Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH KEPERAWATAN KOMUNITAS III

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN


SOSIOCULTURAL”

Oleh :
1. Elly Elvira ( 101.0035 )
2. Fitria Gita N. ( 101.0043)
3. M. Faris S.B ( 101.0073)
4. Najmi Layalia ( 101.0075 )

Program Studi S1-Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah


SURABAYA
2013

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang banyak membawa
perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan pola hidup maupun tatanan
sosial termasuk dalam bidang kesehatan yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang
berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang
bermukim dalam suatu tempat tertentu.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam
mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam
masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah
mengalami suatu perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa
memberikan dampak positif maupun negative.
Hubungan antara budaya dan kesehatan sangatlah erat hubungannya, sebagai salah satu
contoh suatu masyarakat desa yang sederhana dapat bertahan dengan cara pengobatan
tertentu sesuai dengan tradisi mereka. Kebudayaan atau kultur dapat membentuk kebiasaan
dan respons terhadap kesehatan dan penyakit dalam segala masyarakat tanpa memandang
tingkatannya. Karena itulah penting bagi tenaga kesehatan untuk tidak hanya
mempromosikan kesehatan, tapi juga membuat mereka mengerti tentang proses terjadinya
suatu penyakit dan bagaimana meluruskan keyakinan atau budaya yang dianut hubungannya
dengan kesehatan.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa definisi lansia ?
2. Bagaimana aspek sosial budaya yang berkaitan dengan pengaruh sosial
budaya pada pasien lansia ?
3. Bagaimana cara mengkaji tentang mata rantai antara kebudayaan dan
kesehatan ?
4. Apa saja pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan pada pasien lansia ?
5. Bagaimana cara mengkaji tentang kebudayaan dan perubahannya ?
6. Aspek sosial dan kultural apa saja yang mempengaruhi pelayanan kesehatan
lansia ?
7. Apa saja konsep - konsep yang relevan dengan budaya ?
8. Bagaimana konsep dasar M.Leininger ?
9. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada lansia dengan gangguan sosial
kultural?

1.3. Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan lansia dari aspek sosial budaya .

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Agar penyusun lebih mengetahui tentang peran sosial dan budaya lansia.
2. Sebagai bahan referensi yang terkait mengenai askep lansia.
3. Sebagai bahan belajar dan pengetahuan tentang penanganan lansia dalam
lingkungan sosial .

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Lansia


Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari
proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap
individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik
maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan
yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses
penuaan normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di
wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya tahan tubuh,
merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus
berhadapan dengan kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta
perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut
kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak
(Soejono, 2000). Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan
dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia tua
adalah fase akhir dari rentangkehidupan.
Pengertian lansia (Lanjut Usia) adalah fase menurunnya kemampuan akal
dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai
mana di ketahui, ketika manusia mencapai usia dewasa, ia mempunyai
kemampuan reproduksi dan melahirkan anak. Ketika kondisi hidup berubah,
seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi ini, dan memasuki selanjutnya, yaitu
usia lanjut, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya, tentu telah
siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba
menyesuaikan diri dengan kondisi lingkunganya (Darmojo, 2004).
Pengertian lansia (lanjut usia) menurut UU no 4 tahun 1965 adalah seseorang
yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk
keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi,
2000) sedangkan menuru UU no.12 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia
(lanjut usia) adalah seseorang yang telah mencapai usia diatas 60 tahun (Depsos,
1999). Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan
fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang
berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).
Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke
atas (Hardywinoto dan Setiabudhi, 1999). Pada lanjut usia akan terjadi proses
menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak dapat
bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi
(Constantinides, 1994).
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam
mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek
biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998).
Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami
proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya
tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat
menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur
dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari
pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua
tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan
bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban
keluarga dan masyarakat.
Dari aspek sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok sosial
sendiri. Di negara Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah
kaum muda. Hal ini dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya
ekonomi, pengaruh terhadap pengambilan keputuan serta luasnya hubungan sosial
yang semakin menurun. Akan tetapi di Indonesia penduduk lanjut usia menduduki
kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda (Suara
Pembaharuan 14 Maret 1997).

2.2 Pengertian Sosial


Sosial dapat berarti kemasyarakatan. Sosial adalah keadaan dimana terdapat
kehadiran orang lain. Kehadiran itu bisa nyata anda lihat dan anda rasakan, namun
juga bisa hanya dalam bentuk imajinasi. Setiap anda bertemu orang meskipun
hanya melihat atau mendengarnya saja, itu termasuk situasi sosial. Begitu juga
ketika anda sedang menelpon, atau chatting (ngobrol) melalui internet. Pun
bahkan setiap kali anda membayangkan adanya orang lain, misalkan melamunkan
pacar, mengingat ibu bapa, menulis surat pada teman, membayangkan bermain
sepakbola bersama, mengenang tingkah laku buruk di depan orang, semuanya itu
termasuk sosial. Sekarang, coba anda ingat-ingat situasi dimana anda betul-betul
sendirian. Pada saat itu anda tidak sedang dalam pengaruh siapapun. Bisa
dipastikan anda akan mengalami kesulitan menemukan situasinya. Jadi, memang
benar kata Aristoteles, sang filsuf Yunani, tatkala mengatakan bahwa manusia
adalah mahluk sosial, karena hampir semua aspek kehidupan manusia berada
dalam situasi sosial.

2.2.1 Interaksi Sosial


Interaksi sosial adalah keadaan dimana seseorang melakukan hubungan
saling berbalas respon dengan orang lain. Aktivitas interaksinya beragam,
mulai dari saling melempar senyum, saling melambaikan tangan dan berjabat
tangan, mengobrol, sampai bersaing dalam olahraga. Termasuk dalam
interaksi sosial adalah chatting di internet dan bertelpon atau saling sms karena
ada balas respon antara minimal dua orang didalamnya.
Berdasarkan sifat interaksi antara pelakunya, interaksi sosial dibedakan
menjadi dua, yakni interaksi yang bersifat akrab atau pribadi dan interaksi
yang bersifat non-personal atau tidak akrab. Dalam interaksi sosial akrab
terdapat derajat keakraban yang tinggi dan adanya ikatan erat antar pelakunya.
Hal itu mencakup interaksi antara orangtua dan anaknya yang saling
menyayangi, interaksi antara sepasang kekasih, interaksi antara suami dengan
istri, atau interaksi antar teman dekat dan saudara.
Sebagian besar interaksi sosial manusia adalah interaksi sosial tidak
akrab. Umumnya interaksi dalam situasi kerja adalah interaksi tidak akrab.
Termasuk juga ketika anda mengobrol dengan orang yang baru saja anda
kenal, interaksi antar sesama penonton sepakbola di stadion, interaksi dalam
wawancara kerja, interaksi antara penjual dan pembeli, dan sebagainya.
2.3 Peran pada Lansia
Sama seperti orang berusia madya harus belajar untuk memainkan peranan
baru demikian juga dengan kaum lansia. Dalam kebudayaan dewasa ini, dimana
efisiensi, kekuatan, kecepatan dan kemenarikan bentuk fisik sangat dihargai,
mengakibatkan orang lansia sering dianggap tidak ada gunanya lagi. Karena
mereka tidak dapat bersaing dengan orang-orang yang lebih muda dalam berbagai
bidang tertentu dimana kriteria nilai sangat diperlukan, dan sikap sosial terhadap
mereka tidak menyenangkan.
Lebih jauh lagi, orang lansia diharapkan untuk mengurangi peran aktifnya
dalam urusan masyarakat dan sosial. Demikian juga dengan dunia usaha dan
profesionalisme. Hal ini mengakibatkan pengurangan jumlah kegiatan yang dapat
dilakukan oleh lansia, dan karenanya perlu mengubah beberapa peran yang masih
dilakukannya.
Karena sikap sosial yang tidak menyenangkan bagi kaum lansia, pujian yang
mereka hasilkan dihubungkan dengan peran usia tua bukan dengan keberhasilan
mereka. Perasaan tidak berguna dan tidak diperlukan lagi bagi lansia
menumbuhkan perasaan rendah diri dan kemarahan, yaitu suatu perasaan yang
tidak menunjang proses penyesuaian sosial seseorang.
Sosial disini yang dimaksudkan adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai
acuan dalam berinteraksi antar manusia dalam konteks masyarakat atau komuniti,
sebagai acuan berarti sosial bersifat abstrak yang berisi simbol-simbol berkaitan
dengan pemahaman terhadap lingkungan, dan berfungsi untuk mengatur tindakan-
tindakan yang dimunculkan oleh individu-individu sebagai anggota suatu
masyarakat. Sehingga dengan demikian, sosial haruslah mencakup lebih dari
seorang individu yang terikat pada satu kesatuan interaksi, karena lebih dari
seorang individu berarti terdapat hak dan kewajiban dari masing-masing individu
yang saling berfungsi satu dengan lainnya.

2.3.1 Peran dalam Sosial Masyarakat


Sebagian besar tugas perkembangan usia lanjut lebih banyak berkaitan
dengan kehidupan pribadi seseorang daripada kehidupan orang lain. Orang tua
diharapkan untuk menyesuaiakan diri dengan menurunkan kekuatan, dan
menurunnya kesehatan secara bertahap. Hal ini sering diartikan sebagai
perbaikan dan perubahan peran yang pernah dilakukan didalam maupun diluar
rumah. Mereka juga diharapkan untuk mencari kegiatan untuk menganti tugas-
tugas terdahulu yang menghabiskan sebagian besar waktu dikala masih muda
dahulu.
Bagi beberapa lansia berkewajiban mengikuti rapat yang meyangkut
kegiatan sosial dan kewajiban sebagai warga negara sangat sulit dilakukan
karena kesehatan dan pendapatan yang menurun setelah mereka pensiun.
Akibat dari menurunnya kesehatan dan pendapatan, maka mereka perlu
menjadwalkan dan menyusun kembali pola hidup yang sesuai dengan keadaan
saat itu, yang berbeda dengan masa lalu.

2.4 Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat


Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia.
Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan
kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu
sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama
yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan.
Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi
dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah
menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta
merengek-rengek dan menangis bila ketemu orang lain sehingga perilakunya
seperti anak kecil.
Dalam menghadapi berbagai permasalahan di atas pada umumnya lansia
yang memiliki keluarga bagi orang-orang kita (budaya ketimuran) masih sangat
beruntung karena anggota keluarga seperti anak, cucu, cicit, sanak saudara bahkan
kerabat umumnya ikut membantu memelihara (care) dengan penuh kesabaran dan
pengorbanan. Namun bagi mereka yang tidak punya keluarga atau sanak saudara
karena hidup membujang, atau punya pasangan hidup namun tidak punya anak
dan pasangannya sudah meninggal, apalagi hidup dalam perantauan sendiri,
seringkali menjadi terlantar.

2.5 Permasalahan Sosial terkait Kesejahteraan Lansia


Berbagai permasalahan sosial yang berkaitan dengan pencapaian
kesejahteraan Lanjut Usia, antara lain sebagai berikut :
4. Permasalahan
1. Masih besarnya jumlah Lajut Usia yang berada dibawah garis kemiskinan.
2. Makin melemahnya nilai kekerabatan, sehingga anggota keluarga yang berusia
lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dan dihormati, berhubung terjadi
perkembangan pola kehidupan keluarga yang secara fisik lebih mengarah pada bentuk
keluarga kecil.
3. Lahirnya kelompok masyarakat industri, yang memiliki ciri kehidupan yang
lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan
untung rugi, lugas dan efisien, yang secara tidak langsung merugikan kesejahteraan
lanjut usia.
4. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut
usia dan masih terbatasnnya sarana pelayanan dan fasilitas khusus bagi lanjut usia
dengan berbagai bidang pelayanan pembinaan kesejahteraan lanjut usia.
5. Belum membudaya dam melembaganya kegiatan pembinaan kesejateraan
lanjut usia
2. Permasalahan Khusus
Menurut Departemen Sosial Republik Indonesia (1998), berbagai permasalahan khusus
yang berkaitan dengan kesejahteraan lanjut usia adalah sebagai berikut:

2.6 Konsep-konsep yang Relefan dengan Budaya


a. Holisme / Seutuhnya.
Antropologi percaya bahwa kebudayaan adalah fungsi yang terintegrasi seluruhnya
dengan bagian interelasi dan interdependensi. Demikian juga budaya lebih baik dipandang
dan dianalisa secara menyeluruh. Berbagai komponen dari budaya seperti politik, ekonomi,
agama, persaudaraan dan system kesehatan, melakukan fungsi yan terpisah tetapi kemudian
bercampur membentuk perbuatan yang menyeluruh. Jadi untuk mengetahui system dari
seseorang harus memandang masing-masing hubunganya dengan orang lain dan dari
keseluruhan kulturnya (Benedict, 1934).
Perubahan budaya biasanya mengundang tantangan – tantangan baru dan berbagai
masalah. Perubahan meliputi adaptasi kreatif dari perilaku yang terdahulu yang disebabkan
Karena bahasa, adapt, kepercayaa, sikap, tujuan, undang – undang, tradisi dank ode moral.
Pada saat yang terdahulu sudah keluar dari mode atau kurang bias diterima dan menjadi
sumber konflik yang potensial (Elling, ((1977).
b. Enkulturasi
Adalah proses mendapatkan pengetahuan dan menghayati nilai-nilai. Melalui proses ini
oran bias mendapatkan kompetensi dari budayanya sendiri. Anak-anak melihat orang tua dan
mengambil kesimpulan tentang peraturan demi perilaku. Pola- pola perilaku menyajikan
penjelasan untuk kejadian dalam penghidupan seperti, dilahirkan, maut, remaja, hamil,
membesarkan anak, sakit penyakit .
c. Etnosentris
Adalah suatu kepercayaan bahwa hanya sendiri yang terbaik. Sangat penting bagi
perawat untuk tidak berpendapat bahwa hanya caranya sendiri yang terbaik dan menganggap
ide orang lkain tidak diketahui atuau di pandang rendah.
d. Stereotip
Stereotip atau sesuatu yang bersifat statis / tetap merupakan kepercayaan yang dibesar –
besarkan dan gambaran yang dilukiskan dengan populer dalam media massa dan ilmu
kebangsaan. Sifat ini juga menyebabkan tidak bekembangnya pemikiran seseorang.

e. Nilai – nilai Budaya


Sistem budaya mengandung berbagai orientasi nilai. Nilai merupakan bentuk
kepercayaan bagaimana seseorang harus berperilaku , kepercayaan adalah sesuatu pertanyaan
yang tujuannya berpegang kepada kebenaran tapi mungkin boleh atau tidak boleh
berlandaskan kenyataan empiris. Salah satu elemen yang paling penting terbangun dalam
budaya dan nilainya. Nilai ini bersama – sama memiliki budaya yang paling penting
terbangun dalam budaya dan nilainya. Nilai ini bersama memberikan stabilitas dan keamanan
budaya, menyajikan standart perilaku. Bila dua orang bersama – sama memiliki budaya yang
serupa dan pengalamanya cenderung serupa nilai – nilai mereka akan serupa , walaupun dua
orang tersebut tidak mungkin pola nilai yang tetap serupa , namun mereka cukup serupa
untuk mengenal kesamaan dan utuk mengidentifkasi” yang lain sama sepeti saya”
(Gooenough, 1966) .
Konsep budaya menurut Linton adalah : suatu tatanan pola perilaku yang dipelajari,
diciptakan, serta ditularkan di antara suatu anggota masyarakat tertentu . Batasan budaya
menurut Koentjaraningrat adalah : keseluruhan system gagasan , tindakan dan Hasil
karyamanusia, dalam rangka kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan milik diri manusia
dengan belajar.Karakteristik budaya menurut TO. Ihromi adalah :
1. Budaya diciptakan dan ditransmisikan lewat proses belajar .
2. Budaya dimiliki bersama oleh sekelompok manusia dan merupakan pola
kelakuan umum.
3. Budaya merupakan mental blue print.
4. Penilaian terhadap budaya bersifat relatif . Budaya bersifat dinamis, adaptif
dan integratif.Pemahaman akan konsep budaya, membawa kita pada kesimpulan
bahwa gagasan, perasaan dan perilakumanusia dalam kehidupan sosialnya sangat
dipengaruhi oleh budaya yang berlaku di masyarakat. Demikianpula pergeseran
ataupun perubahan pada tatanan budaya dalam suatu masyarakat akan diiringi
denganperubahan perilaku dari individu yang hidup di dalamnya.Budaya tercipta
sebagai upaya manusia untuk beradaptasi terhadap masalah -masalah yang timbul dari
lingkungan hidupnya. Selanjutnya budaya mempengaruhi pembentukan dan
perkembangan kepribadian manusia dalam kelompoknya. Interaksi keduanya
membentuk suatu pola spesifik perilaku, proses pikir,emosi dan persepsi individu atau
kelompok dalam bereaksi terhadap tekanan-tekanan kehidupan. Dengan demikian
dapat dimengerti peranan budaya dalam masalah kesehatan jiwa.

2.7 Perbedaan Budaya


Sesungguhnya karena tradisi berbeda budaya dan peningkatan mobilitas dan memiliki
standart perilaku yang sama. Individu yang dibesarkan dalam kelompok seperti itu mengikuti
budaya oleh norma-norma yang menentukan jalan pikiran dan perilaku mereka .
a. Kolektifitas Etnis adalah kelompok dengan asal yang umum, perasaan identitas dan memiliki
standart perilaku yang sama. Individu yang bedasarkan dalam kelompok seperti itu mengikuti
budaya oleh norma-norma yang menentukan jalan ikiran dan perilaku mereka ( Harwood,
1981 ) .
b. Shok Budaya adalah salah satu sebab karena bekerja dengan individu yang latar belakang
kulturnya berbeda. Shock budaya sebagai perasaan yang tidak ada yang menolong
ketidaknyamanan dan kondisi disoirentasi yang dialami oleh orang luar yang berusaha
beradaptasi secara komprehensif atau secara efektif dengan kelompok yang berbeda akibat
akibat paraktek nilai-nilai dan kepercayaan.( Leininger, 1976). Perawat dapat mengurangi
shock budaya dengan mempelajari tentang perpedaan kelompok budaya dimana ia terlibat.
Pemting untuk perawat mengembangkan hormat kepada orang lain yang berbeda budaya
sambil menghargai perasaan dirinya. Praktik perawatan kesehatan memerlukan toleransi
kepercayaan yang bertentangan dengan perawat.
c. Pola Komunikasi
Kendala yang paling nyata timbul bila kedua orang berbicara dengan bahasa ang
berbeda. Kebiasaan berbahasa dari klien adalah salah satu cara untuk melihat isi dari budaya.
Menurut Kluckhohn,1972, bahwa tiap bahasa adalah merupakan jalan khusus untuk
meneropong dan interprestasi pengalaman tiap bahasa membuat tatanan seluruhnya dari
asumsi yang tidak disadari tetang dunia dan penghidupan. Kendala untuk komunkasi bisa saja
terjadi walaupun individu berbicara dengan bahasa yang sama. Perawat kadang kesulitan
untuk menjelaskan sesuatu dengan bahasa yang sederhana, bebas dari bahasa yang jlimet
yang klien bisa menagkap. Sangat penting untuk menentukan ahwa pesan kita bisa diterima
dan dimengerti maksudnya .

d. Jarak Pribadi dan Kontak


Jarak pribadi adalah ikatan yang tidak terlihat dan fleksibel. Pengertian tentang jarak
pribadi bagi perawat kesehatan masyarakat memungkinkan proses pengkajian dan
peningkatan interaksi perawat klien. Profesional kesehatan merasa bahwa mereka mempunyai
ijin keseluruh daerah badan klien. Kontak yang dekat sering diperlukan perawat saat
pemeriksaan fisik, perawat hendaknya berusaha untuk mengurangi kecemasan dengan
mengenal kebutuhan individu akan jarak dan berbuat yang sesuai untuk melindungi hak
privasi.
e. Padangan Sosiokultural tentang Penyakit dan Sakit
Budaya mempengaruhi harapan dan persepsi orang mengenai gejala cra memberi etika
kepada penyakit, juga mempengaruhi bilamana, dan kepada siapa mereka harus
mengkomunikasikan masalah – masalah kesehatan dan berapa lama mereka berada dalam
pelayanan. Karena kesehatan dibentuk oleh faktor – faktor budaya, maka terdapat variasi dari
perilaku pelayanan kesehatan, status kesehatan, dan pola – pola sakit dan pelayanan didalam
dan diantara budaya yang berbeda – beda.
Perilaku pelayanan kesehatan merujuk kepada kegiatan-kegiatan sosial dan biologis
individu yang disertai penghormatan kepada mempertahankan akseptabilitas status kesehatan
atau perubahab kondisi yang tidak bisa diterima. Perilaku pelayanan kesehatan dan status
kesehatan saling keterkaitkan dan sistem kesehatan ( Elling, 1977 ).

2.8 Hubungan sosial budaya dengan lansia


Kebudayaan merupakan sikap hidup yang khas dari sekelompok individu yang
dipelajari secara turun temurun , tetapi sikap hidup ini ada kalanya malah mengundang resiko
bagi timbulnya suatu penyakit . Kebudayaan tidak dibatasi oleh suatu batasan tertentu yang
sempit , tetapi mempunyai struktur-struktur yang luas sesuai dengan perkembangan dari
masyarakat itu sendiri.
Kebudayaan yang dianut oleh masyarakat tertentu tidaklah kaku dan bisa untuk di
rubah, tantangannya adalah mampukah seorang perawat memberikan penjelasan dan
informasi yang rinci tentang pelayanan kesehatan asuhan keperawatan yang akan di berikan
kepada lansia .
Sikap budaya terhadap warga usia lanjut mempunyai implikasi yang dalam terhadap
kesejahteraan fisik maupun mental mereka. Pada masyarakat tradisional warga usia lanjut
ditempatkan pada kedudukan yang terhormat, sebagai Pinisepuh atau Ketua Adat dengan
tugas sosial tertentu sesuai adat istiadatnya, sehingga warga usia lanjut dalam masyarakat ini
masih terus memperlihatkan perhatian dan partisipasinya dalam masalah - masalah
kemasyarakatan. Hal ini secara tidak langsung berpengurah kondusif bagi pemeliharaan
kesehatan fisik maupun mental mereka.
Sebaliknya struktur kehidupan masyarakat modern sulit memberikan peran fungsional
pada warga usia lanjut,posisi mereka bergeser kepada sekedar peran formal, kehilangan
pengakuan akan kapasitas dan kemandiriannya. Keadaan ini menyebabkan warga usia lanjut
dalam masyarakat modern menjadi lebih rentan terhadap tema - tema kehilangan dalam
perjalanan hidupnya. Era globalisasi membawa konsekuensi pergeseran budaya yang cepat
dan terus – menerus , membuat nilai - nilai tradisional sulit beradaptasi. Warga usia lanjut
yang hidup pada masa sekarang,seolah-olah dituntut untuk mampu hidup dalam dua dunia
yakni : kebudayaan masa lalu yang telah membentuk sebagian aspek dari kepribadian dan
kekinian yang menuntut adaptasi perilaku. Keadaan ini merupakan ancaman bagi integritas
egonya, dan potensial mencetuskan berbagai masalah kejiwaan .

2.9 Mata Rantai Antara Kebudayaan dan Kesehatan Lansia


Didalam masyarakat sederhana, kebiasaan hidup dan adat istiadat dibentuk untuk
mempertahankan hidup diri sendiri dan kelangsungan hidup suku mereka. Berbagai
kebiasaan dikaitkan dengan kehamilan, kelahiran, pemberian makanan bayi, yang bertujuan
supaya reproduksi berhasil, ibu dan bayi selamat. Dari sudut pandang modern ,tidak semua
kebiasaan itu baik. Ada beberapa yang kenyataannya malah merugikan.
Menjadi sakit memang tidak diharapkan oleh semua orang apalagi penyakit-penyakit
yang berat dan fatal. Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti bagaimana penyakit itu
dapat menyerang seseorang. Ini dapat dilihat dari sikap mereka terhadap penyakit tersebut.
Ada kebiasaan dimana setiap orang sakit diisolasi dan dibiarkan saja. Kebiasaan ini ini
mungkin dapat mencegah penularan dari penyakit-penyakit infeksi seperti cacar dan TBC.
Bentuk pengobatan yang di berikan biasanya hanya berdasarkan anggapan mereka
sendiri tentang bagaimana penyakit itu timbul. Kalau mereka menganggap penyakit itu
disebabkan oleh hal-hal yang supranatural atau magis, maka digunakan pengobatan secara
tradisional. Pengobatan modern dipilih bila meraka duga penyebabnya adalah faktor ilmiah.
Ini dapat merupakan sumber konflik bagi tenaga kesehatan, bila ternyata pengobatan yang
mereka pilih berlawanan dengan pemikiran secara medis.
Didalam masyarakat industri modern iatrogenic disease merupakan problema. Budaya
menuntut merawat penderita di rumah sakit, pada hal rumah sakit itulah tempat ideal bagi
penyebaran kuman-kuman yang telah resisten terhadap anti biotika .

2. 10 Permasalahan Aspek Sosial Budaya


Menurut Setiabudhi (1999), permasalahan sosial budaya lansia secara umum yaitu
masih besarnya jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan, makin melemahnya
nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia lanjut kurang diperhatikan,
dihargai dan dihormati, berhubung terjadi perkembangan pola kehidupan keluarga yang
secara fisik lebih mengarah pada bentuk keluarga kecil, akhirnya kelompok masyarakat
industri yang memiliki ciri kehidupan yang lebih bertumpu kepada individu dan menjalankan
kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi, lugas dan efisien yang secara tidak langsung
merugikan kesejahteraan lansia, masih rendahnya kuantitas tenaga professional dalam
pelayanan lansia dan masih terbatasnya sarana pelayanan pembinaan kesejahteraan lansia,
serta belum membudayanya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia .

2.10.1 Kebudayaan dan Perubahannya


Tentu saja kebudayaan itu tidak statis , kecuali mungkin pada masyarakat pedalaman
yang terpencil . Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan lansia biasanya dipelajari pada
masyarakat yang terisolasi dimana cara - cara hidup mereka tidak berubah selama beberapa
generasi , walaupun mereka merupakan sumber data - data biologis yang penting dan model
antropologi yang berguna , lebih penting lagi untuk memikirkan bagaimana mengubah
kebudayaan mereka itu. Pada Negara dunia ke 3 laju perkembangan ini cukup cepat, dengan
berkembangnya suatu masyarakat perkotaan dari masyarakat pedesaan. Ide-ide tradisional
yang turun temurun, sekarang telah di modifikasi dengan pengalaman-pengalaman dan ilmu
pengetahuan baru. Sikap terhadap penyakit pun banyak mengalami perubahan .Kaum muda
dari pedesaan meninggalkan lingkungan mereka menuju kekota. Akibatnya tradisi budaya
lama di desa makin tersisih. Meskipun lingkungan dari masyarakat kota modern dapat di
kontrol dengan tekhnologi, setiap individu didalamnya adalah subjek dari pada tuntutan ini,
tergantung dari kemampuannya untuk beradaptasi.
Problema dalam menganalisa perubahan kebudayaan apakah memberikan dampak yang
sangat besar sulit diukur, sebagai contoh kenaikan tekanan darah pada para penduduk yang
berimigrasi ke kota. Kenyataan ini tidak dapat di pungkiri . Bila mana budaya itu berubah
suatu adaptasi yang sukses tidak hanya tergantung pada Setiap masyarakat faktor lingkungan
dan biologis. Kemampuan untuk memodifikasi beberapa segi budaya juga penting .

2.10.2 Kebudayaan dan Asuhan Keperawatan pada Lansia


Bila suatu bentuk pelayanan kesehatan baru diperkenalkan ke dalam suatu masyarakat
dimana faktor-faktor budaya masih kuat. Biasanya dengan segera mereka akan menolak dan
memilih cara pengobatan tradisional sendiri. Apakah mereka akan memilih cara baru atau
lama, akan memberi petunjuk kepada kita akan kepercayaan dan harapan pokok mereka
lambat laun akan sadar apakah pengobatan baru tersebut berfaedah , sama sekali tidak
berguna, atau lambat memberi pegaruh. Namun mereka lebih menyukai pengobatan
tradisional karena berhubungan erat dengan dasar hidup mereka. Maka cara baru itu akan
dipergunakan secara sangat terbatas, atau untuk kasus-kasus tertentu saja.
Pelayanan kesehatan yang modern oleh sebab itu harus disesuaikan dengan kebudayaan
setempat, akan sia-sia jika ingin memaksakan sekaligus cara-cara modern dan menyapu
semua cara-cara tradisional . Bila tenaga kesehatan berasal dari lain suku atau bangsa, sering
mereka merasa asing dengan penduduk setempat . ini tidak akan terjadi jika tenaga kesehatan
tersebut berusaha mempelajari kebudayaan mereka dan menjembatani jarak yang ada diantara
mereka. Dengan sikap yang tidak simpatik serta tangan besi, maka jarak tersebut akan
semakin lebar. Setiap masyarakat mempunyai cara pengobatan dan kebiasaan yang
berhubungan dengan ksehatan masing-masing. Sedikit usaha untuk mempelajari kebudayaan
mereka akan mempermudah memberikan gagasan yang baru yang sebelumnya tidak mereka
terima.
Pemuka - pemuka di dalam masyarakat itu harus diyakinkan sehingga mereka dapat
memberikan dukungan dan yakin bahwa cara - cara baru tersebut bukan untuk melunturkan
kekuasaan mereka tetapi sebaliknya akan memberikan manfaat yang lebih besar .Pilihan
pengobatan dapat menimbulkan kesulitan. Misalnya , bila pengobatan tradisional biasanya
mengunakan cara-cara menyakitkan seperti mengiris-iris bagian tubuh atau dengan memanasi
penderita , akan tidak puas hanya dengan memberikan pil untuk diminum . Hal tersebut diatas
bisa menjadi suatu penghalang dalam memberikan pelayanan kesehatan, tapi dengan
berjalannya waktu mereka akan berfikir dan menerima.

2.10.3 Sosial dan Kultural yang Mempengaruhi Asuhan Keperawatan Pada Lansia
Yang dipakai sebagai pokok pembicaraan dari bab ini adalah tentang kesehatan lansia
yang bukan hanya berdasarkan pengetahuan dari penyakit fisik saja , tetapi juga atas
pengaruh dari sosial kultural . Sering kali perawat harus merencanakan dan memberikan
asuhan kepada individu / keluarga ‘pasien lansia ‘ yang kepercayaan kesehatannya berbeda
dari faham perawat . Guna memberikan pelayanan yang efektif dan cocok perawat harus
mengenal pentingnya pengaruh budaya dan lain - lain kultural .
Secara sosial seseorang yang memasuki usia lanjut juga akan mengalami perubahan-
perubahan. Perubahan ini akan lebih terasa bagi seseorang yang menduduki jabatan atau
pekerjaan formal. la akan merasa kehilangan semua perlakuan yang selama ini didapatkannya
seperti dihormati, diperhatikan dan diperlukan. Bagi orang-orang yang tidak mempunyai
waktu atau tidak merasa perlu untuk bergaul diluar lingkungan pekerjaannya, perasaan
kehilangan ini akan berdampak pada semangatnya, suasana hatinya dan kesehatannya. Di
dalam keluarga, peranannya-pun mulai bergeser. Anak-anak sudah "jadi orang", mungkin
sudah punya rumah sendiri, tempat tinggalnya mungkin jauh. Rumah jadi sepi, orangtua
seperti tidak punya peran apa-apa lagi.

2.11 Asuhan Keperawatan Gangguan Sosialcultural pada Lansia


2.11.1 Definisi
Proses asuhan keperawatan pada usia lanjut adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk memberikan
bantuan, bimbingan, pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu, seperti
di rumah/lingkungan keluarga, panti werda maupun puskesmas, yang diberikan oleh perawat untuk asuhan
keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas sosial yang bukan tenaga
keperawatan, diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan
melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti (Depkes, 1993 1b).

2.11.2 Klasifikasi
Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut
usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain;
1. Lanjut usia aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal
hygiene, kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan diri
termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata, serta telinga; kebersihan lingkungan
seperti tempat tidur dan ruangan; makanan sesuai, misalnya porsi kecil bergizi,
bervariasi dan mudah dicerna, dan kesegaran jasmani.
2. Lanjut usia pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal yang perlu
diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada
dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota
keluarga atau petugas.
2.11.3 Pendekatan Perawatan Lansia
1. Pendekatan fisik
Perawatan yang memperhatikan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang dialami
klien lanjut semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat kesehatan yang
masih bisa dicapai dan dikembangkan, dan penyakit yang dapat dicegah atau ditekan
progrevitasnya.
Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian, yakni:
1. Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu
bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih
mampu melakukan sendiri.
2. Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya
mengalami kelumpuhan atau sakit, perawat harus mengetahui dasar perawatan klien
lanjut usia ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan keberhasilan
perorangan untuk memepertahankan kesehatannya. Kebersihan perorangan sangat
penting dalam usaha menceggah timbulnya peradangan, mengingat sumber infeksi
dapat timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian.
Di samping itu, kemunduran kondisi fisik akibat proses ketuaan, dapat mempengaruhi
ketahanan tubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar.
Untuk klien lanjut usia yang masih aktif dapat diberikan bimbingan mengenai
kebersihan mulut dan gigi, kebersihan kulit dan badan, kebersihan rambut dan kuku,
kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya, hal makanan, cara memakan obat, dan cara
pindah dari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. Hal ini penting karena meskipun tidak
selalu, keluhan-keluhan yang dikemukakan atau gejala-gejala yang ditemukan memerlukan
perawatan, tidak jarang para klien lanjut usia dihadapkan pada dokter dalam keadaan gawat
yang memerlukan tindakan darurat dan intensif.
Adapun komponen pendekatan fisik yang lebih mendasar adalah memperhatikan dan
membantu para klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancar, makan termasuk memilih dan
menentukan makanan, minum, melakuan eliminasi, tidur, menjaga sikap tubuh waktu
berjalan, duduk, merubah posisi tiduran, beristirahat, kebersihan tubuh, memakai dan
menukar pakaian, mempertahankan suhu badan, melindungi kulit dan kecelakaan.
Toleransi terhadap kekurangan O2 sangat menurun pada klien lanjut usia, untuk itu
kekurangan O2 yang mendadak harus dicegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal,
jangan makan terlalu banyak dan jangan melakukan gerak badan yang berlebihan.

2. Pendekatan psikis
Di sini perawat mempunyai peranan penting mengadakan pendekatan edukatif pada klien
lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu
yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab.
Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan waktu yang cukup banyak untuk menerima
berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang
prinsip “Tripple S”, yaitu Sabar, Simpatik, dan Service.
Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari lingkungan,
termasuk perawat yang memberikan perawatan. Untuk itu perawat harus selalu menciptakan
suasana aman, tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas
kemampuan dan hobi yang dimilikinya.
Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam
memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa keterbatasan sebagai
akibat dari ketidakmampuan fisik, dan kelainan yang dideritanya.
Hal ini perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi bersama dengan berlanjutnya
usia. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala, seperti menurunnya daya ingat untuk
peristiwa yang baru terjadi , berkurangnya kegairahan keinginan , peningkatan kewaspadaan,
perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran di waktu siang, dan
pergeseran libido.
Perawat harus sabar mendengarkan cerita-cerita dari masa lampau yang membosankan,
jangan mentertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa atau kesalahan. Harus
diingat, kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu.
Bila perawat ingin mengubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan,
perawat bisa melakukannya secara perlahan-lahan dan bertahap, perawat harus dapat
mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehingga seluruh pengalaman yang
dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka
dapat merasa puas dan bahagia.

3. Pendekatan social
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat
dalam pendekatan sosial. Memberikan kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama
klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi, pendekatan sosial ini
merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk
sosial yang membutuhkan orang lain. Dalam pelaksanaannya perawat dapat menciptakan
hubungan social antara lanjut usia dan lanjut usia dan perawat sendiri.
Perawat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk
mengadakan komunikasi dan melakukan rekreasi, misal jalan pagi, menonton film, atau
hiburan-hiburan lain.
Para lanjut usia perlu dirangsang untuk mengetahui dunia luar, seperti menonton televisi,
mendengarkan radio, atau membaca surat kabar dan majalah. Dapat disadari bahwa
pendekatan komunikasi dalam perawatan tidak kalah pentingnya dengan upaya pengobatan
medis dalam proses penyembuhan atau ketenangan para klien lanjut usia.
Tidak sedikit klien tidak dapat tidur karena stress, stress memikirkan penyakit, biaya
hidup, keluarga yang di rumah sehingga menimbulkan kekecewaan, ketakutan atau
kekhawatiran, dan rasa kecemasan. Untuk menghilangkan rasa jemu dan menimbulkan
perhatian terhadap sekelilingnya perlu diberi kesempatan kepada lanjut usia untuk menikmati
keadaan di luar, agar merasa masih ada hubungan dengan dunia luar.
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian di antara lanjut usia (terutama yang
tinggal dipanti werda), hal ini dapat diatasi dengan berbagai usaha, antara lain selalu
mengadakan kontak dengan mereka, senasib dan sepenanggungan, dan punya hak dan
kewajiban bersama. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik
sesama mereka maupun terhadap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka
maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan
sosial bagi lanjut usia dipanti werda.

4. Pendekatan spiritual
Perawat harus bias memberikan ketentuan dan kepuasan batin dalam hubungannya
dengan tujuan atau agama yang dianutnya, terutama bila klien lanjut usia dalam keadaan sakit
atau mendekati kematian.sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang
menekati kematian, DR Toni Setyobudhi mengemukakan bahwa maut sering kali menggugah
rasa takut. Rasa takut semacam ini di dasari oleh berbagai macam faktor seperti,
ketidakpastian pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit/penderitaan yang sering
menyertainya, dan kegelisahan untuk tidak kumpul lagi dengan keluarga/lingkungan
sekitarnya.
Dalam menghadapi kematian, setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi-reaksi
yang berbeda, tergantung dari kepribadian dan cara mereka menghadapi hidup ini. Sebab itu,
perawat harus meneliti dengan cermat di manakah letak kelemahan dan di mana letak
kekuatan klien, agar perawat selanjutnya akan lebih terarah lagi. Bila kelemahan terletak pada
segi spiritual, sudah seelayaknya perawat dan tim berkewajiban mencari upaya agar klien
lanjut usia ini dapat diringankan penderitaannya. Perawat bisa memberikan kesempatan pada
klien lanjut usia untuk melaksanakan ibadahnya, atau secara langsung memberikan
bimbingan rohani dengan menganjurkan melaksanakan ibadahnya seperti membaca kitab
atau membantu lanjut usia dalam menunaikan kewajiban terhadap agama yang dianutnya.
Apabila kegelisahan yang timbul disebabkan oleh persoalan keluarga, maka perawat
harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa keluarga tadi ditinggalkan, masih ada orang lain
yang mengurus mereka. Sedangkan bila ada rasa bersalah yang menghantui pikiran lanjut
usia, segera perawat segera menghubungi seorang rohaniawan untuk dapat mendampingi
lanjut usia dan mendengarkan keluhan-keluhannya maupun pengakuan-pengakuannya.
Umumnya pada waktu kematian akan datang, agama atau kepercayaan seseorang
merupakan faktor yang penting sekali. Pada waktu inilah kehadiran seorang imam sangat
perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia.
Dengan demikian pendekatan perawat lanjut usia bukan hanya terhadap fisik, yakni
membantu mereka dalam keterbatasan fisik saja, melainkan perawat lebih dituntut
menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka.

2.11.4 Tujuan Asuhan Keperawatan Lansia


1. Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.
2. Mempertahankan kesehatan dan kemampuan dari mereka yang usianya telah
lanjut usia dan jalan perawatan dan pencegahan.
3. Membantu mempertahankan serta membesarkan semangat hidup klien lanjut
usia.
4. Merawat dan menolong klien lanjut usia yang menderita penyakit atau
mengalami gangguan tertentu (kronis maupun akut).
5. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan
diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai suatu kelainan tertentu.
6. Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang
menderita suatu penyakit atau gangguan , masih dapat mempertahankan kebebasan
yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan

2.11.5 Fokus Keperawatan Lansia


1. Peningkatan kesehatan (health promotion).
2. Pencegahan penyakit (preventif).
3. Mengoptimalkan fungsi mental.
4. Mengatasi gangguan kesehatan yang umum.

2.12 APLIKASI TEORI MADELEINE LEININGER


2.12.1 Konsep Awal
Leininger (1978) mendefinisikan transkultural di keperawatan sebagai: “ bidang
kemanusiaan dan pengetahuan pada studi formal dan praktik dalam keperawatan yang
difokuskan pada perbedaan studi budaya yang melihat adanya perbedaan dan kesamaan
dalam perawatan, kesehatan, dan pola penyakit didasari atas nilai-nilai budaya, kepercayaan
dan praktik budaya yang berbeda di dunia, dan menggunakan pengetahuan untuk
memberikan pengaruh budaya yang spesifik pada masyarakat.”
Tiga tipe budaya yang berhubungan dengan keputusan dan tindakan dipakai untuk
menyakinkan bahwa pelayanan keperawatan memberikan penyesuian tentang nilai dan
norma. Hal tersebut adalah :
1. Budaya asuhan kultural
2. Keputusan dan tindakan dirancang untuk membantu mendukung, atau
meningkatkan kemampuan pasien untuk memelihara atau mempertahankan kesehatan,
menyembuhkan sakit dan kematian.
3. Akomodasi asuhan kultural
4. Keputusan dan tindakan dirancang untuk membantu, mendukung atau
meningkatkan kemampuan pasien untuk mengadaptasi atau merundingkan
kemampuan atau kepuasan status kesehatan atau kematian.
5. Pengolahan ulang asuhan kultural
6. Keputusan dan tindakan dirancang untuk membantu, menyongkong atau
menampukan pasien untuk merubah cara hidup ke pola yang baru atau berbeda yang
secara budaya berarti dan memuaskan atau mendukung pemanfaatan dan pola hidup
sehat.

2.12.2 Paradigma Keperawatan Teori Keperawatan Leininger


a. Manusia / pasien
Manusia adalah individu atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang
diyakini yang berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan tindakan. Manusia memiliki
kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat dimanapun dia berada.
b. Kesehatan
Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki pasien dalam mengisi
kehidupannnya
c. Lingkungan
Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana pasien dengan
budayanya saling berinteraksi, baik lingkungan fisik, sosial dan simbolik.

d. Keperawatan
Keperawatan dipandang sebagai suatu ilmu dan kiat yang diberikan kepada pasien
dengan berfokus pada prilaku, fungsi dan proses untuk meningkatkan dan mempertahankan
kesehatan atau pemulihan dari sakit.
2.12.3 Konsep Utama Teori Transkultural
1. Culture Care
Nilai-nilai, keyakinan, norma, pandangan hidup yang dipelajari dan diturunkan serta
diasumsikan yang dapat membantu mempertahankan kesejahteraan dan kesehatan serta
meningkatkan kondisi dan cara hidupnya.
2. World View
Cara pandang individu atau kelompok dalam memandang kehidupannya sehingga
menimbulkan keyakinan dan nilai.
2. Culture and Social Structure Dimention
Pengaruh dari factor-faktor budaya tertentu (sub budaya) yang mencakup religius,
kekeluargaan, politik dan legal, ekonomi, pendidikan, teknologi dan nilai budaya yang saling
berhubungan dan berfungsi untuk mempengaruhi perilaku dalam konteks lingkungan yang
berbeda
2. Generic Care System
Budaya tradisional yang diwariskan untuk membantu, mendukung, memperoleh
kondisi kesehatan, memperbaiki atau meningkatkan kualitas hidup untuk menghadapi
kecacatan dan kematiannya.
2. Profesional system
Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan kesehatan yang memiliki
pengetahuan dari proses pembelajaran di institusi pendidikan formal serta melakukan
pelayanan kesehatan secara professional.
2. Culture Care Preservation
Upaya untuk mempertahankan dan memfasilitasi tindakan professional untuk
mengambil keputusan dalam memelihara dan menjaga nilai-nilai pada individu atau
kelompok sehingga dapat mempertahankan kesejahteraan.
2. Culture Care Acomodation
Teknik negosiasi dalam memfasilitasi kelompok orang dengan budaya tertentu untuk
beradaptasi/berunding terhadap tindakan dan pengambilan kesehatan.
2. Cultural Care Repattering.
Menyusun kembali dalam memfasilitasi tindakan dan pengambilan keputusan
professional yang dapat membawa perubahan cara hidup seseorang.
2. Culture Congruent / Nursing Care
Suatu kesadaran untuk menyesuaikan nilai-nilai budaya / keyakinan dan cara hidup
individu/ golongan atau institusi dalam upaya memberikan asukan keperawatan yang
bermanfaat.
2.12.4 Transkultural Care Dengan Proses Keperawatan
Model konseptual asuhan keperawatan transkultural dapat dilihat pada gambar berikut :
Penerapan teori Leineger (Sunrise Model) pada proses keperawatan dapat dijelaskan
sebagai berikut :
Proses Keperawatan Sunrise Model

Pengkajian dan Pengkajian terhadap Level satu, dua dan tiga yang meliputi :
Diagnosis Level satu : World view and Social system level
Level dua : Individual, Families, Groups communities and
Institution in diverse health system
Level tiga : Folk system, professional system and nursing
Perencanaan dan Level empat : Nursing care Decition and Action
Implementasi Culture Care Preservation/maintanance
Culture Care Accomodation/negotiations
Culture Care Repatterning/restructuring
Evaluasi

2.12.5 Analisis Teori Transcultural Nursing


1. Kemampuan teori menghubungkan konsep dalam melihat penomena
Teori Transcultural Nursing yang digambarkan dalam Sunrise Model menunjukan
bahwa level satu dan dua dari teori memilki banyak kesamaan dengan beberapa teori
keperawatan lainnya sedangkan pada level ketiga dan keempat memiliki perbedaan spesifik
dan bersifat unik jika dibandingkan dengan teori lainnya.
2. Tingkat Generalisasi Teori
Teori dan model yang dikemukan oleh Leininger relatif tidak sederhana, namun
demikian teori ini dapat didemontrasikan dan diaplikasikan sehingga dapat diberikan
justifikasi dan pembenaran bagaimana konsep-konsep yang dikemukakan saling
berhubungan.
3. Tingkat Kelogisan Teori
Kelogisan teori Leininger adalah pada fokus dari pandangganya dengan melihat bahwa
latar belakang budaya pasien (individu, keluarga, kelompok, masyarakat) yang berbeda
sebagai bagian penting dalam rangka pemberian asuhan keperawatan.
4. Testabilitas teori
Teori Cultural care diversity and Universality dikembangkan berdasarkan atas riset
kualitatif dan kuantitatif.
5. Kemanfaatan Teori bagi Peningkatan Body Of Knowledge
Beberapa penelitian tentang konsep perawatan dengan memperhatikan budaya telah
memberikan arti akan pentingnya pengetahuan dan pemahaman tentang perbedaan dan
persamaan budaya dalam praktek keperawatan.
6. Kemanfaatan Teori pada Pengembangan Praktek Keperawatan
Teori ini sangat relevan dan dapat diterapkan secara nyata dalam praktek keperawatan,
karena teori ini mengemukakan adanya pengaruh perbedaan budaya terhadap perilaku hidup
sehat. Dan dalam aplikasinya teori ini sangat relevan dengan penerapan praktek keperawatan
komunitas.
7. Konsistensi Teori
Leininger menyampaikan pentingnya pemahaman budaya dalam rangka hubungan
perawat pasien yang juga sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Imoge King yang
menekankan pentingnya persamaan persepsi perawat pasien untuk pencapaian tujuan.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Analisis Fenomena Keperawatan


Kasus:
Ny.A (65 tahun) tinggal di rumah sederhana di sebuah desa dengan penduduk lumayan padat. Sejak 5
tahun yang lalu, kedua anaknya meningglakan Ny. A sendiri di rumah, karena harus pergi merantau
mencari pekerjaan. Ny.A banyak menghabiskan waktunya di rumah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-
hari, Ny.A dibantu oleh tetangganya, karena merasa kasihan terhadap Ny.A. Ny.A sering mengeluhkan
nyeri dibagian sendi tangan dan kakinya sejak 10tahun yang lalu.
Tetangga Ny.A menawarkan bantuan pada Ny.A untuk mengantarkan dia pergi berobat ke dokter
untuk memeriksakan penyakitnya. Namun Ny.A lebih senang memijatkan tangan dan kakinya ke tukang
pijat yang ada di daerahnya. Ny.A lebih percaya pada tukang pijat yang menjadi langganannya sejak dulu.
Petugas pelayanan kesehatan juga beberapa kali mendatangi Ny.A, untuk memberikan pelayanan
kesehatan gratis. Namun Ny.A, menolak dan menyuruh petugas itu pergi.
Hubungan Ny. A, juga tidak terlalu baik dengan tetangganya . Ny.A hanya mau menerima bantuan,
namun enggan untuk berinteraksi terlalu lama dengan tetangganya. Ny.A hanya mau menjawab pertanyaan
dan berbicara seperlunya saja. Ny.A tampak menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Ny.A hanya mau
banyak bercerita pada tetangga yang memiliki hubungan paling dekat dengannya. Ny.A mengaaku lebih
nyaman berkomunikasi dengan anak-anaknya.
Di dalam rumah Ny. A terdapat sebuah TV, Namun TV tersebut tidak pernah difungsikan. Tidak ada
fasilitas telepon di rumah Ny.A, Ny.A biasanya mendapat kabar tentang anaknya dari tetangga yang juga
merantau dan sedang pulang kampung. Ny.A biasanya menggunakan jasa tukang becak untuk berpergian
sekedar membeli kebutuhan sehari-hari setiap satu minggu sekali. Ny.A mengaku tidak terbiasaa
menggunakan jasa kendaraan bermotor paada saat bepergian, karena takut jatuh.

1). Faktor teknologi (tecnological factors)


Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran
menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji: persepsi sehat sakit,
kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alasan klien
memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk
mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.
Dalam kasus ini diungkapakan bahwa, klien seseorang yang meyakini bahwa sakit yang dideritanya
itu bisa disembuhkan ke dukun pijat tanpa harus pergi ke petugas kesehatan. Dengan berbagai alasan,
dikarenakan lokasi yang kurang terjangkau dan juga faktor dari dalam diri klien sendiri yang menganggap
bahwa dukun pijat lebih mampu mengatasi penyakit klien.
2). Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)
Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para
pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas
segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah:
agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit, cara pengobatan
dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.
Dalam kasus tidak diungkapakan secara langsung agama apa yang dianut oleh klien. Namun pada
kondisis sakit seperti itu, klien tertutup dengan masalah kesehatannya. Kllien sudah dinasehati oleh
tetangganya untuk pergi ke dokter, namun ia beranggapan dukun pijat lebih bisa diandalkan.

3). Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)
Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor: nama lengkap, nama panggilan, umur dan
tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan
hubungan klien dengan kepala keluarga.
Tipe keluarga yang ada pada kasus ini, adalah keluarga dengan lansia didalamnya. Dimana lansia
tersebut memiliki 2 orang anak yang merantau sejak lioma tahun yang lalu.

4). Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)
Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang
dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan
terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah: posisi dan jabatan yang
dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan yang dipantang dalam
kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri.
Ny. A adalah seorang ibu rumah tangga namun, sejak 10 tahun yang lalu ia sudah terjangkit artritis.
Dia memiliki 2 orang anak namun sudah merantau keduanya dan tidak tinggal dalam satu rumah lagi.
Demi memenuhi kehidupan sehari-hari Ny. A hanya menerima bantuan dari tetangganya. Sesekali (1
minggu sekali) ny. A pergi berbelanja.

5). Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)
Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi
kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang perlu dikaji
pada tahap ini adalah: peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota
keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.
Petugas kesehatan sekitar sudah mencoba berkunjung ke rumah Ny. A namun, selalu tidak ada respon
yang baik dari klien.
6). Faktor ekonomi (economical factors)
Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk
membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya:
pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga, biaya dari sumber lain
misalnya asuransi, penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga.
Dalam memenuhi kehidupan sehari-hari klien lebih suka menerima bantuan dari orang lain. Klien
mengira bahwa biaya ke rumah sakit atau berobat ke dokter terlalu mahal jika dibandingkan dengan pergi
berobat ke dukun pijat.

7). Faktor pendidikan (educational factors)


Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal
tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya di dukung oleh bukti
bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai
dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: tingkat pendidikan klien, jenis
pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga
tidak terulang kembali.
Klien menderita atritis selama 10 tahun terakhir, namun tidak ada upaya untuk pergi berobat ke
fasilitas kesehatan. Klien kurang bisa belajar secara aktif dan mandiri terhadap penyakitnya.

3.1.1 Perencanaan dan Implementasi


Perencanaan dan implementasi keperawatan transkultural menawarkan tiga strategi sebagai pedoman
Leininger (1984) ; Andrew & Boyle, 1995 yaitu :
1. Perlindungan/mempertahankan budaya (Cultural
carepreservation/maintenance) bila budaya pasien tidak bertentangan dengan
kesehatan,
2. Mengakomodasi/menegosiasi budaya (Cultural careaccommodatio atau
negotiations) apabila budaya pasien kurang mendukung kesehatan.
3. Mengubah dan mengganti budaya pasien dan keluarganya (Cultural care
repartening / recontruction).
Pada kasus diatas, maka kami memberikan implementasi berupa:
Diagnosa :
1. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan ketiadaan orang terdekat,
ketidakselarasan sosial kultural, defisit pengetahuan atau keterampilan tentang cara
meningkatakan kebersamaan.
2. Isolasi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan untuk terikat dalam hubungan
pribadi yang memuaskan, perilaku atau nilai sosial yang tidak berterima

 Intervensi
Diagnosa 1
Tujuan atau Kriteria Hasil (NOC):
1. Pasien menunjukkan keterampilan interaksi sosial
2. Pasien menunjukkan keterlibatan sosial
3. Pasien memahami dampak perilaku diri pada interaksi sosial
4. Pasie menunjukkan perilaku yang dapat meningkatkan atau memperbaiki interaksi sosial
5. Pasien mendapatakan / meningkatkan keterampilan interaksi sosial (mis; kedekatan dan
kerja sama).
6. Pasien mengungkapakan keinginan untuk berhubungan dengan orang lain
Intervensi (NIC) :
1. Modifikasi perilaku keterampilan sosial : Membantu pasien mengembangkan atau
meningkatakan keterampilan sosial interpersonal.
2. Pembinaan hubungan kompleks : Membina hubungan yang terapeutik dengan pasien
yang kesulitan berinteraksi dengan orang lain.
3. Promosi integritas keluarga : Meningkatkan persatuan dan kesatuan keluarga.
4. Promosi keterlibatan keluarga : Memfasilitasi perawatan keluarga dalam perawatan emosi
dan kondisi fisik pasien.
5. Peningkatan Harga Diri :Membantu pasien meningkatkan penilaian pribadi tentang harga
diri.
6. Peningkatan sosialisi : Memfasilitasi kemampuan pasien untuk berinteraksi dengan orang
lain.
Aktivitas lain :
1. Buat interaksi terjadwal
2. Identifikasi perubahan perilaku tertentu
3. Identifikasi tugas-tugas yang dapat meningkatakan atau memperbaiki interaksi sosial
4. Libatkan pendukung sebaya dalam memberkan umpan balik kepada pasien dalam interksi
sosial
5. Peningkatan sosialisa ( NIC) :
1. Anjurkan bersikap jujur dan apa adanya dalam berinteraksi dengan oran lain
2. Anjurkan menghargai hak orang lain
3. Anjurkan sabar dalam membina hubungan
4. Bantu pasien meningkatkan kesadaran tentang kekuatan dan keterbatasan dala
berkomunikasi dengan orang lain
5. Beri umpan balik positif jika pasien dapat berinterksi dengan orang lain
6. Fasilitasi pasien dalam memberi masukan dan membuat perencanaan aktivitas mendatang

 Intervensi
Diagnosa 2
Tujuan/ Kriteria Evaluasi (NOC):
1. Pasien menunjukkan keterlibatan sosial ( interaksi dengan teman dekat, tetangga, anggota
keluarga,berpartisipasi sebagai sukarelawan pada aktivitas atau organisasi,dan sebagainya)
2. Mulai membina hubungan dengan orang lain
3. Mengembangkan hubungan satu sama lain
4. Mengembangkan keterampilan sosial yang dapat mengurangi isolasi (mis, bekerja sama)
5. Melaporkan adanya dukungan sosial (mis, bantuan dalam bentuk dari orang lain dalam
bentuk bantuan emosi, waktu, keuangan, tenaga, atau informasi )
Intervensi (NIC) :
1. Modifikasi perilaku keterampilan sosial : Membantu pasien mengembangkan atau
meningkatakan keterampilan sosial interpersonal.
2. Pembinaan hubungan kompleks : Membina hubungan yang terapeutik dengan pasien
yang kesulitan berinteraksi dengan orang lain.
3. Peningkatan koping : Membantu pasien beradaptasi dengan persepsi stresor, perubahan,
atau ancaman yang menghambat pemenuhan kenutuhan hidup dan peran.
4. Promosi integritas keluarga : Meningkatkan persatuan dan kesatuan keluarga.
5. Promosi keterlibatan keluarga : Memfasilitasi perawatan keluarga dalam perawatan emosi
dan kondisi fisik pasien.
6. Peningkatan kesadaran diri : Membantu pasien menggali dan memahami gagasan,
perasaan, motivasi, dan perilaku pasien.
7. Peningkatan sosialisi : Memfasilitasi kemampuan pasien untuk berinteraksi dengan orang
lain.
8. Peningkatan sistem dukungan : Memfasilitasi dukungan kepada pasien oleh keluarga,
teman, dan komunitas.
Aktivitas lain :
1. Bantu pasien membedakan persepsi dan kenyataan
2. Identifikasi bersama pasien faktor-faktor yang mempengaruhi perasaan isolasi sosial
3. Beri penguatan terhadap usaha-usaha yang dilakukan pasien, keluarga, dan teman-teman
untuk berinterksi
4. Peningkatan sosialisasi ( NIC) :
1. Dukung hubungan dengan orang lain yang mempunyai minat dan tujuan yang sama
2. Berikan umpan balik tentang peningkatan dalam aktivitas
3. Dukung pasien untuk mengubah lingkungan seperti jalan-jalan

 Intervensi keperawatan berdasarakan 3 aspek menurut Leininger


Modifikasi :
Memberikan penyuluhan dan informasi, agar pasien mampu :
1. Memodifikasi pola pikir klien, bahwa setiap penyakit harus diperiksakan di petugas
medis, tidak harus selalu pergi ke tukang pijat.
2. Menerima kritik dan saran dari orang lain.
3. Bersikap terbuka dan belajar berinteraksi sosial dengan orang lain.
4. Belajar membina hubungan baik dengan tetangga.
5. Mampu menerima perubahan yang tejadi dengan lingkungannya (menyangkut
penggunaan teknologi dan transportasi).

BAB 4
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam
mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perkembangan sosial budaya dalam
masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah
mengalami suatu perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa
memberikan dampak positif maupun negatif.
Hubungan antara kebudayaan dan kesehatan pasien lansia biasanya dipelajari pada
masyarakat yang terisolasi dimana cara - cara hidup mereka tidak berubah selama beberapa
generasi, walaupun mereka merupakan sumber data-data bilogis yang penting dan model
antropologi yang berguna , lebih penting lagi untuk memikirkan bagaimana mengubah
kebudayaan mereka itu.
Perawat harus selalu menjaga hubungan yang efektif dengan masyarakat ‘pasien’dengan
selalu mengadakan komunikasi efektif demi meningkatkan status kesehatan lansia dan
mendukung keberhasilan pemerintah dalam bidang kesehatan berbasis publik .

4.2. Saran
Makalah dibuat berdasarkan kebutuhan seorang mahasiswa sebagai tanggung jawabnya
dalam menyelesaikan tugas sebuah mata kuliah. Diperlukan bimbingan dan arahan dari dosen
pembimbing sehingga kiranya makalah tersebut dapat menjadi sesuatu yang lebih berguna di
masa yang akan datang.
Penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan olehnya itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai bahan ajar untuk penyusunan
berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

 Basford, Lynn & Oliver Slevin. 2006. Teori dan Praktik Keperawatan : Pendekatan
Integral pada Asuhan Pasien. Jakarta : EGC
 Jhonson, Marion dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louise,
Missouri : Mosby, Inc.
 Leininger. M & McFarland. M.R, (2002), Transcultural Nursing : Concepts, Theories,
Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill Companies.
 McCloskey, Joanne C. 1996. Nursing Intervention Classification (NIC). St. Louise,
Missouri : Mosby, Inc.
 NANDA. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005-2006. Philadelphia :
NANDA International.
 Nugroho,Wahjudi. 1999. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Jakarta;EGC.
 Royal College of Nursing (2006), Transcultural Nursing Care of Adult ; Section One
Understanding The Theoretical Basis of Transcultural Nursing Care Ditelusuri tanggal 14
Oktober 2006.
 Stanley,Mickey. 2002. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2.Jakarta; EGC.
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku : Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta : EGC