Anda di halaman 1dari 16

BAB I

A. Latar Belakang Pengawasan

Pengawasan merupakan salah satu fungsi dalam manajemen suatu organisasi. Dimana

memiliki arti suatu proses mengawasi dan mengevaluasi suatu kegiatan. Suatu Pengawasan

dikatakan penting karena tanpa adanya pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan

tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para

pekerjanya.

Pengawasan merupakan hal yang penting dalam menjalankan suatu perencanaan.

Dengan adanya pengawasan maka perencanaan yang diharapkan oleh manajemen dapat

terpenuhi dan berjalan dengan baik. Pengawasan pada dasarnya diarahkan sepenuhnya untuk

menghindari adanya kemungkinan penyelewengan atau penyimpangan atas tujuan yang telah

direncanakan secara efektif dan efisien. Bahkan, melalui pengawasan tercipta suatu aktivitas

yang berkaitan erat dengan penentuan atau evaluasi mengenai sejauh mana pelaksanaan kerja

sudah dilaksanakan. Pengawasan juga dapat mendeteksi sejauh mana penyimpangan yang

terjadi dalam pelaksanaan kerja tersebut. Konsep pengawasan demikian sebenarnya

menunjukkan pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen, dimana pengawasan

dianggap sebagai bentuk pemeriksaan dan pengontrolan dari pihak lebih atas kepada pihak

dibawahnya.

Setiap perusahaan pasti memiliki divisi pengembangan SDM dalam struktur

organisasinya. Divisi pengembangan SDM pada dasarnya memiliki tugas dan tanggung

jawab untuk membantu karyawan dalam mengembangkan kepribadian personal dan

keterampilan organisasional mereka.

Pengembangan SDM pada sebuah perusahaan pasti membutuhkan proses

pengawasan. pengembangan SDM adalah proses di mana karyawan dalam sebuah perusahaan

1
dibantu secara terencana untuk meningkatkan kemampuan sehingga bisa menyelesaikan

berbagai macam tugas yang berhubungan dengan peran mereka di masa depan. Kegagalan

suatu pengawasan merupakan kegagalan perencanaan dan keberhasilan perencanaan tersebut

adalah merupakan keberhasilan dari tindakan pengawasan tersebut. Pengawasan yang efektif

akan membantu usaha-usaha untuk mengatur pekerjaan yang direncanakan untuk memastikan

bahwa pelaksanaan pekerjaan tersebut berlangsung sesuai rencana.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa fungsi ini berusaha untuk menjamin kegiatan

organisasi bergerak ke arah tujuannya. Dengan adanya fungsi pengawasan, dapat diketahui

apakah pelaksanaan kegiatan berjalan sebagaimana semestinya atau terjadi kesalahan atau

penyimpangan. Jika telah diketahui, tindakan lebih lanjut dapat dilaksanakan. Kemudian,

dapat diusahakan untuk meningkatkannya dan jika terjadi kesalahan dapat dilakukan

perbaikan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian pengawasan?

2. Apa pentingnya pengawasan?

3. Apa saja jenis-jenis pengawasan?

4. Apa saja tipe-tipe pengawasan?

5. Bagamaina proses tahap-tahap pengawasan?

6. Apa saja fungsi pengawasan?

7. Apakah tujuan dan manfaat pengawasan?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian pengawasan

2. Untuk mengetahui pentingnya pengawasan

2
3. Untuk mengetahui jenis-jenis pengawasan

4. Untuk mengetahui tipe-tipe pengawasan

5. Untuk mengetahui proses tahap-tahap pengawasan

6. Untuk mengetahui fungsi pengawasan

7. Untuk mengetahui tujuan dan manfaat pengawasan

3
BAB II

A. Pengertian Pengawasan (Controlling)

Controling merupakan salah satu fungsi manajemen yang harus dilaksanakan oleh

seorang controller ( pengawas). Pengawasan dilakukan untuk menemukan dan mengoreksi

adanya penyimpangan-penyimpangan dari hasil yang telah dicapai dibandingkan dengan

rencana kerja yang telah ditetapkan, pada setiap tahap-tahap kegiatan perlu dilakukan

pengawasan. Sebab apabila terjadi penyimpangan akan lebih cepat melakukan koreksi atau

perbaikan.

Seorang controller ( pengawas ) harus menyelaraskan tingkat jaminan sumber daya

dengan kebutuhan rencana-rencana yang pasti dengan proses mencatat atau dengan

pengendalian perkembangan ke arah tujuan pokok dan sasaran serta metode pencapaiannya

yang memungkinkan seorang pengawas melihat lebih awal adanya penyimpangan. Oleh

karena itu, pengawasan berkaitan erat dengan perencanaan.

Pengawasan ( Controlling ) dapat diartikan secara negatif, positif, dan dalam arti luas.

Dalam arti negatif pengawasan dapat diartikan sebagai tindakan mencari-cari kesalahan

kemudian memberikan sanksi, dan melakukan larangan-larangan. Dalam arti positif

pengawasan ialah tindakan-tindakan agar organisasi atau perusahaan berjalan terarah, tidak

terjadi kesalahan-kesalahan, penyimpangan atau kebocoran di segala bidang. Sedangkan

dalam arti luas, pengawasan adalah aktifitas controller untuk melakukan pengamatan,

penelitian dan penilaian dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi atau perusahaan yang

sedang atau telah berjalan untuk mencapain tujuan yang telah ditetapkan.

Menurut Sondang P. Siagian, Pengertian Pengawasan adalah proses pengamatan dari

pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang

dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.

4
Menurut George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai

mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya mengevaluasi prestasi kerja dan

apabila perlu, menerapkan tidankan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai dengan

rencana yang telah ditetapkan.

Dari segi manajerial pengawasan yaitu “pengamatan atas pelaksanaan seluruh

kegiatan unit organisasi yang diperiksa untuk menjamin agar seluruh pekerjaan yang sedang

dilaksanakan sesuai dengan rencana dan peraturan.”

Kesimpulannya, Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas

yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Pengawasan merupakan suatu

usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan tujuan dengan tujuan-tujuan

perencanaa, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata

dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur

penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan.

B. Pentingnya Pengawasan

Suatu organisasi akan berjalan terus dan semakin komplek dari waktu ke waktu,

banyaknya orang yang berbuat kesalahan dan guna mengevaluasi atas hasil kegiatan yang

telah dilakukan, inilah yang membuat fungsi pengawasan semakin penting dalam setiap

organisasi. Tanpa adanya pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan tujuan yang

kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya. Jika

suatu organisasi ingin mencapai tujuan pastinya organisasi akan melakukan pengendalian

(controlling) dalam menghadapi suatu masalah yang dihadapi oleh organisasi lalu apa

pentingnya dari pengendalian itu sendiri dalam manajemen sebuah organisasi?

Ada beberapa alasan mengapa pengawasan itu penting, diantaranya :

1. Perubahan lingkungan organisasi

5
Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus-menerus dan tak dapat

dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru, diketemukannya bahan

baku baru dsb. Melalui fungsi pengawasannya manajer mendeteksi perubahan yang

berpengaruh pada barang dan jasa organisasi sehingga mampu menghadapi tantangan

atau memanfaatkan kesempatan yang diciptakan perubahan yang terjadi.

2. Peningkatan kompleksitas organisasi

Semakin besar organisasi, makin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan

hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan

profitabilitas tetap terjaga. Semuanya memerlukan pelaksanaan fungsi pengawasan

dengan lebih efisien dan efektif.

3. Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan

Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara sederhana

melakukan fungsi pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering

membuat kesalahan. Sistem pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi

kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.

4. Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang

Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung jawab atasan

itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menentukan apakah

bawahan telah melakukan tugasnya adalah dengan mengimplementasikan sistem

pengawasan.

C. Jenis-jenis Pengawasan

1. Pengawasan Intern dan Ekstern

Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang

ada di dalam lingkungan unit organisasi yang bersangkutan.” Pengawasan dalam bentuk ini

6
dapat dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat (built in

control) atau pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh inspektorat jenderal pada setiap

kementerian dan inspektorat wilayah untuk setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan

menempatkannya di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri.

Pengawasan ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang

berada di luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini di Indonesia adalah Badan

Pemeriksa Keuangan (BPK), yang merupakan lembaga tinggi negara yang terlepas dari

pengaruh kekuasaan manapun. Dalam menjalankan tugasnya, BPK tidak mengabaikan hasil

laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern pemerintah, sehingga sudah sepantasnya di

antara keduanya perlu terwujud harmonisasi dalam proses pengawasan keuangan negara.

Proses harmonisasi demikian tidak mengurangi independensi BPK untuk tidak memihak dan

menilai secara obyektif aktivitas pemerintah.

2. Pengawasan Preventif dan Represif

Pengawasan preventif lebih dimaksudkan sebagai, “pengawasan yang dilakukan

terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah

terjadinya penyimpangan.” Lazimnya, pengawasan ini dilakukan pemerintah dengan maksud

untuk menghindari adanya penyimpangan pelaksanaan keuangan negara yang akan

membebankan dan merugikan negara lebih besar. Di sisi lain, pengawasan ini juga

dimaksudkan agar sistem pelaksanaan anggaran dapat berjalan sebagaimana yang

dikehendaki. Pengawasan preventif akan lebih bermanfaat dan bermakna jika dilakukan oleh

atasan langsung, sehingga penyimpangan yang kemungkinan dilakukan akan terdeteksi lebih

awal.

Di sisi lain, pengawasan represif adalah “pengawasan yang dilakukan terhadap suatu

kegiatan setelah kegiatan itu dilakukan.” Pengawasan model ini lazimnya dilakukan pada

akhir tahun anggaran, di mana anggaran yang telah ditentukan kemudian disampaikan

7
laporannya. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan dan pengawasannya untuk mengetahui

kemungkinan terjadinya penyimpangan.

3. Pengawasan Aktif dan Pasif

Pengawasan dekat (aktif) dilakukan sebagai bentuk “pengawasan yang dilaksanakan

di tempat kegiatan yang bersangkutan.” Hal ini berbeda dengan pengawasan jauh (pasif) yang

melakukan pengawasan melalui “penelitian dan pengujian terhadap surat-surat pertanggung

jawaban yang disertai dengan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran.” Di sisi lain,

pengawasan berdasarkan pemeriksaan kebenaran formil menurut hak (rechmatigheid) adalah

“pemeriksaan terhadap pengeluaran apakah telah sesuai dengan peraturan, tidak kadaluarsa,

dan hak itu terbukti kebenarannya.” Sementara, hak berdasarkan pemeriksaan kebenaran

materil mengenai maksud tujuan pengeluaran (doelmatigheid) adalah “pemeriksaan terhadap

pengeluaran apakah telah memenuhi prinsip ekonomi, yaitu pengeluaran tersebut diperlukan

dan beban biaya yang serendah mungkin.”

D. Tipe-Tipe Pengawasan

Donnelly, et al. (dalam Zuhad, 1996:302) mengelompokkan pengawasan menjadi 3

Tipe pengawasan yaitu :

a. Pengawasan Pendahuluan (preliminary control).

Pengawasan yang terjadi sebelum kerja dilakukan. Pengawasan Pendahuluan

menghilangkan penyimpangan penting pada kerja yang diinginkan yang dihasilkan sebelum

penyimpangan tersebut terjadi. Pengawasan Pendahuluan mencakup semua upaya manajerial

guna memperbesar kemungkinan bahwa hasil-hasil aktual akan berdekatan hasilnya

dibandingkan dengan hasil-hasil yang direncanakan.

Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi pada

kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada organisasi-organisasi.

8
Sumber-sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang ditetapkan oleh

struktur organisasi yang bersangkutan.

Dengan ini, manajemen menciptakan kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur

dan aturan-aturan yang ditujukan pada hilangnya perilaku yang menyebabkan hasil kerja

yang tidak diinginkan di masa depan. Dipandang dari sudut prespektif demikian, maka

kebijaksanaan-kebijaksanaan merupakan pedoman-pedoman yang baik untuk tindakan masa

mendatang.

Pengawasan pendahuluan meliputi; Pengawasan pendahuluan sumber daya manusia,

Pengawasan pendahuluan bahan-bahan, Pengawasan pendahuluan modal dan Pengawasan

pendahuluan sumber-sumber daya financial.

b. Pengawasan pada saat kerja berlangsung (cocurrent control)

Pengawasan yang terjadi ketika pekerjaan dilaksanakan. Memonitor pekerjaan yang

berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah dicapai. Concurrent control

terutama terdiri dari tindakan-tindakan para supervisor yang mengarahkan pekerjaan para

bawahan mereka.

Direction berhubungan dengan tindakan-tindakan para manajer sewaktu mereka

berupaya untuk:

 Mengajarkan para bawahan mereka bagaimana cara penerapan metode-metode

serta prosedur-prsedur yang tepat.

 Mengawasi pekerjaan mereka agar pekerjaan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

c. Pengawasan Umpan Balik (feed back control)

Pengawasan Feed Back yaitu mengukur hasil suatu kegiatan yang telah dilaksakan,

guna mengukur penyimpangan yang mungkin terjadi atau tidak sesuai dengan standar.

Pengawasan yang dipusatkan pada kinerja organisasional dimasa lalu. Tindakan

korektif ditujukan ke arah proses pembelian sumber daya atau operasi-operasi aktual. Sifat

9
kas dari metode-metode pengawasan feed back (umpan balik) adalah bahwa dipusatkan

perhatian pada hasil-hasil historikal, sebagai landasan untuk mengoreksi tindakan-tindakan

masa mendatang.

E. Proses Tahap-Tahap Pengawasan

1. Penetapan standar pelaksanaan (perencanaan)

Tahap pertama dalam pengendalian adalah penetapan standar pelaksanaan. Standar

mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai “patokan”

untuk penilaian hasil-hasil. Standar adalah kriteria-kriteria untuk mengukur pelaksanaan

pekerjaan. Kriteria tersebut dapat dalam bentuk kuantitatif ataupun kualitatif. Standar

pelaksanaan (standard performance) adalah suatu pernyataan mengenai kondisi-kondisi yang

terjadi bila suatu pekerjaan dikerjakan secara memuaskan.

Standar pelaksanaan pekerjaan bagi suatu aktifitas menyangkut kriteria: ongkos,

waktu, kuantitas, dan kualitas. Tipe bentuk standar yang umum adalah:

a) Standar-standar fisik, meliputi kuantitas barang atau jasa, jumlah langganan, atau

kualitas produk.

b) Standar-standar moneter, yang ditunjukkan dalam rupiah dan mencakup biaya tenaga

kerja, biaya penjualan, laba kotor, pendapatan penjualan, dan lain-lain.

c) Standar-standar waktu, meliputi kecepatan produksi atau batas waktu suatu pekerjaan

harus diselesaikan.

2. Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan

Penentuan standar akan sia-sia bila tidak disertai berbagai cara untuk mengukur

pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh karena itu, tahap kedua dalam pengendalian adalah

menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan secara tepat.

3. Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata

10
Setelah frekuensi pengukuran dan sistem monitoring ditentukan pengukuran

pelaksanaan dilakukan sebagai proses yang berulang-ulang dan terus-menerus. Ada berbagai

cara untuk melakukan pengukuran pelaksanaan yaitu pengamatan (observasi), laporan-

laporan (lisan dan tertulis), pengujian (tes), atau dengan pengambilan sampel.

4. Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penyimpangan

Tahap kritis dari proses pengawasan adalah pembandingan pelaksanaan nyata dengan

pelaksanaan yang direncanakan atau standar yang telah ditetapkan.

5. Pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan

Bila hasil analisa menunjukkan perlunya tindakan koreksi, tindakan ini harus diambil.

Tindakan koreksi mungkin berupa:

a) Mengubah standar mulu-mulu (barangkali terlalu tinggi atau terlalu rendah)

b) Mengubah pengukuran pelaksanaan

c) Mengubah cara dalam menganalisa dan menginterpretasikan penyimpangan-

penyimpangan.

F. Fungsi Pengawasan

1. Membantu mencapai tujuan dari organisasi

Proses pengendalian adalah proses mengawasi dan mengawasi hasil implementasi

dari suatu rencana organisasi. Dengan adanya controlling dapat membantu menemukan

kesalahan-kesalahan yang mungkin ada dan selanjutnya dapat diatasi dengan mengambil

tindakan korektif sehingga membantu mencapai tujuan dari organisasi.

2. Menilai standar akurasi

Seorang manajer harus membandingan kinerja yang dilakukan oleh karyawannya.

Apakah kinerja karyawannya sudah sesuai dengan standar yang berlaku sehingga manajer

bisa mengetahui kualitas kinerja dari karyawannya.

11
3. Mengefisiensi penggunaan sumber daya

Sumber daya yang ada seperti SDM dan physical resources dapat di kelola dengan

baik dan efisien dikarenakan proses controlling memastikan karyawan berkerja sesuai standar

yang ada.

4. Meningkatkan motivasi karyawan

Proses controlling membuat karyawan yang berkerja di suatu perusahaan berkerja

secara maksimal dikarenakan mereka tahu bahwa kinerja mereka akan dinilai apakah

pekerjaan mereka sudah sesuai dengan standar, sudah memuaskan atau tidak yang dimana

penilaian tersebut berefek pada karir mereka.

5. Menjamin tidak adanya kecurangan

Proses controlling akan memastikan semua aktifitas kecurangan-kecurangan tidak

terjadi seperti mencuri,korupsi, menunda-nunda pekerjaan, berperilaku yang buruk, dan lain-

lain.

6. Menyelaraskan koordinasi antar departemen

Proses controlling akan memastikan koordinasi antar semua departemen organisasi

selaras karena koordinasi sangat diperlukan agar tercapai tujuan organisasi dengan baik.

G. Tujuan dan Manfaat Pengawasan

Kegiatan pengawasan yang telah diterangkan sebelumnya merupakan suatu salah satu

cara yang digunakan untuk dapat mengendalikan aktivitas perusahaan agar tidak terjadi

penyimpangan yang dapat merugikan perusahaan.

Maka untuk itu dengan pengawasan yang dilakukan akan mencerminkan suatu

alternatif yang dilakukan perusahaan agar rencana yang dijalankan sesuai dengan prosedur

yang ditetapkan.

12
Adanya pengawasan yang dilakukan sangat berpengaruh bagi kegiatan perusahaan

serta mempunyai manfaat yang sangat besar bagi keberlangsungan kegiatan perusahaan. Oleh

karena sebagai bagian yang berperan dalam mengaktifkan bagian pengawasan dalam kegiatan

operasionalnya maka seluruh tujuan dari pengawasan yang ditetapkan dapat mencapai

sasaran.

Aktivitas pengawasan memiliki berbagai macam tujuan dalam manajemen organisasi,

diantaranya :

1. Menjamin keberjalanan pekerjaan sesuai dengan perencanaan, kebijakan dan

prosedur yang ditetapkan.

2. Melakukan koordinasi antar aktivitas yang dilaksanakan.

3. Menghindari terjadinya penyalahgunaan dan pemborosan anggaran.

4. Melakukan penjaminan akan terwujudnya kepuasan konsumen terhadap produk

yang dihasilkan (apabila perusahaan nirlaba)

5. Membangun kepercayaan konsumen/publik pada kepemimpinan

organisasi/perusahaan/pemerintahan.

Tujuan pengawasan juga dapat dilihat dari definisi yang dikemukan Sukarna (1992,

hal. 112) tujuan pengawasan itu adalah :

1. Untuk mengetahui jalannya pekerjaan apakah lancar atau tidak

2. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan

mengusahakan pencegahan agar supaya tidak terulang kembali kesalahan yang sama

atau timbulnya kesalahan-kesalahan yang baru.

3. Untuk mengetahui apakah penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam planning

terarah kepada sasarannya dan sesuai dengan yang telah ditentukan. Untuk

mengetahui apakah pelaksanaan biaya sesuai dengan program (fase/tingkat

pelaksanaan) seperti yang telah ditentukan dalam planning atau tidak.

13
4. Untuk mengetahui hasil pekerjaan dengan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan

dalam rencana (standar), dan sebagai tambahan.

5. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan kerja sesuai dengan prosedur dan

kebijaksanaan yang telah ditentukan.

Sementara pengawasan sebagai bagian dari memperlancar kegiatan yang dilakukan

maka akan sangat berpengaruh dalam mencapai sasaran yang ingin dicapai perusahaan sesuai

dengan rencana yang telah ditetapkan.

Adapun menurut Terry dan Rue (2000, hal. 240) mengatakan dimana manfaat dari

pengawasan adalah relatif dan tergentung dari pentingnya kegiatan itu, sumbangan yang

dibuat, serta besarnya organisasi.”

Contoh Kasus:

Seorang karyawan bagian Koordinator Gate pada Pt. Pelindo sering kali terlambat dan tidak

tepat waktu dalam menyekesaikan pekerjaan. Hal ini dapat diketahui melalui pengawasan

manajer secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, manajer melihat

karyawan tersebut tidak melakukan pekerjaannya saat jam kerja berlangsung. Dan secara

tidak langsung, hasil kerja karyawan tersebut dapat juga dilihat dengan menggunakan system

tentang akurasi waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, seperti laporan-laporan yang wajib

dibuat karyawan tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh perusahaan.

Hal seperti inilah yang menjadi faktor penilaian dalam pengawasan SDM. Dengan adanya

pengawasan seperti ini maka manajer perusahaan dapat melihat bagaimana dan kemana

pengembangan pola karir karyawan tersebut dapat dikembangkan.

Maka dari itu seorang manajer akan melakukan coaching saat dalam pengawasan dan

memberi motivasi dengan periode waktu tertentu sehingga karyawan sadar bahwa ia sedang

dalam pengawasan dan pembinaan agar karyawan tersebut lebih maju dan berkembang.

14
Jika karyawan tersebut masih melakukan kesalahan maka perusahaan akan memberikan

punishment.

15
BAB III

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan makalah kami, dapat disimpulkan bahwa controlling

atau pengawasan adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah memiliki

tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan agar supaya

berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan. Pengawasan merupakan fungsi

manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi manajemen

yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dan pelaksanaan pengawasan

dalam manajemen dibutuhkan manajer.

Pengawasan dirasa sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi. Karena jika tidak ada

pengawasan dalam suatu organisasi akan menimbulkan banyaknya kesalahan-kesalahan yang

terjadi baik yang berasal dari bawahan maupun lingkungan.

Pengawasan menjadi sangat dibutuhkan karena dapat membangun suatu komunikasi

yang baik antara pemimpin organisasi dengan anggota organisasi. Serta pengawasan dapat

memicu terjadinya tindak pengoreksian yang tepat dalam merumuskan suatu masalah.

B. Saran

Pengawasan lebih baik dilakukan secara langsung oleh pemimpin organisasi.

Disebabkan perlu adanya hak dan wewenang ketegasan seorang pemimpin dalam suatu

organisasi. Pengawasan disarankan dilakukan secara rutin karena dapat merubah suatu

lingkungan organisasi dari yang baik menjadi lebih baik lagi.

Untuk itu kami mengharapkan masukan kepada pembaca demi perbaikan penyusunan

selanjutnya. Dan semoga dengan makalah ini dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya

untuk membantu kelancaran perkuliahan.

16

Anda mungkin juga menyukai