Anda di halaman 1dari 14

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN NN.KDP DENGAN KISTA OVARII
DI RUANG BOUGENVIL RS PANTI WILASA CITARUM SEMARANG

A. PENGKAJIAN PASIEN DENGAN GANGGUAN GINEKOLOGI


Nama Mahasiswa : Ana TH, Ardianto N, Dewi CH, Eny W, Jantris AW
NIM :

I. IDENTITAS KLIEN
Nama klien (initial) : Nn.KDP
Umur : 10-8-1998 ( 18 th , 4 bln 0 hr )
Pendidikan : Mahasiswa
Pekerjaan : Belum bekerja
Bangsa : Indonesia
Alamat : Bintan Timur
Diagnosa Medis : Kistoma Ovarii
Tanggal msk RS : 12-12-2016
Tanggal pengkajian : 13-12-2016

II. PENANGGUNG JAWAB


Nama (initial) : Ny.S
Umur : 45 th
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Bangsa : Indonesia
Alamat : Bintan Timur
Hub,dengan Klien : Ibu
Tanggal pengkajian : 13-12-2016

III. KELUHAN UTAMA:


perut bagian bawah kiri nyeri

IV. RIWAYAT PENYAKIT:


a. Riwayat penyakit sekarang:
Pasien mengatakan 2 minggu terakhir mengeluh sakit perut bagian kiri. Pasien belum
periksa ke dokter hanya untuk istirahat di kost. Sejak 4 hari ( 8-12-2016 ) perut bagian
bawah kiri terasa semakin nyeri, dan mual, tidak ada muntah.
Tanggal 12-12-2016 , jam 13.00 wib periksa ke IGD RS PWC dengan keluhan perut kiri
bawah sakit. TTV TD 120/80mmHg, Nadi 80x/mnt, RR16x/mnt, Suhu 370C Skala nyeri 6.
BB 43 kg. Therapi di IGD Infus RL/ 20 tts/ mnt, Injeksi Ketorolac 1 amp IV, Adv Rawat
Inap di RB, Konsul dr Spesialis kandungan.
b. Riwayat penyakit masa lalu :
Pasien mengatakan 1 tahun yang lalu pernah operasi kista sebelah kanan di RS Bintan
Timur
c. Riwayat keluarga :
Pasien mengatakan anggotanya tidak ada riwayat sakit seperti yang dialaminya ataupun
penyakit keturunan lainnya.( DM, Hipertensi )

V. PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL GORDON

A. Pola Kebutuhan Dasar ( Data Bio-psiko-sosio-kultural-spiritual)


1. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Pasien mengatakan apabila sakit jarang periksa ke dokter, hanya untuk istirahat, kadang
membeli obat di apotik untuk menyembuhkan sakitnya.

2. Pola Nutrisi-Metabolik
 Sebelum sakit :
Sebelum sakit pasien makan teratur 3x dalam sehari, dan banyak makan makanan kecil
( snack ). Minum sehari 2-2,5 lt air putih dan minum teh.
 Saat sakit :
saat sakit pasien mengatakan kurang nafsu mkan karena merasa mual dan menahan
sakit, pasien hanya habis ½ porsi dari yang sediakan RS. Minum 1-2 lt.

3. Pola Eliminasi ;
1) BAB
 Sebelum sakit : pasien mengatakan biasa bab tiap pagi, konsistensi lembek,
 Saat sakit : Pasien mengatakan selama dirawat belum bab.
2) BAK
 Sebelum sakit : Kencing lancar 5-6x/ hari (750-900ml ), warna kuning jernih.
 Saat sakit : Pasien mengatakan bak 6-7 x/ hr ( 1200 ml-1050 ml ), warna
kuning jernih.
4. Pola aktivitas dan latihan
1) Aktivitas
0 1 2 3 4
Kemampuan Perawatan Diri v
Makan dan minum v
Mandi v
Toileting v
Berpakaian v
Berpindah v
Keterangan ; 0: mandiri, 1: Alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan alat,
4: tergantung total

2) Latihan
 Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit semua aktifitas dilakukan sendiri
tanpa bantuan.
 Saat sakit ; Pasien mengatakan selama dirawat aktifitas dilakukan sendiri dengan
hati-hati kadang menahan rasa nyeri, dengan bantuan minimal dari orang lain
( perawat dan temannya )

5. Pola kognitif dan Persepsi : pasien mengatakan bahwa dia sudah memahami tentang
penyakit yang dideritanya karena sudah pernah mengalami kasus yang sama 1 tahun lalu,
dan dokter yang merawatnya sebelumnya sudah pernah menjelaskan secara rinci tentang
penyakitnya itu.

6. Pola Persepsi-Konsep diri ; pasien mengatakan dia tidak pernah menyangka bahwa dia
akan mengalami sakit separah yang dialami saat, ini, sehingga harus dirawat 2x dengan
kasus yang sama seperti tahun yang lalu. Pasien mengatakan takut dengan rencana operasi
yang akan dilakukan. Pasien tampak cemas karena pengalaman operasi sebelumnya, dan
kawatir dengan masa depan tentang ketidakmampuannya memberikan keturunan. Pasien
tampak cemas. dan sedih saat mengungkapkan perasaannya.
7. Pola Tidur dan Istirahat
 Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit biasa tidur 22.00 wib -05.00 wib /
hari. ( 7 jam ), tidak terbiasa tidur siang karena harus kuliah.
 Saat sakit : pasien mengatakan selama dirawat dia lebih banyak tidur
walaupun kadang terbangun saat perawat / dokter melakukan pemeriksaan.
8. Pola Peran-Hubungan : pasien mengatakan bahwa dirinya adalah anak ke dua dari 2
bersaudara. Dan karena harus kuliah dia harus jauh dari orang tuanya ( tinggal di asrama )
hubungan dengan kedua orang tuanya dan kakaknya sangat dekat walaupun hanya
komunikasi hanya melalui tilpun.Pasien mengatakan hubungannya dengan teman-
temannya sangat dekat seperti keluarga sendiri.
9. Pola Seksual-Reproduksi
 Sebelum sakit : pasien meyadari bahwa dia adalah berjenis kelamin perempuan dan
belum mempunyai pacar
 Saat sakit : saat dilakukan pengkajian pasien ditunggui oleh teman ( perempuan )
10. Pola Toleransi Stress-Koping :
Pasien mengatakan sangat dekat dengan ibunya, apabila ada masalah dia akan tilpun ibunya
untuk mencarikan solusi. Di asrama dia mempunyai teman sekamar yang sering diajak
diskusi tentang masalahnya.
11. Pola Nilai-Kepercayaan ;
Pasien mengatakan sejak kecil dia dididik rajin beribadah sholat 5 waktu dan dilakukannya
sampai sekarang

VI. RIWAYAT OBSTETRI


 Riwayat : Pasien masih berumur 18 thn dan belum pernah menikah/ bersalin.
 Riwayat : pasien mengatakan pertama kali menstruasi umur 11 tahun, lama menstruasi 7
hari, siklusnya tidak teratur ( 60 hari ), sehari ganti pembalut 3-4 kali.

VII. PEMERIKSAAN FISIK:


a. KU : Tampak menahan sakit.
b. TTV : 120/70mmHg, Suhu 360C, Nadi 88x/ mnt
c. Kepala :
Bentuk mesosephal, rambut hitam, lurus, pendek, tidak kusam, rambut tidak mudah
patah, tidak ada lesi, hematoma pada kepala.
d. Muka/leher :
Hidung tidak ada secret, tidak terdapat pendarahan, tidak ada pernapasan cuping hidung, tidak
ada pembesaran polip, dapat membau makanan alcohol swab.
Mulut : Bibir tidak sianosis, Mukosa bibir kering, gigi cukup bersih, tidak terdapat karies gigi
dan gigi berlobang, berbicara dengan jelas.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar limfa dan tiroid. Trakea posisi di garis tengah.
e. Dada : payu dara bentuk simetris, tidak ada benjolan pada payu dara.
Paru-paru
Inspeksi : pengembangan dada simetris, tidak ada penggunaan otot bantu nafas
Palpasi : taktil fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler
f. Jantung
Inpeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ic teraba pada inter costa v sinistra
Perkusi : redup
Auskultasi : bunyi s1 dan s2 murni, lup dug
g. Abdomen
Inpeksi : bentuk abdomen datar, warna kulit merata dengan kulit lainnya, tidak ada
kemerahan dan tidak ada lessi, bekas operasi perut bawah ± 2cm.
Auskultasi : bising usus 6 x/menit
Palpasi : terdapat nyeri tekan pada bagian kwadran kiri bawah.
Perkusi : tympani
h. Genetalia
Riwayat Keputihan ; tidak ada, cairan pervaginam : warna bening, tidak berbau dan
tidak ada keluhan gatal. Tidak ada benjolan, dan tidak terpasang kateter
i. Ekstremitas atas dan bawah :
Tidak ada kelemahan pada bagian ekstremitas atas dan bawah , pergerakan masih dapat
dilakukan dengan bantuan minimal. Tidak ada edema.
j. Pemenuhan kebutuhan sesksual:
Pasien belum menikah dan belum memiliki pacar.
k. Psikologis
 Konsep diri : Pasien mengatakan dengan operasi ke dua indung telurnya, dia
merasa menjadi wanita yang kurang sempurna
 Identitas diri : Pasien mengatakan merasa kawatir dengan masa depan tentang
ketidakmampuannya memiliki anak, dan apakah pasangannya nanti akan menerima
kondisinya
 Harga diri
Pasien mengatakan kurang percaya diri dengan kondisinya saat ini.

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


 Pemeriksaan Laboratorium :
Hb : 12.1 gr % ( 11.7 gr% - 15.5 gr% )
Leucosit : 9800/ L ( 3600/ L – 11000/ L )
Clooting Time : 3’48” ( 3 ‘ – 5’ )
Blooding Time : 1’49” ( 1’ 3 ‘ )
HBSaG : Negatif ( Negatif )
 Pemeriksaan Radiodiagnostik:
USG : kista ovarii sinistra diameter 7x5x3 cm

IX. THERAPI MEDIS


1. Infuse RL / 20 tts/ mnt
2. Ketorolac injeksi 1 ampul iv ( k/p )

X. ANALISA DATA:

No Data Diagnosa Keperawatan TTD


1 S: Pasien mengatakan perut bagian kiri bawah Gangguan rasa nyaman nyeri B/D
sakit, Skala nyeri 6 kistoma ovarii

O: Pasien tampak kesakitan, nyeri tekan pada


perut bawah kiri,
Hasil USG : Ditemukan kista ovarium sinistra
diameter 7x5x3 cm

2 S : Pasien mengatakan takut dengan rencana Cemas b/ d rencana tindakan operatif


operasi yang akan dilakukan, karena
pengalaman operasi sebelumnya

O : KU ; tampak cemas,

3 S: Pasien mengatakan kawatir tentang Gangguan konsep diri b/d kekawatiran


ketidakmampuannnya memliki keturunan tentang ketidakmampuan memiliki anak.

O: Pasien tampak cemas dan sedih saat


mengungkapkan perasaannya.
XI. MASALAH KEPERAWATAN:
1. Gangguan rasa nyaman nyeri B/D kistoma ovarii
2. Cemas B /D rencana tindakan operatif
3. Gangguan konsep diri B/D kekawatiran tentang ketidakmampuan memiliki anak
XII. INTERVENSI KEPERAWATAN

N Diagnosa Tujuan Kriteria Intervensi Rasional


o Keperawatan Hasil
1 Gangguan rasa Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat dan 1. Mengidentifikasi
nyaman nyeri tindakan keperawatan intensitas nyeri. lingkup masalah.
B/D kistoma 1x24 jam nyeri 2. Atur posisi senyaman 2. Menurunkan tingkat
ovarii berkurang mungkin. ketegangan pada
daerah nyeri.
Kriteria hasil : 3. Kolaborasi untuk 3. Menghilangkan rasa
 Pasien pemberian obat nyeri.
mengungkapkan analgetik.
berkurangnya rasa 4. Merelaksasi otot-otot
4. Ajarkan dan lakukan
nyeri. tubuh.
tehnik relaksasi saat
 Skala nyeri 1-3
nyeri

2 Cemas b/d Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat kecemasan 1. Untuk mengetahui


rencana tindakan tindakan keperawatan klien dan sumber tingkat kecemasan
operatif 1x 30 mnt pasien tidak masalah. ringan, sedang atau
cemas berat sehingga
memudahkan untuk
Kriteria hasil : menentukan
 Pasien menyatakan intervensi.
tidak takut dengan 2. Dorong klien untuk 2. Klien akan merasa
rencana operasi mengungkapkan lega setelah
 Pasien menyatakan perasaan. mengungkapkan
siap untuk operasi perasaan.
 Pasien tampak 3. Berikan informasi yang 3. Mengurangi
tenang akurat tentang tindakan Khayalan yang
operasinya. disebabkan oleh
kurangnya informasi
atau kesalahan
3 Gangguan Setelah dilakukan 1. Bina hubungan saling 1. Dengan terjalin
konsep diri b/d tindakan keperawatan percaya dengan pasien hubungan saling
kekawatiran gangguan konsep diri percaya kepada
tentang petugas pasien akan
ketidakmampuan lebih terbuka dengan
memiliki anak perasaannya.
Kriteria hasil : 2. Anjurkan pasien untuk 2. Dengan
 Klien dapat berdiskusi dengan mendiskusikan
menerima keluarga atau petugas masalah dengan
kondisinya mengenai masalah keluarga dan petugas
 Klien tenang seksualitasnya. akan mengurangi
kecemasan pasien.

3. Dengan memberikan
3. Beri kesempatan pasien
kesempatan untuk
untuk mengungkapkan
mengkapkan
perasaannya perasaannya akan
mengurangi tingkat
kecemasan pasien
4. Anjurkan orang terdekat 4. Dukungan dari orang
untuk memberikan terdekat akan
dukungan atau semangat meningkatkan rasa
kepada pasien diri pasien dan
merasa masih ada
orang yang masih
. peduli sama klien
XIII. CATATAN KEPERAWATAN

No.
Tanggal Implementasi Evaluasi TTD
DX
1 13/12/16 1. Mengkaji tingkat dan intensitas nyeri. S :pasien mengatakan nyeri
Jam 08.00
2. Mengatur posisi senyaman
berkurang, ,skala nyeri 3
mungkin.posisi miring ke kiri
O:Pasien kadang tampak meringis
3. Melaksanakan kolaborasi untuk
pemberian obat analgetik. menahan sakit
4. Mengajarkan tehnik relaksasi saat nyeri
A: Masalah teratasi sebagian

P:Melanjutkan rencana no 1-4

2 13/12/16 1. Mengkaji tingkat kecemasan klien S :Pasien mengatakan masih takut


Jam 08.15
dan sumber masalah. dengan rencana tindakan operasi

2. Mendorong klien untuk


O:Wajah masih tampak cemas
mengungkapkan perasaan.
3. Memberikan informasi yang akurat
A:Masalah belum teratasi
tentang tindakan operasinya.

P:Lanjutkan Intervensi

3 13/12/16 1. Membina hubungan saling percaya S :Pasien mengatakan tidak


Jam 08.15
dengan pasien percaya diri

2. Menganjurkan pasien untuk


O:Wajah terlihat banyak diam dan
berdiskusi dengan keluarga atau
menutup diri
petugas mengenai masalah
seksualitasnya.
A:Masalah belum teratasi
3. Memberi kesempatan pasien untuk
mengungkapkan perasaannya P:Lanjutkan Intervensi
4. Menganjurkan orang terdekat untuk
memberikan dukungan atau
semangat kepada pasien
PENGKAJIAN ULANG POST OPERASI LAPARATOMIE

Tanggal 15/12/2016 jam 14.00 wib

1. ANALISA DATA POST OPERASI

No Data Diagnosa Keperawatan TTD


1 S: Pasien mengatakan nyeri pada luka Gangguan rasa nyaman nyeri B/D
operasi, Skala nyeri 6 luka insisi
O: Raut wajah tampak kesakitan sambil
memegang bagian perut yang dioperasi
Pasien post operasi Laparatomi jam 07.40
wib- 08.25 wib
Luka operasi pada perut bagian bawah
memanjang ± 10 cm

2 S ; Pasien mengatakan sudah dioperasi Kerusakan integritas kulit


O: Luka operasi pada perut bagian bawah berhubungan dengan luka insisi.
memanjang ± 10 cm

2. MASALAH KEPERAWATAN POST OPERASI


a. Gangguan rasa nyaman nyeri B/D luka insisi
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka insisi

3. RENCANA KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan Kriteria Intervensi Rasional


Keperawatan Hasil
1 Gangguan rasa Setelah dilakukan 1. Kaji tingkat dan intensitas 1. Mengidentifikasi
nyaman nyeri B/D tindakan keperawatan nyeri. lingkup masalah.
lika insisi 1x24 jam nyeri 2. Atur posisi senyaman 2. Menurunkan tingkat
berkurang mungkin. ketegangan pada
daerah nyeri.
Kriteria hasil : 3. Kolaborasi untuk 3. Menghilangkan rasa
 Pasien pemberian obat analgetik. nyeri.
mengungkapkan 4. Merelaksasi otot-
4. Ajarkan dan lakukan
berkurangnya rasa tehnik relaksasi saat nyeri otot tubuh.
nyeri.
 Skala nyeri 1-3

2 Kerusakan Setelah dilakukan 1. Lakukan perawatan luka 1. Mempercepat


integritas kulit tindakan keperawatan 2. Inspeksi luka pada setiap penyembuhan luka
berhubungan 2x24 kerusakan mengganti balutan 2. Mengetahui adanya
dengan luka insisi integritas kulit 3. Kaji luka terhadap infeksi secara dini
teratasi karakteristik tersebut: 3. Mengetahui adanya
Kriteria Hasil ; lokasi, luas dan infeksi secara dini
 Luka operasi kedalamanadanya dan
kering karakter eksudat,
 Tidak ada termasuk kekentalan,
tanda-tanda warna dan bau, granulasi
infeksi atau epitelialisasiada atau
tidaknya jaringan 4. Mencegah
nekrotik. terjadinya infeksi
4. Kolaborasi pemberian luka dan
antibiotik mempercepat
penyembuhan

4. CATATAN KEPERAWATAN

No.
Tanggal Implementasi Evaluasi TTD
DX
1 15/12/16 1. Mengkaji tingkat dan intensitas nyeri. S :pasien mengatakan nyeri
Jam 14.00
2. Mengatur posisi senyaman berkurang, ,skala nyeri 3
mungkin.posisi miring ke kiri
O:Pasien kadang tampak meringis
3. Melaksanakan kolaborasi untuk
menahan sakit, sambil memgang
pemberian obat analgetik.
4. Mengajarkan tehnik relaksasi saat nyeri bagian perut yang dioperasi

A: Masalah teratasi sebagian

P:Melanjutkan intervensi
2 15/12/16 1. Menginspeksi luka S:Pasien mengatakan sudah
Jam 15.00
2. Melakukan kolaborasi pemberian antibiotik operasi
Broadced 1 gr iv O:Tampak ada balutan luka
operasi pada perut bagian bawah
memanjang ± 10 cm
A: Masalah belum teratasi
P:Melanjutkan intervensi

1 16/12/16 1. Mengkaji tingkat dan intensitas nyeri. S:pasien mengatakan nyeri pada
Jam 14.00
2. Membantu mengatur posisi tidur pasien luka operasi
senyaman mungkin.posisi terlentang O:Pasien kadang tampak
3. Melaksanakan kolaborasi untuk pemberian meringis menahan sakit sambil
obat analgetik. Dinastat 1 ampul iv k/p memegang perut bagian kiri
4. Mengajarkan tehnik relaksasi saat nyeri bawah
Skala nyeri 2
A: Masalah teratasi
P: Pertahankan intervensi
2 16/12/16 1. Melakukan perawatan luka : Pasien mengatakan luka operasi
Jam 14.00
2. Melakukan inspeksi luka pada setiap sakit
mengganti balutan O: Tampak luka insisi operasi
3. Mengkaji luka terhadap karakteristik pada perut bagian bawah
tersebut: lokasi, luas dan kedalamanadanya memanjang ± 10 cm
dan karakter eksudat, termasuk kekentalan, Ganti balut luka baik, tidak ada
warna , bau, granulasi dan adanya eksudat, dan tidak ada jaringan
jaringan nekrotik. nekrotik.
4. Melakukan kolaborasi pemberian A: Masalah teratasi
antibiotik Broadced 1 gr iv P: Pertahankan intervensi
Edukasi perawatan luka di
rumah.
BAB III

PEMBAHASAN

Dari tinjauan kasus terlihat bahwa klien merasakan nyeri pada perut bagian bawah kiri sejak 2
minggu yang lalu dan pada tahun 2015 klien pernah mengalami operasi dengan kasus yang
sama.Pada kasus ini terlihat bahwa penyakit ini diketahui oleh klien setelah periksa ke
RumahSakit. Adapun diagnosa pra bedah adalah : Kista ovarium kiri sinistra
Diagnosa pasien dirawat : kista ovarium sinistra .Tindakan yang akan dilakukan adalah
laparatomie. Inspeksi dari kepala sampai dada tidak ada yang istimewa atau dalam batas normal.
Pemeriksaan Abdomen: Menurut status Ginekologis
Inspeksi : Tampak ada bekas luka operasi perut bagian bawah ( atas simpisis ).
Palpasi : nyeri tekan pada kwadran kiri bawah sakla nyeri 6
Perkusi :Redup
Auskultasi : Bising usus positif
Penanganan Masalah Oleh RS
Adapun penanganan yang dilakukan oleh RS adalah : dengan melakukan
LAPARATOMI.Laparatomi merupakan pembedahan pada bagian perut dengan tujuan untuk
mengeluarkan kista.Adapun jebis pembedahan yang dilakukan adalah pngangkatan ovarium kiri
dan kemudian mengangkat kista .anestesi yang diapakai adalah adalah anestesi spinal.
Adapun kesimpulan dari uraian diatas adalah :
Kista oarium merupakan pertumbuhan jaringan otot polos yang menimbulan pembengkakan yang
dapat berissi cairan mauapun berbentuk padat .Pada kasus yang diambil ditanganai dengan metoda
laparatomi. Ada penanganan terbaru untuk terbaru untuk penanganan kista ovarium dapat
dilakukan Laparaskopi. Namun di RS Panti Wilasa Citarum belum melakukan metode laparaskopi.
Diperlukan deteksi dini terhadap semua keganasan penyakit kandungan terutama kista ovarium
yang kebanyakan dapat menjadi ganas
Penyakit ini disebut juga dengan sillent killer karena gejala penyakitnya yang lambat terdeteksi
oleh penderita dan kebanyakan diketahui saat kista sudah besar
Menghindari faktor pemicu timbulnya kista ovarium dan peningkatan status gizi sangatlah penting
karena dari tubuh yang sehat akan memperkecil kemungkinan untuk terjangkit penyakit
Menghindari makanan yang mengandung zat kimia dan makanan siap saji

Anda mungkin juga menyukai