Anda di halaman 1dari 58

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam pembicaraan sehari-hari, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang

kegiatan utamanya menerima uang dalam bentuk simpanan. Kemudian bank juga

dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang

membutuhkan. Di samping itu bank juga dikenal sebagai tempat untuk mentransfer,

memindahkan uang, atau menerima segala macam bentuk pembayaran dan setoran1,

seperti pembayaran listrik, telepon, air, pajak, uang kuliah dan pembayaran lainnya.

Bank merupakan salah satu pihak yang tepat bagi salah satu upaya

menghimpun dana masyarakat, baik digunakan untuk investasi jangka pendek

maupun jangka panjang. Kegiatan atau usaha perbankan tersebut dapat membantu

masyarakat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat secara luas.

Salah satu fungsi perbankan adalah sebagai penyalur dana kepada masyarakat

dengan cara memberikan kredit, sehingga melahirkan hubungan hukum antara bank

(kreditur) dan nasabah peminjam dana (debitur). Dimana dalam Undang-Undang

Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992

tentang Perbankan Pasal 1 angka 18 bahwa “Nasabah Debitur adalah nasabah yang

1
Djoni S. Gozali dan Rachmadi Usman, 2010, Hukum Perbankan, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 134
2

memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah atau yang

dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang

bersangkutan ”. Demikian pula yang dimaksud “kredit” yang berasal dari bahasa

Yunani “Credere” yang berarti kepercayaan (trust or faith) 2 . Kredit adalah

“penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan

persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dan pihak lain yang

mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu

dengan pemberian bunga”. Dari sini dikitehaui, bahwa pemberian kredit bank itu

merupakan suatu perjanjian antara bank dengan pihak peminjam (nasabah debitur).

Perjanjian tersebut lahir berdasarkan kesepakatan pinjam-meminjam antara bank

dengan peminjam dana.Dalam praktik perbankan, perjanjian yang demikian lazim

dinamakan dengan “perjanjian kredit (bank)”.

Perjanjian kredit akan selalu didahului dengan suatu penelitian yang sangat

ketat serta mendetail mengenai kelayakan dari usaha yang memohon kredit tersebut,

misalnya mengenai kepribadian calon nasabahnya (karakter), prospek usahanya,

kegiatan/jenis usahanya, keabsahan usaha jaminan yang akan diserahkan. Hal ini

dimaksudkan agar dana kredit tersebut dapat mencapai tujuan yang telah

direncanakan sebelumnya, sehingga dana pinjaman dari Bank tersebut dapat

2
Muchdarsyah Sinungan, 1983, Dasar-Dasar dan Teknik Managemen Kredit, Jakarta: Bina

Aksara, hal.12.
3

dikembalikan tepat pada waktu yang telah diperjanjikan. Namun demikian, betapapun

ketatnya persyaratan yang harus dilalui sebelum dana kredit dicairkan, dalam praktek

ternyata tidak semua dana kredit dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan

sebelumnya, dan tidak semua proses pembayaran kredit dapat berjalan lancar.

Meskipun kredit adalah merupakan suatu kepercayaan, namun untuk

meminimalisir resiko atas dana yang telah dislurkan kepada nasabah/debitur maka

bank mengambil tindakan mengenai keharusan debitur untuk memberikan jaminan

atau agunan dalam permohonan kredit. Pemberian kredit oleh suatu Bank

mengharuskan kepada pihak peminjam untuk menyerahkan suatu jaminan yang

menurut KUHPer, segala kebendaan si berhutang, baik yang bergerak maupun yang

tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari

menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan3.

Dengan semakin meningkatnya penyaluran kredit , biasanya disertai pula

dengan meningkatnya kredit yang bermasalah atau kredit macet atas kredit yang

diberikan. Bahaya yang timbul dari kredit macet adalah tidak terbayarnya kembali

kredit tersebut, baik sebagian maupun seluruhnya. Namun, banyak kejadian-kejadian

yang terjadi membuktikan bahwa kredit yang bermasalah atau kredit macet banyak

terjadi sebagai akibat pemberian persetujuan kredit yang tidak begitu ketat.

3
Kitab Undang-undang Hukum Perdata, diterjemahkan oleh R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Cet.

30, Jakarta: Pradnya Paramita, 1999, pasal.1131.


4

Kredit bermasalah atau macet memberikan dampak yang kurang baik bagi

negara, masyarakat, dan perbankan Indonesia. Likuiditas, keuangan, solvabilitas dan

profitabilitas bank sangat dipengaruhi oleh keberhasilan bank dalam mengelola kredit

yang disalurkan.

Maka dalam menghindari resiko terjadinya kredit bermasalah atau macet,

pihak bank diwajibkan melakukan analisis yang seksama terhadap watak,

kemampuan, modal agunan dan prospek usaha debitur. Disamping itu disertai juga

agunan atau jaminan dimana untuk dapat memperoleh tambahan keyakinan dalam

penyaluran atau pemberian kredit terhadap debitur.

Adapun beberapa fungsi pokok pemberian jaminan meliputi antara lain

sebagai berikut :

1. Untuk menjaga harta bank dalam bentuk kredit, karena dengan diserahkan

jaminan kepada bank, maka bank berhak memperoleh pelunasan atas hasil

penjualan barang jaminan apabila debitur cidera janji.

2. Menjamin agar pembiayaan usaha tersebut berjalan lancar dengan diserahkan

harta pemilik (debitur) sebagai jaminan bank yang secara moril debitur akan

bertanggung jawab terhadap proyek usahanya sendiri,

3. Mendorong debitur untuk membayar kembali utangnya agar tidak kehilangan

harta yang telah dijaminkan tersebut.4

4
Rudy Tri Santoso, 1996, Kredit Usaha Perbankan, Yogjakarta: Andi Yogyakarta, hlm. 188.
5

Didalam kegiatan dibidang perbankan ini keberadaan lembaga jaminan begitu

penting dalam menopang kegiatan perkreditan. Bank sebagai lembaga pembiayaan

yang berfungsi menunjang transaksi bisnis sangatlah bergantung pada eksistensi

lembaga jaminan yang akan melindungi atau menjamin pemgembalian dana pinjaman

yang disalurkan. Kegiatan pinjam meminjam uang atau transaksi bisnis tersebut yang

terjadi di masyarakat, pada umumnya sering dipersyaratkan adanya penyerahan

jaminan utang oleh pihak debitur kepada pihak kreditur. Jaminan utang dapat berupa

benda sehingga merupakan jaminan kebendaan dan atau berupa janji penanggungan

utang sehingga dikatakan jaminan perorangan. Kebendaan yang dijaminkan untuk

pelunasan utang itupun tidak dibatasi macam ataupun bentuknya, yang jelas

kebendaan tersebut harus mempunyai nilai secara “ekonomis” serta memiliki sifat

“mudah dialihkan” atau “mudah diperdagangkan”, sehingga kebendaaan tersebut

tidak akan menjadikan suatu “beban” bagi kreditur untuk menjual lelang pada

waktunya, yaitu pada saat mana debitur secara jelas melalaikan kewajibannya, sesuai

dengan ketentuan dan syarat-syarat yang berlaku dalam perjanjian pokok yang

melahirkan utang-piutang tersebut.

Melihat banyaknya persoalan yang timbul terhadap dunia perbankan terutama

dalam kasus kredit, menjadikan suatu motivasi bagi penulis untuk membahas tentang

kredit, terutama untuk mengurangi resiko terjadinya kredit macet. Oleh karena itu

penulis memilih judul

PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PT LESTARI DENPASAR


6

1.2. Rumusan Masalah

1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi adanya kredit macet pada PT BPR

Lestari Denpasar?

2. Bagaimana penyelesaian kredit macet pada PT BPR Lestari Denpasar?

1.3. Ruang Lingkup Masalah

Dalam penulisan sebuah karya ilmiah, perlu kiranya dalam menentukan

batasan-batasan mengenai pokok-pokok materi yang akan dibahas guna nantinya

materi-materi yang dijabarkan tersebut tidak akan menyimpang dari pokok penelitian

yang dibahas.

Penelitian karya ilmiah ini memiliki ruang lingkup permasalahan faktor

apakah yang mempengaruhi adanya kredit macet pada PT BPR Lestari Denpasar dan

penyelesaian kredit macet pada PT BPR Lestari Denpasar.

1.4 Orisinalitas Penelitian

Penelitian ini merupakan hasil karya asli penulis sehingga dapat

dipertanggungj jawabkan secara ilmiah. Untuk memperlihatkan orisinalitas dari


7

skripsi dapat dibandingkan perbedaannya dengan skripsi terdahulu yang sejenis, yaitu

NO Peneliti Judul Penelitian Masalah Yang Diangkat

1 Amalia Yustika Penyelesaian Kredit Macet 1. Bagaimana penyelesaian kredit

Febriani Dengan Jaminan Pada macet dengan jaminan pada

Koperasi Simpan Pinjam di Koperasi Simpan Pinjam di

Denpasar Denpasar?

2. Kendala-kendala apa saja yang

dihadapi oleh Koperasi Simpan

Pinjam dalam melakukan eksekusi

terhadap jaminan kredit?


8

2 I Wayan Agus Oka Penyelesaian Kredit Macet 1. Persyaratan apa yang harus

Sutresna melalui Lembaga Paksa dipenuhi kreditur untuk

Badan mengajukan upaya paksa badan

kepada debitur yang kreditnya

macet?

2. Apa akibat hukum bagi debitur

yang telah diputus oleh Pengadilan

Negeri untuk menjalankan Paksa

Badan selama waktu tertentu yang

ditetapkan undang-undang?

3 Made Gede Dwidya Penyelesaian Kredit Macet 1. Apa dasar hukum perjanjian

Santhika Atas Kredit Tanpa Agunan kredit tanpa agunan atas kredit

Yang Diberikan Kepada yang diberikan kepada usaha kecil

Usaha Kecil Dan Menengah dan menengah?

2. Bagaimana penyelesaian kredit

macet tanpa agunan atas kredit

yang diberikan kepada usaha kecil

dan menengah?
9

1.5 Tujuan Penelitian

Pada pokoknya tujuan penelitian ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu,

sebagai berikut :

1.5.1 Tujuan umum :

1) Untuk mengembangkan dan mengekspresikan ilmu yang telah dipelajari

selama masa perkuliahan.

2) Untuk menghindari resiko terjadinya kredit bermasalah atau macet

1.5.2 Tujuan khusus :

1) Untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan kredit bermasalah atau

macet di Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

2) Untuk memahami akibat hukum bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan oleh penulis agar dapat memberikan manfaat bagi

pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan mempunyai kegunaan praktis

pada khususnya. Disamping itu juga, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat

baik secara teoritis maupun praktis.

1.6.1 Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna dalam

menambah wawasan dan ilmu pengetahuan hukum khususnya terhadap hukum

perbankan.
10

1.6.2 Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai pedoman, acuan dan

panduan bagi kalangan dibidang perbankan, khususnya penelitian ini dapat dijadikan

dasar untuk lebih berhati-hati dalam memberikan kredit bank terutama bagi

kedudukan kreditur dalam kaitannya kreditur sebagai kreditur preverent agar

mempunyai hak diistimewakan.

1.7 Landasan Teoritis

Dalam penelitian ilmiah diperlukan teori yang berupa definisi, konsep-konsep

hukum, asumsi dan proposisi untuk menerangkan atau sebagai landasan dalam

membahas permasalahan penelitian. Dalam setiap penelitian harus disertai dengan

pemikiran-pemikiran teoritis, oleh karenanya ada hubungan timbal balik yang erat

antara teori dengan kegiatan pengumpulan dan pemgelolaan data, analisa, serta

kontruksi data.

Terjadinya proses pinjam meminjam atau perkreditan karena adanya

keperluan masyarakat yang mendesak dalam pendanaan/modal sangat besar serta

cepat yang mereka butuhkan. Dalam proses pengkreditan atau pemberian kredit

terlebih dahulu harus melakukan perjanjian kredit atau perjanjian pokok. Menurut

Prof. Subekti, S.H. suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji

kepada orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan

sesuatu hal, dari peristiwa ini timbullah suatu hubungan hukum antara dua orang
11

tersebut yang dinamakan perikatan. 5 Sehingga dapat ditarik pengertian bahwa

perjanjian kredit merupakan perbuatan hukum yang melahirkan perikatan antara dua

pihak atau lebih yang menggunakan uang sebagai objek dari perjanjian, dimana point

dalam pengertian ini adalah pemenuhan prestasi antara pihak yang menggunakan

uang sebagai objeknya dan objek tersebut berupa benda/barang yang dapat

dipersamakan dengan uang. Mengenai bentuk perjanjian ini tidak ada bentuk yang

pasti karena tidak ada peraturan yang mengaturnya, dan didalam buku III

KUHPerdata tidak terdapat juga ketentuan yang khusus mengatur perihal Perjanjian

kredit. Namun dengan berdasarkan asas kebebasan berkontrak, para pihak bebas

untuk menentukan isi dari perjanjian kredit sepanjang tidak bertentangan dengan

Undang-Undang, yang jelas perjanjian kredit selalu dibuat dalam bentuk tertulis dan

mengacu pada Pasal 1320 KUH Perdata tentang syarat-syarat sahnya perjanjian.

Syarat sahnya suatu perjanjian secara umum diatur dalam pasal 1320

KUHPerdata yang menyebutkan, untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 syarat

yaitu :

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

2. Kecakapan untuk membuat perjanjian

3. Suatu hal tertentu

4. Suatu sebab yang halal

5
H.R Daeng Naja, 2015, Hukum Kredit Dan Bank Garansi The Bankers Hand Book, PT. Citra

Aditya Bakti, Bandung, hlm. 175


12

Keempat unsur/syarat pokok tersebut harus ada agar suatu perbuatan hukum

dapat disebut dengan perjanjian yang sah. Keempat unsur tersebut selanjutnya di

golongkan ke dalam dua unsur pokok yang menyangkut subjek yang mengadakan

perjanjian (unsur subjektif) dan unsur pokok lainnya yang menyangkut dengan objek

perjanjian (unsur objektif). Unsur subjektif disini mencangkup adanya unsur

kesepakatan secara bebas dari para pihak yang melakukan perjanjuan dan kecakapan

dari pihak yang melaksanakan perjanjian. Sedangkan unsur objektif disini meliputi

keberadaan objek yang diperjanjikan, dimana objek tersebut haruslah sesuatu yang

diperkenankan menurut hukum.

Bentuk perjanjian kredit perbankan pada umumnya menggunakan bentuk

perjanjian baku (standar contract) yang telah disediakan oleh pihak bank sebagai

kreditor sedangkan debitor hanya mempelajari dan memahaminya dengan baik.

Sehingga didalam perjanjian tersebut biasanya pihak debitur hanya mempunyai

pilihan menerima atau menolak tanpa adanya kemungkinan proses negoisasi atau

tawar menawar. Apabila pihak dari debitur menerima semua ketentuan dan

persyaratan yang diberikan oleh bank, maka debitur berkewajiban untuk

menandatangani perjanjian kredit tersebut dengan disertai juga jaminan dan nantinya

akan dibuatkan perjanjian jaminan yang sifatnya accesoir dimana mengikuti

perjanjian pokok yaitu perjanjian kredit.6

6
Oey Hoey Tiong, 1984, Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-Unsur Perikatan, Ghalia Indonesia,

Jakarta, hlm. 21
13

1.8 Metode Penelitian

Agar penelitian hukum dapat dikatakan sebagai karya tulis ilmiah, maka harus

memenuhi unsur metodis, artinya bahwa pencarian dan pembahasan serta penuangan

bahan-bahan hukum serta keterangan yang telah diperoleh dilakukan dengan

menggunakan metode-metode ilmiah.

Oleh karena itu dalam mencari bahan-bahan hukum serta keterangan-

keterangan dan kemudian menuangkan dalam bentuk tulisan ini dipakai metode

sebagai berikut :

1.8.1 Jenis penelitian

Jenis penelitian dalam penulisan usulan proposal ini adalah menggunakan

metode atau pendekatan dari aspek empiris, yaitu dengan suatu metode dengan

melakukan observasi atau penelitian secara langsung ke lapangan guna mendapatkan

kebenaran yang akurat di dalam penulisan skripsi ini. Penelitian empiris yang

dilakukan dalam penulisan skripsi ini lebih banyak menelaah dan mengkaji data

primer yang diperoleh dilapangan yang kemudian didukung oleh data sekunder yang

diperoleh melalui penelitian kepustakaan.

1.8.2 Jenis pendekatan

Dalam membahas permasalahan yang terdapat dalam usulan proposal ini

digunakan jenis Pendekatan Perundang-undangan (The Statute Approach).


14

1.8.3 Sifat penelitian

Sifat penelitian ini bersifat deskriptif. Penelitian ini bertujuan

menggambarkan secara sifat-sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu

atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala atau untuk menentukan ada tidaknya

hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dimasyarakat. Penelitian ini

menggambarkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kredit macet di bank

BPR lestari di Denpasar.

1.8.4 Data dan sumber data

Sumber bahan hukum yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini

menggunakan 2 (dua) bahan hukum sebagai berikut:

1. Data Primer

Data primer yang dipergunakan dalam penulisan usulan proposal ini bersumber

atau diperoleh dari penelitian di lapangan yang dilakukan dengan cara

mengadakan penelitian di PT. Bank Perkreditan Rakyat Lestari. Adapun sumber

data yang diperoleh dari pihak-pihak yang terlibat langsung atau responden yang

didapat pada lokasi tempat penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini terdiri atas bahan hukum primer dan bahan

hukum sekunder.

1. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat

yaitu :

a. Undang – Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan;


15

b. Kitab Undang – Undang Hukum Perdata

2. Bahan Hukum Sekunder adalah literatur yang memberikan penjelasan

terhadap bahan hukum primer yaitu meliputi buku-buku : literatur-literatur,

artikel, makalah, internet, skripsi, dan bahan-bahan hukum tertulis lainnya

yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.

3. Bahan Hukum Tersier

a. Kamus Hukum,

b. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

1.8.5 Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan untuk penelitian lapangan dilakukan dengan 2 (dua) cara

yaitu :

a. Penelitian Kepustakaan

Penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan mengumpulkan dan mempelajari

data yang terdapat dalam buku, artikel, dokumen resmi dan menganalisa untuk

kemudian dikorelasikan menjadi tulisan yang integral.

b. Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan yang bertujuan untuk memperoleh penunjang bahan hukum

primer dengan cara :

1. Wawancara, yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung dari

narasumber. Teknik wawancara ini dilakukan dengan terstruktur yang

dilakukan dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah penulis


16

sediakan terlebih dahulu guna untuk mendapatkan jawaban yang relevan

didalam suatu kasus penelitian.

2. Observasi (pengamatan) intensif, yaitu pengamatan yang dilakukan di

Lembaga Perbankan dan Kantor Notaris-PPAT.

1.8.6 Teknik pengolahan dan analisis data

Dalam penulisan skripsi ini, pengolahan dan analisa terhadap data yang

dihimpun dilakukan dengan menggunakan Analisa Kualitatif dan disajikan secara

deskriptif yaitu memilih dan meringkas data yang diperoleh menjadi data lengkap

yang relevan dengan permasalahannya yang mana untuk selanjutnya dianalisa. Dan

dalam hal data tersebut dahulu disusun secara sistematis, kemudian baru dianalisa

secara kualitatif sehingga diharapkan mendapatkan gambaran yang jelas dari

permasalahn yang dihadapi. Sampel yang digunakan lebih bersifat non probabilitas,

dan pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara dan observasi.

Dalam penelitian dengan teknik analisis kualitatif atau yang sering disebut analisis

kualitatif ini maka keseluruhan data yang terkumpul baik dari data primer maupun

data sekunder, akan diolah dan dianalisis dengan cara dan tema diklasifikasikan,

dihubungkan antara satu data dengan data lainnya, dilakukan interpretasi untuk

memahami makna data dalam situasi sosial, dan dilakukan penafsiran dari perspektif

peneliti setelah memahami keseluruhan kualitas data. Proses analisa tersebut

dilakukan secara terus menerus sejak pencarian data di lapangan dan berlanjut secara
17

hingga pada tahap analisis. Setelah dilakukan analisis secara kualitatif kemudian data

akan disajikan secara deskriptif kualitatif dan sistematis.


18

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG KREDIT DAN KREDIT MACET

2.1 Kredit

2.1.1 Pengertian Kredit

Kata dasar kredit berasal dari bahasa latin credere yang mempunyai arti

kepercayaan, atau credo yang mempunyai arti saya percaya. 7 Contohnya seorang

nasabah debitur memperoleh kredit dari bank, adalah tentu orang yang mendapat

kepercayaan dari bank.8 Dalam kehidupan sehari-hari kata kredit bukanlah perkataan

yang asing bagi masyarakat kita. Perkataan kredit tidak saja dikenal oleh masyarakat

dikota kota besar, namun sampai didesa desa pun kata kredit tersebut sudah sangat

populer. Istilah kredit berasal dari kata italia, credere yang artinya kepercayaan, yaitu

kepercayaan dari kreditur bahwa debiturnya akan mengembalikan pinjaman beserta

bunganya sesuai dengan perjanjian kedua belah pihak. Apa yang telah dijanjikan itu

dapat berupa barang, uang atau jasa.

Prinsip penyaluran kredit adalah prinsip kepercayaan dan kehati hatian. Indikator

7
Firdaus Rachmat dan Maya Ariyanti, Manajemen Perkreditan Bank Umum: Teori, Masalah,

Kebijakan dan Aplikasi Lengkap dengan Analisis Kredit, (Bandung: Alfabeta, 2009), hal. 1.

8
Suharningsih, 2011, Analisis Yuridis Terhadap Perjanjian Kredit Dengan Jaminan “Barang

Inventory” Dalam Bingkai Jaminan Fidusia, Wisnuwardhana Malang Press, Malang.


19

kepercayaan ini adalah kepercayaan moral, komersial, finansial, dan agunan. Bila

transaksi kredit terjadi, maka akan dapat kita lihat adanya pemindahan materi dari

yang akan memberikan kredit kepada orang yang diberikan kredit, sehingga yang

memberi kredit menjadi yang berpiutang, sedangkan yang diberi kredit yang

terhutang.

Kredit juga merupakan kemampuan seseorang ataupun badan usaha untuk

menggunakan uang, barang atau jasa yang diterimanya dihubungkan dengan

kemampuan untuk mengembalikan setelah jangka waktu tertentu.

Manajemen perkreditan Bank adalah kegiatan mengatur pemanfaatan dana-dana

bank, supaya produktif, aman dan giro wajib minimalnya tetap sehat. Manajemen

perkreditan akan dapat dilakukan dengan baik jika didasarkan perhitungan yang

matang dan terpadu dari pendapatan, keamanan, dan giro wajib minimalnya. Oleh

karena itu, pimpinan bank dituntut agar melaksanakan perencanaan, alokasi, dan

kebijaksanaan penyaluran kreditnya.

Kredit menurut Hermansyah adalah pinjaman uang dengan pembayaran

pengembalian secara mengangsur atau pinjaman sampai batas jumlah tertentu yang

diizinkan oleh bank atau badan lain.

Dalam Undang-undang RI No 7 tahun 1992 Tentang perbankan Pasal 1 ayat (12),

Pengertian kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan

dengan berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antar bank


20

dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya

setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga imbalan atau pembagian hasil

keuntungan.

Menurut Dendawijaya Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu

pembelian atau suatu pinjaman dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan

tangguhan pada jangka waktu yang disepakati.

Sedangkan menurut Muslehuddin Kredit merupakan suatu kepercayaan pada

kemampuan seseorang untuk membayar, kepercayaan ini didasarkan atas sebuah

perjanjian. Jadi adakalanya kredit dinyatakan hanya sebagai “janji untuk membayar

hutang” atau sebagai izin untuk menggunakan modal orang lain .Ia mengacu pada

upaya seseorang untuk menggunakan barang dagangan seseorang, dengan janji akan

membayarnya kembali setelah barang dagang itu laku.

Dari Pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kredit adalah penyediaan uang

kepada pihak ketiga atas dasar kepercayaan dengan perjanjian tertulis bahwa akan

dikembalikan kembali bersama bunganya oleh peminjam sesuai dengan perjanjian

yang telah disepakati.

Dalam pemberian kredit pihak perbankkan akan mengadakan perjanjian terlebih

dahulu dengan pihak peminjam, namun sebelum hal terjadi pihak peminjam

mengajukan proposal terlebih dahulu kepada pihak perbankkan untuk dianalisa dalam

hal latar belakang nasabah atau perusahaan, prospek usahanya, jaminan yang
21

diberikan. Hal ini dilakukan agar pihak perbakkan menjadi yakin serta bahwa

nasabah adalah orang yang tepat untuk diberikan pinjaman. Pemberian kredit yang

tanpa melalui tahap analisis akan dapat menyebabkan kerugian bagi piahak

perbakkan itu sendiri karena akan dapat menimbulkan kredit macet di kemudian hari,

hal inilah yang terjadi di banyak tubuh perbakkan pada tahun 1997 dimana banyak

bank umum yang dilikuidasi oleh BI dikarenakan likuiditasnya berada dibawah

standar BI. Bila kita tilik lebih jauh maka bisa kita lihat banyak terdapat KKN pada

saat pengajuan proposal pinjaman sehingga analisis tidak dilakukan sesuai prosedur,

hasilnya adalah yang bisa kita lihat yang terjadi pada tahun 1997 dimana banyak

terjadi kredit macet sehingga likuiditas bank umum tertentu tidak memenuhi syarat

likuiditas dari Bank Indonesia.

2.1.2 Unsur Kredit

Seperti telah disebutkan di atas bahwa kredit berarti kepercayaan, kepercayaan

mana adalah kepercayaan dari bank selaku kreditor untuk memberikan pinjaman

kepada debitor di mana debitor akan mengembalikan seluruh pinjaman beserta bunga

yang harus dibayarnya kepada kreditor pada jangka waktu yang telah disepakati

sebelumnya. Kepercayaan tersebut timbul karena dipenuhinya segala ketentuan dan

persyaratan untuk memperoleh kredit bank oleh debitor antara lain jelasnya tujuan
22

peruntukan kredit, adanya benda jaminan atau agunan, dan lain-lain.9

Menurut Drs. Thomas Suyatno Unsur-unsur kredit adalah: 10

a. Kepercayaan, yaitu keyakinan dari sipemberi kredit bahwa yang

diberikannya baik dalam bentuk uang, barang atau jasa akan benar- benar

diterimanya kembali dalam jangka tertentu dimasa yang akan 
datang. 


b. Waktu, yaitu suatu masa yang memisahkan antara pemberian dengan 
yang

akan diterima pada masa yang akan datang . Dalam bentuk unsur waktu ini,

terkandung pengertian nilai dari uang yang ada sekarang lebih tinggi nilainya

dari uang yang akan diterima pada masa yang akan datang. 


c. Degree of risk, yaitu suatu tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat

dari adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian dengan yang

akan diterima kemudian hari. Semakin lama kredit diberikan semakin tinggi

pula tingkat resikonya, karena sejauh kemampuan manusia untuk menerobos

hari depan itu maka masih selalu terdapat unsur ketidaktentuan yang tidak dapat

diperhitungkan.

9
Hermansyah, S.H., M.Hum., Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Cetakan ke-4, (Jakarta:

Kencana, 2008), hal 58.

10
Drs. Thomas Suyatno, et. al., Dasar-Dasar Perkreditan, Cetakan ke-11, (Jakarta: PT. Gramedia

Pustaka Utama, 2007), hal. 14.


23

d. Prestasi, atau objek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang, tetapi

juga dapat berbentuk barang atau jasa, namun karena kehidupan modren

sekarang ini didasarkan kepada uang, maka transaksi-transaksi kredit yang

menyangkut uanglah yang sering kita jumpai dalam praktek perkreditan.

Sedangkan menurut Prof. DR. H. Veithzal Rivai, M.B.A. dan Andria Veithzal, B.

Acct., M.B.A., unsur-unsur yang terdapat di dalam kredit adalah sebagai berikut

:11

a. Adanya dua pihak, yaitu pemberi kredit (kreditor) dan penerima kredit

(nasabah). Hubungan pemberi kredit dan penerima kredit merupakan hubungan

kerja sama yang saling menguntungkan.

b. Adanya kepercayaan pemberi kredit kepada penerima kredit yang didasarkan

atas credit rating penerima kredit.

c. Adanya persetujuan, berupa kesepakatan pihak bank dengan pihak lainnya

yang berjanji membayar dari penerima kredit kepada pemberi kredit. Janji

membayar tersebut dapat berupa janji lisan, tertulis (akad kredit) atau berupa

insturmen (credit instrument).

11
Prof. DR. H. Veithzal Rivai, M.B.A., Andria Permata Veithzal, B.Acct, M.B.A., Credit

Management Handbook: Teori, Konsep, Prosedur, dan Aplikasi Panduan Praktis Mahasiswa,

Bankir, dan Nasabah, Cetakan I, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006), hal. 5.
24

d. Adanya penyerahan barang, jasa, atau uang dari pemberi kredit kepada

penerima kredit.

e. Adanya unsur waktu (time element). Unsur waktu merupakan unsure

essensial kredit. Kredit dapat ada karena unsur waktu, baik dilihat dari pemberi

kredit maupun dilihat dari penerima kredit. Misalnya, penabung memberikan

kredit sekarang untuk konsumsi lebih besar di masa yang akan datang.

Produsen memerlukan kredit karena adanya jarak waktu antara produksi dan

konsumsi.

f. Adanya unsur resiko (degree of risk) baik di pihak pemberi kredit maupun di

pihak penerima kredit. Resiko di pihak pemberi kredit adalah resiko gagal

bayar (risk of default), baik karena kegagalan usaha (pinjaman komersial) atau

ketidakmampuan bayar (pinjaman konsumen) atau karena ketidaksediaan

membayar. Resiko di pihak nasabah adalah kecurangan dari pihak kreditor,

antara lain berupa pemberian kredit yang dari semula dimaksudkan oleh

pemberi kredit untuk mencaplok perusahaan yang diberi kredit atau tanah yang

dijaminkan.

g. Adanya unsur bunga sebagai kompensasi (prestasi) kepada pemberi kredit.

Bagi pemberi kredit, bunga tersebut terdiri dari berbagai komponen seperti

biaya modal (cost of capital), biaya umum (overhead cost), risk premium, dan

sebagainya. Jika credit rating penerima kredit tinggi, risk premium dapat
25

dikurangi dengan safety discount.

2.2 Kredit Macet

2.2.1 Pengertian Kredit macet

Dalam perbankan yang memberikan pelayanan kredit kepada masyarakat maka

dalam pemberian suatu fasilitas kredit tidak jarang terjadi suatu resiko kemacetan.

Akibat dari kemacetan ini kredit tidak dapat ditagih sehingga menimbulkan kerugian.

Menurut Arthesa pengertian kredit macet adalah kredit yang sejak jatuh tempo

tidak dapat dilunasi oleh debitur sebagaimana mestinya sesuai dengan perjanjian.

Sedangkan Menurut Rivai ada beberapa pengertian kredit macet atau bermasalah

yaitu:

a. Kredit yang didalam pelaksanaannya belum mencapai atau memenuhi target

yang diinginkan oleh pihak bank

b. Kredit yang memiliki kemungkinan timbulnya risiko dikemudian hari bagi

bank dalam arti luas

c. Mengalami kesulitan didalam penyelesaian kewajiban-kewajibannya baik

dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran bunga, denda
26

keterlambatan, serta ongkos-ongkos bank yang menjadi beban debitur yang

bersangkutan

d. Kredit dimana pembayaran kembalinya dalam bahaya, terutama apabila

sumber-sumber pembayaran kembali yang diharapkan diperkirakan tidak cukup

untuk membayar kembali kredit sehingga belum mencapai atau memenuhi target

yang diinginkan oleh bank

e. Kredit dimana terjadi cedera janji dalam pembayaran kembali sesuai perjanjian

sehingga terdapat tunggakan, atau ada potensi kerugian diperusahaan debitur

sehingga memiliki kemungkinan timbulnya risiko dikemudian hari bagi bank

daalam arti luas

f. Mengalami kesulitan didalam penyelesaian kewajiban-kewajibannya terhadap

bank, baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya, pembayaran bunga,

maupun ongkos-ongkos bank yang menjadi beban nasabah debitur yang

bersagkutan

g. Kredit golongan perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet serta

golongan lancar yang berpotensi menunggak


27

2.2.2 Penyebab Terjadinya Kredit Macet

Kredit macet menggambarkan situasi, dimana persetujuan pengembalian kredit

mengalami risiko kegagalan, bahkan cenderung menuju atau mengalami rugi yang

potensial.

Kesalahan bank yang dapat mengakibatkan kredit macet berawal dari tahap

perencanaan, tahap analisis, dan tahap pengawasan. Hal-hal yang menjadi penyebab

timbulnya kredit macet tersebut perlu disadari oleh bank agar bank dapat mencegah

atau menangani dengan baik. Adapun beberapa penyebab kredit macet sebagai

berikut:

1. Karena Kesalahan Bank

a. Kurang pengecekan terhadap latar belakang calon nasabah

b. Kurang tajam dalam menganalisis terhadap maksud dan tujuan penggunaan kredit

dan sumber-sumber pembayaran kembali

c. Kurang pemahaman terhadap keburuhan keuangan yang sebenarnya dari calon

nasabah

d. Kurang mahir dalam menganalisis laporan keuangan calon nasabah

e. Kurang lengkap mencantumkan syarat-syarat


28

f. Terlalu agresif

g. Pemberian kelonggaran terlalu banyak

h. Kurang pengalaman dari pejabat kredit

i. Pejabat kredit mudah dipengaruhi, diintimidasi, atau dipaksa oleh calon nasabah

j. Kurang berfungsinya credit recovery officer

k. Keyakinan yang berlebihan

l. Kurang mengadakan review, minta laporan. dan menganalisis laporan keuangan

serta informasi-informasi kredit lainnya

m. Kurang mengadakan kunjungan pada lokasi nasabah

n. Kurang mengadakan kontak dengan nasabah

o. Pemberian kredit terlalu banyak tanpa disadari

p. Campur tangan yang berlebihan dari pemilik

q. Pengikatan agunan kurang sempurna

r. Ada kepentingan pribadi pejabat bank

s. Kompromi terhadap prinsip-prinsip perkreditan


29

t. Tidak punya kebijakan perkreditan yang sehat

u. Sikap memudahkan dari pejabat bank

2. Karena Kesalahan Nasabah:

a. Nasabah tidak kompeten

b. Nasabah tidak atau kurang pengalaman

c. Nasabah kurang memberikan waktu untuk usahanya d. Nasabah tidak jujur

e. Nasabah serakah

3. Faktor Exsternal

Akibat perubahan pada external environment diidentifikasi penyebab timbulnya

kredit macet, seperti perubahan-perubahan political dan legal environment, deregulasi

sektor real, financial dan ekonomi menimbulkan pengaruh yang merugikan keada

seorang debitur. Perubahan tersebut merupakan tantangan terus-menerus yang

dihadapi oleh pemilik dan pengelola perusahaan. Satu kunci menuju pengelolaan

sukses dari suatu usaha aadalah kemampuan mengantisipasi perubahan dan cukup

fleksibel dalam mengelola usahanya. Sebagai akibat gagalnya pengelola dengan tepat

mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut, seperti:

a. Kondisi perekonomian
30

b. Perubahan-perubahan peraturan

c. Bencana alam
31

BAB III


FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KREDIT MACET PADA

KSU.TUMBUH KEMBANG, PEMOGAN-DENPASAR SELATAN

3.1 Kriteria Kredit Macet

Penggolongan kualitas kredit merupakan cerminan bagaimana keadaan

pembayaran pokok dan bunga dalam suatu perjanjian kredit. Dengan melihat lancar

atau tidaknya pembayaran suatu kredit maka dapat menggambarkan kualitas kredit itu
12
sendiri.

Kualitas kredit menurut Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor

31/147/Kep/DIR pada tanggal 12 November 1998 sebagaimana telah diubah dengan

peraturan Bank Indonesia Nomor 4/6/PBI/2002 tanggal 6 September 2002,


13
penggolongan kolektibilitas kredit ditetapkan menjadi:

a. Kriteria kedit lancar

1. Tidak terdapat tunggakan, baik angsuran pokok maupun bunganya

12
Dahlan Siamat, 1993, Manajemen Bank Umum, Intermedia, Jakarta, hal.112


13
H.R.Daeng Naja, 2005, Hukum Kredit dan Bank Garansi, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal.304
32

2. Terdapat tunggakan angsuran pokok ataupun tunggakan bunga, tetapi belum

melampaui 1 bulan bagi kredit yang masa angsurannya kurang dari 1 bulan, atau

belum melampaui 3 bulan bagi kredit yang masa angsurannya 2 bulanan sampai 3

bulanan, atau belum melampaui 6 bulan bagi kredit yang masa angsurannya 4

bulanan atau lebih.

b. Kriteria kredit kurang lancar

1. Terdapat tunggakan angsuran pokok yang melampaui 1 bulan dan belum

melampaui 2 bulan bagi kredit dengan masa angsurannya kurang dari 1 bulan, atau

melampaui 3 bulan dan belum melampaui 6 bulan bagi kredit yang masa

angsurannya 2 bulanan atau 3 bulanan, atau melampaui 6 bulan dan belum

melampaui 12 bulan bagi kredit yang masa angsurannya 6 bulan/lebih.

2. Terdapat tunggakan bunga yang melampaui 3 bulan bagi kredit yang masa

angsurannya kurang dari 1 bulan, atau melampaui 3 bulan dan belum melampaui 6

bulan bagi kredit yang masa angsurannya lebih dari 1 bulan.

c. Kriteria kredit diragukan

Apabila suatu kredit tidak memenuhi kriteria lancar dan kurang lancar yang

berdasarkan penilaian dapat disimpulkan bahwa kredit masih dapat diselamatkan

dan angunannya bernilai sekurang-kurangnya 75% dari hutang peminjam,

termasuk bunganya atau kredit tidak dapat di selamatkan, tetapi angunannya masih
33

bernilai sekurang- kurangnya 100% dari hutang peminjam.

d. Kriteria kredit macet

1. Terdapat tunggakan angsuran pokok yang telah melampaui 270 hari. 


2. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru.

3. Jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar, baik dari 
segi hukum

maupun segi kondisi pasar.

Penggolongan koletibilitas kredit menurut ketentuan Pasal 12 Ayat (3) Peraturan

Bank Indonesia No.7/2/PBI/2005 Tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum,

kualitas kredit dibagi menjadi 5 yaitu:14

1. Kredit Lancar, yaitu apabila memenuhi kriteria pembayaran angsuran pokok

dan atau bunga tepat, memiliki mutasi rekening yang aktif, dan bagian dari kredit

yang dijamin dengan anggunan tunai. 


2. Kredit Dalam Perhatian Khusus, yaitu apabila memenuhi kriteria terdapat

tunggakan angsuran pokok dan atau bunga yang belum melampaui 90 hari,

kadang-kadang terjadi cerukan, mutasi rekening lebih rendah, jarang terjadi

14
Hermansyah, SH.,M.Hum., 2009, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana, Jakarta,

hal.66
34

pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan dan didukung oleh pinjaman

baru. 


3. Kredit Kurang Lancar, yaitu apabila memenuhi kritera terdapat tunggakan

angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 90 hari, sering terjadi

cerukan, frekuensi mutasi rekening relatif rendah, terjadi 
pelanggaran kontrak

yang diperjanjikan lebih dari 90 hari, terdapat indikasi masalah keuangan yang

dihadapi debitur dan dokumen pinjaman yang lemah.

4. Kredit yang Diragukan, yaitu apabila memenuhi kriteria terdapat tunggakan

angsuran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 180 hari, sering terjadi

cerukan yang bersifat permanen, terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari, terjadi

kapitalisasi bunga, dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit

maupun pengikatan jaminan.


5. Kredit Macet, yaitu apabila memenuhi kriteria terdapat angsuran pokok dan

atau bunga yang telah melampaui 270 hari, kerugian operasional ditutup dengan

pinjaman baru, dan dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat

dicairkan pada nilai wajar.

3.2 Faktor Penyebab Kredit Macet Pada PT BPR Lestari Denpasar

Kredit dalam dunia perbankan dapat didefinisikan sebagai penyediaan uang atau

tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau


35

kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan

pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan

jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.15

Nyoman Suardana, selaku Ketua Bagian Kredit di PT BPR Lestari Denpasar

mengatakan, ketika kredit dianggap mulai bermasalah, dapat dilihat dari kolektibilitas

kredit yang dimulai dari lancar, kurang lancar, diragukan dan macet. Saat kredit

sudah dianggap macet, mengartikan bahwa nasabah/debitur mengingkari janjinya

untuk membayar bunga dan kredit/kewajiban pokok yang sudah jatuh tempo,

sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan pembayaran bahkan tidak sama

sekali. Apabila kredit bermasalah dibiarkan terus menerus, maka akan berdampak

pada kelangsungan hidup suatu usaha perkoperasian itu sendiri, seperti koperasi tidak

dapat menjalankan kewajibannya, menimbulkan kerugian dengan perlahan, dan tidak

ada pendapatan/penghasilan dari bunga kredit sehingga mempengaruhi kesehatan

usaha bank itu sendiri. (Wawancara dengan Nyoman Suardana, sebagai ketua bagian

kredit pada PT BPR Lestari Denpasar pada tanggal 13-72017)

Secara umum, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kredit macet adalah:16

1. Faktor Internal

15
Djoni S.Gazali, 2010, Pengertian dan Dasar Hukum Perbankan, Sinar Grafika, Jakarta hal.265

16
Mahmoedin, 2004, Kredit Bermasalah, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, hal.51
36

Faktor internal merupakan faktor penyebab kredit macet yang berasal dari pihak

bank itu sendiri. Penyebab tersebut berasal dari:

a. Rendahnya kemampuan pihak koperasi dalam melakukan analisis permohonan

kredit. Analisis kredit merupakan hal yang penting dalam pemberian kredit,

dimana calon nasabah peminjam kredit harus memberikan laporan keuangan dan

dokumen-dokumen pendukung yang lengkap. Sehingga pihak koperasi bisa

menentukan layak/tidaknya calon nasabah tersebut untuk mendapatkan fasilitas

kredit atau dengan menganalisa kredit, pihak bank dapat menurunkan nominal

pinjaman pada kredit tersebut apabila data-data nasabah kurang dianggap akurat.

b. Lemahnya system informasi dan pengawasan serta administrasi kredit. Dapat

dilihat dari pencairan dana kredit sebelum dokumen kredit selesai, surat teguran

atas tunggakan pada debitur tidak disertai dengan tindakan riil, koperasi jarang

mengadakan analisa cash-flow yaitu analisa mengenai keluar masuknya uang kas

pada koperasi, komunikasi anatara pihak koperasi dengan pihak nasbah kurang

lancar, dan tidak diterapkannya sistem & prosedur tertulis mereka sehingga

koperasi dianggap lemah karena tidak bisa menjalankan sistem mereka sendiri.

c. Adanya campur tangan yang berlebihan dalam keputusan kredit. Campur tangan

yang berlebihan merupakan suatu kejadian dimana pihak koperasi memberikan

fasilitas kredit atas dasar kekerabatan, sehingga mengesampingkan aturan-aturan

yang berlaku.
37

d. Pengikatan jaminan kredit yang kurang sempurna. Kurang sempurna yang

dimaksud dalam hal ini adalah penambahan kredit tanpa jaminan yang cukup, serta

koperasi tidak bisa menguasai jaminan secepatnya ketika terdapat tanda-tanda

kredit tersebut akan bermasalah.

e. Ketidakmampuan dalam manajemen. Pencatatan tidak memadai, informasi

biaya tidak memadai, modal jangka panjang tidak cukup sehingga koperasi

tersebut gagal mengendalikan keuangannya sendiri.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor penyebab kredit macet yang berasal dari

pihak nasabah.

a. Menurunnya kegiatan ekonomi dan tingginya suku bunga kredit. Terjadinya

krisis moneter mempunyai dampak yang luas terhadap kegiatan ekonomi terutama

pada sektor-sektor usaha disamping masih relatif tingginya tingkat bunga sebagai

akibat terjadinya likuiditas di pasar yang menyebabkan terpaksa menaikan suku

bunga kredit.

b. Pemanfaatan iklim dunia perbankan yang tidak sehat oleh nasabah yang tidak

bertanggung jawab. Hal ini sering kali dimanfaatkan oleh beberapa nasabah

dengan cara tertentu, sehingga mendorong koperasi untuk mengabaikan prinsip-

prinsip pemberian kredit yang sehat dengan menawarkan persyaratan kredit yang
38

lebih ringan dalam jumlah yang besar. Sehingga kredit yang diberikan kepada

orang yang bersangkutan selebihnya akan digunakan untuk tujuan lain yang

bersifat pribadi.

c. Adanya musibah yang menimpa nasabah/perusahaan nasabah. Beberapa kredit

bermasalah disebabkan karena adanya nasabah yang mendapatkan musibah seperti

kematian, kebakaran pada tempat usahanya, pencurian, maupun hal-hal lain yang

bersifat musibah.

Nyoman Suardana mengatakan bahwa faktor yang sering menjadi penyebab

terjadinya kredit macet pada PT BPR Lestari tersebut cenderung disebabkan oleh

faktor nasabah, yaitu:

1. Adanya kegagalan/musibah yang menimpa perusahaan/usaha nasabah sehingga

membuat debitur menjadi rugi dan secara langsung berpengaruh terhadap

pembayaran kredit yang sedang berlangsung karena apabila nasabah mengalami

kegagalan/musibah menyebabkan pendapatan debitur menjadi berkurang yang

disebabkan oleh tanggungan beban kerugian.

2. Adanya itikad tidak baik dari pihak nasabah sehingga menyebabkan tidak

lancarnya pembayaran kredit. Masih ada beberapa nasabah yang bersifat seperti

ini, melihat pembayaran awalnya baik-baik saja namun setelah bulan berikutnya

tidak ada pembayaran selanjutnya. Dalam pengawasannya, debitur ini sedang tidak

terkena musibah maupun kegagalan apapun, namun diperkirakan memang dari


39

itikad dari debitur itu sendiri yang sengaja melakukan hal seperti itu. Biasanya hal

ini cenderung dilakukan oleh nasabah yang jumlah pinjaman kreditnya kecil tanpa

jaminan.

3. Adanya penyalahgunaan kredit oleh nasabah. Hal ini terjadi karena apa yang

menjadi tujuan untuk diberikannya kredit tidak sesuai dengan kenyataannya.

Misalnya: dikatakan pada saat nasabah meminjam kredit untuk menambah modal

usaha, namun pada kenyataannya kredit tersebut digunakan untuk mendanai

nasabah tersebut untuk mempromosikan dirinya menjadi calon legislatif.


(Wawancara dengan Nyoman Suardana, sebagai ketua bagian kredit pada PT

BPR Lestari Denpasar pada tanggal 13-72017)


40

BAB IV


PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PT BPR LESTARI DENPASAR

4.1 Cara Penyelesaian Kredit Macet Menurut Ketentuan Peraturan Perundang-

undangan Yang Berlaku

Menurut ketentuan Pasal 3 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang

Perbankan, fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan

penyalur dana masyarakat, oleh karena itu kredit sebagai aktiva produktif merupakan

sumber penghasilan utama dari bank. Apabila kredit tersebut di belakang hari

mengalami kredit macet, maka hal itu akan berpengaruh pada penghasilan yang

diterima oleh bank.

Melihat dampak kredit bermasalah yang sedemikian besar terhadap penghasilan

dan keuntungan bank, maka setiap adanya gejala yang mensyaratkan adanya kredit

bermasalah harus segera ditangani. Berikut akan dijabarkan beberapa cara

penanganan kredit bermasalah.

4.1.1 Restrukturisasi Kredit Utang

Penyelesaian kredit macet ada dua cara, yaitu melalui jalur hukum dan jalur non

hukum. Salah satu upaya penyelesaian kredit macet melalui jalur non hukum adalah

restrukturisasi. Dasar hukum restrukturisasi adalah Surat Direksi Bank Indonesia

nomor 31/150/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang Restrukturisasi Kredit.


41

Pengertian restrukturisasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah

penataan kembali. Restrukturisasi kredit dapat dilakukan terhadap nasabah yang

mempunyai prospek dan mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya.

Menurut Ketentuan Pasal 1 ayat 9 Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/19/PBI/2006

tentang Kualitas Aktiva Produktif dan Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva

Produktif Bank Perkreditan Rakyat, memberikan pengertian mengenai restrukturisasi

kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan Bank Perkreditan Rakyat dalam

kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi

kewajibannya, yang dilakukan melalui:17

1) Penjadwalan kembali, yaitu perubahan jadwal pembayaran kewajiban

debitur atau jangka waktu;

2) Persyaratan kembali, yaitu perubahan sebagian atau seluruh persyaratan

Kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu,

dan/atau persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan

maksimum plafon Kredit; dan/atau

17
Bank Indonesia, Peraturan Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif dan Pembentukan

Penyesihan Penghapusan Aktiva Produktif Bank Perkerditan Rakyat, No. 8/19/PBI/2006,

Ps. 1 ayat (9).


42

3) Penataan kembali, yaitu perubahan persyaratan Kredit yang menyangkut

penambahan fasilitas Kredit dan konversi seluruh atau sebagian tunggakan

angsuran bunga menjadi pokok Kredit baru yang dapat disertai dengan

penjadualan kembali dan/atau persyaratan kembali.

Selanjutnya Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/19/PBI/2006 tentang Kualitas

Aktiva Produktif dan Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif Bank

Perkreditan Rakyat mengatur mengenai tata cara, larangan, serta kewajiban dalam

melakukan restrukturisasi kredit sebagai berikut :

1. BPR dapat melakukan Restrukturisasi Kredit terhadap Debitur yang

memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau bunga Kredit;

dan

b. Debitur memiliki prospek usaha yang baik dan diperkirakan mampu

memenuhi kewajiban setelah Kredit direstrukturisasi.

2. BPR dilarang melakukan Restrukturisasi Kredit apabila bertujuan hanya untuk

menghindari :

a. Penurunan kualitas Kredit;


43

b. Peningkatan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif

(PPAP); dan/atau

c. Penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual.

3. BPR wajib menerapkan perlakuan akuntansi Restrukturisasi Kredit, termasuk

namun tidak terbatas pada pengakuan kerugian yang timbul dalam rangka

Restrukturisasi Kredit, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan dan Prinsip

Akuntansi Perbankan Indonesia yang berlaku.

4. BPR wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis mengenai Restrukturisasi

Kredit, di mana kebijakan Restrukturisasi Kredit tersebut wajib disetujui oleh

Komisaris, dan Komisaris wajib melakukan pengawasan secara aktif terhadap

pelaksanaan kebijakan Restrukturisasi Kredit.

5. Kualitas kredit yang direstrukturisasi adalah :

a. Setinggi-tingginya Kurang lancar untuk kredit yang sebelum

direstrukturisasi memiliki kualitas kredit Diragukan atau Macet; dan

b. Kualitas kredit tidak berubah untuk kredit yang sebelum direstrukturisasi

memiliki kualitas Lancar atau Kurang Lancar.

Penggolongan kualitas kredit di atas dapat berubah menjadi :


44

a. Lancar, apabila tidak terjadi tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga

selama 3 (tiga) kali periode pembayaran secara berturut- turut; dan

b. Sama dengan kualitas Kredit sebelum dilakukan Restrukturisasi Kredit,

apabila Debitur tidak dapat memenuhi kondisi sebagaimana dimaksud pada

huruf a.

6. Kualitas Kredit yang direstrukturisasi dengan pemberian tenggang waktu

pembayaran (grace period) ditetapkan sebagai berikut :

a. Selama grace period, kualitas mengikuti kualitas kredit sebelum dilakukan

restrukturisasi, dan

b. Setelah grace period berakhir, kualitas kredit mengikuti penetapan kualitas

yang berlaku.

7. Bank Indonesia berwenang melakukan koreksi terhadap penetapan kualitas

Restrukturisasi Kredit, pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif

(PPAP) dan pendapatan bunga yang telah diakui secara akrual, apabila :

a. Restrukturisasi kredit menurut penilaian Bank Indonesia ternyata termasuk

dalam tujuan yang dilarang dalam melakukan restrukturisasi kredit;

b. Debitur tidak melaksanakan perjanjian atau akad Restrukturisasi Kredit;

dan/atau
45

c. Restrukturisasi kredit dilakukan secara berulang dengan tujuan hanya untuk

memperbaiki kualitas kredit tanpa memperhatikan prospek usaha Debitur.

Restrukturisasi kredit hanya dapat dilakukan atas dasar permohonan secara

tertulis dari nasabah. Restrukturisasi kredit hanya dapat dilakukan untuk nasabah

yang memenuhi kriteria sebagai berikut:18

a. Nasabah mengalami penurunan kemampuan pembayaran.

b. Nasabah memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi

kewajiban setelah restrukturisasi.


Restrukturisasi kredit hanya dapat dilakukan untuk kredit dengan kualitas kurang

lancar, diragukan dan macet. Restrukturisasi kredit wajib didukung dengan analisis

dan bukti-bukti yang memadai serta terdokumentasi dengan baik. Restrukturisasi

kredit dapat dilakukan paling banyak tiga kali dalam jangka waktu perjanjian kredit.

Restrukturisasi kredit kedia dan ketiga dapat dilakukan paling cepat enam bulan

setelah restrukturisasi kredit sebelumnya.

4.1.2 Eksekusi Agunan

Penyelesaian kredit bermasalah selain melalui restrukturisasi kredit yang telah

disebutkan di atas, dapat pula dilakukan eksekusi agunan, baik itu melalui penjualan

18
Budi Untung, Kredit Perbankan di Indonesia, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2000), hal.147
46

di bawah tangan maupun melalui pelelangan. Seyogyanya dalam melakukan eksekusi

jaminan kredit harus terlebih dahulu diusahakan penjualan di bawah tangan apabila

debitur masih mau bekerja sama (cooperative), namun apabila tidak dapat tercapai

penjualan di bawah tangan, barulah dilaksanakan eksekusi barang jaminan melalui

pelelangan.

a. Penjualan di bawah tangan
Apabila yang menjadi agunan kredit adalah tanah

berikut bangunan, maka berlaku Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang

Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan

Tanah, yang selanjutnya disebut juga Undang-undang Hak Tanggungan menurut

Pasal 30, memungkinkan bank (kreditur) untuk menyelesaikan kredit macet

melalui penjualan agunan di bawah tangan berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat

(2), yang berbunyi :
“Atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak

Tanggungan, penjualan obyek Hak Tanggungan dapat dilaksanakan di bawah

tangan jika dengan demikian itu akan dapat diperoleh harga tertinggi yang

menguntungkan semua pihak”.


b. Lelang jaminan kredit
Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk

umum dengan penawaran harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin

meningkat atau menurun untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan

pengumuman lelang.19

19
Menteri Keuangan, Peraturan Menteri Keuangan tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, No.
47

4.1.3 Eksekusi Hipotek

Hipotek memliki arti pembebanan, sedangkan dalam bahasa Belanda yang

terjemahannya adalah onderzetting.20 Baik dalam bahasa Indonesia ataupun Belanda,

hipotek telah diambil alih untuk menunjukkan salah satu bentuk jaminan hak ayas

tanah. Di dalam Pasal 1162 KUHPerdata, hipotek adalah suatu hak kebendaan atas

benda-benda tidak bergerak, untuk mengambil penggantian dari padanya bagi

pelunasan dari perikatan. Objek hipotek dapat berupa tanah yang diatur di dalam

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, kapal yang diatur di

dalam Pasal 314 ayat 3 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) dan

Konvensi Internasional tentang Piutang Maritim dan Mortgage 1993 yang ditetapkan

dalam Peraturan Presiden RI No. 44 tahun 2005 tentang Pengesahan Internasional

Convention on Maritime Liens and Mortgages, Permenhub RI No. PM 13/2012. Dan

yang terakhir adalah objek pesawat udara yang diatur di dalam Undang-Undang

Nomor 15 tahun 1992 tentang Penerbangan.

a) Grosse akta hipotek punya kekuatan ekskutorial

40/PMK.01/ 2006, Ps. 1 angka (1).

20
Mariam Darus Badrulzaman, Bab-bab Tentang Hipotek, Jakarta: PT. Citra Aditya Bakti, 1991),

hal 15
48

Dalam setiap pemberian jaminan berupa hipotek atas kapal, setelahhipotek

tersebut didaftarkan, akan diterbitkan grosse akta hipotek kapal berdasarkan Pasal

224 HIR. Grosse tersebut punya status yang sama dengan putusan pengadilan yang

berkekuatan hukum tetap. Oleh karena itu, dengan menggunakan grosse akta hipotek

kapal dimaksud, pemegang hipotek dapat meminta bantuan pengadilan untuk

melakukan kekuatan eksekusi atas kapal yang dibebani hipotek tersebut.

b) Pemegang hipotek punya hak menjual sendiri kapal yang dibebani hipotek

dimaksud

Hal ini sebagaimana termaktub dalam Pasal 1198 dalam Kitab Undang- Undang

Hukum Perdata, yaitu kreditur yang memegang hipotek yang telah terdaftar, dapat

menuntut haknya atas barang tak bergerak yang terkait itu, biar di tangan siapa pun

barang itu berada, untuk diberi urutan tingkat dan untuk dibayar menurut urutan

pendaftarannya.

c) Eksekusi terhadap kapal yang berada diluar wilayah Indonesia

Untuk semua kapal yang berada di luara wilayah Indonesia, kreditor dapat

mengajukan gugatan atau permohnan eksekusi terhadapnya di pengadilan tempat

kapal tersebut berada. Cara lain, dengan mengajukan permohonan ke pengadilan

Indonesia untuk memerintahkan debitur mengembalikan kapal tersebut keIndonesia.


49

4.2 Cara Penyelesaian Kredit Macet Pada PT BPR LESTARI DENPASAR

Upaya penyelesaian kredit macet yang dilakukan pada PT BPR Lestari Denpasar

dilakukan dengan berbagai cara, tergantung bagaimana prospek dari nasabah tersebut.

Nyoman Suardana, mengatakan penyelesaian kredit macet di PT BPR Lestari

dilakukan dengan cara negosiasi. PT BPR Lestari akan memberikan peringatan

maupun teguran secara lisan kepada debitur agar dapat melaksanakan kewajiban

pembayaran kredit utama berupa angsuran kredit, demi memperbaiki status kreditnya.

Apabila sudah kembali normal maka pihak PT BPR Lestari akan melanjutkan proses

pembayaran angsuran disertakan bunga.

Apabila terguran tidak mendapatkan hasil, maka pihak PT BPR Lestari akan

menggunakan tahap kedua, yaitu memberi surat peringatan kepada nasabah. Adapun

isi dari surat tersebut berupa:

1. Pemberitahuan mengenai jatuh tempo pembayaran kredit 


2. Total kewajiban/hutang debitur yang harus dibayar 


3. Perintah untuk membayar kewajiban/hutang sesuai dengan 
jumlah yang

tertera

4. Batas waktu bagi debitur untuk melaksanakan pembayaran 


Menurut Nyoman Suardana, mengatakan bahwa pihak PT BPR Lestari akan


50

memberikan surat peringatan sebanyak tiga kali berturut-turut. Apabila pihak debitur

tetap tidak beritikad baik untuk memenuhi kewajibannya, maka pihak PT BPR

Lestari akan melakukan upaya penyelamatan kredit.

Upaya apa saja untuk penyelamatan kredit terhadap PT BPR Lestari selain

dengan cara melakukan pelelangan barang jaminan?. Menurut Nyoman Suardana

menjelaskan bahwa selain melakukan pelelangan jaminan, PT BPR Lestari juga

melakukan upaya-upaya sebagai berikut:

1) Reschedulling (memperpanjang jangka waktu kredit/angsuran)

Dalam hal ini nasabah diberikan keringanan dalam hal jangka waktu, yang

diharapkan nasabah bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memenuhi

kewajibannya. Perpanjangan waktu & angsuran biasanya diberikan sesuai

kapasitas nasabah setelah melakukan perundingan sebelumnya. Perpanjangan

waktu diberikan maksimal 8 bulan untuk kredit tanpa jaminan sedangkan dengan

jaminan tergantung dari jumlah tunggakan, kemampuan debitur dan umur dari

jaminan debitur karena dari tahun ketahun barang akan mengalami penurunan

harga.

2) Reconditioning (persyaratan kembali)

Persyaratan kembali merupakan perubahan persyaratan yang ada dalam

perjanjian, baik jangka waktu, jadwal pembayaran, maupun syarat yang lain
51

namun tidak merubah jumlah hutang debitur.

3) Restructuring(penataanulang)

Tindakan koperasi kepada nasabah dengan cara menambah modal nasabah

dengan pertimbangan nasabah memang membutuhkan tambahan dana dan usaha

yang dibiayai memang masih layak. (Wawancara 13-7-2017)

Penyelesaian diatas merupakan langkah alternatif yang sering dilakukan oleh PT

BPR Lestari. Apabila segala langkah alternatif tidak memberikan penyelesaian secara

berkala, maka pihak PT BPR Lestari secara tegas akan mengambil alih barang

jaminan nasabah yang digunakan saat melakukan perjanjian kredit. Barang jaminan

debitur akan dijadikan sebagai pengganti dari jumlah hutang debitur. Proses

pengambilan barang jaminan nasabah tidaklah sulit, karena pihak nasabah memang

beritikad baik untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Ketika barang

jaminan sudah diambil alih oleh pihak PT BPR Lestari maka akan dijual kembali

untuk menutupi hutang dari pihak nasabah. Apabila hasil penjualan melebihi hutang,

maka sisa uang tersebut akan diberikan kembali ke pihak nasabah.

Apakah ada jalan terakhir untuk menyelesaikan kredit macet apabila tidak ada

jalan keluarnya? Menurut Nyoman Suardana mengatakan bahwa adanya pengambil

alihan barang jaminan merupakan jalan terakhir untuk menutupi hutang yang dimiliki

oleh nasabah. Hal ini dikarenakan tidak ada jalan keluar lagi untuk menutup hutang

yang dimiliki nasabah, sedangkan PT BPR Lestari harus tetap menjaga stabilitas
52

keuangan mereka dari tahun ke tahun agar tidak terjadinya hal yang tidak diinginkan

seperti kebangkrutan yang disebabkan oleh kurangnya pemasukan yang dikarenakan

banyaknya kredit yang bermasalah. (Wawancara 13-7-2017)


53

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai

berikut:

1. Terjadinya kredit macet pada umumnya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor

internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor penyebab kredit macet

yang berasal dari pihak bank itu sendiri. Dan faktor eksternal merupakan faktor

penyebab kredit macet yang berasal dari pihak nasabah. Sedangkan faktor terjadinya

kredit macet pada PT BPR Lestari Denpasar adalah adanya kegagalan/musibah yang

menimpa perusahaan/usaha nasabah sehingga membuat debitur menjadi rugi, adanya

itikad tidak baik dari pihak nasabah sehingga menyebabkan tidak lancarnya

pembayaran kredit, dan adanya penyalahgunaan kredit oleh nasabah.

2. Penyelesaian kredit macet yang ditempuh oleh PT BPR Lestari Denpasar adalah

melalui jalur negosiasi dan akan memberikan peringatan maupun teguran secara lisan

kepada debitur agar dapat melaksanakan kewajiban pembayaran kredit utama.

Apabila terguran tidak mendapatkan hasil, maka pihak PT BPR Lestari akan

menggunakan tahap kedua, yaitu memberi surat peringatan kepada nasabah. Apabila

pihak debitur tetap tidak beritikad baik untuk memenuhi kewajibannya, maka pihak
54

PT BPR Lestari akan melakukan upaya penyitaan barang jaminan dan akan lelang

untuk menutupi hutang dari pihak nasabah. Apabila hasil penjualan melebihi hutang,

maka sisa uang tersebut akan diberikan kembali ke pihak nasabah.

5.2 SARAN

Adapun saran yang penulis buat dari permasalahan dalam penulisan ini sebagai

berikut:

1. Untuk menghindari atau mengurangi resiko terjadinya kredit macet dalam proses

pemberian kredit kepada debitur perlu dilakukan proses analisis yang cermat oleh

petugas analisis yang memiliki keterampilan dibidangnya dan terhadap pihak-pihak,

pemilik, pengurus atau pegawai bank yang memiliki itikad tidak baik dengan

memanfaatkan keberadaan bank untuk kepentingan pribadi, hendaknya diberikan

sanksi yang tegas berupa pemberhentian secara tidak wajar.

2. Hendaknya penyelesaian kredit macet dengan cara kekeluargaan harus diupayakan

semaksimal mungkin dan pihak debitur sebaiknya lebih mematuhi peraturan yang ada

dalam perjanjian yang telah disepakati sebelumnya, karena pada dasarnya bank

memberikan kredit karena adanya prinsip kepercayaan sehingga seharusnya pihak

debitur bertanggung jawab atas beban yang diberikan oleh pihak kreditur dan tidak

menyalahgunakan kredit tersebut.


55

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku

Djoni S. Gozali dan Rachmadi Usman, 2010, Hukum Perbankan, Sinar Grafika,

Jakarta.

Drs. Thomas Suyatno, et. al., Dasar-Dasar Perkreditan, Cetakan ke-11, (Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Firdaus Rachmat dan Maya Ariyanti, Manajemen Perkreditan Bank Umum: Teori,

Masalah, Kebijakan dan Aplikasi Lengkap dengan Analisis Kredit, (Bandung:

Alfabeta, 2009).

Hermansyah, S.H., M.Hum., Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Cetakan ke-4,

(Jakarta: Kencana, 2008).

H.R Daeng Naja, 2015, Hukum Kredit Dan Bank Garansi The Bankers Hand Book,

PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.


56

Muchdarsyah Sinungan, Dasar-Dasar dan Teknik Managemen Kredit, Jakarta: Bina

Aksara, 1983.

Oey Hoey Tiong, 1984, Fidusia Sebagai Jaminan Unsur-Unsur Perikatan, Ghalia

Indonesia, Jakarta.

Prof. DR. H. Veithzal Rivai, M.B.A., Andria Permata Veithzal, B.Acct, M.B.A.,

Credit Management Handbook: Teori, Konsep, Prosedur, dan Aplikasi Panduan

Praktis Mahasiswa, Bankir, dan Nasabah, Cetakan I, (Jakarta: PT. Rajagrafindo

Persada, 2006).

Rudy Tri Santoso, 1996, Kredit Usaha Perbankan, Yogjakarta: Andi Yogyakarta.

Suharningsih, 2011, Analisis Yuridis Terhadap Perjanjian Kredit Dengan Jaminan

“Barang Inventory” Dalam Bingkai Jaminan Fidusia, Wisnuwardhana Malang

Press, Malang.

Dahlan Siamat, 1993, Manajemen Bank Umum, Intermedia, Jakarta.

H.R.Daeng Naja, 2005, Hukum Kredit dan Bank Garansi, Citra Aditya Bakti,

Bandung

Hermansyah, SH.,M.Hum., 2009, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Kencana,

Jakarta

Djoni S.Gazali, 2010, Pengertian dan Dasar Hukum Perbankan, Sinar Grafika, Jakarta

Mahmoedin, 2004, Kredit Bermasalah, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta


57

Bank Indonesia, Peraturan Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif dan

Pembentukan Penyesihan Penghapusan Aktiva Produktif Bank Perkerditan

Rakyat, No. 8/19/PBI/2006

Budi Untung, Kredit Perbankan di Indonesia, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2000)

Menteri Keuangan, Peraturan Menteri Keuangan tentang Petunjuk Pelaksanaan

Lelang, No. 40/PMK.01/ 2006

Mariam Darus Badrulzaman, Bab-bab Tentang Hipotek, Jakarta: PT. Citra Aditya

Bakti, 1991)

Perundang-undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek)

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17

Tahun 1992 tentang Perbankan

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)


58

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : Nyoman Suardana

Umur : 54 tahun

Jabatan : Kepala Bagian Legal

Pendidikan : Sarjana Hukum

Alamat : Perumahan Nuansa Kori Sading NKS v no.1