, melaporkan bahwa FNAB mempunyai ketepatan sampai 70%
dalam memprediksi diagnosis massa pada parotis, dengan sensitivitas dan spesifisitas
masing-masing 66% dan 100%. Helmus C. MD13 mendapatkan angka ketepatan sampai
94% dengan biopsi aspirasi jarum halus pada tumor parotis, dan menjadikannya sebagai
prosedur rutin sejak tahun 1988.
Dari CT scan parotis terlihat massa isoden inhomogen dengan batas tegas, tepi
irreguler disertai kalsifikasi, massa meluas ke daerah parafaring dan subkutis. Tidak nampak
pembesaran kelenjar limfa leher. CT scan dapat membantu dalam menentukan lokasi tumor,
batas tumor dan infiltrasi ke jaringan sekitar, bukan untuk membedakan apakah massa parotis
tersebut jinak atau ganas.
Penatalaksanaan yang dianjurkan pada tumor adenoma pleomorfik parotis adalah
parotidektomi dengan perawatan saraf fasialis. Enukleasi merupakan teknik operasi yang
tidak dianjurkan karena angka kekambuhan yang tinggi.
Pasien direncanakan untuk dilakukan parotidektomi namun pada temuan saat
operasi diputuskan untuk melakukan enukleasi. Teknik ini dimungkinkan karena saat operasi
didapatkan tumor dengan kapsul yang utuh tumor terletak di pinggir posteroinferior kelenjar
parotis, dimana akibat ukuran yang besar dari tumor ini telah mendorong kelenjar parotis ke
arah anterosuperior, sehingga menyulitkan untuk melakukan identifikasi saraf fasialis. Saat
melakukan identifikasi saraf fasialis tumor terlebih dahulu dilepas dari kelenjar parotis.
Tumor dapat dilepas secara utuh dengan kapsul yang lengkap. Berdasarkan hal ini
diputuskan untuk tetap mempertahanakan kelenjar dan saraf fasialis. Pengangkatan parotis
dikhawatirkan merusak saraf fasialis karena sulit untuk mengidentifikasinya. Pengangkatan
kelenjar parotis dengan kesulitan untuk mengidentifikasi saraf fasialis memungkinkan
terjadinya komplikasi berupa kelumpuhan saraf fasialis maupun sindroma Frey.
Komplikasi yang ditakutkan pasca enukleasi adalah kekambuhan, seperti dikutip
Nagarkar NM dkk, bahwa Beahrs dkk, 7 melaporkan tahun 1960 dari penelitian selama 10
tahun mendapatkan 10% kekambuhan setelah pengangkatan tumor jinak parotis dengan
enukleasi. Dengan pengangkatan tumor yang hati-hati tanpa mengakibatkan kerusakan
kapsul tumor dapat menurunkan angka kekambuhan sampai kurang dari 2%.
Pilihan lain yang dapat dilakukan dalam pengangkatan adenoma pleomorfik
dengan tetap mempertahankan kelenjar parotis semaksimal mungkin tanpa kekambuhan yang
tinggi adalah dengan parotidektomi subtotal dimana tumor diangkat dengan melakukan eksisi
lebih kurang 2 cm dari batas kapsul tumor.Menurut Witt L Robert6 tidak ada kekambuhan
adenoma pleomorfik yang dilakukan parotidektomi superfisial parsial dengan eksisi 2 cm dan
1 cm dari batas tumor, kemudian diikuti selama rata-rata 10 tahun.
Kekambuhan setelah pengobatan pada kasus adenoma pleomorfik harus tetap
dievaluasi. Follow up jangka panjang (10-20 tahun) pasca operasi harus dilakukan mengingat
penatalaksanaan kekambuhan lebih sulit. Angka kekambuhannya relatif rendah setelah
pengangkatan tumor yang komplit, dan bahkan bila tumor dapat diangkat seluruhnya dengan
kapsul utuh secara teori adenoma pleomorfik dapat sembuh total.
Perkiraan kekambuhan dengan menggunakan imunohistokimia mulai
dikembangkan, Hamada T dkk,20 melaporkan bahwa ekspresi MUC1 pada adenoma
pleomorfik merupakan marker yang penting untuk memprediksi kekambuhan. Adenoma
pleomorfik yang menunjukkan ekspresi MUC1 positif harus di follow up lebih teliti untuk
terjadinya kekambuhan.
Fistula kelenjar liur merupakan komplikasi yang sering muncul setelah dilakukan
parotidektomi, dimana air liur akan terkumpul di daerah bekas operasi, sehingga cairan yang
terkumpul ini akan keluar melalui celah sehingga terbentuk fistula. Pada kasus ini tidak
ditemukan adanya fistula.
Pada follow up satu bulan pasca operasi, pasien ini tidak terdapat tanda-tanda
sindroma Frey, maupun kelumpuhan saraf fasialis karena dalam pengangkatan tumor tidak
mengikutkan kelenjar parotis maupun saraf fasialis. Pada kasus tumor jinak parotis yang
tidak mengenai saraf fasialis sedapat mungkin saraf ini dipertahankan, seperti dikatakan
Eisele DW, Johns ME1 bahwa pemeliharaan saraf fasial harus dilakukan kecuali tumor
melibatkan saraf fasial.

Daftar Pustaka

1. Sadler TW head and neck. In : Sadler TW editor. Langeman’s medical embryology


5th edition. Baltimore : Williams & Wilkins, 1985 ; p281 – 308.
2. McMinn RMH. Face. In : McMinn RMH (editor). Last’s anatomy : regional and
applied. 9th edition. London : Churchill-Livingstone, 1994 : p445-53.
3. Anderson JE (editor). Grant’s atlas of anatomy. 8th edition. Baltimore : Williams &
Wilkins, 1983.
4. Staubesand J (editor). Atlas anatomi manusia Sobota. Edisi ke-19. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1989.
5. Eisele DW, Johns ME. Salivary Glan Neoplasms. In : Bailey BJ, Calhoun KH,
editors. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 3rd ed vol 2. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins; 2001. p. 1279-97
6. Lee J, MD. Benign Parotis Masses. Available from: http://www.BCM.Com Accessed
September 19, 2009.
7. Wagner AL, Haag J. Parotid, Pleomorphic Adenoma. Available from:
http://www.emedicine.com. Accessed September 25, 2009.
8. Carroll WR, Morgan CE, DMD, MD. Diseases of the Salivary Glands. In: Balanger
editor. Otorhinolaryngology head and neck surgery. BL.Dekler, London; 2002.
p.1441-54.
9. Rea JL, MD. Partial Parotidectomies: morbidity and benign Tumor Recurrence Rates
in a Series of 94 Cases. The Laryngoscope 2000; 110: 924- 7.
10. Witt RL. Minimally Invasive Surgery for Parotid Pleomorphic Adenoma. ENT
Journal [serial on the internet]. 2005 [cited 2005 May 1]; [about 3p.]. Available from:
http://www.thefreelibrary.com
11. Nagarkar NM, Bansal S, Dass A, Singhal SK, Mohan H. Salivary Gland Tumors-Our
Experience. Indian J of Otolary and HNS 1967; 56:31-4